Anda di halaman 1dari 15

BAB I DISIPLIN ILMU ADMINISTRASI NEGARA Gejolak untuk mengembangkan konsep baru ilmu administrasi Negara tampaknya sudah

mulai di rasakan pada akhir tahun 1960 dan awal tahun 1970-an Dwight Waldo menggegerkan Masyarakat Sarjana Administrasi Negara dengan isyaratnya yang terkenal bahwa administrasi Negara hidup di zaman yang penuh kekacauan (time of turbulence).Gejolak ini sebenarnya sudah di rasakan dikala di adakan suatu konferensi oleh masyarakat Administrasi Negara dengan disponsori American Academy of Political and Social Science tahun 1967. Terdapat kritik yang tajam di alamatkan kepada konferensi .kritik itu terutama datang dari kalangan muda ,para kritikus,praktisi muda,dan para mahasiswa yang merasa tidak puasdengan cara kerja dan pandangan ilmiah para sarjana administrasi Negara pada waktu itu,aneka kritik dan konferensi itu bermunculan,antara lain: Konferensi mencoba menghindari isu-isu utama saat itu ,kemiskinan

desa,kemeralatan,perang Vietnam,pertanggungjawaban etis parapejabat pemerintah; Konferensi gagal untuk menjadi lebih berani dalam menyarankan konsep atau teori baru yang positif; Konferensi di kuasai oleh sebeloum tahun 1960-an ; Tidak adanya minat yang memadai untuk menangani masalah social dan perubahanperubahan organisasi; Terlalu banyak mempertcayai pada keahlian dan kemampuan organisasi dan terlampau kecil mempersoalkan cara-cara birokratis; Sedikit minat untuk mau untuk memikirkan masalah-masalah batas ide-ide ,konsep-konsep,dan teori-teori yang berkembang

pertumbuhan,persoalan-persoalan organisasi dan kemerosotan; Sedikit pemikiran mengenai tuntutan-tuntutan dan keinginan-keinginan rakyat,dan isu tanggapan di terima oleh pejabat-pejabat ynag dipilih; Terdapat suatu pandangan yang terlampau optimis tentang apa yang bisa di lakukan oleh pemerintah atau administrasi Negara baik yang bisa maupun yang tidak bisa di capai.

A. Pentingnya Ilmu Administrasi Negara Perkembangan kehidupan masyarakat semakin hari semakin bertambah.hal ini sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.Manusia sebagai salah satu anggota masyarakat,kebutuhanpun semakin bertambah ini akan mebawa persoalan pemenuhannya. Sebagian besar persoalan administrasi Negara adalah bersumber dari persoalan masyarakat.Administrasi Negara merupakan suatu system yang menjawab persoalan-persoalan masyarakat.Geraild Caiden menandaskan bahwa disiplin administrasi Negara pada hakikatnya adalah suatu disiplin yang menaggapi masalah-masalah pelaksanaan persoalan-persoalan masyarakat(public affairs) dan manajemen dari usaha-usaha masyarakat (public business). B. Tumbuh dan Berkembangnya Ilmu Administrasi Negara Di dalam bagian ini akan diuraikan riwayat tumbuh dan berkembangnya ilmu

administrasi Negara yang akan di bagi atas bagian yaitu: 1. Membahas perkembangan secara umum 2. Memmbahas perkembanagan paradigm

Kedua bagian tersebut masih mengenalkan pengalaman-pengalaman yang terjadi secara empiris di Negara-negara asal mula administrasi berada,yakni di Eropa dan Amerika Serikat.

1. Latar Belakang Sejarah Perkembangan Ilmu Administrasi Negara Administrasi Negara sebenarnya sudah ada semenjak dahulu kala,seperti yang di singgung di depan,hal itu akan timbul dalam suatu masyarakat yang terorganisasi.Dalam catatan sejarah peradaban manusia,Cina,dan Mesir Kuno,dahulu sudah di dapatkan suatu system penatan pemrintahan.sistem penataan tersebut pada saat sekarang ini di sebut dengan administrasi Negara. Negara adalah berkuasa ,sentralisasi dan abadi (durable),Adapun birokrasi yang berorientasi legalistic haruslah mengabdikan kepada fungsi yang menjamin keinginannya. adanya

stabilitas yang langgeng dan mampu menyatakan untuk melindungi keinginan-

Ada tiga struktur dasar yang membedakan dengan system administrasi inggris yaitu: 1. System federal dan khususnya system kekuasaan yang terbatas pada pemerintahan nasiaonal 2. Pemisahan kekuasaan eksekutif dari kekuasaan legislative ditingkat pemerintahan nasional,Negara bagian,dan tingat kota. 3. Besarnya rasa takut dan tidak percaya atas memusatnya kekuasaan eksekutif. Sejak revolusi Amerika ,ada tiga perubahan pokok yang memberikan pengaruh terhadap administrasi Negara yaitu: Terdapatnya dua system kepartaian Inovasi yang luas oleh partai-partai politik terhadap urusan-urusan administrasi pemerintahan;dan Terdapatnya usaha untuk menggalakkan spesialisasi,diferivikasi,dan profesionlisasi di semua jabatan.

2. Perkembangan Paradigma dalam Administrasi Negara Kalau di ikuti rumusan-rumusan administrasi Negara ,akan diperoleh berbagai definisi,seseorang mencoba untuk memberikan rumusan yang relative tajam dalam lingkaran akademis,orang laian memberikan tandingan rumusan konsepsi yang tidak kalah penting. C. Ciri-ciri Administrasi Negara Cirri-ciri yang di kemukakan di sini bukanlah bermaksud untuk memberikan batas yang sempit dari disiplin administrasi Negara ,melainkan untuk lebih mengenalnya agar di peroleh pemahaman yang komprehensif. Berikut ini akan dicoba untuk menguraikan cirri-ciri yang dapat dipergunakan untuk mengidentifikasi administrasi Negara,memang dalam banyak hal admi nistrasi Negara berbada dengan swasta,perbedaan itu antara lain adalah; Pelayanan yang di berikan oleh administrasi Negara bersifat lebih urgen dibandingkan dengan pelayanan yang diberikan oleh organisasi-organisasi swasta

Pelayanan ang diberikan oleh administrasi Negara pada umumnya bersifat monopoli atau semi monopoli. Dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat umum, administrasi Negara dan administratornya relative berdasarkan Undang-Undang dan peraturan. Administrasi negara dalam memberikan pelayanan tidak dikendalikan oleh harga pasar, tidak seperti yang terjadi dalam organisasi perusahaan yang terikat oleh harga pasar dan untung rugi. Usaha-usaha dilakukan oleh administrasi negara terutama dalam negara demokrasi ialah dilakukan sangat tergantung pada penilaian mata rakyat banyak itulah sebabnya pelayanan yang diberikan oleh administrasi negara hendaknya adil tidak memihak, professional, bersih, dan mementingkan kepentingan orang banyak dibandingkan kepentingan pribadinya. D. Ringkasan Ilmu administrasi negara tidaklah statis. Ia selalu ditatantang oleh perubahan-parubahan zamanya. Dasa warsa 70-an merupakan momentum yang menunjukan kedewasaan dalam menghadapi perubahan-perubahan dan tantangan untuk maju. Di Indonesia disaat yang sama, sehabis pergantian orde pemerintahan, maka pembaharuan system administrasi negara mengalami kemajuan yang pesat pula. Pembaharuan ini sejalan dengan program pemerintah untuk melaksanakan pembangunan berencana lima tahunnya. Perkembangan administrasi negara dapat diikuti dengan mengkaji suatu model analisis yang umumnya dikenal dengan paradigma. Sampai pada taraf yang sekarang ini dikenal adanya lima paradigm, yakni paradigm pertama sampai paradigm kelima. Paradigma-paradigma tersebut dibatasi masa interensinya. Demikianlah kesimpulan ringkasan dari bab pertama ini yang menurut hemat penulis sebagai bab pengantar u ntuk memasuki persoalan-persoalan yang dibahas dalam bab-bab berikutnya.

BAB II ADMINISTRASI NEGARA DAN PUBLIC POLICY Dimensi pertama yang menjadi pokok perhatian administrasi negara adalah public

policy. Bidang kajian ini amat penting bagi administrasi negara karena selain dia menetukan arah umum yang harus ditempuh untuk mengatasi isu-isu masyarakat, ia pun dapat dipergunakan untuk menetukan ruang lingkup permasalahan yang dihaadapi oleh pemerintahan. Selain itu, dapat pula diprgunakan untuk mengetahui betapa luas dan besarnya organisasi pemerintah ini. Munculnya public policy dalam administrasi negara sebagian dikarenakan banyaknya teknisi-teknisi administrasi menduduki jabatan politik, dan sebagian lainnya karena bertambahnya tuntutan-tuntutan masyarakat untuk mendapatkan kebijaksanaan yang lebih baik. Banyak orang menafsir bahwa public policy adalah hasil dari suatu pemerintahan dan administrasi negara adalah sarana untuk mempengaruhi terjadinya hasil-hasil tersebut. Dengan demikian, public policy lebih diartikan sebagai apa yang dikerjakan oleh pemerintah dibandingkan dari pada bagaimana proses hasil-hasil tersebut dibuat. A. Pengertian Public Policy 1. Perkembangan Public Policy Orang pertama yamg menggambarkan idea public policy dapat dipelajari secara sistematik adalh John Dewey. Didalam bukunya Logic:The Theory of Inquiry Dewey memberikan perhatian terhadap sifat eksperimen dari cara mengukur

kebijaksanaan(policy). Digambarkan pua bagaimana rencana-rencana tindakan harus dipilih dari alternatife-alternatife dan bagaimana mengamati akibat-akibat yang dapat dipergunakan sebagai uji coba yang tepat. Buah pemikiran Dewey tersebut kemudian diambil alih oleh Harold Lasswell, Seorang akseperimetalis ilmu politik yang pertama kali mempertajam ide ilmu polcy sebagai suatu disiplin yang tidak terpisahkan dari disiplin-disiplin lainnya. Ilmu polcy adalah study tentang proses pembuatan keputusan atau proses memilih dan mengefaluasi informasi yang tersedia dan bergayutan untuk memecahakan masalahmasalah tertentu. Ilmu seperti ini adalah memusatkan pada lima tugas intelektual didalam memecahkan persoalan. Lima tugas intelektual tersebut antara lain :

Peelasan tujuan-tujuan Penguraian dari kecenderungan-kecenderungan Penganalisaan keadaan-keadaan Proyeksi dari pengembangan masa depan dan penelitian Evaluasi penelitian Evaluasi dan pemolihan alternative. Didalam ilmu administrasi negara studi mengenai kebijaksanaan ini sangat populer, akan tetapi sebagaimana halnya barang baru bidang kajian ini sebagaian besar ,masih deskriptif, dan masih sangat sulit me,bangunnya. Menurut Herbert A. Simon mengatakan bahwa studi tentang policy adalah memin jam dari semua ilmu-ilmu social, dan analisis tentang policy ini dipandang sebagai bidang studi yang bisa berintegrasi dengan ilmu social. 2. Pengertian Public Policy Dalam arti yang luas policy mempunyai dua aspek pokok sebagai berikut : 1. Policy merupakan pratika social, bukan event yang tunggal atau terisolir. Dengan demikian, sesuatu yang dihasilkan pemerintah berasal dari segala kejadian dalam

masyarakat dan dipergunakan pula untuk kepentingan masyarakat. Kejadian semacam ini tumbuh dalam pratika kehidupan masyarakat, dan tidak merupakan peristiwa yang berdiri sendiri, terisolasi dan asing bagi masyarakat. 2. Policy adalah suatu peristiwa yang ditimbulkan oleh baik untuk mendamaikan claim dari pihak-pihak yang konflik, atau untuk menciptakan incentive bagi tindakan bersama bagi pihak-pihak yang ikut menetapkan tujuan, tetapi mendapatkan perlakuan yang tidak professional dalam usaha bersama. Dengan demikian, jika ada pihak-pihak yang konflik usuha untuk mengatasinya antara lain dihasilkan suatu policy. Dari dua aspek pokok tersebut dapat disimpulkan bahwa policy disuatu pihak dapat berbentuk suatu usaha yang kompleks dari masyarakat untuk kepentingan masyarakat. Dilain pihak policy merupakan suatu teknik atau cara mengatasi suatu konflik dan menimbulkan insentif

3. Public Policy dan Ilmu Policy Secara tradisional ilmu politik memusatkan perhatian utamanya kepada struktur institusional dan pertimbangan filosofis dari pemerintah. Hal ini meliputi studio tentang pengaturan-pengaturan konstitusional misalnya : Perimbangan pusat dan daerah Pemisahan kekuasaan Peninjauan tentang hokum Kekuasaan dan tugas kewajiban dari lembaga-lembaga negara seperti DPR, MPR, Kepresidenan, MA, DPA, dan lain sebagainya. Sekarang banyak ahli-ahli ilmu politik beralih pandangan kearah public policy, yakni untuk menjelaskan dan menerangkan sebab-sebab dan akibat-akibat dari aktifitas pemerintahan. Hal seperti ini dapat melibatkan suatu deskripsi tentang isi dari public policy dan analsis tentang dampak social, dan kekuatan-kekuatan polotik dalam batas isi public policy tersebut. Ada beberapa alas an mengapa ahli-ahli ilmu politik memberikan perhatian yang besar terhadap public policy. Alasan-alasan itu antara lain : a. Public policy dapat dipelajari untuk alasan-alasan ilmiah yang benar-benar murni ( purely scientific reasons). Dalam hal ini pemahaman tentamg sebab akibat dari keputusankeputusan policy yang dibuat dapat mengembangkan pengetahuan kita mengenai kehidupan social. b. Public policy dapat dipelajari pula untuk alas an-alasan yang professional. Memahami sebab-akibat dari public policy berarti sama halnya memberikan kepada kita mengamalkan pen getahuan social untuk memecahkan masalah-masalah yang praktis. c. Public policy dapat dipelajari de ngan tujuan-tujuan politik. Alasan ini dapat dipergunakan untuk meyakinkan agar diperolrh suatu kebijaksanaan yang tepat dalam rangka mencapai tujuan yang tepat pula. Sering kali dikemukakan bahwa ilmu politik tidak bisa menjadi pendaim atau impoten didalam menghadapi krisis social dalam politik. Dan ahli-ahli ilmu politik memepunyai kewajiban moral untuk meninhkatkan secara khusus public policy.

4. Public Policy dan Birokrasi Jikalau dimuka dikatakan bahwa public policy selalu dihubungkan dengan kegiatankegiatan pemerintah, maka public policy tidak bisa dipisahkan dengan birokrasi. Pemerintah yang organisasinya disusun berdasarkan prinsip-prinsip birokrasi

mempunyai lingkup kegiatan yang amat luas seperti yang diuraikan didepan. Jika kegiatan-kegiatan dan tugas-tugas pemerintah bertambah luas maka akan mengakibatkan bertambahnya birokrasi. Hal ini berarti bahwa penguasa-penguasa politik mendapat tambahan beban, dan kemudian memksanya untuk memikirkan perluasan infrastruktur birokrasi yang siap dilibatkan diri terhadap kegiatan perencanaan public opolicy dibidang masing-masing. 5. Ruang Lingkup Studi Public Polocy NASPAA mencoba merumuskan bidang kajian analisis policy itu meliputi hal-hal berikut ini : Suatu proses memformulasikan, melaksanakan dan mengefaluasi policy; Suatu starategi un tuk mengoptimalkan dan memilih alternative-alternatif; Suatu atribut yang jelas untuki membedakan antara policy yang masih bersifat relative kesuatu policy yang jelas dari bidang-bidang fungisional tertentu, seperti kesehatan dan transportasi Memerlukan kecakapan-kecakapan untuk analisis social ekonomi, diagnosa politik, identifikasi isu, dan evaluasi program; Mempunyai pengetahuan dan komitmen terhadap nilai kepentingan masyarakat umum (public interest) seperti analisis yang tajam dengan mempergunakan data yang ada mengenai luasnya pilihan-pilihan masyarakat umum. Adapun Gerald Caiden dengan beberapa revisi dan tambahan dari penulis merumuskan bahwa ruang linkup studi public policy meliputi hal-hal sebagai berikut : a. Adanya partisipasi masyarakat (public participation) b. Adanya kerangka kerja policy (Policy Framework) c. Adanya strategi-strategi policy (Policy Strategies) d. Adanya kejelasan tentang kepentin gan masyarakat (Public Interest)

e. Adanya pelembagaan lebih lanjut dari kemampuan public policy. B. Model-Model Dalam Proses Pembuatan Public Policy Ada beberapa model yang dapat dipergunakan untuk menjelaskan seluk-beluk proses Pembuatan public policy. Model menurut definisi adalah bentuk abstraksi dari suatu kenyataan yang merupakan suatu perwakilan yang disederhanakan dari beberapa gejala dunia kenyataan. Model yang dipergunakan dalam public policy ini termasuk golongan model yang konseptal. Model seperti ini berusaha untuk : 1. Menyederhanakan dan menjelaskan pemikiran-pemikiran tentang politik dan public policy; 2. Mengdentifikasikan aspek-aspek yang penting dari persoalan-persoalan polcy 3. Menolong seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain dengan memusatkan pada aspek-aspek (veatures) yang esensial dalam kehidupan politik; 4. Mengarahkan usaha-usaha kearah pemahaman yang lebih baik mengenai bublic policy dengan menyarankan hal-hal manakah yang dianggap penting dan tidak penting; 5. Menyarankan penjelasan-penjelasan untuk public policy dan meramalkan akibatakibatnya. A. Penggunaan Model Dalam Public Policy Walaupun sebelumnya telah di berikan selintas uraian mengnai kegunaan model, ada baiknya diberikan penjelasan lebih lengkap kegunaan medel yang eksplisit untuk public policy. Suatu model dalam public policy merupakan penjelasan secara abstraksi atau perwakilan dari kehidupan politik. Model berusaha untuk memperjelas,

menyedarhanakan, dan memberikan pengertian mengenai

hal-hal yang sebenarnya

dianggap penting bagi politik dan public policy. Berikut ini uraian dan bagaimana kriteria sebuah model sehingga bermanfaat dalam public policy : Pemanfaatan sebuah model akan tergantung pada kemampuannya untuk menyusun dan menyederhanakan kehidupan politik. Sebuah model seharusnya dapat pula dipergunakan mengdentifikasikan aspekaspek nyata yang signifikan dari public policy

Pada umunya suatu model ada kesamaaan dengan realitasinya. Konsep atau model seharusnya mampu mengomunikasikan sesuatu yang mengandung arti. Sebuah model hendaknya mampu untuk memgadakan penelitian langsung terhadap public policy.

Demikianlah beberapa criteria dan kegunaan model didalam public policy. Dari enam butir diatas, tampaknya semua akan tergantung sepenuhnya pada moidel itu sendiri didalam peranannya menjelaskan public policy. B. Model Elit (Policy Sebagai Preferensi Elit) Istilah elit menurut kamus adalah bagian yang terpilih atau tersaring. Jika diterapkan dalam kehidupan kelompok elit adalah bagian yang superior secara social dari suatu masyarakat.Dan jika diterapkan dalam kehidupan politik, elit adalah bagian atau kelompok tertentu dari suatu masyarakat yang sedang berkuasa. Public policy dalam model elit ini dapat dikemukakan sebagai preferensi dari nilai-nilai elit yang berkuasa. Walaupun demikian, sering dikemukakan oleh tokoh-tokoh elit itu sendiri bahwa public policy yang dianutnya merefleksi dari tuntutan-tuntutan rakyat banyak. Hal tersebut tampaknya lebih memancarkan sebagai mitos dibandingkan dari kenyataan yang sesungguhnya. Teori model elit menyarankan bahwa rakyat dalam hubungannya dengan public policy hendaknya dibuat apatis atau miskin akan informasi. Teori model elit secara singkat dapat dirumuskan sebagai berikut : a. Masyarakat dalam suatu negara tertentru dibagi atas dua bagian, yakni bagian yang mempunyai kekuasaan dan bagian yang tidak mempunyai kekuasaan. b. Sekelompok kecil atau beberapa orang yang memerintah adalah bukan mewakili secara tipikal dari masa yang diperintah. c. Untuk mencapai stabilitas dan menghindari adanya revolusi maka gerakan-gerakan nonelit yang membahayakan posisi elit harus dikendalikan secara kontinyu d. Elit membagi consensus atas nama nilai-nilai dasar suatu sistem social yang adadan perlindungan dari sistem tersebut

e. Public policy bukanlah merefleksi dari tuntutan-tuntutan masyarakat pada umumnya, melainkan agak menonjolkan nilai-nilai kepentingan sekelompok orang yang berkuasa (elit). Perubahan-perubahan dalam public policy bersifat tambal-sulam ( incremental) dari pada bersifat revolusioner) f. Elit yang aktif adalah relatif kecil menjadi sasaran dari pengaruh langsung masa yang apatis. Elit lebih banyak mempengaruhi masa daripada masa mempengaruhi elit. C. Model Kelompok (Policy Sebagai Keseimbangan Kekompok) Teori kelompok mulai dari interaksi diantara kelompok adalah fakta sentral Dario politik dan pubic policy. Menurut ahli ilmu politik David Truman suatu kelompok berkepentingan adalah suatu kelompok yang ikut membagi sikap dengan mengajukan tuntutan-tuntutan terte4ntu atas kelompok lainnya dalam suatu masyarakat untuk kemantapan, pemeliharaan dan kesengan dari suatu bentuk perilaku yang terdapat dalam sikap-sikap yang dibagikan. Adapun tugas dan kewajiban dari suatu sistem politik adalah untuk mengarahkan konflik kelompok dengan cara : Menetapkan aturan permainan dalam kelompok-kelompok yang sedang berjuang; Mengatur kompromi dan menyeimbangjan kepentingan-kepentingan; Mewujudkan kompromo-kompromi tersebut dalam rupa bublic policy Melaksanakan pelaksanaan usuha-usuha dalam kompromi tersebut. D. Model Kelembagaan ( Institution Model) (policy sebagai hasil dari lembaga) Struktur pemerintahan dan lembaga-lembaga yang ada telah lama menjadi pusat perhatian dar ilmu politik. Secara tradisional ilmu politik dirumuskan sebagai suatu studi tentang lembaga-lembaga pemerintahan. Public policy adalah ditentukan, dilaksanakan, dan dipaksakan secara otoritatif oleh lembaga-lembaga pemerintahan tersebut. Hubungan antara buplic policy dan lembaga pemerintahan tersebut sangat erat. Pendek kata suatu polici tidaklah menjadi public policy sampai ia diambil, dilaksanakan, dan dipaksakan oleh beberapa lembaga pemerintah, Lembaga pemerintah memberikan public policy dengan tiga karakteristik antara lain : Pemerintah meminjamkan legitimasi kepada kebijaksanaan (policy).

Kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah pada umumnya dipandang sebagai kewajiban yang legal yang harus dipatuhi oleh semua warga negara.

Policy-policy

pemerintah

melibatkan

universalitas.

Hanya

policy-policy

pemerintah yang mempu memasuki dan menjangkau semua rakyat dalam suatu masyarakat Pemerintah memonopoli suatu paksaan dalam masyarakat. Hanya pemerintah yang bisa mengesahkan tindakan untuk memenjarakan seseorang yang melawan policynya. E. Model Proses (Policy Sebagai Suatu Aktivita Politik) Proses politik dan perilaku telah lama menjadi pusat perhatian ilmu politik pada beb erapa dasawarsa belakangan ini. Perilaku politik yang tergolonh modern sejak perang dunia II telah mempelajari aktivita-altivita yang dilakukan oleh para pemilih , kelompokkelompok berkepentingan, pembuat undang-undang, presiden, birokrat, badan-badan peradilan dan pelaku-pelaku politik lainnya. Salah satu tujuan utama yang diinginkan adalah untuk menemukan suatu pola aktivitas atau proses yang mudah

diidentivikasikan.Beberapa ahli ilmu politik telah mencoba untuk menmgelompokan berbagai aktivita menurut hubungannya dengan public policy, Hasilnya adalah serangkaian proses policy yang biasanya mengikuti pola umur sebagai berikut : a. Identifikasi persoalan-persoalan . Tuntutan-tuntutan untuk kegiatan pemerintah b. Perumusan usul-usul policy. Prakarsa dan pengembgan usul-usulan program pemerintah c. Pengsehan policy. Memilih suatu usulan, pembentukan dukungan politik untuik usulan tersebut dan mengesahkan itu sebagai undang-undang hokum. d. Pelaksanaan policy. e. Evaluasi policy.

F. Model Rasionalisme ( Policy Sebagai Pencapaian yan Efisien) Suatu policy yang rasional adalah dirancang secara tepat untuk memaksimalkan hasil nilai bersih. Dengan nilai hasil bersih ini dimaksudkan bahwa semua nilai-nilai yang bergayutan didalam masyarakay dikeytahui. Untuk memilih policy yang rasional, maka pembuat policy harus : Mengetahui semua preverensi nilai-nilai dalam masyarakat dan tekanan kecenderungannya;

Mengetahui semua pilihan-pilihan atau alternatif-alternatif policy yang tersedia Mengetahui semua konsekuensi-konsekuensi dari setiap pilihan-pilihan policy Memperhitungkan ratio yang dicapai bagi setiap nilai-nilai social yang dikorbankan pada alternatf policy. Memilih alternative policy yang paling evisien.

C. Ringkasan Studi tentang policy merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan ilmu administrasi negara. Secara instingtif orang-orang yang bekerja sama dalam suatu kelompok tertentu, selalu bersandar dan bertumpuk pada apa yang dilakukan oleh pimpinannya. Mereka percaya bahwa pimpinannya iti bisa membuat keputusankeputusan atau kebijaksanaan-kebijaksanaan tertentu untuk mereka. Dalam bab ini telah banyak diuraikan apa sebenarnya public policy, lingkup permasalahnnya, dan hubungan-hubungan antara buplic policy dengan politik, birokrasi dan ilmu administrasi negara. Selain itu untuk analisis kebijaksanaan-kebijaksaan yang dibuat oleh pemerintah maka disajikan pula model-model didalam public policy. Demikian ringkas dari bab ini yang mencoba menjelaskan betapa pentingnya ilmu administrasi mengembangkan studi public policy.

TUGAS: PENGANTAR ILMU ADMINISTRASI

OLEH: WAODE ASMINI C1A2 100 42

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK JURUSAN ADMINISTRASI NEGARA UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI 2011