P. 1
Seri Buku BRR - Buku 5 - Nias

Seri Buku BRR - Buku 5 - Nias

|Views: 297|Likes:
Dipublikasikan oleh Nur Ul

More info:

Published by: Nur Ul on May 01, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/06/2014

pdf

text

original

NIAS

Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

BADAN REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI NAD–NIAS (BRR NAD–NIAS) 16 April 2005 ‑ 16 April 2009

Kantor Pusat Jl. Ir. Muhammad Thaher No. 20 Lueng Bata, Banda Aceh Indonesia, 23247 Telp. +62‑651‑636666 Fax. +62‑651‑637777 www.e‑aceh‑nias.org know.brr.go.id Pengarah Penggagas Editor Editor Bahasa Penulis

Kantor Perwakilan Nias Jl. Pelud Binaka KM. 6,6 Ds. Fodo, Kec. Gunungsitoli Nias, Indonesia, 22815 Telp. +62‑639‑22848 Fax. +62‑639‑22035

Kantor Perwakilan Jakarta Jl. Galuh ll No. 4, Kabayoran Baru Jakarta Selatan Indonesia, 12110 Telp. +62‑21‑7254750 Fax. +62‑21‑7221570

: Kuntoro Mangkusubroto : William P. Sabandar : Cendrawati Suhartono (Koordinator) Margaret Agusta (Kepala) : Suhardi Soedjono : Emanuel Migo Heracles Lang Jupiter Galo Nirarta Samadhi

Fotografi Desain Grafis

: Arif Ariadi Bodi Chandra : Bobby Haryanto (Kepala) Edi Wahyono Erwin Santoso Surya Mediana

Penyelaras Akhir : Hanief Arie Ricky Sugiarto (Kepala) Rudiyanto Vika Octavia

Alih bahasa ke Inggris Editor Editor Bahasa Penerjemah : Harumi Supit : Margaret Agusta : Oei Eng Goan Nana Nathalia Andrea Lucman

Penyusunan Seri Buku BRR ini didukung oleh Multi Donor Fund (MDF) melalui United Nations Development Programme (UNDP) Technical Assistance to BRR Project

ISBN 978‑602‑8199‑36‑0

Melalui Seri Buku BRR ini, Pemerintah beserta seluruh rakyat Indonesia dan BRR hendak menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas uluran tangan yang datang dari seluruh dunia sesaat setelah gempa bertsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 serta gempa yang melanda Kepulauan Nias pada 28 Maret 2005. Empat tahun berlalu, tanah yang dulu porak–poranda kini ramai kembali seiring dengan bergolaknya ritme kehidupan masyarakat. Capaian ini merupakan buah komitmen yang teguh dari segenap masyarakat lokal serta komunitas nasional dan internasional yang menyatu dengan ketangguhan dan semangat para korban yang selamat meski telah kehilangan hampir segalanya. Berbagai dinamika dan tantangan yang dilalui dalam upaya keras membangun kembali permukiman, rumah sakit, sekolah, dan infrastruktur lain, seraya memberdayakan para penyintas untuk menyusun kembali masa depan dan mengembangkan penghidupan mereka, akan memberikan pemahaman penting terhadap proses pemulihan di Aceh dan Nias. Berdasarkan hal tersebut, melalui halaman–halaman yang ada di dalam buku ini, BRR ingin berbagi pengalaman dan hikmah ajar yang telah diperoleh sebagai sebuah sumbangan kecil dalam mengembalikan budi baik dunia yang telah memberikan dukungan sangat berharga dalam membangun kembali Aceh dan Nias yang lebih baik dan lebih aman; sebagai catatan sejarah tentang sebuah perjalanan kemanusiaan yang menyatukan dunia.

Saya bangga, kita dapat berbagi pengalaman, pengetahuan, dan pelajaran dengan negara‑negara sahabat. Semoga apa yang telah kita lakukan dapat menjadi sebuah standar dan benchmark bagi upaya‑upaya serupa, baik di dalam maupun di luar negeri.
Sambutan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Upacara Pembubaran BRR di Istana Negara, 17 April 2009 tentang keberangkatan tim BRR untuk Konferensi Tsunami Global Lessons Learned di Markas Besar PBB di New York, 24 April 2009

Kantor Bupati Nias di Fodo, Gunungsitoli, yang arsitekturnya mengadopsi bentuk rumah tradisional Nias itu, pada 15 November 2008, tampak telah kokoh berdiri. Pemulihan prasarana fisik yang dimaksudkan untuk memperkuat institusi Pemda di Kepulauan Nias, kini, sudah berhasil dibangun semua. Mengingat kesegeraan kebutuhan pelayanan publik, banyak bangunan telah dimanfaatkan, jauh sebelum proses serah‑terima aset secara resmi dilangsungkan. Foto: BRR/Bodi CH

Daftar Isi
Pendahuluan Bagian 1. Lompatan Kepulauan yang “Bergoyang”
Nias The Dancing Islands dengan Budaya Megalitikum Kemiskinan yang Telah Lama Diderita Amukan Alam Bertubi‑tubi Membuka Wilayah Udara untuk Pertolongan Pertama: Tanggap Darurat Tergesa‑gesa Masuk ke Cetak Biru Struktur Lentur Penjawab Tantangan Menjadi Koordinator Plus Implementor Menyederhanakan OrganisasiPelaksana Proyek APBN Memuluskan Transisi dari Tanggap Darurat Melawan Korupsi Demi Membangun Kepercayaan Masyarakat 2 4 5 16 18

x 1

Bagian 2. Antara Kepercayaan, Otonomi, dan Agenda Lokal

21

22 27 28 32 36 50 53 55 57 65 70 76 88 97

Bagian 3. Membangun Hampir Tanpa Rencana Induk

Rencana Induk: Antara Ada dan Tiada Memberikan Arah Pembangunan Kembali Mengembangkan Strategi Khusus di Lapangan Tonggak‑Tonggak Pencapaian Membangun Kembali Menjadi Lebih Baik Melalui Partisipasi Masyarakat Lonjakan Angka Kebutuhan Rumah Mengembangkan Kerja Sama Berbagai Lembaga Ketika Masyarakat Mengambil Alih Pembangunan Perumahan Kesinambungan Pembangunan Perumahan

49

Bagian 4. Tantangan Melibatkan Masyarakat dalam Rekonstruksi

69

Bagian 5. Membangun Infrastruktur Mulai dari Transportasi
Tantangan Membangun Infrastruktur Nias Mengembangkan Prasarana dan Sarana Transportasi Terpadu

101
102 105

Bagian 6. Langkah Panjang Menuju Ekonomi Produktif
Uji Coba Program Ekonomi Mengubah Hutan Karet Menjadi Perkebunan Karet

117 127

118 121 128 141 142 156 157 158 162 172 174 179

Bagian 7. Memperkuat Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia
Menuju Pelayanan Kesehatan Mandiri Melindungi Masyarakat dan Lingkungan dari Obat‑obatan Rusak Meningkatkan Kapasitas Kelembagaan Pemerintah dan Pendidikan Peningkatan Kapasitas Pemerintah Kabupaten Pengembangan Ekonomi Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Pengurangan Risiko Bencana Kelanjutan Rekonstruksi di Tingkat Kecamatan Manajemen Tata Kelola Pemerintahan Manajemen Program Pembangunan Manajemen Risiko Bencana

Bagian 8. Transisi Menuju Pembangunan Berkelanjutan

153

Bagian 9. Warisan BRR dari Tano Niha

171

Catatan Daftar Singkatan

182 185

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

x

Pendahuluan
SELAMA tiga kali dua puluh empat jam, terhitung sejak 27 Desember 2004, Sang
Saka Merah Putih berkibar setengah tiang: bencana nasional dimaklumatkan. Aceh dan sekitarnya diguncang gempa bertsunami dahsyat. Seluruh Indonesia berkabung. Warga dunia tercengang, pilu. Tsunami menghantam bagian barat Indonesia dan menyebabkan kehilangan berupa jiwa dan sarana‑prasarana dalam jumlah yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Bagi yang selamat (penyintas), rumah, kehidupan, dan masa depan mereka pun turut raib terseret ombak. Besaran 9,1 skala Richter menjadikan gempa tersebut sebagai salah satu yang terkuat sepanjang sejarah modern. Peristiwa alam itu terjadi akibat tumbukan dua lempeng tektonik di dasar laut yang sebelumnya telah “jinak” selama lebih dari seribu tahun. Namun, dengan adanya tambahan tekanan sebanyak 50 milimeter per tahun secara perlahan, dua lempeng tersebut akhirnya mengentakkan 1.600‑an kilometer patahan dengan keras. Patahan itu dikenal sebagai patahan megathrust Sunda. Episentrumnya terletak di 250 kilometer barat daya Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Retakan yang terjadi, yakni berupa longsoran sepanjang 10 meter, telah melentingkan dasar laut dan kemudian mengambrukkannya. Ambrukan ini mendorong dan mengguncang kolom air ke atas dan ke bawah. Inilah yang mengakibatkan serangkaian ombak dahsyat.

Hanya dalam waktu kurang dari setengah jam setelah gempa, tsunami langsung menyusul, menghumbalang pesisir Aceh dan pulau‑pulau sekitarnya hingga 6 kilometer ke arah daratan. Sebanyak 126.741 jiwa melayang dan, setelah tragedi tersebut, 93.285 orang dinyatakan hilang. Sekitar 500.000 orang kehilangan hunian, sementara 750.000‑an orang mendadak berstatus tunakarya. Pada sektor privat, yang mengalami 78 persen dari keseluruhan kerusakan, 139.195 rumah hancur atau rusak parah, serta 73.869 lahan kehilangan produktivitasnya. Sebanyak 13.828 unit kapal nelayan raib bersama 27.593 hektare kolam air payau dan 104.500 usaha kecil‑menengah. Pada sektor publik, sedikitnya 669 unit gedung pemerintahan, 517 pusat kesehatan, serta ratusan sarana pendidikan hancur atau mandek berfungsi. Selain itu, pada subsektor lingkungan hidup, sebanyak 16.775 hektare hutan pesisir dan bakau serta 29.175 hektare terumbu karang rusak atau musnah. Kerusakan dan kehilangan tak berhenti di situ. Pada 28 Maret 2005, gempa 8,7 skala Richter mengguncang Kepulauan Nias, Provinsi Sumatera Utara. Sebanyak 979 jiwa melayang dan 47.055 penyintas kehilangan hunian. Dekatnya episentrum gempa yang sebenarnya merupakan susulan dari gempa 26 Desember 2004 itu semakin meningkatkan derajat kerusakan bagi Kepulauan Nias dan Pulau Simeulue. Dunia semakin tercengang. Tangan‑tangan dari segala penjuru dunia terulur untuk membantu operasi penyelamatan. Manusia dari pelbagai suku, agama, budaya, afiliasi politik, benua, pemerintahan, swasta, lembaga swadaya masyarakat, serta badan nasional dan internasional mengucurkan perhatian dan empati kemanusiaan yang luar biasa besar. Dari skala kerusakan yang diakibatkan kedua bencana tersebut, tampak bahwa sekadar membangun kembali permukiman, sekolah, rumah sakit, dan prasarana lainnya belumlah cukup. Program pemulihan (rehabilitasi dan rekonstruksi) harus mencakup pula upaya membangun kembali struktur sosial di Aceh dan Nias. Trauma kehilangan handai‑taulan dan cara untuk menghidupi keluarga yang selamat mengandung arti bahwa program pemulihan yang ditempuh tidak boleh hanya berfokus pada aspek fisik, tapi juga nonfisik. Pembangunan ekonomi pun harus bisa menjadi fondasi bagi perkembangan dan pertumbuhan daerah pada masa depan. Pada 16 April 2005, Pemerintah Republik Indonesia, melalui penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang‑Undang Nomor 2 Tahun 2005, mendirikan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias, Sumatera Utara (BRR). BRR diamanahi tugas untuk mengoordinasi dan menjalankan program pemulihan Aceh‑Nias yang dilandaskan pada

xi

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

partisipasi aktif masyarakat setempat. Dalam rangka membangun Aceh‑Nias secara lebih baik dan lebih aman, BRR merancang kebijakan dan strategi dengan semangat transparansi, untuk kemudian mengimplementasikannya dengan pola kepemimpinan dan koordinasi efektif melalui kerja sama lokal dan internasional. Pemulihan Aceh‑Nias telah memberikan tantangan bukan hanya bagi Pemerintah dan rakyat Indonesia, melainkan juga bagi masyarakat internasional. Kenyataan bahwa tantangan tersebut telah dihadapi secara baik tecermin dalam berbagai evaluasi terhadap program pemulihan. Pada awal 2009, Bank Dunia, di antara beberapa lembaga lain yang mengungkapkan hal serupa, menyatakan bahwa program tersebut merupakan “kisah sukses yang belum pernah terjadi sebelumnya” dan “teladan bagi kerja sama internasional”. Bank Dunia juga menyatakan bahwa kedua hasil tersebut dicapai berkat “kepemimpinan efektif dari Pemerintah”. Upaya pengelolaan yang ditempuh Indonesia, tak terkecuali dalam hal kebijakan dan mekanisme antikorupsi yang diterapkan BRR, telah menggugah kepercayaan para donor, baik individu maupun lembaga, serta komunitas internasional. Tanpa kerja sama masyarakat internasional, kondisi Aceh dan Nias yang porak‑poranda itu mustahil berbalik menjadi lebih baik seperti saat ini. Guna mengabadikan capaian kerja kemanusiaan tersebut, BRR menyusun Seri Buku BRR. Kelima belas buku yang terkandung di dalamnya memerikan proses, tantangan, kendala, solusi, keberhasilan, dan pelajaran yang dituai pada sepanjang pelaksanaan program pemulihan Aceh‑Nias. Upaya menerbitkannya diikhtiarkan untuk menangkap dan melestarikan inti pengalaman yang ada serta mengajukan diri sebagai salah satu referensi bagi program penanganan dan penanggulangan bencana di seluruh dunia. Khususnya bagi Nias, perjalanannya bukan hanya sekadar memulihkan pada keadaan prabencana, melainkan juga meletakkan fondasi pembangunan berkesinambungan yang lebih baik. Mengingat karakter geografis Kepulauan Nias yang rawan gempa, fondasi itu ditatakan secara holistik dalam berbagai bidang pembangunan fisik maupun nonfisik dengan mempertimbangkan aspek siaga bencana. Satu hal yang pasti, Pemulihan Nias, terutama sekali diikhtiarkan untuk menghelanya dari tubir keterabaian, dan kemudian menceburkannya ke dalam turbulensi pembangunan yang percepatannya dinaikkan sekian derajat lebih tinggi ketimbang pembangunan biasa. Perlunya, agar ketertinggalan yang dialami selama ini bisa dikejar, sehingga Tano Niha dapat berdiri sejajar dengan saudara‑saudaranya di Sumatera daratan yang sudah terlebih dahulu mengenyam manisnya buah pembangunan semesta. Melalui buku berjudul Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui ini, liku‑liku mengenai tantangan, kendala, kegagalan, maupun keberhasilan menuju Nias yang lebih baik, dibeberkan.

xii

Capaian 4 Tahun
Rehabilitasi dan Rekonstruksi
635.384 127.720
orang kehilangan tempat tinggal orang meninggal dan 93.285 orang hilang usaha kecil menengah (UKM) lumpuh

104.500 155.182 195.726

tenaga kerja dilatih UKM menerima bantuan

xiii

rumah rusak atau hancur hektare lahan pertanian hancur guru meninggal kapal nelayan hancur

139.195 140.304 73.869 69.979

rumah permanen dibangun hektare lahan pertanian direhabilitasi guru dilatih kapal nelayan dibangun atau dibagikan sarana ibadah dibangun atau diperbaiki kilometer jalan dibangun sekolah dibangun sarana kesehatan dibangun bangunan pemerintah dibangun jembatan dibangun pelabuhan dibangun bandara atau airstrip dibangun

1.927 39.663

13.828 7.109

sarana ibadah rusak kilometer jalan rusak sekolah rusak

1.089 3.781

2.618 3.696

3.415 1.759

sarana kesehatan rusak bangunan pemerintah rusak jembatan rusak pelabuhan rusak bandara atau airstrip rusak

517 1.115

669 996

119 363 22 23

8 13

Lompatan Kepulauan yang “Bergoyang”
Nias, gugusan 131 pulau dengan luas keseluruhan 5.625 kilometer persegi, merupakan wilayah terluar dan berada di bagian paling barat Indonesia pada posisi 10‑30 derajat Lintang Utara dan 97‑98 derajat Bujur Timur. Pulau paling terkenal sekaligus terbesar dan terbanyak penduduknya adalah Pulau Nias, dengan luas 5.449,7 kilometer persegi.1 Pulau‑pulau besar lain yang berpenghuni adalah Pulau Tanah Bala (seluas 36,97 km2), Pulau Tanah Masa (21,16 km2), Pulau Tello (18 km2), dan Pulau Pini (24,36 km2). Dari ratusan lebih pulau, hanya sekitar 20 pulau yang berpenghuni. Nias masuk kategori 6 untuk wilayah di dunia yang sangat rentan terhadap gempa. Sejarah mencatat, kepulauan ini senantiasa bergoyang dilanda gempa bumi. Tak aneh kalau tempat ini dijuluki “The Dancing Islands”. Sebelum terjadi bencana tsunami dan gempa bumi, Nias masuk wilayah termiskin di Indonesia. Masyarakat Nias sering kali menyalahkan orang daratan Sumatera Utara sebagai penyebab keterpurukan mereka. Mereka berteriak, kue pembangunan tidak pernah terbagi rata di antara kota‑kota yang ada di dalam provinsi induknya tersebut. Bencana tsunami 26 Desember 2004, disusul gempa bumi 28 Maret 2005, membawa Nias ke titik nadir pembangunan. Kemiskinan dan keterisolasian berbaur dengan bencana. Peristiwa alam yang tak terduga itu membuka mata pemerintah dan dunia internasional untuk memberikan pertolongan kepada Nias yang tidak berdaya.

KEPULAUAN

Pulau‑pulau Batu, Kabupaten Nias Selatan, merupakan gugusan kepulauan yang memiliki taman laut indah dan menjadi tujuan wisata nusantara. Foto: BRR/Bodi CH

Bagian 1. Lompatan Kepulauan yang “Bergoyang”

1

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Nias menggeliat, bangkit, dan berubah. Perhatian pemerintah dan dunia internasional dalam kurun waktu tidak lebih dari empat tahun telah mengalirkan darah ke nadi Nias. Lompatan besar terjadi, menempatkan Nias di jalan setapak yang tepat untuk mengatasi ketertinggalannya selama ini.

MALAYSIA
Kuala Lumpur

Nias The Dancing Islands dengan Budaya Megalitikum
Kepulauan Nias merupakan salah satu dari barisan pulau di barat Pulau Sumatera. Pulau‑pulau itu terbentuk sebagai hasil tumbukan antara lempeng benua Eurasia dan lempeng Hindia, dengan batas tumbukan lempeng (jalur subduksi) berada di pantai barat barisan pulau tersebut. Tumbukan antara dua lempeng itu juga membentuk patahan besar (megathrust) sepanjang pantai barat yang menjalur dari Enggano ke Mentawai, Nias, Simeulue, Andaman/Nikobar (India), Arakan Yoma (Myanmar), dan berlanjut ke jalur megathrust Himalaya. Jalur‑jalur patahan ini menjadi tempat pelepasan energi dari dalam bumi dan selanjutnya menjadi jalur gempa. Pembentukan Pulau Nias terjadi 10.000 tahun silam. Sebelumnya, pulau ini berada di bawah permukaan laut pada kedalaman 50‑200 meter. Bukti terangkatnya Pulau Nias terlihat dari adanya batu gamping terumbu, terutama di sepanjang pantai timur Nias serta di bagian utara Kecamatan Lahewa dan di Kecamatan Alasa. Pergerakan lempeng Hindia dengan kecepatan rata‑rata 60 milimeter per tahun telah menggerakkan Pulau Nias secara mendatar dengan kecepatan 2‑3 sentimeter per tahun serta pergerakan vertikal 8‑10 sentimeter per tahun sampai saat ini. Tumbukan tersebut juga menyebabkan Pulau Nias bergerak ke arah Pulau Sumatera dengan kecepatan rata‑rata 4 sentimeter per tahun.

mm

/th

52

Sumatera

Singapura

2

Patahan Indo‑Australia

INDONESIA
Jakarta

Patahan di Pulau Nias
Patahan yang dapat dilihat pada peta geologi Pulau Nias menunjukkan, secara geologis, patahan tersebut bersifat purba dan bukan patahan yang aktif. Menurut Karig et al. (1979) dan Samuelson‑Harbury (1999), patahan di permukaan Pulau Nias tidak lagi berhubungan dengan patahan subduksi utama, sehingga patahan subduksi lempeng Indo‑Australia dan Asia Tenggara tidak akan secara langsung ditransmisikan kepada patahan permukaan tersebut. Patahan utama yang saat ini aktif diperkirakan adalah zona subduksi yang terletak 20‑24 kilometer di bawah Pulau Nias, Patahan Besar Sumatera, investigator fracture zone di selatan Nias, dan Patahan Mentawai. Walaupun Nias terangkat dan miring setelah gempa 28 Maret 2005, patahan yang terjadi pada gempa besar tersebut berada pada zona subduksi berkilo‑kilometer dari Nias dan kecil kemungkinannya dapat mencapai permukaan bumi Nias. Tidak terdapat patahan permukaan setelah gempa pada 2005 tersebut. Patahan lama Nias mungkin mengalami gerakan penyesuaian sekunder (dalam rentang milimeter sampai sentimeter) yang terjadi sebagai akibat tectonic uplift yang tidak masuk kategori patahan primer yang disebabkan oleh gempa.

60 mm /th

Gambar 1.1. Sebaran Titik Rawan di Kabupaten Nias (KSF‑AP, 2008)

Dilihat dari aspek geologinya, yakni dari evolusi tektonik yang berlangsung, Pulau Nias berada pada posisi tektonik labil dengan dataran yang berpotensi besar untuk selalu bergoyang karena dilanda gempa bumi. Tsunami dapat terjadi di pantai utara, timur, dan barat, sedangkan bencana alam lain yang sering terjadi adalah tanah longsor dan banjir. Selain itu, hasil survei geofisika menunjukkan Nias berada pada jalur anomali negatif suatu kondisi yang disebabkan oleh perbedaan berat jenis (masa rapat) batuan antara Pulau Nias dan Pulau Sumatera. Karena berat jenis batuan di Pulau Nias jauh lebih kecil dibandingkan dengan berat jenis batuan di Pulau Sumatera, untuk menyeimbangkan gaya berat bumi antara Pulau Nias dan Pulau Sumatera, secara alamiah Pulau Nias akan mengangkat dirinya. Proses pengangkatan tersebut menyebabkan guncangan‑guncangan gempa dengan kekuatan getaran yang dapat atau tidak dapat dirasakan manusia. Satu hal yang membuat nama Nias tetap berkibar adalah kebudayaannya. Kebudayaan Nias sangat kaya dan unik. Yang paling terkenal adalah tradisi “lompat batu”, meskipun sesungguhnya kebudayaan Nias lebih luas dari sekadar tradisi lompat batu. Di mata pemerhati dan peneliti, kebudayaan Nias laksana “the living megalithic culture”.

Bagian 1. Lompatan Kepulauan yang “Bergoyang”

3

Kemiskinan yang Telah Lama Diderita
NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Kemiskinan dan bencana alam tentu merupakan dua hal yang berbeda. Namun, bagi masyarakat di Kepulauan Nias, kedua hal tersebut adalah paduan serasi yang membuat Nias tampil dalam wajah aslinya, seperti belum tersentuh peradaban modern. Gempa bumi dahsyat 28 Maret 2005 membuka mata dunia terhadap Nias. Tapi sebenarnya kemiskinan telah menjadi kawan sehari‑hari 712.000 penduduk wilayah ini —suatu “bencana” yang telah lama diderita masyarakat. Di antara kabupaten/kota di Indonesia, Kabupaten Nias dan Nias Selatan berada pada kelompok 10 persen teratas dengan tingkat kemiskinan tertinggi. Menurut Badan Pusat Statistik, pada 2004 diperkirakan sekitar 226.000 penduduk Kepulauan Nias hidup di bawah garis kemiskinan. Walau tingkat kemiskinan di Indonesia berkurang secara signifikan sejak tahun 2000, tingkat kemiskinan di Kepulauan Nias tetap tinggi, mencapai sekitar 31 persen sejak 2002. Ditinjau dari sisi produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita, pada 2005, PDRB Kabupaten Nias hanya sebesar Rp 5,1 juta dan Kabupaten Nias Selatan sebesar Rp 4,9 juta. Angka‑angka ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan PDRB rata‑rata Provinsi Sumatera Utara, yang mencapai Rp 11,1 juta. Pertumbuhan ekonomi rata‑rata di kedua kabupaten itu adalah 6 persen pada 2000, tapi berkontraksi menjadi 3,4 persen setelah bencana gempa bumi pada 2005. Walau semua kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara memiliki pendapatan asli daerah (PAD) per kapita di bawah rata‑rata nasional, PAD per kapita Nias Selatan berada pada posisi terendah di provinsi, yakni Rp 3.343 atau 40 kali lebih kecil dibandingkan dengan PAD per kapita Kota Medan, yang mencapai Rp 128.310. Rendahnya PDRB dan PAD per kapita serta tingginya tingkat kemiskinan berjalan seiring dengan rendahnya indeks perkembangan manusia, seperti tingkat melek huruf. Pada 2005, tingkat melek huruf di Kabupaten Nias 85,8 persen, sementara di Kabupaten Nias Selatan lebih rendah lagi, hanya 62,5 persen. Indikator kesehatan pun mengenaskan. Di Kabupaten Nias, angka kematian bayi mencapai 56 per 1.000 bayi, sedangkan di kabupaten Nias Selatan mencapai 42 per 1.000 bayi. Bandingkan dengan rata‑rata angka kematian bayi di tingkat nasional pada 2006, yakni 35 per 1.000 bayi. Rendahnya indikator kesehatan juga dapat dilihat dari minimnya fasilitas kesehatan dan kurangnya tenaga medis. Hanya ada tujuh dokter yang melayani 290.000 penduduk Kabupaten Nias Selatan. Dokter yang ada umumnya hanya berada di ibu kota kabupaten, yaitu di Gunungsitoli dan Teluk Dalam. Akses masyarakat terhadap infrastruktur dasar, seperti air bersih, sanitasi, dan listrik, di Kepulauan Nias senantiasa tertinggal dibandingkan dengan rata‑rata Provinsi Sumatera Utara dan Indonesia. Jaringan jalan provinsi sebagai jalan utama, jalan kabupaten yang

4

menghubungkan antarwilayah kecamatan, serta jalan‑jalan di wilayah pedesaan sangat terbatas dan sebagian besar hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki. Ruas jalan tersebut hampir 80 persen dalam kondisi tidak terpelihara dan rusak berat. Masyarakat Nias dan Nias Selatan telah lama miskin dan terbelakang sebelum datang bencana yang menambah kepedihan.

Seperti yang ditinggali anak‑anak dan ibunya di pingiran Kota Gunungsitoli ini, rumah‑rumah kayu beralaskan tanah menghiasi kepulauan Nias. Foto: BRR/Bodi CH

Amukan Alam Bertubi‑tubi
Hanya sedikit orang yang tahu, tsunami dahsyat yang melanda Nanggroe Aceh Darussalam juga menjadi bencana di Kepulauan Nias. Empasan gelombang air laut ganas pada 26 Desember 2004 menyebabkan kawasan perkampungan padat di wilayah Sirombu dan kawasan pantai Mandrehe ditinggalkan para penghuninya, hingga sekarang. Ribuan penduduk Pulau Hinako, di sebelah barat Sirombu, lari meninggalkan kampung halaman mereka dan menjadi pengungsi di Tetesua, ibu kota Kecamatan Sirombu. Ketika dampak bencana tsunami belum teratasi, menjelang tengah malam pada 28 Maret 2005, bumi Nias digetarkan gempa berkekuatan 8,2 skala Richter. Saat itu sebagian besar penduduk tengah tidur nyenyak. Gedung perkantoran, pusat pertokoan, dan perumahan penduduk di Kota Gunungsitoli roboh dalam sekejap.

Bagian 1. Lompatan Kepulauan yang “Bergoyang”

5

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

6

Pelabuhan Lahewa, Kabupaten Nias merupakan salah satu wilayah yang terimbas tsunami. 26 Desember 2004. Foto: BRR/Bodi CH

Isak tangis dan jeritan minta tolong membahana di seluruh pelosok kota. Khawatir terjadi amukan gelombang tsunami seperti di Aceh, puluhan ribu warga berhamburan dalam kegelapan malam menuju kawasan perbukitan di sekitar kota. Embusan kabar burung bahwa Nias akan tenggelam membuat warga kota mengungsi selama seminggu di pegunungan, sementara belasan ribu warga lebih memilih segera angkat kaki dari Nias menuju daratan Sumatera. Kota Gunungsitoli di Pulau Nias, yang menjadi pusat bisnis dan pintu keluar‑masuk semua komoditas perdagangan untuk menghidupi masyarakat di seluruh Kepulauan Nias, mendadak lumpuh. Jika tidak ada bantuan dari berbagai organisasi internasional yang berbondong‑bondong menyerbu Nias untuk memberikan pertolongan, tentu 850 korban meninggal akan membusuk dalam timbunan puing‑puing dan ribuan korban selamat yang masih terkurung di balik reruntuhan tidak akan mendapat pertolongan. Guncangan hebat akibat gempa bumi ini menyebabkan terjadi perubahan struktur tanah di Pulau Nias. Patahan lama yang ada di bagian tengah pulau tidak terpengaruh gempa dahsyat tersebut, tapi ujung utara (Lahewa), selatan (Teluk Dalam), dan barat (Sirombu) terangkat. Beberapa kampung di tepi pantai dengan ribuan penduduk, seperti di Kecamatan Bawolato, Nias bagian timur, tenggelam karena mengalami penurunan.

Bencana alam menjelang akhir Maret 2005 semakin memperparah kondisi infrastruktur dan sarana yang sebelumnya telah terbengkalai. Selama masa tanggap darurat, kegiatan evakuasi para korban, pemberian bantuan medis, dan pemasokan logistik sangat sulit dilakukan. Korban gempa bumi umumnya tidak dapat dijangkau kendaraan darat. Distribusi makanan hanya dapat dilakukan melalui helikopter dari udara. Banyak korban yang masih hidup akhirnya meninggal karena tidak segera mendapat pertolongan. Hanya mereka yang dapat dievakuasi ke Medan atau Sibolga, untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, yang bisa keluar dari bencana dengan selamat. Amukan alam yang datang bertubi‑tubi di bumi Nias ini membuat struktur kehidupan dan perekonomian masyarakat setempat semakin terpuruk. Data kerusakan berdasarkan pendataan Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (Satkorlak PBP) Sumatera Utara, World Bank, International Organization for Migration (IOM), dan BRR pada halaman berikut. Data kerusakan tersebut kemudian dituangkan World Bank dalam Tabel Nilai Kerusakan dengan nilai kerusakan keseluruhan mencapai US$ 372 juta atau setara dengan Rp 3,724 triliun. Meskipun nilai kerusakan diperkirakan “hanya” Rp 3,724 triliun, sebenarnya nilai riil dampak bencana terhadap masyarakat jauh lebih luas. Dampak psikis, sosial, dan ekonomi ini memerlukan rentetan panjang pemulihan, agar roda kehidupan masyarakat dapat bergulir mulus, lebih baik dari keadaan semula. Maka, berdasarkan penghitungan ulang oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan BRR bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Nias dan Nias Selatan dalam menyusun Rencana Aksi Rekonstruksi Nias 2007‑2009, nilai kerusakan meningkat mencapai Rp 6,012 triliun, seperti tampak pada Tabel 1.1. Penghitungan ulang ini dilakukan berdasarkan dua pertimbangan utama. Pertama, pembangunan kembali terhadap dampak bencana yang menimpa wilayah Kepulauan Nias didasarkan pada prinsip membangun kembali menjadi lebih baik dengan mempertimbangkan upaya mengentaskan masyarakat miskin dan membuka keterisolasian wilayah. Kedua, pembangunan kembali secara lebih baik di wilayah Kepulauan Nias yang rawan gempa bumi ini perlu sekaligus menerapkan prinsip kesiagaan terhadap bencana.

Bagian 1. Lompatan Kepulauan yang “Bergoyang”

Daerah wisata kebudayaan dengan kampung adat terkenal seperti Bawomataluo di Nias Selatan sulit mendapatkan pengunjung. Kerusakan pada struktur tanah juga mengurangi kekuatan gulungan gelombang indah di Pantai Sorake, Teluk Dalam, membuat para turis enggan singgah di pantai yang sebelumnya terkenal untuk kegiatan selancar ini.

7

Ketika Nias Luluh Lantak
Warga Masyarakat
NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

• 966 orang meninggal (850 di antaranya meninggal pada saat gempa 28 Maret 2005) • 11.579 orang luka‑luka • 70.000 lebih orang kehilangan tempat tinggal • 1.030 keluarga (5.094 orang) dita‑ mpung di tenda penampungan • Sekitar 1.500 orang mengungsi dari Kepulauan Hinako ke Pulau Nias • 761 bangunan kantor pemerintah rusak sebagian atau seluruhnya

Pendidikan

• 723 dari 879 sekolah rusak atau hancur • 3.500 ruang kelas rusak atau hancur • 2 rumah sakit rusak • 173 puskesmas pembantu rusak sebagian dan rusak total • 170 klinik ibu dan anak rusak • 90% mata pencarian terganggu, terutama nelayan dan petani • 20% penurunan perekonomian • 219 pasar, toko, dan kios rusak

Kesehatan

Mata Pencarian

Layanan Masyarakat

8

Perikanan

Tempat Ibadah

• 1.419 rumah ibadah rusak ringan, rusak sebagian, atau rusak total • 8 rumah hancur • 15 rumah rusak berat • 2 pelabuhan mengering akibat terangkatnya pulau tersebut set‑ inggi 2 meter • 2 pelabuhan kecil mengering • 1 bangunan sekolah hancur • 10 ruang kelas rusak

Pertanian

Kepulauan Hinako

Pengairan dan Sanitasi

• Hampir seluruh jaringan distri‑ busi air di semua kecamatan dan ibu kota kabupaten rusak • PDAM Tirtanadi hanya mampu melayani 20% penduduk Gu‑ nungsitoli dengan kualitas air yang buruk • Jaringan irigasi rusak parah, sehingga berdampak nyata terhadap 90% perekonomian penduduk • Hambatan terhadap akses air tanah dalam

• Penurunan sampai 70% hasil pertanian di tingkat daerah • Meningkatnya harga‑harga hasil pertanian • Berkurangnya daya jual beras • Turunnya harga beras karena mengalirnya beras impor • Kenaikan biaya sewa atau harga bagi hasil • Menurunnya harga cokelat di kawasan yang baru saja mengem‑ bangkan sektor ini

Bagian 1. Lompatan Kepulauan yang “Bergoyang”

• Kerusakan parah pada de‑ sa‑desa nelayan dan kerusakan perahu nelayan • Ketidakstabilan pasar dalam jangka pendek dan kenaikan harga di pasar • Kerusakan di pelabuhan‑pelabu‑ han dagang • Penurunan 20‑50% tangkapan ikan

Perumahan
• • • •

16.161 rumah hancur 29.184 rumah rusak parah 34.009 rumah rusak ringan 2 desa di Kecamatan Bawolato, Nias bagian timur, tenggelam

Infrastruktur

• 800 km jalan kabupaten tidak dapat dilalui • 266 km jalan provinsi tidak dapat dilalui • 403 jembatan tidak dapat dilalui • 12 pelabuhan besar dan kecil hancur

9

94°0'0"E KOTA SABANG P. Weh BANDA ACEH

96°0'0"E

98°0'0"E

100°0'0"E

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

ACEH BESAR Lamno KOTA LHOKSEUMAWE BIREUEN ACEH UTARA BENER MERIAH D. Laut Tawar ACEH TIMUR ACEH TENGAH KOTA LANGSA ACEH TAMIANG
Selat Malaka

PIDIE ACEH JAYA

Calang ACEH BARAT
0 KM

4°0'0"N

NAGAN RAYA Meulaboh

40

GAYO LUES ACEH BARAT DAYA ACEH SELATAN Tapaktuan ACEH TENGGARA
0 KM

MEDAN

10
10 0
SIMEULUE

20

KM

D. Toba
KM

50

ACEH SINGKIL Pulau Banyak SUMMATERA UTARA

2°0'0"N

SKALA 1:2,700,000 Pada ukuran A3
0 15 30 60 Kilometers

NIAS
90

RIAU

Samudera Indonesia

NIAS SELATAN

0°0'0"

SUMMATERA BARAT

94°0'0"E

96°0'0"E

98°0'0"E

100°0'0"E

PETA PUSAT GEMPA BUMI 28 MARET TAHUN 2005
LEGENDA
Pusat Gempa Batas Provinsi Batas Kabupaten Laut

KETERANGAN
Sumber peta : data BPS, Peta Rupabumi Bakosurtanal skala 50.000, Geospasial perumahan, Pemetaan Aset. Datum WGS 1984, proyeksi UTM. Peta dibuat pada bulan Januari 2009 oleh Tim Teknis Buku Peta BRR

No. I

Sektor dan Subsektor Perumahan 1. Perumahan 2. Prasarana Lingkungan

Dampak Bencana (juta rupiah) Kerusakan 1.990.912 1.450.000 540.912 2.580.401 1.630.000 258.066 213.651 312.184 52.500 ‑ 34.000 80.000 809.767 515.992 221.100 72.675 296.920 280.432 16.488 334.400 276.400 58.000 6.012.401 % 33,11% ‑ ‑ 42,92% ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ 13,47% ‑ ‑ ‑ 4,94% ‑ ‑ 5,56% ‑ ‑ 100% Pemerintah ‑ ‑ ‑ 2.580.401 1.630.000 258.066 213.651 312.184 52.500 ‑ 34.000 80.000 737.092 515.992 221.100 ‑ ‑ ‑ ‑ 334.400 276.400 58.000 3.651.893

Kepemilikan % 0.00% Swasta 1.990.912 1.450.000 ‑ 70,66% ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ 20,18% ‑ ‑ ‑ 0% ‑ ‑ 9,16% ‑ ‑ 60,74% 540.912 ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ 72.675 ‑ ‑ 72,675 296.920 280.432 16.488 ‑ ‑ ‑ 2.360.508 0% ‑ ‑ 39,26% % 84,34% ‑ ‑ 0% ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ 3,08% ‑ ‑ ‑ 12,58% ‑

II

Infrastruktur 1 Transportasi Darat 2. Energi 3. Pos dan Telekomunikasi 4. Air dan Sanitasi 5. Infrastruktur Pertanian 6. Pintu Air 7. Transportasi Udara 8. Transportasi Laut

III

Sosial 1. Pendidikan 2. Kesehatan 3. Agama

IV

Ekonomi 1. Pertanian 2. Perdagangan

V

Lintas Sektor 1. Tata Pemerintahan 2. Ketertiban dan Keamanan TOTAL

Bagian 1. Lompatan Kepulauan yang “Bergoyang”

Tabel 1.1. Nilai Kerusakan Akibat Gempa 28 Maret 2005 di Kepulauan Nias

11

Kehancuran Kota Gunungsitoli akibat gempa 28 Maret 2005. Foto: BRR/Bodi CH

Bagian 1. Lompatan Kepulauan yang “Bergoyang”

13

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Bantuan Internasional Penanganan Tanggap Darurat
menewaskan hampir 1.000 orang terjadi menjelang tengah malam pada Senin, 28 Maret 2005. Di tengah isak tangis dan teriakan minta tolong nyaris dari seluruh pelosok Kota Gunungsitoli, sebagian besar warga kota yang selamat justru lari dalam kegelapan malam menuju perbukitan karena takut adanya tsunami. Hal yang sama terjadi di Teluk Dalam, ibu kota Kabupaten Nias Selatan. Hal ini dapat dimengerti karena sebagian wilayah Nias telah mengalami tsunami pada 26 Desember 2004. Keesokan harinya, situasi benar‑benar kalut. Korban‑korban manusia yang tewas masih terbenam di balik reruntuhan dan korban yang terjebak reruntuhan belum mendapat pertolongan. Selain tidak ada alat berat yang memadai untuk mengangkat reruntuhan bangunan, warga masyarakat masih ragu turun ke kota dan perkampungan untuk memberikan pertolongan. Di tengah situasi kalut tersebut, beberapa organisasi internasional datang tepat pada waktunya. Pada hari kedua, atau tepatnya Selasa, 29 Maret 2005, tercatat tiga organisasi kemanusiaan Perserikatan Bangsa‑Bangsa (PBB) dan satu non‑governmental organization (NGO) internasional tiba di Nias. Keempat lembaga tersebut adalah United Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UN‑OCHA), United Nations Children’s Fund (UNICEF), United Nations World Food Programme (UN‑WFP), dan International Organization for Migration (IOM). Sementara itu, di beberapa daerah, terutama di kawasan bagian barat Pulau Nias, yaitu daerah Sirombu dan Mandrehe, telah ada beberapa organisasi kemanusiaan yang membantu korban tsunami, seperti Surf Aid International dan Zero‑to‑One Foundation.

GEMPA bumi Nias yang

14

Tanpa persiapan berarti, UN‑OCHA membuka kantor darurat hari Selasa itu juga untuk mengoordinasi pemberian bantuan. Kantor di depan pendapa kantor Bupati Nias inilah yang menjadi pusat koordinasi dan informasi bagi sekitar 70 lembaga internasional dan 50‑an lembaga nasional yang berbondong‑bondong ke Nias untuk memberikan bantuan darurat kemanusiaan beberapa hari setelahnya. Lapangan Merdeka, yang berada persis di depan pendapa kantor Bupati Nias, disulap menjadi pusat pelayanan kesehatan yang sekaligus berfungsi sebagai tempat menginap bagi pekerja kemanusiaan. Kapal US Mercy, yang juga memberikan bantuan pelayanan kesehatan, berlabuh di pantai dekat Lapangan Merdeka, Kota Gunungsitoli. Yenita Fiftin Ndruru, gadis asal Nias yang mengalami peristiwa ini, menuturkan, satu minggu setelah kejadian gempa, masyarakat Kota Gunungsitoli masih ragu turun dari gunung. Mayat‑mayat di balik reruntuhan baru bisa seluruhnya dikeluarkan tiga minggu setelah gempa karena tidak ada backhoe atau alat berat lain yang bisa dipakai untuk mengangkat reruntuhan gedung pertokoan di Kota Gunungsitoli. Masyarakat hanya menggunakan peralatan sederhana, seperti martil, sekop, dan cangkul. “Untung, banyak NGO cepat datang ke Nias memberikan pertolongan. Kalau tidak, situasi Nias mungkin akan lebih buruk lagi. Apotek Holy Farma milik keluarga kami adalah satu‑satunya apotek yang masih dapat melayani pembeli di Kota Gunungsitoli, Apotek lain telah runtuh oleh gempa. Karena kasihan kepada banyak korban luka dan sakit pascagempa yang membutuhkan obat‑obatan, kami terpaksa turun dari gunung untuk membuka apotek. Waktu itu, berbagai NGO yang memberikan pelayanan

kesehatan berlangganan dengan kami,” tutur Yeni Ndruru. Gubernur Sumatera Utara saat itu, Rizal Nurdin (almarhum), dan pemimpin Satkorlak Sumatera Utara termasuk di antara mereka yang sejak awal tiba di Nias. Begitu mendengar ada gempa besar di Nias, Rizal Nurdin langsung terbang ke Nias keesokan harinya. Bersama Wakil Bupati Nias saat itu, Agus Mendrofa, mereka mengoordinasi pemberian bantuan makanan dan obat‑obatan bersama organisasi PBB yang biasa bertugas mengoordinasi penanganan bantuan kemanusiaan, UN‑OCHA. “Penanganan tanggap darurat pascabencana di Nias tergolong besar karena melibatkan sekitar 140 lembaga nasional dan internasional. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sendiri belum pernah berpengalaman mengoordinasi skala bantuan demikian besar. Karena itu, peran UN‑OCHA sangat penting sebagai jangkar koordinasi dan komunikasi selama proses pemberian bantuan pada masa tanggap darurat,” ujar Field Officer UN‑OCHA, Sonya Syafitri, yang sudah berada di Nias tiga hari setelah kejadian bencana. Sonya menuturkan, korban bencana yang terdapat di hampir seluruh Pulau Nias membutuhkan pertolongan. Tantangan terbesar dalam proses pertolongan ini adalah sulitnya transportasi. Jalan dan jembatan banyak yang putus sehingga tidak dapat dilalui kendaraan. Misalnya, bantuan ke Teluk Dalam, Nias Selatan, sulit dikirimkan karena mobil tidak dapat menembus jalan dan jembatan yang putus di beberapa titik. Helikopter milik UN‑WFP dan Angkatan Bersenjata Australia dapat membantu mengatasi hambatan jalan darat yang buruk. Sayangnya, dalam operasi

kemanusiaan tersebut, sebuah helikopter milik Angkatan Bersenjata Australia jatuh di daerah Amandraya, Nias Selatan, dan menewaskan empat relawan tentara Angkatan Bersenjata Australia. Dalam rangka pengembangan koordinasi, UN‑OCHA menetapkan Kelompok Kerja Sektoral, yang terdiri atas Kelompok Kerja Sektor Kesehatan, Penanganan Pengungsi (IDPs), Logistik, Bantuan Makanan dan Bukan Makanan, serta Air Minum dan Sanitasi. Setiap hari diadakan rapat koordinasi Kelompok Kerja Sektoral dan Pertemuan Koordinasi Umum untuk melakukan koordinasi lintas sektoral, yang dipimpin bersama oleh Satkorlak, UN‑OCHA, dan Pemerintah Kabupaten Nias. Bencana gempa bumi Nias memang hanya dikategorikan sebagai bencana lokal oleh pemerintah Indonesia. Tapi bantuan kemanusiaan mengalir dari berbagai negara dan organisasi internasional. Meski banyak organisasi kemanusiaan internasional tidak dapat melanjutkan misi mereka di Nias pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi, peran mereka sangat berarti bagi para korban bencana di daerah Nias yang terpencil dan terlupakan.

Bagian 1. Lompatan Kepulauan yang “Bergoyang”

15

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

16

Suasana base camp pekerja rekonstruksi di sekitar halaman kantor bupati di Gunungsitoli, 13 April 2005. Foto: Dokumentasi BRR

Membuka Wilayah Udara untuk Pertolongan Pertama: Tanggap Darurat
Telepon di kediaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berdering menjelang tengah malam. Gubernur Sumatera Utara waktu itu, Tengku Rizal Nurdin, melaporkan adanya gempa bumi di Nias dengan kekuatan cukup besar, dan ada korban jiwa meski belum dapat dipastikan jumlahnya. Pukul tiga dini hari, T.B. Silalahi, penasihat khusus Presiden, berkeras meminta ajudan membangunkan Presiden, setelah ia mendapat informasi dari Wakil Bupati Nias dan memantau berita dari stasiun TV Amerika Serikat, CNN. Silalahi melaporkan situasi yang lebih parah akibat bencana dan meminta izin Presiden untuk melakukan langkah‑langkah tanggap darurat, antara lain mengizinkan beberapa helikopter pemerintah Singapura memasuki wilayah Nias dan memberikan pertolongan pertama bagi para korban. Presiden meminta Silalahi berkoordinasi dengan Menteri Luar Negeri dan lembaga‑lembaga lain yang terkait. “Saya segera memfasilitasi helikopter pemerintah Singapura, PBB, dan LSM Samaritan Purse yang telah bersiaga di Sibolga agar dapat masuk Nias,” tutur Silalahi. Bantuan inilah yang mengawali proses penanganan tanggap darurat secara besar‑besaran dengan melibatkan berbagai pihak, baik lokal, regional, nasional, maupun internasional.

Pusat penanganan bantuan darurat ditempatkan di Lapangan Pelita, sebagai satu‑satunya lokasi yang dapat didarati helikopter. Sementara itu, pendapa kantor Bupati Nias menjadi pusat informasi dan pengendalian penanganan tanggap darurat. Di sini, UN‑OCHA bersama Satkorlak PBP Sumatera Utara dan Tentara Nasional Indonesia mengoordinasi bantuan darurat yang melibatkan sekitar 70 lembaga kemanusiaan internasional dan puluhan lembaga kemanusiaan nasional. Pemberian bantuan darurat di Kepulauan Nias oleh berbagai negara dan organisasi kemanusiaan dapat direspons dengan cepat karena saat itu kebanyakan perwakilan negara dan organisasi kemanusiaan sedang berada di Banda Aceh untuk membantu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang porak‑poranda dilanda tsunami tiga bulan sebelumnya. Walaupun Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengumumkan bencana gempa bumi di wilayah Kepulauan Nias hanya gempa lokal serta menyatakan lingkup koordinasi dan penanganannya di Sumatera Utara saja, simpati nasional dan dunia telah mengalir deras ke Nias. Pemerintah pusat juga merespons dengan tindakan cepat koordinasi tanggap darurat, melampaui mekanisme formal bencana lokal lazimnya. Setelah gempa utama yang mengejutkan, masih terjadi puluhan gempa susulan yang dapat dirasakan warga Kepulauan Nias, yang semakin mengukuhkan betapa kepulauan ini rawan gempa bumi.

Suasana penampungan sementara pengungsi di pendapa masjid di pusat Kota Gunungsitoli 6 April 2005. Foto: Dokumentasi BRR

Bagian 1. Lompatan Kepulauan yang “Bergoyang”

17

Tergesa‑gesa Masuk ke Cetak Biru
NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Belum sebulan masa tanggap darurat bergulir di Kepulauan Nias, pemerintah pusat membentuk badan khusus untuk menangani rehabilitasi dan rekonstruksi Nanggroe Aceh Darussalam dan Nias (BRR NAD‑Nias). Salah satu mandat BRR NAD‑Nias adalah membangun kembali Kepulauan Nias pascagempa 28 Maret 2005. Wilayah Kepulauan Nias dimasukkan ke dalam kerangka penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi di saat‑saat terakhir, sebelum Presiden menerbitkan Peraturan Presiden tentang Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi serta mengesahkan pembentukan lembaga BRR NAD‑Nias. Penyertaan Nias dalam skenario pemulihan tentu saja menjadi berkah bagi masyarakat Nias. Ketergesaan memasukkan wilayah Kepulauan Nias di bawah payung BRR NAD‑Nias menyebabkan perencanaan pembangunan kembali wilayah ini tidak dijabarkan dengan baik dalam Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh‑Nias. Tidak tersedia cukup referensi pula bagi BRR NAD‑Nias untuk membentuk organisasi BRR Perwakilan Nias serta menentukan para profesional yang dapat diandalkan memimpin kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi di salah satu kawasan termiskin di Indonesia itu. Ketidakjelasan penyusunan organisasi, ditambah terisolasinya wilayah Nias, menyulitkan upaya penelusuran orang cakap yang pantas memimpin perwakilan BRR NAD‑Nias di Nias. “Lebih dari dua bulan saya mencari‑cari siapa yang cocok memimpin Nias. Sampai akhirnya saya bertemu dengan Willy,” ungkap Kuntoro Mangkusubroto, Kepala Badan Pelaksana BRR NAD‑Nias, mengenang saat ia menjatuhkan pilihan pada William P. Sabandar. Berbekal kepercayaan tersebut, William P. Sabandar, yang akrab disapa Willy, bertolak ke Nias, kawasan yang belum pernah dijajakinya, pada 10 Juni 2005. Tanpa sepotong pedoman apa pun, baik dalam penyusunan organisasi maupun rencana induk rehabilitasi dan rekonstruksi, ia harus cepat mendefinisikan sendiri tanggung jawabnya serta merumuskan langkah‑langkah konkret.

18

Pemerintah Dinilai Lamban, 150.000 Pengungsi Nias Butuh Kepastian Masa Depan

Medan, Kompas —Pemerintah dinilai lamban dalam melaksanakan rehabilitasi Nias pascabencana sehingga nasib 150.000 pengungsi hingga kini belum pasti. Mereka terpaksa harus hidup di tenda‑tenda darurat, sementara harga sejumlah hasil pertanian rakyat pun masih sangat rendah karena terkendala sulitnya transportasi. Demikian dikatakan Direktur Eksekutif Lembaga Studi dan Advokasi Kebijakan Efendi Panjaitan kepada pers di Medan, Rabu (8/6). “Jika memang pemerintah tidak sanggup memfasilitasi pembangunan kembali rumah korban bencana di Nias, sebaiknya hal itu segera diumumkan secara resmi agar bisa mendorong masyarakat berinisiatif membangun kembali rumahnya secara bertahap. Hingga kini sedikitnya 150.000 pengungsi di Nias masih tinggal di tenda‑tenda darurat tanpa kepastian masa depan,” katanya. Saat Kompas ke Nias akhir bulan lalu, para pengungsi memang masih tinggal di tenda‑ tenda darurat karena mereka takut gempa susulan bakal memorakporandakan rumah‑ rumah mereka yang memang sudah kritis. Sejumlah pengungsi yang ditemui juga mengaku kebingungan dengan masa depan mereka karena pemerintah tidak pernah memberikan sosialisasi tentang rancangan Nias pascabencana.
Kompas: Kamis, 9 Juni 2005

Proses rehabilitasi dan rekonstruksi Kepulauan Nias tidak mungkin dimulai tanpa menuntaskan berbagai pekerjaan rumah yang tersisa selama masa tanggap darurat. Maka upaya koordinasi penanganan yang bersifat darurat pun digalakkan lagi, padahal di saat bersamaan berbagai organisasi nasional dan internasional telah mulai meninggalkan Nias atau tengah mempersiapkan diri masuk ke kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi menjelang usainya masa tanggap darurat. Selain mengatur berbagai lembaga nasional dan internasional yang akan memulai kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi, BRR Perwakilan Nias harus mengoordinasi pelaksanaan anggaran APBN (on‑budget) untuk kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi Kepulauan Nias dengan dana sebesar Rp 412,5 miliar. Ketika kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi akan dimulai, kondisi Nias yang miskin dan terbelakang segera terasa sebagai hambatan besar. Belum lagi kebutuhan material rekonstruksi yang seluruhnya harus didatangkan dari luar Nias, ditambah masalah transportasi dari dan ke Nias yang kurang memadai. Pengorganisasian masyarakat tidak mudah dilakukan karena masyarakat setempat telah lama terbagi dalam berbagai kelompok kecil menurut ikatan klan dan keluarga. Mereka juga tidak biasa terlibat memutuskan dan melaksanakan kegiatan publik. Kelembagaan pemerintahan daerah sangat lemah dan tidak memiliki kredibilitas di mata masyarakat, sementara lembaga adat dan gereja setempat telah direduksi perannya sedemikian rupa sehingga sulit menggerakkan kepemimpinan dan kesatuan masyarakat. Kondisi sosial, ekonomi, dan politik masyarakat yang seperti itu menimbulkan tantangan besar dan sulit dalam proses pembangunan kembali Nias. Bagaimana BRR Perwakilan Nias menjawab tantangan‑tantangan tersebut? Upaya apa saja yang dikembangkan dan pelajaran apa yang dipetik dari kegamangan serta pencarian solusi terhadap berbagai masalah rehabilitasi dan rekonstruksi yang muncul? Buku ini memberikan jawaban atas pertanyaan‑pertanyaan itu, mengalir bersama kenangan dan pembelajaran yang tertoreh di hati dan benak masyarakat Nias serta mereka semua yang berperan serta membangun kembali Kepulauan Nias menjadi lebih baik.

Bagian 1. Lompatan Kepulauan yang “Bergoyang”

Walau Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengumumkan masa tanggap darurat berakhir pada 28 Juni 2005, kenyataannya, menjelang akhir masa itu, kondisi Nias belum banyak berubah. Di sana‑sini puing bangunan berserakan. Para pengungsi masih tinggal di berbagai tenda penampungan sementara dengan kondisi memprihatinkan.

19

Antara Kepercayaan, Otonomi, dan Agenda Lokal
BRR di Nias dibangun dari nol, tanpa pedoman, tanpa model. Belum ada contoh di negara mana pun di dunia, sebuah badan ad‑hoc dibentuk pemerintah untuk menangani bencana alam seperti gempa bumi dahsyat pada 28 Maret 2005 ini. Satu‑satunya rujukan adalah organisasi induknya, BRR NAD‑Nias, yang sudah dibentuk dua bulan sebelumnya dan berkedudukan di Banda Aceh. Sebagai kantor perwakilan BRR NAD‑Nias, BRR Perwakilan Nias tetap menginduk ke organisasi intinya. Namun penanganan bencana alam yang berbeda serta situasi sosial dan politik masyarakat yang tidak sama menimbulkan kebutuhan organisasi yang berlainan pula. Maka mereplikasi struktur BRR NAD belum tentu merupakan jawaban tepat bagi kebutuhan penanganan bencana di Nias. Peran dan fungsi BRR Perwakilan Nias berkembang sesuai dengan kebutuhan dalam menjawab tantangan di lapangan. Perkembangan ini berlangsung cepat dan dinamis berkaitan dengan perubahan manajemen organisasi dalam merajut kerja sama dengan pemerintah daerah dan mitra pemulihan serta menjalin komunikasi yang baik dan efektif dengan masyarakat.

ORGANISASI

Hasil pembangunan tahap 1 Rumah Sakit Gunungsitoli yang merupakan rumah sakit rujukan bagi penduduk Kepulauan Nias. Foto: BRR/Bodi CH

Bagian 2. Antara Kepercayaan, Otonomi, dan Agenda Lokal

21

Struktur Lentur Penjawab Tantangan
NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

BRR NAD‑Nias memulai misinya di Kepulauan Nias segera setelah Kepala Badan Pelaksana BRR NAD‑Nias menunjuk Kepala BRR Perwakilan Nias pada awal Juni 2005: “Saya serahkan Nias kepada Anda. Silakan kembangkan organisasi Anda, pilih staf Anda sendiri, dan atur kegiatan‑kegiatan Anda sendiri. Saya hanya mengukur kinerja Anda dari kemajuan yang Anda buat dari hari ke hari…. Saya Kepala BRR Aceh dan Nias. Tetapi, untuk urusan Nias, Anda yang menginstruksikan saya!” demikian penggalan ucapan Kuntoro Mangkusubroto, Kepala Badan Pelaksana BRR NAD‑Nias, kepada William P. Sabandar, Kepala BRR Perwakilan Nias, menjelang keberangkatannya ke Nias. Rapat koordinasi umum pertama yang melibatkan BRR selaku koordinator kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi di Nias berlangsung pada 10 Juni 2005 pagi di ruang pertemuan pendapa kantor Bupati Nias, yang dihadiri perwakilan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan pemerintah daerah. Melalui pertemuan tersebut, William P. Sabandar memperkenalkan diri sebagai Kepala Perwakilan BRR NAD‑Nias di Nias, sekaligus mengambil alih proses koordinasi dari United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UN‑OCHA). Melampaui gambaran bencana yang dapat dibayangkan, Kepulauan Nias ternyata sangat miskin dan terbelakang. Sebagian besar masyarakatnya masih hidup secara tradisional di pedesaan. Banyak wilayah kecamatan dan desa terisolasi satu sama lain, sehingga jarang terjadi interaksi secara terbuka dan intensif di antara sesama warga Nias ataupun dengan orang luar. Tanpa perangkat organisasi dan dukungan data yang memadai, Kepala BRR Perwakilan Nias harus cepat melakukan pengamatan dan penilaian sendiri ke berbagai wilayah yang terkena bencana. Sambil memberikan pertolongan kepada para korban bencana yang menjerit kelaparan dan terserang penyakit di berbagai tenda pengungsian, ia juga harus segera menyusun rencana dan program rehabilitasi dan rekonstruksi untuk Tahun Anggaran 2005, padahal Tahun Anggaran APBN 2005 sudah berjalan setengah tahun. “Sejak pertama kali saya datang ke sini, saya perhatikan koordinasi akan jadi masalah utama. Banyak sekali pemangku kepentingan yang harus

22

Tanggung Jawab dan Fungsi Mula‑mula BRR Perwakilan Nias
Kedudukan Perwakilan Nias adalah sebagai tenaga khusus Kepala Badan Pelaksana BRR NAD‑Nias dengan tugas pokok membantu Kepala Badan Pelaksana dalam melaksanakan kegiatan di wilayah Kepulauan Nias. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Melaksanakan komunikasi secara teratur dengan masyarakat lokal dan pemerintah daerah setempat Menyampaikan masukan masyarakat dalam proses persetujuan proyek‑proyek Badan Pelaksana Melaksanakan fasilitasi implementasi proyek dan penyelesaian masalah Menyediakan laporan perkembangan Kepulauan Nias secara rutin Menyusun, melaksanakan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan rencana kerja Perwakilan Nias Melaksanakan fasilitasi Badan Pelaksana dengan berbagai pihak lain dalam melakukan kegiatan di Kepulauan Nias.

Sumber: Peraturan Kepala Bapel BRR NAD‑Nias Nomor 01/ PER/BP‑BRR/VII/2005

dikoordinasi untuk menangani situasi darurat yang masih berlangsung dan menyiapkan transisi yang mulus dari situasi darurat ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi,” ungkap Willy dalam laporan dwimingguan pertamanya kepada Kepala Badan Pelaksana BRR NAD‑Nias. Kenyataannya, proses pembangunan kembali Nias pascabencana tak dapat langsung berjalan cepat sesuai dengan harapan masyarakat penerima manfaat. Kondisi institusi sosial dan lembaga pemerintahan tidak cukup kuat mendukung kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi. Walaupun institusi adat dan agama Kristen‑agama mayoritas yang dianut masyarakat Nias‑sangat berperan dalam kehidupan masyarakat, organisasi dan kepemimpinannya bisa dikatakan rapuh. Lembaga keagamaan dan institusi sosial lain telah lama terkotak‑kotak dalam berbagai kelompok kecil yang berkonflik. Pemuka‑pemuka masyarakat pun terpecah lantaran kungkungan kepentingan kelompok dan keluarga. Selama ini, pemerintah menjadi pemangku kepentingan tunggal, berjalan sendiri melaksanakan pembangunan, tanpa keterlibatan dan kontrol masyarakat. Seringkali lembaga pemerintahan tak mampu menjembatani kebutuhan‑kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi, bahkan memunculkan berbagai hambatan.

Staf BRR Kantor Pewakilan Nias melakukan tugas lapangan ke Lahewa, Kabupaten Nias. Mereka harus membenahi sendiri jembatan yang akan dilaluinya, September 2005. Foto: BRR/Bodi CH

Bagian 2. Antara Kepercayaan, Otonomi, dan Agenda Lokal

23

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

24

Hingga dua bulan pertama di bumi Nias, hanya ada tiga personel dalam tubuh BRR setempat. Belum ada alamat kantor yang pasti ataupun kelengkapan sekretariat untuk melaksanakan misi rehabilitasi dan rekonstruksi. Kantor sementara disatukan dengan UN‑OCHA, yang beroperasi di bawah tenda di pendapa kantor Bupati Nias. Atas bantuan HELP eV, sebuah LSM dari Jerman, kantor BRR Perwakilan Nias lantas dialihkan ke kantor LSM itu, ditambah pinjaman satu unit mobil 4WD sebagai kendaraan operasional. Perkembangan dalam proses pembentukan struktur organisasi dimulai pada awal Agustus 2005 dengan empat anggota staf baru. Kepala BRR Perwakilan Nias saat itu telah memiliki enam personel yang menjadi cikal‑bakal terbentuknya struktur organisasi BRR Perwakilan Nias. Kantor pun kemudian pindah ke sebuah rumah kontrakan di Jalan Diponegoro Nomor 439, Gunungsitoli, yang sekaligus berfungsi sebagai rumah tinggal. Struktur organisasi BRR Perwakilan Nias secara resmi diajukan kepada Kepala Badan Pelaksana BRR NAD‑Nias pada awal September 2005, dengan tambahan Kepala Satuan Kerja (Satker) Sekretariat. Pada akhir November 2005, terjadi lagi perubahan struktur organisasi BRR Perwakilan Nias. Perubahan struktur kali ini tidak hanya berupa penambahan beberapa bidang penanganan koordinasi, tapi juga pembentukan suatu unit yang lebih operasional, yaitu Kepala Operasi Percepatan Perumahan dan Permukiman.

Kesimpulan Kepala BRR Perwakilan Nias di tiga hari pertamanya di Nias
1. Proses rehabilitasi dan rekonstruksi akan dirasa tidak adil jika hanya memulihkan akibat‑akibat bencana alam, tanpa menangani kemiskinan dan keterbelakangan wilayah. 2. Transportasi merupakan sektor yang membutuhkan penanganan serius dan menyeluruh. 3. Masyarakat setempat perlu dilibatkan dalam proses membangun kembali daerah mereka.

Dalam perkembangan selanjutnya, unit tersebut menjelma menjadi Satuan Kerja Sementara Perumahan dan Permukiman BRR Perwakilan Nias, yang bertanggung jawab melaksanakan pembangunan kembali perumahan penduduk di Nias dan Nias Selatan. Manajer Perumahan BRR Perwakilan Nias pun merangkap sebagai Kepala Satker Perumahan dan Permukiman. Penambahan unit operasional di bidang perumahan ini mengalihkan fungsi organisasi BRR Perwakilan Nias dari koordinator semata menjadi koordinator sekaligus pelaksana atau implementor rehabilitasi dan rekonstruksi. Perubahan struktur organisasi di BRR Perwakilan Nias ini belakangan mendorong terjadinya perubahan struktur organisasi BRR NAD‑Nias secara keseluruhan. Adanya pergeseran pendekatan keorganisasian itu membuat organisasi BRR Perwakilan Nias kian semarak dengan penambahan beberapa unit baru dan bergabungnya kalangan profesional untuk mengisi unit‑unit baru tersebut. Perkembangan ini memperkuat kapasitas organisasi dalam koordinasi, pelaksanaan, serta pengendalian kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi.

Aktivitas para pekerja dalam pembangunan Perumnas Dahana, Kota Gunungsitoli, Maret 2006. Foto: BRR/Bodi CH

Bagian 2. Antara Kepercayaan, Otonomi, dan Agenda Lokal

25

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Penyempurnaan organisasi BRR Perwakilan Nias antara lain dilakukan melalui pembentukan unit Pusat Informasi Publik atau Public Information Center pada Februari 2006, sebagai bagian dari operasi informasi dan komunikasi publik, serta pembentukan Direktorat Perencanaan dan Pengendalian pada Juni 2006. Bersamaan dengan bergulirnya waktu, terbit kebijakan regionalisasi di lingkungan BRR NAD‑Nias. Maka, pada Januari 2007, secara formal dibentuk dua kantor distrik, masing‑masing di Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan.2 Munculnya peran distrik di Nias dan Nias Selatan mengimbas pada perubahan pendekatan program rehabilitasi dan rekonstruksi. Pada 2005 dan 2006, program pembangunan kembali disatukan untuk Nias dan Nias Selatan, tapi sejak 2007 Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dipisahkan untuk wilayah Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan. Selanjutnya, setiap kantor distrik membentuk struktur organisasi sendiri, sesuai dengan bidang penanganan operasional di tingkat distrik. Dinamika perubahan struktur organisasi BRR Perwakilan Nias ini merupakan respons cepat terhadap kebutuhan dan tantangan yang senantiasa berubah seiring dengan perkembangan. Kelenturan organisasi ini tercipta dari dialektika yang intensif dengan lingkungannya.

26

Tiga Kelompok Kegiatan Penting Organisasi BRR Perwakilan Nias Menjelang Akhir Masa Tugas 2009
PENUNTASAN TEMUAN. Untuk memastikan agar pada akhir masa tugasnya BRR memperoleh predikat Wajar Tanpa Perkecualian, penuntasan temuan perlu dilaksanakan secara lebih intensif. Untuk itu, dibutuhkan sumber daya manusia yang bertanggung jawab terhadap urusan penuntasan temuan, baik di lini manajemen, pelaksana proyek, maupun Unit Pengawasan Internal yang terkait langsung dengan masalah temuan. UNIT PENGELOLAAN ASET. Untuk menjamin agar semua aset hasil pelaksanaan program rekonstruksi dan aset operasional diserahterimakan dengan baik, perlu sumber daya manusia di lini manajemen dan pelaksana proyek dalam urusan pengelolaan aset. KELANJUTAN REKONSTRUKSI. Untuk menjamin agar proyek‑proyek reguler tahun berjalan dapat terlaksana dengan baik serta kesiapan kelanjutan rekonstruksi pada Tahun Anggaran 2009 dan pengakhiran masa tugas berjalan lancar, dibutuhkan sumber daya manusia dalam urusan kelanjutan rekonstruksi.

SA A K H I R T U G A S B

MA

RR

Berkaca pada regionalisasi yang dilakukan di Nias, BRR NAD menerapkan kebijakan serupa, yakni suatu pendekatan rehabilitasi dan rekonstruksi yang responsif terhadap kebutuhan lokal, yang berangkat dari pembelajaran bahwa kegiatan pemulihan bencana perlu dikendalikan secara lokal dan tidak berjarak dengan tempat operasi kegiatan pemulihan dilaksanakan. Menjelang akhir masa tugas BRR pada April 2009, organisasi BRR Perwakilan Nias kembali melakukan restrukturisasi, agar dapat lebih efektif menjawab kebutuhan pengakhiran tugas, yang tentu berbeda dari tantangan organisasi pada periode rehabilitasi dan rekonstruksi. Dalam kerangka kebutuhan pengakhiran tugas itulah lalu dikembangkan posisi‑posisi wakil, yaitu Wakil Kepala Regional, Wakil Kepala Perencanaan dan Pengendalian, serta Wakil Kepala Distrik. Ketiga wakil tersebut melaksanakan tugas utama posisi yang mereka wakili, sedangkan kepala masing‑masing berkonsentrasi pada tiga kelompok kegiatan penting organisasi menjelang akhir masa tugas.

Menjadi Koordinator Plus Implementor
Pada 2005, yang dikategorikan sebagai staf BRR adalah mereka yang berada pada struktur Bapel BRR NAD‑Nias, tidak termasuk pejabat dan staf Satker yang merupakan pelaksana proyek dari pemerintah daerah dan departemen/dinas pemerintahan terkait. Dalam hal ini, organisasi BRR Perwakilan Nias berperan sebagai Bapel, sedangkan organisasi pelaksana proyek, yang dalam kerangka pelaksanaan proyek pemerintahan disebut Satker, merupakan unit terpisah dari organisasi BRR Perwakilan Nias. Lima bulan setelah usainya masa tanggap darurat, pada November tahun yang sama, terlihat bahwa kegiatan‑kegiatan signifikan untuk memulihkan kondisi fisik, sosial, dan ekonomi Nias belum menuai hasil memadai. Peran BRR Perwakilan Nias yang hanya sebagai koordinator menyulitkan upaya percepatan. Sementara itu, banyak Satker masih berkutat dengan masalah tarik‑menarik kepentingan dan proses birokrasi kelengkapan organisasi. Kegamangan mencuat. Kondisi yang sulit di lapangan berpadu dengan latar kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat setempat. Ketidaksiapan birokrasi pemerintah daerah merespons kebutuhan pembangunan dan lemahnya political will untuk memajukan Nias menambah berat tantangan yang dihadapi. Kenyataan tersebut memaksa BRR Perwakilan Nias bersikap proaktif, masuk lebih jauh ke fungsi implementasi kegiatan. Tidak mungkin berpangku tangan, tetap menjadi koordinator, sementara gerak pelaksanaan di lapangan berjalan lamban. Secara bertahap peran BRR Perwakilan Nias bergeser menjadi koordinator dan implementor.

Bagian 2. Antara Kepercayaan, Otonomi, dan Agenda Lokal

27

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Sektor perumahan menjadi sektor yang pertama kali diambil alih BRR Perwakilan Nias dari Satker Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, sejak November 2005. Seharusnya ada 1.100 unit rumah yang dibangun pada Tahun Anggaran 2005, tapi hingga tutup tahun itu belum ada satu pun rumah yang terealisasi. Pengambilalihan pelaksanaan pekerjaan oleh BRR Perwakilan Nias berhasil mempercepat pembangunan kembali rumah masyarakat. Dalam waktu hanya enam bulan, tepatnya pada Juni 2006, 1.062 dari 1.100 rumah di Nias telah didirikan oleh Satker Perumahan BRR. Kecepatan pembangunan fisik dapat dipacu, tapi masalah lain muncul. Upaya menjawab segera kebutuhan 1.030 keluarga atau 5.094 orang yang kehilangan rumah dan masih tinggal di 41 tenda pengungsian berdampak pada rendahnya kualitas rumah. Selain itu, banyak bantuan rumah salah alamat karena tak ada basis data yang akurat —hanya mengandalkan data kerusakan rumah dari Satkorlak yang berkoordinasi dengan aparat pemerintah daerah. Protes sengit berhamburan. Dengan otonomi yang dimiliki, BRR Perwakilan Nias mengubah kebijakan pendekatan rehabilitasi dan rekonstruksi, antara lain mencanangkan tahun 2006 sebagai ”tahun kualitas”. Pada tahun yang sama, BRR Perwakilan Nias juga mulai mengubah kebijakan pendekatan pembangunan rumah dari pendekatan konvensional melalui kontraktor menjadi partisipasi aktif masyarakat, yang berawal dari proyek percontohan pembangunan permukiman di Kecamatan Gido dan Sitolu Ori, Kabupaten Nias, serta di Kecamatan Lolowa’u, Kabupaten Nias Selatan.

28

Menyederhanakan Organisasi Pelaksana Proyek APBN
Organisasi BRR Perwakilan Nias dilengkapi organisasi pelaksana proyek alias Satuan Kerja Sementara atau Satker dan Pejabat Pembuat Komitmen. Organisasi pelaksana proyek ini bertanggung jawab melaksanakan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi dengan sumber dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Organisasi pelaksana proyek BRR Perwakilan Nias memiliki sejarah unik dalam merealisasi kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah Kepulauan Nias. Sempat timbul frustrasi pada BRR lantaran sulitnya memulai kegiatan pemulihan karena ketidaksiapan organisasi pelaksana, padahal dana tersedia dan para korban menjerit membutuhkan pertolongan dengan segera. Ketika memulai kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi, BRR Perwakilan Nias mengelola dana on‑budget melalui DIPA APBN Tahun Anggaran 2005 sebesar Rp 412,5 miliar. Dana tersebut dimanfaatkan pada 20 sektor pelaksanaan kegiatan dengan Satker masing‑masing, yang antara lain meliputi bidang infrastruktur, seperti jalan dan

jembatan, kelistrikan, irigasi, serta pengamanan pantai dan sungai; bidang kesehatan; bidang pendidikan; bidang sosial budaya; bidang perumahan, dan satu Satker khusus kesekretariatan BRR Perwakilan Nias. Sebagai pengguna anggaran, sesuai dengan kebijakan organisasi BRR NAD‑Nias waktu itu, BRR tidak punya kewenangan melaksanakan dan/atau mengendalikan kegiatan pembangunan secara langsung. BRR hanya menjalankan fungsi manajemen dan penjaminan mutu. Tanggung jawab pelaksanaan pembangunan diserahkan kepada kementerian, lembaga, atau pemerintah daerah sesuai dengan mekanisme normal pelaksanaan proyek Pemerintah Indonesia. Struktur organisasi pelaksana proyek seperti ini membuat BRR serba susah. BRR menjadi pemegang mandat yang bertanggung jawab terhadap penanganan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi sekaligus pengguna anggaran, tapi dalam merealisasinya sangat bergantung pada kementerian, lembaga, atau pemerintah daerah. Di satu sisi, korban‑korban bencana membutuhkan pertolongan cepat, tapi di sisi lain, karena pola pelaksanaan proyek melalui proses birokrasi, gerak BRR menjadi lambat. Kredibilitas BRR sebagai penanggung jawab seluruh kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi dipertaruhkan ketika publik dan media masa mulai menghakimi BRR sebagai organisasi yang lamban merespons kebutuhan mendesak para korban bencana.

Berkat rekonstruksi, ruas jalan dari Kabupaten Nias menuju Kabupaten Nias Selatan mengalami peningkatan spesifikasi dan kualitas yang signifikan, September 2006. Foto: BRR/Bodi CH

Bagian 2. Antara Kepercayaan, Otonomi, dan Agenda Lokal

29

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Saat mulai memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pada 2005, pembentukan Satker di Nias mengalami masalah yang jauh lebih sulit dari sekadar hambatan birokrasi yang umumnya terjadi. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara seakan enggan mengutus putra‑putra terbaiknya untuk memimpin proyek pembangunan di Nias. Selain itu, musibah jatuhnya pesawat Mandala Airlines di Medan, Sumatera Utara, pada Oktober 2005 tidak hanya menyisakan duka mendalam lantaran meninggalnya ratusan orang, termasuk Gubernur Sumatera Utara, Tengku Rizal Nurdin, tapi juga berdampak terkatung‑katungnya nasib pembentukan 12 Satker dari Provinsi Sumatera Utara. Butuh waktu lebih dari tiga bulan, persisnya pada 14 September 2005, surat keputusan (SK) pembentukan Satker ditandatangani pejabat gubernur yang baru. Dalam kurun waktu itu, praktis proyek rehabilitasi dan rekonstruksi terhenti. Setelah SK turun, tidak otomatis semua Satker langsung terbang ke Nias. Satker Perumahan Gambar 2.1. Struktur Manajemen Pelaksanaan dan Organisasi Proyek 2007 bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di Nias hingga akhirnya diganti.
KEPALA BAPEL BRR NAD Nias

30

DEPUTI SEKTOR

DEPUTI KEPALA OPERASI

DEPUTI SEKTOR

KEPALA DISTRIK NIAS

KEPALA PERWAKILAN NIAS

KEPALA DISTRIK NIAS SELATAN

KPA PERUMAHAN DAN INFRASTRUKTUR NIAS

KPA PENGEMBANGAN EKONOMI SDM DAN KELEMBAGAAN NIAS

KPA PERUMAHAN DAN INFRASTRUKTUR NIAS SELATAN

KPA PENGEMBANGAN EKONOMI, SDM DAN KELEMBAGAAN NIAS SELATAN

PPK – Perumahan Nias PPK – Pertanahan PPK – Perencanaan dan pengawasan jalan PPK – Jalan Propinsi Sumut PPK – Jalan Kabupaten Nias PPK – Transportasi udara dan telkom PPK – Transportasi laut dan darat PPK – Kelistrikan PPK – Pengendalian banjir dan pengamanan pantai Nias PPK – Irigasi Nias PPK – PLP dan air minum Nias PPK – KRRP Kecamatan Rekontruksi dan rehabilitasi program PPK – ETESP/ADB Irigasi

PPK – Koperasi, UKM dan perdagangan PPK – Pertanian dan perkebunan Nias PPK – Kelautan dan perikanan Nias PPK – Pendidikan Nias PPK – Kesehatan Nias PPK – ETESP/ADB kesehatan PPK – SARPRAS pemerintah Nias PPK – Agama Nias PPK – Sosial dan Budaya Nias

PPK – Perumahan Nias Selatan PPK – ETESP/ADB Perumahan Nias Selatan PPK – Jalan Kabupaten Nias Selatan PPK – Pengedalian banjir dan pengamanan panatai Nias Selatan PPK – Irigasi Nias Selatan PPK – PLP dan Air Minum Nias Selatan

PPK – Koperasi , UKM dan perdagangan Nias Selatan PPK – Pertanian dan perkebunan Nias Selatan PPK – Kelautan dan perikanan Nias Selatan PPK – Pendidikan Nias Selatan PPK – Kesehatan Nias Selatan PPK – ETSP WATSAN PPK – SARSPRAS Pemerintah Nias Selatan PPK – Agama Nias Selatan PPK – Sosial dan Budaya Nias Selatan

Lokasi Nias yang terpencil menimbulkan keraguan mendalam bagi para pemimpin proyek yang berpengalaman untuk menjawab tantangan —melaksanakan tugas sebagai personel Satker. Kebiasaan mengelola proyek pembangunan Nias dari Medan, jauh sebelum bencana terjadi, tidak mudah diubah. Alhasil, proyek‑proyek rehabilitasi dan rekonstruksi seperti berjalan di tempat. Sampai akhir November 2005, baru sekitar lima persen dana APBN yang dialokasikan untuk Nias dapat diserap. Satker Perumahan adalah salah satu contoh sulitnya menggerakkan pelaksana proyek ke Nias. Setidaknya dua Kepala Satker Perumahan pernah ditugasi di Nias tanpa dapat memulai kegiatan, karena struktur Satker tidak pernah lengkap. Pembangunan rumah, yang masuk agenda penting rehabilitasi dan rekonstruksi,

jadi terkatung‑katung pada proses birokrasi pemerintah, sampai akhirnya kendali pelaksanaan proyek pembangunan rumah diambil alih pejabat BRR Perwakilan Nias pada November 2005. Birokrasi pelaksanaan proyek yang dijalankan secara normal meski dalam situasi tidak normal pascabencana, ditambah daya cengkeram pengendalian BRR yang masih lemah, berdampak langsung pada rendahnya penyerapan DIPA pada Tahun Anggaran 2005 dan tidak tercapainya standar kualitas pembangunan kembali yang diharapkan sesuai dengan misi BRR. Belajar dari pengalaman tersebut, terjadi perubahan strategi organisasi pada Tahun Anggaran 2006. BRR menetapkan struktur organisasi yang berorientasi pada perannya sebagai koordinator sekaligus pelaksana kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi. Beberapa pejabat BRR yang secara organisasi berperan sebagai pengendali sekaligus menjabat Kepala Satker —pelaksana proyek. Selaras dengan pencanangan tahun 2006 sebagai ”tahun kualitas” oleh Kepala BRR Perwakilan Nias, kapasitas pengendalian diperkukuh melalui pembentukan unit manajerial Penjaminan Kualitas, sementara kapasitas organisasi dibentengi dengan Satuan Anti‑Korupsi. Pengawasan melekat di BRR pun ditegakkan, yang dilembagakan lewat pembentukan Unit Pengawasan Internal di lingkungan BRR Perwakilan Nias. Selain itu, organisasi Satker disederhanakan dari 20 menjadi 17. Para Kepala Satker ditetapkan langsung lewat SK Kepala Bapel BRR NAD‑Nias berdasarkan usulan Kepala BRR Perwakilan Nias. Mereka merealisasi pembangunan kembali Nias dengan dana APBN yang meningkat lebih dari dua kali lipat, menjadi Rp 1,2 triliun, pada Tahun Anggaran 2006 dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala BRR Perwakilan Nias. Penerapan kebijakan regionalisasi BRR pada 2007 membuahkan otonomi lebih luas bagi BRR Perwakilan Nias dalam menetapkan strategi pelaksanaan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi. Organisasi pelaksana proyek BRR di Nias pun mengalami perubahan lagi dengan menyederhanakan belasan Satker menjadi empat Kuasa Pengguna Anggaran Struktur manajemen pelaksanaan juga mengalami perubahan. Pendekatan sektoral yang sebelumnya dipegang para Deputi Sektor, yang dalam beberapa kasus memperlambat respons terhadap kebutuhan‑kebutuhan lokal Nias dan Nias Selatan, ditinggalkan. Struktur manajemen pelaksanaan yang baru menempatkan Kepala BRR Distrik Nias dan Nias Selatan sebagai pengendali operasional atau pelaksana sekaligus atasan langsung para Kuasa Pengguna Anggaran. Organisasi pelaksana proyek yang mulai diterapkan pada 2007 ini makin dimantapkan tahun berikutnya. Masih terjadi beberapa perubahan, dengan perubahan terpenting: pemrograman dan pengendalian pelaksanaan kegiatan tidak lagi mengacu ke Deputi Sektor, tapi langsung ditangani di tingkat regional oleh BRR Perwakilan Nias.

Bagian 2. Antara Kepercayaan, Otonomi, dan Agenda Lokal

31

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Pada 2008 kembali dilakukan penyempurnaan organisasi pelaksana proyek. Pendekatan pelaksanaan program rehabilitasi dan rekonstruksi yang dipisahkan di masing‑masing distrik atau kabupaten, serta penyederhanaan organisasi Satker menjadi empat Kuasa Pengguna Anggaran3 —dua di Nias dan dua lagi di Nias Selatan— memungkinkan proses pengendalian pelaksanaan lebih sederhana dan efektif merespons kebutuhan lokal di setiap distrik. Sementara itu, pendekatan program dan pengendalian di tingkat regional serta koordinasi pelaksanaan langsung ke distrik telah menciptakan koordinasi yang lebih intensif dengan pemerintah kabupaten.

Memuluskan Transisi dari Tanggap Darurat
Ketika masa tanggap darurat diumumkan berakhir dalam kurun waktu tiga bulan setelah bencana, kenyataannya kondisi masyarakat Nias yang tertimpa bencana masih mengenaskan. BRR Perwakilan Nias lalu menetapkan masa transisi selama enam bulan hingga Desember 2005, sebelum beralih ke masa rehabilitasi dan rekonstruksi. Di masa transisi ini, berbagai organisasi yang telah terjun ke Nias saat tanggap darurat diminta tetap berkomitmen membantu para pengungsi dan mendukung upaya‑upaya transisi menuju proses pembangunan kembali. Pada akhir 2005, BRR Perwakilan Nias menginisiasi pertemuan tingkat tinggi seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) rehabilitasi dan rekonstruksi Nias. Pertemuan dengan nama Nias Islands Stakeholders Meeting (NISM) ini adalah upaya untuk mengoordinasi kegiatan pemulihan Nias yang melibatkan berbagai negara dan lembaga serta meningkatkan profil Nias, yang saat itu kurang mendapat perhatian. Adanya forum khusus para pemangku kepentingan ini membuat Nias naik daun. Daerah yang sebelumnya nyaris tidak diperhitungkan ini menjadi sorotan pemerintah Indonesia dan dunia internasional.

32

Koordinasi Masa Transisi Lewat Kelompok Kerja Sektoral
Di masa transisi, antara selesainya penanganan tanggap darurat dan kesiapan melaksanakan rehabilitasi dan rekonstruksi, BRR Perwakilan Nias berupaya membantu sekitar 12.000 keluarga yang belum mendapat bantuan memadai, sementara masih ada 1.030 keluarga yang menjadi pengungsi di tenda‑tenda darurat tanpa air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, dan pendidikan yang layak. Mengikuti pola koordinasi yang telah dilaksanakan pada masa tanggap darurat, BRR Perwakilan Nias kemudian menetapkan lima Kelompok Kerja Sektoral (Sectoral Working Group), yang meliputi Kelompok Kerja Sektor Perumahan, Kelompok Kerja Sektor Kesehatan, Kelompok Kerja Sektor Air dan Sanitasi, Kelompok Kerja Sektor Pendidikan, dan Kelompok Kerja Lintas Sektor.

Menurut data Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (Satkorlak PBP) Sumatera Utara, kebutuhan pembangunan rumah di Nias mencapai 16.161 unit, sementara perbaikan rumah yang rusak berat dan ringan mencapai 63.193 unit. Sampai Januari 2006, baru 5.686 unit rumah yang telah dikomitmenkan pembangunannya oleh 14 organisasi. Tentu saja jumlah ini masih sangat jauh dari yang dibutuhkan. Masalah utama yang dihadapi Kelompok Kerja Sektor Perumahan saat itu tidak hanya mengenai jumlah komitmen bantuan pembangunan rumah, tapi juga bagaimana menyediakan kayu, semen, dan besi. Material tersebut harus didatangkan dari luar Nias. Masalah lain yang tak kalah penting adalah bagaimana mengembangkan rancangan ukuran rumah, supaya tidak menimbulkan kecemburuan sosial dan membuka peluang bagi masyarakat untuk memilih‑milih tipe rumah yang diinginkan. Untuk menjaga kelestarian dan ketahanan lingkungan di wilayah Kepulauan Nias, BRR Perwakilan Nias meminta berbagai organisasi menghindari penggunaan kayu dari Nias. Alhasil, pilihan satu‑satunya adalah mendatangkan kayu legal dari luar Nias sekitar 39.000 meter kubik untuk seluruh kebutuhan pembangunan rumah. Pada pertengahan Agustus 2005, United Nations High Commission for Refugees (UNHCR) bersedia mendatangkan kayu legal dari luar Nias. Kayu‑kayu disumbangkan gratis ke semua pelaku rekonstruksi yang berkomitmen membangun perumahan.

Sebelum pindah ke rumah permanen, warga menempati rumah sementara (temporary shelter) di Kabupaten Nias Foto: BRR/Bodi CH

Bagian 2. Antara Kepercayaan, Otonomi, dan Agenda Lokal

33

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

34

Pertemuan Nias Islands Stakeholders Meeting (NISM) ke‑4 di Kota Medan, Sumatera Utara, Mei 2008. Foto: BRR/Bodi CH

Sedangkan untuk mengurangi kecemburuan sosial dan peluang masyarakat memilih‑milih tipe rumah, ditetapkan bahwa semua rumah yang dibangun berukuran 36 meter persegi. Di bidang kesehatan, BRR Perwakilan Nias meminta World Health Organization (WHO), yang kala itu telah meninggalkan Nias, untuk tetap memimpin Kelompok Kerja Sektor Kesehatan. Selain memberikan layanan kesehatan kepada para pengungsi, kelompok kerja ini berhasil merancang proses revitalisasi Rumah Sakit Umum Gunungsitoli dengan melakukan studi dan merancang rencana induk pembangunan rumah sakit tersebut atas bantuan Mercy‑Malaysia. Pada Kelompok Kerja Sektor Air dan Sanitasi, Oxfam dan UNICEF mengoordinasi pengadaan pasokan air melalui mobil‑mobil tangki air dan pengadaan penampungan air minum di berbagai lokasi pengungsian serta pengadaan jamban dan pembuatan WC umum. Kelompok Kerja Sektor Pendidikan, di bawah UNICEF, memberikan bantuan penanganan pendidikan berupa buku‑buku dan perlengkapan sekolah lainnya. Di samping itu, diadakan kampanye tentang pentingnya pendidikan bagi anak‑anak di pengungsian serta anak‑anak yang bersekolah di berbagai tenda darurat di seluruh Nias.

Sementara itu, Kelompok Kerja Lintas Sektor, yang dipimpin BRR Perwakilan Nias, menyelenggarakan Pertemuan Koordinasi Umum secara berkala untuk membahas dan menyelesaikan berbagai masalah lintas sektor, seperti transportasi, keamanan, dan logistik yang menghambat pemberian bantuan kepada para korban bencana.

Nias Islands Stakeholders Meeting (NISM)
Pertemuan Para Pemangku Kepentingan Kepulauan Nias atau NISM merupakan pertemuan tahunan berbagai lembaga nasional dan internasional khusus bagi Kepulauan Nias, yang diprakarsai BRR Perwakilan Nias. Pertemuan ini diilhami oleh pelaksanaan Coordination Forum for Aceh and Nias pertama yang dilaksanakan pada Oktober 2005. NISM telah empat kali digelar sejak akhir 2005. Keberhasilan menyelenggarakan pertemuan pertama para pemangku kepentingan Kepulauan Nias pada 6 Desember 2005 di Jakarta ini menjadi tonggak awal semakin meningkatnya perhatian para donor, pemerintah Indonesia, dan masyarakat internasional terhadap dampak bencana dan aneka masalah yang dihadapi dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah Kepulauan Nias. Di forum ini, BRR Perwakilan Nias menyampaikan berbagai tantangan dan peluang dalam mendukung rehabilitasi dan rekonstruksi di Nias. Sebulan kemudian, NISM 2 digelar di Gunungsitoli pada 16‑17 Januari 2006, meskipun dengan akomodasi yang minim, dari ruang pertemuan yang kurang memadai, tempat penginapan yang terbatas, hingga jadwal penerbangan dari Medan yang tak menentu lantaran cuaca buruk. Berbagai keterbatasan ini semakin membuka mata semua peserta terhadap segunung tantangan di Nias seperti telah disampaikan pada NISM 1. Dalam pertemuan kedua ini dihasilkan rencana aksi (action plan) 2006 untuk sama‑sama mengatasi berbagai tantangan dalam proses pemulihan Nias. Salah satu rencana tindakan yang digulirkan adalah pemberian otonomi lebih luas kepada BRR Perwakilan Nias, sehingga menghasilkan manfaat seperti memperpendek jalur dan proses pengambilan keputusan, membuat BRR lebih dekat dengan masyarakat dan lebih sensitif dalam memenuhi kebutuhan‑kebutuhan lokal, serta membawa lingkup koordinasi yang otonom di wilayah Kepulauan Nias. Forum NISM 3 dilaksanakan pada 8 Maret 2007, di tengah evaluasi paruh waktu rehabilitasi dan rekonstruksi Nias. Tujuan pertemuan kali ini mengevaluasi kinerja pelaksanaan pembangunan kembali Nias yang telah berjalan dua tahun serta menetapkan target dan rencana kerja baru sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi di lapangan. Dalam NISM 3 ini ditegaskan empat pilar dan sepuluh program utama sebagai landasan dan arah rekonstruksi Nias. NISM 4 berlangsung di Medan, Sumatera Utara, pada 15 Mei 2008. Dalam pertemuan ini ditekankan pentingnya persiapan pengakhiran masa tugas BRR dan peran pemerintah daerah dalam proses pembangunan selanjutnya.

Bagian 2. Antara Kepercayaan, Otonomi, dan Agenda Lokal

35

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Guna mendukung kesinambungan proses pembangunan, beberapa aspek perlu diperhatikan, seperti kesepakatan tentang lembaga yang melakukan penanganan selama masa transisi, penerapan strategi pengurangan risiko bencana (disaster risk reduction) dalam kebijakan dan program pemerintah daerah, serta kejelasan alokasi anggaran dari pemerintah pusat pada 2009 dalam kerangka pembangunan berkelanjutan.

Melawan Korupsi Demi Membangun Kepercayaan Masyarakat
Masyarakat Nias yang telah lama menderita kemiskinan dan keterbelakangan menaruh harapan sangat besar terhadap BRR Perwakilan Nias. Ekspektasi masyarakat ini melampaui tugas dan fungsi BRR sebagai perangkat pemerintah pusat untuk memimpin rehabilitasi dan rekonstruksi Nias pascabencana. Bagi masyarakat Nias, BRR laksana “dewa penyelamat” yang tidak hanya memulihkan Nias dari dampak bencana, tapi sekaligus mengangkat mereka dari kemiskinan dan keterbelakangan. Lebih dari itu, kehadiran BRR sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat dipandang mayoritas masyarakat Nias sebagai saluran penegakan keadilan, yang selama ini sulit mereka dapatkan. BRR menjadi tumpuan harapan masyarakat untuk mengatasi berbagai masalah, seperti pengelolaan yang kurang tepat dan ketidakadilan, karena pembangunan dikendalikan pemerintah tanpa menyertakan masyarakat. Namun harapan setinggi gunung ini mulai luntur saat awal rehabilitasi dan rekonstruksi. BRR bergerak lamban menjawab kebutuhan para korban bencana, terutama yang masih tinggal di tenda‑tenda pengungsian. BRR mulai dinilai masyarakat seperti lembaga pemerintahan yang lazim mereka kenal, yang akan bertindak tidak adil juga terhadap masyarakat. BRR Perwakilan Nias kemudian melakukan berbagai terobosan, antara lain berdialog terbuka dengan masyarakat untuk menyerap aspirasi mereka hingga di pelosok‑pelosok desa, memasyarakatkan kebijakan dan program melalui media massa, serta menerima pengaduan masyarakat secara tertulis ataupun lisan dan memberikan respons cepat atas pertanyaan dan protes yang diajukan. Untuk meningkatkan transparansi dan upaya antikorupsi, BRR Perwakilan Nias membentuk Unit Pengawasan Internal dan meminta Satuan Anti‑Korupsi BRR NAD‑Nias menempatkan stafnya di Nias. Pada 18 Oktober 2006, BRR Perwakilan Nias dalam lokakarya dengan media mengumumkan pemberhentian dua manajer dari jabatannya dan pendaftarhitaman lima kontraktor. Pengumuman yang disampaikan secara terbuka ke media massa ini memicu terjadinya demonstrasi saat konferensi pers di Medan, Sumatera Utara, lalu beberapa kali demonstrasi lagi di Gunungsitoli. Aspirasi yang disampaikan dalam demonstrasi itu malah mempersoalkan kemampuan BRR melakukan penegakan integritas.

36

Hingga berakhir masa baktinya di Nias, BRR Perwakilan Nias telah memberikan sanksi kepada 11 anggota staf yang melakukan pelanggaran Pakta Integritas serta mendaftarhitamkan (blacklist) 87 kontraktor yang melanggar kontrak dan melakukan berbagai bentuk korupsi. Jumlah dana rehabilitasi dan rekonstruksi Nias yang diselamatkan mencapai Rp 26.051.557.199. Selain itu, BRR Perwakilan Nias berkeras tidak mau membayar puluhan paket proyek penunjukan langsung di Nias Selatan yang tidak sesuai dengan ketentuan, yang nilai kontraknya menurut Satuan Anti‑Korupsi BRR NAD‑Nias mencapai Rp 31,26 miliar lebih, sebelum ada proses hukum yang sah untuk menjadi landasan hukum pembayarannya. Rangkaian sikap tegas BRR Perwakilan Nias tersebut mendapat perlawanan dalam berbagai bentuk, seperti demonstrasi massa, kampanye negatif melalui media massa, proses hukum di pengadilan, dan bahkan ancaman penganiayaan fisik. Meskipun mendapat berbagai tantangan dan risiko, pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi yang bersih dan profesional tetap ditegakkan. Dengan keteguhan sikap tersebut, pesan mengenai rehabilitasi dan rekonstruksi yang bersih dan profesional secara konsisten disampaikan ke masyarakat. Terobosan‑terobosan itu perlahan‑lahan menumbuhkan kembali kepercayaan dan harapan masyarakat terhadap BRR. Kepercayaan ini selanjutnya dikembangkan melalui pelibatan masyarakat dalam kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi. Melalui program pembangunan rumah berbasis masyarakat, BRR Perwakilan Nias memberikan kepercayaan kepada masyarakat untuk membangun rumah mereka. Masyarakat merespons sangat baik program ini. Ikatan saling percaya ini berlanjut dengan program pembangunan sarana dan prasarana desa, berupa pembangunan jembatan, jalan, dan proyek air minum, yang direncanakan dan dilaksanakan sendiri oleh masyarakat. Masyarakat Nias, yang secara sosial terpolarisasi dalam berbagai kelompok dan ikatan keluarga yang bertentangan, plus kepemimpinan sosial yang lemah, ternyata dapat bersatu padu membangun jalan dan jembatan secara mandiri. Modal sosial ini tumbuh di atas kepercayaan terhadap proses pembangunan yang jujur dan partisipatif.

Bermitra dengan Pemerintah Daerah
Sesuai dengan peraturan pemerintah, BRR sebagai perencana dan pelaksana kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi diberi mandat untuk mengorganisasi dan mengoordinasi pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pihak lain yang terkait. Di sisi lain, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pihak lain yang terkait diwajibkan memberikan dukungan secara penuh kepada BRR. Dalam melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi, rujukan utama BRR NAD‑Nias adalah Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD‑Nias 2005‑2009 (blueprint), yang disahkan bersamaan dengan pembentukan BRR NAD‑Nias. Sayangnya, proses

Bagian 2. Antara Kepercayaan, Otonomi, dan Agenda Lokal

37

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

38

Seorang pekerja menyusun kayu bantuan UNHCR di Pelabuhan Gunungsitoli, Kabupaten Nias, Maret 2006. Demi menjaga kelestarian lingkungan dan menghindari penebangan hutan liar, BRR melarang penggunaan kayu lokal untuk program rekonstruksi. Foto: BRR/Bodi CH

Bagian 2. Antara Kepercayaan, Otonomi, dan Agenda Lokal

39

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

penyusunan program kegiatan rekonstruksi wilayah Kepulauan Nias pada rencana induk tersebut dilaksanakan tergesa‑gesa, sehingga penyerapan berbagai aspirasi sangat terbatas. Rencana induk itu tidak mempertimbangkan faktor‑faktor penanganan bencana gempa bumi serta kurang mempertimbangkan latar belakang sosial dan ekonomi Nias yang berbeda dari Aceh. Selain itu, timbul kesulitan saat merencanakan rehabilitasi dan rekonstruksi di Nias karena tidak tersedianya data yang memadai dan dapat diandalkan. Berbagai organisasi dan pemerintah daerah memiliki data korban bencana yang beraneka ragam.4 Situasi ini semakin sulit lantaran kapasitas dan kelembagaan pemerintah daerah tidak siap mendukung kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi. BRR Perwakilan Nias akhirnya menetapkan program berdasarkan prioritas‑prioritas di lapangan, yang diselaraskan dengan rencana induk. Strategi rehabilitasi dan rekonstruksi ini kemudian dirumuskan dalam 4 Pilar Strategis dengan 10 Program Utama Rehabilitasi dan Rekonstruksi Nias, seperti yang terangkum dalam hasil NISM 3. Sebagai lembaga baru dalam tatanan pemerintahan Indonesia yang hadir di Kepulauan Nias yang terisolasi pada Juni 2005, BRR Perwakilan Nias sangat sibuk melaksanakan mandatnya. Sementara itu, pemerintah daerah belum berpengalaman melakukan dan mengoordinasi kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi dengan dana besar dan melibatkan banyak negara donor serta organisasi internasional. Keinginan besar BRR Perwakilan Nias untuk melibatkan diri dan mengembangkan kapasitas kelembagaan pemerintahan cenderung mendapat penolakan.

40

Fungsi Sekretariat Bersama
1. Fungsi Koordinasi: Mengatur pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi. Fungsi Perencanaan: Mendukung kerja sama dalam penyusunan program dan anggaran belanja rehabilitasi dan rekonstruksi. Fungsi Informasi Publik: Mendukung usaha rehabilitasi dan rekonstruksi Nias dalam penyampaian data dan informasi yang akurat kepada para pemangku kepentingan dan publik. 2.

Agar dapat lebih bekerja sama dan memberdayakan pemerintah daerah, BRR Perwakilan Nias menginisiasi pembentukan Sekretariat Bersama seperti tercantum dalam salah satu butir rencana tindakan hasil NISM 2. Namun Sekretariat Bersama ini tidak cepat berfungsi seperti yang diharapkan. Meskipun Sekretariat Bersama berlokasi di kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan dipimpin Kepala Bappeda, diskusi dan penetapan organisasi ini tersendat‑sendat karena kurangnya minat pemerintah daerah untuk membahas kerangka organisasi Sekretariat Bersama yang akan memperjelas peran mereka. Walaupun dukungan tidak kunjung terhimpun, pada Juni 2006, Sekretariat Bersama mulai beroperasi. Sejak itu, unit Operation Center BRR Perwakilan Nias yang mengelola data dan informasi program rehabilitasi dan rekonstruksi Nias berkantor di Sekretariat Bersama Kabupaten

3.

Nias, agar Pemerintah Daerah Nias dapat langsung memonitor kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi. Rapat‑rapat Kelompok Kerja Sektoral dilaksanakan di Sekretariat Bersama untuk melibatkan dan mendukung kepemimpinan pemerintah daerah. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan, dukungan dan kepercayaan dari pemerintah daerah sulit dikukuhkan. Pertemuan dengar pendapat dengan Pemerintah Kabupaten Nias di aula kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nias pada 7 Juni 2006 menjadi puncak upaya mencari titik temu dengan birokrasi pemerintah daerah. Pertemuan dengar pendapat ini dihadiri lengkap oleh Bupati, Wakil Bupati, Kepala Dinas Kabupaten, pemimpin dan anggota DPRD Nias, serta anggota Musyawarah Pimpinan Daerah Nias, yang diwarnai tekanan politis ke pihak BRR Perwakilan Nias yang dianggap mengabaikan otoritas pemerintah daerah. Tercatat sedikitnya 50 pertanyaan yang berkaitan dengan 28 pokok persoalan diajukan Bupati, Wakil Bupati, dan para anggota DPRD Nias dalam pertemuan itu. Kepala BRR Perwakilan Nias meminta waktu untuk menyiapkan jawaban tertulis, kemudian menyampaikannya dalam pertemuan serupa di tempat yang sama selang dua hari. Para peserta dengar pendapat tampak puas dengan jawaban‑jawaban yang disampaikan Kepala BRR Perwakilan Nias. Ketegangan mereda, tapi itu bukan berarti ganjalan‑ganjalan dalam pengoordinasian selesai. Terdapat perbedaan ekspektasi antara pemerintah daerah dan BRR menyangkut program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Nias. BRR sebagai lembaga yang bersifat temporer berupaya melaksanakan dan mengoordinasi rehabilitasi dan rekonstruksi Nias pascabencana sesuai dengan tujuan‑tujuan umum yang ditetapkan undang‑undang dan Rencana Induk Rehabilitasi‑Rekonstruksi NAD‑Nias. Sedangkan pemerintah daerah sebagai otoritas permanen di daerah menginginkan rekonstruksi diarahkan pada tujuan‑tujuan yang tertulis pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah. Perbedaan ekspektasi ini juga muncul di kalangan masyarakat Nias, seperti tampak dalam berbagai kritik yang terlontar di pertemuan‑pertemuan dan media massa. BRR Perwakilan Nias diharapkan mengatasi seluruh masalah dan kebutuhan pembangunan. Kompleksitas kemiskinan yang memengaruhi proses rehabilitasi dan rekonstruksi Nias sebenarnya sejak awal telah dikemukakan oleh BRR Perwakilan Nias. Dalam berbagai kesempatan presentasi, Kepala BRR Perwakilan Nias mengutarakan pentingnya proses rehabilitasi dan rekonstruksi Nias memperhatikan aspek keterbelakangan pembangunan. Proses pemulihan Nias tidak hanya mengatasi dampak bencana, tapi juga membangun Nias menjadi lebih baik. Pembangunan Nias yang lebih baik itu tidak hanya mengenai infrastruktur fisik, tapi juga mengenai nilai‑nilai dan pengembangan budaya pembangunan baru yang bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme serta mengutamakan partisipasi masyarakat. Pelaksanaan

Bagian 2. Antara Kepercayaan, Otonomi, dan Agenda Lokal

41

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

42

Kepala BRR Kantor Perwakilan Nias menghadapi demonstrasi masyarakat Kecamatan Alasa, Kabupaten Nias, Desember 2007. Foto: Dokumentasi BRR Nias

rehabilitasi dan rekonstruksi yang transparan, bersih, dan berbasis masyarakat ini merupakan kerangka dasar bagi BRR Perwakilan Nias untuk berdialog dan melibatkan pemerintah daerah dalam kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi. Pada medio 2007, melalui Sekretariat Bersama, pemerintah daerah makin aktif terlibat dalam pemantauan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi, seperti melakukan kunjungan lapangan ke berbagai lokasi proyek rehabilitasi dan rekonstruksi. Bersamaan dengan itu, hubungan antara Pemerintah Kabupaten Nias, Pemerintah Kabupaten Nias Selatan, dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara bergerak maju secara lebih produktif, seperti dalam kegiatan koordinasi persiapan penanganan rekonstruksi Kepulauan Nias pasca‑BRR, yang pelaksanaannya difasilitasi oleh Sekretariat Bersama Provinsi Sumatera Utara. Proses perencanaan dan pemrograman kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pun didiskusikan melalui forum Sekretariat Bersama.

Bermitra dengan Para Donor
Tidak sampai sepekan setelah gempa menggoyang bumi Nias, setidaknya 140 organisasi kemanusiaan, di antaranya 70 organisasi kemanusiaan internasional, melaksanakan misi kemanusiaan di Nias. Kerja sama dengan berbagai organisasi dan negara donor berlangsung baik sejak awal rehabilitasi dan rekonstruksi Nias. Namun hampir semua organisasi yang terjun

membantu di Nias hanya sebagai pelaksana yang tidak memiliki kewenangan koordinasi dan pengambilan keputusan untuk merespons kebutuhan dan tantangan lokal di Nias. Hampir semua organisasi tersebut berkantor pusat di Banda Aceh, Medan, atau Jakarta. Ketika BRR Perwakilan Nias memiliki otonomi lebih luas untuk mengambil kebijakan lokal, para mitra pemulihan, seperti badan‑badan Perserikatan Bangsa‑Bangsa, IFRC, dan berbagai organisasi lain, tetap hanya sebagai pelaksana lapangan. Keadaan ini menimbulkan ketimpangan dalam proses koordinasi, sekaligus menyulitkan penetapan tujuan dan respons cepat terhadap kebutuhan lokal. Masalah ketimpangan tersebut dibicarakan di NISM 2, yang menghasilkan rencana tindakan, antara lain meningkatkan otonomi BRR Perwakilan Nias sekaligus merekomendasikan pemberian kewenangan yang lebih besar dalam pengambilan keputusan bagi perwakilan organisasi‑organisasi yang ada di Nias. Kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi di Nias melibatkan 20 negara donor, 80 LSM nasional dan internasional, serta 13 badan PBB dan Palang Merah dari berbagai negara. Total dana yang dikelola hingga akhir 2008 mencapai Rp 5,663 triliun —Rp 3,472 triliun dana on‑budget (APBN) dan Rp 2,191 triliun dana off‑budget (non‑APBN). Besarnya dana yang dikelola dan pencapaian nyata dalam berbagai pembangunan fisik seperti yang tampak di Nias dewasa ini boleh dikata merupakan hasil kerja sama yang mengagumkan dari berbagai pihak. Komitmen negara‑negara donor serta lembaga‑lembaga nasional dan internasional untuk membantu proses pemulihan Nias ditanggapi dengan integritas BRR Perwakilan Nias dalam melaksanakan dan mengoordinasi pembangunan, sehingga semakin menambah kepercayaan.

Mengembangkan Dialog Penular Semangat Antikorupsi
Seiring dengan meningkatnya berbagai aktivitas rehabilitasi dan rekonstruksi yang disertai bertambahnya perhatian dan harapan masyarakat terhadap BRR, BRR Perwakilan Nias menggagas pendirian unit khusus untuk menangani kebutuhan komunikasi serta pelayanan terhadap masyarakat dan para pemangku kepentingan. Pada Februari 2006, dibentuklah Public Information Center (PIC), yang dipimpin Kepala Bidang Komunikasi dan Informasi. PIC bertanggung jawab menyebarkan informasi ke masyarakat, mengampanyekan partisipasi publik dan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), serta mengembangkan dialog organisasi‑organisasi pelaksana rehabilitasi dan rekonstruksi dengan masyarakat. Untuk melaksanakan tanggung jawab itu, PIC mengembangkan empat unit operasi, yakni Hubungan Komunitas, Manajemen Informasi, Hubungan Media, dan Hubungan Para Pemangku Kepentingan. Secara berkala PIC menerbitkan majalah Fatuhe dan mengudara di RRI Gunungsitoli lewat talk show untuk memberikan informasi dan menjawab berbagai pertanyaan masyarakat. Pertemuan sosialisasi rehabilitasi dan rekonstruksi digelar di berbagai desa. Sekitar 20 orang fasilitator dari kalangan wartawan, LSM lokal, dan aktivis pemuda

Bagian 2. Antara Kepercayaan, Otonomi, dan Agenda Lokal

43

Dialog dengan Masyarakat
NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

44

atau tokoh adat Desa Orahili Fau, di tengah kerumunan ratusan warga, wanita dan pria, orang tua dan anak‑anak, di ruang pertemuan sederhana persis di tengah salah satu kampung tradisional Desa Orahili Fau, Kecamatan Teluk Dalam, Nias Selatan. Teriakan khas mengawali Orahu, dan ungkapan bahasa Nias membuka pertemuan adat, yang jika dialihbahasakan berarti: “Kita bersyukur hari ini Kepala BRR Perwakilan Nias mengunjungi desa kita. Mari kita bersama menyampaikan keinginan kita, mendengarkan apa yang baik dari BRR, dan menyelesaikan masalah yang muncul di kampung kita.” Sore itu, Jumat, 15 September 2006, BRR Perwakilan Nias melaksanakan kegiatan dialog dan sosialisasi dengan masyarakat Desa Orahili Fau, yang kemudian dimodifikasi dalam bentuk Orahua Mbanua atau biasa disingkat Orahu oleh tokoh‑tokoh adat setempat. Orahu adalah kata lain buat musyawarah desa yang telah ratusan tahun menjadi sarana masyarakat Nias Selatan untuk mendiskusikan berbagai hal dan membuat berbagai kesepakatan mengenai kehidupan bersama di desa mereka. Selain oleh masyarakat Desa Orahili Fau, pertemuan dengan nilai adat yang luhur ini juga dihadiri oleh Wakil Ketua DPRD Nias Selatan Martalena Duha, beberapa anggota DPRD Nias Selatan, Camat Teluk Dalam, Kepala Desa Orahili Fau, serta tokoh‑tokoh adat dan agama. Pemimpin pertemuan ini adalah Asterius Fau, pemimpin adat di daerah itu. Orahili Fau berada di lembah perbukitan, sekitar 25 kilometer dari Kota Teluk Dalam, Nias Selatan. Konon, desa dengan bangunan rumah tradisional Nias yang apik ini merupakan kampung asal warga Bawomataluo, kampung tradisional Nias dengan atraksi lompat batu yang terkenal itu. Pada masa penjajahan Belanda, sebagian warga Orahili Fau berperang dengan Belanda. Karena terdesak, mereka

“OIII…,” ujar Asterius Fau, siulu

menyingkir ke bukit tinggi persis di sebelah desa itu dan membangun Kampung Bawomataluo di atas lereng bukit tersebut. Sebagai kampung dengan tradisi yang kuat, masyarakat desa itu seperti ingin menunjukkan bahwa pertemuan adat seperti ini tidak hanya efektif mengembangkan komunikasi dengan lembaga seperti BRR, tapi juga dapat menyelesaikan berbagai masalah rehabilitasi dan rekonstruksi di desa mereka. Betul saja, pertemuan ini mengagendakan penyelesaian masalah pembangunan rumah oleh BRR yang menimbulkan konflik di desa karena Kepala Desa dan kontraktor dianggap mempermainkan warga. Bahasa yang digunakan dalam Orahu ini adalah bahasa Nias. Karena itu, ketika Kepala BRR Perwakilan Nias William Sabandar berbicara, salah seorang putra Desa Orahili Fau menjadi penerjemah. William mengutarakan, bantuan BRR dimaksudkan untuk memperkuat masyarakat dan bukan sebaliknya untuk memecah belah. ”Kami menghargai nilai‑nilai luhur yang telah tumbuh ratusan tahun dalam masyarakat, dan kami percaya masyarakat dapat menyelesaikan berbagai masalah di desa dengan baik, mengembangkan komunikasi yang menjalin pengertian dan kerja sama dengan seluruh komponen yang terlibat dalam kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi,” ujar William, yang mengaku kagum dengan pertemuan adat Orahua Mbanua yang membicarakan berbagai masalah secara terbuka di depan seluruh masyarakat desa tersebut. Setelah membahas berbagai masalah, pertemuan ditutup, dan ditetapkan bahwa Orahu lanjutan diadakan beberapa hari setelahnya, untuk meneruskan pembahasan tentang penyelesaian masalah bantuan rumah. Tanpa keterlibatan BRR setelah itu, masyarakat Desa Orahili Fau kemudian melaporkan bahwa masalah bantuan rumah di desa mereka telah dapat diatasi. Semua

pihak puas dan telah ada hukuman adat kepada mereka yang dianggap melakukan pelanggaran. Pertemuan dengan masyarakat dalam rangka dialog dan sosialisasi diadakan di berbagai desa dan kecamatan, baik di Nias maupun di Nias Selatan. Mekanisme pertemuan langsung dengan masyarakat merupakan salah satu cara mengatasi ketiadaan media komunikasi yang dapat dijangkau masyarakat, karena sebagian besar masyarakat di desa‑desa tidak bisa membaca dan menulis. Karena itu, pertemuan langsung dengan masyarakat tidak hanya dilaksanakan di desa atau kecamatan yang dapat ditempuh kendaraan, tapi juga di berbagai lokasi yang hanya dapat dicapai dengan berjalan kaki. Misalnya pertemuan di Kecamatan Mau, Kabupaten Nias, yang ditempuh William Sabandar, Koni Samadhi, dan rombongan dengan berjalan kaki mendaki gunung licin dan berbatu berjarak lebih dari 10 kilometer. Atau pertemuan dengan masyarakat di Kecamatan Afulu, Kabupaten Nias, yang ditempuh dengan berganti‑ganti kendaraan, dari mobil 4WD, truk proyek, lalu sepeda motor, dan terakhir hanya bisa tiba dengan berjalan kaki. Dari pertemuan‑pertemuan langsung dengan masyarakat, berbagai aspirasi dan gagasan tercipta. Perlahan‑lahan, upaya keras mendengarkan masyarakat menumbuhkan kepercayaan masyarakat kepada BRR. Masyarakat antusias setiap kali BRR berdialog dengan mereka. Di Kecamatan Gomo, Nias Selatan, misalnya, masyarakat tekun mendengarkan penjelasan tentang pentingnya pembangunan rumah tahan gempa

oleh Dick Beetham, konsultan gempa BRR dari Selandia Baru, yang masih terbata‑bata berbicara dalam bahasa Indonesia. Sementara itu, di Kecamatan Tugala Oyo, saat akan melakukan dialog dan sosialisasi dengan masyarakat, rombongan Kepala BRR Perwakilan Nias dan Wakil Ketua DPRD Nias Sirila Baeha disambut dengan tari adat Nias, Maena, oleh warga kecamatan tersebut. Satu permintaan sederhana disampaikan masyarakat: ”Bapak BRR, tolong perbaiki jembatan gantung di Sungai Oyo. Kami tidak bisa menjual karet dan cokelat karena jembatan ini rusak,” kata salah seorang tokoh masyarakat setempat. Jembatan Oyo kini telah diperbaiki melalui Program Pengembangan Prasarana Dasar BRR dengan pendekatan pengembangan komunitas (community development). Masyarakat Desa Tugala Oyo gotong‑royong memperbaiki jembatan itu dengan dukungan dana dari BRR.

Bupati Kabupaten Nias Binahati Baeha dan Kepala BRR Kantor Perwakilan Nias William Sabandar didampingi staf dan perwakilan lembaga donor memberikan penjelasan kepada warga desa Laverna, Kabupaten Nias, Agustus 2006, tentang rencana pembangunan di daerah tersebut. Foto: Dokumentasi BRR

Bagian 2. Antara Kepercayaan, Otonomi, dan Agenda Lokal

45

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

membantu menyiapkan pertemuan dengan masyarakat di Nias dan Nias Selatan, untuk secara langsung mendengarkan keluhan dan harapan masyarakat serta menyelesaikan berbagai masalah di lapangan. Selain itu, diadakan dialog konsultasi publik ”Aramba” yang melibatkan tokoh‑tokoh masyarakat di Gunungsitoli dan Teluk Dalam untuk mendialogkan berbagai masalah serta meminta masukan terkait dengan pendekatan program dan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi. Setelah meja pengaduan dibuka, masyarakat dengan mudah menyampaikan keluhan. Selama tiga bulan pertama (Februari‑April 2006), PIC menerima 19 laporan pengaduan tertulis, di samping ratusan pengaduan telepon dan informasi lisan yang langsung diajukan ke kantor PIC. Masalah perumahan selalu mencuat dalam berbagai laporan pengaduan masyarakat. Banyak di antaranya terkait dengan kualitas pembangunan rumah oleh kontraktor atau dugaan suap dan pungutan liar oleh kepala desa. Selain masalah perumahan, kasus yang menonjol adalah laporan gangguan keamanan yang diadukan berbagai organisasi, seperti laporan Association of Medical Doctors of Asia yang mendapat ancaman kekerasan fisik dan pemerasan di lokasi proyek mereka di Kecamatan Idanogawo, Kabupaten Nias; laporan dan permintaan fasilitasi masalah keamanan serta konflik dengan komunitas yang dialami Netherland Red Cross di Kecamatan Gomo, Kabupaten Nias Selatan; laporan Oxfam terkait dengan pelemparan terhadap tempat tinggal staf Oxfam di Gunungsitoli; dan masalah sengketa tanah relokasi pengungsi di Teluk Dalam yang menyebabkan pembangunan rumah tidak dapat berlangsung seperti yang diharapkan. Jalinan komunikasi yang baik dengan masyarakat belum sepenuhnya menjamin mulusnya kiprah BRR di Nias. Hal yang mendasari ketegangan dan berita negatif tentang BRR lebih disebabkan oleh turbulensi kepentingan berbagai kelompok dan perorangan yang hendak bernegosiasi dengan BRR Perwakilan Nias, yang menggenggam rata‑rata Rp 1 triliun per tahun untuk merealisasi proyek‑proyek rekonstruksi. Jumlah dana ini melebihi dana pembangunan Rp 400 miliar yang diterima satu kabupaten di Nias per tahun. Memang, BRR berada di tengah pusaran budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang masih sangat kuat. Penetapan standar profesional yang tinggi dan komitmen antikorupsi yang digalakkan oleh BRR menempatkan organisasi ini berhadapan langsung dengan lingkungan dengan sudut pandang bertentangan. Munculnya tekanan‑tekanan yang ingin mengambil keuntungan dari proses rehabilitasi dan rekonstruksi ini cukup mengganggu, tapi tidak dapat melencengkan misi rehabilitasi dan rekonstruksi. Sejak awal, prinsip rehabilitasi dan rekonstruksi yang bersih dan profesional secara konsisten disampaikan melalui berbagai kesempatan. Perlahan tapi pasti, masyarakat mulai kritis mencermati berbagai praktik KKN yang berkembang, seperti diwujudkan dalam demonstrasi masyarakat Desa Ombolata,

46

Kecamatan Alasa, ke kantor BRR Perwakilan Nias pada Desember 2007. Menggunakan tiga truk dan puluhan sepeda motor, masyarakat yang umumnya petani ini memprotes tindakan KKN dalam pengelolaan dana bantuan pembangunan rumah di desa mereka. Upaya penyuapan terhadap fasilitator pendataan bantuan rumah dan kolusi untuk menambah data ditentang sebagian masyarakat, yang tahu bahwa tindakan tersebut melanggar peraturan dan tidak adil. BRR Perwakilan Nias menanggapi aspirasi yang disampaikan lewat demonstrasi ini dengan memecat fasilitator pendataan perumahan itu dan membatalkan data yang dihasilkannya. BRR Perwakilan Nias juga melaporkan kasus ini ke Kejaksaan Negeri Gunungsitoli. Keberanian masyarakat menyampaikan ketidakberesan dalam kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi serta tindakan tegas BRR memberikan pesan penting, tidak hanya bagi mereka yang berdemonstrasi, tapi juga buat semua pihak, bahwa penyelewengan tidak dapat ditoleransi. Seiring dengan perjalanan waktu, berbagai tekanan kepentingan yang dihadapi BRR Perwakilan Nias semakin berkurang, berganti dengan pendekatan kooperatif mengikuti kaidah profesionalitas dan etika yang telah ditetapkan. Ini suatu pembelajaran berharga tentang betapa pentingnya konsistensi terhadap prinsip, yang membuahkan perubahan positif dalam penciptaan budaya baru dalam pembangunan yang bebas KKN.

Bagian 2. Antara Kepercayaan, Otonomi, dan Agenda Lokal

47

Membangun Hampir Tanpa Rencana Induk
dari mana? Sejauh mata memandang, yang tampak hanya kehancuran dan kemiskinan. Membangun kembali wilayah Kepulauan Nias pascabencana dalam balutan kemiskinan dan keterbelakangan membutuhkan rencana induk yang jelas dan pendekatan pembangunan yang tepat. Kurang dari sebulan sebelum Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) akan ditetapkan seiring dengan pembentukan BRR, agak mengejutkan mengetahui wilayah Kepulauan Nias dimasukkan ke dalam lingkup rehabilitasi dan rekonstruksi. Lembaga BRR, yang sebelumnya hanya akan bernama BRR NAD, kemudian mendapat tambahan nama menjadi BRR NAD‑Nias. Bencana alam di Nias, yang semula dikategorikan pemerintah sebagai bencana lokal, kini masuk agenda nasional. Di satu sisi, perkembangan ini menguntungkan Nias, yang selama ini jauh dari jangkauan pemerataan pembangunan. Namun, di sisi lain, ketergesaan mencantumkan Nias sebagai bagian rehabilitasi dan rekonstruksi menyebabkan Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD‑Nias belum secara komprehensif menggarap kebutuhan Nias pascabencana. Inilah tantangan yang dihadapi BRR Perwakilan Nias dalam mengoordinasi dan melaksanakan pembangunan kembali Nias, suatu tantangan yang kemudian menjadi keunikan Nias dalam lingkup rehabilitasi dan rekonstruksi NAD‑Nias.

MULAI

Untuk mengantisipasi kerusakan pantai akibat ombak besar di Kepulauan Nias yang berhadapan langsung dengan Samudra Indonesia, BRR membangun dinding pengaman pantai di banyak titik lokasi. Foto: BRR/Bodi CH

Bagian 3. Membangun Hampir Tanpa Rencana Induk

49

Rencana Induk: Antara Ada dan Tiada
NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD‑Nias yang disusun Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) kemudian diundangkan menjadi Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 30 tentang Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias, Provinsi Sumatera Utara, pada Juni 2005. Dokumen ini berlaku empat tahun dan berorientasi pada rencana aksi jangka pendek untuk memulihkan kondisi pascabencana. Sempitnya waktu antara kejadian gempa, keputusan menangani Nias secara nasional, dan kebutuhan untuk segera menerbitkan peraturan presiden membuat rencana induk lebih kelihatan sebagai daftar belanja proyek rekonstruksi yang bersifat sektoral ketimbang skenario menyeluruh pemulihan wilayah pascagempa berdasarkan kondisi aktual kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi Kepulauan Nias. Sebagai contoh, penetapan rencana rekonstruksi jalan provinsi hanya sepanjang 65 kilometer dan jalan kabupaten 75 kilometer, jauh melenceng dari kebutuhan lokal Kepulauan Nias. Hal senada tampak pada program perbaikan menara penilaian untuk olahraga selancar, pembangunan Kantor Urusan Agama – yang hanya mengurusi masyarakat muslim – di tengah masyarakat yang mayoritas beragama Kristen, serta rekonstruksi bandar udara yang hanya dianggarkan Rp 7,6 miliar. Ketiadaan rencana induk yang membumi dan mantap mengakibatkan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi kurang efektif menjawab aneka kebutuhan riil di lapangan dan upaya pembangunan kembali Nias yang lebih baik. Tak aneh jika muncul persepsi di kalangan masyarakat bahwa belum ada rencana pembangunan kembali Nias. Terlepas dari berbagai kelemahannya dalam penerapan di lapangan, setidaknya rencana induk secara umum telah merumuskan visi dan misi rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah dan kehidupan masyarakat Kepulauan Nias, Provinsi Sumatera Utara, secara tepat.

50

Sebelas Aspek Rekonstruksi Menurut Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD‑Nias
• • • • • • • • • • • Tata ruang dan pertanahan Lingkungan hidup dan sumber daya alam Infrastruktur dan perumahan Ekonomi dan ketenagakerjaan Sistem kelembagaan daerah Pendidikan dan kesehatan Agama, sosial budaya, dan sumber daya manusia Hukum Ketertiban keamanan dan ketahanan masyarakat Penetapan tata kelola yang baik dan pengawasan pelaksanaan Pendanaan

Rencana Pembangunan Kembali Nias
—Hampir dua tahun setelah bencana gempa bumi dan gelombang tsunami menghantam wilayah Kepulauan Nias, Provinsi Sumatera Utara, blueprint pembangunan kembali wilayah tersebut masih juga belum ada. Proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Nanggroe Aceh Darussalam‑Nias masih bersifat tambal sulam. “Ibaratnya kami membangun Nias ini tanpa tujuan. Ini namanya seperti tambal sulam, ada sekolah rusak kami perbaiki, ada jembatan rusak kami betulkan,” ujar Kepala Badan Pelaksana BRR NAD‑Nias Kuntoro Mangkusubroto di Gunungsitoli, Rabu (31/1). Menurut Kuntoro, BRR tidak memiliki kewenangan mengeluarkan blueprint atau master plan pembangunan kembali Nias pascabencana. Instansi yang berwenang adalah Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). “Itulah sebabnya kami mendorong terus agar Bappenas secepatnya mengeluarkan master plan pembangunan kembali Nias,” lanjutnya. BRR saat ini tengah memperjuangkan konsepsi utama pembangunan kembali Nias pascabencana, yakni peningkatan kesejahteraan melalui pembangunan kembali jaringan transportasi dan sistem kesehatan. “Tetapi ini kan hanya omongan saya, harusnya ada master plan yang paling tidak diatur dalam peraturan daerah,” katanya.

GUNUNGSITOLI, Kompas

Selain masih belum adanya master plan dari Bappenas, di tingkat daerah BRR juga kesulitan menghadapi persoalan sengketa “politis” antara eksekutif dan legislatif di Kabupaten Nias Selatan. Persoalan seperti ini menghambat pembuatan peraturan daerah tentang tata ruang, karena Pemkab Nias Selatan dan DPRD‑nya tidak satu persepsi. “Sementara kami hanya memiliki waktu dua tahun lagi untuk bisa kembali membangun Nias. Dua tahun itu masa yang pendek untuk membangun Nias,” kata Kuntoro. Masa kerja BRR di Nias akan berakhir pada bulan April 2009. Wakil Bupati Nias Selatan Daniel Duha mengakui, masalah tersebut memang menghambat proyek‑proyek pembangunan kembali wilayah yang terkena bencana. “Kami memang harus mempersamakan persepsi dengan pihak legislatif. Upaya ini terus kami lakukan untuk mempercepat penyelesaian pembangunan di wilayah Nias Selatan,” katanya. Kepala Perwakilan BRR di Nias William P. Sabandar mengatakan, ketiadaan master plan memang menjadi halangan dalam membangun kembali Nias pascabencana. Namun tidak berarti hal tersebut membuat pembangunan harus terhenti. “Yang kami lakukan sekarang adalah membuat pendekatan dari bawah, lewat rencana umum tata ruang (RUTR) yang disesuaikan dengan proyek‑proyek BRR,” katanya
Sumber: Kompas, 31 Januari 2007

Bagian 3. Membangun Hampir Tanpa Rencana Induk

51

Visi Pembangunan Kembali Nias Masa Depan
NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Terwujudnya masyarakat Nias yang maju, adil, aman, damai, dan sejahtera berlandaskan nilai‑nilai budaya dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

52

Misi Pembangunan Kembali Nias Masa Depan
• • • • • Meningkatkan mutu sumber daya manusia yang unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi Mengembangkan dan mengelola sumber daya alam secara arif, sesuai dengan daya dukungnya Membangun tatanan ekonomi daerah yang unggul dan kompetitif serta adil berlandaskan ekonomi kerakyatan Membangun sistem infrastruktur yang andal dan efisien Mengembangkan dan melestarikan nilai‑nilai budaya dan adat‑istiadat Nias yang menunjang pembangunan yang berkelanjutan Meningkatkan kemampuan birokrasi pemerintah daerah yang profesional, berwibawa, dan amanah.

Lantaran ketiadaan rencana induk atau blue print yang memadai, pembangunan kembali Kepulauan Nias harus mengandalkan ketajaman pengamatan di lapangan dan hasil konsultasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Maka, pada Nias Islands Stakeholders Meeting ketiga di Jakarta, ditetapkan Rencana Aksi Rekonstruksi Nias 2007‑2009. Rencana aksi tersebut secara rinci mengulas berbagai hal yang berkaitan dengan pemulihan Nias pascabencana, seperti tiga tahap pembangunan kembali Kabupaten Nias dan Nias Selatan menjadi lebih baik, sepuluh prinsip rehabilitasi dan rekonstruksi Nias yang menjadi panduan dalam menyusun program‑program, serta kebijakan umum yang berfungsi sebagai koridor utama kegiatan rekonstruksi.5

Tiga Tahap Pembangunan Kembali Kabupaten Nias dan Nias Selatan Menjadi Lebih Baik
1. Tahap pemulihan: sebagai respons tanggap darurat yang dilakukan sesaat setelah terjadi bencana dengan pemberian bantuan stimulan dan bersifat segera, khususnya penanganan dan pemberian bantuan bagi para korban pascabencana. 2. Tahap rehabilitasi: bersifat jangka pendek sebagai respons atas berbagai isu yang bersifat mendesak dan membutuhkan penanganan segera, bertujuan memulihkan standar pelayanan minimum pada sektor kelembagaan dan kemasyarakatan yang mengalami kerusakan dan kerugian akibat bencana. 3. Tahap rekonstruksi: lebih bersifat jangka panjang untuk memulihkan sistem secara keseluruhan dan mengintegrasikan berbagai program pembangunan ke dalam pendekatan pembangunan daerah.

Bagian 3. Membangun Hampir Tanpa Rencana Induk

Memberikan Arah Pembangunan Kembali

53

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Prinsip‑Prinsip Rehabilitasi dan Rekonstruksi BRR Perwakilan Nias
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Community driven: prinsip untuk mengedepankan partisipasi aktif masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan rehabilitasi‑rekonstruksi. Build back better: prinsip untuk membangun kembali menjadi lebih baik daripada kondisi semula. Urgensi: prinsip untuk mengedepankan kegiatan dan tindakan rekonstruksi yang bersifat mendesak. Integrasi: prinsip untuk memadukan kegiatan antar dan lintas sektor agar memperoleh manfaat kegiatan yang optimal. Koordinasi: prinsip untuk senantiasa mengoordinasi kegiatan, pelaksana, dan pelaksanaan sehingga tercapai tingkat sinergi yang optimal. Promoting local autonomy: prinsip untuk memupuk kapasitas otonomi lokal dalam pengambilan keputusan menyangkut rehabilitasi‑rekonstruksi. Mewujudkan tata pemerintahan yang baik: prinsip untuk mendorong dan memfasilitasi tercapainya tata pemerintahan yang baik dalam setiap aspek dan tataran pelaksanaan kegiatan rehabilitasi‑rekonstruksi. Gender: prinsip untuk sadar dan peduli akan pengutamaan gender dalam setiap kegiatan rehabilitasi‑rekonstruksi. Kualitas, efisien, transparan, dan akuntabel: prinsip untuk mengutamakan kualitas sebagai salah satu kondisi yang harus dipenuhi setiap kegiatan dan hasil kegiatan rehabilitasi‑rekonstruksi.

54

8. 9.

10. Pembangunan berkelanjutan: prinsip untuk mengutamakan keseimbangan aspek kelayakan ekonomi, diterima secara sosial, dan ramah lingkungan, sehingga pemilihan dan pelaksanaan kegiatan rehabilitasi‑rekonstruksi dapat berlanjut dengan dayanya sendiri, dengan seminimal mungkin/tanpa intervensi dari luar.

Meski demikian, tidak semua kegiatan rekonstruksi yang diusulkan dalam Rencana Aksi Rekonstruksi Nias 2007‑2009 dimasukkan ke dalam Perpres 47/2008. Menurut Perpres, total kebutuhan anggaran untuk rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh dan Nias mencapai Rp 64 triliun. Tidak secara tegas ditetapkan berapa besar kebutuhan Kepulauan Nias. Perhitungan terhadap komponen rekonstruksi Nias dalam Perpres hanya menyebutkan alokasi dana untuk Nias mencapai Rp 6,193 triliun. Berlandaskan prinsip‑prinsip dan kebijakan umum dalam membangun kembali Nias, BRR Perwakilan Nias lalu menetapkan empat pilar rehabilitasi dan rekonstruksi, yang kemudian dioperasionalkan lewat sepuluh program utama.

Mengembangkan Strategi Khusus di Lapangan
Bencana gempa bumi yang dialami Nias menimbulkan pola kerusakan yang berbeda dengan bencana alam tsunami di Aceh. Selain itu, kondisi sosial masyarakat yang telah sekian lama terisolasi —lebih dari 30 persen penduduk hidup dalam kemiskinan, proses pengambilan keputusan sangat ditentukan pemimpin formal dan informal, sifat individualistis masih kuat, sumber daya manusia yang cakap terbatas sehingga kapasitas pemerintahan dan dunia usaha rendah— mengisyaratkan perlunya penanganan khusus agar mendapatkan hasil pembangunan yang optimal. Maka, setelah kebijakan khusus membangun kembali Nias digulirkan, BRR Perwakilan Nias melangkah maju ke pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi dengan menyusun strategi khusus di lapangan. Ada dua aspek yang dikembangkan sebagai strategi pelaksanaan pembangunan kembali Nias, yaitu aspek program dan aspek pengelolaan. Aspek program berkaitan dengan kebijakan dan strategi yang dikembangkan untuk memfasilitasi efisiensi dan efektivitas pelaksanaan rekonstruksi sesuai dengan tantangan di lapangan. Aspek program dirinci berdasarkan Empat Pilar Rehabilitasi dan Rekonstruksi Nias. Contoh klasik kebijakan dan strategi yang terkait dengan aspek program misalnya pada Pilar Perumahan dan Permukiman. Terjadi perubahan pendekatan pelaksanaan pembangunan perumahan, yang semula berbasis kontraktor, menjadi berbasis partisipasi masyarakat. Sejak Oktober 2006, BRR Perwakilan Nias memulai kegiatan fisik pembangunan perumahan dengan skema Bantuan Langsung Masyarakat, yang berlanjut pada tahun‑tahun berikutnya.7

Bagian 3. Membangun Hampir Tanpa Rencana Induk

Ketika sedang dalam proses penyusunan konsep rencana aksi pada Mei 2007, BRR NAD‑Nias, yang secara berkala melakukan evaluasi paruh waktu, menginisiasi revisi terhadap Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD‑Nias sesuai dengan kondisi di lapangan. Maka substansi Rencana Aksi Rekonstruksi Nias 2007‑2009 tidak pernah dipublikasikan secara resmi. Rencana aksi tersebut kemudian menjadi acuan Bappenas dalam menyusun Revisi Rencana Induk Rekonstruksi NAD‑Nias 2007‑2009, yang selanjutnya disahkan lewat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 47 Tahun 2008.6

55

Gambar 3.1. Empat Pilar Rehabilitasi dan Rekonstruksi Nias dengan Sepuluh Program Utama

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Infrastruktur yang Efektif Perumahan dan Permukiman yang Sehat dan Nyaman Ekonomi yang Bersaing Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia yang Kokoh

56

1 2 3 4

1. Pembangunan kembali dan rehabilitasi kawasan perumahan dan permukiman dengan prinsip build back better. 2. Rehabilitasi dan pengembangan sistem air bersih, sanitasi, persampahan, serta drainase yang sehat dan ramah lingkungan. 3. Rehabilitasi dan peningkatan infrastruktur ekonomi, khususnya transportasi: jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, dan terminal angkutan. 4. Rehabilitasi dan pengembangan kelistrikan dan telekomunikasi. 5. Rehabilitasi dan pengembangan infrastruktur irigasi dan pengamanan pantai/sungai. 6. Pengembangan ekonomi dan usaha melalui penciptaan iklim investasi, sistem lembaga keuangan, dan pasar yang sehat, dengan fokus pada perikanan dan pertanian (cokelat, karet)

7. Revitalisasi rumah sakit umum dan pengembangan sistem pelayanan kesehatan berjenjang. 8. Revitalisasi pendidikan Nias. 9. Penguatan kelembagaan pemerintah daerah, termasuk rehabilitasi dan rekonstruksi prasarana dan sarana pemerintahan. 10.Revitalisasi kebudayaan Nias.

Contoh lain kebijakan dan strategi yang menyangkut program dapat dilihat pada Pilar Infrastruktur melalui strategi pembangunan prasarana dan sarana transportasi terpadu. Perbaikan dan peningkatan tidak hanya dilakukan pada prasarana dan sarana yang rusak akibat gempa, tapi juga pada pembangunan ruas‑ruas jalan provinsi dan simpul‑simpul transportasi, seperti bandar udara dan pelabuhan, sehingga bagian‑bagian wilayah menjadi terhubung dan kegiatan sosial serta ekonomi pun optimal. Pada akhir 2008, telah dibangun jalan lingkar yang menjadi tulang punggung akses internal Pulau Nias, yang menghubungkan lima kota dan melayani sekitar 90 persen penduduk Kepulauan Nias. Sementara itu, aspek pengelolaan berkaitan dengan kebijakan dan strategi yang dikembangkan dalam tataran manajemen pelaksanaan kegiatan rekonstruksi untuk menciptakan lingkungan kerja yang kondusif terhadap pembangunan pascabencana yang sering tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan kaidah manajemen pembangunan normal. Contohnya pembentukan Satuan Kerja (Satker) yang dikelola secara kolektif oleh Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Para KPA ini berperan sebagai Kepala Satker kolektif, agar terdapat efisiensi struktur organisasi proyek dengan rentang kendali manajemen proyek yang lebih rapat.

Rencana Tata Ruang dan Infrastruktur Utama 30% Perumahan dan Permukiman, Air dan Sanitasi Lingkungan Penumbuhan Usaha Kecil dan Menengah Gedung Sekolah, Sarana dan Prasarana Kesehatan dan Gedung Pemerintahan

2005

Jalan, Jembatan dan Infrastruktur Publik 60% Perumahan dan Permukiman, Air dan Sanitasi Lingkungan Peningkatan Pendapatan dan Pengembangan Lapangan Kerja Pendidikan Kesehatan dan Tata Pemerintahan

2006

Rencana Pengembangan ke Energi Listrik dan Telekomunikasi 90% Perumahan dan Permukiman, Air, Sanitasi dan Energi Pengembangan Ekonomi pada Level Korporasi Sumber Daya Manusia di bidang Pendidikan, Kesehatan dan Tata Pemerintahan

2007

Pembangunan Sarana Listrik, Telekomunikasi dan Tata Kota 100% Perumahan dan Permukiman Air, Sanitasi dan Energi Pengembangan pada bidang Pariwisata dan UKM Sistem dan Jaringan di bidang Pendidikan, Kesehatan dan Tata Pemerintahan

2008

2009

Pemeliharaan, Capacity Building, Transfer and Exit

Demikian pula pembentukan Sekretariat Bersama yang digagas sejak awal 2006 untuk menjawab kebutuhan transisi keberlanjutan pembangunan dari BRR Perwakilan Nias ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab). Sekretariat Bersama Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan, yang mulai beroperasi pada Juni 2006, berfungsi sebagai unit alih keterampilan dan peningkatan kapasitas Pemkab dalam mengelola pelaksanaan pembangunan.

Tonggak‑Tonggak Pencapaian
Seharusnya kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi di Kepulauan Nias dimulai pada akhir Juni 2005, tepat tiga bulan setelah gempa bumi meluluhlantakkan kawasan ini. Namun, karena kondisi darurat masih terhampar di segenap penjuru, BRR Perwakilan Nias menetapkan masa transisi selama enam bulan, sebelum memulai kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi.

Bagian 3. Membangun Hampir Tanpa Rencana Induk

57

Gambar 3.2. Anggaran Pemulihan Nias 2005‑2009

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

5.663 6000 5000 4000 3000 2000 1000
Infratruktur 2191

6000 5000 4000 3000

2.169
590 1579

1.740
553 1187 Perumahan dan Permukiman

2000 1.167
636 531 Pengembangan Sosial dan Kelembagaan 3472

58

1000

587
412 175 Ekonomi Total

On Budget

Off Budget

Dana untuk membangun kembali Nias diperoleh menurut skema on‑budget yang dianggarkan khusus dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), ditambah dana off‑budget berupa sumbangan langsung dari para donor. Total dana rehabilitasi dan rekonstruksi yang mencapai Rp 5,663 triliun merupakan jumlah yang sangat besar di mata otoritas Kepulauan Nias. Dari keseluruhan dana rehabilitasi dan rekonstruksi Nias tersebut, lebih dari Rp 3,472 triliun berasal dari APBN dan dikelola BRR NAD‑Nias. Sedangkan Rp 2,191 triliun merupakan anggaran off‑budget dari mekanisme non‑APBN8 dan dikelola oleh berbagai LSM, badan PBB, dan Palang Merah Internasional. Setelah tiga setengah tahun BRR Perwakilan Nias menjalankan mandatnya dan kini masa tugasnya berakhir, menoleh ke belakang lalu melihat berbagai tonggak pencapaian yang telah dipancangkan di bumi Nias membawa makna tersendiri.

Anggaran, Distribusi, dan Penyerapannya
Akumulasi perputaran uang dari dana on‑ dan off‑budget sampai akhir 2009 mencapai lebih dari Rp 5,663 triliun. Gambar 3.2 menunjukkan jumlah dana rekonstruksi dan distribusinya sesuai dengan Empat Pilar Rehabilitasi dan Rekonstruksi Nias.

Sektor infrastruktur mendapat porsi anggaran terbesar, Rp 2,168 triliun (38,29 persen), dari total anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi Nias. Proporsi dana on‑budget yang dialokasikan ke sektor ini mencapai 45,47 persen, sedangkan dana off‑budget 26,91 persen. Itu berarti proporsi terbesar dana APBN yang dilaksanakan BRR Perwakilan Nias ditujukan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi sektor infrastruktur, sebagai konsekuensi peran utama pemerintah menyediakan infrastruktur publik yang memadai. Di urutan berikutnya, sektor perumahan dan permukiman memperoleh dana Rp 1,739 triliun (30,71 persen) dari keseluruhan anggaran, dengan komposisi anggaran on‑budget 34,17 persen dan anggaran off‑budget 25,23 persen. Meskipun proporsi anggaran on‑budget untuk sektor ini menempati posisi kedua, dana yang dikeluarkan BRR Perwakilan Nias di sektor perumahan dan permukiman dua kali lipat lebih besar dibanding dana off‑budget untuk sektor serupa yang dilaksanakan oleh berbagai organisasi dan negara donor. Sementara itu, porsi untuk sektor pengembangan manusia dan kelembagaan berada pada posisi ketiga dari total anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi, sebesar Rp 1,167 triliun (20,61 persen). Berbagai LSM, badan PBB, dan Palang Merah Internasional memang mencurahkan perhatian lebih besar pada sektor ini. Mitra pemulihan rehabilitasi dan

Sebuah truk melintas di jembatan darurat di wilayah utara Kota Gunungsitoli. Foto: BRR/Bodi CH

Bagian 3. Membangun Hampir Tanpa Rencana Induk

59

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

rekonstruksi nonpemerintah tersebut menyumbangkan 29,03 persen dari keseluruhan anggaran off‑budget, terutama untuk pendidikan dan kesehatan, sedangkan sumber dana on‑budget hanya dialokasikan 15,29 persen untuk kedua bidang itu. Bidang pengembangan ekonomi merupakan sektor dengan anggaran terkecil, Rp 0,587 triliun (10,37 persen), dari anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi Kepulauan Nias. BRR Perwakilan Nias mengalokasikan 5 persen anggarannya untuk sektor ini, sementara LSM, badan PBB, dan Palang Merah Internasional mengalokasikan 18,81 persen dana mereka untuk sektor tersebut. Walaupun memiliki anggaran relatif kecil, bukan berarti sektor pengembangan ekonomi kurang mendapat perhatian. Sejatinya kegiatan ekonomi dikembangkan saat infrastruktur yang menunjang perekonomian, seperti jalan, pelabuhan, bandar udara, dan koperasi, telah selesai dibangun oleh BRR dan para pemulihannya. Karena sisa waktu yang tersedia tidak cukup banyak untuk melaksanakan kegiatan pengembangan ekonomi, selanjutnya kegiatan tersebut dapat dilanjutkan oleh Pemkab dengan memanfaatkan infrastruktur yang telah siap digunakan. Program pembangunan kembali Kepulauan Nias didasarkan pada Peraturan Presiden tentang Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD‑Nias (2005). Kemudian rencana induk itu dirinci dan dipertajam arahnya lewat Rencana Aksi Rekonstruksi Nias 2007‑2009 yang dihasilkan Nias Islands Stakeholders Meeting dan Revisi Rencana Induk Rekonstruksi NAD‑Nias 2007‑2009 (Perpres 47/2008). Memang, beberapa target rencana yang ditetapkan dalam dokumen tersebut belum dapat ditangani sampai akhir Desember 2008 karena berbagai kendala, termasuk keterbatasan waktu dan biaya. Total dana yang terserap selama tiga setengah tahun kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi Kepulauan Nias (Juni 2005‑Desember 2008) adalah Rp 4,108 triliun, yang terdiri atas 2,791 triliun dana on‑budget (APBN) dan Rp. 1,316 triliun dana off‑budget (non‑APBN).

60

Antara Rencana Induk dan Realisasi
Menjelang akhir masa bakti BRR Perwakilan Nias, telah terbangun 18.963 unit rumah dari 20.838 unit rumah yang dikomitmenkan sampai akhir 2009. Dari jumlah yang telah dibangun tersebut, BRR Perwakilan Nias membangun 13.252 unit rumah, sementara para mitra BRR menambahkan 5.711 unit rumah. Namun dalam Rencana Induk tidak disebutkan target untuk merajut pembangunan unit‑unit rumah dengan pendekatan holistik melalui pengadaan prasarana dan sarana dasar perumahan agar tercipta permukiman layak huni. Dapat disimpulkan, sampai akhir masa tugas BRR Perwakilan Nias, target rehabilitasi dan rekonstruksi sektor perumahan secara statistik telah tercapai. Tapi, untuk menjadikan rumah‑rumah itu permukiman yang layak, masih perlu dilakukan berbagai upaya dari masyarakat penghuni rumah dan Pemkab.

Tabel 3.2. Perbandingan Rencana Induk, Revisi Rencana Induk, dan Realisasi

Pilar/Sektor

Rencana Induk Rekonstruksi NAD‑Nias (2005‑2009) 12.255 unit 65 km 75 km 2 5 2.273 hektare 2 setara Rp 32 miliar setara 166 miliar

Revisi Rencana Induk Rekonstruksi NAD‑Nias (Perpres 47/2008) 17.814 unit 469 km 497 km 3 5 5.579 hektare 4 setara Rp 38,7 miliar 14 sistem jaringan air bersih 220 kapal 117 alat tangkap ikan 2 PPI 1.028 alat pertanian 2 balai penyuluhan 1.489 hektare 336 orang dilatih ‑

Realisasi (hingga 31 Desember 2008) 18.396 unit 308,40 km 267 km 3 6 9.086 hektare 4 setara Rp 38,7 miliar 14 sistem jaringan air bersih 901 kapal 117 alat tangkap ikan 2 PPI 1.028 alat pertanian 1 balai penyuluhan 507 hektare 326 orang dilatih ‑ 30 koperasi/UKM 1.175 unit 20 paket 412 sekolah (termasuk 197 sekolah baru) 40 unit fasilitas kesehatan dan 2 RS 1.720 unit 1 GOR dan 1 lapangan OR 40 kantor

Perumahan dan Permukiman Infrastruktur 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Jalan Provinsi Jalan Kabupaten Bandar Udara/Airstrip Pelabuhan Laut Daerah Irigasi Terminal MPU/Bus Rehabilitasi dan Pengembangan Jaringan Listrik Sarana Air Minum Perkotaan dan Pedesaan

Perekonomian 1. Perikanan ‑ ‑ ‑ 2. 3. Pertanian Lahan Pertanian & Perkebunan Perdagangan dan Bantuan UKM (Usaha Kecil dan Menengah) Modal Bergulir Pemberdayaan LKM (Lembaga Keuangan Mikro) Pelatihan LKM Kelembagaan dan Kemasyarakatan 1. 2. 3. 4. 5. Pendidikan Kesehatan Sarana Ibadah Pemuda dan Olahraga Kantor Pemerintahan /Lembaga Negara 706 sekolah 23 puskesmas 1.935 unit 1 GOR 5 kantor 664 sekolah 77 puskesmas 504 unit ‑ 27 kantor ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ 4.

30 koperasi/UKM 634 unit 26 paket

Bagian 3. Membangun Hampir Tanpa Rencana Induk

61

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

62

Ketua Dewan Pengarah BRR Widodo AS dan Kepala Badan Pelaksana BRR Kuntoro Mangkusubroto berdialog dengan warga yang membangun rumahnya dengan pendekatan pembangunan berbasis masyarakat. Foto: BRR/Bodi CH

Rumah‑rumah bantuan pascagempa Nias dikerjakan oleh berbagai organisasi yang berbeda. Meskipun dengan model yang berlainan, pada umumnya rumah tersebut memiliki ukuran yang sama, yaitu rumah tipe 36. Rumah‑rumah bantuan BRR merupakan evolusi dari tahun ke tahun berkaitan dengan perkembangan pendekatan pembangunan yang diterapkan BRR Perwakilan Nias. Pada 2005 dan 2006, pembangunan rumah dilaksanakan oleh kontraktor, yang menimbulkan protes karena rendahnya kualitas bangunan. Pada 2007 dan 2008, pembangunan rumah sepenuhnya berbasis masyarakat, dilaksanakan sendiri oleh masyarakat, dari penentuan penerima manfaat, pengelolaan keuangan, desain rumah, hingga proses konstruksi. Dengan perubahan pendekatan tersebut, kualitas rumah mengalami peningkatan dan desainnya lebih beragam, sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kebijakan rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur memprioritaskan penyediaan prasarana dan sarana seperti jalan, jembatan, bandara, pelabuhan, listrik, dan air bersih untuk memperlancar logistik, memperbaiki sistem transportasi yang mendukung kelancaran hubungan antarwilayah, serta merehabilitasi fasilitas distribusi energi dan kelistrikan sebagai upaya menunjang kembali berbagai aktivitas sosial dan ekonomi.

Rekonstruksi jalan terutama mengalami penyesuaian yang sangat signifikan. Sebagai contoh, dalam Rencana Induk semula ditargetkan rekonstruksi jalan provinsi sekitar 65 kilometer, tapi kemudian menjadi 469 kilometer. Sampai akhir Tahun Anggaran 2008, pembangunan jalan provinsi telah mencapai 308.40 kilometer dan sisanya akan dilaksanakan pada Tahun Anggaran 2009. Hal serupa terjadi pada jalan kabupaten. Perbedaan yang sangat signifikan dalam Rencana Induk dan Revisi Rencana Induk untuk pembangunan jalan itu terjadi karena, pada saat awal, informasi yang dihimpun masih terbatas. Selain itu, dalam perjalanan waktu, timbul kebutuhan untuk memungkinkan setiap lokasi permukiman, seperti pusat desa, pusat kecamatan, dan wilayah perkotaan, dapat diakses lebih dari satu arah, sehingga ada akses‑akses alternatif ketika terjadi bencana. Dari realisasi berbagai target rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur, secara umum dapat dikatakan hampir semua target tercapai. Investasi yang besar pada sektor publik ini kiranya dapat dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab pemerintah memfasilitasi prasarana dan sarana untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pada pilar perekonomian meliputi bidang kelautan dan perikanan, pertanian, pariwisata, perdagangan, perindustrian, koperasi dan usaha kecil dan menengah (UKM), serta ketenagakerjaan. Perbaikan dan peningkatan aspek fisik sarana dan prasarana publik dilakukan pada bidang kelautan dan perikanan, pertanian, pariwisata, serta perdagangan. Sedangkan untuk bidang perindustrian, koperasi/UKM, dan ketenagakerjaan, lebih ditekankan pemulihan pada aspek pelatihan, pemberian bantuan modal kerja, dan pemberdayaan. Kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi perekonomian kurang banyak digarap, mengingat konsentrasi lebih besar dilimpahkan pada rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur. Hal ini didasari pemikiran bahwa percepatan pembangunan ekonomi akan bergulir dengan sendirinya setelah infrastruktur siap. Sebagai contoh, lahirnya pengusaha‑pengusaha kopra baru di Lahewa disebabkan oleh kelancaran transportasi barang menuju pelabuhan Gunungsitoli. Sebelum ada jalan Gunungsitoli‑Lahewa, usaha kopra di Lahewa hanya dikuasai oleh satu‑dua orang pemilik kapal yang dapat mengangkut kopra langsung ke pelabuhan Gunungsitoli atau ke Sibolga. Memang secara umum target rehabilitasi dan rekonstruksi perekonomian belum tercapai sepenuhnya, khususnya di bidang perkebunan dan pertanian, tapi peningkatan akan terus diupayakan melalui Nias Livelihood and Economic Development Program, yang akan dilaksanakan Kementerian Pembangunan Daerah tertinggal selama tiga tahun (2009‑2011).

Bagian 3. Membangun Hampir Tanpa Rencana Induk

Ternyata kebutuhan terhadap infrastruktur di lapangan berbeda dengan program dan kegiatan yang dirumuskan sebelumnya. Pembangunan infrastruktur yang merupakan investasi publik yang besar ini adalah modal bagi pembangunan kembali Kepulauan Nias untuk menjadi lebih baik dan lebih siap menghadapi bencana. Kedua prinsip tersebut sangat menentukan program dan kegiatan rehabilitasi‑rekonstruksi pada paruh kedua 2007‑2009.

63

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

64

Keluarga dengan rumah bantuan UN‑Habitat di Desa Hlim Bosi, Kecamatan Sitolu Ori, Kabupaten Nias, September 2007. Foto: BRR/Bodi CH

Pengembangan kelembagaan dan kemasyarakatan ditujukan untuk memulihkan fasilitas dan kegiatan sosial yang berkaitan dengan peningkatan kualitas manusia di wilayah pascabencana serta peningkatan pelayanan pemerintah kepada masyarakat. Di bidang pendidikan, rehabilitasi dan rekonstruksi dilakukan terhadap sekitar 700 sekolah dari berbagai jenjang pendidikan. Sementara itu, di bidang kesehatan, perbaikan dan pembangunan fasilitas kesehatan dilengkapi dengan peningkatan kualitas dan jumlah tenaga medis. Baik Rencana Induk maupun Revisi Rencana Induk memang menetapkan perlunya penanganan Rumah Sakit Umum (RSU) Gunungsitoli, tapi tanpa menyebut target‑target spesifiknya. BRR Perwakilan Nias bersama dengan para mitra pemulihannya melaksanakan revitalisasi RSU Gunungsitoli sebagai bagian dari kesiagaan terhadap bencana. Pada akhir Tahun Anggaran 2008, program revitalisasi fisik telah selesai, sedangkan peningkatan kualitas tenaga medis berupa beasiswa bagi para dokter dan dokter spesialis masih berjalan. Di bidang peranan perempuan dan kesejahteraan anak serta budaya, tidak ada upaya rehabilitasi dan rekonstruksi spesifik yang ditargetkan dalam Rencana Induk dan Revisi Rencana Induk. Sampai akhir Tahun Anggaran 2008, telah dilakukan sejumlah kegiatan

Untuk bidang pemuda dan olahraga, Rencana Induk menyebutkan rehabilitasi Gelanggang Olahraga (GOR) di Nias dan perbaikan surfing judging tower (menara penilai untuk olahraga selancar) sebagai target rehabilitasi dan rekonstruksi. Sedangkan Revisi Rencana Induk hanya menyatakan perlunya perbaikan prasarana dan sarana olahraga. Pada akhir Tahun Anggaran 2008, BRR Perwakilan Nias telah merehabilitasi GOR dan membangun sebuah lapangan olahraga. Peningkatan kehidupan beragama difokuskan pada kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi sarana ibadah. Hingga akhir Tahun Anggaran 2008, telah disalurkan bantuan rehabilitasi pada 1.714 rumah ibadah, yang umumnya bangunan gereja. Menjaga kelangsungan pemerintahan dan penyelenggaraan hukum dengan memperbaiki dan membangun gedung‑gedung kantor pemerintahan menjadi target kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi di bidang kelembagaan dan hukum. Revisi Rencana Induk menyebutkan kebutuhan membangun 11 kantor kepala daerah/ dinas/DPRD, 10 kantor kecamatan, 2 kantor desa/kelurahan, 1 kantor kejaksaan negeri, 2 kantor kepolisian resor, dan 1 kantor komando distrik militer. Semua target itu terpenuhi pada akhir Tahun Anggaran 2008, bahkan pembangunan kantor kecamatan Lahewa merupakan kota yang ada di wilayah paling utara Pulau Nias, dengan jarak sekitar 87 kilometer dari Gunungsitoli. melebih target karena kontribusi proyek Nias Wilayah Lahewa merupakan permukiman pesisir penghasil Reconstruction Program yang didanai AusAID.

Rekonstruksi Infrastruktur Meningkatkan Ekonomi Masyarakat
kopra dan kelapa yang diekspor ke luar pulau, ke pasaran di daratan Sumatera, melalui pelabuhan Lahewa.

Membangun Kembali Menjadi Lebih Baik Melalui Partisipasi Masyarakat
Build back better atau membangun kembali menjadi lebih baik dapat diartikan mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pengembangan kemandirian serta peningkatan kapasitas masyarakat dan pemerintahan lokal, dengan dukungan penyediaan prasarana dan sarana sosial dan ekonomi.

Sebelum gempa terjadi, jarak tempuh dari kedua titik wilayah tersebut adalah lima jam dengan kondisi jalan yang sempit dan rusak di sejumlah ruas. Saat ini, setelah dilakukan kegiatan rehabilitasi‑rekonstruksi jalan yang menelan dana sebesar Rp 73,77 miliar, waktu tempuh menjadi hanya dua jam. Akibatnya, kopra dan kelapa dapat dikirim melalui jalan darat ke pelabuhan Gunungsitoli dan, karena itu, rantai perdagangan kopra‑kelapa yang semula dikendalikan oleh tengkulak Lahewa terputus dan muncullah pelaku usaha baru pada komoditas ini. Para pemilik kelapa, yang semula bergantung pada tengkulak yang mengatur margin keuntungan, saat ini memiliki sendiri armada pengangkut untuk mengirim kopra dan kelapa langsung ke pembeli di daratan Sumatera. Hal ini sudah pasti menyebabkan perputaran uang di wilayah Lahewa menjadi lebih besar dan lebih merata ke berbagai lapisan masyarakat.

Bagian 3. Membangun Hampir Tanpa Rencana Induk

seperti pelatihan dan penyuluhan tentang kesehatan bagi kaum perempuan, rehabilitasi rumah tradisional, fasilitasi pertemuan‑pertemuan adat, serta beberapa kegiatan lain yang bertujuan memelihara dan mengembangkan nilai‑nilai budaya tradisional Nias.

65

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

66

Ruas jalan antara Kota Gunungsitoli dan Bandara Udara Binaka, Kabupaten Nias, Februari 2008. Foto: BRR/Bodi CH

BRR Perwakilan Nias mulai menerapkan prinsip community driven secara mencolok pada Oktober 2006, ketika mengubah pendekatan konvensional terhadap pembangunan perumahan dan permukiman yang berbasis kontraktor menjadi berbasis masyarakat. Prinsip mengedepankan partisipasi aktif masyarakat selanjutnya berkembang ke berbagai sendi kehidupan bermasyarakat, dari pembangunan jalan dan jembatan hingga pelayanan kesehatan. Pemberdayaan masyarakat ini bertujuan memulihkan dan memperkuat organisasi kemasyarakatan, agar dapat segera memulai kembali aktivitas individual dan sosial melalui pengambilan keputusan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan pelestarian pembangunan secara partisipatif. Keterlibatan aktif masyarakat telah menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat, terutama di kalangan kelompok miskin dan perempuan, bahwa mereka pun mempunyai andil dalam pembangunan kampung halaman mereka. Terobosan dalam pendekatan pembangunan tersebut dilandasi pemahaman bahwa kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi tidak terbatas pada tataran fisik saja, tapi juga mencakup dimensi rehabilitasi dan rekonstruksi manusia seutuhnya.

Dari segi pembangunan fisik, prinsip membangun kembali menjadi lebih baik dimaknai sebagai rehabilitasi dan rekonstruksi bangunan dan infrastruktur yang lebih tahan gempa. Sedangkan dalam konteks pembangunan nonfisik, prinsip membangun kembali menjadi lebih baik dapat diartikan lebih luas sebagai upaya mengembangkan Kepulauan Nias menjadi wilayah yang lebih maju, membentuk budaya keselamatan (safety culture) dalam setiap pribadi masyarakat Nias mengingat wilayah kepulauan ini sering diguncang gempa, dan terlebih lagi memberdayakan masyarakat Nias agar menjadi subyek dalam pembangunan, bukan sekadar obyek. Kini pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi telah selesai. Namun itu bukan berarti roda pembangunan ikut berhenti. BRR Perwakilan Nias telah menyerahkan segala aset dan proyek pembangunan yang masih berjalan kepada otoritas lokal. Betapapun, terlepas dari berbagai kekurangan yang masih terdapat di sana‑sini, tonggak‑tonggak pencapaian yang telah ditanamkan BRR di tanah Nias menjadi pemicu bagi keberlanjutan pembangunan di masa mendatang.

Seorang warga Perumnas Dahana bermain dengan anaknya. Perumnas ini merupakan satu dari dua perumnas yang dibangun BRR di Kota Gunungsitoli. Foto: BRR/Bodi CH

Bagian 3. Membangun Hampir Tanpa Rencana Induk

67

Tantangan Melibatkan Masyarakat dalam Rekonstruksi
dan permukiman merupakan pilar pertama dalam kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Nias. Pembangunan kembali kawasan perumahan yang sehat dan nyaman dengan prinsip build back better bertujuan meningkatkan taraf hidup dan kualitas bermukim masyarakat Nias, sekaligus alih pengetahuan dan keterampilan membangun rumah. Pembangunan unit rumah baru di wilayah Kepulauan Nias melampaui hitungan rumah yang rusak akibat bencana. Inilah konsekuensi membangun kembali menjadi lebih baik, di tengah tantangan kemiskinan dan kesulitan lain yang telah lama diderita masyarakat. Sejak dimulainya pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan di Nias pada pertengahan 2005, muncul berbagai masalah yang menghambat. Sebagian besar masalah berakar pada kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat di Kepulauan Nias yang berkaitan: sulitnya transportasi, rendahnya daya beli masyarakat terhadap bahan bangunan berkualitas, kurangnya kesadaran akan konstruksi yang baik, minimnya ketersediaan tukang bangunan terampil, sedikitnya akses terhadap sumber daya ekonomi, dan rendahnya kejujuran dalam menyampaikan data penerima bantuan rumah. Di antara berbagai upaya mencari solusi terhadap tantangan membangun rumah di Kepulauan Nias pascabencana, yang paling menonjol adalah perubahan paradigma pembangunan rumah dari berbasis kontraktor menjadi pembangunan rumah yang

PERUMAHAN

Meskipun telah menerima rumah baru, masyarakat di Kec. Gunungsitoli Utara tetap menggunakan rumah kayu yang mereka miliki sebelumnya untuk banyak keperluan hidup lainnya. Foto: BRR/Bodi CH

Bagian 4. Tantangan Melibatkan Masyarakat dalam Rekonstruksi

69

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Rumah Bantuan Nias Dibongkar Paksa
Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Perwakilan Nias bekerja sama dengan Non‑Government Organization (NGO) Samaritan’s Purse sebagai pemberi bantuan, Kamis (15/2), membongkar paksa dua unit rumah bantuan NGO itu karena telah terjadi rekayasa data penerima bantuan. Pembongkaran paksa dua unit rumah bantuan yang dibangun NGO Samaritan’s Purse terjadi di Desa Balohili, Kecamatan Botomuzoi, Nias. Dari keterangan yang dihimpun Waspada, eksekusi pembongkaran rumah tersebut akibat terjadinya pemalsuan identitas si penerima bantuan. Dari data awal, yang berhak menerima bantuan rumah dari NGO Samaritan’s atas nama Bazisokhi Gea, tapi setelah rumah selesai dibangun terungkap bahwa bangunan dikuasai Daliwanolo. Ada dugaan, peralihan rumah bantuan itu akibat aksi jual‑beli yang merupakan rekayasa oknum Kepala Desa Balohili. Menyikapi permasalahan itu, pihak NGO Samaritan’s melakukan koordinasi kepada BRR Perwakilan Nias untuk melakukan eksekusi pembongkaran, sekaligus sebagai pembelajaran bagi masyarakat dan desa‑desa lainnya. Untuk menjaga hal‑hal yang tidak diinginkan dalam pelaksanaan eksekusi, pihak Samaritan’s meminta dukungan dan keamanan dari aparat keamanan. Selama berjalan, eksekusi pembongkaran rumah dikawal puluhan petugas dari Polres Nias dibantu sejumlah anggota Kodim 0213 Nias. Pembongkaran itu dihadiri Pimpinan Samaritan’s Wilayah Nias, Priskila Brink, Shelter Project Manager, Paul Brink, disaksikan staf khusus Kepala BRR Perwakilan Nias, Kombes Pol. Sugito, Kombes Pol. P. Nainggolan, Kepala Distrik BRR Nias Yupiter Gulo, Kepala Unit Pengawas Internal BRR Nias, T. Edwar David, B.B.A., Camat Botomuzoi, Ajran Caniago, S.H. Pimpinan NGO Samaritan’s Purse Wilayah Nias, Priskila Brink, saat dikonfirmasi di lokasi pembongkaran tidak bersedia berkomentar. Alasannya, tidak memiliki wewenang memberi keterangan pers. Di tempat sama, Kombes Pol. Sugito sebagai staf khusus Kepala BRR Perwakilan Nias mengatakan, tidak ada keterlibatan BRR Perwakilan Nias dalam eksekusi. Pihaknya hanya diminta dukungan dan bantuan keamanan. Dijelaskannya, BRR Nias telah membentuk Tim Verifikasi Perumahan melibatkan Polri, Kejaksaan, TNI, dan Pemda. Tujuannya mendata kembali nama‑nama korban gempa yang berhak menerima rumah bantuan. Bila ditemukan ada data fiktif penerima bantuan perumahan, BRR akan melakukan pembongkaran, serta siapa saja oknum yang terlibat merekayasa data tersebut akan diproses hukum. (cbj) (wns)
Sumber: Waspada Online, 16 Februari 2007

bertumpu pada partisipasi aktif masyarakat. Ini suatu terobosan tentang pemberdayaan masyarakat yang patut dikembangkan dalam berbagai aspek pembangunan masyarakat lainnya.

Lonjakan Angka Kebutuhan Rumah
Sebelum tsunami 26 Desember 2004 dan gempa bumi 28 Maret 2005 melanda wilayah Kepulauan Nias, sebagian besar pembangunan rumah dilakukan oleh warga sendiri. Di ibu kota Nias, Gunungsitoli, hanya ada dua perumahan yang dibangun terencana, yaitu Perumnas di Desa Fodo dan di Desa Dahana. Dengan segala keterbatasan, masyarakat membangun rumah mereka secara bertahap sesuai dengan ketersediaan dana dan bahan bangunan. Sebagian besar rumah di Gunungsitoli dibangun dengan konstruksi beton, dengan dinding bata atau batako, dan beratap seng. Bahan bangunan modern dan tukang terampil memang lebih terkonsentrasi di perkotaan. Sementara itu, di pedesaan, tidak banyak rumah berstruktur beton dengan dinding bata atau batako. Kebanyakan rumah dibangun dengan struktur utama kayu atau setengah tembok dan setengah kayu. Keluarga miskin menempati rumah berdinding kayu atau anyaman bambu kasar seadanya, dengan lantai tanah dan atap rumbia. Lain lagi rumah di desa tradisional. Sebagian besar rumah di sana dibangun dengan kayu dan usia bangunannya sudah lebih dari dua generasi, sehingga bahan bangunan mulai lapuk dan bahkan rusak. Menariknya, sebagian besar bangunan tradisional itu tidak

70

roboh diguncang gempa dahsyat. Bagian rumah yang rusak justru bangunan tambahan berdinding bata di belakang rumah, yang biasanya digunakan penduduk sebagai dapur, kamar kecil, atau kandang babi. Setelah gempa, jelas terlihat kegagalan konstruksi beton yang menggunakan bata atau batako pada rumah tinggal, toko, atau kantor. Penyebab utamanya adalah kurangnya pengetahuan tentang bangunan konstruksi beton. Besi yang digunakan sama sekali tidak memenuhi syarat untuk konstruksi beton bertulang. Akibatnya, perumahan di perkotaan paling banyak mengalami kerusakan, diikuti sebagian rumah di pinggir kota dan pedesaan yang menggunakan konstruksi beton. Sesuai dengan Peraturan Kepala Badan Pelaksana Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD‑Nias Nomor 3/PER/BP‑BRR/I/2007, yang berhak mendapat Bantuan Pembangunan Rumah Baru (BPRB) dari BRR dan mitra pemulihannya —Perserikatan Bangsa‑Bangsa, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan Palang Merah Internasional— adalah korban bencana gempa dan tsunami yang rumahnya hancur. Pembangunan dilakukan berdasarkan kesepakatan dengan masyarakat dan perangkat desa. Untuk satu unit rumah yang hancur akibat bencana, pemilik atau ahli warisnya menerima satu unit BPRB tipe 36. Jika sebelum bencana di dalam satu rumah tinggal beberapa keluarga, BPRB diberikan kepada keluarga atau ahli waris yang memiliki hak atas tanah dan rumah. Sedangkan keluarga lain yang tidak menerima BPRB diberi bantuan sosial untuk mencari tempat tinggal sendiri.

Rumah tradisional Nias (atas) di Kabupaten Nias Selatan dan Kabupaten Nias. Perumahan lebih modern (bawah) di daerah yang mendekati daerah perkotaan. Foto: Dokumentasi BRR

Bagian 4. Tantangan Melibatkan Masyarakat dalam Rekonstruksi

71

Memo Internal BRR Perwakilan Nias 29 Januari 2007
NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Manipulasi Data Penerima Bantuan Secara Kolektif oleh Masyarakat di Hiliserangkai

72

Karena sering terjadi bantuan rumah kepada orang yang bukan korban dan banyak protes dari masyarakat, sejak September 2006, proses penetapan penerima bantuan perumahan menggunakan mekanisme yang transparan melalui musyawarah desa. Dengan konsultasi publik semacam ini diharapkan terjadi peningkatan akuntabilitas daftar penerima bantuan. Namun ada kekhawatiran yang antara lain disuarakan oleh pihak Pemkab dan aparat kecamatan pada saat sosialisasi kebijakan. Menurut mereka, masyarakat desa akan berkonspirasi untuk memanipulasi daftar penerima bantuan rumah. Kekhawatiran ini terbukti. Masyarakat Desa Fulolo Lalai, Kecamatan Hiliserangkai, melakukan konspirasi tersebut. Terkait hal ini maka pada tanggal 29 Januari 2007 BRR mengeluarkan memorandum internal yang kemudian menjadi dasar pengambilan keputusan untuk menunda proses pemberian bantuan perumahan di desa tersebut. Substansi memo yang menggambarkan situasi yang terjadi tersebut adalah sebagai berikut:

1. Sesuai dengan laporan Tim Pengembangan Masyarakat BRR Nias dan pengaduan masyarakat, terdapat indikasi bahwa proses penentuan penerima bantuan perumahan di Desa Fulolo Lalai (Kec. Hiliserangkai) telah dimanipulasi. Adapun ringkasan kronologi kejadiannya adalah sebagai berikut: 2. Musyawarah Desa I dilaksanakan pada tanggal 13 November 2006 yang diikuti dengan verifikasi lapangan dan dihadiri oleh seluruh penduduk desa. Kegiatan ini mengidentifikasikan 32 rumah roboh karena gempa bumi yang antara lain terlihat sebagai tapak rumah yang hanya tinggal memiliki fondasi, di mana masyarakat yang hadir mengatakan bahwa rumah‑rumah tersebut hancur pada waktu gempa bumi. 3. Musyawarah Desa II dilaksanakan pada tanggal 28 November 2006 didahului dengan uji publik hasil verifikasi lapangan pada Musyawarah Desa I (tidak ada sanggahan dari publik), menetapkan 32 calon penerima bantuan. 4. Selanjutnya pada Musyawarah Desa II tersebut juga dibentuk 2 KSM (kelompok swadaya masyarakat), yang diikuti dengan pembukaan rekening di Bank BRI atas nama 3 orang pengurus dan 1 fasilitator BRR Nias. 5. Pada tanggal 15 Desember 2006 melalui voting tertutup, masyarakat Desa Fulolo Lalai (Kec. Hiliserangkai) membentuk Komite Percepatan Pembangunan Perumahan dan Permukiman Desa (KP4D) dengan anggota sebanyak 6 orang. Komite ini akan berfungsi sebagai dewan pengawas terhadap KSM. 6. Tim Pengembangan Masyarakat BRR Perwakilan Nias menerima surat pengaduan masyarakat tanpa tanggal (terlampir) yang ditandatangani oleh Asafati Mendrofa dan Ogamota M. yang menyebutkan bahwa ada 17 nama calon penerima bantuan yang tidak tepat sasaran. 7. Atas dasar pengaduan tersebut Tim Pengembangan Masyarakat BRR Perwakilan Nias melakukan koordinasi dengan Kepala Desa pada tanggal 4, 5, dan 7 Januari 2007, dan mendapat jadwal Musyawarah Desa khusus untuk mengklarifikasi pengaduan tersebut pada tanggal 8 Januari 2007.

8. Sesuai kesepakatan dengan Kepala Desa, Tim Pengembangan Masyarakat BRR Nias datang pada tanggal 8 Januari 2007 untuk melakukan Musyawarah Desa khusus. Kepala Desa secara sepihak membatalkan musyawarah tersebut sehingga tidak terjadi proses klarifikasi publik atas pengaduan tersebut. 9. Pada tanggal 13 Januari 2007 Tim Pengembangan Masyarakat BRR Nias menerima surat pengaduan yang menyebutkan bahwa beberapa nama calon penerima bantuan tidak layak menerima bantuan antara lain karena: tidak tinggal di Nias pada saat gempa dan tidak memiliki rumah, merobohkan rumahnya sendiri agar mendapat bantuan, merekayasa foto bukti kerusakan. Surat ditandatangani oleh Asafati Mendrofa, Ogamota Mendrofa, Mewarna Mendrofa, Haogoli Mendrofa, Demitianus Mendrofa, Elibudi Mendrofa, Yusufati Mendrofa, dan Totonafozanolo Mendrofa. 10. Tim Pengembangan Masyarakat BRR Nias melakukan koordinasi dengan Kepala Desa pada tanggal 17 Januari 2007 untuk mengklarifikasi surat pengaduan kedua. Informasi dari masyarakat pada saat itu adalah hanya 6 nama dari 32 nama calon penerima bantuan yang benar‑benar rusak total. 11. Tim Pengembangan Masyarakat BRR Nias melakukan koordinasi dengan Kecamatan dan Kepala Desa pada tanggal 18 Januari 2007 untuk menetapkan jadwal Musyawarah Desa khusus, dan diputuskan bahwa pada tanggal 23 Januari 2007 akan diadakan Musyawarah Desa Klarifikasi. 12. Musyawarah Desa Klarifikasi tidak jadi dilaksanakan karena dibatalkan oleh pihak desa. 13. Tim Pengembangan Masyarakat BRR Nias kembali melakukan koordinasi dengan Kecamatan dan Kepala Desa pada tanggal 25 Januari dan mendapatkan informasi sebagai berikut: • Keterangan dari Kepala Desa, Musyawarah Desa Klarifikasi tidak jadi dilaksanakan karena yang mempermasalahkan adalah BRR Nias, jadi pihak pengundang masyarakat seharusnya adalah BRR Nias. • Menurut Kepala Desa, diadakannya Musyawarah Desa Klarifikasi malah akan memperuncing masalah jika kesepakatan awal (32 calon penerima bantuan) tidak semuanya mendapat bantuan rumah. • Untuk meminimalkan masalah, pihak Kecamatan Hiliserangkai berharap BRR Nias memasukkan 7 orang pelapor tersebut di atas dalam daftar calon penerima bantuan. 14. Diminta kepada Staf Khusus Kepala BRR Nias untuk melakukan koordinasi proses investigasi terhadap indikasi konspirasi memanipulasi data calon penerima bantuan, dan jika diperlukan melakukan proses hukum selanjutnya, termasuk berkoordinasi dengan Kepolisian Resort terkait dan badan hukum lainnya. 15. Tindakan hukum ini perlu dilakukan untuk menjaga kredibilitas dan akuntabilitas BRR Nias sebagai lembaga negara, dan agar ketertiban administrasi pelaksanaan kegiatan pembangunan tetap dapat dijaga.

Bagian 4. Tantangan Melibatkan Masyarakat dalam Rekonstruksi

73

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

74

Kawasan perkampungan yang hancur akibat gempa di Kecamatan Lahewa, Kabupaten Nias, September 2005. Foto: BRR/Bodi CH

Ketidakseragaman pendataan menyulitkan pihak‑pihak yang berkepentingan memperoleh angka yang tepat untuk program rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan. Data Satkorlak menyebutkan 16.161 rumah rusak. Sedangkan IOM mencatat sekitar 15.800 rumah setelah melakukan ekstrapolasi dengan data yang diambil dari 80 persen wilayah. Sedangkan empat lembaga lainnya yaitu Biro Pusat Statistik (BPS), Bappenas, United Nations Population Fund (UNFPA), dan New Zealand’s International Aid and Development Agency (NZAID) dalam survey bersamanya menetapkan 10.070 rumah rusak yang perlu direkonstruksi. Akhirnya, BRR dan para mitra pemulihannya bersepakat bahwa semuanya itu memiliki kekurangan sehingga perlu dilakukan verifikasi ulang di lapangan dengan data Satkorlak sebagai data awal. Hasilnya, diperoleh angka 19.055 unit rumah yang kemudian menjadi patokan bersama. Sementara itu, Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD‑Nias 2005‑2009 menyebutkan, rumah yang rusak total akibat bencana tsunami Desember 2004 dan gempa Maret 2005 di Kepulauan Nias mencapai 13.480 unit.9 Pada Revisi Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD‑Nias 2007‑2009, target pembangunan rumah baru di Kepulauan Nias diubah menjadi 17.184 unit dari keseluruhan target pembangunan rumah NAD‑Nias sebanyak 139.195 unit10. Akhirnya ketika kantor BRR Perwakilan Nias ditutup pada 19 Desember 2008, rumah baru yang telah dibangun sebanyak 14.464 unit. Sedangkan pada pertengahan 2009, 20.838 unit rumah akan terbangun.

Jumlah komitmen rumah baru yang telah dan akan terbangun hingga pertengahan 2009 lebih banyak dibandingkan dengan angka kerusakan rumah akibat bencana alam. Ini disebabkan oleh tiga hal, yakni rasa empati untuk mengganti pula rumah‑rumah yang tidak memenuhi standar kelayakan, rasa keadilan sosial yang diterapkan secara luas oleh negara‑negara donor, dan pertimbangan pengurangan risiko bencana di masa depan. Dari sisi masyarakat Nias sendiri, tampak ada pergeseran persepsi terhadap BPRB. Awalnya, ketika para korban sedang berusaha kembali ke situasi normal pascabencana, masyarakat umumnya memandang BPRB sebagai usaha menggantikan rumah yang rusak bagi para korban. Namun, ketika BRR dan mitra pemulihannyanya telah merealisasi BPRB dengan kondisi rumah lebih baik, sejumlah anggota masyarakat dan aparat pemerintahan dari berbagai tingkatan mulai berupaya memperoleh bantuan perumahan atau menarik manfaat lain untuk pribadi meskipun mereka sama sekali bukan korban. Berbagai penyelewengan dilakukan, antara lain merobohkan rumah sendiri atau menunjukkan rumah yang baru dibangun sebagian sebagai rumah yang rusak akibat gempa. Ada juga yang berusaha memasukkan kerabat ke daftar penerima bantuan karena merasa memiliki otoritas untuk mengesahkan daftar penerima bantuan. Kombinasi antara syarat kelayakan penerima BPRB dan hal‑hal yang bertalian dengan penyimpangan di lapangan membuat data jumlah rumah yang rusak karena bencana dan penerima bantuan senantiasa mengalami perubahan.

Keluarga berkumpul di depan rumah bantuan LSM Holi’ana’a di desa Batolakha, Kecamatan Tuhemberua, Kabupaten Nias, September 2007. Foto: BRR/Bodi CH

Bagian 4. Tantangan Melibatkan Masyarakat dalam Rekonstruksi

75

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

76

Rumah yang dibangun melalui skema Bantuan Langsung Masyarakat BRR di Kecamatan Lolowa’u, Kabupaten Nias Selatan, berdiri di sebelah rumah tua. Foto: Dok. Dokumentasi BRR

Mengembangkan Kerja Sama Berbagai Lembaga
BRR Perwakilan Nias bermitra dengan Perserikatan Bangsa‑Bangsa, Palang Merah Internasional, dan begitu banyak LSM dalam menyalurkan bantuan pembangunan rumah baru kepada korban bencana. BRR Perwakilan Nias juga mengembangkan strategi memperluas cakupan Proyek Pengembangan Kecamatan (PPK),11 yang selama ini dibiayai Bank Dunia, dengan menambahkan komponen pembangunan perumahan pada proyek itu. PPK yang telah dilaksanakan sejak 1999 itu dipaketkan dengan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pulau Nias menjadi PPK‑R2PN.12 Anggaran proyek ini diperoleh dengan menggabungkan dana Multi Donor Fund (MDF) dan pemerintah Indonesia yang dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dana APBN seluruhnya dipakai untuk membiayai komponen perumahan, sedangkan hibah luar negeri lewat MDF ditujukan bagi pembangunan komponen sekolah dan pengadaan peralatannya serta pembangunan balai desa. PPK menerapkan prinsip keterlibatan masyarakat. Proses konsultasi yang panjang dengan masyarakat, terkait dengan penentuan desain dan kepemilikan rumah, menyebabkan proyek ini berjalan lambat. Pelaksana proyek baru dapat melakukan konstruksi fisik menjelang akhir 2007. Keterlambatan ini juga terjadi pada rehabilitasi dan rekonstruksi sekitar 1.000 unit rumah di empat desa di Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, yang pendanaannya diperoleh dari Bank Pembangunan Asia (ADB). Rincian pencapaian pembangunan perumahan tahun 2005‑2008 oleh BRR Perwakilan Nias, ADB, dan Bank Dunia melalui kegiatan PPK‑R2PN, dengan asumsi seluruh komitmen donor dan BRR berjalan sesuai dengan rencana, dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1. Pencapaian Pembangunan Perumahan 2005‑2008 di Kepulauan Nias

No

Sumber

Jumlah 620 6.277 4.874 4.590 284 1.360 ‑ 10.070 8.390 8.152 238 1.560 ‑ 476 ‑ ‑ ‑ 476 ‑ 3.995 1.200 1.200 ‑ 1.794 ‑ 20.818 14.464 13.942 522 5.190 ‑

Rincian per Kabupaten NIAS 443 5.334 4.198 3.915 283 1.136 ‑ 6.468 5.480 5.242 238 988 ‑ NIAS SELATAN Bagian 4. Tantangan Melibatkan Masyarakat dalam Rekonstruksi 177 943 676 675 1.00 224 ‑ 3.602 2.910 2.910 ‑ 572 ‑ 476 ‑ ‑ ‑ ‑ 2.031 1.200 1.200 ‑ 831 ‑ 3.833 10.878 10.357 521 2.955 ‑ ‑ ‑ ‑ 476 ‑ 1.964 ‑ ‑ ‑ 963 ‑ 6.980 3.586 3.585 1 2.235 ‑

JUMLAH DESA 1 LSM Dibangun Selesai Dihuni Tidak Dihuni Sedang Kerja Terbengkalai 2 BRR (Rupiah Murni) Dibangun Selesai Dihuni Tidak Dihuni Sedang Kerja Terbengkalai 3 BRR‑ADB Dibangun Selesai Dihuni Tidak Dihuni Sedang Kerja Terbengkalai 4 BRR‑R2PN Dibangun Selesai Dihuni Tidak Dihuni Sedang Kerja Terbengkalai TOTAL a Dibangun b Selesai c Dihuni d Tidak Dihuni e Sedang Kerja f Terbengkalai

77

Rumah Bantuan Bank Pembangunan Asia (ADB)
NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Mengadopsi Kearifan Lokal
konsultannya, telah menyusun dokumen perencanaan pembangunan untuk Kabupaten Nias Selatan. Tahap pertama adalah membuat studi kelayakan Sub‑Project Appraisal Report (SPAR), yang dilanjutkan dengan dokumen perencanaan lain, seperti Perencanaan Desa (Village Plan) dan Sub‑Project Preparation Report (SPPR).
Rehabilitasi rumah tradisional di Desa Hilinawalo. Dokumentasi BRR

SEJAK 2006, ADB, melalui para

Meski demikian, pada penyusunan dokumen terakhir SPPR, juga dilakukan perencanaan rinci yang mencerminkan kebutuhan individual penerima manfaat. Sebagai konsekuensi pembangunan yang menyeluruh tersebut, kemungkinan untuk melaksanakan proyek ini dengan jasa kontraktor menjadi kecil. Kebutuhan antara satu rumah dan rumah lain sangat berbeda. Sejalan dengan kebijakan BRR, proses pembangunan rumah dilaksanakan dengan bentuk partisipasi masyarakat

78

Penekanan perhatian bukan secara individual, melainkan pembangunan permukiman secara menyeluruh.

atau masyarakat sendiri yang melaksanakan proses pembangunan. Sebagai hasil konsultasi dengan BRR, lokasi proyek diarahkan pada kawasan yang belum mendapat bantuan. Dua lokasi ditetapkan berada jauh di pedalaman Nias Selatan, yakni Desa Bawogosali dan Hilimondregeraya, yang juga merupakan desa adat. Sedangkan dua lokasi lagi berada di dekat daerah perkotaan (Teluk Dalam), yaitu Desa Bawoganowo dan Desa Hilinamoniha. Walaupun dokumen SPAR dan Village Plan telah selesai pada Agustus 2006, mobilisasi tim konsultan pelaksana (Project Implementation Consultant) untuk Nias Selatan mengalami hambatan sampai Maret 2007, sehingga pelaksanaan kontrak dengan masyarakat baru dapat dilaksanakan pada Juni dan Juli 2007. Karena berbagai masalah lapangan serta penyesuaian rancangan rumah dan verifikasi penerima manfaat, kontrak dengan kelompok masyarakat tidak dapat dilaksanakan sekaligus, maka kegiatan konstruksi fisik pun mengalami keterlambatan. Karena keterlambatan tersebut, dana bantuan ADB pun harus dipindahkan pelaksanaannya ke tahun berikutnya atau dikucurkan pada Tahun Anggaran 2008. Setelah menuai kritik dari kalangan budayawan pada 2007, desain rumah di desa tradisional pun disesuaikan lagi dengan karakteristik desa tradisional yang bersangkutan, dengan pengecualian pada bangunan yang tetap menggunakan bahan bangunan modern. Terkait dengan bantuan ini, beberapa penerima manfaat tetap membangun kembali rumah mereka sesuai dengan

model rumah tradisional Nias Selatan, meski harus menambah dana dari kantong pribadi. Pasalnya, pembangunan rumah tradisional membutuhkan dana hampir dua kali lipat dari alokasi dana yang diberikan. Upaya masyarakat ini baik untuk tetap menjaga kelestarian tradisi bangunan tradisional di Nias Selatan. Pada 2007 juga disepakati untuk memperluas intervensi pembangunan rumah adat dengan merehabilitasi rumah adat yang rusak di desa‑desa tradisional lain di Kabupaten Nias Selatan. Tujuh desa akhirnya terpilih menerima bantuan ini, yaitu Desa Onohondro, Hilisimaetano, Lahusa Fau, Hilinamozaua, Botohilitano, Hilinawalo Mazingo, dan Hilizoroilawa. Penekanan rehabilitasi rumah tradisional adalah pada perbaikan struktur utama rumah dan perbaikan prasarana desa. Desa‑desa yang mendapat bantuan ADB dengan penduduk mencapai 6.000 orang memperoleh banyak manfaat melalui program ini. Selain itu, 11 desa di Kecamatan Teluk Dalam dengan jumlah penduduk 31.412 jiwa turut mendapatkan manfaat karena perbaikan prasarana. Perkiraan kebutuhan dana untuk proyek ini sebesar Rp 49.704.044.000 atau US$ 5.522.672.

Rumah beton di Desa Bawogosali, Kabupaten Nias Selatan, yang mengadopsi bentuk rumah tradisional Nias Selatan Foto: Dokumentasi BRR

Bagian 4. Tantangan Melibatkan Masyarakat dalam Rekonstruksi

79

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Sekitar 60 persen rumah keluarga miskin di Kepulauan Nias umumnya berada di tempat yang sulit dijangkau lantaran minimnya dukungan infrastruktur. Dari pengalaman saat melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi, setidaknya ada empat kesenjangan yang dijumpai di lapangan. Pertama, rekonstruksi dan rehabilitasi perumahan sebagian dilaksanakan hanya dengan mengganti rumah yang rusak total, tanpa memanfaatkan momentum untuk memperbaiki prasarana dasar lingkungannya. Kedua, kualitas perumahan yang dibangun memang lebih baik, tapi karena perumahan itu dibangun di tengah lingkungan miskin, timbul kecemburuan sosial dari penduduk setempat yang tidak mendapat bantuan. Kecemburuan sosial ini juga memberikan tekanan cukup besar bagi para donor yang terutama memandangnya dari sudut keadilan sosial.
Tabel 4.2. Kebutuhan Logistik Rekonstruksi Perumahan

80

Kecamatan Afulu Alasa Lahewa Lotu Namohalu Esiwa Tuhemberua Mandrehe Tugala Oyo Sirombu Bawolato Gido Gunungsitoli Hiliduho Idano Gawo Lolofitumoi Total Nias Total Tonase Nias

Jumlah Rumah 2.606 791 1.631 558 147 508 451 19 75 463 894 2.032 178 370 515 11.238

Semen (Sak @ 40 kg) 201.200 82.500 104.340 55.800 14.700 50.800 45.520 1.900 9.000 46.300 89.400

Pasir dan Kerikil (ton) 40.240 16.500 20.868 11.160 2.940 10.160 9.104 380 1.800 9.260 17.880

Besi Beton (12 mm x 8 m) 160.800 59.325 83.475 41.850 11.025 38.100 33.825 1.425 5.625 34.725 67.050

Kayu Struktur (m3) 10.026 2.407 7.447 1.674 441 1.524 1.357 57 240 1.389 2.682

Ketiga, karena bermukim di tempat terpencil, sebagian warga tidak hanya tak memperoleh bantuan pembangunan rumah, tapi juga tak mendapat bantuan lain, seperti bantuan di sektor pertanian, yang merupakan penunjang utama kehidupan masyarakat setempat. Ketiadaan akses jalan yang memadai untuk mencapai sentra‑sentra ekonomi seperti pasar mengakibatkan mereka sulit membawa hasil panen ke sana. Alhasil, mereka tidak memiliki penghasilan untuk memperbaiki rumah sendiri.

Keempat, pembangunan rumah kembali dengan desain yang tidak 221.500 44.300 152.400 6.279 memperhatikan konteks budaya 17.800 3.560 13.350 534 lokal kerap terjadi di kawasan 37.000 7.400 27.750 1.110 permukiman di Kepulauan Nias. 51.500 10.300 38.625 1.545 Bentuk rumah dinding bata 1.029.260 205.852 769.350 38.712 dianggap tidak sesuai dengan 41.170 5.385 30.969 2.330 bentuk bangunan tradisional setempat, sehingga sering menuai kritik dari kalangan budayawan. Sementara itu, penyesuaian bentuk bangunan dengan budaya setempat sebenarnya masih menjadi bahan perdebatan karena bersifat subyektif.

Tabel 4.2 menggambarkan kebutuhan bahan bangunan untuk rekonstruksi perumahan di Kabupaten Nias sepanjang periode Juli 2006‑Desember 2007 (18 bulan). Setidaknya total tonase kebutuhan bahan bangunan utama tersebut mencapai 79.854 ton. Artinya, untuk setiap unit rumah dibutuhkan bahan bangunan seberat 7,1 ton, dan setiap harinya dibutuhkan bahan bangunan sebanyak 147,9 ton. Kebutuhan semen per hari mencapai 3,66 ton atau sama dengan 1.906 sak. Dengan bahan bangunan semen, besi, dan kayu harus didatangkan dari luar Pulau Nias, dapat dibayangkan tantangan pelaksanaan rekonstruksi perumahan di Nias. Kesulitan ini tercermin dari lamanya periode pelaksanaan pembangunan rumah, yang untuk setiap unitnya rata‑rata dibutuhkan waktu penyelesaian 9‑10 bulan dari seharusnya 4 bulan. Untuk rekonstruksi perumahan di wilayah perbukitan, wilayah tanpa akses kendaraan bermotor, dan pulau‑pulau kecil, tantangan pengadaan logistik ini menjadi berkali lipat. Adanya beberapa kesenjangan tersebut membuat BRR merasa perlu mencetuskan landasan pelaksanaan rekonstruksi perumahan, seperti yang tercantum dalam buku Revisi Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD‑Nias 2007‑2009, yang dapat menjadi panduan dalam melaksanakan mandat membangun hunian yang sehat dan nyaman. Dalam Revisi Rencana Induk, tertera 16 organisasi nasional dan internasional yang hingga akhir Desember 2008

1.

Membantu dan melaksanakan rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan beserta prasarana dan sarana dasar pendukungnya bagi korban bencana. Melakukan pemulihan perumahan dan permukiman masyarakat, terutama milik masyarakat miskin dan kelompok rentan lain serta di kawasan yang mengalami kerusakan paling parah. Melakukan pemulihan sarana dan prasarana pendukung perumahan dan permukiman melalui peningkatan pelayanan air bersih, sanitasi, dan drainase skala komunal. Menerapkan mekanisme pembangunan perumahan dan permukiman yang dilakukan secara swadaya dan gotong‑royong oleh masyarakat, termasuk mekanisme distribusi bahan bangunan serta sistem informasi pembangunan perumahan dan permukiman. Melaksanakan strategi pengendalian dengan penentuan penerima yang tepat sasaran, meningkatkan mutu konstruksi rumah yang dibangun dan kualitas bahan yang digunakan, serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan dan pengawasan konstruksi. Melakukan peningkatan kapasitas dan peran pemerintah kabupaten dalam memfasilitasi masyarakat untuk membangun perumahan, termasuk mendukung proses rehabilitasi rumah berbasis kebutuhan dan prakarsa masyarakat. Meningkatkan kapasitas dan keterampilan masyarakat, terutama informasi tentang hak dan tanggung jawabnya. Menerapkan sistem pengawasan dan pemantauan terhadap bantuan perumahan berbasis komunitas.
Sumber: Buku Revisi Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi BRR NAD‑Nias 2007‑2009

2.

3.

4.

5.

6.

7. 8.

Bagian 4. Tantangan Melibatkan Masyarakat dalam Rekonstruksi

Hal‑Hal Penting sebagai Landasan Pelaksanaan Rekonstruksi Perumahan di Kepulauan Nias

81

Tabel 4.3. Rincian Kemajuan Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Kabupaten Nias dan Nias Selatan 2005‑2008

82

Kecamatan Afulu Alasa Bawolato Botomuzoi Gido Gunungsitoli Gunungsitoli Aloa Gunungsitoli Idanoi Gunungsitoli Utara Hiliduho Hiliserangkai Idanogawo Lahewa Lahewa Timur Lahomi Lolofitumoi Lotu Mandrehe Mandrehe Barat Mandrehe Utara Ma’u Moro’o Namohalu Esiwa Sawo Simolomolo Sirombu Sitolu Ori Tugala Oyo Tuhemberua Ulugawo Ulumoro’o TOTAL Kecamatan Amandraya Gomo Hibala Lahusa Lolomatua Lolowau Pulau‑pulau Batu Telukdalam TOTAL

Nias Rekonstruksi Rehabilitasi 10 ‑ 284 ‑ 114 ‑ 33 ‑ 578 ‑ 1.663 3.559 4 1.055 448 ‑ 178 ‑ 70 ‑ 40 ‑ 342 ‑ 127 ‑ 5 ‑ 91 ‑ 304 ‑ 312 ‑ 311 1.650 33 599 ‑ 696 35 ‑ 78 ‑ 48 ‑ 159 ‑ 4 ‑ 32 ‑ 63 ‑ 25 ‑ 241 ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ 5.632 7.559 Nias Selatan Rekonstruksi Rehabilitasi 393 368 306* 842* 41 ‑ 541 389* 358 612 371 602 82 ‑ 1.235* 1.210* 3.327 4.023

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

BSBT ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ 153 ‑ ‑ 15 ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ 168 BSBT ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑

R2PN LSM/PBB TOTAL ‑ 1.021 1.031 ‑ 245 529 ‑ ‑ 114 ‑ 109 142 265 ‑ 843 ‑ 162 5.537 ‑ 26 1.085 224 ‑ 672 87 ‑ 280 ‑ 164 234 ‑ 47 87 388 126 856 ‑ 1.188 1.315 83 483 571 ‑ ‑ 91 242 ‑ 546 ‑ ‑ 312 ‑ 31 1.992 ‑ 161 793 ‑ ‑ 696 ‑ ‑ 35 ‑ 1 79 223 ‑ 271 154 104 417 87 ‑ 91 ‑ 641 673 105 110 278 ‑ ‑ 25 30 472 743 ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ ‑ 1.888 5.091 20.338 R2PN LSM/PBB TOTAL 303 ‑ 1,064 399 1,547 ‑ ‑ 41 238 498 1,666 ‑ ‑ 970 181 ‑ 1.154 ‑ ‑ 82 240 351 3.036 962 1.248 9.560

Keterangan: BSBT Bantuan Sosial Berumah Tinggal LSM/PBB Lembaga Swadaya Masyarakat atau Lembaga PBB R2PN Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pulau Nias Sebagian didanai oleh NGO dan ADB *

menjadi mitra pemulihan BRR Perwakilan Nias dalam melaksanakan kegiatan rekonstruksi perumahan dan permukiman di Kabupaten Nias dan Nias Selatan. Tabel 4.3 menyajikan rincian pencapaian pembangunan perumahan dan permukiman di kedua kabupaten pada 2005‑2008 disertai dengan organisasi nasional dan internasional yang menyokong pembangunan tersebut.

Rekonstruksi Perumahan oleh Kontraktor atau Masyarakat
Awalnya BRR Perwakilan Nias memanfaatkan jasa kontraktor untuk melakukan rekonstruksi perumahan di Kepulauan Nias. Hal yang sama diterapkan mitra pemulihan lain, seperti Palang Merah Belanda dan beberapa lembaga lain. Dengan menggunakan kontraktor, waktu pelaksanaan pembangunan dapat ditekan sehingga percepatan pembangunan rumah pun dapat dikejar. Namun rendahnya kemampuan kontraktor dan konsultan pengawas lokal menyebabkan pembangunan tidak mencapai hasil maksimal dan justru menimbulkan banyak keluhan dari penerima manfaat. Masalah yang paling banyak diprotes adalah

Rekonstruksi rumah di desa tradisional Bawogosali dengan dana ETESP‑ADB (kiri atas dan bawah). Rumah tradisional Nias yang mendapat bantuan rehabilitasi dari Dinas Pariwisata Kabupaten Nias (kanan bawah) dan Kedutaan Besar. Foto: Dokumentasi BRR

Bagian 4. Tantangan Melibatkan Masyarakat dalam Rekonstruksi

83

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Hikmah Ajar ACTED
Memperoleh bahan bangunan tepat waktu adalah tantangan terbesar dalam pelaksanaan proyek ACTED di Nias. Setelah bencana gempa bumi, harga bahan bangunan naik secara drastis sehingga menyulitkan pengadaannya. Jumlah pemasok yang sedikit dibandingkan dengan jumlah agensi yang membutuhkan barang menjadikan harga terdongkrak dan mengakibatkan sulitnya memperoleh material yang bermutu. sehingga truk yang berbalik arah akan menghalangi kendaraan lain. Berbagai organisasi yang wilayah kerjanya di Lahewa segera menyadari bahwa keberhasilan proyek masing‑masing akan sangat bergantung pada kerja sama antar‑organisasi untuk menjadikan jalur jalan fungsional dan mereka pun berbagi informasi tentang kondisi terbaru. Melalui kerja sama ini, ACTED berhasil mendapat pinjaman truk dari IOM/Atlas Logistics dan sebagai gantinya ACTED menyediakan materi pendidikan kesehatan secara gratis kepada organisasi lain yang mengembangkan proyek sejenis. ACTED juga segera belajar bahwa staf lokal adalah salah satu unsur penentu keberhasilan proyek. Staf yang berasal dari Nias dapat dengan cepat menyediakan informasi tentang pemasok material utama di Nias serta berbagai jalur alternatif yang dapat digunakan untuk mengangkut bahan bangunan. Selanjutnya, Tim Mobilisasi Masyarakat yang dibentuk ACTED berhasil secara cepat mempekerjakan dan melatih pekerja cash for work untuk mengangkut material dari satu tempat ke tempat lain pada saat kendaraan tidak dapat digunakan. Tenaga lokal juga memberikan masukan penting terhadap program, terutama yang berkaitan dengan isu‑isu budaya, termasuk hubungan masyarakat, dan desain rumah. Singkatnya, pengalaman ACTED di Nias membuktikan pemahaman lama bahwa fleksibilitas itu penting. ACTED harus fleksibel dalam pengadaan dan pengiriman material dalam situasi lingkungan yang senantiasa berubah. Hal ini tidak mungkin terjadi tanpa adanya kerja sama dengan organisasi lain yang sepaham dan juga tanpa tim lokal yang kuat yang dapat membantu NGO Prancis ini berorientasi terhadap lingkungannya.

84

Salah satu desa obyek Proyek Perumahan Pascabencana Singapore Red Cross, Desa Hilizalo’otano. Pola permukiman tradisional tetap dipertahankan, demikian pula dengan tampilan visual unit perumahannya. Pembangunan perumahan dilakukan dengan pendekatan pembangunan permukiman, yang terdiri atas kegiatan rekonstruksi dan rehabilitasi rumah, serta revitalisasi sarana‑prasarana dasar permukiman dan fasilitas publik.

Kalaupun bahan bangunan ditemukan, bagian logistik ACTED menghadapi kendala pengiriman bahan dan peralatan dari Gunungsitoli ke Lahewa, lokasi proyek 520 unit rumah ACTED yang dibiayai ECHO/Cites Unies. Inovasi dan hubungan yang baik dengan organisasi lain adalah kunci keberhasilan. Kondisi jalan dan jembatan senantiasa berubah setiap waktu, dan kadang‑kadang jalan ke Lahewa sedemikian sempitnya

kualitas bangunan dan dalam beberapa kasus berupa keterlambatan dan bantuan rumah kepada orang yang bukan korban bencana.
Bagian 4. Tantangan Melibatkan Masyarakat dalam Rekonstruksi

Ketika keluhan masyarakat mulai marak, pada Juni 2006 dirintislah upaya mengubah pendekatan pembangunan perumahan dari kerja sama dengan kontraktor ke partisipasi masyarakat. Pilot project pembangunan rumah berbasis masyarakat di beberapa desa berlangsung sukses. Keberhasilan terobosan ini membuat BRR Perwakilan Nias memercayakan penuh pembangunan perumahan kepada masyarakat untuk Tahun Anggaran 2007 dan 2008. Pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan perumahan ini tidak hanya menghasilkan rumah yang baik dan tepat sasaran, tapi juga meningkatkan kemandirian masyarakat dan mengajarkan cara berpikir positif. Sikap‑sikap dasar ini amat dibutuhkan dalam menumbuhkan partisipasi masyarakat yang luas dan konstruktif untuk pelaksanaan pembangunan daerah.

85

Peran Serta Kontraktor
Tantangan terbesar pada rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan dengan jasa kontraktor adalah lemahnya kemampuan kontraktor, sehingga terbangun perumahan dengan kualitas rendah, yang tentu saja tidak memberikan kepuasan kepada penerima manfaat. Hal ini tampak dari hasil survei satu tim mahasiswa Nias di bawah bimbingan Technical Adviser UNDP yang diperbantukan di BRR Perwakilan Nias pada Juni 2006 untuk menilai hasil pembangunan perumahan selama satu tahun sebelumnya. Survei ini menemukan, dari 219 unit rumah yang dibangun kontraktor saat itu, ada 24 unit rumah yang masih dalam tahap konstruksi walaupun kontrak kerja telah berakhir. Meskipun Kepala Satuan Kerja terkait menyatakan bahwa 195 unit rumah telah selesai dibangun, ternyata hanya 184 unit yang ditempati, sementara 5 unit tidak ditempati dan 6 unit tidak dapat ditemukan bangunan fisiknya karena dibangun di wilayah desa yang berbeda. Belakangan, diketahui pembangunan dipindahkan lantaran tanah yang tersedia tidak mencukupi untuk bangunan rumah 6 x 6 meter persegi, sesuai dengan desain rumah yang ditetapkan BRR. Wawancara lebih jauh dengan beberapa responden di lokasi proyek memberikan gambaran campur‑baur tentang kekuatan struktur dan kualitas rumah tinggal yang dibangun. Namun secara umum (60 persen) pemilik rumah yang menjadi responden pada survei itu merasa yakin rumah yang dibangun lebih baik daripada yang mereka miliki sebelumnya. Dari wawancara informal dengan seorang kontraktor diketahui, kendati ada sekitar 500 kontraktor di Kepulauan Nias, mungkin hanya 15 kontraktor yang benar‑benar mampu mengerjakan kontrak‑kontrak besar. Hal ini jelas terlihat dari kegagalan kinerja para kontraktor yang direkrut BRR pada Tahun Anggaran 2005‑2006.

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Faktor yang mempersulit antara lain lokasi proyek yang terisolasi sehingga pengawasan proyek lebih sulit dilakukan, keterbatasan jumlah anggota staf yang berakibat terhadap rendahnya pengawasan, tidak teridentifikasinya dengan baik penerima manfaat, serta lemahnya posisi BRR dalam kontrak‑kontrak kerja sehingga tidak mungkin menuntut para kontraktor. Menghadapi berbagai kendala di lapangan, BRR Perwakilan Nias mulai menelaah kemungkinan mengganti kebijakannya secara bertahap, dari pembangunan oleh kontraktor menjadi pembangunan oleh masyarakat. Melalui pendekatan ini, masyarakat didorong untuk membangun rumah sendiri, sedangkan BRR berperan sebagai penyedia dana sekaligus bantuan teknis.

Peran Serta Masyarakat
Secara naluriah, manusia selalu ingin turut membentuk lingkungannya. Keikutsertaan dalam proses itu memberikan rasa kepuasan, membuat mereka memahami pilihan‑pilihan yang ada dan berpikir lebih positif, sehingga konflik dapat dihindari dan pelaksanaan pekerjaan dapat berlangsung lebih cepat. Karena menjadi bagian dari lingkungan yang dibentuknya, masyarakat akan lebih bertanggung jawab memelihara lingkungan dengan baik dan mengurangi perusakan. Pengalaman di dunia internasional dan di Indonesia umumnya menunjukkan bahwa pendekatan pembangunan yang bertumpu pada masyarakat merupakan strategi yang lebih berkelanjutan dibandingkan dengan pendekatan pembangunan sentralistis, “top‑down”, atau pendekatan sejenis lainnya. Secara umum, kekuatan pendekatan pembangunan rumah yang bertumpu pada masyarakat terletak pada kemampuan warga memobilisasi sumber dayanya sendiri, yang secara tak langsung meningkatkan nilai rumah tersebut, dibanding jika rumah itu dibangun kontraktor. Meski demikian, para akademisi sepakat, tidak ada pola baku yang menjadi panutan dalam menerapkan pendekatan partisipasi masyarakat. Namun ada beberapa prinsip universal yang dapat diadaptasi pada berbagai situasi (Waites, 2000), dengan menggunakan teknik‑teknik seperti diskusi kelompok terfokus, citizen’s jury, charades, serta kemitraan dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek. Masing‑masing kelompok masyarakat dapat mengadopsi dan menyesuaikan pendekatan partisipasi masyarakat menurut kebutuhan mereka. Pendekatan semacam itu pernah pula diterapkan dalam pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi sesudah bencana. Dari beberapa referensi ini, tampak bahwa kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan dan permukiman tidak hanya bertujuan merumahkan masyarakat, tapi juga menjadi sarana atau modal untuk memulai hidup baru yang lebih baik.

86

nonpemerintah yang bekerja di pulau terpencil seperti Nias sangat terbatas jumlahnya dan juga karena faktor geografis kepulauan tersebut, kesenjangan kebutuhan perumahan masih tetap besar di Nias Selatan. Dengan mempertimbangkan ketertinggalan dan keterpencilan Kepulauan Nias, BRR telah memperkuat kebijakannya untuk membangun kembali kepulauan ini melalui rehabilitasi dan rekonstruksi yang terencana, termasuk untuk perumahan. Dalam Proyek Kolaboratif Perumahan Pascabencana BRR dengan Palang Merah Singapura —Inisiatif Pembangunan Desa di Daerah Pascabencana Kepulauan Nias— diusulkan agar rekonstruksi perumahan pascabencana dapat dilihat sebagai kendaraan untuk membangun modal sosial dan perikehidupan masyarakat. Dalam kebijakan pembangunan perumahan di Nias, ada dua aspek yang perlu diperhatikan. Pertama, partisipasi masyarakat dalam rekonstruksi perumahan adalah cara yang dipilih dalam mewujudkan kebutuhan rekonstruksi perumahan dan pengembangan modal sosial. Kedua, rekonstruksi perumahan perlu diperlakukan sebagai pembangunan permukiman secara menyeluruh, bukan pemberian rumah secara individual. Lokasi proyek dipilih pada kawasan strategis yang diproyeksikan akan menjadi kecamatan baru. Lokasi tersebut mengandung unsur unik karena merupakan lokasi rumah adat tertua di Kepulauan Nias, yang diperkirakan dibangun pada 1715. Omo Zebua, yang berada di Desa Hilinawalo Mazingo, adalah warisan budaya yang selamat dari gempa bumi. Proyek ini dilaksanakan di tiga desa di Kecamatan Teluk Dalam. Kecamatan ini kemudian dimekarkan menjadi lima kecamatan. Salah satu kecamatan hasil pemekaran tersebut adalah Kecamatan Mazingo, yang merupakan lokasi ketiga desa yang

KARENA donor/institusi/organisasi

dibangun dengan dana dari masyarakat Singapura. Ketiga desa tersebut adalah Desa Hilizalo’otano, Desa Hilinawalo Mazingo, dan Desa Hilizorilawa. Ketiga desa tersebut terletak dalam satu deretan yang masing‑masing berjarak 0,5‑1,5 kilometer. Proyek ini akan memberikan manfaat bagi 6.092 penduduk ketiga desa tersebut. Perkiraan kebutuhan dana untuk proyek ini adalah Rp 13.559.400.000 atau SGD 2.152.285.

Komponen‑komponen proyek ini adalah (1) Rekonstruksi dan rehabilitasi perumahan: jumlah rekonstruksi 159 unit dan rehabilitasi 81 unit, (2) Prasarana dasar: drainase 900 meter, jalan setapak 110 meter, serta perbaikan 2,2 kilometer jalan dan 2 jembatan, (3) Fasilitas umum: 3 balai desa dan 1 sekolah dasar.

Bagian 4. Tantangan Melibatkan Masyarakat dalam Rekonstruksi

Proyek Perumahan Pascabencana Singapore Red Cross Membangun Modal Sosial

87

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

88

Pertemuan BRR Kantor Perwakilan Nias dengan warga Lahomi, Kecamatan Sirombu, Kabupaten Nias, Agustus 2008. Foto: Dokumentasi BRR

Ketika Masyarakat Mengambil Alih Pembangunan Perumahan
Mengandalkan Fasilitator dalam Persiapan Proyek
Selaras dengan kebijakan pembangunan perumahan yang melibatkan partisipasi masyarakat, BRR Nias merekrut dua jenis fasilitator dengan keahlian masing‑masing. Pertama, fasilitator teknik, yang terdiri atas insinyur yang memiliki pengetahuan teknis untuk membantu penerima manfaat mendesain, membangun, dan mengawasi proses konstruksi. Kedua, fasilitator nonteknis, yang bekerja sama dengan masyarakat dalam mediasi kegiatan sosial. Pada tahap persiapan, kedua kelompok fasilitator ini bertanggung jawab memasyarakatkan serta menjelaskan persiapan dan pelaksanaan proyek melalui serangkaian musyawarah desa. Pada tahap ini, para fasilitator juga memilih dan melatih kader‑kader dari masyarakat, membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), serta memilih koordinator untuk setiap KSM.

menanggapi kebutuhan darurat masyarakat Nias, Zero‑to‑One Foundation, organisasi nonpemerintah bidang kemanusiaan yang didirikan di Australia pada 2002, adalah organisasi pertama yang membangun perumahan dalam skala cukup besar di Nias. Sebelum terjadi gempa bumi dahsyat di Kepulauan Nias pada Maret 2005, Zero‑to‑One telah berhasil menyalurkan dana dari Kerajaan Monako untuk membangun 247 unit rumah permanen dan dari Palang Merah Australia untuk 254 unit rumah, dengan prinsip teknologi tahan gempa, pembangunan cepat, dan harga terjangkau. Perumahan ini adalah satu‑satunya yang dibangun secara prefabrikasi dengan pabrik yang didirikan di lokasi konstruksi. Di lokasi perumahan tersebut dan dengan sumber dana yang sama, Zero‑to‑One juga membangun puskesmas untuk penanganan darurat bencana, membangun tiga sekolah dasar, serta merehabilitasi beberapa jembatan, sistem air bersih dan sanitasi, timbunan, dan jalan. Beberapa hunian juga telah mengakomodasi kegiatan lain, misalnya taman kanak‑kanak, warung, atau kegiatan ekonomi lainnya. Sejumlah rumah yang selesai dibangun sebelum gempa bumi 28 Maret 2005 terbukti tahan terhadap gempa yang paling dahsyat tersebut. Untuk prestasinya ini, Yayasan Zero‑to‑One mendapatkan penghargaan sebagai penyedia perumahan dengan teknologi terbaik dari Departemen Pekerjaan Umum pada tahun yang sama. Rumah contoh Zero‑to‑One juga dibangun di Banda Aceh sebagai bagian dari inovasi penanganan segera dalam penyediaan perumahan dan permukiman pascabencana.

SAAT badan‑badan dunia sibuk

Pada pelaksanaannya, Zero‑to‑One melakukan relokasi dengan membebaskan lahan di Desa Delasiga, Kecamatan Sirombu, terutama bagi mereka yang sebelumnya tinggal di Pulau Hinako. Saat ini rumah‑rumah tersebut sudah mendapat layanan listrik dan dihuni oleh warga Sirombu yang memiliki pekerjaan tetap di lokasi yang bersangkutan, seperti guru, tentara, dan pedagang kecil. Beberapa rumah sudah tidak dihuni lagi oleh penerima bantuan dan dibiarkan kosong. Sesuai dengan keterangan dari tetangganya, hal ini terjadi karena yang bersangkutan kembali ke Pulau Hinako, yang merupakan lokasi pekerjaannya semula. Kurang‑lebih 10 persen rumah yang dibangun oleh Zero‑to‑One ini tidak ditinggalkan penghuninya karena hal di atas. Rumah lain banyak juga yang hanya ditempati satu minggu dalam satu bulan karena yang bersangkutan bekerja di kebun yang lokasinya jauh dari lokasi perumahan ini. Selain karena program relokasi, tingkat hunian di lokasi yang cukup rendah ini juga karena kurangnya sistem drainase dan air bersih untuk menunjang kehidupan sehari‑hari penduduk. Sistem sanitasi yang dibuat tidak dapat berfungsi dengan baik karena septic tank yang dibangun kerap terendam air sebagai akibat tingginya muka air tanah di lokasi yang dulunya rawa‑rawa tersebut. Belajar dari kondisi di atas, beberapa hal yang perlu mendapat pertimbangan dalam pembangunan perumahan di lokasi baru adalah tempat kerja penerima bantuan serta prasarana sanitasi, air bersih, dan drainase lingkungan.

Bagian 4. Tantangan Melibatkan Masyarakat dalam Rekonstruksi

Pelajaran Membangun Rumah Zero‑to‑One di Sirombu

89

Pemetaan Penerima Manfaat

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Kegiatan Sosialisasi

90

Unit Rumah Jadi

Pembangunan Rumah

Persiapan dan Pengukuran Lokasi

Diagram Proses Persiapan Pelibatan Masyarakat
Survei Lokasi dan Verifikasi Lapangan

Konsultasi Desain Rumah

Pelatihan Pembukuan dan Konstruksi

Bagian 4. Tantangan Melibatkan Masyarakat dalam Rekonstruksi

91

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

92

Buku peraturan bangunan yang mulai digunakan BRR di Nias pada Mei 2006 (kiri), kemudian diadopsi oleh UNISDR dan UNDP untuk lebih disebarluaskan pada akhir 2007 (kanan).

Dalam konteks pengurangan risiko bencana (disaster risk reduction), BRR Perwakilan Nias dan UNDP menginisiasi penyebarluasan peraturan bangunan (building code) yang digunakan para fasilitator perumahan untuk membekali para anggota KSM tentang pengetahuan konstruksi yang lebih aman dan tahan gempa.13 Pengetahuan tentang prinsip konstruksi itu diharapkan dapat disebarluaskan kepada masyarakat Nias, sehingga menjadi gerakan bersama untuk mengurangi risiko bencana di masa depan. Tahap berikutnya adalah pengumpulan data yang dilakukan fasilitator bekerja sama dengan masyarakat desa terkait. Data tersebut kemudian diverifikasi bersama masyarakat setempat untuk menentukan rumah tangga yang dianggap layak mendapat bantuan sesuai dengan tingkat kerusakan.14 Setelah itu, musyawarah desa diselenggarakan lagi untuk memperoleh pengakuan masyarakat dan klarifikasi akhir penerima manfaat. Daftar penerima manfaat kemudian diresmikan sebagai hasil kesepakatan desa. Selanjutnya diadakan pelatihan bagi masyarakat tentang perencanaan dan desain rumah tinggal serta prinsip‑prinsip dasar konstruksi, konstruksi tahan gempa, supervisi lapangan, dan pembukuan. Sebelum memasuki tahap konstruksi, untuk memudahkan identifikasi para pemilik rumah di kemudian hari, semua penerima manfaat difoto di depan rumah mereka yang rusak.

Mengorganisasi Pelaksanaan Proyek
Beberapa KSM dikelompokkan lagi dalam satu kelompok pengelolaan, agar terwujud kerja sama yang lebih baik di antara sesama penerima manfaat dan agar pelaksanaan konstruksi dapat lebih terstruktur dan lebih cepat dilakukan. Kelompok pengelolaan atau manajemen tersebut dinamai Komite Percepatan Pembangunan Perumahan dan Permukiman Desa. Dalam satu desa dapat dibentuk satu atau beberapa komite, tergantung jumlah penerima manfaat yang difasilitasi. Masing‑masing komite mengelola rekening masyarakat dan bertanggung jawab terhadap pembukuan, pemantauan, dan pelaporan, serta melakukan mediasi jika terjadi masalah antarpenerima manfaat atau antarkelompok masyarakat. Selain para anggota komite, beberapa anggota masyarakat yang berpotensi dipilih dan diangkat sebagai kader masyarakat. Kader ini berfungsi memediasi proses alih pengetahuan dari pihak pelaksana proyek, yaitu aparat pemerintah, para tenaga ahli, dan para fasilitator, kepada masyarakat desa. Kader masyarakat ini langsung menerima pengetahuan itu seraya melaksanakan pembangunan. Pendekatan partisipasi masyarakat merupakan pengalaman baru bagi masyarakat Nias dan sangat bermanfaat bagi kelangsungan pembangunan siaga bencana yang berakar di dalam masyarakat sendiri. Hasil pengamatan ke beberapa desa yang telah melaksanakan pendekatan ini menunjukkan hasil pelaksanaan rekonstruksi yang memuaskan. Mereka tampaknya telah menyerap pengetahuan tentang konstruksi tahan gempa, pemakaian berbagai bahan bangunan modern, pembukuan dan pelaporan yang baik, serta berbagai pengetahuan lain tentang konstruksi perumahan. Dengan bantuan fasilitator dan tenaga teknis, para anggota KSM mampu membuat proposal pendanaan yang menjadi dasar penarikan dana tahap pertama sebesar 55 persen dari nilai proyek bantuan pembangunan rumah. Dengan dana ini, KSM dapat mencari pemasok bahan bangunan serta tukang ahli dan pembantunya, baik dari desa sendiri maupun desa tetangga. Dana bantuan disalurkan melalui rekening KSM masing‑masing, yang biasanya beranggotakan 10 keluarga. Umumnya setiap keluarga mempekerjakan satu tukang ahli dan satu pembantu tukang. Kedua tukang itu biasanya dibantu anggota keluarga pemilik rumah, yang tidak perlu dibayar. Penghematan biaya itu kemudian digunakan untuk menambah komponen rumah atau meningkatkan kualitas fisik bangunan rumah.

Proses Rekonstruksi
Tahap persiapan yang dibantu para fasilitator menghasilkan beberapa hal penting, yakni penyiapan lahan, format‑format administratif, dan metode konstruksi yang efisien untuk struktur dasar, struktur utama, serta struktur atap. Pelatihan mengenai rincian struktur yang lebih tahan gempa juga dilakukan di lapangan sebagai koreksi terhadap praktik konstruksi yang kurang tepat.

Bagian 4. Tantangan Melibatkan Masyarakat dalam Rekonstruksi

93

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Para fasilitator pun memperbaiki desain rumah dan memberikan alternatif pemakaian bahan bangunan sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat serta memediasi penyelesaian masalah di lapangan. Selama tahap konstruksi, para fasilitator berperan pula sebagai pengawas. Mereka membekali KSM dengan keahlian mengevaluasi kualitas bahan bangunan, kekuatan struktur, dan sebagainya. Selain itu, para fasilitator membantu penulisan laporan dwimingguan tentang perkembangan pembangunan, termasuk foto‑foto serta laporan keuangan dan pembukuan. Untuk bahan bangunan, para fasilitator mendorong dan membimbing KSM agar mengendalikan arus bahan bangunan yang dikirim pemasok dan pemanfaatannya untuk konstruksi. Fasilitator juga memperkenalkan pemanfaatan buku gudang yang harus diisi KSM sesuai dengan pemanfaatannya di lapangan. Pengelolaan keuangan dibimbing dan diawasi pula oleh para fasilitator. Pencairan dana tahap pertama ke setiap KSM dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang ada di setiap proposal yang disusun KSM masing‑masing. Untuk mengendalikan penggunaan dana, setiap pencairan memerlukan tiga tanda tangan, yaitu tanda tangan ketua KSM, bendahara, dan fasilitator. Sedangkan untuk kepentingan pembukuan, setiap keluarga harus menyertakan tanda terima pembelian atau pembayaran terhadap jasa pekerja. Penjadwalan proyek yang selama ini dilaksanakan tidak
cukup rinci, terutama penentuan kegiatan harian, sehingga masyarakat yang menjadi pengendali dan pengelola proyek tidak memiliki acuan.

94

Kelemahan Pelaksanaan Pembangunan Berbasis Partisipasi Masyarakat di Nias
1. 2.

Fasilitator memegang peran penting dalam memastikan rincian kegiatan yang dapat digunakan masyarakat dan berhasil guna. Hal ini terkait dengan rincian pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh tukang dan target pelaksanaan lapangan. Ada kendala dalam pemasokan semen. Ketika proyek pembangunan rumah mendekati masa puncak, banyak warga membutuhkan semen. Permintaan semen pun meningkat, sementara pasokan semen ke pulau ini tetap. Dengan modal terbatas, masyarakat sulit menutup selisih kenaikan harga semen yang hampir dua kali lipat karena ketimpangan permintaan dan penawaran. Akibat penerapan kebijakan penggunaan rangka atap baja ringan untuk mengatasi kelangkaan kayu dan mencegah pembabatan pohon produktif, ketersediaan bahan andal dengan harga yang sesuai dengan rencana anggaran biaya menjadi isu penting. Masalah lain adalah pengiriman rangka atap baja ringan ke lokasi‑lokasi proyek yang sulit dijangkau. Guna mengatasi hal itu, BRR Perwakilan Nias membuat kebijakan khusus tentang pemakaian rangka kayu yang diambil dari hutan rakyat di sekitar lokasi proyek.

3.

Para fasilitator juga membantu KSM dalam menyelenggarakan musyawarah desa atau pertemuan lain untuk menyelesaikan masalah yang muncul. Setiap masalah dirapatkan dan didokumentasikan pada berita acara pertemuan. Seluruh berita acara dijadikan dasar untuk penyusunan laporan ke Kepala Satuan Kerja dan komponen manajemen terkait di BRR Perwakilan Nias. Awalnya dipilih tiga lokasi untuk dijadikan proyek percontohan pembangunan berbasis partisipasi masyarakat. Indikator yang digunakan dalam penentuan lokasi adalah tempat tersebut belum mendapat bantuan dari donor mana pun. Ketiga lokasi yang ditentukan ini ternyata memiliki kesamaan karakteristik pedesaan dan kebersamaan yang kuat di antara penduduknya. Tiga lokasi tersebut berada di Kecamatan Gido, Lolowa’u, dan Sitolu Ori.

4.

Pengalaman dalam melaksanakan pembangunan perumahan berbasis masyarakat menunjukkan adanya sejumlah kelemahan sebagai konsekuensi dari proses perencanaan proyek, teknik pelaksanaan di lokasi, dan penyiapan logistik. Sedangkan sisi positif yang diperoleh dari pendekatan pembangunan perumahan dan permukiman berbasis partisipasi masyarakat: • Kualitas konstruksi lebih terjamin, karena masyarakat melaksanakan sendiri pembangunan rumah tinggalnya dengan memanfaatkan anggaran dana konstruksi secara maksimal. Tidak ada lagi penyisihan dana untuk keuntungan sendiri, seperti dalam pelaksanaan konstruksi oleh kontraktor. Dalam beberapa kasus, malah masyarakat menambahkan investasi sendiri untuk membangun rumah tinggalnya. • Kapasitas masyarakat lebih meningkat, karena pendekatan ini memungkinkan masyarakat belajar mengorganisasi diri, merencanakan, mengambil keputusan, dan mengelola keuangan sendiri. Kelompok masyarakat untuk pembangunan rumah yang telah terbentuk dapat digunakan pula untuk pembangunan jalan dan jembatan serta pelaksanaan program kesehatan dan ekonomi. • Daya beli masyarakat meningkat, karena persentase dana rekonstruksi perumahan dan sektor lain lebih banyak teralokasi pada masyarakat.

Bagian 4. Tantangan Melibatkan Masyarakat dalam Rekonstruksi

95

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

96

Kesinambungan Pembangunan Perumahan
Berbeda halnya dengan yang terjadi pada kepemilikan publik seperti infrastruktur, penerima manfaat pembangunan kembali perumahan bersedia menanamkan investasi pada konstruksi rumahnya, yang memberikan efek positif terhadap kualitas rumah itu sendiri. Beberapa pelajaran yang dapat ditarik dari kegiatan pembangunan perumahan dan permukiman: • Kebutuhan masyarakat sering disalahpahami oleh donor yang datang dengan program siap pakai sesuai dengan penafsiran mereka sendiri. Karena itu, perlu kiranya dipertimbangkan untuk memasukkan pendekatan sosial yang lebih menyeluruh dalam fase persiapan proyeknya, termasuk memperhitungkan tradisi dan kebiasaan masyarakat setempat, dengan tujuan memperkuat institusi sosial yang ada. • Koordinasi yang efektif merupakan kata kunci, tapi masalah utama yang perlu ditekankan adalah kesatuan persepsi tentang tujuan utama rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan dan permukiman di lapangan pada satu pihak serta kejelasan rencana tindakan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang pada pihak lain. Beberapa kasus yang terjadi pada proyek percontohan perumahan di Lolowa’u, misalnya kebersamaan di antara penerima manfaat, ternyata membuahkan hasil berupa persetujuan TNI untuk membangun jalan kabupaten. • Agar terjadi rehabilitasi dan rekonstruksi yang efektif dan berbasis masyarakat, proses fasilitasi dan peran fasilitator merupakan kunci utama kesuksesan. Bentuk fasilitasi dan fasilitator sering ditentukan oleh pemberi bantuan atau donor. Begitu pula yang terjadi di Nias. Pada masa datang, perlu kiranya dipertimbangkan memberikan peluang kepada masyarakat untuk menentukan sendiri jenis fasilitasi dan fasilitator yang dibutuhkan mereka. • Sosialisasi tentang manfaat akses terhadap air bersih dan sanitasi selalu merupakan prioritas pada proyek‑proyek rekonstruksi besar, tapi masyarakat sering kali tidak peduli. Dalam beberapa kasus, pembangunan perumahan dilakukan tanpa menyediakan sambungan air bersih atau pembuangan limbah yang memadai. • Jika saja ada bantuan pada proses perencanaan strategis, pembangunan berbasis masyarakat tentu dapat dilaksanakan lebih terpadu, dengan mengintegrasikan program air bersih dan sanitasi, jalan masuk, serta peningkatan penghasilan masyarakat sebagai upaya mengentaskan mereka dari kemiskinan.
Beberapa ibu rumah tangga di Kabupaten Nias Selatan mengikuti pelatihan memasak yang digagas oleh BRR. Pelatihan ini merupakan salah satu upaya pemberdayaan perempuan. Foto: BRR/Bodi CH Bagian 4. Tantangan Melibatkan Masyarakat dalam Rekonstruksi

Menimba Pelajaran Berharga

97

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

• Daerah relokasi harus ditetapkan sedekat mungkin dengan desa‑desa asal penerima manfaat, agar kebersamaan sebagai suatu komunitas yang memiliki ikatan keluarga dan ikatan sosial dapat tetap terjaga. Kedekatan ini juga membantu membangkitkan semangat mereka untuk melaksanakan aktivitas ekonomi seperti sebelum terjadi gempa bumi. • Status kepemilikan lahan dan rumah harus jelas dan lengkap dengan dokumentasi yang berkekuatan hukum, untuk menghindari permasalahan dan komplikasi di masa mendatang, baik dengan pemerintah kabupaten maupun provinsi. Hak atas tanah harus dikembalikan, bahkan sebelum rekonstruksi dilaksanakan, untuk menghindari ancaman penyerobotan tanah oleh orang luar ketika pemiliknya mengungsi. • Program‑program peningkatan penghasilan tetap menjadi prioritas bagi masyarakat Nias, dan sebaiknya diarahkan tidak hanya pada rehabilitasi berbagai kegiatan dan fasilitas yang sebelumnya telah tersedia, tapi juga ke arah peningkatan akses permodalan, peralatan, serta keahlian pertukangan, jahit‑menjahit, atau usaha baru.

98

Membangun Budaya Membangun
Ikatan kekeluargaan masyarakat Nias masih cukup tinggi, antara lain terlihat dari pola bertempat tinggal. Satu rumah diisi oleh dua‑tiga keluarga, bahkan pada beberapa kasus hingga lima keluarga dalam satu rumah. Karena itu, di daerah‑daerah terpencil di Kepulauan Nias, terlihat seperti ada ketimpangan antara pasokan rumah dan kebutuhan rumah. Konteks budaya lokal seperti ini perlu mendapat perhatian proporsional. Hal ini terutama berlaku pada permukiman tradisional. Karena itu, kebijakan BRR Perwakilan Nias untuk menyediakan perumahan secara kelompok, yang disesuaikan dengan tipe komunitas serta pola kepemilikan rumah dan lahan, yang dirintis selama dua tahun terakhir, sebaiknya dapat diterapkan dalam proses pembangunan selanjutnya. Meskipun demikian, kebijakan BRR Perwakilan Nias selama masa rekonstruksi lebih berpatokan pada pemenuhan kebutuhan para korban bencana, sehingga tentu saja tidak dapat diterapkan begitu saja pada pembangunan perumahan pada masa datang. Pemerintah kabupaten hendaknya aktif memantau dinamika perubahan yang terjadi dalam masyarakat dan memperhitungkan berbagai risiko yang mungkin timbul dari pendekatan pembangunan rumah yang sudah ada. Selanjutnya pemerintah daerah hendaknya lebih terbuka terhadap peluang‑peluang yang tumbuh dari pendekatan pembangunan rumah yang telah ada, sehingga dapat mengakomodasi hah‑hal positif yang muncul dari proses tersebut. Ini adalah kesempatan untuk mengembangkan pembangunan yang lebih kondusif dan memberikan dukungan maksimal terhadap peningkatan kinerja pemerintah pada masa datang.

Tantangan lain dalam pembangunan perumahan datang dari pemerintah. Selain karena minimnya kapasitas institusi pemerintahan, juga karena kurang adanya komitmen yang kuat untuk melaksanakan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Hal ini terjadi dari aparat di tingkat desa hingga ke tingkat yang lebih tinggi. Sebenarnya, sejak masa rehabilitasi dan rekonstruksi, telah banyak pelatihan dan pendidikan yang ditujukan untuk peningkatan kapasitas. Pelatihan diberikan kepada masyarakat serta aparat pemerintah kecamatan dan kabupaten, baik secara formal maupun infovrmal, dengan tujuan memberikan kesadaran dan pembekalan keahlian teknis dalam proses konstruksi, pengelolaan pembangunan, pemakaian bahan bangunan, dan pembuatan peraturan. Tujuan pelatihan‑pelatihan ini adalah mengembangkan ”budaya membangun” yang lebih baik. Maka, dalam melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan, tantangannya adalah mengembangkan “budaya membangun” yang selaras dengan perubahan yang terjadi, mengatasi bersama berbagai permasalahan, serta berpegang pada kearifan lokal yang telah menyatu dalam masyarakat sejak ratusan tahun lalu untuk meningkatkan standar kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.

Bagian 4. Tantangan Melibatkan Masyarakat dalam Rekonstruksi

Hal penting lain dalam proses pembangunan perumahan di Kepulauan Nias adalah kesenjangan sosial, ekonomi, dan politik Kabupaten Nias dan Nias Selatan dengan kabupaten lain di Provinsi Sumatera Utara. Untuk itu, perlu upaya untuk memperkecil kesenjangan dalam pembangunan dan pengentasan masyarakat miskin yang berkaitan erat dengan kemampuan membangun rumah.

99

Membangun Infrastruktur Mulai dari Transportasi
utama rekonstruksi Nias adalah lemahnya daya dukung infrastruktur sebagai kerangka dasar pembangunan di hampir semua bidang. Infrastruktur yang buruk tidak dapat menopang masyarakat keluar dari kemiskinan dan keterbelakangan. Orang Sumatera Utara menyebut Nias sebagai “tempat pembuangan” —suatu wilayah yang dihindari dan dibiarkan menapaki keterisolasiannya selama berpuluh‑puluh tahun. Transportasi merupakan sektor dengan kondisi yang sangat buruk. Pembangunan pada sektor ini seperti bergerak di tempat, tanpa konsep yang jelas, dan hanya bersifat tambal sulam. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, dan Provinsi Sumatera Utara sangat sedikit dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur penting ini. Melihat kondisi prasarana dan sarana transportasi yang mengenaskan pascabencana, BRR Perwakilan Nias mengagendakan pembangunan kembali sektor ini secara terpadu untuk mendukung pengembangan ekonomi secara efektif —dengan suatu sistem transportasi yang secara integratif menopang dan mengikat hubungan antara satu wilayah pusat pertumbuhan ekonomi dan wilayah pusat pertumbuhan ekonomi lainnya, baik di dalam dan antara sesama pulau maupun dengan daratan Sumatera.

TANTANGAN

Pelabuhan Gunungsitoli yang melayani lalu lintas penumpang maupun barang yang paling ramai di kepulauan Nias, November 2008. Foto: BRR/Bodi CH

Bagian 5. Membangun Infrastruktur Mulai dari Transportasi

101

102

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Akibat curah hujan yang tinggi, jalan di Kecamatan Tuhemberua, Kabupaten Nias, seringkali tergenang air, September 2005. Tidak hanya rusak oleh gempa, kondisi infrastruktur transportasi di Nias sebelumnya memang sangat buruk. Foto: BRR/Bodi CH

Dengan dana dan waktu yang terbatas selama masa rehabilitasi dan rekonstruksi, peluang pembangunan ini diprioritaskan pada jaringan transportasi strategis. Jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, dan prasarana transportasi lain dibangun untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan taraf hidup masyarakat Nias.

Tantangan Membangun Infrastruktur Nias
Transportasi yang buruk tidak hanya menyebabkan Nias terpuruk dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Transportasi yang buruk juga menyulitkan upaya penyelamatan korban bencana dan menghambat bantuan kemanusiaan. Proses rekonstruksi pun menemukan tantangan yang berat karena sulitnya mengangkut logistik ke berbagai lokasi. Material bangunan di sebagian besar wilayah hanya dapat diangkut oleh tenaga manusia. Kapal‑kapal pengangkut logistik kebutuhan rekonstruksi menunggu proses bongkar‑muat di pelabuhan hingga dua minggu. Itu pun jika kapalnya cukup kecil, sesuai dengan kapasitas pelabuhan yang minim.

Pembangunan jalan dari tahun ke tahun berlangsung lambat. Pada periode 2000‑2003, misalnya, total penambahan panjang jalan hanya 12,6 kilometer. Penambahan jalan yang sangat rendah ini diikuti minimnya upaya perbaikan jalan, sehingga suatu ruas jalan tidak pernah menjadi benar‑benar baik. Tabel 5.1. Panjang dan Kondisi Jalan di Kabupaten Nias dan Nias Selatan 2003/2004 Data pada 2004 menunjukkan, dari total 1.970,23 kilometer panjang jalan yang ada di Kabupaten Nias, 78,5 persen masih berupa jalan tanah dan berbatu kerikil. Hampir 80 persen jalan tersebut dalam kondisi rusak dan rusak parah. Kondisi jalan di Kabupaten Nias dan Nias Selatan dapat dicermati pada Tabel 5.1. Sementara itu, Data Potensi Desa 2005 yang disajikan dalam Tabel 5.2 menunjukkan kondisi infrastruktur jalan dan jembatan di Kepulauan Nias yang lebih memprihatinkan pascagempa. Dari 657 desa/kelurahan yang ada di Kepulauan Nias, sekitar 44 persen di antaranya tidak dapat dilalui kendaraan roda empat.
Keadaan Jalan 1 I. Jenis Permukaan 1.Aspal 2. Kerikil 3. Tanah 4. Tidak diperinci II. Kondisi Jalan 1. Baik 2. Sedang 3.Rusak Ringan 4. Rusak Berat Total Panjang Jalan 233,5 190,28 145,72 1.400,73 1.970,23 132,125 99,42 57,775 54,975 426,99 424,47 266,45 1.279,31 ‑ 388,44 21,33 67,22 ‑ Kabupaten Nias 2 Kabupaten Nias Selatan 3

Sumber: Nias Dalam Angka 2004 (Badan Pusat Statistik) dan Dinas Kimpraswil Kabupaten Nias Selatan (2003)

Tabel 5.2. Kondisi Jalan dan Jembatan di Nias Pascagempa

Data tersebut juga Jumlah Infrastruktur Sebelum Rusak Berat (%) menunjukkan bahwa pada 2005 Bencana hampir 30 persen infrastruktur Panjang Jalan jalan yang ada dalam kondisi 2.565 16,06 (km) rusak sedang dan berat. Jembatan (km) 656 54,42 Demikian pula halnya dengan jembatan yang menghubungkan antarwilayah di Kepulauan Nias. Dari semua jembatan yang ada, 70 persen di antaranya dalam kondisi rusak sedang dan berat. Di bidang perhubungan laut, seharusnya Kepulauan Nias memiliki keunggulan strategis, mengingat posisi geografisnya yang terpisah dari Sumatera dan terdiri atas banyak pulau. Namun, nyatanya, lima pelabuhan laut utama di seluruh Kepulauan Nias

Rusak Sedang (%) 12,72 30,34

Tidak Mengalami Kerusakan (%) 65,19 13,57

Sumber: Diolah dari Podes 2005

Bagian 5. Membangun Infrastruktur Mulai dari Transportasi

103

104

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Kerusakan pelabuhan Sirombu akibat bencana gempa dan tsunami mengharuskan warga, yang ingin menyebrang ke tempat tinggal mereka di Pulau Hinako, Kecamatan Sirombu, Kabupaten Nias, menggunakan perahu kecil sebelum naik ke perahu lebih besar. Foto: BRR/Bodi CH

berada dalam kondisi yang tidak memadai dan dengan kapasitas yang minim. Tiga pelabuhan laut berada di Kabupaten Nias, yaitu Pelabuhan Laut Gunungsitoli, Pelabuhan Laut Lahewa, dan Pelabuhan Laut Sirombu, sementara di Kabupaten Nias Selatan terdapat Pelabuhan Laut Teluk Dalam dan Pelabuhan Laut Pulau Tello. Pelabuhan Laut Gunungsitoli di Kabupaten Nias dan Pelabuhan Laut Teluk Dalam di Kabupaten Nias Selatan adalah pelabuhan yang paling ramai, baik oleh lalu lintas penumpang maupun barang. Kapal motor dan feri adalah transportasi laut yang paling banyak digunakan setiap hari, melayani rute Gunungsitoli‑Sibolga dan Teluk Dalam‑Sibolga. Hingga saat ini, sarana penyeberangan lewat laut belum mampu mencukupi kebutuhan lalu lintas penumpang, baik dari segi kecepatan waktu maupun kapasitasnya. Perusahaan pelayaran yang melayani rute‑rute tersebut masih terbatas dalam hal jumlah dan frekuensi pelayarannya. PT Angkutan Sungai Danau dan Penyebrangan (ASDP) Indonesia Ferry dengan kapal ferinya hanya mampu melayani sekitar 400 penumpang dan mengangkut tidak lebih dari 20 unit kendaraan roda empat dalam setiap pelayarannya. Perusahaan pelayaran lain, PT Simeuleu, hanya mampu mengangkut 240 penumpang dalam setiap pelayarannya.

Pembangunan infrastruktur untuk menunjang pergerakan manusia dan barang di Kepulauan Nias sangat penting. Karena itu, ketimpangan‑ketimpangan di bidang transportasi perlu segera diatasi. Akses transportasi yang menghubungkan wilayah pantai timur dengan wilayah pantai selatan dan barat perlu pembenahan serius. Akses transportasi melalui pesisir pantai dari Gunungsitoli ke Lahewa saat ini sudah mulai terbuka dan semakin baik. Namun akses transportasi dari Lahewa menuju Afulu di bagian paling utara Pulau Nias dan ke arah Sirombu di kawasan barat belum terbuka sepenuhnya. Akses transportasi dari pesisir timur ke barat melalui jalur tengah juga belum memadai. Ketimpangan dalam bidang transportasi terlihat pula pada akses transportasi yang menghubungkan wilayah Kepulauan Nias dengan pulau‑pulau terluar lain di pantai barat Sumatera. Hal ini patut disayangkan mengingat pulau‑pulau terluar, termasuk Kepulauan Nias, adalah wilayah dengan potensi perikanan cukup tinggi. Potensi itu tidak banyak diketahui karena selama ini akses untuk memperoleh informasi tentang potensi tersebut sangat terbatas.

Mengembangkan Prasarana dan Sarana Transportasi Terpadu
Hingga bencana gempa bumi merusak berbagai fasilitas transportasi yang ada, pembangunan jaringan transportasi di Kepulauan Nias memang tidak memiliki konsep yang jelas. Jaringan transportasi cenderung dikembangkan tanpa melihat hierarki sentra‑sentra pertumbuhan ekonomi dan keterkaitannya yang saling menunjang. Ketika BRR Perwakilan Nias mengawali kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi di Kepulauan Nias, pendekatan utama yang dikembangkan adalah bagaimana membangun jaringan transportasi dalam kesatuan sistem yang secara hierarkis saling terkait, dari jaringan transportasi desa, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi dan regional. Jaringan transportasi yang dikembangkan harus berada dalam suatu sistem terpadu dan saling menunjang, yang mengalir dari pusat‑pusat pertumbuhan dan pasar menuju pusat‑pusat permukiman di pedesaan. Pembangunan sistem jaringan transportasi ini juga dilaksanakan dalam satu rangkaian, mulai perencanaan, pelaksanaan, hingga pemantauan dan evaluasi. Pendekatan terpadu ini memungkinkan prioritas dan fokus pada pelaksanaan ruas‑ruas strategis, sehingga dalam waktu relatif singkat —empat tahun— dapat dicapai sebuah sistem jaringan jalan yang optimal dalam menunjang perekonomian wilayah. Berdasarkan konsepsi tersebut, pendekatan pembangunan sistem transportasi di Kepulauan Nias dilakukan dengan membaginya ke dalam lima sentra kawasan pertumbuhan ekonomi utama, yaitu Gunungsitoli, Teluk Dalam, Lahewa, Sirombu, dan Pulau Tello.

Bagian 5. Membangun Infrastruktur Mulai dari Transportasi

105

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Kelima kawasan tersebut merupakan sentra pertumbuhan primer yang terhubung dengan wilayah kecamatan di sekitarnya sebagai sentra‑sentra pertumbuhan sekunder. Kemudian sentra‑sentra pertumbuhan kecamatan dihubungkan dengan wilayah‑wilayah pedesaan sebagai kawasan tersier. Selanjutnya, sentra‑sentra wilayah pedesaan dihubungkan ke berbagai sentra permukiman. Mengingat Nias merupakan kepulauan, pendekatan ini perlu didukung sistem transportasi antarpulau yang memadai, baik melalui akses laut maupun udara. Secara keseluruhan, sistem transportasi ini dikembangkan sebagai satu kesatuan yang saling mengikat dan mendukung perkembangan antardaerah, baik antara satu daerah dan daerah lain di dalam wilayah kepulauan maupun dengan kawasan sentra‑sentra kemajuan lain di luar Kepulauan Nias. Dengan kata lain, pembangunan sistem transportasi di Nias diupayakan untuk mengembangkan keterikatan, baik di antara sentra‑sentra pertumbuhan ekonomi di Lahewa, Gunungsitoli, Sirombu, Teluk Dalam, dan Pulau Tello maupun dengan kawasan utama Pulau Sumatera dan sentra‑sentra pertumbuhan regional lainnya. Di kelima sentra pertumbuhan ekonomi itu dibangun pelabuhan laut yang dapat menghubungkan pulau‑pulau kecil di sekitarnya dan dengan daratan Sumatera. Empat sentra di daratan Pulau Nias terhubung satu sama lain dengan jalan provinsi. Sedangkan di Pulau Tello dibangun pelabuhan udara yang membuka akses udara, baik dari dan ke Pulau Nias maupun langsung ke daratan Sumatera. Pelabuhan udara juga dibangun di Gunungsitoli sebagai akses utama lewat udara ke Nias. Di Teluk Dalam dibangun sebuah airstrip sebagai akses udara penunjang di Nias Selatan. Jaringan transportasi primer ini kemudian dihubungkan dengan transportasi sekunder berupa jalan‑jalan kabupaten, yang terhubung ke kawasan pertumbuhan di kecamatan‑kecamatan, dan selanjutnya jalan‑jalan desa, sebagai jaringan tersier, yang menghubungkan desa‑desa dan permukiman penduduk. Sesuai dengan pendekatan tersebut, untuk pembangunan jaringan transportasi jalan, ditentukan kriteria pengembangan jaringan jalan strategis yang meliputi tiga kelompok. BRR Perwakilan Nias menangani pembangunan kembali prasarana dan sarana transportasi pada ruas‑ruas jalan provinsi dan beberapa ruas strategis jalan kabupaten. Bentuk pembangunan jalan berupa pelebaran dan pelapisan aspal hotmix, drainase, serta pemasangan markah jalan, yang tidak pernah ada di Nias sebelumnya. Kota Gunungsitoli saat ini boleh jadi merupakan satu dari sedikit kota kabupaten di Indonesia yang seluruh jalan perkotaannya dibangun secara baik dengan pelapisan aspal hotmix. Selama kurun waktu rehabilitasi dan rekonstruksi Nias, 308,40 kilometer jalan provinsi dan kabupaten strategis serta 267 kilometer jalan kabupaten dan kecamatan strategis terbangun.

106

Tiga Kelompok Kriteria Pengembangan Jaringan Jalan Strategis
1. Kriteria Pengembangan Ekonomi • Menyediakan akses untuk mendukung pengembangan ekonomi Nias secara keseluruhan: bandara, pelabuhan, dan sentra‑sentra pertumbuhan (Gunungsitoli, Teluk Dalam, Lahewa, dan Sirombu). • Menyediakan akses untuk mendukung pengembangan pertanian di wilayah‑wilayah terisolasi dengan membangun jaringan jalan yang melayani seluruh wilayah Pulau Nias serta membuka akses pada wilayah yang memiliki potensi pertanian. • Menyediakan akses untuk mendukung pengembangan pariwisata. 2. Kriteria Pengembangan Sosial • Menyediakan akses untuk mendukung pengembangan sosial: pusat pelayanan dan fasilitas publik di ibu kota kecamatan, sesuai dengan konsep pengembangan hierarki pusat pelayanan. • Meminimalkan jarak tempuh pejalan kaki dari wilayah pedesaan ke ruas jalan strategis dengan cara mengoptimalkan jaringan jalan. 3. Kriteria Efisiensi dan Efektivitas • Mengembangkan jaringan jalan strategis sebagai jaringan yang saling terkoneksi, sehingga tidak ada jalan buntu. Hal ini terkait pula dengan kesiagaan bencana, di mana jaringan yang saling terkoneksi akan memberikan akses alternatif saat terjadi bencana atau situasi darurat lain. • Menyediakan kualitas akses yang bertalian dengan kepadatan penduduk, misalnya jaringan jalan lebih rapat dengan jarak tempuh lebih pendek bagi pejalan kaki di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi. • Mendasarkan kebijakan dan hasil pembangunan sebelumnya dengan melibatkan sebanyak mungkin ruas jalan yang kualitasnya telah ditingkatkan di masa lalu (keberlanjutan kebijakan). • Mengoptimasi desain jaringan jalan strategis menyangkut kondisi topografi dan kendala alam (gunung, sungai, rawa, risiko tsunami, dan sebagainya).

Bagian 5. Membangun Infrastruktur Mulai dari Transportasi

107

108

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Ruas Jalan Gunungsitoli‑Tuhemberua; Sebelum direhabilitasi (kiri), 2006, dan sesudah (kanan), Januari 2007. Foto: BRR/Bodi CH

Pembangunan transportasi kecamatan yang menghubungkan sentra‑sentra di kecamatan dengan sentra‑sentra desa merupakan tanggung jawab pemerintah kabupaten. Meskipun demikian, BRR Perwakilan Nias menangani pembangunan kembali prasarana dan sarana transportasi pedesaan ini melalui program Bantuan Langsung Masyarakat Prasarana dan Sarana Dasar (BLM‑PSD) sejak akhir 2006 hingga 2008, yang dikoordinasi dan dilaksanakan langsung oleh masyarakat. Selama masa rehabilitasi dan rekonstruksi, transportasi kecamatan dan desa yang terbangun, baik oleh BRR maupun lembaga lain atau atas inisiatif masyarakat sendiri, mencapai 1.000 kilometer. Sebagai upaya pengembangan dinamika ekonomi lokal di kecamatan dan desa, dikembangkan Program Pengembangan Ekonomi dan Penghidupan Masyarakat Nias atau Nias Livelihood and Economic Development Program (Nias‑LEDP),15 yang dilaksanakan mulai 2009 hingga 2011. Sebagian program ini diperuntukkan buat pengembangan transportasi di kecamatan dan desa yang secara langsung menopang pengembangan ekonomi di kawasan tersebut. BRR Perwakilan Nias menetapkan sistem transportasi menjadi prioritas sejak pertengahan masa rekonstruksi hingga awal masa transisi menuju kegiatan pembangunan reguler. Sedangkan pengembangan ekonomi masyarakat dilaksanakan pada masa transisi dan masa pembangunan reguler.

Sinkronisasi pembangunan antarsektor ini untuk memberdayakan masyarakat dan menghindarkan terjadinya penetrasi orang kota yang memanfaatkan sistem transportasi yang membaik untuk meraup keuntungan ekonomi secara tidak adil hingga ke desa‑desa. Gejala ketimpangan ini mulai terjadi. Kualitas jalan membaik, tapi tidak berdampak pada perbaikan harga hasil pertanian. Pasalnya, kemudahan jaringan transportasi justru mengundang para pedagang kota yang bermodal besar masuk ke berbagai kawasan untuk membeli hasil‑hasil pertanian dengan harga rendah. Dampak langsung perbaikan sistem dan kualitas transportasi adalah aksesibilitas wilayah ke sentra‑sentra pertumbuhan ekonomi. Peningkatan kualitas jalan dapat mempercepat waktu tempuh sekaligus memudahkan mobilitas barang dan orang ke berbagai lokasi. Namun, harus diakui, perbaikan sistem transportasi tidak otomatis membangkitkan perekonomian. Perbaikan sistem transportasi hanya satu tahap untuk memberikan kemudahan. Masyarakat sendirilah yang harus berupaya menarik manfaat dari peningkatan sistem transportasi. Program Nias‑LEDP bertujuan memberdayakan masyarakat dan memicu tumbuhnya perekonomian di desa‑desa. Pasca‑rehabilitasi dan rekonstruksi, pendekatan program pemberdayaan ini perlu terus dikembangkan oleh pemerintah daerah.

Bagian 5. Membangun Infrastruktur Mulai dari Transportasi

109

Bandara Binaka di Kota Gunungsitoli, November 2008. Bandara ini merupakan akses masuk utama ke Kepulauan Nias melalui udara. Foto: BRR/Bodi CH

Bagian 5. Membangun Infrastruktur Mulai dari Transportasi

111

Masyarakat Desa Juga Mampu Bangun Infrastruktur
berupa 19 buah jembatan, 3 paket jalan dengan total panjang jalan jembatan tampaknya bukan lagi mencapai 22.049 km, serta 1 paket termasuk jenis konstruksi yang pembangunan air minum di Desa hanya bisa dilakukan kontraktor Tuhembuasi, Kecamatan Gido, berupa berpengalaman dan memiliki peralatan pipanisasi sepanjang 2.600 meter dan lengkap. Pembangunan jembatan yang pembangunan 2 bak induk dan 5 bak baik juga tidak harus menggunakan penampung. peralatan kerja yang canggih seperti ekskavator atau alat berat lainnya. Menurut Sadokhi Halawa, awalnya mereka ragu dapat membangun Hanya bermodalkan kerja sama jembatan, apalagi melihat lokasi yang dan gotong‑royong, semua warga, sangat curam, mencapai kedalaman tua‑muda, perempuan dan laki‑laki, lebih dari 10 meter, dan lebar aliran dapat turut serta membangun sungai mencapai lebih dari 30 meter. jembatan. Mereka juga secara mandiri Keraguan ini akhirnya hilang karena membuat pembagian kerja yang adil para fasilitator BRR meyakinkan di antara warga di desa dengan nyaris mereka bahwa masyarakat akan tidak ada protes. didampingi oleh fasilitator yang Pembangunan jembatan yang bertugas sebagai konsultan bagi dilaksanakan masyarakat beberapa masyarakat. desa di Nias ini boleh jadi baru Menurut Halawa, jembatan ini pertama terjadi di Indonesia. sangat bermanfaat bagi masyarakat Pembangunan jembatan yang selama tiga desa, yaitu Desa Tiga Serangkai, ini dianggap sebagai jenis konstruksi Desa Gunung Cahaya, dan Desa padat modal dan keahlian ternyata Onowaembo, di Kecamatan Lahomi, dapat dilaksanakan penduduk yang yang selama ini terisolasi. Padahal tiga rata‑rata tidak berpendidikan tinggi desa dengan jumlah penduduk sekitar dan juga tidak berpengalaman dalam 5.000 orang ini merupakan penghasil bidang konstruksi. utama karet dan kopra. “Tidak ada masalah. Kami bisa “Selama ini hasil‑hasil masyarakat bangun jembatan. Seluruh masyarakat sulit dibawa ke pasar karena tidak mendukung,” ujar Sekretaris Komite ada jalan tembus. Masyarakat Percepatan Pembangunan Perumahan hanya dapat memikul hasil produksi dan Permukiman Desa (KP4D) Sadokhi mereka melewati sungai yang Halawa ketika berdialog dengan sering mengalami banjir besar,” ujar Kepala BRR Perwakilan Nias William Halawa, yang dibenarkan Ketua KP4D P. Sabandar, Jumat (8/8), di lokasi Paustinus Daely. pembangunan jembatan di Sungai Lahomi Tiga, Kecamatan Lahomi, Nias. Karena itu, menurut Halawa dan Daely, masyarakat sangat mendukung Jembatan di Sungai Lahomi pembangunan jembatan ini. Sejak awal Tiga adalah salah satu dari 19 masyarakat tiga desa bergotong‑royong jembatan yang saat ini sedang menyiapkan lahan dan mengumpulkan dibangun masyarakat dari program material seperti batu dan pasir. pembangunan Prasarana dan Sarana Dasar (PSD) di Kabupaten Nias. Total Semangat gotong‑royong dan jembatan yang dibangun masyarakat swadaya masyarakat ini menyebabkan ini mencapai 399 meter. Khusus anggaran pembangunan jembatan Kabupaten Nias, program PSD bailey sepanjang 30 meter dan lebar 2008 ini menelan dana senilai Rp 5 meter ini hanya menelan dana 8.279.955.000. senilai Rp 492.306.000 di luar rangka bailey yang disediakan BRR. Anggaran Terdapat 23 paket program yang ini sepenuhnya dikelola masyarakat dilaksanakan di 15 kecamatan. melalui KP4D, termasuk belanja Paket program yang dikembangkan

PEMBANGUNAN

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

pengadaan material. Dana dicairkan langsung ke rekening KP4D secara bertahap. Menurut Fransiskus Nduru, yang bertanggung jawab terhadap seluruh program PSD BRR di Nias, sebelum memulai proyek pembangunan jembatan, anggota KP4D dan lembaga desa sebagai lembaga monitoring telah diberi pelatihan mengenai administrasi proyek, termasuk teknik konstruksi. “Masyarakat telah dipersiapkan dengan pelatihan pembukuan dan termasuk bagaimana membuat RPD (rencana penggunaan dana), laporan penggunaan dana, dan buku kas. Pelatihan juga dilaksanakan untuk pengembangan pengetahuan konstruksi, yang diikuti pengurus KP4D dan lembaga desa,” demikian ujar Frans Nduru saat mendampingi Kepala BRR Perwakilan Nias William Sabandar mengunjungi beberapa lokasi pembangunan jembatan dan jalan yang menjadi tanggung jawabnya, Sabtu lalu. Menurut Frans, dalam pelaksanaan PSD ini terlihat transfer ilmu terhadap masyarakat berlangsung, sehingga mereka bisa dan terbiasa dengan program pembangunan. Selain itu, terjadi efisiensi penggunaan anggaran. “Masyarakat juga dengan sendirinya terbiasa menyelesaikan masalah yang muncul di tingkat desa, karena kita sudah menyiapkan apa pun masalahnya harus diselesaikan di desa. Ini mendorong mereka dapat menyelesaikan masalah mereka sendiri. Pada masa yang akan datang, akan sulit jika kontraktor atau siapa pun menipu masyarakat, karena mereka telah paham tentang berbagai aspek pembangunan,” demikian Frans dengan yakin.
Sumber: HARIAN WASPADA (MEDAN): 15 Agustus 2008

112

Pembangunan infrastruktur transportasi di Nias dalam kurun waktu tiga setengah tahun telah meningkatkan aksesibilitas wilayah dan masyarakat Nias secara signifikan. Waktu tempuh berkendaraan mobil ke arah utara Nias, Lahewa, dari Gunungsitoli, yang sebelumnya mencapai 5 jam, berkurang menjadi hanya 2 jam setelah perbaikan jalan. Akses ke wilayah barat (Sirombu), yang sebelumnya 5 jam, berkurang lebih dari setengahnya. Demikian pula dari Gunungsitoli ke Teluk Dalam, yang sebelumnya mencapai 6 jam, kini dapat ditempuh dalam waktu kurang dari 3 jam. Lalu lintas kendaraan darat, baik di kota maupun antarwilayah, makin ramai. Jumlah maskapai dan jadwal penerbangan pesawat Medan‑Nias pun meningkat. Peningkatan aksesibilitas telah membangkitkan ekonomi di wilayah‑wilayah pusat pertumbuhan dan mendorong masyarakat melakukan interaksi ekonomi yang lebih baik. Kehidupan ekonomi menggeliat sebagai dampak dari pembangunan kembali transportasi secara terpadu.

Bagian 5. Membangun Infrastruktur Mulai dari Transportasi

113

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

ILO dan Pembangunan Jalan Pedesaan di Nias
Labour Organization (ILO) di Kepulauan Nias bersamaan dengan kehadiran BRR untuk melakukan tugas‑tugas kemanusiaan pascabencana. Prioritas program ILO adalah membuka akses ke kawasan pedesaan. Untuk itu, ILO lebih banyak berfokus pada pembangunan ruas‑ruas jalan strategis di kawasan tertentu, khususnya untuk mendorong peningkatan produktivitas ekonomi masyarakat di pedesaan.

KEHADIRAN International

114

Pendekatan pelibatan masyarakat ini sekaligus dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bantuan dari luar. Menggunakan pendekatan pelibatan masyarakat dalam pembangunan memang membutuhkan waktu relatif lama jika dibandingkan dengan pengerjaan langsung oleh ”kontraktor”, tapi berdampak nyata terhadap kemandirian serta pengembangan sikap masyarakat untuk secara aktif memelihara bangunan infrastruktur publik yang ada. ILO memberikan perhatian merata pada dua wilayah kabupaten, Nias dan Nias Selatan. Selain melakukan proses pembangunan dengan pelibatan masyarakat, ILO melaksanakan program on the job training sebagai bagian dari program capacity building kepada Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah, sebagai unit pemerintah daerah yang bertanggung jawab membangun dan memelihara infrastruktur di wilayahnya. Cakupan aspek pengembangan kapasitas ini adalah perencanaan, pelaksanaan, serta pemantauan dan evaluasi. Panjang jalan yang dikerjakan ILO di Kabupaten Nias sekitar 25,9 kilometer dengan sumber dana OCA dan MDF, sedangkan di Kabupaten Nias Selatan sepanjang 15,9 kilometer dengan sumber dana dari MDF. Spesifikasi jalan yang dibangun ILO berupa lapisan penetrasi (lapen) dengan lebar efektif sekitar tiga meter. Salah satu contoh jalan yang telah dikerjakan ada di daerah Mo’awo, khususnya jalan masuk ke lingkungan SMA Terpadu Nias.

Seluruh program pembangunan jalan desa oleh ILO menggunakan pendekatan berbasis masyarakat atau community‑driven approach, dengan melibatkan masyarakat setempat secara langsung. Melalui pendekatan ini, akses jalan diperbaiki sekaligus memberikan keuntungan secara ekonomi dan modal keterampilan.

Sisarahili Sogaeadu, Kecamatan Gido, Kabupaten Nias. Jauh sebelum bencana, ada jembatan gantung yang hanya bisa dilintasi kendaraan roda dua. Namun, sebelum gempa bumi melanda Nias, jembatan ini telah rusak, sehingga sama sekali tidak bisa dilintasi pejalan kaki sekalipun. Masyarakat dari berbagai desa terpaksa turun ke sungai untuk menyeberang. Tidak gampang menyeberangi sungai yang sering banjir dengan aliran lebar tersebut. Padahal setiap hari ratusan penduduk, termasuk anak‑anak sekolah, harus menyeberanginya. Ketiadaan jembatan menyebabkan banyak desa dengan ribuan penduduk “terperangkap”.

SUNGAI Moa melintasi daerah

BRR Nias memutuskan pelaksanaan salah satu program Prasarana dan Sarana Dasar di daerah ini untuk membangun jembatan sepanjang 2 x 36 meter atau total 72 meter dengan lebar efektif 4 meter. Total anggaran tidak termasuk rangka bailey Rp 474.401.000. Masyarakat yang dikoordinasi Komite Percepatan Pembangunan Perumahan dan Permukiman Desa mampu menyelesaikan pengerjaan jembatan tersebut dalam waktu delapan bulan. Jembatan di Sogaeadu yang diperkirakan dapat digunakan selama 50 tahun ke depan ini telah berfungsi sejak Oktober 2008. Masyarakat sangat mensyukurinya karena kini hidup terasa lebih mudah.

Bagian 5. Membangun Infrastruktur Mulai dari Transportasi

PSD Desa Sogaeadu, Gido Masyarakat Membangun Jembatan Sepanjang 72 Meter

115

Langkah Panjang Menuju Ekonomi Produktif
program ekonomi sepanjang masa tugas BRR di Kepulauan Nias belum dapat dikualifikasikan sangat memuaskan, sesuai dengan prinsip build back better. Untuk menunjang perkembangan ekonomi masyarakat, BRR Perwakilan Nias baru melakukan pembangunan infrastruktur fisik, seperti perbaikan pasar dan irigasi, serta penyaluran bantuan alat‑alat pertanian. Selain itu, BRR Perwakilan Nias berupaya memfasilitasi pembangunan ekonomi jangka panjang yang berkelanjutan serta pengentasan masyarakat miskin melalui Nias Livelihood and Economic Development Program (Program Pengembangan Ekonomi dan Penghidupan Masyarakat Nias) atau Nias‑LEDP dengan memakai kerangka kerja yang disiapkan oleh Infrastructure Reconstruction Enabling Program/Infrastructure Reconstruction Funding Facility (IREP/IRFF). Program itu baru akan diluncurkan pada 2009 sebagai kelanjutan pembangunan ekonomi di Nias, dengan program utamanya mengembangkan perkebunan karet, yang menjadi mata pencarian utama penduduk di kepulauan ini.

PELAKSANAAN

Menjelang petang, dua buruh bangunan terus bekerja dalam proyek pembangunan Pasar Ya’ahowu di Kota Gunungsitoli, Juli 2007. Foto: BRR/Bodi CH

Bagian 6. Langkah Panjang Menuju Ekonomi Produktif

117

Uji Coba Program Ekonomi
NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Pada awal masa rehabilitasi dan rekonstruksi, BRR Perwakilan Nias memakai pendekatan ekonomi kerakyatan untuk pembangunan kembali pilar ekonomi di Kepulauan Nias. Program‑program pengembangan ekonomi dengan dana kecil ditujukan langsung kepada masyarakat, yang pada saat itu sedang dalam masa pemulihan setelah melampaui masa tanggap darurat.

Program Bantuan Perahu Nelayan
Program yang digulirkan pada 2005 ini bertujuan memulihkan mata pencarian penduduk melalui pemberian perahu dan alat tangkap ikan kepada 300 nelayan karena, setelah bencana, masih cukup banyak nelayan yang tidak dapat mencari ikan lantaran perahu mereka rusak atau hilang. Namun pengelolaan proyek ini tidak berjalan baik. Kontraktor hanya menyediakan 72 unit perahu, dan 9 unit di antaranya dalam kondisi fisik yang tidak layak berlayar. Walaupun kontraktor kemudian melakukan perbaikan perahu, jumlah keseluruhannya tetap tidak memenuhi target.

118

Beberapa Faktor Hambatan Program Ideal Nias Micro Finance
• Persepsi yang keliru di kalangan masyarakat bahwa hibah adalah dana yang diberikan tanpa syarat dan tanpa kewajiban mengembalikannya, sehingga dapat digunakan sesuai dengan kemauan penerima bantuan. Kedudukan manajemen koperasi dan UKM yang menerima bantuan kurang kuat, sehingga pendampingan dan pengendalian dana yang bergulir tidak berjalan dengan baik. Kondisi ini ditambah kurangnya pendampingan konsultan atau fasilitator dari sisi program dan keterbatasan tim teknis proyek dalam organisasi proyek. Dinas koperasi setempat, selaku unit di daerah yang memiliki kompetensi membina koperasi dan UKM, tidak ikut terlibat, yang menjadi salah satu penyebab terbentuknya Nias Micro Finance dalam bentuk perseroan terbatas dan bukan koperasi sekunder. •

Berangkat dari pengalaman tersebut, pada tahun‑tahun berikutnya pemberian bantuan perahu tidak lagi dilakukan melalui kontraktor, tapi langsung ke masyarakat nelayan, yang mengerjakan sendiri pembuatan perahu mereka. Skema ini sangat baik, mengingat kualitas perahu dan desainnya terjamin. Di samping itu, para nelayan mendapat manfaat ekonomi langsung dari proses pengadaan perahu. Karena alokasi anggaran untuk program ini tidak terlalu besar, tidak semua masyarakat nelayan yang menjadi korban bencana dapat menikmati bantuan ini.

Nias Micro Finance
Program pengembangan ekonomi berdana kecil kemudian diperluas dengan pemberian bantuan modal usaha kepada kelompok masyarakat, koperasi, dan usaha kecil‑menengah (UKM), agar unit‑unit ekonomi mikro ini dapat menjadi penyalur pendanaan berkelanjutan bagi masyarakat. Skema pembiayaan ini memuncak dengan pembentukan Nias Micro Finance sebagai unit pengelola dan pengendali dana‑dana bergulir yang sudah disalurkan.

Sebenarnya Nias Micro Finance dirancang untuk mengelola pengembalian dana beserta bunganya yang dihibahkan BRR kepada beberapa koperasi terpilih, untuk selanjutnya digulirkan ke para anggotanya. Sebagai penunjang program, diadakan pelatihan‑pelatihan serta peningkatan kapasitas koperasi dan UKM. Karena tingkat efektivitas pelatihan dan peningkatan kapasitas tersebut tidak dapat diukur, tidak diketahui dampaknya terhadap kinerja koperasi dan UKM yang mendapat bantuan BRR. Dalam praktiknya, pengembalian dana pinjaman ke Nias Micro Finance berjalan lamban, sehingga menyulitkan pengguliran dana ke para calon penerima manfaat lain. Akhirnya Nias Micro Finance tidak lagi diberi hak mengelola hibah, dan perannya diambil alih dinas koperasi. Ini merupakan pilihan terbaik, mengingat pengguliran dana merupakan kegiatan intensif yang dikelola pihak yang berkompeten dalam jangka panjang. Sudah tentu, organisasi ad hoc seperti BRR tidak memiliki kapasitas untuk melakukan hal tersebut. Menimba pelajaran dari kegagalan program‑program berdana kecil, BRR Perwakilan Nias kemudian mengubah strategi dengan mengucurkan dana besar untuk pembangunan fasilitas‑fasilitas penunjang kegiatan ekonomi, seperti Pasar Yaahowu, Pendaratan dan Pelelangan Ikan (PPI) Teluk Belukar, Pasar Teluk Dalam, dan PPI Teluk Dalam.

Pasar Yaahowu
Pasar ini dibangun dengan dana lebih dari Rp 20 miliar di atas lahan bekas pasar milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nias yang hancur akibat gempa. Kompleks pasar yang modern ini diserahterimakan kepada Pemkab pada Mei 2008 oleh Menteri Dalam Negeri dan Kepala BRR NAD‑Nias. Secara bisnis, Pasar Yaahowu merupakan unit yang sangat menguntungkan Pemkab, karena investasi dilakukan oleh BRR. Namun, untuk menjamin Pasar Yaahowu menjadi unit bisnis yang menguntungkan dan berkelanjutan, perlu dilakukan serangkaian tindakan manajemen. Dari hasil studi konsultan BRR untuk manajemen Pasar Yaahowu, direkomendasikan beberapa langkah agar unit bisnis ini mendatangkan profit dan berkelanjutan, yakni membentuk badan pengelola, membuat peraturan daerah tentang retribusi, dan sebagainya. Namun, setelah serah‑terima berlalu tujuh bulan, hingga akhir Desember 2008, Pasar Yaahowu masih belum dimanfaatkan secara optimal oleh Pemkab Nias.

Bagian 6. Langkah Panjang Menuju Ekonomi Produktif

Nias Micro Finance berbentuk badan hukum berupa perseroan terbatas dengan pemegang sahamnya perwakilan dari koperasi‑koperasi penerima bantuan. Status badan hukum ini membuat Nias Micro Finance disorot berbagai pihak, terutama Pemerintah Kabupaten Nias, mengingat dana yang ditampung tidak dapat diawasi penggunaannya sehingga ada potensi terjadi penyelewengan.

119

Sekitar 90 persen penduduk Kepulauan Nias hidup dari pertanian serta perkebunan karet, kopra, dan kakao, yang memberikan kontribusi sekitar 50 persen dari produk domestik bruto (PDB). Karena curah hujan yang tinggi (2.800 mm/tahun), hasil pertanian sedikit dan kurang efisien. Sementara itu, karet menjadi hasil panen utama kebanyakan petani di dataran tinggi Nias. Kecamatan penghasil karet antara lain Alasa, Hiliduoa, Gunungsitoli, Mandrehe, Tuhemberua, Lahewa, Lolofitumoi, Namohalu, dan Lotu. Kabupaten Nias dengan total area perkebunan karet sekitar 20.000 hektare (rata‑rata tahun 2003‑2006)16 menghasilkan kira‑kira 11.500 ton karet (90 persen produksi total karet dari kepulauan ini). Seluruh hasil karet diekspor. Sedangkan menurut data Badan Pusat Statistik, area perkebunan karet di Kabupaten Nias Selatan mencapai 4.100 hektare, dengan hasil produksi 2.300 ton. Sebagian hasilnya dikapalkan melalui Gunungsitoli. Dukungan pemerintah terhadap sektor perkebunan karet masih terbatas pada beberapa proyek skala kecil, yang mencakup penanaman kembali di perkebunan kecil. Sampai sekarang, belum ada penyemaian karet dalam skala besar di kepulauan ini. Sejak 2006, sejumlah penyemaian karet diselenggarakan melalui berbagai program bantuan, seperti yang dilakukan Oxfam, tapi pasokan bibit terbatas pada kelompok‑kelompok tani yang berpartisipasi.

Empat Sasaran Nias‑LEDP
1. Mengembangkan dan menerapkan program‑program yang terfokus pada mata pencarian dan pembangunan yang berkelanjutan di sektor pertanian dan usaha. 2. Mendukung pelatihan dan investasi yang ditargetkan dalam sektor‑sektor percontohan. 3. Meningkatkan akses terhadap layanan sosial, pasar, dan peluang ekonomi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat pedesaan. 4. Meningkatkan kapasitas layanan pemerintah setempat.

Sebagai wujud kepedulian terhadap kelanjutan pembangunan ekonomi dalam jangka panjang, sekaligus pengentasan masyarakat dari kemiskinan yang telah lama mendera Kepulauan Nias, BRR Perwakilan Nias menginisiasi Nias‑LEDP.
Tabel 6.1: Area Pertanian dan Perkebunan di Kabupaten Nias dan Nias Selatan (dalam Hektare)

Kabupaten Nias Nias Selatan Total

Karet 36,226 4,252 40,478

Kakao 3,600 1,296 4,896

Kopra 39,163 21,464 60,627

Beras 17,135 10,647 27,782

Lainnya 10,000 3,406 13,406

Total 106,124 41,065 147,189 Daerah sekitar Pasar Ya’ahowu di Kota Gunungsitoli sebelum dan sesudah rekonstruksi. Foto: BRR/Bodi CH

Sumber: Dinas Pertanian dan Kehutanan Nias dan Nias Selatan (2008)

Bagian 6. Langkah Panjang Menuju Ekonomi Produktif

Mengubah Hutan Karet Menjadi Perkebunan Karet

121

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Yumirna, Langkah Kecil Pascarehabilitasi Nias
Oleh AUFRIDA WISMI Kesedihan dan kehilangan tentulah dirasakan Yumirna Zega, seperti umumnya para korban gempa dan tsunami yang melanda Pulau Nias, Sumatera Utara, tahun 2005. Namun, kesedihan dan kehilangan itu tak dia biarkan mengendap lama. Yumirna bangkit, ia rajin mengelola warung makan. Hasil dari keuntungan berjualan makanan itu, antara lain, untuk membeli notebook seharga Rp 6 juta agar anak‑anaknya fasih dengan komputer. Meski bisa dikatakan Yumirna ”sukses”, belakangan ini Yumirna merasa gelisah. Kegalauannya itu diikuti pertanyaan, apakah yang akan terjadi pada Pulau Nias saat Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Regional Nias berikut lembaga‑lembaga internasional keluar dari pulau ini? Kegelisahan yang beralasan. Tanggal 22 Desember 2008, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Regional Nias resmi menutup kantornya. Meski ada tim penuntasan yang akan menyelesaikan proses rekonstruksi di pulau ini, kecemasan itu secara manusiawi muncul juga. Pulau yang tertinggal di Provinsi Sumatera Utara itu mendapat kucuran dana Rp 1,3 triliun per tahun pascagempa dan tsunami. Semua itu harus berakhir. Ribuan orang yang bekerja di Nias mulai keluar sejak pertengahan tahun 2008 ini. ”Mau tak mau saya kepikiran juga, seperti apa kami nanti?” tutur Yumirna, pemilik warung nasi Andy Mursyid di Jalan Masjid, Desa Tetehösi, Kecamatan Idanögawo, Kabupaten Nias. Warung nasi itu dia bangun bersama suaminya, Yasmin Harefa (50), mantan Kepala Desa Bozihöna, Kecamatan Idanögawo, selama dalam pengungsian akibat gempa dan tsunami. Ketika gempa menggoyang Pulau Nias, 28 Maret 2005, Yasmin, Yumirna, dan lima anak mereka langsung meninggalkan rumah.

WARASTRI

Mereka berjalan kaki 12 kilometer selama dua jam, menembus malam dari Bozihöna sampai ke lapangan Idanögawo. ”Kami berjalan sambil terus berpegangan pada seprai supaya tidak terpisah satu sama lain,” kata Yasmin. Keluarga itu hanya sempat membawa senter dan selimut. Di Desa Bozihöna, sebelum tsunami menerjang, mereka mempunyai warung yang melayani warga untuk memenuhi kebutuhan sehari‑hari, termasuk kebutuhan melaut para nelayan. Tiga hari setelah mengungsi, Yasmin baru pulang menengok rumah. Warungnya sudah kosong dan berantakan, selain rusak karena gempa dan tsunami. Isi warung juga dijarah orang. Lebih dari tiga bulan keluarga Yumirna‑Yasmin bersama ratusan keluarga lain hidup di tenda di seputar lapangan Idanögawo. Tenda yang mereka tempati pun bermacam‑macam, dari tenda darurat hingga tenda semipermanen. Untuk makan dan minum, mereka pun mengandalkan bantuan meski warga juga turut bekerja di dapur umum.

122

Warung kecil
Namun, apa enaknya hidup mengandalkan bantuan tanpa pemasukan sendiri? Yumirna berinisiatif membuka warung kecil di bawah tenda bantuan UNHCR. Ia mendapat pinjaman dari tetangganya, Ama Raya, berupa satu meja darurat, gelas, piring, setengah kilogram gula, satu bungkus teh, seperempat kilogram kopi, dan satu kardus mi instan. Mulailah Yumirna berjualan. Satu demi satu pekerja lembaga swadaya masyarakat (LSM) mampir ke warungnya. Sebagian mereka bertanya mengapa tak ada nasi? ”Tidak ada modal untuk berjualan nasi,” jawabnya. Mereka berjanji akan datang lagi ke warung itu jika Yumirna menyediakan nasi. Ia lalu berupaya mencari pinjaman uang agar bisa menyediakan nasi bagi pelanggan. Ia berutang Rp 100.000 untuk membeli beras, ikan, daun ubi, bumbu‑bumbu, dan bahan bakar. ”Satu piring nasi saya jual seharga Rp 5.000.”

Awalnya warung hanya dikunjungi satu‑dua pembeli, lalu bertambah menjadi rata‑rata tujuh pembeli per hari. Para pekerja LSM pun menyebarkan keberadaan warung Yumirna dari mulut ke mulut. Selain untuk pekerja LSM, ia kemudian juga memasak untuk pekerja bangunan menara BTS (based transceiver station) telepon seluler dan pekerja bangunan rumah BRR. ”Memang kami harus banyak bergaul supaya banyak yang pesan makanan kepada kami,” tuturnya. Ia juga menjadi anggota kelompok usaha kecil dampingan LSM internasional Oxfam yang beranggota 15 perempuan. Di kelompok bernama Penggalas itu, Yumirna mendapat pinjaman Rp 3.250.000. Uang itu ia gunakan untuk membeli kompor dan alat dapur agar bisa menambah menu mi sop sebagai dagangan. Penghasilannya mencapai Rp 200.000‑Rp 300.000 per hari. Namun, dari 15 orang itu hanya Yumirna yang bertahan. ”Tak ada yang berhasil, banyak orang tidak sabar. Kalau orang jualan kan mesti sabar,” katanya.

Bagaimanapun, keuntungan berjualan makanan sudah dirasakan Yumirna dan keluarga. Tak hanya bisa menutupi kebutuhan makan sehari‑hari, ia juga bisa membuat warung. Ia juga mampu membeli notebook seharga Rp 6 juta agar anak‑anaknya fasih dengan komputer. Bahkan, dengan notebook itu anak‑anaknya dilatih membuka jasa pengetikan. Anak‑anaknya juga membantu pekerjaan di warung, apalagi saat ada banyak pesanan. Si sulung, Faznir Syam Harefa (18), bahkan mendapat beasiswa untuk kuliah di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, hasil kerja sama dengan IAIN di Medan. Namun, Yumirna masih punya ”ganjalan”. Sebelum gempa datang, ia punya pinjaman pada BRI sebesar Rp 22 juta. Saat gempa dan tsunami menerjang Nias, baru tiga kali dia mengangsur. ”Setelah itu, kami tidak bisa membayar lagi. Namun, kami tetap akan datang ke BRI untuk membicarakan masalah ini supaya nama baik ini terjaga,” kata Yumirna, yang sudah menyelesaikan kursus membordir. Sayang, ia belum bisa membuka usaha bordir karena keterbatasan dana. Di desa mereka, Yasmin sudah membersihkan lahan seluas satu hektare untuk bertanam cokelat. Kerja keras itu sebagai upaya mereka agar dapat menabung, terutama untuk membiayai sekolah keenam anaknya. Pada Desember ini, Yumirna merasakan Pulau Nias mulai sepi. Namun, dia sepenuhnya sadar, warga setempat harus bisa mandiri saat bantuan tiada lagi. Mereka benar‑benar harus mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Sumber: KOMPAS: Kamis, 11 Desember 2008

Menyewa dua kapling
Kesabarannya menuai hasil. Warungnya yang semula di tenda bantuan, setelah beberapa kali pindah, kini menempati bangunan yang terbuat dari kayu beratap seng di kompleks Pasar Idanögawo. Ia menyewa dua kapling yang sekaligus menjadi tempat tinggal. Yumirna bercerita, warungnya berkembang karena Oxfam banyak memesan makanan kepadanya, terutama nasi bungkus dan penganan untuk peserta pelatihan yang diselenggarakan LSM tersebut. Sekali pesan, jumlahnya ratusan paket. Ia menunjukkan pembukuan warung yang juga diajarkan Oxfam. Selain Oxfam, beberapa LSM lain juga memesan makanan kepadanya. ”Nanti, kalau mereka pergi, langganan saya berkurang,” tuturnya bernada khawatir.

Bagian 6. Langkah Panjang Menuju Ekonomi Produktif

123

Di antaranya program pengembangan perkebunan karet. Dukungan terhadap perkebunan karet akan meliputi pendirian penyemaian‑penyemaian karet di sejumlah kecamatan tertentu, penanaman kembali perkebunan‑perkebunan kecil, serta pembangunan pabrik‑pabrik kecil untuk menghasilkan karet lembaran di kluster‑kluster kecamatan tertentu. Sementara ini, Kecamatan Sawo, Tuhemberua, Sitolu Ori, Namohalu Esiwa, Alasa, Tugala Oyo, Mandrehe Barat, Mandrehe Utara, dan Mandrehe di Kabupaten Nias serta Kecamatan Lolowa’u, Teluk Dalam, dan Pulau‑Pulau Batu17 di Kabupaten Nias Selatan, dengan jumlah area keseluruhan mencapai 40.000 hektare, telah dipilih untuk penerapan program karet tersebut.

Pada suatu Sabtu siang, keadaan pusat Kota Gunungsitoli, ibu kota Kabupaten Nias, terasa lengang dan sepi. Tidak seperti hari‑hari biasanya, yang selalu ramai dengan kegiatan perdagangan dan orang lalu‑lalang dengan sepeda motor. Padahal Sabtu adalah hari belanja bagi masyarakat Nias, menjelang hari ibadah keesokan harinya. Sangat mengherankan. Terasa ada sesuatu yang terjadi. Walaupun semua toko tetap buka, pengunjungnya sepi. Tidak hanya toko‑toko di sepanjang Jalan Sirao, yang merupakan kawasan padat transaksi, tapi juga di sepanjang jalan lokasi pasar tradisional —Pasar Beringin, di wilayah Afilaza, Gunungsitoli. Seseorang bertanya, “Ada apa, ya, kok sepi sekali? Ke mana orang‑orang dengan sepeda motornya yang biasa bikin sesak dan macet jalan‑jalan di Kota Gunungsitoli?” Ternyata situasi ini terjadi karena harga komoditas karet jatuh dan menyentuh angka Rp 2.000‑an per kilogram. Itu berarti anjlok lebih dari 100 persen, hampir sama dengan harga karet pada saat terjadi gempa Maret 2005. Akibatnya, masyarakat yang menghasilkan dan menjual karet mentah, sekitar ratusan ton setiap minggu, menahan dan tidak menjual karet ke penampungan di Kota Gunungsitoli. Harga itu tidak saja sangat merugikan mereka, tapi juga tidak cukup menopang kehidupan keluarga. Akibatnya adalah tidak ada transaksi di toko‑toko dan pasar‑pasar. Situasi di atas merupakan gambaran nyata dinamika perekonomian di Kepulauan Nias, yang masih sangat bergantung pada produk karet sebagai sumber penghasilan dana tunai dibanding produk lain. Karet menjadi andalan masyarakat untuk mendapat uang dengan cepat dan menjadi sumber keuangan untuk membiayai kebutuhan konsumsi lain, terutama sembilan bahan kebutuhan pokok (sembako). Foto yang menggambarkan situasi sosial‑ekonomi dan fisik wilayah Nias: Sumber penghidupan masyarakat Nias adalah karet, dan anak‑anak pun telah bekerja sejak usia dini mengangkut karet melalui jalan yang sulit dilewati menuju pasar lokal.

Tantangan bagi para petani dalam program ini bukan hanya meningkatkan teknik‑teknik produksi agar produksi bertambah. Yang lebih penting adalah meningkatkan kualitas dan memperoleh nilai tambah.

Meski sampai akhir Desember 2008 dapat dikatakan BRR Perwakilan Nias belum sepenuhnya berhasil meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat hingga tahap ketahanan ekonomi yang kokoh dalam menghadapi bencana di masa depan, kiranya upaya‑upaya pembangunan ekonomi yang telah dirintis sekitar tiga setengah tahun belakangan ini dapat terus dikembangkan di masa mendatang.

Seorang petani menyadap getah karet dari pohonnya di Kecamatan Mandrehe Utara, Kabupaten Nias. BRR dan para mitranya berupaya meningkatkan kualitas hidup para petani melalui dukungan penyemaian bibit, penanaman kembali perkebunan kecil serta pendirian pabrik pengolahannya. Foto: BRR/Bodi CH

Bagian 6. Langkah Panjang Menuju Ekonomi Produktif

Corak Umum Kehidupan Masyarakat Petani di Kepulauan Nias

125

Memperkuat Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia
di daerah terpencil lain di Indonesia, kondisi kesehatan, pendidikan, dan kantor‑kantor pemerintahan di Kepulauan Nias telah berada di titik kritis, sebelum gempa bumi dahsyat menggoyang bumi Nias pada malam 28 Maret 2005. Masalah kronis dalam bidang kesehatan mencuat, seperti kurangnya tenaga medis, keterbatasan peralatan medis dan pasokan obat‑obatan, tidak terawatnya fasilitas kesehatan, serta kurang memadainya pelayanan kesehatan. Melihat kondisi tersebut, BRR Perwakilan Nias menata suatu sistem pelayanan kesehatan berjenjang untuk dapat memberikan pelayanan secara mandiri di wilayah Kepulauan Nias. Cakupan rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilaksanakan BRR Perwakilan Nias sesuai dengan pendekatan ini adalah upaya meningkatkan kecakapan sumber daya manusia (SDM) kesehatan dengan meluncurkan program beasiswa dan pelatihan bagi dokter dan tenaga medis lainnya, melengkapi fasilitas kesehatan di berbagai jenjang, serta membangun kembali pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) plus, puskesmas, puskesmas pembantu, dan pos pelayanan terpadu (posyandu).

SEPERTI

Ibu‑ibu rumah tangga di Kota Gunungsitoli menerima pelatihan menjahit. Pelatihan yang dilaksanakan oleh Pemda Nias bekerja sama dengan BRR dan beberapa lembaga bantuan ini merupakan salah satu upaya pemberdayaan perempuan. Foto: BRR/Bodi CH

Bagian 7. Memperkuat Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia

127

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Berbagai Masalah Kesehatan di Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan
• Angka kematian ibu di Nias 357 per 100.000 orang, di Nias Selatan 931 per 100.000 orang, sedangkan angka rata‑rata nasional 307 per 100.000 orang. Angka kematian bayi di Nias 56 per 1.000 orang, di Nias Selatan 42 per 1.000 orang, sementara angka rata‑rata nasional 35 per 1.000 orang. Kasus gizi buruk tinggi (prevalensi berat badan kurang dari 47% < 5 tahun). Kasus malaria mencapai 64.000 orang pada 2006. •

Selain itu, BRR Perwakilan Nias bersama berbagai mitra pemulihan membangun kembali Rumah Sakit Umum (RSU) Gunungsitoli dan menjadikan rumah sakit ini sebagai pusat rujukan yang layak di Kepulauan Nias. Rumah Sakit Lukas di Teluk Dalam, Nias Selatan, juga turut diperbaiki dan diharapkan menjadi rumah sakit pembantu untuk Teluk Dalam dan sekitarnya Hal lain yang turut menyibukkan BRR Perwakilan Nias pada fase awal rehabilitasi dan rekonstruksi Nias adalah menangani obat‑obatan bantuan yang tidak layak pakai. Pengalaman tentang penanganan obat‑obatan kedaluwarsa ini patut mendapat perhatian dan pembelajaran untuk pengendalian bantuan pascabencana pada masa datang.

• •

128

Rendahnya kapasitas pelayanan kesehatan di Kepulauan Nias berjalan seiring dengan rendahnya kapasitas pada institusi pemerintahan dan pendidikan. Dua sektor yang disebutkan terakhir itu pun mengalami kepedihan karena bencana. Sekitar 80 persen fasilitas pendidikan dan 40 persen gedung kantor pemerintah mengalami kerusakan. Karena itu, melalui Pilar Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia, BRR Perwakilan Nias juga membangun kembali gedung‑gedung pemerintahan sambil meningkatkan kapasitas aparat pemerintahan melalui pelibatan mereka dalam kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi serta program pengembangan kapasitas lainnya. Sedangkan fokus pada sektor pendidikan adalah membangun kembali sekolah‑sekolah yang rusak dan melengkapi fasilitasnya.

Menuju Pelayanan Kesehatan Mandiri
Gempa bumi memorakporandakan sekitar 50 persen fasilitas kesehatan sederhana yang ada di kepulauan ini. Selain itu, gempa menyebabkan sejumlah tenaga medis meninggal dan mereka yang selamat berbondong‑bondong mengungsi ke luar Nias. Kondisi ini membuat pelayanan kesehatan di Nias makin buruk. Mendapatkan perawatan medis oleh mereka yang ahli merupakan sesuatu yang langka dan mahal.

Pendekatan pemulihan kesehatan secara menyeluruh ini mendapat dukungan luas dari berbagai organisasi kemanusiaan dan donor yang terlibat dalam kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi Nias, misalnya International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies, lembaga Perserikatan Bangsa‑Bangsa seperti WHO dan UNICEF, serta sejumlah LSM nasional dan internasional, seperti Mercy‑Malaysia, 1. Pembangunan Rumah Sakit Umum (RSU) Gunungsitoli yang World Vision International, Save the menjadi rujukan utama dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Children, Medical Teams International Nias Selatan. Karena keterbatasan dana BRR Perwakilan Nias, (MTI), MAP International, Obor Berkat pembangunan RSU Gunungsitoli menggunakan dana para donor Indonesia, dan Medair. yang dikoordinasi BRR Perwakilan Nias, sementara pembangunan

Prioritas Pembangunan Kembali Fasilitas Kesehatan di Kepulauan Nias
RSUD Nias Selatan sepenuhnya memakai dana BRR Perwakilan Nias.

Mengembangkan Sistem Pelayanan Kesehatan Berjenjang
Sebelum terjadi gempa, fasilitas kesehatan yang tersedia di Kabupaten Nias dan Nias Selatan terdiri atas 28 puskesmas rawat inap dan rawat jalan di berbagai kecamatan, RSU Gunungsitoli, dan sebuah rumah sakit kecil di Hilisimaetano, Teluk Dalam, serta beberapa puskesmas pembantu dan poliklinik desa. Sebagian fasilitas kesehatan ini rusak akibat bencana gempa bumi. Mengingat Nias termasuk kawasan gempa yang intensitasnya cukup tinggi, dalam memperbaiki sarana kesehatan tersebut BRR Perwakilan Nias mengedepankan prinsip‑prinsip pembangunan fasilitas kesehatan yang lebih tahan gempa dan disertai perlengkapan memadai untuk menghadapi situasi darurat. Langkah yang diambil BRR Perwakilan Nias ini

2.

Pembangunan 10 puskesmas plus di Nias dan Nias Selatan. Earthquake and Tsunami Emergency Support Project (ETESP), proyek hibah ADB, membangun 6 puskesmas plus, sementara 4 sisanya dibangun BRR Perwakilan Nias dan LSM. Konsep puskesmas plus agak unik dan spesifik, lahir dari bermacam kesulitan akses yang dialami masyarakat Nias dalam memperoleh pelayanan kesehatan sekunder. Pembangunan puskesmas plus sebagai jejaring rujukan sekunder yang tersebar merata diharapkan bisa memangkas angka kematian karena tidak terjangkau pelayanan rumah sakit. Pembangunan puskesmas lain yang rusak karena gempa. Terlepas dari kebijakan satu kecamatan‑satu puskesmas, BRR Perwakilan Nias hanya membangun kembali puskesmas yang rusak karena gempa, sesuai dengan mandat yang diberikan, sementara pemerintah daerah membangun kebutuhan puskesmas di kecamatan‑kecamatan baru.

3.

Bagian 7. Memperkuat Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia

Menimbang berbagai kondisi tersebut, BRR Perwakilan Nias mengambil pendekatan menyeluruh, yaitu memulai kegiatan dengan menata sistem dan manajemen pelayanan kesehatan, melakukan perbaikan dan pembangunan prasarana dan sarana kesehatan, meningkatkan kapasitas SDM kesehatan, serta mengembangkan kesiagaan menghadapi bencana pada masa datang.

129

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

selaras dengan fokus Kampanye Pengurangan Bencana yang diluncurkan United Nations International Strategy for Disaster Recution (UNISDR) dan WHO pada awal 2008 tentang pembangunan fasilitas kesehatan yang aman terhadap bencana. Fasilitas kesehatan baru benar‑benar aman dari bencana kalau dapat diakses dan berfungsi dalam kapasitas maksimum segera setelah hantaman bahaya (UN‑ISDR, 2008). Pada awal rehabilitasi dan rekonstruksi, BRR Perwakilan Nias membuat kebijakan membangun semua jenis fasilitas kesehatan. Namun, pada tahun kedua, kebijakan tersebut disesuaikan dengan arah strategi pengembangan sistem kesehatan berjenjang di Kepulauan Nias. Strategi pengembangan tersebut meliputi empat bidang utama, yaitu pengembangan SDM kesehatan, perbaikan sistem rujukan berjenjang melalui pengembangan puskesmas plus, pengembangan RSU Gunungsitoli secara komprehensif sebagai rumah sakit rujukan utama, dan peningkatan kapasitas institusi kesehatan. Sebelum gempa, ada 18 puskesmas di Kabupaten Nias yang melayani 18 kecamatan, sedangkan di Kabupaten Nias Selatan ada 10 puskesmas untuk 8 kecamatan. Sesudah pemekaran wilayah di kedua kabupaten, terdapat 33 kecamatan di Kabupaten Nias
Gambar 7.1. Peta Perbandingan Sebaran Fasilitas Kesehatan Sebelum (kiri) dan Sesudah (kanan) Rekonstruksi Pascagempa

130

!

Bersama Menata Kembali RSU Gunungsitoli
RSU Gunungsitoli merupakan satu‑satunya rumah sakit rujukan utama bagi lebih dari 712.000 penduduk Kepulauan Nias. Mengingat peran sangat penting yang dimainkan RSU ini, BRR Perwakilan Nias menjadikan proyek revitalisasi RSU Gunungsitoli sebagai titik tolak pembangunan kembali pelayanan kesehatan yang menyeluruh di Nias. Diawali dengan Hospital Working Group Workshop yang dimotori WHO, BRR, dan Mercy‑Malaysia pada September 2005, pelaksana proyek kemudian menyusun rencana induk revitalisasi RSU Gunungsitoli. Pendekatan komprehensif pembangunan kembali RSU Gunungsitoli dapat dilihat pada Gambar 7.2. Karena keterbatasan dana, pembangunan fisik RSU Gunungsitoli dilaksanakan dalam empat tahap melalui mekanisme “basket funding”. Setiap tahap pembangunan menggunakan sumber dana berbeda dari para donor, yaitu Mercy‑Malaysia (US$ 1 juta), RRC (US$ 1,5 juta), pemerintah Jepang (US$ 5,1 juta), dan Singapore Red Cross (US$ 3,8 juta). BRR Perwakilan Nias sendiri mengalokasikan dana US$ 2 juta untuk peningkatan kapasitas dan pelatihan SDM. Total dana yang diinvestasikan sekitar US$ 13,5 juta atau setara Rp 121,5 miliar dengan kurs US$ 1 = Rp 9.000.

Pada 2007, MTI Community Health Fasilitators (CHF) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) di 50 desa di Kecamatan Lolowa’u dan Amandraya tentang Kesehatan Ibu dan Anak, termasuk di Desa Talio. Tim CHF bertugas menyiapkan dan menyelenggarakan FGD tersebut. Penyelenggaraan di Desa Talio dijadwalkan pada 14 Maret 200. Tanpa disadari, penyelenggaraan kegiatan di Desa Talio dijadwalkan bersamaan dengan penyelenggaraan di Desa Hilinamazihono. Pada tanggal tersebut semua tim CHF berangkat ke Desa Hilinamazihono. Sementara penduduk Desa Talio juga berkumpul menunggu kedatangan mereka. Kepala Desa Talio menyediakan konsumsi bagi komunitas. Pada siang hari, Kepala Desa Talio mendatangi kantor MTI mengungkapkan kekecewaannya. Akibatnya, hal ini mempengaruhi hubungan baik antara MTI dengan masyarakat dan Kepala Desa Talio. Kepala Desa meminta penggantian uang transpor dan konsumsi bagi para warga yang menghadiri acara. Ia mengancam MTI tidak boleh beroperasi lagi di Talio. Keesokan hari, Koordinator Administrasi MTI beserta tim CHF mengunjungi Kepala Desa. Mereka mengakui kesalahan tersebut dengan meminta maaf dan membayar semua pengeluaran. Kepala Desa berkenan menerima permintaan maaf itu diiringi senyum dan jabat tangan, yang kemudian membuahkan hubungan kerja sama produktif antara Talio dan MTI. CHF mendapatkan hikmah ajar. Ternyata, ketelitian atas rincian kecil mutlak diperlukan untuk menghindari kesalahan. CHF juga belajar bahwa kerendahan hati, kesediaan untuk memperbaiki diri, menyikapi kegagalan dengan positif adalah perilaku utama yang dibutuhkan dalam bekerja sama dengan komunitas. Kegagalan dalam bekerja adalah hal wajar, namun jika disikapi secara positif, kegagalan tersebut akan menjadi pijakan menuju keberhasilan.

Upaya peningkatan kapasitas pelayanan dan SDM dikerjakan secara simultan sejak program revitalisasi RSU Gunungsitoli digagas. Melalui program beasiswa BRR Perwakilan Nias tahun 2006 dan 2007, sebanyak 11 dokter pegawai negeri sipil Nias disekolahkan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Diharapkan, pada 2011‑2012, RSU Gunungsitoli akan memiliki dokter‑dokter spesialis tetap.

Bagian 7. Memperkuat Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia

dan 18 kecamatan di Kabupaten Nias Selatan. Meskipun demikian, setelah bencana, terlihat dengan jelas terjadinya peningkatan dan penyebaran fasilitas kesehatan yang lebih baik.

Hikmah Ajar‑MTI (Medical Teams International)
MTI adalah Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan dengan program revitalisasi Posyandu, kesehatan ibu dan anak, sanitasi dan penyediaan air bersih di Nias Selatan. Berikut diungkapkan tantangan lapangan yang merupakan hal lazim dalam gerakan kemanusiaan, namun menjadi hikmah ajar yang baik untuk dibagikan.

131

Hikmah Ajar Medical Assistance Programme (MAP) International
NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

sewaktu bergabung dengan grup perawatan ini. Ternyata malah menyenangkan, saya jadi lebih mengerti tentang kesehatan keluarga.” Demikian pendapat Raditia tentang grup perawatan (care group). Ia termasuk salah satu anggota grup perawatan MAP di Desa Silimabanua, Kecamatan Lahusa. Sejak bergabung dengan grup perawatan, Raditia sangat rajin dan tidak pernah absen. Raditia, 35 tahun, memiliki 4 anak. Anak tertuanya berumur 8 tahun dan anak bungsunya hampir 5 bulan. Raditia dan suaminya adalah petani. “Kami biasa bekerja sehari penuh, tetapi itu bukan alasan untuk tidak bergabung dengan grup perawatan, karena kegiatan grup ini tidak makan banyak waktu,” kata Raditia. “Sebelum bergabung di grup ini, saya memberi bubur untuk bayi saya yang berumur sebulan dan kadang‑kadang menyusui. Itulah yang biasa saya lakukan terhadap semua anak saya.” “Bayi saya selalu menangis,” demikian keluhannya pada promotor kesehatan MAP dalam pertemuan pertama grup perawatan. Raditia kemudian disarankan untuk berhenti memberikan bubur pada bayinya dan cukup dengan menyusui. Ia menuruti saran tersebut dan dalam pertemuan berikutnya, dia berbagi berita gembira. “Bayi saya berhenti menangis dan menjadi lebih tenang,” kata Raditia. Bayinya sekarang berusia 5 bulan dan Raditia mengatakan, ia hanya memberikan Air Susu Ibu (ASI) untuk anaknya. “Saya yakin manfaat ASI dan mengajak teman‑teman saya untuk melakukan hal yang sama. Saya telah membuktikannya pada anak saya. Dia sekarang lebih aktif dan lebih sehat dari sebelumnya.”

“SAYA tidak berharap apa‑apa

Raditia senang berbagi informasi yang ia dapatkan dari grup perawatan. “Saya mengingatkan keluarga saya akan bahaya Tuberkulosis (TB) dan saya pun menganjurkan seseorang yang diduga TB di desa saya untuk menjemur kasur dan membuka jendela kamar setiap pagi, agar sinar matahari masuk ke kamarnya.” Masyarakat seringkali sulit menerima kebiasaan atau nilai baru bila tidak ada bukti nyata. Raditia menjadi contoh yang bagus di desanya, karena ia menikmati langsung manfaat dari informasi yang diperolehnya dari grup perawatan. Lebih bermanfaat lagi adalah karena ia mau membagi informasi tersebut kepada orang lain. Cerita lain dari masa bakti MAP International dalam rekonstruksi pascabencana di Pulau Nias adalah tentang program penanggulangan kekurangan gizi. Tingkat kekurangan gizi di Nias terkenal tinggi di wilayah Sumatera Utara. Januari 2007, MAP International (Tello CHE) mensurvei pengetahuan tentang isu kesehatan ibu dan anak di Tello untuk menentukan keberhasilan campur tangan dalam pendidikan kesehatan melalui Grup Perawatan di komunitas dan revitalisasi Posyandu sebagai bagian Proyek Pendidikan Kesehatan Komunitas di Tello. Ada 304 ibu/ keluarga disurvei dengan 304 bayi usia 0‑24 bulan dan 130 bayi berusia 25‑59 bulan. Ternyata kebanyakan bayi yang disurvei menderita kekurangan gizi. Ada 40 bayi di antaranya menderita kekurangan gizi tingkat sedang dan 5 bayi mengalami kekurangan gizi parah sehingga perlu perawatan khusus. Di Bawo Ama Helato, Marleni, bayi berumur 20 bulan dengan berat 3,9 kg (berat wajar untuk anak seusia ini adalah 11,3 kg) tinggal bersama orangtuanya. Sedangkan kakaknya, Ferdi, 24 bulan hanya seberat 6 kg – seharusnya 14 kg.

Kemudian di Hilinifaoso, Elvikar, 16 bulan, hanya memiliki berat 7 kg (seharusnya 10 kg), Weni, 17 bulan, juga beratnya 7 kg (seharusnya 11kg), serta Cristian, 18 bulan, hanya 7,7 kg padahal seharusnya sekitar 12 kg. Keluarga di sini biasanya harus membesarkan 5‑6 anak dan sangat miskin dengan pendapatan di bawah Rp. 400.000,00 per bulan. Sebagian dari mereka tidak memberikan ASI karena berbagai alasan, sehingga memberi bayi mereka air dan makanan orang dewasa. Ketika kami mengunjungi Marleni pada Mei 2007 di desa Ama Helato, ia tidak dapat bereaksi pada orang karena sudah sangat lemah. Orangtuanya tidak tampak khawatir karena 5 anak mereka lainnya berkondisi sama sewaktu bayi, namun mereka semua selamat. Bahkan ketika tim medis berusaha menerangkan risikonya, mereka tidak dapat berbuat apa pun karena sangat miskin. Lalu MAP International memutuskan untuk merujuk ibu dan bayinya ke RS Tello agar dirawat. Awalnya sang ayah tidak mengizinkan mereka pergi, namun setelah kami mengajak kepala desa untuk menasihatinya, barulah mereka diperbolehkan pergi ke rumah sakit. Setelah 2 minggu di rumah sakit, Marleni bertambah 2 kg dan kondisinya membaik. Ia menjadi bayi spesial di mata para staf rumah sakit. Sayangnya, ayah Marleni berubah pikiran dan ingin bayinya kembali ke rumah, karena merasa anaknya tidak memerlukan perawatan khusus. Walau para staf rumah sakit menerangkan pentingnya perawatan tersebut, sang ayah bersikeras membawa Marleni pulang. Setelah beberapa minggu, kondisi Marleni memburuk dan akhirnya ia meninggal dunia.

132

Gambar 7.2. Pendekatan Komprehensif Proyek Kemitraan Pembangunan RSU Gunungsitol

Perencanaan Fasilitas

Bangunan Peralatan Medis

Pengembangan Sumber Daya Manusia Beasiswa demi Jumlah Peningkatan Kapasitas demi Kualitas

PROYEK KEMITRAAN RUMAH SAKIT UMUM

Pengembangan Sistem Catatan Medis/ Informasi Pengelolaan Obat-obatan Pengelolaan Limbah

Pengembangan pengelolaan Rumah sakit Umum Pengelolaan Operasional Pengelolaan Jasa Layanan Pengelolaan Aset

Sementara para dokter Nias menempuh pendidikan spesialis, BRR Perwakilan Nias bekerja sama dengan Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito dan Fakultas Kedokteran UGM mengirim dokter spesialis secara rutin ke RSU Gunungsitoli untuk memberikan pelayanan sekaligus pelatihan kepada para perawat melalui program residency training. Program ini berlangsung tiga tahun hingga 2009. Untuk memperbaiki kinerja organisasi dan manajemen RSU Gunungsitoli, BRR Perwakilan Nias menggandeng Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM melalui program pengembangan manajemen selama tiga tahun (2007‑2009). Para perawat sebagai salah satu ujung tombak pelayanan RSU Gunungsitoli juga dilatih secara simultan di Alexandria Hospital dan Changi Hospital, Singapura, bekerja sama dengan Singapore Red Cross. Sebanyak 44 perawat telah menekuni pelatihan ini. Bukanlah pekerjaan mudah melaksanakan program revitalisasi RSU Gunungsitoli. Selain tantangan pemulihan secara menyeluruh, tantangan berikutnya adalah kelanjutan pengelolaan RSU.

Bagian 7. Memperkuat Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia

133

134

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Hasil pembangunan tahap 2 Rumah Sakit Gunungsitoli memiliki lapangan di tengah kompleks bangunan rumah sakit yang berguna untuk mengantisipasi kebutuhan evakuasi pasien saat terjadi gempa. Ini merupakan salah satu bentuk penerapan upaya pengurangan risiko bencana. Foto: BRR/Bodi CH

Menjadi pertanyaan besar apakah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nias sanggup menjalankan operasionalisasi dan pemeliharaan RSU berkapasitas 160 tempat tidur yang memerlukan biaya rutin Rp 20‑25 miliar per tahun. Kapasitas keuangan Pemkab Nias hanya mencapai seperempat biaya yang diperkirakan. Keprihatinan ini mendorong BRR Perwakilan Nias bersama Pemkab Nias dan Fakultas Kedokteran UGM menyusun langkah‑langkah strategis pengembangan RSU Gunungsitoli menjadi rumah sakit yang mandiri demi kesinambungan pengelolaannya.

Memperbaiki Sistem Rujukan dan Siaga Bencana Melalui Pengembangan Puskesmas Plus
Kondisi geografis Kepulauan Nias yang sebagian besar berupa perbukitan dengan akses jalan terbatas serta minimnya fasilitas komunikasi dan transportasi umum membuat sistem rujukan untuk perawatan kesehatan kurang berjalan baik. Banyak penduduk yang membutuhkan penanganan sekunder di rumah sakit tidak bisa mencapainya dengan cepat, sehingga berisiko meninggal dalam perjalanan. Melihat kebutuhan tersebut, BRR Perwakilan Nias mencoba membantu Pemkab Nias dan Nias Selatan dengan membangun infrastruktur yang bisa mendukung pelayanan kesehatan dan sistem rujukan. Salah satu elemen sistem rujukan yang diinisiasi BRR Perwakilan Nias adalah pengembangan puskesmas plus.

1. Status RSU Gunungsitoli sebagai badan layanan umum (BLU) merupakan bentuk yang paling direkomendasikan untuk menjaga kesinambungan pengelolaan rumah sakit yang efektif dan efisien. 2. Untuk menuju status BLU perlu waktu cukup panjang, untuk perbaikan sistem akuntansi, penyediaan pelayanan spesialis, manajemen organisasi, dan peningkatan SDM. Pihak RSU Gunungsitoli, Pemkab Nias, BRR Perwakilan Nias, dan UGM sedang melaksanakan langkah‑langkah strategis tersebut. BRR melalui mekanisme pembiayaan transisi Tahun Anggaran 2009 telah mengalokasikan dana untuk penyediaan pelayanan spesialis serta perbaikan sistem keuangan dan akuntansi, sementara RSU Gunungsitoli/Pemkab Nias menyediakan dana untuk perbaikan manajemen organisasi dan SDM. 3. Perbaikan sistem tarif RSU tengah dibahas Pemkab Nias, mengingat RSU Gunungsitoli masih menggunakan tarif perda lama tahun 1990. Perbaikan sistem tarif ini penting karena RSU Gunungsitoli sekarang telah memberikan pelayanan yang lebih baik. 4. Dilakukan kerja sama dengan perusahaan asuransi komersial untuk melayani pasien asuransi. Sebelum RSU Gunungsitoli dibangun kembali menjadi lebih baik, 10‑20 persen masyarakat Nias yang tergolong mampu memilih berobat ke Medan atau ke luar negeri, baik yang memiliki maupun tidak memiliki asuransi.

Gambar 7.3. Rencana Induk RSU Gunungsitoli

!

Bagian 7. Memperkuat Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia

Langkah‑Langkah Strategis Lanjutan Pengembangan RSU Gunungsitoli

135

Gambar 7.4. Peta ETESP Kesehatan: Pengembangan Puskesmas Plus

136

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Program ini termasuk ETESP di bidang kesehatan yang didanai Bank Pembangunan Asia (ADB) dan dilaksanakan sebagai proyek percontohan pada tiga puskesmas di Kecamatan Gunungsitoli, Sitolu Ori, dan Alasa di Kabupaten Nias serta tiga puskesmas di Kecamatan Teluk Dalam, Lahusa, dan Lolowa’u di Kabupaten Nias Selatan. Keenam puskesmas ini menerapkan Puskesmas Improvement Model (PIM) yang mengarah ke puskesmas plus. Istilah “plus” merujuk pada pelayanan medis yang lebih tinggi, seperti adanya ranjang rawat inap, peralatan yang lebih lengkap, staf yang lebih terampil, serta partisipasi dan kepemilikan masyarakat yang lebih kuat. Dalam konteks pelayanan kesehatan di Kepulauan Nias, puskesmas plus akan memainkan peran sebagai rujukan antara (intermediate) yang menjembatani perawatan sekunder oleh titik rujukan utama, yaitu RSU Gunungsitoli, dengan perawatan primer pada tingkat yang lebih rendah, yaitu puskesmas‑puskesmas, di wilayah sekeliling enam puskesmas model yang ada di tingkat kecamatan. Seiring dengan upaya‑upaya pengurangan risiko bencana, PIM akan menjadi cikal‑bakal kesiagaan pelayanan kesehatan terhadap bencana.

Pembangunan Puskesmas Plus Gunungsitoli didanai ADB. Foto: Dokumentasi BRR

Bagian 7. Memperkuat Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia

137

Gambar 7.5. Alur Penyusunan Program Beasiswa

PEMKAB

BRR NAD Nias

DEPKEU

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

ANALISIS KEBUTUHAN SDM KESEHATAN

PENGEMBANGAN KAK/PROPOSAL

SUBMISSION

KOMITE SELEKSI BEASISWA

• Memfasilitasi MoU dgn universitas • Menyiapkan proses seleksi beasiswa

DIPA MAK 57 (Belanja Bantuan Beasiswa) atau MAK 52 (Belanja Sosial Lainnya)

138

IMPLEMENTASI
MONITORING DAN EVALUASI

Meningkatkan Kecakapan Tenaga‑Tenaga Medis
Ketersediaan SDM di bidang kesehatan dalam jumlah dan kemampuan yang mumpuni di Kepulauan Nias perlu mendapat perhatian khusus. Keterpencilan lokasi dan minimnya tunjangan bagi para tenaga medis menjadikan Nias dan Nias Selatan sebagai wilayah yang dihindari oleh dokter umum dan spesialis. Pada 2005, Kabupaten Nias dan Nias Selatan termasuk daerah dengan rasio keberadaan dokter dan bidan terendah per 10.000 penduduk di Provinsi Sumatera Utara. Keterbatasan jumlah tenaga medis diperparah dengan penyebarannya yang kurang merata. Mereka hanya dapat dijumpai di ibu kota kabupaten dan wilayah dekat perkotaan sekitarnya. Untuk mengatasi kekurangan tenaga medis tersebut, BRR Perwakilan Nias meluncurkan program beasiswa selama dua tahun anggaran, 2006 dan 2007, dengan alokasi dana mencapai Rp 20 miliar. Proses perencanaan dan pelaksanaan program beasiswa ini melibatkan pemerintah kabupaten, dari penilaian kebutuhan, penyusunan proposal dan kerangka acuan kerja (KAK), pembentukan komite seleksi beasiswa, hingga pemantauan dan evaluasi. Skema alur penyusunan program beasiswa dijabarkan pada Gambar 7.5. Penyaluran beasiswa untuk peningkatan keahlian para tenaga medis ini dilaksanakan bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada untuk beasiswa dokter umum, dokter spesialis, studi strata‑2 kesehatan, dan studi strata‑1 keperawatan. Sedangkan untuk program tenaga medis diploma‑3 dan diploma‑4, BRR Perwakilan Nias menjalin kerja sama dengan Politeknik Kesehatan Medan. Distribusi beasiswa dapat diamati pada Tabel 7.1.

Tabel 7.1. Program Beasiswa Peningkatan SDM di Bidang Kesehatan di Nias

Tahun Anggaran 2006 Kabupaten Beasiswa Spesialis Penyakit Dalam Spesialis Bedah Spesialis OBGYN Spesialis Mata Spesialis THT NIAS Spesialis Anak Spesialis Anastesi Spesialis Radiology Spesialis Patologi Klinik S2 Kesehatan Dokter Umum Spesialis OBGYN Spesialis Anak Spesialis Patologi Klinik S2 Kesehatan Dokter Umum Jumlah 2 1 1 1 1 1 1 1 1 8 15 1 1 1 1 1 Selesai Pendidikan 2011 2011 2010 2010 2010 2011 2010 2010 2010 2008 2013 2010 2011 2010 2008 2013 Spesialis Bedah Spesialis Anastesi

Tahun Anggaran 2007 Beasiswa Spesialis Syaraf S2 Kesehatan Dokter Umum S1 Keperawatan Diploma Keperawatan Jumlah 1 4 1 6 23 Bagian 7. Memperkuat Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia Selesai Pendidikan 2011 2009 2014 2010 2009

139

2 1 2 1 2 18 61

2012 2012 2011 2009 2014 2010

NIAS SELATAN

S2 Kesehatan Dokter Umum S1 Keperawatan Diploma Keperawatan

TOTAL

38

Gambar 7.6. Kerja Sama Tripartit BRR, Pemkab, dan Universitas

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

BRR NAD Nias PEMEGANG DIPA (DANA)

MEMORANDUM OF UNDERSTANDING
UNIVERSITAS/INSTITUSI PENDIDIKAN SEBAGAI PROJECT MANAGEMENT AGENCY
• Menyediakan ‘special window’ dalam seleksi akademis • Mentoring kepada mahasiswa untuk menjamin lulus timely dan qualified • Pengelola dana termasuk pencairan kepada mahasiswa • Laporan persemester kepada BRR NAD Nias dan Pemkab

140

PEMERINTAH KABUPATEN NIAS DAN NIAS SELATAN
• Membentuk Komite Seleksi Beasiswa • Melakukan monitoring dan evaluasi • Penerima manfaat program beasiswa

Untuk menjamin para penerima beasiswa BRR Perwakilan Nias dapat kembali dan mengabdi di Kabupaten Nias dan Nias Selatan seusai studinya, diberlakukan kebijakan antara lain penerima beasiswa harus putra daerah dengan status calon pegawai negeri sipil atau pegawai negeri sipil untuk semua kategori beasiswa, kecuali program pendidikan dokter umum, yang mengambil lulusan Sekolah Menengah Umum (SMU). Ada ikatan kontrak di hadapan notaris antara penerima beasiswa dan pemerintah kabupaten masing‑masing. Salah satu keunikan program beasiswa ini adalah sistem pendanaan yang digunakan. Masa tugas BRR Perwakilan Nias hanya sampai April 2009, sedangkan masa studi penerima beasiswa rata‑rata melampaui akhir masa tugas BRR. Untuk mengatasi kendala tersebut, mekanisme pendanaannya adalah dana beasiswa dikelola universitas melalui skema kerja sama tripartit antara BRR Perwakilan Nias, Pemkab Nias/Nias Selatan, dan universitas. Selanjutnya, untuk menjaga kesinambungan pengembangan SDM di bidang kesehatan di kepulauan ini, tentu Pemkab Nias dan Nias Selatan harus memiliki kebijakan manajemen karier yang tepat, sistem insentif yang memadai, serta upaya‑upaya lain untuk meningkatkan jumlah dan keahlian SDM di bidang kesehatan secara berkala.

Gambar 7.7. Mekanisme Penyaluran Dana, Pemantauan, dan Evaluasi

n ura uc an ng r d n pe este ula ian em perb inc rs n r pe wa da ikan asis h ra mester ca did a erse ta en p m nP Ta na p hidu u la n i ka da ya Pe r b did b ia gan an

BANK
r

Tran

Pe

bu

la n

sfe

La

rB
ra

po

iay

a

idu

n

BRR NAD-Nias dan KOMITE SELEKSI BEASISWA

Transfer

Lap

ora Per n Keu sem an est gan er

Sur

MAHASISWA

UNIVERSITAS/ INSTITUSI PENDIDIKAN sam SEBAGAI a/ BADAN PENGELOLA PROYEK a Mo rm nito erfo ring da ing P n Mentor

at P erja

njia SPP n Ker ja B

Melindungi Masyarakat dan Lingkungan dari Obat‑obatan Rusak
Selama periode tanggap darurat pascagempa, banyak sekali bantuan obat‑obatan yang mengalir ke Nias dari komunitas nasional dan internasional. Sebagian obat‑obatan sudah disebarkan ke semua puskesmas dan fasilitas kesehatan lain, tapi selebihnya masih tersimpan di Dinas Kesehatan, gudang farmasi, dan RSU Gunungsitoli. Obat‑obatan tersebut banyak yang bermanfaat, tapi banyak pula yang tidak bisa digunakan karena rusak akibat tidak disimpan di tempat yang tepat, kedaluwarsa, atau berlabel bahasa asing sehingga tidak dipahami staf medis setempat, di samping tidak adanya mekanisme mengelola obat‑obatan dalam skala besar. Dari penilaian dan kegiatan Pharmaceutical Waste Management yang diselenggarakan WHO, Departemen Kesehatan, dan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara pada Januari‑Maret 2006, terkumpul 300 meter kubik obat‑obatan rusak. Obat‑obatan itu lalu disatukan di Gedung Nasional Gunungsitoli, sebelum dikirim ke luar Nias untuk dimusnahkan.

Bagian 7. Memperkuat Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia

n Pe

p

u Ke

Biay

aH

141

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Pembelajaran Berharga dari Menumpuknya Obat‑Obatan Rusak
• Pemerintah, dalam hal ini Departemen Kesehatan dan Bakornas, hendaknya senantiasa siap dengan persediaan obat‑obatan untuk penanggulangan bencana, sehingga tidak terlalu bergantung pada donasi dari luaryang justru, apabila tidak digunakan segera, berpotensi menjadi masalah besar dalam proses pemusnahannya. • Pemerintah hendaknya menetapkan kebijakan yang tegas bahwa jika persediaan obat‑obatan cukup, maka donasi obat‑obatan tidak diizinkan masuk atau jika diizinkan pun harus obat‑obatan yang benar‑benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan. • Badan PBB dan LSM yang bekerja untuk misi kemanusiaan dalam bencana hendaknya dapat lebih proaktif bersama pemerintah dan komunitas internasional untuk mencegah penumpukan obat‑obatan tak terpakai dalam penanggulangan bencana. • Pemerintah melalui departemen terkait hendaknya menyusun langkah‑langkah strategis dan aktif dalam menentukan metode penghancuran yang aman untuk obat‑obatan tak terpakai dan mencegah pertambahan persediaan obat‑obatan baru.

Selama belum dimusnahkan, obat‑obatan tersebut akan mengancam lingkungan hidup di Nias karena mengandung beberapa zat aktif yang termasuk bahan berbahaya. BRR NAD‑Nias kemudian mengambil langkah untuk terlibat aktif dalam pemusnahan obat‑obatan itu, kendati alokasi dana yang dibutuhkan untuk pemusnahan bisa digunakan untuk membangun satu puskesmas. Berdasarkan panduan WHO untuk pembuangan yang aman, metode penghancuran paling tepat adalah mengirim obat‑obatan yang rusak ke luar Pulau Nias untuk dihancurkan dengan insinerator berkapasitas besar dengan suhu di atas 1.000 derajat Celsius. Akhirnya, metode pemusnahan yang dipilih adalah co‑processing dengan cement kiln di pabrik semen PT Holcim Tbk., yang telah mendapat lisensi dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk menghancurkan limbah bahan berbahaya dan beracun.

142

Meningkatkan Kapasitas Kelembagaan Pemerintah dan Pendidikan
Sejak sebelum terjadi bencana, kapasitas lembaga pemerintahan di Nias tergolong sangat lemah di seluruh Sumatera Utara. Kelemahan ini disebabkan oleh minimnya fasilitas pendukung serta rendahnya kualitas SDM. Bencana makin memperlemah kemampuan pemerintahan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sektor pendidikan pun tidak jauh berbeda. Sebelum terjadi bencana, rasio jumlah sekolah terhadap luas pulau sebenarnya cukup memadai, tapi karena Kepulauan Nias merupakan daerah yang sebagian besar wilayahnya terdiri atas perbukitan dengan akses jalan yang buruk, jumlah sekolah yang secara teori memadai itu tidak cukup menggambarkan aksesibilitas masyarakat terhadap sekolah. Keterbatasan‑keterbatasan di kedua sektor ini menjadi tantangan tersendiri bagi BRR Perwakilan Nias sejak awal masa rehabilitasi dan rekonstruksi.

Memperbaiki Gedung dan Kapasitas Aparat Pemerintahan
Bagian 7. Memperkuat Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia

Prioritas kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pada pilar kelembagaan ditujukan pada pembangunan kembali gedung‑gedung pemerintahan yang rusak karena gempa, agar pemerintah daerah dapat berfungsi lebih baik. Di samping memperkokoh bangunan fisik, prioritas kegiatan adalah meningkatkan kapasitas pemerintah daerah, terkait dengan pengembangan SDM aparatur pemerintahan, agar mereka dapat mengelola pemerintahan secara baik dan berdaya guna. Agar kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana berkesinambungan dengan pembangunan reguler yang berlangsung di Kepulauan Nias, Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kepulauan Nias memasukkan unsur rehabilitasi dan rekonstruksi. Penyatuan ini diharapkan menjadi fondasi awal bagi pengembangan potensi daerah selanjutnya. Secara paralel, program‑program RPJM disandingkan dengan Rencana Aksi BRR Perwakilan Nias. Berbagai program jangka menengah yang sudah atau belum dilaksanakan BRR Perwakilan Nias dipilah‑pilah agar kemudian dapat dilanjutkan pemerintah daerah. Pembangunan kembali sarana kelembagaan untuk menunjang proses pemerintahan diwujudkan melalui rekonstruksi bangunan baru. Di Kabupaten Nias telah berdiri gedung baru kantor bupati dan kantor DPRD serta akses jalan baru ke kantor bupati yang seluruh pembangunannya didanai BRR Perwakilan Nias. Bantuan untuk pembangunan kantor Bupati Nias Selatan pun diberikan, meskipun mengalami keterlambatan karena menghadapi berbagai kendala penyiapan lahan oleh pemerintah daerah. Untuk menunjang penegakan hukum di Kepulauan Nias, diselenggarakan sejumlah paket pembangunan, seperti pembuatan pagar serta pengadaan mebel dan kendaraan

Beberapa kegiatan yang telah diselenggarakan dalam upaya membentuk kelembagaan pemerintahan dan kemasyarakatan yang kokoh
Merehabilitasi dan membangun sarana dan prasarana pemerintahan, peribadatan, pendidikan, kesehatan, dan penunjang kehidupan sosial budaya lain dalam rangka meningkatkan akses masyarakat terhadap fasilitas‑fasilitas tersebut. Meningkatkan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dengan melakukan pendataan kebutuhan khusus perempuan dan anak, mengembangkan dan memfungsikan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan (P2TP2), serta memberdayakan perempuan, khususnya kepala keluarga perempuan, dalam kegiatan ekonomi. Meningkatkan peran pemuda, budaya, dan olahraga dengan menyediakan fasilitas kepemudaan heldan keolahragaan, memulihkan fungsi kelembagaannya, serta memobilisasi dan memberdayakan potensi kepemudaan dan keolahragaan. Memperkuat pemerintah daerah dalam melaksanakan pelayanan publik yang efektif, akuntabel, dan transparan melalui pemanfaatan sarana dan prasarana pemerintahan yang masih dapat digunakan; bekerja sama dalam pemberian bantuan keuangan, bantuan medis, dan peralatan lain. Melanjutkan pembangunan dan pemulihan infrastruktur pemerintahan untuk mendukung proses pelayanan publik dalam jangka menengah melalui penataan, penyediaan, dan peningkatan kemampuan aparatur pemerintah daerah, menata sistem administrasi pemerintah daerah yang responsif terhadap perubahan‑perubahan tak terduga seperti bencana alam, serta menciptakan dan meningkatkan koordinasi dan kerja sama antarpemerintahan.

143

Tabel 7.2. Pembangunan Berbagai Gedung dan Sarana Pemerintahan Sampai Akhir 2008

No. 1

Nama Kegiatan 2006 Pembangunan Gedung KODIM Nias Pembangunan /Renovasi Kantor KORAMIL Pembayaran sisa Kontrak pengadilan negeri dan pengadilan agama Renovasi Rumah Dinas KODIM / KORAMIL Pembangunan Gedung Khusus LP.Gn.Sitoli (bertahap) Rehabilitasi/Pembangunan Gedung KPPN Gunungsitoli Rehabilitasi Kantor bagian samping dan belakang KPPN Gunungsitoli Rehabilitasi Kantor Bagian depan KPPN Gunungsitoli Rehabilitasi Stasiun RRI Gunungsitoli Pembangunan Kantor BPS Gunungsitoli Pembangunan Kantor Lurah Ilir Gununtsitoli Kantor Bupati Nias (bertahap) Kantor DPRD Nias (bertahap) Kantor Perwakilan BRR Nias (Lanjutan) Kantor Camat Gunung Sitoli Kantor Camat Lahewa Pembang.Ruang Kerja Bupati, Wakil & Sekda Nisel Pembangunan Kantor Camat Kota Teluk Dalam Pembang.Ktr Sektariat Bersama BRR Kab. Nisel Pembangunan Sarana Operasional LAPAS Gunungsitoli Pembangunan Tembok Pagar Keliling untuk Cabang Rutan Pulau Tello 2007 Rehab/Pembangunan Gedung Kantor Kejaksaaan Negeri Gunungsitoli Pembangunan Rumah Dinas RRI Gunungsitoli Rehab/Pembangunan Gedung Kantor dan Rumah Dinas Kodim/Koramil (Lanjutan) Pembangunan Pagar Keliling Lapas Gunungsitoli Rehab/Pembangunan Gedung Kantor Polres Nias Lanjutan Rehab. Gedung Studio RRI Cab. Pratama Gunugsitoli Nias Bangunan pelengkap Polres Nias Pembangunan Komplek Gedung Kantor Bupati Nias Selatan (lanjutan) Pembangunan Gedung Kantor Kecamatan di Telukdalam Pembangunan Gedung Kantor Sekretariat Bersama (BRR) di Kab. Nias Selatan Pembangunan Gedung Kantor Dinas Pariwisata di Kab. Nias Selatan Pembangunan Gedung Kantor Dinas Pendidikan Kab. Nias Selatan 2008 Pembangunan kantor bupati Nias Sayap kiri dan kanan (multiyears) Pembangunan kantor DPRD Nias (multiyears) Pembangunan kantor Kejaksaan Nias Pembangunan Kantor Bupati Nias (Lanjutan) & Pengawasan Pembangunan Kantor DPRD Nias (Lanjutan) & Pengawasan Pembangunan Stadion Pelita Tahap II Pembangunan Gedung Nasional Tahap II Pembangunan Gedung Utama Kantor Bupati Nias Selatan (lanjutan) Konsultan Pembangunan Gedung Utama Kantor Bupati Nias Selatan (lanjutan) Distrik Nias Selatan dan Pengawasan Pembangunan Panti Asuhan Kudus 01 Teluk Dalam (Pelunasan)

Volume 1 1 1 1 336 182 70 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

Satuan Paket Paket Paket Paket m2 m2 m2 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket Paket

Nilai Kontrak (Rp) 2.387.368.000 1.371.856.000 1.224.700.000 2.587.480.000 3.670.000.000 869.880.000 133.980.000 67.980.000 2.387.500.000 499.000.000 374.600.000 4.256.508.000 1.343.338.000 1.002.598.000 738.100.000 790.284.000 1.387.112.000 871.629.000 381.654.000 553.915.000 532.671.400 1.077.498.000 105.141.000 555.109.000 1.887.745.000 942.757.000 548.606.000 99.600.000 1.525.800.000 947.949.200 413.993.000 1.799.379.000 1.527.571.000 5.000.000.000 6.100.000.000 1.745.910.000 2.500.000.000 750.000.000 1.287.710.000 1.428.382.000.0 3.980.297.000 131.026.000 781.311.000 256.290.000

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

144

Total

62.824.227.600

roda dua untuk rumah tahanan di Pulau Tello, Kabupaten Nias Selatan. Sedangkan Pengadilan Negeri dan Kejaksaan Negeri Gunungsitoli, Kabupaten Nias, dilengkapi dengan perumahan, mebel, dan peralatan kantor. Kantor Kepolisian Resor Nias dan Nias Selatan tak luput dari sentuhan pembangunan BRR. Sedangkan Radio Republik Indonesia (RRI) Gunungsitoli mendapat paket bantuan berupa gedung baru, peralatan siaran, kendaraan roda dua, dan perumahan dinas. Pembangunan fisik lain yang dilaksanakan BRR Perwakilan Nias mencakup pembangunan kantor pos beserta pengisian perlengkapan kantornya di enam kecamatan, perkantoran dan perumahan Komando Distrik Militer Nias, Badan Pusat Statistik, dan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara di Nias, serta kantor Kejaksaan Negeri, Dinas Pariwisata, dan Dinas Pendidikan di Nias Selatan. Terkait dengan peningkatan peran pemuda, budaya, dan olahraga, dibangun fasilitas kepemudaan dan keolahragaan berupa Stadion Pelita Gunungsitoli dan Gedung Nasional yang dapat pula berfungsi sebagai gedung pertemuan. Karena keterbatasan dana, BRR Perwakilan Nias hanya membangun beberapa kantor kecamatan di kedua kabupaten. Meskipun demikian, para mitra pemulihan BRR, seperti AusAID, melalui proyek Nias Reconstruction Program, membangun sembilan kantor kecamatan di Nias Selatan. Proyek Pengembangan Kecamatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pulau Nias atau PPK‑R2PN (KRRP) bekerja sama dengan Departemen Dalam Negeri dan Bank Dunia membangun beberapa kantor desa.

Kantor Bupati Nias di Ononamolo Lot 1 menyatukan konsep desain atap tradisional Nias dengan bangunan modern. Foto: BRR/Bodi CH

Bagian 7. Memperkuat Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia

145

146

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Gedung Radio Republik Indonesia (RRI) Gunungsitoli. Foto: BRR/Bodi CH

Secara keseluruhan, alokasi dana untuk pembangunan lembaga pemerintahan, belum termasuk pembangunan 14 kantor desa oleh PPK‑R2PN di dua kabupaten, adalah Rp 48,286 miliar di Kabupaten Nias dan Rp 14,538 miliar di Kabupaten Nias Selatan. Untuk peningkatan kualitas SDM di bidang pemerintahan, BRR Perwakilan Nias didukung sejumlah mitra pemulihannya memberikan berbagai pelatihan pengembangan kapasitas pemerintahan kabupaten dan pemberdayaan pemerintahan kecamatan. UNDP, Yayasan Tanggul Bencana Indonesia (YTBI), Lazarus, dan IOM berkarya di Kabupaten Nias, sementara 20 tenaga ahli dan 20 fasilitator bidang pemerintahan dari UNDP, AIPRD, dan Medair menangani pelatihan‑pelatihan di Kabupaten Nias Selatan. BRR Perwakilan Nias menyadari, pembangunan gedung‑gedung penunjang pemerintahan hanyalah sarana untuk memperlancar kelangsungan roda pemerintahan di Kepulauan Nias. Yang lebih penting adalah peningkatan kapasitas pemerintah kabupaten dalam mengelola keuangan daerah dan proyek‑proyek pembangunan reguler, agar investasi besar yang telah ditanamkan selama masa rehabilitasi dan rekonstruksi oleh BRR dan para mitra pemulihannya dapat dimanfaatkan secara optimal dan dipelihara dengan baik, sehingga tetap memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Menyediakan Fasilitas Pendidikan yang Memadai
Berdasarkan identifikasi Dinas Pendidikan Kabupaten Nias pada 2005, sekitar 80 persen ruang kelas Sekolah Dasar (SD) berada dalam kondisi sangat memprihatinkan, sedangkan 50 persen bangunan sekolah menengah pertama (SMP) dan 30 persen bangunanSekolah Menengah Umum (SMU) rusak total atau rusak berat. BRR Perwakilan Nias pada 2006 melaksanakan tiga studi yang dipakai untuk membantu memberikan arah pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi di bidang pendidikan. Tiga studi tersebut mencakup pemetaan kondisi pendidikan di Kabupaten Nias dan Nias Selatan, penyusunan program pendidikan dasar dan menengah untuk kedua kabupaten, serta penyusunan program pendidikan tinggi di kedua kabupaten. Dari hasil studi pemetaan kondisi pendidikan, tampak jelas bahwa semua aspek sistem pendidikan berada dalam kondisi memprihatinkan. Sebagai solusi, disarankan agar penguatan lembaga‑lembaga pendidikan tinggi lokal, seperti Institut Keguruan and Ilmu Pendidikan (IKIP) Gunungsitoli dan STIE Gunungsitoli, sebagai penghasil para tenaga pendidik andal, dilakukan secara simultan, mengingat lokasi kepulauan yang cukup terpencil, sehingga tak mudah mengandalkan tenaga pendidik dari luar.

Sambil menunggu bangunan barunya terbangun, sebuah sekolah terpaksa melaksanakan proses belajar‑mengajar di tenda darurat, September 2005. Foto: BRR/Bodi CH

Bagian 7. Memperkuat Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia

147

148

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Murid SD Negeri 074056 Dahana Humene, Desa Fodo, Kota Gunungsitoli, dengan tekun mengerjakan tugas yang diberikan gurunya, September 2007. Sekolah tersebut merupakan salah satu bantuan UNICEF. Foto: BRR/Bodi CH

Pada 2005, pelaksanaan program difokuskan pada rehabilitasi bangunan sekolah yang rusak ringan sampai berat. Sedangkan pembangunan ruang kelas baru dan bangunan permanen dikerjakan mulai 2006 sampai 2008. Secara total, BRR Perwakilan Nias membangun dan merehabilitasi 412 unit sekolah, dimana didalamnya tercatat 197 unit sekolah baru dan sisanya pembangunan atau rehabilitasi ruang kelas baru Dana dari sektor pendidikan pada proyek PPK‑R2PN (KRRP) juga dialokasikan untuk membangun 180 kelas di Kabupaten Nias dan 207 kelas di Kabupaten Nias Selatan. Tidak mudah menyelesaikan setiap pembangunan fisik dengan baik. Itu bukan hanya karena lokasi sekolah‑sekolah yang sulit dijangkau, melainkan juga karena ditemukan hambatan‑hambatan lain di lapangan, seperti hujan yang kerap membasahi bumi Nias, material bangunan yang harus diangkut dengan tenaga manusia, dan tenaga tukang terampil yang sangat langka. Agar gedung dan ruang kelas yang sudah dibangun dapat segera berfungsi, BRR juga melengkapi fasilitas belajar‑mengajar yang dibutuhkan, terutama meja dan kursi. Beberapa sekolah diberi fasilitas buku‑buku referensi, bahkan sejumlah SMP dan SMA dilengkapi peralatan laboratorium.

Tabel 7.3. Realisasi Anggaran Pelaksanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi di Bidang Pendidikan Sampai Akhir 2008

No. A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 B 1 2 3 C 1 2 3 D 1

Kegiatan Pembangunan dan Rehabilitasi Pembangunan Unit Ruang Kelas Baru TK Pembangunan Unit RKB SD/MIN Pembangunan Unit RKB SMP Pembangunan Unit RKB SMA Pembangunan RKB Perguruan Tinggi Pembangunan Perpustakaan dan Laboratorium Sekolah Rehabilitasi Bangunan SD Rehabilitasi Bangunan SMP Rehabilitasi Bangunan SMA Penyediaan Fasilitas Sekolah Pengadaan Meubelair TK, SD, SMP, SMA/SMK, IKIP, STT Pengadaan Alat Laboratorium SMP & SMA Pengadaan Buku Referensi SD, SMP, SMA & IKIP Beasiswa Beasiswa Anak Sekolah Beasiswa S2 untuk Dosen Beasiswa Studi Lanjut S1 bagi Siswa Berprestasi Pelatihan Pelatihan Peningkatan Kualitas Pendidikan/Manajemen Institusi Total

Total (2005‑2008) Nilai (Rp) 438.465.000 78.795.401.109 18.652.713.645 9.031.675.330 3.564.320.600 6.237.574.400 14.266.377.900 6.299.099.500 1.830.584.300 24.852.724.972 355.113.000 1.136.779.425 635.000.000 4.742.465.000 618.600.000 Volume 2 174 21 14 4 39 43 17 8 921 28 57.910 600 4 1 Satuan Sekolah Sekolah Sekolah Sekolah PT Sekolah Sekolah Sekolah Sekolah Ruang Paket Buku Orang Paket Paket Bagian 7. Memperkuat Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia

149

397.980.000 171.854.874.181

1

Kegiatan

Selain BRR, UNICEF adalah salah satu pelaku utama dalam pembangunan sekolah. Banyak LSM lain, baik internasional maupun lokal, turut berperan dalam membangun ataupun memperbaiki sekolah yang rusak, antara lain World Vision International, French Red Cross, LPAM Nias, Spanish Red Cross, ACTED, Johanniter International Assistance, dan Lazarus Hilfswerk. Dana off‑budget untuk sektor pendidikan cukup banyak dialokasikan di kedua kabupaten yang dilanda gempa. UNICEF mengalokasikan 120 unit sekolah. Saat tulisan ini dibuat, telah selesai dibangun 79 unit, sementara selebihnya masih dalam tahap konstruksi. Dalam kurun masa tugasnya, BRR Perwakilan Nias telah mengalokasikan dana sebesar Rp 171,7 miliar untuk sektor pendidikan, yang dibagi dalam empat kelompok program, yaitu pembangunan dan rehabilitasi Rp 139,1 miliar, penyediaan fasilitas Rp 26,3 miliar, program beasiswa Rp 5,9 miliar, dan pelatihan Rp 0,397 miliar. Garis besar realisasi anggaran pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi di bidang pendidikan dapat dilihat pada Tabel 7.3.

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Suka–Duka Membangun Sekolah di Daerah Terpencil
bangunan‑bangunan sekolah yang hancur karena gempa bumi dahsyat di Nias bukan pekerjaan mudah. Sebagian besar bangunan sekolah hancur dan rata dengan tanah. Kalaupun ada yang masih berdiri, itu pun mengalami kerusakan. Dari segi usia, bangunan‑bangunan itu memang sudah tua dan banyak yang tak layak pakai, dan sebagian besar hanya berlantai tanah. Walaupun sulit, BRR telah bertekad untuk tetap melanjutkan setiap pembangunan yang sudah dimulai. Tantangan yang dihadapi, selain lokasi sekolah yang umumnya di daerah yang sulit dijangkau kendaraan, adalah sikap masyarakat yang tidak selalu bisa membantu upaya rekonstruksi. Cerita pembangunan salah satu SD negeri di satu desa di Kecamatan Afulu bisa mewakili situasi sulit ini. Materialnya harus diangkut sejauh beberapa kilometer memakai tenaga manusia dengan biaya tambahan yang harus dibayarkan oleh kontraktor. Cuaca buruk dan hujan yang sering mengguyur dan jalan‑jalan pintas yang penuh lumpur makin mempersulit keadaan. Hal yang sama dialami rekanan yang membangun SDN di salah satu desa di Lasarafaga, Kecamatan Mandrehe Barat. Semua materialnya diangkat dengan tenaga manusia sepanjang empat kilometer memasuki lokasi pembangunan. Situasi ini dihadapi hampir semua SDN yang jauh dari kota seperti Gunungsitoli dan Teluk Dalam. Situasi ini makin dipersulit oleh kenyataan sering tidak tersedianya material seperti semen dan besi. Entah mengapa, di Nias secara tiba‑tiba seluruh material kebutuhan rekonstruksi tidak tersedia di pasar. Banyak orang menganggap kontraktor selalu enak karena mendapat untung dari proyek. Tapi situasinya tidak selalu demikian. Pengalaman dalam banyak proyek di Nias menyebabkan

MEREKONSTRUKSI

banyak kontraktor menderita dengan berbagai alasan di luar kekuatan mereka sebagai manusia. Masalah yang paling banyak dihadapi adalah status tanah sekolah yang tidak jelas. Ketika sekolah akan dibangun, masyarakat yang merasa memiliki dan ahli waris lahan tersebut meminta ganti rugi. Padahal pembangunan dilaksanakan di lokasi sekolah yang lama. Misalnya kejadian di salah satu lokasi pembangunan SDN di wilayah Gomo, Nias Selatan. Situasi nyaris rusuh karena masyarakat terlibat dalam konflik pro dan kontra terhadap lokasi pembangunan sekolah. Konflik ini memakan waktu yang lama dan sangat mengganggu pekerjaan rekanan yang sudah diikat kontrak. Lain lagi dengan pembangunan salah satu SDN di wilayah Kecamatan Lahomi. Saat pembangunannya hampir selesai, suatu malam segerombolan orang memecahkan kaca‑kaca nako sekolah, padahal bangunan itu belum diserahkan. Di salah satu desa di Kecamatan Tuhemberua, terjadi hal yang sama. Setelah bangunan dinyatakan PHO (provisional handing over) dan diserahkan kepada masyarakat, suatu saat didapati dinding sekolah ini mengalami kerusakan serius karena dihantam dengan linggis oleh orang‑orang yang tidak bertanggung jawab. Plafon‑plafon dirusak, bola lampu dicuri semuanya, kaca‑kaca jendela pun dihancurkan. Ulah sejumlah orang ini seperti dibiarkan oleh masyarakat sekitar yang sebetulnya tahu. Ironis memang, tapi begitulah kenyataannya. Di tengah‑tengah kegiatan misi kemanusiaan oleh berbagai donor dan lembaga dengan ketulusan menolong, masyarakat setempat tidak selalu menerima dengan tulus. Ini juga yang menjadi gambaran masyarakat Nias yang lama terisolasi, yang sudah terlalu lama berada dalam situasi terbelakang.

150

Rehabilitasi dan rekonstruksi sekolah yang dikerjakan BRR Perwakilan Nias hampir menjangkau semua wilayah, termasuk yang paling sulit diakses, misalnya Kecamatan Afulu, Alasa, dan Gomo, serta wilayah pulau‑pulau kecil lainnya, seperti di sekitar Pulau Tello dan Pulau Hinako. Dari dana off‑budget yang dilaksanakan oleh berbagai organisasi/donor, terdapat 115 paket bantuan pembangunan sekolah dan fasilitas pendukungnya. Hingga akhir 2008, total dana off‑budget yang terpakai mencapai Rp 275.597.691.734. Meskipun pembangunan sekolah, khususnya SD, belum mencakup semua kebutuhan, setidaknya sekolah‑sekolah yang ada diharapkan dapat segera memulai pelajaran, sehingga para siswa tidak berlama‑lama belajar di tenda‑tenda darurat dan bangunan‑bangunan sekolah yang tidak layak untuk kegiatan pendidikan. Bangunan gedung sekolah baru yang mencolok mata di berbagai kawasan Kepulauan Nias, yang juga dilengkapi dengan meubelair atau perabot yang baik dan kelengkapan lainnya, saat ini boleh jadi merupakan fasilitas pendidikan terbaik di antara semua kabupaten di Sumatera Utara. Kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi Nias pada sektor pendidikan merupakan terobosan penting yang meletakkan landasan untuk pembangunan berkelanjutan yang lebih baik, yang bertumpu pada peningkatan sumber daya manusia. Upaya meningkatkan kapasitas pada sektor kesehatan, kelembagaan pemerintahan, dan pendidikan ini mesti tetap mendapat perhatian pada masa mendatang.

SMA 1 Gunungsitoli, Juli 2008. Foto: BRR/Bodi CH

Bagian 7. Memperkuat Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia

151

Transisi Menuju Pembangunan Berkelanjutan
rekonstruksi di suatu wilayah pascabencana memunculkan sejumlah praktik yang berbeda dari proses pembangunan normal yang biasa dilaksanakan pemerintah. Diperlukan prosedur dan aturan khusus yang peka terhadap pelaksanaan program yang tanggap dan cepat. Selain itu, proses pembangunannya pun melibatkan para pemangku kepentingan yang sangat luas dengan sumber dana yang beragam. Manusia dari segenap penjuru dunia hilir‑mudik melakukan kegiatan pembangunan kembali, disertai mengalir masuknya dana dalam jumlah besar. Praktik‑praktik di luar kebiasaan itu mau tak mau membentuk suatu budaya pembangunan yang berlainan dengan praktik pembangunan umumnya. Tatkala masa rekonstruksi berakhir, upaya mengembalikan budaya pembangunan reguler yang lebih berkualitas membutuhkan skema transisi yang matang, agar memuluskan alih kendali kegiatan pembangunan dan kelanjutannya. Pemulihan pascabencana di Kepulauan Nias memiliki karakteristik khusus. Kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi tidak hanya sebatas membangun kembali segala sesuatu yang rusak dan hancur akibat gempa, tapi juga menetapkan pendekatan pembangunan yang lebih baik dan menyiapkan berbagai fasilitas yang memadai sehingga dapat menopang pembangunan berkelanjutan.

PEKERJAAN

Bupati Nias Binahati B. Baeha (kiri), dengan ditemani Bupati Kabupaten Nias Selatan F. Laia, menerima ucapan selamat dari Kabapel BRR Kuntoro Mangkusubroto seusai acara serah terima aset hasil rehabilitasi dan rekonstruksi Kepulauan Nias di BRR Kantor Perwakilan Nias, Februari 2008. Foto: BRR/Bodi CH

Bagian 8. Transisi Menuju Pembangunan Berkelanjutan

153

Gambar 8.1. Transisi dan Kelanjutan Rekonstruksi Nias

Tahapan dari tanggap darurat ke pembangunan berkelajutan
NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

2005‑2006

2005‑2006

Mei 2009‑...

Tingkat Keterlibatan

BRR, Donor, Mitra Rekontruksi

Pemerintah Daerah

154

Tanggap Darurat dan Rekonstruksi

Rekonstruksi dan Pembangunan

Pembangunan Berkelanjutan

Langkah‑Langkah untuk Memastikan Transisi yang Mulus
1. Mengelola perubahan: Mendukung berbagai upaya pemerintah dan masyarakat untuk menghadirkan perubahan yang mampu membangkitkan Nias, dengan penekanan pada pembangunan ekonomi dan pengurangan risiko bencana. 2. Menuntaskan rekonstruksi: Membentuk satuan kerja daerah dalam struktur pemerintahan setempat untuk menangani kelanjutan rekonstruksi. Langkah ini perlu diambil sedini mungkin pada 2008. 3. Mempercepat pembangunan: Mengembangkan program‑program baru untuk mempercepat pembangunan serta mengganti skema pembangunan reguler yang selama ini berlaku di Nias. 4. Meningkatkan kapasitas pemerintah: Kapasitas di bidang manajemen keuangan, penyusunan perundangan, dan aspek pemerintahan lain harus ditingkatkan dengan bantuan pihak luar. 5. Mengalihkan aset‑aset: Serah‑terima dan pengelolaan berbagai aset hasil kegiatan proyek‑proyek on‑budget dan off‑budget. 6. Mengurangi dan mengakhiri kegiatan BRR: Proses mengurangi berbagai kegiatan menjelang akhir masa tugas, lalu menutup kantor BRR. Pertukaran pengalaman dengan staf pemerintah kabupaten dan penulisan berbagai laporan merupakan salah satu komponen pada tahap ini.

Perbaikan besar‑besaran digelar. Mata dunia mengarah ke jajaran pulau di bagian barat Sumatera yang menghadap ke Samudra Hindia ini. Setelah masa tugas BRR Perwakilan Nias rampung, kini saatnya otoritas setempat melanjutkan denyut nadi pembangunan yang telah dihidupkan selama tiga setengah tahun terakhir ini. Kegiatan pembangunan kembali pascabencana yang ditangani BRR Perwakilan Nias memang belum sepenuhnya tuntas. Masih ada pekerjaan rumah, misalnya menyangkut pembangunan jalan provinsi dan kabupaten. Dalam Rencana Kerja Pembangunan 2009, ditetapkan sekitar 45,72 persen pagu dianggarkan untuk kepentingan itu. Belum lagi pembangunan jalan desa, yang masih akan berlanjut lewat Nias Livelihood and Economic Development Program (Nias‑LEDP) dan akan dilaksanakan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal. Kondisi tersebut memacu BRR Perwakilan Nias menginisiasi langkah‑langkah yang perlu agar transisi berlangsung mulus dari masa rehabilitasi dan rekonstruksi ke masa pembangunan reguler. Kurun waktu menjelang akhir masa tugas BRR Perwakilan Nias merupakan proses khusus. Di dalamnya tercakup berbagai kegiatan untuk meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dan memberdayakan masyarakat, yang diharapkan menjadi fondasi kokoh bagi pembangunan Nias yang berkelanjutan. Skema proses pengakhiran masa tugas BRR Perwakilan Nias secara kelembagaan disajikan pada Gambar 8.1.

Ruas jalan Gunungsitloli‑Tuhemberua, November 2007. Setelah proyek perbaikan jalan Gunungsitoli‑Lahewa selesai, waktu tempuh yang sebelumnya mencapai 5 jam, kini hanya 2 jam. Foto: BRR/Bodi CH

Bagian 8. Transisi Menuju Pembangunan Berkelanjutan

155

Program Gagasan
NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Beberapa program yang digagas BRR Perwakilan Nias dan secara tak langsung mencakup skema peningkatan kapasitas pemerintah kabupaten: • Support for Poor and Disadvantage Area (SPADA) Kegiatan di bawah Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal ini bertujuan memerangi kemiskinan dengan mengembangkan daerah tertinggal; memfasilitasi berbagai kegiatan pendidikan, kesehatan, hukum, dan ekonomi melalui partisipasi masyarakat. Pemerintah kabupaten dilibatkan menyusun konsep dan program bersama masyarakat. Dana pelaksanaan program diberikan lewat block grant kabupaten. Spatial Planning and Environmental Management (SPEM) Proyek penataan ruang dan pengelolaan lingkungan yang dibiayai dengan hibah ETESP‑ADB ini antara lain menghasilkan rencana aksi rekonstruksi berbasis tata ruang di tingkat kecamatan (KSF‑AP). Salah satu fitur proyek ini adalah peningkatan kapasitas perencanaan pemerintah kabupaten melalui on the job training. Staf perencanaan di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah ikut serta dalam proses penyusunan KSF‑AP. Nias Islands Transition Program (NITP) Kegiatan ini berada di bawah pembinaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Departemen Dalam Negeri. Salah satu komponen kegiatannya dirancang untuk meningkatkan kapasitas pemerintah kabupaten melalui proses pendampingan oleh penasihat teknis. Area penanganan meliputi dimensi pengutamaan pengurangan risiko bencana dalam aspek tata kelola pemerintahan. Nias Reconstruction Program (NRP) Proyek rekonstruksi Nias Selatan ini didanai Australian Agency for International Development (AusAID). Salah satu komponen kegiatannya adalah memperkuat kapasitas pemerintah kabupaten di tingkat kecamatan, dengan memberikan pendampingan dalam menyusun peraturan desa dan kecamatan, yang berkaitan dengan pemeliharaan aset publik dari proyek‑proyek berbasis masyarakat. Asset Mapping Assistance Project for Aceh and Nias (AMAP) Kegiatan ini didanai AusAID dan dilaksanakan Kerjasama Teknis Jerman (GTZ, Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit), bertujuan menghasilkan sistem informasi dan pengelolaan aset daerah. Dimulai dengan mendata dan menyistemkan aset hasil program rekonstruksi di Aceh dan Nias, GTZ lalu menggunakan basis data ini dalam kerangka peningkatan kapasitas daerah untuk mengelola aset daerah. Proyek dimulai Oktober 2008 dan berlangsung hingga akhir 2009.

Dari berbagai program pembangunan kembali yang telah bergulir di Nias selama masa tugas BRR, setidaknya ada empat hal yang perlu mendapat perhatian khusus agar pembangunan yang berkelanjutan dapat terus berlangsung, yaitu peningkatan kapasitas pemerintah kabupaten dalam mengelola pembangunan, penguatan kegiatan pengembangan ekonomi yang berbasis pemberdayaan masyarakat, pengutamaan dan pelembagaan pengurangan risiko bencana, serta kelanjutan rekonstruksi kecamatan.

156

Peningkatan Kapasitas Pemerintah Kabupaten
Peningkatan kapasitas pemerintah kabupaten dilaksanakan melalui berbagai cara dan sektor, agar memuluskan kelanjutan pembangunan dan membuat pemerintah kabupaten mampu memanfaatkan berbagai aset rekonstruksi secara efektif demi pengembangan Nias dan Nias Selatan. Guna menjamin kelancaran pengalihan tanggung jawab dari BRR ke pemerintah kabupaten, BRR bersama UNDP telah menyediakan penasihat teknis bagi pemerintah kabupaten untuk bidang pengelolaan keuangan, pemerintahan, dan pengelolaan proyek. Para penasihat teknis itu menjadi penasihat khusus Bupati Nias dan Bupati Nias Selatan. Mereka membantu menyusun berbagai konsep dan strategi penyelenggaraan kegiatan pemerintah kabupaten selama masa transisi mulai triwulan terakhir 2008 sampai triwulan awal 2009.

“Jika pemerintah memberikan bantuan, menurut Anda, apa yang paling perlu dibangun atau diperbaiki?” kata fasilitator BRR Perwakilan Nias dalam suatu musyawarah desa. Jawaban yang muncul cukup mengejutkan. Hampir seluruh hadirin menyatakan, sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, mereka rindu memiliki jalan‑jalan yang baik, yang menjadi penghubung desa mereka dengan desa lain, kecamatan, dan provinsi. Bagi masyarakat Nias, membangun jalan laksana mimpi di siang hari, nyaris tidak mungkin dari segi penguasaan teknologi dan pendanaan. Padahal, kalau punya akses jalan yang baik, mereka dapat menjual cokelat dan karet hasil kebun mereka dengan harga yang jauh lebih tinggi, lalu uang hasil penjualannya dapat digunakan untuk membangun kembali rumah mereka yang rusak karena gempa. Cetusan keinginan masyarakat Nias tersebut tercermin pula dalam survei yang diselenggarakan Save the Children pada 2005. Bagi para responden yang bertani, akses ke pasar adalah kendala yang paling banyak disebutkan18. Petani Nias sudah biasa memikul hasil panennya sejauh 15‑20 kilometer untuk mencapai jalan yang dilalui kendaraan. Memang, kebanyakan permukiman di desa‑desa hanya dapat dicapai dengan berjalan kaki —walaupun jaraknya pendek. Masyarakat harus berjalan berjam‑jam untuk mencapai sekolah atau mendapatkan pelayanan kesehatan di puskesmas.

Beberapa Area Kunci Pengembangan Ekonomi yang Berkelanjutan
• Menetapkan program terfokus dalam pengembangan bidang pertanian dan perdagangan yang menjadi unggulan. Mendukung investasi pada sektor‑sektor terpilih. Menyediakan pasar dan peluang ekonomi lain bagi masyarakat pedesaan, yang akan menciptakan lapangan kerja di pedesaan. Meningkatkan kapasitas penyediaan layanan pemerintah setempat, baik di tingkat desa, kecamatan, maupun kabupaten. • •

Ketiadaan akses jalan yang memadai juga berdampak buruk terhadap kecukupan gizi dan perawatan kesehatan, yang menghasilkan perangkap kemiskinan yang berkelanjutan di kalangan penduduk desa dan memengaruhi pertumbuhan ekonomi. Melihat kebutuhan mendesak masyarakat Nias akan akses jalan, BRR Perwakilan Nias lebih memfokuskan pembangunan kembali infrastruktur dalam kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksinya. Jalan‑jalan yang baik dan terhubung menjadi kunci peningkatan pendapatan masyarakat, sekaligus memudahkan akses masyarakat terhadap pendidikan dan layanan kesehatan. Sekarang, akses jalan telah terbentang, tinggal meneruskannya dengan pengembangan ekonomi yang berkelanjutan.

Bagian 8. Transisi Menuju Pembangunan Berkelanjutan

Pengembangan Ekonomi Berbasis Pemberdayaan Masyarakat

157

Pengurangan Risiko Bencana
NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Hidup di wilayah rawan bencana gempa seperti Nias bak telur di ujung tanduk. Tak berlebihan kiranya jika para pelaku rekonstruksi di kepulauan ini sangat mendambakan terciptanya masyarakat Nias yang sadar akan kesiapan terhadap bencana. Program Pengurangan Risiko Bencana di Nias bertujuan membentuk masyarakat yang tanggap di Kepulauan Nias yang rawan gempa, dengan cara mengembangkan basis kelembagaan yang kuat dalam pengelolaan bencana dan budaya selamat. Sebagai bagian dari upaya pembentukan masyarakat Nias yang tanggap bencana itulah BRR Perwakilan Nias mengubah skema rekonstruksi perumahan dari berbasis kontraktor menjadi mengandalkan partisipasi masyarakat.

158

Cakupan Program Pengurangan Risiko Bencana di Nias
• Meningkatkan kapasitas lokal dalam pengurangan risiko bencana melalui kemitraan dengan organisasi kemasyarakatan. Meningkatkan kesadaran anggota masyarakat pada bencana dan pengurangan risiko bencana. Membangun budaya selamat melalui pendidikan di sekolah‑sekolah. Mengembangkan proses dan kegiatan pengurangan risiko bencana berbasis komunitas lokal, kegiatan kesiapan bencana, serta sistem peringatan dini yang mutakhir. • • •

Pembentukan ratusan kelompok swadaya masyarakat (KSM) perumahan oleh BRR serta sejumlah organisasi lain, seperti UN‑HABITAT, ADB, Caritas, HELP eV, Palang Merah Spanyol, dan Palang Merah Kanada, dapat dikatakan merupakan salah satu indikator ketanggapan masyarakat. KSM dapat dimanfaatkan untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang konstruksi yang lebih aman terhadap gempa. Untuk menjamin kelanjutan berbagai kegiatan peningkatan kesadaran dan pengetahuan masyarakat Nias terhadap bencana alam, perlu dibentuk badan khusus pemerintah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten yang disahkan berdasarkan Undang‑Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana menjadi salah satu komponen penting di daerah rawan gempa seperti Kepulauan Nias.

Masih dalam konteks kelanjutan pengurangan risiko bencana, BRR Perwakilan Nias telah menggagas kegiatan yang bertujuan menghasilkan organisasi dan skema kerja Unit Penanggulangan Bencana pada Tingkat Kecamatan (UPBK)19. Pertimbangan membentuk UPBK itu karena kecamatan merupakan unit administratif yang dekat dengan masyarakat dan memiliki hubungan garis komando dengan kabupaten —unit administratif yang paling tepat untuk bergerak dalam situasi pascabencana.

Canadian Red Cross (CRC) memiliki program rekonstruksi perumahan di Lahewa, Lahewa Timur, dan Afulu. Dengan rentang waktu pelaksanaan proyek yang cukup panjang serta jumlah penerima manfaat yang cukup signifikan (2.100 rumah atau setara dengan 11.000 jiwa), CRC memandang perlu memadukan proyek perumahan pascabencana tersebut dengan kegiatan lain yang mendukung kehidupan sosial‑ekonomi penerima manfaat. Selain menjalankan program ekonomi dan kesehatan lingkungan untuk mendukung perikehidupan penerima manfaat di lingkungan bermukimnya, CRC juga menjadikan Program Pengurangan Risiko Bencana sebagai bagian dari kegiatan pembangunan perumahan. CRC bersama Palang Merah Indonesia (PMI) melaksanakan program berbasis masyarakat yang disebut Integrated Community‑Based Disaster Risk Reduction (ICBRR) atau Pengurangan Risiko Bencana Terpadu Berbasis Masyarakat. Dalam program ini, masyarakat secara aktif ikut serta dalam mengidentifikasi risiko bencana di desa mereka, melakukan perencanaan dan pemantauan, serta menyiapkan tindakan‑tindakan yang perlu dalam menghadapi bencana yang akan datang. Tujuan program ini adalah mengurangi kerentanan masyarakat di Kepulauan Nias, khususnya di ketiga wilayah proyek perumahan CRC. Di Nias, program tersebut dilakukan di 24 desa, tempat CRC membangun perumahan dengan memanfaatkan kelompok‑kelompok masyarakat yang terbentuk sebagai basis pelaksanaan Program Pengurangan Risiko Bencana. Empat area utama ICBRR: 1. 2. 3. 4. Membangun kapasitas masyarakat di desa program melalui proses telaah bahaya, kerentanan, dan kapasitas (hazard, vulnerability and capacity assessment). Membantu masyarakat merencanakan bagaimana mengurangi risiko bencana dan bereaksi efektif terhadap bencana di masa mendatang. Membina keahlian Palang Merah Indonesia dalam ketepatan memberikan bantuan kepada masyarakat yang terkena bencana dan berurusan dengan potensi bencana. Mengajari anak‑anak sekolah bagaimana menjaga diri apabila terjadi bencana.

Program ini rencananya akan dikembangkan untuk mencakup wilayah yang lebih luas dengan menambah jumlah desa peserta program. Canadian Red Cross, Spanish Red Cross, dan International Federation of Red Cross akan melaksanakan program ini sampai 2012 dengan didampingi PMI. Melalui program ini, PMI akan berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan dan mengintegrasikan kegiatan pengurangan risiko bencana ke dalam rencana pembangunan daerah di seluruh Indonesia.

Bagian 8. Transisi Menuju Pembangunan Berkelanjutan

ICBDRR – Pengurangan Risiko Bencana Terpadu Berbasis Masyarakat Melalui Proyek Perumahan

159

160

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui Pelatihan siaga bencana di SD Negeri 070989 Hilina’a, Kota Gunungsitoli, Februari 2008, yang digagas oleh Canadian Red Cross. Foto: BRR/Arif Ariadi

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Kegiatan yang mulai diselenggarakan pada 2009 tersebut akan menetapkan tipologi organisasi dan skema kerja UPBK sesuai dengan karakteristik fisik dan sosial‑ekonominya, seperti UPBK tipologi kawasan pesisir, UPBK tipologi kawasan perbukitan, dan UPBK tipologi kawasan perkotaan. Organisasi ini akan dilengkapi personel yang bertanggung jawab terhadap segenap urusan tanggap darurat hingga pemulihan, juga peralatan penanggulangan bencana yang minimal sesuai dengan tipologi UPBK‑nya. Kapasitas UPBK akan ditingkatkan hingga mampu menyusun peta rawan bencana setempat bersama masyarakat. UPBK akan menjadi perpanjangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten dalam Sistem Penanggulangan Bencana Nasional.

162

Kelanjutan Rekonstruksi di Tingkat Kecamatan
Sejatinya, kegiatan rekonstruksi harus dilandasi suatu rencana tata ruang, sehingga hasilnya benar‑benar sesuai dengan potensi, kendala, dan skenario pembangunan wilayah di masa depan. Kegiatan rekonstruksi menjadi bagian dari alur pembangunan wilayah, sesuai dengan sumber daya pembangunan yang ada di wilayah tersebut. Rekonstruksi di Kepulauan Nias baru berhasil dilaksanakan dengan memakai pendekatan tata ruang mulai Tahun Anggaran 2007. Sebelum itu, berbagai kegiatan rekonstruksi diprogram berdasarkan pendekatan pengamatan langsung atas kebutuhan di lapangan serta masukan‑masukan pemerintah kabupaten, instansi teknis, dan masyarakat. Sebenarnya sejak semula telah disadari bahwa kecamatan merupakan unit wilayah administrasi formal terdekat dengan masyarakat, sehingga kegiatan rekonstruksi dan kelanjutannya akan sangat tepat jika direncanakan dan dilaksanakan dalam lingkup kecamatan. Rencana tata ruang disusun secara hierarkis. Di tingkat negara ada Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), yang berisi kebijakan strategis yang terkait dengan pemanfaatan dan pengembangan wilayah negara Republik Indonesia. Setingkat di bawahnya ada Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP), yang memuat rencana strategis pemanfaatan dan pengembangan wilayah provinsi, termasuk peran dan fungsi wilayah kabupaten dalam konteks regional. RTRWP kemudian dipertajam dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Perkotaan, yang sudah memberikan arahan dua dimensi pemanfaatan dan pengembangan wilayah kabupaten/kota. Selanjutnya RTRW Kabupaten/Perkotaan diperinci dalam rencana tata ruang berbasis kewilayahan administrasi, seperti Rencana Kawasan Pusat Pemerintahan dan Rencana Tata Ruang Pulau‑Pulau Kecil.

Selaras dengan penempatan kecamatan sebagai ujung tombak pelaksanaan pembangunan, kepentingan untuk melengkapi satuan wilayah administratif ini dengan rencana tata ruang menjadi semakin besar. Kecamatan Spatial Framework and Action Plan (KSF‑AP) atau Kerangka Tata Ruang Kecamatan dan Rencana Aksi, yang didanai Earthquake and Tsunami Emergency Support Project (ETESP)‑ADB, bertujuan menyediakan dokumen rencana aksi pascarekonstruksi dalam kerangka tata ruang, yang akan menjadi pedoman pembangunan bagi pemerintah, donor, serta sektor swasta dan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di lingkup kecamatan.

Gambar 8.2. Proses Penyusunan KSF‑AP Pertemuan Orientasi tingkat provinsi: Pengenalan proyek, Observasi awal dan Identifikasi masalah

Riset Data dan Dokumen

Persiapan dan Analisa Peta

Peninjauan Rencana Pembangunan Kabupaten Regional Analisa Sumber Daya Alam dan Lingkungan Regional

Peta Kondisi Kabupaten (atau Regional) Luas

Rapat orientasi Kabupaten; Pengenalan Proyek; Observasi Awal dan Identifikasi Masalah Analisa Dokumen di Lapangan Konsultasi dengan Stakeholder

Survai Singkat Sosio‑Ekonomi, Keadaan Fisik & Lingkungan

Penilaian Lapangan Singkat

Identifikasi Masalah dan Peluang Peta dan Dukumen KSF‑AP

Garis Besar Rencana Kerja dalam Konteks Kerangka Kerja Tata Ruang yang Luas

Peninjauan dan Penyempunaan

Peta Rencana dan Kerja Proyek

Bagian 8. Transisi Menuju Pembangunan Berkelanjutan

Penataan ruang di Kepulauan Nias dalam lingkup kabupaten merujuk pada RTRWP Sumatera Utara, tapi dalam substansinya dipertajam dengan kajian mitigasi bencana, untuk menjawab situasi fisik‑geologis wilayah Kepulauan Nias yang rawan gempa.

163

Peta Kerangka Tata Ruang dan Rencana Aksi Kecamatan Idanogawo, Kabupaten Nias

164

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Bagian 8. Transisi Menuju Pembangunan Berkelanjutan

165

Contoh Project Sheet Sektor Infrastruktur.
NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Project INF 37
Project Name Location Problem/Issue Description Size of Problem Source of Information Comments Reconstruction of traditional market Sisarehili Susua village

Indentifier Code 12‑14‑040 INF 37

Existing facilities are in poor condition and inadequate for purpose Traditional market in Sisarehili Susua village Approx. 500 m2 ETESP24‑SPEM field team consultation with the DISPENDA and the community The weekly market every Friday at Desa Sisarehili Susua is the only weekly market located along the main kabupaten road to Kecamatan Gomo. It plays a vital role in distributing products and supplies.

166

Project description Benefits and Beneficiaries

Reconstruction of weekly market Increase economi (trading) activities in the communities of Desa Sisarehili Susua, Desa Rumba‑rumba, Desa Fondrekoraya, and other communities in the kecamatan. Households benefiting directly will be: Desa Sisarehili Susua about 537 HH, Ramba Ramba about 327 HH, and Fondrekoraya about 864 HH Approx. 500 m2 Village heads, key community stakeholders, ETESP‑SPEM field team BRR‑MDF, GoI, KDP IDR 300,000,000. This cost estimate is indicative only and subject to further refinement GoI: Potential for very limited; or no potential for the adverse environmental impact. No need AMDAL or UKL‑UPL, screening to be confirmed through consultation with BAPEDALDA Sumut and/or the district level environmental authorities at the time the project enters the detailed planning stage. Project still needs to follow environmental best practices and applicable SOPs during implementation. ADB/ID: Potential for very limited; or no potential for the adverse environmental impact (equal to ADB Environmental Category C). No environmental assessment likely required. Screening to be confirmed at the time the project enters the detailed planning stage nased on the donor’s specific environmental assessment requirements. Project still needs to follow environmental best practices and applicable SOPs during implementation. Social Impact will be positive. No assessment required. Land ownership aspects to be determined prior to detailed design Programmed and designed Status of Program/Comments

Size of Project Proposed by Possible Source of Funding Estimated Budget Environmental Assessment Requirement

Social Impact Assessment Requirement Acheivement Indicator

No work or assistance program form other institutions identified during field survey Next Steps Secure funding, undertake design, and implement work

Bagian 8. Transisi Menuju Pembangunan Berkelanjutan

167

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

KSF‑AP digunakan di Nias untuk menunjukkan kepada pemerintah kabupaten dan para pemangku kepentingan yang membangun Nias bahwa ada kaitan antara setiap produk penataan ruang, termasuk Village Planning (VP), yang juga dibiayai ADB, dan kegiatan rekonstruksi oleh BRR serta pelaku lain, yang relatif besar pengaruhnya terhadap ruang lingkup desa, misalnya perumahan dan jalan. Disamping itu, VP dan KSF‑AP di Nias dipakai untuk memberikan legitimasi formal kepada Community Action Plan (CAP) yang dihasilkan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui rangkaian kegiatan pembangunan perumahan, yang memungkinkannya dikaitkan dengan produk formal penataan ruang lain seperti tersebut di atas. CAP juga dihasilkan oleh ILO melalui kegiatan Integrated Rural Accessibility Planning dan Program Pembangunan Kecamatan (Bank Dunia dan Departemen Dalam Negeri). KSF‑AP memuat usulan proyek dan/atau program penataan ruang kecamatan, yang disusun dengan mengaitkan substansi usulan proyek dan/atau programnya dengan rencana dan proses pembangunan kabupaten, kecamatan, dan desa yang ada. Format sajian proyek dan/atau program KSF‑AP adalah project sheet yang cukup lengkap mencantumkan spesifikasi proyek/program tersebut, termasuk indikasi biaya, kegiatan yang perlu dilaksanakan, manfaat pelaksanaan kegiatan, dan urutan prioritas pelaksanaannya. KSF‑AP difokuskan pada kebutuhan infrastruktur kecamatan yang bersifat mendesak serta isu‑isu pengelolaan lingkungan dan pengembangan ekonomi. Beberapa proyek dan program yang telah diidentifikasi dalam KSF‑AP dapat segera dipertajam menjadi desain lebih rinci sebagai dasar pelaksanaan fisik. Sedangkan proyek dan program lain yang masih memerlukan studi lebih lanjut belum dapat diimplementasikan. Proyek dan program dalam KSF‑AP senantiasa perlu dimutakhirkan agar sesuai dengan perubahan kondisi dan kebijakan perencanaan kabupaten yang selalu berkembang. KSF‑AP disiapkan dengan partisipasi masyarakat dan pihak terkait di tingkat kecamatan serta dinas/instansi lain di tingkat kabupaten dan provinsi, termasuk BRR. Dasar program ini adalah memadukan perencanaan bottom‑up yang melibatkan masyarakat melalui konsultasi publik yang ekstensif dengan pendekatan top‑down dari rencana pembangunan yang ada, sehingga dapat diidentifikasi kebutuhan utama di wilayah kecamatan tertentu. Rencana aksi yang dimuat dalam KSF‑AP ini pada dasarnya adalah program rekonstruksi dan pembangunan pascarekonstruksi yang dapat diusulkan oleh kecamatan untuk dibiayai pemerintah kabupaten melalui mekanisme Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah (Musrenbangda). Rencana aksi menjadikan pihak kecamatan mengantongi dokumen perencanaan pembangunan yang sahih, dengan deskripsi teknis dan kemanfaatan yang akurat, yang siap dikompetisikan dalam forum Musrenbangda.

168

Rencana aksi dalam KSF‑AP tidak berkaitan dengan masalah perumahan atau infrastruktur fisik dan sosial desa serta perkotaan yang telah ditangani oleh program pembangunan reguler, rekonstruksi BRR, dan paket‑paket kegiatan lembaga donor lainnya. KSF‑AP lebih berfokus pada fitur‑fitur infrastruktur, lingkungan, dan ekonomi pedesaan serta keterkaitan antarpermukiman pedesaan meskipun tidak menyangkut permukiman itu sendiri. Keutamaan KSF‑AF adalah keakuratan basis data perencanaan dan penataan ruang yang digunakan serta keterkaitan rencana aksi yang dirumuskan dengan kebutuhan rekonstruksi skala kecamatan dan skenario pengembangan wilayah yang lebih luas. Sebagai produk tata ruang, KSF‑AP dapat diadopsi menjadi substansi dalam Rencana Detail Tata Ruang Wilayah dan diintegrasikan ke dalam sistem penataan ruang nasional. Berbagai strategi telah dipetakan demi memuluskan pemindahan tongkat estafet pembangunan dari BRR Perwakilan Nias ke otoritas di Nias. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007, tanggung jawab penuntasan sebagian besar kegiatan rekonstruksi yang masih tersisa ada di tangan pemerintah kabupaten. Pemerintah pusat tetap menjadi penanggung jawab penyediaan anggaran untuk pembangunan regional, termasuk segenap pendanaan internasional yang ditujukan untuk pembangunan regional. Selain itu, pemerintah pusat menetapkan kebijakan yang berkaitan dengan penganggaran, memberikan layanan yang bersifat skala nasional, seperti pengelolaan bandara, serta berperan dalam pengawasan dan pengendalian. Sementara itu, pemerintah provinsi bertanggung jawab atas jalan‑jalan provinsi, pelabuhan, serta beberapa aspek pada sektor kesehatan dan pendidikan. Pemerintah provinsi juga memiliki sejumlah peran administratif dan pembinaan, termasuk pengawasan anggaran, pembinaan atas penyusunan produk kebijakan dan hukum, serta pengawasan dan pengendalian pembangunan pada umumnya. Dalam forum Nias Islands Stakeholders Meeting keempat, yang digelar di Medan, Sumatera Utara, pada 15 Mei 2008, setidaknya BRR boleh menarik napas lega menyaksikan komitmen dan kesiapan Pemerintah Kabupaten Nias, Pemerintah Kabupaten Nias Selatan, dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk melanjutkan proses rekonstruksi sebagai pembangunan yang berkelanjutan.

Bagian 8. Transisi Menuju Pembangunan Berkelanjutan

Rupanya, rencana aksi yang dimuat dalam KSF‑AP juga telah mengundang perhatian Program Nasional Pengembangan Masyarakat (PNPM) Mandiri. Pengadopsian project sheet KSF‑AP akan mengefisienkan pemanfaatan waktu pelaksanaan PNPM Mandiri, sekaligus meningkatkan kualitas pelaksanaan programnya.

169

Warisan BRR dari Tano Niha
baru kemarin semua dimulai. Menjejakkan kaki di bumi Nias yang miskin dan porak‑poranda. Menatap sekeliling dengan hati teriris: korban‑korban tsunami dan gempa berdesakan di tenda‑tenda darurat yang telah lapuk; anak‑anak sekolah sedang belajar di ruang kelas darurat yang becek dan berlumpur. Jalanan sempit dan penuh lubang menganga. Para petani terpaksa memanggul hasil kebun dari desa‑desa yang jauh mencari‑cari pasar di kota yang telah ambruk. Kepedihan karena kemiskinan dan bencana alam berpadu menjadi satu. Listrik padam, air bersih langka, roda pemerintahan seperti berhenti bergulir. Ono Niha (orang Nias) menjerit mendamba pertolongan. Kini lebih dari tiga setengah tahun rehabilitasi dan rekonstruksi yang dikoordinasi dan dilaksanakan BRR Perwakilan Nias berlalu. Kepulauan yang membujur di pantai barat Sumatera ini telah membuka lembaran baru dalam sejarahnya. Berbagai pembaruan diperkenalkan, aneka terobosan dilakukan, banyak pembelajaran diperoleh. Bagian penutup buku ini merefleksikan berbagai hikmah ajar yang diperoleh dari terobosan‑terobosan yang dikembangkan BRR Perwakilan Nias dalam menjawab tantangan‑tantangan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Hikmah ajar ini dikupas dari sudut manajemen pemerintahan, manajemen program pembangunan, dan manajemen kesiagaan bencana.
Keterbatasan prasarana dasar di kecamatan Gido, Kabupaten Nias, menyebabkan masyarakat sekitar seringkali terkena banjir di saat hujan lebat mengguyur, 21 November 2005. Foto: BRR/ Bodi CH

RASANYA

Bagian 9. Warisan BRR dari Tano Niha

171

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Betapa pun, semua warisan inilah yang telah membentuk wajah Nias selepas gempa bumi 2005 sampai saat terakhir BRR Perwakilan Nias menutup kantornya di Gunungsitoli pada 19 Desember 2008 dan mengalihkan semua aset serta kelanjutan pembangunan kepada pemerintah pusat dan daerah.

Manajemen Tata Kelola Pemerintahan
Kunci utama keberhasilan rekonstruksi di Nias adalah kepercayaan semua pihak terhadap BRR NAD‑Nias dalam memimpin pembangunan kembali pascabencana. Di tengah keraguan para donor akan penyaluran bantuan yang tepat sasaran dan kecemasan masyarakat akan sampainya bantuan yang menjadi hak mereka, sikap konsisten pemerintah Indonesia, dalam hal ini BRR NAD‑Nias, menjalankan tata kelola pemerintahan yang baik melalui kepemimpinan yang efektif telah mampu menghapus keraguan dan mengusir kecemasan khalayak. Praktik pengelolaan organisasi yang bersih dan berwibawa sejak awal terbentuknya BRR Perwakilan Nias berhasil membangun kepercayaan masyarakat dan dunia internasional. Mekarnya kepercayaan para donor melancarkan aliran bantuan ke Nias, sementara tumbuhnya kepercayaan masyarakat menuai partisipasi mereka untuk aktif terlibat menggerakkan perputaran roda rekonstruksi. Namun, sebagai bagian dari pemerintahan, BRR Perwakilan Nias perlu mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Daerah (Pemda) dalam melaksanakan mandatnya. Berbagai program rehabilitasi dan rekonstruksi akan gagal atau terlambat dilaksanakan kalau Pemda enggan mempromosikan tata pemerintahan yang baik sebagai prasyarat membangun kembali Nias menjadi lebih baik. Maka, agar BRR dapat menularkan berbagai prinsip tata kelola pemerintahan yang baik, dilakukan pembentukan Sekretariat Bersama (Sekber) antara BRR dan Pemda. Sekber berfungsi untuk mengoordinasi perencanaan, pengendalian, monitoring, evaluasi, serta serah‑terima aset dari para pelaku rekonstruksi kepada Pemda. Melalui Sekber, Pemda secara langsung terlibat dalam proses rekonstruksi sehingga dapat mengembangkan tanggung jawab dan pengalaman dalam mengelola pembangunan secara profesional dengan tata kelola pemerintahan yang bebas korupsi, transparan, dan akuntabel. Tak cukup hanya dengan tata kelola pemerintahan yang baik, kelenturan dan kesederhanaan birokrasi diperlukan agar dapat bersikap responsif terhadap tantangan dan kebutuhan selama proses rekonstruksi. Organisasi BRR Perwakilan Nias mengalami perubahan struktur beberapa kali, sebagai upaya untuk senantiasa menjawab tantangan dan kebutuhan yang tumbuh seiring dengan berlangsungnya proses pembangunan kembali. Organisasi yang lentur dan responsif ini terus menciptakan tantangan dan kebutuhan untuk maju ke tahap lebih tinggi.

172

Hal serupa terjadi dengan organisasi proyek. BRR Perwakilan Nias menyederhanakan organisasi Satuan Kerja (Satker), yang melaksanakan proyek rehabilitasi dan rekonstruksi Nias dari dana on‑budget (APBN), seramping mungkin sehingga rentang kendali lebih mudah dan manajemen lebih baik dalam menghindari tumpang tindih dan mengefektifkan pencapaian tujuan. Seraya memperkokoh organisasi dan praktik‑praktik bersihnya, seta menggalang kerja sama dengan lembaga‑lembaga pemerintah terkait, BRR Perwakilan Nias terus berupaya meraih kepercayaan dan partisipasi masyarakat melalui sikap antikorupsi yang konsisten dan dialog langsung. Masyarakat Nias memiliki pengalaman panjang tentang praktik KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) hingga ke tingkat pemerintahan terendah, yang menimbulkan ketidakadilan dan kepercayaan yang rendah terhadap lembaga pemerintah. Sikap antikorupsi yang diterapkan BRR secara konsisten dalam berbagai bentuk, meski menghadapi pertentangan dan intimidasi, secara berangsur dapat membangkitkan lagi kepercayaan masyarakat. Semangat partisipasi dan kerja sama dalam kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi terjalin. Masyarakat Nias, yang semula terpecah dalam berbagai kelompok dan klan, mulai bersatu. Mereka berhasil membangun sendiri fasilitas jalan dan jembatan serta mengatur pembangunan rumah korban bencana secara jujur dan berkualitas baik.

Kepala BRR Perwakilan Nias William Sabandar bertemu warga Lahomi, Kecamatan Sirombu, Kabupaten Nias, 9 Agustus 2008. BRR secara rutin mengadakan pertemuan dengan warga Nias untuk menyampaikan program pemulihan sekaligus mendengar pendapat mereka. Foto: Dokumentasi BRR

Bagian 9. Warisan BRR dari Tano Niha

173

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Sementara itu, lewat dialog langsung dengan masyarakat, dijalin terus hubungan baik antara pemerintah dan masyarakat selaku subyek pembangunan kembali, demi melahirkan budaya pembangunan baru yang bersih dan aktif melibatkan masyarakat. Terobosan berdialog langsung dengan masyarakat hingga ke desa‑desa dengan mendengarkan serta merespons secara cepat berbagai pertanyaan dan sanggahan masyarakat, juga konsisten menyampaikan pesan antikorupsi dalam berbagai kebijakan, ternyata berhasil pula mengatasi minimnya akses informasi di masyarakat dan bias informasi dari perorangan ataupun berbagai kelompok kepentingan yang berusaha memanfaatkan peluang pembangunan dengan menggelar praktik KKN.

Manajemen Program Pembangunan
Dua tahun pertama kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi di Nias berjalan tanpa menunggu rencana induk yang lengkap dan rinci. Rencana induk yang disiapkan pemerintah pusat hanya sedikit sekali menyentuh kebutuhan nyata rehabilitasi dan rekonstruksi di Nias. Di sisi lain, menunggu hingga terbitnya rencana induk yang relevan akan membuat pembangunan kembali Nias terhambat, pemerintah kehilangan wibawa, sementara masyarakat kehilangan kepercayaan kepada pemerintah. Menghadapi situasi ini, BRR Perwakilan Nias melakukan terobosan dengan memulai kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi sesegera mungkin, cepat mengoordinasi perencanaan dengan Pemda dan semua pemangku kepentingan, sesaat setelah BRR masuk ke Nias. Masyarakat mulai dapat menikmati hasil pembangunan di awal 2006, meskipun terdapat ketidaktepatan dalam realisasi pembangunan kembali akibat perencanaan yang dilakukan dengan cepat. Kesalahan perencanaan yang dilakukan pada tahun pertama segera dievaluasi dan diperbaiki memasuki tahun berikutnya. Seiring dengan berjalannya proses rekonstruksi, secara bertahap dan sistematis dilakukan penyusunan rencana induk yang menyeluruh. Penyusunan rencana induk yang tidak tergesa‑gesa dan dilaksanakan setelah kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan ternyata memberikan keuntungan bagi lahirnya rencana induk yang benar‑benar didasari kebutuhan nyata masyarakat Nias. Di tengah ketiadaan rencana induk untuk membangun kembali Kepulauan Nias, mempertemukan seluruh pemangku kepentingan dalam sebuah forum merupakan langkah efektif untuk mengoordinasi perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi. BRR Perwakilan Nias menginisiasi forum itu lewat Nias Islands Stakeholders Meeting (NISM), yang melibatkan masyarakat, Pemda, serta para donor, untuk berembuk menyepakati rencana kerja rekonstruksi Nias. Melalui NISM yang rutin digelar setiap tahun itu, Nias, yang hampir terlupakan, kembali merengkuh perhatian para donor dan pemerintah Indonesia. Lewat forum ini pula, proses koordinasi dan fasilitasi bantuan pembangunan berjalan efektif. Seluruh pemangku kepentingan peduli terhadap keberhasilan pembangunan kembali Nias menjadi lebih baik.

174

Menyadari banyaknya rencana tata ruang wilayah di tingkat provinsi dan kabupaten yang dibuat dengan rapi tapi selama ini disimpan manis di lemari pemerintah tanpa dimasyarakatkan, BRR Perwakilan Nias memfasilitasi penyusunan Rencana Aksi dan Tata Ruang Kecamatan (Kecamatan Spatial Framework and Action Plan atau KSF‑AP) untuk menjembatani kesenjangan antara produk‑produk tata ruang di tingkat provinsi dan kabupaten dengan masyarakat, pemerintah kecamatan, dan pemerintah desa. KSF‑AP memuat daftar kegiatan pembangunan yang dibuat pemerintah kabupaten untuk kemajuan kecamatan tersebut. Adanya KSF‑AP membantu masyarakat memahami dan menyiapkan prioritas proyek‑proyek pembangunan. Penyusunan rencana aksi pembangunan hingga tingkat kecamatan ini telah meningkatkan keterlibatan masyarakat dan berhasil merumuskan program pembangunan secara efektif. Namun, betapa hebatnya pun rencana pembangunan disusun, itu belum berarti apa‑apa jika program dan anggaran dibuat tanpa memperhatikan kebutuhan dan situasi setempat. Seperti saat BRR NAD‑Nias mematok pagu anggaran perbaikan rumah yang sama untuk Aceh dan Nias, padahal karakteristik kerusakan rumah akibat bencana gempa bumi di Nias berbeda dengan kerusakan akibat hantaman tsunami di Aceh. Letak Nias yang terpencil dengan ketersediaan material bangunan yang minim menyebabkan terjadi perbedaan harga material yang mencolok, baik antara Nias dan Aceh maupun antara satu wilayah dan wilayah lain di Nias. Ditambah latar belakang

BRR dan para Mitra Pemulihan berkumpul dalam forum koordinasi Nias Islands Stakeholders Meeting (NISM) ke‑1 di Jakarta, 6 Desember 2005. Foto: BRR/Bodi CH

Bagian 9. Warisan BRR dari Tano Niha

175

176

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Ruas jalan antara Kota Gunungsitoli dan Bandara Binaka di Kabupaten Nias. Foto: BRR/Bodi CH

sosial, ekonomi, dan budaya Nias yang berbeda, perlu kepekaan terhadap kebutuhan dan situasi setempat dalam pembuatan program dan anggaran pembangunan, agar tidak timbul kecemburuan sosial dan perpecahan dalam masyarakat. BRR Perwakilan Nias memperkecil masalah ini dengan memutuskan pembangunan rumah standar tipe 36 sejak awal. Ketetapan ini berlaku untuk semua mitra pemulihan yang terlibat dalam rekonstruksi perumahan. Walau rencana induk sudah dikantongi, itu belum menjamin proses pembangunan kembali berjalan mulus, seperti yang dialami dalam rekonstruksi perumahan pada Tahun Anggaran 2006. Pekerjaan pembangunan kembali perumahan yang dilaksanakan kontraktor tak kunjung tuntas meski telah berlangsung lebih dari setahun. BRR Perwakilan Nias lantas mengakhiri kontrak‑kontrak pembangunan perumahan yang bermasalah mulai Agustus 2007 dan mengalihkannya menjadi kontrak masyarakat atau dikenal sebagai Bantuan Langsung Masyarakat. Masyarakat berperan aktif sebagai pelaksana pembangunan rumah. Kebijakan alternatif ini berhasil menuntaskan pembangunan rumah‑rumah yang terbengkalai, sekaligus memberdayakan masyarakat. Hikmah ajar dari pengalaman ini adalah pentingnya kebijakan alternatif yang diambil dengan cepat dan tepat untuk mengatasi berbagai masalah dalam proses pembangunan kembali.

Kebijakan alternatif lain yang diterapkan BRR Perwakilan Nias menyangkut rehabilitasi dan rekonstruksi rumah‑rumah tradisional Nias. Rumah‑rumah tersebut merupakan warisan budaya bernilai tinggi yang tak lekang oleh waktu. Terbukti, rumah‑rumah sarat sejarah yang umumnya berusia lebih dari 100 tahun ini lebih tahan terhadap guncangan gempa bumi. Jika rumah‑rumah tradisional diperbaiki dengan skema formal pembangunan kembali yang berlaku, nilai warisan budaya akan musnah bersama kearifan lokal yang mengakar dalam masyarakat Nias. BRR Perwakilan Nias lantas mengambil kebijakan menghentikan program perbaikan rumah‑rumah tradisional yang sebagian atau seluruhnya diganti dengan material bangunan modern, dan menginisiasi program khusus untuk pelestarian rumah‑rumah tradisional. Maka, dalam melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi, patut diperhitungkan pembangunan yang melestarikan nilai‑nilai budaya dan mengembangkan kearifan lokal. Perubahan kebijakan BRR Perwakilan Nias di sektor perumahan telah memberikan banyak dampak positif. Seluruh komunitas setempat terlibat aktif, dari pengidentifikasian penerima manfaat yang benar, pengelolaan keuangan, hingga pelaksanaan pembangunan rumah‑rumah. Selain itu, sebagai bagian dari pembangunan perumahan, BRR Perwakilan Nias mengembangkan program pembangunan prasarana dan sarana dasar permukiman di desa‑desa. Masyarakat sendirilah yang mengidentifikasi kebutuhan, mengelola dana, serta mengatur proses pembangunan jembatan, jalan, dan saluran air minum. Melalui cara ini, konstruksi terpasang baik dengan biaya minimal. Di samping itu, masyarakat memperoleh keterampilan membangun dan mengelola anggaran. Dapat dikatakan, pemberian Bantuan Langsung Masyarakat untuk membangun rumah telah berhasil mengembangkan kemandirian dan keterampilan masyarakat setempat. Membangun kembali perumahan, prasarana, dan sarana dasar permukiman perlu ditunjang dengan pembangunan kembali infrastruktur yang rusak akibat gempa bumi. Tidak sekadar memperbaiki jalan‑jalan yang rusak, rekonstruksi transportasi dilakukan secara terpadu untuk pengembangan aksesibilitas wilayah dan pertumbuhan ekonomi secara efektif. Jalan‑jalan, bandar udara, dan pelabuhan dibangun kembali dengan mempertimbangkan pemanfaatan infrastruktur itu seoptimal mungkin untuk memacu perkembangan pusat‑pusat pertumbuhan di Nias. Peningkatan aksesibilitas wilayah dilakukan dengan meningkatkan keterkaitan transportasi di dalam wilayah antara pusat‑pusat produksi di desa‑desa dan pusat‑pusat distribusi di perkotaan. Aksesibilitas ke kantong‑kantong produksi di desa‑desa merupakan kunci pengembangan ekonomi Nias. BRR Perwakilan Nias bersama para mitra pemulihannya menerapkan pembangunan jalan‑jalan pedesaan dengan melibatkan partisipasi masyarakat, dengan harapan memberikan dampak ekonomi lebih signifikan dan meningkatkan rasa memiliki masyarakat terhadap infrastruktur publik. Selain itu, dibuka akses pintu‑pintu keluar wilayah Nias melalui transportasi laut dan udara. Masyarakat Nias kini dapat lebih mudah memasuki pasar di luar wilayah Nias, menjangkau dunia, mengakhiri keterasingan Nias selama ini.
Bagian 9. Warisan BRR dari Tano Niha

177

178

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Sebagai gerbang transportasi laut utama di Kepulauan Nias, Pelabuhan Gunungsitoli mengalami peningkatan kapasitas signifikan pascapembangunan dermaga tambahan, 30 Januari 2007. Foto: BRR/Bodi CH

Meskipun pembangunan infrastruktur di Nias berlangsung pesat dalam kurun waktu tiga setengah tahun, disadari pula bahwa masyarakat belum memperoleh manfaat optimal dengan adanya perbaikan infrastruktur tersebut. Pembangunan infrastruktur hanyalah salah satu stimulus ekonomi, maka perlu stimulus ekonomi lain agar masyarakat dapat memanfaatkan berbagai peluang yang dihasilkan dari kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi. BRR Perwakilan Nias mengembangkan berbagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat, dari pemberian bantuan peralatan pertanian dan perikanan hingga penyaluran kredit lunak lewat koperasi‑koperasi. Selanjutnya, perlu diadakan pendampingan dan pelatihan bagi para penerima bantuan peralatan atau kredit lunak, agar bantuan yang sudah diterima benar‑benar membawa manfaat dalam jangka panjang. Untuk menjamin keberlanjutan berbagai program pengembangan ekonomi, BRR Perwakilan Nias meluncurkan program pembangunan ekonomi rakyat yang akan dilaksanakan setelah mandat BRR NAD‑Nias berakhir hingga tahun 2012. Program yang menggunakan pendekatan kewilayahan ini bertujuan memacu produksi pertanian di wilayah‑wilayah yang telah ditetapkan sebagai kawasan produksi serta menjamin penyaluran produksi ke pasar di dalam dan di luar Nias. Hanya lewat program pengembangan ekonomi terpadu yang dilakukan secara konsisten, perekonomian wilayah dapat berkembang.

Di Kepulauan Nias, dengan dukungan para donor, Rumah Sakit Umum Gunungsitoli secara bertahap dikembangkan menjadi rujukan utama, puskesmas plus sebagai rujukan sekunder, dan puskesmas menjadi rujukan tersier. Pembangunan sistem rujukan berjenjang ini tentu membutuhkan dukungan tenaga medis yang memadai. Sejumlah pemuda setempat yang berprestasi dikirim ke Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, untuk menekuni pendidikan dokter. Namun, mengingat masa pendidikan dokter dan dokter spesialis lebih panjang daripada masa tugas BRR, dibuat mekanisme dana beasiswa yang melibatkan BRR, pemerintah kabupaten, dan Universitas, agar dana beasiswa dapat tetap dicairkan meskipun BRR tidak lagi beroperasi. Jauh hari sebelum menutup kantornya di Gunungsitoli, BRR Perwakilan Nias telah merancang strategi transisi yang efektif, baik melalui program maupun fasilitasi pemberdayaan, agar Pemda dan masyarakat setempat dapat mengambil manfaat optimal dari hasil‑hasil rekonstruksi dan mengembangkan kapasitas untuk pembangunan yang berkelanjutan. Nias Islands Transition Program (NITP) berisi berbagai kegiatan peningkatan kapasitas Pemda dalam manajemen pembangunan dan kegiatan pengurangan risiko bencana. Sedangkan dari sisi fasilitasi, BRR Perwakilan Nias mengembangkan Nias Islands Recovery Asset Mapping (NIRAM), yaitu sistem manajemen aset berbasis spasial yang mendata seluruh aset fisik dan nonfisik, baik publik maupun pribadi, serta menunjukkan lokasi dan kondisi aset, nilai aset, dan pemilik. NIRAM merupakan wujud akuntabilitas BRR terhadap pemanfaatan dana pembangunan kembali Nias. Sistem ini selanjutnya dialihkan ke Pemda untuk mendukung kapasitas Pemda dalam mengendalikan seluruh aset yang ada. Data yang dapat diakses publik secara online ini memungkinkan para donor dan masyarakat mengetahui secara tepat hasil pembangunan kembali Nias yang telah diupayakan dilaksanakan dengan baik dan bertanggung jawab.

Manajemen Risiko Bencana
Sebagai wilayah rawan bencana alam, terutama gempa bumi, pengurangan risiko bencana mutlak menjadi bagian rencana induk pembangunan kembali Nias. Salah satu bentuk konkretnya adalah penerbitan peraturan bangunan (building code), yang menjadi panduan rekonstruksi perumahan dan disebarluaskan melalui skema pembangunan perumahan dengan partisipasi masyarakat.

Bagian 9. Warisan BRR dari Tano Niha

Di samping itu, Nias membutuhkan pelayanan kesehatan yang baik dan terjangkau seluruh masyarakat. Maka pengembangan sistem pelayanan kesehatan berjenjang merupakan solusi bagi kawasan terpencil, miskin, dan rawan bencana seperti Nias. Sistem pelayanan kesehatan berjenjang dilaksanakan dari tingkat paling bawah di masyarakat hingga pusat pelayanan kesehatan utama di rumah sakit.

179

Selain itu, dalam merancang program‑program pembangunan pascabencana yang berkelanjutan, setiap program pembangunan yang dikembangkan perlu mengedepankan aspek‑aspek kesiagaan bencana. Penyusunan rencana tata ruang mutlak disesuaikan dengan konteks kerawanan bencana di wilayah tersebut. Contoh penerapan program pembangunan yang memperhatikan aspek kesiagaan bencana antara lain pembangunan kembali perumahan dan bangunan umum yang mengadopsi prinsip‑prinsip bangunan tahan gempa serta pembangunan prasarana lingkungan yang memperhitungkan jalur‑jalur evakuasi yang aman jika terjadi bencana. Dalam membangun infrastruktur, perlu dicermati letak patahan, mengingat infrastruktur yang dibangun akan terus mengalami guncangan akibat patahan; sementara pembangunan layanan kesehatan dilakukan berjenjang, agar memungkinkan pertolongan pertama kepada masyarakat jika terjadi gempa. Pengembangan kurikulum pendidikan mutlak memasukkan tata cara dan pendidikan pengurangan risiko bencana. Perlu dikembangkan pula sistem informasi dan komunikasi berbasis kesiagaan bencana, agar masyarakat memiliki pengetahuan dan kemampuan yang sama dalam mempersiapkan diri menghadapi bencana gempa bumi. *** Tiga setengah tahun pascabencana, wajah Nias tampil beda. Nias, yang semula terpencil, miskin, dan tak berdaya, kini dapat berdiri sejajar dengan saudara‑saudaranya di Provinsi Sumatera Utara. Membangun kembali Nias melalui jalan yang jarang dilalui dengan cara mengembangkan organisasi yang responsif dan kebijakan yang unik ternyata berhasil mengantar wilayah miskin ini mengatasi ketertinggalannya. Jalan telah terbentang, menanti jejak‑jejak kaki yang akan menapak lebih jauh di jalan yang jarang dilalui ini. Lala si fahole hili, ahatö ba wamaigi, ba aröe ba wanörö —ibarat berjalan mengitari gunung, sepertinya dekat padahal jauh ketika dilakoni— tutur bijak Nias. Memang, perjalanan membangun Nias masih panjang, medan yang ditempuh mungkin akan berliku‑liku, tapi berbagai pencapaian yang telah dirintis BRR NAD‑Nias kiranya dapat menjadi tonggak‑tonggak kebangkitan Nias. Dari Tano Niha pula lahir aneka pengalaman dan pembelajaran yang berguna untuk pembangunan kembali berbagai wilayah lain di mana pun yang sedang mengalami keterbelakangan dan keterisolasian seperti yang pernah dialami Nias.
Tari Perang merupakan salah satu corak budaya masyarakat Nias Selatan yang biasa disajikan untuk menyambut kedatangan tamu kehormatan. Kekayaan budaya Nias yang terbilang langka mendorong BRR dan seluruh Mitra Pemulihan untuk berpikir jauh ke depan; bagaimana menjaga keseimbangan antara modernisasi pembangunan dan pelestarian budaya. Foto: BRR/Bodi CH

Bagian 9. Warisan BRR dari Tano Niha

Pengurangan risiko bencana meliputi banyak aspek, tapi setidaknya ada empat aspek utama, yakni peningkatan kapasitas kelembagaan dalam pengurangan risiko bencana melalui kemitraan dengan organisasi kemasyarakatan, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap bencana dan pengurangan risiko bencana, pengembangan budaya selamat melalui pendidikan di sekolah‑sekolah, serta pengembangan proses dan kegiatan pengurangan risiko bencana berbasis komunitas lokal, kegiatan kesiapan bencana, dan sistem peringatan dini yang mutakhir.

181

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Catatan
1. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Nias, 2003. Sedangkan menurut analisis terhadap foto satelit yang digunakan dalam Program Kecamatan Spatial Framework and Action Plan (BRR‑ADB), luas Pulau Nias adalah 2.808,36 kilometer persegi. 2. Kantor Distrik Nias Selatan secara de facto telah beroperasi sejak awal 2006 sebagai kantor koordinasi pelaksanaan proyek‑proyek di wilayah Kabupaten Nias Selatan. 3. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) adalah pemimpin beberapa Satuan Kerja (Satker) yang dibagi dalam kelompok infrastruktur dan perumahan serta kelompok non‑infrastruktur. KPA 1 menangani bidang infrastruktur dan perumahan, yang terdiri atas bidang jalan dan jembatan, baik provinsi maupun kabupaten, transportasi udara, transportasi laut, kelistrikan, pengendalian banjir dan pantai, irigasi, air minum, dan sanitasi, serta perumahan dan permukiman. Sedangkan KPA 2 menangani sektor‑sektor non‑ infrastruktur, yaitu ekonomi dan usaha, pendidikan, kesehatan, pemerintahan/kelembagaan, agama, dan sosial‑budaya 4. Sebagai contoh, jumlah rumah yang rusak total dan perlu dibangun kembali menurut Rencana Aksi BRR NAD‑Nias (April 2005) adalah 12.255 unit, menurut Satkorlak PBP Sumut (Juli 2005) 16.161 unit, perkiraan IOM (Juni 2005) mencapai sekitar 15.800 unit, sedangkan versi BPS‑Bappenas‑UNFPA (Desember 2005) hanya sejumlah 10.070 unit. 5. BRR Perwakilan Nias (2007), ”Pokok‑pokok Pikiran dan Usulan Strategis dalam Rangka Penyusunan Master Plan Rekonstruksi Nias”, dipresentasikan di Bappenas pada 23 Maret 2007. 6. Kegiatan konsultasi publik yang diawali dengan Rapat Koordinasi Konsep Awal Rencana Aksi di Bappeda Provinsi Sumatera Utara ini secara teknis mencapai puncaknya dalam suatu sesi konsinyasi penyusunan rencana aksi rekonstruksi (blueprint) Nias yang diprakarsai Bappenas dan dilaksanakan di Cisarua pada 4‑6 Mei 2007, yang dihadiri oleh Kepala Bappeda Nias dan Kepala Bappeda Nias Selatan. Selanjutnya kegiatan ini diakhiri dengan Seminar Nasional Renaksi Nias di Jakarta pada 28 Mei 2007. 7. Pendekatan pembangunan dengan partisipasi masyarakat di Kepulauan Nias dikenal dengan program Bantuan Langsung Masyarakat (BLM), sebagai kebalikan dari program pembangunan oleh kontraktor. Istilah ini agak salah kaprah, karena BLM lebih merujuk pada sifat pembiayaannya, sedangkan partisipasi masyarakat melalui kontrak masyarakat (community contract) adalah metode pelaksanaannya. 8. Berdasarkan data di RAN Database, komitmen dalam format Project Concept Note yang tercatat per 31 Oktober 2008 sebesar Rp 2,191 triliun. Nilai pada Project Concept Note dalam beberapa kasus tidak selalu sama dengan komitmen yang dinyatakan secara formal.

182

9. Perpres Nomor 30 Tahun 2005, Lampiran IV Bidang Perumahan dan Infrastruktur, hlm. IV.2‑11 (Setneg, 2005). 10. Perpres Nomor 47 Tahun 2008, Lampiran IIA Penyesuaian Sasaran Bidang Perumahan dan Permukiman, hlm. 3 (Setneg, 2008). 11. Proyek Pengembangan Kecamatan (PPK) atau Kecamatan Development Project (KDP) telah hadir di Kepulauan Nias jauh sebelum bencana, untuk memberikan bantuan prasarana dan fasilitas lain kepada masyarakat desa di hampir semua kecamatan di Kabupaten Nias dan Nias Selatan. Sasaran PPK adalah mengembangkan kekuatan masyarakat untuk membangun desa mereka sendiri dengan mengintegrasikan pembangunan komponen‑komponen utama pedesaan, seperti jalan masuk ke desa, air bersih, drainase, sanitasi, jembatan, dinding penahan tanah, sekolah, puskesmas pembantu (pustu), dan balai desa. Dalam melaksanakan tugasnya serta membangun perumahan dan permukiman, strategi yang diterapkan adalah mengintegrasikan pembangunan yang melibatkan mayoritas masyarakat dalam mekanisme partisipatif dalam perencanaan dan pembangunan fisik. Hal ini dilaksanakan untuk mencapai pemerintahan daerah yang lebih baik, mempromosikan keseimbangan lingkungan dan perencanaan spasial yang lebih baik, memfasilitasi partisipasi sektor swasta, dan turut mewujudkan pemerintahan yang dapat dipercaya. 12. Sasarannya adalah menyediakan sekitar 4.500 rumah di lima kecamatan di Kabupaten Nias dan empat kecamatan di Kabupaten Nias Selatan. Pemerintah Indonesia melalui BRR menyediakan dana rekonstruksi rumah, sedangkan Multi Donor Fund (MDF) yang dikelola Bank Dunia mendanai komponen lain, yaitu sekolah beserta peralatannya, kantor desa, dan prasarana umum pada desa‑desa di sembilan kecamatan terkait. Selain itu, proyek ini membangun jalan masuk dan drainase berdasarkan peta desa yang ada. 13. Pada 2007 diterbitkan buku peraturan bangunan dalam bahasa Nias oleh proyek Asia Pro Eco (kerja sama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dengan Pemerintah Tuscany, Italia). Buku ini memiliki substansi teknis yang sama dengan peraturan bangunan yang diterbitkan BRR Perwakilan Nias. 14. Pemilik rumah tinggal yang tingkat kerusakannya terlalu parah dan tidak aman lagi untuk dijadikan tempat bermukim akan memperoleh hibah untuk rekonstruksi rumah baru. Sedangkan pemilik rumah lain yang rusak ringan dan sedang akan mendapatkan hibah rehabilitasi rumah. Namun, sampai saat tulisan ini diselesaikan, hibah rehabilitasi itu baru sedikit yang digunakan. 15. Program Pengembangan Kecamatan hasil kerja sama Departemen Dalam Negeri dan Bank Dunia telah melaksanakan pembangunan infrastruktur pedesaan melalui partisipasi masyarakat di Nias sejak akhir 1990‑an. Namun, dalam skema rekonstruksi, International Labour Organization yang memulainya pada awal 2006. BRR kemudian turut ambil bagian dengan memulai proyek percontohannya dalam pembangunan infrastruktur pedesaan berbasis masyarakat pada Oktober 2006 di Kecamatan Lolowa’u, Nias Selatan.

183

184

NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

16. Nias Dalam Angka 2007 17. Tidak ada perkebunan karet di Pulau‑Pulau Batu; tapi kecamatan itu memproduksi kakao. Program akan diarahkan pada pembangunan infrastruktur dan pariwisata. 18. Save the Children (2005), The Hills and Mountains Livelihoods of Nias Island. 19. Pada tingkat kecamatan telah terbentuk Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas), yang merupakan perpanjangan dari Satuan Pelaksana (Satlak). Namun Satlinmas masih berupa organisasi yang sekadar ada. Dengan pendekatan UPBK, Satlinmas akan direvitalisasi menjadi organisasi yang siap berperan mendukung kesiagaan bencana di lingkup kecamatan.

Daftar Singkatan
Singkatan ADB AIPRD AMAP APBD APBN ASEAN Bakornas (PBP) Indonesia Bank Pembangunan Asia Kemitraan Australia‑Indonesia untuk Rekonstruksi dan Pembangunan Proyek Bantuan Teknis Pemetaan Aset Aceh dan Nias Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perhimpunan Negara‑Negara Asia Tenggara Badan Koordinasi Nasional (Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi), sekarang bernama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Bandar udara Badan Pelaksana Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bantuan Langsung Masyarakat Badan Pemeriksa Keuangan Badan Pertanahan Nasional Bantuan Pembangunan Rumah Baru Biro Pusat Statistik Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara Rencana Aksi Masyarakat Forum Koordinasi untuk Aceh dan Nias Inggris Asian Development Bank Australia‑Indonesia Partnership for Reconstruction and Development Asset Mapping Assistance Project for Aceh and Nias Provincial Annual Budget Government of Indonesia’s National Annual Budget Association of South East Asia Nations National Coordination Agency (for Disaster Mitigation and Refugees); Now it is the National Agency for Disaster Mitigation Airport Executing Agency Regional Development Planning Agency National Development Planning Agency Direct Community Assistance Supreme Audit Agency National Land Agency Allowance to build new houses Central Bureau of Statistics Agency for the Rehabilitation and Reconstruction of the Regions and Community of Nanggroe Aceh Darussalam and the Nias Island of the Province of North Sumatra Community Action Plan Coordination Forum for Aceh and Nias

185

Bandara Bapel Bappeda Bappenas BLM BPK BPN BPRB BPS BRR

CAP CFAN

Singkatan
NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Indonesia Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pengurangan Risiko Bencana

Inggris Issuance of Spending Authority House of Representative Regional House of Representative Disaster Risk Reduction

DIPA DPR DPRD DRR ETESP

Proyek Sektor Bantuan Darurat Earthquake and Tsunami Emergency Gempa Bumi dan Tsunami yang Sector Project funded by Asian dibiayai oleh Bank Pembangunan Asia Development Bank (ADB) (ADB) Diskusi Kelompok Terarah Produk Domestik Bruto (PDB) Gelanggang Olah Raga Federasi Palang Merah Internasional dan Komunitas Bulan Sabit Merah Organisasi Buruh Internasional Organisasi Internasional untuk Migrasi Penduduk Program Pemampuan Rekonstruksi Prasarana Sarana Pendanaan Rekonstruksi Prasarana Kementerian Negara/Lembaga Kepala Badan Pelaksana Kerangka Acuan Kerja Kepala Satuan Kerja Proyek Pengembangan Kecamatan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme Komite Percepatan Pembangunan Perumahan dan Permukiman Desa Kuasa Pengguna Anggaran Kecamatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pulau Nias Focus Group Discussion Gross Domestic Product Sports Stadium International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies International Labour Organization Internal Organization for Migration Infrastructure Reconstruction Enabling Program Infrastructure Reconstruction Financing Facilitiy Ministry/Institution Head of Executing Agency Terms of Reference (TOR) Head of Project Implementing Unit Kecamatan Development Project Corruption, Collusion, and Nepotism The Village Committee for Housing and Settlement Development Acceleration Budget Authority Officer Rehabilitation and Reconstruction of Districts in Nias Islands (An Indonesian development programme that is currently under the Department of Internal Affairs) Kecamatan Spatial Framework and Action Plan Non‑government Organisation (NGO) Multi‑Donor Fund

FGD GDP GOR IFRC ILO IOM IREP IRFF K/L Kabapel KAK Kasatker KDP KKN KP4D

186

KPA KRRPN

KSF‑AP LSM MDF

Kerangka Tata Ruang dan Rencana Aksi Kecamatan Lembaga Swadaya Masyarakat Dana Multi‑Donor

Singkatan MPR NAD NGO Nias LEDP Nisel NIRAM NISM NITP NRP P2TP2 PAD PBB PDB PDRB Pemda Pemkab Pemprov Perpres Perpu PHLN PIC PIM PNPM Polindes Poskeslit Posyandu PP PPI PPK

Indonesia Majelis Permusyawaratan Rakyat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Organisasi nonpemerintah/ Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)

Inggris People’s Consultative Assembly Nanggroe Aceh Darussalam Province Non‑Governmental Organization

Program Pengembangan Ekonomi dan Nias Livelihood and Economic Penghidupan Masyarakat Nias Development Programme Kabupaten Nias Selatan Pemetaan aset Pemulihan di Kepulauan Nias Pertemuan pemangku kepentingan Kepulauan Nias Program Transisi Kepulauan Nias Program Rekonstruksi Nias Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Pendapatan Asli Daerah Perserikatan Bangsa‑Bangsa Produk Domestik Bruto Produk Domestik Regional Bruto Pemerintah Daerah Pemerintah Kabupaten Pemerintah Provinsi Peraturan Presiden Peraturan Pemerintah Pengganti Undang‑Undang Pinjaman/Hibah Luar Negeri Pusat Informasi Publik Pupuk Iskandar Muda Program Nasional Pengembangan Masyarakat Poliklinik Desa Pos Kesehatan Satelit Pos Pelayanan Terpadu Peraturan Pemerintah Pangkalan Pendaratan Ikan Pejabat Pembuat Komitmen District of South Nias Nias Islands Recovery Asset Mapping Nias Islands Stakeholder Meeting Nias Islands Transition Programme Nias Reconstruction Programme Center of Integration Service for Women Empowerment Regional Income United Nations (UN) Gross National Product (GNP) Regional Gross Domestic Product Regional Government District Government Provincial Government Presidential Regulation Government Regulation in Lieu of Law Foreign Soft Loans/Grant Public Information Center Iskandar Muda Fertilizer National Programme of Community Development Village Polyclinic Satelite Health Post Integrated Health Service Post Government Regulation Fish Unloading Bay Contract Preparation Officer

187

Singkatan
NIAS: Membangun Melalui Jalan yang Jarang Dilalui

Indonesia Proyek Pengembangan Kecamatan – Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pulau Nias Prasarana dan Sarana Dasar Pekerjaan Umum Pusat Kesehatan Masyarakat Puskesmas Pembantu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Radio Republik Indonesia Rumah Sakit Umum Rumah Sakit Umum Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah

Inggris Sub‑district Development specialized in Rehabilitation and Reconstruction of Nias Island Basic Infrastructure and Facilities Public Works community health post auxiliary community health post Mid‑term Development Plan Radio of Republic Indonesia General Hospital Regional General Hospital The Standardized Nomenclature of Spatial Plans in Indonesia Anti‑corruption Unit Project Implementing Unit Unit for Coordinating Implementers of Disaster and Displaced Persons Management Implementer Unit Community Security Unit Elementary School Human Resources Joint Secretariat Decree Senior High School Junior High School Support for Poor and Disadvantage Areas Spatial Planning and Environmental Management Richter Scale North Sumatera Fiscal Year Indonesian National Army Gadjah Mada University Small and Medium Enterprise (SME)

PPK‑R2PN

PSD PU Puskesmas Pustu RPJM RRI RSU RSUD RTRW RTRWN SAK Satker Satkorlak

188

Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional National Spatial Plan of Indonesia Satuan Antikorupsi Satuan Kerja Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi Satuan Pelaksana Satuan Perlindungan Masyarakat Sekolah Dasar Sumber Daya Manusia Sekretariat Bersama Surat Keputusan Sekolah Menengah Atas Sekolah Menengah Pertama Dukungan untuk Kawasan Miskin dan Tertinggal Manajemen Perencanaan Tata Ruang dan Lingkungan Skala Richter Sumatera Utara Tahun Anggaran Tentara Nasional Indonesia Universitas Gadjah Mada Usaha Kecil dan Menengah

Satlak Satlinmas SD SDM Sekber SK SMA SMP SPADA SPEM SR Sumut TA TNI UGM UKM

Singkatan UN UNDP UNEP UNESCO

Indonesia Perserikatan Bangsa‑Bangsa (PBB) Program Pembangunan Perserikatan Bangsa‑Bangsa Program Lingkungan Perserikatan Bangsa‑Bangsa Badan Perserikatan Bangsa‑Bangsa untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Badan Perserikatan Bangsa‑Bangsa di bidang penyediaan layanan kesehatan, serta partisipasi pemuda dan wanita dalam pencegahan dampak kesehatan yang meluas ke berbagai sektor seperti pencegahan penyakit kelamin termasuk HIV/AIDS Dana Perserikatan Bangsa‑Bangsa untuk urusan Anak‑anak United Nations

Inggris United Nations Development Programme United Nations Environmental Program United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization United Nations of Population Fund (Formerly known as United Nations Fund for Population Activities and now is under the administration of United Nations Development Fund)

UNFPA

189

UNICEF UNISDR

United Nations Children’s Fund

Badan Perserikatan Bangsa‑Bangsa United Nations International Strategy yang menangani strategi internasional for Disaster Reduction untuk pengurangan risiko bencana Badan Perserikatan Bangsa‑Bangsa mengenai Koordinasi Urusan Kemanusiaan Badan Perserikatan Bangsa‑Bangsa Koordinator Pemulihan khusus untuk Aceh dan Nias Undang‑Undang Organisasi Kesehatan Dunia United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs United Nations Office of the Recovery Coordinator for Aceh and Nias Law World Health Organization

UNOCHA

UNORC

UU WHO

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->