Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM BIOKIMIA

I.

No Percobaan

X (Sepuluh)

II.

Nama Percobaan

Karbohidrat

III.

Tujuan Percobaan

Mengetahui cara identifikasi karbohidrat secara kualitatif membuktikan adanya gula pereduksi atau gula inversi

IV.

Dasar Teori

Karbohidrat merupakan komponen pangan yang menjadi sumber energi utama dan sumber serat makanan. Komponen ini disusun oleh 3

unsur utama, yaitu karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O). Jenis - jenis karbohidrat sangat beragam dan mereka dibedakan satu dengan yang lain berdasarkan ikatan akan susunan atom-atomnya, panjang/pendeknya rantai karbohidrat yang satu dengan serta jenis

membedakan

lain. Dari

kompleksitas strukturnya dikenal kelompok karbohidrat sederhana (seperti monosakarida dan disakarida) dan karbohidrat dengan struktur yang kompleks atau polisakarida (seperti pati, glikogen, selulosa dan hemiselulosa). Di samping itu, terdapat oligosakarida (stakiosa, rafinosa, frukto oligosakarida galakto -

oligosakarida) dan dekstrin yang memiliki rantai monosakarida yang lebih pendek dari polisakarida. Amilum sebagai senyawa karbohidrat dapat diperoleh dari berbagai bagian tanaman, misalnya endosperma biji tanaman gandum, jagung dan padi, dari umbi kentang: umbi akar Manihot esculenta (pati tapioka), batang Metroxylon sagu (pati sagu), dan rhizom umbi tumbuhan bersitominodia yang meliputi Canna edulis. Tanaman dengan kandungan amilum yang digunakan di bidang farmasi

adalah Zea mays (jagung), Oryza sativa (beras), Solanum tuberosum (kentang), Triticum aesticum (gandum), Maranta arundinacea (garut), Ipomoea batatas (ketela rambat), Manihot utilissima (ketela pohon). Secara umum amilum terdiri dari 20% bagian yang larut air (amilosa) dan 80% bagian yang tidak larut air (amilopektin). Hidrolisis amilum oleh asam mineral menghasilkan glukosa sebagai produk akhir secara hampir kuantitatif. Berdasarkan jumlah unit terkecilnya, karbohidrat dibagi atas

monosakarida, disakarida, dan polisakarida. Unit terkecil karbohidrat disebut monosakarida, yaitu karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisis menjadi

karbohidrat lebih sederhana. Ditinjau dari gugus fungsionalnya, monosakarida dapat dibagi dua yaitu yang mengandung formil (-CHO) disebut aldosa, dan yang mengandung karboksil (-CO-) pada karbon nomor dua disebut ketosa.

Monosakarida mengandung lebih dari satu gugus hidroksil (-OH), maka aldosa adalah suatu polihidroksil aldehid, dan ketosa suatu polihidroksil keton. Beberapa contoh monosakarida galaktosa. Glukosa merupakan suatu yaitu glukosa, fruktosa, pentosa, aldoheksosa dan sering disebut

dekstrosa. Di alam, glukosa terdapat dalam buah-buahan dan madu lebah, glukosa dihasilkan dari reaksi antara karbondioksida dan air dengan bantuan sinar matahari dan klorofil dalam daun pada proses fotosintesis yang selanjutnya

membentuk amilum. Selain glukosa, madu lebah juga mengandung fruktosa yang merupakan suatu ketoheksosa. Fruktosa mempunyai rasa lebih manis daripada glukosa, juga lebih manis dari gula tebu atau sukrosa. Fruktosa disebut juga gula buah atau levulosa. Disakarida merupakan suatu karbohidrat yang tersusun dari dua satuan monosakarida yang dipersatukan oleh suatu hubungan glikosida dari karbon 1 dari satu satuan ke suatu OH satuan lain. Disakarida ini terdiri dari maltosa, selebiosa, laktosa, dan sukrosa. Maltosa digunakan dalam makanan bayi dan susu bubuk beragi (malted milk). Gula ini merupakan disakarida utama yang diperoleh dari hidrolisis pati. Laktosa merupakan suatu disakarida alamiah yang dijumpai hanya pada binatang menyusui, air susu sapi dan manusia mangandung kirakira 5% laktosa. Laktosa terdiri dari dua monosakarida yang berlainan, D-

glukosa dan D-galaktosa. Sukrosa merupakan gula pasir biasa yang banyak terdapat dalam tebu. Sukrosa mempunyai dua molekul monosakarida yang terdiri atas satu molekul glukosa dan satu molekul fruktosa. Polisakarida mengandung banyak monosakarida yang berhubungan dan beragam panjang rantai serta berat molekulnya. Contoh polisakarida ini yaitu pati, selulosa, dan kitin. Pati ialah karbohidrat penyimpan energi bagi tumbuhan yang merupakan komponen utama pada bebijian, kentang, jagung, dan beras. Pati dapat dipisahkan dengan berbagai teknik menjadi dua fraksi, yaitu amilosa dan amilopektin. Amilosa menyusun sekitar 20% dari pati, unit glukosa (50-300) membentuk rantai sinambung, degan tautan -1,4).

Sedangkan amilopektin sangat bercabang dan merupakan polisakarida yang jauh lebih besar dari amilosa. Glukosa, dinamakan juga dekstrosa atau gula anggur, terdapat luas di alam dalam jumlah sedikit, yaitu di dalam sayur, buah, sirup jagung, sari pohon, dan bersamaan dengan fruktosa dalam madu. Glukosa memegang peranan sangat penting dalam ilmu gizi. Glukosa merupakan hasil akhir pencernaan pati, sukrosa, maltosa, dan laktosa pada hewan dan manusia. Dalam proses metabolisme, glukosa merupakan bentuk karbohidrat yang beredar di dalam tubuh dan di

dalam sel merupakan sumber energi. Fruktosa, dinamakan juga levulosa atau gula buah, adalah gula paling manis. Fruktosa mempunyai rumus kimia yang sama dengan glukosa, C6H12O6, namun strukturnya berbeda. Susunan atom dalam fruktosda merangsang jonjot kecapan pada lidah sehingga menimbulkan rasa manis Galaktosa, tidak terdapat bebas di alam seperti halnya glukosa dan fruktosa, akan tetapi terdapat dalam tubuh sebagai hasil pencernaan laktosa Pentosa, merupakan bagian sel-sel semua bahan makanan alami. Jumlahnya sangat kecil, sehingga tidak penting sebagai sumber energi. Sukrosa atau sakarosa dinamakan juga gula tebu atau gula bit. Secara komersial gula pasir yang 99% terdiri atas sukrosa dibuat dari keuda macam bahan makanan tersebut melalui proses penyulingan dan kristalisasi. Gula merah yang banyak digunakan di Indonesia dibuat dari tebu, kelapa atau enau melalui proses penyulingan tidak sempurna. Sukrosa juga terdapat di

dalam buah, sayuran, dan madu. Maltosa (gula malt) tidak terdapat bebas di alam. Maltosa terbentuk pada setiap pemecahan pati, seperti yang terjadi pada tumbuh-tumbuhan bila benih atau bijian berkecambah dan di dalam usus manusia pada pencernaan pati. Laktosa (gula susu) hanya terdapat dalam susu dan terdiri atas satu unit glukosa dan satu unit galaktosa. Kekurangan laktase ini menyebabkan ketidaktahanan terhadap laktosa. Laktosa yang tidak dicerna tidak dapat diserap dan tetap tinggal dalam saluran pencernaan. Hal ini mempengaruhi jenis mikroorgnisme yang tumbuh, yang menyebabkan gejala kembung, kejang perut, dan diare. Ketidaktahanan terhadap laktosa lebih banyak terjadi pada orang tua. Malaktosa adalah gula yang rasanya paling tidak manis (seperenam manis glukosa) dan lebih sukar larut daripada disakarida lain. Pati merupakan simpanan karbohidrat dalam tumbuh-tumbuhan dan merupakan karbohidrat utama yang dimakan manusia di seluruh dunia. Pati terutama terdapat dalam padi-padian, bijibijian, dan umbi-umbian. Jumlah unit glukosa dan susunannya dalam satu jenis pati berbeda satu sama lain, bergantung jenis tanaman asalnya. Bentuk butiran pati ini berbeda satu sama lain dengan karakteristik tersendiri dalam hal daya larut, daya mengentalkan, dan rasa. Amilosa merupakan rantai panjang unit glukosa yang tidak bercabang, sedangkan amilopektin adalah polimer yang susunannya bercabang-cabang. Pada umumnya polisakarida mempunyai molekul besar dan lebih kompleks daripada mono dan oligosakarida. Molekul polisakarida terdiri atas banyak molekul monosakarida. Amilum merupakan salah satu polisakarida, dimana polisakarida ini terdapat banyak dialam, yaitu pada sebagian besar tumbuhan. Amilum atau dalam bahasa sehari-hari disebut pati terdapat pada umbi, daun, batang dan biji-bijian. Umbi yang terdapat pada ubi jalar atau singkong mengandung pati yng cukup banyak, sebab ketela pohon tersebut selain dapat digunakan sebagai makanan sumber karbohidrat juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan tapioka. Beberapa sifat kimia dari karbohidrat, berbeda dengan sifat fisika yang telah diuraikan. Sifat kimia karbohidrat berhubungan erat dengan gugus fungsi yang terdapat pada molekulnya yaitu gugus OH, gugus aldehida. dan gugus keton.

monosakarida dan disakarida mempunyai sifat dapat mereduksi. sifat sebagai reduktor ini dapat digunakan untuk keperluan identifikasi karbohidrat dan

analisis kuantitatif dan juga analisis kualitatif dengan menggunakan beberapa pereaksi, antara lain : Pereaksi Fehling. Pereaksi ini dapat direduksi selain oleh karbohidrat yang mempunyai sifat mereduksi juga dapat direduksi oleh reduktor lain. pereaksi fehling terdiri atas dua larutan, yaitu larutan fehling A yang merupakan larutan CuSO4 dalam air sedangkan Fehling B,larutan garam Knatartrat dan NaOH dalam air. fehling menghasilkan endapan warna merah bata. Reaksi Molish. Ikatan pada karbohidrat akan terhidrolisa oleh H2SO4 pekat menghasilkan monosakarida yang kemudian dihydrasi membentuk furfural. Dan bila direaksikan dengan - Nafthol akan memberikan warna ungu. Raksi Yodium. Senyawa polisakarida akan memberikan warna yang spesifik dengan yodium. Pereaksi Benedict. Pereaksi ini berupa larutan yang mengandung kuprisulfat, natrium karbonat dan natriumsitrat. Adanya natrium karbonat dan natrium sitrat membuat pereaksi benedict bersifat basa lemah. Endapan yang dapat terbentuk dapat berwarna hijau, kuning, merah bata. Pereaksi Barfoed. Pereaksi ini terdiri atas larutan kupriasetat dan asam asetat dalam air, dan digunakan untuk membedakan antara monosakarida dengan disakarida. Penentuan kadar Glukosa, glukosa adalah termasuk gula reduksi karena monosakarida yang memiliki gugus OH laktol bebas dan dapat berubah menjadi glukosa alifatis dengan gugus aldehid sebagai reduktor lemah dan kemudian dapat dioksidasi oleh oksidator lemah seperti yodium membentuk asam glukonat.

V.

Alat dan Bahan

Alat

: Tabung Reaksi Pipet Tetes Rak Tabung Reaksi Gelas Ukur Spot Plate

Bahan

: Larutan Amilum Larutan Tepung Beras Larutan Tepung Tapioka Larutan Karbohidrat Larutan Iodin Asam Asetat pekat Larutan Natrium Thiosulfat 0,1 N Larutan Alpha Naftol 5% dalam etanol Larutan Laktosa Larutan Dekstrin Larutan Benedic Larutan Sukrosa Larutan Yodium 0,1N HCl encer Natrium Sitrat

VI.

Prosedur Percobaan Reaksi Molish a. Dalam tabung reaksi yang bersih dan kering dimasukkan 2 ml larutan karbohidrat dan 3 tetes larutan Alpha nafthol. b. Melalui dinding tabung tambah secara perlahan larutan asam sulfat prkat sampai terbentuk cincin coklat. c. Ulangi percobaan diatas dengan memprgunakan 2 ml air sebagai pengganti 2 ml larutan karbohidrat (percobaan balnko). Amati apa yang terjadi .

Reaksi Yodium a. Pada plat tetes yang bersih dan kering dimasukkan 3 tetes larutan yang diperiksa. b. Campur dengan 2 tetes larutan yodium c. Terbentuk warna biru untuk amilum dan warna merah anggur untuk dekstrin Reaksi Benedict a. Kedalam tabung reaksi yang bersih dan kering dimasukkan 1 ml larutan yang akan diselidiki kemudian dicamour dengan 2 ml larutan benedict. Kocok. b. Didihkan selama 2 menit atau masukkan dalam air yang mendidih selama 5 menit. c. Perhatikan warna reaksi yang terjadi. Penentuan Kadar Glukosa (Yodimetri)

Di timbang seksama sampel padat yang mengandung kira-kira 100 mg glukosa yang tidak mengandung reduktor lainnya, dilarutkan di dalam 50ml air suling di dalam erlenmayer tertutup. Ditambahkan 25 ml yodium 0,1 N dan 10 ml larutan natrium karbonat 14,3%, ditutup dan dibiarkan selama 30 menit ditempat gelap. Kemudian ditambahkan 15 ml asam klorida encer dan yodium yang tersisa dengan larutan natrium tiosulfat 0,1 N sampai terjadi warna kuning lemah. Ditambahkan lagi indikator kanji dan lanjutkan titrasi sampai warna biru hilang, dilakukan titrasi blanko. Tiap ml yodium 0,1 N setara dengan 9,9185 mg glukosa.

VII. Hasil Pengamatan Reaksi Molish Tabung Bahan 2 ml tepung beras + 3 tetes alpha napthol Pereaksi Hasil Larutan menjadi bening kemudian ditetesi H2SO4 terbentuk cincin coklat keungunanpada larutan Larutan tetap kemudian ditetesi H2SO4 terbentuk cincin coklat keungunan pada larutan Larutan bening kemudian ditetesi H2SO4 terbentuk cincin coklat kehijauan pada larutan.

H2SO4

II

2 ml tepung tapioka + 3 tetes alpha napthol

H2SO4

III

2 ml air + 3 tetes alpha napthol

H2SO4

Reaksi Yodium Plat Tetes I Bahan 3 tetes sampel (putih keruh) Pereaksi H2SO4 Hasil Terdapat larutan berwarna ungu kebiruan.

Reaksi Benedic Tabung I (Lakosa) Bahan 2 ml Fehling (Warna biru bening) Pereaksi Hasil Laktosa + 2 ml larutan Fehling menghasilkan larutan berwarna biru bening. Sukrosa + 2 ml larutan Fehling menghasilkan larutan berwarna biru bening.

H2SO4

2 ml Fehling II (Warna biru bening) (Sukrosa)

H2SO4

Reaksi Yodimetri

100 mg glukosa dilarutkan di dalam 50 ml air didalam erlenmayer tertutup. Kemudian ditambahkan 25 ml yodium 0,1 N dan 10 ml larutan natrium karbonat 14,3 % menghasilkan larutan berwarna kuning kecoklatan. Lalu ditutup dan dibiarkan selama 30 menit ditempat gelap larutan tersebut berubah menjadi bening. Kemudian ditambahkan 15 ml HCl dan yodium yang tersisa dengan larutan natrium tiosulfat 0,1 N larutan menjadi berwarna kuning bening. Selanjutnya ditambahkan indikator kanji larutan menjadi berwarna biru. Kemudian dititrasi dengan natrium tiosulfat larutan menjadi bening. Penentuan Kadar Glukosa : Volume Larutan 0,1 N yodium V1 = 1,8 ml V2 = 1,6 ml V3 = 2 ml Vrata-rata = = 1,8 ml V1N1 = V2N2 1,5 . 0,1 = 10 ml . N2 0,15 = 10 ml N2 N2 = 0,15/10 N2 = 0,015N Jadi kadar glukosanya adalah 0,015 N.

VIII. Reaksi Kimia Reaksi Mollish

Reaksi Benedic

Reaksi Yodium

Reaksi Yodimetri I2 (aq) + 2Na2S2O3(aq) 2NaI(aq) + Na2S4O6(aq) IO3- + 5 I- + 6H+ 3I2 + H2O I2 + 2 S2O32- 2I- + S4O62-

10

IX.

Pembahasan Pada praktikum ini membahas mengenai uji kualitatif karbohidrat

diantaranya yaitu uji molisch, benedict, iodium. Uji Molisch digunakan untuk menidentifikasi apakah suatu zat mengandung karbohidrat. Uji ini dilakukan dengan menambahkan dua tetes pereaksi molisch pada larutan uji dan ditambahkan H2SO4 pekat perlahan-lahan pada dinding tabung sampai terbentuk cincin berwarna ungu.Apabila suatu larutan uji menunjukkan adanya cincin berwarna ungu, maka larutan uji tersebut positif mengandung karbohidrat. Pereaksi molisch yang terdiri daria-naftol dalam alkohol akan bereaksi dengan furfural tersebut membentuk senyawa kompleks berwarna ungu. Uji ini bukan uji spesifik untuk karbohidrat, walalupun hasil reaksi yang negatif menunjukkan bahwa larutan yang diperiksa tidak mengandung karbohidrat. Warna ungu kemerah-merahan menyatakan reaksi positif,sedangka warna hijau adalah negatif. Pada uji Molisch, semua zat uji adalah termasuk karbohidrat. Hal tersebut dapat dilihat pada terbentuknya cincin berwarna ungu. Uji Benedict digunakan untuk mendeteksi zat uji mengandung gula pereduksi atau gula invers. Pereaksi benedict terdiri dari kupri sulfat,natrium sitrat, dan natrium karbonat. Ke dalam 5 ml pereaksi dalam tabung reaksi ditambahkan 8 tetes larutan contoh, kemudian tabung reaksi ditempatkan dalam air mendidih selama 5 menit. Timbulnya endapan warna hijau , kuning, atau merah orange menunjukkan adanya gula pereduksi. Pada uji benedict, teori yang mendarsarinya adalah gula yang mengandung gugus aldehida atau keton bebas akan mereduksi ion Cu2+ dalam suasana alkalis, menjadi Cu+, yang mengendap sebagai Cu2O(kupro oksida) berwarna merah bata. Pada uji Benedict, indikator terkandungnya Gula Reduksi adalah dengan terbentuknya endapan berwarna merah bata. Hal teresebut dikarenakan terbentuknya hasil reaksi berupa Cu2O. Dari hasil uji benedict, larutan uji positif terdapat gula pereduksi adalah glukosa,maltosa, sukrosa, galaktosa, fruktosa, laktosa. Sedangkan yang tidak memiliki gula pereduksi adalah amilum.

11

Percobaan uji iodium adalah penambahan iodium pada suatu polisakarida akan menyababkan terbentuknya kompleks adsorpsi berwarna spesifik. Amilum atau pati dengan iodium mengahailkan warna biru, dekstrin menghasilkan warna merah anggur,glikogen dan sebagian pati yang terhidrolisis bereaksi dengn iodium membantuk warna merah coklat. Pada uji iod, hasil uji terlihat hanya pati lah yang menunjukkan reaksi positif bila direaksikan dengan iodium. Hal ini disebabkan karena dalam larutan pati, terdapat unit-unit glukosa yang membentuk rantai heliks karena adanya ikatan dengan konfigurasi pada tiap unit glukosanya. Bentuk ini menyebabkan pati dapat membentuk kompleks dengan molekul iodium yang dapat masuk ke dalam spiralnya, sehingga menyebabkan warna biru tua pada kompleks tersebut. Pati (starch) atau amilum merupakan polisakarida yang terdapat pada sebagian besar tanaman, terbagi menjadi dua fraksi yaitu amilosa dan amilopektin. Amilosa (kuranglebih 20 %) memiliki struktur linier dan dengan iodium memberikan warna biru serta larut dalam air. Fraksi yang tidak larut disebut amilopektin (kuranglebih 80 %) dengan struktur bercabang. Dengan penambahan iodium fraksi memberikan warna ungu sampai merah. Pati dalam suasana asam bila dipanaskan akan terhidrolisis menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana. Hasil hidrolisisdapat dengan iodium dan menghasilkan warna biru sampai tidak berwarna. Dalam percobaan ini digunakan test iodida untuk mendeteksi adanya pati (suatu polisakarida). Larutan pati + 1 tetes larutan I2 masing-masing dicampurkan ke dalam 2 tetes air, 2 tetes larutan HCl 6 N, dan 2 tetes larutan NaOH 6 N. Pada percobaan larutan pati + 1 tetes larutan I2 + 2 tetes air dan larutan pati + 1 tetes larutan I2 + 2 tetes larutan HCl 6 N , sebelum dipanaskan larutan berwarna biru. Hal ini disebabkan karena pati yang berikatan dengan Iodin. Hal ini disebabkan karena struktur molekul pati yang berbentuk spiral mampu mengikat iodin dan terbentuklah warna biru. Bila pati dipanaskan, akan menyebabkan spiral merenggang sehingga molekul-molekul iodin akan menguap dalam bentuk gas, sehingga I22+ I- dan warna larutan berubah menjadi bening. Dengan kontrol pada

12

titik akhir titrasi jika kelebihan 1 tetes titran. perubahan warna yang terjadi pada larutan akan semakin jelas dengan penambahan indikator amilum/kanji. Iodium merupakan oksidator lemah. Sebaliknya ion iodida merupakan suatu pereaksi reduksi yang cukup kuat. Dalam proses analitik iodium digunakan sebagai pereaksi oksidasi (iodimetri) dan ion iodida digunakan sebagai pereaksi reduksi (iodometri). Relatif beberapa zat merupakan pereaksi reduksi yang cukup kuat untuk dititrasi secara langsung dengan iodium. Maka jumlah penentuan iodometrik adalah sedikit. Akan tetapi banyak pereaksi oksidasi cukup kuat untuk bereaksi sempurna dengan ion iodida, dan ada banyak penggunaan proses iodometrik. Suatu kelebihan ion iodida ditambahkan kepada pereaksi oksidasi yang ditentukan, dengan pembebasan iodium, yang kemudian dititrasi dengan larutan natrium thiosulfat. Larutan standar yang digunakan dalam kebanyakan proses iodometri adalah natrium thiosulfat. Garam ini biasanya berbentuk sebagai pentahidrat Na2S2O3.5H2O. Larutan tidak boleh distandarisasi dengan penimbangan secara langsung, tetapi harus distandarisasi dengan standar primer. Larutan natrium thiosulfat tidak stabil untuk waktu yang lama. Hasil akhir yang didapat adalah perubahan warna pada akhir titrasi sehingga didapatkanlah V rata-rata titrasi yaitu 1,767 ml. Setelah dihitung kemali dan di cari kadar glukosanya, ternyata dari hasil praktikum ini kadar glukosa yang terkandung adalah 0,015 N.

13

X.

Kesimpulan

1. Dari hasil uji hidrolisis menggunakan pereaksi iodium hasil positif dihasilkan pada amilum yang dihidrolisis dengan air dan asam (HCl). Dengan ditunjukannya perubahan warna dari bening menjadi biru menunjukkan bahwa amilum dapat terhidrolisis oleh air dan asam menjadi amilosa dan amilopektin. 2. Uji Molisch digunakan untuk mengidentifikasi apakah suatu zat mengandung karbohidrat. 3. Uji iodium adalah penambahan iodium pada suatu polisakarida akan menyababkan terbentuknya kompleks adsorpsi berwarna spesifik. 4. Uji Benedict digunakan untuk mendeteksi zat uji mengandung gula pereduksi atau gula invers. 5. Pada uji Molisch, semua zat uji adalah termasuk karbohidrat. Hal tersebut dapat dilihat pada terbentuknya cincin berwarna ungu. 6. Kelompok monosakarida adalah glukosa dan fruktosa dan kelompok disakarida adalah sukrosa dan maltosa. 7. Uji spesifik pada polisakarida dilakukan dengan test iodida yang menghasilkan warna biru dan apabila dipanaskan akan menjadi bening yang disebabkan karena adanya pelepasan I2.

14

XI.

Daftar Pustaka

Khopkar, S.M., 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik, Jakarta : UI-Press

Lehninger, A. L., 1995, Dasar-Dasar Biokimia jiid 1, diterjemahkan oleh Maggy Thenawidjaja, Jakarta : Erlangga.

Martoharsono, Soeharsono. 1998. Biokimia Jilid 1. Yogyakarta : Gajah Mada University Press .

Poedjadi, Anna, 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : UI.

Sukaryawan, Made. 2011. Petunjuk Praktikum Biokimia. Palembang: Universitas Sriwijaya

15

XII. Gambar Alat

Tabung Reaksi

Gelas kimia

Rak Tabung Reaksi

Gelas Ukur

Pipet Tetes

16

17