Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN Toksikologi merupakan ilmu yang sangat luas yang mencakup berbagai disiplin ilmu yang sudah

ada seperti Ilmu Kimia, Farmakologi, Biokimia, Forensik Medicine dan lain-lain. Sampai abad ke-19, dokter, pengacara dan pelaksana hukum yang dapat dipercaya menyatakan bahwa salah satu tanda atau gejala keracunan pada seseorang adalah berwarna kehitaman, biru atau berbintik pada tubuh korban. Pada awal abad ke-18, seorang dokter Belanda, Herman Boerhoave berteori bahwa berbagai racun mempunyai ciri khas tersendiri terhadap tubuh dari reaksi yang dihasilkannya. Racun ialah suatu zat yang bekerja pada tubuh secara kimiawi dan faali, yang dalam dosis toksik selalu menyebabkan gangguan fungsi tubuh, hal ini dapat berakhir dengan penyakit atau kematian. Racun dapat masuk ke dalam tubuh melalui ingesti, inhalasi, injeksi, penyerapan melalui kulit dan pervaginam atau perektal. Intoksikasi merupakan suatu keadaan dimana fungsi tubuh menjadi tidak normal yang disebabkan oleh suatu jenis racun atau bahan toksik lain. Salah satu contohnya pada intoksikasi karbon monoksida dimana terjadi keadaan toksik sebagai akibat dari terhirup dan terserapnya gas karbon monoksida, dimana karbon monoksida berikatan dengan hemoglobin dan menggantikan oksigen dalam darah. Di luar kematian akibat kebakaran, ada sekitar 2700 kematian yang disebabkan oleh karbon monoksida setiap tahunnya di Amerika Serikat. Sekitar 2000 dari kasus ini adalah bunuh diri dan 700-nya adalah kecelakaan. Pada kenyataannya seluruh kasus bunuh diri tersebut melibatkan penghirupan gas buangan mobil. Kasus di Amerika pada tahun 1991 dimana terdapat 3.022 disebabkan oleh kasus kokain atau sekitar 45,75%, 2.436 kasus alkohol (36.90%), 2.333 kasus heroin/morphin (35.3%). Penggunaan alkohol merupakan masalah yang sering muncul di Amerika Serikat dimana sekitar 40.000 kematian disebabkan kecelakaan akibat penggunaan alkohol, yang 50% kejadian tersebut dikarenakan pengemudi yang mabuk dan 60% terjadi pada pejalan kaki. BAB II
1

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Toksikologi Toksikologi berasal dari kata Yunani, toxicos dan logos merupakan studi mengenai perilaku dan efek yang merugikan dari suatu zat terhadap organism atau mahluk hidup. Dalam toksikologi, dipelajari mengenai gejala, mekanisme, cara detoksifikasi serta deteksi keracunan pada sistem biologis makhluk hidup. Toksikologi sangat bermanfaat untuk memprediksi atau mengkaji akibat yang berkaitan dengan bahaya toksik dari suatu zat terhadap manusia dan lingkungannya. Toksikologi adalah ilmu yang mempelajari sumber, sifat serta khasiat racun, gejala-gejala dan pengobatan pada keracunan, serta kelainan yang didapatkan pada korban yang meninggal. Toksikologi merupakan ilmu yang sangat luas yang mencakup berbagai disiplin ilmu yang sudah ada seperti ilmu kimia, Farmakologi, Biokimia, Forensik Medicine dan lain-lain. Di samping itu ilmu ini terus berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu-ilmu lainnya, dan ini semua pada gilirannya akan menyulitkan kita dalam membuat definisi yang singkat dan tepat mengenai Toksikologi. Sebagai contoh, menurut Ahli Kimia Toksikologi adalah ilmu yang bersangkutan paut dengan efek-efek dan mekanisme kerja yang merugikan dari agent-agent Kimia terhadap binatang dan manusia. Sedangkan dari para ahli Farmakologi Toksikologi merupakan cabang Farmakologi yang berhubungan dengan efek samping zat kimia didalam sistem biologik. Dengan keluasan Toksikologi maka sejumlah besar ahli-ahli dibidang yang masing-masing turut terlibat dalam Toksikologi dalam bidang yang sesuai dengan keahliannya. Toksikologi forensik, adalah penerapan toksikologi untuk membantu investigasi medikolegal dalam kasus kematian, keracunan maupun penggunaan obat-obatan. Dalam hal ini, toksikologi mencakup pula disiplin ilmu lain seperti kimia analitik, farmakologi, biokimia dan kimia kedokteran. Yang menjadi perhatian utama dalam toksikologi forensik bukanlah keluaran aspek hukum dari investigasi secara toksikologi, namun mengenai teknologi dan teknik dalam memperoleh serta menginterpretasi hasil seperti: pemahaman perilaku zat, sumber penyebab keracunan atau pencemaran, metode pengambilan sampel dan metode
2

analisa, interpretasi data terkait dengan gejala atau efek atau dampak yang timbul serta bukti-bukti lainnya yang tersedia. Racun ialah zat yang bekerja pada tubuh secara kimiawi dan fisiologik yang dalam dosis toksik akan menyebabkan gangguan kesehatan atau mengakibatkan kematian. Berdasarkan sumber dapat digolongkan menjadi racun yang berasal dari tumbuh-tumbuhan; opium, kokain, kurare, aflatoksin. Dari hewan; bias/toksin ular/laba-laba/hewan laut. Mineral; arsen, timah hitam. Dan berasal dari sintetik; heroin. Keracunan makanan didefinisikan sebagai penyakit yang disebabkan oleh konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi dengan bakteri, parasit, virus, atau bahan kimia. Gejala-gejala, yang bervariasi dalam derajat dan kombinasi, termasuk sakit perut, muntah, diare, dan sakit kepala, lebih kasus serius dapat mengakibatkan mengancam jiwa neurologis, hati, ginjal dan sindrom yang menyebabkan cacat tetap atau kematian. Organisme dapat mencemari makanan pada setiap saat selama pengolahan atau produksi. Kontaminasi juga dapat terjadi di rumah jika makanan tidak benar ditangani atau dimasak. Makanan gejala keracunan sering termasuk mual, muntah atau diare, yang dapat mulai hanya beberapa jam setelah makan makanan yang terkontaminasi. Paling sering, keracunan makanan ringan dan sembuh tanpa pengobatan. Tapi beberapa kasus yang parah, yang memerlukan rawat inap. Berdasarkan tempat dimana racun berada, dapat dibagi menjadi racun yang terdapat di alam bebas, misalnya gas racun di alam, racun yang terdapat di rumah tangga misalnya deterjen, insektisida, pembersih. Racun yang digunakan dalam pertanian misalnya insektisida, herbesida, pestisida. Racun yang digunakan dalam industri laboratorium dan industri misalnya asam dan basa kuat, logam berat. Racun yang terdapat dalam makanan misalnya CN di dalam singkong, toksin botulinus, bahan pengawet, zat aditif serta racun dalam bentuk obat misalnya hipnotik sedatif. Pembagian lain berdasarkan atas kerja atau efek yang ditimbulkan. Ada racun yang bekerja secara lokal, sistemik dan lokal-sistemik. ---2.2. Penyebab
3

Kontaminasi makanan dapat terjadi pada setiap saat selama produksi: penanaman, pembelian bahan makanan atau cocok tanam, pengolahan, penyimpanan, pengiriman atau mempersiapkan. Kontaminasi silang (transfer organisme berbahaya dari satu permukaan ke yang lain) sering menjadi penyebabnya. Hal ini sangat berisiko pada makanan seperti salad atau produk lainnya, karena makanan ini tidak dimasak, organisme berbahaya tidak hancur sebelum makan dan dapat menyebabkan keracunan makanan. Bakteri dapat masuk ke makanan Anda dalam berbagai cara:

Daging atau unggas dapat datang ke dalam kontak dengan bakteri usus ketika sedang diproses Air yang digunakan selama tumbuh atau pengiriman dapat berisi binatang atau kotoran manusia Makanan yang tidak tepat penanganan atau persiapan Keracunan makanan lebih sering terjadi setelah makan makanan pinggir

jalan, kantin sekolah, acara makan massal, atau restoran. Sebagian besar kasus keracunan makanan disebabkan oleh bakteri umum seperti Staphylococcus atau Escherichia coli (E. coli). Tabel berikut menunjukkan beberapa kontaminan mungkin, ketika Anda mungkin mulai merasa gejala dan cara umum organisme menyebar. Pencemaran Campylobacter Timbulnya gejala Makanan terpengaruh dan sarana transmisi

2 sampai 5Daging dan unggas. Kontaminasi terjadi selama hari pemrosesan jika kotoran hewan menghubungi permukaan daging.Sumber-sumber lain termasuk susu yang tidak dipasteurisasi dan air yang terkontaminasi.

Clostridium botulinum

12-72 jam

Home-kaleng makanan dengan keasaman rendah, makanan komersial tidak benar kaleng, ikan asap atau asin, kentang dipanggang di aluminium foil dan makanan lainnya disimpan pada suhu hangat
4

terlalu lama.

Clostridium perfringens

8 sampai 16Daging, semur dan gravies. Umumnya menyebar jam ketika melayani hidangan tidak menyimpan cukup makanan panas atau dingin makanan terlalu lambat.

Escherichia H7

coli 1 sampai 8Daging sapi yang terkontaminasi dengan kotoran selama pembantaian. Menyebar terutama oleh daging sapi setengah matang. Sumber-sumber lain termasuk susu yang tidak dipasteurisasi dan sari apel, kecambah alfalfa dan air yang terkontaminasi.

(E. coli) O157: hari

Giardia lamblia

1 sampai 2Baku, siap saji memproduksi dan air yang minggu terkontaminasi. Dapat ditularkan oleh penjamah makanan yang terinfeksi.

Hepatitis A

28 hari

Baku, siap saji produk dan kerang dari air yang terkontaminasi. Dapat ditularkan oleh penjamah makanan yang terinfeksi.

Listeria

9-48 jam

Hot anjing, makan siang daging, susu yang tidak dipasteurisasi terkontaminasi. dan keju, dan produk baku dicuci. Dapat menyebar melalui tanah dan air yang

Noroviruses (Norwalk-like virus) Rotavirus

12 sampai 48Baku, siap saji produk dan kerang dari air yang jam terkontaminasi. Dapat ditularkan oleh penjamah makanan yang terinfeksi. 1 sampai 3Baku, siap saji menghasilkan. Dapat ditularkan oleh hari penjamah makanan yang terinfeksi.

Salmonella

1 sampai 3Daging mentah atau tercemar, unggas, susu atau hari kuning telur. Selamat ditularkan memasak melalui tidak pisau, memadai. Dapat

memotong permukaan atau penjamah makanan


5

yang terinfeksi. Shigella 24 sampai 48Seafood dan mentah, siap saji menghasilkan. Dapat jam Staphylococcus aureus ditularkan oleh penjamah makanan yang terinfeksi.

1 sampai 6Daging dan salad siap, saus krim dan krim yang jam dipenuhi kue-kue. Dapat menyebar melalui kontak tangan, batuk dan bersin.

Vibrio vulnificus 1 sampai 7Baku tiram dan kerang mentah atau setengah hari matang, kerang dan remis keseluruhan. Dapat menyebar melalui air laut yang terkontaminasi. 2.3. Jenis-Jenis Keracunan 2.3.1. Keracunan Karbon Monoksida (CO) ----Karbon monoksida (CO) adalah racun yang tertua dalam sejarah manusia. Sejak di kenal cara membuat api, manusia senantiasa terancam oleh asap yang mengandung CO. Gas CO adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak meransang selaput lendir, sedikit lebih ringan dari udara sehingga mudah menyebar. 2.3.1.1. Pemeriksaan Kedokteran Forensik Keracunan CO ----Diagnosis keracunan CO pada korban hidup biasanya berdasarkan anamnesis adanya kontak dan di temukannya gejala keracunan CO. Pada korban yang mati tidak lama setelah keracunan CO, ditemukan lebam mayat berwarna merah terang (cherry pink colour) yang tampak jelas bila kadar COHb mencapai 30% atau lebih. Warna lebam mayat seperti itu juga dapat ditemukan pada mayat yang di dinginkan, pada korban keracunan sianida dan pada orang yang mati akibat infeksi oleh jasad renik yang mampu membentuk nitrit, sehingga dalam darahnya terbentuk nitroksi hemoglobin. Meskipun demikian masih dapat di bedakan dengan pemeriksaan sederhana. Pada mayat yang didinginkan dan pada keracunan CN, penampang ototnya berwarna biasa, tidak merah terang. Juga pada mayat yang di dinginkan warna merah terang lebam mayatnya tidak merata selalu masih ditemukan daerah yang keunguan (livid). Sedangkan pada keracunan CO, jaringan otot, visera dan darah juga berwarna merah terang. Selanjutnya tidak ditemukan tanda khas lain.
6

Kadang-kadang dapat ditemukan tanda asfiksia dan hyperemia visera. Pada otak besar dapat ditemukan petekiae di substansia alba bila korban dapat bertahan hidup lebih dari jam. ----Pada analisa toksikologik darah akan di temukan adanya COHb pada korban keracunan CO yang tertunda kematiannya sampai 72 jam maka seluruh CO telak di eksresi dan darah tidak mengandung COHb lagi, sehingga ditemukan lebam mayat berwarna livid seperti biasa demikian juga jaringan otot, visera dan darah. Kelainan yang dapat di temukan adalah kelainan akibat hipoksemia dan komplikasi yang timbul selama penderita di rawat. Otak, pada substansia alba dan korteks kedua belah otak, globus palidus dapat di temukan petekiae. Kelainan ini tidak patognomonik untuk keracunan CO, karena setiap keadaan hipoksia otak yang cukup lama dapat menimbulkan petekiae. Pemeriksaan mikroskopik pada otak memberi gambaran :
- Pembuluh-pembuluh halus yang mengandung trombihialin - Nikrosis halus dengan

di tengahnya terdapat pembuluh darah yang mengandung

trombihialin dengan pendarahan di sekitarnya, lazimnya di sebut ring hemorrhage


-

Nikrosis halus yang di kelilingi oleh pembuluh-pembuluh darah yang mengandung trombi Ball hemorrgae yang terjadi karena dinding arterior menjadi nekrotik akibat hipoksia dan memecah. Pada miokardium di temukan perdarahan dan nekrosis, paling sering di

muskulus papilaris ventrikal kiri. Pada penampang memanjangnya, tampak bagian ujung muskulus papilaris berbercak-bercak perdarahan atau bergaris-garis seperti kipas berjalan dari tempat insersio tendinosa ke dalam otak. Ditemukan eritema dan vesikal / bula pada kulit dada, perut, luka, atau anggota gerak badan, baik di tempat yang tertekan maupun yang tidak tertekan. Kelainan tersebut di sebabkan oleh hipoksia pada kapiler-kapiler bawah kulit. Pneunomonia hipostatik paru mudah terjadi karena gangguan peredaran darah. Dapat terjadi trombosis arteri pulmonalis. 2.3.2 Keracunan Sianida

----Sianida (CN) merupakan racun yang sangat toksik, karena garam sianida dalam takaran kecil sudah cukup untuk menimbulkan kematian pada seseorang dengan cepat seperti bunuh diri yang dilakukan oleh beberapa tokoh nazi Kematian akibat keracunan CN umumnya terjadi pada kasus bunuh diri dan pembunuhan. Tetapi mungkin pula terjadi akibat kecelakaan di laboratorium, pada penyemprotan (fumigasi) dalam pertanian dan penyemprotan di gudang-gudang kapal. 2.3.2.1 Pemeriksaan Kedokteran Forensik Keracunan Sianida ----Pada pemeriksaan korban mati, pada pemeriksaan bagian luar jenazah, dapat tercium bau amandel yang patognomonig untuk keracunan CN, dapat tercium dengan cara menekan dada mayat sehingga akan keluar gas dari mulut dan hidung. Bau tersebut harus cepat dapat ditentukan karena indra pencium kita cepat teradaptasi sehingga tidak dapat membaui bau khas tersebut. Harus dingat bahwa tidak semua orang dapat mencium bau sianida karena kemampuan untuk mencium bau khas tersebut bersifat genatik sex-linked trait. Sianosis pada wajah dan bibir, busa keluar dari mulut, dan lebam mayat berwarna terang, karena darah vena kaya akan oksi-Hb. Tetapi ada pula yang mengatakan karena terdapat Cyanmet-Hb. ----Pada pemeriksaan bedah jenazah dapat tercium bau amandel yang khas pada waktu membuka rongga dada, perutdan otak serta lambung(bila racun melalui mulut) darah, otot dan penampang tubuh dapat berwarna merah terang. Selanjutnya hanya ditemukan tanda-tanda asfiksia pada organ tubuh.Pada korban yang menelan garam alkalisianida, dapat ditemukan kelainan pada mukosa lambung berupa korosi dan berwarna merah kecoklatan karena terbentuk hematin alkali dan pada perabaan mukosa licin seperti sabun. Korosi dapat mengakibatkan perforasi lambung yang dapat terjadi antemortal atau posmortal. 2.3.3. Keracunan Arsen (As) ----Senyawa arsen dahulu sering mengunakan sebagai racun untuk membunuh orang lain, dan tidaklah mustahil dapat ditemukan kasus keracunan dengan arsen dimasa sekarang ini. Disamping itu keracunan arsen kadang-kadang dapat terjadi karena kecelakaan dalam industri dan pertanian akibat memakan/meminum
8

makanan/minuman yang terkontaminasi dengan arsen. Kematian akibat keracunan arsen sering tidak menimbulkan kecurigaan karena gejala keracunan akutnya menyerupai gejala gangguan gastrointestinal yang hebat sehingga dapat didiagnosa sebagai suatu penyakit. 2.3.3.1 Pemeriksaan Kedokteran Forensik As ----Korban mati keracunan akut. Pada pemeriksaan luar ditemukan tanda-tanda dehidrasi. Pada pembedahan jenazah ditemukan tanda-tanda iritasi lambung, mukosa berwarna merah, kadang-kadang dengan perdarahan (flea bitten appearance). Iritasi lambung dapat menyebabkan produksi musin yang menutupi mukosa dengan akibat partikel-partikel As berwarna kuning sedangkan As2O3 tampak sebagai partikel berwarna putih. Pada jantung ditemukan perdarahan subendokard pada septum. Histologik jantung menunjukkan infiltrasi sel-sel radang bulat pada miokard. Sedangkan organ lain parenkimnya berwarna putih. Korban mati akibat keracunan arsin. Bila korban cepat meninggal setelah menghirup arsin, akan terlihat tanda-tanda kegagalan kardiorespirasi akut. Bila meninggalnya lambat, dapat ditemukan ikterus dengan anemia hemolitik, tanda-tanda kerusakan ginjal berupa degenerasi lemak dengan nekrosis fokal serta nekrosis tubuli. Korban mati akibat keracunan kronik. Pada pemeriksaan luar tampak keadaan gizi buruk. Pada kulit terdapat pigmentasi coklat (melanosis arsenik). 2.3.4 Keracunan Alkohol ----Alkohol banyak terdapat dalam berbagai minuman dan sering menimbulkan keracunan. Keracunan alkohol menyebabkan penurunan daya reaksi atau kecepatan, kemampuan untuk menduga jarak dan ketrampilan mengemudi sehingga cenderung menimbulkan kecelakaan lalu-lintas di jalan, pabrik dan sebagainya. Penurunan kemampuan untuk mengontrol diri dan hilangnya kapasitas untuk berfikir kritis mungkin menimbulkan tindakan yang melanggar hukum seperti perkosaan, penganiayaan, dan kejahatan lain ataupun tindakan bunuh diri. 2.3.4.1 Pemeriksaan Kedokteran Forensik Keracunan Alkohol
9

----Pada orang hidup, bau alkohol yang keluar dari udara pernapasan merupakan petunjuk awal. Petunjuk ini harus dibuktikan dengan pemeriksaan kadar alkohol darah, baik melalui pemeriksaan udara pernapasan atau urin, maupun langsung dari darah vena. Kelainan yang ditemukan pada korban mati tidak khas, Mungkin ditemukan gejala-gejala yang sesuai dengan asfiksia. Seluruh organ menunjukkan tanda perbendungan, darah lebih encer, berwarna merah gelap. Mukosa lambung menunjukkan tanda perbendungan, kemerahan dan tanda inflamasi tapi kadangkadang tidak ada kelainan.Organ-organ termasuk otak dan darah berbau alkohol. Pada pemeriksaan histopatologik dapat dijumpai edema dan pelebaran pembuluh darah otak dan selaput otak, degenerasi bengkak keruh pada bagian parenkim organ dan inflamasi mukosa saluran cerna. ----Pada kasus keracunan kronik yang, meninggal, jantung dapat memperlihatkan fibrosis interstisial, hipertrofi serabut otot jantung, sel-sel radang kronik pada beberapa tempat, gambaran seran lintang otot jatunng menghilang, hialinisasi, edema dan vakuolisasi serabut otot jantung. Schneider melaporkan miopati alhokolik akut dengan miohemoglobinuri yang disebabkan oleh nekrosis tubuli ginjal dan kerusakan miokardium. 2.4. Faktor Risiko Sakit setelah makan makanan tercemar tergantung pada organisme, jumlah paparan, usia dan kesehatan Anda. Kelompok berisiko tinggi meliputi:

Orang dewasa yang lebih tua. Ketika anda beranjak tua, sistem kekebalan tubuh tidak dapat merespon dengan cepat dan efektif untuk organisme menular seperti ketika Anda muda.

Ibu hamil. Selama kehamilan, perubahan dalam metabolisme dan sirkulasi dapat meningkatkan resiko keracunan makanan. Reaksi Anda mungkin lebih parah saat hamil. Jarang, bayi Anda mungkin sakit juga.

Bayi dan anak-anak muda. sistem kekebalan tubuh mereka belum sepenuhnya dikembangkan. Orang dengan penyakit kronis. Memiliki kondisi kronis - seperti diabetes, penyakit hati atau AIDS - atau menerima kemoterapi atau terapi radiasi untuk kanker mengurangi respon kekebalan tubuh.
10

Keracunan makanan sering terjadi dari makan atau minum karena:

Setiap makanan yang disiapkan oleh seseorang yang tidak mencuci tangan dengan benar Makanan disajikan dengan menggunakan peralatan memasak najis, talenan, atau alat lainnya Produk susu atau mayones makanan yang mengandung (seperti kubis atau salad kentang) yang telah keluar dari lemari es terlalu lama Makanan beku atau didinginkan yang tidak disimpan pada suhu yang tepat atau tidak dipanaskan dengan benar Baku ikan atau kerang Baku buah atau sayuran yang belum dicuci bersih Baku sayur atau jus buah dan susu Kurang matang daging atau telur Air dari sumur atau sungai, atau air kota atau kota yang belum diobati

Faktor Yang Mempengaruhi Keracunan 1. Cara masuk ----Keracunan paling cepat terjadi jika masuknya racun secara inhalasi. Cara masuk lain secara berturut-turut melalui intravena, intramuskular, intraperitoneal, subkutan, peroral dan paling lambat ialah melalui kulit yang sehat. 2. Umur. ----Orang tua dan anak-anak lebih sensitif misalnya pada barbiturat. Bayi prematur lebih rentan terhadap obat oleh karena ekskresi melalui ginjal belum sempurna dan aktifitas mikrosom dalam hati belum cukup. Pakaian. Pada pakaian dapat ditemukan bercak-barcak yang disebabkan oleh tercecernya racun yang ditelan atau oleh muntahan. Misalnya bercak berwarna coklat karena asam sulfat atau kuning karena asam nitrat.

11

Lebam mayat. Warna lebam mayat yang tidak biasa juga mempunyai makna, karena warna lebam mayat pada dasarnya adalah manifestasi warna darah yang tampak pada kulit. Perubahan warna kulit. Pada hiperpigmentasi atau melanosis dan keratosis pada telapak tangan dan kaki pada keracunan arsen kronik. Kulit berwarna kelabu kebirubiruan akibat keraunan perak (Ag) kronik (deposisi perak dalam jaringan ikat dan korium kulit). Kulit akan berwarna kuning pada keracunan tembaga (Cu) dan fosfor akibat hemolisis juga pada keracunan insektisida hidrokarbon dan arsen karena terjadi gangguan fungsi hati. Kuku. Keracunan arsen kronik dapat ditemukan kuku yang menebal yang tidak teratur. Pada keracunan Talium kronik ditemukan kelainan trofik pada kuku. Rambut. Kebotakan (alopesia) dapat ditemukan pada keracunan talium, arsen, ari raksa dan boraks. Sklera. Tampak ikterik pada keracunan dengan zat hepatotoksik seperti fosfor, karbon tetraklorida. Perdarahan pada pemakaian dicoumarol atau akibat bias ular.

2.5. Gejala Ketika Anda mengembangkan gejala tergantung pada penyebab yang tepat dari keracunan makanan. Jenis yang paling umum dari keracunan makanan umumnya menimbulkan gejala dalam waktu 2 - 6 jam makan makanan. Gejala mungkin termasuk:

Perut kram Diare (mungkin berdarah) Demam dan menggigil Sakit kepala Mual dan muntah Kelemahan (mungkin serius dan menyebabkan serangan pernapasan, seperti dalam kasus botulisme)
12

Hal ini dapat menyebabkan jumlah yang banyak kehilangan cairan yang berakibat pada dehidrasi. Di negara-negara berkembang di mana epidemi menular menyebabkan penyakit diare, ribuan orang mati karena dehidrasi. Seperti telah dijelaskan pada bagian atas, sistem organ lainnya dapat terinfeksi dan terkena keracunan makanan. Gejala akan tergantung pada apa sistem organ yang terlibat (misalnya, ensefalopati akibat infeksi otak). 2.6. Patofisiologi Patogenesis diare pada keracunan makanan diklasifikasikan luas menjadi jenis peradangan atau inflamasi. Peradangan diare disebabkan oleh aksi enterotoksin pada mekanisme sekresi mukosa dari usus kecil, tanpa invasi. Hal ini menyebabkan tinja berair volume besar dengan tidak adanya darah, nanah, atau sakit perut yang parah. Sesekali, dehidrasi yang mendalam dapat terjadi. Enterotoksin dapat berupa proses sebelum menelan atau diproduksi dalam usus setelah konsumsi. Contohnya termasuk Vibrio cholerae, enterotoxic Escherichia coli, Clostridium perfringens, Bacillus cereus, aureus (genus organisme, Giardia Norovirus, yang lamblia ,Cryptosporidium, rotavirus , norovirus

sebelumnya disebut virus Norwalk) dan adenovirus. Diare inflamasi disebabkan oleh aksi cytotoxin pada mukosa, yang menyebabkan invasi dan kehancuran. Usus besar atau usus kecil distal umum yang terlibat. Diare biasanya berdarah, berlendir dan leukosit yang hadir. Pasien biasanya demam dan mungkin muncul beracun. Dehidrasi kurang mungkin dibandingkan dengan diare peradangan karena volume tinja lebih kecil. Leukosit tinja atau feses tes laktoferin positif menunjukkan proses inflamasi, dan lembar leukosit menunjukkan kolitis. Kadang-kadang, organisme menembus mukosa dan berkembang biak dalam jaringan limfatik lokal, diikuti dengan penyebaran sistemik. Contohnya termasuk Campylobacter jejuni , Vibrio parahaemolyticus, enterohemorrhagic dan enteroinvasif E coli , Yersinia enterocolitica, Clostridium difficile , Entamoeba histolytica , dan Salmonella dan Shigella spesies.

13

Pada beberapa jenis keracunan makanan (misalnya, staphylococci, B cereus), muntah disebabkan oleh toksin yang bekerja pada sistem saraf pusat. Sindrom klinis botulisme hasil dari penghambatan pelepasan asetilkolin di ujung saraf oleh botulinum itu. Mekanisme patofisiologis yang menghasilkan gejala gastrointestinal akut yang dihasilkan oleh beberapa penyebab keracunan makanan tidak menular (alami zat [misalnya, jamur , jamur payung] dan logam berat [misalnya, arsenik, merkuri, timbal]) tidak dikenal. 2.7. Diagnosis

Anamnesis tentang makanan yang Anda makan sebelumnya, keluhan. memeriksa tanda-tanda keracunan makanan, Pemeriksaan fisik dimulai dengan mengambil tanda-tanda vital pasien (seperti tekanan darah, denyut nadi dan suhu).Tanda-tanda klinis dehidrasi termasuk kering, kulit tenting, mata cekung, mulut kering dan kurangnya keringat di ketiak dan pangkal paha. Pada bayi, selain tanda-tanda dehidrasi halus di atas mungkin termasuk otot miskin, miskin menyusui, dan fontanel cekung.

Tes dapat dilakukan pada darah rutin, tinja, muntahan, atau makanan yang dimakan untuk menentukan penyebab dari gejala. Namun, tes mungkin tidak dapat membuktikan bahwa Anda memiliki keracunan makanan. mungkin perlu diperiksa kadar elektrolit di dalam darah serta fungsi ginjal Jika ada kekhawatiran tentang hepatitis, tes fungsi hati dapat dilakukan.

Dalam kasus yang jarang tetapi mungkin serius, mungkin dilakukan sigmoidoskopi, suatu prosedur dimana sebuah tabung tipis ditempatkan di anus untuk mencari sumber perdarahan atau infeksi.

Sampel tinja mungkin berguna terutama jika ada kekhawatiran tentang infeksi yang disebabkan oleh Salmonella, Shigella dan Campylobacter, terutama terjadi ketika pasien hadir dengan diare berdarah, dianggap akibat infeksi. Jika ada kekhawatiran tentang infeksi parasit, sampel tinja dapat diperiksa juga untuk kehadiran parasit.

Tergantung pada penyebab diduga keracunan makanan, ada beberapa tes imunologi (misalnya, deteksi racun Shiga) bahwa CDC merekomendasikan.
14

Metode lain dapat digunakan (misalnya, deteksi prion dalam contoh jaringan). Diagnosa Kasus Keracunan Kriteria diagnostik pada keracunan:

Anamnesa kontak korban dengan racun Adanya tanda-tanda serta gejala yang sesuai dengan tanda dan gejala dari keracunan racun yang diduga Dari sisa benda bukti, harus dibuktikan bahwa benda bukti tersebut memang racun yang dimaksud Dari bedah mayat dapat ditemukan adanya perubahan atau kelainan yang sesuai dengan keracunan dari racun yang diduga Analisa kimia atau pemeriksan toksikologik

Kriteria 4 dan 5 adalah kriteria yang terpenting. 2.8. Perawatan dan Obat-Obatan Pengobatan untuk keracunan makanan biasanya tergantung pada sumber penyakit, jika diketahui, dan tingkat keparahan gejala. Bagi kebanyakan orang, penyakit sembuh tanpa pengobatan dalam beberapa hari, meskipun beberapa jenis keracunan makanan dapat berlangsung seminggu atau lebih. Pengobatan keracunan makanan dapat termasuk:
Penggantian cairan yang hilang. Cairan dan elektrolit - mineral seperti natrium,

kalium dan kalsium yang menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh Anda hilang untuk kebutuhan diare persisten diganti. Anak-anak dan orang dewasa yang sangat membutuhkan pengobatan dehidrasi di rumah sakit, di mana mereka dapat menerima garam dan cairan melalui vena (intravena), bukan melalui mulut. Hidrasi intravena memberikan tubuh dengan air dan nutrisi penting jauh lebih cepat daripada larutan oral lakukan.
Antibiotik. Dokter mungkin meresepkan antibiotik jika Anda memiliki beberapa

jenis keracunan makanan bakteri dan gejala yang berat.Keracunan makanan disebabkan oleh kebutuhan listeria untuk diobati dengan antibiotik intravena di
15

rumah sakit. Dan pengobatan cepat dimulai, lebih baik. Selama kehamilan, pengobatan antibiotik yang cepat dapat membantu menjaga infeksi dari mempengaruhi bayi.
Obat untuk membantu mengontrol mual dan muntah. Obat untuk mengurangi frekuensi diare dapat diindikasikan tetapi jika keracunan

makanan dicurigai, yang terbaik adalah berkonsultasi dengan praktisi kesehatan sebelum menggunakan obat OTC seperti loperamide (Imodium), karena dapat menimbulkan masalah lebih lanjut bagi pasien. Gaya Hidup dan Pengobatan Rumah Keracunan makanan biasanya akan membaik dengan sendirinya dalam waktu 48 jam. Untuk membantu menjaga diri Anda lebih nyaman dan mencegah dehidrasi saat Anda sembuh, coba berikut ini:
Biarkan perut Anda puas. Berhenti makan dan minum selama beberapa jam. Cobalah mengisap chip es atau menyesap air. Anda juga dapat mencoba minum

soda yang jelas, seperti 7UP atau Sprite atau noncaffeinated minuman olahraga. Orang dewasa yang terkena dampak harus mencoba untuk minum setidaknya delapan sampai 16 gelas cairan setiap hari, mengambil kecil, teguk sering. Anda akan tahu bahwa Anda mendapatkan cukup cairan ketika Anda buang air kecil secara normal, dan urin Anda jelas dan tidak gelap.
Kemudahan kembali ke makan. Secara bertahap mulai makan hambar, mudah

mencerna makanan, seperti keripik, soda, roti bakar, agar-agar, pisang dan beras. Berhenti makan jika kembali mual Anda.
Hindari makanan tertentu dan zat sampai Anda merasa lebih baik. Ini termasuk

produk susu, kafein, alkohol, nikotin, dan makanan berlemak atau sangat berpengalaman.
Banyak istirahat. Penyakit dan dehidrasi mungkin telah membuat Anda lemah

dan lelah.
Jangan gunakan obat anti-diare. Obat dimaksudkan untuk mengobati diare,

seperti loperamide (Imodium, lainnya) dan diphenoxylate dengan atropin

16

(Lomotil, Lonox), dapat memperlambat penghapusan bakteri atau racun dari sistem anda dan dapat membuat kondisi Anda lebih buruk. Berikan anak cairan elektrolit yang dijual di toko obat. Keracunan makanan biasanya akan pulih dari jenis yang paling umum dari keracunan maknan dalam beberapa hari. Caranya adalah dengan mempertahankan jumlah yang tepat dari cairan, dan menjaga kondisi tubuh. Kunci untuk perawatan di rumah adalah mampu menjaga orang yang terkena dehidrasi. Terapi rehidrasi oral dengan air atau larutan elektrolit seimbang seperti Gatorade atau Pedialyte biasanya cukup untuk mengisi tubuh dengan cairan. Seseorang bisa kehilangan sejumlah besar cairan dengan setiap buang air besar diare, dan cairan yang harus diganti untuk rehydrate. Pasien yang menunjukkan tanda-tanda dehidrasi seperti buang air kecil menurun, pusing , atau membran mukosa kering, terutama pada yang muda atau tua, akan melihat dokter. 2.9. Prognosis Kebanyakan orang benar-benar pulih dari jenis yang paling umum dari keracunan makanan dalam waktu 12 - 48 jam. Komplikasi serius dapat timbul Namun, dari beberapa jenis keracunan makanan. Kematian dari keracunan makanan pada orang yang sehat jarang terjadi di Amerika Serikat. 2.10. Kemungkinan Komplikasi Dehidrasi adalah komplikasi yang paling umum. Hal ini dapat terjadi dari salah satu penyebab keracunan makanan. Komplikasi yang kurang umum tetapi lebih serius tergantung pada bakteri yang menyebabkan keracunan makanan. Ini mungkin termasuk radang sendi, masalah perdarahan, masalah ginjal, kerusakan pada sistem saraf, dan bengkak atau iritasi pada jaringan di sekitar jantung, bahkan kematian, Beberapa jenis keracunan makanan memiliki komplikasi yang serius bagi orang-orang tertentu. Ini termasuk:
17

Listeria monocytogenes. Komplikasi dari keracunan makanan listeria mungkin

paling berat bagi bayi yang belum lahir. Pada awal kehamilan, infeksi listeria dapat menyebabkan keguguran. Kemudian pada kehamilan, infeksi Listeria dapat menyebabkan lahir mati, kelahiran prematur atau infeksi fatal pada bayi setelah lahir - bahkan jika ibu itu hanya sedikit sakit. Bayi yang bertahan hidup infeksi listeria dapat mengalami kerusakan jangka panjang neurologis dan pengembangan tertunda.
Escherichia coli (E. coli). Beberapa strain E. coli dapat menyebabkan komplikasi

yang serius yang disebut sindrom uremik hemolitik. Sindrom ini merusak lapisan pembuluh darah kecil pada ginjal, kadang-kadang menyebabkan gagal ginjal. Orang dewasa, anak-anak di bawah usia 5 dan orang dengan sistem kekebalan yang lemah memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi ini. Jika Anda berisiko tinggi sindrom uremik hemolitik, pergilah ke dokter pada tanda pertama dari diare berlimpah atau berdarah. 2.11. Mencegah keracunan makanan Untuk mencegah keracunan makanan, mengambil langkah-langkah berikut ketika mempersiapkan makanan:

Cuci tangan sesering mungkin, dan selalu sebelum memasak atau membersihkan. Selalu cuci lagi setelah menyentuh daging mentah. Bersihkan piring dan peralatan yang punya kontak dengan daging mentah, unggas, ikan, atau telur. Gunakan termometer saat memasak. Masak daging sapi untuk setidaknya 160 F, unggas setidaknya 180 F, dan ikan untuk setidaknya 140 F. Jangan menempatkan daging dimasak atau kembali ikan ke piring yang sama atau wadah yang memegang daging mentah, kecuali wadah telah sepenuhnya dicuci.

Segera mendinginkan makanan apapun Anda tidak akan makan. Jauhkan lemari es diatur ke sekitar 40 F dan freezer Anda pada atau di bawah 0 F. Jangan makan daging, unggas, atau ikan yang telah didinginkan mentah selama lebih dari 1 sampai 2 hari.
18

Masak makanan beku untuk waktu penuh dianjurkan pada kemasan. Jangan menggunakan makanan usang, makanan dikemas dengan segel rusak, atau kaleng yang menggembung atau penyok. Jangan menggunakan makanan yang memiliki bau yang tidak biasa atau rasa aneh. Jangan minum air dari sungai atau sumur yang tidak diobati. Hanya minum air yang telah diobati atau diklorinasi.

Lain langkah yang harus diambil:

Jika Anda merawat anak-anak muda, cuci tangan Anda sering dan membuang popok hati-hati sehingga bakteri tidak dapat menyebar ke permukaan atau orang lain.

Jika Anda membuat makanan kaleng di rumah, pastikan untuk mengikuti teknik pengalengan yang tepat untuk mencegah botulisme. Jangan memberi makan madu untuk anak di bawah usia 1 tahun. Jangan makan jamur liar. Bila bepergian dimana kontaminasi lebih mungkin, makan hanya panas, makanan yang baru dimasak.Minum air hanya jika telah direbus. Jangan makan sayuran mentah atau buah dikupas.

Jangan makan kerang yang telah terkena air pasang merah. Jika Anda sedang hamil atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, jangan makan keju lunak, keju terutama yang lembut diimpor dari negara di luar Amerika Serikat.

Jika orang lain mungkin makan makanan yang membuat Anda sakit, biarkan mereka tahu. Jika Anda pikir makanan itu terkontaminasi ketika Anda membelinya dari toko atau restoran, katakan toko dan departemen kesehatan setempat. 2.12. Pemeriksaan Mayat Korban Keracunan Sebelum melakukan pemeriksaan atas korban mati keracunan, kumpulkan dulu informasi sebanyak-banyaknya, misalnya perihal pekerjaan korban, dan lainlain. Kelainan pada korban mati keracunan dapat diabagi 2 kelompok :
19

1. Kematian yang berlangsung cepat (rapid poisoning death)

- Kongesti atau perbendungan alat-alat dalam - Edema paru-paru, otak dan ginjal - Tanda-tanda korosif - Bau yang khas dari hidung dan mulut - Lebam mayat yang khas 2. Kematian berlangsung lambat - Terdapat kelainan yang khas untuk tiap jenis racun - Keracunan arsen akan menunjukkan : pigmentasi, hiperkeratosis dan rontoknya rambut - Keracunan karbonmonoksida : perlunakan pada globus palidus, perdarahan berbintik pada substansia alba dan mm.papilares serta sdanya ring hemorrhages pada otak - Keracunan alkohol : chirrhosis hepatis, perdarahan pada saluran pencernaan. 1. Pemeriksaan Luar - Pakaian, catat warna bercak, bau serta distribusinya a. Pada pembunuhan : bercak tidak beraturan b. Pada bunuh diri : bercak beraturan, pada bagian tangan dari atas ke bawah c. Pada kecelakaan : tidak khas - Lebam mayat, perhatikan warnanya a. Merah terang : keracunan sianida atau terkena benda yang bersuhu rendah b. Cheery-red : keracunan monoksida c. Cokelat kebiruan : keracunan anilin, nitrobenzena, kina, potasium-chlorate dan acetanilide - Bercak dan warna di sekitar mulut dan distribusi a. Yodium : warna kulit menjadi hitam b. Nitrat : warna kulit menjadi kuning c. Zat-zat korosif : luka bakar berwarna merah cokelat d. distribusi memberi informasi perihal cara kematian

20

- Bau dari mulut dan hidung, yaitu dengan cara menekan dinding dada dan dekatkan hidung pemeriksa pada mulut atau hidung, untuk mengetahui bau yang keluar. a. Sianida : berbau amandel b. Alkohol, insektisida, asam karbol : bau khas dan mudah dikenali - Kelainan lain a. Bekas suntikan, di daerah lipat siku, punggung tangan, lengan atas, penis dan sekitar puting susu : keracunan narkotika b. Skin blisters : keracunan narkotika, barbiturat dan karbonmonoksida c. Kulit menjadi kuning : keracunan fosfor, tembaga dan keracunan chlorinated hydrocarbon insecticide. 2. Pemeriksaan Dalam Segera setelah rongga dada dan perut dibuka, tentukan apakah terdapat bau yang tidak biasa (bau racun). Bila pada pemeriksaan luar tidak tercium "bau racun" maka sebaiknya rongga tengkorak dibuka terlebih dahulu agar bau visera perut tidak menyelubungi bau tersebut, terutama bila dicurigai adalah sianida. Bau sianida, alkohol, kloroform, dan eter akan tercium paling kuat dalam rongga tengkorak. Perhatikan warna darah. Pada intoksikasi dengan racun yang menimbulkan hemolisis (bisa ular), pirogarol, hidrokuinon, dinitrophenol dan arsen. Darah dan organ-organ dalam berwarna coklat kemerahan gelap. Pada racun yang menimbulkan gangguan trombosit, akan terdapat banyak bercak perdarahan, pada organ-organ. Bila terjadi keracunan yang cepat menimbulkan kematian, misalnya sianida, alcohol, kloroform maka darah dalam jantung dan pembuluh darah besar tetap cair tidak terdapat bekuan darah. Pada lidah perhatikan apakah ternoda oleh warna tablet atau kapsul obat atau menunjukan kelainan disebabkan oleh zat korosif. Pada esophagus bagian atas dibuka sampai pada ikatan atas diafragma. Adakah terdapat regurgitasi dan selaput lendir diperhatikan akan adanya hiperemi dan korosi. Pada epiglotis dan glotis perhatikan apakah terdapat hiperemi atau edema, disebabkan oleh inhalasi atau aspirasi gas atau uap yang meransang atau akibat regurgitasi dan aspirasi zat yang
21

meransang. Edema glotis juga dapat ditemukan pada pemakaian akibat syok anafilaktik, misalnya akibat penisilin.Pada pemeriksaan paru-paru ditemukan kelainan yang tidak spesifik, berupa pembendungan akut. Pada inhalasi gas yang meransang seperti klorin dan nitrogen oksida ditemukan pembendungan dan edema hebat, serta emfisema akut karena terjadi batuk, dipsneu dan spasme bronki. Pada lambung dan usus dua belas jari lambung dibuka sepanjang kurvakura mayor dan diperhatikan apakah mengeluarkan bau yang tidak biasa. Perhatikan isi lambung warnanya dan terdiri dari bahan-bahan apa. Bila terdapat tablet atau kapsul diambil dengan sendok dan disimpan secara terpisah untuk mencegah disintegrasi tablet/kapsul. Pada kasus-kasus non-toksikologik hendaknya pembukaan lambung ditunda sampai saat akhir otopsi atau sampai pemeriksa telah menemukan penyebab kematian. Hal ini penting karena umumnya pemeriksa baru teringat pada keracunan setelah pada akhir autopsi ia tidak dapat menemukan penyebab kematian. Pemeriksaan usus diperlukan pada kematian yang terjadi beberapa jam setelah korban menelan zat beracun dan ini ingin diketahui berapa lama waktu tersebut. Pada hati apakah terdapat degenerasi lemak atau nekrosis. Degenerasi lemak sering ditemukan pada peminum alcohol. Nekrosis dapat ditemukan pada keracunan fosfor, karbon tetraklorida, klorform dantrinitro toulena. Pada ginjal terjadi perubahan degeneratif, pada kortek ginjal dapat disebabkan oleh racun yang meransang. Ginjal agak membesar, korteks membengkak, gambaran tidak jelas dan berwarna suram kelabu kuning. Perubahan ini dapat dijumpai pada keracunan dengan persenyawaan bismuth, air raksa, sulfonamide, fenol, lisol, karbon tetraklorida. Umumnya analisis toksikologik ginjal terbatas pada kasus-kasus keracunan logam berat atau pada pencarian racun secara umum atau pada pemeriksaan histologik ditemukan Kristal-kristal Caoksalat atau sulfonamide. Pemeriksaan urin dilakukan dengan semprit dan jarum yang bersih, seluruh urin diambil dari kandung kemih. Bila bahan akan dikirim ke kota lain untuk dilakukan pemeriksaan maka urin dibiarkan berada dalam kandung kemih dan dikirim dengan cara intoto, prostat dan kedua ureter diikat dengan tali. Walaupun kandung kemih dalam keadaan kosong, kandung kemih harus tetap
22

diambil untuk pemriksaan toksikologik. Pemeriksaan otak biasanya tidak ditemukan adanya edema otak pada kasus kematian yang cepat, misalnya pada kematian akibat barbiturat, eter dan juga pada keracunan kronik arsen atau timah hitam. Perdarahan kecil-kecil dalam otak dapat ditemukan pada keracunan karbonmonoksida, barbiturat, nitrogen oksida, dan logam berat seperti air raksa air raksa, arsen dan tmah hitam. Obat-obat yang bekerja pada otak tidak selalu terdapat dalam konsentrasi tinggi dalam jaringan otak. Pada pemeriksaan jantung dengan kasus keracunan karbon monoksida bila korban hidup selama 48 jam atau lebih dapat ditemukan perdarahan berbercak dalam otot septum interventrikel bagian ventrikel kiri atau perdarahan bergaris pada muskulus papilaris ventrikel kiri dengan garis menyebar radier dari ujung otot tersebut sehingga tampak gambaran seperti kipas. Pada pemeriksaan limpa selain pembendungan akut limpa tidak menunjukkan kelainan patologik. Pada keracunan sianida, limpa diambil karena karena kadar sianida dalam limpa beberapa kali lebih besar daripada kadar dalam darah. Empedu merupakan bahan yang baik untuk penentuan glutetimida, quabaina, morfin dan heroin. Pada keracunan karena inhalasi gas atau uap beracun, paru-paru diambil, dalam botol kedap udara. Jaringan lemak diambil sebanyak 200 gram dari jaringan lemak bawah kulit daerah perut. Beberapa racun cepat di absorpsi dalam jaringan lemak dan kemudian dengan lambat dilepaskan kedalam darah. Jika terdapat persangkaan bahwa korban meninggal akibat penyuntikan jaringan di sekitar tempat suntikan diambil dalam radius 5-10 cm. ---Pada dugaan keracunan arsen rambut kepala dan kuku harus diambil. Rambut diikat terlebih dahulu sebelum dicabut, harus berikut akar-akarnya, dan kemudian diberi label agar ahli toksikologi dapat mengenali mana bagian yang proksimal dan bagian distal. Rambut diambil kira-kira 10 gram tanpa menggunakan pengawet. Kadar arsen ditentukan dari setiap bagian rambut yang telah digunting beberapa bagian yang dimulai dari bagian proksimal dan setiap bagian panjangnya inci atau 1 cm. terhadap setiap bagian itu ditentukan kadar arsennya. Kuku diambil sebanyak 10 gram, didalamnya selalu harus terdapat kuku-kuku kedua ibu jari tangan dan ibu jari kaki. Kuku dicabut dan dikirim tanpa diawetkan. Ahli
23

toksikologi membagi kuku menjadi 3 bagian mulai dari proksimal. Kadar tertinggi ditemukan pada 1/3 bagian proksimal. Pengambilan Bahan Pemeriksaan Toksikologik ----Lebih baik mengambil bahan dalam keadaan segar dan lengkap pada waktu autopsy daripada kemudian harus mengadakan penggalian kubur untuk mengambil bahan-bahan yang diperlukan dan melakukan analisis toksikologik atas jaringan yang sudah busuk atau sudah diawetkan. Pengambilan darah dari jantung dilakukan secara terpisah dari sebelah kanan dan sebelah kiri masing-masing sebnayak 50 ml. Darah tepi sebanyak 30-50 ml, diambila dari vena iliaka komunis bukan darah dari vena porta. Pada korban yang masih hidup, darah adalah bahan yang terpenting, diambil 2 contoh darah masing-masing 5 ml, yang pertama diberi pengawet NaF 1% dan yang lain tanpa pengawet. ----Urin dan bilasan lambung diambil semua yang ada didalam kandung kemih untuk pemeriksaannya. Pada mayat diambil lambung beserta isinya. Usus beserta isinya berguna terutama bila kematian terjadi dalam waktu beberapa jam setelah menelan racun sehingga dapat diperkirakan saat kematian dan dapat pula ditemukan pil yang tidak hancur oleh lambung. Organ hati harus diambil setelah disisihkan untuk pemeriksaan patologi anatomi dengan alasan takaran forensik kebanyakan racun sangat kecil, hanya beberapa mg/kg sehingga kadar racun dalam tubuh sangat rendah dan untuk menemukan racun, bahan pemeriksaan harus banyak, serta hati merupakan tempat detoksikasi tubuh terpenting. ----Ginjal harus diambil keduanya, organ ini penting pada keadan intoksikasi logam, pemeriksaan racun secara umum dan pada kasus dimana secara histologik ditemukan Caoksalat dan sulfo-namide. Pada otak, jaringan lipoid dalam otak mampu menahan racun. Misalnya CHCI3 tetap ada walaupun jaringan otak telah membusuk. Otak bagian tengah penting pada intoksikasi CN karena tahan terhadap pembusukan. Untuk menghidari cairan empedu mengalir ke hati dan mengacaukan pemeriksaan, sebaiknya kandung empedu jangan dibuka. ----Cara lain yang dapat dilakukan untuk mengambil sampel selain dengan cara yang telah disebutkan, adalah :
24

1. Tempat masuknya racun (lambung, tempat suntikan) 2. Darah 3. Tempat keluar (urin, empedu) Wadah Bahan Pemeriksaan Toksikologi Idealnya terdiri dari 9 wadah dikarenakan masing-masing bahan pemeriksaan diletakkan secara tersendiri, yaitu : 1. 2 buah peles a 2 liter untuk hati dan usus 2. 3 peles a 1 liter untuk lambung beserta isinya, otak dan ginjal 3. 4 botol a 25 ml untuk darah (2 buah), urin dan empedu 4. Wadah harus dibersihkan dahulu dengan mencucinya memakai asam kromat hangat dan dibilas dengan aquades serta dikeringkan. 5. Bahan Pengawet Yang terbaik adalah tanpa bahan pengawet, bila terpaksa dapat digunakan bahan pengawet : 1. Alkohol absolut 2. Larutan garam dapur jenuh 3. Larutan NaF 1 % 4. Larutan NaF + Na sitrat 5. Na benzoat + fenil merkuri nitrat Volume pengawet sebaiknya dua kali volume bahan pemeriksaan. ---Cara Pengiriman ----Untuk melakukan pengiriman bahan pemeriksaan forensik, harus memenuhi kriteria : 1. Satu tempat hanya berisi satu contoh bahan pemeriksaan 2. Contoh bahan pengawet harus disertakan untuk kontrol 3. Tiap tempat yang telah terisi disegel dan diberi label 4. Hasil autopsi harus dilampirkan secara singkat 5. Adanya surat permintaan dari penyidik

25

----Jika jenazah akan diawetkan, maka pengambilan contoh bahan harus dilakukan sebelum pengawetan. Pada pengambilan contoh bahan dari korban hidup, alkohol tidak dapat dipakai sebagai disinfektan lokal saat pengambilan darah. Sebagai gantinya dapat digunakan sublimat 1% atau merkuri klorida 1%.

BAB III KESIMPULAN

3.1. Keracunan makanan didefinisikan sebagai penyakit yang disebabkan oleh konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi dengan bakteri, parasit, virus, atau bahan kimia.
3.2. Kriteria diagnostik pada keracunan yang terpenting adalah dari bedah mayat,

yakni dapat ditemukan adanya perubahan atau kelainan yang sesuai dengan keracunan dari racun yang diduga serta analisa kimia atau pemeriksan toksikologik. 3.3. Pemeriksaan forensik dalam kasus keracunan bertujuan untuk mencari penyebab kematian (jenis racun penyebab), dan mengetahui mengapa suatu peristiwa dapat terjadi (rekaan rekontruksi) atau sudah sejauh mana racun tersebut berperan.

26

3.4. Cara racun masuk kedalam tubuh yaitu peroral (ingesti), inhalasi, parenteral (injeksi), penyerapan melalui kulit yang sehat atau sakit dan per-rektal atau pervaginal. 3.5. Mekanisme kerja racun dalam tubuh yaitu bekerja lokal atau setempat (zat-zat korosif), yang bekerja secara sistemik (narkotika, karbon-monoksida, sianida, insektisida) dan racun yang bekerja secara lokal maupun sistemik (asam oksalat, arsen). 3.6. Pemeriksaan atas korban keracunan yang terpenting yaitu mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang korban (pekerjaan, perkiraan racun yang digunakan dan sebagainya), serta pemeriksa tidak diperkenankan merokok, menggunakan banyak air, disinfektan untuk menghilangkan bau dan bahan-bahan kimia yang dapat mengganggu penafsiran pada pemeriksaan. DAFTAR PUSTAKA 1. Mansyur. Toksikologi Keamanan Unsur Dan Bidang-Bidang Toksikologi. htpp://www.freewweb.com. 2. William G . Eckert. Introduction to Forensic Sciencis Second Adition. New york, Elsevier: 1992. 3. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ilmu Kedokteran Forensik, Edisi Kedua. Jakarta : 1997
4. Etam Odah. Keracunan Karbon Monoksida.

(htpp//www.kutaikartanegara.com)
5. http://www.mayoclinic.com/health/food-poisoning/DS00981 6. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001652.htm

(medline plus) 7. http://emedicine.medscape.com/article/175569-overview#showall (medscape) 8. http://www.medicinenet.com/food_poisoning/article.htm

27

28