Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN KEGIATAN KULIAH TAMU MATA KULIAH PENGELOLAAN AIR TANAH

Kegiatan pengeboran sumur adalah kegiatan membuat lubang di permukaan tanah dengan menggunakan alat bor yang bertujuan untuk mengambil atau mengeluarkan air di bawah permukaan, atau seringkali disebut air akuifer, agar bisa dimanfaatkan di permukaan. Untuk sumur masyarakat, yang biasanya memiliki kedalaman kurang lebih 10m menggunakan hand-bor, sedangkan untuk kedalaman 30 meter atau lebih menggunakan alat bor besar. Ada beberapa metode penentuan tempat konstruksi sumur bor, yaitu dengan geolistrik atau dengan pendulum. Metode geolistrik, yaitu dengan menembakkan listrik ke dalam bumi. Penembakan listrik tersebut menggunakan elektrode arus dan elektrode potensial yang telah dihubungkan dengan accu. Setelah itu akan didapat nilai tegangan (V) dan nilai arus (I). hasil yang didapat ini bisa digunakan untuk mengetahui stratifikasi (susunan) tanah, sehingga kita juga bisa mengetahui pada kedalaman berapa air tanah berada. Dengan kata lain, kita bisa menentukan dimana dan seberapa dalam kita harus mengebor agar mendapatkan air tanah yang kita inginkan. Contoh dari penggunaan metode geolistrik ini berada di belakang. Contoh tersebut merupakan proyek sumur bor yang berada di Desa Buring Rw 8 Kecamatan Kedung Kandang, Kota Malang. Pada contoh tersebut data yang diperoleh dari hasil geolistrik, yang berupa nilai tegangan (miliVolt) dan tahanan jenis (Ohm meter). Data tersebut kemudian diolah agar didapat susunan lapisan tanah. Pengolahan data bisa secara manual atau menggunakan software computer, diantaranya IPI2WIN. Metode lainnya adalah menggunakan pendulum. Pendulum yang bisa digunakan adalah dari jenis yang tidak bisa dipengaruhi oleh magnet, seperti tembaga, kayu dll. Sistem kerjanya adalah satu atau dua buah pendulum yang dipegang tidak erat jika berada di dekat aliran air akan menutup, sedangkan jika telah menjauh akan membuka kembali. Penggunaan metode pendulum ini dilakukan dengan berjalan menyisir daerah dimana daerah sumur bor akan digali. Tempat dimana pendulum membuka dan menutup diberi tanda

(patok). Setelah penyisiran selesai, patok-patok tadi merupakan indikasi adanya akuifer. Kedalaman air tanah yang bisa ditangkap / membuat pendulum bereaksi menutup atau membuka sampai tak terhingga di bawah permukaan bumi. Kelemahan dari metode pendulum ini adalah tidak bisa mengetahui susunan lapisan tanah dan tidak bisa mengetahui di kedalaman berapa air tanah berada. Untuk metode sederhananya ada 2 yaitu: 1. Menggunakan daun pisang Ambillah beberapa lembar daun pisang dan taruhlah pada beberapa titik yang akan di bor / gali pada jam 10 malam. Pagi harinya silahkan lihat embun yang menempel pada daun pisang tersebut (pada bagian bawah daun). Semakin banyak embun yang menempel semakin banyak debit air bawah tanah tersebut. Namun jika daunnya tetap kering berarti tidak ada sumber air di bawah daun tersebut. 2. Menggunakan garam Pada jam 8 malam taruhlah 2 genggam garam dan tutup rapat dengan kaleng pada tempat yang akan digali/ di bor. Pagi harinya silahkan lihat garam tersebu, jika habis atau tinggal sedikit berarti pada titik tersebut ada sumber airnya. Bila perlu taruhlah garam dan kaleng tersebut pada beberapa titik sekaligus dan lihatlah pada titik yang mana yang garamnya paling sedikit.

Dibelakang terdapat gambar kontruksi sumur bor pipa pvc dengan kapasitas debit pengambilan 7 liter/detik. Sumur tersebut mencapai kedalaman krang lebih 155 meter di bawah permukaan tanah. Mulai dari kedalaman 32 meter sampai bawah, di rongga sumur tersebut diisi dengan batu gravel, dengan tujuan sdgfsagafgasfas . Seiring bergulirnya waktu, sumur terbawah yang semula -155m akan mengalami penurunan/settlement yang juga menyebabkan penurunan gravel di sekitar pipa sumur. Untuk mengatasi hal itu dibuat pipa sounding gravel PVC AW Wavin dengan diameter 2, 5 inch.

Dan dibawah ini adalah referensi yang diperoleh dari internet: Persyaratan Sumur Sehat Sumur merupakan sumber utama penyediaan air bersih bagi penduduk, baik di perkotaan maupun di pedesaa. Secara teknis sumur dapat dibagi menjadi 2 jenis (Chandra, 2007) Sumur dangkal (shallow well) Sumur dangkal mempunyai pasokan air yang berasal dari resapan air hujan, terutama pada daerah dataran rendah. Sumur dangkal ini dimiliki oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, dengan kelemahan utama pada mudahnya jenis sumur ini terkontaminasi oleh air limbah yang berasal dari kegitan mandi, cuci, dan kakus. Tingkat kalaman sumur dangkal ini biasanya berkisar antara 5 s/d 15 meter dari permukaan tanah (Notoatmodjo, 2003). Sumur Dalam (Deep Well) Sumber air Sumur Dalam berasal dari proses purifikasi alami air hujan oleh lapisan kulit bumi menjadi air tanah. Kondisi ini menyebabkan sumber airnya tidak terkontaminasi serta secara umum telah memenuhi persyaratan sanitasi. Menurut Notoatmodjo (2003), air dari sumur dalam ini berasal dari lapisan air kedua di dalam tanah, dengan kedalaman di atas 15 meter dari permukaan tanah. Berikut merupakan perbedaan sumur dangkal dan sumur dalam secara umum (Chandra, B. 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan). no 1 2 3 4 Pembeda sumber air kualitas air kualitas bakteriologi persediaan Sumur Dangkal air permukaan kurang baik kontaminasi kering pada musim kemarau Persyaratan Sumur Sehat Sumur merupakan jenis sarana air bersih yang banyak dipergunakan masyarakat, karena 45% masyarakat mempergunakan jenis sarana air bersih ini. Sumur sanitasi adalah jenis sumur yang telah memenuhi persyaratan sanitasi dan terlindung dari kontaminasi air kotor Sumur Dalam air tanah baik tidak berkontaminasi tetap ada sepanjang tahun

(Chandra, 2007). Sumur sehat minimal harus memenuhi persyaratan sebagai berikut (Entjang, 2000).

Syarat Lokasi atau Jarak Agar sumur terhindar dari pencemaran maka harus diperhatikan adalah jarak sumur dengan jamban, lubang galian untuk air limbah (cesspool, seepage pit) dan sumber-sumber pengotoran lainnya. Jarak tersebut tergantung pada keadaan serta kemiringan tanah. 1. Lokasi sumur pada daerah yang bebas banjir. 2. Jarak sumur minimal 15 meter dan lebih tinggi dari sumber pencemaran seperti kakus, kandang ternak, tempat sampah dan sebagainya (Chandra, 2007). Syarat Konstruksi Syarat konstruksi pada sumur gali tanpa pompa, meliputi dinding sumur, bibir sumur, serta lantai sumur. Dinding sumur gali: 1. Jarak kedalaman 3 meter dari permukaan tanah, dinding sumur gali harus terbuat dibuat dari tembok yang kedap air (disemen). Hal tersebut dimaksudkan agar tidak

terjadi perembesan air / pencemaran oleh bakteri dengan karakteristik habitat hidup pada jarak tersebut. Selanjutnya pada kedalaman 1,5 meter dinding berikutnya terbuat dari pasangan batu bata tanpa semen, sebagai bidang perembesan dan penguat dinding sumur (Entjang 2000). 2. Pada kedalaman 3 meter dari permukaan tanah, dinding sumur harus dibuat dari tembok yang tidak tembus air, agar perembesan air permukaan yang telah tercemar tidak terjadi. Kedalaman 3 meter diambil karena bakteri pada umumnya tidak dapat hidup lagi pada kedalaman tersebut. Kira-kira 1,5 meter berikutnya ke bawah, dinding ini tidak dibuat tembok yang tidak disemen, tujuannya lebih untuk mencegah runtuhnya tanah (Azwar, 1995). 3. Dinding sumur bisa dibuat dari batu bata atau batu kali yang disemen. Akan tetapi yang paling bagus adalah pipa beton. Pipa beton untuk sumur gali bertujuan untuk menahan longsornya tanah dan mencegah pengotoran air sumur dari perembesan permukaan tanah. Untuk sumur sehat, idealnya pipa beton dibuat sampai kedalaman 3 meter dari permukaan tanah. Dalam keadaan seperti ini diharapkan permukaan air sudah mencapai di atas dasar dari pipa beton. (Machfoedz 2004). 4. Kedalaman sumur gali dibuat sampai mencapai lapisan tanah yang mengandung air cukup banyak walaupun pada musim kemarau (Entjang, 2000). Bibir sumur gali. Untuk keperluan bibir sumur ini terdapat beberapa pendapat antara lain : 1. Di atas tanah dibuat tembok yang kedap air, setinggi minimal 70 cm, untuk mencegah pengotoran dari air permukaan serta untuk aspek keselamatan (Entjang,78). 2. Dinding sumur di atas permukaan tanah kira-kira 70 cm, atau lebih tinggi dari permukaan air banjir, apabila daerah tersebut adalah daerah banjir (Machfoedz, 2004). 3. Dinding parapet merupakan dinding yang membatasi mulut sumur dan harus dibuat setinggi 70-75 cm dari permukaan tanah. Dinding ini merupakan satu kesatuan dengan dinding sumur (Chandra, 2007). Lantai sumur gali. Beberapa pendapat konstruksi lantai sumur antra lain :

1. Lantai sumur dibuat dari tembok yang kedap air 1,5 m lebarnya dari dinding sumur. Dibuat agak miring dan ditinggikan 20 cm di atas permukaan tanah, bentuknya bulat atau segi empat (Entjang, 2000). 2. Tanah di sekitar tembok sumur atas disemen dan tanahnya dibuat miring dengan tepinya dibuat saluran. Lebar semen di sekeliling sumur kira-kira 1,5 meter, agar air permukaan tidak masuk (Azwar, 1995). 3. Lantai sumur kira-kira 20 cm dari permukaan tanah (Machfoedz, 2004). Saluran pembuangan air limbah. Saluran Pembuangan Air Limbah dari sekitar sumur menurut Entjang (2000), dibuat dari tembok yang kedap air dan panjangnya sekurangkurangnya 10 m. Sedangkan pada sumur gali yang dilengkapi pompa, pada dasarnya pembuatannya sama dengan sumur gali tanpa pompa, namun air sumur diambil dengan mempergunakan pompa. Kelebihan jenis sumur ini adalah kemungkinan untuk terjadinya pengotoran akan lebih sedikit disebabkan kondisi sumur selalu tertutup. GAMBAR

Sumur Pompa Sumur pompa ini masih cukup banyak dipergunakan oleh masyarakat, walaupun trend jumlah pemakainya cenderung menurun. Persyaratan sumur pompa tangan sebagai berikut : 1. Saringan atau pipa-pipa yang berlubang berada di dalam lapisan tanah yang mengandung air. 2. Lapisan yang kedap air antara permukaan tanah dan pipa saringan sekurang-kurang 3 m. 3. Lantai sumur yang kedap air ditinggikan 20 cm dari permukaan tanah dan lebarnya 1 m sekeliling pompa. 4. Saluran pembuangan air limbah harus ditembok kedap air, minimal 10 m panjangnya. 5. Untuk mengambil air dapat dipergunakan pompa tangan atau pompa listrik.