Anda di halaman 1dari 19

ASKEP PNEUMONIA

Posted on 13 September 2011 by pataulanursing 1) KONSEP DASAR PENYAKIT 1. Definisi / Pengertian Pneumonia adalah suatu peradangan dimana terdapat konsolidasi yang disebabkan pengisian rongga alveoli oleh eksudat ( Askep Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Pernafasan). Pneumonia adalah radang paru-paru yang dapat disebabkan oleh bermacam-macam sebab seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing ( Kapita Selekta Kedokteran edisi kedua). Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius dan alveoli serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat. ( Ilmu Penyakit Dalam, Jilid 2 edisi ketiga). 2. Epidemiologi / Insiden Kasus Pneumonia dapat terjadi pada berbagai usia, meskipun lebih banyak terjadi pada usia yang lebih muda. Masing-masing kelompok umur dapat terinfeksi oleh pathogen yang berbeda, yang mempengaruhi dalam penetapan diagnosa dan terapi. Sekitar 80% dari seluruh kasus baru praktek umum berhubungan dengan infeksi saluran nafas yang terjadi dimasyarakat (pneumonia komunitas / PK) atau didalam rumah sakit ( pneumonia nosokomial/ PN). Pneumonia yang merupakan bentuk infeksi saluran nafas bawah akut di parenkim paru yang serius dijumpai sekitar 15-20 %. Pneumonia nosokomial di ICU lebih sering daripada PN diruangan umum yaitu 42%: 13% dan sebagian besar yaitu sejumlah 47% terjadi pada pasien yang menggunakan alat bantu mekanik. Kelompok pasien ini merupakan bagian terbesar dari pasien yang meninggal di ICU akibat PN. 3. Penyebab / Etiologi Virus : virus influenza. Bakteri : Streptokokus pneumonia, Streptokokus aureus, Hemofilus influenza, Stafilokokus, Pneumokokus. Jamur : Pseudomonas, Candida albican. Aspirasi : makanan atau benda asing. 4. Patofisiologi Adanya etiologi seperti jamur dan inhalasi mikroba ke dalam tubuh manusia melalui udara, aspirasi organisme, hematogen dapat menyebabkan reaksi inflamasi hebat sehingga membran paru-paru meradang dan berlobang. Dari reaksi inflamasi akan timbul panas, anoreksia, mual, muntah serta nyeri pleuritis. Selanjutnya RBC, WBC dan cairan keluar masuk alveoli sehingga terjadi sekresi, edema dan bronkospasme yang menimbulkan manifestasi klinis dyspnoe, sianosis dan batuk, selain itu juga menyebabkan adanya partial oklusi yang akan membuat daerah paru menjadi padat (konsolidasi). Konsolidasi paru menyebabkan meluasnya permukaan membran respirasi dan penurunan rasio ventilasi perfusi, kedua hal ini dapat menyebabkan kapasitas difusi menurun dan selanjutnya terjadi hipoksemia Dari penjelasan diatas masalah yang muncul, yaitu : Risiko kekurangan volume cairan, Nyeri

(akut), Hipertermi, Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, Bersihan jalan nafas tak efektif, Gangguan pola tidur, Pola nafas tak efekif dan intoleransi aktivitas. 5. Klasifikasi Klasifikasi Pneumonia dapat dibagi menjadi : 1) Klasifikasi klinis Klasifikasi tradisional, meninjau ciri radiologis dan gejala klinis, dibagi atas : a. Pneumonia tipikal, bercirikan tanda-tanda pneumonia lobaris yg klasik antara lain awitan yg akut dgn gambaran radiologist berupa opasitas lobus, disebabkan oleh kuman yang tipikal terutama S. pneumoniae, Klebsiella pneumoniae, H. influenzae. b. Pneumonia atipikal, ditandai dgn gangguan respirasi yg meningkat lambat dgn gambaran infiltrate paru bilateral yg difus, disebabkan oleh organisme atipikal dan termasuk Mycoplasma pneumoniae, virus, Chlamydia psittaci. Klasifikasi berdasarkan factor lingkungan dan penjamu, dibagi atas : a. sporadis atau endemic, muda dan orang tuaPneumonia komunitas b. didahului oleh perawatan di RSPneumonia nosokomial c. mempunyai dasar penyakit paru kronikPneumonia rekurens d. alkoholik, usia tuaPneumonia aspirasi e. pada pasien transplantasi, onkologi, AIDSPneumonia pd gangguan imun Sindrom klinis, dibagi atas : a. Pneumonia bacterial, memberikan gambaran klinis pneumonia yang akut dgn konsolidasi paru, dapat berupa : - Pneumonia bacterial atipikal yang terutama mengenai parenkim paru dalam bentuk bronkopneumonia dan pneumonia lobar - Pneumonia bacterial tipe campuran dengan presentasi klinis atipikal yaitu perjalanan penyakit lebih ringan (insidious) dan jarang disertai konsolidasi paru. Biasanya pada pasien penyakit kronik b. Pneumonia non bacterial Dikenal pneumonia atipikal yang disebabkan oleh Mycoplasma, Chlamydia pneumoniae. 2) Klasifikasi berdasarkan etiologi, dibagi atas : a. Bakterial : Streptokokus pneumonia, Streptokokus aureus, H. influenza, Klebsiella,dll b. Non bacterial : tuberculosis, virus, fungi, dan parasit 6. Gejala klinis Gejala klinis tergantung pada lokasi, tipe kuman dan tingkat berat penyakit Adapun gejala klinis dari pneumonia yaitu : o Dispnoe o Hemoptisis o Nyeri dada o Takipnea o Demam, menggigil o Malaise o Kepala pusing o Batuk produktif berupa sputum

o Peningkatan suhu tubuh o Hipoksemia 7. Pemeriksaan Fisik : Dari hasil pemeriksaan fisik akan ditemukan tanda-tanda konsolidasi paru berupa perkusi paru pekak, auskultasi terdapat ronchi nyaring dan suara pernapasan bronchial, inspirasi rales dan terdapat penggunaan otot aksesori. 8. Pemeriksaan diagnostik / penunjang - teridentifikasi adanyaPemeriksaan radiology (Chest X-Ray) penyebaran (misal lobus dan bronchial), menunjukkan multiple abses/infiltrat, empiema (Staphylococcus), penyebaran atau lokasi infiltrasi (bacterial), penyebaran/extensive nodul infiltrat (viral). - leukositosisPemeriksaan laboratorium (DL, Serologi, LED) menunjukkan adanya infeksi bakteri, menentukan diagnosis secara spesifik, LED biasanya meningkat. Elektrolit : Sodium dan Klorida menurun. Bilirubin biasanya meningkat. - menilai tingkat hipoksia dan kebutuhan O2.Analisis gas darah dan Pulse oximetry - untuk mengetahui oganisme penyebabPewarnaan Gram/Cultur Sputum dan Darah - volume mungkin menurun, tekanan saluranPemeriksaan fungsi paru-paru udara meningkat, kapasitas pemenuhan udara menurun dan hipoksemia. 9. Diagnosis Penegakan diagnosis dibuat dengan pengarahan kepada terapi empiris, mencakup bentuk dan luas penyakit, tingkat berat penyakit dan perkiraan jenis kuman penyebab infeksi. Dugaan mikrorganisme penyebab infeksi mengarahkan pada pemilihan antibiotic yang tepat. 10. Penatalaksanaan Medis Terapi antibiotic Merupakan terapi utama pada pasien pneumonia dengan manifestasi apapun, yang dimaksudkan sebagai terapi kausal terhadap kuman penyebabnya. Terapi suportif umum 1) Terapi O2 untuk mencapai PaO2 80-100 mmHg atau saturasi 95-96 % berdasar pemeriksaan AGD 2) Humidifikasi dengan nebulizer untuk mengencerkan dahak yang kental 3) Fisioterapi dada untuk pengeluaran dahak, khususnya anjuran untuk batuk dan napas dalam 4) Pengaturan cairan: pada pasien pneumonia, paru menjadi lebih sensitif terhadap pembebanan cairan terutama pada pneumonia bilateral 5) Pemberian kortikosteroid, diberikan pada fase sepsis 6) Ventilasi mekanis : indikasi intubasi dan pemasangan ventilator dilakukan bila terjadi hipoksemia persisten, gagal napas yang disertai peningkatan respiratoy distress dan respiratory arrest 7) Drainase empiema bila ada

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN PNEUMONIA

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Definisi pneumonia ataupun pneumonitis merupakan proses peradangan pada partenkim paruparu, yang biassanya dihubungkan dengan meningkatnya cairan pada alveoli. Istilah pneumonia lebih baik digunakan dari pada pneumonitis karena sering digunakan untuk menyatakan peradangan pada paru-paru non spesifik yang etiologinya tidak diketahui. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit infeksi saluran nafas yang banyak didapatkan dan sering merupakan penyebab kematian hampir diseluruh dunia. Bayi dan anak kecil lebih rentan terhadap penyakit ini karena respon imunitas mereka masih belum berkembang dengan baik. Pneumonia sering kali oada orang tua dan orang yang lemah akibat penyakit kronik tertentu. Klien bedah, peminum alkohol, dan penderita penyakit pernafasan kronik atau infeksi virus juga sangat mudah terserang penyakit ini.

B. RUMUSAN MAKALAH 1. Apa pengertian dari pneumonia ? 2. Apa saja etiologi dari pneumonia ? 3. Bagaimana patofisiologi dari pneumonia ? 4. Apa saja tanda dan gejala dari pneumonia ? 5. Tes diagnostik apa saja yang dilakukan untuk mengetahui pneumonia ? 6. Bagaimana penatalaksaan medis dari pneumonia ? 7. Bagaimana asuhan keperawatan dari pneumonia ?

C. TUJUAN

1. Menjabarkan pengertian pneumonia . 2. Memaparkan etiologi pneumonia . 3. Menjelaskan patofisiologi pneumonia . 4. Menjelaskan tanda dan gejala pneumonia . 5. Menerangkan tes diagnostik yang dilakukan untuk mengetahui pneumonia . 6. Menjelaskan penatalaksanaan medis untuk pneumonia . 7. Menerangkan asuhan keperawatan pneumonia .

BAB II PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN

Pneumonia merupakan inflamasi parenkim paru, biasanya berhubungan dengan pengisian alveoli dengan cairan.

Pneumonia atau pneumonitis merupakan proses peradangan pada parenkim paru-paru, biasanya dihubungkan dengan meningkatnya cairan pada alveoli.

Pneumonia merupakan proses inflamatori parenkim paru yang biasanya disebabkan oleh agen infeksius.

B. ETIOLOGI Penyebab pneumonia adalah: Bakteri: a. Bakteri garam positif (streptococcus pneumoniae/ pneumococcal pneumonia, staphylococcus aureus)

b. Bakteri gram negatif (haemophilus influenzae, pseudomonas aeruginosa, kleibsiella pneumoniae, dan anaerobik bakteria) c. Atypikal bacteria (legionella pneumophia dan mycoplasma pneumonia)

Virus:

a. Virus influenza b. Parainfluenza c. Adenovirus Jamur:

a. Kandidiasis b. Histoplasmosis c. Kriptokokkis Protozoa:

a. Pneumokistis karinii pneumonia

Adapun yang dapat menjadi faktor resiko adalah: a. Merokok b. Polusi udara c. Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) d. Gangguan kesadaran (alkohol, overdosis obat, anestesi umum) e. Intubasi trakea

f.

Imoblisasi lama

g. Terapi imunosupresif (kortikosteroid, kemoterapi) h. Tidak berfungsinya sistem imun (AIDS) i. Sakit gigi

C. PATOFISIOLOGI Agen penyebab pneumonia masuk ke paru-paru melalui inhalasi ataupun aliran darah. Diawali dari saluran pernafasan dan akhirnya masuk ke saluran pernafasan bawah. Kemudian timbul reaksi peradangan pada dinding bronkhus. Sel menjadi radang berisi eksudat dan sel epitel menjadi rusak. Kondisi tersebut berlangsung lama sehingga dapat menyebabkan atelektasis. Penyebab pneumonia (bakteri, virus, mikoplasma, jamur, protozoa) ->- inhalasi - aliran darah -> reaksi radang pada dinding -> bronkus -> masuk ke paru-paru -> atelektasis

D. TANDA DAN GEJALA Apabila menemukan klien dengan pneumonia, maka gejala-gejala yang dapat ditemui pada klien secara umum adalah klien demam, berkeringat, batuk dengan sputum yang produktif. Klien mengeluh sesak nafas, sakit kepala, lelah dan nyeri pada dada. Pada pemeriksaan auskultasi ditemui adanya ronchi dan dullness pada perkusi dada.

E. TES DIAGNOSTIK

Untuk menegakan diagnosa penyakit pneumonia, maka disamping hasil anamnesa dari klien tes diagnostic yang sering dilakukan adalah: 1. pemeriksaan rontgen: dapat terlihat infiltrasi pada parenkim paru. 2. laboratorium: AGD: dapat terjadi asidosis metabolik dengan atau tanpa retensi CO2 DPL: biasanya terjadi leukositosis, Laju Endap Darah (LED) meningkat Elektrolit: natrium dan klorida dapat menurun Bilirubin: dapat meningkat Kultur sputum: terdapat mikroorganisme Kultur darah: bakterimia sementara 3. fungsi paru: volume dapat menurun

Komplikasi: 1. Empiema 2. Empisema 3. atelektasis 4. Otitis Media Akut (OMA) 5. Meningitis

F. PENATALAKSANAAN MEDIS 1. Pemberian antibiotic seperti: penicillin, cephalosporin 2. Pemberian antipiretik, analgetik, bronchodilator 3. Pemberian O2 4. Pemberian cairan parenteral sesuai indikasi

G. ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian Fokus pengkajian pada klien dengan pneumonia adalah: Data Subjektif: Klien mengatakan: lelah, lemah, insomnia, sakit kepala, nyeri dada (terutama saat batuk), sesak nafas, nafsu makan berkurang, mual, muntah, mempunyai riwayat ISK/ PPOM dan merokok serta terdapat riwayat gangguan system imun.

Data Objektif: Klien terlihat pucat, demam, berkeringat, menggigil, tampak menahan nyeri, sputum: merah muda, berkarat atau purulen, takikardia, adanya distensi abdomen, bising, usus hiperaktif, kulit kering, turgor kulit buruk.

2. Diagnosa Keperawatan a. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d inflamasi trakeabronkial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum, nyeri pleuritik, oenurunan energi, kelemahan b. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia c. Resiko tinggi kekurangan volume cairan b.d demam dan dipsnea d. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, kelemahan umum e. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d inflamasi parenkim paru, batuk menetap f. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi

3. Intervensi Dx. 1:Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d inflamasi trakeabronkial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum, nyeri pleuritik, penurunan energi, kelemahan Tujuan: Bersihan jalan nafas efektif KH: TTV normal, sekret (-), bunyi nafas vasikuler, refleks batuk (+) Intervensi: Mandiri: Kaji frekuensi/ kedalaman pernafasan dengan gerakan dada R:takipnea, pernafasan dangkal, dan gerakan dada tidak simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan gerakan dinding dada dan atau cairan paru Auskultasi area paru, catat area penurunan/ tidak ada aliran udara dan bunyi nafas adventinus, mis: krekels, mengi R:Krekels dan mengi terdengar pada inspirasi dan atau ekspirasi pada respon terhadap pengumpulan cairan, sekret kental, dan spasme jalan nafas/obstruksi Bantu klien latihan nafas dalam. Tunjukan / bantu klien mempelajari atau melakukan batuk efektif. R:Nafas dalam memudahkan ekspansi paru- paru atau jalan nafas lebih kecil.Batuk membantu silia untuk mempertahankan jalan nafas paten Penghisapan sesuai indikasi R:Merangsang batuk atau membersihkan jalan nafas secara mekanik pada pasien yang tak mampu melakukan karena batuk tidak efektif atau penurunan tingkat kesadaran Berikan cairan sedikitnya 2.500 ml/hari (kecuali kontra indikasi). Tawarkan air hangat R:cairan (khususnya yang hangat) memobilisasi dan membantu mengeluarkan sekret

Kolaborasi:

Bantu mengawasi efek pengobatan nebulizer dan fisioterapi lain.misalnya: spirometer insentif, IPPB, tiupan botol, perkusi, drainase postural. Lakukan tindakan diantara waktu makan dan batasi cairan bila mungkin. R:Memudahkan pengenceran dan pembuangan sekret. Drainase postural tidak efektif pada pneumonia intersisial atau menyebabkan eksudat alveolar/ kerusakan. Koordinasi pengobatan atau jadwal dan masukan oral menurunkan muntah karena batuk, mengeluarkan sputum. Berikan obat sesuai indikasi: mukolitik, ekspektoran, bronkodilator, analgesik R:Alat untuk menurunkan spasme bronkus dengan melakukan mobilisasi sekret. Analgesik diberikan untuk memperbaiki batuk dengan menurunkan ketidaknyamanan tetapi harus digunakan secara hati-hati karena dapat menurunkan upaya batuk/ menekan pernafasan. Berikan cairan tambahan: IV, oksigen humidifikasi, dan ruangan humidifikasi R:Cairan digunakan untuk menggantikan kehilangan (termasuk yang tak tampak) dan memobilisasikan sekret Awasi seri sinar X dada, GDA, nadi oksimetri R:Mengevaluasi kemajuan dan evek proses penyakit dan memudahkan pilihan treapi yang diperlukan Bantu bronkoskopi/ torasentesis bila diindikasikan R:Kadang-kadang diperlukan untuk membuang perlengketan mukosa, mengeluarkan sekresi purulen, dan mencegah atelektasis

Dx. 2: Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia Tujuan: Kebutuhan nutrisi teratasi KH: adanya peningkatan nafsu makan, tidak mual dan muntah, BB bertambah Intervensi: Mandiri:

Identivikasi faktor yang menyebabkan mual, muntah. Misalnya: sputum banyak, pengobatan aerosol, dipsnea berat, nyeri. R:Pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah Berikan wadah tertutup untuk sputum dan buang sesering mungkin. Berikan/ bantu kebersihan mulut setelah muntah, setelah tindakan aerosol dan drainase postural, dan sebelum makan. R:Menghilangkan tanda bahaya, rasa, bau dari lingkungan pasien dan dapat menurunkan mual Jadwalkan pengobatan pernafasan sedikitnya satu jam sebelum makan R:Menurunkan efek mual yang berhubungan dengan pengobatan ini Auskultasi bising usus. Observasi/ palpasi distensi abdomen R: Bunyi usus mungkkin menurun/ tidak ada bila infeksi berat/ memanjang. Distensi abdomen terjadi sebagai akibat menelan udara ataumenunjukan pengaruh toksin bakteri pada saluran GI Berikan makan porsi kecil dan sering termasuk makanan kering (roti panggang atau kreakers) dan atau makanan yang menarik untuk klien R:Tindakan ini dapat meningkatkan masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk kembali Evaluasi status nutrisi umum, ukur berat badan dasar R:Adanya kondisi kronis (seperti PPOM atau alkoholisme) atau keterbatasan keuangan dapat menimbulakn malnutrisi, rendahnya tekanan terhadap infeksi, dan atau lambatnya respon terhadap terapi

Dx. 3: Resiko tinggi kekurangan volume cairan b.d demam dan dipsnea Tujuan: Mencapai keseimbangan cairan yang adekuat KH: membrane mukosa lembab, turgor kulit baik, pengisian kapiler cepat, TTV stabil Intervensi: Mandiri:

Kaji perubahan TTV R:Membantu dalam pengkajian keseimbangan cairan Kaji turgor kulit, kelembaban membrane mukosa R:Indikator langsung keadekuatan volume cairan Catat laporan mual atau muntah R:Adanya gejala ni menurunkan masukan oral Pantau masukan dan haluaran, catat warna, karakter urine,. Hitung keseimbangan cairan. Waspadai kehilangan yang tampak. Ukur BB sesuai indikasi R:Memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan kebutuhan pengganti Tekankan cairan sedikitnya 2.500 ml/hari atau sesuai kondisi individual R:Pemenuhan kebutuhan dasar cairan, menurunkan resiko dehidrasi

Kolaborasi: Beri obat sesuai indikasi, misalnya: antipiretik dan antiemetik R:Berguna menurunkan kehilangan cairan Berikan cairan tambahan IV sesuai keperluan R:Pada adanya penurunan masukan/ banyak kehilangan, penggunaan parenteral dapat memperbaiki/ mencegah kekurangan

Dx. 4: Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, kelemahan umum Tujuan: Intoleransi aktivitas teratasi KH: Klien dapat beraktivitas sesuai kemampuan, kelelahan tidak terjadi, tidak ada pucat

Intervensi: Mandiri: Evaluasi respon klien terhadap aktivitas. Catat laporan dipsnea, peningkatan kelemahan, dan perubahan tanda vital selama dan setelah aktivitas R:Menetapkan kemampuan atau kebutuhan klien dan memudahkan pilihan intervensi Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi. Dorong penggunaan menejemen stress dan pengalihan yang tepat R:Menurunkan stress dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat R:Tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metabolik, menghemat energi untuk penyembuhan. Pembatasan aktivitas ditentukan dengan respon klien terhadap aktivitas dan perbaikan kegagalan pernafasan Bantu klien memilih posisi nyaman untuk istirahat dan tidur R:Klien mungkin nyaman dengan kepala tinggi Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan. Berikan kemajuan peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan R:Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan supali dan kebutuhan oksigen

Dx. 5: Gangguan rasa nyaman nyeri b.d inflamasi parenkim paru, batuk menetap Tujuan: Nyeri hilang atau terkontrol KH:klien rileks, klien istirahat tidur, peningkatan aktivitas dengan tepat Intervensi: Mandiri:

Tentukan karakteristik nyeri, missal: tajam, konstan, ditusuk. Selidiki perubahan karakter/lokasi/intensitas nyeri R:Nyeri dada biasanya ada dalam beberapa derajat pada pneumonia, juga dapat timbul komplikasi pneumonia seperti perikarditis dan endokarditis Pantau TTV R:Perubahan frekuensi jantung atau TD menunjukan bahwa klien mengalami nyeri, khususnya bila alasan lain untuk perubahan tanda vital telah terlihat Perikan tindakan nyaman, misal: pijatan punggung, perubahan posisi, musik tenang atau perbincangan, relaksasi atau latihan nafas dalam R:Tindakan non analgesik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek terapi analgesik Tawarkan pembersihan mulut dengan sering R:Pernafasan mulut dan terapi oksigen dapat mengiritasi dan mengeringkan membran mukosa, potensial ketidaknyaman umum Anjurkan dan bantu klien dalam teknik menekan dada selama episode batuk R:Alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkatkan keefektifan upaya batuk

Kolaborasi: Berikan analgesik dan antitusif sesuai indikasi R:Digunakan untuk menekan batuk non produktif/ peroksimal atau menurunkan mukosa berlebihan, meningkatkan kenyamanan/ istirahat umum

Dx. 6: Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi Tujuan: Mendapatkan pengetahuan tentang protocol pengobatan dan aspek-aspek preventif KH: Menyatakan paham kondisi klien, proses penyakit, dan pengobatan Intervensi: Mandiri: Kaji fungsi normal paru, patologi kondisi R:Meningkatkan pemahaman situasi yang ada dan penting menghubungkannya dengan program pengobatan D iskusikan aspek ketidakmampuan dari penyakit, lamanya penyembuhan, dan harapan kesembuhan. Identivikasi perawatan dini dan kebutuhan/ sumber pemeliharaan rumah R:Informasi dapat meningkatkan koping dan membantu menurunkan ansietas dan masalah berlebihan. Gejala pernafasan mungkin lambat untuk membaik, kelemahan dan kelelahan dapat menetap selama periode yang panjang. Faktor ini dapat berhubungan dengan depresi dan kebutuhan untuk berbagai bentuk dukungan dan bantuan Berikan informasi dalam bentuk tertulis atau verbal R:Kelemahan dan depresi dapat mempengaruhi kemampuan untuk mengasimilasi informasi/ mengikuti program medik Tekankan pentingnya melanjutkan batuk efektif/ latihan pernafasan R:Selama awal 6-8 menggu setelah pulang, klien beresiko besar untuk kambuh dari pneumonia Tekankan perlunya melanjutkan terapi antibiotic selama periode yang dianjurkan R:Penghentian dini antibiotic dapat mengakibatkan iritasi mukosa bronkus dan menghambat makrophag alveolar, mempengaruhi pertahanan alami tubuh melawan infeksi Tekankan pentingnya melanjutkan evaluasi medik dan vaksinasi dengan tepat

R:dapat mencegah kambuhnya pneumonia dan atau komplikasi yang berhubungan Identivikasi tanda/ gejala yang memerlukan pelaporan pemberi perawatan kesehatan misalnya: peningkatan dipsnea, nyeri dada, kelemahan memanjang, kehilangan berat badan, demam/ menggigil, menetapnya batuk produktif, perubahan mental R:Upaya evaluasi dan intervensi tepat waktu dapat mencegah atau meminimalkan komplikasi

4. EVALUASI Evaluasi keperawatan didasarkan pada hasil yang dicapai, hal ini meliputi: a. Bersihan jalan nafas efektif b. Kekurangan nutrisi tidak terjadi c. Kekurangan cairan tidak terjadi d. Intoleransi aktivitas teratasi e. Nyeri teratasi f. Kurang pengetahuan tidak ada

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN

Pneumonia merupakan inflamasi parenkim paru, biasanya berhubungan dengan pengisian alveoli dengan cairan. Penyebab pneumonia adalah: Bakteri:

Virus:

Jamur: Protozoa Agen penyebab pneumonia masuk ke paru-paru melalui inhalasi ataupun aliran darah. Diawali dari saluran pernafasan dan akhirnya masuk ke saluran pernafasan bawah. Kemudian timbul reaksi peradangan pada dinding bronkhus. Sel menjadi radang berisi eksudat dan sel epitel menjadi rusak. Kondisi tersebut berlangsung lama sehingga dapat menyebabkan atelektasis. Apabila menemukan klien dengan pneumonia, maka gejala-gejala yang dapat ditemui pada klien secara umum adalah klien demam, berkeringat, batuk dengan sputum yang produktif. Klien mengeluh sesak nafas, sakit kepala, lelah dan nyeri pada dada. Pada pemeriksaan auskultasi ditemui adanya ronchi dan dullness pada perkusi dada. Komplikasi: Empiema, Empisema, atelektasis, Otitis Media Akut (OMA), Meningitis Diagnosa Keperawatan

a.

Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d inflamasi trakeabronkial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum, nyeri pleuritik, oenurunan energi, kelemahan

b. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia c. Resiko tinggi kekurangan volume cairan b.d demam dan dipsnea d. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, kelemahan umum e. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d inflamasi parenkim paru, batuk menetap f. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi

DAFTAR PUSTAKA Doengus, marilynn E.,dkk. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3 . 2002. Jakarta:EGC