Anda di halaman 1dari 165

HUBUNGAN POLA KOMUNIKASI REMAJA 14-17 TAHUN DALAM KELUARGA DENGAN PERKEMBANGAN SOSIAL REMAJA DI SMK MANDIRI BOJONG

GEDE, BOGOR TAHUN 2011

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan

OLEH :

MARSELIANA 207.312.077

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN N|ASIONAL VETERAN JAKARTA JULI 2011

LEMBAR PERSETUJUAN

Laporan penelitian ini dengan judul Hubungan Pola Komunikasi Remaja 14- 17 Tahun Dalam Keluarga dengan Perkembangan Sosial Remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor. Telah disetujui untuk diujikan pada ujian sidang dihadapan tim penguji.

Jakarta, Juli 2011

Menyetujui Pembimbing

(Desak Nyoman Sithi SKp, MARS) Mengetahui

Dekan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan S1 Keperawatan (dr. Mohammad Joesro, MM, MARS)

ii

LEMBAR PENGESAHAN Laporan penelitian ini dengan judul Hubungan Pola Komunikasi Remaja 14- 17 Tahun Dalam Keluarga dengan Perkembangan Sosial Remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor ini telah diujikan dan telah dinyatakan LULUS pada ujian sidang dihadapan Tim Penguji pada tanggal 5 Juli 2011. Jakarta, 5 Juli 2011 Penguji I

(Agustina. SKM.M.Kes)

Penguji II

(Ns. Nelly Febriani, S. Kep)

Penguji III

(Desak Nyoman Sithi SKp. MARS)

iii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang di kutip maupun di rujuk telah saya nyatakan dengan benar.

Nama Nrp Tanggal

: Marseliana : 207.312.077 : 5 Juli 2011

Tanda Tangan :

iv

SEKAPUR SIRIH
Rabbku Kau adalah penciptaku Lewat rahim ibuku Kau memberikan aku kehidupan. Dan aku terlahir dengan Kebesaran-Mu Rabbku. Kau limpahkan aku dengan ilmu-Mu Kau berikan kepadaku Pengetahuan-Mu Di tiap penghidupanku Kau sisipkan ujian untuk meneguhkanku Kau latih kesabaranku untuk berjuang menyongsong hidup ini Hidup ini adalah ladang menuntut ilmu Karena hidup adalah pilihan Memilih untuk menjadi insan yang sukses atau malah sebaliknya terpuruk dengan kegagalan Ku menyadari jalan menuju sukses pasti ku dapati jalan yang berliku Tetapi,,bila sukses itu di awali dengan niat, doa, ikhtiar, dan bertawakal Kepada-Mu Ku yakin pasti kan ku temukan jalan lurus dengan Rahmat-Mu Ya Rabbku.. Engkau adalah penuntun terbaikku Tuntunlah aku untuk tapaki hidup ini dengan Kebaikan-Mu. Karena sebaik- baik penolong hanyalah EngkauAllah Azza Wa Jalla Alhamdulillah

KATA PENGANTAR Alhamdulillahirabbil alamin. Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas semua berkah, rahmat, dan kehadiran- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan semaksimal mungkin. Maksud dari penulisan skripsi ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat mendapatkan gelar sarjana keperawatan dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Judul yang dipilih dalam skripsi ini adalah Hubungan Pola Komunikasi Remaja 14- 17 Tahun Dalam Keluarga Dengan Perkembangan Sosial Remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor. Perjalanan panjang studi dan penulisan skripsi ini tidak mungkin terlepas dari bimbingan, dorongan, maupun bantuan dari pihak- pihak yang telah banyak berjasa. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan banyak terima kasih dan penghargaan yang setinggi- tingginya kepada : 1. dr. Mohammad Joesro, MM, MARS, Dekan Fakultas Ilmu- Ilmu Kesehatan Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. 2. Agustina. SKM.M.Kes selaku Dosen Riset Keperawatan dan juga Pembimbing pembuatan proposal Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. 3. Desak Nyoman Sithi, SKp, MARS, selaku dosen pembimbing skripsi yang telah bersedia meluangkan waktu dan tenaganya untuk memberikan petunjuk, masukan, bimbingan dan pengarahan kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini. 4. Segenap dosen dan staff Fakultas Ilmu- Ilmu Kesehatan Program Studi Ilmu Keperawatan UPN Veteran Jakarta yang telah membekali penulis dengan ilmu pengetahuan dan menyukseskan penyelesaian penulisan skripsi. 5. Kepala Sekolah SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Bapak Drs. Sasmita dan Guru Bimbingan Konseling Ibu Nova beserta semua guru- guru di Yayasan Pendidikan Islam Mandiri Bojong Gede, Bogor.

vi

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan yang tidak di sengaja dalam penulisan skripsi ini dan penulis menerima segala kritik serta saran yang membangun dari pembaca guna penyempurnaan skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak- pihak yang membutuhkan. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya.

Jakarta, Juli 2011 Penulis (Marseliana)

vii

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama NRP Program Studi Fakultas Jenis Karya : Marseliana : 207.312.077 : S1 Keperawatan : Ilmu- ilmu Kesehatan : Skripsi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul : Hubungan Pola Komunikasi Remaja 14- 17 Tahun Dalam Keluarga Dengan Perkembangan Sosial Remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor. Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti ini Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta berhak menyimpan,

mengalihmediakan/ formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/ pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di : Jakarta Pada Tanggal : 25 Juli 2011 Yang Menyatakan

(Marseliana)

viii

DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL...............................................................................................i LEMBAR PERSETUJUAN ...............................................................................ii LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................iii LEMBAR PERNYATAAN ORISINILITAS ...................................................iv LEMBAR PERSEMBAHAN .............................................................................v KATA PENGANTAR.........................................................................................vi LEMBAR PERNYATAAN ORISINILITAS ...................................................viii DAFTAR ISI .....................................................................................................ix DAFTAR TABEL ...............................................................................................xiii DAFTAR SKEMA ..............................................................................................xvi DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xvii ABSTRAK ..................................................................................................... xviii

BAB I

PENDAHULUAN ........................................................................1 1.1. 1.2. Latar Belakang...................................................................1 Perumusan Masalah ...........................................................5 1.2.1 Identifikasi ............................................................5 1.2.2 Pertanyaan Penelitian.............................................6 1.3. Tujuan Penelitian ..............................................................7 1.3.1 Tujuan Umum ........................................................7 1.3.2 Tujuan Khusus .......................................................7 1.4. 1.5. Manfaat Penelitian ............................................................8 Ruang Lingkup Penelitian ................................................9

ix

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA ..............................................................10 2.1 Remaja....................................................................................10 2.1.1. Definisi Remaja ............................................................10 2.1.1.a. Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja .......11 2.1.2. Perubahan Fisik dan Maturasi Seksual .........................12 2.1.2.a. Pubertas ............................................................13 2.1.3. Perkembangan Kognitif ................................................14 2.1.3.a. Keterampilan Bahasa ......................................15 2.1.4. Perkembangan Psikososial............................................15 2.1.4.a. Identitas Moral .................................................16 2.1.5. Masalah Kesehatan Spesifik pada Periode Adolesens.. 2.1.6. Krisis pada Remaja .......................................................18 2.2 Komunikasi Keluarga.............................................................21 2.2.1. Pengertian Komunikasi .................................................21 2.2.2. Unsur Dalam Komunikasi............................................ 21 2.2.3. Jenis Komunikasi ..........................................................21 2.2.3.a. Komunikasi Berdasarkan Bentuk.....................21 2.2.4. Pola Komunikasi Dalam Keluarga............................... 22 2.2.4.a. Pola Komunikasi Fungsional ...........................22 2.2.4.b. Pola Komunikasi Disfugsional ........................23 2.3 Keluarga .................................................................................24 2.3.1 Tipe Keluarga....................................................24 2.3.2 Peranan dan Fungsi Keluarga........................... 25 2.3.3 Peranan Saudara Sekandung .............................27 2.3.4 Pola Hubungan Orangtua- Anak .......................28 2.3.5 Konflik Orangtua- Remaja ................................32 2.4 Perkembangan Sosial Remaja ................................................32 2.4.1 Perkembangan Sosial ........................................32 16

2.4.2 Perkembangan Kesadaran Beragama ................34 2.5 Penelitian Terkait................................................................... 35 2.6 Kerangka Teori.......................................................................37 BAB III KERANGKA KONSEP .............................................................38 3.1 Kerangka Konsep ...................................................................38 3.2 Hipotesis .................................................................................40 3.3 Variabel Penelitian .................................................................40 3.4 Definisi Operasional...............................................................41 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN................................................ 45 4.1 Desain Penelitian ....................................................................45 4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian..................................................46 4.3 Populasi dan Sampel ..............................................................46 4.4 Cara Pengumpulan Data .........................................................50 4.5 Instrument Penelitian..............................................................51 4.6 Validitas dan Reliabilitas....................................................... 52 4.6.1 Validitas ....................................................................52

4.6.2 Reliabilitas ..................................................................53 4.7 Pengolahan Data dan Analisis Data .......................................55 4.7.1 Pengolahan Data ...........................................................55 4.7.2 Teknik Analisa Data .....................................................57 4.8 Etika Penelitian...................................................................... 59 BAB V HASIL PENELITIAN.................................................................60 5.1 Gambaran Umum Wilayah Penelitian....................................60 5.1.1. Profil Sekolah SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor .....60 5.2 Analisa Hasil Penelitian .........................................................61 5.2.1. Analisa Hasil Univariat ................................................61 5.2.2. Analisa Hasil Bivariat .................................................73 5.2.3. Hasil Wawancara
xi

.................................................82

BAB VI

PEMBAHASAN ........................................................................86 6.1 Keterbatasan Penelitian ..........................................................86 6.1.1. Keterbatasan Dalam Desain Penelitian ........................86 6.1.2. Keterbatasan Kuesioner................................................86 6.1.3. Keterbatasan Responden ..............................................86 6.2 Pembahasan Hasil Penelitian................................................. 87 6.2.1. Hasil Penelitian Univariat ............................................87 6.2.2. Hasil Penelitian Bivariat ..............................................94

BAB VII

PENUTUP

........................................................................113

7.1. Kesimpulan.............................................................................113 7.2. Saran ....................................................................................114 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

xii

Fakultas Ilmu- Ilmu Kesehatan Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Hasil Penelitian, Juli 2011 Marseliana

HUBUNGAN POLA KOMUNIKASI REMAJA 14- 17 TAHUN DALAM KELUARGA DENGAN PERKEMBANGAN SOSIAL REMAJA DI SMK MANDIRI BOJONG GEDE, BOGOR xiv + 115 halaman + 24 tabel + 2 skema + 11 lampiran

ABSTRAK
Masalah perkembangan social pada remaja merupakan masalah yang pelik bagi masyarakat kita khususnya bagi remaja dan peran keluarga sangat penting bagi perkembangan sosialnya. Semakin kuat hubungan komunikasi orang tua dengan anak yang terarah dan mudah dipahami maka keungkinan untuk mengarah ke perilaku kenakalan remaja akan dapat dicegah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Pola Komunikasi Remaja 14- 17 Tahun Dalam Keluarga Dengan Perkembangan Sosial Remaja Di Smk Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional yang dilengkapi dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara. Penentuan sample diambil dengan menggunakan teknik simple random sampling dengan jumlah responden berjumlah 150 orang siswa kelas XI yang terdiri dari 6 kelas. Variable yang digunakan dalam penelitian adalah Karakteristik Orangtua Responden (pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, penghasilan orang tua perbulan, ), Tipe keluarga responden, uang saku seminggu, pola komunikasi dalam keluarga (fungsional dan disfungsional) terhadap perkembangan social remaja sebagai variable dependen. Dalam pengujian instrument penelitian digunakan kerelasi Pearson Product Moment untuk uji validitas dan metode Alpha Cronbach untuk reliabilitas. Penelitian ini menggunakan metode angket. Dalam penelitian digunakan uji chi square untuk melihat hubungan kedua variable. Hasil penelitian dengan analisis univariat menunjukan 65 responden (43,3%) yang memiliki perkembangan social remaja tidak baik dan 76 responden (50,7%) yang memiliki pola komunikasi dalam keluarga. Dari analisa bivariat menunjukan adanya hubungan bermakna antara uang saku (P value = 0,017) , pekerjaan ibu (P value = 0,001), penghasilan orang tua (P value = 0,015), pola komunikasi dalam keluarga (P value = 0,013) terhadap perkembangan social remaja. Saran peneliti bagi orang tua yaitu menciptakan susana keluarga yang akrab sehingga tercipta komunikasi yang terbuka antara keluarga dan remaja khususnya orang tua. Bagi pelayanan keperawatan dengan mengadakan penyuluhan seminar diskusi tentang perkembangan sosial untuk orang tua dan siswa, pengajar dan siswa dengan melakukan kerjasama dengan Instansi Pemerintah, lembaga Swasta, LSM yang mempunyai kompetensi di bidang tersebut. Kata Kunci : Remaja, Pola Komunkasi keluarga dengan remaja, perkembangan sosial remaja.

Daftar Pustaka : 29 (1942- 2011)

xiii

Faculty of Health Sciences Nursing Sciences Studies Program University of Pembangunan Nasional Veteran Jakarta Researchs Report, July 2011 Marseliana RELATIONSHIP PATTERNS OF COMMUNICATION TEENS 14-17 YEARS INFAMILIES WITH ADOLESCENT SOCIAL DEVELOPMENT IN SMK MANDIRI BOJONG GEDE, BOGOR xiv + 115 pages + 24 tables + 2 schemes + 11 enclosures ABSTRACT
Problems of social development in adolescents is a complicated issue for our society, especially for adolescents and the role of family is very important for social development.The stronger the communication relationships of parents with children who are targeted and easily understood then leads to behavior keungkinan to juvenile delinquency will be prevented. This study aims to determine the relationship of Communication Patterns of Youth 14-17 Years In Families With Adolescent Social Development In Smk Self Bojong Gede, Bogor in 2011. This research used descriptive analytic design with cross-sectional approach which is equipped with a qualitative approach through interviews.Determination of the sample is taken using simple random sampling technique with a number of respondents totaled 150 people a class XI student of class 6. Variables used in the study are characteristic of Parent Respondents (parents' education, occupation of parents, income of parents per month), family type of respondents, a week pocket money, family communication patterns (functional and dysfunctional) to the social development of adolescents as the dependent variable. In testing the research instrument used kerelasi Pearson Product Moment to test the validity and the Cronbach alpha method for reliability. This study used the questionnaire method. In the present study used chi square test to see relations between the two variables. The results with univariate analysis showed 65 respondents (43.3%) who had adolescent social development is good and 76 respondents (50.7%) having a pattern of communication within the family. From the bivariate analysis showed a significant relationship between allowance (P value = 0.017), maternal employment (P value = 0.001), income of parents (P value = 0.015), communication patterns within families (P value = 0.013) on the development of adolescent social . Advice for parents of researchers is to create an intimate family susana so as to create open communication between families and young people, especially parents. For nursing services by providing counseling seminar discussion on social development to parents and students, teachers and students to conduct cooperation with Government, private institutions, NGOs that have competence in that field. Keywords References : Adolescent, family communication patterns with adolescents, adolescentsocial development. : 29 (1942- 2011)

xiv

BAB I PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang Remaja adalah tahap umur yang datang setelah masa kanak-kanak berakhir, ditandai oleh pertumbuhan fisik cepat. Pertumbuhan cepat yang terjadi pada tubuh remaja luar dan dalam itu, membawa akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan serta kepribadian remaja (Darajat Zakiah). Perkembangan social anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya, baik orang tua, sanak keluarga, orang dewasa lainnya atau teman sebayanya. Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. Masa remaja adalah masa bagi seseorang mencari identitas diri. Masa remaja sebenarnya adalah sebuah fase rawan bagi seorang remaja karena kelabilan jiwanya yang sering membuatnya berpikir dan bertindak secara naif. Di sinilah peran orang tua dan keluarga sangat penting bagi seorang remaja. Lalu bagaimana proses pencarian identitas remaja?salah satunya dengan mulai berinteraksi dengan kelompok sebaya (peer group). Bergabungnya remaja pada suatu kelompok akan membuat remaja lebih banyak belajar dari orang lain, bagaimana bertingkahlaku, bekerjasama dengan orang lain dan memahami antar sesama. Namun ada beberapa dampak negatifnya. Ketika remaja bergabung dengan suatu kelompok, maka konsekuensinya remaja harus mengikuti apa yang disepakati kelompoknya. Hal ini dilakukan karena berkaitan dengan penerimaan sosial (social acceptance) pada kelompok. Dengan demikian remaja lebih suka

mengadopsi nilai-nilai dari peer group daripada orangtua. Kadang-kadang nilai-nilai yang dianut remaja dari kelompoknya bertentangan dengan nilai yang ada di keluarga. Bahkan bisa terjadi konflik antara remaja dengan orangtua. Benar menurut kelompoknya belum tentu benar menurut masyarakat atau keluarga. Di sinilah peran keluarga menjadi penting. Bagaimana orangtua dapat menanamkan nilai-nilai yang baik pada remaja. Selain itu orangtua harus menjalin komunikasi yang positif. Dengan itu, diharapkan nilai-nilai moral yang diajarkan orangtua kepada remaja dapat dipahami dan diterima. (https://vano2000.wordpress.com/.../peran-keluargadalam-perkembangan-moral-remaja/ , diakses pada tanggal 27 Maret 2010). Dengan pola komunikasi yang baik diharapkan akan tercipta pola asuh yang baik. Kegiatan pengasuhan anak akan berhasil dengan baik jika pola komunikasi yang tercipta didasarkan atas cinta dan kasih sayang dengan memposisian anak sebagai objek yang harus dibina, dibimbing dan dididik. Terjadinya proses sosialisasi pada seorang siswa dilakukan setelah dalam dirinya terbentuk self yang diawali dari dalam keluarga, cara orang tua mengekpresikan dirinya, kemudian cara tersebut diidentifikasikan dan diinternalisasikan menjadi peran dan sikapnya, dan akhirnya terbentuklah self siswa yang berkembang melalui proses sosialisasi dengan cara berinteraksi dengan orang lain. Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Gaya hidup atau life style ini menarik sebagai suatu masalah kesehatan, minimal dianggap sebagai faktor risiko dari suatu penyakit tidak menular. Karena itulah, masa remaja sering kali dianggap masa kritis yang menentukan apakah nantinya kita menjadi perokok atau bukan (Bustan, 2000). Berdasarkan data dari Badan Kesehatan Dunia WHO (World Health Organization), diperkirakan bahwa lebih dari 43 juta anak tinggal bersama dengan perokok dan sebagian besar (68,8%) perokok mulai merokok sebelum umur 19 tahun, saat masih anak-anak atau remaja. Prevalensi pria perokok

meningkat cepat setelah umur 10 sampai 14 tahun. Prevalensi merokok pada pria meningkat cepat seiring dengan bertambahnya umur: dari 0,7% (10-14 tahun), ke 24,2 % (15-19 tahun), melonjak ke 60,1 % (20-24 tahun). Remaja pria umur 15-19 tahun mengalami peningkatan konsumsi sebesar 65% lebih tinggi dari kelompok lain manapun (Depkes, 2003). Hasil penelitian program studi doktor Ilmu Kesehatan Mayarakat oleh Damayanti menunjukkan bahwa perilaku pacaran remaja SLTA di Jakarta menunjukkan 3,2% sudah melakukan hubungan seks (Martinda, 2010). Menyadari pentingnya keberadaan remaja bagi bangsa Indonesia, maka perawat dapat memberikan kontribusi bagi remaja terutama terkait dengan hubungan komunikasi antar keluarga. Hal ini dikarenakan hubungan dengan keluarga khususnya orangtua sangat mempengaruhi perilaku remaja, termasuk perkembangan sosial remaja. Keperawatan sebagai bagian integral dari system kesehatan di Indonesia yang turut menentukan dalam menanggulangi masalah kesehatan pada anak dan remaja, dipandang perlu adanya pengakajian di bidang ini (Ginting, 2008). Sehingga perawat dalam memberikan asuhan keperawatan mempunyai peran dan fungsi sebagai konselor dan pendidik, dimana perawat mempunyai andil yang cukup besar dalam memberikan informasi pada remaja mengenai komunikasi yang baik dengan keluarga, khususnya dalam membicarakan masalah perkembangan sosialnya. Hal ini berkaitan dengan hubungan komunikasi dengan keluarga yang kurang baik (disfungsional), sehingga berkurangnya ikatan antara kasih sayang orangtua dan anak. Dengan hubungan komunikasi yang baik antar orangtua dan remaja diharapkan terciptanya perkembangan social remaja yang positif. Berdasarkan penelitian Elfrida Juli Erni Hutabarat, mengenai Pola Komunikasi dengan Orang Tua Tunggal di Kelurahan Bangun Mulia Kecamatan Medan Amplas, pada tahun 2009 menunjukkan bahwa hasil penelitian ini dari 52 responden mayoritas keluarga dengan orang tua tunggal

memiliki pola komunikasi fungsional (82, 69%), dan orang tua tunggal memiliki pola komunikasi disfungsional (17,31%). %). Hasil penelitian ini merupaka fakta yang dapat digunakan untuk praktek keperawatan keluarga. Banyak penelitian yang dilakukan para ahli menemukan bahwa remaja yang berasal dari keluarga yang penuh perhatian, hangat, dan harmonis mempunyai kemampuan dalam menyesuaikan diri dan sosialisasi yang baik dengan lingkungan disekitarnya (Hurlock, 1973). Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada akhir bulan Maret 2011 sebanyak 24 murid dengan kasus penyimpangan masalah merokok, bolos pada saat jam pelajaran, dan tidak mematuhi tata tertib sekolah. Peneliti melakukan wawancara kepada remaja tersebut sebanyak 10 orang, hasil yang didapatkan sebanyak 70% remaja memiliki pola komunikasi yang baik(fungsional) dengan keluarganya. Sisanya 30% remaja memiliki komunikasi yang kurang baik (disfungsional) dengan keluarganya. Sebanyak 7 orang remaja tersebut menyatakan bahwa memiliki hubungan yang baik antar anggota keluarga khususnya orangtua yang berpengaruh terhadap bentuk kepribadian diri mereka dalam kehidupan sosialnya. Sedangkan, 3 dari 10 remaja (30%) mengatakan memiliki komunikasi yang kurang baik dengan keluarganya khususnya orangtua sehingga hubungan remaja dengan teman sebayanya lebih dekat dibandingkan dengan keluarga mereka. Hal inilah yang melatar belakangi peneliti untuk mengetahui lebih lanjut mengenai Hubungan Pola Komunikasi Remaja 14- 17 Tahun Dalam Keluarga dengan Perkembangan Sosial Remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011.

1. 2. Perumusan Masalah 1. 2.1. Identifikasi Keluarga merupakan kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan, emosional dimana setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing sebagai bagian dari keluarga. Keluarga sebagai kelompok social terkecil dalam masyarakat, mempunyai peranan penting dalam pembentukan kepribadian pada anak, cukupnya dukungan keluarga atau kurangnya dukungan pada anak akan mempengaruhi kepribadian anak. Pola terbentuknya kepribadian pada seorang individu bukan hanya merupakan bawaan dari lahir, tetapi kepribadian terbentuk melalui proses, dan proses pembentukan kepribadian tidak terlepas dari peran keluarga. Kepribadian yang positif dan keluarga yang harmonis diyakini akan mampu mencegah seorang remaja untuk cenderung melakukan kenakalan atau perbuatan yang negatif. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada akhir bulan Maret 2011 sebanyak 24 murid dengan kasus penyimpangan masalah merokok, bolos pada saat jam pelajaran, dan tidak mematuhi tata tertib sekolah. Peneliti melakukan wawancara kepada beberapa remaja tersebut sebanyak 10 orang, hasil yang didapatkan sebanyak 70% remaja memiliki pola komunikasi yang baik (fungsional) dengan keluarganya. Sisanya 30% remaja memiliki hubungan yang kurang baik dengan keluarganya. Sebanyak 7 orang remaja tersebut menyatakan bahwa memiliki komunikasi yang baik antar anggota keluarga khususnya orangtua sangat berpengaruh terhadap bentuk kepribadian diri mereka dalam kehidupan sosialnya. Sedangkan, 3 dari 10 remaja (30%) mengatakan memiliki komunikasi yang kurang baik dengan keluarganya khususnya

orangtua sehingga hubungan remaja dengan teman sebayanya lebih dekat dibandingkan dengan keluarga mereka. Hal inilah yang melatar belakangi peneliti untuk mengetahui lebih lanjut mengenai Hubungan Pola Komunikasi Remaja 14- 17 Tahun Dalam Keluarga dengan Perkembangan Sosial Remaja di SMK Mandiri Bojong Gede Bogor Tahun 2011. Untuk itu, peneliti ingin mengetahui apakah ada hubungan pola komunikasi remaja 1417 tahun dalam keluarga dengan

perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011. 1. 2.2. Pertanyaan Penelitian 1. Bagaimanakah gambaran pola komunikasi remaja usia 14- 17 tahun dalam keluarga dengan perkembangan social remaja di

SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor. 2. Apakah ada hubungan antara pola komunikasi dalam keluarga dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor T a h u n 2 0 1 1 . 3. Apakah ada hubungan antara uang saku dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor 2011. 4. Apakah ada hubungan antara pendidikan orangtua dengan dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor T a h u n 2 0 1 1 . 5. Apakah ada hubungan antara pekerjaan orangtua dengan dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor T a h u n 2 0 1 1 . 6. Apakah ada hubungan antara penghasilan orangtua dengan dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor T a h u n 2 0 1 1 . Tahun

7. Apakah ada hubungan antara tipe keluarga dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor T a h u n 2011.

1. 3. Tujuan Penelitian 1. 3.1. Tujuan Umum Mengidentifikasi gambaran pola komunikasi remaja 14- 17 tahun dalam keluarga dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor T a h u n 2 0 1 1 . 1. 3.2. Tujuan Khusus a. Mengetahui hubungan pola komunikasi dalam keluarga dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011. b. Mengetahui hubungan antara uang saku dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor 2011. c. Mengetahui hubungan pendidikan orangtua dengan dengan Tahun

perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011. d. Mengetahui hubungan pekerjaan orangtua dengan dengan

perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011. e. Mengetahui hubungan penghasilan orangtua dengan dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011. f. Mengetahui hubungan tipe keluarga dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor T a h u n 2 0 1 1 .

1. 4. Manfaat Penelitian 1. 4.1. Keluarga Sebagai masukan bagi orang tua bahwa betapa pentingnya penerapan komunikasi yang efektif dalam keluarga khususnya untuk remaja, agar remja dapat mencapai perkembangan sosialnya.

1. 4.2. Remaja a. Mengetahui komunikasi yang efektif dalam keluarga. b. Mampu melakukan dan mecapai perkembangan sosial secara adekuat. c. Mampu melakukan komunikasi yang efektif di keluarga, hubungan pertemanan (peer group) dan bermasyarakat. 1. 4.3. Pendidikan a. Sebagai literaur tambahan tentang karakteristik remaja dan pola komunikasi keluarga dengan perkembangan socsial remaja. b. Diharapakan pendidikan mampu menciptakan remaja yang mampu mencapai perkembangan sosialnya dengan adekuat. 1. 4.4. Profesi Keperawatan a. Bermanfaat bagi ilmu keperawatan khususnya keperawatan

keluarga dan anak dalam mengidentifikasi pola komunikasi efektif di keluarga agar perkembangan sosial remaja dapat tercapai secara adekuat. b. Perawat mampu menyampaikan dan mengaplikasikan pola

komunikasi yang efektif dalam keluarga terhadap pencapaian perkembangan sosial remaja. 1. 4.5. Penelitian Selanjutnya Penelitian ini dapat membantu peneliti selanjutnya untuk dapat meneliti secara signifikan dan lebih spesifik keterkaitan karakteristik remaja dan pola komunikasi dalam keluarga dengan perkembangan sosial remaja.

1. 4.6. Bagi SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tambahan kepada SMK Mandiri Bojong Gede Bogor sebagai bahan landasan untuk menanggulangi kenakalan pada remaja.

1. 5. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini di SMK Mandiri Bojong Gede Bogor yang terdiri dari murid kelas-X1 Mengenai Hubungan Pola Komunikasi Remaja 14- 17 Tahun Dalam Keluarga dengan Perkembangan Sosial Remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Peneliti akan menguraikan landasan teori atau konsep terkait untuk memberikan arahan dalam penelitian ini tentang Pola Komunikasi Remaja 14- 17 Tahun Dalam Keluarga Dengan Perkembangan Sosial Remaja Di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor. 2. 1. Remaja 2. 1.1. Definisi remaja Remaja atau adolesens adalah periode perkembangan selama dimana individu mengalami perubahan dari masa kanak- kanak menuju dewasa, biasanya antara usia 13 dan 20 tahun. Istilah adolesens biasanya menunjukkan maturasi psikologis individu, ketika pubertas menunjukkan titik dimana reproduksi mungkin dapat terjadi. Pemahaman perawat tentang perkembangan merupakan

perspektif yang unik untuk menolong remaja dan antisipasi orang tua serta koping stress pada adolesens. Aktivitas ini dapat dilakukan pada lingkungan yang beragam dan dapat ditujukan pada adolesens, orang tua atau keduanya. Program pendidikan kelompok untuk orang tua tentang bagaimana menghadapi remaja dapat meningkatkan

pemahaman orang tua terhadap perkembangan adolesens. Untuk mempelajari tentang topic atau masalah spesifik, perawat harus mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan remaja.

10

2.1.1. a. Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja Tengah 14- 17 Tahun (Wong,2004:199) : 1) Pertumbuhan a) Pertumbuhan melambat pada anak perempuan. b) Bentuk tubuh mencapai 95% tinggi orang dewasa. c) Karakteristik sekunder tercapai dengan baik. 2) Kognitif a) Mengembangkan kapasitas berpikir abstrak. b) Menikmati kekuatan intelektual, idealistis. c) Prihatin dengan filosofis, politis, dan masalah sosial. 3) Identitas a) Mengubah citra diri. b) Sangat berfokus pada diri sendiri, narsisme meningkat. c) Kecenderungan penemuan diri. d) Mempunyai banyak fantasi kehidupan. e) Idealistis. f) Mampu menerima implikasi masa depan tentang prilaku dan keputusan baru; penerapan bervariasi. 4) Hubungan dengan Orangtua a) Konflik utama terhadap kemandirian dan control. b) Titik rendah dalam hubungan orang tua-anak. c) Dorongan paling besar untuk emansipasi; pelepasan diri. d) Pelepasan emosional akhir dan irreversible dari orang tua; berkabung. 5) Hubungan dengan Teman Sebaya a) Kebutuhan identitas yang kuat untuk memantapkan citra diri. b) Standar perilaku dibentuk oleh kelompok sebaya. ke arah pengalaman didalam dan

11

c) Penerimaan oleh sebaya sangat penting-rasa takut akan penolakan. d) Eksplorasi terhadap kemampuan untuk menarik lawan jenis. 6) Seksualitas a) Hubungan jarak multiple. b) Ketentuan ke arah heterokseksualitas (bila homoseksual diketahui saat ini). c) Eksplorasi terhadap daya tarik diri: perasaan dicintai. d) Pembentukan hubungan sementara. 7) Kesehatan Psikologis a) Kecenderungan ke arah pengalaman dalam dari; lebih introspektif. b) Kecenderungan untuk menarik diri jika marah atau perasaan sakit hati. c) Vascillation emosi dalam rentang dan waktu. d) Perasaan tidak adekuat yang umum, kesulitan meminta bantuan.

2. 1.2.Perubahan Fisik dan Maturasi Seksual Perubahan fisik terjadi dengan cepat pada adolesens. Maturasi seksual terjadi seiring perkembangan karakteristik seksual primer dan sekunder. Karakteristik seksual primer berupa perubahan fisik dan hormonal yang penting untuk reproduksi, dan karakteristik sekunder secara eksternal berbeda pada laki- laki dan perempuan. Empat focus utama perubahan fisik adalah : 1. Peningkatan kecepatan pertumbuhan skelet, otot, dan visera.

12

2. Perubahan spesifik- seks, seperti perubahan bahu dan lebar pinggul. 3. Perubahan distribusi otot dan lemak. 4. Perkembangan sistem reproduksi dan karakteristik seks sekunder. Variasi yang luas terjadi dalam waktu perubahan fisik berkaitan dengan pubertas, dan pada anak perempuan perubahan fisik cenderung mulai lebih awal daripada anak laki- laki. 2. 1.2.a. Pubertas Waktu. Variasi yang luas terdapat antara masingmasing jenis kelamin dan dalam jenis kelamin yang sama seiring awitan perubahan fisik pubertas. Variasi ini lebih nyata pada anak laki- laki. Pada beberapa penelitian, anak laki- laki yang matur dini terlihat lebih tenang, relaks, bersifat baik, terampil dalam aktivitas atletik, dan lebih banyak menjadi pemimpin di sekolah dibanding anak lakilaki yang matur terlambat. Sebaliknya, anak perempuan yang matur dini terlihat kurang dapat bersosialisasi dan lebih malu serta berpusat pada dirinya sendiri, mungkin karena merasa menjadi perhatian orang (Edelman dan Mandle, 1994). Urutan. Urutan perubahan pertumbuhan pubertas sama pada banyak individu. Seiring peningkatan tinggi dan berat badan, pola perubahan seksual lebih signifikan daripada awitannya. Menjadi sama seperti sebayanya merupakan hal yang sangat penting pada adolesens. Adolesens mungkin mencari konfirmasi dan meyakinkan tentang kenormalannya meskipun perubahan fisiknya terjadi pada waktu yang normal.

13

Perubahan Hormonal. Perubahan ini terjadi karena perubahan hormonal dalam tubuh saat hipotalamus mulai memprodukasi gonadotropin- releasing hormones, yang merupakan sinyal bagi hipofisis untuk menyesekresi hormone gonadotropik. Hormone gonadotropik

menstimulasi sel ovarian untuk memproduksi estrogen dan sel testis untuk memproduksi testosterone. Hormone ini berperan dalam perkembangan karakteristik seks sekunder seperti pertumbuhan rambut dan perubahan suara serta memainkan peran penting dalam reproduksi. Pemahaman tentang perubahan hormonal ini memungkinkan perawat meyakinkan adolesens dan mengajarkan pada mereka kebutuhan perawatan tubuh. 2. 1.3. Perkembangan Kognitif Perubahan yang terjadi dalam pemikiran dan perluasan lingkungan adolesens mengakibatkan pada aktivitas formal, tingkat tertinggi perkembangan intelektual, menurut Piaget. Adolesens mengembangkan kemampuan menyelesaikan masalah melalui

tindakan logis. Remaja dapat berpikir abstrak dan menghadapi masalah hipoetik secara efektif. Jika berkonfrontasi dengan masalah, remaja dapat mempertimbangkan beragam penyebab dan solusi yang sangat banyak. Perkembangan kompleks pemikiran pada periode ini membuat adolesens mempertanyakan masyarakat dan nilai- nilainya. Meskipun adolesens memiliki kemampuan untuk berpikir sebaik orang dewasa, mereka tidak memiliki pengalaman karena kemampuan ini harus dibangun. Umum bagi remaja memikirkan bahwa orang tua mereka

14

terlalu sempit pemikirannya atau terlalu materialistic. Kemampuan kognitif dan penampilan sangat bervariasi di antara adolesens. 2. 1.3.a. Keterampilan Bahasa Perkembangan berbahasa pada adolesens hampir

lengkap, meskipun kosakatanya terus meluas. Focus utama pada keterampilan komunikasi yang dapat digunakan secara efektif dalam berbagai situasi. Adolesens perlu

mengkomunikasikan pemikiran, perasaannya, dan kenyataan pada sebaya, orang tua, guru, dan orang- orang yang berwenang lain. Keterampilan yang digunakan dalam situasi komunikasi yang berbeda ini bervariasi. Adolesens harus memilih orang yang dapat di ajak berkomunikasi,

memutuskan pesan yang pasti, dan memilih cara untuk memindahkan pesan. Keterampilan komunikasi yang baik merupakan hal yang kritis sehingga adolesens dapat mengatasi tekanan sebayanya untuk ikut dalam perilaku yang tidak sehat. 2. 1.4. Perkembangan Psikososial Pencarian identitas diri merupakan tugas utama perkembangan psikososial adolesens. Remaja harus membentuk hubungan sebaya yang dekat atau tetap terisolasi secara social. Erikson memandang bingung identitas (atau peran) sebagai bahaya utama pada tahap ini dan menyarankan pengelompokkan dan intoleransi perbedaan yang terlihat pada perilaku adolesens dipertahankan terhadap bingung identitas (Erikson, 1986).

15

2. 1.4.a. Identitas Moral Perkembangan penilaian moral bergantung sekali pada keterampilan kognitif dan komunikasi serta interaksi sebaya. Kohlberg (1964) menerangkan perkembangan moral dalam setiap tahap. Pada tingkat tertinggi, moralitas didapat dari prinsip hati nurani individu. Adolesens menilai diri mereka sendiri dengan ide internal, yang sering menyebabkan konflik antara nilai diri dan kelompok. 2. 1.5. Masalah Kesehatan Spesifik pada Periode Adolesens Kecelakaan tetap merupakan penyebab utama kematian pada adolesens (sekitar 70%). Kecelakaan kendaraan bermotor, yang merupakan penyebab umum terbanyak, mengakibatkan hampir setengah kematian pada usia 16 samapai 19 tahun (Edelman dan Mandle, 1994). Kecelakaan ini sering dikaitkan dengan intoksikasi alkohol atau penyalahgunaan obat. Penyalahgunaan zat merupakan kenyataan masalah utama bagi mereka yang bekerja dengan adolesens. Adolesens dapat meyakini bahwa zat yang mengubah alam perasaan menciptakan perasaan sejahtera atau membuktikan tingkat penampilan. Beberapa adolesens percaya bahwa penggunaan zat membuat mereka lebih matur. Bunuh diri merupakan penyebab utama kematian ketiga pada adolesens usia antara 15 dan 24 tahun (Hawton, 1990); kecelakaan dan pembunuhan merupakan penyebab utama. Depresi dan isolasi social biasanya mendahului usaha bunuh diri, tetapi bunuh diri mungkin juga sebagai akibat dari kombinasi beberapa factor.

16

Perawat harus waspada terhadap tanda peringatan berikut, yang sering terjadi sedikitnya sebulan sebelum melakukan usaha bunuh diri (Mattson, 1992) : 1. Penurunan kinerja di sekolah 2. Menarik diri 3. Hilangnya inisiatif 4. Kesepian, kesedihan, dan menangis 5. Gangguan selera tidur 6. Verbalisasi gagasan bunuh diri Menurut the Centers for Disease Control and Prevention (1993), 54% adolesens antara kelas sembilan dan duabelas mengakui telah melakukan hubungan seksual setidaknya sekali. Tingkat aktivitas seksual di antara remaja mungkin tidak berubah secara signifikan, tetapi tingkat persetujuan melakukan aktivitas di antara mereka dapat berubah. Data dari the Centers for Disease Control and Prevention (1991) menunjukkan bahwa 22% remaja melaporkan melakukan hubungan seksual dengan sedikitnya empat pasangan. Dua konsekuensi yang menonjol pada aktivitas seksual adolesens adalah penyakit menular seksual dan kehamilan. Penyakit menular seksual (PMS) dialami sekitar 10 juta orang per tahun di bawah usia 25 tahun. Pemeriksaan fisik pada adolesens yang aktif secara seksual setiap tahun harus meliputi pemeriksaan seksama genitalia sehingga kondilomata akuminata (kutil genital), herpes, Phthirus pubis (kutu), kanker sipilitif, dan PMS lain tidak terlewat. Uji yang direkomendasi bagi wanita meliputi smear Papanicolaou (Pap smear), kultur serviks untuk jenis gonore dan spesies Chlamyda dan uji sifilis. Jika pria melakukan

17

aktivitas homoseksual, kultur rectal dan faring juga perlu dilakukan untuk memeriksa adanya gonore. Human immunodeficiency virus (HIV), yang menyebabkan AIDS, ditularkan melalui hubungan seksual tanpa perlindungan, penggunaan jarum bersama, dan melalui produk dagang yang terinfeksi. Saat ini sekitar 30.000 adolesens terinfeksi- AIDS tinggal di Amerika Serikat; AIDS merupakan penyebab utama keenam pada individu berusia antara 15 dan 16 tahun (CDC, 1994). Adolesens yang menempatkan dirinya pada risiko AIDS harus diuji adanya HIV. 2. 1.6. Krisis Pada Remaja Krisis (crisis) disini didefinisikan sebagai suatu masa perkembangan identitas di mana remaja memilah- milah alternatifalternatif yang berarti dan tersedia. Masa remaja merupakan saat berkembangnya identity (jati diri). Erikson meyakini bahwa perkembangan identity pada masa remaja berkaitan erat dengan komitmennya terhadap okupasi masa depan, peran- peran masa dewasa dan system keyakinan pribadi (Nancy J. Cobb, 1992: 75). Apabila remaja gagal mengintegrasikan aspek- aspek dan pilihan atau merasa tidak mampu memilih, maka dia akan mengalami kebingungan (confusion). Dalam mengolaborasi teori Erikson tentang identity remaja, James Marcia dkk. mengemukakan bahwa ada empat alternative bagi remaja dalam menguji diri dan pilihan- pilihannya, yaitu sebagai berikut :

18

1. Identity Achievement, yang berarti bahwa setelah remaja memahami pilihan yang realistik, maka dia harus membuat pilihan dan berperilaku sesuai dengan pilihannya. 2. Identity Foreclosure, yang berarti menerima pilihan orangtua tanpa mempertimbangkan pilihan- pilihan. 3. Identity Diffusion yang berarti kebingungan tentang siapa dirinya, dan mau apa dalam hidupnya. 4. Moratorium, yang menurut Erikson berarti penundaan dalam komitmen remaja terhadap pilihan- pilihan aspek pribadi atau okupasi. Marcia memperluas pengertiannya, yaitu meliputi usaha- usaha yang aktif remaja untuk menghadapi krisis pembentukan identitas diri. Dalam hal ini Erikson menyadari bahwa remaja dalam masyarakat yang kompleks mengalami krisis identitas atau periode moratorium dan kebingungan yang temporer. Perkembangan identitas ini dipengaruhi oleh berbagai factor, diantaranya sebagai berikut: 1. Iklim keluarga, Apabila hubungan antaranggota keluarga hangat, harmonis, serta sikap perlakuan orangtua terhadap anak positif atau penuh kasih sayang, maka remaja akan mampu

mengembangkan identitasnya secara realistik dan stabil (sehat). Namun apabila sebaliknya, yaitu hubungan keluarga penuh konflik, tegang dan perselisihan, serta orangtua bersikap keras dan kurang memberikan kasih sayang, maka remaja akan mengalami kegagalan dalam mencapai identitasnya secara matang, dia akan mengalami kebingungan, konflik atau frustasi.

19

2. Tokoh idola, yaitu orang- orang yang dipersepsi oleh remaja sebagai figure yang memiliki posisi di masyarakat. 3. Peluang pengembangan diri, dalam hal ini, eksperimentasi atau pengalaman dalam menyampaikan gagasan, penampilan peranperan dan bergaul dengan orang lain (dalam aktivitas yang sehat) sangatlah penting bagi perkembangan identitasnya. Dalam upaya membantu remaja atau siswa (SLTP/ SLTA) menemukan identitas dirinya, Woolfolk (1995: 73) menyarankan sebagai berikut : 1. Berilah para siswa informasi tentang pilihan- pilihan karier dan peran- peran orang dewasa. Caranya : (1) menyarankan kepada remaja untuk membaca literature yang isinya menyangkut dunia kerja; dan (2) mendatangkan narasumber untuk menjelaskan tentang bagaimana dan mengapa mereka memilih tentang profesi yang dijalaninya. 2. Membantu siswa untuk menemukan sumber- sumber untuk memecahkan masalah pribadinya. Caranya : (1) mendorong keberanian mereka untuk berbicara kepada konselor (guru pembimbing), dan (2) mendiskusikan potensi- potensi dirinya. 3. Bersikap toleran terhadap tingkah laku remaja yang dipandang aneh, seperti dalam berpakaian. Caranya, dengan mendiskusikan tentang tatakrama dalam berpakaian atau berpenampilan yang baik. 4. Memberi umpan balik yang realistik terhadap siswa tentang dirinya. Caranya : (1) pada saat siswa berperilaku menyimpang, maka diskusikanlah dengan mereka tentang dampaknya baik terhadap dirinya maupun terhadap orang lain, (2) memberi

20

contoh kepadaa siswa tentang orang lain yang berhasil baik dalam studi maupun dalam bekerja, dan (3) mendiskusikan tentang penampilan atau perilaku yang menyimpang atau malasuai (factor penyebab, dampak dan solusinya). 2. 2. Komunikasi Keluarga 3. 2.1. Pengertian Komunikasi Komunikasi adalah proses pengoperasian rangsangan

(stimulus) dalam bentuk lambang atau simbol bahasa gerak (nonverbal), untuk mempengaruhi perilaku orang lain. Stimulus atau rangsangan dapat berupa suara/ bunyi atau bahasa lisan, maupun gerakan, tidakan atau simbol- simbol yang diharapkan dapat dimengerti oleh pihak lain dan pihak lain tersebut merespons atau bereaksi sesuai dengan maksud pihak yang memberikan stimulus. 2. 2.2. Unsur dalam komunikasi Ada tiga unsur utama dalam komunikasi, yaitu komunikator, pesan dan komunikan. Selain ketiga unsur tersebut terdapat unsur lain, yakni proses pembentukkan dan penyampaian pesan (encoding), saluran (channel), dan proses penerimaan pesan (encoding), serta umpan balik (feedback).

2. 2.3. Jenis Komunikasi 2. 2.3.a. Komunikasi Berdasarkan Bentuk Berdasarkan bentuk komunikasi antarindividu,

komunikasi dapat dibedakan atas komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. 1) Komunikasi verbal, merupakan pertukaran informasi dengan menggunakan kata- kata, baik dalam bentuk lisan

21

maupun tertulis. Komunikasi verbal bergantung pada bahasa. Contoh adalah ketika perawat member penjelasan kepada klien, saat dokter membuat catatan perkembangan. 2) Komunikasi nonverbal, merupakan pertukaran informasi tanpa penggunaan bahasa/ katakata. Komunikasi

nonverbal disebut juga bahasa tubuh (body language). Informasi dapat dikomunikasikan kepada orang lain secara nonverbal dengan berbagai cara, seperti penggunaan sentuhan, kontak mata, ekspresi wajah, postur, gerak tubuh, posisi tubuh, kondisi fisik umum, gaya berpakaian, suara, dan keadaan senyap.

1. 2.4. Pola komunikasi dalam keluarga ( Friedman, 1998 : 235- 239, Friedman, Bowden, & Jones, 2003 : 270- 280 ). 2. 2.4.a. Pola komunikasi fungsional Pola komunikasi fungsional dipandang sebagai kunci bagi sebuah keluarga yang berhasil dan sehat dan

didefinisikan sedemikian rupa, transmisi langsung, dan penyambutan terhadap pesan, baik pada tingkat instruksi maupun isi ( Sell, 1993 dalam Friedman, 1998 ) dan juga kesesuaian antara tingkat perintah/ instruksi dan isi (Sattir, 1983 dalam Friedman, 1998). Dengan kata lain komunikasi fungsional dalam lingkungan keluarga menuntut bahwa maksud dan arti dari pengirim yang dikirim lewat saluransaluran yang relatif jelas dan bahwa penerima pesan mempunyai suatu pemahaman terhadap arti dari pesan itu mirip dengan pengirim ( Sell, 1973, dalam Friedman 1998 ). Sebagai komunikasi seorang fungsional penerima harus pesan memiliki dalam pola

kemampuan

mendengar secara efektif yang berarti dapat memusatkan

22

perhatian

secara

penuh

terhadap

apa

yang

sedang

dikomunikasikan. Mendengar secara aktif berarti menjadi sungguh- sungguh, memikirkan kebutuhan keinginan orang lain, dan tidak menganggu komunikasi pengirim. Keluargakeluarga dengan keluarga polafungsional pola adalah keluargafungsional,

komunikasi

keterbukaan nilai, saling hormat menghormati perasaan, pikiran dan perhatian, spontanitas, autensitas, dan membuka diri. Dalam hubungan dengan membuka diri menyatakan secara tegas bahwa anggota kelurga yang berbicara terbuka satu sama lain adalah orang cukup percaya diri untuk mempertaruhkan interaksi yang penuh arti (Friedman, 1998). 2. 2.4.b. Pola komunikasi disfungsional Berbeda dengan pola komunikasi fungsional, pola komunikasi disfungsional didefinisikan sebagai pengirim (transmisi) dan penerima isi dan perintah dari pesan yang tidak jelas/ tidak langsung atau ketidaksepadanan antara tingkat isi dan perintah dari pesan. Salah satu faktor utama yang melahirkan pola- pola komunikasi yang tidak berfungsi (disfugsional) adanya harga diri yang rendah dari keluarga maupun anggotanya, khususnya orang tua. Tiga nilai terkait yang terus menerus menghidupkan harga diri rendah adalah pemusatan pada diri sendiri, perlunya persetujuan total dan kurang empati. Pemusatan pada diri sendiri dicirikan oleh

memfokuskan pada kebutuhan sendiri, mengesampingkan kebutuhan, perasaan, dan perfektif orang lain. Jika individu harus memberi, mereka akan melakukannya dengan enggan dan dengan cara bermusuhan, defensive, dan mengorbankan diri. Anggota keluarga yang berpusat pada diri sendiri dan

23

tidak dapat mengenal toleransi perbedaan juga tidak dapat mengenal efek dari pikiran, perasaan, dan perilaku mereka sendiri terhadap anggota keluarga yang lain. Mereka juga tidak memahami pikiran, perasaan, dan perilaku keluarga lain (Friedman, 1998).

2. 3. Keluarga M.I. Soelaeman (1978 :4-5) mengemukakan pendapat para ahli mengenai pengertian keluarga, yaitu: 1. F.J. Brown berpendapat bahwa ditinjau dari sudut pandang sosiologis, keluarga dapat diartikan dua macam, yaitu a) dalam arti luas, keluarga meliputi semua pihak yang ada hubungan darah atau keturunan yang dapat dibandingkan dengan clan dan anak. 2. Maciver menyebutkan lima ciri khas keluarga yang umum dapat di mana- mana, yaitu a) hubungan berpasangan kedua jenis, b) perkawinan atau bentuk ikatan lain yang mengokohkan hubungan tersebut, c) pengakuan akan keturunan, d) kehidupan ekonomis yang diselenggarakan dan dinikmati bersama, dan e) kehidupan berumah tangga.

2. 3.1. Tipe Keluarga Sudardja Adiwikarta (1988: 66-67) dan Sigelman& Shaffer (1995: 390-391) berpendapat bahwa keluarga merupakn unit sosial terkecil yang bersifat universal, artinya terdapat pada setiap masyarakat di dunia (universe) atau suatu sistem sosial yang terpancang (terbentuk) dalam sistem sosial yang lebih besar. Besar kecilnya keluarga mempengaruhi perkembangan sosial anak. Secara tradisional tipe keluarga dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu : 1. Keluarga Inti (nuclear family) adalah keluarga yang hanya terdiri dari ayah, ibu dan anak yang diperoleh dari keturunannya atau adopsi atau keduanya.

24

2. Keluarga Besar (extended family) adalah keluarga inti di tambah dengan keluarga lainnya yang masih mempunyai hubungan darah (kakek- nenek, paman- bibi). Perubahan sosial budaya yang terjadi dewasa ini telah menyebabkan perubahan dalam semua aspek kehidupan

bermasyarakat termasuk keluarga. Dalam hal ini Dadang Hawari (1997: 165-166) mengemukakan sebagai berikut: Perubahan- perubahan yang serba cepat sebagai konsekuensi globalisasi, modernisasi, industrialisasi, dan iptek telah

mengakibatkan perubahan pada nilai- nilai kehidupan sosial dan budaya. Dalam masyarakat modern, telah terjadi perubahan dalam cara mendidik anak dan remaja dalam keluarga. Misalnya, orangtua memberikan banyak kelonggaran dan serba boleh (greater permissiveness) kepada anak dan remaja. Demikian pula pola hidup konsumtif telah mewarnai kehidupan anak dan remaja di perkotaan, yang dampaknya adalah kenakalan remaja.

2. 3.2. Peranan dan Fungsi Keluarga Apabila mengaitkan peranan keluarga dengan upaya memenuhi kebutuhan individu dari Maslow, maka keluarga merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Melalui perawatan dan perlakuan yang baik dari orangtua, anak dapat memenuhi kebutuhan- kebutuhan dasarnya, baik fisik- biologis maupun sosiopsikologisnya. Apabila anak telah memperoleh rasa aman, penerimaan social dan harga dirinya, maka anak dapat memenuhi kebutuhan tertingginya, yaitu perwujudan diri (selfactualization). Berdasarkan sudut pandang sosiologis, fungsi keluarga ini dapat diklasifikasikan ke dalam fungsi- fungsi berikut :

25

1. Fungsi Biologis Keluarga dipandang sebagai pranata social yang memberikan legalitas, kesempatan dan kemudahan bagi para anggotanya untuk memenuhi kebutuhan dasar biologisnya. Kebutuhan itu meliputi (a) pangan, sandang, dan papan, (b) hubungan seksual suami- istri, dan (c) reproduksi atau pengembangan keturunan (keluarga yang dibangun melalui pernikahan merupakan tempat penyemaian bibit- bibit insan yang fitrah). 2. Fungsi Ekonomis Keluarga (dalam hal ini ayah) mempunyai kewajiban untuk menafkahi anggota keluarganya (istri dan anak) 3. Fungsi Pendidikan (Edukatif) Keluarga merupakan lingkunngan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Keluarga berfungsi sebgai transmiter budaya atau mediator social budaya bagi anak (Hurlock, 1956; dan Pervin, 1970). Menurut UU No. 2 tahun 1989 Bab IV Pasal 10 Ayat 4 : Pendidikan Keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral, dan keterampilan. 4. Fungsi Sosialisasi Keluarga berfungsi sebagai miniature masyarakat yang

mensosialisasikan nilai- nilai atau peran- peran hidup dalam masyarakat yang harus dilaksanakan oleh para anggotanya. 5. Fungsi Perlidungan (Protektif) Keluarga berfungsi sebagai pelindung bagi para anggota keluarganya menimbulkan anggotanya. dari gangguan, ancaman (fisikatau kondisi yang para

ketidaknyamanan

psikologis)

26

6. Fungsi Rekreatif Keluarga harus ditata sedemikian rupa, seperti menyangkut aspek interior rumah, hubungan komunikasi yang tidak kaku

(kesempatan berdialog bersama sambil santai), makan bersama, bercengkrama dengan penuh suasana humor, dan sebagainya. 7. Fungsi Agama Keluarga berfungsi sebagai penanaman nilai- nillai agama kepada anak agar mereka memiliki pedoman hidup yang benar. Para anggota keluarga yang memiliki keyakinan yang kuat terhadap Tuhan akan memiliki mental yang sehat, yakni mereka akan terhindar dari beban- beban psikologis dan mampu menyesuaikan dirinya secara harmonis dengan orang lain, serta berpartisipasi aktif dalam memberikan kontribusi secara konstruktif terhadap kemajuan atau kesejahteraan masyarakat.

2. 3.3. Peranan Saudara Sekandung Hubungan saudara sekandung remaja meliputi menolong, berbagi, mengajar bertengkar, dan bermain, dan saudara sekandung remaja bisa bertindak sebagai pendukung emosi, lawan, dan teman berkomunikasi (Vandell, 1987). Dalam berhadapan dengan teman sebaya, menghadapi guru yang sulit, dan mendiskusikan masalah yang tabu (seperti seks), saudara sekandung bisa lebih berpengaruh dalam melakukan sosialisasi terhadap remaja dibandingkan dengan orang tua. Lebih jauh, dalam suatu penelitian, anak- anak menunjukkan perilaku yang lebih konsisten ketika berinteraksi dengan saudara sekandung, dan perilaku yang lebih bervariasi ketika berinteraksi dengan orang tua (Baskett& Johnson, 1982).

27

2. 3.4. Pola Hubungan Orangtua- Anak (Sikap atau Perlakuan Orangtua terhadap Anak Terdapat beberapa pola sikap atau perlakuan orangtua terhadap anak yang masing- masing mempunyai pengaruh tersendiri terhadap kepribadian anak (Hurlock, 1956: 504- 512; Schneiders, 1964: 150156; Lore, 1970: 145). Pola- pola tersebut dapat disimak pada tabel berikut :

Tabel 2.1. Sikap atau Perlakuan Orangtua dan Dampaknya terhadap Kepribadian Anak Pola orangtua 1. Overprotection (terlalu melindungi) 1. Kontak yang berlebihan 1. Perasaan tidak aman 2. Agresif dan dengki pemberian 3. Mudah merasa gugup 4. Melarikan kenyataan 5. Sangat tergantung 6. Ingin menjadi pusat diri dari perlakuan Perilaku orangtua Profil tingkah laku anak

dengan anak. 2. Perawatan/

bantuan kepada anak yang terus- menerus, meskipun anak sudah mampu merawat dirinya sendiri. 3. Mengawasi kegiatan anak secara berlebihan. 4. Memecahkan masalah anak.

perhatian 7. Bersikap menyerah 8. Lemah dalam ego

strength. Aspiratif dan toleransi terhadap frustasi 9. Kurang mampu

28

mengendalikan emosi 10. Menolak tanggung jawab 11. Kurang percaya diri 12. Mudah terpengaruh 13. Peka terhadap kritik 14. Bersikap yes men 15. Egois/ selfish 16. Suka bertengkar 17. Troublemaker (pembuat onar) 18. Sulit dalam bergaul 19. Mengalami homesick 2. Permissiveness (Pembolehan) 1. Memberikan kebebasan 1. Pandai keluar 2. Dapat bekerjasama 3. Percaya diri 4. Penuntut dan tidak sabaran mencari jalan

untuk berpikir atau berusaha 2. Menerima gagasan/ pendapat 3. Membuat anak merasa

diterima dan merasa kuat 4. Toleran dan memahami

kelemahan anak 5. Cenderung lebih suka

memberi yang diminta anak daripada menerima

29

3. Rejection (Penolakan)

1. Bersikap masa bodoh 2. Bersikap kaku 3. Kurang memperdulikan

1. Agresif (mudah marah, gelisah, tidak patuh/ keras kepala, suka bertengkar

dan nakal) 2. Submissive (kurang dapat

kesejahteraan anak 4. Menampilkan sikap

mengerjakan pemalu,

tugas, suka

permusuhan atau dominasi terhadap anak

mengasingkan diri, mudah tersinggung dan penakut) 3. Sulit bergaul 4. Pendiam 5. Sadis

4. Acceptance (Penerimaan)

1. Memberikan perhatian dan cinta kasih yang tulus kepada anak 2. Menempatkan anak dalam posisi yang penting di dalam rumah 3. Mengembangkan hubungan yang hangat dengan anak 4. Bersikap respek terhadap anak 5. Mendorong anak untuk

1. Mau (kooperatif)

bekerjasama

2. Bersahabat (friendly) 3. Loyal 4. Emosinya stabil 5. Ceria dan bersikap optimis 6. Mau menerima tanggung jawab 7. Jujur 8. Dapat dipercaya 9. Memiliki perencanaan

menyatakan perasaan atau pendapatnya

30

6. Berkomunikasi dengan anak secara terbuka dan mau mendengarkan masalahnya

yang jelas untuk mencapai masa depan 10. Bersikap realistik

(memahami kekuatan dan kelemahan dirinya secara objektif) 5. Domination (Dominasi) Mendominasi anak 1. Bersikap sopan dan sangat berhati- hati 2. Pemalu, penurut, inferior dan mudah bingung 3. Tidak dapat bekerjasama 6. Submission (Penyerahan) 1. Senantiasa memberikan 1. Tidak patuh 2. Tidak bertanggung jawab 3. Agresif dan teledor/ lalai 4. Bersikap otoriter 5. Terlalu percaya diri 7. Punitiveness/ Overdisclipine (Terlalu disiplin) 1. Mudah hukuman 2. Menanamkan secara keras kedisiplinan memberikan 1. Impulsive 2. Tidak dapat mengambil keputusan 3. Nakal 4. Sikap bermusuhan atau agresif

sesuatu yang diminta anak 2. Membiarkan berperilaku rumah anak semaunya di

31

Dari ketujuh sikap atau perlakuan orangtua itu, tampak bahwa sikap acceptance merupakan yang baik untuk dimiliki atau dikembangkan oleh orangtua untuk pengembangan kepribadian anak yang sehat.

2. 3.5. Konflik Orang Tua- Remaja Masa awal remaja adalah waktu dimana konflik orang tuaremaja meningkat lebih dari konflik orang tua- anak (Montemayor, 1982; Steinberg, 1991). Peningkatan ini bisa terjadi karena beberapa factor yang telah dibicarakan yang melibatkan pendawasaan remaja dan pendewasaan orang tua: perubahan biologis pubertas, perubahan kognitif termasuk meningkatnya idealism dan penalaran logis, perubahan social yang berpusat kebebasan dan jati diri, harapan yang tak tercapai, dan perubahan fisik, kognitif, dan sosial orang tua sehubungan dengan usia paruh baya. Dan konflik yang berat dan berkepanjangan ini berkaitan dengan beberapa masalah remajapindah dari rumah, kenakalan remaja, dikeluarkan dari sekolah, kehamilan dan pernikahan dini, keanggotaan dalam pemujaan religious, dan penyalahgunaan obat- obatan (Brook dkk, 1990; Ullman, 1982).

2. 4. Perkembangan Sosial Remaja Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan remaja, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi remaja. Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian remaja lebih banyak ditentukan oleh keluarga, pola pergaulan, etika berinteraksi dengan orang lain banyak ditentukan oleh keluarga. Pengalaman remaja dalam berinteraksi dengan seluruh anggota

32

keluarga merupakan penentu pula dalam berinteraksi dengan orang lain di kemudian hari. 2. 4.1. Perkembangan Sosial Pada masa remaja berkembang social cognition yaitu kemampuan untuk memahami orang lain. Pemahamannya ini, mendorong remaja untuk menjalin hubungan social yang lebih akrab dengan mereka (terutama teman sebaya), baik melalui jalinan persahabatan maupun percintaan (pacaran). Pada masa ini juga berkembang sikap conformity, yaitu kecenderungan untuk menyerah atau mengikuti opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran (hobby) atau keinginan orang lain (teman sebaya). Perkembangan sikap konfomitas pada remaja dapat memberikan dampak yang positif maupun negative bagi dirinya. Remaja sebagai bunga dan harapan bangsa serta pemimpin di masa depan sangat diharapkan dapat mencapai perkembangan social secara matang, dalam arti dia memiliki penyesuaian social (social adjustment) yang tepat. Penyesuaian social ini dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mereaksi secara tepat terhadap realitas social, situasi, dan relasi . Remaja dituntut untuk memiliki kemampuan penyesuaian social ini, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Karakteristik penyesuaian social remaja di tiga lingkungan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Di Lingkungan Keluarga a. Menjalin hubungan yang baik dengan para anggota keluarga (orangtua dan saudara). b. Menerima otoritas orangtua (mau menaati peraturan yang ditetapkan orangtua). c. Menerima tanggung jawab dan batasan- batasan (norma) keluarga.

33

d. Berusaha untuk membantu anggota keluarga, sebagai individu maupun kelompok dalam mencapai tujuannya. 2. Di Lingkungan Sekolah a. Bersikap respek dan mau menerima peraturan sekolah. b. Berpartisipasi dalam kegiatan- kegiatan sekolah. c. Menjalin persahabatan dengan teman- teman di sekolah. d. Besikap hormat terhadap guru, pemimpin sekolah, dan staf lainnya. e. Membantu sekolah dalam merealisasikan tujuan- tujuannya. 3. Di Lingkungan Masyarakat a. Mengakui dan respek terhadap hak- hak orang lain. b. Memelihara jalinan persahabatan dengan orang lain. c. Bersikap simpati dan altruis terhadap kesejahteraan orang lain. d. Bersikap respek terhadap nilai- nilai, hukum, tradisi, dan kebijakan- kebijakan masyarakat (Alexander A. Schneiders, 1964: 452- 460).

2. 4.2. Perkembangan Kesadaran Beragama (Masa Remaja Awal Usia 13- 16 tahun) Pada masa ini terjadi perubahan jasmani yang cepat, sehingga menungkinkan terjadinya kegoncangan emosi, kecemasan, dan kekhawatiran. Bahkan, kepercayaan agama yang telah tumbuh pada umur sebelumnya, mungkin pula mengalami kegoncangan.

Kepercayaan kepada Tuhan kadang- kadang sangat kuat, akan tetapi kadang-kadang menjadi berkurang yang terlihat pada cara ibadahnya yang kadang- kadang rajin dan kadang- kadang malas. Apabila remaja kurang mendapat bimbingan keagamaan dalam keluarga, kondisi keluarga yang kurang harmonis, orangtua yang kurang memberikan kasih sayang dan berteman dengan kelompok sebaya yang kurang menghargai nilai- nilai agama, maka kondisi ini

34

akan menjadi pemicu berkembangnya sikap dan perilaku remaja yang kurang baik atau asusila, seperti pergaulan bebas, minum- minuman keras, mengisap ganja dan menjadi pembuat keonaran dalam masyarakat.

2. 5. Penelitian Terkait Sepengetahuan penelitian, penelitian dengan judul Hubungan karakteristik remaja dan pola komunikasi dalam keluarga dengan perkembangan sosial remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor ini belum pernah dilakukan. Dalam penelusuran yang dilakukan peneliti, terdapat beberapa penelitian yang berhubungan diantaranya : 1. Berdasarkan penelitian I Nyoman Gede Sanjaya (2008) yang berjudul Hubungan Komunikasi Orang Tua dengan Perilaku Seksual Mahasiswa S1 Program Studi Ilmu Keperawatan dan S1 Teknik Informatika Angkatan 2007/ 2008 di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta menunjukkan bahwa hasil penelitian dengan analisis univariat 54 responden (54,0%) yang memiliki perilaku seksual menyimpang dan 56 responden (56,0%) yang memiliki komunikasi baik dengan orang tuanya. Dari analisa bivariat menunjukkan adanya hubungan bermakna antara variable jenis kelamin (p=0,018), tipe keluarga (p=0,041) dan pekerjaan ibu (p=0,018) terhadap perilaku seksual remaja. 2. Berdasarkan penelitian Elfrida Juli Erni Hutabarat (2009) yang berjudul Pola Komunikasi dengan Orang Tua Tunggal di Kelurahan Bangun Mulia Kecamatan Medan Amplas menunjukkan bahwa hasil penelitian ini dari 52 responden mayoritas keluarga dengan orang tua tunggal memiliki pola komunikasi fungsional (82, 69%), dan orang tua tunggal memiliki pola komunikasi disfungsional (17,31%). %). Hasil penelitian ini merupaka fakta yang dapat digunakan untuk praktek keperawatan keluarga. Dengan penelitian ini diharapkan kepada semua pihak dapat 35

memahami pola komunikasi keluarga dengan orang tua tunggal sehingga mempermudah perawat dalam menyampaikan informasi tentang kesehatan kepada keluarga dengan orang tua tunggal. 3. Berdasarkan penelitian Dina Indarsita (2009) yang berjudul Hubungan Faktor Eksternal dengan Perilaku Remaja Dalam Hal Kesehatan Reproduksi di SLTPN Medan menunjukkan bahwa dari sampel 107 orang siswa SLTPN I, 37, dan 41 kelas 3. Hipotesis penelitian ini adalah adanya hubungan antara pendidikan ayah, pendidikan ibu, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, komunikasi orangtua- anak, media komunikasi massa dengan perilaku remaja dalam hal kesehatan reproduksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 28% remaja berperilaku berisiko dalam hal kesehatan reproduksinya dan 72% yang tidak berisiko.

36

2. 6. Kerangka Teori Skema 2. 1.Kerangka Teori

INDEPENDEN Factor Predisposisi : 1. 2. 3. 4. Usia remaja Jenis kelamin Masalah remaja Krisis remaja

DEPENDEN

Factor Pemungkin : 1. Komunikasi fungsional dalam keluarga 2. Komunikasi disfungsional dalam keluarga 3. Tipe keluarga 4. Hubungan dengan saudara sekandung Perkembangan Sosial Remaja

Factor Penguat : 1. Sumber informasi 2. Lingkungan (keluarga, sekolah, masyarakat) 3. Teman sebaya 4. Budaya

(Sumber Lawrence Green dalam Soekidjo Notoatmodjo, 2003)

37

BAB III KERANGKA KONSEP

Pada bab ini akan di bahas tentang beberapa konsep yang mendasari penelitian yang dibuat dalam kerangka agar mudah dipahami dalam penelitian dan kerangka konsep akan didapatkan gambaran tentang variable yang akan ditanya kepada responden.

3. 1. Kerangka Konsep Menurut Notoatmojo, (2005), kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep- konsep atau variabel- variabel yang akan diamati (diukur) melalui penelitian yang dimaksud dan sesuai dengan apa yang diuraikan dalam tinjauan pustaka. Kerangka ini mengacu pada tujuan penelitian yaitu mengetahui informasi mengenai Pola Komunikasi Remaja 14- 17 Tahun Dalam Keluarga Dengan Perkembangan Sosial Remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor . Kerangka konsep penelitian ini menggunakan model sistem yakni menggunakan variable independen dan dependen. Variable independen (bebas) yaitu variable yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variable dependen (terikat), sedangkan variable dependen (terikat) adalah variable yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena variable bebas (Hidayat, 2007).

38

Skema 3.1 Kerangka Konsep Penelitian Variabel Independen Variabel Dependen

Karakteristik Responden 1. Umur 2. Jenis kelamin

X1 1. Pola komunikasi dalam


keluarga.

Y Perkembangan sosial remaja

1. Uang saku responden 2. Pendidikan orang tua (ayah dan ibu) 3. Pekerjaan orang tua (ayah dan ibu) 4. Penghasilan orang tua (ayah dan ibu) 5. Tipe keluarga

Keterangan : Diteliti Hubungan Tidak ada hubungan

39

3. 2. Hipotesis Hipotesa adalah suatu pernyataan yang masih lemah dan

membutuhkan pembuktian untuk menegaskan apakah hipotesis tersebut dapat diterima atau harus ditolak, berdasarkan fakta atau data empiris yang telah dikumpulkan dalam penelitian. Hipotesis juga merupakan sebuah pernyataan tentang hubungan yang diharapkan antara dua variable atau lebih yang dapat diuji secara empiris (Hidayat, 2007). Jadi, dalam penelitian ini peneliti menarik serangkaian hipotesis bahwa: a. Ada hubungan antara uang saku dengan dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor. b. Tidak ada hubungan antara pendidikan orangtua dengan dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor. c. Tidak ada hubungan antara pekerjaan ayah dengan dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor d. Ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor. e. Ada hubungan antara penghasilan orangtua dengan dengan

perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor. f. Tidak ada hubungan antara tipe keluarga dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor. g. Ada hubungan antara pola komunikasi dalam keluarga dengan perkembangan sosial remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor. 3. 3. Variabel Penelitian Pada penelitian ini yang menjadi variable independennya adalah pola komunikasi dalam keluarga (pola komunikasi fungsional dan pola komunikasi disfungsional). Sedangkan untuk variable dependennya adalah perkembangan social remaja.

40

3. 4. Definisi Operasional Definisi operasional adalah definisi yang dibuat oleh peneliti pada suatu variable dengan cara memberi arti/ menspesifikan kegiatan/ memberikan suatu operasional yang diperlukan untuk mengukur variable tersebut. Untuk memudahkan memahami penelitian ini dan mendapatkan persepsi yang sama. Maka variable- variable dalam penelitian ini akan dijelaskan dalam table sebagai berikut: Tabel 3.1. Definisi Operasional No. Variabel Definisi Operasional 1. Perkembangan sosial remaja Kepribadian individu penyebab timbulnya tingkah laku dan Menggunakan skala sikap Likert yaitu dengan Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Alat Ukur Hasil Ukur 1. Baik : jika nilai jawaban responden yang benar > median (35). 2. Tidak baik : jika jawaban responden yang benar median(35). 1. Pria 2. Wanita Nomin al tidak nilai Ordinal Skala

remaja baik di lingkungan keluarga, sekolah dan

Pernyataan

positif dengan

nilai SS= 4, S= 3, TS= 2, STS= 1, dan sebaliknya bila pernyataan negative nilai SS= 1, S= 2, TS= 3, STS= 4 dengan menggunakan alat ukur Kuesioner, wawancara

masyarakat.

2.

Jenis kelamin

Bentuk

fisik

Kuesioner

manusia yang membedakan antara pria dan wanita. 3. Umur Lama waktu Kuesioner

1. Usia

14-15

Ordinal

41

hidup sampai dengan responden pada mengisi kuesioner. 4. Uang saku Penghasilan yang diperoleh responden dari orang dalam seminggu. 5. Pola komunikasi fungsional keluarga (ayah dan ibu) Antar anggota keluarga saling memiliki keterbukaan, saling menghormati perasaan, pikiran, perhatian. 6. Pola komunikasi disfungsional antara keluarga dan Menggunakan skala Likert yaitu dengan Sangat Sering (SS), Sering (S), Jarang (J), dan Tidak Pernah (TP). Pernyataan positif dengan tua Kuesioner saat

tahun 2. Usia tahun 16-17

1. Rp.70.000 2. > Rp. 70.000

Ordinal

1. Baik : jika nilai jawaban repsonden median (43). 2. Tidak baik : jika jawaban responden median (43). 1. Baik : jika nilai jawaban repsonden median (43). 2. Tidak baik : jika jawaban responden nilai > nilai >

Ordinal

dengan remaja

nilai SS= 4, S= 3, J= 2, TP= 1. Dengan menggunakan alat ukur kuesioner dan

wawancara.

Antar anggota Menggunakan skala Likert keluarga berpusat pada diri sendiri, dapat yaitu dengan Sangat Sering (SS), Sering (S), Jarang (J), dan Tidak Pernah (TP). Pernyataan negative nilai SS= 1, S= 2, J= 3, TP= 4. Dengan menggunakan alat ukur

Ordinal

(ayah dan ibu) tidak dengan remaja

mengenal toleransi perbedaan, dan

kuesioner dan wawancara.

42

juga pikiran, perasaan perilaku

tidak

median (43).

memahami

dan

keluarga lain. 7. Tipe keluarga Besar kecilnya Kuesioner anggota keluarga daerah responden di asal 1. Keluarga inti (nuclear family) terdiri yang dari Ordinal

ayah, ibu, dan anak 2. Keluarga besar (extended family) terdiri ayah, yang dari ibu,

anak, paman/ bibi, nenek 8. Tingkat pendidikan orang tua Pencapaian tingkat pendidikan formal yang Kuesioner 1. Rendah (Tidak sekolah/ SD/ SMP) 2. Tinggi (SLTA/ Perguruan Tinggi Ordinal kakek/

diselesaikan oleh ayah dan ibu responden 9. Pekerjaan orang tua Pekerjaan ayah dan ibu, Kuesioner

1. Bekerja 2. Tidak bekerja

Ordinal

43

kondisi orangtua dalam memperoleh penghasilan 1 Penghasilan 0 orang tua Pendapatan orang (ayah/ tua ibu) Kuesioner 1. Rp.800.000 2. > Rp.800.000 Ordinal

dalam 1 bulan

44

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN Pada bab ini akan diuraikan tentang jenis penelitian, waktu dan tempat penelitian, populasi sampel dalam penelitian, jenis dan cara pengumpulan data serta pengolahan dan analisa data. 4. 1. Desain Penelitian Desain penelitian merupakan rencana penelitian yang disusun sedemikian rupa sehingga peneliti dapat memperoleh jawaban terhadap pertanyaan penelitian. Desain penelitian mengacu pada jenis atau macam penelitian yang dipilih untuk mencapai tujuan peneltian, serta berperan sebagai alat dan pedoman untuk mencapai tujuan tersebut (Setiadi, 2007). Penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah deskriptif analitik kuantitatif menggunakan metode survey dengan pendekatan cross sectional yang dilengkapi dengan metode pendekatan kualitatif eksploratif melalui wawancara. Rancangan cross sectional adalah jenis penelitian yang menekankan waktu pengukuran/ observasi data variable independen dan dependen hanya satu kali pada satu saat. Pada jenis ini variable independen dan dependen dinilai secara simultan pada suatu saat, jadi tidak ada tindak lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Pola Komunikasi Remaja 14- 17 Tahun Dalam Keluarga dengan Perkembangan Sosial Remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor.

45

4. 2. Lokasi dan Waktu Penelitian 4. 2.1. Tempat Penelitian ini dilakukan di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor. Adapun pertimbangan memilih lokasi ini adalah : 1. Untuk memperoleh data yang valid, sebab sesuai dengan objek penelitian. 2. Belum pernah dilakukan penelitian yang sama di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor khususnya siswa/ siswi kelas X1. 3. Lokasi penelitian ini dekat dengan peneliti sehingga dapat meminimalkan anggaran penelitian.

4. 2.2. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2011.

4. 3. Populasi dan Sampel 4. 3.1. Populasi Populasi merupakan seluruh subjek atau objek dengan karakteristik tertentu yang akan diteliti. Bukan hanya objek atau subjek yang dipelajari saja tetapi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki subjek atau objek tersebut (A. Aziz Alimul Hidayat, 2007: 32). Populasi penelitian ini adalah siswa dan siswi kelas X1 SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor yang berjumlah 240 murid yang terdiri dari 6 kelas. 4. 3.2. Sampel Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Dalam penelitian keperawatan, kriteria sampel meliputi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi, dimana kriteria itu menentukan dapat

46

dan tidaknya sampel tersebut digunakan (A. Aziz Alimul Hidayat, 2007: 32). Sampel penelitian ini ditentukan dengan menggunakan teknik pengambilan sampel dengan metode simple random sampling dimana prinsipnya pengambilan sampel secara acak sederhana adalah apabila besarnya sampel yang diinginkan berbeda- beda, maka besarnya kesempatan bagi setiap satuan elementer untuk terpilih pun berbedabeda (Agus Riyanto, SKM.,M.Kes, 2010: 92). Populasi berjumlah 240 murid. Penelitian ini menggunakan rumus untuk populasi kecil atau lebih kecil dari 10.000 (Notoajmodjo, 2005), maka untuk menentukan besar sampel dapat menggunakan rumus: Penentuan besar sampel :

n=

N 1 + N (d)2

Keterangan : n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi (240 murid) d = Galat pendugaan (10%) n= 240 1 + 240 (0,05)2 = 240 = 150 1,6

Maka hasil perhitungan berdasarkan rumusan tersebut diperoleh jumlah responden sebesar 150 murid dari total

47

populasi

yang

berjumlah

240

murid.

Untuk

antisipasi

ditambahkan 10% menjadi 165 responden yang akan diambil dari Kelas X1 dengan cara simple random sampling. Berdasarkan jumlah responden tersebut dapat di klasifikasikan dengan rumus sebagai berikut :

ni

= Ni x n N

Keterangan : ni n Ni N = Jumlah sampel menurut stratum = Jumlah sampel seluruhnya = Jumlah populasi menurut stratum = Jumlah populasi seluruhnya (Arikunto, 2005).

48

Table 4.1. Besar sampel No. Kelas Jumlah Siswa 1. Kelas X1 Ap 1 38 38 x 150 240 2. Kelas X1 Ap 2 41 41 x 150 240 3. Kelas X1 Ap 3 40 40 x 150 240 4. Kelas X1 Ap 4 40 40 x 150 240 5. Kelas X1 Ap 5 41 41 x 150 240 6. Kelas X1 Ap 6 40 40 x 150 240 Jumlah Sampel 150 Responden 25 26 25 25 26 24 Proporsi Jumlah Sampel

Adapun sampel yang diambil harus memiliki kriteria sebagai berikut : 1. Kriteria Inklusi Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau dan akan diteliti (Nursalam, 2008: 92). Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah : a. Siswa dan siswi aktif kelas X1 SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor. 49

b. Remaja laki- laki dan perempuan yang masih remaja tengah dengan usia 14- 17 tahun. c. Siwa dan siswi yang masih tinggal dengan orang tua kandung. d. Bisa membaca dan menulis. e. Sehat mental f. Siswa dan siswi yang bersedia mengisi atau berpartisipasi dalam mengisi kuesioner. 2. Kriteria Eksklusi Kriteria Eksklusi adalah kriteria di mana subjek penelitian tidak dapat mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian yang penyebabnya antara lain adalah adanya hambatan etis, menolak menjadi responden atau berada pada suatu keadaan yang tidak memungkinkan untuk dilakukan penelitian (A. Aziz Alimul Hidayat, 2007: 32). Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah : a. Siswa dan siswi yang tinggal dengan sanak saudara, tinggal di kostan dan tinggal di rumah kontrakan. b. Siswa dan siswi yang tidak aktif sekolah di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor. c. Siswa dan siswi yang tidak bersedia menjadi responden.

4. 4. Cara Pengumpulan Data Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek dan proses pengumpulaan karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu penelitian (Nursalam, 2008: 111). 1. Studi Kepustakaan Mempelajari atau mendapatkan data yang diperlukan yang bersumber dari buku- buku perpustakaan, literature dan bahan tertulis lainnya yang ada kaitannya dengan penelitian ini.

50

2. Penelitian Lapangan Setelah mendapat izin dari institusi pendidikan dan wilayah yang dituju sebagai tempat penelitian, peneliti mengadakan pendekatan kepada reponden untuk mendapatkan persetujuan menjadi responden dengan mengumpulkan siswa di dalam kelas sesuai dengan besar sampel dan kriteria inklusi yang sudah di tetapkan. Peneliti memberikan kuesioner yang isinya meliputi pertanyaan seputar Hubungan Pola Komunikasi Remaja 14- 17 Tahun Dalam Keluarga dengan Perkembangan Sosial Remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor.

4. 5. Instrument Penelitian Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, yaitu peneliti mengumpulkan data kepada responden untuk responden untuk menjawab pertanyaan secara tertulis. Sebelum instrument penelitian ini digunakan, maka perlu dilakukan uji validitas instrument tersebut. Tujuan uji kuesioner yaitu untuk mengetahui seberapa jauh responden mengerti terhadap pertanyaan yang peneliti ajukan. Uji validitas instrument akan dilakukan di SMA Sejahtera 1 Depok. Keuntungan pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner yaitu data yang diperoleh banyak dalam waktu singkat, menghemat tenaga, menghemat biaya, responden dapat mengisinya sehingga tidak perlu terganggu, dan secara psikologis responden tidak merasa terpaksa dan dapat menjawab lebih terbuka. Kuesioner pada penelitian ini berisi pertanyaan yang menyangkut perilaku remaja tentang pola komunikasi remaja 14- 17 tahun dalam keluarga dengan perkembangan social remaja. Isi kuesioner terdiri dari : 1. Karakteristik responden terdiri dari inisial, umur, jenis kelamin, uang saku. 2. Pertanyaan mengenai karakteristik orang tua sebanyak 4 pertanyaan.

51

3. Pertanyaan pertanyaan.

mengenai

komunikasi

remaja

dengan

keluarga

14

4. Pertanyaan mengenai hubungan social remaja sebanyak 11 pertanyaan.

4. 6. Validitas dan Reabilitas 4. 6.1. Validitas Validitas merupakan ketetapan atau kecermatan pengukuran, valid artinya alat tersebut mengukur apa yang ingin diukur (Agus Riyanto, 2010:144). Uji validitas ini dilakukan sebelum kuesioner disebarkan kepada responden penelitian, dengan cara uji coba terhadap orang diluar responden yang telah ditentukan dan memiliki karakteristik sama dengan sampel peneltian. Tujuan uji coba ini untuk mengetahui pertanyaan dan pernyataan dalam kuesioner tersebut dapat dimengerti atau tidak oleh responden. Pada penelitian ini uji validitas akan dilakukan di SMA Sejahtera 1 Depok, Jawa Barat siswa kelas X dengan mengambil satu kelas dengan 30 responden. Untuk menguji validitas menggunakan Korelasi Pearson Product Moment melalui bantuan computer program windows SPSS (Statistik Program For Social Sciences). n(xy) (xy) r= { nx2 (x)2 }{ ny2 - (y)2 } Keterangan : r n x : Koefisien validitas item yang dicari : Jumlah responden : Skor yang diperoleh subjek dalam setiap item

52

y x y x2 y2 xy

: Skor yang diperoleh subjek dalam setiap item : junlah skor dalam variable X : jumlah skor dalam variable Y : jumlah kuadrat masing- masing skor X : jumlah kuadrat masing- masing skor Y : jumlah perkiraan variable XY

Uji kuesioner dilakukan dengan menyebarkan kuesioner pada siswa yang mempunyai karakteristik hampir sama dengan responden sejumlah 30 responden. Setelah kuesioner disebarkan selanjutnya diolah dengan metode SPSS 17.0. Berdasarkan total responden maka hasil uji validitas yang dilakukan didapatkan nilai r table adalah 0,361, jadi untuk nilai Corrected Item-Total Correlation dibawah nilai 0,361 dinyatakan tidak valid dan dikeluarkan dari kuesioner untuk penelitian selanjutnya. Dari 25 pertanyaan yang ada dalam kuesioner, semua pertanyaan valid, sehingga semua pertanyaan tersebut dapat digunakan dalam penelitian. 4. 6.2. Reabilitas Reliabilitas adalah adanya suatu kesamaan hasil apabila pengukuran dilaksanakan oleh orang yang berbeda ataupun waktu yang berbeda. Sebuah alat evaluasi dipandang reliabel (tahan uji), apabila memiliki konsistensi, keajegan hasil. Uji reliabilitas digunakan hanya untuk menguji item valid saja, Untuk menguji reliabilitas adalah dengan menggunakan metode Alpha-Cronbach. Standar yang digunakan dalam menentukan reliabel atau tidaknya suatu instrumen penelitian umumnya adalah perbandingan antara nilai r hitung diwakili dengan nilai alpha dengan r tabel pada taraf 53

kepercayaan 95% atau tingkat signifikant 5%. Tingkat reliabilitas dengan metode Alpha-Cronbach diukur berdasarkan skala alpha 0 sampai dengan 1. Metode Alpha-Cronbach () merupakan tehnik pengujian reabilitas suatu tes atau angket yang sering digunakan karena dapat digunakan pada tes dengan jawaban dari pertanyaan yang berupa pilihan, dengan pilihan teridiri dari dua pilihan atau lebih (Nurgiyantoro, 2004) Cronbarchs Alpha diperoleh dengan rumus: Arikunto, 2006).

r = -1 1

Keterangan: r = Koefisien t = Jumlah butir pertanyaan atau soal = Variance butir pertanyaan = Variance skor test = Jumlah skor jawaban subjek untuk butir pertanyaan ke-n

54

Table 4.2. Tingkat realibilitas berdasarkan nilai Alpha () Alpha 0,00 s.d 0,20 > 0,20 s.d 0,40 >0,40 s.d 0,60 >0,60 s.d 0,80 >0,80 s.d 1,00 Tingkat Reliabilitas Kurang Reliabilitas Agak Reliabilitas Cukup Reliabilitas Reliabel Sangat Reliabel

Untuk uji reliabilitas dengan program SPSS 17.0 didapatkan nilai Alpha Cronbach adalah 0,788 untuk penilaian pola komunikasi remaja dengan keluarga dan 0,943 untuk penilaian perkembangan sosial remaja, sehingga menurut table tingkat reliabilitas di atas berarti nilai yang didapatkan untuk pola komunikasi remaja dengan keluarga reliable dan penilaian untuk perkembangan sosial remaja sangat reliable, maka disimpulkan kuesioner ini layak untuk disebarkan kepada responden. 4. 7. Pengolahan Data dan Analisis Data 4. 7.1. Pengolahan data Proses pengolahan data yang digunakan adalah Tabulasi dan SPSS, dengan langkah- langkah sebagai berikut: a. Editing Yaitu, merupakan kegiatan melakukan pemeriksaan kembali kuesioner yang telah diisi oleh responden, meliputi : kelengkapan isian, kejelasan jawaban dan tulisan, relevansi jawaban dengan pertanyaan isian kekonsistensian jawaban.

55

b. Coding Yaitu, merubah data yang berbentuk huruf menjadi data yang berbentuk angka. Hal utama yang harus dilakukan pada kegiatan ini adalah memberikan kode untuk jawaban yang diberikan oleh responden penelitian. Penilaian pola

komunikasi orang tua dengan remaja : sangat sering di beri kode 4, sering di beri kode 3, jarang di beri kode 2, dan tidak pernah di beri kode 1. Penilaian hubungan remaja dengan hubungan social remaja : sangat setuju di beri kode 1, setuju di beri kode 2, tidak setuju di beri kode 3, dan sangat tidak setuju di beri kode 4. c. Processing Yaitu, melakukan pemindahan atau memasukkan data dari kuesioner ke dalam computer untuk dip roses. Memasukkan data ke dalam compute dilakukan dengan SPSS. d. Entry Yaitu, melakukan pemasukan data yang sudah di beri kode terlebih dahulu ke computer. e. Cleaning Yaitu, melakukan pembersihan dan pengecekan kembali data masuk. Kegiatan ini diperlukan untuk mengetahui apakah ada kesalahan ketika memasukkan data. f. Komputer Untuk mengolah data dengan computer, peneliti terlebih dahulu perlu menggunakan program tertentu, baik yang sudah tersedi maupun program yang sudah disiapkan secara khusus dapat ditambahkan bahwa dalam ilmu- ilmu social banyak

56

sekali digunakan program SPSS 17 (Statistical Program and Service Solution). Dengan menggunakan program tersebut dapat dilakukan tabulasi sederhana. Tabulasi silang, regresi, korelasi, analisa factor dan berbagai tes statistik. Tabulasi dengan komputer mempunyai beberapa keuntungan bila dibandingkan dengan system yang lain karena : 1) Jumlah sampel penelitian dan jumlah variable dapat sebanyak mungkin. 2) Banyak menghemat tenaga waktu.

4. 7.2. Teknik analisa data Data yang telah diperoleh kemudian dilakukan analisis untuk mendapatkan hubungan pola komunikasi remaja 14- 17 tahun dengan perkembangan social remaja. Desain penelitian ini adalah deskriptif analitik melalui pendekatan cross sectional dengan metode analisa data secara kuantitatif. Proses pengolahan data dilakukan dengan : 1. Analisa Univariat Analisa univariat dipergunakan untuk mengetahui distribusi frekuensi semua variable yang diamati baik variable bebas maupun terikat dengan menggunakan proses

komputerisasi. 2. Analisa Bivariat Yaitu dilakukan terhadap dua variable yang diduga berhubungan atau berkorelasi. Analisa X2 (Chi-Square), digunakan untuk melihat antara 2 variabel dengan rumus : (O E)2 X2 = E

57

Variable yang akan dicari korelasinya yaitu hubungan antara pola komunikasi remaja 14- 17 tahun dalam keluarga dengan perkembangan sosial remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor. Jika nilai O atau E di dalam sel < 5, maka dilakukan Fisher Exact Test dengan rumus. [ (O E)- 0,5]2 X2 = E

Keterangan : X2 E : Statistik Chi- Square : Frekuensi hasil observasi : Frekuensi yang diharapkan DF= (k-1)(b-1)

Keterangan : DF k b : degree of freedom (derajat kebebasan) : jumlah kolom : jumlah baris

Untuk mempermudah analisa Chi Square, nilai data dari kedua variable disajikan dalam bentuk silang. Table 4.3. Analisa Chi Square

Vaiabel I Tinggi Ya Tidak Jumlah A C a+c

Variabel II Rendah B D b+d

Jumlah

a+b c+d N

58

a, b, c, d merupakan nilai observasi, sedangkan nilai ekspetasi (harapan) masing- masing sel dicari dengan rumus : Ea = (a + b) x (a + c) N Keterangan : Ea (a + b) (a + c) N : ekspetasi sel a : total baris : total kolom : jumlah keseluruhan data

Untuk melihat hasil kemaknaan perhitungan statistik digunakan batas kemaknaan 0,05. Penolakan terhadap hipotesa apabila nilai P < 0,05 (ada perbedaan atau ada hubungan yang bermakna antara pola komunikasi remaja 14- 17 tahun dalam keluarga dengan perkembangan social remaja, sedangkan

penerimaan terhadap hipotesa apabila nilai P > 0,05 (tidak ada perbedaan atau ada hubungan yang bermakna antara pola komunikasi remaja 14- 17 tahun dalam keluarga dengan perkembangan social remaja). 4. 8. Etika Penelitian Setelah mendapatkan ijin dari Kepala Sekolah SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor, peneliti menemui guru bimbingan konseling dan kemahasiswaan untuk berkoordinasi mengenai pelaksanaan penelitian. Semua responden yang menjadi subjek penelitian diberi informasi tentang rencana dan tujuan penelitian. Setiap responden diberi hak penuh untuk menyetujui apakah ia bersedia atau menolak menjadi subjek penelitian, dengan cara menandatangani inform consent atau surat pernyataan yang disiapkan oleh penelitian.

59

BAB V HASIL PENELITIAN Pada bab ini peneliti akan menguraikan profil tentang tempat penelitian, hasil penelitian yang terdiri dari analisa univariat, bivariat, dan hasil penelitian berupa wawancara sebagai berikut. 5. 1. Gambaran Umum Wilayah Penelitian 5. 1.1. Profil Sekolah SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Sekolah SMK Mandiri berdiri sejak tahun 2001, sebelum menjadi SMK Mandiri, sekolah ini bernama SMK Wali Songo yang berdiri pada tahun 1998- 2001 di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Wali Songo yang didirikan oleh 9 orang, antara lain: Drs. Anwar Z.A, Ust. Hasannudin, Bahrudin S.Ag, Abdul Khodir S.Ag, Abdul Rahman S.Ag, Iin Solihat, Muhammad Aswad S.Ag, Asnubih. Setelah berganti nama menjadi SMK Mandiri pada tahun 2001 sekolah ini berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Mandiri dengan pendiri sebagai berikut: a. Hj. Nuraya b. H. Ending Syarifuddin Ms, S.Pd c. Patlan d. Drs. H. Mukhtar Yayasan Pendidikan Islam Mandiri, sebagai salah satu pengelola dan penyelenggara pendidikan sekolah tingkat pertama dan kejuruan pada tahun ajaran 2010 telah menerima lebih dari 500 orang siswa, dimana 85% adalah Yatim, Yatim- Piatu dan dhuafa, yang ingin melanjutkan pendidikannya namun tidak mampu dari segi pembiayaan.

60

5. 2. Analisa Hasil Penelitian Analisa hasil penelitian ini akan disajikan dalam bentuk analisa univariat, analisa bivariat, dan dilengkapi dengan hasil wawancara sebagai berikut: 5. 2.1. Analisa Hasil Univariat Analisis deskriptif adalah cara analisis dengan

mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi, pada penelitian ini analisa data dilakukan terhadap 150 responden. Analisa univariat ini terdiri dari data demografi yang meliputi: umur,jenis kelamin, uang saku seminggu, karakteristik orang tua responden yang meliputi pendidikan ayah/ibu, pekerjaan ayah/ibu, penghasilan orang tua, tipe keluarga, pola komunikasi antara remaja dengan keluarga dan perkembangan sosial remaja.

61

5.2.1.a. Umur Responden

Table 5.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor Tahun 2011 Umur 14- 15 tahun 16- 17 tahun Total : Frekuensi 9 141 150 Presentase (%) 6,0 94,0 100%

Berdasarkan table 5.1 diatas terlihat bahwa responden yang berumur 14- 15 tahun 9 responden (6,0%), sedangkan responden berumur 16- 17 tahun 141 responden (94,0%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar siswa siswi SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor adalah berumur 16- 17 tahun.

62

5.2.1.b. Jenis Kelamin Responden

Table 5.2 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Jenis Kelamin di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011 Jenis Kelamin Pria Wanita Total : Frekuensi 78 72 150 Presentase (%) 52,0 48,0 100%

Berdasarkan table 5.2 diatas terlihat bahwa responden pria 78 responden (52,0%), sedangkan responden wanita 72 responden (48,0%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa jumlah siswa siswi SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor hampir berimbang antara pria dan wanita.

63

5.2.1.c. Uang Saku Dalam Seminggu

Table 5.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Uang Saku di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011 Uang saku Rp.70.000 > Rp.70.000 Total : Frekuensi 122 28 150 Presentase (%) 81,3 18,7 100%

Berdasarkan table 5.3 diatas terlihat bahwa responden yang diberikan uang saku dalam seminggu Rp.70.000 sebanyak 122 responden (81,3%), sedangkan responden yang diberikan uang saku dalam seminggu > Rp. 70.000 sebanyak 28 responden (18,7%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar siswa siswi SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor yaitu diberikan uang saku Rp.70.000 dalam seminggu oleh orangtua mereka.

64

5.2.1.d. Pendidikan Ayah Responden

Table 5.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan Ayah di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011

Pendidikan Ayah Rendah Tinggi Total

Frekuensi 79 71 150

Presentase (%) 52,7 47,3 100%

Berdasarkan table 5.4 diatas terlihat bahwa pendidikan Ayah Rendah (Tidak sekolah- Tamat SLTP) sebanyak 79 responden (52,7%), sedangkan yang berpendidikan Tinggi (Tamat SLTA- PT) sebanyak 71 responden (47,3%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa pendidikan ayah siswa siswi SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor hampir berimbang antara pendidikan yang rendah dengan yang tinggi.

65

5.2.1.e. Pendidikan Ibu Responden

Table 5.5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan Ibu di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011

Pendidikan Ibu Rendah Tinggi Total

Frekuensi 96 54 150

Presentase (%) 64,0 36,0 100%

Berdasarkan table 5.5 diatas terlihat bahwa pendidikan Ibu Rendah (Tidak sekolah- Tamat SLTP) sebanyak 96 responden (64,0%), sedangkan yang berpendidikan Tinggi (Tamat SLTA- PT) sebanyak 54 responden (36,0%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar siswa siswi SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor yang memiliki pendidikan Ibu rendah.

66

5.2.1.f. Pekerjaan Ayah Responden

Table 5.6 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan Ayah di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011

Pekerjaan Ayah Bekerja Tidak bekerja Total

Frekuensi 138 12 150

Presentase (%) 92,0 8,0 100%

Berdasarkan table 5.6 diatas terlihat bahwa Ayah yang bekerja sebanyak 138 responden (92,0%), sedangkan Ayah yang tidak bekerja sebanyak 12 responden (8,0%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar siswa siswi SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor memiliki Ayah yang bekerja.

67

5.2.1.g. Pekerjaan Ibu Responden

Table 5.7 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Pekerjaan Ibu di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011 (n=150)

Pekerjaan Ibu Bekerja Tidak bekerja Total

Frekuensi 53 97 150

Presentase (%) 35,3 64,7 100%

Berdasarkan table 5.7 diatas terlihat bahwa Ibu yang bekerja sebanyak 53 responden (35,3%), sedangkan Ibu yang tidak bekerja sebanyak 97 responden (64,7%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar siswa siswi SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor memiliki Ibu yang tidak bekerja.

68

5.2.1.h. Penghasilan Orang Tua

Table 5.8 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Penghasilan Orang tua di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011

Penghasilan Orangtua Rp.800.000 > Rp.800.000 Total

Frekuensi 65 85 150

Presentase (%) 43,3 56,7 100%

Berdasarkan table 5.8 diatas terlihat bahwa penghasilan orangtua Rp. 800.000 sebanyak 65 responden (43,3%), sedangkan penghasilan orangtua > Rp. 800.000 sebanyak 85 responden (56,7%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar orangtua siswa siswi SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor memiliki penghasilan perbulan sebanyak

>Rp.800.000.

69

5.2.1.i. Tipe Keluarga

Table 5.9 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tipe Keluarga di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011

Tipe Keluarga Keluarga Inti Keluarga Besar Total

Frekuensi 132 18 150

Presentase (%) 88,0 12,0 100%

Berdasarkan table 5.9 diatas terlihat bahwa mayoritas tipe keluarga inti sebanyak 132 responden (88,0%), sedangkan yang memiliki keluarga besar sebanyak 18 responden (12,0%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar siswa siswi SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor memiliki tipe keluarga inti.

70

5.2.1.j. Pola Komunikasi Dalam Keluarga Range / kategori : Pola komunikasi dalam keluarga fungsional jika skor responden > 43. Pola komunikasi dalam keluarga responden 43. disfungsional jika skor

Table 5.10 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pola Komunikasi Dalam Keluarga di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011

Pola Komunikasi Disfungsional Fungsional Total

Frekuensi 76 74 150

Presentase (%) 50,7 49,3 100%

Berdasarkan table 5.10 diatas terlihat bahwa mayoritas pola komunikasi disfungsional dalam keluarga sebanyak 76 responden (50,7%), sedangkan yang memiliki pola komunikasi fungsional dalam keluarga sebanyak 74 responden (49,3%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa pola komunikasi dalam keluarga siswa siswi SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor hampir berimbang antara fungsional dan

disfungsional.

71

5.2.1.k. Perkembangan Sosial Remaja Range / kategori : Perkembangan social remaja tidak baik jika skor responden 35. Perkembangan social remaja baik jika skor responden > 35.

Table 5.11 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Perkembangan Sosial Remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011

Perkembangan Sosial Remaja Tidak baik Baik Total

Frekuensi

Presentase (%)

65 85 150

43,3 56,7 100%

Berdasarkan table 5.11 diatas terlihat bahwa perkembangan social remaja yang tidak baik sebanyak 65 responden (43,3%), sedangkan yang memiliki perkembangan social remaja baik sebanyak 85 responden (56,7%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa mayoritas siswa siswi SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor memiliki perkembangan social remaja yang baik.

72

5. 2.2. Analisa Hasil Bivariat 5.2.2.a. Uang Saku dengan Perkembangan Social Remaja

Table 5.12 Analisis Hubungan Uang Saku dengan Perkembangan Social Remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011

Perkembangan Sosial Uang saku Baik Rp.70.000 >Rp. 70.000 Total 63(51,6%) 22(78,6%) 85(56,7%) Remaja Tidak Baik 59(48,4%) 6(21,4%) 65(43,3%) 122(100%) 3,434 28 (100%) (1,302-9,059) 150(100%) 0,017 Total OR 95% CI P Value

Berdasarkan table silang (cross tabulation) diatas dari 122 responden yang memiliki uang saku Rp.70.000 dapat dilihat bahwa 63 responden (51,6%) memiliki perkembangan social remaja yang baik dan 59 responden (48,4%) memiliki perkembangan social remaja yang tidak baik. Dan dari 28 responden yang memiliki uang saku >Rp.70.000 dapat dilihat bahwa 22 responden (78,6%) memiliki perkembangan social remaja yang baik dan 6 responden (21,4%) memiliki perkembangan social remaja yang tidak baik. Dari hasil uji statistic didapatkan nilai P value = 0,017 berarti P Value < 0,05, sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan yang bermakna antara uang saku dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor, khususnya kelas XI. Dari nilai OR dapat disimpulkan bahwa responden yang mendapat uang saku Rp.70.000 seminggu memiliki resiko perkembangan social remaja 73

yang tidak baik 3,434 kali dibandingkan dengan responden yang mendapat uang saku > Rp.70.000 seminggu.

5.2.2.b. Pendidikan Ayah dengan Perkembangan Social Remaja

Table 5.13 Analisis Hubungan Pendidikan Ayah dengan Perkembangan Social Remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011

Perkembangan social Pendidikan Ayah Baik Rendah Tinggi Total 46(58.2%) 39(54,9%) 85(56.7%) Tidak Baik 33(41,8%) 32(45,1%) 65(43.3%) 79(100%) Remaja Total

OR 95% CI P Value

0,874 71(100%) (0,458- 1,670) 150(100%) 0,809

Berdasarkan table silang (cross tabulation) diatas dari 79 responden yang pendidikan ayah rendah dapat dilihat bahwa 46 responden (58,2%) memiliki perkembangan social remaja yang baik dan 33 responden (41,8%) memiliki perkembangan social remaja yang tidak baik. Dan dari 71 responden yang pendidikan ayah tinggi dapat dilihat bahwa 39 responden (54,9%) memiliki perkembangan social remaja yang baik dan 32 responden (45,1%) memiliki perkembangan social remaja yang tidak baik. Dari hasil uji statistic didapatkan nilai P value = 0,809 berarti P Value > 0,05, sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pendidikan ayah dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor, khususnya kelas XI.

74

Dari nilai OR dapat disimpulkan bahwa responden yang pendidikan ayahnya rendah memiliki resiko perkembangan social remaja yang tidak baik 0,874 kali dibandingkan dengan responden yang pendidikan ayahnya tinggi .

5.2.2.c. Pendidikan Ibu dengan Perkembangan Social Remaja

Table 5.14 Analisis Hubungan Pendidikan Ibu dengan Perkembangan Social Remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011

Perkembangan social Pendidikan Ibu Baik Rendah Tinggi Total 58(60,4%) 27(50,0%) 85(56.7%) Remaja Tidak Baik 38(39,6%) 27(50,0%) 65(43.3%) 96(100%) Total

OR 95% CI P Value

0,655 54(100%) (0,335- 1,283) 150(100%) 0,287

Berdasarkan table silang (cross tabulation) diatas dari 96 responden yang pendidikan ibunya rendah dapat dilihat bahwa 58 responden (60,4%) memiliki perkembangan social remaja yang baik dan 38 responden (39,6%) memiliki perkembangan social remaja yang tidak baik. Dan dari 54 responden yang pendidikan ibunya tinggi dapat dilihat bahwa 27 responden (50,0%) memiliki perkembangan social remaja yang baik dan 27 responden (50,0%) memiliki perkembangan social remaja yang tidak baik. Dari hasil uji statistic didapatkan nilai P value = 0,287 berarti P Value > 0,05, sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan

75

yang bermakna antara pendidikan ibu dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor, khususnya kelas XI. Dari nilai OR dapat disimpulkan bahwa responden yang pendidikan ibunya rendah memiliki resiko perkembangan social remaja yang tidak baik 0,655 kali dibandingkan dengan responden yang pendidikan ibunya tinggi .

5.2.2.d. Pekerjaan Ayah dengan Perkembangan Social Remaja

Table 5.15 Analisis Hubungan Pekerjaan Ayah dengan Perkembangan Social Remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011

Perkembangan social Pekerjaan Ayah Baik Bekerja Tidak Bekerja Total 78(56,5%) 7(58,3%) 85(56.7%) Remaja Tidak Baik 60(43,5%) 5(41,7%) 65(43.3%) 138(100%) Total

OR 95% CI P Value

1,077 12(100%) (0,326- 3,561) 150(100%) 1,000

Berdasarkan table silang (cross tabulation) diatas dari 138 responden yang pekerjaan ayah bekerja dapat dilihat bahwa 78 responden (56,5%) memiliki perkembangan social remaja yang baik dan 60 responden (43,5%) memiliki perkembangan social remaja yang tidak baik. Dan dari 12 responden yang pekerjaan ayah tidak bekerja dapat dilihat bahwa 7 responden (58,3%) memiliki perkembangan social remaja yang baik dan 5 responden (41,7%) memiliki perkembangan social remaja yang tidak baik.

76

Dari hasil uji statistic didapatkan nilai P value = 1,000 berarti P Value > 0,05, sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pekerjaan ayah dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor, khususnya kelas XI. Dari nilai OR dapat disimpulkan bahwa responden yang ayahnya bekerja memiliki resiko perkembangan social remaja yang tidak baik 1,077 kali dibandingkan dengan responden yang ayahnya tidak bekerja.

5.2.2.e. Pekerjaan Ibu dengan Perkembangan Social Remaja

Table 5.16 Analisis Hubungan Pekerjaan Ibu dengan Perkembangan Social Remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011

Perkembangan social Pekerjaan Ibu Baik Bekerja Tidak Bekerja Total 20(37.7%) 65(67,0%) 85(56.7%) Remaja Tidak Baik 33(62,3%) 32(33,0%) 65(43.3%) 53(100%) Total

OR 95% CI P Value

3,352 97(100%) (1,667- 6,738) 150(100%) 0,001

Berdasarkan table silang (cross tabulation) diatas dari 53 responden yang pekerjaan ibu bekerja dapat dilihat bahwa 20 responden (37,7%) memiliki perkembangan social remaja yang baik dan 33 responden (62,3%) memiliki perkembangan social remaja yang tidak baik. Dan dari 97 responden yang pekerjaan ibu tidak bekerja dapat dilihat bahwa 65 responden (67,0%) memiliki

77

perkembangan social remaja yang baik dan 32 responden (33,0%) memiliki perkembangan social remaja yang tidak baik. Dari hasil uji statistic didapatkan nilai P value = 0,001 berarti P Value < 0,05, sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan yang bermakna antara pekerjaan ibu dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor, khususnya kelas XI. Dari nilai OR dapat disimpulkan bahwa responden yang ibunya tidak bekerja memiliki resiko perkembangan social remaja yang tidak baik 3,352 kali dibandingkan dengan responden yang ibunya bekerja.

78

5.2.2.f. Penghasilan Orangtua dengan Perkembangan Social Remaja

Table 5.17 Analisis Hubungan Penghasilan Orangtua dengan Perkembangan Social Remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011

Perkembangan social Penghasilan Orangtua Baik Rp.800.000 >Rp.800.000 Total 29(44,6%) 56(65,9%) 85(56.7%) Tidak Baik 36(55,4%) 29(34,1%) 65(43.3%) 65(100%) Remaja Total

OR 95% CI P Value

2,397 85(100%) (1,235- 4,654) 150(100%) 0,015

Berdasarkan table silang (cross tabulation) diatas dari 65 responden yang penghasilan orangtua Rp.800.000 dapat dilihat bahwa 29 responden (44,6%) memiliki perkembangan social remaja yang baik dan 36 responden (55,4%) memiliki perkembangan social remaja yang tidak baik. Dan dari 85 responden yang > Rp.800.000 dapat dilihat bahwa 56 responden (65,9%) memiliki perkembangan social remaja yang baik dan 29 responden (34,1%) memiliki perkembangan social remaja yang tidak baik. Dari hasil uji statistic didapatkan nilai P value = 0,015 berarti P Value < 0,05, sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan yang bermakna antara penghasilan orangtua dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor, khususnya kelas XI. Dari nilai OR dapat disimpulkan bahwa responden yang

79

mendapatkan penghasilan orangtua > Rp.800.000 memiliki resiko perkembangan social remaja yang tidak baik 2,397 kali dibandingkan dengan responden yang mendapatkan penghasilan orangtua Rp.800.000.

5.2.2.g. Tipe Keluarga dengan Perkembangan Social Remaja

Table 5.18 Analisis Hubungan Tipe Keluarga dengan Perkembangan Social Remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011

Perkembangan social Tipe Keluarga Baik Keluarga Inti Keluarga Besar Total 73(55,3%) 12(66,7%) 85(56.7%) Remaja Tidak Baik 59(44,7%) 6(33,3%) 65(43.3%) 132(100%) Total

OR 95% CI P Value

1,616 18(100%) (0,572- 4,566) 150(100%) 0,510

Berdasarkan table silang (cross tabulation) diatas dari 132 responden yang memiliki keluarga inti dapat dilihat bahwa 73 responden (55,3%) memiliki perkembangan social remaja yang baik dan 59 responden (44,7%) memiliki perkembangan social remaja yang tidak baik. Dan dari 18 responden yang memiliki keluarga besar dapat dilihat bahwa 12 responden (66,7%) memiliki perkembangan social remaja yang baik dan 6 responden (33,3%) memiliki perkembangan social remaja yang tidak baik. Dari hasil uji statistic didapatkan nilai P value = 0,510 berarti P Value > 0,05, sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan

80

yang bermakna antara tipe keluarga dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor, khususnya kelas XI. Dari nilai OR dapat disimpulkan bahwa responden yang memiliki keluarga inti 1,616 kali memiliki resiko perkembangan social remaja yang tidak baik dibandingkan dengan responden yang memiliki keluarga besar.

5.2.2.h. Pola komunikasi Dalam Keluarga dengan Perkembangan Social Remaja

Table 5.19 Analisis Hubungan Pola Komunikasi Dalam Keluarga dengan Perkembangan Social Remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor Tahun 2011

Perkembangan social Pola Komunikasi Dalam Keluarga Baik Disfungsional Fungsional Total 35(46,1%) 24(32,4%) 85(56.7%) Tidak Baik 41(53,9%) 50(67,6%) 65(43.3%) 76(100%) Remaja Total

OR 95% CI P Value

2,440 74(100%) (1,257- 4,739) 150(100%) 0,013

Berdasarkan table silang (cross tabulation) diatas dari 76 responden yang pola komunikasi dalam keluarga disfungsional dapat dilihat bahwa 35 responden (46,1%) memiliki perkembangan social remaja yang baik dan 41 responden (53,9%) memiliki perkembangan social remaja yang tidak baik. Dan dari 74 responden yang pola komunikasi dalam keluarga fungsional dapat dilihat bahwa 24

81

responden (32,4%) memiliki perkembangan social remaja yang baik dan 50 responden (67,6%) memiliki perkembangan social remaja yang tidak baik. Dari hasil uji statistic didapatkan nilai P value = 0,013 berarti P Value < 0,05, sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan yang bermakna antara pola komunikasi dalam keluarga dengan

perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor, khususnya kelas XI. Dari nilai OR dapat disimpulkan bahwa responden yang memiliki pola komunikasi dalam keluarga

disfungsional memiliki resiko perkembangan social remaja yang tidak baik 2,440 kali dibandingkan dengan responden yang memiliki pola komunikasi dalam keluarga fungsional.

5. 2.3. Analisa Hasil Wawancara Dari hasil wawancara, peneliti mewawancarai kepada 15 orang siswa kelas XI SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor didapatkan hasil sebagai berikut : a. Berdasarkan hasil peneltian di atas menunjukkan mayoritas siswa mendapatkan uang saku dalam seminggu yaitu sebesar Rp. 70.000. Hasil wawancara menunjukkan bahwa sebanyak 11 orang siswa (73,3%) menyatakan bahwa mereka merasa tidak puas dengan uang saku yang di berikan oleh orang tuanya karena dengan uang saku sebesar itu tidak mencukupi keperluan sekolah setiap harinya (seperti; membeli makanan, fotocopy, dan sebagainya) ditambah lagi dengan kebutuhan untuk membeli membeli barang kesukaannya, membeli pulsa, dan lain-lain. Mereka mengatakan ada kalanya uang sakunya habis sebelum waktunya, sehingga

berdampak kepada perilaku mereka di rumah maupun di sekolah karena mereka merasa takut dan segan untuk meminta uang kepada orang tuanya, sedangkan dengan temannya mereka merasa minder

82

bila tidak mampu untuk membeli suatu barang . Terkadang mereka meminjam uang temannya ataupun membolos dari sekolah karena uangnya tidak mencukupi untuk ke sekolah. Sedangkan, 4 orang siswa (26,7%) menyatakan bahwa mereka bisa mengerti atau menerima keadaan keluarganya dan juga ada yang mengatakan cukup dengan uang saku sebesar itu karena rumahnya tidak jauh dari sekolah sehingga tidak perlu mengeluarkan ongkos untuk pergi ke sekolah. Mereka juga berpikir harus pintar- pintar dalam menggunakan uang sakunya yang terbatas untuk mencukupi selama seminggu, dengan cara membawa bekal makanan yang disiapkan oleh ibunya, dan menurut mereka ini cara yang efektif dalam menghemat uang sakunya di samping itu membawa makanan dari rumah lebih sehat ketimbang jajan di luar yang patut di pikirkan tentang kebersihannya. b. Berdasarkan hasil penelitian di atas menunjukkan mayoritas ibu yang tidak bekerja lebih mendominan dibandingkan dengan ibu mereka yang bekerja. Dari hasil wawancara di dapatkan 9 orang siswa (60%) mengatakan bahwa ibu mereka yang setiap hari di rumah lebih banyak mengatur dan mengekang, sehingga terkadang mereka tidak meminta ijin untuk main dengan teman- temannya karena menurut mereka ibunya pasti akan marah dan tidak memberi ijin untuk keluar rumah. Jadi, mereka mengatakan lebih sering main bersama temannya saat pulang sekolah dan telat pulang kerumah dengan alasan ada kegiatan di sekolah atau belajar kelompok. Karena bagi remaja peran teman sebaya sangat berarti dalam mendukung untuk membentuk jati dirinya. Dan sebesar 6 orang siswa (40%) mengatakan bahwa peran ibu di rumah sangat penting bagi mereka daripada mempunyai ibu yang bekerja, dan mereka beranggapan bahwa wajar- wajar saja bila ibunya memberi batasaan waktu untuk bermain, karena lebih baik belajar atau mengerjakan pr

83

di rumah. Mereka juga mengatakan masih memiliki adik yang harus diurus dan di jaga, sehingga peran ibu di rumah sangat penting. c. Berdasarkan hasil penelitian di atas menunjukkan mayoritas siswa memliki penghasilan orang tuanya sebesar > Rp. 800.000 sebulan. Dari hasil wawancara mengenai penghasilan orang tua, kebanyakan dari siswa tersebut mengaku kurang memahami perihal tentang hubungan penghasilan orang tuanya dengan perilaku hubungan social mereka. Peneliti dapat menyimpulkan dari 15 orang siswa (100%) yang di wawancarai, mereka mengatakan bahwa tidak

terlalu memikirkan hal itu, karena mereka hanya menjalankan kewajibannya yaitu sekolah dan menuntut ilmu. Namun, bagi

mereka pendapatan uang saku yang mereka peroleh dari orang tua mungkin berhubungan pula dengan penghasilan orang tua mereka. d. Berdasarkan hasil penelitian di atas menunjukkan mayoritas siswa memiliki pola komunikasi disfungsional dalam keluarganya. Dari hasil wawancara sebanyak 8 orang siswa (53,3%) mengatakan bahwa komunikasi mereka dengan orang tuanya kurang terjalin dengan baik karena pendapat mereka sering bertentangan dengan orang tuanya terhadap apa yang mereka ingikan, terlebih bila mereka memiliki kakak/ adik terkadang mereka merasa bahwa orang tuanya tidak bersikap adil terhadapnya. Bagi mereka teman sebanyanya lebih memahami mereka daripada orang tua mereka sendiri, sehingga remaja lebih terbuka dan cocok bercerita dengan temannya karena memiliki kesamaan ciri/hobi. Dan terkadang mereka merasa malu untuk menceritakan masalahnya kepada Ayah/Ibunya terutama masalah percintaannya. Tetapi bukan berarti remaja tidak membutuhkan figure orang tuanya. Sedangkan 7 orang siswa (46,7%) mengatakan bahwa menjalin komunikasi yang baik dengan keluarga itu sangat penting khusunya orangtua karena remaja menyadari sebagai anak sudah sepatutnya mereka

84

menghormati dan menghargai kedua orang tuanya meskipun remaja mengaku tidak semua hal bisa di ceritakan dengan orang tuanya. Peran kakak/ adik juga berarti karena remaja merasa tidak sendirian di rumah dan bisa diajak bermain bersama. Mereka pula mengatakan tidak mau menjadi anak yang durhaka sehingga menjalin komunikasi baik dengan orang tua seumur hidup mereka sangatlah penting.

85

BAB VI PEMBAHASAN

Pada pembahasan ini, peneliti membandingkan antara hasil penelitian dengan teori terkait yang dilengkapi dengan penelitian terkait untuk menunjang hasil penelitian ini. Penelitian ini merupakan penelitian tentang hubungan Pola Komunikasi Remaja 14- 17 Tahun Dalam Keluarga dengan Perkembangan Sosial Remaja. Sistematika pembahasan hasil penelitian dibagi menjadi keterbatasan penelitian dan pembahasan penelitian sebagai berikut: 6. 1. Keterbatasan Penelitian Dalam melakukan penelitian ini peneliti tidak luput dari hambatan dan kekurangan, berikut ini akan diuraikan beberapa hal keterbatasan penelitian sebagai berikut: 6. 1.1. Keterbatasan dalam desain penelitian Dalam penelitian ini menggunakan desain cross sectional, yang mana seharusnya dalam cross sectional diperlukan sampel dalam jumlah besar, selain itu dalam cross sectional ini sampel hanya diukur sekali waktu secara bersama sama, yang tentunya memiliki perbedaan hasil bila dilakukan mengikuti perkembangan sampel.

6. 1.2. Keterbatasan Kuesioner Pengambilan data dengan kuesioner bersifat sangat subjektif, sehingga kebenaran data sangat tergantung pada kejujuran responden. Selain itu kuesioner yang peneliti berikan tidak ditanyakan tetapi sifatnya adalah angket dimana responden mengisi sendiri dengan jawaban yang menurut responden sesuai.

86

6. 1.3. Keterbatasan Responden Responden yang peneliti harapkan adalah kelas X, XI, dan XII, namun karena siswa siswi kelas X sedang ada kegiatan belajar mengajar untuk persiapan ujian kenaikan kelas dan XII telah selesai UN sehingga mereka tidak ada lagi kegiatan pembelajaran di sekolah dan tidak dapat berpartisipasi sebagai responden, sehingga yang dapat peneliti ambil sebagai responden hanya siswa-siswi kelas XI saja.

6. 2. Pembahasan Hasil Penelitian Pembahasan hasil penelitian ini akan disajikan secara berurutan mulai dari pembahasan univariat di lanjutkan dengan pembahasan bivariat sebagai berikut: 6. 2.1. Hasil Penelitian Univariat Pembahasan univariat akan membahas tentang karakteristik responden yang terdiri dari: umur, jenis kelamin, dan uang saku. Karakteristik orangtua responden yang terdiri dari pendidikan orangtua, pekerjaan orangtua, penghasilan orangtua, dan tipe keluarga. 6. 2.1.a. Karakteristik Responden : Responden dalam penelitian ini terdiri dari 150 siswa yang diambil dari kelas XI di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor TA 2010/2011. 1) Umur Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor pada bulan Mei 2011, dari 150 responden menunjukkan bahwa proporsi umur 16-17 tahun lebih banyak dibandingkan dengan proporsi umur 14-15 tahun yaitu umur 16-17 tahun sebesar 141 siswa atau 94,0%, sedangkan jumlah responden umur 14-15 tahun sebesar 9 siswa atau 6,0%. Hasil penelitian di atas dikarenakan

87

mayoritas SMK Kelas XI SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor berumur 16-17 tahun, hasil penelitian ini sesuai dengan batasan umur kelas X1 yaitu berkisar antara 15- 17 tahun. Umur adalah masa hidup seseorang yang dinyatakan dalam satuan tahun dan sesuai dengan pernyataan responden. Umur adalah jumlah hari, bulan, tahun yang telah dilalui sejak lahir sampai dengan waktu tertentu. Umur juga bisa diartikan sebagai satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan suatu benda atau makhluk, baik yang hidup maupun yang mati (Fitrianingsih, 2000,http:/www.wikipedia.co.id, di akses pada tanggal 14 Juni 2010). 2) Jenis Kelamin Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor pada bulan Mei 2011, dari 150 responden dilihat dari jenis kelamin menunjukkan sebesar 78 siswa atau 52,0% berjenis kelamin pria, sedangkan wanita 72 siswa atau 48,0%. Hasil penelitian tersebut di dapatkan kebetulan responden pria lebih mendominasi untuk siswa SMK Kelas XI SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor. Jenis kelamin merupakan suatu akibat dari dimorfisme seksual, yang pada manusia dikenal menjadi laki-

laki dan perempuan. Jenis kelamin dikaitkan pula dengan aspek gender, karena terjadi diferensiasi peran sosial yang dilekatkan pada masing-masing jenis kelamin. Pada

masyarakat yang mengenal "machoisme", umpamanya, seoran laki-laki diharuskan berperan secara maskulin ("jantan") dan perempuan berperan secara feminin.

(http:/id.wikipedia.org/wiki/jenis_kelamin,diakses tanggal 3 Mei 2011).

88

3) Uang Saku Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor pada bulan Mei 2011, dari 150 responden menunjukkan bahwa uang saku dalam seminggu menunjukkan proporsi Rp.70.000 lebih besar yaitu 122 siswa atau 81,3%, sedangkan uang saku > Rp.70.000 sebesar 28 siswa atau 18,7%. Hal ini berarti mayoritas responden memperoleh uang saku sebesar Rp.70.000 seminggu. Hasil penelitian ini di dapatkan karena sebagian besar siswa SMK Kelas XI SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor berasal dari golongan ekonomi kelas menengah. Uang bekal sekolah atau uang saku adalah salah satu cara yang bisa digunakan orang tua untuk mendidik anak-anak mereka tentang pengelolaan keuangan. Tujuan pemberian uang saku kepada anak tentu saja untuk kebutuhan akan keperluan sekolah maupun kebutuhan pribadi si anak. Pemberian uang saku yang tidak tepat justru akan memancing perilaku materialistis yang memancing sikap serakah, boros, pelit atau perilaku buruk keuangan lainnya.

(www.pdfwindows.com/pdf/pengaruh-uang-saku/,diakses tanggal 29 Juni 2010). 6. 2.1.b. Karakteristik Orangtua Responden: 1) Pendidikan Orang Tua Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor pada bulan Mei 2011, dari 150 responden menunjukkan berdasarkan pendidikan orangtua yaitu ayah dan ibu di dapatkan hasil: proporsi pendidikan ayah rendah (tidak sekolah-tamat SLTP) sebesar 79 orang atau 53,7%, sedangkan pendidikan ayah tinggi (tamat SLTA-PT) 89

sebesar 71 orang atau 47,3%. Berdasarkan pendidikan ibu menunjukkan bahwa pendidikan ibu rendah (tidak sekolahtamat SLTP) lebih banyak yaitu sebesar 96 orang atau 64,0%, sedangkan pendidikan ibu tinggi (tamat SLTA-PT) sebesar 54 orang atau 36,0%. Dari hasil penelitian ini dapat terlihat bahwa wajib belajar 9 tahun pemerintah berjalan dengan lancar ditandai dengan tingkat pendidikan responden sudah tamat dari pendidikan 9 tahun. Menurut Undang- Undang sistem pendidikan nasional tahun 2003 jenjang pendidikan 2003, terdiri atas jenjang pendidikan formal dan non formal. Menurut Alvianto, pendidikan merupakan dasar seseorang untuk mengembangkan diri dalam melakukan sesuatu. Semakin tinggi pendidikan, orang akan mampu untuk memahami dan menyesuaikan diri dalam lingkungan kerjanya. 2) Pekerjaan Orang Tua Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor pada bulan Mei 2011, dari 150 responden terhadap pekerjaan orangtua yaitu ayah dan ibu menunjukkan bahwa proporsi ayah yang bekerja sebesar 138 orang atau 92,0%, sedangkan ayah yang tidak bekerja sebesar 12 orang atau 8,0%. Dilihat dari pekerjaan ibu menunjukkan sebesar 53 orang atau 35,3% ibu yang bekerja, sedangkan ibu yang tidak bekerja sebesar 97 orang atau 64,7%. Hal ini berarti mayoritas responden memiliki ayah yang bekerja dan ibu yang tidak bekerja. Hasil penelitian tersebut menjelaskan bahwa peran orangtua khususnya ayah dalam mencari nafkah sudah terlaksana, dan peran domestic ibu masih kuat, yaitu masih bertanggung jawab untuk mengurus rumah dan mengurus anak.

90

Pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk suatu tugas atau kerja yang

menghasilkan uang bagi seseorang. Dalam pembicaraan seharihari istilah ini sering dianggap sinonim

dengan profesi.(http://id.wikipedia.org/wiki/Pekerjaan, diakses tanggal 23 Maret 2011). 3) Penghasilan Orang Tua Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor pada bulan Mei 2011, terhadap 150 responden dapat diketahui bahwa dari penghasilan orangtua menunjukkan penghasilan Rp.800.000 sebesar 65 orang atau 43,3%, sedangkan > Rp.800.000 sebesar 85 orang atau 56,7%. Hal ini berarti mayoritas penghasilan orangtua responden sebesar > Rp.800.000 sebulan. Hasil penelitian di atas menjelaskan bahwa peran orangtua sudah cukup memadai di lihat dari segi financial keluarga dalam mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Penghasilan adalah suatu keadaaan yang

menggambarkan pendapatan sesorang yang didapat melalui pekerjaan. Penghasilan adalah bentuk imbalan yang diberikan oleh pihak yang memperkerjakan (badan atau perorangan) pada pihak pekerja atas sesuatu jasa/ pekerjaan yang diserahkan (Wikipedia, 2008). 4) Tipe Keluarga Sudardja Adiwikarta (1988: 66-67) dan Sigelman& Shaffer (1995: 390-391) berpendapat bahwa keluarga

merupakn unit sosial terkecil yang bersifat universal, artinya terdapat pada setiap masyarakat di dunia (universe) atau suatu sistem sosial yang terpancang (terbentuk) dalam sistem sosial

91

yang lebih besar.

Besar kecilnya keluarga mempengaruhi

perkembangan sosial anak. Secara tradisional tipe keluarga dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu : 3. Keluarga Inti (nuclear family) adalah keluarga yang hanya terdiri dari ayah, ibu dan anak yang diperoleh dari keturunannya atau adopsi atau keduanya. 4. Keluarga Besar (extended family) adalah keluarga inti di tambah dengan keluarga lainnya yang masih mempunyai hubungan darah (kakek- nenek, paman- bibi). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor pada bulan Mei 2011, terhadap 150 responden dapat dilihat berdasarkan tipe keluarga menunjukkan bahwa tipe keluarga inti lebih banyak yaitu sebesar 132 orang atau 88,0%, sedangkan tipe keluarga besar sebesar 18 orang atau 12,0%. Hasil penelitian tersebut menerangkan bahwa tipe keluarga inti lebih mendominan pada jaman modern seperti sekarang ini. 6. 2.1.c. Pola Komunikasi Dalam Keluarga Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor pada bulan Mei 2011, terhadap 150 responden dapat dilihat berdasarkan pola komunikasi keluarga menunjukkan bahwa mayoritas memiliki pola

komunikasi disfungsional yaitu sebesar 76 orang atau 50,7%, sedangkan yang memiliki pola komunikasi fungsional dalam keluarga sebesar 74 orang atau 49,3%. Hasil penelitian tersebut menerangkan bahwa yang memiliki pola komunikasi

disfungsional dalam keluarganya lebih mendominan pada hasil penelitian ini. Keluarga yang fungsional yaitu keluarga yang telah mampu melaksanakan fungsinya sebagaimana yang sudah

92

dijelaskan.

Keluarga

yang

fungsional

ditandai

oleh

karakteristik: (a) saling memperhatikan dan mencintai, (b) bersikap terbuka dan jujur, (c) orangtua mau mendengarkan anak, menerima perasaannya dan menghargai pendapatnya, (d) ada sharing masalah atau pendapat di antara anggota keluarga, (e) mampu berjuang mengatasi masalah hidupnya, (f) saling menyesuaikan diri dan mengakomodasi, (g) orangtua melindungi (mengayomi) anak, (h) komunikasi antar anggota keluarga berlangsung dengan baik, (i) keluarga memenuhi kebutuhan psikososial anak dan mewariskan nilai- nial budaya, dan (j) mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Sebaliknya apabila dalam suatu keluarga tidak mampu menerapkan atau melaksanakan fungsi- fungsi seperti telah diuraikan diatas, keluarga tersebut berarti mengalami stagnasi (kemandengan) atau disfungsi yang pada gilirannya akan merusak kekokohan konstelasi keluarga tersebut (khususnya terhadap perkembangan kepribadian anak). (Syamsu Yusuf, 2005:42-43). 6. 2.1.d. Perkembangan sosial remaja Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor pada bulan Mei 2011, terhadap 150 responden dapat dilihat berdasarkan perkembangan sosial remaja menunjukkan bahwa mayoritas memiliki perkembangan sosial yang baik yaitu sebesar 85 orang atau 56,7%, sedangkan yang memiliki perkembangan sosial tidak baik sebesar 65 orang atau 43,3%. Hasil penelitian tersebut menerangkan bahwa yang memiliki perkembangan sosial remaja yang baik lebih mendominan pada hasil penelitian ini. Berarti para siswa di SMK Kelas XI SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor sudah mampu berperilaku baik pada hubungan sosialnya.

93

Perkembangan kematangan dalam

sosial

merupakan

pencapaian

hubungan sosial. Dapat juga diartikan

sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma- norma kelompok, moral, dan tradisi; meleburkan diri menjadi suatu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama. Untuk mencapai kematangan sosial, anak harus belajar tentang cara- cara menyesuaikan diri dengan orang lain. Kemampuan ini diperolah anak melalui berbagai kesempatan atau pengalaman bergaul dengan orangorang di

lingkungannya, baik orang tua, saudara, teman sebaya atau orang dewasa lainnya (Syamsu Yusuf, 2005:122).

6. 2.2. Hasil penelitian Bivariat Analisa bivariat yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji chi square karena peneliti ingin mengetahui apakah ada hubungan pola komunikasi remaja 1417 remaja. tahun dalam keluarga diambil dengan dengan

perkembangan

social

Keputusan

membandingkan nilai Chi Square hitung dengan nilai Chi Square table. Bila Chi Square hitung lebih besar dari nilai Chi Square table maka ada hubungan yang bermakna antara variable independen dengan variable dependen. Apabila Chi Square hitung lebih kecil dari Chi Square table maka tidak terdapat hubungan antara variable independen dengan variable dependen. Dapat juga dilihat dengan membandingkan p-value dengan signifikan alpha 0,05. Keputusan diambil jika p-value lebih kecil dari alpha (0,05) maka ada hubungan yang bermakna antara variable independen dengan variable dependen dan apabila p-value lebih besar dari alpha (0,05) maka tidak terdapat hubungan antara variable independen dengan variable dependen.

94

Dalam hasil pembahasan bivariat akan dijelaskan hubungan antar variable dimana hasil penelitian tersebut akan di bandingkan dengan teori dan penelitian terkait yaitu sebagai berikut: 6. 2.2.a. Uang Saku dengan Perkembangan Sosial Hasil penelitian yang didapatkan di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor tahun 2011 yaitu dari 122 responden yang diberikan uang saku Rp.70.000 dapat dilihat bahwa 63 responden (51,6%) memiliki perkembangan social yang baik dan 59 responden (48,4%) memiliki perkembangan social yang tidak baik. Dan dari 28 responden yang diberikan uang saku > Rp.70.000 dapat dilihat bahwa 22 responden (78,6%) memiliki perkembangan social yang baik dan 6 responden (21,4%) memiliki perkembangan social yang tidak baik. Dari hasil uji statistic didapatkan nilai P value = 0,017 berarti P Value < 0,05, sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan yang bermakna antara uang saku dengan

perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor, khususnya kelas XI. Dari nilai OR dapat disimpulkan bahwa responden yang mendapat uang saku Rp.70.000 seminggu memiliki resiko perkembangan social remaja yang tidak baik 3,434 kali dibandingkan dengan responden yang mendapat uang saku > Rp.70.000 seminggu. Hasil wawancara terhadap 15 orang siswa

menunjukkan bahwa sebanyak 11 orang siswa (73,3%) menyatakan bahwa mereka merasa tidak puas dengan uang saku yang di berikan oleh orang tuanya karena dengan uang saku sebesar itu tidak mencukupi keperluan sekolah setiap harinya (seperti; membeli makanan, fotocopy, dan sebagainya) ditambah lagi dengan kebutuhan untuk membeli membeli barang kesukaannya, membeli pulsa, dan lain-lain. Mereka

95

mengatakan ada kalanya uang sakunya habis sebelum waktunya, sehingga berdampak kepada perilaku mereka di rumah maupun di sekolah karena mereka merasa takut dan segan untuk meminta uang kepada orang tuanya, sedangkan dengan temannya mereka merasa minder bila tidak mampu untuk membeli suatu barang . Terkadang mereka meminjam uang temannya ataupun membolos dari sekolah karena uangnya tidak mencukupi untuk ke sekolah. Sedangkan, 4 orang siswa (26,7%) menyatakan bahwa mereka bisa mengerti atau menerima keadaan keluarganya dan juga ada yang mengatakan cukup dengan uang saku sebesar itu karena rumahnya tidak jauh dari sekolah sehingga tidak perlu mengeluarkan ongkos untuk pergi ke sekolah. Mereka juga berpikir harus pintarpintar dalam menggunakan uang sakunya yang terbatas untuk mencukupi selama seminggu, dengan cara membawa bekal makanan yang disiapkan oleh ibunya, dan menurut mereka ini cara yang efektif dalam menghemat uang sakunya di samping itu membawa makanan dari rumah lebih sehat ketimbang

jajan di luar yang patut di pikirkan tentang kebersihannya. Peneliti sebelumnya tidak memasukan uang saku sebagai variable. Tetapi berdasarkan penelusuran yang peneliti dapatkan tentang uang saku bagi pelajar remaja yaitu uang bekal sekolah atau uang saku adalah salah satu cara yang bisa digunakan orang tua untuk mendidik anak-anak mereka tentang pengelolaan keuangan. Melalui uang saku orang tua dapat menjelaskan mengenai aliran uang darimana didapatnya dan untuk apa saja sehingga anak-anak memahami dan menghargai kerja keras orang tua dan bersikap hati-hati dalam

membelanjakan uang saku mereka. Pemberian uang saku yang

96

tidak tepat justru akan memancing perilaku materialistis yang memancing sikap serakah, boros, pelit atau perilaku buruk keuangan lainnya. Pada dasarnya uang bekal sekolah terdiri dari tiga bagian, yaitu 1) Uang jajan ( beli makan minum); 2) Transportasi ; 3) Uang Ekstra. Agar uang bekal sekolah bisa menjadi sarana pembelajaran maka besar kecilnya pemberian uang saku perlu diberikan dalam dosis / takaran yang tepat, tidak terlalu besar juga tidak terlalu sedikit.

(www.pdfwindows.com/pdf/pengaruh-uang-saku/,diakses tanggal 29 Juni 2010). Dari hasil analisa bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara uang saku dengan perkembangan social remaja. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa uang saku merupakan hal terpenting bagi semua orang, khususnya pelajar yang notabenenya belum memiliki

penghasilan sendiri dan masih menjadi tanggung jawab orang tua hingga mereka memperoleh pekerjaan kelak. Bagi perempuan mungkin kebutuhannya melebihi dibandingkan lakilaki, karena pada dasarnya perempuan sangat

memperhatikan penampilan mereka apalagi terhadap lawan jenisnya, misalnya seperti hasrat membeli pakaian, sepatu, kosmetik dan sebagainya. Bagi seorang pelajar yang masih dalam pencarian identitas, peran teman sebaya sangat mempengaruhi gaya hidup mereka. Dengan uang saku yang cukup tentunya anak juga dapat membeli makanan yang sehat bagi kesehatan dan terhindar dari penyakit pencernaan seperti diare, typhus, dan lainnya. Dengan demikian, orang tua harus memperhatikan tingkat kebutuhan anaknya secara tepat dengan mendiskusikannya bersama- sama agar tidak terjadi perasaan

97

tidak puas bagi remaja yang akan mempengaruhi tingkah lakunya di sekolah maupun di rumah.

6. 2.2.b. Pendidikan Orangtua (Ayah dan Ibu) dengan Perkembangan Sosial Hasil penelitian yang didapatkan di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor tahun 2011 yaitu dari 79 responden pendidikan ayah rendah (tidak sekolah-tamat SLTP) dapat dilihat bahwa 46 responden (58,2%) memiliki perkembangan social yang baik dan 33 responden (41,8%) memiliki perkembangan social yang tidak baik. Dan dari 71 responden yang memiliki pendidikan ayah tinggi (tamat SLTA-PT) dapat dilihat bahwa 39 responden (54,9%) memiliki perkembangan social yang baik dan 32 responden (45,1%) memiliki perkembangan social yang tidak baik. Dari hasil uji statistic didapatkan nilai P value = 0,809 berarti P Value > 0,05, sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pendidikan ayah dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor, khususnya kelas XI. Dari nilai OR dapat disimpulkan bahwa responden yang pendidikan ayahnya rendah memiliki resiko perkembangan social remaja yang tidak baik 0,874 kali dibandingkan dengan responden yang pendidikan ayahnya tinggi. Hasil penelitian yang didapatkan di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor tahun 2011 yaitu dari 96 responden pendidikan ibu rendah (tidak sekolah-tamat SLTP) dapat

dilihat bahwa 58 responden (60,4%) memiliki perkembangan social yang baik dan 38 responden (39,6%) memiliki perkembangan social yang tidak baik. Dan dari 54 responden

98

yang memiliki pendidikan ibu tinggi (tamat SLTA-PT) dapat dilihat bahwa 27 responden (50,0%) memiliki perkembangan social yang baik dan 27 responden (50,0%) memiliki perkembangan social yang tidak baik. Dari hasil uji statistic didapatkan nilai P value = 0,287 berarti P Value > 0,05, sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pendidikan ibu dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor, khususnya kelas XI. Dari nilai OR dapat

disimpulkan bahwa responden yang pendidikan ibunya rendah memiliki resiko perkembangan social remaja yang tidak baik 0,655 kali dibandingkan dengan responden yang pendidikan ibunya tinggi. Asumsi bahwa ayah dan ibu yang berpendidikan tinggi, bisa lebih percaya diri dan mampu memberikan informasi yang jauh lebih baik bila dibandingkan dengan ayah dan ibu yang berpendidikan rendah, sehingga dapat membentuk

perkembangan sikap dan perilaku anak menjadi lebih baik, namun dalam penelitian ini hal tersebut tidak tampak. Hasil penelitian ini mungkin sesuai dengan pernyataan Tukan (1994), bahwa orang tua, baik ayah maupun ibu bisa menjadi pendidik yang baik tanpa harus berpendidikan tinggi, tergantung dari seberapa jauh keterbukaan orang tua dan anaknya dalam membicarakan masalah perkembangan sosialnya. Dari hasil analisa bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pendidikan orangtua dengan

perkembangan social remaja. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa banyak orangtua yang pendidikannya rendah tetapi mampu memotivasi anaknya sehingga dapat

99

mencapai hasil yang maksimal dan membentuk kepribadian anaknya menjadi lebih tangguh dan sukses. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian

sebelumnya yang dilakukan oleh Sugianty (2003) di SMK Putra Bangsa Depok, dengan sampel sebanyak 100 siswa menunjukkan bahwa 56 responden (56,0%) tingkat pendidikan ayah tinggi dan 44 responden (44,0%) berpendidikan rendah, sedangkan pada responden dengan tingkat pendidikan ibu tinggi menunjukkan 33 responden (33,0%) dan 67 responden (67,0%) berpendidikan rendah. Tetapi jika dilihat dari proporsi tertinggi responden yang perkembangan sosialnya tidak baik adalah yang memiliki ayah dan ibu dengan tingkat pendidikan tinggi masing- masing sebanyak 44,6% dan 45,5%. Dari hasil uji statistic menunjukkan nilai tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ayah yang tinggi (p=0,703) dan tingkat pendidikan ibu yang tinggi (p=0,782) dengan perkembangan social remaja.

6. 2.2.c. Pekerjaan Orangtua (Ayah dan Ibu) dengan Perkembangan Social Hasil penelitian yang didapatkan di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor tahun 2011 yaitu dari 138 responden ayah yang bekerja dapat dilihat bahwa 78 responden (56,6%) memiliki memiliki perkembangan social yang baik dan 60 responden (43,5%) memiliki perkembangan social yang tidak baik. Dan dari 12 responden ayah yang tidak bekerja dapat dilihat bahwa 7 responden (58,3%) memiliki perkembangan social yang baik dan 5 responden (41,7%) memiliki perkembangan social yang tidak baik.

100

Dari hasil uji statistic didapatkan nilai P value = 1,000 berarti P Value > 0,05, sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pekerjaan ayah dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor. Dari nilai OR dapat disimpulkan bahwa responden yang ayahnya bekerja memiliki resiko

perkembangan social remaja yang tidak baik 1,077 kali dibandingkan dengan responden yang ayahnya tidak bekerja. Hasil penelitian yang didapatkan di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor tahun 2011 yaitu dari 53 responden ibu yang bekerja dapat dilihat bahwa 20 responden (37,7%) memiliki memiliki perkembangan social yang baik dan 33 responden (62,3%) memiliki perkembangan social yang tidak baik. Dan dari 97 responden ibu yang tidak bekerja dapat dilihat bahwa 65 responden (67,0%) memiliki perkembangan social yang baik dan 32 responden (33,0%) memiliki perkembangan social yang tidak baik. Dari hasil uji statistic didapatkan nilai P value = 0,001 berarti P Value < 0,05, sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan yang bermakna antara pekerjaan ibu dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor, khususnya kelas XI. Dari nilai OR dapat disimpulkan bahwa responden yang ibunya tidak bekerja memiliki resiko perkembangan social remaja yang tidak baik 3,352 kali

dibandingkan dengan responden yang ibunya bekerja. Dari hasil wawancara terhadap 15 orang siswa di dapatkan 9 orang siswa (60%) mengatakan bahwa ibu mereka yang setiap hari di rumah lebih banyak mengatur dan mengekang, sehingga terkadang mereka tidak meminta ijin untuk main dengan teman- temannya karena menurut mereka

101

ibunya pasti akan marah dan tidak memberi ijin untuk keluar rumah. Jadi, mereka mengatakan lebih sering main bersama temannya saat pulang sekolah dan telat pulang kerumah dengan alasan ada kegiatan di sekolah atau belajar kelompok. Karena bagi remaja peran teman sebaya sangat berarti dalam mendukung untuk membentuk jati dirinya. Dan sebesar 6 orang siswa (40%) mengatakan bahwa peran ibu di rumah sangat penting bagi mereka daripada mempunyai ibu yang bekerja, dan mereka beranggapan bahwa wajar- wajar saja bila ibunya memberi batasaan waktu untuk bermain, karena lebih baik belajar atau mengerjakan pr di rumah. Mereka juga mengatakan masih memiliki adik yang harus diurus dan di jaga, sehingga peran ibu di rumah sangat penting. Hasil yang diperoleh sesuai dengan pernyataan

Santrock (1998) yang menyatakan bahwa pekerjaan orang tua tidaklah secara mutlak berpengaruh terhadap perkembangan dan perilaku remaja, tetapi tergantung dari seberapa jauh orang tua merasa tertekan (stress) dengan pekerjaannya. Menurut Gunarsa (2000), menyatakan bahwa ibu memiliki peran yang sangat penting dalam keluarga. Ibu berperan sebagai model tingkah laku anak yang mudah di amati dan ditiru, disamping itu ibu juga berperan sebagai pendidik yang memberikan pengarahan, dorongan dan pertimbangan bagi perbuatan anak untuk membentuk perilaku. Seorang ibu yang bekerja akan memiliki waktu yang lebih sempit untuk berinteraksi dengan anaknya, namun pada penelitian ini hal tersebut tidak tampak. Kenyatannya menunjukkan bahwa seorang ibu yang tidak bekerja cenderung lebih protektif kepada anaknya, sehingga memberikan pengawasan yang lebih ketat dengan pembatasan kegiatan di luar rumah terhadap

102

remaja. Hal inilah yang berpengaruh terhadap perilaku remaja, karena masa remaja adalah masa yang memerlukan kebebasan untuk memperoleh pengakuan bagi remaja untuk mencari jati diri dan bisa mandiri tanpa tekanan dari orang tua. Orangtua yang terlalu mengekang justru akan mengakibatkan remaja menghabiskan lebih banyak waktunya di luar rumah dengan kelompok teman sebayanya dibandingkan dengan keluarga. Dengan adanya pengaruh teman sebaya yang lebih kuat, dimana remaja bisanya lebih senang bersama dengan kelompok sebayanya yang mempunyai kesamaan ciri dari dirinya sehingga remaja tersebut dapat diterima dalam kelompok sebayanya maka ia harus melakukan aktivitas yang sama yang dilakukan oleh kelompok sebayanya tersebut yang terkadang bertentangan dengan kedua orangtuanya. Hal inilah yang dapat membukakan jalan ke arah adaptasi yang negative. Dari hasil analisa bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pekerjaan ayah dengan

perkembangan social remaja, namun sebaliknya terdapat hubungan antara pekerjaan ibu dengan perkembangan social remaja. Dari hasil uraian di atas dapat disimpulkan bahwa orangtua yang tidak bekerja khususnya ibu memiliki waktu untuk mengawasi anaknya sehingga adanya pembatasan kegiatan dan pengekangan oleh orangtua,maka remaja akan beranggapan bahwa orangtua tidak menghormati kebebasannya untuk mandiri, sehingga menimbulkan rasa saling tidak percaya antara orangtua dengan anak. Hasil penelitian ini sesuai dengan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lanita (2004) pada siswa kelas dua di SMU Jakarta Timur dengan jumlah reponden 119 orang menunjukkan bahwa 110 responden yang ayahnya bekerja dan

103

9 yang ayahnya tidak bekerja. Diketahui bahwa ayah responden yang tidak bekerja memiliki proporsi perilaku sosial remaja yang tidak baik/ negative yaitu 3 responden (33,3%) sedikit lebih rendah jika dibandingkan dengan yang ayahnya bekerja 52 responden (47,3%). Dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan ayah dengan perilaku social remaja (p=0,429). Berbeda dengan pekerjaan ayah, hasil penelitian ini tidak didukung dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Lanita (2004) dimana ibu responden yang tidak bekerja memiliki proporsi perilaku social remaja yang tidak baik/ negative yaitu sebanyak 34 responden (45,3%) sedangkan jika dibandingkan dengan ibunya bekerja lebih rendah yaitu sebanyak 21 responden (47,7%) dengan hasil uji statistic menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan ibu dengan perilaku social remaja (p=0,950).

6. 2.2.d.Penghasilan Remaja

Orangtua

dengan

Perkembangan

Social

Hasil penelitian yang didapatkan di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor tahun 2011 yaitu dari 65 responden yang penghasilan orangtua Rp.800.000 dapat dilihat bahwa 29 responden (44,6%) memiliki perkembangan social yang baik dan 36 responden (55,4%) memiliki perkembangan social yang tidak baik. Dan dari 85 responden yang penghasilan orangtua > Rp.800.000 dapat dilihat bahwa 56 responden (65,9%) memiliki perkembangan social yang baik dan 29 responden (34,1%) memiliki perkembangan social yang tidak baik. Dari hasil uji statistic didapatkan nilai P value = 0,015 berarti P Value < 0,05, sehingga dapat disimpulkan terdapat

104

hubungan yang bermakna antara penghasilan orangtua dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor, khususnya kelas XI. Dari nilai OR dapat disimpulkan bahwa responden yang penghasilan orangtua > Rp.800.000 memiliki resiko perkembangan social remaja yang tidak baik 2,397 kali dibandingkan dengan responden yang penghasilan orangtua Rp.800.000. Dari hasil wawancara terhadap 15 orang siswa mengenai penghasilan orang tua, kebanyakan dari siswa tersebut mengaku kurang memahami perihal tentang hubungan penghasilan orang tuanya dengan perilaku hubungan social mereka. Peneliti dapat menyimpulkan dari 15 orang siswa (100%) yang di wawancarai, mereka mengatakan bahwa tidak terlalu memikirkan hal itu, karena mereka hanya menjalankan kewajibannya yaitu sekolah dan menuntut ilmu. Namun, bagi mereka pemberian uang saku yang mereka peroleh dari orang tua mungkin berhubungan pula dengan penghasilan orang tua mereka. Maccoby & McLoyd (Sigelman& Shaffer, 1995: 396397) telah membandingkan orangtua kelas menengah dan atas dengan kelas bawah atau pekerja. Hasilnya, menunjukkan bahwa orangtua kelas bawah atau pekerja cenderung: (a) sangat menekankan kepatuhan dan respek terhadap otoritas, (b) lebih restriktif (keras) dan otoriter, (c) kurang memberikan alasan kepada anak, (d) kurang bersikap hangat dan memberi kasih sayang kepada anak. Rand Conger (Sigelman& Shaffer, 1995:397) dan perkumpulannya mengemukakan bahwa orangtua yang

mengalami tekanan ekonomi atau perasaan tidak mampu mengatasi masalah finansialnya, cenderung menjadi depresi,

105

dan mengalami konflik keluarga, yang akhirnya mempengaruhi masalah remaja, seperti kurang harga diri, prestasi belajar rendah, kurang dapat bergaul dengan teman, mengalami masalah penyesuain keluarga diri yang (karena depresi dan agresi).

Sebaliknya,

perekonomiannya

menengah

cenderung lebih memberikan pengawasan sebagai orangtua. Mereka mempunyai ambisi untuk meraih status yang tinggi, dan menekan anak untuk mengejar statusnya melalui

pendidikan atau latihan professional..

Akan tetapi, status

ekonomi tidak dapat dikatakan sebagai satu-satunya factor penentu perkembangan remaja dan perilakunya secara wajar. Dari hasil analisa bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara penghasilan orangtua dengan perkembangan social remaja. Dari hasil uraian di atas dapat disimpulkan bahwa meskipun status ekonomi keluarga berkecukupan, tetapi jika tidak memperhatikan pendidikan remaja maka dalam pertumbuhannya, sosialnya. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian remaja akan terganggu perkembangan

sebelumnya yang dilakukan oleh Abur Rohman S.Psi (2010) di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen Kabupaten Malang kelas 1 dengan sampel sebanyak 83 siswa yang menunjukkan bahwa siswa yang orang tuanya berstatus social ekonomi atas adalah 5 siswa (6,02%), menengah 30 siswa (36,14%), dan bawah 48 siswa (57,83%). Jadi dapat disimpulkan bahwa status social ekonomi orang tua sebagian besar remaja adalah bawah. Hasil koefisien korelasi antara status social ekonomi orang tua dengan perilaku social remaja tidak baik sebesar rxy = - 0,321 dengan R2 = 0,103. Hal ini berarti ada hubungan negative

106

antara status social ekonomi orang tua dengan perilaku social remaja.

6. 2.2.e. Tipe Keluarga dengan Perkembangan Social Remaja Hasil penelitian yang didapatkan di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor tahun 2011 yaitu dari 132 responden yang memiliki tipe keluarga inti dapat dilihat bahwa 73 responden (55,3%) memiliki perkembangan social yang baik dan 59 responden (44,7%) memiliki perkembangan social yang tidak baik. Dan dari 18 responden yang memiliki tipe keluarga besar dapat dilihat bahwa 12 responden (66,7%) memiliki

perkembangan social yang baik dan 6 responden (33,3%) memiliki perkembangan social yang tidak baik. Dari hasil uji statistic didapatkan nilai P value = 0,510 berarti P Value > 0,05, sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tipe keluarga dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor, khususnya kelas XI. Dari nilai OR dapat disimpulkan bahwa responden yang memiliki keluarga inti memiliki resiko perkembangan social remaja yang tidak baik 1,616 kali dibandingkan dengan responden yang memiliki keluarga besar. Peneliti sebelumnya tidak menggunakan tipe keluarga sebagai variabel. Menurut Sudardja Adiwikarta (1988: 66-67) dan Sigelman& Shaffer (1995: 390-391) bentuk atau pola keluarga, yaitu 1) Keluarga Inti (Nuclear Family), yang terdiri atas suami/ayah, istri/ibu, dan anak- anak yang lahir dari pernikahan keduanya dan yang belum berkeluarga (termasuk anak tiri jika ada), bentuk keluarga seperti ini sudah menjadi pilihan banyak pasangan di era globalisasi dan modernisasi, tetapi peran orang tua khususnya ibu yang bertanggung jawab

107

mengurus

rumah

tangga

dan

mengurus

anak

mampu

memberikan perawatan dan perlakuan yang baik bagi anaknya tanpa bersikap otoriter kepada sang anak. Iklim keluarga yang sehat atau perhatian orangtua yang penuh kasih sayang merupakan faktor esensial yang memfasilitasi perkembangan psikologis anak tersebut, sehingga anak dapat memenuhi kebutuhan- kebutuhan dasarnya, baik fisik-biologis maupun sosiopsikologisnya. Apabila anak telah memperoleh rasa aman, penerimaan sosial dan harga dirinya, maka anak dapat memenuhi kebutuhan tertingginya, yaitu perwujudan diri (selfactualizing), 2) Keluarga Luas (Extended Family), yang keanggotannya tidak hanya meliputi suami, istri dan anak- anak yang belum berkeluarga, tetapi juga termasuk kerabat lain yang biasanya tinggal dalam sebuah rumah tangga bersama, seperti mertua (orangtua suami/istri), adik, kakak ipar atau lainnya, bahkan mungkin pembantu rumah tangga atau orang lain yang tinggal menumpang. Peranan anggota keluarga lain seperti paman, bibi, kakek, nenek, saudara sepupu dan sebagainya dalam suatu keluarga, tidak hanya menjadi tempat mengadu bagi remaja bermasalah, tetapi juga dapat menjadi pengawas dalam suatu keluarga terutama bagi kedua orang tua yang sama- sama bekerja sehingga anak atau remaja tetap terpantau perkembangan sosialnya. Muhammad (2006) juga menyatakan bahwa tipe keluarga yang demokratis dapat mengarahkan anak remaja menjadi remaja yang bertanggung jawab dan memiliki pemikiran yang sehat, beda halnya dengan keluarga otoriter yang dapat membentuk perilaku anak menjadi remaja yang tidak bertanggung jawab, acuh, dan memberontak. Pengalaman remaja dalam berinteraksi dengan seluruh anggota keluarga

108

merupakan penentu pula dalam berinteraksi dengan orang lain di kemudian hari. Dari hasil analisa bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara tipe keluarga dengan perkembangan social remaja. Dari hasil uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada jaman modern seperti sekarang ini memang sebagian besar keluarga memiliki keluarga inti karena di saat seorang anak mulai menikah, mereka beranggapan untuk hidup mandiri dengan membentuk keluarga baru. Tetapi apapun jenis tipe keluarga yang dimiliki asalkan keluarga mampu

menciptakan suasana yang hangat dan harmonis dalam rumah, maka dalam anggota keluarga dapat saling memiliki keterikatan batin yang erat.

6. 2.2.f. Pola Komunikasi Remaja Dalam Keluarga dengan Perkembangan Social Remaja. Hasil penelitian yang didapatkan di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor tahun 2011 yaitu dari 76 responden yang memiliki pola komunikasi disfungsional remaja dalam keluarga dapat dilihat bahwa 35 responden (46,1%) memiliki

perkembangan social yang baik dan 41 responden (53,9%) memiliki perkembangan social yang tidak baik. Dan dari 74 responden yang memiliki pola komunikasi fungsional remaja dalam keluarga dapat dilihat bahwa 24 responden (32,4%) memiliki perkembangan social yang baik dan 50 responden (67,6%) memiliki perkembangan social yang tidak baik. Dari hasil uji statistic didapatkan nilai P value = 0,013 berarti P Value < 0,05, sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan yang bermakna antara pola komunikasi remaja dalam keluarga dengan perkembangan social remaja di SMK Mandiri

109

Bojong Gede, Bogor, khususnya kelas XI. Dari nilai OR dapat disimpulkan bahwa responden yang memiliki pola komunikasi remaja dalam keluarga disfungsional memiliki resiko

perkembangan social remaja dibandingkan dengan

yang tidak baik 2,440 kali yang memiliki pola

responden

komunikasi remaja dalam keluarga fungsional. Dari hasil wawancara terhadap 15 orang siswa sebanyak komunikasi 8 orang siswa (53,3%) mengatakan bahwa

mereka dengan orang tuanya kurang terjalin

dengan baik karena pendapat mereka sering bertentangan dengan orang tuanya terhadap apa yang mereka ingikan,

terlebih bila mereka memiliki kakak/ adik terkadang mereka merasa bahwa orang tuanya tidak bersikap adil terhadapnya. Bagi mereka teman sebanyanya lebih memahami mereka daripada orang tua mereka sendiri, sehingga remaja lebih terbuka dan cocok bercerita dengan temannya karena memiliki kesamaan ciri/hobi. Dan terkadang mereka merasa malu untuk menceritakan masalahnya kepada Ayah/Ibunya terutama

masalah percintaannya. Tetapi bukan berarti remaja tidak membutuhkan figure orang tuanya. Sedangkan 7 orang siswa (46,7%) mengatakan bahwa menjalin komunikasi yang baik dengan keluarga itu sangat penting khusunya orangtua karena remaja menyadari sebagai anak sudah sepatutnya mereka menghormati dan menghargai kedua orang tuanya meskipun remaja mengaku tidak semua hal bisa di ceritakan dengan orang tuanya. Peran kakak/ adik juga berarti karena remaja merasa tidak sendirian di rumah dan bisa diajak bermain bersama. Mereka pula mengatakan tidak mau menjadi anak yang durhaka sehingga menjalin hubungan baik dengan orang tua seumur hidup mereka sangatlah penting.

110

Menurut Dadang Hawari (1997:163-165) anak yang dibesarkan dalam keluarga yang mengalami disfungsi mempunyai ririko yang lebih besar untuk bergantung tumbuh kembang jiwanya (misalnya, berkepribadian anti social), daripada anak yang dibesarkan dalam keluarga yang harmonis dan utuh (sakinah). Salah satu ciri disfungsi tersebut, adalah perceraian orangtua. Perceraian ternyata memberikan dampak yang kurang baik terhadap perkembangan kepribadian anak. Hal ini terungkap dalam hasil penelitian beberapa ahli, seperti: McDermott, Moorison, Offord, dkk.; Sugar, Westman& Kalter (Adam& Gullota, 1983: 253- 254) yaitu bahwa remaja yang orangtuanya bercerai cenderung menunjukkan cirri-ciri: (a) berperilaku nakal, (b) mengalami depresi, (c) melakukan hubungan seksual secara aktif, dan (d) kecenderungan terhadap obat-obatan terlarang. Dari hasil analisa bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pola komunikasi remaja dalam keluarga dengan perkembangan social remaja. Dari hasil uraian di atas dapat disimpulkan komunikasi dalam keluarga adalah jembatan interaksi antara orangtua dengan anaknya. Hal ini merupakan penjelasan bahwa tidak benar selalu menjadikan komunikasi yang buruk dalam keluarga sebagai satu- satunya penyebab kenakalan remaja. Komunikasi orangtua- anak dikatakan efektif apabila kedua belah pihak saling dekat, saling menyukai dan komunikasi diantaranya merupakan hal yang

menyenangkan dan adanya keterbukaan sehingga tumbuh sikap percaya.

111

Hasil

penelitian

ini

didukung

oleh

penelitian

sebelumnya yang dilakukan oleh Nuryaddien (2008) di Desa Timpik, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah dengan sampel dalam penelitian ini adalah renaja dengan kisaran umur 13- 17 tahun, yang berjumlah 40 anak remaja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola komunikasi dalam keluarga dengan kategori tinggi dinyatakan oleh 12 responden atau 30% dari 40 responden, pola komunikasi dalam keluarga dengan kategori sedang dinyatakan oleh 18 responden atau 45% dari 40 responden, pola komunikasi dalam keluarga dengan kategori rendah dinyatakan oleh 10 responden atau 25% dari 40 responden. Sebagai berikut hasil perhitungan terhadap data pola komunikasi dalam keluarga dan perkembangan social remaja pada remaja Desa Timpik, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang tahun 2008 di peroleh nilai o (Khai Kuadrat hasil hitung) sebesar 22,71. Nilai tersebut kemudian dikonsultasikan dengan nilai table db = 4 taraf signifikansi 5% sebesar 9,488 dan taraf signifikansi 1% sebesar 13,277. Berdasarkan pebandingan nilai tersebut diketahui bahwa nlai o (Khai kuadrat hasil hitung) lebih besar dari nilai konsultasi baik taraf signifikansi 5% ataupun 1%, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara pola komunikasi dalam keluarga dan perkembangan social pada remaja Desa Timpik, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang tahun 2008.

112

BAB VII PENUTUP

7. 1. Kesimpulan Dari hasil pembahasan terhadap hasil penelitian tentang hubungan Pola Komunikasi Remaja 14- 17 Tahun Dalam Keluarga dengan Perkembangan Sosial Remaja di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor tahun 2011, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Karakteristik responden dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Hasil penelitian yang dilakukan di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor kelas XI terhadap 150 responden menunjukkan bahwa dari segi umur mayoritas siswa kelas XI di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor berumur 16-17 tahun. Dari hasil jenis kelamin

menunjukkan bahwa mayoritas siswa kelas XI di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor berjenis kelamin pria. Dilihat dari pemberian uang saku siswa kelas XI di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor menunjukkan bahwa mayoritas siswa memperoleh uang saku seminggu yaitu sebesar Rp. 70.000. 2. Karakteristik orang tua responden dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMK Mandiri Bojong Gede,Bogor kelas XI terhadap dari 150 responden menunjukkan bahwa dilihat dari segi pendidikan orang tuanya (Ayah/Ibu)

menunjukkan mayoritas memiliki pendidikan orang tuanya rendah baik ayah maupun ibu. Dari hasil penelitian pekerjaan orang tuanya (Ayah/Ibu), yang memiliki ayah yang bekerja lebih mendominan dan mayoritas memiliki ibu yang tidak bekerja. Dilihat dari penghasilan orang tuanya dalam sebulan siswa kelas XI di SMK Mandiri Bojong

113

Gede,Bogor mayoritas memperoleh penghasilan > Rp.800.000 sebulan. Dari hasil tipe keluarga responden menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tipe keluarga inti (nuclear family). 3. Terdapat hubungan yang bermakna antara uang saku dengan perkembangan social remaja. 4. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pendidikan orang tua (Ayah/Ibu) dengan perkembangan social remaja. 5. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pekerjaan ayah dengan perkembangan social remaja. 6. Terdapat hubungan yang bermakna antara pekerjaan ibu dengan perkembangan social remaja. 7. Terdapat hubungan yang bermakna antara penghasilan orangtua dengan perkembangan social remaja. 8. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tipe keluarga dengan perkembangan social remaja. 9. Terdapat hubungan yang bermakna antara pola komunikasi remaja dalam keluarga dengan perkembangan social remaja.

7. 2. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh ada beberapa saran yang perlu dijadikan pertimbangan bagi peneliti dan penelitian selanjutnya antara lain : 1. Profesi keperawatan Mengadakan diskusi layanan konseling bagi orangtua dan remaja, pengajar dan siswa dengan melakukan kerjasama dengan lembaga pemerintah atau LSM yang mempunyai kompetensi di bidang kesehatan remaja khususnya mengenai pola komunikasi keluarga dengan remaja.

114

2. Bagi peneliti Untuk peneliti selanjutnya dengan tema yang sama, agar membuat alat pengukur data penelitian dengan item item pernyataan yang lebih cermat, memperluas wilayah penelitian, mempertimbangkan subjek yang akan diteliti apakah sudah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dan juga memperbanyak jumlah sampel penelitian.

3. Bagi Orang Tua Sebagai bahan masukan untuk memberikan informasi tentang komunikasi yang baik antara orang tua dengan remaja, sehingga diharapkan dengan informasi yang akurat orang tua lebih sering mendiskusikan permasalahan permasalahan siswa siswi di sekolah kepada wali kelas atau guru BK.

4. Bagi sekolah Karena ditemukan data kurangnya komunikasi keluarga dengan remaja menyebabkan tidak baiknya perkembangan sosial pada remaja, maka dibutuhkan layanan konseling antara orang tua dengan sekolah untuk menjembatani komunikasi remaja dengan orang tua.

115

DAFTAR PUSTAKA

Agung, Wahyu. 2010. Panduan SPSS 17.0 Untuk Mengolah Penelitian Kuantitatif. Yogyakarta: Garailmu.

Ahmadi, Abu. H. dan Munawar Sholeh. 2005. Psikologi Perkembangan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsini. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Fatimah, Enung. 2006. Psikologi Perkembangan (Perkembangan Peserta Didik). Bandung: CV. Pustaka Setia.

Friedman, M.M. 1998. Keperawatan Keluarga: Teori dan Praktik Edisi 3. Jakarta: EGC.

Gunarsa, S. D. 2002. Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja. Cetakan ke-12. Jakarta : Gunung Mulia.

Hidayat, Aimul A. Aziz. 2007. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.

Kartono, Kartini. 2008. Patologi Sosial II: Kenakalan Remaja. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Lunandi, A.G. 1987. Komunikasi Mengena, Meningkatkan Efektivitas Komunikasi Antar Pribadi. Yogyakarta: Kanisius.

Muhammad, 2006. Psikologi Remaja. Bandung: Pustaka Setia. Notoatmodjo, Soekidjo. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

,. Rineka Cipta.

. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta:

Nursalam. 2008. Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.

Partini, Siti. S. 1990. Buku Psikologi Sosial. Yogyakarta: Studing. Potter, Patricia A. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan Praktik Edisi 4, Volume 1. Jakarta: EGC.

Rakhmat, J. 2002. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Riyanto, Agus, SKM.,M.Kes. 2011. Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika.

Sabri, M. Alisuf. 1942. Pengantar Psokologi Umum& Perkembangan. Jakarta: CV. Pedoman Ilmu Jaya.

Santrock, John. W. 2002. Life Spam Development. Jakarta: Erlangga. , . 2003. Adolescence Perkembangan Remaja. Jakarta: Erlangga.

Setiadi. 2007. Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan Edisi Pertama. Jakarta: Graha Ilmu.

Setiadi, Elly. M. 2006. Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar Edisi Kedua. Jakarta: Kencana.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R& D. Bandung: Alfabeta.

Sulastri, Melly Sri. R. 1987. Psikologi Perkembangan Remaja. Jakarta: Bina Aksara. Supratiknya, A. 1995. Komunikasi Antar Pribadi. Yogyakarta: Kanisius. Tamsuri, Anas. 2005. Buku Saku Komunikasi Dalam Keperawatan. Jakarta: EGC. Wong, D.L. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik Edisi 4. Jakarta: EGC. Yusuf, Syamsu. LN. 2005. Psikologi Perkembangan Anak& Remaja. Bandung: Rosda.

LAMPIRAN 1

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama Tempat / Tanggal Lahir Agama Alamat

: Marseliana : Jakarta, 4 April 1990 : Islam : Jalan Pangrango 1 Blok G3 No.20 Rt 003, Rw 017 Bojong Gede Bogor

Riwayat Pendidikan Tahun 1995 Tahun 2001 Tahun 2004 Tahun 2007

: : Lulus TK Harapan Nita Bojong Gede, Bogor : Lulus SDN Polisi 2 Bogor : Lulus SMP PGRI 9 Bogor : Lulus SMA Taruna Andigha Bogor

Lampiran 3

JADWAL KEGIATAN PENELITIAN MAHASISWA

KEGIATAN 1 Pengajuan Judul Studi Pendahuluan Pengajuan Proposal Revisi Pengajuan Proposal Penyusunan Proposal dan Power Point Sidang Proposal Revisi Proposal Penelitian Uji Validitas dan Penelitian Pengajuan Uji Validitas, Penelitian, dan Keseluruhan BAB I- VII Pengajuan Kelengkapan Skripsi dan Power Point Ujian Sidang Skripsi

Maret 2 3 4 1

April 2 3 4 1

Mei 2 3 4 1

Juni 2 3 4 1 2

Juli 3 4

Lampiran 5

PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN Kepada

Responden Yth Dengan Hormat, Saya mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu- Ilmu Kesehatan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, bermaksud melaksanakan penelitian mengenai Hubungan Pola Komunikasi Remaja 14- 17 Tahun Dalam Keluarga dengan Perkembangan Sosial Remaja di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor. Dalam penelitian ini sangat dibutuhkan banyak data yang nantinya akan bermanfaat dalam hasil akhir penelitian ini. Untuk itu saya mohon kesediaan Anda untuk menjadi responden penelitian ini. Jawaban Saudara/i untuk menjadi responden. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih. Jakarta, Mei 2011 Hormat Saya

Peneliti

Lampiran 6

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN Judul Penelitian : Hubungan Pola Komunikasi Remaja 14- 17 Tahun Dalam Keluarga Dengan Perkembangan Sosial Remaja Di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor. Peneliti Pembimbing : Marseliana : Desak Nyoman Sithi Skp. MARS

Saya memberikan persetujuan untuk memberikan jawaban pada kuesioner yang diberikan peneliti. Saya mengerti bahwa, saya menjadi bagian dari penelitian ini yang bertujuan untuk mengetahui Hubungan Pola Komunikasi Remaja 14- 17 Tahun Dalam Keluarga Dengan Perkembangan Sosial Remaja Di SMK Mandiri Bojong Gede, Bogor. Saya telah diberi tahu bahwa, jawaban terhadap kuesioner ini tidak akan diberitahukan kepada siapapun. Partisipasi saya, atau penolakan saya untuk menjawab kuesioner ini tidak akan merugikan saya dan keluarga saya. Demikianlah secara sukarela tidak ada unsur paksaan dari siapapun, saya bersedia berperan serta dalam penelitian ini.

Jakarta, Mei 2011 Tanda Tangan Responden Tanda Tangan Peneliti

Lampiran 7

HUBUNGAN POLA KOMUNIKASI REMAJA 14- 17 TAHUN DALAM KELUARGA DENGAN PERKEMBANGAN SOSIAL REMAJA DI SMK MANDIRI BOJONG GEDE, BOGOR Petunjuk Pengisian Kuesioner : 1. Bacalah dengan teliti sebelum mengisi kuesioner. 2. Pilih pernyataan yang menurut Anda merupakan jawaban yang benar. 3. Berilah tanda checklist () pada jawaban yang Anda pilih. 4. Semua jawaban yang Anda berikan di dalam kuesioner ini tidak akan berpengaruh dirahasiakan. 5. Bila ada yang kurang dimengerti bisa ditanyakan kepada peneliti. 6. Atas partisipasinya kami ucapkan terima kasih. negative terhadap Anda dan informasi akan

A. Data Demografi 1. Inisial 2. Jenis Kelamin 1. 2. Pria Wanita : :

2. Umur : . Tahun 3. Berapa uang saku anda dalam seminggu yang diberikan orang tua anda? 1. 2. = Rp. 70.000 > = Rp. 70.000

B. Karakteristik Keluarga Berilah tanda checklist () pada kolom yang ada disebelah pernyataan sesuai dengan pilihan jawaban anda : 1. Pendidikan orang tua anda No. Pendidikan 1. Tidak Sekolah 2. Tidak Tamat SD 3. Tamat SD 4. Tamat SLTP 5. Tamat SLTA 6. Tamat Perguruan Tinggi 2. Pekerjaan orang tua anda No. Pekerjaan 1. Bekerja 2. Tidak bekerja 3. Penghasilan orang tua perbulan No. Penghasilan 1. Kurang dari Rp. 800.000 2. Lebih dari Rp. 800.000

Ayah

Ibu

Ayah

Ibu

Ayah/ ibu

4. Di daerah asal anda, anda tinggal dengan siapa? 1. 2. Bapak, ibu dan anak (keluarga inti) Bapak, ibu, anak serta paman, bibi, kakek dan nenek (keluarga besar)

C. Komunikasi Antara Keluarga dengan Remaja Berilah tanda check list () pada kolom yang ada disebelah pernyataan sesuai dengan pilihan jawaban anda : Ket : SS : Sangat Sering J : Jarang S : Sering TP : Tidak Pernah 1. Pola komunikasi fungsional (antar anggota keluarga saling menghormati satu sama lain). No. Pernyataan 1. Saya minta ijin kepada Ayah/ Ibu bila ingin pergi keluar rumah. 2. Saya mendengarkan ketika orangtua saya sedang menasehati. 3. Orangtua saya memiliki waktu luang untuk saya setiap hari. 4. Orangtua saya menelpon bila saya telat pulang kerumah. 5. Ketika saya punya masalah, saya bercerita dengan Ayah/ Ibu. 6. Orangtua saya mengajarkan untuk rajin beribadah. 7. Keluarga saya sering pergi rekreasi bersama. SS S J TP

2. Pola komunikasi disfungsional (antar anggota keluarga tidak saling memahami satu sama lain). 8. Orang tua saya pasti memukul bila saya di marahi karena melakukan kesalahan. 9. Orangtua saya sering memarahi saya dengan kata- kata kasar. 10. Orang tua saya sangat mengekang terhadap kegiatan saya. 11. Saya sering merasa iri terhadap kakak/ adik saya.

12. Saya sering membangkang atas keputusan/ pendapat orang tua. 13. Saat bertengkar dengan orang tua, saya sering kabur dari rumah. 14. Saya sering bertengkar dengan kakak/ adik.

D. Hubungan remaja dengan perkembangan sosial Berilah tanda check list () pada kolom yang ada disebelah pernyataan sesuai dengan pilihan jawaban anda : Ket : SS : Sangat Setuju TS : Tidak Setuju S : Setuju STS : Sangat Tidak Setuju

No. Pernyataan 1. Bagi saya mengikuti perilaku teman- teman merupakan hal yang patut dilakukan agar saya bisa diterima oleh mereka. 2. Mengikuti teman yang merokok perlu dilakukan. 3. Bagi saya patuh kepada guru harus dilakukan. 4. Teman dekat lawan jenis (pacar) sangat penting untuk diri saya. 5. Menurut saya, tawuran adalah perilaku solidaritas antar sesama teman. 6. Berciuman bibir adalah hal biasa dalam pacaran. 7. Bolos sekolah adalah hal yang tidak bermanfaat. 8. Dalam pergaulan memilih teman itu perlu agar tidak terjerumus ke hal- hal negatif. 9. Minum alkohol merupakan cara untuk menghilangkan stress.

SS

TS

STS

10. Memiliki geng adalah cara saya agar bisa populer. 11. Mencontek merupakan satu- satunya cara mendapat nilai bagus

LAMPIRAN 8

1. Table koefisien korelasi (r) Product Moment

NILAI-NILAI r PRODUCT MOMENT N 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Taraf Signif 5% 1% 0.997 0.999 0.950 0.990 0.878 0.959 0.811 0.754 0.707 0.666 0.632 0.602 0.576 0.553 0.532 0.514 0.497 0.482 0.468 0.456 0.444 0.433 0.423 0.413 0.404 0.396 0.388 0.917 0.874 0.834 0.798 0.765 0.735 0.708 0.684 0.661 0.641 0.623 0.606 0.590 0.575 0.561 0.549 0.537 0.526 0.515 0.505 0.496 N 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Taraf Signif 5% 1% 0.381 0.487 0.374 0.478 0.367 0.470 0.361 0.355 0.349 0.344 0.339 0.334 0.329 0.325 0.320 0.316 0.312 0.308 0.304 0.301 0.297 0.294 0.291 0.288 0.284 0.281 0.279 0.463 0.456 0.449 0.442 0.436 0.430 0.424 0.418 0.413 0.408 0.403 0.398 0.393 0.389 0.384 0.380 0.376 0.372 0.368 0.364 0.361 N 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100 125 150 175 200 300 400 500 600 700 800 900 1000 Taraf Signif 5% 1% 0.266 0.345 0.254 0.330 0.244 0.317 0.235 0.227 0.220 0.213 0.207 0.202 0.195 0.176 0.159 0.148 0.138 0.113 0.098 0.088 0.080 0.074 0.070 0.065 0.062 0.306 0.296 0.286 0.278 0.270 0.263 0.256 0.230 0.210 0.194 0.181 0.148 0.128 0.115 0.105 0.097 0.091 0.086 0.081

TABULASI UJI VALIDITAS


Pola Komunikasi Remaja Dalam Keluarga Fungsional No. R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R10 R11 R12 R13 R14 R15 R16 R17 R18 R19 R20 R21 R22 R23 R24 R25 R26 R27 R28 R29 R30 p1 p2 p3 p4 p5 4 4 4 3 3 3 3 4 4 4 3 4 3 3 3 3 4 4 3 3 4 4 4 2 2 2 4 3 3 3 3 2 4 4 4 4 3 3 4 2 4 4 3 3 3 3 4 4 3 3 3 4 3 3 4 4 3 2 4 4 4 3 1 3 4 2 4 3 4 4 3 4 3 2 4 4 4 3 1 3 4 2 4 3 4 4 3 4 3 3 3 4 4 4 1 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 2 4 4 4 2 1 4 4 2 4 2 3 4 2 3 p6 4 3 4 4 4 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 p7 4 3 4 4 4 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Disfungsional p8 p9 p10 p11 p12 p13 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 3 4 3 4 4 4 4 4 4 3 3 3 4 4 4 1 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 4 4 1 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 4 4 4 4 4 1 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 4 4 1 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 4 4 4 4 4 1 3 3 4 3 3 3 4 3 3 p14 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 S 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 1 3 3 4 3 3 3 4 3 3 p1 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 1 3 3 4 3 3 3 4 3 3 p2 p3 55 44 52 44 50 54 51 46 56 50 47 54 50 54 45 45 52 56 56 52 19 46 48 50 48 43 47 56 43 47 p4 1 1 1 2 2 2 4 2 1 4 3 1 1 1 2 3 1 1 1 1 1 1 2 3 1 1 2 2 3 1 p5 2 1 2 2 3 1 4 2 2 4 4 2 1 1 3 3 1 2 2 1 2 2 2 3 1 1 2 3 2 3 p6 p7 p8 p9 1 1 4 1 2 1 1 1 1 1 3 2 1 2 2 1 2 1 3 3 4 1 2 1 2 2 2 4 3 4 1 3 2 1 2 1 1 2 1 1 3 1 1 2 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 2 1 1 1 2 3 2 2 2 1 2 2 3 2 2 2 3 3 2 1 2 2 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 1 1 p10 1 1 1 2 1 1 2 1 1 4 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 4 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 2 4 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 2 1 1 1 p11 1 1 1 2 2 2 4 2 1 4 3 1 1 1 2 3 1 1 1 1 1 1 2 3 1 1 2 2 3 1 S 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 4 1 2 2 2 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 2 4 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 2 1 1 1 15 12 12 19 18 15 37 15 18 38 23 13 12 13 17 26 12 13 13 11 13 13 25 23 12 12 21 18 17 13 Perkembangan Sosial Remaja

Lampiran 9

TABULASI HASIL PENELITIAN


Variabel J K No R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R1 0 R1 1 R1 2 R1 3 R1 4 R1 5 R1 6 R1 7 R1 8 R1 9 R2 0 R2 1 R2 2 R2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 1 1 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 1 2 2 1 1 2 2 2 2 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 2 2 2 2 1 1 1 1 2 1 2 1 2 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 2 1 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 1 2 2 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 1 um ur uangsa ku peni bu penay ah peki bu pekay ah pen gh T K 1 2 3 4 5 1 2 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 Pola komunikasi remaja dalam keluarga 6 7 8 9 10 11 12 13 3 2 4 4 4 4 3 3 1 3 4 2 4 4 4 4 3 4 3 2 4 3 4 14 3 1 4 4 4 4 3 2 1 2 4 2 4 4 4 4 2 3 3 3 2 1 4 3 2 3 2 4 4 2 3 1 4 4 1 4 3 2 3 3 3 3 2 3 3 4 Perkembangan sosial remaja 1 2 3 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 2 3 4 4 4 3 4 3 4 3 2 4 3 1 3 2 4 4 1 1 3 3 4 2 4 4 2 2 3 3 3 2 3 2 4 40 36 46 45 48 48 37 38 24 48 47 27 42 42 38 50 34 42 44 42 39 33 47 6 7 8 9 10 11 4 2 2 2 2 2 4 2 3 4 4 4 3 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 2 2 4 3 2 3 3 2 3 2 2 4 4 2 4 3 3 3 4 2 1 2 2 3 3 2 4 2 2 3 2 2 4 4 2 4 4 1 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 4 3 4 3 3 4 4 4 4 4 4 3 3 3 4 2 4 2 3 3 4 3 3 3 3 3 2 2 4 3 2 3 4 3 3 3 3 2 3 4 4 3 3 2 4 4 3 3 2 3 1 3 3 2 2 2 3 4 3 2 3 2 3 3 3 33 33 39 37 41 40 32 33 23 35 36 20 31 34 32 38 35 37 34 37 43 36 30

2 3 3 2 2 2 3 3 3 2 3 4 2 3 1 4 4 4 2 2 4 3 4 2 4 3 3 4 3 2 4 3 1 2 1 3 3 2 2 2 2 1 2 2 1 3 3 4 3 4 3 3 2 3 3 2 2 3 2 2 2 3 2 2 2 2 3 3 1 2 2 3 2 2 1 4 4 4 4 3 2 3 2 1 1 3 2 4 1 2 4 4 2 2 3 4 4 2 3 2 4 3 2 2 1 3 2 2 4 1 2 3 3 2 2

3 2 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 4 2 3 4 2 2 3 4 3 2 4 4 3 2 4 4 4 2 3 4 2 1 3 2 4 3 4 4 3 2 4 4 2 1 2 2 3 2 4 3 4 2 3 3 4 1 4 3 4 2 4 4 4 2 3 2 4 1 4 4 4 2 4 4 4 2 4 4 4 2 3 3 4 2 2 2 4 3 4 4

4 3 4 2 4 4 3 4 2 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 4 3 4 4 4 4 3 4 3 4 3 3 4 2 4 3 4 4 2 4 2 2 3 2 2 1 4 4 2 3 3 4 4 3 3 2 1 2 2 2 3 4 3 2 2 4 4 4 3 4 3 2 2 3 4 4 4 4 2 4 3 4 4 1 2 3 4 4 1 4 3 4 4 1 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 4 3 4 4 1 4 2 4 4 1 2

3. UJI NORMALITAS

A. Explore

Lampiran 11

4. Hasil Penelitian Univariat A. Frequency Table


1. Jenis Kelamin
Cumulative Percent 52.0 100.0

Frequency Valid Pria Wanita Total 78 72 150

Percent 52.0 48.0 100.0

Valid Percent 52.0 48.0 100.0

2. Umur
Cumulative Percent 6. 0 100.0

Frequency Valid 14-15tahun 16-17tahun Total 9 141 150

Percent 6.0 94.0 100.0

Valid Percent 6.0 94.0 100.0

3. Uang Saku
Cumulative Percent 81.3 100.0

Frequency Valid < Rp.70.000 > Rp. 75.000 Total 122 28 150

Percent 81.3 18.7 100.0

Valid Percent 81.3 18.7 100.0

4. Pendidikan Ayah
Cumulative Percent 52.7 100.0

Frequency Valid Rendah (Tidak sekolahtamat SLTP) Tinggi (Tamat SLTA- PT) Total 79 71 150

Percent 52.7 47.3 100.0

Valid Percent 52.7 47.3 100.0

1. Pendidikan Ibu
Frequency Valid Rendah (Tidak sekolahtamat SLTP) Tinggi (Tamat SLTA- PT) Total 96 54 150 Percent 64.0 36.0 100.0 Cumulative Percent 64.0 100.0

Valid Percent 64.0 36.0 100.0

2. Pekerjaan Ayah
Cumulative Percent 92. 0 100. 0

Frequency Valid bekerja tidak bekerja Total 138 12 150

Percent 92.0 8.0 100.0

Valid Percent 92.0 8.0 100.0

3. Pekerjaan Ibu
Cumulative Percent 35.3 100.0

Frequency Valid Bekerja tidak bekerja Total 53 97 150

Percent 35.3 64.7 100.0

Valid Percent 35.3 64.7 100.0

4. Penghasilan Orangtua
Cumulative Percent 43.3 100.0

Frequency Valid < Rp.800.000 > Rp.850.000 Total 65 85 150

Percent 43.3 56.7 100.0

Valid Percent 43.3 56.7 100.0

5. Tipe Keluarga
Cumulative Percent 88.0 100.0

Frequency Valid keluarga inti keluarga besar Total 132 18 150

Percent 88.0 12.0 100.0

Valid Percent 88.0 12.0 100.0

1. Pola Komunikasi dalam Keluarga


Cumulative Percent 50.7 100.0

Frequency Valid Disfungsional Fingsional Total 76 74 150

Percent 50.7 49.3 100.0

Valid Percent 50.7 49.3 100.0

2. Perkembangan Sosial Remaja


Frequency Valid Tidak Baik Baik Total 65 85 150 Percent 43.3 56.7 100.0 Cumulative Percent 43.3 100.0

Valid Percent 43.3 56.7 100.0

4. HASIL PENELITIAN BIVARIAT A. Crosstabs

1. uang saku * Perkembangan Sosial Remaja


Crosstab Perkembangan Sosial Remaja Tidak Baik uang saku < Rp.70.000 > Rp. 75.000 Total Count % within uang saku Count % within uang saku Count % within uang saku 59 48.4% 6 21.4% 65 43.3% Baik 63 51.6% 22 78.6% 85 56.7% Total 122 100.0% 28 100.0% 150 100.0%

Chi-Square Tests Value arson Chi-Square ntinuity Correctionb elihood Ratio her's Exact Test ear-by-Linear Association of Valid Cases 6.682 150 1 .010 6.727a 5.675 7.176 df 1 1 1 Asymp. Sig. (2sided) .009 .017 .007 .011 .007 Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided)

0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 12.13. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Odds Ratio for uang saku (< Rp.70.000 / > Rp. 75.000) For cohort Perkembangan Sosial Remaja = Tidak Baik For cohort Perkembangan Sosial Remaja = Baik N of Valid Cases 3.434 2.257 .657 150 Lower 1.302 1.085 .507 Upper 9.059 4.695 .851

2. Pendidikan ayah * Perkembangan Sosial Remaja


Crosstab Perkembangan Sosial Remaja Tidak Baik pendidikan ayah Rendah (Tidak sekolah- tamat SLTP) Tinggi (Tamat SLTA- PT) Total Count % within pendidikan ayah Count % within pendidikan ayah Count % within pendidikan ayah Chi-Square Tests Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
b

Baik 33 46 58.2% 39 54.9% 85 56.7%

Total 79 100.0 % 71 100.0 % 150 100.0 %

41.8% 32 45.1% 65 43.3%

df
a

Asymp. Sig. (2-sided) 1 1 1 .684 .809 .684

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1sided)

.166 .05 9 .16 6 .16 5 15

.685

.742 4

.40

0 a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 30.77. b. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Odds Ratio for pendidikan ayah (Rendah (Tidak sekolah- tamat SLTP) / Tinggi (Tamat SLTA- PT)) For cohort Perkembangan Sosial Remaja = Tidak Baik For cohort Perkembangan Sosial Remaja = Baik N of Valid Cases .87 4 Lower .458 Upper 1.67 0

.92 7 1.06 0 15 0

.643 .800

1.33 6 1.40 5

3. pendidikan ibu * Perkembangan Sosial Remaja


Crosstab Perkembangan Sosial Remaja Tidak Baik pendidikan Rendah (Tidak ibu sekolah- tamat SLTP) Tinggi (Tamat SLTA- PT) Total Count % within pendidikan ibu Count % within pendidikan ibu Count % within pendidikan ibu Chi-Square Tests Value arson Chi-Square ntinuity Correctionb elihood Ratio her's Exact Test ear-by-Linear Association of Valid Cases 1.517 150 1 .218 1.527a 1.132 1.523 df 1 1 1 Asymp. Sig. (2sided) .217 .287 .217 .234 .144 Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) 2 7 6 50.0% 5 43.3% 3 8 39.6% 27 50.0% 85 56.7% 5 4 150 100.0% 100.0% Baik 58 60.4% Total 9 6 100.0%

0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 23.40. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Odds Ratio for pendidikan ibu (Rendah (Tidak sekolahtamat SLTP) / Tinggi (Tamat SLTA- PT)) For cohort Perkembangan Sosial Remaja = Tidak Baik For cohort Perkembangan Sosial Remaja = Baik N of Valid Cases .655 5 Lower .33 Upper 1.28 3

.792 0 1.208 4 150

.55 .88

1.13 9 1.65 1

4. pekerjaan ayah * Perkembangan Sosial Remaja


Crosstab Perkembangan Sosial Remaja Tidak Baik pekerjaan ayah bekerja Count % within pekerjaan ayah tidak bekerja Count % within pekerjaan ayah Total Count % within pekerjaan ayah Chi-Square Tests Value arson Chi-Square ntinuity Correction elihood Ratio her's Exact Test ear-by-Linear Association of Valid Cases .015 150 1 .904
b

Baik 78 138 56.5% 7 58.3% 85 56.7%

Total

60 43.5% 5 41.7% 65 43.3%

100.0% 12 100.0% 150 100.0%

df 1 1 1

Asymp. Sig. (2sided) .903 1.000 .903

Exact Sig. (2sided)

Exact Sig. (1sided)

.015a .000 .015

1.000

.576

0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5.20. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Odds Ratio for pekerjaan ayah (bekerja / tidak bekerja) For cohort Perkembangan Sosial Remaja = Tidak Baik For cohort Perkembangan Sosial Remaja = Baik N of Valid Cases 1.077 1.043 .969 150 Lower .326 .520 .588 Upper 3.561 2.093 1.598

5. pekerjaan ibu * Perkembangan Sosial Remaja


Crosstab Perkembangan Sosial Remaja Tidak Baik pekerjaan ibu bekerja Count % within pekerjaan ibu tidak bekerja Count % within pekerjaan ibu Total Count % within pekerjaan ibu Chi-Square Tests Value arson Chi-Square ntinuity Correction elihood Ratio her's Exact Test ear-by-Linear Association of Valid Cases 11.882 150 1 .001
b

Baik 3 3 20 37.7% 65 3 67.0% 85 56.7%

Total 53 100.0% 97 100.0% 150 100.0%

62.3%

2 6 33.0% 5 43.3%

df 1 1 1

Asymp. Sig. (2sided) .001 .001 .001

Exact Sig. (2sided)

Exact Sig. (1sided)

11.961a 10.799 12.001

.001

.001

0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 22.97. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Odds Ratio for pekerjaan ibu (bekerja / tidak bekerja) For cohort Perkembangan Sosial Remaja = Tidak Baik For cohort Perkembangan Sosial Remaja = Baik N of Valid Cases 3.352 1.887 .563 150 Lower 1.667 1.326 .388 Upper 6.738 2.685 .818

6. penghasilan orangtua * Perkembangan Sosial Remaja


Crosstab Perkembangan Sosial Remaja Tidak Baik penghasilan orangtua < Rp.800.000 Count % within penghasilan orangtua > Rp.850.000 Count % within penghasilan orangtua Total Count % within penghasilan orangtua Chi-Square Tests Value arson Chi-Square ntinuity Correctionb elihood Ratio her's Exact Test ear-by-Linear Association of Valid Cases 6.739 150 1 .009 6.784a 5.946 6.808 df 1 1 1 Asymp. Sig. (2sided) .009 .015 .009 .012 .007 Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) 36 55.4% Baik 29 44.6% Total 65 100.0%

29 34.1%

56 65.9%

85 100.0%

65 43.3%

85 56.7%

150 100.0%

0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 28.17. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Odds Ratio for penghasilan orangtua (< Rp.800.000 / > Rp.850.000) For cohort Perkembangan Sosial Remaja = Tidak Baik For cohort Perkembangan Sosial Remaja = Baik N of Valid Cases 2.397 Lower 1.235 Upper 4.654

1.623 .677 150

1.124 .496

2.344 .924

7. tipe keluarga * Perkembangan Sosial Remaja


Crosstab Perkembangan Sosial Remaja Tidak Baik pe eluarga keluarga inti keluarga besar Total Count % within tipe keluarga Count % within tipe keluarga Count % within tipe keluarga Chi-Square Tests Value arson Chi-Square ntinuity Correction elihood Ratio her's Exact Test ear-by-Linear Association of Valid Cases .827 150 1 .363
b

Baik 73 55.3% 12 66.7% 85 56.7% 132 100.0% 18 100.0% 150 100.0%

Total

59 44.7% 6 33.3% 65 43.3%

df 1 1 1

Asymp. Sig. (2sided) .361 .510 .356

Exact Sig. (2sided)

Exact Sig. (1sided)

.833a .434 .852

.451

.257

0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.80. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Odds Ratio for tipe keluarga (keluarga inti / keluarga besar) For cohort Perkembangan Sosial Remaja = Tidak Baik For cohort Perkembangan Sosial Remaja = Baik N of Valid Cases 1.616 Lower .572 Upper 4.566

1.341 .830 150

.679 .578

2.648 1.190

8.Pola Komunikasi dalam Keluarga * Perkembangan Sosial Remaja


Crosstab Perkembangan Sosial Remaja Tidak Baik Pola Komunikasi dalam Keluarga Disfungsional Count % within Pola Komunikasi dalam Keluarga Fungsional Count % within Pola Komunikasi dalam Keluarga Total Count % within Pola Komunikasi dalam Keluarga Chi-Square Tests Value arson Chi-Square ntinuity Correction elihood Ratio her's Exact Test ear-by-Linear Association of Valid Cases 7.021 150 1 .008
b

Baik 35 46.1%

Total 76 100.0%

41 53.9%

24 32.4%

50 67.6%

74 100.0%

65 43.3%

85 56.7%

150 100.0%

df 1 1 1

Asymp. Sig. (2sided) .008 .013 .008

Exact Sig. (2sided)

Exact Sig. (1sided)

7.068a 6.219 7.133

.009

.006

0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 32.07. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Odds Ratio for Pola Komunikasi dalam Keluarga (Tidak Baik / Baik) For cohort Perkembangan Sosial Remaja = Tidak Baik For cohort Perkembangan Sosial Remaja = Baik N of Valid Cases 2.440 Lower 1.257 Upper 4.739

1.663 .682 150

1.127 .510

2.454 .911