Anda di halaman 1dari 11

Heln Susianti Tunggareni 100911166 IKMA'09

Penderita Gizi Buruk, Tak Hanya Keluarga Miskin Sampai akhir Februari 2010 tercatat 556 anak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mengalami gizi buruk, dan saat ini dalam pantauan dinas kesehatan setempat. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Lumajang, dr Buntaran Supriyanto, Rabu (31/3), mengatakan, penderita gizi buruk di Lumajang Tahun 2008 tercatat sebanyak 501 anak, tahun 2009 hingga Februari 2010 sebanyak 556 anak. Ia menjelaskan, sebanyak 59 persen dari 556 penderita gizi buruk di Lumajang bukan dari keluarga miskin, sehingga kasus gizi buruk di kabupaten setempat berbeda dengan kebanyakan kabupaten lain. "Biasanya kasus gizi buruk ditemukan pada keluarga miskin, namun hal itu berbeda di Lumajang," katanya. Rabu, 30 Maret 2010. LUMAJANG (tvOne)

A. IDENTIFIKASI PENYEBAB MASALAH DAN AKAR PENYEBAB MASALAH Permasalahan gizi buruk yang terjadi di Lumajang dengan 59% dari 556 anak yang menderita gizi buruk bukan berasal dari keluarga miskin. Permasalahan gizi buruk yang sering dialami pada kebanyakan keluarga miskin, namun dalam hal ini memang sangat berbeda dari umumnya. Gizi buruk terjadi karena rendahnya asupan zat gizi dan infeksi penyakit yang menjadi penyebab langsung, namun ada beberapa penyebab tak langsung yang mempengaruhi asupan zat gizi tersebut, diantaranya: 1. Pola Asuh Anak Pola asuh yang salah memberikan kontribusi sebesar 40,7 % terhadap kasus gizi buruk di Lumajang. Pada keluarga non miskin, sebagian besar ibu dari anak bekerja di luar rumah. Anak mereka diasuh oleh neneknya yang dapat dikatakan pengetahuan akan gizi anak masih kurang dibandingkan ibu dari anak tersebut. Pemantauan dan pengawasan seorang ibu terhadap perkembangan anaknya memiliki pengaruh besar terhadap status gizi anak karena status gizi anak bergantung pada asupan gizi yang diberikan nenek ketika ibu tersebut berada di luar rumah. Sedangkan seorang ibu sudah percaya sepenuhnya ketika anak mereka diasuh oleh neneknya. 2. Pengetahuan Gizi Anak Rendah

Pengetahuan tentang pentingnya gizi terhadap kesehatan anak yang rendah akan mempengaruhi asupan gizi anak tersebut. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa anak lebih sering diasuh oleh neneknya daripada ibunya sendiri. Sedangkan mereka sebagian besar hanya lulusan SD atau bahkan belum tamat SD. Pengetahuan dalam mengasuh anak hanya berasal dari pengalaman saja. Dimana seorang nenek mungkin lebih berpengalaman dalam mengasuh anak daripada ibunya 3. Pekerjaan Orang Tua Seorang ibu yang bekerja di luar rumah memiliki sedikit waktu dalam mengasuh dan mengawasi perkembangan anaknya. Dalam hal ini yang memiliki peran penting dalam mengasuh adalah nenek dari anak tersebut 4. Psikologis Anak Hal yang wajar jika anak rewel ketika ibunya tidak ada dan cenderung susah makan ketika mereka rewel. Seorang anak juga cenderung menyukai makanan yang terlihat menarik dalam bentuk, rasa, warna, dan keunikan lainnya seperti yang ada pada makanan ringan. Mereka lebih suka memakan snack daripada nasi (karbohidrat), ini yang sering ditemui pada anak sekarang. Perlu adanya inovasi dan kreatifitas dalam memberikan makanan bergizi terhadap anak supaya anak lebih tertarik. Akar Penyebab Maslaah Dari penyebab tak langsung di atas yang mempengaruhi intake makanan bergizi anak, maka dapat ditentukan akar penyebab masalah yang dominan yaitu Pola Asuh Anak. Dengan perbaikan pola asuh, maka semua penyebab kurangnya intake makanan bergizi dapat diantisipasi dengan adanya pola asuh yang benar.

B. IDENTIFIKASI STRATA Berdasarkan Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2011-2015, provinsi Jawa Timur berada pada Strata 4, dimana presentase pendek pada anak balita > 32 % dan proporsi penduduk sangat rawan pangan > 14,47 %. Jadi dapat diasumsikan bahwa Kabupaten Lumajang berada pada Strata 4.

C. RENCANA AKSI DAERAH Rencana aksi yang perlu dilakukan adalah perbaikan pola asuh anak, yaitu dengan saling mengaitkan peran orang tua dan peran pengasuh dalam hal ini yaitu nenek dalam mengasuh anak. Dimana orang tua tidak hanya berperan dalam memperhatikan asupan gizi anak tetapi juga berperan dalam mengawasi perkembangan anaknya serta dapat mendeteksi masalah gizi anak secara dini atau dengan kata lain menciptakan Keluarga Mandiri Sadar Gizi (KADARZI). Dan pengasuh memiliki peran dalam mengasuh anak khusunya dalam memperhatikan pola asupan gizi anak tersebut melaui peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dalam memberikan asupan gizi yang cukup untuk anak.

Di sisi lain, pihak pelayanan kesehatan juga turut andil dalam program ini, tenaga kesehatan untuk semua puskesmas harus mampu memberikan pengetahuan dan pelatihan kepada orang tua maupun pengasuh dalam memberikan asupan gizi pada anak melalui kader-kader posyandu yang ada cakupan kerja puskesmas tersebut.

D. TUJUAN UMUM DAN TUJUAN KHUSUS Tujuan Umum: Menurunkan angka prevalensi gizi buruk di Lumajang pada tahun 2015 melalui perbaikan pola asuh anak. Tujuan Khusus: 1. Meningkatkan kesadaran keluarga akan gizi anak dengan membentuk Keluarga Mandiri Sadar Gizi (KADARZI). 2. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam memberikan asupan gizi anak. 3. Meningkatkan kinerja kader-kader posyandu dalam memberikan pengetahuan dan pelatihan kepada keluarga dan pengasuh dalam memberikan asupan gizi anak.

E. INDIKATOR KEBERHASILAN Indikator keberhasilan dari program ini antara lain : 1. Adanya penurunan prevalensi gizi buruk sebesar 20%.. 2. Peningkatan frekuensi kunjungan orang tua ke posyandu untuk menimbangkan anaknya (D/S) sebesar 20%. 3. Peningkatan kesadaran keluarga terhadap gizi anak sebesar 15%. Yang berarti bahwa orang tua mampu memantau status gizi anak serta mampu menanggulangi masalah gizi sejak dini. 4. Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan orang tua dan pengasuh dalam memberikan asupan gizi anak sebesar 15%. Ditunjukkan dengan adanya variasi pola pemberian asupan makanan bergizi pada anak. 5. Peningkatan keahlian dan ketrampilan kader-kader posyandu dalam melakukan penyuluhan khususnya kader-kader yang berada pada meja 4 (langkah 4) dalam pelaksanaan posyandu sebesar 20%. F. MATRIKS PROGRAM

Very Darmawan 100911207 IKMA09

Diskusi Senin Pagi; Generasi Liliput di Madura by Agung Dwi Laksono on Monday, April 2, 2012 at 4:15am Kali ini saya masih menurutkan rasa prihatin dan kepenasaran saya pada pulau dimana seperempat raga saya berasal, Pulau Madura. Pulau yang terdiri dari empat kabupaten, yang status kesehatan berdasarkan IPKM (Indeks Pembangunan Kesehatan

Masyarakat) keempat-empatnya menduduki lima besar rangking 'terbawah' di Jawa Timur. Pulau yang ternyata menyimpan bom waktu yang sedemikian besar.

Coba perhatikan paparan grafik berikut...

Batang yang biru merupakan persentase status gizi balita berdasarkan tinggi badan per umur (TB/U)..yang di keempat kabupaten tersebut melebihi 40%. Sedang yang berwarna merah merupakan status gizi balita berdasarkan berat badan per umur (BB/U).

Bila digabungkan... ada beban ganda (double burden) yang kesemuanya melebihi 60%. saya merasa sangat tidak salah bila merasa miris dengan kondisi ini... Grafik berikutnya merupakan gambaran status gizi balita berdasarkan berat badan per tinggi badan (BB/TB)

Tetap saja sebuah masalah yang tersaji. Di semua kabupaten kejadiannya melebihi angka 20%. Bagaimana bisa seperti ini??? Sepertinya status gizi para balita ini bukanlah prioritas bagi hampir seluruh komponen di Pulau Madura. Bukan ngawur bila saya berani menyimpulkan seperti ini. Dari seluruh balita yang ada di Pulau Madura realitasnya lebih dari 70%nya tidak ditimbang berat badannya selama enam bulan terakhir.

Artinya bahwa, lebih dari 70% balita di Pulau Madura tidak melakukan kontak dengan Posyandu dan juga pelayanan kesehatan lainnya selama enam bulan terakhir. Lalu bagaimana saya tidak menyimpulkan bahwa mereka, balita itu, bukan sebuah prioritas??? saya sungguh berharap ada local wisdom yang mampu diberdayakan untuk mengatasi masalah ini.

Identifikasi Masalah : Dari artikel yang dipaparkan di atas, saya akan lebih berfokus membahas mengenai kasus yang terjadi di Samapang, di mana prosentase kejadian balita gizi buruk sebesar 31,16 % (tertinggi di pulau Madura). Dari sini bisa dilihat adanya faktor penyebab balita gizi buruk di daerah tersebut, meliputi faktor langsung dan faktor tidak langsung. 1. Faktor penyebab langsung : kurangnya asupan gizi energi dan protein pada balita itu sendiri, hal ini bisa berakibat pada tingkat kesehatannya lama-lama menurun sehingga mudah terserang berbagai penyakit infeksi pada balita. Adanya penyakit infeksi ini juga makin memperparah kondisi gizi pada balita itu sendiri. 2. Faktor penyebab tidak langsung : tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu yang rendah tentang pola asuh anak yang benar. Di mana terkadang bayi terlambat diberi makanan penunjang ASI untuk mencukupi kebutuhan zat gizi, atau terkadang malah terlalu cepat diberi makan selain ASI dan ASI sendiri dihentikan sebelum enam bulan. Para orang tua juga juga jarang memeriksakan balitanya ke puskesmas, ini dilihat dari tabel dimana 73,55 % bayi di Sampang tidak ada kontak dengan posyandu atau pelayanan kesehatan lain. Selain itu ada lagi faktor penyebab yaitu daya beli yang rendah, sedikit disebabkan karena kemiskinan tapi lebih banyak lagi karena masyarakat memang cenderung kurang prioritas untuk membelikan makanan yang cukup gizi untuk bayinya, kebanyakan cenderung untuk bermewah-mewah selain dalam hal makanan, seperti membangun rumah, membeli mobil, atau hal lain.

Akar Penyebab Masalah : Dapat disimpulkan bahwa penyebab utama balita gizi buruk di Sampang adalah tingkat pengetahuan yang rendah tentang pola asuh anak yang berakibat kurangnya daya beli untuk pemenuhan gizi balita.

Identifikasi Strata Berdasarkan analisis yang telah dilakukan maka Sampang berada pada strata 4 : provinsi (wilayah) dengan prevalensi Pendek pada Anak Balita > 32 persen dan proporsi jumlah penduduk dengan rata-rata Asupan Kalori < 1.400 Kkal/orang/hari sebesar > 14,47 persen.

Rencana Kegiatan Aksi Berdasarkan analisis tadi didapatkan bahwa Sampang berada pada strata 4, dimana progam yang sesuai adalah penguatan kelembagaan pangan dan gizi dan perbaikan gizi masyarakat. Hal ini diimplementasikan dengan program yang bernama PAGIKU (Pengawasan Gizi balitaku), di mana pada dasarnya kegiatan ini banyak bertumpu pada peningkatan cakupan pelayanan posyandu dan kinerja kadernya di masyarakat. Progam ini dilakukan untuk lebih lebih mendekatkan akses pelayanan kesehatan ke rumah tangga melalui cakupan kadernya. Yang nantinya diharapkan kader selaku kepanjangan tangan dari posyandu ini bisa mendampingi beberapa rumah tangga untuk pengawasan pada balita dan memberikan banyak pengetahuan pada ibu agar pengetahuan gizi serta pola asuh anak yang benar meningkat. Pendampingan ini juga bisa lebih intensif untuk memantau kondisi perkembangan balita, baik yang gizi buruk atau yang sehat.

Tujuan Umum : Kabupaten Sampang bebas dari balita gizi buruk dan kurang pada tahun 2020.

Tujuan Khusus : 1. 2. 3. 4. Meningkatkan pengetahuan ibu dan calon ibu terhadap gizi dan pola asuh balita Meningkatkan konsumsi makanan bergizi pada balita Mempermudah akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan Meningkatkan peran posyandu dan kadernya sebagai pendamping dalam rumah tangga

Indikator keberhasilan : 1. 2. 3. 4. Bebasnya Sampang dari kasus gizi buruk di tahun 2020 Meningkatnya kunjungan balita ke posyandu 100% Meningkatnya pengetahuan ibu tentang gizi dan pola asuh balita yang benar Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama dan MP ASI secara tepat meningkat 5. Peningkatan konsumsi makanan yang beraneka ragam gizi 6. Keterjangkauan pendampingan gizi pada semua rumah tangga yang ada balita

Matrik Program dan Keterlibatan LIntas Sektor 1. Melakukan kerja sama dengan instansi pemerintah dan dinas terkait untuk terlaksanannya program. 2. Menggandeng pemuda karang taruna dan kader posyandu dan lebih dulu diberi pelatihan untuk pendampingan balita di tingkat rumah tangga.

MALANG BERSEGI (Bersih, Sehat dan Sadar Gizi), Solusi Praktis Upaya Perbaikan Gizi Kabupaten Malang
oleh Ella Faiqotus Sholviah pada 23 April 2012 pukul 21:48 Identifikasi Masalah (sumber: Profil Kesehatan Kab.Malang 2010) a. Kasus gizi kurang pada 2009 turun, namun masih ada 7,16% b. Kasus gizi buruk pada 2009 meningkat jadi 1,42% c. Masih ada kecamatan rawan gizi (0.03%) d. Pernah terjadi KLB Tetanus neonatorum, Campak, Difteri, Hepatitis B, Acute Flaccid Paralysis, DBD, keracunan

Identifikasi Akar Penyebab Masalah a. Terjadi pertambahan sekitar 10.000 penduduk miskin setiap tahunnya di Kab. Malang (data Profil Kesehatan Kab. Malang). Hal ini mengakibatkan akses penduduk miskin terhadap pangan maupun layanan kesehatan secara ekonomi menjadi terbatas, sehingga kasus gizi kurang/buruk belum bisa dihilangkan.

b. Kurangnya pengetahuan ibu terhadap masalah tumbuh kembang balita sehingga cakupan upaya kesehatan balita hanya 61,26% (data Profil Kesehatan Kab. Malang), lebih rendah dari target sebesar 75%. Hal ini mengakibatkan masalah gizi dan infeksi balita semakin parah karena tidak segera terdeteksi.

c. Pola asuh yang masih belum optimal, terlihat dari cakupan ASI eksklusif yang hanya 58,46% pada tahun 2009 (data Profil Kesehatan Kab. Malang 2010), jauh dari target

Indonesia Sehat 2010 yang 80%. Hal ini bisa menyebabkan gizi kurang/buruk pada balita.

d. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk menciptakan higiene sanitasi yang sesuai dengan paradigma hidup sehat, terlihat dari masih ada 22,89% rumah yang tidak memenuhi syarat sehat (lebih besar dari target Indonesia Sehat 2010 yang 20%). Hal ini menyebabkan terjadinya infeksi pada masyarakat serta percepatan penularan penyakit menular yang secara sinergistik bisa menimbulkan kasus gizi kurang/buruk.

e. Puskesmas kurang concern dalam melaksanakan penggalakan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) Rumah Tangga, terbukti dengan jumlah rumah tangga yang berPHBS masih 21,9% pada tahun 2009 (data Profil Kesehatan Kab. Malang 2010). Hal ini menyebabkan timbulnya kejadian infeksi yang bisa berhubungan secara sinergistik terhadap kasus gizi kurang/buruk.

f. Masih belum optimalnya perhatian pemerintah terhadap keluarga miskin, dilihat dari cakupan pelayanan kesehatan keluarga miskin masih 46,2%, jauh dari target Indonesia Sehat 2010 yang 100% (data Profil Kesehatan Kab. Malang). Hal ini bisa mengakibatkan tingkat kesakitan keluarga miskin masih cukup tinggi.

Strata Kabupaten Dengan proporsi penduduk sangat rawan pangan

Rencana Aksi Daerah Strategi : peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), melalui peningkatan pemberdayaan masyarakat dan peran pimpinan formal serta non formal terutama dalam perubahan perilaku/budaya konsumsi pangan yang difokuskan pada penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal ,perilaku hidup bersih dan sehat, serta merevitalisasi posyandu.

Nama Program : MALANG BERSEGI (Bersih, Sehat, dan Sadar Gizi)

Tujuan Program

Tujuan Umum: Tercapainya 80% keluarga sehat yang berbudaya konsumsi pangan seimbang dengan basis sumber daya lokal di Kab.Malang pada tahun 2015.

Tujuan Khusus: a. Seluruh wilayah Kab. Malang bebas rawan gizi b. Menurunkan kasus gizi kurang dan gizi buruk seminimal mungkin c. Meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan untuk masyarakat miskin d. Menggalakkan pelaksanaan dan pemantauan kegiatan PHBS rumah tangga e. Menciptakan budaya konsumsi pangan seimbang yang berbasis kemandirian dan sumber daya lokal

Indikator Keberhasilan Program (target tahun 2015) 1. 100% wilayah Kab. Malang bebas rawan gizi 2. 100% bayi/balita gizi kurang/gizi buruk mendapatkan pelayanan kesehatan yang adekuat 3. Kasus gizi kurang menjadi 3% dan gizi buruk menjadi 0,5% 4. 80% masyarakat miskin mendapat layanan kesehatan dengan program jamkesmas 5. 75% puskesmas menggalakan dan memantau pelaksanaan PHBS rumah tangga 6. 75% penduduk tercukupi kebutuhan kalorinya berdasarkan AKG (-/+ 2000 Kkal/hari) 7. 75% rumah penduduk memiliki tanaman sayur dan buah

Matriks Program Program MALANG BERSEGI ini terdiri dari sub program: 1. Operasi Gizi Kegiatan berfokus pada deteksi dini masalah gizi dalam rangka penurunan angka kejadian kasus gizi buruk/gizi kurang serta pembebasan wilayah yang masih rawan gizi. Pelaksana : kader posyandu, petugas Puskesmas, LSM

Sumber Dana : APBD, LSM

2. Yankes Pro Rakyat Program yang berupaya untuk mendekatkan masyarakat miskin dengan pelayanan kesehatan guna menurunkan angka kejadian infeksi serta kesakitan. Pelaksana : puskesmas, rumah sakit, pengelola jamkesmas Sumber Dana : APBN, APBD

3. Gerakan PHBS Rumah Tangga Dalam program ini puskesmas memiliki fungsi untuk menggalakkan pelaksanaan serta memantau implementasi PHBS rumah tangga di wilayah kerjanya. Jadi sebelumnya, setiap rumah tangga diberi pemahaman mengenai tata cara implementasi PHBS di rumahnya masing-masing. Pelaksana : puskesmas, LSM Sumber Dana : APBD, LSM

4. Rumah Pangan Mandiri Program ini akan memantau pola konsumsi masyarakat dan mengarahkannya pada pola konsumsi pangan seimbang secara mandiri dan dari produk lokal. Masing-masing rumah diarahkan untuk memiliki tanaman sayur dan buah yang ditanam di pekarangan atau dalam polybag untuk menjamin ketersediaan sumber mikronutrien dalam pangan yang dikonsumsi setiap harinya. Pelaksana : pemerintah desa, RW, RT Sumber Dana : kas desa, iuran masyarakat