Anda di halaman 1dari 16

SISTEM PETANDA PADA URBAN DESIGN Ni Kt Ayu Intan Putri Mentari I.

0904205006

Sumber : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/30965/3/Chapter%20II.pdf http://teknik.ums.ac.id/kuliah/ruhiko/file/A5-PDFFINAL%20buku%20teks%20ruhiko%20DIM/Fin%20A5bab%203%20Urban%20space%20baru-23%20okt.pdf

Pengertian Signage dan Street Furniture Street Furniture atau perabot jalan / taman merupakan perabot yang penting bagi kelangsungan aktifitas di jalan atau taman. Perabot tersebut berupa lampu penerangan jalan kendaraan bermotor dan pejalan kaki, rambu lalu lintas, halte, papan iklan / baliho/ billboard, telepon umum, bangku-bangku (siting group), papan reklame, tempat sampah, bollars, dan sebagainya. Bersama-sama dengan signage / papan reklame / baliho / billboard, desain dan penataan street furniture akan m mbentuk kesan place dan mendukung identitas kawasan. Guna menciptakan kriteria fungsional bagi signage atau papan-papan reklame adalah dengan mengatur ukuran, bentuk dan warnanya sehingga dapat dilihat oleh sasaran penerima informasi. Sasaran ini bisa pejalan kaki atau pengendara kendaraan bermotor. Oleh karenanya desainnya harus memperhatikan slaka pergerakannya, cepat atau lambat. Tanda-tanda (Signage) adalah Tanda-tanda petunjuk jalan, arah kesuatu kawasan tertentu pada jalan tol atau di jalan kawasan pusat kota semakin membuat semarak atmosfir lingkungan kota tersebut. Peraturan yang mengatur tentang tanda-tanda tersebut pada sebagian besar kota di Indonesia belum mengatur pada masalah teknis. Akibatnya perkembangan papan-papan reklame mengalami persaingan yang berlebihan, baik dalam penempatan titik-titiknya, dimensi atau ukuran billboardnya, kecocokan bentuk, dan pengaruh visual terhadap lingkungan kota. ng jelasStreet furniture menjadi istilah yang digunakan oleh para kalangan praktisi untuk memberikan sebutan bagi perabot jalan atau aksesoris jalan, dimana perletakannya selalu berada di sepanjang jalan raya atau jalan lingkungan yang fungsinya sebagai

SISTEM PETANDA PADA URBAN DESIGN fasilitas pendukung aktivitas masyarakat di jalan raya. Perabot jalan atau street furniture ini cara perletakannya mempunyai kaidah kaidah fungsi utama maupun seni.

a. Fungsi utama street furniture adalah sebagai petunjuk dan berfungsi sebagai pelayanan terhadap masyarakat pengguna, sehingga diharapkan dengan adanya street furniture, masyarakat dapat nyaman didalam melaksanakan aktivitasnya. b. Fungsi seni, yaitu perletakan street furniture di sepanjang jalan raya mengikuti kaidahkaidah seni, baik cara perletakan elemenelemen itu sendiri maupun desain yang diharapkan mempunyai nilai seni tinggi, sekaligus mempunyai kualitas bahan yang baik. Menurut Rubenstein (1969) dalam suatu ruang kota dibutuhkan elemenelemen pendukung (street furniture) sebagai berikut: a. Ground Cover, merupakan penutup tanah dan elemen utama yang harus

diperhatikan dalam perencanaan jalur pedestrian, menyangkut skala, pola, warna, tekstur, ketinggian dan material, dimana material ini dibedakan menjadi: Pemilihan ukuran, pola, warna dan tekstur yang tepat akan mendukung suksesnya desain jalur pedestrian. b. Lampu, dimana standar penerangan untuk skala jalur pedestrian secara umum

adalah ketinggian maksimum 12 kaki dan penerangan maksimum 75 watt dengan jarak masingmasing penerangan 50 meter.

SISTEM PETANDA PADA URBAN DESIGN


c.

Signage, berupa tandatanda yang diperlukan untuk menunjukkan identitas

jalur pedestrian, arah, rambu lalu lintas serta memberi informasi lokasi atau aktivitas (gambar 2.1). Dalam sudut pandang urban design, ukuran dan kualitas desain dari papan iklan pribadi haruslah diatur agar tercipta keserasian, mengurangi dampak visual yang negatif, dan mengurangi rasa kebingunan dan kompetisi antara penandaan lalu lintas dengan penandaan publik. Desain penandaan yang baik dapat menghidupkan streetscape dan difungsikan untuk menginformasikan tentang barang dan layanan individu. Ukuran, bentuk dan warnanya diatur sedemikian rupa sehingga dapat dilihat oleh sasaran penerima informasi. Sasaran ini bisa pejalan kaki atau pengendara kendaraan bermotor. Oleh karenanya desain harus memperhatikan skala pergerakannya, cepat atau lambat.

Gambar 2.1 Contoh Signage Berupa Rambu-rambu Lalu Lintas

d.

Sculpture, berfungsi sebagai eye catching, dibuat untuk mempercantik jalur pedestrian atau menarik perhatian mata (vocal point) pada sebuah ruang terbuka, juga dapat berfungsi sebagai sign/tanda. Sculpture bisa berbentuk patung, air mancur dan abstrak

SISTEM PETANDA PADA URBAN DESIGN

Gambar 2.2 Contoh sculpture sekaligus menjadi node dari kawasan

e.

Bollards, semacam balokbalok batu yang berfungsi sebagai barier atau pembatas antara jalur pedestrian dengan jalur kendaraan yang biasanya terdapat pada pedestrian tipe semi mall.

f.

Bangku, digunakan untuk mengantisipasi keinginan pejalan kaki untuk beristirahat atau menikmati suasana sekitarnya. Bangku dapat dibuat dari kayu, besi, beton atau batu. Bangku yang nyaman adalah yang memiliki tinggi sekitar 15-18 inch dari lantai dan memiliki sandaran. Bangku dapat dilengkapi dengan kisikisi sehingga angin dapat masuk melalui kisikisi tersebut. Bangku merupakan tempat duduk primer, sedangkan tempat duduk sekunder dapat berupa rerumputan, tangga, dan tembok pembatas tanaman/tanah. Ketersediaan tembok pembatas ini disarankan 50% dari bangkubangku yang ada di ruang terbuka tersebut, dan agar dapat dipergunakan sebagai tempat duduk sekunder haruslah memiliki

SISTEM PETANDA PADA URBAN DESIGN tinggi 40-75 cm dan lebar 40-45 cm. Pengunjung akan lebih memilih bangku kayu, baru kemudian tangga dan pembatas tanaman/tanah. Bangku dengan ukuran 3x6 kaki akan sangat sesuai untuk ruang terbuka, baik digunakan saling berhadapan maupun saling membelakangi. Sedangkan pengunjung yang memilih untuk duduk di tangga dan tembok pembatas karena lebih sederhana. Tangga dan tembok pembatas yang ada haruslah memiliki banyak lekukan atau sudut. Bentuk, ukuran dan pengaturan tempat duduk sangat berpengaruh terhadap pengunjung ruang terbuka. Orientasi duduk haruslah memungkinkan orang untuk memandang sekitarnya dengan leluasa. Dan perlu juga diperhatikan perlindungannya terhadap sinar matahari. Sedangkan pengelompokan tempat duduk akan memberikan lebih banyak variasi orientasi dan pengguna. g. Kios, peneduh (shelter) dan kanopi, keberadaan kios dapat memberi petunjuk jalan dan menarik perhatian pejalan kaki sehingga mereka mau menggunakan jalur pedestrian dan menjadikan jalur tersebut hidup, tidak monoton. Shelter dapat dibangun berbentuk linier sebagai koridor atau sitting group yang fungsinya dapat berupa tempat untuk istirahat, berteduh dari panas terik atau hujan, maupun untuk halte pemberhentian jalur kendaraan umum (gambar 2.3). Sedangkan kanopi digunakan untuk mempercantik wajah bangunan dan dapat memberi perlindungan terhadap cuaca.

Gambar 2.3 Contoh shelter berupa halte pemberhentian kendaaraan umum

SISTEM PETANDA PADA URBAN DESIGN h. Tanaman peneduh, disamping untuk mempercantik kawasan dan menjadi pengarah, juga sebagai pembatas jalur pedestrian dengan jalur lalu lintas kendaraan atau parkir. Barier yang dapat mengurangi deru bising serta asap kendaraan bermotor serta peneduh disaat hujan dan mengurangi radiasi panas matahari. Adapun kriteria tanaman yang diperlukan untuk jalur pedestrian menurut Hakim (1993) adalah memiliki ketahanan terhadap pengaruh udara; bermassa daun padat; jenis dan bentuk pohon berupa ngsana, akasia besar, bougenville, dan teh-tehan pangkas; tanaman tidak menghalangi pandangan pejalan kaki maupun pengguna kendaraan. c. menciptakan Jam dan tempat sampah, dimana penempatan jam dapat menjadi fokus daya tarik / atraktif kota i. d. menuntun pada penciptaan cita rasa kota yang baik perlu untuk menjaga kebersihan atau landmark, sedangkan tempat sampah Prinsip-prinsip Desain jalur pedestrian sehingga pejalan kaki merasa nyaman dan tidak terganggu a. Visibility (dapat dilihat) dari aspek lokasi atau penempatan standard ketingggian dan (gambar 2.4). lebar penggunaan material yang tidak menimbulkan silau, dan sebagainya b. Legibility (dapat dibaca oleh pengendara )tipe dan komposisi hurufjarak penempatan antara tanda c. Harmony dengan aritektur dan bangunan di sekitarnya

Gambar 2.4 Contoh design tempat sampah j. Elemen pendukung lain, adalah elemen yang memberikan kemudahan jalur pejalan kaki dalam mendukung aktivitas manusia yang melewatinya. Misalnya telepon umum, tempat sampah, kotak pos, bahkan di dekat sitting group sering ditempatkan mesin penjual minuman ringan dan koran. Street furniture atau perabot jalan/taman merupakan perabot yang penting bagi kelangsungan aktifitas di jalan atau taman. Desain dan penataan street

furniture akan membentuk kesan place dan mendukung identitas kawasan.

SISTEM PETANDA PADA URBAN DESIGN A.A.Ayu Kasmarina 0904205074

Materi Sumber Penulis Penyunting

: Sistem Petanda : Buku Bahan Ajar Arsitektur Perkotaan : Team Teaching Arsitektur Perkotaan : Widiastuti

Jumlah halaman : 122 halaman

1. PENGERTIAN Sebagai tempat sirkulasi, kota harus merupakan lingkungan yang informatif. Penataan system petanda terpadu merujuk pada citra, karakter dan bentuk bangunan yang dirancang pada kawasan,terbaca secara jelas pola penataan massa yang merupakan vocal point, tengaran maupun memperkuat bentukan ruang terbuka. Rambu-rambu yang dirancang sekaligus harus menyatu terhadap bentuk fasade dan massa bangunan agar tercipta adanya keserasian. Tanda adalah suatu tulisan ( huruf, angka atau kata ), gambar ( ilustrasi atau dekorasi ), lambing (symbol atau merek dagang),bendera (termasuk umbul-umbul) atau sesuatu gambar pada suatu bangunan atau struktur lain yang digunakan sebagai pemberitahuan, penarik perhatian atau iklan dan terlihat dari luar. Tujuan dari perancangan system petanda adalah mengatur bentuk, ukuran serta penempatan dari system petanda agar teratur serta memastikan tingkat kejelasannya dari arah pergerkan kendaraan. Untuk itu jumlah ukuran huruf harus ditentukan. Papan reklame harus membantu terciptanya sense of place yang positif yang akan memperkuat karakter bangunan dan membuat streetscape menjadi hidup sehingga elemen jalan akan merupakan street fixture yang berpengaruh pada kualitas kota. Kelengkapan sperti shelter, boallards,kios-kios, tempat sampah,gardu telepon, papan informasi, bangku taman,rambu, maupun pola-pola paving serta patung pelengkap estetika harus dirancang terpadu dan konsisiten untuk seluruh kawasan ( Shirvani, 1985:40-44).

SISTEM PETANDA PADA URBAN DESIGN 2. FUNGSI Sistem Petanda Pada Umumnya digunakan sebagai alat komunikasi antara subyek dan obyek sehingga pengamat sebagai subyek akan mengenal secara keseluruhan makna tanda tersebut. Tanda petunjuk digunakan untuk menerangkan sesuatu baik nama obyek, nama wilayah, keterangan mengenai tempat dan sebagainya.Sistem petanda secra umum berfungsi : a) Pengarah ( directional ) misalnya rute b) Pengenal ( identification ) baik bagi bangunan, taman, dan lapangan. c) Control lalu lintas ( traffic control ) seperti tanda lalu lintas dan parker d) Informasi ( information ) baik sejarah, lokasi, maupun peristiwa e) Lambing ( heraldry )seperti spanduk, bendera, lukisan dinding, lencana, dan logo. Secara rinci fungsi sistem pertanda adalah sebagai berikut: a. Identifikasi primer yaitu petanda yang hadir sebagai label atau identitas suatu atau tempat yang menempel secara langsung pada objek. b. Identifikasi sekunder yaitu petanda satu atau beberapa gedung atau tempat yang gedung

terletak secara terpisah dari objek tetapi masih dalam satu area. Ada kaitan antara identifikasi primer dan sekunder. c. Pemberitahuan bagi pengendara yaitu petanda yang diperuntukkan bagi pengendara yang bersikulasi di jalan sehingga mereka lebih cepat mengambil keputusan. d. Pengatur sirkulasi adalah petanda yang digunakan untuk mengatur pergerakan lalu lintas sehingga kemacetan bias dikurang. e. Intruksi merupakan petanda yang ditunjukkan kepada umum agar mereka mematuhi pesan yang disampaikan melalui tanda. f. Penerangan/ informasi dipakai untuk memberikan penerangan kepada pengamat. g. Iklan merupakan tanda yang mengkomunikasikan kepentingan dagang, profesi, komoditi, pelayanan jasa, hiburan, penjualan dan sejenisnya

SISTEM PETANDA PADA URBAN DESIGN h. Dekorasi yaitu petanda yang berfungsi sebagai elemen dekoratif seperti bendera, umbul umbul. 3. KRITERIA PERANCANGAN Beberapa kriteria perancangan sistem petanda: Penampilan : Petanda yang baik dapat berfungsi sebagai elemen dekoratif dan bisa menyatu dengan elemen fisik disekitarnya. Pemasangan dan Pemakaian : Perlu dipertimbangkan apakah petanda akan

dipasang secara permanent atau sementara. Apakah merupakan stuktur tersendiri atau dipasang secara elemen fisik lain. Keawetan : Menyangkut daya tahan terhadap pengaruh cuaca dan waktu.

Pertimbangan adalah tanda pemilihan material. Material yang biasa digunakan adalah besi, perunggu, aluminium, katu, batu, beton, plastic atau fiberglass. Vandalisme : Perlu ditentukan bentuk dam materi yang sulit dirusak. Perusakan yang biasanya dilakukan adalah menggunakan cat semprot, benda tajam, atau mencabut petanda. Fleksibilitas terhadap perubahan dan penambahan : Petanda harus mampu

disesuaikan terhadap perubahan kota sehingga menghemat biaya dibandingkan dengan perombakan total. Kemungkinan penyajian lebih dari satu bahasa : Biasanya diperlukan pada fasilitas seperti : bandara, stasiun kereta api, kawasan wisata dan sebagainya. Untuk mempermudah biasanya petanda ini diganti dengan simbol simbol grafis. Iluminasi : Untuk menarik perhatian terutama di malam hari, perlu dipertimbangkan adanya beberapa cahaya baik internal ( dari dalam tanda ) maupun eksternal ( menggunakan bahan yang bias memantulkan cahaya dari luar ). Jumlah dan ukuran : Petanda harus dibuat sesedikit mungkin untuk menghindari lobang lobang yang berlebihan. Ketringgian, dimensi dan bentuknya harus disesuaikan untuk agar terbaca secara maksimal dan memberikan karakter yang spesifik pada kota. Kombinasi antara satu petanda dengan yang lainnya sangat diperlukan untuk mendapatkan sistem petanda yang efisien.

SISTEM PETANDA PADA URBAN DESIGN Penempatan : Sistem petanda tidak boleh berlebih lebihan yang akan merusak kualitas visual akibat penempatannya. Faktor lingkungan hatus dipertimbangkan agar tercipta kualitas visual yang baik. Arah pergerakan pejalan kaki juga harus dipertimbangkan agar terbaca, denikian juga ketinggiannya. Untuk tidak merusak kualitas lingkungan, penempatan petanda, dapat juga digunakan dinding atau bangunan yang ada. Pesan : Petanda yang akan dirancang sangat tergantung pada pesan yang akan disampaikan. Petanda harus merupakan bagian dari arsitektur disekitarnya dan merupakan kombinasi yang baik antara estetika dan fungsi. Faktor fisik : Beberapa factor yang harus dipertimbangkan dalam perancangan sistem petanda adalah : Luas pandangan maksimal yaitu 60 0, kecepatan membaca khususnya dari kendaraan yang bergerak, ketinggian rata rata pandangan mata (1,7m berdiri, 1,3m saat duduk dan 1,4 dalam mobil). Fungsi : Harus disesuaikan dengan kategori berikut : arah (jalan), identifikasi (bangunan, lapangan dan taman), lalu lintas (tanda tanda lalu lintas dan parkir), informasi (sejarah, lokasi, peristiwa), lambing (spanduk, bendera, dinding, elemen, logo). Grafik : Bentuk dan ukuran huruf harus disesuaikan dengan persyaratan pengguna. Untuk pengguna dari kendaraan ketinggian minimum adalah 100m atau 25mm untuk tiap 7,5m jarak dari tiap petanda dengan jumlah yang dibatasi antara lima dan sepuluh. Logo dan emblem : dapat membantu memberi identitas kota. Dapat dikombinasikan dengan petanda arah, paving, bendera, dan papan informasi. Logo harus mudah dibaca, mudah diaplikasi dalam segala bahan.

SISTEM PETANDA PADA URBAN DESIGN Nama: Md. Samantha Wiratha 0904205025

Perlengkapan Bangunan, Papan Nama, Dan Dekorasi


Komponen ini menyangkut pembentukan karakter lingkungan dengan

mengorganisasikan elemen-elemen, seperti kotak pos, pagar halaman, tempat sampah, dan lampu taman serta lampu jalan. Pedestrian yang menerus antarunit-fasilitas/gedung juga akan memperkuat kesatuan sistem lingkungan. Untuk daerah perdagangan, penggunaan signage/media/papan/reklame/simbol/logo dagang harus memiliki izin dari instansi terkait dan yang berwenang di daerahny. Prosedur perizinan dumaksud harus mendapat persetujuan dari dinas tata kota untuk ketentuan rancangannya. Prinsip-prinsip perancangan papan nama di antaranya adalah: 1. Dibuat dengan format yang sama dalam kategori bentuk, ukuran, struktur, dan posisi/tempat pemasangan 2. Memiliki konstruksi yang aman secara visual, aman dalam pelaksanaan pemasangannya, dan aman dalam operasionalny 3. Tidak mengganggu pemandangan kota atau menutupi gedung-gedung lain. Keberadaan papan nama jangan sampai menimbulkan keluhan masyarakat sekitar karena hal-hal sebagai berikut: a. Membuat bangunan-bangunan lain tertutup dari sinar matahari atau dari pemandangan umum b. Membuat bangunan-bangunan lain mendapat kesilauan karena pantulan

permukaannya c. Membuat kualitas lingkungan sekitarnyasecara estetika lebih rendah dan tak menarik dari sebelumnya d. Mudah dipelihara dan tidak menimbulkan masalah teknis pembongkaran jika waktu pasangnya telah berlalu. Sumber: Wiryomarmoto, Bagoes P. 2002. Urbanitas dan Seni Bina Perkotaan. Jakarta: Balai Pustaka

SISTEM PETANDA PADA URBAN DESIGN

Elemen Kota Signage and Street Furniture


Signage (papan nama petunjuk / penanda) merupakan prinsip pengaturan terhadap a. Penanda lalu lintas b. Penanda jalur pejalan kaki c. Penanda iklan Tujuan: Menghindari kekacauan dan kesemrawutan wajah kota Memberikan informasi yang jelas Menciptakan daya tarik / atraktif kota Menuntun pada penciptaan cita rasa kota yang baik

Prinsip-prinsip design a. Visibility (dapat dilihat) dari aspek lokasi atau penempatan standard ketinggian dan lebar. Penggunaan material yang tidak menimbulkan silau dan sebagainya. b. Legibility (dapat dibaca oleh pengendara) tipe dan komposisi, huruf, jarak penempatan antara tanda c. Harmony dengan arsitektur dan bengunan di sekitarnya Sumber:
http://furuhitho.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/27236/2_Elemen+Urban+Desain.pdf

SISTEM PETANDA PADA URBAN DESIGN

Outdoor Signage In Urban Planning


Using Outdoor Signage Effectively

Signage is a powerful medium that has considerable value in urban development. Signage can enhance a city or neighborhoods aesthetic characteristics and reflect its personality and uniqueness. The type of signs used, as well as the colours and designs adopted can be identifiers of a location and its inhabitants. For instance if you were to visit the idyllic coastline of Cape Cod you would never see large neon signs as these are noisy and crass, and not compatible with the spirit of the place.

Similarly, cities in the Arab world can also design areas that capture and project the essence of their identities. For instance a souk or bazaar area may be enhanced through earthy colours and styles that are reminiscent of the desert as well as the styles historically associated with Arabian and Islamic architecture.

If used properly signage can serve equally well as business planning features that are used to identify business areas, retail centres and cultural areas reinforcing the sense of place and time.

To help this along municipal departments and urban planners can play a central role by providing the design guidelines for signage to developers, architects and designers. This would help in the commercial development of communities while nurturing and preserving the uniqueness of their identities.

By Sana Bagersh

SISTEM PETANDA PADA URBAN DESIGN

Terjemahan: Outdoor Signage Dalam Perencanaan Kota


Signage Menggunakan Outdoor Efektif

Signage merupakan media yang kuat yang memiliki nilai yang cukup besar dalam pembangunan perkotaan. Signage dapat meningkatkan sebuah kota atau karakteristik estetika lingkungan dan mencerminkan kepribadian dan keunikan. Jenis tanda-tanda yang digunakan, serta warna dan desain dapat diadopsi pengidentifikasi dari lokasi dan penduduknya. Misalnya jika Anda adalah untuk mengunjungi pantai indah dari Cape Cod Anda tidak akan pernah melihat lampu-lampu neon besar karena ini berisik dan kasar, dan tidak kompatibel dengan semangat tempat itu.

Demikian pula, kota-kota di dunia Arab juga dapat merancang daerah yang menangkap dan memproyeksikan esensi dari identitas mereka. Misalnya daerah souk atau pasar dapat ditingkatkan melalui warna-warna tanah dan gaya yang mengingatkan gurun serta gaya historis terkait dengan Arab dan arsitektur Islam.

Jika digunakan dengan benar signage dapat berfungsi sama serta fitur perencanaan bisnis yang digunakan untuk mengidentifikasi area bisnis, pusat ritel dan daerah budaya memperkuat rasa tempat dan waktu.

Untuk membantu departemen ini bersama kota dan perencana kota dapat memainkan peran sentral dengan memberikan pedoman desain untuk signage untuk pengembang, arsitek dan desainer. Hal ini akan membantu dalam pengembangan komersial dari masyarakat sementara memelihara dan melestarikan keunikan identitas mereka.

Oleh Sana Bagersh Sumber: http://www.unleashmoxie.com/2012/02/outdoor-signage-in-urban-planning.html

SISTEM PETANDA PADA URBAN DESIGN

Pertandaan (Signage)
Keberadaan penandaan akan sangat mempengaruhi visualisasi kota, baik secara makro maupun mikro, jika jumlahnya cukup banyak dan memiliki karakter yang berbeda. Sebagai contoh, jika banyak terdapat penandaan dan tidak diatur perletakannya, maka akan dapat menutupi fasad bangunan di belakangnya. Denganbegitu, visual bangunan tersebut akan terganggu. Namun, jika dilakukan penataandengan baik, ada kemungkinan penandaan tersebut dapat menambah keindahanvisual bangunan di belakangnya.Kondisi penandaan (signage) di sepanjang koridor Jalan Pahlawan Surabayacukup rapi sehingga tidak terlalu mengganggu fasad bangunan di belakangnya.Beberapa signage yang ditemui yakni berupa : Tabel: Inventarisasi jenis dan jumlah signage di koridor

SISTEM PETANDA PADA URBAN DESIGN

Sumber Tabel : survey primer, 20 Maret 2011

Sumber: http://www.scribd.com/doc/54971808/Draft-Elemen-Perancangan-Kota