Anda di halaman 1dari 16

PATOFISIOLOGI/PATOLOGI KULIT A. Perubahan Patologi. Perubahan patologis yang ditemukan pada penyakit kulit sering kali tidak terdiagnosis.

Ahli patologi harus bertumpu pada banyaknya keterangan klinik yang diberikan padanya, uang seringkali sangat berarti dalam membantu diagnosis. Secara umum proses patologik kulit dapat dibedakan menjadi 2 golongan: 1. Kelainan kulit sebagai penyakit yang berdiri sendiri. 2. Kelainan kulit sebagai gejala dari penyakit lain. Perubahan patologis epidermis berupa proses berikut: HIPERPASA 1. Hiperkeratosis yaitu hipertrofi dari lapisan tanduk. Ini sangat khas terlihat pada kornu kutaneus. 2. Parakeratosis yaitu inti sel lapisan tanduk masih ada. Ini terlihat pada psoriasis dan keadaan lesi bersisik lainnya. 3. Akantosis yaitu penebalan stratum spinosum. Ini terjadi pada psoriasis dan wart (kutil). 4. Spongiosis yaitu pembengkakan interselluler dan merupakan sebagian gambaran dermatitis dan eksema. 5. Akantolisis yaitu melepasnya sel-sel epidermis sehingga terjadilah eleft/vesikel dan bula pada epidermis. Ini terjadi pada keadaan penyakit berlepuh yang disebut pemfigus. Perubahan patologis dermis berupa proses berikut: PDH/A 1. Hipertrofi atau atrofi jaringan ikat. Ini terdapat pada keloid, atau pada kulit orang tua. 2. Perubahan kapiler pada lupus eritematous atau skleroderma. 3. Degenerasi kolagen, pada kulit orang tua atau skleroderma. B. Perubahan Histopatologi. Perubahan histopatologi di epidermis, berupa:

1. Hiperkeratosis adalah penebalan stratum korneum. Sebagai contoh callus, clavus. a. Parakeratosis. b. Ortokeratosis dengan inti sel-sel stratum yang masih ada. Oleh karena selsel tersebut sehingga bila kena sinar matahari akan terlihat pantulan sinar seperti mika (oleh karena ada pembiasan sinar). Contoh lesi pada psoriasis. 2. Hipergranulosis yaitu penebalan stratum granulosum. 3. Hiperplasia yaitu penebalan epidermis akibat adanya pertambahan jumlah sel. 4. Akantosis yaitu penebalan stratum spinosum. 5. Hipoplasia yaitu suatu keadaan dimana epidermis yang menipis akibat berkurangnya sel-sel. 6. Hipertrofi adalah epidermis yang bertambah tebal dengan adanya sel-sel yang bertambah besar. 7. Atrofi adalah keadaan dimana epidermis mengalami penipisan karena sel-selnya mengecil. 8. Spongiosis adalah kelainan dengan adanya pengumpulan cairan di ruang antar sel yang satu dengan sel yang lain menjadi renggang. 9. Degenerasi balon adalah sel-sel epidermis membulat akibat odemanya sel-sel. 10. Eksositosis adalah suatu keadaan adanya sel-sel radang di dalam epidermis. 11. Sel Diskeratotik adalah suatu kelainan keratinisasi sel epidermis yang lebih awal. Dimana sitoplasma menjadi eosinofil dan intinya menjadi lebih kecil. 12. Nekrosis adalah kematian sel atau jaringan pada makhluk hidup. 13. Degenerasi hidropik adalah adanya ruangan berisi cairan di atas atau dibawah stratum basal yang kemudian bergabung menjadi satu sehingga merusak stratum basal yang teratur seperti pagar menjadi tidak teratur. 14. Cleft adalah adanya suatu ruangan yang tidak berisi cairan. Perubahan histopatologis di dermis. 1. Papilomatosis adalah papil-papil yang tumbuh secara berlebihan dan melebihi permukaan kulit. 2. Degenerasi hialin.

Peristiwa dimana serabut-serabut kolagen menjadi satu dan berwarna kemerahmerahan. 3. Fibrosis. Pertumbuhan serabut-serabut kolagen dimana susunan anyaman serabut ini berubah dan jumlah sel-sel fibroblaspun bertambah. 4. Sklerosis. Serabut-serabut kolagen bertambah disertai dengan perubahan susunan anyaman dan jumlah sel-sel fibroblas yang berkurang. Perubahan hitopatologis jaringan subkutis berupa proses; PPNV 1. Peradangan. 2. Proses degeneratif. 3. Nekrosis Jaringan. 4. Vaskulitis. C. Etiologi Penyakit Kulit. Macam-macam etiologi penyakit kulit meliputi: 1. Virus. Virus hanya adapat dilihat dengan mikroskop elektron, bersifat cepat menular sehingga mudah menimbulkan epidemi. Penyakit yang disebabkan virus antara lain: variola (cacar), varisela (cacar air), morbili (gabagen), hespes zoster (dompo), moluskum kontagiosa dan kondiloma akuminata. 2. Bakteri. Jenis bakteri bermacam-macam, antara lain: a. Koken/kokkus: baiasnya menyebabkan penyakit piodermi. b. Basil/batang menyebabkan lepra, TBC Kutis. c. Spirocheta menyebabkan sifilis, frambusia. 3. Jamur. Golongan jamur yang menyerang epidermis disebut dermatomikosis. Dermatomikosis terdiri atas 2 macam yaitu: a. Dermatomikosis superfisialis.

Contoh: panu (pitiriasis versikolor), kadas (tinea sirsinata). b. Dermatomikosis profunda. Contoh: aktinomikosis, blastomikosis, sporomikosis. 4. Binatang. Golongan ini dapat dibagi 3 kelompok yaitu: a. protozoa seperti amubiasis kutan, trikomikosis. b. Cacing seperti larva migrans. Larva currens, ground itch, drakontiasis, oksiuriasis. c. Insekta atau kutu: skabies (gudig), miasis, pedikulosis dll. 5. Gangguan Metabolisme. Contoh kelainan gangguan metabolisme antara lain: DM dapat menimbulkan pruritus ani pada laki-laki dan pruriutus vulva pada wanita. Xantelesma adalah penimbunan lemak pada skrotum atau kelopak mata bagian bawah. Kalsinosis adalah penimbunan kapur dalam kulit sehingga tampak berupa benjolan keras pada kulit. 6. Hormonal. Contoh: akne (jerawat). 7. Gangguan kerentanan. Misalnya habis makan udang atau kepiting timbul bidur (urtikaria). 8. Penyakit kulit bawaan. Misalnya vitiligo, albino, iktiosis. 9. Tumor. Adalah benjolan dalam kulit yang disebabkan oleh pertumbuhan jaringan. a. Benigna, mislanya caplak (veruka). b. Maligna, misalnya karsinoma (ektoderm), sarkoma (mesoderm). 10. Trauma. Misalnya luka bakar, luka bakar karena radiasi sinar matahari, sinar rontgen. D. Diagnosis Penyakit Kulit.

Diagnosis penyakit kulit dapat ditentukan melalui anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan diagnostik. 1. Anamnesis. 2. Pemeriksaan Fisik. 3. Pemeriksaan Laboratorium. 1. Anamnesis. Anamnesis yang baik merupakan tiang utama diagnosis. Anamnesis dimulai dengan mencari keterangan mengenai nama, alamat, umur, jenis kelamin, pekerjaan dan status perkawinan. Keterangan yang didapat ini kadang sudah memberi petunjuk permulaan kepada kita. Namun tidak diperbolehkan memastikan diagnosa penyakit kulit hanya didasarkan anamnesis belaka. Pertanyaan yang ditujukan biasanya: a. Mengenai keluhan pokok: 1). Dimana mulai terdapat keluhan? 2). Menjalarkah? 3). Apakah hilang timbul? 4). Berapa lama? 5). Apakah kering atau basah? 6). Apakah gatal atau sakit? b. Mengenai penderita dan keluarganya: 1). Apa penyakit-penyakit yang pernah diderita? 2). Obat-obat apa yang digunakan? 3). Adakah makanan yang membuat penyakit bertambah parah? 4). Apa pekerjaan penderita dan bagaimana lingkungannya? 5). Kegiatan apa yang dilakukan setelah selesai bekerja? 6). Penyakit apa saja yang diderita oleh keluarga penderita? 2. Pemeriksaan Fisik. Pemeriksaan fisik penyakit kulit harus dilakukan di tempat yang terang dan berpedoman pada kaidah penentuan ujud kelainan kulit (UKK) atau ruam atau efloresensi atau ujud kelainan lesi kulit yang dapat berupa kelainan lesi kulit primer atau sekunder.

Ujud kelainan kulit juga harus diperhatikan berkaitan dengan warna, ukuran, susunan kelainan, penyebaran dan lokalisasi. Kelainan warna: Kelainan warna kulit; 1. Eritema: kulit berwarna kemerahan 2. Sianosis: kulit berwarna biru,misalnya pada ujung jari,bibir,kelainan ini terjadi akibat O2 dalam darah berkurang. Bentuk lesi:teratur,tidak teratur Susunan lesi: Penyebaran dan lokalisasi: 1.Sirkumskripta: berbatas tegas. 2.Difus: berbatas tidak tegas 3.Generalisata: mengenai sebagian besar dari tubuh 4. Regional: mengenai sebagian saja dari tubuh,misalnya hanya pada tangan saja atau kaki saja. 5.Universalis: mengenai seluruh tubuh. 6.Soliter: lesi hanya satu 7.Multipel:lesi lebih dari satu 8. Herpetiformis: penyebaran seperti harpes (bergerombol) 9. Konfluens: beberapa lesi menjadi satu 10. Diskret: terpisah antara satu dengan lainnya. 11. Serpiginosa: lesi yang menjalar dengan disertai penyembuhan pada sesi sebelumnya. 12. Irisformis: eritema berbentuk bulat lonjong dengan vesikel warna yang lebih gelap di tengahnya. 13. Simetris: kedua sisi badan terkena. 14. Bilateral: kedua bagian badan terkena 15. Unilateral: satu bagian badan terkena. UKK (Ujud Kelainan Kulit)/Ruam. 1. Ruam Primer.

a. Makula/bercak. Adalah suatu kelainan kulit berbatas tegas dengan konsistensi normal. Jadi kelainan hanya berupa perubahan warna kulit, dapat berwarna putih (leukoderma) dan hitam (melanoderma). Penyebab leukoderma primer belum diketahui. Contoh : vitiligo, albino. Leukoderma sekunder timbul akibat lanjut suatu penyakit. Contoh: paska kombustio, paska sifilis, paska psoriasis. b. Papula. Berupa penonjolan kulit yang terjadi akibat adanya infiltrat yang berukuran 2 mm s/d 2 cm. Papula terdiri atas sel-sel infiltrat limfosit atau leukosit dan dapat bertahan beberapa hari hingga beberapa minggu. c. Urtika=bidur disebut juga sebagai edema interseluler. Adalah suatu penonjolan kulit yang terjadi secara mendadak dan menghilang secara perlahan-lahan disertai rasa gatal hebat. Kelainan ini timbul akibat keluarnya cairan dari pembuluh darah dan biasanya hanya bertahan selama beberapa jam. d. Vesikula. Adalah gelembung pada kulit dengan ukuran penampangnya berkisar antara 2 s/d 5 mm. Isinya serum atau cairan dengan atap yang terdiri atas stratum korneum dan stratum lusidum serta bila pecah menimbulkan bekas. e. Bula. Suatu vesikula yang ukuran penampangnya lebih dari 5 mm. Contoh kelainan ini terjadi pada kombustio. Dinding bula terdiri atas stratum korneum dan stratum lusidum. Bila dinding bula kendur ditemukan pada impetigo atau pemfigus. Sedangkan dinding bula tegang pada dermatitis herpetiformis. Isi bula berupa cairan serous dan kadang-kadang pus. Hipopion terdapat pada impetigo kontagiosabulosa. f. Pustula.

Merupakan vesikula yang berisi nanah. Ini terdapat pada variola. g. Nodula. Adalah benjolan dibawah kulit yang menonjol keatas permukaan kulit. Ini terjadi karena adanya penimbunan lemak seperti pada lipoma, pertumbuhan jaringan pada eritema nodosum. Ukuran penampangnya kurang lebih 5 cm. h. Plaque (plakat). Merupakan penonjolan (papula) yang lebih lebar dengan ukuran penampang lebih besar dari 2 cm. i. Kista (kantung). Terjadi karena adanya penyumbatan misalnya penyumbatan kelenjar palit, kelenjar keringat. Isi kista dapat berupa lemak (kista aterom), jaringan embrional (kista dermoid). j. Tumor (benjolan). Kelainan ini lebih besar dari nodula. Terjadi akibat adanya pertumbuhan jaringan dapat bersifat jinak dan ganas. k. Kunikula. Adalah terowongan dalam epidermis yang disebabkan karena binatang yang disebut Sarkoptes Skabiei. 2. Ruam Sekunder. Merupakan kelainan lanjutan dari efloresensi primer dan biasanya timbul bila penyakit kulitnya telah sembuh. a. Skuama/sisik. Kelainan ini hanya terdiri dari jaringan korneum, biasanya terjadi akibat adanya peradangan dan pembengkakan kulit yang mengempis setelah peradangan menyembuh dan mengalami pengelupasan. Pelepasan stratum korneum ini disebut: deskuamasi furfurasea bila ukuran sisik halus. deskuamasi lamelosa bila ukuran sisik 5 cm. deskuamasi eksfoliativa bila lebih dari 5 cm.

b. Krusta/kerak. Kelainan ini terdiri stratum korneum, darah, serum dan pus yang telah mengering. c. Erosi. Erosi terjadi akibat bula yang pecah, sehingga akan tampak dasar lesi yang berwarna kemerah-merahan dan mengeluarkan serum. d. Ekskoriasi=babak. Adalah kehilangan sebagian epidermis dan dermis sehingga akan tampak titik-titik perdarahan akibat terkenanya pembuluh darah. e. Ulkus/borok/luka. Kelainan ini terjadi akibat adanya nekrosis jaringan pada makhluk hidup. Kelainan ini dapat disebabkan karena pengaruh toksin dan akan sembuh dengan meninggalkan jaringan sikatriks. Jaringan sikatriks adalah jaringan granulasi yang timbul dari luka yang menyembuh, lesi ini terdiri dari epidermis yang telah tipis, mengkilap dan tidak berambut, kelenjar keringat atau kelenjar palit. Pada permulaan jaringan sikatriks berwarna kemerahan berubah menjadi kehitam-hitaman. Bila pertumbuhan melebihi permukaan kulit disebut keloid. f. Fisura/retak. Diskontinuitas jaringan epidermis kadang-kadang sampai dermis disertai dengan perdarahan. Biasanya kelainan ini terjadi pada telapak tangan dan kaki. g. Pigmentasi. Misalnya: luka bekas kombustio (leukoderma). Luka biasa (melanoderma). h. Sulkus=celah. Kelainan ini sama seperti fisura tapi epidermisnya tidak pecah. i. Likenifikasi. Epidermis menebal dan biasanya ini terjadi penyakit kronis. j. Guma.

Adalah suatu pertumbuhan jaringan yang tidak disertai pertumbuhan pembuluh darah. k. Eksantema/roseola. Kelainan kulit yang timbulnya secara mendadak dengan disertai demam dan akan menghilang secara cepat. l. Anetoderma. Keadaan kulit dimana kehilangan serabut-serabut elastisnya. Contoh: stria gravidarum.

Gambar: Dermatitis Kontak.

Gambar: Dermatitis Atopik.

Gambar: Dermatitis Seboroika.

Gambar

Gambar 1. luka bakar dangkal (superfisial) Pada daerah badan dan lengan kanan, luka bakar jenis ini biasanya memucat dengan penekanan

Gambar 2. luak bakar superficial partial thickness. Memucat dengan penekanan, biasanya berkeringat.

Gambar.3. Luka bakar deep partial thickness. Permukaan putih, tidak memucat dengan penekanan

Gamabr.4 luka bakar full thickness. Tidak terasa sakit, gambaran putih atau keabu-abuan.

Gambar: Psoriasis

Fungsi

Kulit

Indera

Peraba

Indera peraba mencakup jenis rangsang-rangsang nyeri, tekanan, getaran, dan suhu. Rangsangan dideteksi oleh dua jenis reseptor di balik permukaan kulit: ujung-saraf terbuka dan ujung-saraf berpenutup (corpuscles). Berbagai jenis ujung-saraf ataupun corpuscles memantau rangsang tertentu. Jumlah reseptor bervariasi di seluruh tubuh; misalnya, ujung-jari sangat peka dan memiliki banyak reseptor, sementara reseptor di punggung-tengah sangat sedikit.