Anda di halaman 1dari 13

PROSES PENCELUPAN KATUN DENGAN ZAT WARNA DIREK (Direct Crisopenyne yell.

g-x)
I. MAKSUD DAN TUJUAN a. Maksud Studi pencelupan katun dengan zat wana direk b. Tujuan Studi tentang pengaruh konsentrasi NaCl dan proses iring TEORI PENDEKATAN Serat Selulosa Serat selulosa merupakan serat hidrofil yang strukturnya berupa polimer selulosa, dengan derajat polimerisasi (DP) bervariasi, contoh DP rayon 500 700, sedang DP kapas sekitar 3000., makin rendah DP daya serap airnya makin besar, contoh: MR rayon 11-13% sedang kapas 7-8% Struktur serat selulosa adalah sebagai berikut:

II.

Gugus OH primer pada selulosa merupakan gugus fungsi yang berperan untuk mengadakan ikatan dengan zat warna direk berupa ikatan hidrogen. Serat selulosa umumnya lebih tahan alkali tapi urang tahan suasana asam, sehingga pengerjaan proses persiapan penyempurnaan dan pencelupannya lazim dalam suasana netral atau alakali. Bahan yang akan dicelup biasanya sudah melalui proses persiapan penyepurnaan seperti pembakaran bulu, penghilangan kanji, dan pemasakan, bahkan untuk pencelupan warna biasanya sudah dikelantang dan dimerser. Zat Warna Direk Zat warna direk adalah zat warna yang dapat mencelup serat selulosa secara langsung karena zat warna ini sangat mudah larut dalam air, atau disebut juga zat warbana substantif karena dapat terserap baik oleh selulosa, bahkan ada juga yang menyebutnya dengan zat warna garam karena dalam pencelupan pada umumnya ditambahkan garam (NaCl) untuk memperbesar penyerapanya, sehingga peran NaCl sangat penting agar zat warna dalam proses pencelupan dapat terserap sempurna oleh serat sehingga dapat
Teknologi Pencelupan Page 1

meningkatkan kerataan warna pada serat. Hal ini perlu diperhatikan karena selulosa dalam larutan mempunyai muatan negatip pada permukaanya, sehingga anion zat warna direk akan tertolak, elektrolit yang ditambahkan berfungsi untuk mengurangi atau menghilangkan muatan negatip tersebut, hingga pada jarak yang cukup dekat molekulmolekul zat warna akan tertarik karena gaya-gaya van der waalls atau ikatan hidrogen yang telah bekerja dengan baik. Mekanisme penetralan anion (muatan negatip) antara serat dengan zat warna direk oleh NaCl dapat terjadi karena NaCl dalam larutan akan terionisasi menjadi atom Na+ dan atom Cl-, atom Na yang bermuatan positif akan bergabung dengan zat warna direk yang bermuatan negatip sehingga muatan antara serat dan zat warna menjadi berlainan, maka dalam kondisi ini kecenderungan untuk berikatan semakin meningkat. Struktur kimia dibawah ini adalah contoh dari peran NaCl dalam membantu penyerapan serat terhadap zat warna yaitu pada Chlorazol Sky BlueF F (termasuk zat warna direk), pada pencelupan tanpa ditambahkan NaCl hanya akan memberikan penodaan saja (pada serat), tetapi apabila ditambahkan NaCl pada larutan celup maka Chlorazol Sky Blue FF akan memberikan warna tua;
H2N OH O3S N N C2H5O OC2H5 HO N N Nh2 SO3

O3S

So3

Gambar Chlorazo Sky Blue F

Namun apabila penambahan NaCl dalam proses pencelupan dilakukan dengan berlebihan maka hasil akhir dari proses tersebut akan menimbulkan warna yang tidak merata (belang) pada serat yang dicelup, karena terjadi penumpukan muatan di ruas kanan kesetimbangan reaksi zat warna, hal ini akan menyebabkan reaksi semakin bergeser kekiri, sehingga akan terdapat molekul zat warna yang tidak terionisasi dengan sempurna. Tetapi setiap zat warna, termasuk zat warna direk memiliki kepekaan yang berbeda-beda terhadap penambahan kadar garam dalam larutan, hal ini bisa dilihat dari kurva dibawah ini:

Teknologi Pencelupan

Page 2

Zat Warna A 100

P e n y e ra p a n %

zat Warna B 80 60 40 20 0 20 k o n s e n tra s i N a C l 40

KURVA PENGARUH ELEKTROLIT Zat warna direk A kurang peka terhadap elektrolit daripada Zat warna B, hali ini terlihat semakin besarnya konsentrasi NaCl yang ditambahkan pada larutan menyebabkan semakin besar pula penyerapan serat terhadap zat warna A, tetapi sebaliknya apabila konsentrasi NaCl terus ditingkatkan, daya serap serat terhadap zat warna B akan semakin rendah hal inilah yang dimaksud dengan tingkat kepekaan zat warna yang berbeda-beda terhadap NaCl, perbedaan ini tergantung dari ukuran molekul dari zat warna tersebut, dari ukuran molekul kecil ke besar kepekaan terhadap NaCl semakin meningkat, misalnya zat warna direk type A yang memiliki ukuran molekul sangat kecil tidak peka terhadap NaCl sehingga dalam proses pencelupan harus diberi garam dengan konsentrasi yang sedikit lebih banyak daripada type B dan C, bahkan untuk zat warna direk type D yang memiliki ukuran molekul yang sangat besar tidak perlu ditambahkan garam selama proses pencelupan, karena pada prinsipnya garam-garam yang ditambahkan kedalam larutan mempunyai pengaruh merintangi atau memperlambat penyerapan zat warna, karena tempat-tempat yang aktif dalam serat telah ditempati lebih dahulu oleh anion garam yang molekulnya lebih sederhana, tetapi dilain pihak NaCl juga sangat berpengaruh dalam mengurangi muatan negatip serat, sehingga anion zat warna lebih mudah terserap oleh serat, sehingga penambahan NaCl kedalam larutan celup yang molekul-molekulnya berukuran kecil, sangat diperlukan.

Teknologi Pencelupan

Page 3

Tahan Luntur dan Ikatan Zat Warna Direk dengan Selulosa Zat warna direk dalam suhu tinggi akan membentuk ikatan hidrogen dengan gugus hidroksi dari selulosa. AR1-N=N-AR2SO3Na Ikatan Hidrogien Sel-OHr Gambar ikatan hidrogen antara zat warna direk dengan selulosa Kekuatan ikatan hidrogen antara zat warna direk dengan serat selulosa tidak terlalu kuat, dan mudah putus dalam suhu tinggi, sehingga daya tahan luntur zat warna direk rendah terutama dalam pencucian panas, selain membentuk ikatan hidrogen, ikatan antara zat warna direk dengan serat juga ditunjang oleh ikatan dari gaya van der waals, kekuatan ikatan dari gaya van der waals juga relative sangat lemah dan akan meningkat apabila ukuran molekul zat warna direk makin besar. Ketahanan terhadap pencucian hasil celupan zat warna direk dapat diperbaiki melalui proses iring, dengan zat pemiksasi kationik, dimana pada prinsipnya adalah memperbesar ukruan molekul zat warna dalam serat sehingga zat warna akan lebih sukar bermigrasi, akibatnya tahan luntur hasil celupan menjadi lebih baik., karena zat-zat kation aktif akan bergabung dengan zat warna direk yang bersifat anion membentuk molekul yang lebih kompleks sehingga tahan cucinya menjadi lebih baik, tetapi tahan sinarnya akan berkurang.
H C HC C H C H H C N Br C H13 16 HC C H C H H C H C N + C H32 16 + Br

Gambar ikatan zat warna direk dengan salah satu zat kation aktif Fixanol G

Teknologi Pencelupan

Page 4

III.

PERCOBAAN / PRAKTIKUM 1) Alat dan Bahan yang Digunakan 1 buah gelas piala porselin 1000 ml 1 buah pengaduk kaca 1 buah gelas piala atau gelas ukur 100 ml 1 set kasa + kaki tiga + pembakar Bunsen 1 buah timbangan digital 1 buah termometer 1 lembar kain kapas 1 buah pipet Zat sesuai resep

2) Diagram Alir Proses Proses Pencelupan tanpa Proses Iring


Persiapan bahan

Persiapan larutan celup

Proses pencelupan

Pencucian dengan sabun

Pencucian dengan air panas dan dingin

Proses pengeringan kain

Teknologi Pencelupan

Page 5

Proses Pencelupan dengan Proses Iring


Persiapan bahan

Persiapan larutan celup

Proses pencelupan

Proses iring

Pencucian dengan sabun

Pencucian dengan air panas dan dingin

Proses pengeringan kain

3) Skema Proses Zat warna direk Pembasah Na2CO3 NaCl 30 C 10 30


0

900C

500C

30

45

4) Resep yang Digunakan a. Resep Pencelupan Zat warna direk Pembasah Na2CO3 NaCl Vlot

: 1% : 1cc/L : 3 gr/L : 30 gr/L dan 50 gr/L : 1: 20

Teknologi Pencelupan

Page 6

b. Resep Proses Iring Zat pemiksasi kationik Asam asetat 30% Vlot Suhu 600C c. Resep Pencucian Pembasah Na2CO3 Vlot Suhu 600C

: 2cc/L : 1cc/L : 1 : 20 : 10 menit : 1cc/L : 1gr/L : 1 : 20 : 10 menit

5) Fungsi Zat yang Digunakan Pembasah : meratakan dan mempercepat proses pembasahan kain NaCl : mendorong penyerapan zat warna Na2CO3 : menambah kelarutan zat warna Zat pemiksasi kationik : memperbaiki ketahanan luntur hasil celup zat warna direk Asam asetat : memperbaiki kelarutan zat pemiksasi kationik, agar proses iringnya merata 6) Cara Kerja Proses Pencelupan Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan Menyiapkan kain Membuat larutan pencelupan untuk kapas Merendam kain ke dalam larutan celup selama 10 menit Memasukkan garam (NaCl) ke dalam larutan celup Memanaskan kain pada larutan celup diatas pembakar Bunsen pada suhu stabil 90o C selama 30 menit Menurunkan suhu menjadi 500C Mencuci kain dengan air dingin Proses Iring Menyiapkan larutan untuk proses iring Memasukkan kain ke dalam larutan dan dipanaskan di atas Bunsen dengan suhu stabil 600C selama 10 menit Mencuci kain dengan air dingin
Teknologi Pencelupan

Page 7

Pencucian dengan Sabun Menyiapkan larutan pencucian dengan sabun Memasukkan kain ke dalam larutan dan dipanaskan di atas Bunsen dengan suhu stabil 600C selama 10 menit Mencuci kain dengan air panas dan air dingin Mengeringkan kain

7) Perhitungan Resep Larutan induk zat warna : ditimbang 0,5 gram zat warna dan dilarutkan menjadi 50 cc diaduk-aduk diperoleh larutan induk zat warna 0,5 g/ 50cc Resep 1 - Proses Pencelupan Berat bahan : 9,6 gram Volume air : 9,6 x 20 = 192 cc Zat warna 1% Dipipet sebanyak Pembasah Na2CO3 NaCl Sisa air : : : : : : ( )

Pencucian Berat bahan Volume air Na2CO3 Pembasah Sisa air

: 9,6 gram : 9,6 x 20 = 192 cc : : :

Resep 2 - Proses Pencelupan Berat bahan Volume air Zat warna 1% Dipipet sebanyak
Teknologi Pencelupan

: 9,39 gram : 9,39 x 20 = 187,8 cc : :


Page 8

Pembasah Na2CO3 NaCl Sisa air

: : : : ( )

Pencucian Berat bahan Volume air Na2CO3 Pembasah Sisa air

: 9,39 gram : 9,39 x 20 = 187,8 cc : : :

Resep 3 - Proses Pencelupan Berat bahan Volume air Zat warna 1% Dipipet sebanyak Pembasah Na2CO3 NaCl Sisa air

: 6,35 gram : 6,35 x 20 = 127 cc : : : : : : ( )

Proses Iring Berat bahan Volume air Zat pemiksasi As. Asetat 30% Sisa air

: 6,35 gram : 6,35 x 20 = 127 cc : : : ( )

Teknologi Pencelupan

Page 9

Pencucian Berat bahan Volume air Na2CO3 Pembasah Sisa air

: 6,35 gram : 6,35 x 20 = 127 cc : : :

8) Sampel Hasil Praktek

Kain dengan resep 1

Kain dengan resep 2

Teknologi Pencelupan

Page 10

Kain dengan Resep 3 Data Pengamatan Resep 1 2 3 IV.

Ketuaan Warna Muda Sedikit tua Tua

Tahan Luntur Jelek Kurang baik Baik

DISKUSI 1. Pada proses pecelupan penambahan NaCl tidak dilakukan di awal karena NaCl dapat meningkatkan tegangan permukaan sehingga pembasah yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan tidak dapat berfungsi dengan baik. Pada prinsipnya penambahan garam justru akan merintangi penyerapan zat warna, karena disebabkan anion-anion garam (NaCl) akan menempati tempat yang aktip dalam serat, sehingga untuk mengantisipasi hal ini maka penambahan NaCl dilakukan setelah larutan dan kain didiamkan (sepuluh menit) agar tempat yang aktip dalam serat dapat ditempati oleh anion-anion zat warna 2. Penggunaan konsentrasi NaCl yang berbeda pada resep 1 dan 2 menghasilkan warna yang berbeda pada kain setelah proses pencelupan. Proses dengan konsentrasi NaCl yang lebih besar menghasilkan warna yang lebih tua karena NaCl akan mendorong penyerapan zat warna dengan cara mengurangi muatan negatif pada selulosa sehingga pada jarak yang cukup dekat molekul-molekul zat warna akan tertarik karena gayagayaVan Der Waals atau ikatan hidrogen yang bekerja dengan baik. 3. Sedangkan pada resep 2 dan 3 meskipun konsentrasi NaCl sama akan menghasilkan kain dengan kualitas berbeda. Kain yang dicelup dengan resep 3 akan memiliki ketahanan luntur yang lebih baik dan warna yang lebih tua karena pada resep 3 dilakukan proses iring dengan zat pemiksasi kationik, dimana dalam proses tersebut zat warna akan

Teknologi Pencelupan

Page 11

berikatan dengan zat pemiksasi sehingga ukurannya menjadi besar, dan tahan luntur dalam pencucian lebih baik. Pada akhir proses harus dilakukan penurunan suhu pencelupan untuk menambah penyerapan zat warna direk. V. KESIMPULAN Proses pencelupan dengan konsentrasi NaCl yang lebi besar akan menghasilkan warna kain dengan warna yang lebih tua dan proses pencelupan dengan proses iring akan menghasilkan kain dengan ketahanan luntur yang lebih baik.

Teknologi Pencelupan

Page 12

DAFTAR PUSTAKA Karyana, Dede, S.Teks,M.Si dan Ir. Elly K. Bk. Teks. 2005. Bahan Ajar Praktikum Pencelupan I. Bandung: STTT Bandung Djufri, Rasjid. M.Sc.dkk. 1976. Teknologi Pengelantangan, Pencelupan, dan Pencapan. Bandung: Institut Teknologi Bandung

Teknologi Pencelupan

Page 13