Anda di halaman 1dari 35

PROPOSAL SKRIPSI Diajukan ke PT.

PERTAMINA EP REGION SUMATERA KARAKTERISASI DAN PEMODELAN RESERVOAR KARBONAT BATURAJA, LAPANGAN PRABUMULIH, CEKUNGAN SUMATERA SELATAN

Oleh : IRENE LISA BURARA NIM. 111.080.201

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN YOGYAKARTA 2012

HALAMAN PENGESAHAN PROPOSAL SKRIPSI


KARAKTERISASI DAN PEMODELAN RESERVOAR KARBONAT BATURAJA,LAPANGAN PRABUMULIH, CEKUNGAN SUMATERA SELATAN

Proposal ini diajukan guna untuk memperoleh sponsor untuk dapat melaksanakan skripsi di PT. PERTAMINA EP Region Sumatera, sebagai mahasiswa strata 1 Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan NasionalVeteran Yogyakarta, tahun akademik 2011/2012. Diajukan Oleh : Nama No Mahasiswa

: :

Irene Lisa Burara 111.080.201 Yogyakarta, 10 Januari 2012

Menyetujui, Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Ir. Salatun Said, M.T. NIP. 19560105 198703 1 001

Ir. Kuwat Santoso, M.T NIP. 19530721 198603 1 001

Mengetahui, Ketua jurusan Teknik Geologi

Ir. H. Sugeng Raharjo, MT. NIP. 19581208 199203 1 001

KARAKTERISASI DAN PEMODELAN RESERVOAR KARBONAT BATURAJA, LAPANGAN PRABUMULIH, CEKUNGAN SUMATERA SELATAN

1. LATAR BELAKANG Masalah yang dihadapi oleh lapangan lapangan minyak dan gas saat iniadalah menurunnya angka produksi sebagai akibat dari menyusutnya cadangan minyak dalam reservoir. Padahal tuntutan kebutuhan akan minyak dan gas makin meningkat tiap tahunnya. Pengembangan lapangan seperti ini merupakan suatu hal yang menantang karena toleransi kesalahan lebih kecil ketimbang pada lapangan baru. Hal ini menyebabkan perlunya perencanaan yang matang dalam

pengembangan lapangan tersebut sehingga menguntungkan secara ekonomi. Lapangan Minyak Prabumulih, Cekungan Sumatera Selatan ditemukan pada tahun 1953 dan saat ini PT. PERTAMINA EP Region Sumatera sedang melakukan pengembangan terhadap lapangan minyak yang telah di eksploitasi perusahaan tersebut.Untuk tujuan pengembangan lapangan maka dalam penelitian ini, peneliti ingin melakukan karakterisasi dan pemodelan reservoir karbonat 3D pada Formasi Baturaja. Formasi Baturaja berpotensi sebagai batuan reservoar. Reservoar pada formasi ini merupakan reservoar dengan ciri litologi berupa batugamping terumbu dan Carbonate Platform yang didominasi oleh porositas sekunder. Kelengkapan datasangat menentukan keakuratan hasil interpretasi. Data data berupa data core, cutting, log dan rekaman seismic pada sumur produksi serta data produksi yang saling diintergrasikan dapat memberikan hasil yang maksimal dan juga meminimalisasikesalahan hasil interpretasi model geologi reservoir karbonat.

2. MAKSUD DAN TUJUAN PENELITIAN Maksud dari penelitian ini adalah sebagai tugas akhir dalam memenuhi persyaratan akademik guna memperoleh gelar Sarjana Teknik Geologi (S1) Progaram Studi Teknik geologi, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakterisasi reservoir pada Formasi Baturaja kaitannya dengan nilai porositas, permeabilitas, saturasi, dan tekanan kapiler dalam suatu reservoir dengan analisis lingkungan pengendapan, geometri reservoir, kemenerusan dan ketebalan reservoir, dan distribusi fasies reservoir tersebut dari data hasil pengeboran sumur sumur yang adasecara komprehensif untuk pemodelan reservoir yang lebih akurat dengan tujuan pengembangan.

3. LOKASI PENELITIAN Lokasi daerah penelitian yang bersangkutan diajukan di daerah Sumatera Selatan, Lapangan Prabumulih, tepatnya di PT. PERTAMINA EP Region Sumatera (Gambar 1), atau lokasi penelitian juga dapat di tentukan dan di sesuaikan dengan ketentuan dan kebutuhan perusahaan.
Lokasi Penelitian Lapangan Minyak Prabumulih PT.UBEP, Prabumulih Palembang

Gambar 1 Lokasi penelitian, Propinsi Sumatera Selatan, Sumatera.

4. WAKTU PENELITIAN Setelah disesuaikan dengan jadwal akedemik, maka waktu penelitian yang kami rencanakan selama kurang lebih tiga (3) bulan terhitung mulai dari bulan Maret 2012 sampai dengan Mei2012. Rencana kerja yang diusulkan : Tabel 1 Rencana Penelitian Bulan 1 Jenis Kegiatan
1 2 3

Bulan 2 Minggu
4 5 6 7 8 9

Bulan 3

10

11

12

Studi Literatur Pengumpulan Data Analisa Data Interpretasi dan Diskusi Penyusunan Laporan Presentasi dan Evaluasi

5. POKOK PERMASALAHAN Pokok permasalahan yang diangkat penulis meliputi karakterisasi reservoir dan pemodelan reservoir.Permasahan yang akan diuraikan penulis dalam penelitiannya, meliputi : a. Permasalahan Karakterisasi Resevoir dan pemodelan reservoir Permasalahan yang terkait dengan yang akan diuraikan penulis dalam penelitian ini, meliputi : a. Apa saja jenis litologi yang ada pada Formasi Baturaja Lapangan Prabumulih? b. Apa Fasies yang ada pada Formasi Baturaja Lapangan Prabumulih? c. Apa lingkungan pengendapan dari Formasi Baturaja Lapangan Prabumulih? d. Bagaimana siklus pengendapandari Formasi Baturaja Lapangan Prabumulih? e. Bagaimana gambaran bawah permukaan dari Formasi Baturaja Lapangan Prabumulih? f. Bagaimana jenis porositas dan nilai porositas batuan reservoir karbonat pada Formasi Baturaja Lapangan Prabumulih?

g. Bagaimana nilai permeabilitas, saturasi, dan tekanan kapiler batuan reservoir karbonat pada Formasi Baturaja? h. Bagaimana model geologi reservoir pada Formasi Baturaja Lapangan Prabumulih? i. Apakah model reservoir yang dibuat sudah mendekati keadaan sebenarnya?

6. HASIL YANG DIHARAPKAN Dengan melakukan skripsi ini yang berjudul Karakterisasi dan Pemodelan Reservoar Karbonat Baturaja, Lapangan Prabumulih, Cekungan Sumatera Selatan, diharapkan mahasiswa mampu memanfaatkan dan menggunakan data secara detail dalam menganalisis, menginterpretasi, dan mengkorelasi data bawah permukaan dengan maksimal. Adapun hasil yang diharapkan dari data-data tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Data Core Dengan menggunakan data core diharapkan peneliti akan memperoleh informasi mengenai litologi, jenis pori, porositas, permeabilitas dan tekanan kapiler yang nantinya digunakan untuk menentukan fasies dan lingkungan pengendapan.

b. Data Log Dengan menggunakan data log maka diharapkan peneliti akan memperoleh parameter-parameter yang bisa diukur pada suatu reservoar, yaitu seperti: porositas, permeabilitas, saturasi, tekanan kapiler, resistivitas,dan lithology untuk menganalisa siklus pengendapan dan sebagai data pendukung dalam pemodelan resevoir.

c. Data Atribut Seismik Data atribut seismik yang akan digunakan diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam melakukan dan menentukan kegiatan sebagai berikut: Penentuan horizon yang dipetakan Tracing atau mengikuti lapisan yang dipetakan sepanjang data seismic yang diberi warna tertentu.

Menunjukkan patahan, formation pinch out, unconformity, variasi ketebalan reservoir dan kemenerusan reservoir. Pendekatan model geologi

d. Data Produksi Ketersediaan data produksi dari sumur produksi maupun sumur injeksi dipakai untuk membantu pemodelan reservoir karbonat. e. Data penunjang lainnya

7. MANFAAT Adapun manfaat yang diharapkan dari pelaksanaan skripsi ini antara lain adalah: a. Manfaat Untuk Keilmuan Memberikan informasi tentang pengolahan dan analisis atribut seismic, data core dan data loguntuk karakterisasi dan pemodelan lapisan reservoir untuk pengembangan produksi, khususnya pada daerah telitian. Mengetahui lingkungan pengendapan dan keadaan geologi bawah

permukaan dari daerah telitian. b. Manfaat untuk Perusahaan (PT. UBEP-Prabumulih) Memberikan model reservoir karbonat formasi baturaja di daerah telitian untuk pengembangan produksi.

8. METODE PENELITIAN Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode korelasi dan analisakarakterisasi dan pemodelan reservoir dengan mengintegrasikan data log sumur, inti bor, serbuk bor, data produksi, atribut seismic dan data penunjang lainnya dengan tahapan sebagai berikut:

a. Tahap Pendahuluan Studi Pustaka Studi pustaka dilakukan agar peneliti mendapatkan informasi yang berkaitan dengan studi yang diinginkan dari beberapa referensi ataupun dari laporan terdahulu pada daerah penelitian. Studi pustaka juga merupakan bahan

pendukung dalam pelaksanaan penelitian ini sehingga dalam pelaksanaan penelitian, peneliti memiliki dasar teori yang kuat dan terpercaya. Studi pustaka yang dilakukan pada daerah telitian yakni cekungan Sumatera Selatan dibahas secara lokal dan regional menurut sudut pandang geologi yang terkait dengan keberadaan reservoar di Cekungan Sumatera Selatan. Penyusunan Proposal Penyusunan proposal merupakan tahap yang ditempuh setelah menentukan judul skripsi. Penentuan judul dan materi serta teori yang berkaitan dengan hal tersebut telah didiskusikan bersama dengan pihak yang berkompeten sebelum selanjutnya proposal ini disetujui dan disahkan oleh Dosen Pembimbing I dan Kepala Program Studi Teknik Geologi, UPN Veteran Yogyakarta.

b. Tahap Penelitian Studi Pendahuluan Studi pendahuluan dilakukan agar penulis dapat memahami langkah-langkah awal pelaksanaan penelitian tentang inti permasalahan topik tersebut. Sehingga diperlukan studi yang terarah dari beberpa pustaka yang menjelaskan tentang kondisi geologi Cekungan Sumatera Selatan, Lapangan Prabumulih, konsep-konsep dasar karakterisasi reservoir dan pemodelan reservoirdan aplikasi-aplikasi yang terkait lainnya.

Studi Regional Studi regional dilakukan untuk menyusun hipotesis tentang kondisi geologi, latar belakang masalah, serta tujuan penelitian. Sehingga dapat memberikan gambaran awal tentang keadaan reservoar pada daerah telitian.

Pengumpulan Data Pendekatan masalah dilakukan secara diskriptifdan analitik yang dalam pelaksanaannya dilakukan berdasarkan data seismik, data sumur berupa wireline log dan inti bor. Dalam penelitian ini data-data yang digunakan

diambil dari salah satu lapangan eksplorasi milik PT. UBEP Prabumulihyang berupa:

Data Primer ( data yang sedang dilaksanakan ): Data Seismik Data-data log Data Cutting dan Core

Data Sekunder (Data yang telah dilaksanakan ataupun sedang dilaksanakan): Data Literatur, Jurnal, Makalah dan Laporan penelitian terdahulu Data data produksi Data-data pendukung lainnya

c. Tahap Interpretasi Data Hasil korelasi dan analisis data seismik, data log dan data coreberupa model geologi dan fasies reservoiruntuk menentukan model reservoir karbonat Formasi Baturajapada Lapangan Minyak Prabumulih. Lingkungan Pengendapan Analisa dari data core dan cutting dari aspek fisik, biologi, maupun kimianya untuk menentukan lingkungan pengendapan Formasi Baturaja di daerah telitian.

Penentuan siklus pengendapan Korelasi dan analisa siklus pengendapan cekungan yang digunakan untuk menentukan ada berapa siklus pengendapan yang terjadi pada formasi Baturaja di daerah telitian.

Pemetaan Bawah Permukaan Pembuatan peta-peta bawah permukaan seperti peta struktur kedalaman, peta isopach yang digunakan sebagai dasar untuk penentuan persebaran dan ketebalan lapisan reservoir.

Analisa jenis porositas dan kalkulasi nilai porositas Analisa jenis porositas dan kalkulasi nilai porositas yang hasilnya nanti akan dimodelkan dengan metode geostatistik sehingga diperoleh sebaran nilai properti pada tempat yang tidak memiliki data.

Model Reservoir yang diperoleh akan divalidasi sejauh mana tingkat keakuratannya.

d. Tahap Penyusunan Laporan Hasil analisis yang sumbernya dari seluruh data-data yang dibutuhkan, akan disajikan dalam bentuk laporan skripsi. Hasilnya akan ditampilkan dalam bentuk tulisan dan gambar kemudian akan dipresentasikan.

10

TAHAP PENDAHULUAN

TAHAP ANALISIS DAN INTEGRASI DATA

Core Petrografi Log Interpretation Thin Section, Visual, SEM, XRD Pore network Pore types & Size Pore distribution Porosity Capilarlity Permeability Resistivity Saturated

Data Produksi

Data Core & Cutting Litologi, Fosil

Seismic

Data Log

Struktur, Isopach, Model Stratigrafi

Korelasi Siklus Stratigrafi, Lingkungan Pengendapan

Setting & Framework Geologi

Struktur , Stratigrfi, Geometri Reservoir, Kemenerusan Reservoir

MODEL GEOLOGI RESERVOIR


Gambar 2Diagram Alir Penelitian

9. DASAR TEORI 9. 1. Batuan ReservoirKarbonat

11

Batuan reservoir adalah batuan yang memiliki rongga ( pori ) yang saling berhubungan (permeabilitas) dan berpotensi sebagai tempat terakumulasinya hidrokarbon. Batuan karbonat dan batupasir merupakan 2 jenis batuan reservoir pada umumnya. Batuan karbonat dan batupasir merupakan 2 jenis batuan reservoir pada umumnya. Batuan karbonat dicirikan oleh nilai porositas awal yang tinggi yakni berkisar antara 60 sampai 80% ( misalnya pada lumpur karbonat dan terumbu). Namun, nilainya berkurang akibat dari diagenesa awal, sementasi, kompaksi, tekanan, pelarutan, dan tahap akhir sementasi.

a. Klasifikasi Batuan Karbonat Klasifikasi Dunham (1962) Dunham membagi tekstur batugamping berdasarkan keadaan butiran dalam batuan, apakah didukung oleh lumpur (mud-supported) atau didukung oleh butiran (grain-supported). Tekstur menurut Dunham adalah Mudstone, wackestone, packstone, grainstone dan untuk batugamping dengan tekstur tumbuh disebut boundstone.

Klasifikasi Embry dan Klovan (1971) Embry dan Klovan membagi batugamping menjadi batugamping allocthonous dan autocthonous. Batugamping allocthon dibagi menjadi Floatstone dengan komponen butir >10% didukung oleh matrik dan Rudstone dengan komponen saling menyangga. Batugamping autochton dibagi menjadi Bafflestone dengan komponen organisme yang mempunyai cabang, bindstone dengan komponen organisme yang berbentuk pipih dan framestone dengan komponen organisme yang berbentuk masif.

Tabel2Klasifikasi batuan sedimen karbonat (Dunham, 1962) dengan modifikasi (Embry & Klovan, 1971)

12

Klasifikasi Folk (1959) Folk mengklasifikasikan tekstur batugamping berdasarkan rasio antara mikrit dengan sparit dan sebagai komponen utamanya adalah allochem (fosil, ooid),pelmiksparit, intramikrit, dan biolitit. b. Fasies Karbonat Menurut Walker (1992), fasies merupakan kenampakan suatu tubuh batuan yang dikarekteristikan oleh kombinasi dari lithologi, struktur fisik dan biologi yang merupakan aspek pembeda dari tubuh batuan di atas, di bawah, ataupun disampingnya. Sedangkan menurut Yarmanto dkk. (1997), fasies merupakan kenampakan menyeluruh suatu tubuh batuan sedimen, berdasarkan pada gambaran khususnya (tipe batuan, kandungan mineral, struktur sedimen, perlapisan, fosil, kandungan organik) yang dapat membedakannya dengan tubuh batuan yang lainnya. Suatu fasies akan mencerminkan suatu mekanisma pengendapan tertentu atau berbagai mekanisma yang bekerja serentak pada saat yang bersamaan. Fasies ini dapat dikombinasikan menjadi asosiasi fasies (facies associations) yang merupakan merupakan suatu kombinasi dari dua atau lebih fasies yang membentuk tubuh batuan dalam berbagai skala dan kombinasi yang secara genetik saling berhubungan pada suatu lingkungan pengendapan. Asosiasi fasies mencerminkan lingkungan pengendapan atau proses dimana fasies itu terbentuk (Mutti dan Ricci Luchi, 1972). Fasies pengendapan merupakan suatu massa batuan yang dapat ditentukan dan dibedakan dengan lainnya oleh geometri, litologi, struktur sedimen, pola arus purba, dan fosilnya ( Selley, 1970). Fasies pengendapan menggambarkan variasi proses kimia, biologi, dan fisika yang berlangsung pada suatu lingkungan pengendapan yang berhubungan dengan lithofasies dan atau biofasies. Litofasies adalah fasies pengendapan yang terdiri dari mineralogi, kelimpahan butiran, tipe butiran, struktur sedimen, dan tekstur. Biofasies terdiri

13

dari

kumpulan

skeletal

yang

merupakan

kontributor

terbesar

dalam

pembentukan sistem karbonat. Fasies pengendapan adalah produk dari suatu lingkungan pengendapan tertentu, sehingga lingkungan dan fasies tidak dapat dicampur aduk. Dengan menentukan fasies pengendapan, maka kita dapat mengintepretasikan dimana fasies tersebut diendapkan. c. Lingkungan Pengendapan Karbonat Menurut Boggs (1987), lingkungan pengendapan adalah suatu tempat yang memiliki kondisi fisik, kimia, biologi tertentu yang bersifat statis dan dinamis. Kondisi lingkungan pengendapan akan mengontrol proses dan menjadi penyebab karakteristik sedimen yang terendapkan dan digambarkan sebagai suatu proses (cause). Lingkungan pengendapan dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu marine dan non marine dimana keduanya dipisahkan oleh shoreline (garis pantai). Lingkungan marine dapat dikelompokkan ke dalam subdivisi menjadi shelf, slope, dan deep ocean basin. Kedalaman air dari lingkungan shelf berkisar antara 0-200m. Break of slope membatasi lingkungan shelf dan deep ocean basin yang kedalamannya bisa mencapai lebih dari 1000 m. Lingkungan Pengendapan shelf Lingkungan shelf dapat dikelompokkan lagi menjadi beberapa subdivisi berdasarkan karakeristik morfologi, sirkulasi air, salinitas, dan daya tembus cahaya. Variasi dan interaksi dari komponen tersebut adalah sebagai pengontrol pertumbuhan karbonat pada lingkungan shelf. Lingkungan shelf dibagi menjadi inner shelf yang lebih dekat dengan kontinen dan outer shelf yang lebih dekat dengan basin. Lingkungan Pengendapan di Slope. Sedimen dari lingkungan ini sangatlah bervariasi, bisa terutama berupa mud tetapi bisa juga mempunyai material berbutir kasar dengan proporsi yang besar. Pada arah downslope ukuran butir nya menjadi halus, sehingga porositas dan permeabilitas nya juga menjadi kecil.

14

Reef yang berada di downslope dikarakteristikan dengan areanya yang kecil, tetapi bisa mempunyai ketebalan yang sangat tebal dan bisa membentuk reservoir yang ekselen. Geometri dari reservoir lingkungan foreslope adalah sangat bervariasi, tetapi bisa diprediksi jika konfigurasi dari original body sedimen nya diketahui.

Lingkungan Pengendapan Deep Ocean Basin Sedimen dari lingkungan ini umumnya tidak poros, tetapi biasanya merupkan source bed yang ekselen. Salah satu endapan basinal ini adalah chalk yang terdiri dari butir shell dari microfossil foraminefera dan cocolith yang sangat halus dan ter akumulasikan di air dalam.Pada waktu terbentuknya, challk ini mempunyaiporositas yang sangat tinggi sebab butirannaya seragam dan bersih, akan tetapi karena proses penimbunan dan kompaksi porositasnya menjadi berkurang secara drastis. Walau porositas dari chalk tersebut mungkin masih relatif tinggi, akan tetapi permeabilitas nya hanya beberapa millidarcy saja dikarankan ukuran butirnya yang sangat halus tersebut. Tetapi, jika chalk tersebut terkena proses fracture pada waktu penimbunan nya, batuan ini bisa nenbentuk reservoir yang ekselen.

Gambar 3 Lingkungan Pengendapan Karbonat ( Modifikasi dari Wilson, 1975).

15

9. 2. Parameter Parameter Karakterisasi Reservoir Berikut ini merupakan parameter parameter yang digunakan dalam mengkarakterisasi suatu reservoir. a. Porositas Porositas () adalah perbandingan antara volume pori/ rongga dalam suatu masa batuan. Jenis porositas batuan reservoir secara deskritip, yaitu: Porositas absolut atau total, adalah fraksi ataupersen volume pori-pori total terhadap volume batuan total. total = (V pori total)/ (Vbulk) x 100% Porositas efektif, adalah fraksi atau persen volume pori-pori yang saling berhubungan terhadap volume batuan total efektif= (Vpori yg berhubungan)/ (Vbatuan total) x 100%

Choquette dan Pray (1970) menawarkan satu dari klasifikasi yang paling komprehensif. Dua macam pori dasar batuan karbonat yang dikenal : (1) pori-pori primer (pori-pori yang dibentuk dalam lingkungan deposisi dan bertanggung jawab untuk porositas primer) dan (2) pori-pori sekunder (poripori yang dibentuk di sedimen atau batuan setelah deposisi dan menjadi porositas sekunder). Klasifikasi yang digunakan disini adalah: 1. Porositas Primer (Primary Porosity) a. Framework (Intraskeletal , Interskeletal) Merupakan inter- dan interskeletal pori yang terjadi di antara dan di dalam organisme dalam bound carbonate framework (boundstones).

b. Intraparticle

16

Merupakan pori yang terbentuk di dalam partikel. Dalam fragmen skeletal biasanya dibentuk oleh penghilangan dari bagian lunak organik dari skeleton karbonat, contohnya, penghilangan polyps dari skeleton koral Interparticle.

c. Interparticle Merupakan jenis porositas yang berhubungan dengan ruang di antara partikel dan biasanya ditemukan di batupasir silisiklastik. Di sedimen karbonat porositas jenis ini mempunyai variasi tipe kehadiran partikel dan terubah oleh kompaksi yang terjadi kemudian atau masuknya dari sedimen internal dan semen.

d. Fenestral Macam jenis dari pori ini umumnya elongate equant dan celah primer dalam batuan framework lebih besar daripada grain-supported interstices. Porositas ini dapat terjadi dalam lapisan melewati batuan atau terjadi dalam irregular manner.

2. Porositas Sekunder (Secondary Porosity) a. Intercrystaline Pori yang terbentuk disebabkan proses rekristallisasi sehingga membentuk ruang seperti tekstur gula (polyhedral), umumnya pada reservoir batugamping yang mengalami dolomitisasi. Rekristalisasi ini akan meningkatkan porositas.

b. Moldic Porositas moldik dibentuk oleh penghilangan selektif dari unsur

primer dari suatu sedimen atau batuan, seperti ooids, cangkang bivalve dan mineral evaporit.

c. Vug, Channel dan Cave

17

Macam dari porositas ini dihasilkan dari disolusi dan kemungkinan tidak ada hubungan dengan tekstur batuan asal. Ruang kosong (voids) dibentuk oleh bentuk dan ukuran iregular dan mungkin atau tidak mempunyai interkoneksi. Beberapa vugs mungkin terlarut-membesar

(solution-enlarged) cetakannya. Porositas gua (cave) adalah bentuk dari porositas vug dan dibedakan oleh besarnya ukuran pori. Porositas channel tersusun oleh channels tabular flat dengan menambah dari porositas lain yang hadir di batuan dan meningkatkan permeabilitas. drainase dari strata, yang

d. Fracture, Breccia Jenis dari porositas ini umumnya ada di dolostone dimana retakan terlihat di bawah tekanan tektonik, batugamping cenderung terbentuk dari aliran dan tekanan cairan. Porositas retakan meningkat menjadi porositas breksi sekunder dengan peningkatan displacement, disruption dan hancurnya lapisan (collapse of strata). e. Chalky atauPorositas Pelapukan (weathering porosity) Batuan karbonat dan sedimen umumnya terlapukkan ketika terekspose subaerial membentuk lapukan sedimen chalky. Hal ini juga umum di batuan terumbu dan pasir skeletal pada seting tropik modern dan subtropik.

Gambar 4 Jenis Jenis Porositas (Choquette dan Pray, 1970).

18

b. Permeabilitas Permeabilitas atau kelulusan (notasi k): adalah kemampuan suatu fluida melalui celah suatu material yang mempunyai rongga.Berdasarkan fasa fluida yang terdapat pada pori, dapat dibedakan menjadi 3(tiga) jenis permeabilitas, yaitu: Permeabilitas absolut (k), adalah harga permeabilitas dimana fasa fluidanya tak dapat dipisahkan apakah fasa air, minyak atau fasa gas. Jadi fluidanya terdiri dari satu macam fasa (minyak saja, air saja, atau gas saja), Permeabilitas effektif, adalah permeabilitas dimana fluida pengisi media berpori terdiri lebih dari satu macam fasa, misal minyak dan gas, minyak dan air, air dan gas atau ketiga-tiganya air, minyak dan gas, dinotasikan kw, ko, kg. (kg) - Pada permeabilitas effektif, kondisi pori dengan saturasi gas 100%, atau (kw) - saturasi air 100%, atau (ko) - saturasi minyak 100%. Permeabilitas relatif(kr), adalah perbandingan antara permeabilitas effektif dengan permeabilitas absolut, dinotasikan k ro, k rg, k rw, dimana kisaran k r= 0.0 1.0. Permeabilitas relatif untuk minyak (k r o) = k o / k, untuk gas (k r g) untuk air (k r w) = k g / k, dan = kw / k

c. Saturasi Saturasi adalah perbandingan antaravolumepori yang ditempati oleh fluida (Oil,Water,Gas) dengan volume pori total dalam batuan. Berdasarkan
fluida pengisi rongga batuan reservoar, maka ada 3 (tiga) jenis saturasi yaitu: Sw So

19

Sg

d. Tekanan Kapiler (Pc) Tekanan kapiler(Pc) didefinisikan sebagai perbedaan tekanan antara dua permukaan fluida yang saling bercampursebagai akibat dari terjadinya pertemuan permukaan yang memisahkannya. Tekanan kapiler di dalam batuan berpori tergantung pada ukuran pori-pori dan macam fluidanya. 9. 3. Seismik 9.3.1 Konsep Dasar Seismik Metode seismik menggunakan karakter gelombang elastis, yaitu gelombang yang direfleksikan melalui batuan dan fluida yang terkandung di dalamnya dengan kecepatan yang berbeda-beda. Perkalian antara kecepatan dan densitas batuan adalah impedansi akustik (IA), yaitu kompresibilitas batuan ketika ditekan oleh variable seismik. Kontras impedansi akustik pada batas lapisan akan menyebabkan gelombang yang tiba pada batas tersebut akan dibiaskan atau dipantulkan. Gelombang yang dipantulkan tersebit akan direkam di permukaan sebagai rekaman seismik. IA = . V .(Sukmono,1999) Dimana : = densitas V = Kecepatan gelombang seismic

9.3.2Atribut Seismik Atribut seismik dinyatakan juga sebagai sifat kuantitatif dan deskriptif dari data seismik yang ditampilkan dalam skala yang sama dengan data aslinya, dimana beberapa atribut memiliki sifat sensitifitas terhadap reservoir tertentu dan beberapa atribut lainnya lebih baik di dalam menampilkan informasi ataupun anomali bawah permukaan yang mula-mula tidak teridentifikasi oleh data konvensional. Atribut seimik terdiri atas : a. Kontinuitas Kontinuitas refleksi mencerminkan konsistensi kemenerusan lateral refleksi. Refleksi yang diskontinu adalah bila terdapat kelurusan yang menerus, tapi bagian yang menerus tersebut terpotong oleh suatu gap yang

20

lebarnya bisa mencapai dua tiga tras. Refleksi yang kontinu mempunyai karakter yang menerus sepanjang jarak yang signifikan (km). b. Amplitude Ketinngian puncak (peak) atau palung (trough) refleksi yang besarnya tergantung pada koefisien refleksi. Ukuran kualitattif seperti tinggi, sedang, dan rendah sering dipakai untuk mendeskripsi besar amplitude. Perubahan vertical amplitude dapat digunakan untuk membantu identifikasi

ketidakselarasan, sedangkan perubahan lateral dapat digunakan untuk identifikasi perubahan fasies seismic.

c. Frekuensi Frekuensi refleksi adalah jumlah refleksi per unit waktu dan dipengaruhi oleh kombinasi efek interferensi dan frekuensi sinyal seismic. Perubahan vertikal frekuensi refleksi dapat digunakan untuk mendeteksi batas antar sekuen pengendapan sedangkan perubahan lateral dapat digunakan untuk menduga perubahan fasies.

21

Gambar 5 Atribut refleksi: kontinuitas, amplitude, frekuensi/ spasi (Badley, 1985) 9.3.3Seismik Facies Analisa seismik fasies adalah deskripsi dan interpretasi geologi dari parameter refleksi yang meliputi konfigurasi, kontinuitas, amplitude, frekuensi, dan kecepatan interval. Setiap parameter dapat memberikan informasi yang berguna mengenai kondisi geologi yang terkait seperti pada Tabel 3

Tabel 3 Parameter refleksi dan arti geologinya (Mitcum dkk, 1977)


Parameter Seismic Fasies Konfigurasi Refleksi Interpretasi Geologi Kemenerusan Refleksi Amplitude Refleksi Frekuensi Refleksi Interval Kecepatan Eksternal Form & Areal Association Of Seismic Facies Units Pola Lapisan Proses Pengendapan Erosi dan Paleogeografi Kontak Fluida Kemenerusan Lapisan Proses Pengendapan Kontras Kecepatan Dan Densitas Bed Spacing Kandungan Fluida Ketebalan Lapisan Estimasi Litologi Kandungan Fluida Estimasi Porositas Kandungan Fluida Gross Depositional Environment Sumber Material Sedimen

22

Setting geologi

Teknik Intepretasi data seismik refleksi: a. Penyiapan data berupa peta dasar, penampang seismic, data kecepatan, dan sumur dan seismogram sintetik. b. Polaritas dan pengikatan data sumur c. Interpretasi geologi dengan piking horison dan pemetaan sesar dan seismic stratigrafi d. Tracing atau mengikuti lapisan yang dipetakan sepanjang penampang seismik dan diberi warna tertentu. e. Pengikatan Lup f. Seluruh garis seismik yang telah di-trace, harga TWT (two way tirne) yang didapatkan, di plot pada peta dasar lintasan seismik. Titik-titik yang sama nilainya dihubungkan dengan membentuk garis kontur.

9. 4. Data Log Log merupakan suatu gambaran terhadap kedalaman dari suatu

perangkat kurva yang mewakili parameter-parameter yang diukur secara menerus di dalam suatu sumur. Adapun parameter-parameter yang bisa diukur adalah sifat kelistrikan (spontaneous potensial), tahanan jenis batuan , daya hantar listrik , sifat keradioaktifan, dan sifat meneruskan gelombang suara. Metode perekamannya dengan menggunakan cara menurunkan suatu sonde atau peralatan kedasar lubang pemboran. Jenis-jenis log yang sering digunakan :

9. 4. 1. Log spontaneous potensial (SP) Kurva SP merupakan suatu catatan terhadap kedalaman dari perbedaan potensial antara elektroda permukaan dengan elektroda yang dapat bergerak di dalam lubang bor. Pada zona lempung, kurva SP menunjukan garis lurus yang disebut shale base line. Pada formasi yang permeable kurva SP

23

menjauh dari garis lempung. Pada zona permeabel yang tebal , kurva SP mencapai suatu garis konstan. Dalam evaluasi formasi log SP digunakan untuk : a. Menentukan jenis litologi b. Menentukan kandungan lempung c. Menentukan harga tahanan jenis air formasi

9. 4. 2. Log Gamma Ray (GR) Log GR merupakan suatu catatan terhadap kedalaman dari radioaktivitas alamiah suatu formasi. Log Gamma Ray digunakan untuk : a. Menentukan volume lempung b. Identifikasi litologi

9. 4. 3. Log Resistivitas Merupakan log elektrik yang digunakan untuk : a. Mendeterminasi kandungan fluida dalam batuan reservoir . b. Mengidentifikasi zona permeable c. Menentukan porositas

Ada dua tipe log yang digunakan untuk mengukur resistiviti formasi yaitu log induksi dan log elektroda.

24

Gambar 6Contoh Log SP Dan Log Resistivitas (Facies Model, Walker, 1992)

9. 4. 4. Log Densitas Log Densitas merupakan suatu tipe log porositas yang mengukur densitas elektron suatu formasi. Dalam evaluasi sumur log densitas berguna untuk : a. Menentukan porositas b. Identifikasi litologi c. Identifikasi adanya kandungan gas d. Mendeterminasi densitas hidrokarbon

9. 4. 5. Log Netron Merupakan tipe log porositas yang mengukur konsentrasi ion hidrogen dalam suatu formasi. Dalam penentuan pekerjaan evaluasi formasi, netron berguna untuk : a. Menentukan porositas b. Identifikasi litologi c. Indentifikasi adanya gas log

9. 4. 6. Log Sonik Merupakan suatu log porositas yang mengukur interval waktu lewat dari suatu gelombang suatu suara kompresional untuk melalui satu feet formasi.Dalam evaluasi formasi log sonic berguna untuk : a. Menentukan porositas b. Identifikasi litologi

25

Gambar 7Contoh dari log gamma-ray, caliper dan sonic (Facies Models, Walker, 1992) 9. 5. Dasar Dasar Pemodelan Reservoir

26

Secara umum arti pemodelan reservoir adalah menirukan suatu reservoir dengan menggunakan model (simulator). Tujuan pemodelan reservoir adalah memperkirakan kinerja reservoir bila diproduksikan dengan cara produksi yang diinginkan. Dengan pemodelan reservoir, dapat diperoleh gambaran reservoir dan kinerja produksi yang dihasilkan dari berbagai macam skenario produksi, dengan biaya yang murah dan tanpa mengganggu reservoir sebenarnya. Tahapan dalam melakukan simulasi reservoir adalah sebagai berikut: a. Persiapan data b. Inisialisasi c. Penyelarasan sejarah (history matching) d. Peramalan e. Analisa hasil

a. Persiapan Data Data data yang akan digunakan dalam simulasi dipersiapkan terlebih dahulu, mulai dari data mentah yang ada di lapangan hingga menjadi data yang siap diinput ke komputer. Secara umum data yang dibutuhkan adalah data batuan reservoir, data fluida reservoir, data produksi, serta data penunjang lainnya.

b. Inisialisasi Volume hidrokarbon yang dihitung berdasarkan studi geologi didasarkan pada saturasi yang diperoleh berdasarkan data log. Sedangkan pada model simulasi distribusi saturasi dihitung kembali berdasarkan data tekanan kapiler, porositas dan permeabilitas pada setiap kedalaman. Tentunya volume hidrokarbon dari kedua model tersebut harus selaras. Biasanya volume hidrokarbon dari model simulasi lebih besar karena tekanan kapiler yang digunakan adalah yang diperoleh dari proses imbibisi. Untuk mengatasi hal tersebut, pada umumnya harga porositas pada model simulasi dilakukan perubahan untuk mendapatkan penyelarasan volume hidrokarbon.

27

c. Penyelarasan sejarah (history matching) Penyelarasan adalah tahap dimana terhadap model yang telah disiapkan dilakukan penyesuaian agar model mempunyai karakteristik yang mendekati atau hampir sama dengan reservoir yang sebenarnya. History matching diawali dengan me-run model tersebut dengan menggunakan data yang khusus disiapkan untuk model dari reservoir sebenarnya. Run selanjutnya adalah berdasarkan hasil yang pertama, dilakukan berulang ulang sehingga menghasilkan match yang baik. Parameter-parameter yang digunakan sebagai pembanding bahwa karakteristik model sudah mendekati reservoir sebenarnya adalah: a. Tekanan static reservoir b. Laju produksi total c. Water oil ratio d. Gas oil ratio

d. Peramalan Pada tahap ini, model reservoir yang digunakan sudah menyerupai kodisi reservoir sebenarnya, sehingga dapat dilakukan berbagai strategi produksi untuk meramalkan kinerja yang akan dating dan dipilih sebuah strategi yang diinginkan.

10. GEOLOGI UMUM CEKUNGAN SUMATERA SELATAN a. Stratigrafi Regional Cekungan Sumatera Selatan Kelompok Batuan Dasar Pra-Tersier : Terdiri atas satuan batuan malihan yang terdiri dari philit, sekis, marmer dan kwarsit; satuan batuan gunungapi terdiri dari tufa litik; satuan batuan granitoit yang merupakan batuan asal kontinen; dan satuan batuan ofiolit yang merupakan batuan asal kerak samudra yang terdiri dari basalt, metabasalt, rijang, batulempung dan batulumpur gampingan.

28

Kelompok Batuan Paleogen : Terdiri atas satuan batuanTuff, aglomerat, batulempung, breksi tuff dan andesit; Serpih dengan sisipan tuff, batulanau, batupasir dan beberapa lapisan tipis batubara. Kelompok Batuan Neogen Formasi Talang Akar : Diendapkan di atas Formasi Lahat secara selaras, tetapi kadang-kadangsecara setempat dijumpai hubungan yang tidak selaras. Pada kondisi Formasi Lahat tidak berkembang, Formasi Talang Akar diendapkan langsung secara tidak selaras di atas batuan dasar Pra-Tersier. Bagian bawah dariformasi ini (TAF) mempunyai tipe sedimen FluvialDeltaik dan makin ke atasberubah menjadi kondisi endapan laut. Bagian bawah umumnya terdiri daribatupasir kasar-sangat kasar selang-seling dengan serpih dan batubara (Gritsant Member (TAF/GRM)), tebal antara 200 m 550m. Bagian atas umumnya terdiri dari batupasir sedang-halus selang-selingdengan serpih atau batubara (Transtional Member(TAF/TRM)) dengan tebal sekitar 300 m. Umur dari formasi ini adalah MiosenBawah bagian bawah. Formasi Baturaja : Diendapkan secara selaras di atas TAF dan terdiri dari batugamping terumbu dan batugamping klastik yang diendapkan selama Awal hingga Miosen Tengah. Ketebalan rata-rata berkisar 60 m 75 m dan di beberapa tempat bisa mencapai 200 m (di Lapangan Raja, Betun dan Benuang). Umur Formasi Baturaja berdasarkan Zonasi Blow adalah Miosen Bawah bagian atas. Formasi Gumai : Terdiri dari serpih, batugamping dan serpih napalan yang kaya akan fosil foraminifera. Formasi ini diendapkan pada kondisi transgresi di dalam 44 Cekungan Sumatera Selatan dan tersebar secara luas. Ketebalannya berkisar 150 m sampai 500 m di dalam antiklinorium LimauPendopo dan diduga mencapai 2500 m di dalam daerah depresi Lematang. Umur berdasarkan Zonasi Blow adalah N.9 N.12. Formasi Air Benakat : Diendapkan selama fase regresi pada Miosen Tengah-Miosen Akhir, terutama terdiri dari batulempung dengan kandungan fosil foraminifera dan makin ke atas batupasir sering dijumpai sebagai

29

sisipan-sisipan. Ketebalannya terutama di Sub Cekungan Palembang berkisar dari 100 m 1100 m. Formasi Muara Enim : Terdiri dari batulempung, serpih, batupasir dan beberapa lapisan batubara. Diendapkan pada lingkungan laut dangkal, transisi hingga darat dengan ketebalan berkisar 450 m 750 m. Umur dari formasi ini adalah Miosen Akhir hingga Pliosen Awal. Formasi Kasai : Diendapkan pada fase akhir regresi pada lingkungan transisi fluvial dan terdiri dari tuff, batuapung, batupasir tufaan dan batulempung tufaan. Umur dari Formasi Kasai ini adalah Pliosen Akhir hingga Pleistosen.

Gambar 8 Stratigrafi regional Cekungan Sumatra Selatan (Pertamina, 2005)

b. Tektonik dan Struktur Cekungan Sumatera Selatan Pulau Sumatra terletak pada tepi bagian selatan dari lempeng Benua Eurasia yang berinteraksi dengan Lempeng Samudra Hindia-Australia yang bergerak ke arah Utara-Timurlaut (Gambar 5)

30

Keterangan : Zona Subduksi Aktif Area Studi Sesar Sumatera


Pergerakan Relatif Lempeng

Gambar 9. Kerangka Tektonik Cekungan Sumatera Selatan (Bihop, 2000; Koesoemadinata dan Pertamina 2001)

Cekungan Sumatra Selatan secara umum merupakan back arc basin yang dibatasi oleh Paparan Sunda di sebelah Timurlaut dan Bukit Barisan di sebelah Baratdaya. Daerah Cekungan Sumatra Selatan ini dipisahkan dengan Cekungan Sunda yang berada di sebelah Tenggara oleh Tinggian Lampung, dan dipisahkan dengan Cekungan Sumatra Tengah oleh Tinggian Bukit Tigapuluh. Cekungan Sumatra Selatan memiliki tiga sub-cekungan, yaitu Sub-cekungan Jambi, Subcekungan Palembang Tengah, dan Sub-cekungan Palembang Selatan.

31

Bihop, 2000; Koesoemadinata dan Pertamina 2001 membagi Cekungan Sumatra Selatan dalam 3 Fase Taktonik, yaitu: 1. Fase regangan selama Paleosen akhir Miosen awal yang menghasilkan graben dengan pola berarah Utara Selatan yang kemudian diisi oleh endapan Eosen Miosen. Fase tektonik ini berpengaruh pada pola sedimentasi syn-rift dan terbentuknya sesar-sesar di daerah ini. 2. Fase post-rift sag yang terjadi pada awal Miosen awal Pliosen. 3. Fase kompresi yang melibatkan batuan dasar, inversi cekungan, dan reversi dari sesar normal pada masa Pliosen sampai Resen yang menghasilkan perlipatan yang merupakan perangkap utama Hidrokarbon di daerah ini (Suhendan,1984). Beberapa sesar normal yang menghasilkan cekungan pengendapan di Sumatra Selatan teraktifkan kembali dan mengalami perubahan arah gerak selama kompresi dari inversi cekungan pada Miosen Plio Pleistosen (Sudarmono, dkk, 1997; Zeliff, dkk, 1985; Moulds,1989).

Gambar 10 Struktur Regional Sumatera Selatan (Sudarmono, dkk, 1997; Zeliff, dkk, 1985; Moulds, 1989)

32

11. PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS Dari penjelasan terhadap metodologi yang akan digunakan pada penelitian kali ini diharapkan dapat tercapai dan merupakan data yang akurat dalam dunia geologi perminyakan, dan juga peneliti tidak menutup diri untuk menerima masukan atau kekurangan terhadap data yang akan disajikan. Dari data-data yang akan digunakan dan akan dibahas dalam penelitian tersebut adalah sebagai berikut: a. Analisis Data Core dan Fosil untuk Penentuan Lingkungan Pengendapan Analisis data core makroskopik dan mikroskopik berdasarkan aspek fisik, kimia dan biologi untuk menentukan Model Fasies dan Lingkungan pengendapan.

b. Analisis Data Sumur Analisis data sumur yang dilakukan dalam penelitian ini berupa data log sumur (Gamma Ray, SP, Density, Porosity) yang digunakan dan berperan penting untuk keperluan interpretasi bawah permukaan, korelasi, penentuan siklus pengendapan, kalkulasi nilai porositas dan pemetaan bawah permukaan.

c. Analisa Seismik Penggunaan data seismik yang akan dilakukan pada daerah penelitian untuk mengetahui pola penyebaran lapisan reservoar di bawah permukaan berdasarkan atribut seismik, struktur yang berkembang, dan untuk interpretasi horison.

d. Korelasi Sebelum melakukan pemetaan bawah permukaan maka hal yang harus dikerjakan terlebih dahulu adalah korelasi tiap marker yang harus dipetakan. Pada penelitian ini akan dilakukan korelasi stratigrafi dan korelasi struktur untuk mengetahui keadaan bawah permukaan yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana kemenerusan dari reservoar (karbonat) yang terakumulasi oleh hidrokarbon dengan menggunakan pendekatan litostatigrafi.

e. Pembuatan Peta Bawah Permukaan

33

Pembuatan peta bawah permukaan berupa pembuatan peta struktur kedalaman dan peta isopach. Peta ini bertujuan untuk menbantu dalam membuat model geologi reservoir yang lebih akurat.

f. Analisa Sayatan Tipis untuk menentukan jenis pori Analisis sayatan tipis dari core batuan ( jika tersedia ) dengan mengisi pori dgn epoxy resin untuk bat karbonat (Wardlaw, 76) untuk mengetahui jenis pori dari batuan karbonat. g. Pemodelan untuk reservoir karbonat Pembuatan model yang tepat untuk reservoir karbonat merupakan integrasi antara

12. PEMBIMBING Untuk pembimbing dilapangan diharapkan dapat disediakan oleh perusahaan, sedangkan untuk pembimbing di kampus kami telah mendapatkan dari salah satu staff pengajar pada Program Studi Teknik Geologi, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.

13. PENUTUP Kesempatan yang diberikan pada mahasiswa dalam melakukan skripsi ini akan dapat membuka wawasan mahasiswa pada bidang teknologi geologi yang dimanfaatkan dalam dunia perminyakan. Dalam kesempatan ini mahasiswa akan memanfaatkanya semaksimal mungkin, serta hasil dari skripsi ini akan dibuat dalam bentuk laporan dan akan dipresentasikan di perusahan terkait dan juga di universitas.

14. LAMPIRAN Sebagai bahan pertimbangan bagi perusahaan, saya lampirkan beberapa dokumen antara lain : Surat Permohonan tempat pelaksanaan Skripsi dari Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Naisonal Veteran Yogyakarta.

34

Surat Pengantar Skripsi dari Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Naisonal Veteran Yogyakarta. Transkrip IPK sementara Daftar Riwayat Hidup (Curiculum Vitae)

15. DAFTAR PUSTAKA Anne Reeckmann and Gerald M. Friedman, 1982, Exploration for Carbonate Petroleum Reservoirs, John Wiley & Sons, Inc, USA Charles E. Payton, 1977, Seismic Stratigraphy applications to hydrocarbon exploration, AAPG, USA Karolina, 2010, Dasar Dasar Pemodelan Reservoar, download. 26 Januari 2012; http://car-oil-ine.blogspot.com/2010/07/dasar-dasar-pemodelan-reservoir.html

Pirson and Sylvanian Joseph, 1983, Geologic Well Log Analysis, Gulf Publishing Company, Houston, Texas.

Sukmono, S., 2000, Interpretasi seismic refleksi, Institut Teknologi Bandung, Bandung.

Sukmono, S., 1999, Seismik Stratigrafi, Jurusan Teknik Geofisika, Institut Teknologi Bandung, Bandung.

35