P. 1
2011epy

2011epy

|Views: 561|Likes:
Dipublikasikan oleh DinarOktariaSupardi

More info:

Published by: DinarOktariaSupardi on Apr 30, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/06/2013

pdf

text

original

TESIS

PELAYANAN PUBLIK, KUALITAS SUMBERDAYA MANUSIA DAN DISPARITAS PEMBANGUNAN WILAYAH (Studi Kasus Kabupaten Lebak - Banten)

EKA PURNA YUDHA

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011

i

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul PELAYANAN PUBLIK, KUALITAS SUMBERDAYA MANUSIA DAN DISPARITAS PEMBANGUNAN WILAYAH (Studi Kasus Kabupaten Lebak - Banten) adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Januari 2011 Eka Purna Yudha NIM. H152080091

ii

ABSTRACT

PUBLIC SERVICE, HUMAN RESOURCE QUALITY AND DISPARITY OF AREA DEVELOPMENT (Case Study at Lebak Regency – Banten Province), Under Direction of EKA INTAN KUMALA PUTRI and BAMBANG JUANDA

Decentralized regional development becomes a trend and has been transformed as an angel messenger of change, in Indonesia more familiar referred to regional autonomy. Over a decade since 1999, regional autonomy was conducted, it’s began to arise many questions, one of the most striking is that, did regional autonomy success to improve the welfare of society and capable to facilitate the distribution of development? This question was not arising without cause or reason, because the physical laws of cause and effect would apply in real life wherever it is. Counter productive regional autonomy is the basis of the initial formation of research hypotheses that will further see how the actual process of public services by local governments, in this case the District Government of Lebak. The studied public service under study is slightly investigating the impact on the quality of human resources. The ultimate impact was how to influence the quality of human resources resulted from public service to the economic structure and level of disparity. Public service provided by Lebak regency will try to be analyzed with IPA and further linkages will be seen the influence of public services towards the quality of human resources using multiple linear regression analysis. As for the influence of the quality of human resources towards the economic structure and level of disparity will be used descriptive analysis, LQ, Typology Klassen, IKM, Williamson index and multiple linear regression analysis. The result of this study provided information that the public service in Lebak regency still below the minimal standard of service and the public was not satisfied with the provided services. Public services significantly impair the quality of human resources. The impact was the quality human resources were still below the average of Banten province, where the number of Lebak HDI in 2008 was 67.10. With the condition of human resources, the Lebak GDP was still not evenly, the income per capita only reached number 5.000.000. in addition, Lebak still rely on agricultural commodities as the support of key development sectors as well as a distribution base which provides for 35.4 percent of GDP. Klassen Typology Based on the analysis, nearly 90 percent of Lebak region belong to the disadvantaged areas that have growth and low incomes. HPI Analysis showed that the number of poor people in Lebak was still relatively high, 12.5 percent. Low HDI also contributed to high rates of disparity, which was equal to 0.69. Linkages occur that the low quality of human resources is causing high rates of disparity. The poor public services made low quality of human resources. The low quality of human resources was causing high rates of regional development disparities.

Keywords

: Public Services, Human Resoures, Disparity

iii

RINGKASAN
EKA PURNA YUDHA. PELAYANAN PUBLIK, KUALITAS SUMBERDAYA MANUSIA DAN DISPARITAS PEMBANGUNAN WILAYAH (Studi Kasus Kabupaten Lebak - Banten). Di Bawah Bimbingan EKA INTAN KUMALA PUTRI dan BAMBANG JUANDA Pembangunan wilayah yang terdesentralisir menjadi sebuah trend dan telah menjelma bagai malaikat pembawa perubahan. Selama satu dekade sejak tahun 1999 digulirkannya otonomi daerah, mulai timbul banyak pertanyaan, salah satu yang paling mencolok adalah, apakah otonomi daerah berhasil meningkatkan kesejahteraan dan mampu mempercepat pemerataan pembangunan? Pertanyaan tersebut bukan hadir tanpa sebab, karena hukum fisika berupa hukum sebab akibat tentu akan berlaku dalam kehidupan nyata dimanapun itu. Kontraproduktif otonomi daerah menjadi landasan awal terbentuknya hipotesa penelitian yang selanjutnya akan melihat bagaimana sebenarnya proses pelayanan publik yang diberikan oleh pemerintah daerah, dalam hal ini Pemkab Lebak. Pelayanan publik yang diteliti akan sedikit menelisik pengaruhnya terhadap kualitas sumberdaya manusia. Dampak akhirnya adalah, bagaimana pengaruh kualitas sumberdaya manusia hasil dari pelayanan publik tersebut terhadap struktur perekonomian dan tingkat disparitas. Pelayanan publik yang diberikan oleh Pemkab Lebak akan coba dianalisis dengan IPA dan selanjutnya akan dilihat keterkaitan pengaruh pelayanan publik terhadap kualitas sumberdaya manusia menggunakan analisis regresi linier berganda. Sedangkan untuk pengaruh kualitas sumberdaya manusia terhadap struktur ekonomi dan tingkat disparitas akan digunakan analisis deskriptif, LQ, Tipologi Klassen, IKM, Indeks Williamson dan analisis keterkaitan regresi linier berganda.Hasil dari penelitian ini memberikan informasi bahwa pelayanan publik di Kabupaten Lebak masih di bawah standar pelayanan minimal dan masyarakat belum puas dengan pelayanan yang diberikan. Pelayanan publik mempengaruhi secara signifikan terhadap kualitas sumberdaya manusia Akiabtnya, kualitas sumberdaya manusia masih di bawah rata-rata Provinsi Banten, dimana angka IPM Lebak di tahun 2008 sebesar 67,10. Dengan kondisi sumberdaya manusia tersebut, PDRB Lebak masih belum merata, pendapatan per kapita baru mencapai angka Rp.5.000.000. selain itu, Lebak masih mengandalkan komoditas pertanian sebagai penopang utama pembangunan sekaligus menjadi sektor basis yang memberikan distribusi sebesar 35,4 persen terhadap PDRB. Berdasarkan analisis Tipologi Klassen, hampir 90 persen wilayah Lebak termasuk ke dalam wilayah tertinggal yang memiliki pertumbuhan dan pendapatan rendah. Analisis IKM menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin di Lebak masih tergolong tinggi, yakni 12,5 persen. Rendahnya IPM juga ikut menyebabkan tingginya angka disparitas, yakni sebesar 0,69. Terjadi keterkaitan bahwa rendahnya kualitas sumberdaya manusia tersebut menyebabkan tingginya angka disparitas. Buruknya pelayanan publik menyebabkan rendahnya kualitas sumberdaya manusia. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia tersebut menyebabkan tingginya angka disparitas pembangunan wilayah. Kata Kunci : Pelayanan Publik, Sumberdaya Manusia, Disparitas Pembangunan Wilayah

atau tinjauan suatu masalah. . Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan. dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. penulisan kritik. penelitian. Tahun 2011 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya.iv © Hak Cipta milik IPB. Dilarang mengumpulkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya Tulis apapun tanpa izin IPB. penyusunan laporan. penulisan karya imliah.

KUALITAS SUMBERDAYA MANUSIA DAN DISPARITAS PEMBANGUNAN WILAYAH (Studi Kasus Kabupaten Lebak .v PELAYANAN PUBLIK.Banten) EKA PURNA YUDHA Tesis Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Ilmu-ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011 .

Ir. MS .vi Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis : Dr. Setia Hadi.

KUALITAS SUMBERDAYA MANUSIA DAN DISPARITAS PEMBANGUNAN WILAYAH (Studi Kasus Kabupaten Lebak . MS Prof. MS Ketua Prof. Bambang Juanda. Khairil A. Ir. Notodiputro. Dr. Ir. Dr.vii Judul Tesis Nama NIM : PELAYANAN PUBLIK. Ir. MS Tanggal Ujian : Tanggal Lulus : . Bambang Juanda. Ir. MS Anggota Diketahui Ketua Program Studi Ilmu-ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan Dekan Sekolah Pascasarjana Prof. Eka Intan Kumala Putri.Banten) : Eka Purna Yudha : H152080091 Disetujui Komisi Pembimbing Dr. Dr.

6. Bunda Azzahra.. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Lebak pada bulan Desember 2009-November 2010. 5.viii KATA PENGANTAR Segala Puji Bagi Allah SWT atas segala rahmat. Dr. sehingga ayah bisa menyelesaikan tesis ini. Mamah. M. perhatian dan kharismatik. Dr. Ir. KUALITAS SUMBERDAYA MANUSIA DISPARITAS PEMBANGUNAN WILAYAH (Studi Kasus Kabupaten Lebak . 3. Bambang Juanda. Setia Hadi. sebagai syarat dalam memenuhi gelar Magister Sains pada Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan. sebagai Anggota Komisi Pembimbing yang telah memberikan banyak saran yang membangun sehingga penulisan tesis menjadi lebih baik. menjadi mujahidah muda yang sholehah. Mamah mertua (walaupun tak pernah sekalipun bertemu. MS. cerdas. yakni : 1. 2.Banten) dibuat dalam rangka memenuhi tugas akhir Tesis. hidayah dan keberkahanNYA yang telah diturunkan ke bumi kepada seluruh ummat manusia sehingga karya ilmiah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Putri pertamaku tersayang. saran dan arahan selama proses pembuatan karya tulis ini.. tapi aura mamah ada semua . Ibu Dr. My Beloved Wife. Penulis juga berterima kasih kepada beberapa pihak yang berjasa selama proses penulisan tesis. Eka Intan Kumala Putri. Ir. pengertian. pengertian.S. bantuan dan juga senyumannya. Sebagai Penguji Luar komisi yang juga telah memberikan banyak masukan demi kesempurnaan Tesis.S. M. Prof. atas bimbingan. Karya tulis berjudul PELAYANAN DAN PUBLIK. semoga kamu bisa mengikuti jejak ayah dan bunda. Ketua Komisi Pembimbing. Shalawat dan salam semoga selalu tersampaikan kepada Nabiyullah Muhammad SAW atas segala pedoman dan teladan kejujuran dalam menulis karya ilmiah ini. Ibu mertua. Pada kesempatan ini. makasih atas segala perhatian. Ir. Bapak (sponsor utama beasiswa). Azzahra Aramanda Purnadina Arrohmanuadda. 4. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bapak mertua.

Dede dan Ibhi. Makasih atas segala bantuan dan doanya ya. sehingga penelitian tesis ini masih dapat dijalankan. pak Arafat. pak steve. 2007. 10. Rady. pak adam. pak adit. Januari 2011 Eka Purna Yudha . 7. Nurul Hakim. Gita. pak adriyanus. pak asep. Rizki Hermawan dan Sai’in Purnomo. pak budi kuadrat. dkk from al izzah. bu rika. semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi bangsa Indonesia dan peradaban dunia.ix dalam bunda zahra). Bogor. 2006 dan seluruh angkatan yang telah memberikan support dan banyak berbagi pengalaman. Sanuji Pentamarta. Akhirnya. Kang Galuh yang telah memberikan masukan-masukan dalam pembahasan hasil penelitian 11. angkatan 2008. Dindin Adriana. substansi isi maupun etika tata bahasa. pak arief. Kawan-kawan PWD 2008. bu nina. Penyusunan karya tulis ini diakui penulis masih terdapat banyak kekurangan baik dalam penulisan. 9. pak hanan. Syamsu Rizal. yang sudah membantu berjalannya seminar hasil penelitian. 12. Kabag Perencanaan Bappeda Lebak yang telah memberikan bantuan berupa data-data sekunder terbaru. Mbak Elva yang sudah sering direpotkan khususnya dalam hal administrasi di PWD dan pertanyaan-pertanyaan terkait penelitian hingga proses sidangn komisi dan ujian akhir. 13. 8. yang telah memberikan bantuan aksesibilitas kendaraan dalam pengumpulan data. atas bantuan dalam pengumpulan data di Lebak utara da selatan. 2009. pak tajerin. dan pak rudi. bu andi. 14. antas bantuan dalam mem-back-up PURNADINA Leadership Students Center.

penulis adalah usahawan muda di bidang agribisnis. Di tahun 2008 penulis kembali melanjutkan studinya pada Magister Sains Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. menikah dengan Resa Ana Dina dan Alhamdulillah sudah dikaruniai satu putri bernama Azzahra Aramanda Purnadina Arrahmanuadda.x RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Ciamis pada tanggal 2 Juli 1985 sebagai putra pertama dari tiga bersaudara pasangan Muslim dan Watini. Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya. Pada tahun 2008. Kemudian melanjutkan pendidikan di SMU Negeri 1 Rangkasbitung lulus pada tahun 2003. Tahun 2007 lulus sebagai Sarjana Pertanian di Institut Pertanian Bogor pada Fakultas Pertanian. Penulis juga aktif bekerja di Republika bagian Promosi yang berfokus pada lingkungan dan pemberdayaan masyarakat perumahan di Jabodetabek. . Penulis memiliki dua adik yang bernama Gita Trisnawati dan Edi Fauzi Effendy. Penulis melanjutkan pendidikan menengah di SLTP Negeri 2 Cibinong lulus pada tahun 2000. Penulis juga aktif dalam menulis buku pengembangan diri. Semasa kuliah penulis menjadi komti angkatan 2008 PWD (Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan). Lebak Student Center (LSC) dan PURNADINA Leadership Students Center. Tercatat bahwa penulis sejak tahun 2007 masih menjadi trainer pada Lembaga Pelatihan Galaxi Learning Center. Terakhir. Pada tahun 1991 penulis memulai studinya di SD Negeri Muaraberes lulus pada tahun 1997. Selain itu. Hingga saat ini penulis telah meluncurkan buku yang berjudul REMAJA REVO yang terdiri dari lima seri buku. penulis aktif pada berbagai Lembaga Pelatihan Pengembangan diri di Bogor dan Banten.

...........1. 2....................................................................11 Disparitas Pembangunan Antar Wilayah .............................12 Penelitian Terdahulu ..........................................................................................................................................................5 Indeks Pembangunan Manusia ................................................................. 2..........3 Hipotesis Operasional ..........3 Perilaku Masyarakat Sebagai Konsumen Kebijakan Pembangunan ............1....11 Model Important Performance Analysis (IPA) .......... ........9 Prinsip Evaluasi Kinerja Pemerintah Daerah ................ 2... 2................... 1.....1..........................12 Analisis SWOT ....... 3....................................5 Ruang Lingkup Penelitian ................................... 3........... 3...1.............7 Analisis Location Quotient (LQ) .1...................................1..............................4 Good Governance .......8 Analisis Matriks Tipologi Daerah (Tipologi Klassen) ...........................................1.........4 Persepsi ..................... 3............. 2..2 Struktur Perekonomian ........................... 3............ 1 1 5 8 8 9 10 10 10 11 14 16 17 17 19 20 24 25 28 30 30 30 31 33 34 34 35 35 36 37 38 40 40 41 46 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..........................1............................................8 Pemberdayaan Masyarakat ..................... 2...................3 Otonomi Daerah ...............1...1 Kerangka Pemikiran Teoritis ....1.......................................................................................2 Perumusan Masalah ........................1.....................................10 Standar Pelayanan Minimal ............... xiv DAFTAR GAMBAR . 1............................ 3....6 Analisis Deskriptif .... 2.............. BAB III KERANGKA PEMIKIRAN ..............2 Kerangka Pemikiran Operasional .............xi DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL .......... 3.......... 2................................................... 2............................ 2......... 1............................6 Pendekatan Modal Manusia ......................................... 2....................... 1........................................................ xx BAB IV PENDAHULUAN ........1 Latar Belakang ........ 3........................................................7 Sistem Pendidikan dan kesehatan dalam Pembangunan .... 1............................... 3.......1 Kebijakan Umum Pembangunan Modal Manusia ...........2 Faktor Penyebab Disparitas .........10 Model Regresi Linier Berganda ........................................................................................ 2............4 Manfaat Penelitian .....3 Tujuan Penelitian ............. 3............................1...................... 3............... xvii DAFTAR LAMPIRAN ............................................................ 3.............5 Sikap Masyarakat dalam Perencanaan Pembangunan Wilayah .......................... 3............................................... 3...................................................................... 3....................1 Perencanaan Pembangunan Wilayah .....9 Analisis Ketimpangan Pembangunan antar Wilayah ......................

...........................................................2 Uji-t ..................9................3 Indeks Indeks Tingkat Daya Beli .2 Analisis Penilaian Sikap Masyarakat terhadap Kinerja Pelayanan Publik Pendidikan di Wilayah Tertinggal ........................... 6.................. 5.....9....3 Disparitas Pembangunan SDM antara Wilayah Utara dengan Wilayah Selatan ..................................5..2 Uji Validitas dan Reliabilitas ..... 4.......4 Analisis Sumber Disparitas Pembangunan Wilayah ...............2.........3 Instrumen Pengumpulan Data ...1 Fasilitas dan Tenaga Kesehatan .................................................... 6..................................1 Kinerja Pelayanan Publik Sektor Pendidikan .. 6............... 4....2 Demografi ........2 Kinerja Pelayanan Publik Sektor Kesehatan ................................................5................ 4............................. 4..........5.....5....................2 Indeks Melek Huruf dan Indeks Lama Sekolah ....................................xii BAB IV METODE PENELITIAN .............................2 Analisis Penilaian Sikap Masyarakat terhadap Kinerja Pelayanan Publik Kesehatan di Wilayah Tertinggal ..1.............. 4.................6 Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) ............... 4..... 4...................5......... 4............1 Analisis Deskriptif ....................5 Analisis Pengaruh Kinerja Pelayanan Publik Terhadap Kualitas Sumberdaya Manusia ..............4 Analisis Important Performance Analysis (IPA) ...........3 Skala Likert ...5 Analisis Location Quotient (LQ) ......1 Lokasi dan Waktu Penelitian . 4. 6...........7 Indeks Williamson (IW) ................................................... 6..........................2 Jenis dan Sumber Data ..................... 4....................5......................... 6..................... 4..........1............................................................ 4...12 Analisis SWOT .. KINERJA PELAYANAN PUBLIK DAN KUALITAS SUMBERDAYA MANUSIA ..8 Tipologi Klassen .....9 Pemodelan Regresi Linier Berganda........................................................................ 6.................5...1 Indeks Kelangsungah Hidup . 4...................................................................5................ GAMBARAN UMUM .......4 Teknik Penarikan Contoh .................................. 5........................... 6..1 Uji-F ............5...............5................................. 4.......5..5..9................. 6..................... 6...........................................................................4 Indeks Pembangunan Manusia .................... 4....... 6........1 Letak Geografis dan Luas Wilayah ............ 5...................................3 Infrastruktur Umum ....................9..4..................................................................... 6...........4 Kualitas Sumberdaya Manusia ...................... 4.4......... 4....... 4............5........ 4.....................4.....2......5 Metode Analisis Data ............................3 Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan Publik SDM terhadap Kualitas Sumberdaya Manusia ......... 6...................1 Fasilitas dan Tenaga Pendidikan ........................5.... 47 47 47 48 49 51 51 52 55 57 59 60 61 62 63 63 64 66 66 72 76 76 79 82 BAB V BAB VI 91 92 92 96 109 110 114 123 126 127 129 132 133 136 .........4.....

........................................ 7................................................................ 9............................................2 Disparitas Pembangunan Wilayah ........ 8........4 Laju Pertumbuhan Ekonomi ..... BAB VIII STRATEGI ALTERNATIF KEBIJAKAN ..... Saran ......1 Analisis Matriks IFE ...............2 Indeks Williamson ..................... Kesimpulan ................................................. 7...........................3 Analisis Sumber Disparitas .......................................................1...................................................... 7....1........... 7........xiii BAB VII PENGARUH KUALITAS SUMBERDAYA MANUSIA TERHADAP STRUKTUR EKONOMI DAN DISPARITAS WILAYAH ............................. 9............................................. 7........1..................................5 Analisis Location Quotient (LQ) ...... 7.... 8..............................................................6 Analisis Tipologi Klassen ..4 Analisis SWOT .......3 Analisis Matriks I-E .......................1 Struktur Ekonomi ...... 7. 7......................... 154 155 156 159 159 160 163 171 177 177 182 185 195 214 199 203 205 206 209 214 214 216 217 DAFTAR PUSTAKA ..........................................1............................................... 7..........................................................1 Indeks Kemiskinan Manusia .1.. 7................................ 8......................... 7.........2 Tenaga Kerja .....................1................1 PDRB Kabupaten Lebak ........................................2.............................................2.2.............. Struktur Ekonomi dan Disparitas Pembangunan Wilayah ....1............................... 7.................................5 Analisis QSPM .......3 Pendapatan per Kapita .............3 Keterkaitan Kualitas SDM...................... 8................................ 8............................................................... BAB IX KESIMPULAN DAN SARAN ...............2 Analisis Matriks EFE ............................2............................................................................. LAMPIRAN ...

................ Metode Analisis.. Atribut Pelayanan Publik Bidang Pendidikan Sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal Departemen Pendidikan yang Diuji Validitas ..................................................................................... Variabel/Parameter dan data/Sumber Data ............................. Jumlah Penduduk Kabupaten Lebak Menurut Kecamatan Tahun 2004-2008 ................................................... Luas Wilayah Menurut Kecamatan di Kab.................. 67 Matriks Strategi SWOT Pengembangan Human Resources Kabupaten Lebak .................................. Atribut Pelayanan Publik Bidang Kesehatan Sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal Departemen Kesehatan yang diuji validitas ............ 9 67 69 71 10 11 12 73 13 14 74 75 15 Jumlah Ruas Jalan................................................................ 76 Jumlah Ruas Jalan................................................................ 4 49 50 2 3 4 51 5 52 6 53 60 7 8 Matriks Analisis SWOT Pengembangan Human Resources Kabupaten Lebak ........... Matriks Tujuan Penelitian................................................ Lebak Tahun 2009 ...................................... Matriks Tipologi Daerah Klassen ...... Prosedur Penarikan Contoh Responden Elemen Masyarakat ....................................... Jarak Ibu Kota Kecamatan ke Kota Rangkasbitung ............................................ 16 77 .............. Panjang dan Kondisi Jalan Propinsi Di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 ...................... Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Lebak Menurut Kecamatan Tahun 2004-2008 .... Panjang dan Kondisi Jalan Kabupaten Di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 ............................... Jumlah Penduduk Kabupaten Lebak Menurut Jenis Kelamin dan Sex RatioTahun 2004-2008 .............xiv DAFTAR TABEL Nomor 1 Teks Halaman Perkembangan Angka Melek Huruf dan Rata-rata Lamanya Sekolah Kabupaten Lebak dan Rata-rata Provinsi Banten Tahun 1999-2008 ................................................................................................................................................................................ Instansi/Individu dan Jumlah Responden Subjek Penelitian ..........

.............. Pembagian Wilayah Pembangunan Utara dan Selatan ........................................................ Perkembangan Pengeluaran Riil Per Kapita dan Indeks Daya Beli Kabupaten Lebak dan Rata-Rata Provinsi Banten............................................................................. 78 18 Jumlah Penanganan Jalan Poros Desa (HMD) di Kabupaten Lebak Tahun 2007-2009 ..................... Perkembangan Indeks Pengetahuan Kabupaten Lebak dan Rata-Rata Provinsi Banten. Tahun 2000-2008 ...................... Tahun 2002 .................. 88 Ringkasan Matriks Posisi Kuadran IPA Pelayanan Publik Bidang Pendidikan Kabupaten lebak Di Wilayah Tertinggal ............................................................... Tahun 2002-2008 ....... 26 107 115 27 28 116 29 Perkembangan Angka Harapan Hidup dan Indeks Kelangsungan Hidup Kabupaten Lebak dan Rata-Rata Provinsi Banten........................................ 105 Ringkasan Matriks Posisi Kuadran IPA Pelayanan Publik Bidang Kesehatan Kabupaten Lebak Di Wilayah Tertinggal ....................................................2008 ........................................... 84 Analisis Penilaian Sikap Masyarakat Terhadap Kinerja Pelayanan Publik Pendidikan Pemkab Lebak pada Wilayah Tertinggal ..... 120 Perkembangan Angka Melek Huruf dan Rata-Rata Lamanya Sekolah Kabupaten Lebak dan Rata-Rata Provinsi Banten............. SMP.......... Panjang dan Kondisi Jalan Nasional di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 . 78 Cakupan Air Bersih per Kecamatan Di Kabupaten Lebak Tahun 2008 ............ dan SMA di Kabupaten Lebak tahun 2009 ..................................... Jumlah Fasilitas Kesehatan yang Tersedia Tiap Kecamatan Tahun 2009 ......... 19 79 81 20 21 Keadaan kondisi ruang belajar tingkat SD. Perbandingan Pembangunan Fisik dan Tenaga Sektor Pendidikan dan Kesehatan antara Wilayah Utara dan Selatan Tahun 2009 ......................................................... Rasio Elektrifikasi per Kecamatan Di Kabupaten Lebak Tahun 2008 ........... 22 23 90 24 101 25 Analisis Penilaian Sikap Masyarakat Terhadap Kinerja Pelayanan Publik Kesehatan Pemkab Lebak pada Wilayah Tertinggal ............ 30 121 31 121 32 124 33 Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Lebak Menurut Komponen IPM Tahun 2002-2008 .........................................................................................xv 17 Jumlah Ruas Jalan.................................. Tahun 2002-2008 ... 125 ..........

........................................................................................................................................................ IKM dan Komponennya Kabupaten lebak Tahun 2002 dan 2008 ........................................................ PDRB dan Laju Pertumbuhan Ekonomi Kecamatan di Kabupaten Lebak tahun 2005-2009 ............ Matriks IFE Pembangunan Wilayah Sumberdaya Manusia Kabupaten Lebak Tahun 2010 ........................ Matriks IFE Pembangunan Wilayah Sumberdaya Manusia Kabupaten Lebak Tahun 2009 ................ Jumlah Penduduk Usia 10 Tahun ke Atas yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2009 ........................................... Analisis Ekonometrik Regresi Berganda Sumber Disparitas Pembangunan Wilayah di Kabupaten Lebak .................................................................................. PDRB dan Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Lebak tahun 2005-2009 ..xvi 34 Analisis Ekonometrik Regresi Berganda Pengaruh Pelayanan Publik Pendidikan terhadap IPM di Kabupaten Lebak ............ Sentra Industri Kecil di Kabupaten Lebak Tahun 2009 .................................. 129 35 133 36 146 37 151 158 38 39 159 40 160 41 162 42 164 43 166 170 44 45 179 46 188 47 190 ................... Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin serta Garis Kemiskinan Tahun 2005-2008 ........................................................................................................................................................................................................................................................................................... Perhitungan Location Quotient (LQ) Kabupaten Lebak Tahun 2009 Berdasarkan Jumlah Tenaga Kerja per Sektor (Miliar) ........................................................ Analisis Ekonometrik Regresi Berganda Pengaruh Pelayanan Publik Kesehatan terhadap IPM di Kabupaten Lebak .............. Ringkasan Matriks Tipologi Daerah Klassen Kabupaten Lebak Tahun 2005 ....... Ringkasan Matriks Tipologi Daerah Klassen Kabupaten Lebak Tahun 2009 ......................

..................................................................................... 13 89 14 Grafik Rasio Fasilitas Kesehatan dengan Jumlah Penduduk Masing-masing Kecamatan di Kabupaten Lebak ............................. 3 16 2 3 Tradeoff Keuangan dalam Pengambilan Keputusan Untuk Melanjutkan Sekolah ...... 103 Grafik Rasio Tenaga Kesehatan dengan Jumlah Penduduk Masing-masing Kecamatan di Kabupaten Lebak .... 18 Biaya dan Manfaat Sosial Pendidikan Versus Biaya dan Manfaat Individu ................. Kurva Hipotesa Neo-Klasik .......................................... 104 Matriks Posisi Kuadran IPA Pelayanan Publik Bidang Kesehatan Kabupaten lebak Di Wilayah Tertinggal ..................................................................... Bagan Alur Kerangka Pemikiran Operasional .............. Kurva Hipotesis Kuznets ...................................................................................... Jumlah Rasio Bangunan sekolah dengan Penduduk Usia Sekolah di Kabupaten Lebak Tahun 2009 ................................................................................ Peta Administrasi Kabupaten Lebak .......................................xvii DAFTAR GAMBAR Nomor 1 Teks Halaman Perbandingan Indeks Pembangunan Manusia Tiap Kabupaten/Kota di Provinsi Banten tahun 2008 ............................ 4 19 26 27 45 57 70 71 5 6 7 8 9 10 11 85 12 Jumlah Rasio Guru dengan Penduduk Usia Sekolah di Kabupaten Lebak Tahun 2009 .................................................................................................... 15 16 106 17 119 ......................................................................... 86 Matriks Posisi Kuadran IPA Pelayanan Publik Bidang Pendidikan Kabupaten lebak Di Wilayah Tertinggal.............................................................. Karakteristik Good Governance ........ Tren Angka Harapan Hidup Lebak dan Rata-rata Provinsi Banten Periode Tahun 2000-2008 ....................................................................................................... Peta Rencana Kawasan Lindung Kabupaten Lebak ........................................................................ Diagram Kartesius Important Performance Analysis (IPA) .....................................................................................................

........................... Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Lebak Tahun 2005-2009 (Persentase) ...................... PDRB Per Kapita atas Dasar Harga Kabupaten Lebak Tahun 2005 – 2009 ................................................................................................. PDRB per Kapita Kecamatan atas Dasar Harga Berlaku 2005-2009 (Rupiah) ................ PDRB Kecamatan atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2005-2009 (Jutaan Rupiah) ............................. 20 143 21 144 22 145 23 147 24 148 25 149 26 150 161 163 166 167 168 27 28 29 30 31 32 171 174 33 34 175 35 176 ...... Laju Pertumbuhan Ekonomi Berdasarkan Harga Berlaku Kabupaten Lebak Tahun 2005-2009 (Persentase) ... Jumlah Penduduk Miskin Kabupaten Lebak Tahun 2005-2008 ...............................xviii 18 Tren Indeks Pengetahuan Kabupaten Lebak dan Provinsi Banten Tahun 2003-2008 ...... 122 19 Grafik Perkembangan IPM dan Elemen Penyusunnya Kabupaten Lebak Tahun 2002-2008 ......................................................................................................................................................................................................... Matriks Tipologi Klassen Kabupaten Lebak Tahun 2009 ..................................... Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Lebak Tahun 2009 (Persentase) Grafik Pertumbuhan IPM dan Elemen Penyusunnya Kabupaten Lebak Tahun 2002-2008 .................................................................................................................................................... Perkembangan Indeks Williamson Kabupaten Lebak Tahun 20052009 ...... Grafik Perkembangan Rasio Belanja Infrastruktur Umum Kabupaten Lebak Tahun 2003-2009 (Persentase) ............................................................................................................................. 126 PDRB Atas Dasar Harga Berlaku di Kabupaten Lebak Tahun 2005 – 2009 (Jutaan Rupiah) ....................... Angka Garis Kemiskinan Kabupaten Lebak Tahun 2005-2008 ................... Laju Pertumbuhan Ekonomi Kecamatan atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2005-2009 (Persentase) ..................... Matriks Tipologi Klassen Kabupaten Lebak Tahun 2005 ........................................................................................................................................................... Persentase Penduduk Miskin Kabupaten Lebak Tahun 2005-2008 .............

............ 178 Hasil analisis Matriks Internal-Eksternal (I-E) Pembangunan Sumberdaya Manusia di Kabupaten lebak .. 193 37 38 .............................................................................xix 36 Grafik perkembangan rasio belanja infrastruktur Pendidikan Kabupaten Lebak tahun 2003-2009 (Persentase) ............................ 177 Grafik perkembangan rasio belanja infrastruktur Kesehatan Kabupaten Lebak tahun 2003-2009 (Persentase) .................................................

......... Ringkasan APBD Kabupaten Lebak Tahun 2009...................... Print Out Hasil Analisa Regresi Berganda Pemodelan Ekonometrik.................... Ringkasan APBD Kabupaten Lebak Tahun 2005......... Ringkasan APBD Kabupaten Lebak Tahun 2007......................... ..... Ringkasan APBD Kabupaten Lebak Tahun 2008........xx DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1 2 3 4 5 6 7 Teks Halaman 209 211 214 216 218 221 222 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas ................................................. Ringkasan APBD Kabupaten Lebak Tahun 2010...................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Otonomi daerah merupakan salah satu kebijakan pengembangan wilayah yang mencoba merubah sistem sentralistik menjadi desentralistik. Melalui kebijakan ini, diharapkan dapat mempercepat proses pembangunan pada tingkat lokal, memberi ruang gerak pada bidang politik, pengelolaan keuangan daerah dan efisiensi pemanfaatan sumberdaya daerah untuk kepentingan masyarakat lokal, sehingga muncul formulasi dan model pembangunan daerah yang efisien dan terdesentralisasi. Konsep desentralisasi yang telah digulirkan tersebut kemudian secara sistematik telah memaksa daerah sebagai satuan dari wilayah administratif untuk meningkatkan perannya dalam mengelola segala potensi lokal yang ada. Pada akhirnya, konsep desentralisasi ini diharapkan mampu mempercepat proses pencapaian tujuan pembangunan. Pada konteks teori dan kebijakan pembangunan ekonomi, pendidikan dan kesehatan merupakan dua bagian dari tujuan pembangunan yang mendasar. Terlepas dari faktor penentu lainnya, kedua hal tersebut merupakan hal yang sangat penting. Kesehatan merupakan inti dari kesejahteraan, dan pendidikan adalah hal mendasar untuk menggapai kehidupan yang memuaskan dan lebih berharga. Jadi pendidikan dan kesehatan menjadi faktor fundamental dalam pembentukan kemampuan manusia yang lebih luas dan berada pada inti makna pembangunan. Dua bagian faktor tujuan pembangunan ini lebih sering disebut sebagai modal manusia atau human capital. Modal manusia memainkan dua peran utama dalam membentuk kemampuan sebuah negara. Pertama, kualitas pendidikan beperan menyerap teknologi modern dan mengembangkan kapasitas agar tercipta pertumbuhan pembangunan yang berkesinambungan. Kedua, kesehatan merupakan pra-syarat bagi peningkatan produktivitas, sementara keberhasilan pendidikan juga kembali bertumpu pada kesehatan yang baik.

2

Pembangunan sumberdaya manusia atau human resources development itu sendiri merupakan suatu proses pengembangan kualitas diri manusia agar memiliki lebih banyak pilihan untuk memperbaiki taraf hidup maupun tingkat kesejahteraannya. Pilihan yang dimaksud adalah pilihan dalam hal pendidikan, kesehatan, pendapatan, lingkungan fisik dan lain sebagainya. Untuk mengukur tingkat keberhasilan pembangunan sumberdaya manusia, sebagian besar alat yang digunakan adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI). Fakta penting yang perlu disimak adalah perbaikan human capital selama separuh abad terakhir yang meningkat tajam. Menurut United Nation (2009), pada tahun 1950, sebanyak 280 dari setiap 1.000 anak di semua negara berkembang meninggal sebelum mecapai usia lima tahun. Namun di tahun 2008, angka tersebut telah menurun menjadi 120 per 1.000 di negara-negara miskin dan 7 per 1.000 untuk berkembang dan kaya. Pada tahun 2008, usia harapan hidup negaranegara maju berkisar 80-90 tahun, sementara di negara berkembang berkisar 4060 tahun. Pendidikan juga mengalami peningkatan yang cukup fenomenal sejak beberapa dekade terakhir ini. United Nation (2009) melaporkan bahwa masih terdapat 63 persen penduduk di atas usia 15 tahun yang buta huruf di dunia pada tahun 1970, namun di tahun 2008, 80 persen penduduk dunia telah mampu membaca dan menulis. Angka lama sekolah sekolah untuk negara-negara maju sangat tinggi yakni lebih dari 12 tahun, sedangkan di negara berkembang jauh tertinggal dengan rata-rata berkisar 4-6 tahun. Sehingga secara umum masih terdapat disparitas pembangunan human capital dua kutub pertumbuhan yakni antara negara maju dengan negara berkembang. Indonesia sebagai salah satu negara yang masih berkutat dalam dunia ketiga, atau negara berkembang pun masih memiliki kondisi human capital yang jauh dari harapan. Tercatat bahwa di tahun 2009 Angka Harapan Hidup Indonesia adalah sebesar 61,34 tahun, sedangkan Angka Melek Huruf penduduk adalah sebesar 91,45 tahun (BPS, 2009). Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa human capital di Indonesia dikategorikan berada pada level rendah.

3

Pada konteks pembangunan wilayah, kondisi human capital di wilayahwilayah Indonesia mengalami kenyataan yang tidak jauh berbeda. Terdapat disparitas human capital atau kualitas sumberdaya manusia antara wilayah timur dengan barat Indonesia, disparitas antar kabupaten dalam satu provinsi, hingga adanya disparitas antar kecamatan dalam lingkup satu kabupaten. Dalam penelitian ini, akan lebih khusus membahas disparitas pembangunan wilayah dalam satu kabupaten. Kabupaten yang terpilih menjadi objek penelitian adalah Kabupaten Lebak yang terletak di Provinsi Banten. Terdapat beberapa hal yang cukup menarik dalam pembangunan sumberdaya manusia di tingkat Kabupaten Lebak. Pertama, secara geografis Kabupaten Lebak ini berada dalam zona strategis, baik dalam sektor pertanian, perikanan, peternakan, perdagangan hingga industri. Selain itu, Jarak kabupaten hanya 70 km dengan pusat pemerintahan negara, Jakarta. Namun yang terjadi justru kualitas sumberdaya manusia Kabupaten Lebak tertinggal jauh jika dibandingkan dengan angka IPM antar Kabupaten/Kota di Provinsi Banten. Rendahnya IPM tersebut mencerminkan rendahnya kualitas sumberdaya manusia Kabupaten Lebak. Secara umum, terjadi disparitas kualitas sumberdaya manusia antar kabupaten di Provinsi Banten, hal tersebut ditunjukkan pada Gambar 1.
76 74 72 70 68 66 64 62 74,41 70,73 67,38 67.10 67,45 74,43

Kabupaten Pandeglang

Kabupaten Lebak

Kabupaten Tangerang

Kabupaten Serang

Kota Tangerang

Kota Cilegon

Sumber: Bappeda Kabupaten Lebak, Tahun 2009 Gambar 1. Perbandingan Indeks Pembangunan Manusia Tiap Kabupaten/Kota di Provinsi Banten tahun 2008 Pada tahun 2008, Angka Harapan Hidup (AHH) penduduk Kabupaten Lebak adalah 63,11 tahun. Angka tersebut masih di bawah rata-rata Provinsi Banten yang telah mencapai 64,45 tahun (Dinkes Kab. Lebak, 2009). Dengan kata

4

lain, kualitas hidup sumberdaya manusia di Kabupaten Lebak masih di bawah kabupaten/kota lain di Provinsi Banten. Berdasarkan hasil pendataan SUSENAS (2009), persentase penduduk usia 10 tahun ke atas yang mampu membaca dan menulis adalah 94,20 persen, sedangkan rata-rata provinsi banten sebesar 95,68 (Bappeda Kab. Lebak, 2009). Pada indikator rata-rata lama sekolah, Kabupaten Lebak masih tergolong rendah yakni hanya 6,3 tahun pada tahun 2008, atau setara dengan lulus SD. Pada tingkat Provinsi Banten, rata-rata lama sekolah telah mencapai 8,2 tahun atau hampir setara dengan kelas dua SLTP. Tingginya rata-rata lama sekolah di tingkat provinsi ini disumbangkan oleh daerah lain yang jauh lebih maju, khususnya daerah perkotaan seperti Kota Cilegon dan Kab/Kota Tangerang. Hal ini dapat dilihat dari Tabel 1 yang menerangkan informasi perbandingan lama sekolah antara Lebak dengan Banten. Tabel 1 Perkembangan Angka Melek Huruf dan Rata-rata Lamanya Sekolah Kabupaten Lebak dan Rata-rata Provinsi Banten Tahun 1999-2008 Angka Melek Huruf (%) Rata-rata Lama Sekolah (tahun) Tahun Kab. Lebak Prov. Banten Kab. Lebak Prov. Banten 1999 90.80 91.50 5.50 6.60 2000 91.03 92.14 5.94 6.80 2001 91.30 92.47 6.22 7.10 2002 90.19 93.84 5.30 7.90 2003 91.40 94.20 5.50 8.10 2004 93.90 94.70 6.10 8.50 2005 94.10 95.60 6.20 8.00 2006 94.10 95.60 6.20 8.10 2007 94.10 95.60 6.20 8.10 2008 94.20 95.68 6.30 8.20 Sumber: Bappeda Kabupaten Lebak, Tahun 2010

Hal menarik kedua adalah terjadinya disparitas pembangunan modal manusia antar wilayah di Kabupaten Lebak. Disparitas terlihat dari rendahnya implementasi pelayanan publik dari infrastruktur. Pada tahun 2009, kondisi bangunan sekolah dasar hanya 59.60 persen yang kondisinya baik, sedangkan 40.40 persen dalam keadaan rusak. Wilayah Lebak di luar Kecamatan Rangkasbitung masih kekurangan sekitar 2.000 tenaga pengajar dan 1.000 tenaga

2.Perumusan Masalah Proses implementasi otonomi daerah dalam perjalanan selama sepuluh tahun ini masih sesuai dengan koridor yang telah ditetapkan pada awal perumusannya. yakni rendahnya kualitas sumberdaya manusia akibat buruknya pelayanan publik. Lingkaran setan berupa buruknya pelayanan publik terhadap pembangunan sumberdaya manusia atau human capital menyebabkan rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan akhirnya memunculkan atau meningkatkan angka disparitas pembangunan di Kabupaten Lebak. Sebagian besar infrastruktur yang rusak berada di daerah lebak bagian selatan dan tengah. Hal tersebut terlihat dengan . Jumlah penduduk yang berpendidikan sarjana pun masih bisa dihitung dengan jari. 2009). Penduduk usia sekolah yang berhasil menamatkan sekolah menengah hanya 5 persen. Akan tetapi. Proses partisipasi masyarakat pun telah menunjukan perbaikan yang cukup menggembirakan. Sebagian yang pro demokrasi mengatakan setuju terhadap perkembangan yang diberikan dari konsep desentralisasi melalui otonomi daerah ini. justru tantangan yang dihadapi sebanding dengan opportunity dan utility yang didapatkan. 1. Terbukti bahwa sebagian besar penduduk usia sekolah di wilayah Lebak bagian selatan dan tengah adalah lulusan sekolah dasar yakni berkisar 80 persen. Konsep desentralisasi ini seperti sebilah dua sisi pedang yang saling memberikan dampak positif dan juga arah menuju angka defisit pembangunan. Selain itu juga ditambah dengan banyaknya kasus gizi buruk di wilayah Lebak selatan dan tengah. Kurangnya pelayanan publik baik berupa infrastruktur serta tenaga pengajar dan kesehatan tersebut menyebabkan proses pembangunan human capital pun berjalan lambat. Lebak. Fakta-fakta yang menunjukan disparitas ini dilatarbelakangi oleh dua faktor yang sangat menentukan.000 kasus gizi buruk. di tahun 2008 ditemukan sekitar 5. Karena memang telah terjadi peningkatan yang cukup berarti pada sebagian daerah dari sisi PDRB per kapita penduduknya. bukan berarti berjalan tanpa masalah.5 kesehatan (Bappeda Kab.

2010). 1 : 800 untuk perawat dan 1 : 1. kontraproduktif secara ekonomi. maka dalam penelitian ini mencoba untuk memandang proses desentralisasi ini dari sisi yang lebih objektif. Untuk menspesifikasikan tujuan penelitian. Secara ideal. rendahnya mutu dan kesempatan memperoleh pendidikan. hal tersebut ditunjukkan dengan rendahnya angka IPM tahun 2008 yakni sebesar 67. Pembangunan wilayah yang berfokus untuk mengembangkan human capital di era otonomi daerah masih terkendala oleh pelayanan publik yang jauh dari harapan.000 untuk bidan. 1 : 5. Akan tetapi untuk wilayah lebak bagian tengah dan selatan sama sekali tidak ada dokter spesialis.6 semakin luasnya ruang politik bagi para politisi lokal dalam mengaspirasikan suara-suara rakyat bawah. Perbandingan ideal tenaga kesehatan adalah 1 : 15. perbandingan dokter umum 1 : 18. Masalah pengangguran.10. namun untuk wilayah Lebak Bagian tengah dan selatan. Lebak. tidak populis secara politik. Buruknya pelayanan publik ini dapat terlihat dari kurangnya infrastruktur serta tenaga pendidik dan kesehatan di wilayah tengah dan selatan. Terlepas dari pro-kontra dua kubu yang saling bertolak belakang. perawat adalah 1 : 4. serta rendahnya tingkat kesehatan adalah beberapa contoh permasalahan yang dihadapi pemerintah daerah dalam implementasi otonomi daerah. maka secara khusus akan membahas permasalahan kualitas sumberdaya manusia atau human capital sebagai pemegang peran penting dalam pembangunan daerah. rata-rata perbandingannya adalah 1 : 60 siswa (Disdik Kab. Tinjauan kritis yang dianalisis harus melalui indikatorindikator penilaian pembangunan. Proses otonomi daerah ini masih dipandang belum berkeadilan secara sosial. Kualitas sumberdaya manusia di Kabupaten Lebak masih rendah. Namun bagi yang pro pemerataan pembangunan tentu akan berkomentar sebaliknya terhadap hasil yang diberikan oleh otonomi daerah ini. kemiskinan.000 untuk dokter umum.000. perbandingan antara tenaga pendidik dan siswa sekolah dasar adalah 1 : 32. mengingkari etika pembangunan berkelanjutan secara ekologis dan jauh dari ruh yang dinamis secara kultural. Karena meningkatnya human capital berupa pendidikan dan kesehatan merupakan tujuan pembangunan yang paling mendasar.000 untuk dokter spesialis.900 dan bidan sebesar .

Menurut penuturan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lebak (2009). dari keseluruhan jalan Kabupaten.7 1 : 6.700 (Dinkes Kab. Akan tetapi banyak calon tenaga pendidik dan kesehatan yang tidak bersedia ditempatkan pada wilayah lebak bagian tengah dan selatan. Salah satu faktor yang menjadi penyebabnya adalah aksesibilitas jalan kabupaten yang sangat buruk sehingga menyebabkan sulitnya akses ekonomi. Permasalahan yang muncul adalah rendahnya kualitas sumberdaya manusia ini sebagian besar disebabkan oleh kekurangan dan penyebaran tidak merata dari tenaga pendidikan dan kesehatan serta kondisi kultur sebagian masyarakat yang belum sadar akan pentingnya pendidikan dan kesehatan. Sehingga proses pembangunan pun akan berjalan beriringan baik dari sisi kebutuhan masyarakat sebagai akar rumput maupun pemerintah daerah sebagai ranting naungan pembangunan. Dampak lanjutannya adalah terjadinya disparitas pembangunan human capital di Kabupaten Lebak Dengan beragam kondisi pendidikan dan kesehatan Kabupaten Lebak yang cukup memprihatinkan di atas. Paradigma tersebut adalah adanya perubahan paradigma pembangunan yang harus memberikan keterlibatan dan partisipasi masyarakat secara aktif. maka diperlukan suatu paradigma baru dalam menetapkan rencangan pembangunan modal manusia. masyarakat harus menempun jarak sepanjang 150 km. Angka tersebut menunjukkan Pemkab Lebak belum memberikan pelayanan publik bidang pendidikan dan kesehatan yang optimal untuk seluruh wilayah di Kabupaten Lebak. Besarnya ongkos perjalanan ekonomi ini secara tidak langsung menjadi faktor penghambat laju pertumbuhan ekonomi sekaligus faktor penyebab ketertinggalan sumberdaya manusia. Kabupaten Lebak sebetulnya tidak sulit untuk bisa mendapatkan tenaga pendidikan dan kesehatan. 2010). karena harus melalui jalan putar jalur Kabupaten Pandeglang. Lebak. peran masyarakat dalam pengambilan kebijakan sangat penting. hanya 20 persen saja yang layak pakai selebihnya rusak ringan hingga berat. Dalam proses pembangunan wilayah yang terdesentralisir di era otonomi daerah. Padahal jarak tempuh terjauh apabila melalui jalan Kabupaten Lebak adalah sepanjang 70 km. Untuk bisa meraih wilayah Lebak bagian selatan. Karena otonomi daerah dilahirkan agar tercapainya percepatan kesejahteraan masyarakat .

3. Bagaimana strategi alternatif kebijakan pembangunan sumberdaya manusia di Kabupaten Lebak ? 1. Menganalisis pengaruh kinerja pelayanan publik terhadap kualitas sumberdaya manusia di Kabupaten Lebak 2. maka permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan tesis ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana pengaruh kinerja pelayanan publik terhadap kualitas sumberdaya manusia di Kabupaten Lebak ? 2. Berdasarkan uraian di atas. Sehingga preferensi masyarakat merupakan hal mutlak pada salah satu tahapan proses perumusan kebijakan umum pembangunan wilayah. Bagi Penulis Kegiatan penulisan ini merupakan sarana bagi penulis untuk mengasah kemampuan menulis karya ilmiah. mengamati dan menganalisis suatu permasalahan sosial untuk kemudian berusaha menemukan solusi atas permasalahan sosial tersebut. . Penulis juga dituntut untuk lebih peka terhadap permasalahan pembangunan wilayah yang berfokus pada pembangunan modal manusia. Menganalisis pengaruh kualitas sumberdaya manusia terhadap struktur ekonomi dan disparitas pembangunan wilayah 3. maka tujuan dari penulisan tugas akhir tesis ini adalah sebagai berikut: 1. Manfaat Tesis ini diharapkan akan dapat memberi manfaat sebagai berikut : 1. Bagaimana pengaruh kualitas sumberdaya manusia terhadap struktur ekonomi dan disparitas pembangunan wilayah 3. Tujuan Berdasarkan perumusan masalah di atas.3.8 dengan peningkatan peran serta masyarakat dalam proses pembangunan. Menyusun strategi alternatif kebijakan pembangunan sumberdaya manusia di Kabupaten Lebak 1.

dua kecamatan dan empat desa di wilayah tertinggal. dinas pendidikan. Objek penelitian adalah masyarakat. Kecamatan yang diteliti adalah Cibeber dan Maja yang dianggap sebagai representasi kecamatan tertinggal di Kabupaten Lebak. yakni desa yang relatif maju dan desa yang relatif tetinggal. Bappeda dan Anggota Legislatif Komisi IV. Penelitian dilakukan pada instansi terkait dengan tujuan penelitan. Bagi Pembaca dan Masyarakat Memberikan gambaran dan informasi mengenai realisasi kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak dalam mewujudkan good governance pada proses pembangunan wilayah di bidang pendidikan dan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan minimal dan persepsi masyarakat. Masing-masing kecamatan tertinggal tersebut diambil dua desa. dinas kesehatan. 3. Bagi Pemerintah atau Pihak-pihak yang Terkait Karya tulis ini diharapkan dapat memberikan gambaran penilaian atas kondisi umum kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak dalam pelayanan publik bidang kesehatan dan pendidikan di era otonomi daerah yang telah berlangsung beserta kebijakan terkait dan memberikan sumbangan saran berupa solusi konstruktif yang dapat dilakukan pemerintah daerah. 2.9 2. Ruang Lingkup Penelitian 1. .4. 1.

lingkungan. perencanaan kota dan sebagainya (Hanafiah. Regional science menurut Mayhew (1997) adalah suatu studi interdisplin yang mengkhususkan pada integrasi analisis-analisis fenomena sosial dan ekonomi wilayah. ekonomi. mencakup aspek-aspek perubahan. ilmu wilayah dapat dipandang sebagai ilmu yang mempelajari aspek-aspek dan kaidah-kaidah kewilayahan. yang melibatkan interaksi antara sumberdaya manusia dengan sumberdaya lainnya.2. Pertumbuhan ini ditunjukkan dengan tingkat PDRB wilayah yang bersangkutan. Pada studi empiris (praktis) tentang perencanaan pembangunan wilayah diperlukan adanya pendekatan multidisiplin. yang melibatkan berbagai disiplin ilmu seperti geografi. 1989). 2. Perencanaan Pembangunan Wilayah Secara harfiah. termasuk sumberdaya alam dan lingkungan melalui investasi. Anwar (1996) mengemukakan bahwa perencanaan pembangunan wilayah diartikan sebagai suatu proses atau tahapan pengerahan kegiatan pembangunan di suatu wilayah tertentu.10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. politik. mulai dari sektor pertanian hingga industri.1. antisipasi (peramalan) perubahan-perubahan hingga perencanaan pembangunan di masa yang akan datang dengan penekanan pada pemodelan-pemodelan matematis.Struktur Perekonomian Strukur perekonomian wilayah menunjukan bagaimana suatu wilayah memiliki pola dan struktur pertumbuhan ekonomi. Selain itu juga dijelaskan melalui tingkat dan jenis pekerjaan yang dominan dimiliki penduduk. Definisi yang tidak jauh berbeda dikemukakan oleh Syafrizal (1985). sosiologi. dan mencari cara-cara yang efektif dalam mempertimbangkan aspek-aspek dan kaidah-kaidah tersebut ke dalam proses perencanaan pengembangan kualitas hidup dan kehidupan manusia. . matematik. perencanaan pembangunan wilayah merupakan salah satu sistem perencanaan yang dipergunakan dalam mengatur alokasi sumberdaya yang terbatas dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional.

Otonomi secara umum sering disebut sebagai devolusi. otonomi daerah adalah wewenang daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan yang diserahkan oleh pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. termasuk di dalamnya terdapat perubahan prinsip kerja pemerintahan yang berupa kewenangan untuk mengatur urusan daerahnya . wewenang dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri dalam arti pemerintah daerah (Widodo. yakni: Pertama. 2003). 2001). pembangunan ekonomi merupakan suatu proses transformasi yang dalam perjalanan waktu ditandai oleh perubahan struktur perekonomian. Sedangkan menurut Djodjohadikusumo (1994).1. 32 tahun 2004. kebijakan otonomi lebih merupakan perubahan dalam tata susunan kekuasaan. perubahan struktur ekonomi umum disebut transformasi struktural dan dapat didefinisikan sebagai suatu rangkaian perubahan yang saling terkait satu dengan lainnya dalam komposisi permintaan agregat. 2009).Otonomi Daerah 2. bahwa otonomi daerah bukan skema kedaulatan daerah dalam konteks negara federal. Definisi Otonomi Daerah Menurut UU No. Kedua. 5 tahun 1974. 32 tahun 2004 mengandung beberapa segi dasar.2. Pengertian dari UU No. definisi otonomi daerah adalah penyerahan urusan kepada lembaga pemerintah daerah. penawaran agregat (produksi dan penggunaan faktor produksi seperti tenaga kerja dan modal) yang diperlukan guna mendukung proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (Todaro. perubahan struktur dan pertumbuhan ekonomi memiliki keterkaitan yang sangat erat.3. Dengan demikian. 2. merupakan pelimpahan wewenang kepada badan hukum lokal di luar organisasi yang memberikan wewenang (Prasetiyowati. Seperti perdagangan internasional (ekspor dan impor).11 Meminjam istilah Kuznets. yaitu perubahan pada landasan kegiatan ekonomi maupun pada kerangka susunan ekonomi masyarakat yang bersangkutan. Sedangkan secara formal sebagaimana disebutkan dalam UU No. yaitu pemberian hak.

wewenang dan sumber-sumber daya berupa dana maupun personil dari pemerintah pusat ke level pemerintahan daerah. dan potensi keanekaragaman daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumberdaya nasional yang berada di daerah oleh pemerintah atau yang dikuasakan/diberi ijin. memungut pajak daerah dan retribusi daerah. dalam menyelenggarakan otonomi daerah. melindungi masyarakat. Berdasarkan UU No. menerangkan bahwa kebijakan desentralisasi yang diwujudkan dalam pembentukan daerah otonom dan penyelenggaraan otonomi daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan. 2. Kedua. Ketiga. meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.3 Desentralisasi Desentralisasi adalah sebuah bentuk pemindahan tanggung jawab. pemberdayaan dan partisipasi masyarakat. mengembangkan keadilan dan pemerataan. 32 tahun 2004. daerah mempunyai beberapa kewajiban. Ketiga. 32 tahun 2004. mengembangkan sumberdaya produktif di daerahnya. yakni: Pertama. 2. Kelima. Kedua. Keempat. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah. 2001). Otonomi daerah juga berorientasi pada peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi. keadilan. pemerataan. Keempat. Ketujuh. mengembangkan kehidupan demokrasi.2 Prinsip Otonomi Daerah Prinsip otonomi daerah menurut UU No. menyediakan pelayanan umum. Ketiga. proses politik rezim Orde Baru yang tidak memberi harga pada partisipasi rakyat telah dengan seksama menunjukkan bagaimana akibat dari elitisme dan sentralisasi politik tersebut (Widodo. mengelola kekayaan daerah.2. Keenam. Sedangkan dalam penyelenggaraan otonomi daerah sesuai UU No. mendapatkan sumber-sumber pendapatan lain yang sah.2. yakni: Pertama. melestarikan nilai-nilai sosiokultural. Dasar dari inisiatif seperti ini . terdapat beberapa hak daerah.12 sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

memperbesar partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan. Philipus dan Aini (2004) mengartikan demokrasi sebagai cara membentuk kebijaksanaan dengan memberi banyak kemungkinan para anggota kelompok untuk mempengaruhi kebijakan itu. Jadi. demokrasi adalah sistem politik dan sosial yang diperjuangkan oleh pendukung-pendukung yang berpengaruh.13 adalah desentralisasi dapat memindahkan proses pengambilan keputusan ke tingkat pemerintahan yang lebih dekat dengan masyarakat. meningkatkan proses demokratisasi. Berdasarkan uraian diatas. partisipasi penuh seluruh masyarakat dalam proses yang demokratis. 2005). Demokrasi adalah cara pembentukan kebijakan dengan melibatkan anggota kelompok sebanyak mungkin. demokrasi berarti pemerintahan atau kekuasaan rakyat. serta meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pemerintah. dan kratein yang berarti kekuasaan atau pemerintahan.4 Demokrasi Demokrasi berasal dari kata demos. serta pembagian sumberdaya yang lebih berimbang antara pusat dengan daerah. dapat disimpulkan demokratisasi adalah proses perubahan dari struktur tatanan pemerintahan yang otoriter ke arah struktur dan tatanan yang demokratis. Manfaat desentralisasi adalah pengalokasian yang lebih baik dari sumberdaya oleh pemerintah yang terbatas melalui peningkatan efektifitas dan efisiensi biaya pelayanan publik.2. perencanaan 'bottom-up'. 2. Prinsip dari demokratisasi ini adalah setiap keputusan harus dibicarakan bersama dan pelaksaan atas keputusan itu didesentralisasikan. Menurut Budiardjo (1972). Demokratisasi merupakan proses dilakukannya diversifikasi kekuasaan untuk meniadakan kesenjangan hak-hak politik warga negara serta memperluas hak warga negara untuk bersuara dan berpendapat (Haris. kendali daerah yang lebih besar terhadap sumber-sumber keuangan. Prinsip-prinsip utama desentralisasi adalah mempromosikan otonomi daerah. . berarti rakyat. Alasannya adalah bahwa masyarakat yang akan merasakan langsung pengaruh program pelayanan yang dirancang dan kemudian dilaksanakan oleh pemerintah (Haris 2005).

2005) : 1. Good Governance Pengertian Good Governance bisa berlainan antara satu dengan yang lain. penghindaran salah alokasi dana investasi dan pencegahan korupsi baik secara politik maupun administratif. menjalankan disiplin anggaran serta penciptaan legal serta kerangka perpolitikan bagi tumbuhnya aktivitas usaha 1. Menurut World Bank (2007). Prinsip-prinsip good governance diurai sebagai berikut (Haris. Good Governance adalah suatu penyelenggaraan manajemen pembangunan yang solid dan bertanggung jawab yang sejalan dengan prinsip demokrasi dan pasar yang efisien. Jadi dengan kata lain bahwa cukup informasi berkenaan dengan penyelenggaraan pemerintah dan sebagainya yang disiapkan dan disajikan dalam bentuk media yang mudah dan dapat dimengerti. lembagalembaga dan seluruh proses pemerintahan harus berusaha melayani semua pihak yang berkepentingan.4. Transparansi Informasi tersebut tersedia dengan cuma-cuma dan secara langsung dapat diakses oleh masyarakat atau yang berwenang. 1 http://www.php?nama=GoodGovernance&op=detail_artikel&id=4 . Peduli pada Stakeholder (Responsif) Good governance memerlukan institusi dan proses usaha untuk melayani semua pemerintah di dalam suatu timeframe layak. Tegaknya Supremasi Hukum Kerangka hukum harus adil dan diberlakukan tanpa pandang bulu termasuk di dalamnya hukum-hukum yang menyangkut hak asasi manusia. Penyelenggaraan hukum yang adil memerlukan suatu pengadilan independen dan suatu aparat penegak hukum yang tidak berat sebelah.go.id/konten. Oleh karena itu. 4.depdagri. Partisipasi Masyarakat Partisipasi menyeluruh tersebut dibangun berdasarkan kebebasan berkumpul dan mengungkapkan pendapat serta kapasitas untuk berpartisipasi secara konstruktif.14 2. 3. 2.

8. budaya dan sosial yang menjadi dasar bagi perspektif tersebut. tetapi juga sektor swasta dan organisasi masyarakat sipil harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan kepada kelembangaan yang berwenang. 9. Suatu kesejahteraan masyarakat tergantung pada kepastian bahwa semua anggotanya merasa mempunyai suatu pegangan di dalamnya dan tidak merasa dikeluarkan dari tendensi masyarakat. Berorientasi pada Konsensus Good governance berorientasi penyelesaian sengketa dengan penengahan kepentingan yang berbeda di dalam masyarakat untuk menjangkau suatu konsensus yang luas dalam masyarakat pada suatu mufakat terbaik masyarakat yang utuh dan cara mendapatkannya. serta kepekaan akan apa saja yang dibutuhkan untuk mewujudkan perkembangan tersebut. . tergantung pada keputusan atau tindakan diambil berupa internal atau di luar suatu organisasi atau institusi. 7. Selain itu mereka juga harus memiliki pemahaman atas kompleksitas kesejarahan. Tanggung jawab (Akuntabilitas) Institusi tidak hanya pada bidang pemerintah saja. Visi Strategis Para pemimpin dan masyarakat memiliki perspektif yang luas dan jauh ke depan atas tata pemerintahan yang baik dan pembangunan manusia. Proses-proses pemerintahan dan lembaga-lembaga membuahkan hasil sesuai kebutuhan warga masyarakat dan dengan menggunakan sumberdaya seoptimal mungkin dan memberikan perlindungan lingkungan. Efektifitas dan Efisiensi Good governance berarti proses dan produk institusi yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan memanfaatkan sebaik mungkin sumberdaya pada diri mereka. Siapa bertanggung jawab kepada siapa bervariasi.15 5. 6. Kesetaraan Semua warga masyarakat mempunyai kesempatan memperbaiki atau mempertahankan kesejahteraan mereka.

2008. pendapatan.id Human Settlement. Indeks Pembangunan Manusia Pembangunan manusia merupakan suatu proses pengembangan diri manusia agar memiliki lebih banyak pilihan untuk memperbaiki taraf hidup maupun tingkat kesejahteraannya.co. Tahun 2008 Gambar 2 Karakteristik Good Governance 2 2.16 Sumber : UN-ESCAP. Adapun beberapa indikator tersebut terdiri dari indikator kesehatan (indeks lama hidup).un-escap. . Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indeks komposit yaitu gabungan dari beberapa indikator. indikator pendidikan (indeks melek huruf dan rata-rata lamanya sekolah) dan indikator ekonomi yang ditunjukkan dengan tingkat daya beli penduduk (purchasing power parity). lingkungan fisik dan lain sebagainya. Untuk mengukur tingkat keberhasilan pembangunan manusia tersebut digunakan suatu ukuran yang dinamakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI). Pilihan yang dimaksud adalah pilihan dalam hal pendidikan. Gabungan dari ketiga indikator tersebut diharapkan mampu mengukur tingkat kesejahteraan dan keberhasilan pembangunan manusia di suatu wilayah. 2 www. kesehatan. What Is Good Governance.4.

17 2. modal pendidikan yang lebih baik akan dapat meningkatkan pengembalian atas investasi dalam kesehatan. Sementara kesehatan yang lebih baik akan menyebabkan rendahnya tingkat depresiasi modal pendidikan. maka dapat dihasilkan suatu aliran penghasilan masa depan dari perbaikan pendidikan dan kesehatan. Kesehatan dan pendidikan berkaitan sangat erat dengan pembangunan ekonomi. Secara formal. N adalah pendapatan tanpa pendidikan ekstra.6 Sistem Pendidikan dan Kesehatan dalam Pembangunan Sebagian besar kepustakaan dan diskusi-diskusi yang dilakukan oleh masyarakat mengenai pendidikan dan pembangunan ekonomi pada umumnya berputar pada dua proses ekonomi yang fundamental. Karena banyak program kesehatan bergantung pada keterampilan dasar yang dipelajari di sekolah. Biaya pendidikan meliputi pengeluaran-pengeluaran langsung seperti uang sekolah atau biaya lain yang khususnya terkait dengan pendidikan. Setelah investasi awal dilakukan. interaksi . 2. perbaikan atas efesiensi produktif dari investasi dalam pendidikan mampu meningkatkan pengembalian atas investasi dalam kesehatan yang meningkatkan harapan hidup (Todaro dan Smith.5 Pendekatan Modal Manusia Analisis atas investasi dalam bidang kesehatan dan pendidikan menyatu dalam pendekatan modal manusia. Modal manusia (human capital) adalah istilah yang sering digunakan oleh para ekonom untuk pendidikan. Di sisi lain. dan penjumlahannya adalah tahun-tahun bekerja selama hidup (Todaro dan Smith. Akhirnya. kesehatan dan kapasitas manusia. Di satu sisi. di mana E adalah pendapatan dengan pendidikan. Harapan hidup yang lebih panjang dapat meningkatkan pengembalian atas investasi dalam pendidikan. 2009). yakni : Pertama. modal kesehatan yang baik dapat meningkatkan pengembalian investasi yang dicurahkan untuk pendidikan. keuntungan pendapatan dapat ditulis sebagai berikut. t adalah tahun. 2009).

baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung. Sedangkan biaya pendidikan. secara umum dapat dipandang sebagai hasil yang ditentukan oleh perpaduan antara kekuatan permintaan dan penawaran. Sumber : Todaro & Smith. Biaya pendidikan secara sosial merupakan biaya oportunitas yang harus ditanggung oleh masyarakat seluruhnya sebagai akibat dari adanya kebutuhan masyarakat tersebut untuk membiayai perluasan pendidikan . walaupun banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor yang bersifat non pasar. Hal tersebut merupakan manfaat pendidikan individual bagi siswa dan/atau keluarganya. Tahun 2009 Gambar 3 Tradeoff Keuangan dalam Pengambilan Keputusan Untuk Melanjutkan Sekolah Terdapat harapan bagi seorang siswa yang lebih terdidik untuk mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang lebih baik pada sektor modern di masa yang akan datang. pentingnya selisih antara manfaat dan biaya-biaya. Tingkat pendidikan yang dienyam oleh seseorang. 2009).18 antara permintaan yang bermotivasi ekonomis dan penawaran yang bermotivasi politik sebagai tanggapannya. Manfaat sosial pendidikan adalah manfaat dari pendidikan bagi masyarakat secara keseluruhan. yang harus dikeluarkan atau ditanggung oleh siswa dan/atau keluarganya. baik yang berskala individual maupun sosial dari masing-masing tingkat pendidikan (Todaro dan Smith. Kedua.

rumah sakit dan klinik. atau menjaga kesehatan.19 yang lebih tinggi dan mahal. mengembalikan. sistem kesehatan adalah semua aktivitas yang tujuan utamanya adalah meningkatakan. Menurut definisi WHO. Sistem kesehatan ini meliputi komponen-komponen departemen kesehatan publik. Sumber :Todaro & Smith. status dan gender. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait antara lain seperti pengetahuan. kemampuan. dengan dana yang mungkin akan menjadi lebih produktif apabila digunakan pada sektor-sektor ekonomi yang lain. terutama. Tahun 2009 Gambar 4 Biaya dan Manfaat Sosial Pendidikan Versus Biaya dan Manfaat Individu Standar praktek dalam pengukuran kesehatan umumnya menggunakan tingkat hidup bayi. . dengan tingkat harapan hidup.7 Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan masyarakat mempunyai arti meningkatkan kemampuan atau daya dalam meningkatkan kemandirian masyarakat (Soemodiningrat. 2. dan. 1999). serta ruang praktek dokter dan paramedis.

Pertama. 2. . perlindungan melalui pemihakkan kepada yang lemah untuk mencegah persaingan yang tidak seimbang dan menciptakan kemitraaan yang saling menguntungkan. Sedangkan kebijakan menurut Anderson (1979) adalah suatu langkah tindakan yang secara sengaja dilakukan oleh seseorang aktor atau sejumlah aktor berkenaan dengan adanya masalah atau persoalan tertentu yang dihadapi.1 Kebijakan. 8. Ketiga. tujuan. Purbo (2005) memandang bahwa platform sebagai tempat untuk berpijak. 2005). Kedua. penciptaan suasana atau iklim yang memungkinkan masyarakat berkembang. Pembangunan wilayah dengan pemberdayaan masyarakat pada intinya berorientasi pada pengembangan suatu wilayah yang mampu memberdayakan potensi masyarakatnya baik yang bersifat alamiah maupun potensi manusianya (Ramli. suatu arah tindakan tertentu. atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Platform Pembangunan dan Kinerja Pemerintah Daerah Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995) memberikan arti bahwa kebijakan adalah suatu rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan.8 Prinsip Evaluasi Kinerja Pemerintah Daerah 2. pernyataan cita-cita. Sehingga platform diartikan sebagai patokan-patokan dasar dalam mensikapi suatu masalah (Hidayat.20 Ramli (2003) menjelaskan terdapat beberapa prasarat yang perlu dipenuhi dalam pemberdayaan masyarakat. 2003). fungsi. Platform adalah acuan sebuah organisasi untuk menuntaskan masalah nasional dan merupakan simbol kebijakan serta agenda dalam menyelesaikan permasalahan. Hidayat (2005) menerangkan bahwa kebijakan merupakan deklarasi mengenai suatu dasar pedoman untuk bertindak. Platform juga diartikan sebagai landasan berpijak dari mana dan ke arah mana arah perjuangan. suatu program mengenai aktivitas tertentu atau suatu rencana. peningkatan kemampuan masyarakat dalam membangun melalui berbagai bantuan dana. pelatihan. berkarya dan berinteraksi. serta pengembangan kelembagaan di daerah. pembangunan prasarana dan sarana fisik maupun sosial.

pariwisata dan ketenagakerjaan. 2006).1 Model PP No. 8. demokrasi dan keserasian hubungan pusat-daerah serta daerah-daerah. 129 Tahum 2000.2 Model Pengukuran Kinerja Model pengukuran kinerja bertujuan untuk melakukan pengukuran keberhasilan pemerintah daerah dalam menjalankan roda pemerintahan di era otonomi daerah. transportasi. Ketiga. sosial budaya yakni tempat peribadatan. 2. luas daerah yakni luas wilayah yang dimanfaatkan dan luas wilayah keseluruhan. Kedua. terdapat beberapa kriteria umum yang dapat digunakan untuk menganalisis kinerja pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan wilayah.36) terdiri dari kapabilitas aparat (0. 8. 2. tempat institusi sosial dan sarana olahraga. yang kemudian pada intinya dapat ditemukan beberapa indikatorindikator keberhasilan dan penilaian kinerja (Hadianto. 2006). lain-lain yakni kamtib dan rentang kendali. yaitu: Pertama. Kelima. 2004) Evaluasi Otda dilakukan untuk melihat sejauh mana kinerja penyelenggaraan otonomi dalam rangka pemantapan pelaksanaan otonomi daerah ke depan (Hadianto. sarana prasarana ekonomi. kesehatan. perkembangan wilayah (bobot 0.32) dan sarana prasarana (0. Kedua. sarana pendidikan. keberdayaan pemerintah (bobot 0.2 Model Indeks Pembangunan Daerah (Bappenas) Pada Model Indeks Pembangunan Daerah (Bappenas). pengalaman dan kesadaran historis dalam membangun bangsa pada masa depan (Mukhijab.22).46). sospol yakni partisipasi masyarakat dalam pemilu. Titik berat pelaksanaan otonomi adalah peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat. 8. terdapat beberapa kriteria umum yang dapat digunakan untuk menganalisis kinerja pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan wilayah. 2.22) . kemampuan ekonomi yakni PDRB dan PAD. Keenam. Keempat. jumlah ormas dan jumlah penduduk.2. 129 tahun 2000 Pada model PP No.2. keuangan daerah (0. potensi daerah yakni lembaga keuangan.21 karena ini merupakan kristalisasi dari pemahaman. komunikasi. yaitu: Pertama.

Kedelapan. informasi komunikasi dan sumber daya alam. investasi asing dan perdagangan daerah. sumberdaya manusia terdiri dari penduduk. Ketiga. yaitu: kelembagaan (31%). .2. birokrasi dan sektor publik.3 Model Daya Saing Daerah (PPSK – Bank Indonesia) Pada Model Daya Saing Daerah (PPSK – Bank Indonesia). 8. Kesembilan. Governance dan kebijakan yaitu kebijakan. biaya hidup dan konsumsi. pendidikan dan kualitas hidup. dan infrastruktur fisik (13%). terdapat beberapa kriteria umum yang dapat digunakan untuk menganalisis kinerja pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan wilayah. efisiensi manajemen dan kinerja perusahaan.49). 2. investasi. sospol (26%). Keenam. perekonomian daerah terdiri dari nilai tambah. kependudukan dan ketenagakerjaan (0.2.42) terdiri dari ekonomi wilayah (0. 8. kelembagaan yaitu aspek hukum keamanan dan aspek sospol. Kelima.28). Ketujuh. perdagangan internasional.24). manajemen dan ekonomi mikro yaitu produktivitas.23). infrastruktur dan sumberdaya alam yang terdiri dari infrastruktur fisik. kesejahteraan masyarakat (0. yaitu: Pertama.22 terdiri dari fasilitas publik (0. tenaga kerja dan produktivitas (13%). ketenagakerjaan. keterbukaan yang terdiri dari internasionalisasi. 2.4 Model Daya Tarik Investasi (KPPOD) Pada Model Daya Tarik Investasi (KPPOD). terdapat beberapa faktor yang dapat digunakan untuk menganalisis kinerja pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan wilayah. ekonomi daerah (17%). biaya tenaga kerja. tabungan. Keempat. ilmu pengetahuan dan teknologi yang terdiri dari riset di bidang sumberdaya manusia dan teknologi. sistem keuangan yang terdiri dari sistem perbankan dan sistem finansial nonperbankan. kondisi fisik (0. keberdayaan masyarakat (bobot 0. Kedua.23). Ketiga.52) dan sosial politik budaya (0.

yaitu : indikator derajat kesejahteraan umum. pemerataan. 60 daerah kategori IKM menengah (23-25) dan 8 daerah ber IKM tinggi ( > 35). stabilitas. sufisiensi dan fasilitas. tren pertumbuhan ekonomi daerah meningkat di awal penyelenggaraan namun menurun pada tahun berikutnya 2. 2.97%.1 Derajat Kesejahteraan Umum 1. kesenjangan IPM antara Indonesia Barat-Timur dan lainnya 2. skala kehidupan ekonomi yang terdiri dari pertumbuhan. IPM cenderung meningkat namun tidak ada satupun yang memenuhi standar internasional (>80).3.8.2.03% ke 4. yaitu: Pertama. pelayanan publik dan kehidupan demokrasi lokal. Ketiga. Indikator sosial : pengangguran terbuka turun dari 6. Kedua. 8. layanan publik yang terdiri dari efisiensi. terdapat beberapa parameter umum yang dapat digunakan untuk menganalisis kinerja pemerintah daerah.5 Model Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi Pada Model Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi.3.2.8. Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) dari 107 daerah.23 2. 59 daerah kategori IKM rendah (<23).13% di awal namun turun di tahun berikutnya hingga 6. Indikator infrastruktur : rasio panjang jalan-luas wilayah menurun. Indikator ekonomi : rata-rata PDRB/kapita cenderung meningkat.3 Indikator Kinerja Pemerintah Daerah Merujuk pada Lembaga Administrasi Negara (LAN) dalam Hadianto (2006). demokrasi dan otonomi . terdapat tiga indikator yang digunakan untuk evaluasi kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah di era otonomi daerah periode 1999 – 2003.2 Derajat Pelayanan Publik 1.8. resiko lokal yaitu keamanan. kesinambungan dan pemberdayaan. rasio penduduk tanpa akses sanitasi menurun dan rasio ketersediaan fasilitas umum menurun .

penurunan angka putus sekolah. rasio fasilitas kesehatan/jumlah penduduk meningkat. 716. Kedua. Indikator unjuk rasa : kecenderungan meningkat 4.24 2.071. Indikator jumlah parpol: parpol yang mendapat suara dalam pemilu masih parpol lama 2. Indikator pemerintahan : rasio penduduk per PNS meningkat dan rasio PAD per jumlah penduduk meningkat tajam dari Rp. bagi pemerintah daerah.600 (2003) 2. memberikan pemahaman arti bahwa standar pelayanan minimal memiliki nilai yang sangat strategis bagi pemerintah baik pusat maupun daerah atau bahkan masyarakat sebagai konsumen. Indikator demokrasi lokal : jumlah LSM mengalami peningkatan 2. . Adapun nilai strategis tersebut terdidi dari beberapa bagian. Standar pelayanan minimal (minimum service standard) merupakan suatu istilah dalam pelayanan publik yang menyangkut kualitas dan kuantitas pelayanan publik yang disediakan oleh pemerintah sebagai indikator kesejahteraan masyarakat. yakni pertama.3.3 Kehidupan Demokrasi Lokal 1.8. Sebagai sebuah kebijakan yang baru diperkenalkan. Oentarto (2004). standar pelayanan minimal dapat dijadikan sebagai tolok ukur dalam penentuan biaya yang diperlukan untuk membiayai penyediaan pelayanan. rasio tenaga medis per penduduk masih tinggi.9 Standar Pelayanan Minimal Standar pelayanan minimal adalah sebuah kebijakan publik yang mengatur mengenai jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal.000 menjadi Rp. rasio murid per guru tinggi dan lainnya 3. standar pelayanan minimal sudah selayaknya didukung oleh peraturan perundang-undangan yang memadai mulai dari undang-undang. Indikator kebutuhan dasar : penurunan angka kematian bayi. peraturan pemerintah hingga peraturan menteri terkait. Indikator rasio jumlah pemilih: partisipasi penduduk tinggi dalam pemilu 3.1.

yang mengakibatkan aliran bersih dan akumulasi nilai tambah tertuju ke pusat-pusat pembangunan secara massif dan berlebihan. standar pelayanan minimal dapat dijadikan sebagai acuan mengenai suatu pelayanan publik yang disediakan oleh pemerintah daerah.10 Disparitas Pembangunan antar wilayah Disparitas antar wilayah berarti perbedaan tingkat pertumbuhan antar wilayah. komunikasi. antara wilayah Indonesia Timut dan Indonesia Barat. Pembangunan yang sangat menekankan pada pertumbuhan ekonomi mikro. Permasalahan ini disebabkan antara lain oleh perencanaan pembangunan yang bersifat sentralistik. . perdagangan. antara wilayah Jawa dan luar Jawa. Sehingga terjadi akumulasi nilai tambah di kawasan-kawasan pusat pertumbuhan. (2) disparitas antar sektor ekonomi dan (3) disparitas antar golongan masyarakat/individu. Isu utama masalah pembangunan wilayah dewasa ini adalah disparitas yang meliputi (1) disparitas antar wilayah. asuransi. industri. Ketidakseimbangan pembangunan menghasilkan struktur hubungan antar wilayah yang membentuk suatu interaksi yang saling memperlemah. Dalam skala nasional. Disparitas antar wilayah ini dapat terletak pada perkembangan sektorsektor pertanian. perbankan. cenderung mengabaikan terjadinya kesenjangan-kesanjangan pembangunan antar wilayah yang cukup besar. pendidikan. sementara wilayahwilayah hinterland mengalami pengurasan sumberdaya yang berlebihan. 2. Wilayah/kawasan hinterland menjadi lemah karena pengurasan sumberdaya yang berlebihan (backwash). top down. Investasi dan sumberdaya terserap dan terkonsentrasi di perkotaan dan pusat-pusat pertumbuhan. dan seragam. proses pembangunan yang dilaksanakan selama ini ternyata telah menimbulkan masalah pembangunan yang cukup besar dan kompleks. pelayanan kesehatan. sesuai dengan keadaan budaya penguasa (rezim) yang selama ini ternyata menyisakan ketimpangan. transportasi. fasilitas perumahan dan sebagainya (Rustiadi.25 bagi masyarakat. 2007). dan sebagainya. Konsep pembangunan ekonomi lebih menekankan pertumbuhan dibandingkan redistribusi pendapatan yang adil. Secara makro dapat kita lihat terjadinya ketimpangan pembangunan yang signifikan misalnya antara desa-kota. perkembangan infrastruktur.

Dalam teori tersebut dimunculkan sebuah prediksi tentang hubungan antara tingkat pembangunan ekonomi nasional suatu Negara dengan ketimpangan pembangunan antar wilayah. Dengan kata lain. berdasarkan hipotesa ini kurva ketimpangan pembangunan antar wilayah atau ketimpangan regional adalah berbentuk huruf U terbalik (Reserve U-shape Curve). Hipotes ini kemudian dikenal sebagai Hipotesa Neo-Klasik. Pada permulaan proses pembangunan menurut Hipotesa Neo-Klasik. 2003) mengemukakan bahwa pembangunan ekonomi menghasilkan suatu proses akibat sirkuler yang membuat si kaya mendapat keuntungan lebih banyak dan mereka yang tertinggal di belakang menjadi semakin terhambat. Ketimpangan Regional Kurva Ketimpangan Regional Tingkat Pertumbuhan Nasional Sumber : Syafrizal .26 Secara teoritis. Dampak balik (backwash effect) cenderung membesar dan dampak sebar (spread effect) cenderung mengecil yang semakin . maka setelah itu secara berangsur-angsur ketimpangan pembangunan antar wilayah tersebut akan menurun (Covergence). ketimpangan pembangunan antar wilayah cenderung meningkat sampai ketimpangan tersebut mencapai titik puncak (Divergence). Tahun 2008 Gambar 5 Kurva Hipotesa Neo-Klasik Beberapa teori pembangunan dan pertumbuhan telah membuktikan bahwa ketimpangan pembangunan dan ketidakseimbangan melekat dalam setiap tahap pembangunan. Bila pembangunan terus berlanjut. Gunnar Myrdal (dalam Jhingan. permasalahan ketimpangan pembangunan antar wilayah mula-mula dimunculkan oleh Douglas C. North dalam analisisnya tentang Teori Pertumbuhan Neo-Klasik.

Ketimpangan Regional Pendapatan per kapita Sumber : Van den Berg. 2004).27 memperburuk ketimpangan internasional dan regional di negara-negara yang sedang berkembang. Hal tersebut sejalan dengan Hipotesis Kuznets mengenai relasi antara ketimpangan pendapatan dan tingkat pendapatan perkapita yang dikenal dengan kurva U terbalik (inverted U). Tahun 2001 Gambar 6 Kurva Hipotesis Kuznets . Simon Kuznets menemukan adanya suatu relasi antara kesenjangan pendapatan dan tingkat pendapatan perkapita yang berbentuk U terbalik (Kuncoro. Hasil ini diinterpretasikan sebagai suatu evolusi dari distribusi pendapatan dalam proses transisi dari suatu ekonomi perdesaan menuju ekonomi perkotaan atau dari ekonomi pertanian (tradisional) ke ekonomi industri (modern). Sumbu horizontal berupa “tingkat pembangunan nasional” diproksi dengan besarnya pendapatan perkapita dan sumbu vertikal berupa variabel “ketimpangan regional” diproksi dengan kesenjangan pendapatan melalui Indeks Williamson. Pada awal proses pembangunan. ketimpangan pendapatan bertambah besar sebagai akibat dari proses urbanisasi ke industrialisasi. ketimpangan menurun yakni pada saat sektor industri sudah dapat menyerap sebagian tenaga kerja yang datang dari perdesaaan (sektor pertanian) atau pada saat pangsa pertanian lebih kecil di dalam produksi dan penciptaan pendapatan. Kurva “U Terbalik” dari Kuznets ini adalah penjabaran dari kurva hipotesa NeoKlasik. Namun setelah itu pada tingkat pembangunan yang lebih tinggi atau akhir dari proses pembangunan.

28 Ketimpangan pembangunan memiliki perbedaan dengan ketimpangan pendapatan. Ketimpangan pendapatan yang diukur dengan distribusi pendapatan digunakan untuk melihat ketimpangan kelompok masyarakat. Perotti (1996) dan Forbes (2000) lebih mendukung pandangan yang mengatakan bahwa ketimpangan yang diproksi oleh distribusi pendapatanlah yang mempengaruhi pertumbuhan. baik fisik maupun sumberdaya manusia. antara pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan memiliki hubungan kausal. . Menurut sebagian ekonom. 2003). dan selanjutnya akan mempengaruhi laju pertumbuhan. melainkan perbedaan antara daerah maju dengan terbelakang. Pada tahap awal pembangunan ekonomi. maka kemiskinan membutuhkan waktu beberapa tahun untuk berkurang di negara-negara berkembang (Adams. Namun kelompok yang menguasai faktor produksi dan modal biasanya mendapatkan keuntungan yang relatif lebih besar dibandingkan kelompok lainnya dalam hal ini para buruh. Pandangan ketimpangan pembangunan di atas tersebut didukung oleh penelitian Dollar dan Kray (2001) dan Adams (2003) yang lebih percaya bahwa pertumbuhanlah yang menciptakan ketimpangan dengan argumentasi bahwa pertumbuhan akan menyebabkan setiap kelompok dalam masyarakat memperoleh keuntungan. sementara ketimpangan pembangunan bukan hanya melihat ketimpangan antar kelompok masyarakat tetapi juga berorientasi untuk melihat perbedaan antar wilayah. Implikasi lebih lanjut ini sangat jelas. jika pada tahap awal pertumbuhan akan menciptakan ketimpangan. Jadi yang dipersoalkan bukan hanya antar kelompok kaya dan miskin. yang menyatakan bahwa keterkaitan antara pertumbuhan dan ketimpangan seperti U-shaped terbalik. distribusi pendapatan cenderung buruk dan tidak akan meningkat sampai negera tersebut mencapai status berpendapatan menengah (middle-income). Hal ini didasarkan bahwa distribusi pendapatan yang timpang akan berpengaruh terhadap jumlah investasi. Dimana ketimpangan mempengaruhi pertumbuhan dan sebaliknya pertumbuhan juga mempengaruhi ketimpangan. Pandangan dan debat mengenai hubungan antara ketimpangan pembangunan dan pertumbuhan ini sangat dipengaruhi oleh Hipotesa Kuznets (1955) – dikenal dengan Kuznets Hypothesis.

akses informasi program pemerintah.11 Penelitian Terdahulu Sukmawati (2004) telah melakukan penelitian terkait dengan penerapan egovernment dalam rangka mewujudkan good governance melalui proses hirarki analitik dan metode penilaian kontingensi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. responsibilitas. serta profesionalisme. Intan pada tahun 2009 melakukan penelitian terkait dengan dampak otonomi daerah terhadap kemiskinan dan distribusi pendapatan kabupaten dan kota di Provinsi Banten. .29 2. namun kenaikannya tidak signifikan. Yudha (2007). profesionalisme aparat pemerintahan dan pengembangan UMKM. Segi positif berlakunya kebijakan otonomi daerah adalah peningkatan kemandirian wilayah (PAD) pasca krisis ekonomi. Hasil penelitiannya tersebut menyebutkan bahwa setelah diberlakukannya kebijakan otonomi daerah. menerangkan bahwa atribut terpenting yang harus dimiliki oleh oleh pemerintah daerah dalam menjalankan manajerial kinerja pemerintahan ideal berdasarkan preferensi masyarakat di wilayah maju adalah pengembangan riset dan teknologi. Sedangkan kriteria yang ingin dicapai adalah profesionalisme yang dipengaruhi oleh petunjuk pelaksanaan pemerintah dan penghargaan prestasi bagi stafnya. pengembangan riset dan teknologi dan harga barang yang stabil. tingkat ketergantungan wilayah kepada pemerintah pusat menjadi lebih besar dibandingkan dengan masa sebelum otonomi daerah. karena kebijakan mekanisme transfer DAU yang mengharuskan DAU minimal sama dengan Subsidi Dana Otonom atau Dana Alokasi Umum (DAU) sebelumnya. kesenjangan keuangan cenderung semakin melebar. kebebasan berdemokrasi. Sehingga disimpulkan egovernment dalam mendukung good governance adalah salah satu solusi bagi Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Kriteria yang paling tercapai adalah transparansi yang dipenuhi oleh sikap pemerintah dalam sistem informasi. terciptanya transparansi. Sedangkan untuk wilayah tertinggal adalah penanganan lahan kritis. Kriteria good governance yang diterapkan yaitu tegaknya supremasi hukum. Akibatnya. efisiensi dan efektifitas. Hal ini terkait dengan fungsi distribusi transfer (DAU) belum optimal. setelah pemberlakukan kebijakan otonomi daerah.

Meningkatkan partisipasi pendidikan masyarakat pada jenjang Wajar Dikdas 9 (sembilan) tahun melalui jalur formal atau non-formal termasuk melalui upaya penarikan kembali siswa putus sekolah semua jenjang 2.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3. yakni.1. Menyelenggarakan pendidikan non-formal yang bermutu untuk memberikan pelayanan pendidikan kepada warga masyarakat yang tidak mungkin terpenuhi kebutuhan pendidikannya melalui jalur formal. Memberikan kesempatan kepada anak-anak dari keluarga yang berprestasi untuk melanjutkan pendidikan 7.1 Kebijakan Umum Pembangunan Modal Manusia Kebijakan umum pembangunan manusia adalah kebijakan umum pemerintah khususnya pemerintah daerah tingkat kabupaten/kota dalam merumuskan strategi dan menjalankan arah kebijakan membangun dua sektor utama pembangunan manusia. 4. Meningkatkan ketersediaan pendidik dan tenaga kependidikan dalam jumlah dan kualitas yang memadai untuk dapat melayani kebutuhan pendidikan. yakni pendidikan dan kesehatan. Mengembangkan kurikulum. Pada penelitian ini. 3. . 6. Arah kebijakannya adalah sebagai berikut : 1. mutu dan citra pendidikan terutama untuk penuntasan wajib belajar 9 (sembilan) tahun dan pencanangan wajib belajar 12 (dua belas) tahun bagi anak usia sekolah. kebijakan pembangunan manusia Kabupaten Lebak memiliki dua indikator. berupa meningkatnya akses. bahan ajar dan model-model pembelajaran dan keterampilan bermata pencaharian yang diperlukan oleh masyarakat. pertama. Mengembangkan pelayanan pendidikan melalui penerapan SSN dan RSBI di semua satuan pendidikan.30 BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 3. Menurunkan secara signifikan jumlah penduduk yang buta aksara melalui peningkatan intensifikasi perluasan akses dan kualitas penyelenggaraan pendidikan keaksaraan fungsional yang didukung dengan upaya penurunan angka putus sekolah. pendidikan. 5.

Meningkatkan kompetensi tenaga pendidik. 3. 3. 5.1. 10. lingkungan sehat. rendahnya status gizi. 7. yakni meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan terutama untuk kesehatan ibu dan anak.2 Faktor Penyebab Disparitas Mengembangkan potensi sumberdaya daerah untuk mengurangi disparitas adalah upaya mengembangkan daerah sesuai dinamika ekonomi. Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan. politik dan orbitasi dengan memperhatikan potensi sumberdaya yang ada dalam rangka memperpendek rentang kendali dan mendekatkan pelayanan guna meningkatkan . Meningkatkan investasi kesehatan guna menjamin terselenggaranya pelayanan kesehatan bagi masyarakat . Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan penyakit menular. Menetapkan kebijakan pendidikan menengah gratis bagi masyarakat kurang mampu. 8. Indikator kedua adalah kesehatan. Membina dan mendorong keikutsertaan pelayanan kesehatan non-pemerintah / swasta dalam pelayanan. Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana serta tenaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Mengutamakan penanggulangan masalah kesehatan masyarakat seperti TBC. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengembangan pelayanan kesehatan masyarakat. malaria. sosial. 9. 11. Meningkatkan kemampuan identifikasi masalah kesehatan masyarakat .31 8. Mengembangkan sekolah kejuruan berbasis kompetensi daerah. gizi keluarga dan perilaku sehat. 12. kelangsungan dan tumbuh kembang anak. Meningkatkan alokasi anggaran untuk membiayai pelayanan kesehatan masyarakat. 6. dan akses kesehatan reproduksi. Arah kebijakannya adalah: 1. 2. 4. Meningkatkan ketersediaan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau bagi masyarakat . baik perempuan maupun laki-laki.

iklim. Wilayah yang dikelola dengan administrasi yang baik cenderung lebih maju. curah hujan. 2. Faktor Geografis Suatu wilayah atau daerah yang sangat luas akan terjadi variasi pada keadaan fisik alam berupa topografi. dan dengan sistem administrasi yang efisien. Faktor Administratif Kesenjangan wilayah dapat terjadi karena kemampuan pengelolaan administrasi. 4.32 kesejahteraan masyarakat. budaya atau kehidupan perekonomian pada masa lalu merupakan penyebab yang cukup penting terutama yang terkait dengan sistem insentif terhadap kapasitas kerja. terlatih. Secara lebih terperinci terdapat beberapa faktor utama (Murty. Bentuk kelembagaan. Faktor politis Tidak stabilnya suhu politik sangat mempengaruhi perkembangan dan pembangunan di suatu wilayah. terpelajar. sumberdaya mineral dan variasi spasial lainnya. dengan titik berat pelaksanaan pembangunan terkonsentrasi dan bermula dari wilayah pedesaan. Wilayah yang ingin maju harus mempunyai administrator yang jujur. Faktor Kebijakan Terjadinya kesenjangan antar wilayah bisa diakibatkan oleh kebijakan pemerintah. Faktor Sosial Masyarakat dengan kepercayaan-kepercayaan yang primitif. Faktor Historis Perkembangan masyarakat dalam suatu wilayah tergantung dari kegiatan atau budaya hidup yang dilakukan di masa lalu. antara lain adalah : 1. 3. 2000) yang menyebabkan terjadinya kesenjangan pembangunan antar wilayah ini. 6. Kebijakan pemerintah yang sentralistik hampir di semua sektor. dan lebih menekankan pertumbuhan dan pembangunan pusat-pusat pembangunan di wilayah-wilayah tertentu menyebabkan kesenjangan yang luar biasa antar daerah. Instabilitas politik akan menyebabkan orang ragu untuk berusaha atau melakukan investasi sehingga kegiatan ekonomi suatu wilayah tidak akan berkembang. kepercayaan tradisional dan nilai-nilai sosial yang kaku dan kurang kondusif cenderung . 5.

investasi rendah dan pengangguran meningkat. Sebaliknya masyarakat yang relatif maju pada umumnya memiliki institusi dan perilaku yang kondusif untuk berkembang. b. menikmati tiap produk serta sikap kritis masyarakat dalam menanggapi kebijakan pemerintah. infrastruktur. Perbedaan kuantitas dan kualitas dari faktor produksi yang dimiliki seperti lahan. Kekuatan pasar bebas telah mengakibatkan faktor-faktor ekonomi seperti tenaga kerja modal. Faktor Ekonomi Faktor ekonomi yang menyebabkan kesenjangan antar wilayah adalah sebagai berikut : a. kemudian kondisi masyarakat yang tertinggal.3 Perilaku Masyarakat Sebagai Konsumen Kebijakan Pembangunan Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan (KBBI 1995). 3. masyarakat maju.1. Terkait akumulasi dari berbagai faktor. yakni : . tenaga kerja. apabila dihubungkan antara perilaku konsumen dengan perilaku masyarakat terhadap kebijakan pemerintah. Namun. Dalam melakukan tindakan-tindakan tersebut. Salah satu lingkaran kemiskinan. standah hidup tinggi. tabungan rendah. mengkonsumsi atau menghabiskan produk dan jasa. konsumsi rendah. standar hidup yang rendah. di wilayah maju. cenderung terkonsentrasi di wilayah maju. Sebaliknya. keterbatasan spesialisasi. 7. organisasi dan perusahaan. Sedangkan perilaku konsumen didefinisikan sebagai tindakan-tindakan langsung terlibat dalam mendapatkan. pendapatan semakin meningkat. 2007). termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan-tindakan tersebut (Engel et al. c. modal. perbankan dan asuransi yang dalam ekonomi makin memberikan hasil yang lebih besar. kebijakan harga. 1994). efisiensi rendah. tabungan semakin banyak yang pada akhirnya masyarakat semakin maju. Terkait dengan distorsi pasar.33 menghambat perkembangan ekonomi. maka dapat diambil makna bahwa perilaku masyarakat dapat disebut sebagai suatu tanggapan atau reaksi masyarakat berupa tindakan langsung atau tidak langsung dalam mendapatkan. keterbatasan keterampilan tenaga kerja dan sebagainya. masyarakat atau konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor (Putri et al.

agar pembahasan menjadi lebih holistik maka diperlukan juga pendekatan di bidang sosial budaya . mengorganisasi. Perbedaan individu. pengetahuan. Pengaruh lingkungan. memberi perhatian atas informasi tersebut dan pada akhirnya akan memahami informasi tersebut. 3. Sumarwan (2003) mendefinisikan persepsi sebagi sebuah proses dimana individu memperoleh informasi. keterlibatan. sikap. gaya hidup dan demografi c. pendekatan politik dan pendidikan serta lainnya juga diperlukan. pembangunan wilayah ditujukan pada usaha percepatan pembangunan di segala bidang dalam rangkaian meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan hasrat untuk menciptakan masyarakat yang maju. perubahan sikap dan perilaku 3. Hal tersebut dapat tergambarkan sebagai cara pandang masyarakat umum terhadap realitas di luar dirinya atau dunia sekelilingnya.4 Persepsi Persepsi didefinisikan sebagai proses dimana individu memilih. kepribadian. mengorganisasikan informasi menjadi suatu gambaran yang berarti mengenai suatu objek (Putri. dan menginterpretasikan stimulus atau perangsang menjadi sebuah gambaran yang utuh dan menyeluruh (Schiffman dan Kanuk 2004.1. Selain itu. yang meliputi pembelajaran. 2007). Namun beberapa pengalaman menunjukan bahwa penggunaan pendekatan ekonomi saja sebagai kunci daripada permasalahan pembangunan ternyata masih belum mencukupi. Proses psikologis. kelas sosial. yang meliputi sumberdaya konsumsi.5 Sikap Masyarakat dalam Perencanaan Pembangunan Wilayah Secara konseptual. diacu dalam Putri 2007). Persepsi juga dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana seorang memilih. pengaruh pribadi. mandiri dan sejahtera (Ambardi 2004).34 a. Persepsi masyarakat terhadap kebijakan pemerintah merupakan tanggapan langsung masyarakat terhadap informasi kebijakan pemerintah dan menjadi pertimbangan bagi pemerintah dalam memformulasikan suatu kebijakan. keluarga dan situasi b. Secara jangka panjang selain diperlukan pendekatan ekonomi.1. yang meliputi lingkungan budaya. motivasi.

Teknik LQ merupakan suatu pendekatan yang umum digunakan dalam model ekonomi basis sebagai langkah awal untuk memahami sektor kegiatan yang menjadi pemicu pertumbuhan. 1991). bukan hanya sebagai objek pembangunan saja. melainkan sebagai subjek pembangunan itu sendiri. juga menyangkut sikap masyarakat itu sendiri untuk ikut berperan lebih aktif dalam proses pembangunan (Ambardi 2004). Menurut Hood (1998).6 Analisis Deskriptif Analisis deskriptif menggambarkan dan meringkas berbagai kondisi. ternyata masih terdapat adat istiadat atau nilai budaya yang secara tidak disadari mempengaruhi sikap dan perilaku kemudian seringkali menghambat proses pembangunan. 3. Location Quotient adalah suatu alat pengembangan ekonomi yang lebih sederhana dengan kelebihan dan keterbatasannya. Analisis ini berkaitan dengan pengumpulan data untuk memberikan gambaran atau penegasan suatu konsep atau gejala dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan status objek penelitian ini. situasi atau berbagai variabel.1. disamping mengungkapkan fakta.35 dan kemasyarakatan sebagai suatu konsep partisipasi masyarakat dalam pembangunan wilayah. Syarat dari keikutsertaan seluruh anggota masyarakat. Namun demikian. LQ mengukur konsentrasi relatif atau derajat spesialisasi kegiatan ekonomi melalui pendekatan perbandingan. Akan tetapi. Hasil penelitian lebih ditekankan pada pemberian gambaran secara objektif tentang keadaan yang sebenarnya dari objek yang menjadi tujuan penelitian. . Dalam setiap usaha pembangunan wilayah haruslah didukung sepenuhnya oleh masyarakat dan masyarakat mampu mengambil perannya. diberikan interpretasi yang kuat (Wirartha. 2005). selain peluang dan akses yang sama.7 Analisis Location Quotioent (LQ) Metode analisis Location Quotient atau LQ adalah suatu metode yang digunakan untuk mengidentifikasi komoditas unggulan (Miller & Wright.1. guna memperoleh manfaat yang lebih luas. 3.

Ekspor itu sendiri tidak terbatas pada bentuk barang-barang dan jasa. 3. Teknik LQ banyak digunakan untuk membahas kondisi perekonomian. kesejahteraan dan kualitas hidup sangat menentukan dalam kegiatan non basis ini. Konsep swasembada. Konsep efisiensi teknis maupun ekonomis sangat menentukan dalam pertumbuhan basis suatu wilayah. yaitu : .36 Inti dari model ekonomi basis menerangkan bahwa arah dan pertumbuhan suatu wilayah ditentukan oleh ekspor wilayah. yaitu pertumbuhan ekonomi daerah dan pendapatan per kapita (PDRB per kapita). Sedangkan kegiatan non basis merupakan kegiatan masyarakat yang hasilnya baik berupa barang atau jasa diperuntukan bagi masyarakat itu sendiri dalam kawasan kehidupan ekonomi masyarakat tersebut. analisis tipologi daerah digunakan untuk mengetahui gambaran mengenai pola dan struktur pertumbuhan ekonomi dan masing-masing daerah. daerah yang diamati dapat dibagi menjadi empat klasifikasi. nodalitas dan administrasi. Teori ekonomi basis mengklasifikasikan seluruh kegiatan ekonomi ke dalam dua sektor. melainkan juga berupa pengeluaran orang asing yang berada di wilayah tersebut terhadap barang-barang tidak bergerak (Budiharsono. Dengan menentukan rata-rata pertumbuhan ekonomi sebagai sumbu vertikal dan rata-rata pendapatan per kapita (PDRB per kapita) sebagai sumbu horizontal. mengarah pada identifikasi spesialisasi kegiatan perekonomian atau mengukur konsentrasi relatif kegiatan ekonomi untuk mendapatkan gambaran dalam penetapan sektor unggulan sebagai leading sector suatu kegiatan ekonomi. yang dimaksud kegiatan basis merupakan kegiatan suatu masyarakat yang hasilnya baik berupa barang maupun jasa ditujukan untuk ekspor ke luar dari lingkungan masyarakat atau yang berorientasi keluar regional. mandiri. nasional dan internasional. Menurut Rusastra (2002). Deliniasi wilayah dilakukan berdasarkan konsep-konsep perwilayahan yaitu konsep homogenitas. Tipologi daerah ada dasarnya membagi daerah menjadi dua indikator utama. yakni sektor basis dan sektor non basis. 2001).1. Menurut Hill dalam Kuncoro (2004).8 Analisis Matriks Tipologi Daerah (Tipologi Klassen) Struktur ekonomi suatu wilayah dapat dijelaskan dengan menggunakan analisis tipologi daerah.

9. Indeks ini disusun dari tiga indikator.2 Indeks Williamson Indeks Williamson merupakan salah satu alat ukur yang paling sering digunakan untuk melihat disparitas antar wilayah. 1989) yang menyatakan bahwa kemiskinan adalah “the failure to have certain minimum capabilities”. . Definisi tersebut mengacu pada standar kemampuan minimum tertentu.1.1 Indeks Kemiskinan Manusia Berdasarkan cara pendekatannya.37 1) High growth and high income (daerah cepat maju dan cepat tumbuh) 2) High growth but low income (daerah berkembang cepat) 3) Low growth and low income (daerah relatif tertinggal) 4) High income but low growth (daerah maju tapi tertekan) 3.1. Konsep ini dikembangkan di Indonesia dan dinyatakan sebagai “inability of the individual to meet basic needs” (Tjondronegoro. Pengukuran didasarkan pada variasi hasil-hasil pembangunan ekonomi antar wilayah yang berupa besaran PDRB. yang berarti bahwa penduduk yang tidak mampu melebihi kemampuan minimum tersebut dapat dianggap sebagai miskin. ketertinggalan dalam pendidikan (P2) dan keterbatasan akses terhadap pelayanan dasar (P3). Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) merupakan kombinasi dari berbagai dimensi kemiskinan manusia yang dianggap sebagai indikator inti dari ukuran keterbelakangan (deprivasi) manusia.1. 3. ukuran kemiskinan secara umum dibedakan atas kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif. maka menunjukan kemerataan antar wilayah. Kriteria pengukuran adalah : semakin besar nilai indeks yang menunjukan variasi produksi ekonomi antar wilayah. Kemiskinan absolut didasarkan pada ketidakmampuan individu untuk memenuhi kebutuhan dasar minimal untuk hidup layak. Soejono dan Hardjono. sebaliknya. 1993). Konsep tersebut sejalan dengan Sen (Meier.9 Analisis Ketimpangan Pembangunan antar Wilayah 3. yaitu penduduk yang diperkirakan tidak berumur panjang yang dihitung dengan peluang suatu populasi tidak bertahan hidup sampai berumur 40 tahun (P1). semakin kecil nilai ini. maka semakin besar pula tingkat perbedaan ekonomi dari masing-masing wilayah dengan rata-rata.9.

. …. 3. Adapun metode pendugaan yang digunakan dalam penelitian adalah Metode OLS (Ordinary Least Square).1. X 3 . Semakin besar indeks yang dihasilkan. maka hal tersebut menunjukkan adanya kesenjangan ekonomi antar wilayah. semakin besar pula tingkat kesenjangan antar wilayah di suatu provinsi atau kabupaten (Rustiadi. Model regresi linier berganda adalah persamaan regresi yang menggambarkan hubungan antara beberapa peubah bebas (X 1 . Metode ini digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya disparitas pembangunan modal manusia wilayah khususnya di wilayah tertinggal Kabupaten Lebak. 2007). Jika Indeks Williamson sama dengan nol. dependent variable).… independent variable) dan satu peubah tak bebas (Y. Jika model regresi tersebut digunakan untuk menggambarkan hubungan sebab-akibat (causal relationship). dimana dugaan hubungan keduanya dapat digambarkan sebagai suatu garis lurus.10 Regresi Linier Berganda Model regresi adalah persamaan matematik yang menggambarkan hubungan antara peubah bebas dengan peubah tak bebas (terikat). X 2 .2. berarti sama sekali tidak ada ketimpangan atau disparitas antar wilayah.38 Indeks kesenjangan Williamson akan menghasilkan indeks yang lebih besar atau sama dengan nol. Seringkali peubah bebas disebut sebagai peubah penjelas dan peubah tak bebas disebut juga sebagai peubah respon. Mode regresi secara umum dapat dituliskan sebagai berikut : Yi = β 0 + β 1 X 1 + β 2 X 2 + … + β i X i +e Dimana : Yi β0 βi Xi e n = Variabel tak bebas (dependent variabel) = Intersep i = 1. maka peubah bebas disebut sebagai peubah penyebab dan peubah tak bebas disebut sebagai peubah akibat (Juanda. Sedangkan jika indeks lebih besar daripada nol. n = Koefisien kemiringan = Variabel bebas yang menjelaskan variabel tak bebas (independent variabel) = Unsur gangguan (galat) = Banyaknya variabel dependen dalam fungsi . 2009).

Kovarian antara e i dan X i nol {cov(e i . pengaruh e terhadap Y diabaikan atau e tidak mempengaruhi E(Yi) secara sistematis. yakni : 1. X 2 . 4.e j ) = 0}. Kesalahan pengukuran dan proxy dari peubah respon Y maupun peubah penjelas X 1. e menyatakan variabel-variabel lain yang mempengaruhi Y i akan tetapi tidak terwakili dalam model. 5.39 Dalam penggunaan metode OLS. Peubah (variabel) yang seharusnya dimasukkan ke dalam model.X i ) = 0} Artinya. 2. yaitu besarnya varian e i sama. maka metode OLS dapat memberikan penduga koefisien regresi yang bersifat BLUE (Best Liniar Unbiased Estimator). X p . Artinya. Pengaruh faktor lain yang belum terpikirkan atau tidak dapat diramalkan (unpredictable effects). deviasi Yi dari rata-rata populasi (mean) tidak menunjukan pola {E(e i . Deskripsi komponen error di sini. 4. Mungkin ada bentuk fungsi lainnya yang lebih cocok. . misalnya penyederhanaan atau data sulit diperoleh. 3. tidak ada hubungan yang nyata antar variabel independen X dalam model regresi Jika asumsi di atas dapat dipenuhi. 1. maka e i juga mengalami penurunan. 2. Asumsi bentuk fungsi f yang salah. terdapat asumsi atau persyaratan yang melandasi estimasi regresi. atau var (e i ) = σ2 untuk setiap i. Omitted variables. paling sedikit terdiri dari empat komponen . Homoskedastisitas. E(e) = 0 atau E(e| X i ) = 0 atau E(Y) = β 0 + β i X i Artinya. Sehingga dapat dikatakan bahwa hal tersebut menunjukan adany korelasi antara e i dan X i . linier maupun non-linier. Tidak ada korelasi antara e i dengan e j {cov(e i . 3. sehingga jika ada hubungan dimana X i meningkat dan mengakibatkan e i juga meningkat atau ketika X i menurun. tidak ada korelasi antara e i dan X i . dikeluarkan dengan alasan-alasan tertentu. i≠j.…. Sehingga pada saat X i terobservasi.e j ) = 0}. Tidak ada multikolinieritas Artinya.

Pemerintah akan menjadikan penilaian sikap mayarakat dalam menentukan kebijakan untuk memberikan pelayanan terbaik demi kepuasan masyarakat. Analisis ini memuat tujuan dari proyek atau kegiatan bisnis tersebut dan mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal (positif dan negatif) untuk mencapai tujuan.1. Namun.1. Important Performance Analysis (IPA) ini dapat digunakan dalam membandingkan tingkat kepentingan atau harapan masyarakat dan penilaian masyarakat terhadap kinerja pelayanan publik pemerintah. Important Performance Analysis (IPA) ini merupakan salah satu dasar bagi manajemen dalam pengambilan keputusan tentang tindakan apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki kinerja demi meningkatkan kepuasan. produk.40 3. Metode SWOT diperkenalkan oleh Albert Humphey yang memimpin proyek di Standford University pada tahun 1960-an dan 1970-an (menggunakan data dari perusahaan-perusahaan Fortune 500). proyek maupun individu. posisi dan arah perusahaan. tujuan dilakukannya analisis SWOT adalah untuk menyusun alternatif kebijakan pembangunan modal manusia wilayah tertinggal sesuai dengan preferensi dan penilaian sikap masyarakat yang disinergiskan dengan platform kebijakan pembangunan wilayah Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak. apabila dihubungkan dengan perilaku masyarakat dan kebijakan pemerintah. Begitupun dengan kinerja pelayanan publik pemerintah terhadap masyarakat. 3.12 Analisis Strengths Weaknesses Opportunities and Threats (SWOT) Analisis SWOT adalah sebuah alat perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi Strengths (kekuatan). Analisis SWOT memberikan kerangka pemikiran yang baik tentang peninjauan strategi. Weaknesses (kelemahan).11 Model Important Performance Analysis (IPA) Menurut Simamora (2001) Important Performance Analysis (IPA) adalah teknik yang digunakan untuk mengukur atribut-atribut atau dimensi-dimensi dari tingkat kepentingan dengan tingkat kinerja yang diharapkan konsumen dan sangat berguna bagi pengembangan program strategi pemasaran yang efektif. Dalam penelitian ini. Opportunities (kesempatan) dan Threats (peluang) dalam sebuah proyek atau kegiatan bisnis. .

Pada konteks pendidikan. Tetapi harus didukung pula oleh peran serta aktif masyarakat dan dunia usaha untuk mengembangkan investasinya di Lebak. kondisi modal manusia Kabupaten Lebak masih berada pada rantai terbawah di Provinsi Banten. Secara umum. AHH tahun 2008 mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sejak tahun 2002 yang sebesar 61. Hal tersebut dikarenakan masih terbatasnya kemampuan SDM dan minimnya dukungan sarana-prasarana infrastruktur daerah. perdagangan dan industri. sehingga penduduk yang buta . persentase penduduk usia 10 tahun ke atas yang mampu membaca dan menulis adalah 94. pertambangan. Terlebih Kabupaten Lebak termasuk kabupaten yang kini tengah melakukan berbagai macam perbaikan di berbagai bidang khususnya dalam pengelolaan dan pembangunan human resources atau pengembangan modal manusia yang kelak menjadi asset berharga untuk Lebak itu sendiri. sedangkan rata-rata Provinsi Banten telah mencapai 64.41 3.1 persen. Peningkatan yang rendah tersebut bisa jadi disebabkan oleh jumlah dan penyebaran tidak merata dari tenaga kesehatan.11 tahun.45 tahun. Karena modal manusia berupa pendidikan dan kesehatan secara sistemik menjadi faktor yang fundamental dalam pembentukan kemampuan manusia yang lebih luas dan berada pada inti makna pembangunan daerah. Karena keterkaitan antar spasial kewilayahan jelas sangat menentukan berkembang atau tidaknya suatu daerah. Hal ini berarti bahwa rata-rata masa hidup penduduk Kabupaten Lebak mulai dari lahir hingga meninggal adalah sekitar 63 tahun 1 bulan.2 Kerangka Pemikiran Operasional Dari berbagai hasil kajian dan penelitian ilmiah. Potensi sumberdaya alam tersebut sampai saat ini masih belum dimanfaatkan secara optimal. Dalam program percepatan pembangunan dan pemanfaatan sumberdaya daerah. Sehingga terjadi ketimpangan pembangunan dan mengakibatkan rendahnya minat investasi. Kenyataan tersebut ditunjukkan pada Angka Harapan Hidup (AHH) penduduk Kabupaten Lebak adalah 63. kehutanan. Pemkab Lebak menyadari sepenuhnya bahwa hal tersebut tidak mungkin ditangani oleh Pemkab Lebak saja.9 tahun. menerangkan bahwa Kabupaten Lebak memiliki sumberdaya alam yang cukup melimpah dan potensial bagi pembangunan dan pengembangan usaha di bidang-bidang yang prospektif seperti pertanian.

Pemkab Lebak lebih memfokuskan untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan terutama untuk kesehatan ibu dan anak. Angka buta huruf paling banyak disumbangkan oleh penduduk usia tua. jembatan. pelayanan dasar kesehatan berupa kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan. Pelayanan dasar pendidikan berupa kualitas dan kuantitas tenaga kependidikan. Pada indikator rata-rata lama sekolah.3 tahun pada tahun 2008. Kabupaten Lebak masih tergolong rendah yakni hanya 6. fasilitas kesehatan (rumah sakit. irigasi serta fasilitas sosial ekonomi dan kemasyarakatan lainnya. Dalam hal pendidikan. . mutu dan citra pendidikan terutama untuk penuntasan wajib belajar 9 (sembilan) tahun dan pencanangan wajib belajar 12 (dua belas) tahun bagi anak usia sekolah. Penelitian tesis ini dalam tujuan pertamanya. air dan listrik. Sebagian besar pembangunan hanya terjadi di wilayah tengah kabupaten. Pada sisi lainnya. Pelayanan publik ini terbagi menjadi tiga bagian besar.9 persen. puskesmas. Sedangkan dalam pembangunan kesehatan. yakni pelayanan dasar pendidikan. Kondisi rendahnya angka-angka tersebut pun dilengkapi dengan tidak meratanya penyebaran pembangunan manusia di Kabupaten Lebak. Alasan utama lebih disebabkan karena pada masa lalu banyak penduduk yang masih kesulitan untuk menikmati jenjang pendidikan meskipun setingkat sekolah dasar. Sedangkan wilayah yang berda di pinggiran khususnya wilayah selatan dan utara masih jauh tertinggal. kesehatan dan fasilitas umum. Sedangkan pada tingkat Provinsi Banten. Untuk pelayanan fasilitas umum terdiri dari fasilitas jalan umum kabupaten. posyandu) dan jaminan kesehatan masyarakat miskin. rata-rata lama sekolah telah mencapai 8. atau setara dengan lulus SD. akan membahas topik terkait dengan peran otonomi daerah yakni kondisi umum dan kinerja pelayanan publik pemerintah daerah. Sehingga isu ketimpangan yang selama ini menjadi topik utama pembangunan masih saja terjadi dan belum ada sinyal positif menuju perbaikan. Dengan dasar kondisi modal manusia yang masih di bawah rata-rata. Pemkab Lebak menekankan kebijakan berupa meningkatnya akses.2 tahun atau hampir setara dengan kelas dua SLTP. fasilitas bangunan sekolah dan fasilitas sarana-prasarana pendukung kegiatan belajar. maka kebijakan umum pembangunan modal modal manusia memiliki beberapa titik penekanan utama.42 huruf sebanyak 5.

ketidakmampuan swakelola ini akan berdampak pada ketidakmerataan pembangunan yang selanjutnya mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat yang ditunjukkan oleh tingkat pendapatan melalui PDRB dan PDRB per Kapita. Angka Harapan Hidup (AHH) dan Indeks Daya Beli. Dimana IPM ini terdiri dari beberapa bagian yakni Indeks Pengetahuan. apabila kualitas pelayanan publik jauh di bawah standar pelayanan minimum. Alat analisis yang digunakan adalah Important Performance Analysis. seharusnya ada pengaruh yang positif antara pelayanan publik dengan kualitas sumberdaya manusia. Kualitas sumberdaya ini seyogyanya memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan disparitas pembangunan. Alasan utama menganalisis kinerja pendidikan dan kesehatan adalah ingin melihat sejauh mana usaha pemerintah daerah dalam memenuhi standar pelayanan minimal pendidikan dan kesehatan. maka hal tersebut akan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Pada tujuan kedua. maka selanjutnya melihat struktur ekonomi serta tingkat disparitas di Kabupaten Lebak.43 Setelah diketahui kondisi umum pelayanan publik. Apabila pelayanan publik suatu wilayah baik. maka secara sistematis akan berdampak negatif terhadap kualitas sumberdaya manusia. peneliti ingin melihat bagaimana keterkaitan keterkaitan pelayanan publik dengan kondisi kualitas sumberdaya manusia di Kabupaten Lebak. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia akan menyebabkan kesulitan dalam mengelola atau swakelola sumberdaya dalam pembangunan. yang dalam hal ini dilihat melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM). atau dengan kata lain kualitas sumberdaya manusia di wialayah tersebut tinggi. Berdasarkan kajian teoritis. Sebaliknya. Setelah mengetahui kondisi sumberdaya manusia dan keterkaitannya dengan dengan pelayanan publik. Pada wilayah yang cenderung telah memiliki sumberdaya yang baik tentu pembangunannya tidak akan menemui kendala yang berarti. Namun untuk . maka analisa selanjutnya adalah menganalisis kinerja pelayanan publik Pemkab Lebak khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan. Melalui alat analisis tersebut maka akan terlihat bagaimana penilaian kinerja yang dinilai langsung oleh masyarakat sebagai stakeholder utama penerima pelayanan publik di daerah. atau dengan kata lain akan menurunkan kualitas sumberdaya manusia.

rasio belanja infrastruktur kesehatan dan rasio belanja infrastruktur umum. Analisa selanjutnya dalam penelitian tesis ini adalah akan melihat penyebab atau sumber-sumber terjadinnya disparitas pembangunan wilayah. dimana buruknya pelayanan publik akan berdampak pada rendahnya kualitas sumberdaya manusia. rendahnya kemampuan pengelolaan dan proses manajerial Lebak secara umum ini menyebabkan tingginya angka ketimpangan atau disparitas.44 wilayah yang masih relatif tertinggal dalam hal kualitas sumberdaya. Alat analisis yang digunakan adalah dengan analisis regresi berganda. Angka disparitas itu sendiri menggunakan indikator Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) dan Indeks Williamson (IW). Akibatnya. Dalam hal ini akan terjadi proses lingkaran setan ketertinggalan. sehingga tentu saja apabila suatu wilayah tidak memiliki kemampuan swakelola yang baik. Dimana secara sistematis akan melihat pelayanan publik dan kualitas sumberdaya manusia itu sendiri dan pengaruhnya terhadap angka disparitas. Tinggi rendahnya angka disparitas ini secara eksplisit akan menyebabkan rendahnya pelayanan publik. rasio belanja infrastruktur pendidikan. maka pembangunan wilayahnya akan terhambat. akibatnya . maka sudah bisa dipastikan pelayanan publik pun akan jauh dari standar pelayanan minimal. maka akan ditemukan pengaruh kualitas pelayanan publik sumberdaya manusia berupa rasio bangunan setiap satuan pendikan dan kesehatan. Karena disparitas itu sendiri disebabkan oleh rendahnya kualitas kemampuan swakelola. Sumber-sumber yang diduga menjadi penyebab utama disparitas berupa angka pertumbuhan PDRB. kemudian rendahnya kualitas sumberdaya manusia ini akan menyebabkan kesulitan dalam melakukan pengelolaan sumberdaya pembangunan. jumlah tenaga pengajar dan kesehatan yang dibandingkan dengan jumlah penduduk terhadap kualitas sumberdaya manusia yang ditujukkan oleh IPM dan tingkat kesejahteraan Kabupaten Lebak yang ditunjukkan oleh pendapatan atau PDRB per kapita. pertumbuhan IPM. Melalui analisis regresi berganda. peneliti ingin melihat bagaimana keterkaitan kualitas pelayanan publik pada sumberdaya manusia itu sendiri terhadap tingkat kualitas sumberdaya manusia dan kesejahteraan. sehingga kelemahan ini akan menjadi penyebab tidak langsung terjadinya peningkatan angka disparitas pembangunan wilayah. Secara holistik.

Selanjutnya kembali ke proses siklus awal yakni tingginya angka disparitas ini akan menyebabkan buruknya pelayanan publik.45 angka disparitas pun tinggi. Posyandu) Jaminan kesehatan masyarakat miskin • • • • • Fasilitas jalan umum Kabupaten Air dan listrik Jembatan Irigasi Fasilitas Sosial ekonomi dan kemasyarakatan lainnya Pendidikan Kesehatan Umum Disparitas rendah  Pelayanan publik baik PELAYANAN PUBLIK PEMERINTAH DAERAH Strategi Penyelesaian : Pelayanan Publik baik  kualitas SDM tinggi Disparitas tinggi  Pelayanan publik buruk Pelayanan Publik buruk  kualitas SDM rendah SWOT DISPARITAS PEMBANGUNAN WILAYAH KUALITAS SUMBERDAYA MANUSIA Kualitas SDM tinggi  Disparitas rendah Tingkat kesejahteraan/PDRB/ PDRB per kapita Kualitas SDM rendah  Disparitas tinggi Indeks Pembangunan Manusia • I ndeks Kemiskinan Manusia • Indeks Williamson • Indeks pengetahuan • Angka Harapan Hidup (AHH) • Indeks Daya Beli Gambar 7 Bagan Alur Kerangka Pemikiran Operasional . • • • Kualitas dan kuantitas tenaga kependidikan Fasilitas bangunan sekolah Fasilitas saranaprasarana pendukung kegiatan belajar • • • Kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan Fasilitas kesehatan (Rumah Sakit. Puskesmas.

Sumber-sumber disparitas banyak disebabkan oleh hasil dari pelayanan publik yang buruk dan rendahnya IPM.3. 3. maka perumusan strategi pembangunan dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT. Strategi alternatif kebijakan pembangunan human resources belum sesuai dengan penilaian sikap masyarakat yang disinergiskan dengan platform kebijakan pembangunan wilayah Pemkab Lebak. Analisis ini memuat tujuan dari kebijakan umum pembangunan modal manusia dan mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal (positif dan negatif) untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan di awal. . Weaknesses (kelemahan). Bagan kerangka pemikiran operasional dapat dilihat pada Gambar 7. Analisis SWOT ini mengkombinasikan Strengths (kekuatan). Opportunities (kesempatan) dan Threats (peluang) dalam sebuah strategi pembangunan modal manusia wilayah Kabupaten Lebak. Strategi alternatif ini diharapkan kebijakan pembangunan modal manusia mampu memberikan dampak positif terhadap masyarakat baik secara ekonomi maupun finansial. Pelayanan publik pembangunan sumberdaya manusia Kabupaten Lebak masih di bawah standar pelayanan minimal sehingga menyebabkan kualitas sumberdaya manusia di Kabupaten Lebak masih relatif teringgal dan di bawah rata-rata IPM Provinsi Banten.46 Berdasarkan pembahasan permasalahan tersebut. pertambangan. Pada akhirnya mampu memotong siklus lingkaran setan ketertinggalan dan proses pembangunan modal manusia dapat dilaksanakan secara holistik dan berkelanjutan. Hipotesis Operasional Beberapa jawaban sementara (hipotesis) dari perumusan masalah penelitian ini yaitu : 1. 2. Struktur ekonomi kabupaten yang menjadi basis ekonomi masih didominasi sektor-sektor primer seperti pertanian. perdagangan dan jasajasa. 3. Tingkat disparitas pembangunan wilayah kecamatan-kecamatan di Kabupaten Lebak masih sangat tinggi.

Sedangkan keterangan dari pihak pemerintah yang berkepentingan ini secara khusus berasal dari Dinas Pendidikan. Selain itu juga ditambah dengan laporan penelitian terdahulu. Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan yang berada dalam lingkup Kabupaten Lebak. Sehingga diharapkan penelitian yang dilaksanakan dapat berlangsung lebih objektif dan sistematis. baik yang bersifat kualitatif maupun bersifat kuantitatif. Kegiatan penelitian dilakukan pada bulan Mei-November 2010. Dinas Kesehatan. Diantaranya terdiri dari berbagai instansi-instansi terkait. 4. Lebak. Data primer diperoleh dari keterangan yang langsung bersumber dari stakeholder baik dari masyarakat maupun Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak. Badan Pusat Statistik (BPS). . terlebih dahulu dilakukan survey pendahuluan dan penjajakan awal terhadap kondisi dan kultur dari Kabupaten Lebak pada bulan November-Desember 2009. Waktu tersebut digunakan untuk memperoleh data-data dari pihak terkait terutama informan dari pemerintahan serta masyarakat sebagai stakeholder utama proses pembangunan wilayah Kabupaten Lebak. jurnal. Data sekunder diperoleh melalui studi literatur.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi yang dipilih secara sengaja sebagai tempat penelitian adalah Kabupaten Lebak yang termasuk salah satu kabupaten di Provinsi Banten. Sebelum pelaksanaan penelitian. Bappeda dan anggota legislatif yang menangani kebijakan pembangunan modal manusia (Komisi IV) yang akan menjadi bahan berharga untuk dianalisis lebih lanjut. Masyarakat yang menjadi sumber data penelitian berasal dari wilayah tertinggal di Kabupaten Lebak bagian selatan dan utara.47 BAB IV METODE PENELITIAN 4. seperti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. internet dan literatur lain yang mendukung penelitian khususnya dalam pengembangan modal manusia di wilayah Kab.2 Jenis dan Sumber Data Penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data primer dan data sekunder.

diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat seperti terkuasainya persoalan-persoalan yang akan diteliti.48 4. Diskusi kelompok (focus group discussion/FGD) dilakukan terhadap masyarakat yang menjadi subjek penelitian. yakni bagian utara dan selatan. FGD ini merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai sesuatu melalui sebuah diskusi yang fokus dan terarah sesuai dengan perumusan masalah yang tengah dicari dalam penelitian. Kuesioner yang diberikan kepada masyarakat berisikan pertanyaan tertutup dan pertanyaan semi terbuka.3 Instrumen Pengumpulan Data Instrumen pengumpulan data penelitian ini menggunakan dua cara. Pertanyaan tertutup berupa pertanyaan yang alternatif jawabannya sudah tersedia. . dapat menyampaikan semua pertanyaan dengan baik dan tepat. Pertanyaan semi terbuka adalah pertanyaan yang selain memberikan pilihan juga menyediakan tempat untuk menjawab secara bebas apabila jawaban responden ada di luar alternatif pilihan yang ada. sehingga masyarakat hanya memilih satu dari beberapa alternatif jawaban yang sudah ada. dapat menggali lebih jauh tambahan informasi dari responden apabila ada jawaban yang kurang jelas. yakni dengan kuesioner. Dengan wawancara ini. wawancara dan diskusi kelompok atau forum Group discusson (FGD). Wawancara dilakukan untuk mendapatkan langsung keterangan dari informan kunci dari subjek penelitian. Kuesioner berisi pertanyaan yang behubungan langsung dengan topik penelitian dan diisi langsung oleh subjek penelitian. Penggunaan kuesioner ini akan memberikan manfaat sebagai jalan praktis untuk mendapatkan keterangan dari responden yang tersebar luas di dua titik wilayah Kabupaten Lebak yang mengalami ketertinggalan dalam pengembangan modal manusia. Tujuan akhir yang ingin dicapai dengan FGD ini adalah kita mendapatkan sebuah pemahaman mengenai situasi pembangunan manusia. permasalahan yang terjadi dan konsensus bersama masyarakat sesuai dengan kesepakan diskusi. tercatatnya semua jawaban lisan dengan teliti dan jelas. Pada kesempatan ini fokus persoalan yang hendak didiskusikan adalah mengenai kondisi dan jejak pendapat pembangunan manusia di daerah tertinggal.

Prosedur ini adalah salah satu prosedur penarikan contoh yang didasarkan pertimbangan peneliti tentang beberapa karakteristik yang cocok .49 4. teknik penarikan contoh dalam penelitian ini adalah teknik penarikan contoh tanpa peluang. Dinas Kesehatan. Bappeda dan Anggota Legislatif yang menangani pembangunan Human Resource (Komisi IV). Tabel 2 Instansi/Individu dan Jumlah Responden Subjek Penelitian Instansi/Individu Tujuan No. Populasi target dari penelitian ini adalah masyarakat yang tinggal pada kecamatan di wilayah tertinggal Kabupaten Lebak. Karena dalam teknik ini. contoh dipilih berdasarkan pertimbangan dan keleluasaan peneliti. Perencanaan Kabag.4 Teknik Penarikan Contoh Teknik penarikan contoh pada penelitian ini terbagi menjadi lima langkah. juga mengambil contoh yang berasal dari pihak kepemerintahan khususnya pada Dinas Pendidikan. Kedua. Selain masyarakat. Puskesmas Komisi IV Kades/RW/RW 10 orang/kelompok Keempat. prosedur penarikan contoh adalah menggunakan judgement (purposive) sampling. atau dalam istilah lain lebih sering disebut dengan personal judgement or convenient. kerangka penarikan contoh adalah daftar masyarakat yang tinggal pada dua kecamatan tertinggal tersebut. Dimana prosedur dalam teknik ini tidak memungkinkan untuk menghitung peluang terpilihnya anggota tertentu populasi ke dalam contoh. Kombinasi dua sumber tersebut diharapkan mampu memberikan strategi baru yang kelak akan menjadi bahan evaluasi dan rekomendasi pemerintah daerah dalam menyusun rencana pembangunan modal manusia. Pertama. Jumlah (Orang) Keterangan Penelitian (Responden) 1 2 3 4 5 6 7 8 Bappeda Dinas Pendidikan Dinas Kesehatan Legislatif Masyarakat Kecamatan Maja Masyarakat Kecamatan Cibeber Tokoh kunci FGD Total 1 1 1 2 20 20 4 4 kelompok 91 responden Kabag. Dikdasmen Kabag. Ketiga. Selain itu juga dilengkapi dengan daftar nama-nama pegawai negeri yang menduduki posisi kunci pada Dinas Pendidikan. Dinas Kesehatan dan Bappeda.

4 4 2 10 4 4 2 10 4 4 2 10 4 4 2 10 16 16 8 40 3 21 21 21 21 84 Kelima. menengah. Ukuran contoh untuk institusi kepemerintahan sejumlah dua orang tokoh kunci di tiap dinas yang berhubungan dengan pembangunan modal manusia. Dinas Kesehatan dan Bappeda. Tingkat Pendidikan (Lulusan SMU) c. Dinas Kesehatan dan Bappeda. menengah dan atas. Responden yang dipilih adalah masyarakat yang terbagi menjadi tiga kelas pendidikan (bawah. Cibeber (Orang) Desa Cibeber 1 Desa Cipinang 1 Total 4 Ket. maka dapat dilihat pada Tabel 2 dan Tabel 3. Kedua kecamatan tersebut adalah Kecamatan Maja (kecamatan tertinggal bagian utara) yang terdiri dari Desa Maja (desa maju) dan Desa Sangiang (desa tertinggal) serta Kecamatan Cibeber (kecamatan tertinggal bagian selatan) yang terdiri dari Desa Cibeber (desa maju) dan Desa Cipinang (desa tertinggal). Tingkat Pendidikan (Perguruan Tinggi) Forum Group Discussion (FGD) Total Desa maja 1 Desa Sangiang 1 Kec. Tingkat Pendidikan (lulusan SD-SMP) b. atas) dan tokoh-tokoh kunci. Dari tiap kecamatan tersebut diambil masing-masing dua desa. Tabel 3 Prosedur Penarikan Contoh Responden Elemen Masyarakat Kec. Untuk mempermudah gambaran teknik penarikan contoh. dua orang tokoh kunci dan dilaksanakan satu kali FGD. Prosedur pengambilan dimulai dari penentuan dua kecamatan yang menjadi objek penelitian. ukuran contoh yang diambil untuk responden masyarakat adalah dengan mengambil masing-masing desa sepuluh penduduk yang memiliki tingkat pendidikan bawah. yakni pada Dinas Pendidikan. . prosedur pengambilan sesuai dengan kebutuhan tujuan penelitian yakni informan-informan yang menduduki posisi strategis dalam Dinas Pendidikan. yakni desa yang relatif maju dan desa yang relatif tetinggal. Sedangkan responden dari pihak kepemerintahan. Maja (Orang) No. 1 2 Unsur Responden Tokoh Kunci Responden umum (kuesioner) a. yakni dua kecamatan di wilayah tertinggal yang mewakili ketertinggalan di wilayah utara dan selatan.50 berkaitan dengan anggota contoh yang diperlukan untuk menjawab tujuan penelitian.

IPM Lebak 2008. Analisis deskriptif ini pada dasarnya adalah pendeskripsian suatu proses yang mencakup upaya penelusuran dan pengungkapan informasi yang relevan terkandung dalam data. jenis data dan alat analisis penelitian dapat dilihat pada Tabel 4. Analisis Important Performance Analysis (IPA). Variabel/Parameter dan Sumber Data No. Analisis Strengths Weaknesses Opportunities and Threats (SWOT) PDRB Kecamatan. Metode Analisis. Analisis deskriptif ini juga menampilkan rekapitulasi data dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. 1 Tujuan Penelitian Menganalisis pengaruh kinerja pelayanan publik terhadap kualitas SDM di Kab. rasio belanja infrastruktur. RPJMD 2008-2014. Tipologi Klassen. Regresi Linier Berganda. Lebak dalam angka.5 Metode Analisis data Penyajian secara ringkas mengenai matriks pengumpulan data berupa tujuan penelitian. RPJMD dan RPJPD Sumber Data Lebak dalam angka. IPM.51 4. PDRB per kapita. pandangan stakeholder pemerintah. Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) dan Indeks Williamson. Banten dalam angka. 2009). Analisis deskriptif ini akan menampilkan berbagai grafik dan diagram berupa plot data berkala dan diagram kotak-garis. hasil analisis yang telah dilakukan pada poin sebelumnya. Tabel 4 Matriks Tujuan Penelitian. kuesioner penilaian sikap masyarakat. Indeks Pembangunan Manusia Lebak 2008 2 Menganalisis keterkaitan kualitas SDM terhadap struktur ekonomi dan disparitas serta menyusun strategi alternatif kebijakan pembangunan SDM di Kab. informasi yang dibutuhkan. APBD tiap kecamatan. Lebak Metode Analisis Deskriptif. APBD Dinas Kabupaten.5. tanggapan dan penilain sikap masyarakat. khususnya yang berkaitan dengan data-data yang berhubungan dengan variabel-variabel pembangunan modal manusia di daerah. statistika deskriptif adalah suatu metode yang berkaitan dengan pengumpulan dan penyajian suatu gugusan data. Location Quotient (LQ). sehingga memberikan informasi yang berguna. Lebak Deskriptif. data dasar pembangunan manusia.1 Analisis Deskriptif Menurut Walpole (1995). PDRB kecamatan di Kabupaten Lebak 4. PDRB Kecamatan. IPM. pertumbuhan ekonomi. . data dasar pembangunan manusia PDRB sektor kecamatan kota/kabupaten. yakni Kabupaten Lebak (Juanda. Regresi Linier Berganda Variabel/Parameter Data dasar pembangunan kabupaten dan tanggapan dan penilain sikap masyarakat. PDRB per kapita.

IPA dan IPS dan memenuhi SPM per jumlah sekolah SD/MI menyediakan satu set peraga IPA SD/MI memiliki 100 judul buku pengayaan dan 10 buku referensi. SMP/Mts jarak maksimal 6 km Jumlah peserta didik setiap rombongan belajar untuk SD/MI tidak melebihi 32 orang. SMP/Mts memiliki 200 judul buku pengayaan dan memiliki 20 buku referensi Guru bekerja 35 jam per minggu Proses pembelajaran selama 34 minggu per tahun Setiap satuan pendidikan menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sesuai ketentuan berlaku Setiap guru menerapkan rencana pelaksanaan pembelajaran setiap guru mengembangkan dan menerapkan program penilaian untuk membantu meningkatkan kemampuan belajar Kepala sekolah melakukan supervisi kelas dan memberikan umpan balik dua kali tiap semester Guru menyampaikan laporan evaluasi mata pelajaran kepada kepalas sekolah dalam bentuk laporan prestasi belajar peserta didik Kepala Sekolah Menyampaiakn laporan hasil ulangan akhir semester (UAS). 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Atribut Tersedianya satuan pendidikan padat penduduk di atas 1000 : SD/MI jarak maksimal 3km. Uji validitas atau kesahihan dilakukan untuk mengetahui seberapa tepat suatu alat ukur mampu melakukan fungsi.52 4. Matematika. Matematika. SMP/Mts tidak melebihi 36 orang dan setiap rombongan tersedia satu ruang kelas SMP/MTs menyediakan 1 ruang laboratorium IPA dilengkapi meja-kursi untuk 36 peserta didik dan 1 set peralatan praktek IPA untuk demonstrasi dan eksperimen SD/MI menyediakan satu ruang guru setiap guru serta tenaga kependidikan lainnya dan SMP/Mts menyediakan ruang kepala sekolah yang terpisah dari ruang guru SD/MI menyediakan satu orang guru untuk setiap 32 peserta didik dan 6 orang guru untuk setiap satuan pendidikan. IPA. Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris Kabupaten memiliki kepala SD/MI S-1 bersertifikat Kabupaten memiliki kepala SMP/MTs S-1 bersertifikat Kabupaten memiliki pengawas sekolah berkualifikasi S-1 dan bersertifikat Pemkab memiliki rencana dan melaksanakan pengembangan kurikulum dan pembelajaran efektif Kunjungan pengawas dilakukan setiap bulan dan selama 3 jam SD/MI menyediakan buku teks yang tersertifikasi mencakup Bahasa Indonesia. serta menyediakan 4 orang guru untuk daerah khsusus tiap satuan pendidikan SMP/MTs menyediakan 1 orang guru untuk setiap mata pelajaran dan pada daerah khusus tersedia satu orang guru untuk setiap rumpun mata pelajaran SD/MI menyediakan 2 guru yang memenuhi kualifikasi S1 dan telah memiliki sertifkat pendidik SMP/MTs menyediakan guru dengan kualifikasi S-1 70% dan daerah khusus 40% serta menyediakan guru bersertifikat 35% dan daerah khusus 20% Tersedianya guru kualifikasi s-1 bersertifikat masing-masing untuk matematika. Tabel 5 Atribut Pelayanan Publik Bidang Pendidikan Sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal Departemen Pendidikan yang Diuji Validitas No. IPA dan IPS dan memenuhi SPM per jumlah sekolah SMP/MTs menyediakan buku teks yang tersertifikasi mencakup Bahasa Indonesia.5. Tahun 2010 . ujian kenaikakkan kelas dan ujian akhir sekolah/ujian nasional Penerapan Prinsip Manajemen berbasis sekolah Sumber : Kemendiknas.2 Uji Validitas dan Reliabilitas Validitas dapat didefinisikan sebagai ukuran untuk menilai apakah alat ukur yang digunakan benar-benar mampu memberikan nilai peubah yang ingin diukur (Juanda 2009).

Uji pendahuluan atau ujicoba yang dilakukan adalah uji validitas dengan menyebarkan kuisioner kepada 20 orang responden dengan kriteria adalah orang yang berdomisili di kecamatan tempat penelitian Kabupaten Lebak. Pilihan jawaban dari pertanyaan tersebut sudah disediakan. yaitu dengan memberikan pertanyaan tertutup kepada responden. Tahun 2010 Setelah melakukan pengujian validitas. Nilai r 11 dibandingkan . Tujuan utama pengujian ini adalah untuk mengetahui konsistensi atau keteraturan hasil pengukuran atau instrumen apabila instrumen tersebut digunakan lagi sebagai alat ukur suatu objek atau responden. selanjutnya dilakukan pengujian reliabilitas.53 Pengujian kuesioner akan dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pertanyaan di dalam kuisioner dapat dimengerti oleh responden. Uji validitas dilakukan dengan menggunakan meteode Cochran Q Test. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode Alpha-Cronbach. Uji reliabilitas akan dilakukan dengan menggunakan rumus alpha (α). Uji ini dilakukan untuk mengetahui keandalan kuesioner. Reliabilitas dapat didefinisikan sebagai ukuran untuk menilai apakah alat ukur yang digunakan mampu memberikan nilai pengukuran yang konsisten (Juanda 2009). Atribut-atribut yang diuji dapat dilihat pada Tabel 5 dan Tabel 6. Tabel 6 Atribut Pelayanan Publik Bidang Kesehatan Sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal Departemen Kesehatan yang diuji validitas No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Atribut Pelayanan kunjungan ibu hamil k4 (kunjungan antenatal/pemeriksaan ibu hamil) Pelayanan komplikasi kebidanan Pelayanan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan kebidanan Pelayanan nifas Penanganan neonatus dengan komplikasi Pelayanan kunjungan bayi Pelayanan imunisasi anak tingkat desa/kelurahan Pelayanan anak balita Pemberian makanan pendamping asi pada anak usia 6-24 bulan pada keluarga miskin Pelayanan perawatan balita gizi buruk Pelayanan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat Pelayanan peserta KB Pelayanan penemuan dan penanganan penderita penyakit Pelayanan dasar kesehatana masyarakat miskin Pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin Pelayanan gawat darurat level 1 yang harus diberikan sarana kesehatan (rumah sakit) di kabupaten/kota Pelayanan penyelidikan epidemiologi pada desa/kelurahan yang mengalami kasus luar biasa Promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat program desa siaga Sumber : Kemenkes. Responden tinggal memilih atribut mana yang dianggap berkaitan dengan kinerja pemerintah daerah.

1. Misalnya. 2. tidak setuju. setuju. setiap respons mendapatkan nilai numerik. Tingkat persetujuan yang dipakai pada skala Likert adalah: sangat setujusetuju-titik netral (neither agree nor disagree)-tidak setuju-sangat tidak setuju. Sebelum memberikan interpretasi hasil penilaian masyarakat terhadap kinerja Pemkab Lebak. atau sebaliknya. atau bisa juga dipakai penilaian sebagai berikut: -2. sangat setuju mendapat nilai 1 dan sangat tidak setuju mendapat nilai 5. -1. m−n b Rumus rentang skala : RS = Keterangan : m n b = Angka tertinggi dalam pengukuran = Angka terendah dalam pengukuran = Banyak kelas interpretasi . sebelumnya ditentukan terlebih dahulu rentang skala penilaian.5. Untuk menganalisis respon yang diukur dengan mengikuti skala Likert ini. Apabila nilai r 11 lebih besar dari r tabel maka dapat dinyatakan bahwa kuesioner tersebut reliabel. ragu-ragu. pertama adalah menentukan skor minimum dan skor maksimum penilaian yang mungkin diberikan oleh masyarakat. 4. dibangun dan diadministrasikan kepada responden. 0.3 Skala Likert Skala Likert. Instruksi yang dipakai untuk menerangkan skala Likert umumnya mudah dipahami.54 dengan nilai r tabel . mengharuskan responden untuk memilih tingkat kesepahaman atau tingkat persetujuan (degree of agreement) antara responden yang bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada kuesioner. Rumus ini digunakan untuk mencari reliabilitas instrumen yang skornya merupakan rentangan antara beberapa nilai. Kelebihan skala Likert adalah mudah digunakan. atau seringkali dikenal dengan nama Summated Scales. sampai sangat tidak setuju. Evaluasi dengan skala likert biasanya diukur secara khas pada sebuah skala evaluasi 5-angka yang berjajar dari sangat setuju.

yaitu jika responden memilih angka 1 untuk seluruh atribut. Hasil rentangan nilainya yaitu : RS = − 20 5 = 192 Jadi skala penilaiannya adalah : 1.8 5.3 20.808 2.6 10.5.672 3.080.673 – 4.4 Important Performance Analysis (IPA) Analisis dengan menggunakan metode Important Performance Analysis (IPA) dimaksudkan untuk mengetahui keadaan masing-masing variabel dari .536 4. Sedangkan angka terendah adalah 1.944 1.400 yaitu nilai jawaban tertinggi yakni 5 yang dipilih oleh 40 responden untuk 27 atribut. Banyaknya kelas interpretasi yang akan dibentuk adalah lima kelas.945 – 2.7 – 15. yaitu jika responden memilih angka 1 untuk seluruh atribut.400 = sangat buruk = buruk = biasa = baik = sangat baik Sedangkan untuk nilai setiap variabel atau atau atribut.9 – 10. Sedangkan angka terendah adalah 1.4 – 25 = sangat buruk = buruk = biasa = baik = sangat baik 4.4 15.55 Angka tertinggi untuk menentukan interpretasi penilaian sikap masyarakat terhadap pelayanan publik pendidikan adalah 5.5 – 20.809 – 3.080 – 1. Banyaknya kelas interpretasi yang akan dibentuk adalah lima kelas. maka Angka tertinggi untuk menentukan interpretasi adalah 25 yaitu nilai jawaban rata-rata tertinggi yakni 5 yang dipilih oleh 40 responden untuk 39 atribut.537 – 5. Hasil rentangan nilainya yaitu : Jadi skala penilaiannya adalah : 1 – 5.

Selanjutnya dilakukan pembandingan jumlah bobot dengan banyaknya responden. Total penilaian tingkat kepentingan masing-masing atribut diperoleh dengan cara menjumlahkan hasil perkalian skor masing-masing skala dengan jumlah responden yang memilih pada skala tersebut. sedangkan untuk penilaian faktor kepentingan ditunjukan dengan huruf Y. 2. hasilnya berupa rata-rata bobot (X) untuk kinerja dan rata-rata bobot (Y) untuk kepentingan. Selanjutnya dilakukan pembagian jumlah bobot dengan banyaknya responden. Membuat diagram kartesius yang merupakan suatu bangun yang dibagi atas empat bagian yang dibatasi oleh dua buah garis yang berpotongan tegak. 3. Kuadran 1 (Prioritas Utama) : Kinerja suatu faktor/variabel/atribut dianggap sangat penting akan tetapi kinerja lebih rendah dari keinginan masyarakat sehingga menimbulkan kekecewaan masyarakat.56 faktor-faktor kepuasan ditinjau dari segi kepentingan dan kinerja. Kemudian mengalikan seluruh frekeansi data dengan bobotnya (Simamora 2001). Keterangan : 1. yakni : 1. Terdapat beberapa langkah dalam mengoperasikan metode Important Performance Analysis (IPA). Selanjutnya untuk penilaian kinerja terhadap variabel-variabel dari faktor kepuasan ditunjukan dengan tanda huruf X. Tingkat unsur-unsur tersebut akan dijabarkan dan dibagi menjadi empat bagian ke dalam diagram kartesius IPA seperti pada Gambar 8. hasilnya berupa rata-rata bobot (X) untuk kinerja dan rata-rata bobot (Y) untuk kepentingan. . Sebagai indikator skala ukuran kuantitatif untuk tingkat kepentingan menurut persepsi masyarakat dan tingkat kinerja secara nyata dari suatu produk dinyatakan dalam skala Likert. Oleh karena itu pemerintah harus meningkatkan kinerjanya agar optimal. Skala ini memungkinkan responden untuk dapat mengekspresikan intensitas perasaan mereka terhadap karakteristik produk kebijakan dalam pelayanan publik pendidikan dan kesehatan dengan cara menentukan jumlah skor dari setiap indikator dari variabel X dan Y.

Kuadran III (Prioritas Rendah) : Menunjukan bahwa atribut yang memang dianggap kurang penting oleh masyarakat dimana sebaiknya pemerintah menjalankannya secara sedang saja.5. Kuadran IV (Berlebihan) : Menunjukan bahwa atribut jasa yang dianggap kurang penting akan tetapi telah dijalankan dengan sangat baik oleh pihak pemerintah atau sangat memuaskan.57 2.5 Location Quotient (LQ) Model yang sering digunakan untuk melakukan analisis kegiatan pada suatu wilayah antara lain dengan model analisis Location Quotient (LQ). Adapun variabel yang digunakan sebagai alat ukur untuk menghasilkan koefisien dapat menggunakan satuan jumlah tenaga . Hal ini dapat dianggap berlebihan. 3. Kuadran II (Pertahankan Prestasi) : Kinerja suatu atribut dianggap masyarakat penting. Tahun 2001 Gambar 8 Diagram Kartesius Important Performance Analysis (IPA) 4. Kinerja dari faktor/variabel/atribut dan berada pada tingkat tinggi dan sesuai. sehingga pemerintah cukup mempertahankan kinerja atribut tersebut. 4. Y Tingkat Kepentingan I Prioritas Utama II Pertahankan Prestasi III Prioritas Rendah IV Berlebihan Tingkat Pelaksanaan X Sumber : Simamora. Teknik ini merupakan cara permulaan untuk mengetahui kemampuan suatu daerah dalam sektor kegiatan tertentu. Pada dasarnya teknik ini menyajikan perbandingan relatif antara kemampuan suatu sektor di daerah yang diselidiki dengan kemampuan sektor yang sama pada daerah yang lebih luas.

Sedangkan keterbatasan akses terhadap pelayanan dasar (P 3 ) terdiri dari beberapa variabel.58 kerja pada sektor tersebut. b. Lebak memiliki potensi surplus Menunjukan sub wilayah Kab. Lebak memiliki kecenderungan impor dari wilayah lain LQ = 1 : Menunjukan sub wilayah Kab. . Lebak telah mencukupi dalam kegiatan tertentu 4. yaitu: a. Perbandingan relatif Model Location Quotient (LQ) di Kabupaten Lebak dapat dinyatakan melalui persamaan matematis berikut : LQ i = dimana : Si S Ni N • • • = Jumlah PDRB industri-i di Kabupaten Lebak = Jumlah total PDRB di Kabupaten Lebak = Jumlah PDRB industri-i di Provinsi Banten = Jumlah total PDRB di Provinsi Banten = Struktur perumusan LQ memberikan beberapa nilai sebagai berikut : LQ > 1 LQ < 1 : : Menyatakan sub wilayah Kab. Indikator kedua (P 2 ) diukur dengan angka buta huruf penduduk usia dewasa (15 tahun keatas) yang dihitung berdasarkan data Susenas 2008.5. Persentase penduduk tanpa akses terhadap air bersih (P 31 ) yang didefinisikan sebagai persentase rumah tangga yang tidak menggunakan air PAM. hasil produksi atau satuan lain yang dapat dijadikan kriteria. Persentase penduduk yang tidak memiliki akses ke sarana kesehatan (P 32 ) di definisikan sebagai persentase populasi yang tinggal di tempat yang jaraknya 5 km atau lebih dari sarana kesehatan.6 Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) Indikator kemampuan hidup manusia (P 1 ) metode penghitungannya sama dengan metode penghitungan Angka Harapan Hidup yang digunakan dalam penyusunan IPM. air pompa atau air sumur yang letaknya lebih dari 10 m dari septik tank.

provinsi Pi = fi/n dimana fi jumlah penduduk kabupaten/kota ke-i dan n adalah total penduduk nasional. Indeks ini merupakan ukuran ketimpangan pembangunan yang pertama kali ditemukan oleh Jeffrey G. Metode penghitungan IKM mengikuti metode penghitungan yang digunakan dalam Human Development Report yang diterbitkan oleh UNDP (United Nation Development Programme). Berbeda dengan Gini Ratio yang lazim digunakan dalam mengukur distribusi pendapatan. Persentase anak berumur lima tahun ke bawah (balita) dengan status gizi kurang (P 32 ) yang didefinisikan sebagai persentase balita yang tergolong dalam status gizi rendah.59 c. Sedangkan jika semakin jauh dari .7 Indeks Williamson (IW) Indeks Williamson digunakan untuk mengukur penyebaran (dispersi) tingkat pendapatan per kapita daerah relatif terhadap rata-rata nasional. IKM = [ 1/3 (P 1 + P 2 + P 3 )] P 3 Dimana: P 3 = 1/3 (P 31 + P 32 + P 33 ) 4. provinsi. pulau. Indeks Williamson dapat diformulasikan sebagai berikut : Keterangan Iw yi : = Indeks kesenjangan Williamson = PDRB per kapita wilayah ke-i = Rata-rata PDRB per kapita nasional. kawasan. Williamson dalam studinya pada tahun 1966.5. Karena yang diperbandingkan adalah tingkat pembangunan antar wilayah dan bukan tingkat kemakmuran antar kelompok. Secara statistik. pulau atau kawasan Nilai angka indeks (I w ) yang semakin kecil atau mendekati nol menunjukan ketimpangan yang semakin kecil atau merata. Indeks Williamson menggunakan PDRB perkapita sebagai data dasar.

baik tingkat provinsi maupun untuk kabupaten/kota. Dengan menentukan rata-rata pertumbuhan ekonomi sebagai sumbu vertikal dan rata-rata pendapatan per kapita (PDRB per kapita) sebagai sumbu horizontal. hal tersebut menunjukan ketimpangan yang semakin lebar pada suatu wilayah. Hal ini seperti dilakkan oleh Syafrizal dalam penelitiannya di daerah Sumatera Barat tentang Analisis Pertumbuhan Ekonomi Regional : Kasus Sumatera Barat dalam bukunya. 2008) Menurut Hill dalam Kuncoro (2004).60 nol atau mendekati satu. Ekonomi Regional (Syafrizal.8 Tipologi Klassen Deskripsi komparatif untuk melihat struktur ekonomi termasuk di dalamnya adalah PDRB per kapita. analisis tipologi daerah digunakan untuk mengetahui gambaran mengenai pola dan struktur pertumbuhan ekonomi dan masing-masing daerah. Tipologi daerah pada dasarnya membagi daerah menjadi dua indikator utama. yaitu pertumbuhan ekonomi daerah dan pendapatan per kapita (PDRB per kapita). yaitu (Tabel 7) : 5) High growth and high income (daerah cepat maju dan cepat tumbuh) 6) High growth but low income (daerah berkembang cepat) 7) Low growth and low income (daerah relatif tertinggal) 8) High income but low growth (daerah maju tapi tertekan) Tabel 7 Matriks Tipologi Daerah Klassen PDRB per kapita (y) (y i < y) Laju Pertumbuhan (r) (r i > r) (r i < r) Pendapatan rendah pertumbuhan tinggi Pendapatan rendah pertumbuhan rendah dan dan Pendapatan tinggi pertumbuhan tinggi Pendapatan tinggi pertumbuhan rendah dan dan (y i > y) Sumber : Hill dalam Kuncoro (2004) Keterangan : r : Rata-rata pertumbuhan ekonomi kabupaten y : Rata-rata PDRB per kapita kabupaten r i : Pertumbuhan ekonomi kecamatan yang diamati y i : PDRB per kapita kecamatan yang diamati .5. daerah yang diamati dapat dibagi menjadi empat klasifikasi. 4. Analisis ini dilakukan dengan analisis tipologi daerah menggunakan Matriks Klassen.

Pemodelan ini untuk menjawab bagaimana pengaruh kualitas pelayanan publik terhadap kualitas sumberdaya manusia (IPM) dan pengaruh kualitas sumberdaya manusia terhadap tingkat disparitas pembangunan wilayah. 4. maka pemodelan yang coba diformulasikan menggunakan model ln.5.61 Kriteria daerah untuk membagi kecamatan adalah sebagai berikut : 1) High growth and high income (daerah cepat maju dan cepat tumbuh) adalah kecamatan yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata kecamatan di wilayah penelitian 2) High growth but low income (daerah berkembang cepat) adalah kecamatan yang memiliki tingkat pertumbuhan tinggi tetapi tingkat PDRB per kapita yang lebih rendah dibandingkan rata-rata kecamatan di wilayah penelitian 3) Low growth and low income (daerah relatif tertinggal) adalah kecamatan yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita yang lebih rendah dibanding rata-rata kecamatan di wilayah penelitian 4) High income but low growth (daerah maju tapi tertekan) adalah daerah yang memiliki tingkat PDRB per kapita yang lebih tinggi tetapi tingkat pertumbuhan ekonominya lebih rendah dibanding rata-rata kecamatan di wilayah penelitian Disebut tinggi apabila indikator di suatu kecamatan lebih tinggi dibanding rata-rata kecamatan di wilayah penelitian. Digolongkan rendah apabila indikator di suatu kecamatan lebih rendah dibanding rata-rata kecamatan di wilayah penelitian. Melalui model tersebut akan terlihat variabel mana saja yang paling berpengaruh dan memberikan kontribusi terbesar dalam meningkatkan IPM dan menurunkan tingkat disparitas khususnya pengaruh pelayanan publik pendidikan dan kesehatan terhadap IPM yang selanjutnya IPM tersebut mampu menjadi faktor untuk menurunkan disparitas wilayah.9 Pemodelan Ekonometrika Regresi Berganda Pemodelan regresi berganda bertujuan untuk melihat bagaimana pengaruh salah satu varibel terhadap varibel lainnya. . Agar bisa melihat langsung pengaruh variabel independent terhadap dependent melalui elastisitas.

9. Pelayanan publik kesehatan berupa rasio .… β 9 = Koefisien variabel independent RBSD it = Rasio bangunan SD dengan penduduk usia SD Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Tahun ke-t RBSMP it = Rasio bangunan SMP dengan penduduk usia SMP Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Tahun ke-t RBSMA it = Rasio bangunan SMA dengan penduduk usia SMA Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Tahun ke-t RGSD it = Rasio guru SD dengan penduduk usia SD Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Tahun ke-t RGSMP it = Rasio guru SD dengan penduduk usia SMP Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Tahun ke-t RGSMA it = Rasio guru SD dengan penduduk usia SMA Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Tahun ke-t e it = Error IPM it 4. ln IPM it = β 0 + β 1 ln RBSD it + β 2 ln RBSMP it + β 3 ln RBSMA it + β 4 ln RGSD it + β 5 ln RGSMP it + β 5 ln RGSMA it + e it Keterangan : = Variabel dependent.9. Pemodelan ekonometrik dapat dilihat di bawah ini.2 Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan Publik Kesehatan terhadap Kualitas Sumberdaya Manusia (IPM) Analisis pengaruh kualitas pelayanan publik sektor kesehatan terhadap kualitas sumberdaya manusia (IPM) di Kabupaten Lebak akan dilihat berdasarkan fasilitas dan tenaga kesehatan.1 Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan Publik Pendidikan terhadap Kualitas Sumberdaya Manusia (IPM) Dalam hipotesis penelitian. Kualitas seumberdaya manusia yang dilihat melalui IPM akan menjadi variabel dependent atau variabel yang dipengaruhi. Beberapa variabel pelayanan publik di sektor pendidikan yang dianggap mempengaruhi IPM adalah rasio bangunan dan guru SD.5. yaitu Tingkat Kualitas Sumberdaya Manusia (Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Pada Tahun ke-t) β0 = Konstanta β 1 .62 4. SMP dan SMA terhadap penduduk usia sekolah pada masing-masing tingkat sekolah.5. kualitas pelayanan publik sektor pendidikan akan memberikan pengaruh terhadap kualitas sumberdaya manusia.

3 Analisis Sumber Disparitas Pembangunan Wilayah Secara teoritis.9. yaitu Tingkat Kualitas Sumberdaya Manusia IPM it (Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Pada Tahun ke-t) β0 = Konstanta β 1 . historis.5. rumah sakit. . Adapun pemodelan secara matematis dapat dilihat di bawah ini. rasio belanja infrastruktur pendidikan dan rasio belanja infrastruktur kesehatan.… β 9 = Koefisien variabel independent RPUS it = Rasio puskesmas dengan penduduk Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Tahun ke-t RPST it = Rasio puskesmas pembantu dengan penduduk Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Tahun ke-t RRS it = Rasio rumah sakit dengan jumlah penduduk Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Tahun ke-t RDOK it = Rasio dokter dengan jumlah penduduk Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Tahun ke-t RPER it = Rasio perawat dengan jumlah penduduk Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Tahun ke-t RBID it = Rasio bidan Pembantu dengan jumlah penduduk Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Tahun ke-t = Error e it 4. pertumbuhan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Secara matematis. karena salah satu indikator IPM adalah kualitas hidup manusia suatu wilayah. diantaranya adalah faktor geografis. ln IPM it = β 0 + β 1 ln RPUS it + β 2 ln RPST it + β 3 ln RRS it + β 4 ln RDOK it + β 5 ln RPER it + β 5 ln RBID it + e it Keterangan : = Variabel dependent. puskesmas pembantu. pemodelan tersebut dapat digambarkan pada model di bawah ini. variabel yang dapat digunakan sebagai variabel independen sebagai sumber disparitas yang diduga dalam pemodelan ekonometrik adalah pertumbuhan PDRB. kebijakan. administratif. rasio belanja infrastruktur umum. Keenam variabel independent tersebut akan diduga akan mempengaruhi variabel dependent berupa tingkat IPM di Kabupaten Lebak. sumber disparitas pembangunan wilayah dapat disebabkan oleh banyak faktor.63 puskesmas. dokter. Mengikuti Hipotesa Neo-Klasik. perawat dan bidan terhadap penduduk masing-masing kecamatan. sosial dan ekonomi. politis.

Lebak pada Tahun ke-t RBIP t : Rasio Belanja Infrastruktur Pendidikan di Lebak pada Tahun ke-t RBIK t : Rasio Belanja Infrastruktur Kesehatan di Kab. Perumusan hipotesis : H0 : H1 : β1 = … = β5 = 0 (model tidak dapat menjelaskan atau memprediksi keragaman) paling sedikit ada β 1 ≠ 0 (model dapat menjelaskan atau memprediksi keragaman) 2. maka persamaan regresi yang dihasilkan makin baik untuk mengestimasi nilai variabel tak bebas (Y).64 ln IW t = α + β 1 ln Y t + β 2l ln IPM t + β 3 ln RBIU t + β 4 ln RBIP t + β 5 ln RBK t + e t Keterangan : IW t : Indeks Williamson di Kabupaten Lebak pada Tahun ke-t Yt : Pertumbuhan PDRB di Kabupaten Lebak pada Tahun ke-t IPM t : Pertumbuhan Indeks Pembangunan Manusia di Kabupaten Lebak pada Tahun ke-t RBIU t : Rasio Belanja Infrastruktur Umum di Kab. misalnya dengan taraf nyata α = 5%. Koefisien determinasi (R2) dihitung untuk menjelaskan berapa persen keragaman permintaan dapat dijelaskan dalam suatu model. Nilai F hitung dapat diketahui dari hasil perhitungan computer dalam Tabel Analisis Ragam (ANOVA) 4. 3.4 Uji-F Untuk menguji apakah suatu model regresi dapat menjelaskan atau memprediksi keragaman. Kriteria Pengambilan Keputusan (Decision Rule) : Terima H 0 jika F hitung < F tabel . Pada uji ini digunakan uji-F (F test). Hal tersebut berarti bahwa semua variabel bebas tidak berpengaruh terhadap nilai variabel tak bebas (Y). Penentuan nilai kritis. Apabila koefisien determinasi makin mendekati nol. Lebak pada Tahun ke-t 4. maka digunakan statistik uji-F melalui analisis ragam (Analysis of Variance). artinya secara statistik belum dapat dibuktikan bahwa suatu model dapat menjelaskan atau memprdiksi keragaman.9. . Tahapan untuk menguji apakah model regresi tersebut dapat menjelaskan atau memprediksi keragaman.5. maka menggunakan tahapan sebagai berikut : 1.

9. . dimana p menyatakan banyaknya peubah bebas dan n adalah banyaknya kasus. misalnya dengan taraf nyata α=5%. maka keputusannya adalah menolak H 0 atau menerima hipotesis alternatif (H 1 ). jika F hitung > F tabel . artinya secara statistik telah dibuktikan bahwamodel tersebut dapat menjelaskan atau memprediksi keragaman. P_ value atau significance yang dikeluarkan oleh software Minitab atau SPSS ini dapat diinterpretasikan sebagai peluang (resiko) kesalahan dalam menyimpulkan H 1 . Hal tersebut juga berarti bahwa semua variabel bebas berpengaruh terhadap nilai variabel tak bebas (Y).5 Uji-t Jika dalam pengujian model dengan uji-F disimpulkan bahwa model tersebut dapat menjelaskan keragaman. Untuk tabel t. Untuk menjawab permasalahan tersebut.65 Terima H 1 (tolak H 0 ). Kriteria keputusan dapat dilakukan dengan menggunakan angka probabilitas (P_ value atau sign) yang diperoleh dari perhitungan komputer kemudian diperbandingkan dengan taraf nyata pengujian yang digunakan (α=5%). Jika probabilitas (sign) lebih kecil dari taraf nyata (α=5%). yaitu uji hipotesis yang berkaitan dengan masing-masing koefisien model regresi. digunakan statistik uji-t. Tahapan uji-t adalah sebagai berikut : 1.5. Penentuan nilai kritis. derajat bebas (degree of freedom) adalah n-p-1. Perumusan Hipotesis : H0 : βi = 0 H1 : βi ≠ 0 (faktor ke-I tidak berpengaruh terhadap peubah tak bebas atau variabel dependent (Y) (faktor ke-I berpengaruh terhadap peubah tak bebas atau variabel dependent (Y) 2. maka permasalahan selanjutnya adalah faktor mana yang dapat menjelaskan atau berpengaruh nyata terhadap variabel dependent (Y) atau biasa disebut dengan uji-t. Karena pengujian dua sisi (two-tailed test) maka pada penentuan t tabel menggunakan α/2. 4.

5. maka keputusannya adalah menolak H 0 atau menerima hipotesis alternatif (H 1 ). Jika probabilitas (sign) lebih kecil dari taraf nyata (α=5%). jika |t hitung | < t tbel . Pada awalnya. artinya secara statistik belum dapat dibuktikan bahwa faktor ke-i tersebut berpengaruh nyata terhadap peubah tak bebas atau variabel dependent (Y). SWOT digunakan untuk menganalisis suatu kelayakan atau strategi bisnis dan usaha. Untuk mempermudah analisis. Analisis SWOT dapat digunakan dengan berbagai cara untuk merancang analisis strategi suatu perusahaan. maka perumusan strategi dapat dilihat dari struktur matriks SWOT pada Tabel 12.66 3. Namun saat ini ternyata SWOT pun dapat digunakan untuk menyusun strategi perumusan kebijakan publik suatu institusi. (tolak H 0 ) jika |t hitung | > t tbel . Pengambilan keputusan (Decision Rule) : Terima H 0 . P_ value atau significance yang dikeluarkan oleh software Minitab atau SPSS ini dapat diinterpretasikan sebagai peluang (resiko) kesalahan dalam menyimpulkan H 1 .10 Analisis Strengths Weaknesses Opportunities and Threats (SWOT) Analisis SWOT adalah analisis yang menggunakan matriks dalam menyusun strategi suatu perusahaan atau instansi. 4. 4. Matriks SWOT dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman yang dihadapai suatu institusi atau organisasi yang disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Terima H 1 . Kriteria keputusan dapat dilakukan dengan menggunakan angka probabilitas (P_ value atau sign) yang diperoleh dari perhitungan komputer kemudian diperbandingkan dengan tarfnyata pengujian yang digunakan (α=5%). Nilai t hitung masing-masing koefisien regresi dapat diketahui dari hasil perhitungan komputer. artinya secara statistik telah dapat dibuktikan bahwa faktor ke-i tersebut berpengaruh nyata terhadap peubah tak bebas atau variabel dependent (Y). .

Kualitas dari analisis akan meningkat secara signifikan jika memuat spektrum informasi yang lebih luas. akan menghasilkan empat tipe strategi sebagai berikut : 1. EKSTERNAL Fakta/faktor dari luar Kabupaten Lebak yang turut berpengaruh Metode yang digunakan untuk mendapatkan masukan bagi matriks SWOT akan mempengaruhi kualitas analisis. Pada intinya. dibangun dan dioptimalkan. Strategi S-O adalah strategi dalam memanfaatkan peluang yang sesuai dengan kekuatan suatu wilayah. diperbaiki. Untuk mengembangkan strategi-strategi yang berasal dari analisis SWOT. dikelola atau dihindari. Pemilihan masukan bagi matriks SWOT dalam penelitian ini lebih berdasarkan pada hasil analisis penelitian serta masukan dari FGD. misalnya dari para tokoh kunci masyarakat dan pelaku pembangunan modal manusia di Kabupaten Lebak. perlu dipelihara. perlu diperbaiki dieliminasi atau dihindari Threats (Ancaman) Sesuatu yang buruk di masa depan berasal dari faktor ekternal atau lingkungan luar. kemudian dimanfaatkan sebagai keunggulan Opportunities (Peluang) Sesuatu yang baik di masa depan berasal dari faktor ekternal atau lingkungan luar. Lebak Internal Strengths Weaknesses (Kekuatan) (Kelemahan) Eksternal Strategi S-O Strategi W-O Kekuatan dikembangkan Kelemahan diminimalkan Opportunities untuk meraih peluang untuk meraih peluang (Peluang) Strategi S-T Kekuatan dikembangkan untuk mengurangi ancaman Strategi W-T Kelemahan diminimalkan untuk mengurangi ancaman Threats (Ancaman) Langkah analisis selanjutnya adalah melakukan perumusan strategi. Kombinasi matriks SWOT di atas. strategi ini adalah cara menggunakan kekuatan internal untuk meraih peluang-peluang yang ada di luar. maka diperlukan konstruksi matriks SWOT yang ditampilkan pada Tabel 13. Lebak POSITIF/MEMBANTU NEGATIF/MENGGANGGU Untuk mencapai tujuan Untuk mencapai tujuan Strengths (Kekuatan) Weaknesses (Kelemahan) INTERNAL Fakta/faktor dari dalam Kabupaten Lebak Sesuatu yang baik sekarang pada lingkungan internal.67 Tabel 8 Matriks SWOT Pengembangan Human Resources Kab. . Tabel 9 Matriks Strategi SWOT Pengembangan Human Resources Kab. diprioritaskan. Sesuatu yang buruk sekarang pada lingkungan internal.

Melalui strategi ini. Sehingga strategi ini akan memberikan penekanan kepada suatu organisasi agar mampu menghindari atau mengurangi dampak dari ancaman-ancaman eksternal. 4. Strategi ini merupakan taktik untuk bertahan dengan cara mengurangi kelemahan internal serta menghindari ancaman. 3. maka suatu organisasi akan bertujuan memperkecil kelemahan-kelemahan internal perusahaan dengan memanfaatkan peluang eksternal. Strategi W-T adalah strategi dalam merancang rencana pertahanan untuk mengatasi kelemahan dan ancaman. Strategi W-O adalah strategi dalam mengatasi kelemahan untuk mengoptimalkan peluang. Strategi S-T adalah strategi dengan mengidentifikasi kekuatan untuk mengatasi ancaman. .68 2.

dengan luas wilayah 304.71 13 Muncang 8.63 10 Gunungkencana 12.560.490.967.123.49 26 Cirinten 11.452.579.44 9 Cileles 15.72 6 Cibeber 36.256.51 15 Cipanas 6.649. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 15 di bawah ini.232. Kabupaten Lebak memiliki batas wilayah administratif sebagai berikut : Sebelah Utara Sebelah Selatan Sebelah Barat Sebelah Timur : : : : Kabupaten Serang dan Tangerang Samudera Indonesia Kabupaten Pandeglang Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi Kecamatan paling luas wilayahnya adalah Kecamatan Cibeber dan yang paling kecil luas wilayahnya adalah Kecamatan Kalanganyar.044.472 Ha (3.12 11 Bojongmanik 8. Tabel 10 Luas Wilayah Menurut Kecamatan di Kab.50 5 Cilograng 8.65 22 Maja 7.446.742.33 19 Warunggunung 4.236.42 21 Rangkasbitung 6.540.20 14 Sobang 10.55 28 Kalanganyar 2.349. Lebak Tahun 2009 No.82 3 Panggarangan 16.13 7 Cijaku 10.264.69 BAB V GAMBARAN UMUM 5.24 20 Cibadak 3.75 2 Wanasalam 10.61 8 Banjarsari 13. Kecamatan Luas Wilayah (Ha) Wilayah (Ha) 1 Malingping 9.587.038.289.366.45 25 Cigemblong 14. Tahun 2009 Secara visualisasi wilayah administrasi dapat dilihat dalam peta wilayah Kabupaten Lebak sebagaimana gambar di bawah ini .46 24 Cihara 11.908.944.84 16 Sajira 9.71 Sumber : Bappeda Kab. Lebak.445.378. Kecamatan Luas No.26 4 Bayah 13.36 23 Curugbitung 8.86 18 Cikulur 5.72 Km²) yang terdiri dari 28 Kecamatan dengan 340 desa dan 5 kelurahan.700.1 Letak Geografis dan Luas Wilayah Kabupaten Lebak terletak antara 6º18’-7º00’ Lintang Selatan dan 105º25’106º30’ Bujur Timur.257.795.870.72 27 Lebakgedong 8.014.46 12 Leuwidamar 12.05 17 Cimarga 17.

Lebak.70 Sumber : Bappeda Kab. Tahun 2009 Gambar 9 Peta Administrasi Kabupaten Lebak Sedangkan dari kondisi jarak dari Ibu Kota Kecamatan ke Kota Rangkasbitung sebagai Ibu Kota Kabupaten Lebak. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 11 di bawah ini. Kecamatan paling dekat adalah Kecamatan Rangkasbitung dengan jarak 1 KM. . Kecamatan paling jauh adalah Kecamatan Cilograng sejauh 160 KM.

Tahun 2010 Gambar 10 Peta Rencana Kawasan Lindung Kabupaten Lebak .71 Tabel 11 Jarak Ibu Kota Kecamatan ke Kota Rangkasbitung No. Tahun 2010 Sumber: Revisi RTRW Kabupaten Lebak – Bappeda. Kecamatan Jarak (KM) No. Kecamatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Malingping Wanasalam Panggarangan Cihara Bayah Cilograng Cibeber Cijaku Cigemblong Banjarsari Cileles Gunungkencana Bojongmanik Cirinten 100 99 127 105 135 160 152 80 77 70 50 58 36 45 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Leuwidamar Muncang Sobang Cipanas Lebakgedong Sajira Cimarga Cikulur Warunggunung Cibadak Rangkasbitung Kalanganyar Maja Curugbitung Jarak (KM) 20 37 62 38 47 27 9 17 10 5 1 1 21 34 Sumber : BPS Kabupaten Lebak.

7% dari total penduduk Kabupaten Lebak.156. lebih dari 40%-nya berada di wilayah utara Kabupaten Lebak.2 Demografi Dari sisi demografi. sehingga praktis hanya tiga tahun terakhir perbandingan distribusi penduduk dapat dilakukan. Dari jumlah penduduk sebesar 1. pertama pada tahun 2004 yang menjadikan Kabupaten Lebak memiliki 23 kecamatan dan yang kedua terjadi pada tahun 2006. hal ini terbukti oleh kenaikan jumlah penduduk pada tahun 2008 sebesar 77. yang sekaligus juga sebagai pusat perekonomian daerah.905 jiwa pada tahun 2008. Jumlah penduduk Kabupaten Lebak dalam kurun waktu lima tahun terakhir selalu mengalami peningkatan yang signifikan.233. Bandingkan dengan kecamatan lainnya yang proporsi tertingginya hanya berkisar pada angka 5% dari total penduduk Kabupaten Lebak.72 5. Hal ini mengindikasikan bahwa distribusi penduduk di Kabupaten Lebak masih berorientasi ke utara atau mendekati pusat pemerintahan. sehingga Kabupaten Lebak secara administratif terdiri dari 28 kecamatan. Fakta ini diperkuat oleh proporsi penduduk yang mencapai angka 9% lebih dari total penduduk kabupaten berada pada Kecamatan Rangkasbitung sebagai ibukota Kabupaten Lebak. Selengkapnya mengenai jumlah penduduk dan distribusinya di tiap kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut.433 jiwa. . yang perlu untuk digarisbawahi adalah terjadinya dua kali pemekaran wilayah.472 jiwa dari kondisi jumlah penduduk pada tahun 2004 yang mencapai 1. yaitu berkisar pada angka 30% dari jumlah penduduk Kabupaten Lebak. Fenomena distribusi penduduk yang kurang merata di atas. mengindikasikan adanya daya tarik yang lebih kuat di wilayah utara kabupaten sehingga mendorong penduduk untuk menetap dan beraktifitas. Bahkan di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Bojongmanik. sedangkan di wilayah tengah dan selatan Kabupaten Lebak cenderung memiliki sebaran yang sama. Cigemblong dan Lebakgedong hanya mencapai proporsi penduduk sebesar 1. Fenomena ini akan berdampak pada distribusi penduduk pada tiap kecamatan.

436 47.704 24.951 38.379 53.848 48.466 65.739 59.776 54.224 141.050 51.741 51.950 1.800 52.490 53.991 33.408 45.442 24.713 29.350 2006 63.080 31.678 37.788 21.270 63.105 32.684 34.467 49.114 45.194 45.73 Tabel 12 Jumlah Penduduk Kabupaten Lebak Menurut Kecamatan Tahun 20042008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Kecamatan Malingping Wanasalam Panggarangan Cihara Bayah Cilograng Cibeber Cijaku Cigemblong Banjarsari Cileles Gunungkencana Bojongmanik Cirinten Leuwidamar Muncang Sobang Cipanas Lebakgedong Sajira Cimarga Cikulur Warunggunung Cibadak Rangkasbitung Kalanganyar Maja Curugbitung JUMLAH 2004 60.612 60.094 37.060 50.820 58.199 114. .685 46.188 47.480 50.022 51.202.834 41.156.393 48.033 2008 63.686 49.275 21.396 penduduk perempuan.655 49.041 57.727 65.126 46.156.761 30.283 29.261 35.732 46.252 53.052 61.344 49.192 32.086 30.992 66.376 62.946 111.781 46.210 1.164 55.967 28.139 34.603 1.779 27.371 30.414 56.828 1.005 30. Fenomena menarik terjadi di tahun 2007.560 30.398 26.545 28.641 112.325 1.146 21. Tahun 2009 Jumlah penduduk Kabupaten Lebak pada tahun 2004 tercatat sebanyak 1.597 penduduk laki-laki dan 557.679 26.72 dengan rincian 620.942 28.817 32.31.909 2007 62.726 35.625 33.503 48.700 62.433 jiwa dengan komposisi 598.693 20.629 46.200 51.759 138. sehingga memiliki sex ratio sebesar 107.836 penduduk perempuan.567 34.722 21.245 46.911 35.905 Sumber : BPS Kabupaten Lebak.115 21.180 51.601 21.740 26.944 51.775 50.015 48.302 48.334 50.581 49.089 47.933 46.560 41.858 24.501 32.358 47.219.221 44.433 2005 61.637 penduduk laki-laki dan 598.443 51.829 32.590 38.676 38.482 45.230 21.876 66.865 65.299 62.432 48.056 29.429 64.062 27.603 51.879 32.410 31.114 30.241 26.773 33.856 55.433 47.730 31.467 20.265 33.233.176.208 49. dimana sex ratio kabupaten turun menjadi 103.

maka didapat angka sex ratio pada tahun 2008 sebesar 107.85).30 107.350 1.396 595.31 107.236 1.72 107.156. pertumbuhan penduduk kabupaten mencapai angka 2. Tabel 13 Jumlah Penduduk Kabupaten Lebak Menurut Jenis Kelamin dan Sex RatioTahun 2004-2008 Tahun Laki-laki Perempuan Jumlah Sex Ratio 2004 2005 2006 2007 2008 598. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah Kecamatan Malingping (dari 2. Fakta menarik terjadi pada tahun 2007. bahkan terdapat pertumbuhan yang minus atau dengan kata lain pada kecamatan yang dimaksud mengalami penurunan jumlah penduduk dibanding tahun sebelumnya.29 Sumber : BPS Kabupaten Lebak.836 567.176.85 menjadi -0. Muncang dan Rangkasbitung sebagaimana kita ketahui.905 107.637 638. dimana laju pertumbuhan penduduk tingkat kabupaten berada pada angka 1.597 608. Tahun 2009 Meskipun jumlah penduduk Kabupaten Lebak tiap tahunnya selalu mengalami kenaikan.54 menjadi -0.69% untuk kemudian naik lagi menjadi 2. Pada tahun 2004 misalnya.669 557.648 620.74 Pada tahun ini dapat diartikan bahwa diantara 104 penduduk laki-laki terdapat 100 penduduk perempuan.033 1.68 menjadi -0.86) sementara untuk kecamatan Bojongmanik. ketiga kecamatan induk tersebut masing-masing dimekarkan menjadi dua kecamatan sehingga justru kecamatan hasil pemekaranlah yang mengalami peningkatan pertumbuhan penduduk.236 penduduk perempuan. Adapun rincian pertumbuhan penduduk tiap kecamatan selengkapnya dapat disimak melalui tabel berikut.219.30 103.669 penduduk laki-laki dan 595.900 622.261 598. .38% sementara tahun berikutnya turun ke angka 1.29 dengan rincian 638. Cileles (13.21% pada tahun 2006. khususnya dalam kurun lima tahun terakhir namun bila dilihat dari laju pertumbuhannya justru berfluktuasi.433 1. Dengan asumsi menggunakan laju pertumbuhan rata-rata per tahun dari jumlah penduduk selama empat tahun terakhir.32% dengan rincian pada tingkat kecamatan yang bervariasi.89) dan Warunggunung (2.450 580.202.233.909 1.

20 4.66 0.01 1.69 4.07 -2.38 Cilograng 7 -2.13 0.84 2.3 Infrastruktur Umum Kecamatan Tahun 2007 -0.60 0.79 1. Kondisi sarana prasarana yang merupakan faktor pendorong percepatan pertumbuhan di .67 1.03 6.36 1.97 -3.19 2.01 3.79 11 Cileles 2.04 2.70 3.86 3.19 Cibeber 8 1.10 2.18 2.11 6.59 26 Kalanganyar 27 Maja 1.02 1.64 2.68 Wanasalam 3 2.66 0.94 1.18 1.77 0.54 12 Gunungkencana 2.34 1.40 2.88 1.04 0.94 0.89 1.19 1.96 1.54 3.85 24 Cibadak 2.02 2.17 1. Pertumbuhan dan perkembangan suatu wilayah sangat ditunjang oleh ketersediaan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh wilayah tersebut.57 0.90 3.32 2008 1.34 1.47 1.93 1.19 13 Bojongmanik 2.13 2.33 22 Cikulur 2.75 Tabel 14 Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Lebak Menurut 2004-2008 No Kecamatan 2004 2005 2006 1 2.45 0.11 -6.65 2.09 0.59 0.84 3.46 0.40 2.11 1.21 Sumber : BPS Kabupaten Lebak.21 14 Cirinten 15 Leuwidamar 1.52 -0.03 1.48 1.61 1.31 1.69 2.15 0.73 13.67 1.22 2.14 2.58 25 Rangkasbitung 3.85 2.99 1.42 -1.75 3.69 1.10 0.87 21 Cimarga 2.59 -0.19 28 Curugbitung 2.79 2.93 1.25 1.74 Pembangunan infrastruktur adalah bagian integral dari pembangunan daerah.65 Cijaku 9 Cigemblong 10 Banjarsari 1.95 1.59 2.38 1.97 2.79 2.09 1.85 1. Tahun 2009 5.76 18 Cipanas 2.93 1.33 2.88 1.68 Malingping 2 1.89 0.79 16 Muncang 1.27 -0.84 2.59 17 Sobang 1.77 1.00 2.53 1.09 1.19 2.38 Bayah 6 1.52 Panggarangan 4 Cihara 5 4.03 1.58 0.76 JUMLAH 2.36 2.49 2.99 23 Warunggunung 2.49 1. Infrastruktur merupakan roda penggerak pertumbuhan ekonomi. sosial dan politik.96 0.48 19 Lebakgedong 20 Sajira 4.57 0.30 1.

75 2 2005 892.87 Km dan permukaan lapen 84. Infrastruktur umum terdiri dari sarana transportasi dan jalan. telekomunikasi dan informasi. dan ketenagalistrikan.82 Km.60 87.90 62. bahkan ketika berada di dalam angkutan umum karena berbagai bentuk kejahatan. Panjang dan Kondisi Jalan Kabupaten Di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 No. maka terdapat 4.70 1.20 285. terminal dan angkutan umum. dengan jenis permukaan hotmix 218. parasarana dan sarana utilitas pemukiman dan perumahan. perkeretaapian.30 246. infrastruktur dibagi ke dalam tiga bagian. Tahun Panjang Kondisi (KM) Ruas Baik Sedang Rusak Rusak Jalan Ringan Berat (KM) 827.60 1 2004 874. Apabila ditinjau dari kelas jalan.05 3 2006 803. maka ketidaknyamanan yang sering kali dikeluhkan oleh masyarakat mulai waswas jika berada di pusat keramaian.00 168. Lebak. Hal ini akibat dari kesemrawutan angkutan umum.60 285. Tabel 15 Jumlah Ruas Jalan.45 332.00 119.00 396.10 Km. kondisi rusak ringan 75.55 351.61 124.00 Km dan kondisi rusak berat 67.40 87. telekomunikasi. Dengan demikian apabila faktor pendorong tidak dikelola dengan baik. irigasi.00 54. yakni infrastruktur umum.80 175. pendidikan dan kesehatan. sarana dan prasarana desa tertinggal.21 477.80 464. .00 169.70 228. Perubahan fungsi trotoar untuk pejalan kaki berubah menjadi tempat untuk menjajakan dagangan Dalam penelitian ini.75 134.80 4 2007 856.4 Km jalan kelas II dan 298.87 Km. ketenagalistrikan.00 Km dengan kondisi baik 151. sumberdaya air/irigasi. kondisi sedang 8.85 5 2008 Sumber : Dinas Bina Marga Kab.95 Km.76 Kabupaten Lebak saat ini antara lain transportasi.47 Km jalan kelas III. jalan. Tahun 2009 Kondisi sarana dan prasarana jalan di Kabupaten Lebak adalah sebagai berikut :  Panjang Jalan Propinsi di Kabupaten Lebak adalah 302.

55 Km dan tanah 93. kondisi rusak 134.00 51. Program tersebut mulai dilaksanakan pada tahun 2007 dan akan terus dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya dengan tetap menentukan prioritas ruas jalan poros desa yang akan dibangun atau ditingkatkan berdasarkan kriteria yang telah kita tetapkan.77 Tabel 16 Jumlah Ruas Jalan.40 Km (26.39 177.71 267.61 281. Lebak.571. Selain jalan nasional. batu 179. Adapun jumlah penanganan jumlah poros desa yang sudah ditangani dari tahun 2007 sampai dengan 2009 sepanjang 488.13%). . kondisi sedang 812.34 0.80 Km dengan kondisi jalan baik 477.87 45.34 0. Propinsi dan Kabupaten.63 94.87 Km dan ruas-ruas jalan luar kota sepanjang 798.39 61.26 29.42 Rusak Berat 52.47 15.73 1 2 3 4 5 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber : Dinas Bina Marga Kab.39 61.61 Km (55.61 106.03 Kondisi (KM) Sedang Rusak Ringan 45.35 Km.84 Km yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Lebak.74 107.78%). kondisi sedang 124. dengan kondisi baik 75.34 0.57%). terdiri dari ruas-ruas jalan dalam Kota Rangkasbitung sepanjang 57.85 Km (14%).61 Km.85 Km dan jalan desa dengan kontruksi beraspal 3.2 Km terdiri dari jalan tanah sepanjang 2.647.00 Km (15.82 128. pemerintah daerah juga telah melakukan terobosan yang sangat signifikan dengan pencanangan dan penanganan Jalan Poros Desa melalui Program Hotmik Masuk Desa (HMD).187.87 0. Tahun 2009  Panjang jalan kabupaten adalah 856.45%).42%) dan kondisi rusak 2.75 Km (14.45 Km (71.50 Km (2.  Panjang jalan desa di Kabupaten Lebak adalah 5. lapen 40.21 Km. Panjang dan Kondisi Jalan Propinsi Di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 No. Tahun Panjang Ruas Jalan (KM) 107.34 Km dengan jenis permukaan hotmix 542.65%) dan rusak berat 119.86 45.075.25 Km.65 Baik 61.

78

Tabel 17 Jumlah Ruas Jalan, Panjang dan Kondisi Jalan Nasional di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 No. Tahun Panjang Kondisi (KM) Ruas Baik Sedang Rusak Rusak Jalan Ringan Berat (KM) 130,34 78,33 35,37 16,64 1 2004 130,34 78,33 35,37 16,64 2 2005 130,34 78,33 35,37 16,64 3 2006 140,00 128,00 0,00 12,00 4 2007 NR NR NR NR NR 5 2008 Sumber : Dinas Bina Marga Kab. Lebak, Tahun 2008 Prasarana dan Sarana Utilitas permukiman dan perumahan di Kabupaten Lebak pada umumnya meliputi : penyediaan sarana air bersih, penanganan jalan lingkungan, dan pembangunan serta rehabilitasi gedung-gedung pemerintahan dan bangunan lainnya. Tabel 18 Jumlah Penanganan Jalan Poros Desa (HMD) di Kabupaten Lebak Tahun 2007-2009
No. 1 2 3 Tahun 2007 2008 2009 Jumlah Jumlah Penanganan (Km) 104,37 190,04 194,43 488,84 Keterangan Tersebar di seluruh Kecamatan Tersebar di seluruh Kecamatan Tersebar di seluruh Kecamatan

Sumber : Dinas Bina Marga Kab. Lebak, Tahun 2009 Penyediaan sarana dan prasarana air bersih di Kabupaten Lebak dilaksanakan oleh tiga institusi, yaitu PDAM, Dinas Cipta Karya dan Dinas Kesehatan. Penyediaan sarana tersebut selalu terus dianggarkan setiap tahunnya karena hal ini ditujukan untuk terus meningkatkan cakupan air bersih yang sampai dengan tahun 2010 baru mencapai 45,46% (perkotaan dan perdesaaan). Untuk lebih rincinya berikut kami gambarkan cakupan air bersih setiap kecamatan di Kabupaten Lebak sampai dengan tahun 2008. Penyediaan air bersih oleh pemerintah daerah dipenuhi melalui pembangunan sarana MCK, sumur bor, sipas gravitasi dan sarana air bersih lainnya. Selain pemenuhan kebutuhan air bersih, pada bidang keciptakaryaan Pemerintah daerah selalu meningkatkan dan menangani jalan pemukiman. Peningkatan jalan pemukiman dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009 sekarang ini baru mencapai 68,20 Km yang dialokasikan sebagian besar untuk di perkotaan dan di lokasi-lokasi penyelenggaraan MTQ Kabupaten. Mengingat

79

masih banyak kondisi jalan lingkungan yang rusak dan tidak memadai untuk aksesibilitas, Pemerintah daerah perlu terus merencanakan pembangunan atau peningkatan jalan lingkungan terutama di perdesaan. Tabel 19 Cakupan Air Bersih per Kecamatan Di Kabupaten Lebak Tahun 2008
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Kecamatan Rangkasbitung Kalanganyar Cibadak Warunggunung Cikulur Sajira Cipanas Lebak Gedong MAJA Curugbitung Muncang Sobang Cimarga Leuwidamar Cileles Gunung Kencana Cijaku Cigemblong Banjarsari Malingping Wanasalam Bojongmanik Cirinten Panggarangan Cihara Bayah Cilograng Cibeber Jumlah Jumlah KK 20,864 7,236 12,559 11,555 10,941 9,433 11,314 4,172 11,316 7,601 6,980 7,452 12,622 12,489 12,776 7,449 6,669 5,284 13,029 18,604 9,798 4,841 5,173 9,215 7,608 10,315 5,720 14,981 277,996 KK Terlayani 14,417 3,808 10,156 4,328 6,209 6,563 6,296 1,708 6,468 4,449 2,484 2,346 4,135 4,227 1,134 2,919 3,157 1,221 5,208 9,790 5,354 913 1,210 6,983 2,014 2,016 1,707 5,158 126,378 persentase 69.10% 52.63% 80.87% 37.46% 56.75% 69.57% 55.65% 40.94% 57.16% 58.53% 35.59% 31.48% 32.76% 33.85% 8.88% 39.19% 47.34% 23.11% 39.97% 52.62% 54.64% 18.86% 23.39% 75.78% 26.47% 19.54% 29.84% 34.43% 45.46%

Sumber : Kompilasi Dinas Kesehatan dan Dinas Cipta Karya, Tahun 2009 Sarana telekomunikasi di Kabupaten Lebak berdasarkan data tahun 2006 telah mampu mencapai kapasitas 17.796 SST dengan kapasitas yang telah dimanfaatkan sebanyak 8.079 SST (45,40%) dan telah mampu menjangkau semua kecamatan yang ada di Kabupaten Lebak. Selain itu untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara lebih luas, telah disediakan pula telepon umum dan warung telekomunikasi sebanyak 425 buah. Kabupaten Lebak juga dilayani oleh jasa Pos dan Giro melalui PT. Pos Indonesia sebanyak 50 unit dengan klasifikasi 1 unit Kantor Pos Cabang Rangkasbitung, 9 unit Kantor Pos Kecamatan dan 40 unit Kantor Pos Desa. Selain itu sarana telekomunikasi yang dapat diakses oleh masyarakat yaitu melalui penyediaan layanan seluler oleh beberapa provider yang mengembangkan investasinya di Kabupaten Lebak. Hal ini dapat diketahui dengan terbangunnya

80

tower seluler yang tersebar di 28 kecamatan sebanyak 139 tower yang telah memiliki ijin pada akhir tahun 2007. Kabupaten Lebak merupakan daerah penyangga stok pangan padi sawah di Propinsi Banten, mengingat kawasan Banten Utara yang meliputi daerah Serang, Cilegon dan Tangerang yang sudah beralih fungsi penggunaan lahan pertaniannya menjadi lahan permukiman dan industri. Oleh karenanya pengembangan pertanian padi sawah diarahkan ke Kabupaten Lebak dan Pandeglang sebagai wilayah pengembangan budidaya pertanian tanaman pangan dan hortikultura, konservasi lahan kritis sebagai fungsi kawasan tangkapan air baku sungai dan situ yang berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber air baku Irigasi. Jaringan irigasi yang telah dibangun dan dikembangkan sejak PELITA I sampai dengan Tahun 2008 berdasarkan data Dinas Sumber Daya Air Kabupaten Lebak adalah seluas 61.158 Ha yang meliputi : 1) Irigasi Pemerintah sebanyak 358 Unit (48.367 Ha) yang terdiri dari : a. b. c. 2) Irigasi Teknis 17 Unit, luas areal potensial 13.030 Ha (21,31%) Irigasi Semi Teknis 45 Unit, luas areal optensial 10.787 Ha (17,64%) Irigasi Sederhana 247 unit, luas areal potensial 24.550 Ha (40,14%)

Irigasi Pedesaan 123 Unit, luas areal potensial 12.791 Ha (20.91%) Dari total luas areal potensial tersebut di atas (61.158 Ha), jaringan Irigasi

yang berfungsi pada tahun 2003 adalah seluas 24.300 Ha. Adapun penanganan pembangunan baik pembangunan baru maupun rehabilitasi dari tahun 2004 sampai dengan 2008 sebanyak 243 daerah irigasi dengan luas areal 26.591 Ha sehingga total luas potensial sampai dengan tahun 2008 adalah 50.921 Ha. Sedangkan potensi sawah tadah hujan baik yang bisa dikembangkan dan yang tidak bisa dikembangkan adalah seluas 14.132 Ha dengan rincian : a. b. Sawah yang bisa dikembangkan seluas 4.386 Ha Sawah yang tidak bisa dikembangkan seluas 9.746 Ha

81

Tabel 20 Rasio Elektrifikasi per Kecamatan Di Kabupaten Lebak Tahun 2008
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Kecamatan Maja Rangkasbitung Sajira Cibadak Gunungkencana Cileles Bayah Cipanas Malingping Muncang Cikulur Curugbitung Kalanganyar Cimarga Warunggunung Panggarangan Banjarsari Bojongmanik Cijaku Leuwidamar Sobang Cibeber Wanasalam Lebakgedong Cilograng Cihara Cirinten Cigemblong Jumlah Kebutuhan (Kk) 11,679 28,459 11,628 12,587 7,798 10,840 10,315 11,257 14,669 7,269 11,545 7,281 6,718 14,246 12,410 9,065 17,332 5,624 6,891 12,846 7343 15,505 13,857 4,699 8,516 7,414 6,074 6,596 300,463 Terlayani (Kk) 9,310 22,392 8,433 9,107 5,557 7,332 6,847 7,471 9,571 4,334 6,507 3,804 3,499 7,227 6,277 4,244 8,109 2,606 2,948 5,386 3023 6,290 4,956 1,664 2,996 2,354 1,739 796 164,779 Terlayani (%) 79.7% 78.7% 72.5% 72.4% 71.3% 67.6% 66.4% 66.4% 65.2% 59.6% 56.4% 52.2% 52.1% 50.7% 50.6% 46.8% 46.8% 46.3% 42.8% 41.9% 41.2% 40.6% 35.8% 35.4% 35.2% 31.8% 28.6% 12.1% 54.8%

Sumber : Bappeda Kab. Lebak, Tahun 2009 Pembangunan di Kabupaten Lebak tidak terlepas dari dukungan sarana dan prasarana energi listrik dalam upaya mendorong pertumbuhan perekonomiaan dan pembangunan lainnya. Energi listrik ini dipergunakan untuk keperluan domestik dan industri. Berdasarkan data yang diolah dari PT. PLN Cabang Rangkasbitung, rasio elektrifikasi di kabupaten Lebak baru mencapai 54,58%. Hal ini menggambarkan bahwa setengah dari penduduk Kabupaten Lebak belum tersentuh oleh tenaga listrik. Berdasarkan tabel di atas, rasio elektrifikasi yang tertinggi adalah Kecamatan Maja dan Rangkasbitung, sementara yang terendah terdapat di kecamatan Cigemblong dan kecamatan-kecamatan lain yang relatif terisolir. Sedangkan untuk Penerangan Jalan Umum (PJU) yang sudah terpasang dan masuk kontrak dengan pihak PT. PLN sebanyak 2092 titik, dengan mekanisme pengelolaan yang terpadu bersama Pemerintah Daerah.

Pelayanan publik yang diberikan oleh pemerintah daerah pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup dan kualitas masyarakatnya. Karena berhubungan dengan kualitas sumberdaya manusia. 34 Tahun 2004 memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mengelola daerahnya secara otonomi. dalam hal ini lebih familiar dikenal dengan otonomi daerah. Pelayanan publik yang prima dan memenuhi aturan standar pelayanan minimal selanjutnya harus mampu dinikmati secara nyata oleh masyarakat. Pemerintah daerah dianggap mampu untuk mengelola daerahnya dan memberikan pelayanan publik yang lebih baik ketimbang saat pemerintahan masih menggunakan sisitem sentralisasi. Dalam pembahasan penelitian yang dilakukan di Kabupaten Lebak ini. Melalui desentraliasasi tersebut. pemerintah melalui UU No. Untuk konteks negara Indonesia. Pelayanan publik yang prima akan memberikan dampak positif terhadap kualitas sumberdaya manusia. maka pelayanan publik yang dikupas akan condong dibatasi pada pelayanan di sektor pendidikan dan kesehatan. Dugaan yang dibangun adalah adalah hubungan yang tegak lurus antara kinerja pelayanan publik dengan kualitas sumberdaya manusia suatu wilayah. Hipotesa utama dengan pemberlakuan undang-undang ini bertujuan untuk mempercepat proses pemerataan pembangunan. sedangkan pelayanan publik yang jauh dari standar minimal akan berdampak kurang baik terhadap perkembangan kualitas sumberdaya manusia yang ada.82 BAB VI PENGARUH KINERJA PELAYANAN PUBLIK TERHADAP KUALITAS SUMBERDAYA MANUSIA Dalam mekanisme pemerintahan suatu negara atau wilayah. Dampak lanjutannya akan dapat dilihat bagaimana perkembangan indikator utama yang paling banyak digunakan . pemerintah memiliki kewenangan sekaligus kewajiban untuk memberikan pelayanan publik kepada seluruh masyarakat yang ada dalam lingkup negara atau wilayahnya. secara spesifik akan dibahas bagaimana pelayanan publik memberikan pengaruh terhadap kualitas masyarakat atau sumberdaya manusia.

6. Dengan adanya aturan berupa standar pelayanan minimal pendidikan. Fasilitas pendidikan yang diberikan berupa ketersediaan gedung sekolah tiap satuan pendidikan. Pemerintah daerah sebagai stabilisator pembangunan daerah tentu saja berkewajiban memberikan pelayanan prima pendidikan demi meningkatkan kualitas sumberdaya manusia daerahnya. pendidikan merupakan salah satu bagian yang tidak terpisahkan. 6. Jumlah tenaga pengajar juga akan menjelaskan bagaimana pemenuhan pelayanan ketersediaan sumberdaya pengajar.1 Fasilitas dan Tenaga Pendidikan Tingkat pelayanan publik di sektor pendidikan dapat terlihat dari kondisi bangunan sekolah dan juga perbandingan jumlah tenaga pengajar dengan siswa tiap satuan pendidikan yang ada di Kabupaten Lebak. diharapkan tiap pemerintah daerah mampu melaksanakan kewajibannya dalam rangka pelaksanaan pendidikan nasional untuk masyarakat yang berada dalam lingkup kepemerintahannya.1. Karena guru ini adalah faktor pertama dalam proses transfer materi pengajaran kepada siswa untuk tiap satuan pendidikan di Kabupaten Lebak.1 Kinerja Pelayanan Publik Sektor Pendidikan Dalam proses pembangunan yang integral. Kondisi bangunan tiap satuan . yakni Indeks Pembangunan Manusia atau dapat disingkat dengan IPM. yakni fasilitas dan tenaga pendidikan. Karena pendidikan adalah salah satu penentu kualias sumberdaya manusia atau human resources suatu wilayah atau daerah.83 dalam menilai kualitas sumberdaya manusia. Kinerja pelayanan publik sektor pendidikan dapat ditunjukan sejauh mana pemerintah daerah dalam hal ini Kabupaten Lebak memenuhi pelayanannya sesuai dengan standar pelayanan minimal yang telah ditentukan oleh Kementrian Pendidikan Nasional. Tingkat pendidikan akan menunjukan bagaimana tingkat kualitas sumberdaya manusia. Kondisi bangunan ini mencitrakan bagaimana pelayanan infrastruktur publik bidang pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Pelayanan dasar yang harus diberikan pemerintah daerah secara umum dibagi menjadi dua bagian. sedangkan tenaga kependidikan adalah jumlah guru yang tersedia di Kabupaten Lebak.

54 65. sekolah yang berada di pusat pemerintahan pun ada yang mengalami kerusakan dan belum diperbaiki. Dimana selama ini sering terjadi miss-koordinasi dalam proses perencanaan hingga pelaksanaan pembangunan di sektor pendidikan.00 8. 85.89 persen. SMA dan SMA berturut-turut sebesar 79. MTs dan MA karena ketiga satuan pendidikan tersebut berada langsung di bawah Kemeterian Agama.82 persen.490 692 1. Tabel 21 Keadaan kondisi ruang belajar tingkat SD.203 518 369 112 355 7.10 persen dan 65. kondisi bangunan di Kabupaten Lebak dapat dikatakan cukup baik untuk beberapa tingkat pendidikan. Kendala anggaran akhirnya menjadi akar utama kenapa banyak bangunan yang belum memenuhi standar pelayanan minimal di sektor pendidikan.20 RUSAK BERAT Jml 250 198 108 130 11 0 29 726 % 5.63 persen. maka pelayanan dasar pendidikan akan diterjemahkan oleh rasio jumlah sekolah dengan jumlah penduduk usia sekolah dan rasio guru dengan penduduk usia sekolah. Walaupun tidak menampik kemungkinan.57 28.739 Jumlah % 100 100 100 100 100 100 100 Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak.13 27. Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak memiliki kesulitan dalam melakukan pemerataan pembangunan untuk MI. SMA SMK MA JUMLAH 3.64 persen. dan 95. 47.10 85.79 24.10 2.80 11. Tahun 2010 Berdasarkan tabel di atas.46 26.64 persen.54 persen.64 46. . Sedangkan kondisi yang kurang memuaskan terjadi pada MI.89 47.84 pendidikan hingga tahun 2009 secara umum dapat diperlihatkan pada tabel di bawah sebagai berikut.98 0. SMP.63 RUSAK RINGAN Jml 664 170 170 144 42 5 93 1. Keterpencilan tersebut menyebabkan pemerintah kurang memperhatikan kebutuhan-kebutuhan dasar utama seperti fasilitas gedung sekolah.98 25. Dimana kondisi bangunan yang baik untuk SD.38 4. Sesuai dengan rujukan derajat pelayanan publik pendidikan.57 14. dan SMA di Kabupaten Lebak tahun 2009 JENJANG PENDIDIKAN Jml SD MI SMP MTs.82 76.61 8.64 95. Sebagian besar sekolah yang memiliki kondisi bangunan yang rusak adalah sekolah di daerah-daerah yang sulit terjangkau atau terpencil.17 Jml 4. 76. MTs dan MA dimana kondisi bangunan yang bagus hanya sebesar 46.576 324 925 244 316 107 233 5.725 BAIK % 79.288 % 14. SMP.

Rasio Bangunan SMP. Kalang Anyar dan Lebak Gedong.003 0. Panggarangan. Tahun 2010 Gambar 11 Jumlah Rasio Bangunan sekolah dengan Penduduk Usia Sekolah di Kabupaten Lebak Tahun 2009 Berdasarkan data rasio bangunan tiap satuan pendidikan dengan penduduk. Kecamatan yang memiliki rasio bangunan SD dengan penduduk paling rendah adalah Kecamatan Bojongmanik dan Lebak Gedong. Cileles dan Warunggunung. Cigemblong dan Cihara. Cileles. Warunggunung. Cimarga. Sobang.004 0. Indikator pelayanan publik kedua yang dapat dilihat adalah seberapa banyak jumlah guru yang disiapkan untuk bisa memberikan pengajaran kepada . sedangkan kecamatan dengan angka rasio cukup rendah adalah Bojongmanik.001 0 Rasio bangunan SD.005 0.007 0. Cibeber. Untuk kecamatan dengan rasio bangunan SMA dengan penduduk cukup tinggi adalah Kecamatan Rangkasbitung.01 0. Kecamatan dengan rasio bangunan SMP dengan penduduk cukup tinggi adalah Kecamatan Bayah. Cimarga dan Warunggunung. Kalang Anyar. 0. maka kecamatan yang memiliki rasio bangunan SD dengan penduduk cukup tinggi adalah Kecamatan Bayah.009 0. sedangkan yang rendah adalah Sobang.Rasio Bangunan Penduduk Usia SD Penduduk Usia SMP SMA/SMK-Penduduk Usia SMA Malingping Wanasalam Panggarangan Bayah Cilograng Cibeber Cijaku Banjarsari Cileles Gunung Kencana Bojongmanik Leuwidamar Muncang Sobang Cipanas Sajira Cimarga Cikulur Warunggunung Cibadak Rangkasbitung Maja Curugbitung Kalang Anyar Lebak Gedong Cirinten Cigemblong Cihara Sumber : Hasil Perhitungan. Cileles.008 0. Cibeber. Cirinten. Banjarsari.85 Rasio jumlah bangunan dan penduduk di tiap kecamatan secara terperinci dapat dijelaskan melalui Gambar 12 di bawah ini. Sajira. Warunggunung dan Rangkasbitung.006 0.002 0.

sedangkan kecamatan yang . Secara umum. Gunung Kencana.08 0. Akan tetapi. maka kecamatan yang memiliki rasio cukup tinggi adalah Panggarangan. Cibeber. Maja dan Cigemblong.12 0. Muncang.1 0. jumlah guru dan murid di Kabupaten Lebak Tahun 2009 dapat dilihat pada gambar di bawah ini. 0. Warunggunung dan Rangkasbitung. Cibadak. Banjarsari. Untuk rasio guru dengan siswa tingkat SMP. perbandingan antara guru dengan murid yang ada di Kabupaten Lebak adalah 1 : 24 (SD). Rasio guru dengan murid cukup tinggi di tingkat SMA diduduki oleh beberapa kecamatan seperti Panggarangan. 1 : 30 (SMP) dan 1 : 27 (SMA). Tahun 2010 Gambar 12. Lebak Gedong dan Cigemblong. Cilograng. Secara spesifik. Jumlah guru tersebut akan dibandingkan dengan jumlah penduduk usia sekolah yang ada di tiap kecamatan Kabupaten Lebak. Bojongmanik. maka kecamatan yang memiliki rasio cukup tinggi antara guru dan murid SD adalah Bayah.Penduduk Usia SD Penduduk Usia SMP Rasio Guru SMAPenduduk Usia SMA Malingping Wanasalam Panggarangan Bayah Cilograng Cibeber Cijaku Banjarsari Cileles Gunung Kencana Bojongmanik Leuwidamar Muncang Sobang Cipanas Sajira Cimarga Cikulur Warunggunung Cibadak Rangkasbitung Maja Curugbitung Kalang Anyar Lebak Gedong Cirinten Cigemblong Cihara Sumber : Hasil Perhitungan. Jumlah Rasio Guru dengan Penduduk Usia Sekolah di Kabupaten Lebak Tahun 2009 Berdasarkan informasi yang didapatkan oleh Gambar 13. Cijaku. sedangkan kecamatan yang memiliki rasio rendah adalah Cileles.02 0 Rasio Jumlah Guru SD Rasio Guru SMP . Sajira dan Cikulur. sedangkan untuk wilayah tertinggal masih membutuhkan tambahan guru. angka tersebut bukan berarti memberikan kabar gembira yang mutlak. Maja. Cikulur dan Kalang Anyar.04 0.06 0. karena untuk wilayah yang maju sudah memiliki guru yang cukup. sedangkan kecamatan yang rendah rasionya adalah Wanasalam.86 siswa.

Empat kuadran tersebut terdiri dari : Pertama. kuadran III (prioritas rendah) dengan tingkat kepentingan dan kinerja rendah.1.2 Analisis Penilaian Sikap Masyarakat terhadap Kinerja Pelayanan Publik Sektor Pendidikan Hasil analisis penilaian sikap masyarakat terhadap kinerja pelayanan publik pendidikan Pemkab Lebak pada wilayah tertinggal dapat dilihat pada Tabel 29. kuadran IV (berlebihan) dengan tingkat kepentingan rendah tetapi kinerja tinggi. Keempat. serta jumlah guru dengan murid memiliki kesamaan kondisi. Lain halnya dengan kecamatan yang relatif lebih sulit diakses. Maja. Atribut-atribut produk pelayanan publik pendidikan Pemkab Lebak akan dibagi ke dalam empat kuadran yang mencerminkan kondisi kepentingan dan kinerja dari masing-masing atribut tersebut. 6.667. Cibeber. . Berdasarkan Tabel 29 terlihat bahwa penilaian sikap masyarakat terhadap kinerja pelayanan publik bidang pendidikan Pemkab Lebak pada wilayah tertinggal adalah buruk dengan nilai 2. Ketiga. Panggarangan. Warunggunung dan Banjarsari. Cirinten dan Cihara. Lebak Gedong. Sebagian besar kecamatan yang memiliki kondisi rasio cukup tinggi adalah kecamatan yang secara transportasi darat lebih mudah diakses seperti Rangkasbitung. Cigemblong dan Cihara. Kedua. Atribut standar pelayanan pendidikan dasar dan menengah pada manajerial Pemkab Lebak dinilai masih buruk. Kondisi rasio perbandingan antara jumlah bangunan dan penduduk. Kalang Anyar. contohnya seperti Cigemblong. kuadran II (pertahankan prestasi) dengan tingkat kepentingan dan kinerja atribut tinggi. kuadran I (prioritas utama) dengan tingkat kepentingan tinggi dan kinerja atribut rendah.87 memiliki rasio sangat rendah adalah Kecamatan Sobang. Cirinten. Hal ini dapat dilihat dari hasil penilaian evaluasi dan kepercayaan responden terhadap yang masih ada di bawah rata-rata dan menilai biasa atau sedang. Sobang. kecamatan tersebut memiliki rasio yang lebih rendah.

Standar jumlah rombongan belajar dan ketersediaan ruang kelas 3.90 4.13 2.65 2.03 1.40 2.18 2.63 1.73 2.03 2.08 2. Diagram kartesius dibagi ke dalam empat kuadran dengan garis tengah pembagi berdasarkan nilai total rata-rata tingkat kepentingan (Y) yaitu sebesar 4.ei 1.20 3.55 4.70 1. Pemenuhan buku teks sesuai jumlah SPM per jumlah sekolah 17.93 2.80 4.83 2.47.45 4.98 2.25 1. Kunjungan pengawas ke sekolah tiap bulan selama 3 jam 15.38 4.25 4.15 2.47 bi .63 2.15 4. Guru berkualifikasi S1 8. Supervisi kepala sekolah ke dalam kelas 25.30 4.75 2. guru berkualifikasi S1.33 2.20 2. Kepala Sekolah bersertifikat dan S1 untuk sekolah dasar 11.45 4.667 Buruk Kuadran II I II I I III I II II IV IV II II I III III I I III III IV IV IV IV III III III Sumber: Hasil Perhitungan.53 e i (X ) 3.35 1.00 2.68 2. kunjungan pengawas sekolah.55 2.35 2. Ketersediaan buku pengayaan dan referensi 19.73 4.25 4.05 4.03 2. ketersediaan ruang tenaga kependidikan.05 2.90 2.00 2.78 4. penyediaan peraga IPA serta ketersediaan buku pengayaan dan referensi. Penyampaian laporan hasil ujian oleh kepala sekolah 27.68 1. Tahun 2010 Kuadran-kuadran ini dipisahkan oleh garis pembagi yang merupakan nilai total rata-rata dari tingkat kepentingan (Y) dan nilai total rata-rata dari tingkat kinerja (X) dari atribut kinerja pelayanan publik Pemkab Lebak.15 4.28 1.85 4.08 2. Ketersediaan ruang laboratorium IPA dan peralatan eksperimen 4.48 1.33 4.53 dan nilai total rata-rata tingkat kinerja (X) yaitu sebesar 2. Kepala Sekolah bersertifikat dan S1 untuk sekolah menengah 12.83 4.23 2.63 4.30 4. Pengawas bersertifikat dan kualifikasi S1 13. Katersediaan guru per mata pelajaran 7.13 2.55 1.30 4.28 4. Buku teks bersertifikat 16.40 2. Rencana pengembangan kurikulum pembelajaran efektif 14. Guru bersertifikat 9.65 2.53 2.78 Interpretasi Biasa Biasa Biasa Biasa Biasa Buruk Buruk Biasa Biasa Biasa Biasa Biasa Biasa Biasa Buruk Buruk Buruk Buruk Biasa Biasa Biasa Biasa Biasa Biasa Buruk Buruk Buruk 2. rasio guru dengan peserta didik. Penerapan kurikulum sesuai tingkat satuan pendidikan 22.55 2. terdapat tujuh atribut yang menjadi prioritas utama yakni standar jumlah rombongan belajar dengan ruangan.95 2.20 2. Ketersediaan jumlah satuan pendidikan 2. Penyediaan satu set peraga IPA 18.85 4.63 2.30 2.48 2. Tabel 29 menggambarkan skor rata-rata tingkat kepentingan dan kinerja pelayanan publik bidang pendidikan di wilayah khusus atau tertinggal secara keseluruhan.65 4. Penerapan rencana pelaksanaan pembelajaran pada guru 23. Guru mengajar 35 jam per minggu 20.78 2. Sertifikasi guru untuk masing-masing mata pelajaran 10. penerapan program penilaian pembelajaran 24. Penerapan pronsip manajemen berbasis sekolah Total Skor ∑ e i (40 x 27) Interpretasi Penilaian b i (Y ) 4.88 Tabel 22 Analisis Penilaian Sikap Masyarakat Terhadap Kinerja Pelayanan Publik Pendidikan Pemkab Lebak pada Wilayah Tertinggal Atribut 1. Ketersediaan kuantitas rasio guru dengan murid/peserta didik 6.50 2. Hasil ringkasan matriks posisi kuadran IPA. Terdapat enam atribut yang perlu dipertahankan prestasinya atau berada di kuadran II yakni ketersediaan jumlah . Proses pembelajaran selama 34 minggu per tahun 21.70 4.05 1. penyampaian oleh guru laporan evaluasi prestasi belajar 26. Pada Gambar 31 dapat dilihat posisi penempatan masing-masing atribut di dalam diagram kartesius.28 2.78 2.73 4.38 2.75 4. tenaga kependidikan dan kepala sekolah 5.15 2.65 2.53 4. Ketersesiaan ruang guru.

rencana pelaksanaan pembelajaran oleh guru. sertifikasi guru masing-masing mata pelajaran.5 1 1.5 3 3. guru bersertifikat. penerapan manajemen berbasis sekolah. laporan hasil ujian oleh kepala sekolah. proses pembelajaran 34 minggu per tahun. program penialain pembelajaran. 6 5 Tingkat Kepentingan 4 3 2 1 0 0 0.89 satuan pendidikan. supervisi kepala sekolah ke dalam kelas. ruang lab dan peralatan eksperimen. guru mengajar 35 jam per minggu.5 Kinerja Pelayana Publik Sumber : Hasil Perhitungan. pemenuhan kuantitas jumlah buku tiap sekolah. kepala sekolah kualifikasi S1 dan bersertifikat untuk sekolah menengah. pengawas berkualifikasi S1 dan bersertifikat dan kurikulum pembelajaran efektif. . laporan evaluasi prestasi belajar oleh guru. buku teks bersertifikat.5 2 2. kurikulum sesuai tingkat satuan pendidikan. Tahun 2010 Gambar 13 Matriks Posisi Kuadran IPA Pelayanan Publik Bidang Pendidikan Kabupaten lebak Di Wilayah Tertinggal Kuadran III atau prioritas rendah terdiri dari delapan atribut yakni ketersediaan guru per mata pelajaran. Sedangkan terdapat enam atribut yang masuk ke dalam kuadran IV yakni kepala sekolah kualifikasi S1 dan bersertifikat untuk sekolah dasar.

Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat masih menilai kinerja pelayanan publik pendidikan Pemkab Lebak di wilayah tertinggal lebih buruk atau di bawah standar dibandingkan dengan harapan yang masyarakat inginkan. Selain itu.1 Standar Jumlah Rombongan Belajar dengan Ruangan Atribut standar jumlah rombongan belajar dengan ruangan mendapat skor evaluasi kurang memuaskan dengan nilai 2. 6. Sedangkan skor kepercayaan sebesar 4. 6. 3. 4.1. 4.2. Tahun 2010 6. 7. sehingga perlu pergiliran penggunaan ruangan untuk belajar.1 Kuadran I (Prioritas Utama) Kuadran I diagram kartesius Important Performance Analysis (IPA) berarti tingkat kepentingan dari suatu atribut pelayanan publik dianggap oleh masyarakat adalah sangat penting.90 Tabel 23 Ringkasan Matriks Posisi Kuadran IPA Pelayanan Publik Bidang Pendidikan Kabupaten lebak Di Wilayah Tertinggal 1.28.20. 7. Supervisi kepala sekolah ke dalam kelas Sumber : Hasil Perhitungan. Kuadran I (Prioritas Utama) Standar jumlah rombongan belajar dengan ruangan Ketersediaan ruang tenaga kependidikan Rasio guru dengan peserta didik Guru berkualifikasi S1 Kunjungan pengawas sekolah Penyediaan peraga IPA Ketersediaan buku pengayaan dan referensi Kuadran III (Prioritas Rendah) Ketersediaan guru per mata pelajaran Buku teks bersertifikat Pemenuhan kuantitas jumlah buku tiap sekolah Guru mengajar 35 jam per minggu Proses pembelajaran 34 minggu per tahun Laporan evaluasi prestasi belajar oleh guru Laporan hasil ujian oleh kepala sekolah Penerapan manajemen berbasis sekolah 1.1. Kepala sekolah kualifikasi S1 dan bersertifikat untuk sekolah menengah 3. Program penilaian pembelajaran 6. Kepala sekolah kualifikasi S1 dan bersertifikat untuk sekolah dasar 2.2. 3. 2. Oleh karena itu. Kurikulum sesuai tingkat satuan pendidikan 4. 2. 6. 6. . Kuadran II (Pertahankan Prestasi) Ketersediaan jumlah satuan pendidikan Ruang Lab dan peralatan eksperimen Guru bersertifikat Sertifikasi guru masing-masing mata pelajaran Pengawas berkualifikasi S1 dan bersertifikat Kurikulum pembelajaran efektif Kuadran IV (Berlebihan) 1. Masih terdapat banyak sekolah yang perserta didiknya belum memenuhi syarat maksimal 32 untuk sekolah dasar dan maksimal 36 orang untuk sekolah menengah.78 dengan selisih cukup besar yakni 2. 4. 2. Rencana pelaksanaan pembelajaran oleh guru 5. 8. 1. 5. sebagian besar sekolah di wilayah tertinggal masih kekurangan ruangan. Dengan demikian atribut ini harus menjadi prioritas utama bagi Pemkab Lebak untuk meningkatkan kepuasan masyarakat. pemerintah daerah harus meningkatkan kinerja karena standar jumlah rombongan belajar dan ketersediaan ruangan merupakan prioritas utama pilihan masyarakat di wilayah khusus.1. tetapi kinerja dari atribut ini biasa saja. 5. 3. 5.

2.4 Guru Berkualifikasi S1 (Sarjana) Atribut guru berkualifikasi S1 (Sarjana) mendapat skor evaluasi kinerja kurang memuaskan dengan nilai 2.55 dengan selisih 2. Rasio guru dengan murid ini tentu saja menjadi salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pelayanan pendidikan dan juga perkembangan pendidikan anak didik. Sedangkan skor kepercayaan atau tingkat kepentingan sebesar 4.33. Sedangkan penyediaan ruang kepala sekolah yang terpisah dari ruang guru pada sekolah menengah belum terpenuhi semua.85 dengan selisih cukup besar yakni 2. Rasio guru dengan peserta didik pada beberapa sekolah baik pada sekolah dasar maupun menengah di daerah atau wilayah tertinggal masih belum memenuhi standar pelayanan minimal pendidikan.65.1.2. kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya. Ketersediaan guru yang berkualifikasi S1 atau sarjana pada beberapa sekolah baik pada sekolah dasar maupun menengah di daerah atau wilayah tertinggal masih belum memenuhi standar pelayanan minimal pendidikan.2.1.35. Karena guru adalah fasilitator utama dalam penyampaian materimateri pembelajaran di sekolah.3 Rasio Guru dengan Peserta Didik Atribut rasio guru dengan peserta didik mendapat skor evaluasi kinerja kurang memuaskan dengan nilai 2.91 6. Dimana belum tersedia satu ruangan guru yang dilengkapi dengan meja dan kursi untuk setiap guru. 6.1. SD/MI dan SMP/SMA seharusnya mampu menyediakan dua orang guru yang memenuhi kualifikasi standar .20. Kondisi ketersediaan ruang tenaga kependidikan pada beberapa sekolah khususnya sekolah dasar di daerah atau wilayah tertinggal masih belum memenuhi standar pelayanan minimal pendidikan. Sedangkan skor kepercayaan atau tingkat kepentingan sebesar 4.20.2 Ketersediaan Ruang Tenaga Kependidikan Atribut ketersediaan ruang tenaga kependidikan mendapat skor evaluasi kurang memuaskan dengan nilai 2.53. Sedangkan skor kepercayaan sebesar 4.85 dengan selisih cukup besar yakni 2. 6.1.1.1. Belum seluruh SD/MI menyediakan satu orang guru untuk setiap 32 peserta didik dan 6 orang guru untuk setiap satuan pendidikan.

80 dengan selisih 2.5 Kunjungan Pengawas Sekolah Atribut kunjungan pengawas sekolah mendapat skor evaluasi kinerja kurang memuaskan dengan nilai 2. Penyediaan peraga IPA yang dimaksud adalah satu set peraga IPA dan bahan yang terdiri dari kerangka manusia.2.63 dengan selisih 2.13.2. kit IPA untuk eksperimen dasar dan poster IPA. Standar pelayanan minimal berupa sarjana S1 ini mengacu pada standar pelayanan pendidikan yang mengharuskan seluruh tenaga pengajar memiliki kemampuan terhadap keilmuannya. Sehingga peserta didik dalam hal ini pelajar akan memiliki tambahan pengetahuan yang mungkin tidak . 6. Sedangkan skor kepercayaan atau tingkat kepentingan sebesar 4.73 dengan selisih 2. Sedangkan skor kepercayaan atau tingkat kepentingan sebesar 4.1.65.1.08.13. Buku pengayaan tersebut merupakan salah satu gerbang dalam membuka khasanah ilmu pengetahun. 6. bola dunia (globe).78. 6. contoh peralatan optik. Peraga IPA ini tentu saja sangat substansial untuk menyokong pelajaran teks dengan praktek langsung. Sedangkan pada tingkat sekolah menengah harus memiliki 200 judul buku pengayaan dan 20 buku referensi.1.2.1.6 Penyediaan Peraga IPA Atribut penyediaan peraga IPA mendapat skor evaluasi kinerja kurang memuaskan dengan nilai 2. model tubuh manusia. Kunjungan pengawas ke seluruh satuan pendidikan dilakukan satu kali setiap bulan dan setiap kunjungan dilakukan selama 3 jam untuk melakukan supervisi dan pembinaan. SD/MI minimal harus memiliki 100 judul buku pengayaan dan 10 buku referensi. Sedangkan skor kepercayaan atau tingkat kepentingan sebesar 4. Untuk tingkat sekolah dasar.1.1.92 akademik S1 atau sarjana.03.7 Ketersediaan Buku Pengayaan dan Referensi Atribut ketersediaan buku pengayaan dan referensi mendapat skor evaluasi kinerja kurang memuaskan dengan nilai 2. Supervisi dan pembinaan ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja dan memberikan evaluasi program pendidikan sehingga dapat dilakukan perbaikan demi kemajuan proses pembelajaran peserta didik.

2. Sama halnya dengan buku referensi yang juga menjadi alat pendukung dalam proses belajar.2. sekolah menengah pertama jarak maksimalnya adalah 6 km.2.000 orang.93 didapat di dalam kelas. Masyarakat telah menilai bahwa ketersediaan jumlah satuan pendidikan sudah cukup memenuhi kebutuhan dasar dalam melayani masyarakat.00. dan sekolah menengah atas adalah 10 km.75. Untuk sekolah dasar.83 dengan selisih sebesar 2.2 Ruang Lab dan Peralatan Eksperimen Atribut ruang laboratorium dan peralatan eksperimen mendapatkan skor evaluasi yang cukup baik di atas rata-rata dengan skor 2. 6. Dengan demikian atribut tersebut harus dipertahankan oleh Pemkab Lebak dalam memberikan pelayanan publik kepada masyarakat sehingga masyarakat merasa puas dan loyal kepada pemerintah. Sedangkan skor kepercayaan adalah 4.2. 6. Tingkat kepuasan dan loyalitas masyarakat ini secara langsung tentu akan mendukung program pembangunan baik dalam tingkat lokal atau daerah maupun nasional. Sedangkan skor kepercayaan adalah 4. Ketersediaan laboratorium ini berupa adanya satu ruangan khusus yang digunakan untuk laboratorium IPA yang dilengkapi dengan meja dan kursi untuk 36 peserta didik.1.2 Kuadran II (Pertahankan Prestasi) Kuadran II diagram kartesius Important Performance Analysis (IPA) berarti tingkat kepentingan suatu atribut produk kebijakan publik dianggap oleh masyarakat adalah sangat penting dan kinerja atribut ini dianggap sudah baik. Laboratorium dan peralatan eksperimen ini akan menjadi wahana .90. 6.1.55. Selain itu juga. Ketersediaan ini berupa tersedianya satuan pendidikan pada pemukiman padat penduduk di atas 1.1.90 dengan selisih sebesar 1. perlu disediakannya satu set peralatan praktek IPA untuk demonstrasi dan eksperimen.1 Ketersediaan Jumlah Satuan Pendidikan Atribut ketersediaan jumlah satuan pendidikan mendapatkan skor evaluasi yang cukup baik dengan skor 3. jarak maksimal yang mampu diakses penduduk adalah 3 km.2.

94 bagi peserta didik dalam memacu kreativitas dan inovasi dalam bidang ilmu alam serta menstimulus rasa keingintahuan. Kualitas tenaga pengajar harus memenuhi empat kriteria utama berupa kemampuan pedagogik.03.2. Sertifikasi guru pada masing-masing mata pelajaran ini tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan mutu tenaga pengajar dan juga meningkatkan prestasi akademik peserta didik.3 Guru Bersertifikat Atribut guru bersertifikat mendapatkan skor evaluasi yang cukup baik di atas rata-rata dengan skor 3. Sedangkan skor kepercayaan adalah 4. Masyarakat menilai bahwa pelayanan pemerintah dalam hal ketersediaan sertifikasi guru masingmasing mata pelajaran ini sudah cukup baik sehingga minimal perlu dipertahankan performansinya. minimal telah tersedia 20 persen dari keseluruhan jumlah guru. 6. Sedangkan skor kepercayaan adalah 4.1.65 dengan selisih sebesar 2.63. Sertifikasi ini merupakan salah satu program departemen pendidikan nasional dalam meningkatkan kualitas tenaga pengajar secara menyeluruh untuk seluruh daerah. 6.2. profesional dan juga sosial. kepribadian.75 dengan selisih sebesar 1. Sertifikasi guru ini berupa adalanya masing-masing satu orang untuk mata pelajaran matematika. minimal tersedia dua orang guru yang telah memiliki sertifikat pendidik.2.4 Sertifikasi Guru Masing-masing Mata Pelajaran Atribut sertifikasi guru pada masing-masing mata pelajaran mendapatkan skor evaluasi yang cukup baik di atas rata-rata dengan skor 2.5 Pengawas berkualifikasi S1 dan bersertifikat Atribut pengawas berkualifikasi S1 dan juga bersertifikat mendapatkan skor evaluasi yang cukup baik di atas rata-rata dengan skor 2. Sedangkan untuk tingkat sekolah menengah.68. Pada tingkat sekolah dasar.2. Kabupaten minimal harus memiliki pengawas sekolah yang telah berkualifikasi S1 dan juga telah memiliki sertifikat pendidik.25. IPA.73 dengan selisih sebesar 2.2. Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.2.08. Sedangkan skor kepercayaan adalah 4.1. 6.1.48. Sertifikasi ini telah menjadi hal yang mutlak dilaksanakan .

15. spesifikasi tenaga pendidikan ini sangat menentukan dalam proses pembelajaran dalam sekolah menengah.2.1.95 karena terkait dengan profesionalitas seorang pengawas dalam menjalankan tugasnya untuk pengawasan sekolah.73. .1.2.2. Ketersediaan guru pada tiap mata pelajaran pada sekolah menengah ini ditunjukkan dengan menyediakan satu orang guru untuk setiap mata pelajaran. 6. Sedangkan skor kepercayaan adalah 4.3 Kuadran III (Prioritas Rendah) Kuadran III diagram kartesius Important Performance Analysis (IPA) berarti tingkat kepentingan dan tingkat kinerja dari suatu atribut produk dianggap rendah oleh masyarakat.18. 6. Pembelajaran yang efektif ini erat hubungannya dengan sistem pembelajaran yang interaktif. kreatif.70 dengan selisih sebesar 1.6 Kurikulum Pembelajaran Efektif Atribut kurikulum pembelajaran yang efektif mendapatkan skor evaluasi yang cukup baik di atas rata-rata dengan skor 2. prakarsa.3. fisik dan psikis peserta didik dalam proses pembelajaran. Sedangkan skor kepercayaan adalah 4. mengembangkan bakat. minat. Sehingga atribut ini harus diperbaiki kinerjanya setelah pihak Pemkab Lebak memperbaiki kinerja atribut yang terdapat pada kuadran I dan mampu mempertahankan kinerja yang baik pada kuadran II. inspiratif.33 dengan selisih sebesar 2.2. Karena biar bagaimanapun. partisipatif. Proses pembelajaran yang efektif perlu ditunjang oleh ketersediaan guru yang sesuai dengan tiap mata pelajaran sekolah tingkat menengah.98.1 Ketersediaan Guru per Mata Pelajaran Atribut guru per mata pelajaran mendapatkan skor evaluasi yang kurang memuaskan di bawah rata-rata dengan skor 2.1. 6. Pemerintah kabupaten perlu memiliki rencana dan melaksanakan kegiatan untuk membantu satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum dan proses pembelajaran yang efektif.

Pemenuhan kuantitas ini terkait dengan sudah terpenuhinya sesuai dengan standar pelayanan minimum per jumlah sekolah di wilayah kabupaten atau kota.2. Standar pelayanan minimal ini mendeskripsikan bahwa setiap guru tetap bekerja selama 35 jam per minggu di setiap satuan pendidikan.45 dengan selisih sebesar 2.05.1. membimbing peserta didik dan melaksanakan tugas tambahan lainnya.3 Pemenuhan Kuantitas Jumlah Buku Tiap Sekolah Atribut pemenuhan kuantitas jumlah buku tiap sekolah mendapatkan skor evaluasi yang kurang memuaskan di bawah rata-rata dengan skor 2. Sedangkan skor kepercayaan adalah 4.1. 6. Kurang puasnya masyarakat ini disebabkan oleh belum teredianya buku teks sesuai standar pelayanan minimal di tiap sekolah.3.00.40.15 dengan selisih sebesar 2.2. Sedangkan skor kepercayaan adalah 4. IPA dan IPS dengan perbandingan satu set untuk setiap peserta didik. 6.23.4 Guru Mengajar 35 Jam per Minggu Atribut guru mengajar selama 35 jam per minggu mendapatkan skor evaluasi yang kurang memuaskan di bawah rata-rata dengan skor 2. Sedangkan untuk sekolah menengah.53 dengan selisih sebesar 2. merencanakan pembelajaran.2. mampu menyediakan buku teks yang sudah disertifikasi oleh pemerintah mencakup semua mata pelajaran dengan perbandingan satu set untuk setiap peserta didik.3. SD/MI harus mampu menyediakan buku teks yang sudah disertifikasi oleh pemerintah.2 Buku Teks Bersertifikat Atribut buku teks bersertifikat mendapatkan skor evaluasi yang kurang memuaskan di bawah rata-rata dengan skor 2.3.30.15. Sehingga pemerintah harus segera melakukan langkah strategis dengan memenuhi kuantitas minimal jumlah buku teks tiap sekolah di Kabupaten Lebak. mencakup mata pelajaran Bahasa Indonesia. .1. Matematika. Sedangkan skor kepercayaan adalah 4.96 6. Rincian mengajar ini termasuk melakukan tatap muka dikelas.

30 dengan selisih sebesar 2. setiap guru menyampaikan laporan hasil evaluasi mata pelajaran serta hasil evaluasi peserta didik kepada kepala sekolah pada akhir semester. Sedangkan skor kepercayaan adalah 4. maka setiap satuan .38.3. Setiap kepala sekolah dalam satuan pendidikan wajib menyampaikan laporan akhir ulangan akhir semester (UAS) dan ulangan kenaikan kelas (UKK) serta yang terakhir adalah ujian akhir sekolah atau ujian nasional (UN) kepada orang tua/wali peserta didik pada setiap akhir semester.13. Dalam proses belajar mengajar.05.1.38. Kegiatan tatap muka terdiri dari kela I-II selama 18 jam per minggu.6 Laporan evaluasi prestasi belajar oleh guru Atribut laporan evaluasi prestasi belajar oleh guru mendapatkan skor evaluasi yang kurang memuaskan di bawah rata-rata dengan skor 2.93.8 Penerapan manajemen berbasis sekolah Atribut penerapan manajeman berbasis sekolah mendapatkan skor evaluasi yang kurang memuaskan di bawah rata-rata dengan skor 2. IV-VI selama 27 jam per minggu dan kelas VII-IX selama 27 jam per minggu.3.7 Laporan Hasil Ujian oleh Kepala Sekolah Atribut laporan hasil ujian oleh kepala sekolah mendapatkan skor evaluasi yang kurang memuaskan di bawah rata-rata dengan skor 2.2.03.78.2.1.3. kelas III selama 24 jam per minggu.2.05 dengan selisih sebesar 1.40. Berdasarkan undang-undang sistem pendidikan nasional dan standar pelayanan pendidikan. Sedangkan skor kepercayaan adalah 4. Sedangkan skor kepercayaan adalah 4.97 6.15 dengan selisih sebesar 1. Standar pelayanan minimal pendidikan menjelaskan bahwa setiap satuan pendidikan wajib menyelenggarakan proses pembelajaran selama 24 minggu per tahun. Laporan tersebut dalam bentuk laporan prestasi belajar peserta didik.3.5 Proses Pembelajaran 34 Minggu per Tahun Atribut proses pembelajaran 34 minggu per tahun mendapatkan skor evaluasi yang kurang memuaskan di bawah rata-rata dengan skor 2. Sedangkan skor kepercayaan adalah 4.2.45 dengan selisih sebesar 2.1. 6. 6.1. 6.

2.1 Kepala Sekolah Kualifikasi S1 dan Bersertifikat Untuk Sekolah Dasar Atribut kepala sekolah berkualifikasi S1 dan bersertifikat pendidik untuk sekolah dasar mendapatkan skor evaluasi yang cukup memuaskan di bawah ratarata dengan skor 2. Dengan demikian terjadi kesalahan prioritas dalam pengalokasian sumber daya.63. akan tetapi tingkat kepercayaan masyarakat di bawah rata-rata. Namun tingkat kepercayaan dan harapan masyarakat .1. Standar pelayanan minimal ini menunjukkan agar kabupaten atau kota telah memiliki kepala SD/MI berkualifikasi akademik S1 dan juga telah memiliki sertifikat pendidik.1. Pelayanan atribut ini dinilai telah cukup baik oleh masyarakat. Manajemen berbasis sekolah tersebut meliputi rencana kerja tahunan.2.2 Kepala Sekolah Kualifikasi S1 dan Bersertifikat Untuk Sekolah Menengah Atribut kepala sekolah berkualifikasi S1 dan bersertifikat pendidik untuk sekolah menengah mendapatkan skor evaluasi yang cukup memuaskan di atas rata-rata dengan skor 2. 6.95.2.65.4.98 pendidikan wajib menerapkan prinsip-prinsip manajemen berbasis sekolah (MBS). Namun tingkat kepercayaan dan harapan masyarakat di atas rata-rata dengan skor kepercayaannya adalah 4.4 Kuadran IV (Berlebihan) Kuadran IV diagram kartesius Important Performance Analysis (IPA) berarti tingkat kepentingan rendah dan tingkat kinerja dari suatu atribut produk dianggap tinggi oleh masyarakat. Artinya masyarakat lebih menghendaki atribut lain sebagai prioritas pembangunan di sektor pendidikan. Dengan perbaikan kebijakan tersebut diharapkan mampu meningkatkan efektifitas penyerapan dan disiplin penggunaan anggaran belanja daerah yang tepat guna. laporan tahunan dan komite sekolah yang berfungsi dengan baik. Sehingga pemerintah perlu melakukan perbaikan strategi kebijakan dan program pembangunan yang akan diimplementasikan pada periode selanjutnya.4. 6.28 dengan selisih sebesar 1. 6.1.

2. 6.4. Namun tingkat kepercayaan dan harapan masyarakat di bawah rata-rata dengan skor kepercayaannya adalah 4.48. Rencana pelaksanaan pembelajaran ini diharapkan mampu meningkatkan efektifitas temu tatap muka di kelas dan juga sistem penugasan di rumah. setiap satuan pendidikan menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sesuai dengan ketentuan yang berlaku.2.25 dengan selisih sebesar 1.4.4. akan tetapi tingkat kepercayaan masyarakat di bawah rata-rata dimana masyarakat lebih menginginkan atribut lain sebagai prioritas pembangunan dalam sektor pendidikan. dalam hal ini standar pelayanan pendidikan nasional yang mengatur kurikulum sesuai dengan tingkat satuan pendidikan. Setiap guru harus menerapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang disusun berdasarkan silabus untuk setiap mata pelajaran yang dipegangnya.5 Program Penilaian Pembelajaran Atribut program penilaian pembelajaran mendapatkan skor evaluasi yang cukup memuaskan di atas rata-rata dengan skor 2.55. 6. Standar pelayanan minimal ini menunjuk agar kabupaten atau kota telah memiliki kepala SMP/SMA berkualifikasi akademik S1 dan juga telah memiliki sertifikat pendidik.38 dengan selisih sebesar 1.99 di bawah rata-rata dengan skor kepercayaannya adalah 4. 6.1.78.2. Pelayanan atribut ini dinilai telah cukup baik oleh masyarakat.4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Oleh Guru Atribut rencana pelaksanaan pembelajaran oleh guru mendapatkan skor evaluasi yang cukup memuaskan di atas rata-rata dengan skor 2.1. Namun tingkat kepercayaan dan harapan masyarakat di bawah rata-rata dengan skor kepercayaanya adalah .30 dengan selisih sebesar 1.35. Namun tingkat kepercayaan dan harapan masyarakat di bawah rata-rata dengan skor kepercayaanya adalah 4.83.55.3 Kurikulum Sesuai Tingkat Satuan Pendidikan Atribut kurikulum sesuai dengan tingkat satuan pendidikan mendapatkan skor evaluasi yang cukup memuaskan di atas rata-rata dengan skor 2. Untuk penerapan standar pelayanan minimal ini.1.

Kesehatan dan pendidikan menjadi dua kunci utama dalam pembangunan modal manusia yang kelak akan mempengaruhi tingkat ekonomi atau kesejahteraan masyarakat.2 Kinerja Pelayanan Publik Sektor Kesehatan Kesehatan merupakan kunci kedua dalam pembangunan modal manusia baik pada tingkat negara maupun pada level daerah dalam hal ini kabupaten. Sama halnya dengan pelayanan sektor pendidikan yang telah dibahas sebelumnya. pendidikan dan ekonomi merupan tiga pilar yang saling berinteraksi satu dengan yang lainnya dalam membentuk kualitas penduduk atau sumberdaya manusia. Setiap guru harus mengembangkan dan menerapkan program penilaian untuk membantu meningkatkan kemampuan belajar peserta didik. 6. Tanpa kesehatan yang baik.30 dengan selisih sebesar 1. Fasilitas kesehatan yang . menantang. Karena kesehatan.100 4. 6.1. partisipatif dan juga mampu menumbuhkembangkan bakat-bakat serta minat belajar di dalam maupun luar kelas. Namun tingkat kepercayaan dan harapan masyarakat di bawah rata-rata dengan skor kepercayaannya adalah 4. Supervisi kepala sekolah juga diharapkan memberikan inspirasi kepada peserta untuk mampu belajar dengan baik dan juga menemukan cara belajar yang kreatif. Setiap kepala sekolah untuk seluruh satuan pendidikan harus memenuhi syarat melakukan supervisi kelas dan memberikan umpan balik kepada guru dua kali dalam setiap semester. dan bila kesehatan dan pendidikan tidak baik. Penilaian pembelajaran ini juga menjadi salah satu tolak ukur yang dilakukan untuk melihat perkembangan belajar peserta didik dalam satu masa belajar semester.4.68.25 dengan selisih sebesar 1.2.70. yakni dari segi ketersediaan fasilitas dan dari hal tenaga kesehatan serta persebarannya di tiap kecamatan.63. maka mustahil ekonomi keluarga/masyarakat dapat ikut membaik. maka indikator kinerja pelayanan kesehatan di Kabupaten Lebak akan dilihat dari dua perspektif. menyenangkan.6 Supervisi Kepala Sekolah Ke Dalam Kelas Atribut supervisi kepala sekolah ke dalam kelas mendapatkan skor evaluasi yang cukup memuaskan di atas rata-rata dengan skor 2. pendidikan sulit untuk berjalan dengan baik.

Tabel 24 Jumlah Fasilitas Kesehatan yang Tersedia Tiap Kecamatan tahun 2009 No.1 Fasilitas dan Tenaga Kesehatan Harapan utama pembangunan infrastruktur yang selama ini dilaksanakan adalah mampu mempengaruhi tingkat ekonomi. Selain itu juga lambat laun akan mempengaruhi tingkat kesehatan dan pendidikan di Kabupaten Lebak terutama terkait dengan aksesibilitas ke fasilitas kesehatan dan pendidikan. 6. Tenaga kesehatan yang coba diteliti adalah dokter. Untuk pelayanan kesehatan di wilayah selatan.101 ditinjau adalah ketersediaan fasilitas dasar pelayanan kesehatan seperti Puskesmas dan Puskesmas Pembantu (Pustu). Jumlah Puskesmas yang ada masih belum cukup untuk memberikan pelayanan kepada seluruh penduduk di tiap kecamatan.2. Lebak PUSKESMAS 1 2 1 1 1 1 2 1 1 2 2 1 1 1 2 1 1 1 1 2 4 1 2 1 5 1 1 1 42 PUSTU/ WAHANA 3 3 6 2 6 3 3 1 0 3 3 4 1 2 5 3 3 3 1 0 2 1 2 1 3 2 1 4 71 Poliklinik/ Balai Pengobatan 4 1 0 0 2 10 0 1 0 0 0 1 0 0 0 5 0 3 0 1 1 0 2 0 8 0 5 1 45 Praktek Dokter 7 1 1 0 3 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 2 0 2 0 0 1 0 1 0 21 0 1 1 44 Praktek Bidan 21 13 2 2 10 10 4 9 0 11 2 6 3 1 5 7 3 8 4 9 10 10 9 3 32 7 3 5 209 Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak. bidan dan perawat. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Kecamatan Malingping Wanasalam Panggarangan Cihara Bayah Cilograng Cibeber Cijaku Cigemblong Banjarsari Cileles Gunung Kencana Bojongmanik Cirinten Leuwidamar Muncang Sobang Cipanas Lebak Gedong Sajira Cimarga Cikulur Warunggunung Cibadak Rangkasbitung Kalanganyar Maja Curugbitung Kab. Kedua hal tersebut akan dilihat rasio perbandingannya dengan masing-masing jumlah penduduk kecamatan. Berikut ini disajikan bagaimana kondisi umum fasilitas kesehatan yang ada di Kabupaten Lebak pada tahun 2009. keberadaan rumah sakit di Kecamatan . Tahun 2010 Kondisi umum pelayanan publik kesehatan di Kabupaten Lebak terlihat masih jauh dari harapan.

7 unit Apotik. 27 unit Puskesmas Keliling (Puskesling) termasuk 3 Puskesling Lengkap dengan kondisi baik 3 Puskesling Lengkap dan 15 Puskesling. dan RSUD Malingping b). Ratio antara jumlah penduduk dengan Tenaga Medis/Paramedis adalah 4. RSU Misi. 39 Balai Pengobatan. Bidan 199 orang. kondisi laik jalan (rusak ringan) 9 Puskesling. Dengan data rasio tersebut. Pelayanan publik dasar kesehatan dalam penelitian ini akan menggunakan rasio fasilitas kesehatan dan rasio jumlah tenaga kesehatan dengan jumlah penduduk. Karena kendala utama masih berkutat pada kesediaan calon tenaga kesehatan yang akan ditempatkan di tepat terpencil. 203 Mantri Keliling (Manling). secara terperinci di Kabupaten Lebak telah tersedia berbagai sumber daya kesehatan sebagai berikut : a). kondisi rusak ringan 11 Pustu. 73 unit Puskesmas Pembantu dengan kondisi baik 16 Pustu. Keterpencilan masih menjadi alasan utama tenaga kesehatan untuk bisa ikut membangunan. 3 (tiga) unit Rumah Sakit. Namun di balik itu semua. 20 Toko Obat Berijin. Perawat Gigi 10 orang. pemerintah tetap berusaha meningkatkan derajat kesehatan manusia. e). 36 unit Puskesmas (kondisi baik 26 dan kondisi rusak ringan 10). Tenaga Kesehatan lainnya 38 orang. termasuk 11 Puskesmas DTP (kondisi baik 10 dan kondisi rusak ringan 1). sehingga jika membutuhkan pelayanan rawat inap. kondisi rusak berat 46 Pustu. Karena dari sisi kelengkapan peralatan pendukung dan sumberdaya dokter masih kekurangan. Perawat Umum 185 orang. maka akan terlihat bagaimana kuantitas . Dokter Gigi 19 orang.102 Malingping belum bisa sepenuhnya memberikan solusi pemerataan pelayanan kesehatan.51 : 10. sebagian besar penduduk lebih memilih untuk pergi ke Kabupaten Sukabumi yang memiliki peralatan rumah sakit lebih lengkap dan pelayanannya lebih baik. c). Selain itu juga dilengkapi dengan buruknya akses transportasi darat yang membuat siapapun enggan untuk ditempatkan di wilayah Lebak selatan.000. yang terdiri dari Dokter Umum 57 orang. Pemerintah Kabupaten Lebak masih kesulitan untuk mendapatkan sumberdaya tenaga kesehatan. 508 Tenaga Medis/Paramedis. yaitu RSUD Adjidarmo. f). d).

sedangkan kecamatan dengan rasio cukup rendah adalah Malingping. 0.00005. Warunggunung dan Rangkasbitung. Leuwidamar. Gunung Kencana.00025 0. Cileles. Rasio antara fasilitas kesehatan puskesmas dan puskesmas pembantu dengan penduduk di Kabupaten Lebak rata-rata adalah 0. . Cibeber Leuwidamar. Cijaku dan Bojongmanik.0001 0.103 pelayanan publik pemerintah dari segi fasilitas fisik dan ketersediaan serta pemerataan pembangunan di sektor kesehatan. Cikulur. Cileles. sedangkan kecamatan dengan rasio cukup rendah adalah Cigemblong. Sajira. Tahun 2010 Gambar 14 Grafik Rasio Fasilitas Kesehatan dengan Jumlah Penduduk Masingmasing Kecamatan di Kabupaten Lebak Berdasarkan data di atas.Penduduk Rasio Puskesmas Pustupenduduk Malingping Wanasalam Panggarangan Bayah Cilograng Cibeber Cijaku Banjarsari Cileles Gunung Kencana Bojongmanik Leuwidamar Muncang Sobang Cipanas Sajira Cimarga Cikulur Warunggunung Cibadak Rangkasbitung Maja Curugbitung Kalang Anyar Lebak Gedong Cirinten Cigemblong Cihara Sumber : Hasil Perhitungan. Bayah.00005 0 Rasio Puskesmas.00015 0. Kecamatan dengan rasio puskesmas pembantu dan penduduk cukup tinggi adalah Panggarangan. Ketersedian dokter spesialis lebih memprihatinkan. Lebak Gedong. maka kecamatan yang memiliki rasio Puskesmas dengan penduduk cukup tinggi adalah Kecamatan Banjarsari. Maja. Kekurangan terbesar dalam tenaga kesehatan adalah tenaga dokter. Sajira. Cimarga. Cibadak. dimana untuk mengatasi hal tersebut. Cipanas dan Lebak Gedong. dimana tidak tersedia satu pun dokter spesialias di Kabupaten Lebak. Pemkab Lebak memberikan stimulus berupa beasiswa bagi mahasiswa yang mampu masuk seleksi kedokteran di universitas negeri dan kelak bersedia dikontrak selama 10 tahun untuk ditempatkan di Kabupaten Lebak. Secara jelas akan dirinci pada Gambar 15 di bawah ini.0002 0. dan Muncang.

bahkan ada beberapa kecamatan yang tidak memiliki sama sekali dokter yakni Cihara. Angka perawat tersebut cukup menggembirakan. demam dan sakit kepala. dimana hampir di tiap kecamatan sudah terdapat perawat.001 0. Cimarga. Sajira. Sobang. Namun kecamatan lainnya masih kekurangan dokter umum. Hal tersebut sangat wajar karena dua kecamatan tersebut termasuk dalam wilayah kota padat penduduk dan pusat kegiatan ekonomi dan juga pemerintahan. perawat tersebut cukup efektif dalam menggantikan peran dokter untuk pengobatan-pengobatan penyakit umum seperti batuk. Rasio perawat dengan penduduk masih lebih baik daripada dokter. Sajira.0008 0. Cikulur. . Leuwidamar dan Cijaku.0006 0. Muncang dan Banjarsari.104 0. flu. Dimana hanya ada dua kecamatan yang memiliki angka rasio cukup tinggi yakni Kecamatan Rangkasbitung dan Warunggunung. Warunggunung. karena di daerah-daerah pelosok.0012 0. walau dengan jumlah yang masih kurang memadai. Tahun 2010 Gambar 15 Grafik Rasio Tenaga Kesehatan dengan Jumlah Penduduk Masingmasing Kecamatan di Kabupaten Lebak Rasio tenaga kesehatan dokter dengan penduduk di Kabupaten Lebak masih sangatlah kurang.0004 0. Tercatat bahwa kecamatan yang memiliki rasio perawat dengan penduduk cukup tinggi adalah Rangkasbitung. serta penyakit lainnya yang relatif mudah diobati oleh perawat atau mantri.0002 0 Rasio DokterPenduduk Rasio PerawatPenduduk Rasio Bidan-Penduduk Malingping Wanasalam Panggarangan Bayah Cilograng Cibeber Cijaku Banjarsari Cileles Gunung Kencana Bojongmanik Leuwidamar Muncang Sobang Cipanas Sajira Cimarga Cikulur Warunggunung Cibadak Rangkasbitung Maja Curugbitung Kalang Anyar Lebak Gedong Cirinten Cigemblong Cihara Sumber : Hasil Perhitungan.

60 4.33 3. Dimana rasio bidan dengan penduduk dianggap sudah cukup tersebar walau dengan jumlah yang masih jauh dari memadai. 6.15 2.25 4.03 2.631.37 e i (X ) 2.28 3.93 1.73 4.105 Jumlah bidan di Kabupaten Lebak tidak jauh berbeda kondisinya dengan perawat. Pelayanan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan kebidanan 4.75 1.83 2. Tahun 2010 . Bojongmanik.30 4. Muncang dan Cijaku. Pelayanan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat 12. Cijaku dan Lebak Gedong.38 4.48 4.00 1.50 4. Pelayanan imunisasi anak tingkat desa/kelurahan 8. Pelayanan penemuan dan penanganan penderita penyakit 14.78 1.58 2.53 2.05 2. Terdapat empat kecamatan yang memiliki jumlah rasio cukup tinggi. Pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin 16.45 4.15 2.631 Sangat Buruk Kuadran II IV III III III III II II I II IV II I I I I III III Sumber : Hasil Perhitungan. Pelayanan komplikasi kebidanan 3. Pelayanan kunjungan ibu hamil k4 2.23 1.65 4. Tabel 25 Analisis Penilaian Sikap Masyarakat Terhadap Kinerja Pelayanan Publik Kesehatan Pemkab Lebak pada Wilayah Tertinggal Atribut 1. Sajira.00 1.25 3.98 2.28 2.88 2.13 2.05 4. Karena bidan adalah palang pintu proses persalinan penduduk perempuan yang menghadapi proses kelahiran anaknya.27 bi . yakni Rangkasbitung.85 2. Makanan pendamping asi anak usia 6-24 bulan keluarga miskin 10.45 1.33 2. Promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat desa siaga Rata-rata Total Skor ∑ e i (40 x 27) Interpretasi Penilaian b i (Y ) 4.85 1.60 2.68 4. Pelayanan gawat darurat level 1 sarana kesehatan (rumah sakit) 17. Pelayanan peserta KB 13.23 4. Pelayanan nifas 5.93 1. Pelayanan perawatan balita gizi buruk 11. Posisi bidan ini sangat vital perannya dalam kehidupan bermasyarakat dan proses peningkatan kualitas kesehatan.20 2. Berdasarkan data pada Tabel 32 terlihat bahwa interpretasi penilaian sikap masyarakat terhadap kinerja pelayanan publik bidang kesehatan Pemkab Lebak pada wilayah tertinggal adalah sangat buruk dengan nilai total 1.15 4.90 1. Pelayanan kunjungan bayi 7.ei 1.58 2.60 2.23 2. Penanganan neonatus dengan komplikasi 6.10 1.98 2.2 Analisis Penilaian Sikap Masyarakat terhadap Kinerja Pelayanan Publik Sektor Kesehatan Hasil analisis penilaian sikap masyarakat terhadap kinerja pelayanan publik kesehatan Pemkab Lebak pada wilayah tertinggal dapat dilihat pada Tabel 32.48 Interpretasi Biasa Buruk Buruk Buruk Buruk Buruk Biasa Biasa Buruk Buruk Buruk Buruk Buruk Buruk Buruk Buruk Buruk Buruk 1.35 4.60 2.75 4.2. Pelayanan penyelidikan epidemiologi 18.30 4.58 4.00 2.33 2. Pelayanan anak balita 9. Pelayanan dasar kesehatana masyarakat miskin 15. Namun masih terdapat beberapa kecamatan dengan jumlah bidang sangat sedikit yang terlihat dari rendahnya rasio bidan dengan penduduk seperti Kecamatan Cikulur.

5 0 0 0.27.106 Atribut-atribut standar pelayanan minimal kesehatan yang terdapat dalam sistem manajerial Pemkab Lebak dinilai masih buruk oleh masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah yang cenderung tertinggal.5 3 2.5 2 1. Hal ini dapat dilihat dari hasil penilaian evaluasi dan kepercayaan responden terhadap masing-masing atribut yang sebagian besar di bawah rata-rata dengan penilaian buruk dan beberapa atribut saja yang dinilai biasa atau sedang. Diagram kartesius dibagi ke dalam empat kuadran dengan garis tengah pembagi berdasarkan nilai total rata-rata tingkat kepentingan (Y) yaitu sebesar 4.5 2 2.5 1 1. 5 4. pelayanan penemuan/penanganan penderita penyakit. terdapat lima atribut yang menjadi prioritas utama yakni makanan pendamping asi keluarga miskin.5 3 3.37 dan nilai total rata-rata tingkat kinerja (X) yaitu sebesar 2. pelayanan dasar kesehatan masyarakat miskin. pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin dan pelayanan . Tahun 2010 Gambar 16 Matriks Posisi Kuadran IPA Pelayanan Publik Bidang Kesehatan Kabupaten lebak Di Wilayah Tertinggal Pada Gambar 17 dapat dilihat posisi penempatan masing-masing atribut pelayanan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan minimal kesehatan di dalam diagram kartesius. Hasil ringkasan matriks posisi kuadran IPA.5 Kinerja Pelayanan Publik Sumber : Hasil Perhitungan.5 4 Tingkat Kepentingan 3.5 1 0.

pelayanan nifas. Pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin 5. Penanganan neonatus dengan komplikasi 4. Permasalahan utama keluarga miskin dari tahun ke tahun adalah kurang diperhatikannya kesehatan bayi-bayi keluarga miskin.2. Tabel 26 Ringkasan Matriks Posisi Kuadran IPA Pelayanan Publik Bidang Pendidikan Kabupaten Lebak Di Wilayah Tertinggal Kuadran I (Prioritas Utama) 1. Pelayanan kunjungan bayi 5. Pelayanan perawatan balita gizi buruk 5.2. Pelayanan dasar kesehatan masyarakat miskin 4.05. pelayanan kunjungan bayi. Pelayanan imunisasi anak tingkat desa/kelurahan 3. Makanan pendamping asi ini khusus untuk diberikan kepada anak usis 6-24 bulan. penanganan neonatus dengan komplikasi. Pelayanan nifas 3. pelayanan penyelidikan epidemiologi serta promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat desa siaga.107 darurat level 1 rumah sakit. Oleh karena itu. Pelayanan penyelidikan epidemiologi 6. Pelayanan darurat level 1 rumah sakit Kuadran III (Prioritas Rendah) 1. Pelayanan penemuan/penanganan penderita penyakit 3. Sedangkan terdapat dua atribut yang masuk ke dalam kuadran IV yakni pelayanan komplikasi kebidanan dan pelayanan penjaringan kesehatan sisiwa sekolah dasar. Tahun 2010 Kuadran III atau prioritas rendah terdiri dari enam atribut yakni pelayanan pertolongan oleh nakes kebidanan. Pelayanan penjaringan kesehatan siswa Sekolah dasar Sumber : Hasil Perhitungan. Pelayanan anak balita 4. kebijakan publik di bidang kesehatan yang harus menjadi prioritas . Pelayanan pertolongan oleh nakes kebidanan 2. Pelayanan komplikasi kebidanan 2.1 Makanan Pendamping Asi Keluarga Miskin Atribut makanan pendamping asi keluarga miskin mendapat skor evaluasi kurang memuaskan dengan nilai 2.2. Terdapat lima atribut yang perlu dipertahankan prestasinya atau berada di kuadran II yakni pelayanan kunjungan ibu hamil. Karena tidak bisa dipungkiri hingga tahun 2009 angka kemiskinan di Kabupaten Lebak masih sangat tinggi. Sedangkan skor kepercayaan sebesar 4.1 Kuadran I (Prioritas Utama) 6.65 dengan selisih cukup besar yakni 2. Promosi kesehatan dan pemberdayaan masyaraka desa siaga Kuadran II (Pertahankan Prestasi) 1. pelayanan anak balita. Oleh karena itu tidak sedikit ditemukan kasus bayi kekurangan gizi atau gizi buruk. Makanan pendamping asi keluarga miskin 2. Masyarakat menilai jika makanan pendaming asi sangat penting untuk diperhatikan oleh Pemkab Lebak. pelayanan imunisasi anak tingkat desa/kelurahan. Pelayanan kunjungan ibu hamil 2.2. 6.1. pelayanan perawatan balita gizi buruk dan pelayanan peserta KB. Pelayanan peserta KB Kuadran IV (Berlebihan) 1.60.

58 dengan selisih cukup besar yakni 2. maka setiap pasien masyarakat miskin berhak pelayanan kesehatan rujukan pasien.60.2. Namun yang terjadi sat ini.2.1. 6.4 Pelayanan Kesehatan Rujukan Pasien Masyarakat Miskin Atribut pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin mendapat skor evaluasi kurang memuaskan dengan nilai 1. Sesuai dengan petunjuk teknis standar pelayanan minimal kesehatan. Sedangkan skor kepercayaan sebesar 4. 6.68 dengan selisih cukup besar yakni 2.85. Sedangkan skor kepercayaan sebesar 4.2 Pelayanan Penemuan/Penanganan Penderita Penyakit Atribut pelayanan penemuan atau penanganan penderita penyakit mendapat skor evaluasi kurang memuaskan dengan nilai 1.1. tetapi tidak mendapatkan pelayanan yang prima. Pelayanan dalam penemuan dan penanganan berbagai macam penyakit ini tentu menjadi prioritas utama oleh masyarakat baik penyakit menular atau tidak menular. Penanganan dini terhadap suatu penyakit akan menjadi faktor penentu tingkat kesehatan suatu wilayah.1. Diharapkan . Pelayanan dasar kesehatan masyarakat miskin ini telah dijamin dengan asuransi kesehatan masyarakat miskin (Askeskin).93. Pelayanan ini dikhususkan pasien masyarakat miskin yang mendapatkan rujukan pasien di rumah sakit. Sedangkan skor kepercayaan sebesar 4. bahkan ada sebagian yang ditelantarkan.53.2.45 dengan selisih cukup besar yakni 2.83. Dengan Askeskin ini masyarakat miskin memiliki jaminan untuk mendapatkan pelayanan dasar kesehatan baik untuk level Puskesmas maupun tingkat rumah sakit sekalipun.2.2.2.3 Pelayanan Dasar Kesehatan Masyarakat Miskin Atribut pelayanan dasar kesehatan masyarakat miskin mendapat skor evaluasi kurang memuaskan dengan nilai 1. 6. walaupun masyarakat miskin tersebut mendapatkan pelayanan. Hal itu menjadi begitu penting saat makin maraknya penyebaran penyakit yang disebabkan oleh virus hewan.98.108 Pemkab lebak adalah meningkatkan kinerja dalam pelayanan makanan pendamping asi keluarga miskin.

23.15. Program . Tingkat kepuasan ini juga mendekati harapan yang menjadi ekspektasi masyarakat. Selain itu.2. Masyarakat di wilayah tertinggal sudah cukup puas dengan pelayanan kunjungan pemeriksaan ibu hamil. Pelayanan imunisasi anak tingkat desa atau kelurahan ini menjadi salah satu program yang cukup baik kinerjanya. 6. Karena sebelumnya sebagian besar rumah sakit memerlukan dana awal untuk mengurus pasien yang memerlukan pelayanan darurat level 1. Sedangkan skor kepercayaan adalah 4. Imunisasi ini menjadi hal yang sangat wajib dilaksanakan demi kesehatan secara jangka panjang anak-anak di Kabupaten Lebak.48 dengan selisih cukup besar yakni 2.109 melalui kebijakan pelayanan minimal tersebut.60.28.5 Pelayanan Darurat Level 1 Rumah Sakit Atribut pelayanan darurat level satu rumah sakit mendapat skor evaluasi kurang memuaskan dengan nilai 2.2.50 dengan selisih sebesar 1.2 Pelayanan Imunisasi Anak Tingkat Desa/Kelurahan Atribut pelayanan imunikasi anak tingkat desa/kelurahan mendapatkan skor evaluasi yang cukup baik di atas rata-rata dengan skor 3.2.1.2 Kuadran II (Pertahankan Prestasi) 6.78.15.2.2. Kebijakan pelayanan minimum ini memberikan jaminan kepada seluruh masyarakat umum untuk mendapatkan pelayanan darurat level satu pada rumah sakit.38 dengan selisih sebesar 1. 6. Sedangkan skor kepercayaan adalah 4. tingkat kesehatan masyarakat miskin mampu ditingkatkan. Sehingga masyarakat pun memberikan harapan yang lebih terhadap kebijakan salah satu pelayanan dasar di rumah sakit. Sedangkan skor kepercayaan sebesar 4. pelayanan kunjungan ibu hamil ini secara tidak langsung akan sangat menentukan proses persalinan dan tingkat kesehatan ibu melahirkan dengan bayi.2.2.2. 6.2.2.1 Pelayanan Kunjungan Ibu Hamil Atribut pelayanan kunjungan ibu hamil mendapatkan skor evaluasi yang cukup baik di atas rata-rata dengan skor 2.

6. gigi.4 Pelayanan Perawatan Balita Gizi Buruk Atribut pelayanan perawatan balita gizi buruk mendapatkan skor evaluasi yang cukup baik di atas rata-rata dengan skor 2. Sedangkan skor kepercayaan adalah 4. 6.2.2.3 Pelayanan Anak Balita Atribut pelayanan anak balita mendapatkan skor evaluasi yang cukup baik di atas rata-rata dengan skor 3.15.2. kondisi gizi dan juga kelengkapan imunisasi. Kebijakan pelayanan ini kembali menjadi prioritas utama pemerintah dalam menekan pertumbuhan jumlah penduduk yang sempat meningkat cukup tajam selama sepuluh tahun terakhir. Dengan adanya .2. 6. Sedangkan skor kepercayaan adalah 4. Pelayanan ini dapat berupa pemeriksaan kesehatan.58.75.2.03.00. Anak-anak yang termasuk gizi buruk akan mendapatkan pelayanan perawatan dan juga suplemen serta makanan tambahan agar beratnya kembali normal.75 dengan selisih sebesar 1.5 Pelayanan Peserta Keluarga Berencana Atribut pelayanan peserta Keluarga Berencana (KB) mendapatkan skor evaluasi yang cukup baik di atas rata-rata dengan skor 2. Peserta Keluarga Berencana akan mendapatkan layanan berupa penyediaan alat kontrasepsi kepada keluarga untuk merencanakan jumlah anak. Pelayanan perawatan gizi buruk ini diberikan kepada anak-anak yang termasuk ke dalam gizi buruk.60 dengan selisih sebesar 1.110 imunisasi ini dilakukan pada dua tempat. berat badan.2.2.2.2.73 dengan selisih sebesar 2.58. Pelayanan yang telah diberikan Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak terhadap anak balita dianggap cukup baik kinerjanya. Masyarakat menilai kinerja pelayanan pemerintah terhadap anak balita sudah cukup baik sehingga perlu dipertahankan atau bahkan dapat juga ditingkatkan kualitasnya. Sedangkan skor kepercayaan adalah 4. yakni di puskesmas dan juga pada kegiatan tingkat RW yakni Posyandu.

ditambah dengan perilaku masyarakat yang lebih memilih pelayanan paraji atau dukun beranak dalam proses pra dan pasca kelahiran bayi.10. Pelayanan ini didapatkan untuk ibu melahirkan yang masih menjalani masa nifas selama 40 hari.2. Sama halnya dengan skor kepercayaan yang juga di bawah rata-rata yakni 4.2. Sehingga masyarakat masih kesulitan untuk bisa mengakses pelayanan bidan.2.2 Pelayanan Nifas Atribut pelayanan nifas mendapatkan skor evaluasi yang kurang memuaskan di bawah rata-rata dengan skor 1. 6.93.3.85. 6.2.45.05 dengan selisih sebesar 2.2.30 dengan selisih sebesar 2.3.111 program keluarga berencana ini diharapkan pertumbuhan penduduk dapat ditekan dan keluarga yang dibentuk pun menjadi keluarga sejahtera. Masyarakat belum menganggap atribut ini penting untuk dijadikan prioritas. Sama halnya dengan skor kepercayaan yang juga di bawah rata-rata yakni 4.2. 6.13. Selain itu.2.20. Kinerja pelayanan yang telah diberikan pun masih dianggap belum memuaskan dan memenuhi harapan masyarakat.30 dengan selisih sebesar 2.3. Sama halnya dengan skor kepercayaan yang juga di bawah rata-rata yakni 4. Rendahnya pelayanan pertolongan oleh tenaga kesehatan kebidanan ini disebabkan oleh minimnya tenaga kesehatan di wilayah tertinggal.3 Penanganan Neonatus dengan Komplikasi Atribut penanganan neonatus dengan komplikasi mendapatkan skor evaluasi yang kurang memuaskan di bawah rata-rata dengan skor 1.1 Pelayanan Pertolongan oleh Tenaga Kesehatan Kebidanan Atribut pelayanan pertolongan oleh tenaga kesehatan kebidanan mendapatkan skor evaluasi yang kurang memuaskan di bawah rata-rata dengan skor 2. Penanganan neonatus ini adalah penanganan kelahiran yang .3 Kuadran III (Prioritas Rendah) 6.2.

Dengan adanya penyelidikan epidemiologi ini.3. Pelayanan kunjungan bayi ini terdiri dari berbagai macam.2. Komplikasi neonatus ini cukup beragam penyebabnya.112 terdapat komplikasi dimana proses persalinan tidak berjalan dengan lancar. 6. maka pihak pemerintah dalam hal ini dinas kesehatan akan mampu memberikan kebijakan yang tepat dalam menangani penyakit.23 dengan selisih sebesar 2.3.15 dengan selisih sebesar 1.3.2. Pelayanan kunjungan bayi merupakan salah satu pelayanan dasar kesehatan yang perlu diperhatikan oleh pemerintah daerah. konsultasi perkembangan anak. maka orang tua yang tengah mengasuh bayi akan lebih antispatif dalam mengurus dan membesarkan dan menjaga kesehatan bayinya. 6. tidak ada kontraksi dan lain sebagainya. jalan lahir terhalang ari-ari. pendarahan.5 Pelayanan Penyelidikan Epidemiologi Atribut pelayanan penyelidkan epidemiologi mendapatkan skor evaluasi yang kurang memuaskan di bawah rata-rata dengan skor 2.00. Tidak sedikit dari kasus ini menjadi salah satu penyebab kematian ibu dan bayi saat persalinan.2. Karena dengan optimalnya pelayanan bayi. distribusi dan determinasi penyakit.90. Sama halnya dengan skor kepercayaan yang juga di bawah rata-rata yakni 4. Pelayanan bayi ini bisa jadi sebagai faktor penentu dalam menurunkan angka kematian bayi. konsultasi gizi dan konsultasi kesehatan anak. 6.2. diantaranya adalah pelayanan imunisasi.6 Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Siaga . Pelayanan penyelidikan epidemiologi adalah penyelidikan terhadap frekuensi.2. ada yang berupa kasus bayi sungsang. Sama halnya dengan skor kepercayaan yang juga di bawah rata-rata yakni 4. Penyelidikan epidemiologi ini dilakukan pada desa atau kelurahan yang mengalami kasus penyakit luar biasa.2.25.48.4 Pelayanan Kunjungan Bayi Atribut pelayanan kunjungan bayi mendapatkan skor evaluasi yang kurang memuaskan di bawah rata-rata dengan skor 2.

2 Pelayanan Penjaringan Kesehatan Siswa Sekolah Dasar Atribut pelayanan penjaringan kesehatan siswa sekolah dasar mendapatkan skor evaluasi yang cukup memuaskan di bawah rata-rata dengan skor 2. Namun tingkat kepercayaan dan harapan masyarakat di atas rata-rata dengan skor kepercayaannya adalah 4. yang terjadi pada wilayah tertinggal adalah bahwa masyarakat masih belum mengerti dan sadar untuk memanfaatkan keberadaan bidan desa dalam menangani komplikasi kebidanan.35 dengan selisih sebesar 2.4 Kuadran IV (Berlebihan) 6.113 Atribut promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat desa siaga mendapatkan skor evaluasi yang kurang memuaskan di bawah rata-rata dengan skor 1. Karena sebagian besar masih memegang teguh budaya tradisional dalam proses persalinan dan lebih percaya kepada dukun beranak atau paraji.2.48. Sama halnya dengan skor kepercayaan yang juga di bawah rata-rata yakni 4. Seharusnya.2. Masyarakat menilai jika kinerja pemerintah daerah dalam memberikan promosi kesehatan dan pemberdayaan belum berjalan sesuai dengan harapan.4.60.78.2.1 Pelayanan Komplikasi Kebidanan Atribut pelayanan komplikasi kebidanan mendapatkan skor evaluasi yang cukup memuaskan di bawah rata-rata dengan skor 2. Sehingga pelayanan komplikasi kebidanan merupakan salah satu program yang menjadi fokus utama dalam meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat.88. Dimana desa siaga ini adalah desa yang mampu memberdayakan masyarakatnya bahu-membahu dalam mensukseskan berbagai macam program-program pemerintah terkait dengan kesehatan. Namun.4.2. maka kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan akan meningkat. Promosi kesehatan ini akan berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat dalam membentuk desa siaga.33.2.2. 6. 6. Pelayanan komplikasi kebidanan ini terjadi cukup banyak di berbagai wilayah di Kabupaten Lebak. apabila promosi kesehatan dapat berjalan dengan baik.38 dengan selisih sebesar 1. Namun tingkat kepercayaan dan harapan masyarakat di atas rata-rata dengan skor .

Oleh karena itu. rumah sakit dan jalan darat. tingkat pelayanan kesehatan. Ketika kebiasaan hidup sehat dan bersih sudah tertanam.00. Masyarakat menilai bahwa. Pelayanan publik pendidikan dan kesehatan di Kabupaten Lebak dinilai buruk oleh masyarakat di wilayah tertinggal. wilayah pembangunan di bagian selatan adalah wilayah . puskesmas.114 kepercayaanya adalah 4.3 Disparitas Pembangunan SDM antara Wilayah Utara dengan Selatan Penilaian sikap masyarakat terhadap buruknya kinerja pelayanan publik di wilayah tertinggal memberikan indikasi terjadinya disparitas pembangunan antara wilayah utara dengan selatan. hal tersebut harus segera menjadi bahan pekerjaan rumah untuk Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak agar bisa meningkatkan kinerja pelayanan sesuai dengan juknis standar pelayanan minimal yang telah ditetapkan. Pada sisi lainnya. baik pada tataran puskesmas. Wilayah pembangunan di bagian utara adalah wilayah yang secara geografis berada di Lebak bagian utara dan disokong oleh infrastruktur yang cukup baik. penjaringan kesehatan kepada siswa sekolah dasar untuk membiasakan diri hidup sehat tentu saja sangat penting.33 dengan selisih sebesar 2. Sama halnya dengan kesehatan. maka pembentukan konsep masyarakat peduli kesehatan dan kebersihan akan terbentuk lebih mudah dan dalam jangka waktu relatif lebih singkat. sehingga murid tidak mendapatkan kenyamanan dalam belajar. Pendidikan tingkat sekolah dasar merupakan tingkat pendidikan yang mencoba untuk menanamkan perilaku dan kebiasaan. Akses antara satu kecamatan dengan kecamatan lain relatif lebih mudah untuk dijangkau. Banyak sekolah-sekolah yang berada dalam kondisi rusak. 6. Rendahnya rasio belanja publik infrastruktur untuk bidang pendidikan memberikan pengaruh kurang baik terhadap pelayanan pendidikan. puskesmas pembantu maupun rumah sakit masih jauh dari memuaskan. Hal tersebut dapat ditunjukan dengan belum terpenuhinya berbagai indikator yang menjadi standar pelayanan minimum baik dalam hal kesehatan dan pendidikan. Infrastruktur tersebut berupa sekolah. rendahny rasio belanja infrastruktur kesehatan berimplikasi negatif terhadapa pelayanan kesehatan. Kriteria pembagian wilayah ini berdasarkan karakteristik geografis dan kondisi infrastuktur khususnya jalan. Sehingga.

barat dan timur. Tabel 27 Pembagian Wilayah Pembangunan Utara dan Selatan Pembagian Wilayah Pembangunan (Kecamatan) Jumlah No.936 35.666 6 Cibeber 7 Cijaku 8 Banjarsari 9 Cileles 10 Gunung Kencana 11 Bojongmanik 12 Leuwidamar 13 Muncang 14 Sobang 15 Sajira 16 Cikulur 17 Maja 18 Curugbitung 19 Lebak Gedong 20 Cirinten 21 Cigemblong 22 Cihara Jumlah Penduduk 63. Secara rasio.292 4 Bayah 5 Rangkasbitung 63. Disparitas ini terjadi antara dua wilayah.074 50. Penggabungan tersebut sengaja dilakukan untuk mempermudah analisis dan ketiga wilayah tersebut memiliki karakateristik infrastruktur yang tidak jauh berbeda. Wilayah selatan Penduduk 1 Cipanas 51. Karakteristik dari wilayah selatan ini memiliki kondisi infrastruktur yang kurang baik dan belum mencukupi standar pelayanan minimal. Wilayah Utara No.822 52.282 53.964 38.126 22.752 32.297 49.444 2 Wanasalam 3 Warunggunung 21. wilayah bagian utara memiliki rasio infrastruktur dan aparatur .749 35.198 3 Panggarangan 4 Cibadak 47.160 21.064 112. Pembagian wilayah pembangunan antara utara dengan selatan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.372 5 Cilograng 6 Kalang Anyar 57.127 32.957 48.895 32.618 Sumber : Bappada Kabupaten Lebak.729 29. Akses antara satu kecamatan dengan lainnya cukup sulit ditempuh karena kondisi jalan yang sebagian besar masih rusak.713 24. Tahun 2010 Berdasarkan informasi yang ditunjukan pada Tabel 36 di atas dapat diketahui bahwa telah terjadi disparitas pengembangan infrastruktur dan sumberdaya aparatur untuk sektor pendidikan dan kesehatan.178 55. yakni wilayah bagian utara dengan wilayah di bagian selatan.002 66.086 27.840 1 Malingping 2 Cimarga 28.781 31.335 48.115 pembangunan yang menggabungkan tiga wilayah pembangunan yakni tengah.

wilayah-wilayah yang cenderung memiliki rasio mendekati ideal adalah wilayah yang secara geografis merupakan wilayah yang mudah diakses. Bayah. namun lebih besar disebabkan oleh kualitas dari jalan itu sendiri.552 24 58 59 10.Guru SMA Penduduk . walaupun tidak sedikit wilayah selatan yang maju dengan catatan kondisi aksesibilitas transportasi cukup baik.260 1.Dokter Umum Penduduk .128 15.140 8.790 26.116 sumberdaya yang telah mencapai angka standar pelayanan minimal.Bangunan SMA Penduduk Usia SD .Bidan Wilayah Pembangunan Utara 287 1.315 4.Guru SMP Penduduk Usia SMA .Perawat Penduduk . Beberapa wilayah selatan yang cukup baik di antaranya adalah Kecamatan Banjarsari. sebagian besar adalah wilayah di bagian utara. Akan tetapi hal tersebut bertolak belakang dengan kondisi infrastruktur di wilayah selatan yang masih jauh di bawah standar pelayanan minimal.219 1. bahkan bisa dikatakan di atas rata-rata atau lebih dari cukup.807 Selatan 377 1390 3111 42 91 140 40. Wanasalam dan Cipanas. .Puskesmas Penduduk . Malingping.200 32 36 36 30.000 Sumber : Bappeda Kabupaten Lebak.Bangunan SD Penduduk Usia SMP .899 Rasio ideal 250 800 1.287 1. hal tersebut terlihat dalam pengembangan infrastruktur. Tahun 2010 Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak masih memberikan porsi yang lebih besar pembangunan pada wilayah utara.857 4.346 27. Tabel 28 Perbandingan Pembangunan Fisik dan Tenaga Sektor Pendidikan dan Kesehatan antara Wilayah Utara dan Selatan Tahun 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Indikator Pembangunan Penduduk Usia SD . Jadi jarak tempuh bukan faktor utama penyebab ketimpangan. walaupun secara jarak bisa dianggap sangat jauh. Ketimpangan pembangunan antara wilayah utara dan selatan ini secara tidak langsung menjadi jurang pemisah ketimpangan kualitas sumberdaya manusia.000 833 1. Selain itu.Guru SD Penduduk Usia SMP .000 5.000 15. Kelima kecamatan tersebut merupakan kecamatan yang memiliki infrastruktur transportasi darat yang cukup baik dan relatif lebih mudah untuk di akses.Puskesmas Pembantu Penduduk .Bangunan SMP Penduduk Usia SMA .

dimana sebagian besar jalan rusak karena intensitas air yang sangat tinggi mengguyur jalan di saat musim penghujan jalan. dimana proses pembangunan jalan tidak sesuai dengan standar pembuatan jalan yang baik. yaitu indikator kesehatan (Indeks Lama Hidup). Pertama adalah faktor alam. Penyebab lainnya adalah tidak seimbangnya kapasitas jalan dengan kendaraan yang melewatinya. sebagain besar negara-negara. kapasitas sebagain besar jalan berkisat antara 5-10 ton. kesehatan dan juga ekonomi. 6. dan indikator ekonomi yang ditunjukan dengan Tingkat Daya Beli Penduduk . Kendaraan-kendaraan yang membawa bahan galian tersebut merupakan kendaraan dengan beban yang sangat tinggi di atas 20 ton. Kedua. baik jalan nasional. sehingga kerusakan jalan yang sangat parah akan semakin sulit dihindari. Hal tersebut terlihat dari buruknya drainase jalan. baik maju maupun berkembang banyak menggunakan Human Development Indeks (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai indikator untuk menilai kualitas sumberdaya manusia di suatu wilayah.4 Kualitas Sumberdaya Manusia Kualitas sumberdaya manusia secara implisit akan terlihat dari tingkat pendidikan dan juga kesehatannya. pajak yang diterima dari hasil-hasil penggalian tersebut ternyata tidak sebanding dengan kerusakan-kerusakan yang didapatkan. Menurut penuturan salah satu ahli perencanaan wilayah di Bappeda Lebak. sehingga menyebabkan percepatan kerusakan jalan. diantaranya adalah kerusakan jalan akibat ketidak seimbangan beban dengan kapasitas jalan. dimana ketika hujan besar turun. Oleh karena itu.117 Kerusakan infrastruktur utama jalan. faktor teknis. provinsi maupun kabupaten disebabkan oleh dua faktor. Pada sisi lain. Proses penggalian-penggalian di wilayah selatan sebetulnya telah lama menjadi industri yang kontraproduktif atau menghadapi sebuah paradoks. Saat ini Lebak Selatan merupakan pemasok utama bahan-bahan galian C di Provinsi Banten. IPM menjadi begitu populer di kalangan ekonomi sumberdaya karena kemampuannya dalam melihat kualitas manusia dari sisi pendidikan. Indikator Pendidikan (Indeks Melek Huruf dan Rata-rata Lama Sekolah). Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator gabungan dari beberapa indikator (komposit). air tidak mengalir ke drainase namun tergenang.

Semakin tinggi angka harapan hidup.118 (Purchasing Power Parity). Jika ketiga sektor tersebut mengalami peningkatan yang cukup berarti. Sama halnya dengan Kabupaten Lebak yang masih menjadi juru kunci IPM di Provinsi Banten. faktor akses transportasi. Angka harapan hidup penduduk Kabupaten Lebak pada tahun 2008 adalah 63. Pembangunan yang dilakukan sepanjang tahun 2007-2008 tidak memberikan dampak yang cukup berarti terhadap kualitas sumberdaya manusia. AHH tahun 2008 tidak mengalami perubahan dibandingkan AHH tahun 2007. Angka Kelangsungan Hidup yang tidak berubah dari tahun sebelumnya dapat juga berarti bahwa perbaikan kualitas kesehatan penduduk sebagai implikasi dari program pembangunan kesehatan tidak berpengaruh secara signifikan. Namun hal tersebut bukanlah perkara yang mudah begitu saja dicapai. IPM dinilai sebagai indikator yang cukup baik karena mencakup tiga sektor pembangunan yang dominan dan memiliki sumbangan yang cukup besar dalam membentuk kualitas sumberdaya manusia. Dibandingkan dengan indeks komposit lain.1 Indeks Kelangsungan Hidup Angka Harapan Hidup (AHH) menggambarkan tingkat kesehatan rata-rata yang telah dicapai suatu kelompok masyarakat. atau dengan kata lain tidak mengalami peningkatan. karena AHH penduduk di Kabupaten Lebak jalan di tempat. peningkatan IPM terbentur oleh berbagai macam faktor. yang dapat diartikan bahwa rata-rata masa hidup penduduk Kabupaten Lebak mulai dari lahir hingga meninggal adalah sekitar 63 tahun 1 bulan. Angka harapan hidup berkaitan erat dengan derajat kesehatan masyarakat.4. Gabungan ketiga indikator tersebut diharapkan mampu mengukur tingkat kesejahteraan dan keberhasilan pembangunan manusia di suatu wilayah. maka secara langsung sumberdaya manusia yang dihasilkan akan menjadi lebih berkualitas. perlu kerja keras dari berbagai pihak untuk bisa merealisasikannya.1 tahun. hingga etos budaya masyarakat itu sendiri yang pada akhirnya menjadi palang pintu terakhir peningkatan pembangunan manusia 6. mulai dari kendala anggaran. Seharusnya banyak hal yang dapat dilakukan untuk . maka dapat diasosiasikan dengan tingginya derajat kesehatan masyarakat.

30 62. Peningkatan kualitas Paraji (dukun beranak) diharapkan cukup signifikan menekan angka kematian bayi dan ibu melahirkan. jika dilihat perbandingan rata-rata angka harapan hidup.00 64.40 62.40 62.00 63. Lebak AHH Prov. terlihat bahwa Kabupaten Lebak masih di bawah rata-rata provinsi. Gambar di atas menunjukan gap yang semakin lebar dari tahun ke tahun selama sembilan tahun terakhir (2000-2008).85 62. Semua itu dapat dilakukan dengan meningkatkan jumlah dan penyebaran tenaga paramedis dan dokter.119 perbaikan kesehatan.11 63. optimalisasi peran posyandu sebagai ujung tombak keberhasilan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat di wilayah-wilayah yang sulit terjangkau. terutama untuk peningkatan kualitas kesehatan penduduk usia muda. diantaranya adalah mempermudah penduduk untuk mengakses fasilitas kesehatan. Selain itu. Hal tersebut menunjukan bahwa daerah lain mengalami percepatan angka harapan hidup yang lebih tinggi.10 62. Tahun 2009 Gambar 17 Tren Angka Harapan Hidup Lebak dan Rata-rata Provinsi Banten Periode Tahun 2000-2008 Bercermin dari daerah lain.80 63. kemudian di tahun 2008 . Banten Sumber : Bappeda Kab Lebak. Pada tahun 2003 perbandingan antara harapan hidup Kabupaten Lebak dengan Provinsi Banten masih 62.60 63. dalam hal ini lebih sering disebut dengan tenaga kesehatan.60 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 AHH Kab. 64.30 63.90 62.40 62.60 62. sehingga rasio antara jumlah penduduk dengan tenaga kesehatan akan semakin mengecil.50 61.6 tahun.45 64.3 tahun berbanding 62.12 64.

30 63. angka ini tidak jauh berbeda .40 63. Tahun 2008. Hal ini mengindikasikan bahwa Angka Harapan Hidup Kabupaten Lebak masih terbuka lebar untuk dapat ditingkatkan.120 perbandingannya semakin menjauh. Hasil SUSENAS tahun 2008 menunjukan bahwa persentase penduduk usia 10 tahun ke atas yang mampu membaca dan menulis adalah sebesar 84.2 Indeks Melek Huruf dan Indeks Lama Sekolah Angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah adalah dua indikator yang digunakan untuk menggambarkan hasil pembangunan di bidang pendidikan.08 63.30 62. Tahun 2010 6.40 62.11 64.1 tahun setara dengan 63.4.33 63.40 62.90 62. Tabel 29 Perkembangan Angka Harapan Hidup dan Indeks Kelangsungan Hidup Kabupaten Lebak dan Rata-Rata Provinsi Banten. Karena angka harapan hidup berhubungan dengan komposisi dan struktur umur penduduk serta jumlah penduduk yang menjadi sasaran program kesehatan.10 61.17 62.80 62.60 persen pencapaian indeks.60 64.50 62.33 62.1 tahun untuk Kabupaten Lebak berbanding 64.00 64. angka harapan hidup sebesar 63. Lebak Prov.55 63. Banten 62.60 66.67 62. tetapi program peningkatan AHH adalah program yang membutuhkan investasi yang sangat besar khususnya dalam hal pembiayaan program dan waktu yang juga cukup panjang.52 65. Namun meningkatkan angka harapan hidup bukanlah program yang dapat secara langsung dirasakan hasilnya.45 63.60 62.00 63. Tahun 2000-2008 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Angka Harapan Hidup Kab.60 Sumber : Bappeda Kabupaten Lebak. Banten 62. sehingga yang buta huruf sebanyak 5.67 65. Kedua indikator tersebut dipandang cukup untuk mewakili beberapa indikator pendidikan lainnya. dimana 63.60 untuk Provinsi banten.9 persen.85 63. Indeks Kelangsungan Hidup merupakan konversi Angka Harapan Hidup dalam persen terhadap rentang angka harapan hidup yang dapat dicapai di Indonsia.60 Indeks Kelangsungan Hidup Kab.50 63. Lebak Prov.33 65.1 persen.50 61.12 64.50 62.00 63.33 64.67 62.50 62.

10 94. Khusus di Kabupaten Lebak.90 94.50 8.10 8.20 94.10 8. Banten 5.00 8. Lebak Prov.20 8.121 dengan keadaan beberapa tahun sebelumnya.19 91.90 5. yang mempresentasikan rendahnya ratarata lama sekolah yang hanya 6.60 95. Angka melek huruf di Kabupaten Lebak masih dikategorikan kecil bila dibandingkan rata-rata angka melek huruf Provinsi Banten yang pada tahun 2008 mencapai 95. Tahun 2002 .10 6. Tahun 2002-2008 Tahun 2002 Angka Melek Huruf (%) Kab.20 6. Tahun 2010 Nilai indeks melek huruf sama dengan angka melek huruf karena capaian maksimal angka melek huruf adalah 100 persen.30 7. atau baru setara dengan lulusan sekolah dasar.90 80.60 Rata-rata Lama sekolah (Tahun) Kab.2008 Tahun Indeks Melek Indeks Lama Indeks Pengetahuan Huruf Sekolah Kab.50 6.33 71.10 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber : Bappeda Kab.33 persen. Banten 90.10 93.60 95.2 tahun. Tabel 31 Perkembangan Indeks Pengetahuan Kabupaten Lebak dan Rata-Rata Provinsi Banten. Lebak Prov. Kondisi ini mengindikasikan bahwa angka melek huruf di kabupaten Lebak lebih rendah bila dibandingkan kabupaten/kota lainnya di Provinsi Banten.2 tahun.10 94.20 6. yaitu sebesar 41. yakni hanya 6.60 95.84 94.1 tahun. sehingga konversi juga tidak memerlukan formula khusus.70 95.20 6.6 persen. maka pencapaian Angka Melek Huruf di Kabupaten Lebak tidak akan pernah mencapai 100 persen. penduduk buta aksara selain dipengaruhi oleh jumlah penduduk tua. Tabel 30 Perkembangan Angka Melek Huruf dan Rata-Rata Lamanya Sekolah Kabupaten Lebak dan Rata-Rata Provinsi Banten. dipengaruhi juga oleh keberadaan suku Baduy terutama Baduy Dalam yang masih menabukan penduduknya untuk mengenyam pendidikan formal. Banten 2002 90.10 94. Capaian 41. Indikator rata-rata lama sekolah di Kabupaten lebak tahun 2008 lebih rendah dari angka rata-rata Provinsi banten yang sebesar 8. Indeks lama sekolah tahun 2008 masih sama dengan tahun 2007.10 8. Apabila peraturan adat tersebut tidak dapat dirubah. Lebak Prov.19 35. Lebak.33 persen juga hanya dapat ditingkatkan dalam jangka panjang melalui cakupan partisipasi sekolah.12 .40 93.

8 82.9.1 41.73 81.51 76.1 41.33 Sumber : Bappeda Kab.33.73 Indikator yang dapat menunjukan pembangunan pendidikan digambarkan dengan menghitung indeks pengetahuan sebagai rata-rata dari indeks melek huruf dan rata-rata lam sekolah.51 76. 80.51 81.16 76.33 2006 94.9 73. hal tersebut dapat dikatak bahwa pencapaian pembangunan bidang pendidikan jika dilihat dari sisi outputnya adalah 76.33 2007 94. Banten 2007 2008 Kab.51 81.51 persen.67 2004 93.1 41.51 76.73 81.16 76. Tahun 2007 indeks pengetahuan Kabupaten Lebak adalah 76.51. Tahun 2009 73.02 81.02 81. 2009 Gambar 18 Tren Indeks Pengetahuan Kabupaten Lebak dan Provinsi Banten Tahun 2003-2008 Penyumbang terbesar dari indeks komponen pendidikan berasal dari indeks AMH yang mencapai 94.122 2003 91. Data tersebut memberikan pemahaman bahwa penduduk (terutama usia tua) kurang memberi perhatian yang labih pada pentingnya jenjang pendidikan formal dan merasa cukup puas bila sudah dapat membaca dan menulis. terkadang pemahan tersebut dipraktekan pada sejauh mana pendidikan yang harus ditempuh . Lebak.4 36.67 2005 94.1 41.33 2008 94.73 76. Angka ini merupakan peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2002 yang hanya mencapai angka 71.51 76.73 81.51 80.73 81. Lebak.51 2002 2003 2004 2005 2006 Prov.10. Lebak Sumber : Bappeda Kab. sedangkan indeks RLS hanya sebesar 41.12 80.9 40.16 76.80 82.51 76.51 76.16 71.

sehingga hal tersebut menunjukan bahwa telah terjadi percepatan indeks pengetahuan. Diharapkan dengan semakin besarnya tingkat daya beli maka kesejahteraan penduduk semakin membaik. Tentu saja hal ini menunjukan bahwa ada peluang untuk perbaikan di bidang investasi human capital karena secara ekonomi memiliki kemampuan yang tidak jauh berbeda . Nilai indeks daya beli Kabupaten Lebak pada tahun 2008 sama dengan nilai indeks daya beli Provinsi banten pada tahun yang sama.100 pada tahun 2008. 625. Dalam nilai uang. Bahkan sejak tahun 2002. nilai tersebut setara dengan Rp. 6. Nilai indeks tingkat daya beli menggambarkan besar kecilnya kemampuan daya beli penduduk. pada indeks pengetahuan tidak terlihat adanya pola kesenjangan yang semakin melebar.3 Indeks Tingkat Daya Beli Untuk mengukur standar hidup layak. Namun. terdapat pola yang menyempit. sehingga angkanya diharapkan lebih mendekati untuk mengukur kemampuan daya beli penduduk.123 oleh keturunan-keturunan mereka. Indikasinya adalah bahwa kemampuan daya beli yang sama antara penduduk Lebak dengan penduduk kabupaten/kota lainnya di Provinsi Banten. Berbeda dengan indeks kelangsungan hidup dimana terdapat kesenjangan yang makin lebar antara angka Kabupaten Lebak dengan Provinsi Banten. Indeks daya beli penduduk (PPP) atau konsumsi riil perkapita penduduk Kabupaten Lebak tahun 2008 sebesar 61. Penomena ini kebanyak terjadi di daerah pedesaan yang penduduknya banyak bekerja di sektor agraris atau sektor primer lainnya yang tidak memerlukan keahlian khusus yang didapat dari pendidikan formal. walau secara skala masih jauh dari harapan. dengan landasan anggapan bahwa hanya dengan membaca dan menulis saja sudah cukup bekal untuk mencari penghasilan. Pada perhitungan IPM digunakan konsumsi riil perkapita yang telah disesuaikan. keyakinan tersebut sedikit demi sedikit mulai terkikis. data PDRB per kapita buknlah ukuran yang peka untuk mengukur tingkat daya beli (Purchasing Power Parity/PPP) penduduk.30 persen dari daya beli maksimal di Indonesia.4.30 yang berarti tingkat daya beli penduduk Lebak 61. sehingga tidak dapat digunakan.

12 60. 620.4 621 60. Banten 2002 581. naik sebesar 0. Tahun 2002-2008 Tahun Pengeluaran Riil/Kapita (000) Indeks daya beli Kab.50 persen pada tahun 2008 dibandingkan 7.08 2007 620.7 51. pengeluaran riil per kapita mengalami kenaikan yang cukup berarti.3 61.17 2004 615.76 persen.3 61.32 2008 625.47 2003 586 611. digunakan untuk mengukur pencapaian keberhasilan pembangunan manusia di suatu wilayah.4. Lebak. Lebak Prov.400 pada tahun 2007 menjadi Rp.1 625.9 608. Tabel 32 Perkembangan Pengeluaran Riil Per Kapita dan Indeks Daya Beli Kabupaten Lebak dan Rata-Rata Provinsi Banten. Tahun 2009 Apabila dilihat perkembangan dari tahun sebelumnya. yaitu Rp. 6.100.9 2006 620.23 58. 625.3 Sumber : Bappeda Kab.4 621. Jika ketiga komponen tersebut memiliki kualitas yang baik.99 60. Angka yang relatif sama pada tingkat daya beli namun memiliki perbedaan jauh dalam bidang pengetahuan dan kesehatan dibandingkan kabupaten/kota lain di Provinsi Banten memberikan gambaran bahwa sebagian besar pendapatan yang dihasilkan hanya digunakan untuk keperluan konsumsi.7 52. Sehingga kenaikan daya beli di Kabupaten Lebak sebagian besar hanya digunakan untuk pemenuhan konsumsi primer saja.76 59.2 59.28 57.02 60. Meskipun peningkatan ini tampaknya diakibatkan oleh tingkat kesejahteraan masyarakat yang makin membaik namun ada kekhawatiran bahwa kenaikan daya beli penduduk dipengaruhi oleh inflasi.124 dengan daerah lain.27 persen pada tahun 2007.18 60. Lebak Prov Banten Kab. belum memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya pendidikan dan kesehatan.39 2005 618. terutama inflasi di sektor perdagangan yang naik dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 11. maka secara otomatis sumberdaya manusianya pun memiliki kualitas yang baik pula.4 Indeks Pembangunan Manusia IPM merupakan indeks komposit nilai rata-rata dari gabungan tiga komponen penilaian kualitas sumberdaya manusia.13 619.6 619.3 59. Masing-masing .

28 52.33 62. Tahun 2009 Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Lebak pada tahun 2008 mencapai 67.51 Indeks Daya Beli 51.80 hingga 1.33 63. indeks pengetahuan (76. Tabel 33 Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Lebak Menurut Komponen IPM Tahun 2002-2008 Tahun Indeks Kelangsungan Hidup 61.51 76. pendidikan dan ekonomi. Dibandingkan pencapaian daerah-daerah lain di Provinsi Banten.30).70 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber : Bappeda. Hal tersebut berarti pencapaian pembangunan manusia di Kabupaten lebak saat ini telah mencapai 67.70 yang berarti kabupaten/kota lain ada yang mencapai IPM di atas angka 70%.51) dan indeks daya beli (61.10 persen dari nilai maksimal.60).02 59.16 76.84 66.0 hingga 0.799) dan tingkat pembangunan manusia yang tinggi (0. Namun rendahnya nilai indeks daya beli ini memang secara umum juga terjadi di Provinsi Banten.499). Secara internasional.76 60.10 yang merupakan rata-rata dari pencapaian indeks kelangsungan hidup/kesehatan (63.60 Indeks Pengetahuan 71.31 66.52 63. terlihat jelas bahwa pencapaian tertinggi didapat dari indeks pengetahuan.12 60.80 69.50 hingga 0. Dari tiga komponen penyusun IPM.10 IPM Provinsi Banten 66. IPM Kabupaten Lebak dapat dikatakan masih tertinggal. Oleh karena itu masih banyak hal yang perlu dilakukan agar pencapaian pembangunan manusia di Kabupaten Lebak dapat setara dengan daerah lain di Provinsi Banten.17 62.90 73.16 76.30 IPM Kabupaten Lebak 61.52 65.18 61. Indeks daya beli yang merefleksikan kemampuan ekonomi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan konsumsinya memiliki pencapaian yang paling rendah.11 69.51 76. Bidang pendidikan atau pengetahuan yang terdiri dari angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah mempunyai nilai sebesar 76.65 66.74 67.0).23 59.64 67.51 76.50 62.27 69.67 63. nilai IPM dibagi menjadi tiga kelompok yakni tingkat pembangunan manusia yang rendah (0.21 69. tingkat pembangunan manusia menengah (0.02 68.51 yang berarti pencapaian . IPM Provinsi Banten berada pada level 69.125 indeks dari komponen IPM memperlihatkan seberapa besar tingkat pencapaian yang telah dilakukan selama ini di bidang kesehatan. IPM Kabupaten Lebak.56 62.

10 sedangkan indeks RLS hanya sebesar 41. Untuk sektor kesehatan yang diwakili indeks kelangsungan hidup.51 persen dari pencapaian yang diharapkan. Karena .31 66. 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 2002 61.33.74 67.5 persen dibandingkan pada tahun 2007. Kenaikan IPM yang cukup besar terutama disumbangkan oleh indeks daya beli. Sumbangan terbesar indeks komponen pendidikan berasal dari AMH yang mencapai 94.56 62. sehingga memberikan sinyal bahwa pembangunan yang selama ini dilaksanakan terutama di bidang infrastruktur sudah memberikan hasil yang cukup berarti.60. Tahun 2009 Gambar 19 Grafik Perkembangan IPM dan Elemen Penyusunnya Kabupaten Lebak Tahun 2002-2008 Terdapat kenaikan signifikan jika melihat pola tren IPM Kabupaten Lebak pada rentang tahun 2002 hingga 2008.1 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Indeks Kelangsungan Hidup Indeks Daya Beli Indeks Pengetahuan IPM Kabupaten Lebak Sumber : Bappeda Kab.84 66. Namun perkembangan yang cukup menggembirakan terjadi pada tahun 2008 dimana persentase kenaikkan IPM lebih besar yakni 0. Kabupaten Lebak baru mampu mencapai angka 63.52 65.126 pembangunan bidang pendidikan pada tahun 2008 mencapai 76. Pada periode 2005 sampai 2007 peningkatannya tidak cukup nyata yakni hanya 0. Lebak. Diharapkan bahwa pembangunan infrastruktur yang selama ini dilaksanakan selain mempengaruhi tingkat ekonomi juga lambat laun akan mempengaruhi tingkat kesehatan dan pendidikan di Kabupaten Lebak terutama berkaitan dengan aksesibilitas ke fasilitas pendidikan dan kesehatan.2 persen. Hal tersebut mengindikasikan terdapat perbaikan dalam percepatan pembangunan manusia di Kabupaten Lebak.65 66.

Rasio antara fasilitas bangunan baik pendidikan dan kesehatan dengan penduduk masih sangat rendah. Tanpa kesehatan yang baik. dan bila kesehatan dan pendidikan tidak baik maka mustahil ekonomi keluarga/masyarakat dapat membaik. pendidikan sulit untuk dapat berjalan dengan baik. rasio antara tenaga pendidik dengan penduduk usia sekolah dan tenaga kesehatan dengan penduduk pun sama. Berdasarkan deskripsi dan analisa terkait dengan kinerja pelayanan publik dan kualitas sumberdaya manusia di Kabupaten Lebak. pelayanan publik di bidang pendidikan dan kesehatan yang ditunjukan dengan kinerja pelayanan berupa fasilitas dan tenaga pelayanan akan mempengaruhi kualitas sumberdaya manusia yang ditunjukan oleh tingkat Indeks Pembangunan Manusia di Kabupaten Lebak.5 Analisis Pengaruh Kinerja Pelayanan Publik Terhadap Kualitas Sumberdaya Manusia Pelayanan publik suatu wilayah akan mempengaruhi kualitas sumberdaya manusia pada wilayah tersebut. sehingga kualitasnya cenderung lebih baik. Sama halnya dengan yang ada di Kabupaten Lebak. kualitas yang diberikan pun masih jauh dari harapan. Jumlah fasilitas yang ada masih belum bisa mencukupi. Kabupaten Lebak masih berada pada titik kekurangan. maka selanjutkanya akan coba diteliti bagaimana pengaruh yang diberikan oleh kinerja pelayanan publik terhadap kualitas sumberdaya manusia yang ada. fasilitas dan tenaga pendukungnya relatif baik. dan akibatnya kualitas yang ada pun menjadi jauh tertinggal dari wilayah lainnya dalam lingkup Kabupaten Lebak. 6. Hasil keterkaitan pengaruh tersebut nantinya akan dijadikan dasar atau landasan dalam menentukan kebijakan pembangunan . ada yang berpengaruh positif dan ada juga yang berpengaruh negatif. masih terlalu rendah.127 kesehatan. Dalam hal kinerja. Selain itu. secara fasilitas dan tenaga sumberdaya manusia. Pengaruh yang diberikan akan memberikan dampak yang berbeda. Pada satu wilayah yang cukup bisa diakses dengan relatif mudah. pendidikan dan ekonomi merupakan pilar yang saling berinteraksi dan berinter-relasi satu dengan yang lainnya dalam membentuk kualitas penduduk (sumberdaya manusia). Namun untuk beberapa wilayah yang sulit diakses memiliki fasilitas dan tenaga pendukung di bawah rata-rata.

rumah sakit.128 selanjutnya. Dalam estimasi data berikut ini akan dibahas mengenai analisis statistik dan ekonomi dari hasil persamaan regresi pengaruh pelayanan publik di bidang pendidikan dan kesehatan terhadap tingkat kualitas sumberdaya manusia. maka dilakukan pembentukan model untuk melihat pengaruh pelayanan publik di bidang pendidikan dan kesehatan terhadap kualitas sumberdaya manusia di Kabupaten Lebak. maka dilakukan pembentukan model untuk melihat faktor-faktor pelayanan publik bidang pendidikan yang diduga mempunyai pengaruh terhadap kualitas sumberdaya manusia (IPM) di Kabupaten Lebak. Setelah dilakukan tabulasi data hasil penelitian.5. Indikator pelayanan publik pendidikan adalah rasio faslitas berupa rasio bangunan sekolah menurut satuan jenjang pendidikan dengan jumlah penduduk dan rasio guru dan murid tiap satuan pendidikan Kabupaten Lebak. dokter. 6. Data yang digunakan adalah data cross section tingkat kecamatan pada tahun 2009. Sedangkan indikator pelayanan publik kesehatan adalah rasio fasilitas kesehatan berupa puskesmas. Harapan utamanya tentu saja adalah untuk bisa meningkatkan kualitas sumberdaya manusia di Kabupaten lebak secara simultan dan berkelanjutan serta sinergis antara pemerintah dengan kebutuhan masyarakat. Faktor-faktor pelayanan publik tersebut adalah rasio bangunan SD dengan penduduk usia SD (RBSD). rasio bangunan SMP dengan penduduk usia SMP (RBSMP). perawat dan bidan dengan jumlah penduduk di Kabupaten Lebak.1 Estimasi Pengaruh Pelayanan Publik Pendidikan terhadap Kualitas Sumberdaya Manusia (IPM) Setelah dilakukan tabulasi data hasil penelitian. Data diolah dengan menggunakan Software Minitab 13. rasio bangunan SMA dengan . Kualitas sumberdaya manusia itu sendiri akan menggunakan indikator Indeks Pembangunan Manusia di Kabupaten Lebak. puskesmas pembantu (pustu). Hal ini dimaksudkan untuk melihat pengaruh kedua variabel tersebut secara khusus terhadap tingkat kualitas sumberdaya manusia yang diwakili oleh Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pemodelan ekonometrik untuk melihat pengaruh pelayanan publik pendidikan dan kesehatan memiliki model yang terpisah.

03 3.000 RBSMA 1.26 185. yaitu Tingkat Kualitas Sumberdaya Manusia (Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Pada Tahun ke-t) β0 = Konstanta β 1 . Pada sisi lainnya. rasio guru SMP dengan penduduk usia SMP (RGSMP) dan rasio guru SMA dengan penduduk usia SMA (RGSMA).26 + 1.75 Prob (F-stat) 0.25 3.18 .25 ln RBSMP it + 1.000 RGSMA 0.01 ln RGSMP it + 0.54 0.59 ln RBSMA it .6 F-stat 106.80 0.37 ln RGSMA it + e it Keterangan : IPM it = Variabel dependent.000 .33 0.0.129 penduduk usia SMA (RBSMA).0.29 0.18 ln RGSD it + 0.4.21 0. Hasil estimasi model ekonometrika yang digunakan adalah sebagai berikut : ln IPM it = 63.000 RBSD 1.37 4.76 0.000 RGSMP 0.59 5.03 ln RBSD it + 1. faktor yang menjadi indikator kualitas pelayanan publik adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Lebak.000 RGSD . rasio guru SD dengan penduduk usia SD (RGSD).000 RBSMP 1.… β 9 = Koefisien variabel independent RBSD it = Rasio bangunan SD dengan penduduk usia SD Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Tahun ke-t RBSMP it = Rasio bangunan SMP dengan penduduk usia SMP Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Tahun ke-t RBSMA it = Rasio bangunan SMA dengan penduduk usia SMA Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Tahun ke-t RGSD it = Rasio guru SD dengan penduduk usia SD Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Tahun ke-t RGSMP it = Rasio guru SD dengan penduduk usia SMP Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Tahun ke-t RGSMA it = Rasio guru SD dengan penduduk usia SMA Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Tahun ke-t ei = Error Tabel 34 Analisis Ekonometrika Regresi Berganda Pengaruh Pelayanan Publik Pendidikan terhadap IPM di Kabupaten Lebak Variabel Koefisien t-stat Prob (t-stat) Constant 63.01 6.07 0.000 R2 92.

diperoleh bahwa nilai F-hitung untuk model pengaruh pelayanan publik pendidikan terhadap IPM adalah 106. sehingga kebijakan yang lebih kontributif untuk dilakukan adalah meningkatkan kapasitas guru untuk tingkat pendidikan sekolah dasar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pelayanan publik pendidikan di Kabupaten Lebak secara simultan sangat signifikan mempengaruhi kualitas sumberdaya manusia (IPM). maka IPM menurun sebesar 0. Jika dibandingkan dengan F-tabel pada tingkat signifikansi 5 persen (α = 0.25). yakni 1. RGSMA (0. Setelah diketahui bahwa terdapat variabel independen yang berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. Pada perhitungan model dapat diketahui bahwa variabel rasio bangunan SMA (RBSMA) memberikan pengaruh paling besar terhadap IPM.025 ) sebesar 2. RBSD (1. maka IPM di kecamatan akan meningkat sebesar 1. RGSD (-0.01).37).59.048 sehingga berpengaruh secara siginifikan terhadap IPM. maka nilai t hitung dari seluruh varibel independent pelayanan publik lebih besar dari t tabel (t 0. Rasio guru SD terhadap penduduk usia SD memiliki nilai minus berarti apabila terjadi peningkatan 1 persen pada rasio guru SD. Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel model ekonometrika.130 Sumber : Hasil Perhitungan.81 maka nilai F-hitung yang diperoleh untuk model tersebut lebih besar dari ketiga tingkat signifikansi tersebut.18) dan RGMP (0. Menurunnya angka IPM ini bukan hal yang kontraproduktif. Variabel independent lainnya yang juga mempengaruhi peningkatan IPM secara berturut-turut adalah RBSMP (1. Untuk pekerluan tersebut. dilakukan pengujian koefisien regresi secara individual (testing individual coefficient).03). .05) sebesar 3. Karena model menggunakan ln. maka dilakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui secara spesifik variabel manakah yang berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen.75. maka hal tersebut mempunyai arti bahwa apabila terjadi peningkatan RBSMA pada tingkat kecamatan sebesar 1 persen.59. namun mengindikasikan bahwa jumlah guru SD di Kabupaten Lebak sudah dianggap cukup dan tidak perlu ditambah jumlahnya. Tahun 2010 Berdasarkan hasil pengolahan data di atas.18.

Apabila jarak terjauh siswa mampu dikurangi. selain itu dari sisi partisipasi juga sudah hampir 100 persen untuk SD dan 80 persen untuk SMP. Rata-rata untuk SD sudah cukup besar yakni 95.17 persen. Angka ini sangatlah rendah khususnya di wilayah bagian selatan yang memiliki angka rasio lebih kecil karena jumlah bangunan SMA masih belum seimbang dengan jumlah penduduk usia SMA.00038. Rasio bangunan SMA dengan jumlah penduduk usia SMA menjadi variabel yang paling mempengaruhi angka IPM. dalam pemodelan sangatlah wajar apabila rasio bangunan SMU ternyata memberikan pengaruh yang paling tinggi.61 persen. Berdasarkan data yang diperoleh dari pihak terkait.79 persen dan 22.131 Analisis Pengaruh Pelayanan Publik Pendidikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Hasil perhitungan dengan menggunakan analisis regresi berganda model ln menunjukan bahwa pelayanan publik mampu mempengaruhi IPM di Kabupaten Lebak. Oleh karena itu. Peningkatan persentase rasio bangunan sekolah baik pada tingkat SD. Variabel lain yang juga cukup tinggi mempengaruhi IPM adalah rasio bangunan SMP dan SD. karena selain jumlah SMA yang kurang juga ditambah dengan rendahnya angka partisipasi murni siswa SMU. Rasio jumlah SD dan SMP di wilayah utara cenderung sudah sangat baik. kondisi rasio bangunan SMA memang memiliki angka yang sangat rendah yakni rata-rata kabupaten sebesar 0. bahkan sudah sama dengan rasio ideal yang diperlukan. SMP maupun SMA mampu meningkatkan secara signifikan angka IPM. Bangunan sekolah untuk SMP dan SD jmasih dianggap belum memenuhi standar minimal perbandingan antara jumlah penduduk usia SD dan SMP dengan bangunan sekolah itu sendiri. besaran rasio untuk SMP sebesar 0. Penyebab rendahnya partisipasi murni SMA ini karena jumlah sekolah yang memang masih sangat minim.0012 dan SD sebesar 0. namun lain halnya dengan SMP dan SMA yang masih sangat rendah yakni berturut-turut sebesar 68. Namun hal tersebut tidak sama dengan kondisi di . Tantangan lainnya dalam meningkatkan angka IPM di Lebak adalah dalam hal partisipasi sekolah. khususnya di wilayah selatan. tentu peluang penduduk usia SMA untuk melanjutkan sekolah akan semakin meningkat.0025.

Adapun variabel yang pelayanan publik bidang kesehatan yang menjadi variabel independent dalam pemodelan adalah rasio puskesmas terhadap penduduk. tapi kualitas bangunan harus diperhatikan baik dari sisi kelayakan. guru juga dituntut untuk bisa menguasai teknik-teknik pengajaran yang mampu menstimulus siswa menjadi lebih aktif. Hal tersebut sangatlah wajar. pelayanan kesehatan ini diduga memeliki pengaruh kuat dalam pembentukan angka IPM di Kabupaten Lebak. dalam hal ini dilihat dari IPM kecamatan. Indikator pelayanan publik lainnya yang juga ikut mempengaruhi IPM adalah tenaga pendidikan dalam hal ini khususnya guru. angka partisipasi murni 80 persen untuk SD dan 50 persen untuk SMP. kelangkapan hingga kebersihan lingkungan. kreatif.5. Dalam pemodelan. Kapasitas tenaga pengajar seperti guru juga tetap menjadi sorotan utama dalam pelayanan publik. Dalam pemodelan. berprestasi dan suasana belajar menjadi semakin menyenangkan. karena jumlah guru SD baik di wilayah utara maupun selatan sudah memenuhi kuota minimal jumlah guru. Selain harus menguasai materi pelajaran. kualitas tidak boleh ditinggalkan. Secara matematis. namun lebih dari itu.2 Estimasi Pengaruh Pelayanan Publik Kesehatan terhadap Kualitas Sumberdaya Manusia (IPM) Pelayanan publik di bidang kesehatan merupakan salah satu indikator pembangunan manusia. posisi yang strategis. namun justru peningkatan guru SD akan menurunkan angka IPM. keamanan. rasio puskesmas pembantu terhadap penduduk. 6.132 wilayah selatan yang secara kuantitas masih dianggap kurang. Rasio guru yang paling tinggi memberikan pengaruh adalah rasio guru SMA kemudian disusul oleh rasio guru SMP. sehingga apabila rasio guru mampu ditingkatkan maka IPM secara otomatisasi akan ikut meningkat. hal tersebut menunjukan jika jumlah guru SMA di Kabupaten Lebak masih kurang. rasio rumah sakit terhadap penduduk. rasio perawat terhadap penduduk dan rasio bidan terhadap penduduk. Bangunan sekolah yang ada tidak hanya memenuhi jumlah minimal. pemodelan tersebut dapat dilihat di bawah ini. rasio dokter terhadap penduduk. . Peningkatan jumlah bangunan sekolah dan tenaga pengajar bukan hanya difokuskan pada kuantitas saja. peningkatan guru SD tidak memberikan hasil positif.

133

ln IPM it = 63,6 + 0,77 ln RPUS it - 0,434 ln RPST it + 1,04 ln RRS it + 1,6 ln RDOK it + 0,55 ln RPER it + β 5 0,68 RBID it + e it

Keterangan : IPM it = Variabel dependent, yaitu Tingkat Kualitas Sumberdaya Manusia (Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Pada Tahun ke-t) β0 = Konstanta β 1 ,… β 9 = Koefisien variabel independent RPUS it = Rasio puskesmas dengan penduduk Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Tahun ke-t RPST it = Rasio puskesmas pembantu dengan penduduk Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Tahun ke-t RRS it = Rasio rumah sakit dengan jumlah penduduk Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Tahun ke-t RDOK it = Rasio dokter dengan jumlah penduduk Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Tahun ke-t RPER it = Rasio perawat dengan jumlah penduduk Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Tahun ke-t RBID it = Rasio bidan Pembantu dengan jumlah penduduk Kabupaten Lebak di Kecamatan ke-i Tahun ke-t = Error e it Tabel 35 Analisis Ekonometrik Regresi Berganda Pengaruh Pelayanan Publik Kesehatan terhadap IPM di Kabupaten Lebak Variabel Koefisien t-stat Prob (t-stat) Constant 63,60 12.68 0,000 RPUS 0,77 6,06 0,001 RPUSTU - 0,43 -4,40 0,000 RSS 1,04 8,23 0,000 RDOK 1,60 4,43 0,000 RPER 0,55 -3,29 0,000 RBID 0,68 7,09 0,000 R2 91,60 F-stat 68,54 Prob (F-stat) 0,000 Sumber : Hasil Perhitungan, Tahun 2010 Hasil pengolahan data di atas, diperoleh bahwa nilai F-hitung untuk model pengaruh pelayanan publik kesehatan terhadap IPM adalah 68,54. Jika

134

dibandingkan dengan F-tabel pada tingkat signifikansi 5 persen (α = 0,05) sebesar 3,81 maka nilai F-hitung yang diperoleh untuk model tersebut lebih besar dari ketiga tingkat signifikansi tersebut. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pelayanan publik kesehatan di Kabupaten Lebak secara simultan sangat signifikan mempengaruhi kualitas sumberdaya manusia (IPM). Setelah diketahui bahwa terdapat variabel independen yang berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen, maka dilakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui secara spesifik variabel manakah yang berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. Untuk pekerluan tersebut, dilakukan pengujian koefisien regresi secara individual (testing individual coefficient). Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel model ekonometrika, maka nilai t hitung dari seluruh varibel independent pelayanan publik lebih besar dari t tabel (t 0,025 ) sebesar 2,048 sehingga berpengaruh secara siginifikan terhadap IPM. Variabel pelayanan publik yang paling besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan IPM adalah rasio dokter terhadap penduduk sebesar 1,6. Hal tersebut memiliki arti bahwa apabila terjadi peningkatan sebesar 1 persen pada rasio dokter di kecamatan, maka IPM kecamatan akan meningkat sebesar 1,6. Variabel pelayanan publik kesehatan lainnya yang juga mempengaruhi IPM secaqra berturut-turut peringkatnya adalah rasio rumah sakit (1,04), rasio puskesmas (0,77), rasio bidan (0,68), rasio perawat (0,55) dan rasio puskesmas pembantu (-0,43). Pada pemodela ekonometrika terdapat satu variabel yang bernilai negatif yakni rasio puskesmas pembantu yang bernilai -0,43, artinya bahwa jika terjadi peningkatan sebesar 1 persen pada rasio puskesmas pembantu maka IPM akan menurun sebesar 0,43. Hal tersebut menandakan bahwa Pemerintah Kabupaten Lebak tidak memerlukan usaha lebih untuk meningkatkan kuantitas jumlah puskesmas pembantu, namun lebih kepada peningkatan kualitas pelayanan dari puskesmas pembantu.

Analisis

Pengaruh

Pelayanan

Publik

Kesehatan

terhadap

Indeks

Pembangunan Manusia (IPM) Hasil perhitungan dari model ekonometrika terlihat bahwa rasio infrastruktur kesehatan cukup berpengaruh dalam meningkatkan IPM di

135

Kabupaten Lebak. Rasio infrastruktur yang paling berpengaruh adalah rasio rumah sakit dan puskesmas. Untuk konteks rumah sakit, pelayanan rumah sakit di Kabupaten Lebak selama satu dekade terakhir menjadi sorotan utama masyarakat. Secara kuantitatif, ketersediaan rumah sakit di Lebak masih jauh dari harapan, apalagi melihat posisi letak rumah sakit yang hanya ada di wilayah utara. Namun di tahun 2008 Lebak telah berhasil mendirikan satu rumah sakit di wilayah selatan tepatnya di Kecamatan Malingping. Hal tersebut cukup menggembirkan masyarakat di wilayah Lebak selatan. Namun hal tersebut dianggap masih belum cukup, karena di wilayah tengah sama sekali belum tersedia rumah sakit, sehingga penambahan satu rumah sakit untuk melayani masyarakat di Lebak tengah merupakah satu hal yang perlu menjadi prioritas Pemkab lebak. Dengan adanya ketersediaan rumah sakit tersebut, maka akan mampu memotong jauhnya akses masyarakat Lebak tengah terhadap rumah sakit. Rasio infrastruktur puskesmas juga telah menjadi faktor yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat pada suatu wilayah. Karena puskesmas akan menjadi ujung tombak terdepan dalam pelayanan kesehatan. Terjadi ketimpangan jumlah puskesmas antara wilayah utara dengan selatan. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah untuk menyeimbangkan jumlah puskesmas dengan kapasitas pelayanan khususnya di wilayah selatan (tertinggal) merupakan hal yang sangat wajar dilakukan. Terlebih angka harapan hidup di Lebak masih cukup rendah, yakni 63,6 pada tahun 2008. Penemuan kasus-kasus gizi buruk dan penyakit-penyakit menular seperti kaki gajah, malaria dan TBC pun lebih banyak ditemukan pada wilayah-wilayah Lebak bagian selatan. Selanjutnya puskesmas ini akan menjadi pendeteksi dini segala macam penemuan kasus gangguan kesehatan, sehingga ke depannya puskesmas ini akan menjadi penyangga utama peningkatan kualitas hidup masyarakat. Karena bukan tidak mungkin jika Kabupaten Lebak akan memiliki pelayanan puskesmas yang dilengkapi oleh layanan-layanan prima seperti darurat level 1 atau setingkat dengan rumah sakit dilengkapi perangkat yang dibutuhkan. Pelayanan insfrastruktur lainnya adalah puskesmas pembantu (pustu) yang berfungsi membantu puskesmas utama apabila secara geografis masih belum bisa didirikan puskesmas baru untuk melayani masyarakat. Puskesmas pembantu

136

adalah unit sederhana yang membantu melaksanakan kegiatan pelayanan yang dilakukan puskesmas dalam wilayah kerja yang lebih kecil. Meski

penyelenggaraan pelayanan di puskesmas pembantu menjadi kunci dalam memperluas jangkauan pelayanan dasar, jarang mendapat perhatian kebijakan di tingkat lokal maupun kabupaten. Koordinasi menjadi kunci keberhasilan upaya kesehatan antara pemerintah dan masyarakat, sehingga puskesmas pembantu ini menjadi salah satu kunci kesuksesan pelayanan kesehatan di suatu wilayah tak terkecuali di Kabupaten Lebak, sehingga dengan peningkatan jumlah bangunan puskesmas pembantu secara jangka panjang akan ikut meningkatkan kualitas hidup yang selanjutnya meningkatkan IPM Kabupaten Lebak. Akan tetapi dalam pemodelan, penambahan jumlah puskesmas pembantu justru akan menurunkan angka IPM, hal tersebut disebabkan oleh preferensi masyarakat yang lebih memilih puskesmas utama dan rumah sakit dalam hal pelayanan publik karena puskesmas utama dan rumah sakit memiliki kelengkapan fasilitas yang lebih baik. Rasio pelayanan publik tenaga kesehatan juga memberikan sumbangan cukup besar terhadap perkembangan IPM di Lebak, khususnya peran dokter. Seperti telah diketahui bahwa dokter merupakan salah satu instrumen utama tenaga kesehatan. Dokter bertugas memeriksa kesehatan dokter, memberikan stimulan-stimulan agar pasien memiliki harapan untuk kembali pulih, dan memberikan resep obat apabila diperlukan. Keterbatasan jumlah tenaga kesehatan dokter ini menjadi salah satu kendala dalam meningkatkan kualitas hidup manusia di Kabupaten Lebak. Seharusnya tiap puskesmas minimal memiliki satu orang dokter yang membuka praktek, tetapi pada kenyataannya ada beberapa kecamatan yang sama sekali tidak tersedia dokter umum. Kebijakan peningkatan penyebaran jumlah dokter merupakan salah satu hal mutlak yang perlu dilakukan agar mampu meningkatkan kualitas hidup. Salah satu cara yang telah ditempuh adalah dengan memberikan beasiswa khusus putra daerah yang berhasil kuliah menjadi mahasiswa kedokteran di universitas negeri. Perawat memiliki peranan yang cukup penting dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Rasio perawat untuk wilayah utara terlihat sudah cukup ideal, namun wilayah selatan masih kekurangan cukup banyak. Menurut hasil dari analisis pemodelan ekonometrika, penambahan jumlah perawat akan

137

meningkatkan angka IPM, sehinga jumlah perawat secara perlahan harus tetap diseimbangkan sesuai dengan rasio ideal, khususnya untuk wilayah selatan yang masih kekurangan banyak perawat di Puskesmas. Bidan memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Secara sederhana, bidan dapat dikatakan sebagai perpanjang dari dokter, karena memiliki wewenang yang hampir sama dengan dokter seperti memberikan resep pengobatan, pengecekan kesehatan dasar dan membantu persalinan. Peran bidan yang sangat sentral adalah dalam hal membantu proses persalinan dan memantau perkembangan kesehatan balita. Kabupaten Lebak merupakan salah satu kabupaten yang memiliki angka kematian ibu dan bayi saat melahirkan. Sebagian besar disebabkan oleh salah penanganan oleh paraji atau dukun beranak. Proses persalinan kurang steril dan bersih, peralatan yang digunakan pun masih tradisional dan sangat memungkinkan terjadinya resiko kematian ibu dan bayi. Untuk meminimalisir hal tersebut, kebijakan yang diambil adalah dengan menambah bidan desa yang bertugas untuk menemani proses persalinan oleh paraji dan memberikan pelatihan khusus kepada paraji tradisional. Karena walau bagaimanapun, tradisi orang di persdesaan tentu lebih memilih dukun beranak daripada bidan. Alasannya cukup banyak, mulai dari tradisi yang turun temurun, hingga ongkos ekonomi yang lebih murah dimana paraji bisa dibayar tanpa dengan uang melainkan bisa juga dengan bahan makanan sebagai upahnya.

Analisis Keterkaitan Pelayanan Pendidikan dan Kesehatan terhadap IPM Dalam pemodelan ekonometrika terkait pengaruh kinerja pelayanan publik bidang pendidikan terhadap kualitas sumberdaya manusia yang ditunjukan oleh IPM terdapat beberapa kesimpulan. Pertama, variabel yang berpengaruh positif ikut meningkatkan IPM adalah rasio gedung SD, rasio gedung SMP, rasio gedung SMA dan rasio guru SMP dan rasio guru SMA. Hal tersebut mengindikasikan bahwa apabila Pemkab Lebak memfokuskan alokasi dana pembangunan kepada gedung SD, SMP dan SMA serta kuantitas guru SMP dan guru SMA, maka secara signifikan akan meningkatkan IPM pada tingkat kecamatan yang selanjutnya meningkatkan IPM kabuipaten. Secara spesifik alokasi pengembangan akan

138

memberikan hasil lebih baiak apabila diberikan kepada kecamatan-kecamatan yang memang secara infrastruktur dan tenaga pendidikan cenderung rendah. Hingga tahun 2008, IPM Kabupaten Lebak memang masih berkutat pada juru kunci di Provinsi Banten yakni 67,1 dan rata-rata lama sekolah hanya 6,2 tahun atau setingkat dengan lulusan sekolah dasar. Kondisi bangunan SD dan SMP atau yang setingkat di Kabupaten Lebak sekitar 30 persen mengalami kerusakan yang cukup berat. Selain itu, menurut penuturan Kepala Bidang

Perencanaan Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, hingga tahun 2010 Lebak secara keseluruhan masih kekurangan 5.000 guru sekolah dasar. Oleh karena itu, optimalisasi, perbaikan juga penambahan bangunan SD dan SMP serta sumberdaya pengajar guru SD dalam fokus pembangunan manusia di Kabupaten Lebak akan menjadi salah satu faktor penentu dalam peningkatan kualitas sumberdaya manusia secara simultan dan berkelanjutan selama lima tahun ke depan. Kesimpulan kedua, terdapat satu faktor yang menurunkan IPM Kabupaten Lebak, yakni rasio guru SD. Dampak dari hasil pemodelan ekonometrika tersebut bukan berarti mengesampingkan faktor tersebut dalam pembangunan bidang pendidikan. Namun yang perlu diperhatikan bahwa hingga saat ini rata-rata lama sekolah di Lebak baru 6,2 tahun, sehingga perlu memfokuskan diri dalam pembangunan pendidikan dasar setingkat SD dan SMP. Selain itu juga, rasio SD di kecamatan-kecamatan Kabupaten Lebak masih dianggap cukup untuk bisa memberikan pelayanan terhadap jumlah penduduk di masing-masing kecamatan, sehingga kebijakan penting yang perlu dipertimbangkan adalah kebijakan peningkatan kapasitas guru SD. Terdapat kendala yang cukup memberatkan proses pembangunan khususnya di daerah-daerah terpencil dan sulit diakses yakni terkait dengan budaya dan kebiasan masyarakat lokal. Sebagian besar masyarakat lokal belum sepenuhnya sadar akan pentingnya pendidikan bagi generasi muda. Masyarakat masih menganggap pendidikan hanya untuk belajar membaca, menulis dan berhitung saja. Jadi apabila seorang anak sudah bisa membaca, menulis dan berhitung maka hal itu sudah dianggap cukup. Karena pekerjaan di ladang dan sawah tidak membutuhkan ijazah sekolah tinggi. Apabila memiliki anak

139

perempuan, maka para orang tua lebih bersedia mengeluarkan uang besar untuk segera menikahkan putrinya daripada menyekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Akibatnya, pertumbuhan tingkat IPM di Kabupaten Lebak khususnya dalam hal lama sekolah berjalan lambat dan cukup sulit untuk ditingkatkan. Pemodelan ekonometrika terkait dengan pengaruh pelayanan publik kesehatan terhadap kualitas sumberdaya manusia (IPM) memiliki beberapa indikasi. Pertama, terdapat lima faktor yang berpengaruh signifikan dan berdampak positif meningkatkan IPM khususnya dalam hal rata-rata lama hidup. Variabel yang berpengaruh positif tersebut adalah rasio jumlah puskesmas, rasio rumah sakit, rasio dokter, rasio perawat dan rasio bidan. Di tahun 2008, rata-rata lama hidup Kabupaten Lebak masih cukup rendah dan di bawah rata-rata, yakni 63,12 tahun. Kondisi ini menjelaskan bahwa kondisi kesehatan masyarakat Lebak masih rendah karena rendahnya rata-rata lama hidup. Bahkan jumlah gizi buruk di tahun 2009 hampir menginjak angka 5.000 anak. Rasio Puskesmas memiliki dampak positif yang cukup besar karena Puskesmas memiliki peran yang sangat strategis dalam pelayanan kesehatan dasar di kecamatan. Secara kuantitas, sebenarnya Lebak masih kekurangan Puskesmas. Dinas Kesehatan Kab. Lebak mengalami kesulitan dalam penambahan jumlah puskesmas karena penyebaran penduduk yang masih belum merata khususnya di daerah terpencil, selain itu juga terkendala dengan pegawai tenaga kesehatan yang memang masih juga kekurangan. Namun Puskesmas yang ada cukup memberikan hasil yang positif dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya dalam hal pelayanan kesehatan ibu dan anak. Selain puskesmas, faktor pelayanan kesehatan yang sangat menentukan lainnya adalah rasio jumlah rumah sakit. Pembangunan rumah sakit di Kecamatan Malingping di tahun 2008 berdampak sangat besar terhadap tingkat kesehatan masyarakat. Masyarakat wilayah Lebak Selatan yang membutuhkan pelayanan gawat darurat dan rawat inap tidak lagi harus menempuh jarak hingga lebih dari 100 km menuju rumah sakit umum daerah di Rangkasbitung. Faktor ketiga dan keempat yang juga berpengaruh positif lainnya adalah rasio dokter, perawat dan bidan. Posisi dokter jelas sangat diperlukan oleh masyarakat di Lebak, khususnya wilayah di luar Rangkasbitung. Jumlah dokter di

Variabel yang berpengaruh menurunkan kualitas sumberdaya manusia di Lebak adalah keberadaan Puskesmas Pembantu (Pustu). Padahal praktek dokter umum sangat diperlukan dalam hal peningkatan kesehatan dan pelayanan penduduk yang menderita penyakit. Apabila sesuai dengan pemodelan ekonometrika. faktor yang sangat berpengaruh dalam peningkatan kualitas keesehatan masyarakat adalah kedudukan bidan. Saat ini masyarakat lebih memilih pelayanan puskesmas dibandingkan puskesmas pembantu. maka kebijakan yang cukup efektif dalam meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (IPM) adalah dengan cara meningkatkan rasio belanja untuk dialokasikan pada pembangunan insfrastruktur pendidikan dan kesehatan. hal yang cukup mengagetkan adalaah ternyata di Lebak sama sekali tidak ada dokter spesialis. faktor lain yang juga sangat menentukan adalah peningkatan kuantitas dan kualitas tenaga pendidikan dan kesehatan. Selain itu. namun daerah luar seperti Serang. Agar pembangunan dan pelayanan publik berjalan secara adil dan pertumbuhan menjadi lebih merata. Dalam hal tenaga kesehatan pemerintah perlu memberikan perhatian khusus pada posisi dokter. Posisi bidan sangat sentral perannya dalam proses persalinan dan pasca persalinan. Selain dokter. Cilegon dan Tangerang. Hal ini disebabkan oleh kelangkapan peralatan dan tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas. pemerintah sebaiknya mampu memberikan fokus pembangunan dalam hal ketersediaan dan juga kualitas pelayanan puskesmas dan rumah sakit. perawat dan bidan yang akan memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. sehingga bidan memegang peran yang sangat penting dalam peningkatan kualitas sumberdaya manusia di Kabupaten Lebak. maka alokasi pembangunan sebaikanya diberikan kepada kecamatan-kecamatan yang memiliki jumlah fasilitas dan tenaga pendidikan –kesehatan rendah. Program anak sehat pun kini lebih banyak dipegang oleh bidan. Oleh karena itu. Sebagian dokter spesialis yang mengisi praktek di rumah sakit Lebak bukan berasal dari Lebak. sehingga peningkatan IPM akan dimulai dengan . Selain itu. inti dari kesimpulan dalam hal pengembangan kualitas kesehatan.140 daerah-daerah yang ada masih sangat minim dan perlu tamban yang tidak sedikit. mulai dari imunisasi hingga pendampingan kesehatan serta gizi balita.

.141 peningkatan kualitas sumberdaya manusia dari pemerataan IPM kecamatankecamatan yang ada di Kabupaten Lebak.

rasio belanja infrastruktur umum. khususnya melihat sektor yang menjadi basis ekonomi. Melalui Tipologi Klassen ini akan dilihat perkembangan ekonomi tiap kecamatan. pendapatan per kapita dan laju pertumbuhan ekonomi. Untuk bisa melihat struktur ekonomi secara detail. Kualitas sumberdaya manusia ini akan menjadi faktor yang cukup mempengaruhi struktur ekonomi wilayah di Lebak. indeks pembangunan manusia. Setelah dilihat bagaimana kondisi umum struktur ekonomi di Kabupaten Lebak hingga tingkat kecamatan. Selanjutnya akan dianalisis faktor-faktor mana saja yang menyebabkan atau menjadi sumber disparitas pembangunan di Kabupaten Lebak. nantinya akan diketahui kecamatan mana yang memiliki pertumbuhan cepat atau lambat dan penghasilan tinggi atau rendah. yaitu bertujuan untuk melihat disparitas dari jumlah penduduk miskin. Beberapa faktor yang diestimasi menjadi faktor penyebab disparitas adalah laju pertumbuhan PDRB. rasio belanja infrastruktur pendidikan dan rasio belanja infrastruktur kesehatan. Pengaruh kualitas SDM terhadap struktur ekonomi akan dilihat dari sejauh mana perkembangan PDRB Kabupaten. Disparitas ini akan ditinjau dari indeks kemiskinan. Selain itu. maka akan dilakukan analisis location quotient (LQ). Analisis disparitas kedua akan menggunakan Indeks Williamson yang dapat memperlihatkan tingkat disparitas wilayah dari penyebaran PDRB di Lebak. pengaruh yang bisa dicoba untuk diteliti adalah dampaknya terhadap tingkat disparitas wilayah Lebak. penelitian ini juga akan mencoba menganalisis sejauh mana perkembangan wilayah menggunakan Tipologi Klassen. Apabila ditinjau menggunakan indikator IPM. sehingga akan bisa ditemukan sektor mana yang menjadi basis dan non-basis.142 BAB VII PENGARUH KUALITAS SUMBERDAYA MANUSIA TERHADAP STRUKTUR EKONOMI DAN DISPARITAS WILAYAH Kualitas sumberdaya manusia di Kabupaten Lebak menjadi sorotan utama dalam pembangunan wilayah di era otonomi daerah. . maka kualitas sumberdaya manusia di Lebak masih tergolong rendah dan di bawah rata-rata Provinsi Banten. Selain struktur ekonomi. maka selanjutnya akan coba dilihat tingkat disparitas pembangunan.

maka akan digunakan analisis Tipologi Klassen. Melalui strukutur ekonomi ini juga akan terlihat secara deskriptif struktur pencarian nafkan penduduk dan juga kondisi maju atau tertinggalnya wilayah berdasarkan PDRB dan laju pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut diperlukan agar mampu meningkatkan standar hidup minimum masyarakat Kabupaten Lebak dan demi mengimplementasikan pembangunan berkelanjutan. maka secara eksplisit akan terlihat keragaan umum perkembangan penduduk secara ekonomi. Pendapatan ini akan menerangkan pendapatan rata-rata yang didapat tiap penduduk per tahunnya. Nilai pendapatan per kapita ini didapat dengan membagi PDRB Kabupaten Lebak dengan jumlah penduduk yang ada di Kabupaten Lebak pada periode satu tahun. Selain itu. Dimana dengan Tipologi Klassen ini selanjutnya akan ditemukan struktur perekonomian tingkat kecamatan. laju pertumbuhan ekonomi. Perkembangan ekonomi di Lebak juga seyogyanya mampu meningkatkan mobilitas serta penggerakan potensi dan sumberdaya domestik atau lokal.143 7. pembangunan ekonomi yang ada harus memberikan ruang yang cukup bagi partisipasi masyarakat luas sehingga lebih familiar disebut dengan perencanaan pembangunan yang partisipatif untuk membangun kapasitas sosial dan juga kelembagaan masyarakat.1 Struktur Ekonomi Dengan melihat struktur ekonomi suatu wilayah. Selain itu. Pembahasan struktur ekonomi dalam penelitian tesis ini akan menggunakan beberapa indikator yakni PDRB tingkat Kabupaten Lebak. Indikator pertumbuhan ekonomi umumnya didasarkan atas dasar pertumbuhan PDRB untuk melihat perubahan perekonomian. . pendapatan per kapita. agar pembahasan lebih komprehensif terkait ketertinggalan wilayah. Indikator kedua pembangunan yang dibahas adalah pendapatan per kapita. PDRB akan menjelaskan bagaimana ukuran produktivitas wilayah yang merupakan total produksi kotor dari suatu wilayah. yakni total nilai tambah dari semua barang dan jasa yang diproduksi oleh Kabupaten Lebak dalam periode satu tahun. sehingga status maju dan tertinggalnya suatu kecamatan akan ditemukan dari perspektif pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita. Untuk melihat sektor basis dan non basis akan digunakan analisis Location Quotient (LQ).

000.522 1. Untuk menentukan banyaknya produksi secara keseluruhan (aggregate output) dalam penghitungan pendapatan di daerah dapat menggunakan metode perhitungan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).671 592.375 2.192.696 35.749.000 7.149 294.975 188.000 1.1 PDRB Kabupaten Lebak Tingkat pendapatan (local income) dan jumlah produksi (product accounts) adalah metode penghitungan yang digunakan untuk menentukan aktivitas perekonomian secara keseluruhan.755 522.442 1.841 1. pertumbuhan PDRB Kabupaten Lebak Tahun 2005.869. 8.381.827 2. Tahun 2010 Gambar 20 PDRB Atas Dasar Harga Berlaku di Kabupaten Lebak Tahun 2005 – 2009 (Jutaan Rupiah) Perekonomian di Kabupaten Lebak dalam kurun waktu 2005-2009 mengalami peningkatan yang signifikan.697 2.291 1.506.121 38.442 546.434 770. Kemudian disusul sektor perdagangan.398.1.2009 menunjukan pertumbuhan positif.009 304.311 644.803 253.900 645.672 252.000 5.063 66.239.476 95.000.000.639 41.403 721. Gas dan Air Bersih 1.969 460.144 7.336 217.177 526.000 227.000 26.885 326. Secara garis besar.252 32.000. Persewa an dan jasa Perusahaan Jasa-jasa Jumlah Total PDRB 3.000.869.000.000. hotel dan restoran serta sektor jasa-jasa.001.698 280. Pertumbuhan tersebut cukup menggembirakan bagi Lebak yang tengah berbenah agar segera keluar dari statusnya sebagai kabupaten tertinggal di Indonesia.934 732.000 6.329 86.676 70.987 Bangunan dan Kontruksi Perdagangan.437.000 4.235 2.927 6.630. .495 282.169 7.499 397. Secara lebih jelas.671 589.721 505.388 645.145 0 2005 2006 2007 2008 2009 Sumber : BPS Kabupaten Lebak.493 90.844.314 2.273. Hal ini didorong oleh peningkatan produktivitas sektor pertanian sebagai sektor dominan dalam perekonomian di Kabupaten Lebak.105. kondisi PDRB Kabupaten Lebak atas harga berlaku dapat dilihat pada Gambar 21 berikut ini.005 673.000 1.939 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.000.891 4. Hote l dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.385 6.029.813 5.

87 0. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 22.67 8.89 23. Hal ini dibuktikan oleh sektor perdagangan. Gas dan Air Bersih Bangunan dan Kontruksi Perdagangan. sedangkan peranan terkecil dipegang oleh sektor listrik.13 4. masih didominasi oleh tiga sektor utama yaitu dimulai dari sektor pertanian.7 4.55 1.19 0.6 9.61 1.39 0 2005 2006 2007 2008 2009 Sumber : BPS Kabupaten Lebak.8 10. hotel dan restoran.17 22.6 4. gas dan air bersih dengan kontribusinya yang hanya berkisar 0.16 4. perdagangan. sektor pertanian terus mengalami penurunan kontribusi terhadap total PDRB yang mengindikasikan bahwa di Kabupaten Lebak perlahan namun pasti telah terjadi pergeseran struktur ekonomi.92 25. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.84 4.56 9.57 9.45 1.29 10.79 4 0.82 4.56 24.36 38.55 9.56%-0.65 9.34 35.71 10.9 4. Dari ketiga sektor utama tersebut. 150 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan 100 10.31 34.45 Listrik.3 22.05 0.35 4. dimana peran sektor primer mulai diambil oleh sektor tersier.2 0. Dalam kurun waktu 2005-2009 struktur perekonomian Kabupaten Lebak masih didominasi oleh sektor pertanian dengan kontribusinya yang berkisar 34%-35%. hotel dan .76 1.35 36.49 36.49 9. Tahun 2010 Gambar 21 Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Lebak Tahun 2005-2009 (Persentase) Dari tabel di atas terlihat bahwa struktur perokonomian Kabupaten Lebak pada kurun waktu 2005-2009 tidak banyak mengalami pergeseran.57%.58 10.145 Untuk melihat struktur perekonomian suatu daerah dapat dilihat dari distribusi persentase Nilai Tambah Bruto (NTB) sektoral terhadap PDRB atas dasar harga berlaku. serta sektor jasa-jasa. Persewaan dan jasa Perusahaan Jasa-jasa 50 3.26 1.51 9.6 8.65 9.

Tahun 2010 Gambar 22 PDRB Kecamatan atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2005-2009 (Jutaan Rupiah) Kondisi yang cukup berbeda ditunjukan oleh PDRB Kecamatan pada rentang tahun 2005-2009. Akan tetapi terjadi anomali pada satu kecamatan. secara umum pertumbuhan angka PDRB menunjukan angka yang positif dan terus menaik dengan sekali mengalami penurunan pada tahun 2008.000. yakni Kecamatan Rangkasbitung yang berbeda sendiri dengan memiliki PDRB selama lima tahun terakhir sebesar Rp. serta jasa-jasa yang mengalami trend kenaikan kontribusi terhadap total PDRB dalam lima tahun terakhir.00 1.200.00 400.00 800.000. 300.000.000.000. . Sehingga nilai tambah dari penjualan produk banyak terjadi di Kecamatan Rangkasbitung.000.00 2005 2006 2007 2008 2009 Malingping Wanasalam Panggarangan Bayah Cilograng Cibeber Cijaku Banjarsari Cileles Gunung Kencana Bojongmanik Leuwidamar Muncang Sobang Cipanas Sajira Cimarga Cikulur Warunggunung Cibadak Rangkasbitung Maja Curugbitung Sumber : BPS Kabupaten Lebak. Sebagian besar kecamatan atau sekitar 27 kecamatan memiliki PDRB berkisar pada angka yang merata antara Rp 100.146 restoran.00 200.000.000.000 – Rp.000.000.000.000. 1. Walau terjadi disparitas.000 – Rp.00 0.000.000. Pada sisi lainnya.000.00 600. kecamatan penghasil justru tidak mendapatkan nilai tambah yang besar dalam meningkatkan PDRB pada level kecamatan. 1000.000. pengangkutan dan komunikasi. 800. Perbedaan tingkat PDRB tersebut menunjukan adanya disparitas yang sangat mencolok antara satu wilayah yang menjadi pusat atau kutub pertumbuhan dengan wilayah lain dalam satu kabupaten.000. Penyebab disparitas ini sebagian besar terjadi penyedotan sumberdaya dari kecamatan-kecamatan penghasil produk pertanian primer kepada kecamatan yang menjadi tempat pengolahan atau penjualan.

2 Tenaga Kerja Pada tahun 2009.473 4. hotel dan restoran yakni sebesar 16.697 7.376 16. Tahun 2010 .518 2.54 Jasa-jasa 44.31 Bank dan lembaga keuangan 2. perkebunan dan perikanan.1. sektor yang menyerap tenaga kerja terbanyak adalah sektor pertanian. maka nilai tambah yang diterima pun cenderung tidak terlalu tinggi.08.147 7.68 Pertambangan dan Penggalian 12. Angka ini adalah sepertiga dari jumlah penduduk total Kabupaten Lebak. gas dan air minum 1.64 Industri Pengolahan 26.28 Bangunan/konstruksi 21. Komoditas yang mayoritas menjadi bahan dagangan adalah bahan-bahan primer pertanian. Sebagian besar bekerja sebagai buruh tani tak tetap yang menunggu musim tanam dan panen. Lebak.339 0. Sektor utama lainnya yang memberikan kontribusi cukup besar adalah sektor perdagangan.846 jiwa. Karena sebagian bahan tersebut masih primer dan belum mampu diolah semuanya. jumlah total penduduk di atas 10 tahun yang telah bekerja adalah sebanyak 473.846 100 Sumber : BPS Kab. Tabel 36 Jumlah Penduduk Usia 10 Tahun ke Atas yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2009 Lapangan Pekerjaan Utama Jumlah Total Persentase Pertanian 254.52 Perdagangan. Secara umum.577 0.51 Listrik.44 Lainnya Jumlah Total 473.839 9. yakni berkisar pada angka 15 persen. Persentase ini dari tahun ke tahun semakin menurun proporsinya seiring dengan makin berkembangnya sektor-sektor lain di luar pertanian.147 5.880 53. hotel dan restoran 76. Hal ini sangatlah wajar karena lebih dari 70 persen penduduk masih tinggal di wilayah perdesaan yang lapangan kerja utama penduduknya berada pada sektor pertanian dan perikanan. Pengangguran ini lebih banyak disebabkan oleh pekerjaan tak tetap masyarakat yang tinggal di perdesaan. Jumlah pengangguran terbuka di tahun 2009 masih cukup tinggi. sehingga cukup sulit untuk meningkatkan pendapatan secara signifikan.08 Angkutan dan Komunikasi 34.

Pada level kecamatan tingkat menengah.467. 7000000 6000000 5000000 4000000 3000000 2000000 1000000 0 2005 2006 2007 2008 2009 4.000. Dimana pada tahun 2005 sebesar Rp. Adapun nilai PDRB perkapita selama kurun waktu 5 tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut.3 Pendapatan per Kapita Secara garis besar pertumbuhan PDRB Kabupaten Lebak tahun 2005-2009 menunjukan pertumbuhan positif. dalam kurun lima tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup signifikan.000 di tahun 2005 menjadi Rp. Sedangkan untuk kecamatan dengan tingkat ekonomi tinggi juga mengalami peningkatan yang tidak jauh berbeda.151. 4.000.000. 6.778.1. PDRB perkapita penduduk Lebak pada tahun 2008 mencapai angka 3.754 4. 8. dimana angka ini terus mengalami peningkatan tiap tahunnya.044 Sumber : BPS Kabupaten Lebak.320 4.000 lima tahun kemudian (tahun 2009).000. Tahun 2010 Gambar 23 PDRB Per Kapita atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Lebak Tahun 2005 – 2009 Sama halnya dengan pendapatan per kapita kecamatan yang berada di Kabupaten Lebak.987. Hal ini mengindikasikan adanya perubahan peningkatan kesejahteraan penduduk. .323 5. pendapatan perkapita meningkat dari Rp.000 menjadi Rp. Idealnya peningkatan PDRB perkapita selalu di atas nilai inflasi.930 5. 3.000 pada tahun 2009.000 namun lima tahun kemudian telah meningkat menjadi hampir menyentuh angka Rp 4.148 7. Pada kecamatan yang berada di level bawah di tahun 2005 masih memiliki pendapatan per kapita sekitar Rp.000. 6.543. Peningkatan ini dapat dikatakan cukup baik karena tingkat kesejahteraan masyarakat pun mengalami peningkatan tajam.000.01 juta (ADHK) dan 5.000.78 juta (ADHB).

yakni sektor listrik. terdapat tiga sektor yang mengalami penurunan laju selama lima tahun terakhir.000.000 8.000.000 2. Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kabupaten Lebak Tahun 2005-2009 berada pada kondisi yang fluktuatif akibat dampak negatif yang ditimbulkan oleh krisis global pada pertengahan tahun 2008. Artinya bahwa kenaikan laju pertumbuhan ekonomi lebih rendah daripada penurunan laju.1.000.000. sektor industri pengolahan dan sektor keuangan. pertumbuhan ekonomi dapat diartikan sebagai suatu ukuran kuantitatif yang menggambarkan suatu perekonomian dalam tahun tertentu apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pemerintah Kabupaten Lebak berupaya untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang secara mapan (steady economic growth). kenaikkan laju pertumbuhan tidak sebanding dengan penurunan yang terjadi pada tahun sebelumnya.149 9.000.000. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lebak mengalami fluktuasi yang ternyata mengarah secara negatif.000 5.000.4 Laju Pertumbuhan Ekonomi Secara terminologis. persewaan dan jasa perusahaan. Mengingat kondisi perekonomian pasca krisis global yang memicu kondisi perekonomian baik perekonomian regional.000 7. gas dan air bersih. Selama lima tahun terakhir. .000 6.000. Tahun 2010 Gambar 24 PDRB per Kapita Kecamatan atas Dasar Harga Berlaku 2005-2009 (Rupiah) 7.000 4.000. Dari beberapa lapangan usaha.000 3. nasional maupun internasional.000 0 1 2 3 4 5 Malingping Wanasalam Panggarangan Bayah Cilograng Cibeber Cijaku Banjarsari Cileles Gunung Kencana Bojongmanik Leuwidamar Muncang Sobang Cipanas Sajira Cimarga Cikulur Warunggunung Cibadak Rangkasbitung Maja Curugbitung Sumber : BPS Kabupaten Lebak.000 1.

Keempat kecamatan di luar Rangkasbitung tersebut mengalami penurunan yang cukup tinggi karena kecamatan tersebut hanya mengandalkan pertanian primer sebagai . Tahun 2010 Gambar 25 Laju Pertumbuhan Ekonomi Berdasarkan Harga Berlaku Kabupaten Lebak Tahun 2005-2009 (Persentase) Pada tingkat kecamatan. Cikulur dan Warunggunung. Cijaku. Sajira dan Maja. Secara lebih lengkap perkembangan LPE Kabupaten Lebak periode Tahun 2005 – 2009 dapat dilihat pada tabel dan grafik di bawah ini. Pertumbuhan ekonomi tiap kecamatan secara umum mengalami pertumbuhan yang konstan. yakni berkisar pada angka 3-5 persen. Sajira. Di tahun 2006. Namun terjadi penurunan yang sangat besar di tahun 2008 pada beberapa Kecamatan. Gas dan Air Bersih Bangunan dan Kontruksi Perdagangan. Banjarsari. laju pertumbuhan ekonomi pun mengalami perkembangan yang fluktuatif.150 Penurunan ini memiliki beberapa alasan yang cukup mendasar yakni imbas dari krisis global sehingga mayoritas masyarakat menurunkan daya beli dan konsumsi. Cibeber. Pada tahun 2005. Cipanas dan Rangkasbitung. Sedangkan dari sisi pengusaha pun ikut menurunkan kapasitas produksinya. laju pertumbuhan perekonomian pun masih ada yang negatif yakni Bayah. yakni Bojongmanik. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan. Cibeber. Cijaku. 35 30 25 20 15 10 5 0 2005 2006 2007 2008 2009 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Persewaan dan jasa Perusahaan Jasa-jasa LPE Kabupaten Lebak Sumber : BPS Kabupaten Lebak. Banjarsari. terdapat beberapa kecamatan yang mengalami laju pertumbuhan negatif. Panggarangan. kecamatan tersebut sebagian besar adalah kecamatan yang berada di wilayah selatan dan utara Kabupaten Lebak seperti Panggarangan. Gunung Kencana.

7. melalui LQ dapat menghitung perbandingan antara . Karena sangat terkait dengan perdagangan internasional. pertumbuhan kecamatan-kecamatan tersebut mengalami penurunan yang sangat drastis. baik ekpor maupun impor.151 sumber PDRB-nya. Tahun 2010 Gambar 26 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kecamatan atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2005-2009 (Persentase) Penurunan pertumbuhan ekonomi karena krisis global ini memang sangatlah wajar. karena kondisi politik yang di tahun 2008 tengah terjadi pergulatan politik pemilihan kepala daerah. Sedangkan untuk penurunan Kecamatan Rangkasbitung.1. Dengan kata lain. Terlebih cukup banyak bahan-bahan baik mentah maupun jadi yang ada di Indonesia termasuk Lebak berasal dari impor kepada negara luar.5 Analisis Location Quotient (LQ) Location Quotient (LQ) adalah suatu metode untuk menghitung perbandingan relatif sumbangan nilai tambah sebuah sektor di Kabupaten Lebak terhadap sumbangan nilai tambah sektor yang bersangkutan dalam skala Provinsi Banten. Selain itu juga. sehingga pada saat ada imbas ekonomi global. sehingga kegiatan perekonomian dan pembangunan banyak yang tertunda akibat terkonsentrasi pada pesta demokrasi lokal di Kabupaten Lebak. disebabkan oleh penurunan kecamatan-kecamatan lain yang menyuplai berbagai sumberdaya ekonomi. 30 20 10 0 -10 -20 -30 -40 -50 -60 2005 2006 2007 2008 2009 Malingping Wanasalam Panggarangan Bayah Cilograng Cibeber Cijaku Banjarsari Cileles Gunung Kencana Bojongmanik Leuwidamar Muncang Sobang Cipanas Sajira Cimarga Cikulur Warunggunung Cibadak Rangkasbitung Maja Curugbitung Kalang Anyar Lebak Gedong Cirinten Cigemblong Cihara Sumber : BPS Kabupaten Lebak.

16 673. Tahun 2010 7.5.1 Analisis Sektor Basis Berdasarkan hasil perhitungan LQ. Dilihat dari struktur perekonomian Kabupaten Lebak.113.152 share output sektor-i di kota/kabupaten dan share output sektor-i di provinsi. secara spesifik sektor tersebut adalah sebagai berikut : a.73 1.04 0. tabulasi data dapat dilihat pada tabel berikut ini. Hingga tahun 2009.844.08 3.15 2.86 LQ 4.15 35.506.544. Persewaan dan jasa Perusahaan Jasa-jasa Jumlah Total PDRB Kab Lebak 2.15 1. Terlihat bahwa Kabupaten Lebak masih bergantung banyak pada sektor primer pertanian.161.92 326. Analisis Location Quotient (LQ) di Kabupaten Lebak akan menggunakan data PDRB Kabupaten Lebak dan Provinsi Banten tiap sektor atas dasar harga berlaku tahun 2009. persentase nilai sektor ini sebesar 38 persen.273. Gas dan Air Bersih Bangunan dan Kontruksi Perdagangan. Hal tersebut menunjukan bahwa Kabupaten Lebak sebetulnya memiliki potensi besar untuk bisa menjadi kabupaten yang mandiri secara ekonomi dan finansial. Secara terperinci.25 1. Kabupaten Lebak memiliki enam sektor yang menjadi sektor basis.64 7.85 1.14 95. Sehingga akan membandingkan jumlah tenaga kerja per sektor pada kabupaten dengan provinsi.88 7.93 Prov.553. maka di Kabupaten Lebak terdapat enam sektor yang menjadi unggulan atau menjadi sektor basis karena angka LQ lebih besar dari satu (LQ>1).35 1.371. Tabel 37 Perhitungan Location Quotient (LQ) Kabupaten Lebak Tahun 2009 Berdasarkan PDRB atas Dasar Harga Berlaku per Sektor (Miliar) No.031. .40 770.21 0.00 294. pertanian merupakan sektor yang paling banyak memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.316. Banten 2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.72 Peringkat 1 6 8 9 4 3 7 5 2 Sumber : Hasil Perhitungan.232.29 721.14 1.07 1.63 1.1.40 15. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan. Pertanian Berdasarkan hasil perhitungan LQ PDRB tahun 2009.21 0.99 438.98 1.464.47 41.

524 ton.408 kg. atau 55% dari total produksi daging Kabupaten Lebak. Untuk perikanan budidaya dikelompokan menjadi budidaya air tawar dan budidaya air payau.476.319. Potensi perikanan di Kabupaten Lebak terdiri atas Perikanan Tangkap dan Perikanan Budidaya. Untuk komoditas hortikultura.905 penduduk Kabupaten Lebak selama 20 bulan dengan asumsi beras tidak dijual ke luar daerah.286 Ton. pada tahun 20042009 mengalami rata-rata pertumbuhan sebesar 5.499 Kg. Pada tahun 2009 produksi ayam ras pedaging sebanyak 3. Untuk produksi telur. Untuk ikan tangkap diperairan umum produksi terbesar pada jenis ikan tawes sebanyak 10. peternakan dan kehutanan dan perikanan.810 Kg. produksi yang tertinggi ada pada ubi kayu dengan total produksi sebanyak 30. palwija dan hortikulura.278 ton. hampir 70 persen sawah yang ada telah dialiri oleh irigasi teknis dan mampu menghasilkan panen tiga kali dalam setahun.276.8 Ton. yang terbagi atas padi sawah sebanyak 401.96 ton.453. Sedangkan produksi . disusul oleh rambutan sebesar 5.765 Ton dan durian sebesar 3.545. Total produksi padi sebanyak 428.900 Kg. yang terdiri dari jagung kedelai kacang tanah. Pada tahun 2009.153 sebagian besar disumbangkan oleh subsektor bahan makanan yang terdiri dari komoditas padi.402.508. Pada Tahun 2009 produksi jenis ikan tangkap laut sebagian besar jenis ikan Cakalang dan Tongkol dengan masing-masing produksi sebesar 305.233. kacang hijau dan ubi kayu serta ubi jalar.7%. tiga hasil produksi tertinggi ada pada tanaman pisang sebesar 112. Perikanan tangkap terbagi atas perikanan tangkap laut dan perairan umum. Sedangkan untuk komoditas palawija. cukup memenuhi kebutuhan pangan untuk 1.524 ton dan padi gogo sebanyak 27. Komoditas sektor pertanian terdiri dari tanaman bahan utama atau pangan.749 Ton.596 Ton. Telur ayam buras memberikan konstribusi terbesar pada tahun 2009 yaitu sebanyak 1. Tanaman pangan utama banyak tersebar di hampir seluruh kecamatan di Lebak.455 kg dan 284. tanaman perkebunan. Jagung merupakan komoditas palawija dengan hasil produksi terbesar kedua dengan total produksi sebesar 12. jumlah produksi padi di Kabupaten Lebak sebesar 428.524 ton tersebut setara dengan beras sebanyak 231.715 Kg. Produksi tertinggi kedua adalah ayam buras yaitu sebesar 1.

Untuk jumlah usaha tiap subsektor terdiri dari sektor jasa pendidikan terdiri dari 1. Jumlah tenaga kerja yang disedot untuk sektor jasa ini pun termasuk cukup banyak yakni 44.665 batang.777.7 ton).154 budidaya ikan pada tahun 2009 produksi terbesar pada jenis ikan mas sebanyak 1.206. teh (4. Jasa-jasa Sektor jasa termasuk ke dalam sektor basis di Kabupaten Lebak yang memberikan konstribusi cukup besar terhadap PDRB yakni sebesar 2.10 Ha atau 22.05 ha.55 % dari luas wilayah Kabupaten Lebak.118. cengkeh (725. Sedangkan produksinya sebesar 2. Komoditas perkebunan yang diusahakan di Kabupaten Lebak sebanyak 15 jenis tanaman. b.436 Kg.20 ton). karet (3.55 ha.30 ton). Secara terperinci sektor jasa-jasa terdiri dari dua sub sektor yakni sektor pemerintahan umum dan sub sektor swasta.331. Komoditas kehutanan yang memiliki prospek pasar yang baik adalah bambu.20 ton).70 ton).117.50 ha dan perkebunan besar swasta seluas 6.139. terdiri dari perkebunan rakyat seluas 51. kopi (494. Untuk bidang perkebunan. 09 % dari luas Kabupaten Lebak.00 ha atau setara dengan 197.4 ton).169. aren (1.651.879. kapuk (14.40 ton). diantaranya 10 komoditas unggulan utama yaitu : kelapa (12.046. Adapun luas lahan kritis yang masih harus ditangani seluas 22. . jambu mete (2.520 unit usaha. Luas tanaman bambu pada tahun 2009 tercatat sebesar 2.786. yakni sosial kemasyarakatan. vanili (2.00 ton).870. Sentra areal bambu terutama terdapat di kecamatan Cimarga.88 ha. perkebunan besar negar seluas 8. jasa kemasyarakatan (sosial budaya) 5. kelapa hibrida (44.11 ton). kelapa sawit (2.80 ton). jasa kesehatan dan kegiatan sosial 624 unit usaha.60).15 miliar rupiah.783. Sajira dan Cikulur.692 unit usaha dan jasa perorangan melayani rumah tangga 221 unit usaha.527.40 ton).839 pekerja.70 ton). hiburan dan rekreasi serta perseorangan dan rumah tangga.800 btg/tahun.36 ton).922 Ha atau 31.161. Luas kawasan hutan di Kabupaten Lebak adalah 95. Dalam subsektor swasta itu sendiri terbagi menjadi tiga bagian. kakao (1.858 rumpun/11. luas areal perkebunan yang ada di wilayah Kabupaten Lebak adalah 66. pandan (83.20 ton) dan jarak pagar (123. lada (21.

Jumlah badan usaha yang teredapat di kabupaten lebak cukup banya dan beragam. Bangunan dan konstruksi Sektor bangunan dan konstruksi di Kabupaten Lebak terdiri dari proyek pembangunan gedung-gedung dan konstruksi jembatan. Jumlah restoran yang ada menjadi penyokong pariwisata serta perhotelan ada sejumlah 253 buah restoran. Hal tersebut dapat terlihat dari jumlah wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang pada tahun 2009 berjumlah total sebanyak 220. c. Dimana jumlah hotel yang ada di Kabupaten Lebak secara keseluruhan berjumlah 24 buah. Distribusi sektor perdagangan ini cukup memberikan dampak yang positif terhadap pembangunan dan menjadi sektor basis hingga tahun 2009. 71 koperasi. sektor bangunan dan konstruksi ini memberikan cukup banyak tempat dalam hal . Pembangunan infrastruktur gedung pada rentang waktu lima tahu terakhir (2005-2009) sangat gencar. d. hotel dan restoran.63 miiar rupiah. hotel dan restoran Sektor perdagangan. Perdagangan. Hal ini wajar mengingat keindahan alam. Usaha hotel dan penginapan di Kabupaten Lebak dapat dikatakan sedang dalam proses berkembang. 140 CV dan 748 PO. Hal tersebut sangat wajar karena pariwisata merupakan salah satu sektor yang terus dikembangkan di Kabupaten Lebak. hotel dan restoran terdiri dari tiga subsektor yakni perdagangan besar dan eceran.733 wisatawan dan jumlah tamu yang menginap sejumlah 27. pembangunan jembatanjembatan yang menghubungkan desa pun cukup banyak. baik pantai maupun tempat-tempat wisata yang ada di Kabupaten Lebak cukup banyak dan menarik.155 Pemasukan sektor jasa-jasa juga banyak disumbangkan oleh subsektor swasta pariwisata. Pembangunan yang cukup besar adalah pembangunan gedung baru rumah sakit umum daerah Ajidarmo di Rangkasbitung dan juga rumah sakit umum daerah di wilayah selatan yakni Malingping. diantaranya yakni PT sebanyak 55. Dengan besaran distribusi terhadap PDRB sejumlah 294. Penataan obyek wisata terus dilakukan guna meningkatkan kenyamanan pengunjung yang datang untuk menikmati keindahan alam di Kabupaten Lebak.901 orang. sehingga interaksi antar spasial wilayah tiap kecamatan cukup baik walau belum bisa dikatakan sempurna. Selain itu.

156 tenaga kerja yang diberdayakan. tanah liat. Sektor pertambangan dan penggalian Lebak saat ini banyak didominasi oleh bahan galian A dan C yang sebagian besar terdiri dari batu kapur. pertambangan tanpa migas dan penggalian. Pertambangan dan penggalian Sektor pertambangan dan penggalian terbagi menjadi tiga sub sektor yakni pertambangan migas. sektor pertambangan dan penggalian memberikan kontribusi terhadap PDRB cukup tinggi yakni sebesar 95.40 miiar rupiah. Potensi lembaga keuangan ini mampu menggerakkan sektor riil yang ada di Kabupaten Lebak. sehingga menjadi bahan utama galian. persewaan dan jasa-jasa perusahaan Sektor keuangan. feldspar. Pada tahun 2009 saja tercatat tenaga kerja yang diberdayakan untuk sektor bangunan dan konstruksi ini sebanyak 21. Keuangan. pasir kuarsa. Dengan LQ yang lebih dari satu untuk tingkat Provinsi Banten. Tidak sedikit perusahaan baik besar atau UKM yang mendapatkan kucuran dana pinjaman keuangan dari lembaga-lembaga keuangan daerah. pasir. sehingga pada akhirnya mampu menggerakan roda ekonomi serta meningkatkan pertumbuhan perekonomian. Sektor ini terbagi menjadi empat subsektor yakni sub sektor bank.16 miliar rupiah. sektor bangunan dan konstruksi ini menjadi sektor basis dan sangat potensial untuk lebih dikembangkan.473 pekerja. Wilayah yang memiliki banyak potensi pertambangan sebagian besar berada di wilayah bagian selatan. terlebih kondisi ruang wilayah Lebak yang masih sangat luas untuk dilaksanakan pengembangan-pengembangan khususnya dalam pembangunan bangunan dan konstruksi. sewa bangunan dan jasa perusahaan. persewaan dan jasa-jasa perusahaan menjadi sektor kelima yang menjadi sektor basis di Kabupaten Lebak. lembaga keuangan lainnya. Pada satu hampir tiga dekade ke belakang. Perputaran uang di sektor keuangan ini cukup memberikan multiplier effect terhadap pembangunan. Pada tahun 2009. persewaan dan jasa perusahaan terhadap PDRB Kabupaten Lebak cukup besar yakni sejumlah 326. e. Lebak sempat terkenal sebagai penghasil emas utama di Jawa Barat (sebelum memisahkan diri . sumbangan sektor-sektor keuangan. zeolit dan batubara. karena memiliki batuan yang cenderung sudah tua. bentonit. Di tahun 2009. f.

angkutan udara dan jasa penunjang angkutan. terminal. angkutan umum dan kereta api.92 miliar rupiah.157 menjadi Provinsi Banten). 7. Wilayah yang belum terjamah oleh sinyal komunikasi lebih banyak terdapat di wilayah selatan. Untuk udara. Kesulitan dalam komunikasi ini bisa saja mempengaruhi ketertarikan investor dalam menginvestasikan dananya untuk proses pembangunan di Lebak selatan. Sektor yang bukan unggulan terdiri dari tiga sektor karena angka LQ lebih kecil dari satu (LQ<1). yakni di tahun 2007 sudah ditutup.2 Analisis Sektor non-Basis Sektor non basis adalah sektor yang secara ekonomi lebih cenderung untuk melakukan impor dari wilayah luar dalam proses pemenuhan kebutuhannya. masih banyak wilayah yang belum tersentuh oleh sinyal telepon kabel maupun telpon non kabel (telepon genggam). Pengembangan sistem transportasi di Kabupaten Lebak ditekankan pada pengembangan sistem transportasi darat. Sistem transportasi darat mencakup sarana dan prasarana jaringan jalan. Untuk bisa berkomunikasi dengan sanak saudara atau rekan kerja.1. Angka ini cukup tinggi namun menjadi sektor non basis karena jumlah sumbangan PDRB dari wilayah lain di Provinsi Banten jauh lebih besar. Pengangkutan dan komunikasi Sektor pengangkutan dan komunikasi terbagi menjadi dua subsektor yakni pengangkutan yang terdiri dari angkutan rel. angkutan jalan raya. sedangkan sub sektor kedua adalah komunikasi. Wilayah itu sebelumnya menjadi donor terbesar pterhadap PAD dan PDRB dalam sektor penggalian dan pertambangan di Lebak.5. Wilayah yang terkenal sebagai penghasil emas adalah daerah Cikotok. . laut dan sungai penyeberang hampir tidak tersedia. angkutan laut. Karena dalam satu tahun bisa menghasilkan emas seberat 270 kg dan perak 450 kg. angkutan sungai dan penyeberangan. Kontribusi sektor pengangkutan dan komunikasi terhadap PDRB cukup tinggi yakni sebesar 721. Hal tersebut sangat wajar karena setiap wilayah memilki keberagaman sumberdaya dan potensi. namun dalam tiga tahun terkahir. Jasa pengangkutan dan komunikasi di Lebak memang masih cukup terbatas. masyarakat perlu mencari perbukitan yang agak tinggi agar bisa mendapatkan sinyal komunikasi. yakni : a. Sama halnya dengan komunikasi.

pariwisata dan perdagangan. justru merupakan potensi yang sangat besar untuk dikembangkan.47 miliar rupiah. Namun. Perusahaan PMA pada tahun 2004 sebanyak 2 perusahaan dan tahun 2009 menjadi 19 perusahaan. pertanian. yang terdiri dari : 1.331.188 orang dengan total nilai investasi sebesar Rp. sektor ini memberikan distribusi terhadap PDRB sebesar 673.617 unit usaha dan industri menengah/besar sebanyak 19 unit usaha. . Permasalahan yang kerap dihadapi oleh para pengusaha/pengrajin industri kecil antara lain adalah keterbatasan pengetahuan/keterampilan dalam teknik produksi dan manajemen usaha. Di tahun 2009. Jumlah tenaga kerja yang terserap dalam kegiatan industri tersebut sebanyak 31. Industri pengolahan Sektor industri pengolahan terbagi menjadi sektor industri migas yang terdiri dari pengilangan minyak bumi dan gas alam cair. 2.-.158 selain itu bisa juga menghambat informasi terkait harga-harga komoditas seperti pertanian dan komoditas lainnya. pertambangan. Perusahaan PMDN pada tahun 2004 sebanyak 1 perusahaan dan tahun 2009 menjadi 5 perusahaan. b. dan sub sektor industri non-migas.636 unit usaha. Dari potensi industri kecil sebagaimana tersebut di atas. di Kabupaten Lebak belum menjadi sektor unggulan yang mampu meningkatkan secara signifikan proses pemerataan pembangunan dan juga pertumbuhan ekonomi. Jumlah investasi swasta di Kabupaten Lebak yang berskala kecil/menengah/besar selama empat tahun terakhir menunjukan adanya peningkatan yang bergerak pada bidang industri.247. Potensi industri di Kabupaten Lebak secara keseluruhan pada tahun 2009 sebanyak 14. maka yang merupakan komoditas unggulan atau yang menjadi andalan pada umumnya sebanyak 10 industri kecil. yang terdiri dari industri kecil sebanyak 14. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 46. perkebunan. 115. Potensi sumber daya alam di Kabupaten Lebak belum dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai akibat keterbatasan teknologi dan modal usaha serta jaringan pemasaran yang belum meluas.000. bukan berarti industri pengolahan tidak bisa ditingkatkan.

. Gunung Kencana. Cimarga.786 Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak. 4. Rangkasbitung dan Cibadak Warunggunung. Cikulur dan Gunungkencana Bayah 2. Angka tersebut relatif rendah apabila dibandingkan dengan kedelapan sektor lainnya yang menjadi sektor utama pembangunan.746 281 2. Rangkasbitung. Leuwidamar. Sajira. yakni sub sektor listrik. dengan kata lain baru 55 persen wilayah yang mampu dialiri listrik. Cibadak. Cijaku. Industri Gula Merah Aren Jumlah Unit Usaha 2.159 3. 3. baru ada lima kecamatan yang mampu dilayani oleh PDAM yakni Rangkasbitung. Cibeber. Sajira.017 perusahaan. Kalanganyar dan Warunggunung. Listrik. 1. gas dan air bersih terdiri dari tiga sub sektor. karena masih terkendala permasalan teknis dan penduduk lebih memilih enegi minyak tanah dan kayu bakar. 7. Cijaku. Anyaman Bambu Emping Melinjo Sale/Keripik Pisang 2. Tabel 38 Sentra Industri Kecil di Kabupaten Lebak Tahun 2009 No. Perusahaan non fasilitas pada tahun 2004 sebanyak 34 perusahaan dan tahun 2009 menjadi 1. gas dan air bersih Sektor listrik. Pada tahun 2009. Malingping dan Warunggunung Leuwidamar Leuwidamar Bojongmanik. Cileles.752 Lokasi / Kecamatan Muncang. Bayah dan Cipanas Cimarga. Banjarsari. 5. Pelayanan untuk air bersih masih terbatas wilayah yang berada pada lingkaran Rangkasbitung. 9. sektor ini memberikan distribus terhadap PDRB sebesar 41 miliar rupiah. Cibeber. 6. 10. gas kota dan air bersih. Cibeber dan Rangkasbitung Rangkasbitung dan Cimarga Cikulur. Bojongmanik. Untuk gas kota. Bata/Genteng Tenun Baduy Tempurung Kelapa Pandai Besi Konveksi Anyaman Pandan 585 90 40 60 10 3. Tahun 2010 c.848 8. Malingping. Panggarangan. Malingping dan Bojongmanik Sajira. Kondisi terbaru di tahun 2009 tercatat bahwa masih terdapat 45 persen wilayah yang belum dialiri oleh ketenagalistikan. saat ini Lebak belum menerapkan hal tersebut.

Kemudian.000 7.939.160 7. Angka ini menunjukan trend pertumbuhan ekonomi ke arah negatif.97 % Rp.273. sehingga dapat dijelaskan struktur ekonomi suatu wilayah berdasarkan daerah referensinya.1. secara umum seluruh kecamatan mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat fluktuatif.869. Tipologi Klassen menggunakan data terkait dengan pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita. terdapat dua kecamatan yang laju pertumbuhan ekonomi dan PDRB-nya di atas rata-rata kabupaten (daerah cepat maju dan cepat tumbuh) yakni Kecamatan Bayah dan Kecamatan Cileles. Untuk tingkat kecamatan. laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lebak cukup tinggi pada tahun 2005. Tabel 39 PDRB dan Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Lebak Tahun 20052009 Indikator Pembangunan LPE Kabupaten Tahun 2005 PDRB Kabupaten Tahun 2005 LPE Kabupaten Tahun 2009 PDRB Kabupaten Tahun 2009 LPE Rata-rata Kabupaten Tahun 2005-2009 PDRB rata-rata Kabupaten Tahun 2005-2009 Jumlah 15. Sedangkan 23 kecamatan lainnya adalah kecamatan yang relatif tertinggal karena memiliki angka laju pertumbuhan ekonomi dan PDRB kecamatan di bawah rata-rata Kabupaten Lebak. .672 % Rp. Terdapat dua kecamatan maju tapi tertekan yakni Rangkasbitung dan Wanasalam. laju pertumbuhan ekonomi berada pada angka 11.000 Sumber : BPS Kabupaten Lebak.000. Kecamatan Cikulur adalah kecamatan yang berkembang pesat. 7.000.77 persen di tahun 2009.77 % Rp.067. kemudian turun menjadi 7.6 Analisis Tipologi Klassen Tipologi Klassen adalah suatu cara untuk mengetahui gambaran mengenai pola dan struktur pertumbuhan ekonomi dari masing-masing daerah.000 11.000.177. Pada tahun 2005.97 persen. Secara rata-rata selama lima tahun terakhir.672 persen. 4.072. yakni 15. 6. Ilustrasi persebaran Matriks Klassen kecamatan di Kabupaten Lebak secara jelas dapat dilihat pada Gambar 28. Tahun 2010 Berdasarkan informasi yang diberikan oleh Tabel 47.

722 7. adalah faktor aksesibilitas transportasi yang tidak didukung oleh jalan yang layak.253.171.356.826.056. Pertama.838 -8.524.315 2.750 2.760 4.121 6.792.687.33 7.105.471 6.861 4.561.971 3.752 6.890.304 5.35 4.197 6.231.196.113 4.013.366.800 5.498.450.292 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Malingping Wanasalam Panggarangan Bayah Cilograng Cibeber Cijaku Banjarsari Cileles Gunung Kencana Bojongmanik Leuwidamar Muncang Sobang Cipanas Sajira Cimarga Cikulur Warunggunung Cibadak Rangkasbitung Maja Curugbitung Kalang Anyar Lebak Gedong Cirinten Cigemblong Cihara 3.449.516.38 2.201 4.55 5.32 2.367 5.296.7 4.459.642 4.622 8. Pada akhirnya.048 3.27 3.576 0.703 4.182.416 5.528 4.252 5.339. sehingga nilai tambahnya cukup rendah.827.36 17.888 3.203 4.94 -5.3 4.906 2.204 2.043.03 LPE Ratarata Kecamatan Tahun 2005-2009 (%) 2.785 5.373 2.398.691.437 4.69 3.366 0.37 3.494 5.03 6.737.039 4.946 3.964.943 5.654 4.622.462 5.89 -1.53 2.43 3.416 4.473 5.58 0 0 0 0 0 4.029.489.900. adalah faktor dominasi pertanian sebagai mata pencaharian dan sumber pendapatan masyarakat.329 3.530 5.88 3.001.75 -5.722 3.4 8.105 2. Tahun 2010 Penyebab ketertinggalan sebagian besar kecamatan di Kabupaten Lebak disebabkan oleh beberapa faktor.875.25 -12.25 4.419.485 3.955 5.139 4.73 18.597.515.300.23 4.419.037 3.979 3.93 0. .36 6.602 4.692. proses pembangunan pun berjalan lambat dan wilayah semakin tertinggal karena perkembangan investasi di Lebak masih jauh dari harapan.241 4.12 4.802 4.458 3.04 5.329 5.732 1 0 0 PDRB Kecamatan Tahun 2005 PDRB Kecamatan Tahun 2009 PDRB Ratarata Kecamatan Tahun20052009 5.489.86 3.882 4.415 5. Kedua.753 6.35 6.497 3.212.629 6.454 5. Ketiga.053 4.938 5.054 0.19 -1.944 6 3.269 4.421.084 -6.44 22 12.644.999.912 2.796 5.542.545 5.610 3.95 12.214.890 3.161 Tabel 40 PDRB dan Laju Pertumbuhan Ekonomi Kecamatan di Kabupaten Lebak tahun 2005-2009 No.906.775.31 5.565.732 4.898 1.088 -7.154. Sebagian besar penduduk bermata pencaharian di sektor pertanian primer yang secara nilai tambah sangatlah rendah.052 4.699.423.772 5.362 -2. dimana sebagian besar kecamatan berada di wilayah selatan kabupaten yang sulit terjangkau. Untuk bisa mengakses wilayah paling selatan atau terjauh di Lebak apabila diukur melalui Rangkabitung memerlukan waktu tempuh kurang lebih 8 jam dengan kondisi jalan yang rusak sangat parah.127 2.633.37 5.97 3.852.73 2.381.737 3.657.058 3.567 4.2 7.105.049 3.814.843.199.621 Sumber : BPS Kabupaten Lebak .022.910.83 4.572.488 4.301.081 4.477 4.22 3.340 5.104 8.457 0 0 0 0 0 6.62 2.917.96 6.24 -0.34 -6.432 6.66 2.47 -4.700 3.620.880.552.44 3.134.57 3. Nama Kecamatan LPE Kecamatan Tahun 2005 (%) LPE Kecamatan Tahun 2009 (%) 5.600.786.169 5.763 3.19 2.426.064.85 0.950.994 0.39 10. adalah faktor geografis.947.247. sebagian besar jalan utama menuju kecamatan rusak sehingga menghambat investasi.32 4.3 4.513 3.231.000 1.062 5.

Struktur ekonomi berdasarkan matrik Tipologi Klassen di tahun 2009 mengalami perubahan yang cukup drastis menuju ke arah negatif atau memburuk.000 2.000 4. seharusnya dapat menjadi titik tolak Lebak untuk menjadi lebih maju. sehingga sebagian besar kecamatan mengalami laju pertumbuhan ekonomi yang negatif.000 3. Apabila Pemkab Lebak segera menjadikan pertanian sebagai ujung tombang pembangunan yang mengarah kepada agroindustri dari hulu hingga hilir serta didukung dengan perbaikan aksesibilitas tentu akan memberikan sumbangan terbesar dalam pertumbuhan ekonomi.162 25 High Growth. Hal tersebut disebabkan oleh depresi dan goncangan ekonomi pada tahun periode tahun 2007-2008.000.000. sebetulnya terdapat peluang baik dalam hal geografis.000 5.000. Low Income High Growth. Hal tersebut terlihat dari laju pertumbuhan ekonomi dan PDRB tiap kecamatan dan tercatat bawah hanya ada dua kecamatan yang dianggap maju namun tertekan. dan dominasi sektor pertanian dalam struktur perekonomiam maupun dari buruknya aksesibilitas. High Income Sumber : Hasil Perhitungan.000 Low Growth.000. Karena di balik segala kekurangan dan hambatan. Low Income Low Growth. High Income 20 Laju Pertumbuhan Ekonomi (%) 15 10 5 0 0 -5 -10 -15 PDRB per Kapita (Rupiah) 1.000 6.000.000. yakni Kecamatan Rangkasbitung dan . Tahun 2010 Gambar 27 Matriks Tipologi Klassen Kabupaten Lebak Tahun 2005 Berbagai macam penyebab ketertinggalan di atas.

8. 10. Cipanas Sajira Cimarga Warunggunung Cibadak Maja Curugbitung Kalang Anyar Lebak Gedong Cirinten Cigemblong Cihara LGHI (High income but low growth/ daerah maju tapi tertekan) 1. 20. struktur penyebaran ekonomi kecamatan tahun 2009 menurut Tipologi Klassen dapat dilihat pada Gambar 28. 7. 11. 3. 23. 16. Sebanyak 26 kecamatan lainnya di tahun 2009 termasuk pada kuadran III Tipologi Klassen atau masih terjebak ke dalam bagian dari daerah-daerah yang relatif tertinggal. 4. 15. 6. . 19. Bayah 2. Tahun 2010 Kecamatan Kalang Anyar sebelumnya adalah kecamatan hasil pemekaran dari kecamatan Rangkasbitung. 2. karena memiliki laju pertumbuhan ekonomi dan PDRB kecamatan di bawah rata-rata kabupaten. 14. 17. Secara terperinci. 22. 18. Rangkasbitung 2. 13. Cikulur 1. Wanasalam Sumber : Hasil Perhitungan. Kecamatan-kecamatan lainnya masih berada pada kuadran III dari Tipologi Klassen. 21. 9. Cileles (r i < r) 1. Tabel 41 Ringkasan Matriks Tipologi Daerah Klassen Kabupaten Lebak Tahun 2005 PDRB per kapita (y) Laju Pertumbuhan (r) (y i < y) HGLI (High growth but low income/ daerah berkembang cepat) (y i > y) HGHI (High growth and high income/ daerah cepat maju dan cepat tumbuh) (r i > r) 1.163 Kalang Anyar. 5. sehingga sangat wajar jika kecamatan ini termasuk sebagai daerah yang maju tapi tertekan. LGLI (Low growth and low income/ daerah relatif tertinggal) Malingping Panggarangan Cilograng Cibeber Cijaku Banjarsari Gunung Kencana Bojongmanik Leuwidamar Muncang Sobang 12.

kopra dan perdagangan yang langsung dikirim ke wilayah lain. Tahun 2010 Gambar 28 Matriks Tipologi Klassen Kabupaten Lebak Tahun 2009 Secara rata-rata. sehingga nilai tambah pendapatan cenderung lebih tinggi. Kecamatan di Kabupaten Lebak yang berada pada posisi tertinggal terlihat kesulitan untuk mampu keluar dari lingkaran ketertinggalan. terbilang maju karena di kecamatan ini memiliki struktur sumber PDRB yang lebih variatif. pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lebak berdasarkan Tipologi Klassen masih berada di tingkat bawah. Untuk Kecamatan Wanasalam. Hanya kecamatan Rangkasbitung dan Wanasalam saja yang berada pada level lebih baik.000. Dimana sumber pendapatan kecamatan ini selain pertanian juga didukung oleh sektor lainnya seperti perikanan dan industri pengolahan ikan. Low Income Low Growth.000 4. dalam rentang tahun 2005-2009. High Income Sumber : Hasil Perhitungan. jasa dan perputaran uang terjadi di Rangkasbitung. Karena sebagian besar transaksi perdagangan.000.000. Hal tersebut menunjukan strategi yang digunakan dalam pengembangan wilayah masih belum menemukan titik paling strategis dalam mempengaruhi pembangunan di sekitarnya.000 6. Dimana hampir 90 persen kecamatan yang ada di Lebak merupakan kecamatan yang relatif tertinggal.164 Laju Pertumbuhan Ekonomi (%) 7 6 5 4 3 2 1 0 0 2.000 10. Kecamatan Rangkasbitung merupakan kecamatan yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Lebak. dimana dapat dikatakan sebagai daerah maju tetapi tertekan karena memiliki pendapatan tinggi tapi pertumbuhan yang rendah. .000 PDRB per Kapita (Rupiah) 8.000.000. sehingga tentu sangat wajar jika termasuk sebagai kecamatan yang dianggap maju.000 Low Growth.

yakni pertanian. 5.Cihara 23. Seharusnya realita ini mampu memberikan dorongan kepada pemerintah untuk bisa menyelesaikan permasalahan dengan strategi dan kebijakan pembangunan wilayah yang tepat guna tanpa mengurangi pembangunan yang aspiratif. 2. Malingping Panggarangan Cilograng Cibeber Cijaku Banjarsari Gunung Kencana 8. 6. kemudian diikuti oleh sektor pertambangan dan penggalian.Wanasalam LGHI (High income but low growth/ daerah maju tapi tertekan) 1.Cipanas 13. Namun. Leuwidamar 10. Sama halnya dengan analisis LQ. 4.Cileles 26.Warunggunung 16. Kalang Anyar Sumber : Hasil Perhitungan. pembangunan cenderung lamban dan sebagian besar kecamatan berada pada titik ktitis ketertinggalan. Pada satu sisi. gas dan air bersih.Cimarga 15.45 persen dari total PDRB.Sajira 14.Curugbitung 19. Berdasarkan data PDRB kabupaten. Tahun 2010 Kondisi ketertinggalan tersebut menunjukan bahwa pembangunan selama lima tahun terakhir pasca pemberlakuan otonomi daerah di Kabupaten Lebak belum berjalan dengan baik.Lebak Gedong 20. demokratisasi memberikan ruang yang cukup lapang dalam mengembangkan pembangunan yang aspiratif. 3.Muncang 11.Bayah 25. karena terbukti selama lima tahun berjalannya pemerintahan.Cirinten 21.Maja 18.Cibadak 17.165 Tabel 42 Ringkasan Matriks Tipologi Daerah Klassen Kabupaten Lebak Tahun 2009 PDRB per kapita (y) Laju Pertumbuhan (r) (r i > r) HGLI (High growth but low income/ daerah berkembang cepat) (y i < y) (y i > y) HGHI (High growth and high income/ daerah cepat maju dan cepat tumbuh) (r i < r) LGLI (Low growth and low income/ daerah relatif tertinggal) 1. . Dimana terlihat bahwa hingga tahun 2009 sektor pertanian masih memberikan sumbangan terbesar dalam perekoniman yakni sebesar 34.Cikulur 24. maka Kabupaten Lebak masih didominasi oleh sektor-sektor primer.Cigemblong 22. Bojongmanik 9. Konsep desentralisasi ini tanpa disadari telah menjadi konsep yang kontraproduktif. pertanian hingga tahun 2009 masih menjadi sektor basis atau unggulan. sektor jasajasa serta listrik. Rangkasbitung 2. 7. menjadi kontraproduktif terhadap pembangunan wilayah di perdesaan.Sobang 12.

Garis kemiskinan ini terdiri dari garis kemiskinan makanan (GKM) dan garis kemiskinan non-makanan (GKMN). maka semakin tidak berimbangan pembangunan suatu wilayah. Tabel 51 akan menunjukan bagaimana perkembangan jumlah. diambil dua indikator yang diasumsikan mampu menggambarkan tingkat disparitas pembangunan wilayah. Dalam penelitian ini. Angka disparitas ini akan menggambarkan kondisi keberimbangan suatu wilayah. Karena seperti telah diketahui bahwa sektor primer pertanian tersebut memiliki nilai tambah yang rendah. . sehingga perekonomian cenderung lambat berkembang dan akhirnya pendapatan masyarakat secara umum pun menjadi rendah. Salah satu ciri penting dalam pembangunan wilayah itu sendiri adalah upaya untuk mencapai keberimbangan. 7.1 Indeks Kemiskinan Manusia Untuk mengukur tingkat kemiskinan di daerah. 7. yakni Indeks Kemiskinan Manusia dan Indeks Williamson. pembangunan ke depan seharusnya berorientasi pada pembangunan industri berbasis padat karya. artinya ada satu wilayah yang maju namun ada wilayah lain yang tertinggal. namun tetapi mampu menyerap banyak tenaga kerja. maka dapat digunakan suatu garis yang disebut sebagai garis kemiskinan. Secara pendapatan mampu meningkatkan penghasilan daerah. Ketertinggalan tersebut bisa jadi disebabkan oleh ketergantungan wilayah terhadap distribusi sektor pertanian primer seperti pertanian. persentase penduduk miskin dan juga angka garis kemiskinan Kabupaten Lebak dalam rentang tahun 2005-2008. Semakin tinggi disparitas. Pembangunan yang berimbang yang dimaksudkan ini adalah terpenuhinya potensi-potensi pembangunan sesuai dengan kapasitas pembangunan setiap wilayah/daerah yang jelas-jelas beragam.166 Namun dominasi sektor pertanian tersebut tidak diikuti oleh perkembangan perekonomian kecamatan-kecamatan yang sebagian besar atau sekitar 90 persen berada pada kuadran wilayah tertinggal sesuai dengan Tipologi Klassen. Oleh karena itu.2.2 Disparitas Pembangunan Wilayah Disparitas pembangunan adalah tingkat ketimpangan pembangunan suatu wilayah.

63 pada tahun 2008 dibandingkan tahun 2007 yang hanya sebesar 2. sama halnya dengan angka jumlah penduduk miskin yang juga menurun di tahun 2008.58 persen dari tahun sebelumnya yang hanya 5.29 119.43 129.000 172.05 160. Tahun 2009 Pada Tabel 51.) 2005 141.55 125.070 156.911. Sejak tahun 2005. Terjadinya peningkatan garis kemiskinan tersebut disebabkan oleh melonjaknya harga komoditi kebutuhan dasar di tingkat produsen yang relatif cukup tinggi. walaupun ada kenaikan dari tahun 2005 hingga 2007.48 persen.440 14. garis kemiskinan di Kabupaten Lebak cenderung mengalami kenaikan. 160.190 Sumber : Bappeda Kabupaten Lebak.167 Tabel 43 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin serta Garis Kemiskinan Tahun 2005-2008 Tahun Jumlah Persen (%) Garis Kemiskinan (Rp.070 14.757 2006 172. 200000 150000 100000 50000 0 2005 2006 2007 2008 141. Secara grafis dapat dilihat pada Gambar 30.940 Sumber : Bappeda Kabupaten Lebak. 129. Tahun 2009 Gambar 29 Jumlah Penduduk Miskin Kabupaten Lebak Tahun 2005-2008 Inflasi tertinggi terjadi pada sektor angkutan dan telekomunikasi sebesar 12. Hal itu terlihat dengan meningkatnya angka inflasi Kabupaten Lebak di tahun 2008 menjadi sebesar 7.70 persen.000 12. Angka ini menunjukan suatu peningkatan yang cukup signifikan dari tahun sebelumnya yang hanya Rp.940 12.911 2008 156.190 per kapita per bulan. diperlihatkan bagaimana garis kemiskinan penduduk Kabupaten Lebak pada tahun 2008 sebesar Rp.440 181.277 2007 181. . 31 dan 32.

Pada jangka waktu tahun 2006-2008. hotel dan restoran yaitu 11. diikuti oleh sektor perdagangan. hal tersebut dapat ditunjukkan pada tabel 31. Selain itu.27 persen. Tahun 2009 Gambar 30 Persentase Penduduk Miskin Kabupaten Lebak Tahun 2005-2008 Setelah mengetahui besarnya perkiraan batas garis kemiskinan.168 Setelah itu.29 14.50 persen dibandingkan pada tahu sebelumnya (2007) yang hanya 7. 16 14 12 10 8 6 4 2 0 14.43 12. penyebab inflasi ini juga bisa saja disebabkan oleh dampak dari krisis ekonomi global terutama berkaitan dengan harga barang-barang impor atau barang yang bahan dasar atau suku cadangnya berasal dari impor. Bahkan di tahun 2008 jumlah penduduk miskin mendekati jumlah pada tahun 2005 yang kemudian kembali mengalami peningkatan pada tahun 2006 karena kenaikan harga bahan bakar minyak yang cukup tinggi. baik dalam jumlah maupun persentasenya.55 12. penduduk miskin di Kabupaten Lebak menunjukan penurunan.05 2005 2006 2007 2008 Sumber : Bappeda Kab. Kenaikkan harga BBM tentu saja diikuti oleh sektor yang sebagian besar menggunakan BBM dalam proses produksinya. . Sehingga dampak turunan tidak langsung tersebut menjadi pemicu meningkatnya angka inflasi di tahun 2008. baik yang bersubsidi maupun tidak bersubsidi. Tabel tersebut bagaimana menjelaskan perkembangan jumlah penduduk dan persentase penduduk miskin di Kabupaten Lebak pada rentang tahun 2005-2008. Lebak. Tingginya inflasi ini tidak terlepas oleh pengaruh dari kenaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). maka langkah selanjutnya adalah dapat menghitung jumlah dan persentase penduduk miskin di Kabupaten lebak.

911 160.940 penduduk.33 persen.000 150.190 2008 Sumber : Bappeda Kab.000 0 2005 2006 2007 119. Karena modal manusia ini adalah suatu pembangunan yang bersifat jangka panjang. Hal tersebut terlihat pada tahun 2008 penduduk miskin telah berkurang sebanyak 13. kemiskinan manusia harus diukur dalam satuan hilangnya tiga hal utama.169 200. investasi yang baru akan terasa dampaknya setelah 10-20 tahun diberlakukannya kebijakan. UNDP (United Nations Development Programme) membentuk Indeks Kemiskinan Manusia (Human Poverty Index) sebagai tanggapan atas ketidakpuasan ukuran kemiskinan dengan pendekatan besarnya pendapatan per hari.000 100. pendidikan dasar (diukur oleh persentase penduduk dewasa yang buta huruf) dan keseluruhan ketetapan ekonomi (diukur oleh persentase penduduk yang tidak memiliki akses .757 125. Namun demikian. Menurunnya angka kemiskinan ini belum tentu menjadi indikator utama meningkatnya kinerja pelayanan publik pemerintah daerah. dari sebanyak 181. yakni kehidupan (lebih dari 30 persen penduduk negaranegara yang paling miskin cenderung hidup kurang dari 40 tahun). Menurut pandangan UNDP. Lebak.277 129. tetapi bisa menjadi bumerang bagi pemerintah daerah. Sehingga angka kemiskinan telah menunjukan angka yang semakin menurun.000 50. hal yang kini menjadi sorotan utama Kabupaten Lebak adalah kondisi seluruh kecamatan yang masih berada pada kuadran daerah tertinggal jika berdasarkan Tipologi Klassen.070 menjadi 156. khususnya pembangunan modal manusia yakni pendidikan dan kesehatan. Tahun 2009 Gambar 31 Angka Garis Kemiskinan Manusia Kabupaten Lebak Tahun 2005-2008 Berbagai usaha pembangunan telah dilakukan oleh Kabupaten Lebak dalam empat tahun terakhir baik secara langsung maupun tidak langsung.

43 persen pada tahun 2002 menjadi 27. .09 persen pada tahun 2008. Indeks ini berlandaskan pada konsep derivasi. yaitu 32. berarti hal itu menunjukan sedikitnya persentase penduduk yang mengalami kehilangan tiga hal mendasar dalam kehidupan. Angka IKM menunjukan proporsi penduduk yang secara luas dipengaruhi oleh hilangnya tiga hal utama yakni daya hidup. Oleh karena itu. penggabungan antara kedua ukuran ini akan menghasilkan gambaran menarik tentang kondisi kemiskinan. Pengukuran kemiskinan dari sudut pandang IKM seringkali lebih relevan dibandingkan dengan kemiskinan dari sudut pandang pendapatan.170 terhadap pelayanan kesehatan dan air bersih ditambah persentase anak-anak dibawah umur 5 tahun yang kekurangan berat badan). Kemiskinan dari sudut pandang pendapatan yang dinyatakan dengan dalam bentuk proporsi penduduk yang hidup di bwah garis kemiskinan (angka kemiskinan) mengukur derivasi relatif pada standar kehidupan yang sudah tercapai. Penurunan angka IKM ini mengindikasikan meningkatnya kesejahteraan penduduk Kabupaten Lebak pada beberapa tahun terakhir. dimana kemiskinan dipandang sebagai akibat tidak tersedianya kesempatan dan pilihan dalam kehidupan. ilmu pengetahuan dan ketetapan ekonomi. IKM yang tinggi menunjukan keadaan sebaliknya karena proporsi kehilangan lebih besar. Sementara sebaliknya. Sedangkan IKM mengukur derivasi-derivasi yang dapat menghambat kesempatan yang dimiliki penduduk untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Sehingga mampu memberikan perhatian yang lebih fokus pada penyebab kemiskinan dan secara langsung terkait dengan strategi pemberdayaan dan upaya-upaya lainnya untuk meningkatkan kesempatan bagi seluruh lapisan masyarakat. Berdasarkan hasil perhitungan terlihat bahwa IKM Kabupaten Lebak tahun 2008 mengalami penurunan dari tahun 2002. Angka IKM yang rendah berarti menunjukan hal yang baik. Rendahnya IKM. Tabel 52 telah menyajikan komponen IKM Kabupaten Lebak tahun 2002 dan 2008 serta hasil perhitungannya.

171 Tabel 44 IKM dan Komponennya Kabupaten lebak Tahun 2002 dan 2008 No. Hal tersebut ditunjukan dengan masih tingginya persentase penduduk yang berusia pendek yang meninggal sebelum usia 40 tahun sebesar 20. 7. banyaknya penduduk yang belum memiliki akses ke fasilitas air bersih sebesar lebih dari setengah penduduk Kabupaten Lebak (54.2.9 5 % Penduduk tanpa akses ke Fasilitas Kesehatan 52. dimana menandakan pesatnya perkembangan pembangunan di Kabupaten Lebak berpengaruh terhadap tingkat kesejahteran penduduknya.09 Sumber : Bappeda Kabupaten Lebak.6 persen.9 63.1 persen. Namun trend perkembangan tiap komponen pembentuk IKM dari tahun 2002 dan 2008 memperlihatkan perkembangan yang cukup baik dan menggembirakan. Kriteria pengukuran adalah : semakin besar nilai indeks yang menunjukan variasi produksi antar wilayah. .1 3 % Buta Huruf Dewasa 9. maka dapat diketahui kondisi ketimpangan atau disparitas dalam suatu wilayah.9 4 % Penduduk tanpa akses ke air bersih 65.5 45. Komponen Ikm Tahun 2002 2008 1 % penduduk < 40 tahun 22.6 6 Balita Kurang Gizi 16.43 27.8 5. Tahun 2009 Apabila diperhatikan masing-masing indikator pembentuk indeks komposit IKM. tampak bahwa standar hidup layak masyarakat yang diukur melalui tiga jenis variabel masih relatif rendah. semakin besar pula tingkat perbedaan ekonomi dari masing-masing wilayah dengan rata-ratanya.8 20. Nilai PDRB per kapita dapat digunakan untuk mendeskripsikan ketimpangan wilayah melalui alat berupa Indeks Williamson.5 11 Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) 32.1 2 Angka Harapan Hidup 61.2 Indeks Williamson Melalui pengunaan nilai PDRB per kapita.2 54. sebaliknya semakin kecil nilai ini maka menunjukan kemerataan antar wilayah yang baik.9 persen) dan persentase penduduk yang jarak ke fasilitas kesehatan lebih dari 5 kilometer (km) sebesar 45.

Dimana pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita kecamatan-kecamatan sebagian besar jauh di bawah rata-rata kecamatan. Tingginya angka disparitas Indeks Williamson ini konsisten dengan kondisi umum wilayah kecamatan-kecamatan di Kabupaten lebak. Setiap wilayah kecamatan dikaruniai sumberdaya berbeda satu dengan lainnya.690 2005 1 2 2006 3 2007 4 2008 5 2009 Sumber : Hasil Perhitungan. sehingga mesin-mesin pertumbuhan .711.695 0. angka disparitas di Kabupaten meningkat sangat tajam.78 0. Karena secara geografis.76 0.62 0. Tahun 2010 Gambar 32 Perkembangan Indeks Williamson Kabupaten Lebak Tahun 2005-2009 Berdasarkan perhitungan Indeks Williamson.72 0. Hal ini disebabkan oleh ketidaksiapan kondisi wialayah dalam hal ini kecamatan dalam menanggapi terjadinya krisis akibat dari ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor primer pertanian. Lebak memiliki wilayah luas dengan tingkat keragaman wilayah yang sangat variatif. Saat terjadi krisis di tahun 2008. Kendala ini juga ditambah dengan rendahnya aksesibilitas. dimana satu kecamatan jauh tinggi sedangkan kecamatan lainnya tetap tertinggal di belakang. Angka disparitas yang tinggi ini dapat dikatakan sangat wajar bagi kabupaten seperti Kabupaten Lebak.64 0. Luasnya wilayah Lebak menjadi kendala utama dalam proses pemerataan pembangunan.66 0.172 0.771 0. yakni 0.68 0. ada yang berlimpah sumberdaya baik sumberdaya alami maupun buatan.74 0. disparitas pembangunan di Kabupaten Lebak hingga tahun 2009 masih relatif tinggi. sedangkan ada wilayah lainnya yang kekurangan sumberdaya.683 0. Hal itu mengindikasikan terjadinya disparitas antar wilayah yang cukup mencolok.7 0.686 0.

Indeks kelangsungan hidup pun masuh di bawah rata-rata Banten yang telah mencapai 66. baik sebagai objek utama penelitian maupun fokus kebijakan Pemkab Lebak. Angka melek huruf Kabupaten Lebak tahun 2008 adalah 94. Akibatnya terjadi mobilisasi sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia secara besar-besaran dari luar Rangkasbitung menuju Rangkasbitung. . Kendala aksesibilitas dan luasnya wilayah ini juga menyebabkan terbengkalainya wilayah-wilayah yang jaraknya sangat jauh dari ibukota kabupaten sehingga beberapa wilayah di selatan kurang diperhatikan dan pertumbuhan pun berjalan lambat. Kemudian rendahnya pendapatan ini menurunkan kualitas kesejahteraan masyarakat. masih di bawah rata-rata Banten yang telah mencapai 64.12 tahun.173 seperti pemberdayaan masyarakat dalam mengolah sumberdaya pertanian yang menjadi potensi utama terhambat karena sulitnya transportasi. tingkat pendidikan dan kesehatan masyarakat yang rendah di luar Kecamatan Rangkasbitung mengakibatkan rendahnya tingkat pendapatan.20 tahun.60. Kabupaten Lebak masih jauh di bawah rata-rata yakni 6. Faktor sosial seperti keterampilan.60 tahun. biaya ekonomi dalam proses produksi menjadi sangat tinggi dan mengurangi keuntungan. di tahun 2008. Dari sisi kualitas kesehatan. Untuk rata-rata lama sekolah. angka harapan hidup sebesar 63. Kabupaten Lebak baru mencapai 63. Faktor lain penyebab disparitas adalah terjadinya pemusatan aktivitas ekonomi di Rangkasbitung sebagai pusat pemerintahan dimana sektor industri dan jasa berkembang pesat. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia ini menjadi perhatian yang sangat khusus. Akibatnya. Pada akhirnya ketiga hal tersebut selamanya menjadi lingkaran setan yang membuat sebagian besar wilayah kecamatan-kecamatan di Kabupaten Lebak semakin tertinggal dan terbelakang.10. Penyebab disparitas pembangunan wilayah di Kabupaten Lebak tidak terlepas oleh pengaruh yang besar dari faktor sosial ekonomi.60. sedangkan pada tingkat Provinsi Banten sudah mencapai 95.60. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia atau human resources Kabupaten Lebak ini pun dilengkapi dengan rendahnya kualitas pendidikan masyarakat yang diindikasikan dengan angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah.

3 Analisis Sumber Disparitas Analisis sumber disparitas di Kabupaten Lebak memiliki beberapa faktor yang diduga berpengaruh. Pada akhirnya.10 tahun. irigasi. jembatan. angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah yang di bawah rata-rata.2. Tingginya angka ratarata lama sekolah Provinsi Banten ini tidak terlepas dari masukan angka yang tinggi dari kabupaten dan kota yang telah maju seperti Kabupaten dan Kota Tangerang serta Kota Serang dan Kota Cilegon. Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Lebak Tahun 2009 sebesar 12 persen. kemudian angka disparitas sesuai dengan Indeks Williamson adalah 0. Ketertinggalan IPM pada tingkat kabupaten pun diturunkan pada tingkat kecamatan. Jumlah penduduk miskin suatu wilayah secara sederhana dapat menjelaskan terjadinya disparitas pada wilayah tersebut.70. Tingginya angka Indeks Williamson juga dilengkapi dengan masih tingginya indeks kemiskinan manusia. 7. Pertama adalah pertumbuhan PDRB yang merupakan indikator tumbuh kembangnya suatu perekonomian. maka IPM Kabupaten Lebak pun masih di bahwa banten yakni 67.10 sedangkan Banten itu sendiri sebesar 69. Ketiga adalah rasio belanja infrastruktur umum. Kedua adalah IPM. dimana tingkat kualitas kesehatan dan pendidikan kecamatan di luar Rangkasbitung masih di bawah rata-rata. tingkat sumberdaya manusia ini kembali mempengaruhi pendapatan per kapita tiap kecamatan dan tentu saja angka disparitas wilayah di Kabupaten Lebak yang ditunjukan dengan Indeks Williamson yang tinggi selama lima tahun terakhir (2005-2009). dimana IPM ini menjadi indikator tinggi atau rendahnya kualitas sumberdaya manusia. . rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya. rasio ini menunjukan bagaimana sikap pemerintah dalam mengalokasikan dananya untuk pembangunan infrastruktur umum seperti jalan.69. Kelima adalah rasio belanja infrastruktur kesehatan berupa belanja pembangunan puskesmas.174 sedangkan Provinsin Banten sudah mencapai 8. sumberdaya air dan listrik. Akibat dari rendahnya tingkat kelangsungan hidup. Keempat adalah rasio belanja infrastruktur pendidikan yang menunjukan tingkat belanja pemerintah dalam memenuhi kebutuhan infrastruktur di bidang pendidikan seperti gedung-gedung sekolah dan sarana pendukung infrastruktur pendidikan lainnya.

Angka pertumbuhan tertinggi dicapai pada tahun 2005.1 Pertumbuhan PDRB Pertumbuhan PDRB diduga menjadi salah satu sumber disparitas pembangunan wilayah di Kabupaten Lebak.7 persen. Secara terperinci perkembangan dari tahun ke tahun dapat dilihat pada gambar di bawah ini. sedangkan angka paling rendah didapat pada tahun 2009.175 7.61 9. . 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 15. Tahun 2010 Gambar 33 Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Lebak Tahun 2003-2009 (Persentase) 7.51 11. maka secara otomatis sumber daya manusianya memiliki kualitas yang baik pula.77 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Sumber : Hasil Perhitungan.4 Pertumbuhan Indeks Pembangunan Manusia Indeks Pembangunan Manusia merupakan alat untuk mengukur pencapaian keberhasilan pembangunan manusia di suatu wilayah.2. yakni mencapai angka 15. Indeks Pembangunan Manusia adalah indeks komposit yang merupakan rata-rata gabungan tiga komponen penilai kualitas sumber daya manusia. pertumbuhan PDRB mengalami angka yang cukup flusktuatif. Masing-masing indeks dari komponen IPM memperlihatkan seberapa besar tingkat pencapaian yang telah dilakukan selama ini di bidang kesehatan.61 10.95 7. yakni hanya mencapai 77.97. pendidikan dan ekonomi. Jika ketiga komponen tersebut memiliki kualitas yang baik.2.3. Indeks Pembangunan Manusia dianggap menjadi salah satu penyebab disparitas karena dianggap mencerminkan kualitas sumberdaya manusia di Kabupaten Lebak. Selama kurun waktu tujuh tahun.97 11.95 11.

Oleh karena itu masih banyak hal yang perlu dilakukan agar pencapaian pembangunan manusia di Kabupaten Lebak dapat setara dengan daerah lain di Provinsi Banten. 1 0. indeks pengetahuan (76.36 2009 Sumber : Bappeda Kab. Namun rendahnya nilai indeks daya beli ini memang secara umum juga terjadi di Provinsi Banten.51 persen dari pencapaian yang diharapkan. IPM Provinsi Banten berada pada level 69. Sumbangan terbesar indeks komponen pendidikan .176 Sumberdaya manusia itu sendiri secara jangka panjang menjadi faktor yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan manusia di suatu wilayah.70 yang berarti kabupaten/kota lain ada yang mencapai IPM di atas angka 70%.5 0. Indeks daya beli yang merefleksikan kemampuan ekonomi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan konsumsinya memiliki pencapaian yang paling rendah. IPM Kabupaten Lebak pada tahun 2008 mencapai 67.5 2004 2005 2006 2007 2008 0.64 0.3 -1.10 yang merupakan rata-rata dari pencapaian indeks kelangsungan hidup/kesehatan (63. Lebak. terlihat jelas bahwa pencapaian tertinggi didapat dari indeks pengetahuan. IPM Kabupaten Lebak dapat dikatakan masih tertinggal. Hal tersebut berarti pencapaian pembangunan manusia di Kabupaten Lebak saat ini telah mencapai 67.09 0.66 0.60). Dari tiga komponen penyusun IPM.5 -1 -1.12 0 2003 -0. Tahun 2010 Gambar 34 Grafik Pertumbuhan IPM Kabupaten Lebak Tahun 2002-2008 Bidang pendidikan atau pengetahuan yang terdiri dari angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah mempunyai nilai sebesar 76. Dibandingkan pencapaian daerah-daerah lain di Provinsi Banten.34 0.51 yang berarti pencapaian pembangunan bidang pendidikan pada tahun 2008 mencapai 76.51) dan indeks daya beli (61.30).10 persen dari nilai maksimal.

perkembangan rasio belanja infrastruktur umum Kabupaten Lebak selama kurun waktu 2003-2009 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.3 Sumber : Hasil Perhitungan. Angka terendah didapat pada tahun 2004 yakni turun sebesar -1.4 11. namun persentasenya beskisar tidak jauh dari angka 10 persen atau rasio sebesar 0.424.2 12.5 12.5 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 11. Jumlah belanja infrastruktur umum pada tahun 2009 yang tercantum dalam APBD adalah sejumlah Rp.3 12.4 11.3 poin dari tahun sebelumnya. 0.3 12.5 Rasio Belanja Infrastruktur Umum Rasio belanja insfrastruktur umum selama enam tahun terakhir cukup fluktuatif.66.808.407. Sehingga rasio belanja infrastruktur umum tahun 2009 sebesar 0. 0. Tahun 2010 Gambar 35 Grafik Perkembangan Rasio Belanja Infrastruktur Umum Kabupaten Lebak Tahun 2003-2009 (Persentase) . perkembangan IPM di Kabupaten Lebak mengalami pertumbuhan yang fluktuatif. Pada tahun-tahun berikutnya yakni tahun 2005 hingga 2008 IPM Lebak mengalami peningkatan yang cukup baik yakni berturutturut sebesar 0. 12.177 berasal dari AMH yang mencapai 94.64.0 10. Secara terperinci.045.09 dan 0.069. Untuk sektor kesehatan yang diwakili indeks kelangsungan hidup. 12.2 11.60.1. Namun meningkat kembali pada tahun 2005 sebesar 0. Selama kurun waktu tujuh tahun.5 11.0 11.113. 891.33.36. Kabupaten Lebak baru mampu mencapai angka 63.2. 7.10 sedangkan indeks RLS hanya sebesar 41.640 dari total APBD sebesar Rp.34.

178 7.3 0.6 Rasio Belanja Infrastuktur Pendidikan Rasio belanja infrastruktur pendidikan Pemerintah Kabupaten Lebak masih belum memberikan belanja yang cukup dalam memenuhi kebutuhan bangunan pendidikan. .2. dimana pada tahun 2009 saja pemerintah hanya memberikan 0.6 0.2.31 0.4 persen untuk keperluan belanja infrastruktur pendidikan.49 0.3 0.2 0.25 0.38 Sumber : Hasil Perhitungan.22 0. Tahun 2010 Gambar 36 Grafik Perkembangan Rasio Belanja Infrastruktur Pendidikan Kabupaten Lebak Tahun 2003-2009 (Persentase) 7.28 0. Hal tersebut secara terperinci ditunjukan pada gambar di bawah ini yang menerangkan perkembangan rasio belanja bidang pendidikan Kabupaten Lebak selama kurun tahun 2003 sampai 2009.7 Rasio Belanja Infrastruktur Kesehatan Fasilitas kesehatan di Kabupaten Lebak dapat terbilang masih belum mencukupi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakatnya.1 0 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 0. Karena secara ideal jarak terjauh masyarakat dalam menempuh fasilitas kesehatan adalah 5 km. 0. selain itu juga ditambah dengan rasio fasilitas kesehatan dan penduduk yang belum mencapai titik minimum atau memenuhi standar pelayanan minimum.5 0.4 0.

48 0. Tahun 2010 Gambar 37 Grafik Perkembangan Rasio Belanja Infrastruktur Kesehatan Kabupaten Lebak Tahun 2003-2009 (Persentase) Belum mencukupinya pelayanan tersebut tentu saja berkorelasi positif dengan jumlah belanja yang dianggarkan pemerintah daerah.124 RBIP t + 0.46 0.4 0.5 0. rasio belanja infrastruktur umum.30 – 0.1 0 2003 2004 2005 2006 2007 2008 0. rasio belanja insfrastuktur umum (RBIU).8 Estimasi Sumber-sumber Disparitas Pembangunan wilayah Dalam pemodelan ekonometrika.2. Adapun estimasi pemodelan secara matematis dapat dilihat di bawah ini.00468 IPM t – 0.2 0.7 0.47 0. Disparitas pembangunan wilayah akan menggunakan indikator Indeks Williamson yang menunjukan disparitas atau ketimpangan dari sisi pendapatan penduduk tiap kecamatan di Kabupaten Lebak. Dimana pada tahun 2009 saja rasio belanja untuk infrastruktur pelayanan kesehatan hanya 0.0225 RBIU t – 0. pertumbuhan IPM.179 0.59 2009 Sumber : Hasil Perhitungan. Variabel-variabel yang diduga menjadi sumber disparitas pembangunan wilayah adalah pertumbuhan PDRB (Y). Perkembangan rasio belanja infrastruktur kesehatan dalam tujuh tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 38. ln I w = 1.43 0.6 0.00242 Y t – 0.6 persen dari tital APBD.3 0. terdapat beberapa faktor yang dianggap menjadi sumber disparitas. 7. rasio belanja infrastuktur pendidikan (RBIP) dan rasio belanja infrastuktur kesehatan (RBIK).0135 RBIK t .52 0.49 0.

0135 1.124 .0. dilakukan pengujian koefisien regresi secara individual (testing individual coefficient).000 Sumber : Hasil Perhitungan. maka dilakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui secara spesifik variabel manakah yang berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen.00242 .74 RBIU . IPM.180 Keterangan : : Indeks Williamson di Kabupaten Lebak pada Tahun ke-t IW t Yt : Pertumbuhan PDRB di Kabupaten Lebak pada Tahun ke-t IPM t : Pertumbuhan Indeks Pembangunan Manusia di Kabupaten Lebak pada Tahun ke-t RBIU t : Rasio Belanja Infrastruktur Umum di Kab. maka nilai t hitung dari pertumbuhan PDRB.301 17.90 IPM .05.29 RBIK 0. rasio belanja infrastruktur umum. Lebak pada Tahun ke-t Tabel Analisis Ekonometrik Regresi Berganda Pembangunan Wilayah di Kabupaten Lebak Variabel Koefisien t-stat Constant 1. Tahun 2011 45 Sumber Disparitas Prob (t-stat) 0.05 Prob (F-stat) 0. Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel model ekonometrika. pertumbuhan IPM.000 0. diperoleh bahwa nilai F-hitung untuk model sumber disparitas pembangunan adalah 158. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan PDRB.90).00467 .3.64 Laju PDRB .004 0.06 R2 72.6.000 0.3 F-stat 158. Lebak pada Tahun ke-t RBIP t : Rasio Belanja Infrastruktur Pendidikan di Lebak pada Tahun ke-t RBIK t : Rasio Belanja Infrastruktur Kesehatan di Kab.571 sehingga berpengaruh secara siginifikan terhadap disparitas pembangunan .0. nilai F-hitung yang diperoleh untuk model tersebut lebih besar dari ketiga tingkat signifikansi tersebut.0225 .2.291 Berdasarkan hasil pengolahan data di atas. Jika dibandingkan dengan nilai F-tabel pada tingkat signifikansi 5 persen (2.0.000 0.025 ) sebesar 2. rasio belanja infrastruktur umum dan rasio belanja infrastuktur pendidik lebih besar dari t tabel (t 0.26 RBIP . rasio belanja infrastruktur pendidikan dan rasio belanja infrastruktur kesehatan secara signifikan berpengaruh terhadap tingkat disparitas yang dinilai melalui Indeks Williamson di Kabupaten Lebak. Setelah diketahui bahwa terdapat variabel independen yang berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen.001 0. Untuk pekerluan tersebut.4.0.

Analisis Sumber-sumber Disparitas Pembangunan wilayah Pertumbuhan PDRB Kabupaten Lebak secara sisitematis akan ikut menurunkan tingkat disparitas pembangunan wilayah (Indeks Williamson).00467) dan pertumbuhan PDRB (0.125.125. pertumbuhan IPM (0. listrik.0225). Ketimpangan proporsional pada PDRB per kapita secara signifikan menjadi salah satu sumber ketimpangan pembangunan yang diukur dengan Indeks Williamson di Kabupaten Lebak. Infrastruktur umum yang dimaksud adalah berupa jalan. .181 wilayah. Bukan hanya kualitas saja. Variabel independent lainnya yang juga mempengaruhi penurunan Indeks Williamson secara berturut-turut adalah RBIU (0. Rasio belanja infrastruktur kesehatan tidak menjadi salah satu sumber disparitas karena nilai t hitung lebih kecil dari t tabel (t 0. namun penyebaran yang lebih merata kualitas manusia yang berdaya di masing-masing kecamatan pun harus tetap diperhatikan. yakni 0. Oleh karena itu.025 ). Oleh karena itu. agar tingkat ketimpangan pembangunan mampu ditekan sekecil mungkin. Pertumbuhan IPM ini secara signifikan menjadi salah satu sumber terjadinya ketimpangan di Kabupaten Lebak. agar angka disparitas menurun maka langkah yang bisa diambil oleh Pemkab Lebak adalah dengan cara meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang dihitung melalui IPM. Kesimpulan yang dapat diambil adalah dengan meningkatnya IPM Kabupaten Lebak maka secara sisitematis akan menurunkan tingkat disparitas pembangunan wilayah (Indeks Williamson). Rendahnya angka IPM di Lebak menyebabkan tingginya tingkat disparitas pembangunan wilayah. Pada perhitungan model dapat diketahui bahwa variabel rasio belanja infrastruktur pendidikan (RBIP) memberikan pengaruh paling besar terhadap menurunnya angka disparitas. jembatan. saluran irigasi dan sumberdaya air bersih. maka hal tersebut mempunyai arti bahwa apabila terjadi peningkatan RBIP pada tingkat kabupaten sebesar 1 persen. Rasio belanja infrasruktur umum menjadi salah satu sumber utama terjadinya disparitas pembangunan wilayah. Karena model menggunakan ln. maka tidak ada langkah lain kecuali dengan meningkatkan pertumbuhan PDRB dan juga memperkecil tingkat proporsional pada PDRB per kapita tiap-tiap kecamatan di Kabupaten Lebak. maka Indeks Williamson akan menurun sebesar 0.00242).

Hubungan yang terlihat adalah dengan meningkatkan rasio bangunan sekolah pada pemodelan maka akan meningkatkan rasio belanja infrastruktur. . sehingga rasio belanja infrastruktur di bidang kesehatan merupakan bukan sumber utama terjadinya ketimpangan pembangunan di Kabupaten Lebak. Tumbuhnya investasi ini akan menjadi dorongan kuat dalam peningkatan kapasitas ekonomi lokal yang selanjutnya mampu meningkatkan PDRB per kapita kecamatan. Pada hasil perhitungan dari pemodelan sumber-sumber disparitas terlihat bahwa rasio belanja infrastruktur umum dan pendidikan mampu menurunkan angka disparitas.182 Hubungan sebab akibat yang didapat adalah dengan adanya peningkatan rasio belanja dalam infrastruktur umum. maka secara sisitematis akan menurunkan tingkat disparitas pembangunan wilayah (Indeks Williamson). Membaiknya akses transportasi akan memberikan dampak yang cukup baik terhadap perkembangan investasi di Lebak khususnya di bagian selatan yang selama ini sulit dicapai. Rasio belanja infrastruktur pendidikan (RBIP) Kabupaten Lebak menjadi salah satu sumber utama terjadinya ketimpangan pembangunan. Dengan pembangunan infrastruktur utama seperti jalan yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya dalam lingkup Kabupaten Lebak akan menjadi stimulus tak langsung proses pembangunan lokal. Hasil ini berhubungan erat dengan pembahasan sebelumnya terkait dengan pengaruh pelayanan publik terhadap IPM. Alokasi anggaran yang lebih tepat seharusnya dapat diberikan kepada kecamatan-kecamatan dengan IPM rendah dan rasio infrastruktur rendah. selanjutnya peningkatan insfrastruktur ini akan menurunkan tingkat disparitas. maka salah satu kebijakan yang dapat dijalankan adalah dengan cara meningkatkan belanja di bidang infrastrktur pendidikan di wilayah-wilayah yang hingga saat ini benar-benar memerlukan bantuan dan tambahan bangunan sekolah. Dalam penjelasan pada bab pelayanan publik pendidikan dapat terlihat bahwa terjadi rasio perbandingan infrastruktur sekolah antara wilayah utara dengan selatan. Rsio belanja infrastruktur kesehatan tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat diaparitas pembangunan wilayah yang diukur dengan Indeks Williamson tingkat Kabupaten Lebak. Sehingga agar mampu menekan tingkat disparitas.

Struktur Ekonomi dan Disparitas Pembangunan Wilayah Pelayanan publik di Kabupaten Lebak memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kualitas sumberdaya manusia yang ada. rumah sakit.000 per hari atau setara dengan 7. IPM Lebak hingga tahun 2008 masih di bawah rata-rata Provinsi Banten.183 7. puskesmas pembantu. Setelah dianalisis dengan pemodelan ekonometrika. PDRB Kabupaten Lebak sebesar 7. Dari keenam faktor tersebut.8 juta per tahun. perawat dan bidan. Angka PDRB per kapita Lebak termasuk di bawah rata-rata apabila dibandingkan denga standar penghasilan menurut World Bank yang mengharuskan seorang berpenghasilan sebesar Rp. yakni 67. dokter. IPM tersebut juga dipengaruhi oleh pelayanan kesehatan berupa rasio bangunan puskesmas. dokter dan bidan.2 juta per tahun. karena hal tersebut disebabkan oleh rendahnya kualitas sumberdaya manusia. kualitas sumberdaya manusia yang ditunjukan oleh IPM ini dipengaruhi oleh rasio bangunan dan guru SD. Rendahnya penghasilan penduduk Lebak sangatlah wajar. Keterkaitan selanjutnya dalam penelitan adalah antara kualitas sumberdaya manusia itu sendiri terhadap struktur perekonomian dan tingkat disparitas di Kabupaten Lebak. . terdapat tiga faktor yang secara positif ikut meningkatkan IPM yakni rasio bangunan SD dan SMP serta rasio guru SD. Selain itu.3 Keterkaitan Kualitas Sumberdaya Manusia. Rendahnya tingkat pendidikan akan menyebabkan penduduk sulit untuk mencari pekerjaan yang ber-salary tinggi.10 dengan usia harapan hidup 63 tahun dan rata-rata lama sekolah 6.3 triliun rupiah dengan rata-rata per kapita 5. rumah sakit. Kondisi umum sumberdaya manusia yang dirujuk berdasarkan angka IPM ini memberikan warna tersendiri yang cukup khas terhadap struktur ekonomi wilayah. Akibatnya. pilihan untuk mencapai penghidupan yang layak pun mau tak mau ikut terbatas. 20. kinerja pelayanan publik pendidikan dan kesehatan masih kurang memuaskan. apabila ditinjau dari sisi penilaian sikap masyarakat. Masih banyak kekurangan dalam hal insfrastruktur dan juga tenaga pelayan baik tenaga pendidik maupun tenaga kesehatan. SMP dan SMA.2 tahun atau setingkat sekolah dasar. namun faktor yang secara positif meningkatkan IPM di Kabupaten Lebak adalah rasio puskesmas. Kenyataan yang terjadi menerangkan bahwa pelayanan publik dalam bidang pendidikan dan kesehatan masih di bawah rata-rata. Hingga tahun 2009.

walaupun termasuk ke dalam wilayah dengan pendapatan tinggi namun pertumbuhan rendah. hotel dan restoran. sehingga sektor yang paling banyak memberikan sumbangan adalah pertanian primer. dimana menyumbangankan angka 38 persen terhadap PDRB Lebak di tahun 2009. itu pun termasuk ke dalam daerah yang relatif tertekan karena memiliki pendapatan tinggi namun pertumbuhan rendah. maka hal tersebut cukup mempengaruhi sebaran tenaga kerja yang ada di Lebak. pendapatan per kapita penduduk pun masih di bawah rata-rata standar internasional. Dengan tingkat sumberdaya manusia Kabupaten Lebak yang ada saat ini. ikut menyumbangkan produktivitas pekerja yang kurang optimal. Dengan kondisi sumberdaya manusia yang secara pendidikan setingkat dengan sekolah dasar. perdagangan. serta pertambangan dan penggalian. Selain itu. Status ketertinggalan . dimana dalam lima tahun terakhir. Hanya ada dua kecamatan yang cukup baik. sewa dan jasa perusahaan. di tahun 2009 LPE lebak sebesar 7. jasa-jasa.7 persen. Hal ini menunjukan bahwa ciri-ciri karakteristik penduduk Lebak yang masih memiliki level pendidikan cukup rendah. kondisi PDRB tersebut ikut mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi. yakni Kecamatan Rangkasbitung dan Kalang Anyar. namun pada hakikatnya kecamatan ini sebelumnya adalah bagian dari Rangkasbitung sebelum memekarkan diri pada tahun 2007. Kaitan lainnya antara kualitas sumberdaya manusia dengan struktur ekonomi dapat dilihat pada keragaan struktur perekonomian yang dianalisis menggunakan Tipologi Klassen. keungan. berdasarkan hasil dari analisis Tipologi Klassen dapat dijelaskan bahwa hampir 80-90 persen kecamatan di Lebak termasuk dalam daerah yang relatif tertinggal. Khusus Kalang Anyar. Pada tahun 2009. Tenaga kerja yang ada sebagian besar menempati sektorsektor primer. Alhasil. laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lebak mengalami tren pertumbuhan yang negatif. Di antara beberapa sektor basis tersebut yang masih paling dominan adalah pertanian primer. bangunan dan konstruksi. sebanyak 26 kecamatan dari total 28 kecamatan termasuk ke dalam daerah yang relatif tertinggal. Hal tersebut terlihat dari analisis Location Quotient yang menerangkan bahwa terdapat enam sektor yang menjadi basis seperti pertanian.184 Sama halnya dengan tingkat kesehatan yang rendah.

maka penghasilan mereka pun cukup rendah. Dengan rendahnya penghasilan mereka akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sebagian besar penghasilan tersebut hanya bisa digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan dasar saja. Dengan pekerjaan yang kurang layak seperti buruh kasar atau buruh tani. Berdasarkan perhitungan dari analisis regresi berganda. Keterkaitan terakhir adalah hubungan antara pengaruh kualitas sumberdaya manusia yang dilihat dari IPM terhadap angka Indeks Williamson. Pengaruh negatif dari faktor-faktor indikator pembangunan yang seharusnya diprediksi mampu menurunkan angka disparitas adalah fenomena . dan pendidikan. namun apabila diambil garis regresi.190 akan termasuk ke dalam penduduk miskin. sedangkan pada tahun 2008 angka tersebut jauh lebih tinggi yakni 0.940 jiwa atau setara dengan 12. rasio belanja infrastruktur umum. Meningkatnya IPM akan menurunkan angka disparitas pembangunan wilayah (Indeks Williamson) di Kabupaten Lebak. 160.05 persen dari total penduduk. Kualitas sumberdaya manusia juga selanjutnya akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan melalui Indeks Kemiskinan Manusia. Beberapa faktor lain yang juga ternyata menjadi sumber disparitas dan apabila meningkat akan menurunkan menurunkan angka disparitas adalah pertumbuhan PDRB. 160.69. angka tersebut cenderung mengalami peningkatan.185 wilayah ini menandakan bahwa sebagian besar wilayah di Lebak memiliki angka pendapatan yang relatif rendah dengan pertumbuhan yang rendah pula.190. Angka penduduk miskin di Lebak ini disebabkan oleh sebagian besar penduduk yang masih memiliki tingkat pendidikan rendah. Selama lima tahun terakhir.77 karena dampak dari krisis ekonomi global yang berimbas pada perekonomian daerah. Jumlah penduduk miskin Kabupaten Lebak pada tahun 2008 masih tergolong sangat tinggi yakni sebanyak 156. Indeks Williamson mengalami angka yang fluktuatif. Garis kemiskinan penduduk Lebak di tahun 2009 telah mencapai angka Rp. Di tahun 2009 angka disparitas masih sangat tinggi yakni 0. didapatkan bahwa angka perkembangan IPM signifikan menjadi sumber disparitas di Lebak. Angka tersebut dapat diterjemahkan bahwa penduduk yang memiliki penghasilan per bulan lebih kecil dari Rp. akibatnya mereka kesulitan untuk bisa mendapatakan pekerjaan yang layak.

Oleh karena itu.186 yang sangat wajar. sedangkan wilayah di selatan masih belum mendapatkan porsi yang seharusnya. Hal tersebut disebabkan karena proses pembangunan yang telah dilaksanakan selama ini masih belum merata. khususnya di Kabupaten Lebak yang tengah berbenah dan berhias diri agar mampu bangkit dari keterpurukan. pembangunan yang dilaksanakan justru hanya akan memperlebar jurang pemisah antara wilayah utara dengan selatan. Akibatnya. maka langkah utama yang harus dijalankan adalah segera mengimplemetasikan pemerataan pembangunan. agar mampu menurunkan angka disparitas pembangunan. Dimana wilayah yang lebih banyak mendapatkan perhatian adalah wilayah utara. Tentu saja. atau dengan kata lain angka disparitas akan semakin meningkat. meningkatnya kualitas sumberdaya manusia tersebut akan memberikan dampak turunan atau lebih popular disebut dengan multiplier effect terhadap perkembangan pembangunan daerah. Wilayah utara dan selatan harus dibanguan sebagaimana porsinya. . Dengan diketahuinya peran IPM terhadap perkembangan perekonomian Lebak seharusnya pemerintah segara melakukan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan IPM.

yakni tahap input. tahap input merupakan tahap awal dalam kerangka kerja perumusan strategi. Faktor-faktor strategis tersebut kemudian diberi rating dan bobot oleh responden yang dianggap memiliki banyak pengetahuan tentang kondisi pelayanan publik pendidikan dan kesehatan di Kabupaten Lebak. Penentuan peringkat ini merupakan tahapan akhir dalam perumusan strategi alternatif kebijakan pembangunan. Pada tahap ini.187 BAB VIII STRATEGI ALTERNATIF KEBIJAKAN Strategi alternatif kebijakan terbagi dalam tiga tahap. Penentuan peringkat ini dilakukan dengan pemberian daya tarik relatif strategi-strategi yang telah dihasilkan oleh analisis SWOT dengan menggunakan analisa Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Pertama. Langkah selanjutnya dalam perumusan strategi alternatif adalah tahap keputusan dengan analisis QSPM. tahap pemaduan dan tahap keputusan. Dengan adanya pembobotan nilai sesuai dengan penilaian stakeholder tersebut diharapkan kebijakan alternatif yang didapat pun memiliki tingkat efektifitas lebih baik dalam melakukan perbaikan pembangunan.1 Analisis Matriks IFE (Internal Factor Evaluation ) Analisis matriks IFE dan EFE dilakukan untuk mengkuantifikasi secara subjektif faktor-faktor strategis internal dan eksternal. . Kedua. tahap pemaduan menggunakan informasi yang diturunkan dari tahap input untuk mencocokan peluang dan ancaman eksternal dengan kekuatan dan kelemahan internal. Tahapan ini akan menggunakan analisis yang sering disebut dengan analisis SWOT. sehingga alternatif kebijakan diharapkan akan lebih tajam dan mengenai terhadap permasalahan utama di Kabupaten Lebak. Dengan QSPM ini akan ditentukan peringkat strategi sebagai acuan prioritas strategi yang akan diimplementasikan. hasil audit lingkungan internal dan eksternal Kabupaten Lebak dikembangkan untuk menyusun matriks IFE dan EFE. Pemaduan faktor-faktor strategis ini merupakan kunci untuk menghasilkan alternatif strategi yang layak dan kelak memberikan perkembangan positif dalam pembangunan wilayah yang terdesentralisir di Kabupaten Lebak. 8.

238) dan industri pengolahan dan perdagangan mulai meningkat aktivitas dan distribusinya terhadap PDRB (0. perikanan dan perkebunan (0. Secara geografis. Pada sisi lainnya.148) lalu kemudian disusul oleh tingginya angak disparitas pembangunan wilayah yang ditunjukan oleh Indeks Wiliamson dan hampir 90 persen wilayah termasuk ke dalam daerah yang relatif tertinggal (0. terdapat tiga faktor kelamahan utama yakni baru terpenuhinya 60 persen wilayah yang telah tersedia energi listrik PLN (0.137). mulai dari tanaman utama. . Dengan kondisi ini Lebak sebetulnya mempunyai potensi yang cukup besar untuk bisa mengatasi segala kendala yang ada baik dalam hal pengembangan sumberdaya manusia sesuai dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Selain itu. Kekuatan internal mengenai Kabupaten Lebak memiliki potensi yang cukup besar dalam sektor pertanian.243).079. hortikultura hingga tanaman perkebunan. kondisi tanah Lebak sangat cocok untuk berbagai pengembangan komoditas pertanian unggulan.122). dan aksesibilitas transportasi terkendala dengan rusaknya jalan utama (0.188 Total skor IFE menurut perhitungan adalah sebesar 2. dalam RPJMD Lebak. perikanan dan perkebunan mendapatkan skor yang cukup besar sangatlah wajar. distribusi sektor pertanian terhadap PDRB masih sangat tinggi. Berdasarkan hasil pengolahan kuesioner dan wawancara yang dilakukan terhadap stakeholder. yakni 38 persen.191). Tiga kekuatan utama yang memiliki nilai tertinggi adalah Kabupaten Lebak memiliki potensi yang cukup besar dalam sektor pertanian. pertanian memang telah dijadikan sebagai salah satu platform pembangunan. Angka ini menunjukan bahwa Kabupaten Lebak memiliki kondisi dan kemampuan internal yang rata-rata dalam memanfaatkan kekuatan dan mengatasi kelemahan. Karena hingga tahun 2009. terdapat enam sektor utama yang menjadi sektor basis di Kabupaten Lebak (0. maka dapat diketahui beberapa faktor-faktor strategis internal utama yang berpengaruh di Kabupaten Lebak.

yakni pertanian.1479 7 0. dan pertambangan/penggalian Fokus utama Pemerintah daerah Kabupaten Lebak dalam bidang pendidikan dan kesehatan tercantum dalam RPJMD Kelemahan IPM Kabupaten Lebak masih di bawah rata-rata Provinsi Banten Kualitas dan kuantitas tenaga kependidikan dan kesehatan yang belum memenuhi standar pelayanan minimal seperti guru.5 0.1014 0.238 5 0.069 2.068 3.8 0.1 0.1024 4 5 6 0.063 0.065 0.1908 4 0. keuangan.087 1.052 2 0.058 2.6 0.0935 2.064 1. bidan dan perawat Fasilitas Bangunan sektor pendidikan dan kesehatan belum memberikan pelayanan yang optimal Belum terpenuhinya sarana-prasarana pendukung kegiatan belajar dan pelayanan kesehatan Aksesibilitas transportasi terkendala dengan rusaknya jalan utama Baru 60 persen wilayah yang telah tersedia energi listrik (PLN) Tingginya angka disparitas Pembangunan wilayah yang ditunjukan oleh Indeks Williamson dan 90 persen wilayah termasuk ke dalam daerah yang relatif tertinggal Tingginya angka kemiskinan yang ditunjukan oleh Indeks Kemiskinan Manusia Rendahnya tingkat kepuasan masyarakat terhadap performance pelayanan publik di bidang pendidikan dan kesehatan Rendahnya pendapatan per kapita penduduk dan laju pertumbuhan ekonomi Total Keseluruhan 0. Tahun 2010 . perdagangan. khususnya mahasiswa kedokteran di universitas negeri Industri pengolahan dan perdagangan mulai meningkat aktivitas dan distribusinya terhadap PDRB Terdapat enam sektor utama yang menjadi sektor basis di kabupaten lebak.0793 Sumber : Hasil Perhitungan.122 0.1656 3 0. dokter.078 0.189 Tabel 46 Matriks IFE Pembangunan Wilayah Sumberdaya Manusia Kabupaten Lebak Tahun 2010 No Faktor Strategis Internal Kekuatan 1 Kabupaten lebak memiliki potensi yang cukup besar dalam sektor pertanian.9 1.053 3.085 1 1.1197 0.1368 8 9 10 0.064 3.4 0.076 1.057 1. bangunan/konstruksi.7 0.3 0.8 0.104 2 0. jasajasa.2 1.078 0.8 0.061 0.3 2 1.1334 1 0.1026 3 0.6 0. perikanan dan perkebunan Adanya beasiswa khusus bagi mahasiswa berprestasi.2432 Bobot (A) Rating (B) Skor (AxB) 2 0.

dimana yang sebetulnya menjadi dalah satu permasalah yang cukup pelik adalah rendahnya angka IPM Lebak. sehingga kualitas sumberdaya manusia di Lebak cenderung tertinggal dari wilayah lain. Pelayanan baik dari sisi fasilitas bangunan maupun aparatur publik yang memberikan pelayanan masih belum memberikan pelayanan yang optimal. Dari tahun ke tahun IPM Lebak selalu tertinggal dan hampir dipastikan menempati posisi juru kunci apabila dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di Provinsi Banten. sehingga pada akhirnya akan mampu menekan jumlah penduduk miskin. Hal ini menunjukan bahwa pemerintah masih belum serius dalam menangani permasalahan penduduk miskin. kondisi ini juga mencitrakan bahwa pendapatan masyarakat masih cukup rendah dan belum tersedianya lapangan pekerjaan baru yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Implemetasi kebijakan dalam RPJMD tentu saja akan menjadi solusi konstruktif dalam peningkatan kualitas sumberdaya manusia yang terlihat dalam IPM Kabupaten Lebak. Rendahnya IPM ini pun menempati posisi kelima dalam perhitungan matriks IFE. Kondisi yang cukup memprihatinkan tentu saja tingginya angka kemiskinan yang ditunjukan oleh Indeks Kemiskinan Manusia. Kekuatan internal ini pada dasarnya merupakan kekuatan utama karena terkait dengan kebijakan pemerintah yang mendukung program peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Hingga tahun 2008. Oleh karena itu pemerintah daerah seharusnya kembali mefokuskan diri dalam mengembangkan sumberdaya manusia agar secara jangka panjang akan meningkatkan tingkat kesejahteraan. . hal tersebut menunjukan bahwa pembangunan sumberdaya manusia di Lebak memang belum berjalan sebagaimana mestinya. Lebak memiliki paling banyak kelemahan. Kekuatan internal yang memiliki skor terkecil menurut matriks IFE adalah fokus utama Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Penilaian kuesioner pun menempatkan faktor ini sebagai kelemahan yang menempati posisi terakhir. Selain itu.190 Dalam perhitungan IFE ini. jumlah penduduk miskin masih di atas 10 persen.

7 1.3588). adanya program bantuan operasional sekolah (0. Keadaan yang ditunjukan oleh mastriks IFE tentu saja memberikan banyak peluang bagi Lebak agar bisa meningkatkan secara signifikan kualitas sumberdaya manusia yang adal.092 0.2574 0.6 0. banjir.9 3. maka dapat diketahui beberapa faktor-faktor strategis internal utama yang berpengaruh di Kabupaten Lebak.3916 Sumber : Hasil Perhitungan.2 2.1504 2. longsor.1 1. seharusnya Lebak bisa lebih banyak belajar dari tempat lain agar mampu mengatasi ancaman tersebut.094 1 1.392.2988 0.299) dan .2 Analisis Matriks EFE (External Factor Evaluation) Total skor IFE menurut perhitungan adalah sebesar 2. Lebak memiliki tiga peluang utama yang memiliki nilai tertinggi adalah jaminan kesehatan masyarakat miskin (0.6 3.097 0. Angka ini menunjukan bahwa Kabupaten Lebak memiliki kondisi dan kemampuan internal yang sedang dalam memanfaatkan peluang dan mengatasi ancaman.191 8.9 2. Tabel 47 Matriks IFE Pembangunan Wilayah Sumberdaya Manusia Kabupaten Lebak Tahun 2010 No 1 2 3 4 5 6 1 2 Faktor Strategis Eksternal Peluang Adanya program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Jaminan kesehatan masyarakat miskin Peluang block grand pembangunan fasilitas pendidikan dan kesehatan dari pemerintah pusat Kerjasama dengan pihak swasta/investor dalam mengambangkan industri pengolahan Program bantuan pengentasan masyarakat miskin Tingginya permintaan terhadap komoditas pertanian dan hasil olahannya Ancaman Dampak perekonomian global Diskoordinasi program perencanaan pembangunan dengan kabupaten yang berhubungan erat secara spasial dengan Kabupaten Lebak Bencana alam potensial (tsunami.083 0.2754 0.094 3. Begitu pula dengan ancaman yang ada masih bersifat klasik dan hampir terjadi pada seluruh wilayah lainnya di luar Lebak.3588 0.2552 0.1649 0.4 1.4 1.088 0.2 0.0979 0.6 3.2912 0.1288 0.089 0.099 0. dll) persaingan antar daerah dalam menghasilkan komoditas pertanian maupun bahan olahan Kendala investasi yang masih rendah Total Keseluruhan Bobot (A) Rating (B) Skor (AxB) 0.081 0. Tahun 2010 Berdasarkan hasil pengolahan kuesioner dan wawancara yang dilakukan terhadap stakeholder. gempa bumi.1128 3 4 5 0.091 0.092 0.

Karena masyarakat yang sebelumnya kesulitan untuk mengkases layanan pendidikan akan dipermudah karena akan dibebaskan biaya pendidikan hingga sekolah menengah pertama. Pada sisi lainnya. Karena naik turunnya perekonomian dunia akan berpengaruh langsung padi tingkat harga baik harga ongkos produksi maupun harga jual komoditas. Selanjutnya.291). Sudah diketahui bersama bahwa biaya untuk bisa mendapatkan pelayanan kesehatan sangat tinggi dan akhirnya sulit diakses oleh masyarakat yang kurang mampu.165). Bantuan operasional sekolah ini khusus diberikan untuk sekolah dasar dan menengah pertama. kendala investasi yang masih rendah (0. apabila program ini berjalan dengan sukses. Program ini tentu akan mampu menstimulus jumlah peserta didik. Karena justru masalah utama dari masyarakat menengah ke bawah ini adalah akses mereka terhadap pelayanan kesehatan.150) dan adanya persaingan antar daerah komoditas pertanian maupun bahan olahan (0. Peluang utama dari faktor strategis berupa jaminan kesehatan masyarakat miskin merupakan faktor yang sangat tepat dalam meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat. Dampak lanjutannya tentu akan meningkatkan IPM kabupaten secara jangka panjang. Akibatnya wilayah yang menggantungkan hidupnya dalam menghasilkan . tentu akan ikut meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang terlihat pada angka IPM Kabupaten Lebak. terdapat tiga faktor ancaman utama yakni dampak perekonomian global (0. sekolah dasar dan sekolah menengah pertama akan diberikan pelayanan secara gratis kepada seluruh masyarakat.123). Kejadian menurun laju perekonomian secara drastis pada beberapa kecamatan di tahun 2008 bukan lain disebabkan oleh menurunnya perekonomian global atau saat itu terjadi depresi ekonomi secara internasional. Dengan jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin ini akan sangat bermanfaat bagi masyarakat level bawah. Dimana dengan adanya BOS. Kendala ancaman yang selama ini dihadapi oleh Kabupaten Lebak adalah dampak dari perekonomian global.192 banyaknya peluang block grand pembangunan fasilitas pendidikan dan kesehatan dari pemerintah pusat (0. Sistem perekonomian global ini menjadi momok ancaman yang sangat meresahkan masyarakat. Sama halnya dengan peluang adanya program bantuan operasional sekolah yang memberikan banyak manfaat.

Lebak bukan berarti sama sekali tertutup peluang untuk bisa menghadapai segala macam ancaman yang menyulitkan.1 Analisis Matriks I-E (Internal-External) Hasil analisis matriks IE diperoleh dari pemetaan skor total IFE dan skor total EFE pada matriks IE. Dalam satu hal akan meningkatkan nilai tambah dan pada hal lainnya akan menyerap tenaga kerja daerah. . Tujuan utamanya tentu saja agar mampu mempercepat proses desentralisasi pembangunan dimana akan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dan akhirnya meningkatkan pendapatan atau kesejahteraan masyarakat Kabupaten Lebak itu sendiri. Kabupaten Lebak memiliki satu peluang yang sangat bagus dan dalam perhitungan EFE mendapatkan angka yang paling kecil.2.078 dan skor total untuk EFE sebesar 2. Arti penting berupa posisi di sel ke V tersebut menunjukan bahwa Kabupaten Lebak ada pada posisi jaga dan pertahankan (hold dan maintain).193 pada sektor-sektor pimer mengalami dampak negatif yang luar biasa.392. Hasil pemetaan kedua skor tersebut menghasilkan infornasi penting berupa posisi Kabupaten Lebak ada pada sel (kuadran) ke V. Pada konteks lainnya. yakni peluang dalam kerjasama dengan pihak swasta/investor dalam pengembangan industri pengolahan. Akibatnya. Kenyataanya. Adapun hasil dari analisis matriks IE dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Total skor IFE yang diperoleh adalah sebesar 2. laju pertumbuhan ekonomi turun secara drastis dengan angka minus di atas 20 persen dan angka disparitas semakin meningkat hampir mencapai angka 0. 8. Total skor IFE diletakan pada sumbu x (horizontal) dan total skor EFE pada sumbu y (vertikal). Kerjasama dalam pengembangan industri pengolahan berbasis kearifan lokal ini akan menjadi faktor yang cukup besar dalam meningkatkan perekonomian daerah. Segala kekuatan dan kelemahan pada internal serta peluang dan ancaman pada eksternal harus disikapi dengan seksama dan mampu menjaga itu semua.8.

IV dan kemudian puncaknya pada sel ke-I. Pemerintah Kabupaten Lebak diharapkan semakin sensitif dan proaktif dalam memberikan respon terhadap faktor-faktor strategis eksternal dan semakin berupaya memperkuat potensi kekuatan internalnya. Dimana pada intinya.0-2. diharapkan posisi Kabupaten Lebak dapat terus bergerak menuju ke sel II.0) 2.2. SWOT .00-4.0 1.0 Lemah (1. formasi kondisi pembangunan sumberdaya manusia berada pada sel ke V. Di saat yang akan mendatang.0 Sedang (2.0 Total Rata-rata Tertimbang EFE Tinggi (3. Tahun 2010 Gambar 38 Hasil Analisis Matriks Internal-Eksternal (I-E) Pembangunan Sumberdaya Manusia di Kabupaten lebak Berdasarkan hasil analisis di atas.0-1. akan dianalisis beberapa akar utama permasalahan yang terjadi dan solusi penyelesaian. Strategi dan kebijakan yang sedang dijalankan harus bisa terus dievaluasi dan diperbaiki sehingga mampu mengekstraksi kebijakan yang tepat guna dan mengakselerasi proses desentralisasi pembangunan di Kabupaten Lebak.0 VIII IX Sumber : Hasil Perhitungan.99) 2.0-2. yang berarti faktorfaktor strategis internal maupun eksternal sama-sama dalam kondisi kuat.0 V VI Lemah (1. Melalui analisis SWOT ini. artinya juga Kabupaten Lebak berada pada kondisi internal rata-rata dan respon terhadap faktor-faktor eksternal yang dihadapi tergolong sedang. 8.99) VII 1.0-1.0 II I II IV 3.2 Analisis SWOT Strategi alternatif pengembangan human resources atau sumberdaya manusia wilayah tertinggal di Kabupaten Lebak akan menggunakan analisis SWOT.0 4.99) Rata-rata (2.194 Total Rata-rata Tertimbang IFE Kuat (3.99) 3.00-4.0) 4.

walaupun dengan proses . 8. Implementasi dan evaluasi RPJMD khususnya yang berfokus pada pembangunan pendidikan dan kesehatan 8. maka akan mengevaluasi secara kualitatif berdasarkan data yang tersedia berupa Strengths (kekuatan). Analisis SWOT tersebut dibentuk berdasarkan pertimbangan atas matriks IFE dan EFE yang terdiri dari empat strategi yakni S-O (Strengths-Opportunities). Opportunities (kesempatan) dan Threats (peluang) pembangunan sumberdaya manusia di Kabupaten Lebak.2 Strategi Weaknesses-Opportunities (W-O) Berbagai kelemahan internal Kabupaten Lebak dapat ditangani dengan memanfaatkan peluang eksternal yang telah tersedia. Lebak seharusnya memiliki komoditas unggulan yang bisa menjadi icon dan pondasi utama pembangunan ekonomi.2. sehingga akan tercipta strategi dalam menangani kelemahan tersebut agar wilayah mampu berkembang lebih cepat.1 Strategi Strengths-Opportunities (S-O) Strategi S-O bagi Kabupaten Lebak dirumuskan dengan memperhitungkan kekuatan internal seperti terdapat pada hasil analisis IFE untuk memanfaatkan peluang eksternal yang terdapat pada hasil analisis EFE. W-O (Weaknesses-Opprtunities). 2. Kelemahan internal Kabupaten merupakan suatu faktor bahan evaluasi untuk kemudian bisa diperbaiki ke depannya. Weaknesses (kelemahan). baik yang positif maupun negatif dalam proses pembangunan wilayah.2.195 ini menganalisis faktor internal dan eksternal. 4. Adapun hasil alternatif strategi adalah sebagai berikut : 1. Berdasarkan analisis SWOT.2.2. Pembinaan siswa dan mahasiswa berprestasi agar diarahkan untuk mengenyam pendidikan yang erat hubungannya dengan tenaga pendidik dan kesehatan 3. Perancangan program agroindustri agar mampu meningkatkan nilai tambah produksi komoditas pertanian. perikanan dan perkebunan dengan sinergisasi investasi yang saling menguntungkan. S-T (Strengths-Threats) dan yang keempat adalah strategi W-T (WeaknessesThreats).

196 yang terbilang tidak mudah. Pendataan kembali masyarakat miskin agar jaminan kesehatan masyarakat miskin mampu terdistribusi dengan baik 3. Menemukan. mempromosikan dan meningkatkan daya saing komoditi dan produk lokal sehingga dapat meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian dan meningkatkan peluang terhadap pasar regional serta global .2. namun tetap mungkin untuk dilakukan. Memperluas jaringan listrik hingga pelosok daerah yang belum terjangkau 6. khususnya untuk wilayah-wilayah yang relatif masih kekurangan sumberdaya tenaga pengajar dan kesehatan 8. khususnya dalam melaksanakan perencanaan dan penyelesaian masalah 2. Peningkatan kapasitas profesionalisme aparatur guna meningkatkan mutu pelayanan publik di bidang pendidikan dan kesehatan 8. Memperbaiki aksesibilitas transportasi jalan darat agar mampu meningkatkan minat investasi dan merangsang aktivitas perekonomian lainnya antar wilayah di Lebak 7. Menurunkan angka kemiskinan dengan program pembinaan kelompok mandiri 5. Memberikan dorongan kepada sekolah-sekolah dan dinas kesehatan agar bisa mendapatkan bantuan block grand fasilitas pendidikan dan kesehatan 4. Optimalisasi bantuan operasioanal sekolah agar bisa meningkatkan rata-rata lama sekolah 2.3 Strategi Strengths-Threats (S-T) Sejumlah ancaman yang dihadapi Kabupaten Lebak dapat dihindari atau minimal mampu dikurangi dengan upaya memanfaatkan kekuatan internal yang telah dimiliki. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui strategi berikut ini : 1. Jadi strategi S-T ini adalah strategi yang memadukan ancaman eksternal dengan kekuatan internal. Adapun perumusan strateginya adalah terdiri dari berikut ini : 1.2. Melakukan rekrutmen pegawai pendidikan dan kesehatan. Menjalin kerjasama dengan wilayah sekitar yang menjadi satelit Lebak.

4 Strategi Weaknesses-Threats (W-T) Strategi W-T ditujukan untuk mengurangi kekurangan internal dan menghindari ancaman eksternal yang dapat menghambat proses pembangunan di Kabupaten Lebak. Harapannya kekurangan internal dan ancaman eksternal ini dapat dihilangkan dan menjadi potensi besar dalam pembangunan.2. Tahap ini merupakan tahap terakhir dalam perumusan strategi. Hasil analisis QSPM yang telah dihitung akan mengindikasikan urutan alternatif strategi yang terbaik. Mendorong daerah (kecamatan) untuk menggali potensi daerah yang memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif sehingga mampu menjadi daerah mandiri 8.3 Analisis QSPM Langkah terkahir dalam merumuskan strategi alternatif kebijakan adalah tahap memutuskan kebijakan melalui analisis QSPM.2. Strategi S-T yang dapat dijalankan adalah sebagai berikut. . Memberikan dorongan kepada sekolah-sekolah dan dinas kesehatan agar bisa mendapatkan bantuan block grand fasilitas pendidikan dan kesehatan (6. Melalui analisis ini.064).2. maka ditentukanlah peringkat strategi sebagai acuan prioritas strategi yang akan diimplementasikan. Penentuan peringkat dilakukan dengan pemberian daya tarik relatif terhadap strategi-strategi yang telah dihasilkan oleh analisis SWOT dengan menggunakan analisa QSPM. yakni : 1. Meningkatkan insentif yang dapat menggairahkan investasi yang berorientasi pasar guna membangun perekonomian daerah 3.197 3. Matriks QSPM tersebut menunjukan urutan TAS dari yang tertinggi hingga terendah. Mengembangkan dan mengoptimalkan pasar-pasar kabupaten sebagai sumber pendapatan daerah dan penyerap tenaga kerja 2. Mengembangkan sistem pengelolaan sumberdaya alam ramah lingkungan serta berkelanjutan dan penerapan deteksi dini bagi bencana alam 8. hasilnya adalah seperti yang tertulis di bawah ini : 1.

Melakukan rekrutmen pegawai pendidikan dan kesehatan. Menemukan. Optimalisasi bantuan operasional sekolah agar bisa meningkatkan rata-rata lama sekolah (5.619) 14.448) .028) 7.852) 4.830) 12. khususnya untuk wilayah-wilayah yang relatif masih kekurangan sumberdaya tenaga pengajar dan kesehatan (5. Menurunkan angka kemiskinan dengan program pembinaan kelompok mandiri (4. perikanan dan perkebunan dengan sinergisasi investasi yang saling menguntungkan (4. Mengembangkan dan mengoptimalkan pasar-pasar kabupaten sebagai sumber pendapatan daerah dan penyerap tenaga kerja (4. Memperbaiki aksesibilitas transportasi jalan darat agar mampu meningkatkan minat investasi dan merangsang aktivitas perekonomian lainnya antar wilayah di Lebak (6.993) 9. Pendataan kembali masyarakat miskin agar jaminan kesehatan masyarakat miskin mampu terdistribusi dengan baik (5. Implementasi dan evaluasi RPJMD khususnya yang berfokus pada pembangunan pendidikan dan kesehatan (4. Memperluas jaringan listrik hingga pelosok daerah yang belum terjangkau (4.592) 5. mempromosikan dan meningkatkan daya saing komoditi dan produk lokal sehingga dapat meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian dan meningkatkan peluang terhadap pasar regional serta global (4. Pembinaan siswa dan mahasiswa berprestasi agar diarahkan untuk mengenyam pendidikan yang erat hubungannya dengan tenaga pendidik dan kesehatan (5. Perancangan program agroindustri agar mampu meningkatkan nilai tambah produksi komoditas pertanian.745) 13.021) 3.887) 11.012) 8. Lebak seharusnya memiliki komoditas unggulan yang bisa menjadi icon dan pondasi utama pembangunan ekonomi (4. Peningkatan kapasitas profesionalisme aparatur guna meningkatkan mutu pelayanan publik di bidang pendidikan dan kesehatan (5.194) 6.991) 10.198 2.

Seperti yang ditunjukan prioritas strategi utama QSPM yang merekomendasikan untuk mendorong kepada sekolah-sekolah dan dinas kesehatan untuk mendapatkan bantuan berupa block grant fasilitas pendidikan dan kesehatan. Kedua. maka dapat terlihat bahwa terdapat lima strategi dengan nilai TAS tertinggi dan harus diprioritaskan agar pembangunan sumberdaya manusia berkembang dengan pesat. khususnya untuk wilayah-wilayah yang relatif masih kekurangan sumberdaya tenaga pengajar dan kesehatan.173) Berdasarkan informasi yang diberikan oleh matriks QSPM. Dimana rasio . Kelima. Keempat. memperbaiki aksesibilitas transportasi jalan darat agar mampu meningkatkan minat investasi dan merangsang aktivitas perekonomian lainnya antar wilayah di Lebak.422) 16.386) 17. Melalui strategi ini diharapkan mampu meningkatkan meningkatkan pelayanan publik di bidang pendidikan dan kesehatan. Hasil pembobotan strategi alternatif berdasarkan analisis QSPM konsisten dengan kondisi umum sumberdaya manusia dan pembahasan sebelumnya terkait pengaruh sumberdaya terhadap struktur ekonomi dan disparitas pembangunan wilayah.199 15. memberikan dorongan kepada sekolah-sekolah dan dinas kesehatan agar bisa mendapatkan bantuan block grant fasilitas pendidikan dan kesehatan. Menjalin kerjasama dengan wilayah sekitar yang menjadi satelit Lebak. optimalisasi bantuan operasioanal sekolah agar bisa meningkatkan rata-rata lama sekolah. Ketiga. khususnya dalam melaksanakan perencanaan dan penyelesaian masalah (4. peningkatan kapasitas profesionalisme aparatur guna meningkatkan mutu pelayanan publik di bidang pendidikan dan kesehatan. Mengembangkan sistem pengelolaan sumberdaya alam ramah lingkungan serta berkelankutan dan penerapan deteksi dini bagi bencana alam (4. melakukan rekrutmen pegawai pendidikan dan kesehatan. Meningkatkan insentif yang dapat menggairahkan investasi yang berorientasi pasar guna membangun perekonomian daerah (4. Pertama.279) 18. Mendorong daerah (kecamatan) untuk menggali potensi daerah yang memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif sehingga mampu menjadi daerah mandiri (4. Selain itu sesuai dengan pembahasan pada bab pengaruh pelayanan publik terhadap IPM.

Dari sisi masyarakat. maka proses pembangunan sumberdaya manusia pun akan berjalan dengan baik. sejak tiga tahun terakhir pendidikan SD dan SMP digratiskan untuk seluruh sekolah negeri. Dampak seperti ini sebetulnya tidak hanya akan mempengaruhi minat investasi dan aktivitas ekonomi. Apabila angka . Dari perspektif aparat sendiri juga akan menjadi insentif tidak langsung yang menjadi faktor penarik agar semakin banyak aparat yang bersedia ditempatkan di tempat terpencil agar pemerataan pembangunan berjalan dengan baik. baik dalam mencapai fasilitas pelayanan publik pendidikan maupun kesehatan. Pada akhirnya. Apabila aksesibilitas transportasi darat telah diperbaiki. Strategi lainnya yang juga mendapatkan predikat sebagai prioritas adalah Melakukan rekrutmen pegawai pendidikan dan kesehatan. namun akan ikut menstimulus aktivitas lainnya. Peningkatan tenaga pendidikan seperti guru SMP. dokter. khususnya untuk wilayah-wilayah yang relatif masih kekurangan sumberdaya tenaga pengajar dan kesehatan. dengan membaiknya akses akan memberikan kemudahan aktivitas mereka. Melalui dana BOS ini. Melalui kebijakan ini diharapkan mampu mempercepat proses peningkatan kualitas sumberdaya manusia.200 bangunan sekolah dan fasilitas kesehatan mampu meningkatkan angka IPM pada level Kecamatan di kabupaten Lebak Strategi kedua yang diprioritaskan adalah dengan memperbaiki aksesibilitas transportasi jalan darat agar mampu meningkatkan minat investasi dan merangsang aktivitas perekonomian lainnya antar wilayah di Lebak. Karena tujuan digulirkannya program BOS ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk bisa meningkatkan angka partisipasi sekolah hingga memasuki jenjang wajib sekolah sembilan tahun. khususnya untuk kecamatan-kecamatan yang memiliki angka IPM rendah. Penggunaan dana bos yang diberikan oleh Kemeterian Pendidikan Nasional harus digunakan sesuai dengan kebutuhan. guru SMA. profesionalisme pelayanan publik di bidang kesehatan dan pendidikan akan mencapai titik optimal sesuai standar pelayanan minimal pelayanan publik. perawat dan bidan akan memicu peningkatan IPM secara signifikan. Strategi ini sesuai dengan hasil pembahasan pengaruh pelayanan publik terhadap IPM. Strategi keempat yang juga menjadi prioritas adalah terkait penggunaan dana bantuan operasional sekolah (BOS).

201 partisipasi sekolah meningkat. selanjutnya akan meningkatkan kinerja dan pasti akan memberikan kepuasan kepada masyarakat. Dengan meningkatkan kinerja pelayanan publik maka kualitas sumberdaya manusia akan baik dan tinggi. Kelima prioritas strategi di atas dianggap sudah cukup tepat dalam meningkatkan proses pemeratan pembangunan nasional. Profesionalisme pelayanan publik juga menunjukan bagaimana kesuksesan proses manajerial dalam level pemerintah daerah di era otonomi daerah yang sudah berjalan hampir satu dekade ini. maka tentu saja sudah bisa dipastikan bahwa pelayanan publik yang diberikan oleh pemerintah daerah sudah jauh lebih baik dan di atas dari standar pelayanan minimal pelayanan publik. Karena perlu diakui bahwa permasalahan dalam pembahasan yang cukup pelik salah satunya adalah terkait buruknya pelayanan publik di bidang pendidikan dan kesehatan yang menyebabkan rendahnya kualitas sumberdaya manusia. Berkualitasnya sumberdaya manusia di suatu wilayah akan menurunkan tingkat disparitas pembangunan wilayah yang dihitung dengan indeks Williamson. Selain itu akan mampu menjawab permasalahan yang menjadi teka teki utama pertanyaan dan pembahasan dalam penelitian tesis ini yakni keterkaitan tiga pilar dalam pembangunan yakni pelayanan publik. Apabila tingkat disparitas di suatu daerah sudah pada angka yang relatif rendah atau bahkan sudah merata. Dengan meningkatnya pelayanan publik. tentu selanjutnya akan meningkatkan rata-rata lama sekolah dan output akhirnya adalah meningkatnya angka IPM Kabupaten Lebak. Strategi terakhir atau kelima yang menjadi prioritas adalah profesionalisme pelayanan publik di bidang kesehatan dan pendidikan akan mencapai titik optimal sesuai standar pelayanan minimal pelayanan publik. kualitas sumberdaya manusia dan tingkat disparitas pembangunan wilayah. .

Diperlukan beberapa strategi alternatif dalam menanggulangi probematika utama pembangunan sumberdaya manusia di Kabupaten Lebak. Rendahnya kualitas pelayanan publik memberikan dampak yang sangat berarti terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat yang diterjemahkan melalui struktur perekonomian wilayah di Lebak. rasio puskesmas. 3. dan SMU). Dalam pemodelan ekonometrika. Melalui analisis Tipologi Klassen. rasio dokter.202 BAB IX KESIMPULAN DAN SARAN 9. Pertama. Hal tersebut dapat terlihat dari rendahnya penilaian sikap masyarakat terhadap kinerja pelayanan publik di bidang pendidikan dan kesehatan. Hampir 60 persen penduduk pada tahun 2010 masih berprofesi di sektor pertanian dan perikanan. pada tahun 2009 hampir 90 persen wilayah kecamatan relatif tertinggal dengan status pertumbuhan dan pendapatan rendah. Terjadi disparitas pelayanan pengembangan sumberdaya manusia antara wilayah utara dengan selatan. rasio belanja infrastruktur umum dan rasio belanja infrastruktur pendidikan. rasio rumah sakit. memberikan dorongan kepada sekolah-sekolah dan dinas kesehatan agar bisa mendapatkan bantuan block grant fasilitas pendidikan dan kesehatan. terdapat beberapa varibel pelayanan publik yang mampu meningkatkan IPM yakni rasio bangunan sekolah (SD. Kedua. Hal tersebut dapat ditunjukan oleh semakin meningkatnya Indeks Williamson dalam satu dekade terakhir selama diberlakukannya otonomi daerah.1 Kesimpulan 1. rasio perawat dan rasio bidan. Pelayanan publik di bidang pendidikan dan kesehatan masih belum sesuai dengan standar pelayanan minimal dan kepuasan masyarakat. 2. Terdapat empat variabel yang menjadi sumber disparitas pembangunan wilayah yakni pertumbuhan PDRB. pertumbuhan IPM. sehingga sektor yang paling dominan membentuk struktur perekonomian di Lebak adalah pertanian. memperbaiki aksesibilitas transportasi jalan darat untuk meningkatkan minat . Meningkatnya angka ketertinggalan ini pun diikuti dengan tingginya angka penduduk miskin dan tingkat disparitas pembangunan wilayah. SMP. rasio guru (SMP dan SMA).

Angka disparitas yang ditunjukan oleh Indeks Williamson Tahun 2009 di Lebak sangat tinggi. Apabila kendala mentalitas tersebut berhasil ditangani. 3. sehingga diharapkan dengan adanya perbaikan akses transportasi ini akan mampu ikut menurunkan disparitas pembangunan hingga akhirnya tentu saja mempercepat proses pemerataan kesejahteraan masyarakat. disparitas pembangunan wilayah Kabupaten Lebak (Indeks Williamson) merupakan fungsi dari belanja infrastruktur dan IPM. sebaiknya pemerintah mengalokasikan pembangunan infrastruktur kepada kecamatan-kecamatan yang memiliki infrastruktur rendah agar mampu meningkatkan IPM dan selanjutanya menurunkan tingkat disparitas. . kinerja pelayanan publik pendidikan dan kesehatan cukup rendah. Oleh karena itu. sebaiknya Pemkab Lebak memusatkan fokus utamanya dalam perbaikan akses transportasi. Dalam pemodelan ekonometrika. maka Indeks Williamson akan menurun. maka bukan tidak mungkin jika pelayanan publik yang prima dan memberikan kepuasan kepada masyarakat dapat segera direalisasikan. Keempat. peningkatan kapasitas profesionalisme aparatur guna meningkatkan mutu pelayanan publik di bidang pendidikan dan kesehatan. aktivitas perekonomian. yakni 0. Kelima.69. Oleh karena itu untuk meningkatkan IPM. optimalisasi BOS untuk meningkatkan ratarata lama sekolah. selain itu IPM juga merupakan fungsi dari belanja infrastruktur di tingkat kecamatan. Jika belanja infrastruktur meningkat. Melakukan rekrutmen pegawai pendidikan dan kesehatan. Berdasarkan analisis IPA. oleh karena itu. agar mampu meningkatkan performansi. 8.2 Saran 1.203 investasi dan menstimulus aktivitas perekonomian antar wilayah di Lebak. Ketiga. profesionalitas dan pemerataan pelayanan publik. maka sebaiknya Pemkab Lebak melakukan pembinaan mentalitas aparatur secara berkesinambungan. 2. karena memiliki multiplier effect yang cukup besar dalam meningkatkan performansi pelayanan publik. khususnya untuk wilayah-wilayah yang relatif masih kekurangan sumberdaya tenaga pengajar dan kesehatan.

Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Lebak 2008. R H Jr.204 DAFTAR PUSTAKA Adams. Gramedia: Jakarta BAPPEDA Bekerjasama dengan BPS Kabupaten Lebak. Publikasi Hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2007. Tiga Pilar Pengembangan Wilayah (Sumberdaya Alam. Northerm Perspective : Canadian North Budiardjo. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Lebak: Lebak . 2008. Fikret. L. Policy Research Working Paper #2972. Inequality and Povert : Finding from a New Data Set. 1999. Badan Pusat Statistik Provinsi Banten: Lebak Arsyad. Kabupaten Lebak Dalam Angka 2008. Badan Pusat Statistik Provinsi Banten: Lebak _______. Pusat Pengkajian Kebijakan Teknologi Pengembangan wilayah. 1994. Word Bank Alkadri. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah. 2009. Pusat Pengkajian Kebijakan Teknologi Pengembangan wilayah. 1972.. 2003. Miriam. BPS Kabupaten Lebak: Lebak Berkes. Dasar-dasar Ilmu Politik. Badan Pusat Statistik Provinsi Banten: SerangBanten _______. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi: Jakarta Bappeda Kabupaten Lebak. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi: Jakarta Alkadri. BPFE Universitas Gajah Mada: Yogyakarta Bapeda Bekerjasama Dengan BPS Kabupaten Lebak. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Lebak 2001-2008. Manajemen Teknologi Untuk Pengembangan Wilayah. 2009. 2009. 2001. Economic Growth. Co-management : Bridging the Two Solitudes. 2009. Hasil Pendataan Data Pokok Kabupaten Lebak 2008. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Lebak: Lebak BPS Kabupaten Lebak. sumberdaya Manusia dan Teknologi). 2009. Data Pokok Pembangunan Kabupaten Lebak Tahun 2007/2008. 1999.

Penerbit IPWI: Jakarta Cahyono. Analisis Plaform Tujuh Partai Politik Pemenang Pemilu 2004 Dalam Penentuan Kebijakan Pembangunan Pertanian dengan . Edwin B. Bambang Tri. 1996. Fred R. Hani. BPFE: Yogyakarta Hasibuan. Bumi Aksara: Bandung Haris. Basic Econometrics. Syamsudin. Manajemen Sumberdaya Manusia. The Liang. DPRD Kabupaten Lebak: Lebak Dollar. Manajemen Personalia dan Sumberdaya Manusia. Fourth Edition. 1967. Penerbit IPWI: Jakarta Carpenter. Policy Research Working Paper : 2615. Susan. Desentralisasi dan Otonomi Daerah. Personal Administration and Human Resources Management. 2000. International Edition. 1986. Aspek Lokasi Dalam Analisis Ekonomi Wilayah. Bambang Tri. Melayu. Manajemen Strategis Konsep Edisi 10. 1999. 1989. D and Kraay. Jakarta: IKIP Press: Jakarta Forbes. Jurusan Ilmuilmu Sosial Ekonomi Pertanian. 1995. 2006. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta Gujarati. 2005. Fakultas Pertanian. LIPI Press: Jakarta Hidayat. Prospek Otonomi Daerah di Negara Republik Indonesia. et. 2001. Manajemen Sumberdaya Manusia. 2000. Pandangan Manajemen Sumberdaya Manusia. N. Hendra. A. 2005. Sage Publication : California David. 2009. McGraw-Hill Higher Education : Singapore Hanafiah. Choosing Appropriate Consensus Building Techniques and Strategies. American Economic Review 40(4) : 869-887 Gie. Risalah Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Lebak Dalam Rangka Pembentukan Komisi Transparansi dan Partisipasi Kabupaten Lebak Periode 2008-20012. 1996. A Reassessment of the Relationship Between Inequality and Growh. 2003. K J. Institut Pertanian Bogor: Bogor Handoko. al. D. Salemba Empat : Jakarta Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Lebak. Growth and Poverty. T. Trade. Word Bank Flippo.205 Cahyono.

2009. 2009. Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Metodologi Penelitian Ekonomi dan Bisnis. Pemodelan dan Pendugaan. Depdiknas RI : Jakarta Kepmenkes. Ghalia Indonesia: Jakarta Kartodirdjo. 2006. Bambang. 1996. Beberapa Aspek Pembangunan Nasional dan Daerah. 2005. Tim Work Lapera Pustaka Utama: Jakarta . Political order in changing societies. Ekonomi Pembangunan: Teori. 1970.. Sartono. Masalah dan Kebijakan. Depkes RI : Jakarta Kuncoro. Peraturan Pelaksanaan dan Administrasi Pemerintahan Desa dan Kelurahan. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Tentang Standar Pelayanan Pendidikan Nasional. Ekonometrika. Politik Pemberdayaan. Strategi Pembangunan Ekonomi Wilayah Kota Malang. 1983. Hunt. Erlangga: Jakarta Huntington. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. 2000. Universitas Brawijaya: Malang Jhingan. Jurusan Ilmu ekonomi dan Studi Pembangunan. Skripsi. Fokusmedia: Bandung Horton. PT Raja Grafindo Persada Persada: Jakarta Juanda. Keputusan Menteri Kesehatan tentang Standar Pelayanan Minimal Kesehatan. CIDES: Jakarta Rakyat: Mamadukan Kepmendiknas. 1997. Sosiologi. IPB Press : Bogor _______________. Pusat Kajian Kinerja Otonomi Daerah: Jakarta Lapera.. 2006.206 Pendekatan Agribisnis. Pembangunan Untuk Pertumbuhan dan Pemerataan. M. Samuel P. Sistem Manajemen Kinerja Otonomi Daerah. 2008.L. Institut Pertanian Bogor : Bogor Himpunan Peraturan dan Petunjuk Pelaksanaan. Chester L. Rustian. Yale University Press: London Istiqomah. Skripsi.. Program Ilmu Ekonomi. 2001. M. 1994. Paul B. Penerbit FE UGM: Yogyakarta LAN. 2004. IPB Press : Bogor Kamaluddin. New Haven and London.

Pemkab Lebak: Lebak Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak. Beyond Neutrality : Confronting the Crisis in Conflict Resolution. Program Studi Agribisnis. Hamdani. 2002. Skripsi. Analisis Ketimpangan Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Gorontalo. 2004. Moh. Oxford Dictionary of Geography. 2004. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. Institut Pertanian Bogor : Bogor Lousia. Skripsi. S. Community-based Forest Resource Conflict Management. et all. Herwin. 2009. Skripsi. Strategi Pembangunan Ekonomi Wilayah Kota Malang. Menggagas Format Otonomi Daerah Masa Depan. Oxford University Press. Departemen Ilmuilmu Sosial Ekonomi Pertanian IPB: Bogor Mopangga. 1997. 2009. 2000. Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. 2004. Sekolah Pascasarjana IPB : Bogor Nawawi. Pemetaan Potensi Pertanian Di Kota Batu Menggunakan Sistem Informasi Geografi. Windy. 2006. Universitas Brawijaya: Malang Martaria. 2004. 2003. Samitra Media Utama: Jakarta Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak. Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2008. Jossey-Bass: San Francisco Mayhew. 2009. Irene Budi. Bernad S. UGM Press: Yogyakarta Nazir.207 Lestari. Metode Penelitian. Universitas Brawijaya: Malang Mayer. Analisis Penilaian sikap Konsumen Terhadap Atributatribut Restoran Tradisional Sunda Gurih 7. Prioritas dan Plafon Anggaran (PPA) Kabupaten Lebak Tahun Anggaran 2009. Jurusan Administrasi Negara. 2006. Francisca Stella. Sejarah Kabupaten Lebak. 2004. Pemkab Lebak: Lebak Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak. Pemkab Lebak: Lebak Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak. Arah dan Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2008. 2010. Training Package FAO: Roma Modul Kuliah. London Means. Manajemen Sumberdaya Manusia untuk Bisnis yang Kompetitif. Ghalia Indonesia: Jakarta Oentarto. Perencanaan Pembangunan Wilayah. Katherine. dkk. Pemkab Lebak Bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran: Lebak .

Pusat dan Daerah Siap Berotonomi Daerah. Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Studi Kasus Pemerintah Daerah Kota Cimahi Propinsi Jawa Barat. Jalaluddin. Pengembangan wilayah Dalam Reformasi Tata Pemerintahan Desa: Pelajaran dari Lima Provinsi dan Beberapa tantanga Ke Depan. 2005. Skripsi. 2007. Arya Hadi. Ekonomi Regional. Sosiologi dan Politik. Teori dan Aplikasi. S. Eka Intan Kumala. Journal of Economic Growth 1 (3) : 149-187 Philipus dan Aini. R. Developmen Economics. Rekayasa Sosial Reformasi atau Revolusi. Ricardo. Peran Aktif Komisi Transparansi dan Partisipasi Dalam Mewujudkan Tata Pemerintahan Daerah yang Baik. Analisis Perilaku Mayarakat Menurut Strata Ekonomi Mengenai Atribut Air Bersih dan Implikasi terhadap Kebijakan: Suatu Aplikasi “Laddering Method” dan analyitic Hierarchy Process. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta. Growth. PT Remaja Rosdakarya: Bandung Ramirez.208 Perroti. al. 2001. LPPM IPB Bekerjasama dengan UNDP: Bogor Putri. Institut Pertanian Bogor: Bogor Rahmat. 2009. 1996. Esti. Makalah Seminar Risalah Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Lebak Dalam Rangka Pembentukan Komisi Transparansi dan Partisipasi Kabupaten Lebak Periode 2005-2008. DPRD Kabupaten Lebak: Lebak . Institut Pertanian Bogor : Bogor Putri. 1999. IPB Press : Bogor Salvatore. Mimbar Departemen Dalam Negeri: Jakarta Sudi. 2007. Caledonia St : Guelph Rustiadi. Prasetiyowati. Understanding the Approaches for Accomodating multiple stakeholder interest : Agricultural Resources. 2003. 2001. dan Dharmawan. Pelaksanaan Kepemimpinan Pemerintah Kota Setelah Berlakunya Otonomi Daerah. 1977. D. McGraw-Hill: New York Sjafrizal. et. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. 2004. Nurul. Eka Intan Kumala. Usulan Penelitian Hibah Bersaing. Income Distribution and Democracy : What the Data Say. Governance and Ecology. and Dowling. E. Didih Muhammad. Badouse Media : Padang Soedirdja. E.

Insan Cendikia: Surabaya Wirosuhardjo. Dinas Informasi Komunikasi Budaya dan Pariwisata (INKOSBUDPAR) Kabupaten Lebak: Lebak Tarigan. 2006. Strategi dan Praktek Kolaborasi : Sebuah Tinjauan. Agus. Economic Growth and Development. Pemkab Lebak Project Implementation Unit: Lebak Sutisna. Kado Ulang Tahun Ke-176 Kabupaten Lebak. 2001. Bahan-bahan Kuliah Evaluasi Kinerja. Pustaka Latin : Bogor Sustainable Capacity Building for Decentralization. CV Deni’s Grafika: Jakarta . 2009. International Edition Widodo. McGraw Hill. 2001. Island Press : California Zaitun. Institut Pertanian Bogor : Bogor Van Den Berg. Lebak dalam Arus Perubahan. Agung.209 Sulistiyono. 2005. Michael P. Making Collaboration Work : Lesson from Innovation in Natural Resources Management. edisi kesepuluh. Lebak: Kota yang Sedang Berhias. Analisis Penilaian Sikap Masyarakat Terhadap Pelayanan Publik Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak – Banten (Studi Kasus Kecamatan Maja dan Kecamatan Bayah). Agus. Universitas Brawijaya: Malang Suporahardjo. 2005. dan Steven L. Teori dan Aplikasi. 2004. Manajemen Kolaborasi : Memahami Pluralisme Membangun Konsensus. Buchori. Program Studi Agribisnis. IPWI Press: Jakarta Wondellock. Smith. Yafee. 2000. Analisis Potensi Industri Berbasis Pertanian (Agroindustri) Di Propinsi Jawa Timur. Departemen Ilmuilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Kado Ulang Tahun Ke178 Kabupaten Lebak. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. 2007. Skripsi. Skripsi. Eka Purna. Bumi Aksara : Jakarta Todaro. Pembangunan Ekonomi. 2001. Pustaka Latin : Bogor Suporahardjo. Ekonomi Regional. Penerbit Erlangga: Jakarta Yudha. 2005. Good Governance Telaah dari Dimensi Akuntabilitas dan Kontrol Birokrasi pada Era Desentralisasi dan Otonomi Daerah. 2007. R. Rencana Aksi Peningkatan yang Berkelanjutan Untuk Desentralisai Kabupaten Lebak 2005-2009. 1996. Manajemen Sumberdaya Manusia Indonesia. H. Dinas Informasi Komunikasi Budaya dan Pariwisata (INKOSBUDPAR) Kabupaten Lebak: Lebak Sutisna. Julia M. 2006. Kartomo. and Stephen C. J.

025 0.486 0.486 0.495 0.002 0.406 0.486 0.046 0.035 0.405 0.013 0.486 0.081 0.486 α≤ 0.486 0.486 0.264 0.036 0.486 0.486 0.486 0.289 0.450 0.004 0.486 0.473 -0.628 0.250 0.486 0.289 0.025 0.026 0.042 0.486 0.250 0.486 0.042 0.486 0.028 0.041 0.038 0.512 Spearman Coefficient 0.428 0.486 0.120 0.478 0.444 0.310 0.486 0.378 0.486 0.486 0.486 0.486 0.446 0.486 0.013 0.027 0.049 0.460 0.011 0.040 0.021 0.046 0.000 0.551 0.021 0.486 0.209 Lampiran 1.012 0.002 0.486 0.486 α≤ 0.013 0.486 0.033 0.047 0.486 0.486 0.404 0.610 Spearman Coefficient 0.200 0.456 0.486 0.458 0.486 0.022 0.499 0.486 0.002 HASIL Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid ATRIBUT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 • Hasil Uji Validitas Atribut Kinerja Pelayanan Publik Kesehatan JUMLAH 82 93 73 59 60 90 79 70 75 74 68 80 87 97 86 78 87 87 N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 Correlation Coefficient 0.050 0.310 0.115 0.050 0.471 0.486 0.505 0.059 0.486 0.486 0.112 0.045 0.486 0.486 0.015 0.486 0.486 0.102 0.408 0.030 0.036 0.040 0.000 0.042 0.493 0.486 0.726 0.780 0.05 0.486 0.552 0.329 0.028 0.200 0.486 0.486 0.486 0.450 0.250 0.043 0.486 0.021 HASIL Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 ATRIBUT . Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas • Hasil Uji Validitas Atribut Kinerja Pelayanan Publik Pendidikan JUMLAH 82 93 73 59 60 90 79 70 75 74 68 80 87 97 86 78 87 91 80 96 75 71 76 73 72 74 66 N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 Correlation Coefficient 0.593 0.023 0.05 0.544 0.036 0.486 0.

.444 dengan N=20.210 • Hasil Uji Reliabilitas Reliability Statistics Cronbach's Alpha Based on Cronbach's Alpha . Nilai r tabel adalah 0. Dengan demikian kuesioner dinyatakan reliabel karena r 11 > r tabel . selang kepercayaan 95%.865 N of Items 38 Dari hasil perhitungan dihasilkan reliabilitas kuesioner (r 11 ) adalah 0.844 Standardized Items .966.

000 0.6051 0.000 0.29 4.3 MS 160.80 -4.2609 1.6 15.21 3.882 Coef 63.54 P 0. .4400 0.3 8694.3 + 1.0268 1.5936 -0. The regression equation is IPM = 63.1% Analysis of Variance Source Regression Residual Error Total Source Rasio ba Rasio Ba Rasio Ba Rasio Ju Rasio Gu Rasio Gu DF 1 1 1 1 1 1 DF 6 21 27 SS 9651.03878 0.6% R-Sq(adj) = 92.8 1482.25 Rasio Bangunan SMP-Penduduk SMP + 1.76 6..75 P 0.5 61.000 0.03 Rasio bangunan SD-Penduduk usia + 1.18440 0.000 R-Sq = 92.000 0.8 Seq SS 2512. Rasio Bangunan S.184 Rasio Jumlah Guru SD-murid SD + 0.373 Rasio Guru SMA-Murid SD Predictor Constant Rasio ba Rasio Ba Rasio Ba Rasio Ju Rasio Gu Rasio Gu S = 3.3416 0.211 Lampiran 2 Print Out Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Menggunakan Minitab Regression Analysis: IPM versus Rasio bangunan S.000 0.01158 0.0.7 310.2523 1.5 18345.04052 0.33 3.0 36.1 F 106.murid SD + 0.000 .07 5.37284 SE Coef 0.59 Rasio Bangunan SMA/SMK-Penduduk .000 0.8857 0.08215 T 185.0116 Rasio Guru SMP.0 5248..

777 1.000 0.6 + 0.75 2.71 3.000 0.434 Rasio Puskesmas Pembantu-Pendud + 1.0% Analysis of Variance Source Regression Residual Error Total Source Rasio Pu Rasio Pu Rasio ru Rasio Do Rasio Pe Rasio Bi DF 1 1 1 1 1 1 DF 6 21 27 SS 7634.8 Seq SS 2724.7 273.309 Coef 63.212 Regression Analysis: IPM versus Rasio Puskesmas-.118 45.1 59.300 1.595 0.434 1.7726 -0..0. Rasio Puskesmas .001 0.000 .55 Rasio Perawat-Penduduk + 0.73 5.278 T 161.4 18.28 -2.000 R-Sq = 91.0 220.549 0.457 4.Penduduk .000 0.77 Rasio Puskesmas. The regression equation is IPM = 63. .6 F 68.60 Rasio Dokter-Penduduk + 0.6% R-Sq(adj) = 91.5982 0.000 0.044 1.79 P 0.68 Rasio Bidan-Penduduk Predictor Constant Rasio Pu Rasio Pu Rasio ru Rasio Do Rasio Pe Rasio Bi S = 4.04 Rasio rumah sakit-penduduk + 1.05 6.40 3.3937 8.2 18345.683 SE Coef 0.54 P 0.53 3.6 10711.000 0.2 MS 1272..3 375.3 3982.

01348 SE Coef 0.31236 1.000 0.10314 0.01276 T 17.30 .0024233 -0.0.0135 RBIK Predictor Constant Laju PDR IPM RBIU RBIP RBIK S = 0.8% Analysis of Variance Source Regression Residual Error Total Source Laju PDR IPM RBIU RBIP RBIK DF 1 1 1 1 1 DF 5 303 308 SS 0.07377 0.12411 0.0. RBIP.0.30574 0.03773 0.001 0. RBIU.0008352 0.00115 MS 0. RBIK The regression equation is IW = 1.213 Regression Analysis: IW versus Laju PDRB.26 -3.74 -6.64 -2.124 RBIP + 0.39423 0.000 0.022530 -0.0009873 0.003599 0.000 0.01038 0.90 -4.29 1.16293 0.004 0.0.00242 Laju PDRB .30151 -0.12700 Seq SS 0.0225 RBIU .0046752 -0.00468 IPM .291 R-Sq = 72.000 .3% R-Sq(adj) = 71.06 P 0. Pertumbuhan .81464 0.03211 Coef 1.05 P 0.00103 F 158.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->