Anda di halaman 1dari 31

Bahan Pembuatan Sabun

by Saepul Rohman on 01/07/09 at 9:05 am | 34 Comments | |

Sabun adalah salah satu senyawa kimia tertua yang pernah dikenal. Sabun sendiri tidak pernah secara aktual ditemukan, namun berasal dari pengembangan campuran antara senyawa alkali dan lemak/minyak. Bahan pembuatan sabun terdiri dari dua jenis, yaitu bahan baku dan bahan pendukung. Bahan baku dalam pembuatan sabun adalah minyak atau lemak dan senyawa alkali (basa). Bahan pendukung dalam pembuatan sabun digunakan untuk menambah kualitas produk sabun, baik dari nilai guna maupun dari daya tarik. Bahan pendukung yang umum dipakai dalam proses pembuatan sabun di antaranya natrium klorida, natrium karbonat, natrium fosfat, parfum, dan pewarna. Sabun dibuat dengan reaksi penyabunan sebagai berikut: Reaksi penyabunan (saponifikasi) dengan menggunakan alkali adalah adalah reaksi trigliserida dengan alkali (NaOH atau KOH) yang menghasilkan sabun dan gliserin. Reaksi penyabunan dapat ditulis sebagai berikut : C3H5(OOCR)3 + 3 NaOH -> C3H5(OH)3 + 3 NaOOCR Reaksi pembuatan sabun atau saponifikasi menghasilkan sabun sebagai produk utama dan gliserin sebagai produk samping. Gliserin sebagai produk samping juga memiliki nilai jual. Sabun merupakan garam yang terbentuk dari asam lemak dan alkali. Sabun dengan berat molekul rendah akan lebih mudah larut dan memiliki struktur sabun yang lebih keras. Sabun memiliki kelarutan yang tinggi dalam air, tetapi sabun tidak larut menjadi partikel yang lebih kecil, melainkan larut dalam bentuk ion. Sabun pada umumnya dikenal dalam dua wujud, sabun cair dan sabun padat. Perbedaan utama dari kedua wujud sabun ini adalah alkali yang digunakan dalam reaksi pembuatan sabun. Sabun padat menggunakan natrium hidroksida/soda kaustik (NaOH), sedangkan sabun cair menggunakan kalium hidroksida (KOH) sebagai alkali. Selain itu, jenis minyak yang digunakan juga mempengaruhi wujud sabun yang dihasilkan. Minyak kelapa akan menghasilkan sabun yang lebih keras daripada minyak kedelai, minyak kacang, dan minyak biji katun.

Bahan Baku: Minyak/Lemak


Minyak/lemak merupakan senyawa lipid yang memiliki struktur berupa ester dari gliserol. Pada proses pembuatan sabun, jenis minyak atau lemak yang digunakan adalah minyak nabati atau lemak hewan. Perbedaan antara minyak dan lemak adalah wujud keduanya dalam keadaan ruang. Minyak akan berwujud cair pada temperatur ruang ( 28C), sedangkan lemak akan berwujud padat. Minyak tumbuhan maupun lemak hewan merupakan senyawa trigliserida. Trigliserida yang umum digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun memiliki asam lemak dengan panjang rantai karbon antara 12 sampai 18. Asam lemak dengan panjang rantai karbon kurang dari 12 akan menimbulkan iritasi pada kulit, sedangkan rantai karbon lebih dari 18 akan membuat sabun menjadi keras dan sulit terlarut dalam air. Kandungan asam lemak tak jenuh, seperti oleat, linoleat, dan linolenat yang terlalu banyak akan menyebabkan sabun mudah teroksidasi pada keadaan atmosferik sehingga sabun menjadi tengik. Asam lemak tak jenuh memiliki ikatan rangkap sehingga titik lelehnya lebih rendah daripada asam lemak jenuh yang tak memiliki ikatan rangkap, sehingga sabun yang dihasilkan juga akan lebih lembek dan mudah meleleh pada temperatur tinggi.

Jenis-jenis Minyak atau Lemak

Jumlah minyak atau lemak yang digunakan dalam proses pembuatan sabun harus dibatasi karena berbagai alasan, seperti : kelayakan ekonomi, spesifikasi produk (sabun tidak mudah teroksidasi, mudah berbusa, dan mudah larut), dan lain-lain. Beberapa jenis minyak atau lemak yang biasa dipakai dalam proses pembuatan sabun di antaranya : 1. Tallow. Tallow adalah lemak sapi atau domba yang dihasilkan oleh industri pengolahan daging sebagai hasil samping. Kualitas dari tallow ditentukan dari warna, titer (temperatur solidifikasi dari asam lemak), kandungan FFA, bilangan saponifikasi, dan bilangan iodin. Tallow dengan kualitas baik biasanya digunakan dalam pembuatan sabun mandi dan tallow dengan kualitas rendah digunakan dalam pembuatan sabun cuci. Oleat dan stearat adalah asam lemak yang paling banyak terdapat dalam tallow. Jumlah FFA dari tallow berkisar antara 0,75-7,0 %. Titer pada tallow umumnya di atas 40C. Tallow dengan titer di bawah 40C dikenal dengan nama grease. 2. Lard. Lard merupakan minyak babi yang masih banyak mengandung asam lemak tak jenuh seperti oleat (60 ~ 65%) dan asam lemak jenuh seperti stearat (35 ~ 40%). Jika digunakan sebagai pengganti tallow, lard harus dihidrogenasi parsial terlebih dahulu untuk mengurangi ketidakjenuhannya. Sabun yang dihasilkan dari lard berwarna putih dan mudah berbusa. 3. Palm Oil (minyak kelapa sawit). Minyak kelapa sawit umumnya digunakan sebagai pengganti tallow. Minyak kelapa sawit dapat diperoleh dari pemasakan buah kelapa sawit. Minyak kelapa sawit berwarna jingga kemerahan karena adanya kandungan zat warna karotenoid sehingga jika akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun harus dipucatkan terlebih dahulu. Sabun yang terbuat dari 100% minyak kelapa sawit akan bersifat keras dan sulit berbusa. Maka dari itu, jika akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun, minyak kelapa sawit harus dicampur dengan bahan lainnya. 4. Coconut Oil (minyak kelapa). Minyak kelapa merupakan minyak nabati yang sering digunakan dalam industri pembuatan sabun. Minyak kelapa berwarna kuning pucat dan diperoleh melalui ekstraksi daging buah yang dikeringkan (kopra). Minyak kelapa memiliki kandungan asam lemak jenuh yang tinggi, terutama asam laurat, sehingga minyak kelapa tahan terhadap oksidasi yang menimbulkan bau tengik. Minyak kelapa juga memiliki kandungan asam lemak kaproat, kaprilat, dan kaprat. 5. Palm Kernel Oil (minyak inti kelapa sawit). Minyak inti kelapa sawit diperoleh dari biji kelapa sawit. Minyak inti sawit memiliki kandungan asam lemak yang mirip dengan minyak kelapa sehingga dapat digunakan sebagai pengganti minyak kelapa. Minyak inti sawit memiliki kandungan asam lemak tak jenuh lebih tinggi dan asam lemak rantai pendek lebih rendah daripada minyak kelapa. 6. 7. 8. 9. 10. Palm Oil Stearine (minyak sawit stearin). Minyak sawit stearin adalah minyak yang dihasilkan dari ekstraksi asam-asam lemak dari minyak sawit dengan pelarut aseton dan heksana. Kandungan asam lemak terbesar dalam minyak ini adalah stearin. Marine Oil. Marine oil berasal dari mamalia laut (paus) dan ikan laut. Marine oil memiliki kandungan asam lemak tak jenuh yang cukup tinggi, sehingga harus dihidrogenasi parsial terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai bahan baku. Castor Oil (minyak jarak). Minyak ini berasal dari biji pohon jarak dan digunakan untuk membuat sabun transparan. Olive oil (minyak zaitun). Minyak zaitun berasal dari ekstraksi buah zaitun. Minyak zaitun dengan kualitas tinggi memiliki warna kekuningan. Sabun yang berasal dari minyak zaitun memiliki sifat yang keras tapi lembut bagi kulit. Campuran minyak dan lemak. Industri pembuat sabun umumnya membuat sabun yang berasal dari campuran minyak dan lemak yang berbeda. Minyak kelapa sering dicampur dengan tallow karena memiliki sifat yang saling melengkapi. Minyak kelapa memiliki kandungan asam laurat dan miristat yang tinggi dan dapat membuat sabun mudah larut dan berbusa. Kandungan stearat dan dan palmitat yang tinggi dari tallow akan memperkeras struktur sabun.

Bahan Baku: Alkali


Jenis alkali yang umum digunakan dalam proses saponifikasi adalah NaOH, KOH, Na2CO3, NH4OH, dan ethanolamines. NaOH, atau yang biasa dikenal dengan soda kaustik dalam industri sabun, merupakan alkali yang paling banyak digunakan dalam pembuatan sabun keras. KOH banyak digunakan dalam pembuatan sabun cair karena sifatnya yang mudah larut dalam air. Na2CO3 (abu soda/natrium karbonat) merupakan alkali yang murah dan dapat menyabunkan asam lemak, tetapi tidak dapat menyabunkan trigliserida (minyak atau lemak). Ethanolamines merupakan golongan senyawa amin alkohol. Senyawa tersebut dapat digunakan untuk membuat sabun dari asam lemak. Sabun yang dihasilkan sangat mudah larut dalam air, mudah berbusa, dan mampu menurunkan kesadahan air. Sabun yang terbuat dari ethanolamines dan minyak kelapa menunjukkan sifat mudah berbusa tetapi sabun tersebut lebih umum digunakan sebagai sabun industri dan deterjen, bukan sebagai sabun rumah tangga. Pencampuran alkali yang berbeda sering dilakukan oleh industri sabun dengan tujuan untuk mendapatkan sabun dengan keunggulan tertentu.

Bahan Pendukung
Bahan baku pendukung digunakan untuk membantu proses penyempurnaan sabun hasil saponifikasi (pegendapan sabun dan pengambilan gliserin) sampai sabun menjadi produk yang siap dipasarkan. Bahan-bahan tersebut adalah NaCl (garam) dan bahan-bahan aditif. 1. NaCl. NaCl merupakan komponen kunci dalam proses pembuatan sabun. Kandungan NaCl pada produk akhir sangat kecil karena kandungan NaCl yang terlalu tinggi di dalam sabun dapat memperkeras struktur sabun. NaCl yang digunakan umumnya berbentuk air garam (brine) atau padatan (kristal). NaCl digunakan untuk memisahkan produk sabun dan gliserin. Gliserin tidak mengalami pengendapan dalam brine karena kelarutannya yang tinggi, sedangkan sabun akan mengendap. NaCl harus bebas dari besi, kalsium, dan magnesium agar diperoleh sabun yang berkualitas. 2. Bahan aditif. Bahan aditif merupakan bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam sabun yang bertujuan untuk mempertinggi kualitas produk sabun sehingga menarik konsumen. Bahan-bahan aditif tersebut antara lain : Builders, Fillers inert, Anti oksidan, Pewarna,dan parfum.

http://majarimagazine.com/2009/07/bahan-pembuatan-sabun/ 2april 2012

REAKSI SAPONIFIKASI PADA PEMBENTUKAN SABUN


July 16, 2011

Jejaring Kimia Siapa yang tidak mengenal sabun , benda yang satu ini sangat akrab sekali dalam kehidupan manusia. Tapi apakah kita mengenal lebih jauh bagaimana proses terbentuknya sabun ini? Ternyata sabun dibuat dari bahan dasar lemak dan basa kuat melalui proses reaksi substitusi. Reaksi substitusi merupakan reaksi penggantian atom/gugus atom oleh atom/gugus atom yang lain. Reaksi substitusi banyak terjadi pada senyawa turunan alkana . Contonya pada pembentukan senyawa alkil halide dari alcohol berikut ini.

CH3 CH2

OH

Cl

-->

CH3 CH2

Cl

OH

Gugus - OH pada alcohol di substitusi oleh atom Cl yang berasal dari asam clorida sehingga membentuk etil klorida serta air. Reaksi di atas serupa dengan reaksi saponifikasi yang akan di bahas berikut ini.

Klik gambar untuk memperjelas

Pembentukan Sabun

Sabun dapat dibuat melalui reaksi substitusi lemak dengan basa kuat seperti yang diuraikan sebelumnya. Reaksinya dapat dituliskan sebagai berikut:

RCOONa yang merupakan garam dari natrium karboksilat dapat menjadi sabun apabila R (gugus alkil) yang diikat merupakan

gugus alkil yang besar seperti C15H31 dan C 16H33. Hal ini terjadi karena gugus alkil yang besar memiliki sifat nonpolar, tidak seperti gugus alkil berantai pendek yang lebih bersifat polar. Apabila sabun larut dalam air akan terbentuk ion RCOO- dengan gugus R yang bersifat nonpolar dan COO- yang bersifat polar. Gugus R yang terbentuk akan mengikat pengotor yang umumnya berbentuk lemak yang bersifat nonpolar dan selanjutnya pada saat air dialirkan, air yang bersifat polar akan menarik gugus nonpolar dari sabun dan kotoran sehingga kotoran tersebut lepas dari tubuh kita. Karena sabun dibuat dari bahan baku alami yang berupa lemak, limbahnya tidak berbahaya terhadap lingkungan karena mudah diuraikan oleh mikroorganisme.

Deterjen memiliki fungsi dan mekanisme kerja yang sama dengan sabun, tetapi memiliki struktur yang berbeda. Deterjen dibuat dengan bahan baku asam benzene sulfonat (ABS)sehingga memiliki rumus struktur ABS Na (natrium alkil benzene sulfonat) sebagai garamnya. Limbah dari deterjen berbahaya bagi lingkungan karena dapat menyebabkan pencemaran lingkungan terutama pencemaran air. Hal ini dikarenakan asam benzene sulfonat merupakan bahan kimia sintetis yang sukar diuraikan oleh mikroorganisme.

http://jejaringkimia.blogspot.com/2011/01/reaksi-saponifikasi-pada-pembentukan.html Rino Safrizal 2 April 2012

REAKSI SAPONIFIKASI PADA PROSES PEMBUATAN SABUN


Kata saponifikasi atau saponify berarti membuat sabun (Latin sapon,= sabun dan fy adalah akhiran yang berarti membuat). Bangsa Romawi kuno mulai membuat sabun sejak 2300 tahun yang lalu dengan memanaskan campuran lemak hewan dengan abu kayu. Pada abad 16 dan 17 di Eropa sabun hanya digunakan dalam bidang pengobatan. Barulah menjelang abad 19 penggunaan sabun meluas. Sabun dibuat dari proses saponifikasi lemak hewan (tallow) dan dari minyak. Gugus induk lemak disebut fatty acids yang terdiri dari rantai hidrokarbon panjang (C-12 sampai C18) yang berikatan membentuk gugus karboksil. Asam lemak rantai pendek jarang digunakan karena menghasilkan sedikit busa. Reaksi saponifikasi tidak lain adalah hidrolisis basa suatu ester dengan alkali (NaOH, KOH), reaksi umumnya adalah: OO R C Na+OH R C + R`OH \\ OR` O Na+

ester alkali garam dari asam alkohol


Mekanisme ini melibatkan serangan nukleofil ion hidroksida pada karbon karbonil

: ::

+ R C OR` R C OR`

OH OO

R C OH + R` R C O + R`OH

Basa kuat basa lemah

Misalnya reaksi saponifikasi dari Gliseril Tripalmitat dengan alkali NaOH: O CH2OC(CH2)14CH3 CH2OH CHOH CH2OH O

OC(CH2)14CH3

O C

Sodium palmitate
H2OC(CH2)14CH3 + 3Na+ OH + 3Na+

Glycerol
O CH2OC(CH2)14CH3

Glyceryl tripalmitate
Contoh lainnya adalah reaksi saponifikasi dari Gliseril Tripalmitat dengan alkali KOH: O CH2OC(CH2)14CH3

CH2OH CHOH CH2OH O

OC(CH2)14CH3

O C H2OC(CH2)14CH3 + 3K+ OH + 3K+

Glycerol
O CH2OC(CH2)14CH3

Glyceryl tripalmitate
Sabun dapat dibuat melalui proses batchatau kontinu Pada proses batch, lemak atau minyak dipanaskan dengan alkali (NaOH atau KOH) berlebih dalam sebuah ketel. Jika penyabunan telah selesai, garam garam ditambahkan untuk mengendapkan sabun. Lapisan air yang mengaundung garam, gliserol dan kelebihan alkali dikeluarkan dan gliserol diperoleh lagi dari proses penyulingan. Endapan sabun gubal yang bercampur dengan garam, alkali dan gliserol kemudian dimurnikan dengan air dan diendapkan dengan garam berkali-kali. Akhirnya endapan direbus dengan air secukupnya untuk mendapatkan campuran halus yang lama-kelamaan membentuk lapisan yang homogen dan mengapung. Sabun ini dapat dijual langsung tanpa pengolahan lebih lanjut, yaitu sebagai sabun industri yang murah. Beberapa bahan pengisi ditambahkan, seperti pasir atau batu apung dalam pembuatan sabun gosok. Beberapa perlakuan diperlukan untuk mengubah sabun gubal menjadi sabun mandi, sabun bubuk, sabun obat, sabun wangi, sabun cuci, sabun cair dan sabun apung (dengan melarutkan udara di dalamnya). Pada proses kontinu, yaitu yang biasa dilakukan sekarang, lemak atau minyak hidrolisis dengan air pada suhu dan tekanan tinggi, dibantu dengan katalis seperti sabun seng. Lemak atau minyak dimasukkan secara kontinu dari salah satu ujung reaktor besar. Asam lemak dan gliserol yang terbentuk dikeluarkan dari ujung yang berlawanan dengan cara penyulingan. Asam-asam ini kemudian dinetralkan dengan alkali untuk menjadi sabun. Pada umumnya, alkali yang digunakan dalam pembuatan sabun pada umumnya hanya NaOH dan KOH, namun kadang juga menggunakan NH4OH. Sabun yang dibuat dengan NaOH lebih lambat larut dalam air dibandingkan dengan sabun yang dibuat dengan KOH. Sabun yang terbuat dari alkali kuat (NaOH, KOH) mempunyai nilai pH antara 9,0 sampai 10,8 sedangkan sabun yang terbuat dari alkali lemah (NH 4OH) akan mempunyai nilai pH yang lebih rendah yaitu 8,0 sampai 9,5. Sabun merupakan garam dari asam lemah, larutannya agak basa karena adanya hidrolisis parsial.

OO R C ONa+ + H OH R C OH + Na+OH

sabun alkali
Alkali dapat mambahayakan beberapa jenis tekstil, sabun juga tidak dapat berfungsi jika pH larutan terlalu rendah. Karena rantai karbon yang panjang akan mengendap seperti buih. Misalnya sabun dari natrium stearat, akan berubah menjadi asam stearat dalam suasana asam. OO C17H35C + H+Cl C17H35C + Na+Cl \\ O Na+ OH

Natrium stearat asam stearat


Selain itu sabun biasanya membentuk garam dengan ion-ion kalsium, magnesium, atau besi dalam air sadah (hard water). Garam-garam tesebut tidak larut dalam air. O 2C17H35C + Ca++ (C17H35COO)2Ca++ + 2Na+ \ O Na+

Natrium stearat kalsium stearat (larut) (mengendap)


Garam yang tidak larut dalam air itu membuat warna coklat pada dinding kamar mandi, kerah baju, atau warna kusam pada pakaian dan rambut. Masalah tersebut dipecahkan dengan beberapa cara. Misalnya dengan mengurangi ion-ion kalsium dan magnesium dan menggantinya dengan ion-ion natrium, atau yang dikenal dengan air lunak. (soft water). Selain itu bisa juga dengan menambahkan fosfat pada sabun, karena fosfat membentuk komplek dengan ion-ion logam, larut dalam air, sehingga mencegah ion-ion tersebut membentuk garam taklarut dengan sabun. Namun penggunaan fosfet harus dibatasi, karena jika ikut mengalir dalam danau atau sungai fosfat yang juga berfungsi sebagai pupuk akan merangsang tumbuhnya tanaman sedemikian besar sehingga tanaman menghabiskan oksigen terlarut dalam air dan menyebabkan ikan-ikan mati. Cara lain misalnya dengan mengganti gugus ionik karboksilat pada sabun dengan gugus sulfat atau sulfonat. Cara inilah yang mendasari terbentuknya detergen. Pada perkembangan selanjutnya bentuk sabun menjadi bermacam-macam, yaitu:

1.

Sabun cair o Dibuat dari minyak kelapa o Alkali yang digunakan KOH

2.

3.

o Bentuk cair dan tidak mengental dalam suhu kamar Sabun lunak o Dibuat dari minyak kelapa, minyak kelapa sawit atau minyak tumbuhan yang tidak jernih o Alkali yang dipakai KOH o Bentuk pasta dan mudah larut dalam air Sabun keras o Dibuat dari lemak netral yang padat atau dari minyak yang dikeraskan dengan proses hidrogenasi o Alkali yang dipakai NaOH o Sukar larut dalam air

Wanita sangat menginginkan menggunakan sabun dalam bentuk cair, sebab bentuk cair memberikan busa yang cukup banyak. Sabun yang banyak mengandung busa, terutama pada sabun cair yang terbuat dari minyak kelapa atau kopra ini biasanya menyebabkan rangsangan dan memungkinkan penyebab dermatitis bila dipakai. Oleh karena itulah penggunaanya diganti dengan minyak zaitun dan minyak kacang kedele atau minyak yang lain yang dapat menghasilkan sabun lebih lembut dan baik. Tetapi para pemakai kurang menyukainya sebab sabun ini kelarutannya rendah dan tidak memberikan busa yang banyak. Dengan perkembangan yang cukup pesat dalam dunia industri dimungkinkan adanya penambahan bahan-bahan lain kedalam sabun sehingga menghasilkan sabun dengan sifat dan kegunaan baru. Bahan-bahan yang ditambahkan misalnya:

1.

2.

Sabun kesehatan o TCC (Trichorlo Carbanilide) o Hypo allergenic blend, untuk membersihkan lemak dan jerawat o Asam salisilat sebagai fungisida o Sulfur, untuk mencegah dan mengobati penyakit kulit Sabun kecantikan Parfum, sebagai pewangi dan aroma terapi Vitamin E untuk mencegah penuaan dini Pelembab Hidroquinon untuk memutihkan dan mencerahkan kulit Shampoo Diethanolamine (HOCH2CH2NHCH2CH2OH) untuk mempertahankan pH Lanolin sebagai conditioner Protein untuk memberi nutrisi pada rambut


1.

Selain jenis sabun diatas masih banyak jenis-jenis sabun yang lain, misalnya sabun toilet yang mengandung disinfektan dan pewangi. Textile soaps yang digunakan dalam industi textile sebagai pengangkat kotoran padawool dan cotton. Dry-cleaning soaps yang tidak memerlukan air untuk larut dan tidak berbusa, biasanya digunakan sebagai sabun pencuci tangan yang dikemas dalam kemasan sekali pakai. Metallic soaps yang merupakan garam dari asam lemak yang direaksikan dengan alkali tanah dan logam berat, biasanya digunakan untuk pendispersi warna pada cat, varnishes, danlacquer. Dan salt-water soaps yang dibuat dari minyak palem Afrika (Elaise guineensis) yang dapat digunakan untuk mencuci dalam air asin. Meskipun meupakan bahan utama pembentuk sabun, namun ternyata alkali mempunyai dampak negatif bagi kulit. Beberapa penyelidik mengetahui bahwa alkali lebih banyak merusak kulit dibandingkan dengan kemampuannya menghilangkan bahan berminyak dari kulit . Meskipun demikian dalam penggunaannya dengan air, sabun akan mengalami proses hidrolis. Untuk mendapatkan sabun yang baik maka harus diukur sifat alkalisnya, yakni pH antara 5,8 sampai 10,5. Pada kulit yang normal kemungkinan pengaruh alkali lebih banyak. Beberapa penyakit kulit sensitif terhadap reaksi alkalis, dalam hal ini pemakaian sabun merupakan kontra indikasi. pH kulit normal antara 3-6, tetapi bila dicuci dengan sabun, pH kulit akan naik menjadi 9, meskipun kulit cepat menjadi normal kembali, tapi mungkin saja perubahan ini tidak diinginkan pada penyakit kulit tertentu.

http://yprawira.wordpress.com/reaksi-saponifikasi-pada-proses-pembuatan-sabun/

Definisi Saponifikasi dan sejarah singkat pembuatan sabun 31


WednesdayOCT 2007
POSTED BY HENIE ZR IN ARTICLES, SEJARAH PEMBUATAN SABUN,SOAP MAKING
Sejarah pembuatan sabun

soap by Henie ZR Pengertian Saponifikasi(saponification) adalah reaksi yang terjadi ketika minyak / lemak dicampur dengan larutan alkali. Ada dua produk yang dihasilkan dalam proses ini, yaitu Sabun dan Gliserin. Istilah saponifikasi dalam literatur berarti soap making. Akar kata sapo dalam bahasa Latin yang artinya soap / sabun. Dalam sejarah pembuatan sabun, masing masing negara memiliki sejarah sendiri sendiri serta teknik pembuatannya. Namun dari sekian banyak versi penemuan, saya akan mengambil satu contoh penemuan sabun yang ditemukan oleh bangsa Romawi Kuno. Nama Sapo/soap/sabun menurut legenda Romawi kuno (2800 SM) berasal dari Gunung Sapo, di mana binatang dikorbankan untuk acara keagamaan. Lemak yang berasal dari binatang tersebut (kambing) dicampur dengan abu kayu untuk menghasilkan sabun atau sapo, pada masa itu. Ketika hujan, sisa lemak dan abu kayu tersebut mengalir ke Sungai Tiber yang berada di bawah Gunung Sapo. Ketika orang orang mencuci pakaian di sungai Tiber mereka mendapati air tersebut berbusa dan pakaian mereka lebih bersih. Sejak saat itulah asal usul sabun dimulai.

http://soapmakersdiary.wordpress.com/2007/10/31/definisi-saponifikasi-dan-sejarah-singkatpembuatan-sabun/

Cara Kerja Sabun Sebagai Pembersih


17-11-2011 12:23:00, pada K 05 Pembelajaran Kimia
Sabun atau detergen merupakan zat kimia yang yang sangat membantu kita sehari-hari untuk membersihkan benda-benda dari zat pengotor. Bermacam-macam zat pengotor dengan sifat-sifat yang berbed dapat disingkirkan oleh sabun. Bagaimana rumus kimia sabun sehingga mampu mengusir zat pengotor? Bagaimana cara kerjanya sebagai pembersih? Apakah semua zat pengotor itu dapat bereaksi dengan sabun? Apakah hanya larut saja? Ikutilah pembahasan berikut, setelah itu putarlah video yang tersedia di bawah ini.

Sabun dibedakan menjadi 2 jenis, detergen berbusa dan detergen tak berbusa. Salah satu sabun yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari memiliki rumus umum RCOONa yang merupakan senyawa garam natrium alkanoat. Rantai R (Radikal dari alkana, yaitu gugus Alkil) tergolong panjang yang berasal dari asam lemak suku tinggi, yaitu asam stearat, C17H35COOH. R = -C17H35. -COOH adalah gugus karboksilat. Jadi natrium stearat adalah C17H35COONa. Senyawa garam ini larut dalam air, membentuk ion-ion natrium, Na+ yang stabil, tetap berada di dalam larutan, dan ion-ion sabun C17H35COO- yang memiliki kemampuan membersihkan zat pengotor. Rantai R bersifat non polar dan -COO- bersifat ionik. Katakanlah rantai R adalah badan atau ekor, sedang -COO- sebagai gugus fungsi adalah kepalanya.

Sebagai pembersih, cara kerja sabun sebagai berikut:

1.

Pakaian yang kotor, kotorannya masuk ke serat pakaian bersama keringat. Keringat kita mengandung minyak; walaupun kadarnya sangat rendah, namun minyak itu membuat kotoran sulit dilepaskan dari pakaian. Jika dicuci dengan air, kotoran yang bercampur minyak tak dapat dibersihkan. Oleh karena itu, gunakan sabun. Sabun dapat langsung digosokkan ke pakaian basah, atau membuat air sabun dahulu, kemudian celupkan pakaian kotor beberapa saat.

2.

Minyak merupakan senyawa non polar, dikenal sebagai gliserida atau ester gliserol. Kotoran berminyak tidak dapat dibersihkan dengan air, karena air adalah molekul polar, sedang minyak non polar. Sabun memiliki bagian non polar dan bagian polar. Bagian polar dari sabun, yaitu ion - COO- akan berikatan dengan molekul air, dikatakan bersifat hidrofil. Sedang bagian non polarnya mengikat minyak beserta kotoran bersifat hidrofob, yaitu tolak menolak dengan air.

3.

Minyak yang tidak larut ke dalam air atau dikatakan tidak dapat bercampur homogen, dengan bantuan sabun dapat bercampur. Campuran yang terbentuk tidak benar-benar larut dan hasil campuran ini dinamakan koloid. Jenis koloid cair - cair dinamakan emulsi. Sabun adalah zat pengemulsi atau emulgator.

4.

Dalam emulsi, sabun membentuk misel-misel (lingkaran). Molekul-molekul sabun yang mengikat air di bagian kepala menghadap keluar dan minyak serta kotoran tertarik oleh ekor, terperangkap di tengah lingkaran.

5.

Misel-misel itu sangat kecil dan tak terlihat. Pada saat pembentukan misel, minyak dan kotoran terangkat dari serat pakaian. Misel-misel ini membuat larutan sabun menjadi keruh. Ketika misel-misel berbenturan, kotoran yang berat jatuh ke dasar wadah.

http://etnarufiati.guru-indonesia.net/artikel_detail-12621.html

7 DECEMBER 2010

SAPONIFIKASI

Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis antara basa-basa alkali dengan asam lemak yang akan menghasilkan gliserol dan garam yang disebut sebagai sabun. Asam lemak yang digunakan yaitu asam lemak tak jenuh, karena memiliki paling sedikit satu ikatan ganda diantara atom-atom karbon penyusunnya dan bersifat kurang stabil sehingga sangat mudah bereaksi dengan unsure lain. basa alkali yang digunakan yaitu basa-basa yang menghasilkan garam basa lemah seperti Naoh, Koh, Nh4oh, k2co3 dan lainnya. Sabun, menjadi produk berasal dari garam asam karboksilat yang tinggi .Pada percobaan ini akan mencoba membuat sabun dengan bahan dasar margarine dan larutan NaoH, dengan tujuan untuk mengetahui mekanisme reaksi saponifikasi antatra trigliserida dengan basa alkali menghasilkan gliserol dan sabun dan prinsipnya yaitu berdasarkan reaksi pengendapan pada pengujian sabun yaitu antara sabun dengan padatan Cacl2 dan sabun dengan padatan Pb-asetat. Mula-mula membuat larutan naoh dengan kadar 10%. Disini membutuhkan padatan Naoh (Naoh umum digunakan karena naoh merupakan basa lemah yang nantinya akan menghasilkan garam natrium dalam sabun yang memiliki konsistensi keras agar mudah diuji nantinya) yang timbang dengan neraca teknis seberat yang dibutuhkan dengan kaca arloji agar tidak ada reaksi terjadi yang dapat mengurangi kadar padatan Naoh, misalnya, jika menggunakan kertas timbang, padatan Naoh akan bereaksi apalagi Naoh itu sangat higrokopis yang artinya, dapat menyerap air di udara sehingga dapat merubah bentuk padatan Naoh menjadi mencair, jika hal itu terjadi saat menggunakan kertas timbang maka kertas timbang yang digunakan akan robek jadi akan menyulitkan saat menimbang. Karena sifat Naoh itu juga, setelah penimbangan Naoh ditutup dengan plastic wrap. Setelah itu, siapkan air suling yang sudah dididihkan, gunanya untuk menghilangkan gas Co2 dalam air, jika co2 masih dibiarkan dalam air dan langsung dicampurkan dengan Naoh maka akan terjadi reaksi pada naoh-nya. Naoh yang bereaksi dengan CO2 akan berubah menjadi natrium karbonat yang hasilnya akan menyebabkan pengendapan, hal itu dapat menghambat proses saponifikasi nantinya. Setelah air dididihkan, air suling tersebut harus diamkan dulu pada suhu kamar, mengembalikan suhunya kembali. Lebih baik tidak langsung mencampurkan Naoh dengan kondisi suhu yang tinggi karena padatan naoh yang dimasukan dalam air akan mengalami reaksi eksoterm yaitu reaksi pelepasan kalor atau panas yang bisa dibilang sangat tinggi, oleh karena itu dihindari agar gelas kimia yang dipakai tidak pecah. Saat suhu sudah mulai normal,padatan naoh mulai dimasukan dan diaduk hingga padatan naoh larut sepenuhnya, setelah itu tutup dengan plastic wrap agar tidak bereaksi lagi dengan udara-

udara bebas diluarnya. Langkah selanjutnya mulai dengan pembuatan sabun dengan bahan dasar margarine dengan larutan naoh 10% tadi. Margarine ditimbang dengan seperlunya dan dimasukan kedalam cawan porselen kemudian masukan larutan naoh 10% dan dipanaskan dengan api kecil agar mudah untuk mengendalikan suhu yang akan terjadi. Campuran margarine dan larutan naoh tadi diaduk secara konsisten dan searah agar tidak merusak struktur antara ikatan yang mungkin telah terjadi antara trigliserida dengan Naoh. Dengan mempergunakan thermometer, atur pada suhu 55C, dimana suhu itu ditambahkannya etanol yang diteteskan sedikit demi sedikit. etanol diteteskan sedikit agar tidak terjadi percepatan reaksi yang menyebabkan pergolakan yang tinggi karena etanol disini berguna sebagai katalis untuk mempercepat reaksi. Dalam reaksinya, etanol dijadikan sebagai medium pereaksi disebabkan struktur dasarnya, yaitu lemak merupakan senyawa organic yang nonpolar sementara Naoh adalah senyawa anorganik yang polar. Nonpolar dan polar tidak dapat saling bercampur oleh karena itu dibutuhkan etanol yang bersifat semipolar. Bersifat polar karena memiliki gugus Oh- dan bersifat non polar karena CH+. Dengan etanol, naoh dapat terlarut dan bercampur dengan lemak. Campuran larutan diaduk searah agar etanol yang diberikan dapat tersebar dipermukaan larutan. Hingga suhu antara 70-80C, pemanasan dihentikan. Untuk suhu tersebut merupakan jarak terdekat titik didih etanol sebagai mediumnya jika suhu terus dinaikan dan menyebabkan panas yang berlebihan maka akibatnya ikatan sabun yang terbentuk akan terlepas kembali. Setelah itu, campuran larutan itu ditutup dengan plastik wrap dan didinginkan dengan es batu untuk mempercepat pengendapan yang harus terjadi. Jika sabun telah terbentuk dengan campuran asam lemak dan basa alkali lemah maka untuk mengujinya digunakan air suling paling sederhana dan padatan Cacl2 dan pb-asetat. Untuk pengujian pertama digunakan air suling yang paling umum dan paling sering ditemui. Sabun tadi sedikit dimasukan dalam tabung reaksi dan tambahkan air suling dan kocok dengan kuat, maka akan terjadi busa. Hal ini disebabkan karena air merupakan senyawa polar dan sabun alkalinya bersifat non polar sehingga ada gaya tarik menarik yang mengakibatkan gumpalan-gumpalan berbentuk koloid yaitu busa. Sedangkan dengan padatan cacl2 dan pb-asetat yang perlakukannya sama dengan pengujian air suling. Akan timbul sebuah endapan, hal ini disebabkan karena kekurangan utama sabun yaitu akan mengendap dalam air sadah. Air sadah yaitu air yang mengandung logam-logam seperti ca2+, mg2+ ,fe2+ dan lain sebagainya. Sedangkan padatan pb-asetat dengan Cacl2 dapat meningkatkan kesadahan air. Sabun yang telah terbentuk dari garam-garam logam alkali termasuk dalam senyawa umum yang disebut surfaktan, yaitu

senyawa yang dapat menurunkan tegangan permukaan air. Surfaktan mengandung sutu ujung hidrofobik ( satu rantai karbin atau lebih) dan suatu ujung hidrofili. surfaktan menurunkan tegangan permukaan air dengan mematahkan ikatan-ikatan hidrogen pada permukaan. Mereka melakukan hal ini dengan menaruh kepala-kepala hidrofiliknya yang bersifat larut dalam air pada permukaan air dengan ekor-ekor hidrofobiknya yang sifatnya larut dalam zat-zat non polar terentang menjauh pada permukaan air. Sabun sangat bermanfaat dengan kemampuannya mengemulsi kotoran berminyak sehingga dapt dibuang dengan pembilasan. Lemak tidak larut dalam air tetapi ketika sabun ditambahkan, kumpulan molekul ion karboksilat yang hidrofilik berada di sisi luar dan rantai hidrokarbon yang hidrofobik berada di sisi dalam. Hasilnya, bola kecil yang disebut misel. Misel-misel ini tidak bergabung karena misel-misel tersebut bermuatan negatif akibat ion karboksilat di permukaan tolak menolak. Ketika misel berhubungan dengan lemak, rantai hidrokarbon yang ada di dalam inti misel akan mengepung lemak tersebut, dan misel menata ulang dengan ion karboksilat hidrofilik di sisi luar, dengan cara demikian lemak teremulsi di dalamnya. Dengan cara ini, lemak dihilangkan dari objek dan menjadi tersuspensi di dalam air pembersih. Suspensi inidapat dipisahkan dengan membuang air pembersih meninggalkan objek. Fenomena tersebut tidak lepas dari gaya tarik menarik molekul. Lemak dapat menempel pada sabun karena adanya bantuan air yang memiliki gaya tarik dipol-dipol) yang menginduksi awan elektron ( suatu ion yang terdiri dari elektron-elektron yang mengelilinginya, air yang memiliki struktur molekul H2O memiliki elektron bebas berjumlah 2 pasang elektron pada atom O ), itu yang menyebabkan larutan minyak nonpolar dapat larut dalam sabun yang juga non polar. Dengan sabun lemak yang menempel akan terlarut bersama sabun dengan bantuan air. Secara strukturnya, sabun di satu sisi memiliki rantai hidrokarbon yang larut dalam minyak dan disisi lain memiliki polar oksigen larut dalam air. Jadi sabun bisa berinteraksi dengan air sekaligus dengan minyak.
http://smart-fresh.blogspot.com/2010/12/saponifikasi.html

Surfaktant, Deterjen, Sabun (revisi)


Posted: Agustus 28, 2010 by admin in kimia

2
BAB. II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Surfaktan

Surfaktan adalah zat yang dapat mengaktifkan permukaan, karena cenderung untuk terkonsentrasi pada permukaan (antar muka), atau zat yang dapat menaik dan menurunkan tegangan permukaan.

Tegangan permukaan adalah gaya dalam dyne yang bekerja pada permukaan sepanjang 1 cm dan dinyatakan dalamdyne/cm, atau energi yang diperlukan untuk memperbesar permukaan atau antarmuka sebesar 1 cm2 dan dinyatakan dalam erg/cm2. Surface tension umumnya terjadi antara gas dan cairan sedangkan Interface tension umumnya terjadi antara cairan dan cairan lainnya atau kadang antara padat dan zat lainnya (namun hal ini belum diteliti). Beberapa kegunaan surfaktan antara lain yaitu : Deterjen, pelembut kain, pengemulsi, cat, adesif, tinta, anti fogging, remidiasi tanah, pendispersi, pembasah, Ski wax dan snowboard wax, daur ulang kertas, pengapungan, pencuci, zat busa, penghilang busa, laxatives, formula agrokimia, herbisida dan insektisida, coating, sanitasi, sampo,pelembut rambut, spermicide, pemipaan pemadam kebakaran, pendeteksi kebocoran, dsb. II.1.1 Klasifikasi Surfaktan

Ada cara penggolongan zat aktif permukaan yang umum yaitu:

1.

1. Menurut sifat elektrokimia atau ionisasi molekul.

Schwartz dan Perry menyebutkan bahwa molekul zat aktif permukaan terdiri dari dua gugus yang penting, yaitu gugus liofil (menarik pelarut) dan gugus liofob (menolak pelarut). Gugus liofob biasanya terdiri dari rantai alifatik atau aromatik, atau gugus aril alkil (aralkil) yang biasanya terdiri dari paling sedikit sepuluh atom karbon.

Dalam medium air sebagai pelarut, gugus liofob yang juga disebut gugus hidrofob bersifat menjauhi air. Sedang gugus liofil atau dalam air dikenal sebagai gugus hidrofil lebih banyak menentukan sifat sifat kimia fisika zat aktif permukaan daripada gugus hidrofob.

Sifat dari pada zat aktif permukaan juga bergantung pada macamnya gugus hidrofil, yang dapat dibagi sebagai berikut :

1.

Zat aktif anion

Terjadi ionisasi dalam larutan dengan rantai panjang yang membawa muatan negatif.

Contoh : karboksilat, ester sulfat, alkil sulfonat, dan anion lainnya yang hidrofil. Perfluorooctanoate (PFOA/ PFO),Perfluorooctanesulfonate (PFOS), Sodium dodecyl sulfate (SDS), ammonium lauryl sulfate, garam alkyl sulfate, Sodium laureth sulfate atau sodium lauryl ether sulfate (SLES), Alkyl benzene sulfonate, sabun atau garam asam lemak.

1.

Zat aktif kation

Terjadi ionisasi dalam larutan dengan rantai panjang yang membawa muatan positif.

Contoh : senyawa amino, senyawa amonium, alkali tak bernitrogen (sulfonium, fosfonium, dsb.), alkali bernitrogen (alkil isotiourea, alkil isourea, dsb.). Cetyl trimethylammonium bromide (CTAB) a.k.a. hexadecyl trimethyl ammonium bromide, dan garam alkyltrimethylammonium, Cetylpyridinium chloride (CPC), Polyethoxylated tallow amine (POEA),Benzalkonium chloride (BAC), Benzethonium chloride (BZT)

1.

Zat aktif nonion

Tak terionisasi dalam larutan dan stabil dalam keadaan asam maupun alkali.

Contoh : ikatan eter pada gugus terlarut, ester, amida, amin, Alkyl poly(ethylene oxide), Alkylphenol poly(ethylene oxide), Kopolymers ofpoly(ethylene oxide) dan poly(propylene oxide) atau Poloxamers/ Poloxamines, Alkyl polyglucosides (Octyl glucoside, Decyl maltoside), Fatty alcohols, Cetyl alcohol, Oleyl alcohol, Cocamide MEA, cocamide DEA, Polysorbates (Tween 20, Tween 80), Dodecyl dimethylamine oxide. dsb. 1. Zat aktif amfolitik/ amfoter. (Zwitterionic) Terionisasi dalam larutan dengan rantai panjang yang membawa muatan negatif maupun positif, tergantung pada suasana pH larutan.

Contoh : ikatan amino dan karboksilat, amino dan ester sulfat, amino dan seter sulfonat, dan ikatan lainnya sertaDodecyl betaine, Cocamidopropyl betaine, Coco ampho glycinate.

1.

2. Menurut struktur kimia

Agster menyusun golongan ini atas tujuh bagian, penggolongan ini erat hubungannya dengan cara pembuatan zat aktif permukaan. Misalnya dengan cara penyabunan atau kondensasi terhadap asam lemak, sulfotasi terhadap rantai alifatik tinggi, dan sebagainya.

Penggolongan menurut struktur kimia dapat dibagi sebagai berikut :

1.

Sabun

Contoh : Na-laurat, Na-palmitat, Na-stearat, Na-oleat, dsb.

1.

Minyak-minyak yang disulfatkan/disulfonkan.

Contoh : Minyak jarak yang disulfatkan (TRO).

1.

Parafin atau olefin yang disulfurkan.

Contoh : senyawa sulfochlorida yang disabunkan (Mersolat), olefin yang disulfatkan (Tepol).

1.

Aralkil sulfonat

Contoh : alkil benzo sulfonat, naftalin sulfonat seperti 1-iso propil natalin 2-sulfonat-Na (Nekal A), dsb.

1.

Alkil sulfat

Contoh : Alkil sulfat primer/ dari alkil alkohol primer seperti asam malonat anhidrat + alkohol dengan Na-bisulfit (Nacconol. LAL), Alkil sulfat sekunder/ dari alkil alkohol sekunder.

1.

Kondensat asam lemak.

Contoh : kondensat dengan gugus amino (Medialan A, Sapamine A), kondensat mengandung gugus oksi (Immersol S, Soromin A), kondensat dengan gugus inti aromatik (Melioaran F).

1.

Persenyawaan polietilenaoksida (poliglikoeter).

Contoh : Alkil amin poliglikol eter (Peregal OK), Dispersol E.

3. Menurut kelarutannya

1.

Surfaktan yang larut dalam minyak

Ada tiga yang termasuk dalam golongan ini, yaitu senyawa polar berantai panjang, senyawa fluorokarbon, dan senyawa silikon.

b. Surfaktan yang larut dalam pelarut air

Golongan ini banyak digunakan antara lain sebagai zat pembasah, zat pembusa, zat pengemulsi, zat anti busa, deterjen, zat flotasi, pencegah korosi, dan lain-lain. Ada empat yang termasuk dalam golongan ini, yaitu surfaktan anion yang bermuatan negatif, surfaktan yang bermuatan positif, surfaktan nonion yang tak terionisasi dalam larutan, dan surfaktan amfoter yang bermuatan negatif dan positif bergantung pada pH-nya.

Gambar 1. Molekul Surfaktan dalam Air (www.chemistry.co.nz) Larutan surfaktan dalam air menunjukkan perubahan sifat fisik yang mendadak pada daerah konsentrasi yang tertentu. Perubahan yang mendadak ini disebabkan oleh pembentukan agregat atau penggumpalan dari beberapa molekul surfaktan menjadi satu, yaitu pada konsentrasi kritik misel (CMC) .

Pada konsentrasi kritik misel terjadi penggumpalan atau agregasi dari molekul-molekul surfaktan membentuk misel. Misel biasanya terdiri dari 50 sampai 100 molekul asam lemak dari sabun.

Karena pada cmc terjadi penggumpalan dari molekul surfaktan, maka cara penentuan cmc dapat menggunakan cara-cara penentuan besaran fisik yang menunjukkan perubahan dari keadaan ideal menjadi tak ideal. Di bawah cmc larutan menjadi bersifat ideal. Sedangkan diatasnya cmc larutan bersifat tak ideal. Besaran fisik yang dapat digunakan ialah tekanan osmosa, titik beku larutan, hantaran jenis atau hantaran ekivalen, kelarutan solubilisasi, indeks bias, hamburan cahaya, tegangan permukaan, dan tegangan antarmuka.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi nilai cmc, untuk deret homolog surfaktan rantai hidrokarbon, nilai cmc bertambah 2x dengan berkurangnya satu atom C dalam rantai. Gugus aromatik dalam rantai hidrokarbon akan memperbesar nilai cmc dan juga memperbesar kelarutan. Adanya garam menurunkan nilai cmc surfaktan ion. Penurunan cmc hanya bergantung pada konsentrasi ion lawan, yaitu makin besar konsentrasinya makin turun cmc-nya.

II.1.2 Sifat Sifat Surfaktan

1.

1. Sifat sifat umum surfaktan

Sifat sifat umum surfaktan adalah :

1.

Sebagai larutan koloid

Mc. Bain telah membuktikan bahwa larutan zat aktif permukaan larutan koloid. Molekul-molekulnya terdiri dari gugus yang hidrofil (suka air) dan gugus yang hidrofob (tak suka air).

Pada konsentrasi tinggi partikel koloid ini akan saling menggumpal, gumpalan ini disebut misel atau agregat baik berbentuk sferik/ S (daya hantar listriknya tinggi) atau lamelar/ L (daya hantar listriknya kecil disebut juga koloid netral) dan ada dalam kesetimbangan bolak balik dengan sekitarnya (pelarut atau dispersi larutan). Kesetimbangan ini akan mencapai konsentrasi kritik misel menurut aturan Jones dan Burry.

Gambar 2. Partikel Koloid Surfaktan (www.fisica.unam.mx)

1.

Adsorpsi

Apabila larutan mempunyai tegangan permukaan lebih kecil daripada pelarut murni, zat terlarut akan terkonsentrasi pada permukaan dan terjadi adsorpsi positif. Sebaliknya adsorpsi negatif menunjukkan bahwa molekul-molekul zat terlarut lebih banyak terdapat dalam rongga larutan daripada dipermukaan.

Hubungan antara derajat penyerapan dan penurunan tegangan permukaan dinyatakan dalam persamaan Gibbs.

1.

Kelarutan dan daya melarutkan

Murray dan Hartly dalam pernyataanya menunjukkan bahwa partikel-partikel tunggal relatif tidak larut, sedangkan misel mempunyai kelarutan tinggi. Makin panjang rantai hidrokarbonnya, makin tinggi temperatur kritik larutan.

1.

2. Sifat sifat khusus surfaktan

Sifat sifat khusus surfaktan adalah :

1.

Pembasahan

Perubahan dalam tegangan permukaan yang menyertai proses pembasahan dinyatakan oleh Hukum Dupre.

1.

Daya Busa

Busa ialah dispersi gas dalam cairan dan zat aktif permukaan memperkecil tegangan antarmuka, sehingga busa akan stabil, jadi surfaktant mempunyai daya busa.

1.

Daya Emulsi

Emulsi adalah suspensi partikel cairan dalam fasa cairan yang lain, yang tidak saling melarutkan. Sama hanya dengan pembasahan, maka surfaktant akan menurunkan tegangan antarmuka, sehingga terjadi emulsi yang stabil.

II.1.3 Toksisitas Surfaktan

Surfaktan dapat menyebabkan permukaan kulit kasar, hilangnya kelembaban alami yamg ada pada permukan kulit dan meningkatkan permeabilitas permukaan luar. Hasil pengujian memperlihatkan bahwa kulit manusia hanya mampu memiliki toleransi kontak dengan bahan kima dengan kandungan 1 % LAS dan AOS dengan akibat iritasi sedang pada kulit.

Surfaktan kationik bersifat toksik jika tertelan dibandingkan dengan surfaktan anionik dan non-ionik. Sisa bahan surfaktan yang terdapat dalam deterjen dapat membentuk chlorbenzene pada proses klorinisasi pengolahan air minum PDAM. Chlorbenzene merupakan senyawa kimia yang bersifat racun dan berbahaya bagi kesehatan. Umumnya surfaktan berinteraksi dengan membran dan enzim. Pengaruh ini dapat berdampak pada tumbuhan, dengan penyerapan surfaktan dan imobilisasi pada dinding sel sehingga terjadi perubahan struktur ultra seluler. Toksisitas timbul dari penghambatan enzim atau transmisi selektif ion ion melalui membran.

Pengaruh lain yaitu penghambatan pertumbuhan dalam tumbuhan, ikan, dan budding dalam hidra, kerusakan Lepomis gibbosus, kerusakan organ sensoris luar yang peka sehingga dapat mengganggu pemilihan makanan, mempengaruhi sinergis zat zat dan surfaktan subletal menyebabkan pengambilan zat lipofilik yang lebih cepat dan memperkuat toksisitas zat ini. Toksisitas memperlihatkan suatu korelasi dengan tegangan permukaan menurut jumlah atom karbon dalam homolog jenis surfaktan. Toksisitas surfaktan ABS bertambah dengan kelinearan gugus alkil, disebabkan oleh penerobosan gugus alkil linier yang lebih dalam. Interaksi surfaktan protein juga bertambah bila ekor hidrofobik bertambah dan menyebabkan bertambahnya toksisitas. (Toksisitas surfaktan terhadap beberapa makhluk Perairan sesuai dengan tabel Lundahl & Cabridenc (1978)).

Sesuai dengan waktu ketahanan surfaktan yang cukup singkat dalam daerah perairan, maka tidak diakumulasikan sampai batas manapun juga tidak terjadi biomagnifikasi dalam rantai makanan. Air yang mengandung surfaktan (2 4 ppm), tidak dapat dideteksi perubahan apapun dalam struktur komunitas (Hynes dan Roberts,1962). II.2 Deterjen

Produk yang disebut deterjen ini merupakan pembersih sintetis yang terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi. Dibanding dengan produk terdahulu yaitu sabun, deterjen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air.

Deterjen adalah surfaktan anionik dengan gugus alkil (umumnya C9 C15) atau garam dari sulfonat atau sulfat berantai panjang dari Natrium (RSO3- Na+ dan ROSO3Na+) yang berasal dari derivat minyak nabati atau minyak bumi (fraksi parafin dan olefin). Deterjen sintetik mulai dikembangkan setelah Perang Dunia II, akan tetapi karena gugus utama surfaktant ABS yang sulit di biodegradabel maka pada tahun 1965 industri mengubahnya dengan yang biodegradabel yaitu dengan gugus utama surfaktant LAS. Proses pembuatan deterjen dimulai dengan membuat bahan penurun tegangan permukaan, misalnya : p alkilbenzena sulfonat dengan gugus alkil yang sangat bercabang disintesis dengan polimerisasi propilena dan dilekatkan pada cincin benzena dengan reaksi alkilasi Friedel Craft Sulfonasi, yang disusul dengan pengolahan dengan basa.

Pada umumnya, deterjen mengandung bahan-bahan berikut:

1.

Surfaktan (surface active agen) Zat aktif permukaan yang mempunyai ujung berbeda yaitu hydrophile (suka air) dan hydrophobe (suka lemak). Bahan aktif ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan. Surfaktant ini baik berupa anionic (Alkyl Benzene Sulfonate/ABS, Linier Alkyl Benzene Sulfonate/LAS, Alpha Olein Sulfonate/AOS), Kationik (Garam Ammonium), Non ionik (Nonyl phenol polyethoxyle), Amfoterik (Acyl Ethylenediamines)

1.

Builder (Pembentuk) Zat yang berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari surfaktan dengan cara menon-aktifkan mineral penyebab kesadahan air. Baik berupa Phosphates (Sodium Tri Poly Phosphate/STPP), Asetat (Nitril Tri Acetate/NTA, Ethylene Diamine Tetra Acetate/EDTA), Silikat (Zeolit), dan Sitrat (asam sitrat).

1.

Filler (Pengisi) Bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas atau dapat memadatkan dan memantapkan sehingga dapat menurunkan harga. Contoh : Sodium sulfate

1.

Additives (Zat Tambahan) Bahan suplemen/ tambahan untuk membuat produk lebih menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dan sebagainya yang tidak berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen. Additives ditambahkan lebih untuk maksud komersialisasi produk. Contoh : Enzyme, Borax, Sodium chloride, Carboxy Methyl Cellulose (CMC) dipakai agar kotoran yang telah dibawa oleh deterjent ke dalam larutan tidak kembali ke bahan cucian pada waktu mencuci (anti redeposisi). Wangi wangian atau parfum dipakai agar cucian berbau harum, sedangkan air sebagai bahan pengikat.

Awalnya deterjen dikenal sebagai pembersih pakaian, namun kini meluas dalam bentuk produk-produk seperti:

1. 2. 3. 4.

Personal cleaning product, sebagai produk pembersih diri seperti sampo, sabun cuci tangan, dll. Laundry, sebagai pencuci pakaian, merupakan produk deterjen yang paling populer di masyarakat. Dishwashing product, sebagai pencuci alat-alat rumah tangga baik untuk penggunaan manual maupun mesin pencuci piring. Household cleaner, sebagai pembersih rumah seperti pembersih lantai, pembersih bahan-bahan porselen, plastik, metal, gelas, dll. II.2.1 Klasifikasi Deterjen

1.

1. Menurut kandungan gugus aktif

Menurut kandungan gugus aktifnya maka deterjen diklasifikasikan sebagai berikut :

1.

Deterjen jenis keras

Deterjen jenis keras sukar dirusak oleh mikroorganisme meskipun bahan tersebut dibuang akibatnya zat tersebut masih aktif. Jenis inilah yang menyebabkan pencemaran air.

Contoh: Alkil Benzena Sulfonat (ABS). Proses pembuatan ABS ini adalah dengan mereaksikan Alkil benzena dengan Belerang trioksida, asam Sulfat pekat atau Oleum. Reaksi ini menghasilkan Alkil Benzena Sulfonat. Jika dipakai Dodekil benzena maka persamaan reaksinya adalah

C6H5C12H25 + SO3 C6H4C12H25SO3H

(Dodekil Benzena Sulfonat)

Reaksi selanjutnya adalah netralisasi dengan NaOH sehingga dihasilkan Natrium Dodekil Benzena Sulfonat

1.

Deterjen jenis lunak

Deterjen jenis lunak, bahan penurun tegangan permukaannya mudah dirusak oleh mikroorganisme, sehingga tidak aktif lagi setelah dipakai .

Contoh: Lauril Sulfat atau Lauril Alkil Sulfonat. (LAS).

Proses pembuatan (LAS) adalah dengan mereaksikan Lauril Alkohol dengan asam Sulfat pekat menghasilkan asam Lauril Sulfat dengan reaksi:

C12H25OH + H2SO4

C12H25OSO3H + H2O

Asam Lauril Sulfat yang terjadi dinetralisasikan dengan larutan NaOH sehingga dihasilkan Natrium Lauril Sulfat.

1.

2. Berdasarkan muatannya dibedakan menjadi :

2.

Deterjen Anion

Deterjen bermuatan negatif yang berasal dari gugus alkil sulfat seperti alkil benzen sulfonat.

Gambar 3. Molekul Deterjen Anionik (www.elmhurst.edu)

1.

Deterjen Kation

Deterjen bermuatan positif yang berasal dari gugus amonia. Umumnya digunakan untuk germisida pada rumah sakit, sampo, dan pembilas baju.

Gambar 4. Molekul Deterjen Kationik (www.elmhurst.edu)

1.

Deterjen Nonionik

Deterjen bermuatan netral, umumnya dipakai untuk pencuci piring dan berbusa sedikit dibanding dengan deterjen ionik lainnya. Mempunyai gugus polar yaitu gugus alkohol dan ester serta non polar yaitu rantai hidrokarbon yang panjang.

Gambar 5. Molekul Deterjen Nonionik (www.elmhurst.edu) II.2.2 Toksisitas Deterjen

Kemampuan deterjen untuk menghilangkan berbagai kotoran yang menempel pada kain atau objek lain, mengurangi keberadaan kuman dan bakteri yang menyebabkan infeksi dan meningkatkan umur pemakaian kain, karpet, alat-alat rumah tangga dan peralatan rumah lainnya, sudah tidak diragukan lagi. Oleh karena banyaknya manfaat penggunaan deterjen, sehingga menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat modern.

Tanpa mengurangi makna manfaat deterjen dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, harus diakui bahwa bahan kimia yang digunakan pada deterjen dapat menimbulkan dampak negatif baik terhadap kesehatan maupun lingkungan. Dua bahan terpenting dari pembentuk deterjen yakni surfaktan dan builders, diidentifikasi mempunyai pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap manusia dan lingkungannya.

Umumnya pada deterjen anionik ditambahkan zat aditif lain (builder) seperti golongan ammonium kuartener (alkyldimetihylbenzyl-ammonium cloride, diethanolamine/DEA), chlorinated trisodium phospate (chlorinated TSP) dan beberapa jenis surfaktan seperti sodium lauryl sulfate (SLS), sodium laureth sulfate (SLES) atau linear alkyl benzene sulfonate (LAS). Golongan ammonium kuartener ini dapat membentuk senyawa nitrosamin. Senyawa nitrosamin diketahui bersifat karsinogenik, dapat menyebabkan kanker. Senyawa SLS, SLES atau LAS mudah bereaksi dengan senyawa golongan ammonium kuartener, seperti DEA untuk membentuk nitrosamin. SLS diketahui menyebabkan iritasi pada kulit, memperlambat proses penyembuhan dan penyebab katarak pada mata orang dewasa.

Dalam laporan lain disebutkan deterjen dalam badan air dapat merusak insang dan organ pernafasan ikan yang mengakibatkan toleransi ikan terhadap badan air yang kandungan oksigennya rendah menjadi menurun. Keberadaan busa-busa di permukaan air menjadi salah satu penyebab kontak udara dan air terbatas sehingga menurunkan oksigen terlarut. Dengan demikian akan menyebabkan organisme air kekurangan oksigen dan dapat menyebabkan kematian.

Builders, salah satu yang paling banyak dimanfaatkan di dalam deterjen adalah fosfat. fosfat memegang peranan penting dalam produk deterjen, sebagai softener air. Bahan ini mampu menurunkan kesadahan air dengan cara mengikat ion kalsium dan magnesium. Berkat aksi softenernya, efektivitas daya cuci deterjen meningkat. Fosfat yang biasa dijumpai pada umumnya berbentuk Sodium Tri Poly Phosphate (STPP). Fosfat tidak memiliki daya racun, bahkan sebaliknya merupakan salah satu nutrisi penting yang dibutuhkan mahluk hidup. Tetapi dalam jumlah yang terlalu banyak, fosfat dapat menyebabkan pengkayaan unsur hara (eutrofikasi) yang berlebihan di badan air, sehingga badan air kekurangan oksigen akibat dari pertumbuhan algae (phytoplankton) yang berlebihan yang merupakan makanan bakteri. Populasi bakteri yang berlebihan akan menggunakan oksigen yang terdapat dalam air sampai suatu saat terjadi kekurangan oksigen di badan air dan pada akhirnya justru membahayakan kehidupan mahluk air dan sekitarnya. Di beberapa negara, penggunaan phosphate dalam deterjen telah dilarang. Sebagai alternatif, telah dikembangkan penggunaan zeolite dan citrate sebagai builder dalam deterjen.

Deterjen Sintetik mempunyai sifat-sifat mencuci yang baik dan tidak membentuk garam-garam tidak larut dengan ion-ion kalsium dan magnesium yang biasa terdapat dalam air sadah. Deterjen sintetik mempunyai keuntungan tambahan karena secara relatif bersifat asam kuat, oleh karena itu tidak menghasilkan endapan sebagai asam-asam yang mengendap suatu karakteristis yang tidak nampak pada sabun.

Unsur kunci dari deterjen adalah bahan surfaktan atau bahan aktif permukaan, yang beraksi dalam menjadikan air menjadi lebih basah (wetter) dan sebagai bahan pencuci yang lebih baik. Surfaktan terkonsentrasi pada batas permukaan antara air dengan gas (udara), padatan-padatan (debu), dan cairan-cairan yang tidak dapat bercampur (minyak). Hal ini terjadi karena struktur Amphiphilic, yang berarti bagian yang satu dari molekul adalah suatu yang bersifat polar atau gugus ionik (sebagai kepala) dengan afinitas yang kuat untuk air dan bagian lainnya suatu hidrokarbon (sebagai ekor) yang tidak suka air.

Deterjen Sintetik mempunyai sifat-sifat mencuci yang baik dan tidak membentuk garam-garam tidak larut dengan ion-ion kalsium dan magnesium yang biasa terdapat dalam air sadah. Deterjen sintetik mempunyai keuntungan tambahan karena secara relatif bersifat asam kuat, oleh karena itu tidak menghasilkan endapan sebagai asam-asam yang mengendap suatu karakteristis yang tidak nampak pada sabun.

II.3 Sabun

Sabun adalah suatu gliserida (umumnya C16 dan C18 atau karboksilat suku rendah) yang merupakan hasil reaksi antara ester (suatu derivat asam alkanoat yaitu reaksi antara asam karboksilat dengan alkanol yang merupakan senyawa aromatik dan bermuatan netral) dengan hidroksil dengan residu gliserol (1.2.3 propanatriol). Apabila gliserol bereaksi dengan asam asam yang jenuh (suatu olefin atau polyunsaturat) maka akan terbentuk lipida (trigliserida atau triasilgliserol). Sabun ditemukan oleh orang Mesir kuno (egyptian) beberapa ribu tahun yang lalu. Pembuatan sabun oleh suku bangsa Jerman dilaporkan oleh Julius Caesar. Teknik pembuatan sabun dilupakan orang pada Zaman Kegelapan (Dark Ages), namun ditemukan kembali selama Renaissance. Penggunaan sabun meluas pada abad ke 18. Gliserida (lelehan lemak sapi atau lipida lain) dididihkan bersama sama dengan larutan lindi (dulu digunakan abu kayu karena mengandung K-karbonat tapi sekarang NaOH) terjadi hidrolisis menjadi gliserol dan garam Sodium dari asam lemak, setelah sabun terbentuk kedalamnya ditambahkan NaCl agar sabun mengendap dan dapat dipisahkan dengan cara penyaringan. Gliserol, lindi dan NaCl berlebih dipisahkan dengan cara destilasi. Sabun yang masih kotor dimurnikan dengan cara pengendapan berulang ulang (represipitasi). Akhirnya ditambahkan zat aditif (batu apung, parfum dan zat pewarna). II.3.1 Klasifikasi Sabun

Sabun dapat dibedakan sesuai jenis dan fungsinya yaitu:

1.

Sabun keras atau sabun cuci.

Dibuat dari lemak dengan NaOH, misalnya Na Palmitat dan Na Stearat.

1.

Sabun lunak atau sabun mandi.

Dibuat dari lemak dengan KOH, misalnya K-Palmitat dan K-Stearat

II.3.2 Sifat Sifat Sabun

Sifat umum Sabun dan Deterjen:

1.

Bersifat basa

R C-O- + H2O

R C-OH + OH-

1.

Tidak berbuih di air sadah (Garam Ca, Mg dari Khlorida dan Sulfat) C17H35COONa + CaCl2 Ca (C17H35COO)2 + NaCl

1.

Bersifat membersihkan

R- (non polar dan Hidrofob) akan membelah molekul minyak dan kotoran menjadi partikel yang lebih kecil sehingga air mudah membentuk emulsi dengan kotoran dan mudah dipisahkan. Sedangkan -C-O- (polar dan Hidrofil) akan larut dalam air membentuk buih dan mengikat partikel partikel kotoran sehingga terbentuk emulsi. Suatu molekul sabun mengandung suatu rantai hidrokarbon panjang plus ujung ion. Bagian hidrokarbon dari molekul itu bersifat hidrofobik dan larut dalam zat zat non polar, sedangkan ujung ion bersifat hidrofilik dan larut dalam air. Karena adanya rantai hidrokarbon, sebuah molekul sabun secara keseluruhan tidaklah benar benar larut dalam air. Namun sabun mudah tersuspensi dalam air karena membentuk misel (micelles), yakni kumpulan (50 150) molekul sabun yang rantai hidrokarbonnya mengelompok dengan ujung ujung ionnya menghadap ke air. Suatu gambaran dari stearat terdiri dari ion karboksil sebagai kepala dengan hidrokarbon yang panjang sebagai ekor :

HHHHHHHHHHHHHHHHH O

H C-C-C-C-C-C-C-C-C-C-C-C-C-C-C-C-C-C-O

HHHHHHHHHHHHHHHHH

Dengan adanya minyak, lemak, dan bahan organik lain yang tidak larut dalam air, kecenderungan untuk ekor dan anion melarut dalam bahan organik, sedangkan bagian kepala tetap tinggal dalam larutan air. Oleh karena itu sabun mengemulsi atau mensuspensi bahan organik dalam air. Dalam proses ini, anion-anion membentuk partikel-partikel koloid micelle. Gambar 6. Molekul Sabun dalam Air (www.fisica.unam.mx) Keuntungan yang utama sebagai bahan pencuci karena terjadi reaksi dengan kation-kation divalen membentuk garam-garam dari asam lemak yang tidak larut. Padatan-padatan tidak larut ini, biasanya garam-garam dari magnesium dan kalsium.

2 C17H35COO- Na+ Ca2+ Ca (C17H35CO2)2 (s) + 2 Na+

Sabun yang masuk kedalam buangan air atau suatu sistem ekuatik biasanya langsung terendap sebagai garam garam kalsium dan magnesium. Oleh karena itu beberapa pengaruh dari sabun dalam larutan mungkin dapat dihilangkan. Akibatnya dengan biodegradasi, sabun secara sempurna dapat dihilangkan dari lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Alaerts, G. dan Sri S. Sumestri. 1987. Metode Penelitian Air. Surabaya: Usaha Nasional

Amir. H. Mahvi. et. al. 2004. Removal of Anionic Surfactants In Detergen Wastewater by Chemical Coagulation. Iran. Dalam Jurnal : Pak. J. Biol. Sci. 7 (12) 2222 2226

Amir. H. Mahvi. et. al. 2004. Evaluating GAC for Detergent Removal From The Secondary Effluent of Ghods Wastewater Treatment Plant. Tehran Iran. Dalam Jurnal : Pak. J. Biol. Sci. 7 (12) -2121 2124

Arifin. 2007. Tinjauan dan Evaluasi Proses Kimia (Koagulasi, Netralisasi, Desinfeksi) di Instalasi Pengolahan Air Minum Cikokol, Tangerang. Tangerang : PT. Tirta Kencana Cahaya Mandiri

Arifin. 2008. Metode Pengolahan Deterjen (Tinjauan Pada Suatu Instalasi Pengolahan Air) . Tangerang : PT. Tirta Kencana Cahaya Mandiri

Arifin. 2009. Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Koagulan Pada Proses Dekolorisasi Air Yang Mengandung Limbah Zat Warna Reaktif CI. Reactive Yellow 18. Tangerang : FT-TK Universitas Islam Syech Yusuf

Arifin. dkk. 2009. Kajian Pengolahan Air Yang Mengandung Deterjen Pada IPA Cikokol Tangerang. Tangerang : PT. Tirta Kencana Cahaya Mandiri

Ahmad, Rukaesih. 2004. Kimia Lingkungan. Yogyakarta: Andi offset

Al. Slamet Ryadi. 1981. Ecologi. Ilmu Lingkungan, Dasar Dasar dan Pengertiannya 1. Surabaya : Apeka Press.

Bunda Halang. 2004. Toksisitas Air Limbah Deterjen Terhadap Ikan Mas (Cyprinus carprio). Banjarmasin : FKIP Biologi Unlam. Dalam Jurnal : Bioscientiae. Vol. 1, No. 1, Januari 2004.

Droste, Ronald L. 1997. Theory and Practice of Water and Wastewater Treatment,. New York : John Wiley & Sons, Inc

Darmasetiawan, Martin. 2001. Teori dan Perencanaan Instalasi Pengolahan Air. Bandung : Yayasan Suryono.

Donald R. Rowe dan Isam Mohammed Abdel Magid. 1995. Handbook of Wastewater Reclamation and Reuse.USA : Lewis Publisher

Dede Karyana. dkk. 2003. Kajian Bahan Kimia Khusus Untuk Tekstil. Bandung : Institut Teknologi Tekstil

Eaton, Andrew, et. al. 2005. Standard Methods for Examination of Water and Wastewater. 21st Edition.. Marryland USA: APHA

E. Lichtfouse, Et.al. 2005. Environmental Chemistry; Green Chemistry and Pollutants in Ecosystem. New York : Springer Berlin Heidelberg.

Fessenden, Ralp J dan Fessenden, Joan S. 1994. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga

Hardjono, dkk. 2007. Pengaruh Surfaktan LAS Pada Efisiensi Proses Koagulasi Flokulasi Dalam Pengolahan Air Minum. Bandung : FTSL ITB. Dalam Jurnal : TL. Vol. 13, No. 2, Oktober 2007 (Hal. 25-34).

Harold Hart. 1990. Kimia Organik. Suatu Kuliah Singkat. Edisi Keenam. Terjemah. Jakarta : Erlangga

Heaton, Alan. 1994. The Chemical Industry, Second edition. London : Blackie Academic and Profesional, Chapman & Hal.

Heri Rizky. 2009. Proposal : Bioindikator Air Baku Menggunakan Benih Ikan Mas (Cyprinus Caprio L).Tangerang : PT. Tirta Kencana Cahaya Mandiri.

Ika Puspita. 2008. Evaluasi Kinerja Instalasi Pengolahan Air Minum (IPA) Cikokol PT. Tirta Kencana Cahaya Mandiri Tangerang. Semarang : FT TL Undip.

Isminingsih. 1972. Analisa Zat Aktif Permukaan Dan Detergensi. Bandung : Institut Teknologi Tekstil.

Jr. Day Clyde dan M. Selbin, Joel. 1987. Kimia Anorganik Teori. Jogjakarta : Gadjah Mada University press.

Kawamura, Susumu. 1991. Integrated Design of Water Treatment Facilities. New York : John Wiley & Sons, Inc.

Kosasih. Diktat Mata Kuliah Kimia Zat Pembantu Tekstil (Surface Active Agent atau Surfactants).Tangerang : Universitas Islam Syekh Yusuf

Louis Ravina. 1993. Everything You Want To Know About Coagulation & Flocculation. Virginia USA : Zeta Meter Inc.

Peavy. Howard S. 1985. Environmental Engineering. Singapura McGraw Hill-Book Company.

Peter Sykes. 1989. Penuntun Mekanisme Reaksi Kimia Organik. Edisi Keenam. Terjemah. Jakarta : Gramedia

Pelczar, Michael J. dkk. 1986. Dasar Dasar Mikrobiologi. Jakarta : UI Press

Putu Suardana. dkk. 2002 Pengaruh Surfaktan Linear Alkylbenzena Sulfonat dalam Mempercepat Bioremediasi Limbah Minyak Bumi (Studi Kasus : Pengelolaan Lingkungan di Lapangan Minyak Duri PT.Caltex Pacific Indonesia, Riau). Duri Riau : PT. Caltex

Ralph H. Petrucci, 1993. Kimia Dasar, Prinsip dan Terapan Modern. Jakarta : Erlangga

Reynolds, Tom D. 1982. Unit Operations and Processes in Environmental Engineering. California : Wadsworth, Inc

S.D. Faust dan O.M. Aly. 1998. Chemistry of Water Treatment. 2. End. Ed. Canada.

Sugiharto.1987. Dasar dasar Pengelolaan Air Limbah. Jakarta: UI

Sukardjo. 1990. Kimia Anorganik. Jakarta : Rineka Cipta

Sastrawijaya, A. Tresna. 1991. Dampak Pencemaran Lingkungan. Jakarta : Rineka Cipta.

Sri Hidayati. dkk. 2007. Kaman Proses Pembuatan Surfaktan Anionik Berbasis Ester Asam Lemak C16 dalam Minyak Kelapa Sawit. Bandar Lampung : FPertanian, Unila.

Tjandra Setiadim dan Retno G. Dewi. Dasar-Dasar Teknologi Pengolahan Limbah Industri. Bandung : D-T. Kimia, F-MIPA. ITB

Unus Suriawiria. 1985. Mikrobiologi Air. Bandung : ITB

Voltrath Hopp. 1984. Dasar Dasar Teknologi Kimia Untuk Pendidikan & Penerapan Di Pabrik Industri Kimia. Jakarta : Sastra Hudaya

Wood, Kleinfelter. Keenan. dkk. Kimia Untuk Universitas. Jakarta : Erlangga

Widajanti Wibowo. dkk. Studi Pengolahan Air Sirkulasi Proses Painting dengan Menggunakan Lumpur Aktif. Depok : F-MIPA UI

Wignyanto. dkk. Teknik Baru Cara Peningkatan Efektifitas dan Efisiensi Kemampuan Biodegradasi Surfaktan Deterjen Alkylbenzene Sulfonate. Malang : FMIPA Unibraw.

Yunasfi. 2002. Pemanfaatan Limbah Cair Industri untuk Sektor Kehutanan. Medan : F. Pertanian. Universitas Sumatera Utara

Zhaohui Li. 2007. Removal of Cationic Surfactants From Water Using Clinoptilolite Zeolit. Kenosha USA : University of Wisconsin

www.kompas.com www.chem.is.try.org

http://en.wikipedia.org/wiki/Surfactant
http://www.chemistry.co.nz/surfactants.htm http://pjitangerang.blogspot.com/2008/06/investigasi-sungai-cisadane-bag-1_03.html www.fisica.unam.mx/ liquids/index.php?option=c www.elmhurst.edu/~chm/ vchembook/558detergent.html http://www.perpamsibanten.org/resources.htm

http://tutorjunior.blogspot.com/2009/10/mengetahuidampak-air-limbah-detergen.html
http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Metropolis&id=136527 http://www.sinarharapan.co.id/berita/0110/24/ipt02.html http://majalah.tempointeraktif.com/id/email/2001/09/24/LIN/mbm.20010924.LIN83758.id.html http://www.fkm.undip.ac.id/data/index.php?action=4&idx=2943 http://www.pom-obat.go.id/v2.0/articles.php?id=8 ibnuhayyan.wordpress.com/ 2008/09/10/surfaktan/ http://aahabib.co.cc/info-kesehatan/bahaya-detejen-bagi-kesehatan/ http://water.me.vccs.edu/courses/ENV211/lab5_print.htm DATA PENDUKUNG

Dinas LH, 2006. Kajian Penetapan Baku Mutu Lingkungan untuk Limbah Cair di Kota Tangerang. Tangerang : Pemkot Tangerang Hach. 2002. Water Analysis Handbook. 4 th Edition. USA : Hach Company.

Keputusan Menteri Kesehatan RI. No. 907/MenKes/SK/VII/2002. Tentang Kualitas Air Minum

Peraturan Pemerintah RI. No. 82 Tahun. 2001. Tentang Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran Air

Perpamsi, Forkami. 2002. Peraturan Teknis Instalasi Pengolahan Air Minum. Jakarta : Tirta Dharma

Adopted by arifin_pararaja@yahoo.co.id from : BAB.II TINJAUAN PUSTAKA. Sub. II.1 II.3 dari

Arifin. 2009. ELIMINASI DETERJEN LAS (LAURYL ALKYL SULFONAT) DENGAN SISTEM KONVENSIONAL (KOAGULASI FLOKULASI KHLORINASI) PADA IPA CIKOKOL TANGERANG. Tangerang : PT. Tirta Kencana Cahaya Mandiri.

http://smk3ae.wordpress.com/2010/08/28/surfaktant-deterjen-sabun-revisi/

Anda mungkin juga menyukai