Anda di halaman 1dari 27

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pompa adalah suatu alat yang digunakan untuk memindahkan suatu fluida
dari suatu tempat ke tempat lain dengan cara menaikkan tekanan cairan tersebut.
Kenaikan tekanan cairan tersebut digunakan untuk mengatasi hambatan-hambatan
pengaliran. Hambatan-hambatan pengaliran itu dapat berupa perbedaan tekanan,
perbedaan ketinggian atau hambatan gesek. Klasifikasi Pompa Secara umum
pompa dapat diklasifikasikan menjadi 2 bagian yaitu pompa kerja positif (positive
displacement pump) dan pompa kerja dinamis (non positive displacement pump).
Salah satu jenis pompa Kerja Dinamis adalah pompa sentrifugal yang prinsip
kerjanya mengubah energi kinetis (kecepatan) cairan menjadi energi potensial
(dinamis) melalui suatu impeller yang berputar dalam casing. Pada Instalasi
Pengolahan Air (IPA), sebagian besar pompa yang digunakan ialah pompa bertipe
sentrifugal. Gaya sentrifugal ialah sebuah gaya yang timbul akibat adanya gerakan
sebuah benda atau partikel melalui lintasan lengkung (melingkar). Pompa
sentrifugal merupakan pompa Kerja Dinamis yang paling banyak
digunakan karena mempunyai bentuk yang sederhana dan harga yang
relatif murah. Keuntungan pompa sentrifugal dibandingkan jenis
pompa perpindahan positif adalah gerakan impeler yang kontinyu
menyebabkan aliran tunak dan tidak berpulsa, keandalan operasi tinggi
disebabkan gerakan elemen yang sederhana dan tidak adanya katup-katup,
kemampuan untuk beroperasi pada putaran tinggi, yang dapat dikopel dengan
motor listrik, motor bakar atau turbin uap, ukuran kecil sehingga hanya
membutuhkan ruang yang kecil, lebih ringan dan biaya instalasi ringan, harga
murah dan biaya perawatan murah.

2.1 Prinsip -prinsip dasar pompa sentrifugal
Prinsip-prinsip dasar pompa sentrifugal ialah sebagai berikut:
gaya sentrifugal bekerja pada impeller untuk mendorong fluida ke sisi luar
sehingga kecepatan fluida meningkat
kecepatan fluida yang tinggi diubah oleh casing pompa (volute atau
diffuser) menjadi tekanan atau head.
Universitas Sumatera Utara
2.2 Klasifikasi Pompa Sentrifugal
Pompa sentrifugal diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria, antara
lain:
1. Kapasitas :
Kapasitas rendah : < 20 m
3
/ jam
Kapasitas menengah : 20-60 m
3
/ jam
Kapasitas tinggi : > 60 m
3
/ jam
2. Tekanan Discharge :
Tekanan Rendah : < 5 Kg / cm
2

Tekanan menengah : 5 - 50 Kg / cm
2

Tekanan tinggi : > 50 Kg / cm
2

3. Jumlah / Susunan Impeller dan Tingkat :
Single stage : Terdiri dari satu impeller dan satu casing
Multi stage : Terdiri dari beberapa impeller yang tersusun seri dalam
satu casing.
Multi Impeller : Terdiri dari beberapa impeller yang tersusun paralel
dalam satu casing.
Multi Impeller Multi stage : Kombinasi multi impeller dan multi stage.
4. Posisi Poros :
Poros tegak
Poros mendatar
5. Jumlah Suction :
Single Suction
Double Suction
6. Arah aliran keluar impeller :
Radial flow
Axial flow
Mixed fllow




Universitas Sumatera Utara
2.3 Bagian-bagian Utama Pompa Sentrifugal
Secara umum bagian-bagian utama pompa sentrifugal dapat dilihat seperti
gambar berikut:

Gambar 2.1 Rumah Pompa Sentrifugal
1. Stuffing Box
Stuffing Box berfungsi untuk mencegah kebocoran pada daerah dimana
poros pompa menembus casing.
2. Packing
Digunakan untuk mencegah dan mengurangi bocoran cairan dari casing
pompa melalui poros. Biasanya terbuat dari asbes atau teflon.
3. Shaft
Shaft/poros berfungsi untuk meneruskan momen puntir dari penggerak
selama beroperasi dan tempat kedudukan impeller dan bagian-bagian
berputar lainnya.
4. Shaft sleeve
Shaft sleeve berfungsi untuk melindungi poros dari erosi, korosi dan
keausan pada stuffing box. Pada pompa multi stage dapat sebagai leakage
joint, internal bearing dan interstage atau distance sleever.
Universitas Sumatera Utara
5. Vane
Sudu dari impeller sebagai tempat berlalunya cairan pada impeller.
6. Casing
Merupakan bagian paling luar dari pompa yang berfungsi sebagai
pelindung elemen yang berputar, tempat kedudukan diffuser (guide vane),
inlet dan outlet nozel serta tempat memberikan arah aliran dari impeller
dan mengkonversikan energi kecepatan cairan menjadi energi dinamis
(single stage).
7. Eye of Impeller
Bagian sisi masuk pada arah isap impeller.
8. Impeller
Impeller berfungsi untuk mengubah energi mekanis dari pompa menjadi
energi kecepatan pada cairan yang dipompakan secara kontiniu, sehingga
cairan pada sisi isap secara terus menerus akan masuk mengisi kekosongan
akibat perpindahan dari cairan yang masuk sebelumnya.
9. Wearing Ring
Wearing ring berfungsi untuk memperkecil kebocoran cairan yang
melewati bagian depan impeller maupun bagian belakang impeller, dengan
cara memperkecil celah antara casing dengan impeller.
10. Bearing
Bearing (bantalan) berfungsi untuk menumpu dan menahan beban dari
poros agar dapat berputar, baik berupa beban radial maupun beban axial.
Bearing juga memungkinkan poros untuk dapat berputar dengan lancar
dan tetap pada tempatnya, sehingga kerugian gesek menjadi kecil.
11. Casing
Merupakan bagian paling luar dari pompa yang berfungsi sebagai
pelindung elemen yang berputar, tempat kedudukan diffuser (guide vane),
inlet dan outlet nozel serta tempat memberikan arah aliran dari impeller
dan mengkonversikan energi kecepatan cairan menjadi energi dinamis
(single stage).

Universitas Sumatera Utara
2.4 Kavitasi
Pada sistem pemipaan yang menggunakan pompa sentrifugal sangat
mungkin terjadi kavitasi yang dipengaruhi oleh kecepatan aliran dan perbedaan
penampang yang menyebabkan terjadinya penurunan tekanan sampai turun di
bawah tekanan uap jenuhnya sehingga menyebabkan terjadinya fenomena yang
disebut kavitasi.
Kavitasi adalah peristiwa terbentuknya gelembung-gelembung uap di
dalam cairan yang sedang mengalir karena tekanan cairannya berkurang sampai di
bawah tekanan uap jenuh cairan pada suhu operasi pompa. Gejala kavitasi terjadi
karena menguapnya zat cair yang sedang mengalir didalam pompa atau diluar
pompa, karena tekanannya berkurang sampai dibawah tekanan uap jenuhnya
Apabila zat cair mendidih, maka akan timbul gelembung-gelembung uap zat cair.
Hal ini dapat terjadi pada zat cair yang sedang mengalir didalam pompa maupun
didalam pipa. Pada pompa bagian yang sering mengalami kavitasi adalah sisi isap
pompa. Hal ini terjadi jika tekanan isap pompa terlalu rendah hingga dibawah
tekanan uap jenuhnya.
Gejala kavitasi yang timbul pada pompa biasanya ada suara berisik dan
getaran, unjuk kerjanya menjadi turun, kalau dioperasikan dalam jangka waktu
lama akan terjadi kerusakan pada permukaan dinding saluran. Permukaan dinding
saluran akan berlubang-lubang karena erosi kavitasi sebagai tumbukan
gelembung-gelembung yang pecah pada dinding secara terus-menerus dapat
dilihat pada gambar 2.2


Gambar 2.2 Proses Kavitasi
Universitas Sumatera Utara
2.4.1 Penyebab terjadinya kavitasi pada pompa sentrifugal
Pompa sentrifugal mempunyai sifat-sifat teknis yang harus dipenuhi agar
dapat beroperasi dengan baik. Salah satu permasalahan yang sering terjadi pada
pompa tipe ini adalah gagalnya pompa dalam proses priming, sehingga pompa
tidak bisa mengisap dan akhirnya gagal pemompaan serta menyebabkan
kerusakan pada bagian-bagian pompa.
Ada beberapa penyebab kavitasi pada pompa sentrifugal diantaranya, adalah :
1. Penguapan (Vaporation)
Fluida menguap bila tekanannya menjadi sangat rendah atau
temperaturnya menjadi sangat tinggi. Setiap pompa sentrifugal memerlukan head
(tekanan) pada sisi isap untuk mencegah penguapan.
2. Masuknya Udara Luar ke Dalam Sistem (Air Ingestion)
Udara dapat masuk ke dalam sistem melalui beberapa sebab, antara lain :
a. Dari packing stuffing box, Ini terjadi jika pompa dari kondensor,
evaporator atau peralatan lainnya bekerja pada kondisi vakum.
b. Letak valve di atas garis permukaan air (water line).
c. Flens (sambungan pipa) yang bocor.
d. Tarikan udara melalui pusaran cairan (vortexing fluid).
e. Jika 'bypass line' letaknya terlalu dekat dengan sisi isap, hal ini akan
menambah suhu udara pada sisi isap.
f. Berkurangnya fluida pada sisi isap, hal ini dapat terjadi jika level cairan
terlalu rendah.
Keduanya, baik penguapan maupun masuknya udara ke dalam system
berpengaruh besar terhadap kinerja pompa yaitu pada saat gelembung-gelembung
udara itu pecah ketika melewati 'eye impeller' sampai pada sisi keluar (Sisi
dengan tekanan yang lebih tinggi). Terkadang, dalam beberapa kasus dapat
merusak impeller atau casing. Pengaruh terbesar dari adanya jebakan udara ini
adalah berkurangnya kapasitas pompa.




Universitas Sumatera Utara
3. Sirkulasi Balik di dalam Sistem (Internal Recirculation)
Tempat tempat yang bertekanan rendah dan atau yang berkecepatan
tinggi di dalam aliran, sangat rawan terhadap terjadinya kavitasi. Kavitasi akan
timbul bila tekanan isap terlalu rendah. Gelembung uap yang terbentuk dalam
proses ini mempunyai siklus yang sangat singkat. Knapp (Karassik dkk, 1976)
menemukan bahwa mulai terbentuknya gelembung sampai gelembung pecah
hanya memerlukan waktu sekitar 0,003 detik. Gelembung ini akan terbawa aliran
fluida sampai akhirnya berada pada daerah yang mempunyai tekanan cairan lebih
besar daripada tekanan uap jenuh cairan. Pada daerah tersebut gelembung tersebut
akan pecah dan akan menyebabkan shock pada dinding di dekatnya. Cairan akan
masuk secara tiba-tiba ke ruangan yang terbentuk akibat pecahnya gelembung uap
tadi sehingga mengakibatkan tumbukan. Peristiwa ini akan menyebabkan
terjadinya kerusakan mekanis pada pompa.








Gambar 2.3 Kerusakan impeller akibat kavitasi

Satu gelembung memang hanya akan mengakibatkan bekas kecil pada
dinding namun bila hal itu terjadi berulang-ulang maka bisa mengakibatkan
terbentuknya lubang-lubang kecil pada dinding. Bahkan semua material bisa rusak
oleh kavitasi bila dibiarkan terjadi dalam jangka waktu yang lama. Adanya benda
asing yang masuk ke dalam pompa akan lebih memperparah kerusakan sebab
akan menyebabkan erosi pada dinding impeler. Bagian dari pompa sentrifugal
yang paling rawan terkena kavitasi adalah sisi impeler dekat sisi isap yang
bertekanan rendah juga tutup impeler bagian depan yang berhubungan dengan sisi
isap. Hammit (Karassik dkk, 1976) menemukan hubungan yang rumit antara
Universitas Sumatera Utara
kecepatan aliran dengan kerusakan pada pompa akibat kavitasi. Kerusakan
tersebut akan meningkat seiring dengan kenaikan kecepatan aliran. Kavitasi yang
terjadi pada pompa sentrifugal sangatlah merugikan. Hal-hal yang diakibatkan
oleh kavitasi antara lain: terjadinya suara berisik dan getaran (noise and
vibration), terbentuknya lubang-lubang kecil pada dinding pipa isap, performansi
pompa akan turun, bisa menyebabkan kerusakan pada impeller. Kavitasi sedapat
mungkin harus dihindari agar impeler dan komponen-komponen pompa yang lain
bisa lebih awet. Cara-cara yang bisa digunakan untuk menghindari terjadinya
kavitasi antara lain : Tekanan sisi isap tidak boleh terlalu rendah (pompa tidak
boleh diletakkan jauh di atas permukaan cairan yang dipompa sebab
menyebabkan head statisnya besar), Kecepatan aliran pada pipa isap tidak boleh
terlalu besar (bagian yang mempunyai kecepatan tinggi maka tekanannya akan
rendah. Oleh karena itu besarnya kecepatan aliran harus dibatasi, caranya dengan
membatasi diameter pipa isap tidak boleh terlalu kecil). Menghindari instalasi
berupa belokan-belokan tajam (pada belokan yang tajam kecepatan aliran fluida
akan meningkat sedangkan tekanan fluida akan turun sehingga menjadi rawan
terhadap kavitasi).

2.5 Pola Aliran
Dalam berbagai industri sebagian besar fluidanya mengalir pada pipa-pipa
saluran tertutup (closed conduit flow). Masalah utama yang muncul antara lain:
1. Terjadinya gesekan pada dinding pipa.
2. Terjadinya turbulensi karena gerakan relatif dalam molekul fluida yang
dipengaruhi oleh viskositas fluida, kecepatan aliran dan bentuk pipa.
3. Terjadinya fluktuasi aliran akibat pemasangan belokan (elbow) dan
pengecilan saluran mendadak (sudden contraction).
Dalam suatu aliran yang melewati sistem atau instalasi pipa maka akan terjadi
hambatan aliran, hambatan tersebut diakibatkan oleh faktor- faktor bentuk
instalasi. Hambatan aliran akan menyebabkan turunnya energy dari fluida tersebut
yang sering disebut dengan kerugian tinggi tekan (head loss) atau penurunan
tekanan (pressure drop). Kedua faktor ini merupakan pengaruh yang ditimbulkan
karena pengaruh gesekan fluida (friction loss) dan perubahan pola aliran terjadi
Universitas Sumatera Utara
karena fluida harus mengikuti bentuk saluran dan dindingnya. Ketika pipa utama
dialiri fluida yang bersifat turbulen, maka fluida dalam pipa akan mengalami
pulsasi atau perubahan pola aliran yang dipengaruhi oleh kecepatan aliran
meningkat dan tekanannya menurun.
Salah satu besaran non-dimensional yang menggambarkan pola aliran fluida
adalah Bilangan Reynolds. Pada tahun 1883 Osborne Reynolds menunjukkan
bahwa penurunan tekanan tergantung pada parameter: kerapatan (), kecepatan
(V), diameter (D) dan viskositas dinamik () yang selanjutnya disebut dengan
bilangan Reynolds.
Aliran fluida dalam pipa yang berbentuk lingkaran terbagi menjadi dua, yaitu
aliran laminar dan turbulen. Karakteristik antara kedua aliran tersebut berbeda-
beda dari segi kecepatan, debit dan massa jenisnya. Bilangan Reynolds dapat
mendefinisikan kedua aliran tersebut, dengan persamaan :


D V D V . . .
Re = =
Dimana:
= Kerapatan massa fluida (kg/m
3
)
V = Kecepatan karakteristik (m/s)
d = Diameter saluran (m)
= Viskositas dinamik (kg/m.s)

2.5.1 Konsep Aliran
Konsep masalah aliran fluida dalam pipa adalah:
1. Sistem Terbuka (Open channel)
2. Sistem Tertutup
3. Sistem Seri
4. Sistem Paralel
Hal-hal yang diperhatikan :
1. Sifat Fisis Fluida : Tekanan, Temperatur, Masa Jenis dan Viskositas,
dimana Viskositas suatu fluida bergantung pada harga tekanan dan
temperature. Untuk fluida cair, tekanan dapat diabaikan. Viskositas cairan
akan turun dengan cepat bila temperaturnya dinaikkan.
Universitas Sumatera Utara
2. Faktor Geometrik : Diameter Pipa dan Kekasaran Permukaan Pipa.
3. Sifat Mekanis : Aliran Laminar, Aliran Transisi, dan Aliran Turbulen,
dimana sifat mekanis ini akan dihubungkan terhadap bilangan Reynolds
Parameter yang berpengaruh dalam aliran adalah:
1. Diameter Pipa (D)
2. Kecepatan (V)
3. Viskositas Fluida ()
4. Masa Jenis Fluida ()
5. Laju Aliran Massa ()
Dimana persamaan dalam aliran Fluida adalah:
Q = V x A ( Prinsip Kekekalan Massa )
Prinsip Kekekalan Massa adalah laju aliran massa neto didalam elemen
adalah sama dengan laju perubahan massa tiap satuan waktu.







Gambar 2.4 Besarnya massa yang masuk sama dengan yang keluar
Massa yang masuk melalui titik 1 = V
1
.
1
. dA
1
= Massa yang keluar melalui
titik 2 = V
2
.
2
. dA
2

Oleh karena tidak ada massa yang hilang :
V
1
.
1
. dA
1
= V
2
.
2
. dA
2

Pengintegralan persamaan tersebut meliputi seluruh luas permukaan
saluran akan menghasilkan massa yang melalui medan aliran :
V
1
.
1
. A
1
= V
2
.
2
. A
2


1
=
2
Fluida Incompressible.
V
1
. A
1
= V
2
. A
2

Atau :
Q = A .V = Konstan

V1
V2
1
2
dA1
dA2
Universitas Sumatera Utara
Persamaan kontinuitas berlaku untuk :
1. Untuk semua fluida (gas atau cairan).
2. Untuk semua jenis aliran (laminar atau turbulen).
3. Untuk semua keadaan (steady dan unsteady)
4. Dengan atau tanpa adanya reaksi kimia di dalam aliran tersebut.
Persamaan Momentum :
Momentum suatu partikel atau benda : perkalian massa (m) dengan
kecepatan (v). Partikel-partikel aliran fluida mempunyai momentum. Oleh karena
kecepatan aliran berubah baik dalam besarannya maupun arahnya, maka
momentum partikel-partikel fluida juga akan berubah.
Menurut hukum Newton II, diperlukan gaya untuk menghasilkan perubahan
tersebut yang sebanding dengan besarnya kecepatan perubahan momentu
Untuk menentukan besarnya kecepatan perubahan momentum di dalam
aliran fluida, dipandang tabung aliran dengan luas permukaan dA seperti pada
gambar berikut :







Gambar 2.5 Tabung Aliran

2.5.2 Klasifikasi Pola Aliran
Banyak kriteria yang dapat digunakan untuk mengklasifikasikan fluida
sebagai contoh aliran dapat digolongkan sebagai aliran steady atau unsteady, satu,
dua atau tiga dimensi, seragam atau tidak seragam, laminar atau turbulen dan
dapat mampat atau tiduk dapat mampat. Selain itu, aliran gas ada yang subsonik,
transonic, supersonik atau hipersonik, sedangkan zat cair yang mengalir disaluran
terbuka ada yang subkritis, kritis atau superkritis.
Y
Z
X
V
2
V
1

Universitas Sumatera Utara
Namun secara garis besar dapat dibedakan atau dikelompokkan jenis aliran
adalah sebagai berikut:
1. Aliran tunak (steady) : suatu aliran dimana kecepatannya tidak terpengaruh
oleh perubahan waktu, sehingga kecepatan konstan pada setiap titik (tidak
mernpunyai percepatan)
2. Aliran seragam (uniform) : suatu aliran yang tidak terjadi perubahan baik
besar maupun arah, dengan kata lain tidak terjadi perubahan kecepatan dan
penampang Iintasan
3. Tidak tunak :suatu aliran dimana terjadi pembahan kecepatan terhadap
waktu.
4. Aliran tidak seragam (non uniform) : suatu aliran yang dalarn kondisi
berubah baik kecepatan maupun penampang berubah.
Pola aliran pada pipa horizontal, ada efek kekuatan gravitasi untuk
menggantikan cairan yang lebih berat mendekati pipa bagian bawah. Bentuk lain
dari pola aliran dapat bertambah karena efek ini, dimana aliran tersebut dibagi dua
lapisan. Banyak kriteria pola aliran yang kita perhatikan baik dari literature dan
penelitian-penelitian, tetapi maksud dan tujuannya adalah sama. Deskripsi pola
aliran menurut Collier (1980), dengan arah aliran horizontal adalah sebagai
berikut:
1. Aliran gelembung (Bubble flow)
2. Aliran kantung gas atau sumbat cairan (Plug/Slug flow)
3. Aliran acak (Churn flow)
4. Aliran cicin kabut tetes cairan ( Wispy-Annular flow)
5. Aliran cincin (Annular flow)






Universitas Sumatera Utara

Aliran gelembung Aliran kantung gas Aliran srata licin


Aliran srata gelombang Aliran sumbat liquid Aliran cincin
Gambar 2.6 Pola aliran pada pipa horizontal














Gambar 2.7 Klasifikasi Pola aliran berdasarkan Reynolds Number ( Chi-2009)






Universitas Sumatera Utara
2.5.3 Pola aliran Von Karmans
Theodore von Karman, (1963), telah menguji aliran fluida disekitar silinder
dengan menggunakan serbuk aluminium. Dia mendapatkan di belakang silinder
terbentuk wake, dan peluruhan vorteks, yaitu dua baris 0vortex yang berlawanan
arah terbentuk dibelakang silinder. Dia menyatakan bahwa peluruhan vortex
tersebut tidak stabil sehingga menimbulkan fluktuasi aliran, fenomena tersebut
dinyatakan sebagai wake drag. Bila bilangan Reynolds bertambah maka wake
cendrung tidak stabil dimana akan berlanjut terjadinya fenomena vortex (pusaran
air).


Gambar 2.8 Pola aliran Von Karmans

2.6 Aliran Fluida
Aliran fluida (cairan atau gas) di dalam sebuah saluran tertutup atau pipa
sangat penting di dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa komponen dasar yang
berkaitan dengan sistem perpipaan adalah meliputi pipa-pipa itu sendiri,
sambungan pipa (fitting) yang digunakan untuk menyambung masing-masing pipa
guna membentuk sistem yang diinginkan, peralatan pengatur laju aliran (katup-
Universitas Sumatera Utara
katup) dan pompa-pompa atau turbin-turbin yang menambah energi atau
mengambil energi dari fluida. Pada aliran fluida di dalam pipa, lapisan fluida
pada dinding mempunyai kecepatan nol. Lapisan fluida pada jarak yang semakin
jauh dari dinding pipa mempunyai kecepatan yang semakin besar, dengan
kecepatan maksimum terbesar terjadi pada pusat pipa.












Gambar 2.9 Daerah masuk aliran sedang berkembang dan aliran berkembang
penuh di dalam sebuah sistem pipa.

2.6.1 Aliran Laminar dan Turbulen
Perbandingan gaya-gaya yang disebabkan oleh gaya inersia, grafitasi dan
kekentalan dikenal sebagai bilangan Reynolds ditulis sebagai berikut:

D V. .
Re =

Dimana : V = Kecepatan rata-rata aliran (m/s)
D = Diameter pipa (m)
= Massa jenis fluida (kg/m
3
)
= Viscositas dinamik (m
2
/s)

Universitas Sumatera Utara
Aliran fluida mengikuti bentuknya, sewaktu mengalir aliran fluida membentuk
suatu jenis/bentuk jenis dan bentuk dari pergerakan fluidanya. Dalam hal ini, jika
nilai Re kecil, partikel-partikel fluida bergerak sepanjang lintasan-lintasan yang
halus atau lapisan-lapisan dengan satu lapisan meluncur secara mulus pada lapisan
yang bersebelahan yang dikenal sebagai aliran laminar, sedangkan jika partikel-
partikel fluida bergerak secara acak (random) baik arahnya maupun kecepatannya
tidak terdapat garis edar tertentu yang dapat dilihat, aliran ini disebut aliran
turbulen.





(a) (b)
Gambar 2.10 (a) Aliran laminer, (b) Aliran turbulen

2.7 Getaran Mekanis
Analisa getaran merupakan salah satu alat yang sangat bermanfaat sebagai
prediksi awal terhadap adanya masalah pada mekanikal, elektrikal dan proses
pada peralatan, mesin-mesin dan sistem proses yang kontinu di pabrik atau
industri. Indikator yang baik untuk menentukan apakah suatu peralatan yang
berputar dalam kondisi baik adalah vibrasi, semangkin kecil nilai suatu vibrasi
semakin baik peralatan tersebut, sebaliknya apabila suatu peralatan yang berputar
mempunyai getaran (vibrasi) yang besar atau tinggi maka kondisi peralatan
tersebut cukup rawan. Oleh karena itu, suatu peralatan yang berputar sebaiknya
memiliki suatu nilai getaran standart dan batasan getaran yang diperbolehkan
(dibuat oleh pabrik pembuatan peralatan tersebut), sehingga apabila nilai getaran
yang terjadi diluar batasan yang diizinkan maka peralatan tersebut harus
menjalani tindakan perawatan (perbaikan).



Universitas Sumatera Utara
2.7.1 Karakterisristik getaran
Getaran secara teknis didefinisikan sebagai gerak osilasi dari suatu objek
terhadap posisi awal/diam, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.11 jika suatu
massa digerakkan, maka benda tersebut akan bergerak keatas dan ke bawah secara
berulang diantara batas atas dan bawah. Gerakan massa dari posisi awal menuju
atas dan bawah lalu kembali keposisi semula, dan akan melanjutkan geraknya
disebut sebagai satu siklus getar. Waktu yang dibutuhkan untuk satu siklus disebut
sebagai periode getaran. Jumlah siklus pada suatu selang waktu tertentu disebut
sebagai frekuensi getaran dan dinyatakan dalam Hertz (Hz).

Gambar 2.11 Sistem getaran sederhana

Frekuensi adalah salah satu karakteristik dasar yang digunakan untuk
mengukur dan menggambarkan getaran. Karakteristik lainnya yaitu perpindahan,
kecepatan dan percepatan. Setiap karakteristik ini menggambarkan tingkat
getaran, hubungan karakteristik ini dapat dilihat pada Gambar 2.12. Perpindahan
(displacement) mengindikasikan berapa jauh suatu objek bergetar, kecepatan
(velocity) mengindikasikan berapa cepat objek bergetar dan percepatan
(acceleration) suatu objek bergetar terkait dengan gaya penyebab getaran. Satuan
yang digunakan tiap karakteristik dapat dilihat pada Tabel 2.4. Untuk keperluan
pemantauan kondisi dan diagnosis, pengolahan sinyal getaran dilakukan dalam
time domain dan frekuensi domain.
Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.12 Hubungan antara perpindahan, kecepatan dan percepatan getaran
Tabel 2.1 Karakteristik dan satuan getaran
Karakteristik Getaran
Satuan
Metrik British

Percepatan microns peak-to peak mils peak-to-peak
(1m=0.001mm) (0.001 in)

Kecepatan mm/s in/s

Percepatan G G
(1g = 980 cm/s
2
) (1g = 5386 in/s
2
)

Frekuensi cpm, cps, Hz cpm, cps, Hz
(Sumber: Maintenance Engineering Handbook)

Pada beberapa kasus seperti getaran pipa aliran akibat turbulensi yang
terhantam dinding pipa, maka gaya yang timbul akibat fluida tidak tergantung dari
perubahan kecil dari posisi strukturnya terhadap fluida. Dalam permasalahan
getaran akibat aliran fluida (pola aliran) , faktor kondisi aliran dan kondisi struktur
sangat berpengaruh terhadap bentuk getaran yang terjadi.

Universitas Sumatera Utara
2.7.2 Sinyal Getaran (Vibrasi)
Indikator yang baik untuk menentukan apakah suatu peralatan yang
berputar dalam kondisi baik adalah vibrasi, semakin kecil nilai suatu vibrasi
semakin baik peralatan tersebut, sebaliknya apabila suatu peralatan yang berputar
mempunyai getaran (vibrasi) yang besar atau tinggi maka kondisi peralatan
tersebut cukup rawan. Oleh karena itu, suatu peralatan yang berputar sebaiknya
memiliki suatu nilai getaran standart dan batasan getaran yang diperbolehkan
(dibuat oleh pabrik pembuatan peralatan tersebut), sehingga apabila nilai getaran
yang terjadi diluar batasan yang diizinkan maka peralatan tersebut harus
menjalani tindakan perawatan (perbaikan).

2.7.3 Gerak harmonik
Gerak osilasi dapat berulang secara teratur. Jika gerak itu berulang dalam
selang disebut waktu yang sama, maka geraknya disebut gerak periodik. Waktu
pengulangan disebut dengan periode osilasi dan kebalikannya, f = 1/ disebut
frekuensi. Jika gerak dinyatakan dalam fungsi waktu x(t), maka setiap gerak
periodik harus memenuhi hubungan (t) = x (1+ ). Secara umum, gerak harmonik
dinyatakan dengan persamaan:

t
Sin A x 2 . =
dimana A adalah amplitudo osilasi yang diukur dari posisi setimbang massa, dan
adalah periode dimana gerak diulang pada t = . Gerak harmonik sering
dinyatakan sebagai proyeksi suatu titik yang bergerak melingkar dengan
kecepatan tetap pada suatu garis lurus, seperti terlihat pada Gambar 2.14. Dengan
kecepatan sudut garis OP sebesar , perpindahan simpangan x dapat dituliskan
sebagai:
t Sin A x . =
Besaran biasanya diukur dalam radian per detik dan disebut frekuensi lingkaran.
Oleh karena gerak berulang dalam 2 radian, maka didapat hubungan:
f
t

2
2
= =
Universitas Sumatera Utara
dengan dan f adalah periode dan frekuensi gerak harmonik berturut-turut dan
biasanya diukur dalam detik dan siklus per detik.
Kecepatan dan percepatan gerak harmonik dapat diperoleh secara mudah
dengan diferensiasi simpangan gerak harmonik. Dengan menggunakan notasi titik
untuk turunannya, maka didapat:









Gambar 2.13 Gerak Harmonik Sebagai Proyeksi Suatu titik yang bergerak pada
Lingkaran

2.7.4 Gerak periodik
Pada getaran biasanya beberapa frekuensi yang berbeda ada secara
bersama-sama. Sebagai contoh, getaran dawai biola terdiri dari frekuensi dasar f
dan semua harmoniknya 2f, 3f, dan seterusnya. Contoh lain adalah getaran bebas
sistem dengan banyak derajat kebebasan, dimana getaran pada tiap frekuensi
natural memberi sumbangannya. Getaran semacam ini menghasilkan bentuk
gelombang kompleks yang diulang secara periodik seperti Gambar 2.14.

Gambar 2.14 Gerak Periodik dengan Periode
)
2
sin( cos

+ = = t A t A x
) sin( sin
2
+ = = t A t A x
Universitas Sumatera Utara
2.7.5 Getaran bebas (free vibration)
Getaran bebas terjadi jika sistem berosilasi karena bekerjanya gaya yang
ada dalam sistem itu sendiri (inherent) dan apabila tidak ada gaya luar yang
bekerja. Sistem yang bergetar bebas akan bergetar pada satu atau lebih frekuensi
naturalnya yang merupakan sifat dinamika yang dibentuk oleh distribusi massa
dan kekakuannya.










Gambar 2.15 Sistem Pegas-Massa dan Diagram Benda Bebas

Hukum Newton kedua adalah dasar pertama untuk meneliti gerak sistem,
pada Gambar 2.15 perubahan bentuk pegas pada posisi kesetimbangan adalah
dan gaya pegas k adalah sama dengan gaya gravitasi w yang bekerja pada massa
m.
mg w k = =
Hukum Newton kedua untuk gerak diterapkan pada massa m:
) ( x k w F x m + = =
dan karena k=w,diperoleh:
kx x m =
frekuensi lingkaran
m
k
n
=
2
, sehingga persamaan dapat ditulis:
0
2
= + x x
n

sehingga persamaan umum persamaan diferensial linier orde kedua yang
homogen:
Universitas Sumatera Utara
0 cos sin = + = t B t A x
n n


Perioda natural osilasi dibentuk dari 2 =
n
, atau
k
m
2 =
dan frekuensi natural adalah:
k
m
f
n

2
1
= =

2.7.6 Getaran paksa (forced vibration)
Getaran yang terjadi karena rangsangan gaya luar disebut getaran paksa
seperti pada Gambar 2.16. Eksitasi ini biasanya dihasilkan oleh ketidak
seimbangan pada mesin-mesin yang berputar.

Gambar 2.16 getaran paksa
Gambar 2.16 Sistem yang Teredam Karena Kekentalan Dengan Eksitasi
Harmonik, Persamaan diferensial geraknya adalah:
t F kx x c x m sin
0
= + +
Solusi khusus persamaan diatas adalah keadaan tunak (steady state) dengan
frekuensi yang sama dengan frekuensi eksitasi. Solusi khusus dapat
diasumsikan berbentuk:
) sin( = t X x
dengan A adalah amplitudo osilasi dan adalah beda fase simpangan terhadap
gaya eksitasi. Sehingga diperoleh:
2 2 2
) ( ) ( c m k
Fo
A
+
=


Universitas Sumatera Utara
dan
2
1
tan

m k
c

=


Dengan membagi pembilang dan penyebut persamaan diatas dengan k, diperoleh:

2 2
2
) ( ) 1 (
k
c
k
m
k
Fo
A

+
=


) ( 1
tan
2
k
m
k
c

=

Persamaan-persamaan di atas selanjutnya dapat dinyatakan dalam besaran-besaran
berikut:
= =
m
k
frekuensi natural osilasi tanpa redaman
= =
n e
m C 2 redaman kritis
= =
e
C
C
faktor redaman
n
e
e
k
C
C
C
k
C


2 = = =
Jadi persamaan amplitude dan fasa yang non-dimensional menjadi:

2
2
2
( 2 ) ( 1
1
(

+
(

=
n n
o
F
Xk



2
1
2
tan
|
|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
|
=
n
n





Universitas Sumatera Utara
2.7.7 Standart Vibrasi Pompa Sentrifugal
Sampai saat ini sangat sulit untuk mendapatkan standart vibrasi untuk
pompa sentrifugal,bahkan pabrikan pembuat pompa tidak dapat memberikan
standar vibrasi dari pompa buatanya.Demikian juga dengan vibrasi yang timbul
akibat kesalahan perencanaan dan pengoperasian,seperti tinggi tekan dan
kapasitas pompa jauh lebih besar dari tinggi tekan sistem atau instalasi.Sehingga
pengoperasian yang dilakukan dengan mengatur secara paksa tinggi tekan dan
kapasitas yang akan menimbulkan vibrasi yang besar.Berdasarkan standart ISO
10816-3 untuk standart vibrasi,memberikan batasan-batasan vibrasi berdasarkan
kecepatan (velocity) yang dikategorikan dalam beberapa zona dan warna seperti
ditunjukkan pada gambar 2.17.

Velocity

10-1000Hz>600rpm

2-1000Hz>120rpm

11

7.1

4.5

3.5

2.8
`
2.3

1.4

0.71

x 10
-5
m/s
Rigid flexible rigid flexible rigid flexible rigid flexible FOUNDATION
pumps > 15 KW
radial,axial,mixed flow
medium size machine
15 KW<P<300KW
large machine
300KW<P<50MW

MACHINE TYPE
integrated driver external driver motors
160mm<H<315mm
motors
315<H
Group 4 Group 3 Group 2 Group 1 Group

Gambar 2.17 Standart ISO 10816-3 untuk vibrasi

Universitas Sumatera Utara
Dari gambar 2.17 dapat dilihat bahwa sesuai dengan standart vibrasi ISO
10816-3 untuk vibrasi dikategorikan kepada 4 zona yaitu:
a. Zona A berwarna hijau,vibrasi dari mesin sangat baik dan dibawah
vibrasi yang diijinkan.
b. Zona B berwarna hijau muda,vibrasi dari mesin baik dan dapat
dioperasikan karena masih dalam batas yang diizinkan.
c. Zona C berwarna kuning,vibrasi dari mesin dalam batas toleransi dan
hanya dioperasikan dalam waktu terbatas.
d. Zona D berwarna merah,vibrasi dari mesin dalam batas berbahaya dan
dapat terjadi kerusakan sewaktu-waktu.

2.8 Pengolahan data vibrasi
2.8.1 Data domain waktu (time domain)
Pengolahan data time domain melibatkan data hasil pengukuran objek
pemantauan sinyal getaran, tekanan fluida kerja, temperatur fluida kerja maupun
aliran fluida kerja. Dalam kasus pengukuran temperatur dengan thermometer
yang konvensional karena karakteristik alat ukurnya, maka tidak dapat dilakukan
pengukuran temperatur secara dinamik. Demikian pula halnya dengan pengukuran
aliran fluida kerja, sehingga untuk memungkinkan pengukuran objek pemantauan
berupa sinyal dinamik, maka diperlukan sensor yang memiliki karakteristik
dinamik tertentu.

Gambar 2.18 Karakteristik Sinyal Statik dan Dinamik
Hasil pengukuran objek pemantauan dalam domain waktu seperti Gambar
2.18 dapat berupa sinyal:
Universitas Sumatera Utara
1. Sinyal statik, yaitu sinyal yang karakteristiknya (misal: amplitudo, arah
kerjanya) tidak berubah terhadap waktu.
2. Sinyal dinamik, yaitu sinyal yang karakteristiknya berubah terhadap waktu,
sehingga tidak konstan.
Sinyal dinamik yang sering ditemui dalam praktek berasal dari sinyal getaran,
baik yang diukur menggunakan accelerometer, vibrometer, maupun sensor
simpangan getaran. Untuk keperluan pengolahan sinyal getaran dalam time
domain, perlu diperhatikan karakteristik sinyal getaran yang dideteksi oleh
masing-masing sensor acceleration, kecepatan, dan simpangan getaran
(displacement).

2.8.2 Data domain frekuensi (frequency domain)
Pengolahan data frequency domain umumnya dilakukan dengan tujuan:
a. Untuk memeriksa apakah amplitudo suatu frequency domain dalam
batas
yang diizinkan oleh standart
b. Untuk memeriksa apakah amplitudo untuk rentang frekuensi tertentu
masih berada dalam batas yang diizinkan oleh standart.
c. Untuk tujuan keperluan diagnosis

Secara konseptual, pengolahan frequency domain dilakukan dengan
mengkonversikan data time domain ke dalam frequency domain. Dalam
praktiknya proses konversi ini dilakukan menggunakan proses Transformasi
Fourier Cepat seperti terlihat pada Gambar 2.19.

Gambar 2.19 Hubungan Time Domain dengan Frequency Domain
Universitas Sumatera Utara
`Data domain waktu merupakan respon total sinyal getaran, sehingga
karakteristik masing-masing sinyal getarannya tidak terlihat jelas. Dengan bantuan
konsep deret Fourier, maka sinyal getaran ini dapat dipilah-pilah menjadi
komponen dalam bentuk sinyal sinus yang frekuensinya merupakan frekuensi-
frekuensi dasar dan harmoniknya.
2.9 Kerangka Konsep
Sejalan dengan rumusan masalah dan tujuan yang ingin dicapai, maka
konsep pemecahan masalah dalam kegiatan penelitian eksperimen ini dijabarkan
secara terstruktur dalam diagram konseptual penelitian, seperti ditunjukkan pada
Gambar 2.20





















Gambar 2.20 Kerangka Konsep Penelitian
Permasalahan :
Fenomena kavitasi pada pompa sentrifugal dengan menggunakan
parameter sinyal getaran didalam rumah pompa

Metode:
Pengujian kavitasi
Pada pompa
sentrifugal
Eksperimen:
Variabel yang diamati dalam
penelitian:
- Kapasitas pompa sesuai
dengan variasi katup
- Simpangan (displacement)
- Kecepatan (velocity)
- Percepatan (acceleration)
- Bilangan reynold
- Pola aliran
Instrumen:
- Thermometer
thermocouple
- Manometer
- Gate valve
- Vibrometer
Inslatasi:
Pompa Sentrifugal
KSB Type A32-160

Data :
Diperoleh data terjadinya fenomena kavitasi pada pompa akibat
variasi penutupan Katup, dengan indikasi kenaikan/penurunan
respon getaran pada rumah pompa.

Analisis Data:
Analisa fenomena kavitasi pada pompa

Hasil dan Pembahasan
Universitas Sumatera Utara