Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN TETAP BIOKIMIA

I. II. III.

Nomor Percobaan Judul Percobaan Tujuaan Percobaan

: X : KARBOHIDRAT : Mengetahui cara identifikasi karbohidrat secara kualitatif membuktikan adanya gula pereduksi atau gula inversi

IV.

Dasar Teori Pada umumnya bahan makanan itu mengandung tiga kelompok utama

senyawa kimia yaitu, karbohidrat, protein, dan lemak atau lipid. Karbohidrat merupakan senyawa karbon, hidrogen dan oksigen yang terdapat dalam alam. Banyak karbohidrat mempunyai rumus empiris CH2O, misalnya glukosa (C6H12O6). Karbohidrat adalah polihidroksi aldehid atau keton atau senyawa yang menghasilkan senyawa-senyawa ini bila dihidrolisa. Molekul karbohidrat terdiri atas atmo-atom karbon, hidrogen dan oksigen. Pada senyawa yang termasuk karbohidrat terdapat gugus OH, gugus aldehid atau gugus keton. Karbohidrat sangat beraneka ragam sifatnya. Salah satu perbedaan utama antara pelbagai tipe karbohidrat ialah ukuran molekulnya, diantaranya monosakarida, disakarida, oligosakarida dan polisakarida. (Fessenden : 1986) Karbohidrat dikelompokkan menjadi empat kelompok penting yaitu monosa-karida, disakarida, oligosakarida, dan polisakarida. Monosakarida merupakan karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisis dan tidak kehilangan sifat gulanya, contohnya : ribosa, arabinosa, fruktosa, glukosa. Disakarida merupakan karbohidrat yang bila dihidrolisis menghasilkan dua monosakarida yang sama atau berbeda, contohnya adalah sukrosa yang jika dihidrolisis akan menghasilkan

Dita Kurnia Sari (06091410016)kim09

13

glukosa dan fruktosa. Oligosakarida adalah karbohidrat yang bila dihidrolisis menghasilkan tiga hingga sepuluh monosakarida, contohnya adalah raffinosa yang dihidrolisis menghasilkan glukosa, fruktosa, dan galaktosa. Kelompok karbohidrat yang terakhir adalah polisakarida yang merupakan polimer monosakarida yang memiliki bobot molekul yang tinggi dan bila dihidrolisis akan menghasilkan lebih dari sepuluh monosakarida, contohnya adalah amilum, dekstrin, glikogen, selulosa dan lainnya. (Poedjiyadi, Anna :2006) Beberapa karbohidrat memiliki gugus keton. Adanya gugus keton dapat dibuktikan melalui uji seliwanoff. Fruktosa adalah karbohidrat yang memiliki gugus keton. Pada umumnya, monosakarida dan beberapa sakarida yang lain dapat membntuk osazon atau kristal kuning apabila direaksikan dengan fenilhidrazin (C6H5NHNH2). Proses pembentukan kristal osazon berawal dari satu molekul gula yang bergabung dengan satu molekul dari fenilhidrazin untuk membentuk hidrazon. Osazon tersebut berwarna kuning dan merupakan senyawa yang tidak larut dalam air. Kristal ini memiliki bentuk yang spesifik pada masing-masing monosakarida sehingga dapat digunakan untuk identifikasi lebih lanjut. Uji Iod digunakan untuk memisahkan amilum atau pati yang terkandung dalam larutan tersebut. Reaksi positifnya ditandai dengan adanya perubahan warna menjadi biru. Karbohidrat merupakan senyawa senyawa aldehida atau keton yang mempunyai gugus hidroksil. Senyawa seyawa ini menyusun sebagian besar bahan organic di dunia karena peran multipelnya pada semua bentuk kehidupan. Karbohidrat bertindak sebagai sumber energi, bahan bakar, dan zat antara metabolisme. Contoh : pati pada tumbuhan dan glikogen pada hewan adalah polisakarida yang dapat dimobilisasi untuk menghasilkan glukosa (bahan bakar utama untuk pembentukan energi). Gula ribosa dan deoksi ribosa pembentuk sebagian kerangka struktur RNA dan DNA. Fleksibilitas cincin kedua gula ini penting pada penyimpanan dan ekspresi informasi genetika. Adapun berbagai macam karbohidrat yang terdapat dalam makanan diantaranya adalah amilum atau pati dan sukrosa (gula tebu). Karbohidrat (glukosa) dibentuk dari karbondioksida

Dita Kurnia Sari (06091410016)kim09

13

dan air dengan bantuan cahaya matahari dan klorofil dalam daun. Selanjutnya glukosa yang dihasilkan diubah menjadi amilum dan disimpan pada buah atau umbi. Reaksinya adalah: 6CO2 + H2O C6H12O6 + 602

Karbohidrat atau sakarida terdapat gugus hidroksil (-OH), gugus aldehid atau gugus keton. Maka dapat didefinisikan bahwa karbohidrat sebagai senyawa polihidroksialdehida atau polihidroksiketon, atau senyawa yang dihidrolisis dari keduanya. Karbohidrat dapat digolongkan berdasarkan jumlah monomer penyusunnya. Ada 3 jenis karbohidrat berdasarkan penggolongan ini, yaitu: 1. 2. 3. Monosakarida Disakarida (Oligosakarida) Polisakarida

Monosakarida Monosakarida merupakan senyawa karbohidrat yang paling sederhana yang tidak dapat dihidrolisis lagi. Umumnya senyawa ini adalah aldehid atau keton yang mempunyai 2 atau lebih gugus hidroksil. Beberapa molekul karbohidrat ada yang mengandung unsur nitrogen dan sulfur. Rumus empiris karbohidrat adalah (CH2O)n. Jika gugus karbonil pada ujung rantai monosakarida adalah turunan aldehid maka monosakarida ini disebut aldosa. Jika gugus karbonil pada ujung rantai monosakarida adalah turunan keton maka monosakarida ini disebut ketosa. Monosakarida yang paling kecil n = 3 adalah gliseraldehid dan dihidroksiaseton. Disakarida (Oligosakarida) Disakarida merupakan karbohidrat yang terbentuk dari 2 sampai 10 monosakarida. Yang termasuk kelompok ini adalah disakarida, trisakarida, Dan seterusnya. Disakarida terdiri dari 2 monosakarida yang terikat dengan O-

Dita Kurnia Sari (06091410016)kim09

13

Glikosidik. 3 senyawa disakarida utama yang penting dan melimpah ruah di alam yaitu sukrosa, laktosa dan maltosa. Ketiga senyawa ini memiliki rumus molekul yang sama (C12H22O11) tetapi struktur molekul berbeda. Sukrosa atau gula pasir dibuat dari tetes tebu. Sikropsa lebih manis dari glukosa, tetapi kurang manis dibandingkan dengan fruktosa, sangat mudah larut dalam air. Gula ini dipakai untuk membuat sirup, gula gula dan pemanis makanan. Jika senyawa ini dihidrolisis akan dihasilkan satu molekul glukosa dan satu molekul fruktosa. Laktosa disebut gula susu karena terdapat banyak dalam air susu. Biasanya diperoleh dari air susu. Gula ini merupakan gula yang paling suka larut dalam air dan paling tidak manis. Enzim dalam bakteri tertentu akan mengubah laktosa menjadi asam laktat, hal ini terjadi bila susu berubah menjadi masam. Laktosa dipakai untuk membuat makanan bayi dan diet spesial. Jika dihidrolisis akan dihasilkan 1 molekul glukosa dan 1 molekul galaktosa. Maltosa disebut sebagai gula mout, banyak terdapat pada jelai yang sedang berkecambah. Senyawa ini merupakan hasil hidrolisis parsial dari pati. Dibandingkan dngan sukrosa zat ini lebih sukar larut dan kurang manis. Senyawa ini dipergunakan untuk penyusun makanan bayi, susu bubuk, dan bahan makanan lainnya. Jika dihidrolisis akan dihasilkan 2 molekul glukosa. Poisakarida Polisakarida tersusun oleh monosakarida yang tergabung dengan ikatan glukosida. Pati merupakan salah satu contoh polisakarida yang tersusun oleh glukosa. Dipandang dari strukturnya, butir butir pati terdiri atas 2 bagian yaitu: Bagian amilosa yang merupakan rantai lurus polimer glukosa, dan bagian amilopektin yang trdiri atas rantai bercabang polimer glukosa jika dihidrolisis sempurna akan dihasilkan molekul molekul glukosa.

Dita Kurnia Sari (06091410016)kim09

13

Identifikasi monosakarida dilakukan berdasarkan sifat kemampuannya mereduksi, yang dilakukan menggunakan uji Benedict. Uji Molicsch dipergunakan untuk mengenal karbohidrat yang mudah mengalami dehidrasi membentuk furfural maupun dihidrosifurfural yang lebih lanjut berkondensasi dengan resorsinol, orsinol ataupun a-naftol. Reagen Seliwanof dipergunakan untuk mengenal adanya karbohidrat yang mengandung gugus fungsional aldehid seperti fruktosa dan sukrosa. Pereaksi barfoed digunakan secara umum untuk mengenal adanya monosakarida. Uji iodin secara khusus dipergunakan untuk mengidentifikasi adanya polisakarida amilum.

V.

Alat Dan Bahan : Alat :

1. Tabung Reaksi
2. Pipet Tetes

3. Spot Plate 4. Gelas ukur 5. Kaki tiga 6. Bunsen Bahan : Larutan amilum Larutan dekstrin Larutan iodium Larutan sukrosa

Larutan Karbohidrat Asam Asetat pekat Larutan alpha nafthol 5% dalam etanol

Dita Kurnia Sari (06091410016)kim09

13

Larutan laktosa Larutan Benedict Larutan Yodium 0,1N HCl encer

Natrium Sitrat Larutan Tepung Beras Larutan Tepung Tapioka

VI.

Prosedur Percobaan 1. Reaksi Molish

Dalam tabung reaksi yang bersih dan kering dimasukkan 2ml larutan karbohidrat dan 3 tetes larutan alpha nafthol. Melalui diding tabung tambah secara perlahan lahan larutan asam sulfat pekat sampai terbentuk cincin coklat. Ulangi percobaan diatas dengan mempergunakan 2ml air sebagai pengganti 2ml larutan karbohidrat. (percobaan blako), amati apa yang terjadi 2. Reaksi Yodium Pada plat tetes yang bersih dan kering dimasukkan 3 tetes larutan yang diperiksa. Campur dengan 2 tetes larutan yodium. Terbentuk warna biru untuk amilum dan warna merah anggur untuk dekstrin. 3. Reaksi Benedict Kedalam tabung reaksi yang bersih dan kering 1ml larutan yang akan diselidikan dan kemudian dicampurkan dengan 2ml laruta benedict, kocok.

Dita Kurnia Sari (06091410016)kim09

13

Didihkan selama 2 menit atau masukkan dalam air yang medidih selama 5 menit. Perhatikan warna reaksi yang terjadi. 4. Penentuan Kadar Glukosa (Yodimetri) Di timbang seksama sampel padat yang mengandung kira-kira 100 mg glukosa yang tidak mengandung reduktor lainnya, dilarutkan di dalam 50ml air suling di dalam erlenmayer tertutup. Ditambahkan 25 ml yodium 0,1 N dan 10 ml larutan natrium karbonat 14,3%, ditutup dan dibiarkan selama 30 menit ditempat gelap. Kemudian ditambahkan 15 ml asam klorida encer dan yodium yang tersisa dengan larutan natrium tiosulfat 0,1 N sampai terjadi warna kuning lemah. Ditambahkan lagi indikator kanji dan lanjutkan titrasi sampai warna biru hilang, dilakukan titrasi blanko. Tiap ml yodium 0,1 N setara dengan 9,9185 mg glukosa

VII.

Hasil Pengamatan Reaksi Molish Tabung Bahan 2 ml tepung beras + 3 tetes alpha napthol

Pereaksi

H2SO4

Hasil Larutan menjadi bening kemudian ditetesi H2SO4 terbentuk cincin coklat keungunanpada larutan Larutan tetap kemudian ditetesi H2SO4 terbentuk cincin coklat keungunan pada larutan Larutan bening kemudian ditetesi H2SO4 terbentuk cincin coklat kehijauan pada larutan.

II

2 ml tepung tapioka + 3 tetes alpha napthol

H2SO4

III

2 ml air + 3 tetes alpha napthol

H2SO4

Dita Kurnia Sari (06091410016)kim09

13

Reaksi Yodium Plat Tetes I Bahan 3 tetes sampel (putih keruh) Pereaksi H2SO4 Hasil Terdapat larutan berwarna ungu kebiruan.

Reaksi Benedic Tabung I (Lakosa) Bahan 2 ml Fehling (Warna biru bening) Pereaksi Hasil Laktosa + 2 ml larutan Fehling menghasilkan larutan berwarna biru bening. Sukrosa + 2 ml larutan Fehling menghasilkan larutan berwarna biru bening.

H2SO4

II (Sukrosa)

2 ml Fehling (Warna biru bening)

H2SO4

Reaksi Yodimetri 100 mg glukosa dilarutkan di dalam 50 ml air didalam erlenmayer tertutup. Kemudian ditambahkan 25 ml yodium 0,1 N dan 10 ml larutan natrium karbonat 14,3 % menghasilkan larutan berwarna kuning kecoklatan. Lalu ditutup dan dibiarkan selama 30 menit ditempat gelap larutan tersebut berubah menjadi bening. Kemudian ditambahkan 15 ml HCl dan yodium yang tersisa dengan larutan natrium tiosulfat 0,1 N larutan menjadi berwarna kuning bening. Selanjutnya ditambahkan indikator kanji larutan menjadi berwarna biru. Kemudian dititrasi dengan natrium tiosulfat larutan menjadi bening. Penentuan Kadar Glukosa : Volume Larutan 0,1 N yodium V1 = 1,8 ml

Dita Kurnia Sari (06091410016)kim09

13

V2 = 1,6 ml V3 = 2 ml Vrata-rata = = 1,8 ml V1N1 = V2N2

1,5 . 0,1 = 10 ml . N2 0,15 = 10 ml N2 N2 = 0,15/10 N2 = 0,015N Jadi kadar glukosanya adalah 0,015 N.

VIII.

Reaksi Kimia

Reaksi Mollish

Dita Kurnia Sari (06091410016)kim09

13

Reaksi Benedic

Reaksi Yodimetri I2 (aq) + 2Na2S2O3(aq) 2NaI(aq) + Na2S4O6(aq) IO3- + 5 I- + 6H+ 3I2 + H2O I2 + 2 S2O32- 2I- + S4O62IX. Pembahasan :

Karbohidrat dapat didefinisikan sebagai senyawa polihidroksialdehida atau polihidroksiketon, serta senyawa yang dihidrolisis dari keduanya. Hal ini disebabkan karena karbohidrat mengandung gugus hidroksil (-OH), gugus aldehida atau gugus keton. Sir Walter Norman Howarth yaitu ahli kimia inggris berpendapat bahwa pada molekul glukosa kelima atom karbon yang pertama dengan atom oksien dapat membentuk cincin segi enam. Oleh karena itu struktur karbohidrat sebagai bentuk cincin furan atau piran. Berdasarkan hal tersebut maka struktur dan konfigurasi karbohidrat ditulis berdasarkan bentuk cincin sikliknya yaitu: golongan furanosa

Dita Kurnia Sari (06091410016)kim09

13

(karbohidrat mempunyai cincin beranggota lima) dan golongan piranosa (karbohidrat mempunyai cincin beranggota enam). Atom karbon suatu molekul gula dinomori mulai dari ujung yang paling dekat dengan aldfehid atau keton. Bentuk glukosa dan fruktosa utama dalam larutan bukanlah rantai terbuka melainkan dalam bentuk cincin. Karbohidrat dapat digolongkan berdasarkan jumlah monomer penyusunnya. Berdasarkan penggolongan ini karbohidrat dibagi menjadi 3 yaitu: Monosakarida, Disakarida (Oligosakarida) dan Polisakarida. Pada praktikum ini membahas mengenai uji kualitatif karbohidrat diantaranya yaitu uji molisch, benedict, iodium. Uji Molisch digunakan untuk menidentifikasi apakah suatu zat mengandung karbohidrat. Uji ini dilakukan dengan menambahkan dua tetes pereaksi molisch pada larutan uji dan ditambahkan H2SO4 pekat perlahan-lahan pada dinding tabung sampai terbentuk cincin berwarna ungu.Apabila suatu larutan uji menunjukkan adanya cincin berwarna ungu, maka larutan uji tersebut positif mengandung karbohidrat. Pereaksi molisch yang terdiri daria-naftol dalam alkohol akan bereaksi dengan furfural tersebut membentuk senyawa kompleks berwarna ungu. Uji ini bukan uji spesifik untuk karbohidrat, walalupun hasil reaksi yang negatif menunjukkan bahwa larutan yang diperiksa tidak mengandung karbohidrat. Warna ungu kemerah-merahan menyatakan reaksi positif,sedangka warna hijau adalah negatif. Pada uji Molisch, semua zat uji adalah termasuk karbohidrat. Hal tersebut dapat dilihat pada terbentuknya cincin berwarna ungu. Uji Benedict digunakan untuk mendeteksi zat uji mengandung gula pereduksi atau gula invers. Pereaksi benedict terdiri dari kupri sulfat,natrium sitrat, dan natrium karbonat. Ke dalam 5 ml pereaksi dalam tabung reaksi ditambahkan 8 tetes larutan contoh, kemudian tabung reaksi ditempatkan dalam air mendidih selama 5 menit. Timbulnya endapan warna hijau , kuning, atau merah orange menunjukkan adanya gula pereduksi. Pada uji benedict, teori yang mendarsarinya

Dita Kurnia Sari (06091410016)kim09

13

adalah gula yang mengandung gugus aldehida atau keton bebas akan mereduksi ion Cu2+ dalam suasana alkalis, menjadi Cu+, yang mengendap sebagai Cu2O(kupro oksida) berwarna merah bata. Pada uji Benedict, indikator terkandungnya Gula Reduksi adalah dengan terbentuknya endapan berwarna merah bata. Hal teresebut dikarenakan terbentuknya hasil reaksi berupa Cu2O. Dari hasil uji benedict, larutan uji positif terdapat gula pereduksi adalah glukosa,maltosa, sukrosa, galaktosa, fruktosa, laktosa. Sedangkan yang tidak memiliki gula pereduksi adalah amilum. Percobaan uji iodium adalah penambahan iodium pada suatu polisakarida akan menyababkan terbentuknya kompleks adsorpsi berwarna spesifik. Amilum atau pati dengan iodium mengahailkan warna biru, dekstrin menghasilkan warna merah anggur,glikogen dan sebagian pati yang terhidrolisis bereaksi dengn iodium membantuk warna merah coklat. Pada uji iod, hasil uji terlihat hanya pati lah yang menunjukkan reaksi positif bila direaksikan dengan iodium. Hal ini disebabkan karena dalam larutan pati, terdapat unit-unit glukosa yang membentuk rantai heliks karena adanya ikatan dengan konfigurasi pada tiap unit glukosanya. Bentuk ini menyebabkan pati dapat membentuk kompleks dengan molekul iodium yang dapat masuk ke dalam spiralnya, sehingga menyebabkan warna biru tua pada kompleks tersebut. Pati (starch) atau amilum merupakan polisakarida yang terdapat pada sebagian besar tanaman, terbagi menjadi dua fraksi yaitu amilosa dan amilopektin. Amilosa (kuranglebih 20 %) memiliki struktur linier dan dengan iodium memberikan warna biru serta larut dalam air. Fraksi yang tidak larut disebut amilopektin (kuranglebih 80 %) dengan struktur bercabang. Dengan penambahan iodium fraksi memberikan warna ungu sampai merah. Pati dalam suasana asam bila dipanaskan akan terhidrolisis menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana. Hasil hidrolisisdapat dengan iodium dan menghasilkan warna biru sampai tidak berwarna. Dalam percobaan ini digunakan test iodida untuk mendeteksi adanya pati (suatu polisakarida). Larutan pati + 1 tetes larutan I2 masing-masing dicampurkan

Dita Kurnia Sari (06091410016)kim09

13

ke dalam 2 tetes air, 2 tetes larutan HCl 6 N, dan 2 tetes larutan NaOH 6 N. Pada percobaan larutan pati + 1 tetes larutan I2 + 2 tetes air dan larutan pati + 1 tetes larutan I2 + 2 tetes larutan HCl 6 N , sebelum dipanaskan larutan berwarna biru. Hal ini disebabkan karena pati yang berikatan dengan Iodin. Hal ini disebabkan karena struktur molekul pati yang berbentuk spiral mampu mengikat iodin dan terbentuklah warna biru. Bila pati dipanaskan, akan menyebabkan spiral merenggang sehingga molekul-molekul iodin akan menguap dalam bentuk gas, sehingga I22+ I- dan warna larutan berubah menjadi bening. Dengan kontrol pada titik akhir titrasi jika kelebihan 1 tetes titran. perubahan warna yang terjadi pada larutan akan semakin jelas dengan penambahan indikator amilum/kanji. Iodium merupakan oksidator lemah. Sebaliknya ion iodida merupakan suatu pereaksi reduksi yang cukup kuat. Dalam proses analitik iodium digunakan sebagai pereaksi oksidasi (iodimetri) dan ion iodida digunakan sebagai pereaksi reduksi (iodometri). Relatif beberapa zat merupakan pereaksi reduksi yang cukup kuat untuk dititrasi secara langsung dengan iodium. Maka jumlah penentuan iodometrik adalah sedikit. Akan tetapi banyak pereaksi oksidasi cukup kuat untuk bereaksi sempurna dengan ion iodida, dan ada banyak penggunaan proses iodometrik. Suatu kelebihan ion iodida ditambahkan kepada pereaksi oksidasi yang ditentukan, dengan pembebasan iodium, yang kemudian dititrasi dengan larutan natrium thiosulfat. Larutan standar yang digunakan dalam kebanyakan proses iodometri adalah natrium thiosulfat. Garam ini biasanya berbentuk sebagai pentahidrat Na2S2O3.5H2O. Larutan tidak boleh distandarisasi dengan penimbangan secara langsung, tetapi harus distandarisasi dengan standar primer. Larutan natrium thiosulfat tidak stabil untuk waktu yang lama. Hasil akhir yang didapat adalah perubahan warna pada akhir titrasi sehingga didapatkanlah V rata-rata titrasi yaitu 1,767 ml. Setelah dihitung kemali dan di cari kadar glukosanya, ternyata dari hasil praktikum ini kadar glukosa yang terkandung adalah 0,015 N.

Dita Kurnia Sari (06091410016)kim09

13

X.

Kesimpulan

1. Uji Molsch memberikan hasil positif pada semua karbohidrat


2. Uji Barfoed memberikan hasil positif pada monosakarida yaitu galaktosa

dan fruktosa.
3. Uji iodium adalah penambahan iodium pada suatu polisakarida akan

menyababkan terbentuknya kompleks adsorpsi berwarna spesifik


4. Uji spesifik pada polisakarida dilakukan dengan test iodida yang

menghasilkan warna biru dan apabila dipanaskan akan menjadi bening yang disebabkan karena adanya pelepasan I2.

XI.

Daftar Pusaka

Fessenden. 1986. Kimia Organik Jilid 2. Jakarta : Erlangga. Hawab, HM. 2004. Pengantar Biokimia. Jakarta : Bayu Media Publishing. http://sweetir1s.multiply.com/journal/item/5/karbohidrat [terhubung berkala]. [25 April 2012] Poedjiyadi, Anna dkk. 2006. Dasar-DasarBiokimia. Jakarta : UI-Press.

XII.

Gambar Alat

: Rak Tabung Reaksi

Tabung Reaksi

Pipet Tetes

Dita Kurnia Sari (06091410016)kim09

13

Gelas kimia Kawat Kasa

Gelas Ukur

Kaki tiga Bunsen

Dita Kurnia Sari (06091410016)kim09

13

Beri Nilai