P. 1
Konflik Sambas Menurut Fabri Lestari

Konflik Sambas Menurut Fabri Lestari

|Views: 107|Likes:
Dipublikasikan oleh Theodorus Buntono

More info:

Published by: Theodorus Buntono on May 01, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/03/2013

pdf

text

original

SOSIOLOGI

Theodorus Buntono – 30 – XI IS2

A. Awal Mula Terjadinya Konflik Sambas Konflik Sambas adalah pecahnya kerusuhan antar etnis di wilayah Kabupaten Sambas dan sekitarnya. Kerusuhan di Sambas sudah berlangsung sekitar tujuh kali sejak 1970, namun yang terakhir (tahun 1999) merupakan konflik terbesar dan akumulasi dari kejengkelan suku Dayak dan Melayu terhadap ulah oknum-oknum pendatang dari Madura. Akibatnya, orang-orang keturunan Madura yang sudah bermukim di Sambas sejak awal 1900-an itu ikut menjadi korban. Awal peristiwa dilatar belakangi kasus pencurian ayam oleh seorang warga suku Madura yang ditangkap dan dianiaya oleh warga masyarakat suku melayu. Peristiwa berkembang dengan bergabungnya ratusan warga suku Madura dan menyerang warga suku Melayu yang berakibat tiga orang suku Melayu meninggal dunia dan dua orang luka-luka. Selain itu terjadi pula kasus perkelahian antara kenek angkot warga suku Melayu dengan penumpang angkot warga suku Madura yang tidak mau membayar ongkos. Akibatnya terjadi saling balas membalas antara warga suku Melayu dibantu suku Dayak menghadapi warga suku Madura dalam bentuk perkelahian, penganiayaan dan pengrusakan. Peristiwa berkembang dengan terjadinya kerusuhan, pembakaran, pengrusakan, perkelahian, penganiayaan dan pembunuhan antara warga suku Melayu dibantu warga suku Dayak menghadapi warga suku Madura, yang meluas sampai kedaerah sekitarnya. Telah terjadi pengungsian warga suku Madura secara besar-besaran. Kemudian isu ini dieksploitir oleh kelompok-kelompok tertentu untuk kepentingannya. Peristiwa ini adalah kejadian yang kesepuluh sejak tahun 1977 dan juga pernah terjadi terhadap etnis yang lain. B. Kronologi Kejadian Konflik Sambas 1999 Konflik berkepanjangan antara suku Melayu dibantu suku Dayak melawan suku Madura ternyata bukannya menemui jalan penyelesaian namun sebaliknya semakin memanas. Perselisihan di antara dua kubu seperti tidak berkesudahan, dendam yang melekat pada suku-suku tersebut semakin lama semakin besar. Pemerintah pun belum menemukan jalan yang tepat untuk mendamaikan suku yang bertikai. Sebagai akumulasi pertikaian tersebut, pecahlah kerusuhan besar-besaran di Kabupaten Sambas pada tahun 1999. Konflik besar yang memberikan dampak luar biasa bagi kehidupan masyarakat Sambas bahakan masyarakat Kalimantan Barat. Pada tanggal 17 Januari 1999 pukul 01.30 WIB telah ditangkap dan dianiaya pelaku pencurian ayam warga suku Madura oleh warga suku Melayu. Kejadian ini menyulut amarah suku Madura yang kemudian membuat rencana penyerangan kepada suku Melayu. Dua hari kemudian, pada tanggal 19 Januari 1999 sekitar 200 orang suku madura dari suatu desa menyerang warga suku Melayu desa lainnya. Hari berikutnya terjadi perkelahian antara warga suku Madura dan warga suku Melayu karena tidak membayar ongkos angkot. Kejadian ini berkembang menjadi perkelahian antara kelompok dan antara desa yang disertai pembakaran, pengrusakan dan tindak kekerasan lainnya. Warga suku Melayu dibantu suku Dayak melakukan penyerangan, pembakaran, pengrusakan, penganiayaan dan pembunuhan terhadap warga suku Madura dan selanjutnya saling membalas. Peristiwa mengerikan tersebut memberikan dampak besar terutama bagi warga Madura yang merasa semakin tertekan oleh aksi kubu lawan yang semakin brutal. Kerusuhan ini berkembang semakin besar, sebagai akibatnya terjadilah pengungsian warga Madura dalam jumlah cukup besar menuju Singkawang dan Pontianak bahkan hingga ke Malaysia. Korban akibat kerusuhan Sambas terdiri dari ; 489 orang tewas, 168 orang luka berat, 34 orang luka ringan, 3.833 rumah dibakar dan dirusak, 12 mobil dan 9 motor dibakar atau dirusak, 8 masjid atau madrasah dirusak serta dibakar, 2 sekolah dirusak, 1 gudang dirusak, dan 29.823 warga Madura mengungsi. Kejadian tersebut tidak hanya mengakibatkan kepanikan bagi warga suku Melayu, suku Dayak maupun suku Madura. Kepanikan juga sangat dirasakan oleh masyarakat lain di kabupaten Sambas bahkan di Kalimantan Barat. Selain itu, aparat dan pemerintah setempat pun merasakan kepanikan tersebut. Meski demikian, aparat tetap dituntut untuk segera melakukan tindakan pengantisipasian kerusuhan tersebut. Tindakan aparat keamanan yang dilakukan antara lain melokalisir dan mencegah meluasnya kejadian, kemudian membantu mengevakuasi para pengungsi, melakukan pencarian dan penyelamatan suku Madura yang melarikan diri ke hutan, setelah dibentuk penampungan, aparat lalu membantu para pengungsi ditempat penampungan. Setelah kejadian tersebut , barulah aparat dan pemerintah mengadakan dialog dengan tokoh masyarakat dan pemuka agama, serta melakukan upaya penegakan hukum terhadap para pelaku kriminal. C. Pasca Kejadian Konflik Sambas Kerusuhan antarsuku yang terjadi di wilayah Sambas tersebut menyisakan masalah baru, yakni ribuan pengungsi yang berjejalan di tempattempat penampungan. Lebih dari 28 ribu pengungsi asal suku Madura memenuhi tempat penampungan yang tersebar di Singkawang dan Pontianak, ibu kota Kabupaten Sambas sekaligus Provinsi Kalimantan Barat. Para pengungsi itu sebagian besar adalah wanita, anak-anak, dan orang-orang lanjut usia. Pemerintah setempat terpaksa memakai gelanggang olahraga, stadion, asrama haji, barak militer, kantor pemerintah, kantor militer, dan bahkan gudang-gudang, untuk menampung pengungsi ini. Tapi jumlah pengungsi tetap lebih besar dari tempat yang tersedia. Asrama haji, misalnya, yang seharusnya hanya untuk 800 orang, dijejali lebih dari 3.000 pengungsi.

http://www.anneahira.com/macam-macam-suku-bangsa-di-indonesia.htm http://penakalbar.blogspot.com/2008/06/konflik-etnis-sambas-1999-pelanggaran.html http://febrilestari.blog.fisip.uns.ac.id/2011/12/26/konflik-sambas-ssbi/

b. apakah pulau di ujung timur Pulau Jawa itu bisa menampung mereka. Mereka terutama berasal dari Desa Sebubus dan Tinggak Sambas. Kehadiran Pasukan Penindak Kerusuhan Massal (PPRM). yang terdiri dari suku Madura 13 orang.com/2008/06/konflik-etnis-sambas-1999-pelanggaran. 76 bom molotov.336 senjata tajam. Pasca kejadian tersebut. telah banyak membantu penyelesaian peristiwa ini.blog. Warga setiap suku bangsa hendaknya menanamkan rasa saling menghargai satu sama lain. Pemerintah Kalimantan Barat sendiri sebenarnya sudah punya niat untuk memindahkan masyarakat Madura itu ke Kabupaten Ketapang.fisip.ac. Dikatakan bahwa sikap menghormati posisi masing-masing merupakan faktor penting dalam peristiwa ini.html http://febrilestari.anneahira. sehingga kapan saja mudah meledak. kesenjangan ekonomi antara suku pendatang dan suku asli serta adanya benturan budaya atau perilaku sosial.uns.SOSIOLOGI Theodorus Buntono – 30 – XI IS2 Sekitar 400 orang pengungsi lainnya ketakutan menjadi korban kebrutalan para penyerang.htm http://penakalbar. baik perbedaan suku. MS http://www. Masyarakat yang lemah.blogspot. Menyikapi peristiwa Sambas. Ada beberapa upaya proses hukum yang dilakukan pihak berwenang terhadap warga dua suku yang bertikai tersebut. Saran a. di wilayah Malaysia yang berjarak 105 kilometer dari Kuching. dan terpaksa lari menyelamatkan diri hingga ke perbatasan Serawak. Kerusuhan massal dipicu oleh adanya perkelahian individu antara suku yang berbeda dan selanjutnya meluas keseluruh kabupaten Sambas. Terutama pengungsi dari warga Madura yang hijrah ke Malaysia. wilayah maupun ekonomi. Kecamatan Paloh.apalagi dihajar krisis dari segala penjuru. Masyarakat Indonesia diharapkan dapat membangun jati dirinya sebagai masyarakat yang dapat saling menghargai dan menerima perbedaan. Namun niat itu langsung ditolak oleh masyarakat Dayak dan Melayu asal Ketapang. Pengungsi itu menyeberang dengan kapal laut dari Pelabuhan Paloh ke Pelabuhan Samatan.id/2011/12/26/konflik-sambas-ssbi/ . marginalisasi suku tertentu dalam menduduki posisi di pemerintahan. pemerinttah segera mengambil kebijakan mengenai penangan dari kasus ini terutama penegakkan hukum terhadap pelaku kerusuhan tersebut. 349 butir peluru setandard ABRI dan 441 butir peluru gotri. 86 ketapel. 2. Sambas. itu juga akan merepotkan. Barang bukti disita 607 pucuk senjata api rakitan. Nama Diampu oleh : : Febrianti Dwi Lestari Dra. Selain itu perbedaan budaya antara masyarakat pendatang dan warga setempat pun menjadi penyebab ketegangan antaretnis tersebut. Diharapkan ketegasan dari aparat agar selalu memprioritaskan untuk menjaga harmoni kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk. agama. jika semuanya harus dipulangkan ke Madura. A. Selain masalah pengungsi. Seluruh masyarakat Indonesia diharapkan dapat mengaplikasikan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” dalam kehidupan bernegara. di sebelah selatan Pontianak. B. Pelaku yang ditangkap 208 orang dan dalam proses peradilan sebanyak 59 orang. suku Melayu 42 orang dan suku Dayak 4 orang. Kesimpulan Dari penjelasan di atas dapat penulis simpulkan bahwa sebenarnya peristiwa konflik Sambas ini berakar antara lain pada masalah kesenjangan pendidikan. yang Kamis pekan lalu mendatangi Gubernur Kalimantan Barat Aspar Aswin. PENUTUP 1. d. 79 peluru pipa besi. Suyatmi. Serawak. 443 butir peluru timah. c. ras.com/macam-macam-suku-bangsa-di-indonesia. muncul masalah baru mengenai pengungsi. 8 botol dan 8 toples obat mesiu. Masyarakat Dayak dan Melayu tampaknya sudah punya tekad yang bulat untuk tidak lagi diusik oleh kehadiran warga Madura. 969 anak panah. Konflik ini juga menjadi suatu bukti belum terciptanya masyarakat sipil yang kuat. TNI dan Polri telah menjalankan perannya sebagai penyelaras demi tercapainya titik temu antara kelompok masyarakat yang bertikai.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->