Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Kedokteran nuklir adalah bidang kedokteran yang memanfaatkan materi radioaktif untuk menegakkan diagnosis dan mengobati penderita serta mempelajari penyakit manusia.1 Positron Emission Tomography (PET) Scan merupakan salah satu modalitas kedokteran nuklir, yang untuk pertama kali dikenalkan oleh Brownell dan Sweet pada tahun 1953.2 Prototipenya telah dibuat pada sekitar tahun 1952, sedangkan alatnya pertama kali dikembangkan di Massachusetts General Hospital, Boston pada tahun 1970. Positron yang merupakan inti kinerja PET pertama kali diperkenalkan oleh PAM Dirac pada akhir tahun 1920-an. PET adalah metode visualisasi metabolisme tubuh menggunakan radioisotop pemancar positron. Oleh karena itu, citra (image) yang diperoleh adalah citra yang menggambarkan fungsi organ tubuh. Fungsi utama PET adalah mengetahui kejadian di tingkat sel yang tidak didapatkan dengan alat pencitraan konvensional lainnya. Kelainan fungsi atau metabolisme di dalam tubuh dapat diketahui dengan metode pencitraan (imaging) ini. Hal ini berbeda dengan metode visualisasi tubuh yang lain seperti foto rontgen, computed tomography (CT), magnetic resonance imaging (MRI) dan single photon emission computerized tomography (SPECT).2 CT Scan dan MRI hanya mampu mendeteksi kanker terbatas pada aspek anatomi tubuh. Misalnya, CT Scan dan MRI hanya mampu mendekteksi kanker di payudara, kepala, hati, dan sejumlah titik tubuh lainnya. Sedangkan mekanisme kerja organ tubuh yang disebut metabolisme tubuh tidak dapat dipantau oleh CT Scan atau MRI. Sedangkan pada PET-Scan, aspek anatomi dan metabolik sekaligus masuk radar deteksi alat canggih ini. Dimana pun atau kemana pun kanker merambat, PET-Scan dapat mendeteksinya. Bahkan kemampuan deteksi alat ini mencakup semua aspek penting tentang kanker seperti jenis, tingkat keganasan (stadium), lokasi, serta cara rambat penyakit mematikan ini.2 PET dapat pula digunakan pula untuk menganalisa hasil penanganan kanker yang telah dilakukan. Setelah penanganan kanker melalui operasi perlu dilakukan pemeriksaan apakah masih ada sisa sisa kanker yang tersisa. Untuk keperluan ini, PET merupakan metode yang paling tepat, karena pada kondisi ini keberadaan kanker sulit dilihat secara fisik. Yang
Positron Emission Tomography Scan (PET Scan) Page 1

diperlukan adalah melihat keberadaan metabolisme sel kanker. Selain itu, PET dapat pula digunakan untuk melihat kemajuan pengobatan kanker baik dengan chemotherapy maupun radiotherapy. Kemajuan hasil pengobatan kanker dapat diketahui dari perubahan metabolisme di samping perubahan secara fisik. Untuk keperluan ini, kombinasi PET dan CT memberikan informasi yang sangat berharga untuk menentukan tingkat efektivitas pengobatan yang telah dilakukan.2 B. Tujuan 1. Tujuan Umum Tujuan umum penulisan referat ini ialah untuk menambah pengetahuan dan memahami tentang PET Scan. 2. Tujuan Khusus Tujuan khusus penulisan referat ini ialah: a. b. c. d. Untuk mengetahui apakah itu PET Scan Untuk mengetahui prinsip kerja dari PET Scan Untuk mengetahui radiohalogen yang digunakan pada PET Scan Untuk mengetahui indikasi dari pemeriksaan PET Scan

BAB II PEMBAHASAN

Positron Emission Tomography Scan (PET Scan)

Page 2

A. Definisi PET Scan PET Scan ialah suatu alat penciteraan diagnostik di bidang kedokteran nuklir.1-3 B. PET Scan Dalam Kedokteran Nuklir Kedokteran nuklir merupakan cabang dari pencitraan di bidang medis yang menggunakan sejumlah kecil bahan radioaktif untuk mendiagnosa dan menentukan beratnya suatu penyakit atau pengobatan berbagai jenis penyakit , termaksud berbagai jenis kanker , penyakit jantung, pencernaan, endokrin, gangguan saraf dan kelainan lainnya dalam tubuh.1 Karena kedokteran nuklir dapat menentukan aktifitas molekul dalam tubuh sehingga dapat mendeteksi suatu penyakit pada tahap awal. Kedokteran nuklir merupakan prosedur pencitraan diagnostik non-invasive dan dapat membantu dokter untuk mendiagnosa dan mengevaluasi kondisi penyakit pasien. 1 Penemuan radiasi oleh inti atom membawa pengaruh pada dunia kedokteran, setidaknya dalam dua aspek. Yang pertama adalah penggunaan radiasi nuklir untuk pengobatan dan yang kedua untuk pencitraan. Pengobatan dengan radiasi nuklir biasanya dipakai untuk mematikan sel-sel kanker, baik radiasi dari luar tubuh maupun dengan cara menginjeksikan zat radioaktif kedalam tubuh. Demikian pula, sebenarnya pencitraan dengan radiasi nuklir bisa dilakukan dengan kedua cara tersebutdari luar maupun dari dalam tubuh. Karena kebanyakan radiasi nuklir berjalan lurus, prinsip tomografi serapan (transmission tomography) seperti pada CT bisa diterapkan.2 Beberapa perkembangan yang perlu dicatat adalah sebagai berikut. Pada tahun 1954, David Kuhl mengembangkan photo recording radionuclide Scanner. Sepuluh tahun kemudian, pada 1964, DE Kuhl & Roy Edwards membangun Emission Tomography Scanner (Mark II) dan pada 1976 di Univ. Pennsylvania dikembangkan FDG (fluorodeoxyglucose) Positron Emission Tomography (PET). 2 . Pemeriksaan dalam kedokteran nuklir menggunakan sejumlah kecil bahan radioaktif (yang dikenal seagai radiofarmaka) yang biasanya disuntikkan ke pembuluh darah seseorang tapi terkadang ditelan melalui mulut atau dihisap sebagai gas. Radiofarmaka yang biasanya digunakan pada PET Scan ialah 18FDG (Fluorodeoxyglucose). PET sangat baik untuk mencitrakan gambaran fungsional aliran darah atau proses metabolik
Positron Emission Tomography Scan (PET Scan) Page 3

dibandingkan pemeriksaan radiologik lainnya seperti foto rontgen, computed tomography (CT), magnetic resonance imaging (MRI) dan single photon emission computerized tomography (SPECT). Fungsi utama PET adalah mengetahui kejadian di tingkat sel yang tidak didapatkan dengan alat pencitraan konvensional lainnya. PET scan juga dapat menentukan staging suatu penyakit , penilaian rekurensi dan evaluasi pengobatan suatu penyakit contohnya pada kanker.2.3 C. Persiapan Persiapan sebelum dilakukan pemeriksaan PET Scan ialah:4 1. 2. Tidak boleh makan apapun selama 4 6 jam sebelum pemeriksaan. Minum Katakan kepada petugas jika: a. Mempunyai riwayat takut akan tempat yang sempit (claustrophobia). Bagi orang yang mempunyai claustrophobia, akan diberikan obat yang akan membuat rasa kantuk dan menurunkan kecemasan b. Orang tersebut hamil atau berfikir bahwa ia sedang hamil c. Mempunyai alergi yang akan disuntikkan (kontras) d. Sedang mengkonsumsi obat obatan. Terkadang, obat obatan dapat memberikan hasil yang salah. D. Prinsip dan Cara Kerja PET dapat mengukur fungsi fisiologis dengan mencitrakan aliran darah, metabolisme, neurotransmitter dan obat yang dilabel zat radioaktif. Alat ini dapat menampilkan analisis secara kuantitatif, mengikuti perubahan relatif selama pemantauan sesuai dengan perjalanan dan pengaruh penyakit terhadap jaringan tubuh anusia atau respons terhadap organ tubuh stimulus spesifik.5 Dasar kinerja utama PET adalah positron yaitu partikel yang memiliki massa yang sama dengan elektron tetapi bermuatan positif. Setelah positron diemisi dari nucleus atom, ia harus menghilangkan energi kinetiknya dan bergabung dengan elektron. Kedua partikel tersebut saling menghilangkan muatan (anihilasi), kemudian mengemisikan dua radiasi gamma 511-keV ke arah yang berlawanan. Jika dalam dua detektor yang diletakkan
Positron Emission Tomography Scan (PET Scan) Page 4

diperbolehkan

berlawanan satu sama lain, suatu radiasi gamma 511-keV dihasilkan pada waktu yang bersamaan (koinsiden), anihilasi akan terjadi pada garis yang menghubungkan kedua detektor.1,5 Apabila banyak detektor diatur dalam suatu cincin, membentuk suatu silinder, maka kejadian dapat ditampilkan dalam bentuk tiga dimensi.5 Berdasarkan data tersebut, maka distribusi spasial radioaktif dalam tubuh dapat direkonstruksi oleh algoritme computer yang sesuai. Radiasi yang diserap jaringan tergantung pada massa radioaktif, hingga zat radioaktif yang diserap dapat dihitung. Penyerapan dapat dihitung dengan alat ukur khusus dalam scanner PET atau dengan komputer tomografi.1 PET bekerja berdasarkan deteksi radioaktif yang dipancarkan sesudah sejumlah kecil zat radioaktif pelacak disuntikkan ke vena perifer. Pelacak yang diberikan sebagai suntikan intravena biasanya dilabel dengan
15

O,

18

F,

11

C atau

13

N. Total zat radioaktif yang

diperlukan sama dengan dosis yang digunakan pada CT. PET scan membutuhkan waktu 10 sampai 40 menit untuk pengerjaannya.5 Pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah dengan mengukur konsumsi glukosa pada bagian tubuh jaringan yang berbeda. Analog glukosa radioaktif yang biasa digunakan adalah 18F-2-deoxy-2-fluoro-D-glucose (FDG) untuk mendeteksi kanker di berbagai organ. Akumulasi analog glukosa radioaktif itu mengikuti pengukuran tingkat konsumsi glukosa. Kepentingan kliniknya adalah membedakan tumor ganas dan jinak. Metabolisme glukosa tumor ganas lebih cepat dibandingkan tumor jinak.6.7

Sel-sel kanker memiliki tingkat metabolisme yang lebih tinggi dari sel-sel lain. Salah satu karakteristik adalah bahwa sel-sel kanker memerlukan tingkat yang lebih tinggi glukosa untuk energi. Ini adalah langkah-langkah proses biologis PET. Positron emisi tomografi (PET) membangun sistem pencitraan medis gambar 3D dengan mendeteksi gamma sinar radioaktif yang dikeluarkan saat glukosa (bahan radioaktif) tertentu disuntikkan ke pasien. Setelah dicerna, gula tersebut diolah diserap oleh jaringan dengan tingkat aktivitas yang lebih tinggi / metabolisme (misalnya, tumor aktif) daripada bagian tubuh. 6.7

Positron Emission Tomography Scan (PET Scan)

Page 5

Sinar Gamma yang dihasilkan ketika sebuah positron dipancarkan dari bahan radioaktif bertabrakan dengan elektron dalam jaringan. Tubrukan yang dihasilkan menghasilkan sepasang foton sinar gamma yang berasal dari situs tabrakan di arah yang berlawanan dan terdeteksi oleh detektor sinar gamma diatur di sekitar pasien. 6 Detektor PET terdiri dari sebuah array dari ribuan kilau kristal dan ratusan tabung photomultiplier (PMTS) diatur dalam pola melingkar di sekitar pasien. Kilau kristal mengkonversi radiasi gamma ke dalam cahaya yang dideteksi dan diperkuat oleh PMTS.6 Kamera PET Kamera PET memiliki kejernihan citra yang lebih baik dibandingkan kamera gamma yang secara umum digunakan pada kedokteran nuklir. Hal ini dikarenakan pendeteksiannya didasarkan pada coincidence detection.5 Ketika positron dilepaskan dari fluor-18, partikel ini akan segera bergabung dengan elektron dan terjadilah anihilasi. Dari anihilasi ini dihasilkan radiasi gelombang elektromagnetik dengan energi sebesar 511 V dengan arah berlawanan (180o). Adanya dua buah proton yang dilepaskan secara bersamaan ini memungkinkannya dilakukan coincidence detection.

Pada coincidence detection ini, sinyal yang ditangkap oleh detektor akan diolah jika dua buah sinyal diperoleh secara bersamaan. Jika hanya satu buah sinyal yang ditangkap, maka sinyal tersebut dianggap sebagai pengotor. Oleh karenanya, hampir seluruh sinyal pengotor dapat dieliminasi dengan cara ini.5 Pemeriksaan PET tidak menyakitkan dan seperti pemeriksaan CT, pasien tetap menggunakan pakaian. Persiapan yang perlu dilakukan untuk PET ialah puasa 4-6 jam sebelum pemeriksaan. Untuk pemeriksaan PET otak, puasa sejak 4 jam sebelum pemeriksaan, sedangkan untuk pemeriksaan seluruh tubuh paling sedikit puasa selama 6 jam. Pasien masih tetap dapat minum obat yang diresepkan.4

Positron Emission Tomography Scan (PET Scan)

Page 6

Untuk pasien yang menderita diabetes, aktivitas harian tetap dijalankan dengan sedikit makan. Insulin atau obat diabetes oral tetap diminum rutin dan kadar gula darah harus sekitar 100 200 mg/dL sebelum pemeriksaan. Ibu hamil tidak diperkenankan menjalani pemeriksaan dengan PET.4 Setelah persiapan dilakukan dan pasien siap untuk dilakukan pemeriksaan, perawat akan menyuntikkan zat radiofarmaka yang telah dilabel secara intravena. Pasien berbaring di tempat yang telah ditentukan seraya menunggu beberapa waktu sampai tubuh dapat menyerap zat tersebut.4 Untuk pemeriksaan kepala perlu istirahat selama 30 menit, sedangkan pemeriksaan seluruh tubuh 50 menit. Saat tiba waktunya untuk scan, pasien berbaring dan dimasukkan ke PET scanner. Pemeriksaan ini akan memakan waktu sekitar 30 hingga 90 menit.4

Positron Emission Tomography Scan (PET Scan)

Page 7

Gambar 1. Kerja PET Scan

E. Radiohalogen Radiohalogen banyak digunakan sebagai radiolabel dalam radiofarmaka pada PET Scan. Terdapat beberapa radioiodine, dan radiobromines, dan satu radiofluorine yang sangat penting untuk PET Scan. Secara biokimia, radioiodine dan radiobromines sangatlah mirip, akan tetapi beda halnya dengan radiofluorine yang sangat unik sehingga banyak didiskusikan. Pada F-18, dalam bentuk 2-deoxy-2-[18F]fluoro-D-glucose (FDG) adalah yang paling banyak digunakan pada PET Scan.6
Tabel 1. Radiohalogen6 Positron Emission Tomography Scan (PET Scan) Page 8

75

BR tidak dibahas dalam referat ini karena waktu paruh yang hampir sama dengan 18F

dengan produksi dan pemurniaan yang lebih rumit. Waktu paruh yang sangat pendek dari
122

I dapat menjadi keuntungan tersendiri untuk mempelajari aliran darah, akan tetapi

membutuhkan energy tinggi dari cyclotron.6 Cyclotron dalam PET Scan Cyclotron sebagai radionuklid telah digunakan sejak tahun 1930-an. Selama 10 tahun terakhir, produksi radionuklid yang paling banyak digunakan pada PET Scan telah terbagi menjadi 2 tipe cyclotron. Di berbagai bidang kedokteran dan di dedikasikan untuk pembuatan 18F (terutama di USA), tipe cyclotron yang paling banyak digunakan adalah dengan satu partikel cyclotron yang menghasilkan proton dengan energy kinterik sekitar 11 MeV. Tipe cyclotron ini merupakan yang tergolong dalam 4 radionuklid yang paling banyak digunakan pada PET Scan (fluorine-18, carbon-11, nitrogen-13, dan oxygen-15). Tipe cyclotron kedua yang paling banyak digunakan ialah yang dengan partikel ganda (proton (p) dan duetron (d)) akselator 18 MeV. Mesin ini dapat memproduksi radionuklid untuk PET, diantaranya 76Br, 124I, dan 64CU selain keempat radionuklid pada PET yang tadi telah disebutkan. Cyclotron ini juga sangat murah, alami [14N]nitrogen untuk memproduksi [15O]oksigen.6
18

FDG (Fluorodeoxyglucose)
18

FDG (Fluorodeoxyglucose) merupakan suatu analog glukosa yang berisi radionuklid

Fluorine F-18. Fluorine F-18 melebur dengan emisi positron (+) dan mempunyai waktu paruh 109.7 menit. Metode yang paling banyak digunakan untuk membuat 18F ialah reaksi
Positron Emission Tomography Scan (PET Scan) Page 9

nuklir dari 18O(p,n) dan 18F (menunjukkan reaksi proton yang dipercepat dengan oksigen-18 yang memproduksi sebuah neutron (n) dan fluorine-18). Prinsip foton yang digunakan untuk penciteraan diagnostik adalah 511 KeV foton gamma, hasil dari interaksi pancaran positron dengan elektron (misal: positron annihilation). Sebagai analog glukosa, F-18 FDG di transport ke dalam miosit dengan glucose transporter dan dapat masuk ke dalam jalur metabolisme glukosa. Setelah fosforilasi oleh hexokinase, F-18 FDG tidak di metabolisme lagi.6

Gambar 2. Biokimia 18F

Radiobromine dan radioiodine pada PET Scan Tidak hanya Fluorine 18, suatu radiohalogen, yang digunakan sebagai radiofarmaka pada PET Scan. Akan tetapi, selain itu juga terdapat 76Br dan 124I.6
76

Br
76

Br diproduksi dengan iradiasi dari arsenik alami dengan sinar 30 MeV helium 3-ions

melalui 75As (3He, 2n). Setelah iradiasi, target padat dilarutkan dengan asam sulfat dan diatasi dengan asam kromat. Radioaktif bromine disuling menjadi cairan ammonia dengan menggunakan aliran nitrogen dan ammonia yang dihasilkan [76Br] bromide dikeringkan dan digunakan sebagai bahan [76Br] untuk reaksi berikutnya (baik nukleofilik atau elektrofilik yang dilanjutkan dengan oksidasi).6
124 124

I I diproduksi dengan iradiasi dari oksidasi 96% kaya akan [124Te]tellurium (IV) dengan 15

MeV deuteron melalui reaksi nuklir 124Te (d, 2n) 124I.6 F. Manfaat pemeriksaan dengan PET Scan
Positron Emission Tomography Scan (PET Scan) Page 10

Manfaat yang didapatkan antara lain : Pemeriksaan kedokteran nuklir memberikan rincian fungsi suatu organ dan Untuk banyak penyakit, kedokteran nuklir menghasilkan informasi yang struktur suatu organ yang tidak terjangkau dengan pemeriksaan pencitraan lainnya. paling berguna untuk membuat diagnosis dan untuk menentukan pengobatan yang tepat jika ada. Lebih terjangkau dan dapat menghasilkan informasi yang tepat dibandingkan dengan operasi eksplorasi. Dengan mengidentifikasi perubahan tubuh pada tingkat sel, PET dapat mendeteksi terjadinya awal suatu penyakit.

G. Indikasi2 Tabel 2. Indikasi PET Scan

Positron Emission Tomography Scan (PET Scan)

Page 11

Pada Bidang Onkologi

Positron Emission Tomography Scan (PET Scan)

Page 12

Positron Emission Tomography Scan (PET Scan)

Page 13

Positron Emission Tomography Scan (PET Scan)

Page 14

Positron Emission Tomography Scan (PET Scan)

Page 15

H. PET Scan Untuk Otak PET Scan untuk otak adalah suatu tes pencitraan yang menggunakan bahan radioaktif untuk melihat penyakit atau kerusakan pada otak. Tidak seperti MRI ataupun CT Scan yang melihat struktur otak, PET Scan dapat melihat bagaimana otak dan jaringannya bekerja.8-10 Kerja PET Scan Otak PET Scan menggunakan sejumlah kecil bahan radioaktif (pemicu). Pemicu tersebut dimasukkan ke dalam intravena, atau dengan dihirup sebagai gas. Pemicu tersebut masuk ke dalam darah dan berkumpul dalam organ dan jaringan. Pemicu tersebut akan menolong seorang radiologist untuk melihat area ataupun penyakit lebih jelas. Kemudian, pasien tersebut harus menunggu pemicu tersebut diserap oleh tubuh. Kira kira memakan waktu 1 jam. Hasil yang ditunjukkan di komputer akan berbentuk gambaran 3D. Pasien harus terus berbaring selama pemeriksaan sehingga mesin dapat memberikan gambaran otak yang jelas. Pasien akan diminta untuk membaca ataupun menuliskan nama jika fungsi memori ikut diperiksa juga. Pemeriksaan dilakukan berkisar antara 30 menit sampai 2 jam.8-10
Positron Emission Tomography Scan (PET Scan) Page 16

Persiapan8-10 1. Tidak boleh makan apapun selama 4 6 jam sebelum pemeriksaan. Minum diperbolehkan 2. Katakan pada petugas jika,: a. Mempunyai riwayat takut akan tempat yang sempit (claustrophobia). Bagi orang yang mempunyai claustrophobia, akan diberikan obat yang akan membuat rasa kantuk dan menurunkan kecemasan b. Orang tersebut hamil atau berfikir bahwa ia sedang hamil c. Mempunyai alergi yang akan disuntikkan (kontras) d. Bagi pasien diabetes harus disuntikkan insulin e. Sedang mengkonsumsi obat obatan. Terkadang, obat obatan dapat memberikan hasil yang salah. Hasil dari pemeriksaan PET Scan dapat memperlihatkan ukuran, bentuk, dan fungsi dari otak, sehingga dokter bisa memastikan otak tersebut masih dapat bekerja dengan baik. Ini paling sering dilakukan ketika pemeriksaan lain, seperti MRI dan CT Scan tidak dapat memberikan informasi yang cukup. Pemeriksaan ini dapat digunakan untuk,:8-10 a. Mendiagnosis kanker b. Mempersiapkan operasi untuk epilepsy c. Membantu untuk mendiagnosis demensia jika pemeriksaan lain belum cukup untuk memberikan informasi d. Membedakan penyakit Parkinson dengan penyakit kelainan gerak lainnya. Risiko Jumlah radiasi yang digunakan ialah rendah. Wanita yang sedang hamil ataupun yang sedang menyusui harus mengatakannya ke dokter sebelum dilakukan pemeriksaan. Janin dan bayi sangat sensitif dengan efek radiasi karena organ organ mereka masih dalam tahap perkembangan.8-10

Positron Emission Tomography Scan (PET Scan)

Page 17

PET Scan bisa saja memberikan informasi palsu. Gula darah atau kadar insulin dapat mempengaruhi hasil dari pemeriksaan pada pasien diabetes. Banyak PET Scan yang digunakan bersamaan dengan CT Scan. Kombinasi tersebut dinamakan PET/CT.8-10 Nama Lain Brain positron emission tomography; PET Scan brain8-10

Gambar 3. Hasil pemeriksaan dengan FDG PET Scan pada pasien AIDS demensia. Pembacaan dari kiri: (a) belum dikoreksi dengan PET Scan, (b) gambaran dengan MRI atas pasien yang sama, (c) gambaran segmen gray matter, (d) gambaran segmen white matter, (e) gambaran white matter yang buram, (f) gambaran grey matter yang buram, (g) gambaran yang telah terkoreksi oleh PET dengan FDG

I. PET Scan Jantung PET Scan jantung adalah suatu tes pencitraan yang menggunakan bahan radioaktif untuk melihat penyakit atau gangguan aliran darah pada jantung. Tidak seperti MRI ataupun CT Scan yang melihat struktur dan aliran darah ke dan dari organ, PET Scan dapat melihat bagaimana organ dan jaringannya bekerja. PET Scan jantung dapat memberikan informasi ke dokter tentang area otot jantung yang menerima suplai darah, jika terjadi gangguan jantung atau jaringan parut pada jantung.11-12 Kerja PET Scan Jantung

Positron Emission Tomography Scan (PET Scan)

Page 18

PET Scan menggunakan sejumlah kecil bahan radioaktif (pemicu). Pemicu tersebut dimasukkan ke dalam intravena. Pemicu tersebut masuk ke dalam darah dan berkumpul dalam organ dan jaringan, termasuk jantung. Pemicu tersebut akan menolong seorang radiologist untuk melihat area ataupun penyakit lebih jelas. Kemudian, pasien tersebut harus menunggu pemicu tersebut diserap oleh tubuh. Kira kira memakan waktu 1 jam. Elektroda dari elektrokardiografi (EKG) terpasang di dada. PET Scanner mendeteksi sinyal dari pemicu. Hasil yang ditunjukkan di komputer akan berbentuk gambaran 3D. Pasien harus terus berbaring selama pemeriksaan sehingga mesin dapat memberikan gambaran jantung yang jelas.. Pemeriksaan dilakukan kurang lebih 90 menit.11-12 Persiapan11-12 1. Tidak boleh makan apapun selama 4 6 jam sebelum pemeriksaan. Minum diperbolehkan 2. Katakan pada petugas jika,: a. Mempunyai riwayat takut akan tempat yang sempit (claustrophobia). Bagi orang yang mempunyai claustrophobia, akan diberikan obat yang akan membuat rasa kantuk dan menurunkan kecemasan b. c. d. e. Orang tersebut hamil atau berfikir bahwa ia sedang hamil Mempunyai alergi yang akan disuntikkan (kontras) Bagi pasien diabetes harus disuntikkan insulin Sedang mengkonsumsi obat obatan. Terkadang, obat obatan dapat memberikan hasil yang salah. Hasil dari pemeriksaan PET Scan dapat memperlihatkan ukuran, bentuk, dan fungsi dari jantung, sehingga dokter bisa memastikan jantung tersebut masih dapat bekerja dengan baik. Ini paling sering dilakukan ketika pemeriksaan lain, seperti EKG dan cardiac arrest stress tidak dapat memberikan informasi yang cukup. Pemeriksaan ini dapat digunakan untuk gangguan jantung dan menunjukkan area yang menerima sedikit aliran darah terhadap jantung.11-12 Risiko Jumlah radiasi yang digunakan ialah rendah. Wanita yang sedang hamil ataupun yang sedang menyusui harus mengatakannya ke dokter sebelum dilakukan pemeriksaan. Janin
Positron Emission Tomography Scan (PET Scan) Page 19

dan bayi sangat sensitif dengan efek radiasi karena organ organ mereka masih dalam tahap perkembangan. Beberapa orang dapat mengalami nyeri, kemerahan ataupun bengkak pada daerah sekitar tempat injeksi.11-12 PET Scan bisa saja memberikan informasi palsu. Gula darah atau kadar insulin dapat mempengaruhi hasil dari pemeriksaan pada pasien diabetes. Banyak PET Scan yang digunakan bersamaan dengan CT Scan. Kombinasi tersebut dinamakan PET/CT.11-12 Nama Lain Heart nuclear medicine scan; Heart positron emission tomography; Myocardial PET scan11-12 J. PET Scan Paru PET Scan paru adalah suatu tes pencitraan yang menggunakan bahan radioaktif untuk melihat penyakit pada paru, biasanya kanker paru. Tidak seperti MRI ataupun CT Scan yang melihat struktur paru, PET Scan dapat melihat bagaimana kondisi paru dan jaringannya bekerja.13-15 Kerja PET Scan Paru PET Scan menggunakan sejumlah kecil bahan radioaktif (pemicu). Pemicu tersebut dimasukkan ke dalam intravena. Pemicu tersebut masuk ke dalam darah dan berkumpul dalam organ dan jaringan. Pemicu tersebut akan menolong seorang radiologist untuk melihat area ataupun penyakit lebih jelas. Kemudian, pasien tersebut harus menunggu pemicu tersebut diserap oleh tubuh. Kira kira memakan waktu 1 jam. Hasil yang ditunjukkan di komputer akan berbentuk gambaran 3D. Pasien harus terus berbaring selama pemeriksaan. Jika pasien banyak bergerak, akan menimbulkan gambaran yang tidak jelas dan mengakibatkan kesalahan. Pemeriksaan dilakukan kurang lebih 90 menit.13-15 Persiapan13-15 1. Tidak boleh makan apapun selama 4 6 jam sebelum pemeriksaan. Minum diperbolehkan 2. Katakan pada petugas jika,:

Positron Emission Tomography Scan (PET Scan)

Page 20

a. Mempunyai riwayat takut akan tempat yang sempit (claustrophobia). Bagi orang yang mempunyai claustrophobia, akan diberikan obat yang akan membuat rasa kantuk dan menurunkan kecemasan b. Orang tersebut hamil atau berfikir bahwa ia sedang hamil c. Mempunyai alergi yang akan disuntikkan (kontras) d. Bagi pasien diabetes harus disuntikkan insulin e. Sedang mengkonsumsi obat obatan. Terkadang, obat obatan dapat memberikan hasil yang salah. Hasil dari pemeriksaan13-15 Pemeriksaan ini dapat digunakan untuk,: a. Membantu dalam mendiagnosis kanker paru b. Memperlihatkan jika kanker paru telah bermetastasis ke organ lain c. Membantu untuk meyakinkan jika ada sesuatu yang ada di paru (seperti yang terlihat pada CT Scan) merupakan sebuah kanker atau bukan d. Memperlihatkan sejauh mana keberhasilan dari pengobatan kanker paru Risiko Jumlah radiasi yang digunakan ialah rendah. Wanita yang sedang hamil ataupun yang sedang menyusui harus mengatakannya ke dokter sebelum dilakukan pemeriksaan. Janin dan bayi sangat sensitif dengan efek radiasi karena organ organ mereka masih dalam tahap perkembangan. Beberapa orang dapat mengalami nyeri, kemerahan ataupun bengkak pada daerah sekitar tempat injeksi.13-15 PET Scan bisa saja memberikan informasi palsu. Gula darah atau kadar insulin dapat mempengaruhi hasil dari pemeriksaan pada pasien diabetes. Banyak PET Scan yang digunakan bersamaan dengan CT Scan. Kombinasi tersebut dinamakan PET/CT. Pemeriksaan lain juga dapat dilakukan bersamaan dengan PET Scan, diantaranya gallium scan, CT Scan ataupun MRI scan.13-15 Nama Lain

Positron Emission Tomography Scan (PET Scan)

Page 21

Chest PET scan; Lung positron emission tomography; PET - chest; PET - lung; PET tumor imaging13-15

Gambar 3. Gambaran PET Scan pada kanker paru yang bermetastasis. (a) kuadran kiri atas, (b) glandula suprarenal, (c) hepar

K. Risiko PET Scan

Karena dosis radiofarmaka yang diberikan dalam dosis kecil, sehingga paparan yang diberikan radiasi rendah yang dapat diterima oleh tubuh. Dengan demikian resiko radiasi sangat rendah dibandingkan dengan manfaat yang sangat besar. Prosedur diagnostik
Positron Emission Tomography Scan (PET Scan) Page 22

kedokteran nuklir telah digunakan selama lebih dari lima decade dan tidak ada efek samping jangka panjang yang dilaporkan. Resiko dari pengobatan selalu dipertimbangkan terhadap manfaat yang lebih besar.1 Risiko yang mungkin terjadi antara lain adalah terdapat reaksi alergi terhadap radiofarmaka yang diberikan , namun angka kejadian hal ini sangat jarang terjadi dan biasanya reaksi yang ditimbulkan ringan. Namun demikian pasien harus memberitahukan kepada petugas medis tentang segala jenis alergi yang mungkin pasien miliki atau masalah lain yang mungkin terjadi selama pemeriksaan radio nuklir sebelumnya.1 Injeksi radiofarmaka dapat menyebabkan rasa sakit sedikit dan sedikit kemerahan di tempat suntikan.1

BAB III KESIMPULAN

1. Positron Emission Tomography (PET) Scan merupakan salah satu modalitas

kedokteran nuklir, yang dapat digunakan untuk mendeteksi dari aspek anatomi dan
Positron Emission Tomography Scan (PET Scan) Page 23

metabolik serta dapat pula digunakan pula untuk menganalisa hasil penanganan kanker yang telah dilakukan 2. Perlu persiapan khusus sebelum pemeriksaan PET Scan, karena dapat mempengaruhi hasil dari pemeriksaan nantinya.
3. Radiohalogen yang biasanya digunakan dalam pemeriksaan PET Scan ialah
18

Fluorodeoxyglucose, 76Bromine, dan 124Iodine.

4. PET Scan dapat dilakukan bersamaan dengan gallium scan, CT scan ataupun MRI scan
5. Radiasi dari PET Scan sangatlah rendah. Risiko yang mungkin terjadi dalam

pelaksanaan PET Scan ialah rasa nyeri, kemerahan dan bengkak di tempat penyuntikkan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Rasad S. Kedokteran Nuklir. Radiologi Diagnostik Edisi Ke 2. Jakarta : Balai Penerbit

FKUI, 2010
2. Bailey DL, Townsend WL, Valk PE, Maisey MN. Positron Emission Tomography in

Clinical Medicine. Positron Emission Tomography Basic Science. Springer-Verlag London. 2005. P 1-12

Positron Emission Tomography Scan (PET Scan)

Page 24

3. Members of the Ontario PET Steering Committe.PET Scan Primer A guide to the

Implementation of Positron Emission Tomography Imaging in Ontario . Ontario Health Technology Advisory Committee. 2008
4. PET Scan. Available from: www.medlineplus.com/pet_scan.html 5. Far RF, Roberts PJA. Positron Emission Tomography a radiological technique for

functional imaging. Stockholm.2007


6. Bailey DL, Townsend WL, Valk PE, Maisey MN. Radiohalogens for PET Imaging.

Positron Emission Tomography Basic Science. Springer-Verlag London. 2005. P 203-20


7. Rackzkowski VFC. Medical Review of F-18 Fluorodeoxyglucose Positron Emission

Tomography ( F-18 FDG PET) for Cardiac Indications. 1999


8. Small GW, Bookheimer SY, Thompson PM, Cole GM, Hung SC, Kepe V, et al. Current

and future uses of neuroimaging for cognitively impaired patients. Lancet Neurol. 2008;7:161-172.
9. Stoessl AJ, Alshehri AM. Neuroimaging: Functional neuroimaging. In: Bradley WG,

Daroff RB, Fenichel GM, Jankovic J, eds. Bradley: Neurology in Clinical Practice. 5th ed. Philadelphia, Pa: Butterworth-Heinemann Elsevier; 2008:chap 36E.
10. Wahl RL. Imaging. In: Abeloff MD, Armitage JO, Niederhuber JE, Kastan MB, McKenna

WG. Abeloff's Clinical Oncology. 4th ed. Philadelphia, Pa: Churchill Livingstone Elsevier;2008:chap 21.
11. Lalonde L, Ziadi MC, Beanlands R. Cardiac positron emission tomography: current clinical

practice. Cardiol Clin. 2009 May;27(2):237-55.


12. Udelson JE, Dilsizian V, Bonow RO. Nuclear cardiology. In: Libby P, Bonow RO, Mann

DL, Zipes DP. Braunwalds Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine. 8th ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier;2007:chap 16
13. Silvestri GA, Jett JR. Clinical aspects of lung cancer. In: Mason RJ, Broaddus VC, Martin

TR, et al, eds. Murray and Nadel's Textbook of Respiratory Medicine. 5th ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier; 2010:chap 47
14. Gould MK, Fletcher J, Iannettoni MD, Lynch WR, Midthun DE, Naidich DP, Ost DE.

Evaluation of patients with pulmonary nodules: When is it lung cancer? ACCP EvidenceBased Clinical Practice Guidelines (2nd Edition). Chest. 2007;132:208S-130S

Positron Emission Tomography Scan (PET Scan)

Page 25

15. Kieninger AN, Welsh R, Bendick PJ, Zelenock G, Chmielewski GW. Positron-emission

tomography as a prognostic tool for early-stage lung cancer. Am J Surgery. 2006;191:433436

Positron Emission Tomography Scan (PET Scan)

Page 26