Anda di halaman 1dari 14

PELAYANAN LIFEGUARD BALAWISTA DI PANTAI KUTA, BALI

Oleh: Fitrie Goesmayanti

ABSTRACT Kuta Beach is the most famous tourist destination in Bali. People from all over the world come to Kuta Beach for sunbathing on the white sand, watching the sunset, swimming, and surfing. Sometimes people are too excited in doing water activities, and Kuta Beach is not a risk-free tourist object. Every water activity might cause accident, injury, or even death. Therefore, the supervision of Balawista Kuta as a lifeguard team is very important for preventing unexpected water accidents in the area of Kuta Beach.

PENDAHULUAN Kecelakaan di pantai dapat terjadi kapan saja dan pada siapa saja, baik mereka yang bisa berenang, apalagi yang tidak bisa berenang. Hal tersebut berkaitan dengan tinggi-rendahnya ombak, besar-kecilnya arus, cuaca, dan faktor-faktor lain yang kadang tidak dapat diprediksi. Oleh karena itu walaupun merupakan kegiatan wisata favorit, kegiatan wisata tirta atau wisata air mengadung risiko

tinggi. Kecelakaan yang mungkin terjadi di pantai adalah kram, terkilir, cedera, bahkan tenggelam dan terbawa arus hingga hilang ke tengah lautan. Meskipun masing-masing wisatawan harus dapat menjaga keselamatan mereka sendiri saat melakukan aktivitas di pantai, namun hal-hal yang tidak terduga selalu dapat terjadi kapan saja. Jika terjadi kecelakaan atau cedera air, tanggung jawab penyelamatan berada di pundak para petugas penjaga pantai, atau yang lebih dikenal sebagai lifeguard. Namun bukan penyelamatanlah yang menjadi tugas utama lifeguard, melainkan melakukan pengawasan terhadap segala aktivitas wisatawan di pantai sebagai bentuk antisipasi terjadinya kecelakaan. Beberapa kasus kecelakaan di pantai terjadi akibat pengawasan yang lemah dan atau fasilitas pengawasan yang kurang memadai. Jika sampai jatuh korban jiwa biasanya diakibatkan kegagalan atau keterlambatan dalam melakukan pertolongan pertama. Sepanjang tahun 2010 tercatat 207 korban kecelakaan di sepanjang pantai Kabupaten Badung, Bali, dan 8 orang di antaranya meninggal dunia. Di tahun 2011, sampai bulan April saja sudah tercatat 26 korban, dan satu orang di antaranya tidak terselamatkan. Hal tersebut seharusnya tidak perlu terjadi jika pengawasan dan tindakan penyelamatan dilakukan dengan maksimal. Berdasarkan kasus yang terjadi, lifeguard memiliki peran yang penting dalam menjaga keselamatan wisatawan di sepanjang pantai. Keamanan dan kenyamanan di pantai sangat penting karena pantai merupakan salah satu daya tarik unggulan di setiap destinasi wisata, khususnya Bali. Oleh karena itu, diperlukan keberadaan lifeguard yang sigap dan terlatih, serta didukung sarana dan prasarana memadai

sebagai bentuk pelayanan wisata tirta untuk memberi jaminan rasa aman kepada para wisatawan yang berkunjung ke pantai.

METODE PENELITIAN DAN TEKNIK PENGUMPULAN DATA Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui pendekatan deskriptif dengan mendeskripsikan atau mengambarkan situasi di lokasi penelitian melalui pengamatan langsung, pencatatan, dan analisis. Pengumpulan data dilakukan di dua lokasi, yaitu Pantai Kuta, Bali dan Bandung, Jawa Barat. Teknik pengumpulan data yang dilakukan di Pantai Kuta dilakukan dengan cara observasi dan wawancara pada hari Jumat, 22 April 2011 pukul 15.00 WITA sampai pukul 18.00 WITA. Observasi dilakukan melalui pengamatan langsung mengenai situasi dan kondisi di lokasi penelitian. Sedangkan teknik wawancara dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan langsung kepada responden di lokasi penelitian. Responden yang diwawancarai adalah lima orang lifeguard Balawista Kuta yang sedang bertugas. Pengumpulan data yang dilakukan di Bandung dilakukan dengan cara studi dokumentasi pada tanggal 2 dan 3 Juni 2011. Teknik ini dilakukan dengan mengumpulkan referensi yang berkaitan dengan penelitian yang akan digunakan sebagai dasar kajian teori.

IHWAL PARIWISATA, SADAR WISATA, DAN SAPTA PESONA Pariwisata berasal dari bahasa Sansekerta, yang secara etimologis berasal dari kata pari dan wisata. Pari artinya banyak, berkali-kali, berkeliling, atau lengkap,

sedangkan wisata artinya perjalanan atau bepergian. Oleh karena itu, pariwisata dapat diartikan sebagai perjalanan yang dilakukan berkali-kali, atau perjalanan berputar-putar dari satu tempat ke tempat lainnya. (Marbun, 2009) Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan, pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah. Bagi Bali, pariwisata adalah elemen yang sangat penting. Pariwisata sudah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Bali. Pariwisata sudah menjadi bread and breath bagi separuh lebih penduduk Bali. Pariwisata adalah tulang punggung ekonomi, dan juga denyut nadi kehidupan Bali. Dapat dikatakan bahwa pariwisata adalah Bali, dan Bali adalah pariwisata. (Pitana dan Gayatri, 2005) Berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata nomor: PM. 04/UM.001/MKP/2008 tentang Sadar Wisata, Sadar Wisata adalah suatu kondisi yang menggambarkan partisipasi dan dukungan segenap komponen masyarakat dalam mendorong terwujudnya iklim yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan di suatu destinasi atau wilayah. Dalam pengembangan dan pengelolaan daya tarik wisata, kegiatan Sadar Wisata dilakukan bersama-sama oleh pemerintah, pemerintah daerah, pelaku usaha pariwisata, akademisi, media massa, dan organisasi kemasyarakatan dengan mengaplikasikan konsep Sapta Pesona.

Sapta

Pesona

dilambangkan

dengan

matahari

tersenyum, yang menggambarkan semangat hidup dan kegembiraan. Tujuh sudut pancaran sinar di sekeliling matahari menggambarkan unsur-unsur Sapta Pesona yang terdiri atas aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan. Tujuan diselenggarakan program Sapta Pesona adalah untuk meningkatkan kesadaran, rasa tanggung jawab segenap lapisan masyarakat, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat luas untuk mampu bertindak dan mewujudkan Sadar Wisata dalam kehidupan sehari-hari. Berkaitan dengan pembahasan mengenai peranan lifeguard, salah satu unsur Sapta Pesona yang berperan penting adalah keamanan. Aman adalah suatu kondisi lingkungan di destinasi wisata yang memberikan rasa tenang serta bebas dari rasa takut dan kecemasan bagi wisatawan yang berkunjung. Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi wisatawan dan berlangsungnya kegiatan kepariwisataan sehingga wisatawan tidak merasa cemas dan dapat menikmati kunjungannya tersebut. Bentuk aksi untuk menciptakan destinasi wisata yang aman antara lain dengan: 1. tidak mengganggu wisatawan, 2. menolong dan melindungi wisatawan, 3. bersahabat terhadap wisatawan, 4. memelihara keamanan lingkungan, 5. membantu memberi informasi kepada wisatawan, 6. menjaga lingkungan yang bebas dari bahaya penyakit menular, dan

7. meminimalkan risiko kecelakaan dalam penggunaan fasilitas publik. (Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia)

IHWAL WISATA TIRTA Wisata tirta adalah kegiatan wisata yang dilakukan di objek wisata yang merupakan kawasan perairan, baik untuk rekreasi maupun kegiatan olahraga air, seperti menyelam, berselancar, atau memancing. Dalam Penjelasan atas UndangUndang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, usaha wisata tirta merupakan usaha yang menyelenggarakan wisata dan olahraga air, termasuk penyediaan sarana dan prasarana serta jasa lainnya yang dikelola secara komersial diperairan laut, pantai, sungai, danau, dan waduk. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 1996 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan, Bagian Ketiga, Paragraf 4, Pasal 93 (1) disebutkan bahwa pengelola wisata tirta wajib menyediakan sarana dan fasilitas keamanan dan keselamatan wisatawan. Pada Pasal 93 (2) disebutkan bahwa pengelola wisata tirta bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan wisatawan. Tanda keselamatan yang harus disediakan di setiap objek wisata tirta adalah bendera peringatan yang dipasang di daerah-daerah tertentu. Bendera-bendera tersebut

mempunyai beberapa warna yang berbeda. Wisatawan boleh berenang di areal pantai berbendera hijau (aman) dan merah-kuning (areal pengawasan lifeguard), sedangkan areal pantai berbendera

kotak-kotak hitam-putih adalah areal khusus untuk surfing. Jika melihat bendera kuning sebaiknya wisatawan tidak berenang, dan bendera merah adalah larangan untuk berenang. (Wikipedia)

BALAWISTA KUTA DAN PERANNYA SEBAGAI LIFEGUARD Lifeguard adalah perenang tangguh dan terlatih dalam melakukan pertolongan pertama, serta mempunyai setifikasi dalam melakukan penyelamatan di air dengan menggunakan alat bantu dan perlengkapan yang sesuai dengan situasi yang terjadi (Wikipedia). Pada dasarnya, lifeguard adalah petugas pengawas, penolong, dan penyelamat yang siaga di daya tarik wisata tirta. Tugas utama lifeguard di pantai adalah antara lain yaitu: 1. menetapkan peraturan untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan, 2. fokus dalam melakukan pengawasan di wilayah tugasnya untuk mengantisipasi kecelakaan dan mengidentifikasi keadaan darurat secara cepat, 3. melakukan pertolongan dan tindakan darurat lain yang diperlukan, 4. memberikan pertolongan pertama pada wisatawan yang terluka, dan 5. melakukan sosialisasi pada wisatawan untuk membantu tugas lifeguard dengan mengawasi satu sama lain sesama wisatawan. (Wikipedia) Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) Kabupaten Badung, Bali, berdiri sejak tahun 1972. Pendirian Balawisata digagas oleh I Gede Berata dengan bimbingan dan saran dari Kevin Weldon dari World Life Saving Australia. Pos pengawas Balawista Kabupaten Badung tersebar di sepanjang 63 km pantai

Kabupaten Badung, mulai dari Pantai Seseh sampai Tanjung Benoa. Lifeguard disiagakan di 16 objek wisata pantai di Kabupaten Badung, seperti wilayah Canggu, Dreamland, Padang-Padang, Uluwatu, Nusa Dua, dan Kuta. Balawista Kuta memiliki 7 pos pengawas di sepanjang 3,5 km Pantai Kuta. Ketujuh pos Balawista berada di setiap 500 m dan dihubungkan dengan komunikasi radio. Masing-masing pos terdiri dari 4 sampai 8 lifeguard yang bertugas dalam 2 shift. Shift pertama bertugas dari pukul 06.00 sampai pukul 14.00, sedangkan shift kedua bertugas mulai pukul 14.00 sampai pukul 22.00. Shift pukul 22.00 sampai pukul 06.00, atau shift tambahan, seringkali tidak memerlukan kehadiran lifeguard dan diserahkan kepada satuan tugas setempat karena sudah tidak ada aktivitas air lagi di Pantai Kuta. Koordinator Balawista Kabupaten Badung saat ini dijabat oleh I Made Suparka. Pos koordinasi Balawista Kabupaten Badung yang dinamakan Markas Besar bertempat di Pantai Kuta. Markas Besar Balawista Kabupaten Badung ini sekaligus menjadi pusat kegiatan dan koordinasi surf life saving. Surf life saving adalah kegiatan multiaspek yang diikuti oleh lifeguard, dan biasanya diperlombakan. Badung Surf Life Saving berkembang seiring dengan semakin banyaknya surfer yang melakukan kegiatan surfing di Pantai Kuta. Hal tersebut menuntut lifeguard untuk tidak hanya memiliki keahlian penyelamatan, tapi juga untuk memiliki keterampilan dan ketangkasan seorang surfer. Lifeguard Pantai Kuta adalah salah satu yang terkenal di dunia karena sering kali memenangkan kompetisi surf life saving. Nomor yang umumnya diperlombakan adalah surf race (renang 200 meter), long swim (renang jarak jauh

1,5 km), run swim run (kombinasi lari-renang-lari), beach flag (lari memperebutkan tongkat), beach relay (lari estafet), dan beach sprint (lari cepat 200 meter). Berbagai macam piala dan penghargaan telah menghiasi Markas Besar Balawista di Pantai Kuta dari berbagai kompetisi surf life saving dunia. Salah satu yang paling membanggakan adalah penghargaan dengan gelar The Best in Asia dalam kompetisi World Life Saving Championship di Jepang pada tahun 1990. Tugas utama lifeguard Balawista Kuta adalah prevent atau melakukan usaha pencegahan dengan melakukan pengawasan dan memberi tanda peringatan, rescue atau menyelamatkan, dan first aid and resuscitate atau memberi pertolongan pertama dan menyadarkan korban. Untuk meningkatkan keterampilan dan ketangkasan, dan untuk terus mempertahankan kebugaran, kesigapan, dan kesiagaan, lifeguard Pantai Kuta selalu melakukan latihan di setiap pagi hari. Latihan yang mereka jalani berupa push-up, angkat beban, renang 400 m, lari di sepanjang Pantai Kuta, dan kadang ditambah dengan bersepeda. Latihan yang mereka jalani penting dalam menjaga stamina, yang sewaktu-waktu dibutuhkan ketika terjadi keadaan darurat seperti menyelamatkan korban tenggelam. Balawista Kabupaten Badung juga rutin mengadakan pelatihan lifeguarding yang diadakan setiap tahun di Pantai Kuta. Pelatihan tersebut dimaksudkan untuk melahirkan lifeguard-lifeguard berkualitas dengan sertifikasi internasional, yang kelak akan berjasa dalam menjaga keselamatan wisatawan di setiap daya tarik wisata tirta. Pelatihan lifeguard diikuti oleh lifeguard kolam renang hotel-hotel berbintang, masyarakat umum, pelajar, dan lifeguard dari beberapa pantai di

10

Indonesia, seperti Pantai Pangandaran, Pantai Pelabuhan Ratu, Pantai Parangtritis dan lain-lain. Instruktur dalam pelatihan lifeguard tersebut adalah lifeguard Balawista Kuta dan lifeguard yang didatangkan langsung dari Australia. Pelatihan lifeguard dibagi menjadi 3 tingkatan, yaitu tingkat dasar (resuscitation), tingkat lanjutan (live saving), dan tingkat madya (bronze). Peserta yang lulus pada tingkat bronze mendapat sertifikat yang dapat digunakan untuk terjun langsung sebagai lifeguard. Lifeguard di tingkat bronze dapat meningkatkan sertifikasi mereka menjadi silver dan gold melalui beberapa ujian peningkatan sertifikasi. Pada tingkatan gold, seorang lifeguard dapat mengikuti kompetisi surf life saving. Balawista Kuta sendiri memiliki lifeguard tingkat gold berprestasi dunia paling banyak di antara pantai-pantai lain di Indonesia. Peralatan pertolongan pertama dan beberapa perlengkapan pendukung lain yang ada di setiap pos pengawas di sepanjang Pantai Kuta antara lain kotak pertolongan pertama, rescue surf board, walkie talkie, pesawat radio komunikasi, teropong, peluit, torpedo buoy, dan body board. Balawista Kuta juga memiliki mobil operasional, satu unit ambulans, satu unit jet ski, dan satu unit ATV, yang semuanya disiagakan di Markas Besar. Peralatan yang dimiliki Balawista Kuta memang lengkap, namun lengkap tidak berarti cukup. Mengingat panjangnya wilayah Pantai Kuta, seharusnya setiap pos memiliki paling tidak satu unit jet ski dan ATV untuk memudahkan mobilitas lifeguard antarpos dan juga membuat usaha penyelamatan menjadi lebih cepat. Anggaran Balawista Kuta dan gaji lifeguard-nya berasal dari Pemda Kabupaten Badung. Tidak berhasil didapatkan berapa angka pasti yang diberikan

11

Pemda Kabupaten Badung untuk Balawista Kuta, namun beberapa lifeguard mengaku bahwa mereka menerima gaji yang relatif kecil. Walaupun begitu, mereka tidak mengeluhkan hal tersebut karena sejak awal mereka memutuskan menjadi lifeguard, niat mereka adalah untuk menolong sesama manusia. Mereka sadar bahwa pada dasarnya lifeguard adalah suatu pekerjaan sukarela. Walaupun anggaran dari Pemda Kabupaten Badung terbatas, Balawista Kuta cukup beruntung karena memiliki prestasi yang mendunia. Berkat reputasinya, Balawista Kuta berhasil mendapatkan dukungan sponsor dari beberapa brand terkenal. Coca Cola Amatil Indonesia (CCAI), perusahaan yang memproduksi minuman ringan, dan Quiksilver, perusahaan yang memproduksi pakaian dan perlengkapan surfing, mensponsori seragam lifeguard Pantai Kuta dengan memberikan kemeja lengan panjang, kemeja lengan pendek, kemeja rash guard, topi, boardshorts atau celana pantai, dan celana renang, yang semuanya berwarna merah-kuning dengan logo Coca Cola dan Quiksilver, serta kacamata hitam. Selain itu, Rhumell, perusahaan Brazil yang memproduksi sepatu, memberikan payung pantai yang dipasang di beberapa titik di Pantai Kuta. Dari semua hal yang membanggakan dari Balawista Kuta, ada satu hal yang terasa kurang dari kinerja lifeguard-nya, yaitu kurangnya pengawasan. Pos-pos pengawas di Pantai Kuta lebih sering terlihat kosong tanpa ada seorang lifeguard pun yang siaga di sana. Dari beberapa lifeguard yang bertugas, sebagian besar hanya duduk-duduk di bawah pos pengawas dan di bawah payung pantai, atau bahkan ada beberapa yang bermesraan dengan wisatawan asing. Selain itu, tanda peringatan yang diberikan pada wisatawan hanya berupa bendera-bendera yang

12

terpasang di beberapa titik di pinggir pantai. Surfer professional bisa jadi mengenal arti dari warna-warna bendera peringatan di pantai, tapi banyak juga wisatawan yang awam dengan hal tersebut. Seharusnya, selain melakukan pengawasan, lifeguard juga wajib

mensosialisasikan tanda-tanda peringatan dengan mengkomunikasikannya melalui pengeras suara. Sebagai perbandingan, di Pantai Pangandaran, setiap sekitar 10 menit sekali wisatawan akan mendengar peringatan dari lifeguard melalui pengeras suara yang memperingatkan wisatawan untuk berenang hanya di areal berbendera hijau dan merah-kuning, dan untuk tidak berenang terlalu jauh dari garis pantai. Di Kuta, sama sekali tidak terdengar peringatan seperti itu padahal ombak di Pantai Kuta relatif lebih ganas daripada ombak di Pantai Pangandaran. Pengeras suara di Pantai Kuta hanya difungsikan sebagai alat panggil agar wisatawan yang datang berkelompok berkumpul kembali karena waktu kunjungan yang ditentukan sudah selesai. Efektif atau tidaknya pengawasan yang dilakukan lifeguard dapat dilihat dari data korbannya. Setiap tahun rata-rata terjadi 138 kasus kecelakaan di sepanjang pantai Kabupaten Badung, dan sekitar 8% di antaranya meninggal dunia. Korban yang meninggal sebagian besar akibat lepas dari pengawasan lifeguard. Memang tidak diketahui pasti berapa kasus yang terjadi di wilayah Pantai Kuta. Namun sebagai tindakan antisipasi, Balawista Kuta sebaiknya meningkatkan pengawasan dan memberikan peringatan pada wisatawan melalui pengeras suara.

SIMPULAN

13

Lifeguard Balawista Pantai Kuta memang salah satu lifeguard yang membanggakan Indonesia di dunia internasional, tetapi reputasi tersebut seharusnya berjalan seiring dengan kinerja mereka sebagai petugas pengawas, penolong, dan penyelamat. Jika mereka lebih sering duduk-duduk dan bercengkrama dengan wisatawan asing, kesan yang telihat di mata wisatawan adalah mereka cenderung tidak ada bedanya dengan para beach boy atau anak pantai. Faktanya mereka adalah lifeguard, dan di pundak para lifeguardlah keselamatan nyawa wisatawan berada. Kesiagaan dan kesigapan lifeguard diperlukan sewaktu-waktu tanpa bisa diprediksi. Karena itulah seharusnya lifeguard Balawista Kuta memberikan pelayanan penuh mereka kepada para wisatawan dengan selalu siap siaga di pos pengawas dan wilayah tugas masing-masing demi menjaga keselamatan wisatawan Pantai Kuta. Begitupun ketika terjadi kecelakaan atau cedera air. Lifeguard Balawista Kuta sepenuhnya bertanggung jawab dan wajib melakukan tindakan penyelamatan secepat mungkin. Pelayanan yang diberikan lifeguard Balawista Kuta sangat penting sebagai bentuk jaminan kesalamatan kepada setiap wisatawan yang berkunjung ke Pantai Kuta.

DAFTAR PUSTAKA Marbun, SPH. 2009. Pengantar Pariwisata 1 dan Undang-Undang Republik Indonesia No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan. Bandung: STBA YAPARI-ABA.

Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata 04/UM.001/MKP/2008 tentang Sadar Wisata.

nomor: PM. Terdapat di

14

http://www.budpar.go.id/filedata/5476_1665-PM04.pdf. tanggal 2 Juni 2011.

Diakses

pada

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 1996 Tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan. Terdapat di http://www.bpkp.go.id/unit/hukum/pp/1996/067-96.pdf. Diakses pada tanggal 3 Juni 2011.

Pitana, I Gde dan Gayatri. 2005. Sosiologi Pariwisata. Yogyakarta: Andi. Saksono, Arie. 2008. Sapta Pesona Pariwisata Indonesia. Terdapat di http://ariesaksono.wordpress.com/2008/11/12/sapta-pesona-pariwisataindonesia/. Diakses pada tanggal 1 Juni 2011. _____. Lifeguard. Terdapat di http://en.wikipedia.org/wiki/Lifeguard. Diakses pada tanggal 3 Juni 2011.

*)

Fitrie Goesmayanti adalah mahasiswa semester VII Jurusan Bahasa Inggris STBA Yapari-ABA Bandung