Anda di halaman 1dari 7

TUGAS MATA KULIAH SASTRA BANDINGAN PENYELEWENGAN KESETIAAN DAN KEPERCAYAAN DALAM NOVEL BELENGGU DAN NOVEL SAMAN

INGEU WIDYATARI HERIANA 180110110055 SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS PADJADJARAN 2012

Pengarang:

Amijr Pane

Pengarang:

Ayu Utami

Tahun terbit: 1940 Judul buku: Kota terbit: Penerbit: Belenggu Jakarta Dian Rakyat

Tahun terbit: 1998 Judul buku: Kota terbit: Penerbit: Saman Jakarta Keperpustakaan Populer Gramedia (KPG)

Belenggu yang lebih dahulu muncul tahun 1940, Armijn Pane sebagai pelopor zaman pujangga baru bersama kawan-kawan yang lainnya, yang sebelumnya zaman bale pustaka mengekang kebebasan mengelurkan pkikiran, melahirkan karya, dan membentuk organisasi atau perkumpulan. Banyak karya-karya yang telah diciptakan tidak dipublikasikan oleh penerbit Bale Pustaka. Penerbit pemberian Belanda sebagai hadiah untuk Indonesia di bidang pendidikan, bukti politik balas budi (politik etis) Belanda kepada Indonesia zaman penjajahan. Belanda mengkhawatirkan karya-karya yang lahir bisa memengaruhi masyarakat Indonesia yang membaca menjadi bersatu melalui pikiran yang disampaikan para pengarang. Amijr Pane melalui Belenggu menyampaikan dengan bebas keburukan sifat manusia yang disebabkan memiliki nafsu untuk menyelewengkan kesetiaan dan kepercayaan. Tokoh dokter Sukartono menyembunyikan hubngan istimewanya dengan wanita selain istrinya, sang dokter selingkuh. Ia mengkhianati kepercayaan istrinya yang sangat mencitainya dengan memadu kasih bersama wanita lain yang tidak dalam ikatan pernikahan dengannya. Kesetiaan tidak lagi dijadikan pondasi dalam kehidupan rumah tangga bersama istri yang sudah pasti telah bertahun-tahun mendampingi hidupnya. Pernikahan pun dilaksanakan sebagai sesuatu yang sakral sebagai simbol janji suci makhluk Allah yang mengakui dan menerima keberadaan dan kuasa-Nya. Sebagai seseorang dokter yang hingga sekarang dinilai berpendidikan tinggi harus bisa menyesuaikan sikap dan tingkah laku dengan mengatur jalan pikiran justru menyelewengkan kepercayaan masyarakat mengenai penilaian status dokter tersebut. Dokter Sukartono sebagai orang berpendidikan tinggi sangat dipercaya masyarakat untuk menyembuhkan yang sakit dengan ilmu yang ia miliki. Dibuktikan dengan pasien yang selalu datang kepadanya untuk berobat bahkan ada yang sampai menunggunya dengan menitipkan pesan agar mendapatkan jasanya. Konflik batin tokoh dokter Sukartono yang dibuat pengarang mencerminakn seorang dokter yang merasa dirinya tinggi, terpandang, hebat, dan lebih dari yang lain menganggap enteng masyarakat akan selalu menilai (doktrin) bahwa para dokter selalu pintar, berwibawa, tegas, bijaksana, arif, dan selalu menjaga etika tanpa berpikir keburukan yang ada pada diri para dokter.

Ayu Utami dalam Saman memanfaatkan kebebasan pascaorde baru dalam berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. Karyanya yang satu ini mencerminkan suatu keterbukaan dalam menyampaikan atau mengkritik masalah sosial dan psikologis yang berkaitan dengan sejarah zaman lahirnya karya ini. Tahun 1998 peralihan zaman Orde baru masa kekuasaan Presiden Soeharto ke zaman reformasi masa kekuasaan Bacharuddin Jusuf Habibie, yang sebelumnya juga sebagai wakil Soeharto, sangat kontras perbedaan yang terjadi di kehidupan masyarakat Indonesia. Zaman Orde baru masyarakat Indonesia mengalami keterbatasan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Mereka Tidak bebas mengeluarkan pikiran atau pendapat, memilih, menghasilkan karya, membentuk kelompok karena sistem masa pemerintahan Soeharto. Pemerintahan Soeharto mengekang rakyat salama masa kekuasaannya untuk tetap menerima aturan Beliau sendiri bersama golongannya. Bentuk pemerintahan oligarki, oleh beberapa orang dari kaumnya (bangsawan) untuk kepentingan kelompoknya sendiri. Menganut sistem ABRI, Birokrasi, dan Golkar yang terkenal dengan sebutan ABG. Berucap sedikit saja, sembarangan berpendapat, mengkritik, memprotes, memberontak apalagi berkoar-koar akan ada orang hilang, ditembak, ditangkap secara misterius oleh ajudan-ajudan Beliau. Kebebasan berserikat, berkumpul, dan berpendapat tidak dijunjung saat itu. Hanya segelintir orang dengan kedudukan tertentu, memiliki ide egois, dan setia kepada kaumnya (Golkar) saja yang bisa terwujudkan hasratnya. Terkenal dengan kasus Korupsi Kolusi dan Nepotisme yang akut dalam sistem pemerintahannya. Padahal rakyat sudah mengikuti dan mempercayakan Pascaordebaru, zaman peralihan tersebut memengaruhi pola pikir, moral, tingkah laku, keinginan, harapan, dan cita-cita masyarakat Indonesia. Mereka yang sebelumnya terpuruk menjadi luwes, berani, dan bahkan frontal menyampaikan pikirannya melalui media apa pun. Berlomba-lomba meraih kesuksesan, kebebasan, dan kesejahteraan hidup dengan menghalalkan segala cara. Mereka tidak peduli cekalan, protes, kritik, hukuman, bahkan ajaran agama. Memanfaatkan kebebasan melalui dunia hiburan, kesenian, karya sastra, pendidikan, politik, dan kehidupan bermasyarakat yang bisa dinikmati oleh manusia lainnya.

Hingga akhirnya kemunafikan, kecurangan, dan keserakahan terbongkar. Media cetak, seperti surat kabar, televisi, radio, dan dunia maya dan karya sastra, seperti film, puisi, cerpen, novel, lagu sebagai perantara keadilan dan kebenaran yang tertunda. Dihubungkan dengan alur cerita novel Saman. Wisanggeni seorang anak muda terpelajar tamatan Institut Pertanian Bogor, sebagai pastor paroki parid yang mendapat tugas dari Uskup melayani kota kecil Perabumulih, Desa Lubuh Rantau dan Karang Endah, Palembang. Penduduknya kebanyakan kaum transmigran yang bekerja sebagai buruh perkebunan karet yang jauh dari makmur dan sejahtera, seta terbelakang dari kehidupan kota. Wis membela penduduk desa yang tertindas oleh pengusaha dan pemilik modal yang membayar murah perkebunan karet untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit. Sayangnya Wis dituduh menghasut penduduk desa untuk membuat rusuh dan pembakaran, lantas ia dipenjara dan disiksa. Wis dibebsakan dari penjara, tetapi masih dalam incaran dan mata-mata aparat. Tak tahan dengan keadaan itu Wis melepas kesucian pastornya mengganti identitasnya dengan nama samaran, yaitu Saman untuk mengelabui aparat dan petugas yang terus mengincarnya dan menjadi aktivis buron. Ia membuang statusya sebagai orang yang melayani umat, berpaling dari kesucian pastor, mengembangkan hubungan seksual dengan sejumlah perempuan, antara lain Shakuntala, Laila, Cok, dan Yasmin yang memang mereka sahabat kecilnya. Hal tersebut dilakukan demi menyamarkan keadaan asal dirinya untuk menyelamatkan kebebasan dirinya. Ayu Utami menyisipkan penyelewengan kesetiaan dan kepercayaan dalam Saman, adanya perselingkuhan yang dilakukan Wis dengan Yasmin mengkhianati Laila. Sangat disayangkan untuk seorang anak muda terpelajar, taat beragama, berhati mulia, penolong, dan menerapkan intelektual sebagai penerus kemajuan bangsa. Sudah tentu sangat dipercaya oleh orang-orang yang mengenalnya di kampus. Dibuktikan dia ditugaskan oleh Uskup ke desa yang bisa dikatakan pelosok sulit ditangani untuk mengalami perubahan yang besar diperlukan pemikiran dan keahlian yang sudah teruji. Sikap kritisnya juga dalam memantau keadaan pedesaan sehingga menggugah dirinya untuk membela penduduk desa yang tertindas.

Dari semua kelebihannya itu, ia justru rela sekaligus nekat keluar dari kebenaran ajaran agama yang dianutnya. Meninggalkan kesetiaannya untuk tuhannya. Mengkhianati kepercayaan Uskup yang telah mengamanatkan tugas kepadanya. Mengkhianati rakyat yang telah menyerahkan dan mengadukan kerisauan hidup mereka dengan keyakinan memilih dirinya sebagai orang yang tepat. Menjadi aktivis buron, sering melakukan hubungan kelamin dengan para perempuan tanpa ada ikatan pernikahan. Jelas-jelas hal tersebut sangat tabu di kalangan masyarakat pedesaan yang masih menjaga sopan-santun, gotong-royong, aturan adatistiadat dan leluhur. Mengenai konflik batin, ia merasa sudah banyak beribadah kepada tuhannya lewat pengabdiannya kepada pendidikan dan masyarakat, sudah menumpuk pahalanya, dan jenuh menjaga kesucian sehingga tak acuh untuk melakukan kesenangan yang mengakibatkan dosa. Hingga di akhir terbongkar juga penyamaran Wis oleh alur cerita yang dibuat penulis. Pembaca mengetahui siapa Saman sebenarnya. Itulah karya sastra sebagai cerminan kehidupan. Tidak ada karya sastra yang tidak berasal dari kehidupan nyata. Ayu Utami ingin menkritik keadaan sosial dan psikologis masyarakat di zaman pascaorde baru melalui penyampaian yang sering dibilang aib, polos, fulgar, dan frontal oleh para pengamat tulisan.

DAFTAR PUSTAKA http://sastrazone.wordpress.com/2011/05/20/analisis-konflik-sosial-dan-politik-dalam-novelsaman-karya-ayu-utami-tinjauan-sosiologi-sastra-dan-marxis/ http://fiksi.kompasiana.com/novel/2012/03/12/novel-saman-karya-ayu-utami/