Anda di halaman 1dari 3

VIVAnews - Kepolisian Resor Gowa menangkap pelaku bom rakitan yang memporakporandakan sebuah rumah warga di Tabaringan, Kecamatan

Galesong Utara, Takalar, Minggu 11 Maret 2012 dinihari kemarin. Pelaku bernama Tamrin Daeng Pabe, beralamat di Tabaringan, Desa Bontolebang Kabupaten Takalar. Kasubag Humas Polres Gowa, Ajun Komisaris Polisi, Andry lilikay mengatakan, pria berumur 29 tahun itu ditangkap di Pandang-pandang, Somba Opu, Gowa. "Pelaku ditangkap sekitar pukul 07.00 Wita, saat bersembunyi di rumah seorang warga," kata AKP Andry Lilikay kepada VIVAnews.com, Senin 12 Maret 2012. Pemilik rumah, kata Andry, awalnya tidak menyangka jika itu adalah pelaku peledakan bom di takalar kemarin. Ia hanya melihat pelaku membawa tiga buah bom rakitan yang disimpan di dalam tasnya. Pemilik rumah kemudian melapor ke kantor Kodim di somba Opu, Gowa. Anggota Kodim tersebut yang kemudian mengamankan pelaku dan menyerahkan ke Polres Gowa. "Ia diamankan bersama barang bukti sebanyak 3 buah bom rakitan yang disimpan di bekas botol air mineral ukulran 600 mililiter," ujar Andry Lilikay. Saat ini, pelaku masih menjalani pemeriksaan di Polres Gowa. Ia juga mengakui bahwa dirinyalah yang meledakkan bom di rumah Safaruddin Daeng Gassing kemarin. Soal motif, polisi masih melakukan pendalaman. "Setelah berkas pelaku lengkap, baru kami serahkan ke Polres Takalar," kata Andry lagi. Informasi yang dihimpun, sebanyak dua ledakan dari bom rakitan menggemparkan warga Galesong Utara, Minggu dinihari. Ledakan tersebut memporakporandakan rumah milik Daeng Gassing, utamanya bagian pagar seng di kolong rumah panggung tersebut. Selain bom yang meledak, tim Jibom Gegana Polda Sulselbar juga menemukan tiga boma rakitan lainnya, satu diantaranya diledakkan di tempat kejadian perkara. Ledakan tersebut juga sempat melukai dua warga setempat. (umi)

TAKALAR--MICOM: Warga Desa Bontolebang, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, Minggu dini hari (11/3) dikagetkan dengan meledaknya dua buah bom rakitan di kolong rumah seorang warga bernama Daeng Gassing dan di kebun milik Daeng Maung. Kepala Kepolisian Resort Takalar AKBP Nazrun Fahmi menjelaskan jika kejadian tersebut terjadi pukul 2.30 wita saat warga sudah mulai terlelap. Menurutnya, setelah kejadian, anggota kepolisian menemukan jenis bahan peledak yang dikemas pada sebuah botol air mineral ukuran 600 mililiter sebanyak tiga buah. "Jadi semuanya ada lima bahan peledak dengan jenis yang sama hanya saja jika dua meledak di kolong rumah Daeng Gassing, dan di kebun, tiga lainnya yang masih utuh ditemukan di tiga rumah

tetangga Gassing yang masih keluarganya, tapi sudah diamankan pihak Gegana," terang Nazrun. Ditambahkan Nazrun, belum diketahui motif dari keberadaan bom di rumah Gassing. Laboratorium forensik juga masih melakukan pemeriksaan terhadap bekas ledakan dan pihak kepolisian di Polres Takalar masih memeriksa lima orang yang diduga pemilik bahan peledak tersebut. "Karenanya, belum bisa dipastikan apa tujuan dan mengapa ada bahan peledak tersebut," tegasnya. Saat ditanya apakah kemungkinan bahan peladak tersebut untuk keperluan bom ikan, karena di daerah tersebut banyak nelayan, Nazrun mengatakan belum bisa berkomentar hingga pemeriksaan selesai. Hanya saja, dari pemeriksaan sementara terhadap Daeng Gassing, ternyata dia bukan seorang nelayan melainkan penjual sayur serta tidak mengakui jika bom yang meledak di kolong rumahnya adalah miliknya. (LN/X-12)

Bom Rakitan Meledak, 2 Warga Luka Monday, 12 March 2012 TAKALAR Sekitar pukul 02.20 dini hari kemarin,warga Bontolebang dikagetkan dua kali ledakan bom yang hanya berselang sepuluh menit. Bom rakitan tersebut meledak di permukiman warga di Kelurahan Bontolebang,Kecamatan Galesong Utara (Galut) dan melukai dua warga setempat. Ledakan pertama terjadi di kolong rumah Syafaruddin Daeng Gassing, 50, sekitar pukul 02.20 Wita.Akibatnya, rumah Daeng Gassing yang bekerja sebagai nelayan ini rusak. Sepuluh menit kemudian, bom kedua meledak di halaman rumah Jama Dg Mangung. Meski ledakan kedua itu cukup keras,tidak menimbulkan korban jiwa atau kerusakan. Dua warga yang terkena bom rakitan yakni,Dg Nurung, 40, seorang Ibu Rumah Tangga dan seorang pemuda,Ansyar, 21. Keduanya terkena luka bakar di sekujur tubuh dan saat ini masih dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pajonga Daeng Ngalle, Kabupaten Takalar Kapolres Takalar AKBP Nasrun Fahmi mengatakan, barang bukti yang ditemukan di lokasi merubah botol air mineral yang di dalamnya berisi paku, pupuk urea, dan asam nitrat.Polisi menyatakan bom yang meledak di rumah warga tersebut berdaya rendah atau low explosive.Tapi kami masih menunggu hasil pemeriksaan di laboratorium forensik Makassar, katanya kepada wartawan di Takalar kemarin. Nasrun mengatakan,ledakan yang terjadi di permukiman warga tersebut masih dalam pengembangan aparat kepolisian. Tim Gegana Brimobda serta Tim Labfor yang melakukan olah TKP pun masih mengumpulkan data. Warga setempat,Daeng Tarring, mengaku kaget saat mendengarkan ledakan sebanyak dua kali tersebut. Saat kejadian, dia berhasil menyelamatkan diri melalui pintu belakang rumah. Awalnya saya kira ledakan itu berasal dari aliran listrik. Setelah diperiksa warga, ternyata

ada serpihan menyerupai bom rakitan. Saya dan kedua anak saya yang masih kecil berlari menyelamatkan diri,tuturnya. Beberapa saksi mata menyatakan bom rakitan tersebut dilemparkan oleh orang tak dikenal dari balik semak belukar, tidak jauh dari lokasi ledakan. Namun,warga tidak mengetahui pelaku pelempar bom rakitan tersebut. Selain itu,warga juga menemukan botol menyerupai bom rakitan yang disimpan di belakang pintu rumah warga. Bom yang ditemukan di rumah warga masih-masing, rumah Mamma Dg Liwang, Rabai Dg Buang serta Dg Naba. Sebagian kalangan menduga ledakan bom tersebut terkait penundaan Pilkada Takalar. Namun, dugaan tersebut hanya kemungkinan kecil. Dengan begitu, pihak kepolisian diminta segera mengungkap motif dan pelakunya. Anggota DPRD Sulsel Burhanuddin Baharuddin mengaku belum mendapat informasi terkait ledakan bom yang melukai dua warga Galesong itu. Hanya saja, Bur- sapaan akrab Burhanuddin mengakui banyak kejadian tak terkira yang terjadi pascakeinginan KPU menunda Pilkada Takalar. Saya tidak tahu itu, cuma memang akhir-akhir ini banyak kejadian di Takalar, padahal kita mau Pilkada segera dilaksanakan dan berjalan damai, kata Bur kepada SINDO, tadi malam. Bakal calon bupati dari Partai Golkar itu juga memberikan saran kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang merencanakan penundaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Takalar. Menurutnya, jika ditunda maka sebaiknya Pilkada bersamaan dengan Pilgub Sulsel. Langkah ini akan membuat aktivitas semua kandidat akan berkurang lantaran tahapan Pilkada masih lama.Kalau ditunda maka sebaiknya Pilkada digelar bersamaan saja dengan Pilgub, biar semua colling down dulu,ujarnya. Pengamat Politik Universitas Hasanuddin Adi Suryadi Culla,mengkhawatirkan,konstalasi politik yang terjadi di Takalar belakangan ini sangat rawan dimanfaatkan pihak tertentu, terutama yang ingin melihat daerah tersebut tidak kondusif. Sehingga dia menduga,bom yang meledak di dua tempat dilakukan oleh kelompok tertentu yang sudah terorganisir. Hanya pelakunya diyakini bukan dari elit politik, atau para pendukung bakal calon bupati. Kalau berkaitan politik kemungkinannya sangat kecil. Lebih besar ke tindakan kriminal yang dilakukan kelompok tertentu,yang bukan berasal dari lingkaran elite politik, papar Adi, saat dimintai tanggapannya, tadi malam. Adi menambahkan, sejauh ini,konstalasi politik di Takalar masih berjalan normal, baik persaingan antar kandidat memperebutkan Partai Golkar, maupun penundaan pilkada yang belakangan menuai riak-riak dari sejumlah elemen. Tapi itu semua kan belum sampai ada yang sangat dirugikan. Jadi semua masih bisa terkendali, baik figur yang ingin maju,maupun partainya. Makanya kemungkinan pelaku atau otak bom itu dari elit, sangat kecil. Kita berharap, warga tidak terpancing, tambah Adi. Direktur Analisis dan Media Lingkaran Jurnal Indonesia (LJI) Dedy Alamsyah,justru menganggap bom yang meledak di daerah itu tidak terlepas dari dampak tarik ulur jadwal pilkada, meskipun pelakunya bukan dari kandidat yang ada. Menurut dia, ada pihak yang mencoba memanfaatkan penundaan itu, dengan memancing kekisruhan.Sebab selama ini, kabupaten/kota di Sulsel dikenal aman setiap ingin menggelar pilkada.