Anda di halaman 1dari 5

Unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik Dalam cerpen Senyum Karyamin Tugas ini untuk memenuhi mata kuliah pengkajian

cerpen yang ditujukan kepada bpk. Abdul Hamid, M.Hum Oleh

Kezia Feronika S.M 180110110029 Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran

Unsur-unsur intrinsik dalam cerpen senyum karyamin

Tokoh: 1. Karyamin: Seorang lelaki yang mempunyai profesi sebagai kuli pengangkut batu yang miskin dengan penghasilan yang sedikit dan banyak

hutang. Karyamin digambarkan sebagai seorang yang sabar dan tak mudah putus asa dalam menjalani hidupnya yang penuh konflik, hal tersebut terbukti saat ia merasa lapar ia tak mengeluh pada teman-temannya dan hanya tersenyum dalam menghadapi masalahnya. 2. Sarji: sama seperti karyamin banyak hutang dan berpenghasilan sedikit, tetapi tokoh sarji di gambarkan banyak omong, dan suka mengolok-olok karyamin. 3. Saidah: seorang wanita penjual nasi pecel, kerabat karyamin, sifatnya peduli akan nasib orang lain. 4. Pak Pamong: seseorang pejabat desa, yang semena-mena dalam menjalankan tugasnya dan tidak memperhatikan keadaan keluarga yang miskin di desanya.

Latar: di alam, yaitu di sungai tempat karyamin bekerja.

Alur: alur yang digunakkan oleh Ahmad Tohari dalam cerpen ini adalah alur maju.

Gaya Bahasa: mudah dipahami, dapat membawa pembaca masuk kedalam cerpen dan berimajinasi tentang keadaan di cerpen tersebut.

Tema: tema yang diambil oleh Ahmad Tohari adalah tema yang menjurus kepada keadaan sosial serta perekonomian yang mungkin sesuai dengan keadaan bangsa kita pada masa ini, banyak rakyat miskin yang ditindas oleh kaum pejabat serta borjuis, dam mengutamakan harta di atas segala-galanya.

Dari segi isi cerpen-cerpen dalam cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari banyak mengangkat tema kehidupan masyarakat pedesaan, persoalan sosial, kemunafikan, kerinduan akan perlindungan-Nya, serta cinta dan kasih sayang manusia terhadap sesamanya. Dalam kumpulan cerpen ini banyak diceritakan kehidupan pedesaan yang masih lugu, kumuh, telanjang, bodoh, dan alami. Di tengah kehidupan yang terbelakang kehidupannya yaitu di pedesaan yang masih menjanjikan kedamaian yang tulus tanpa pamrih. Dunia pedesaan adalah dunia yang jujur dan senantiasa mengutamakan keharmonisan serta keselarasan hubungan makhluk dengan dunia sekitarnya. Masalah lingkungan hidup yang jarang dijadikan latar oleh pengarang Indonesia merupakan daya pikat dan nilai tambah cerpen karya Ahmad Tohari di tengah-tengah kebudayaan popular yang berorientasi pada kemewahan. Karyamin tercermin sebagai sosok lelaki yang tegar dalam kehidupannya, sebagai pencari batu ia terus menerus bekerja keras tanpa mempedulikan pikulan yang ada di pundaknya, meskipun pikulan itu berat tapi berkat kegigihannya ia tidak merasakan beratnya pikulan tersebut. Hal ini terbukti dalam kutipan Karyamin melangkah pelan-pelan dan sangat hati-hati. Beban yang menekan pundaknya adalah pikulan yang digantungi dua keranjang batu kali. Meskipun dalam cerita ini pada awalnya ia terlihat tegar, di lain waktu ia bisa juga memaki hanya karena seekor burung paruh udang yang terjun dari ranting yang menggantung di atas air, burung tersebut sebenarnya berniat untuk

mengambil seekor ikan kecil yang sedang berenang di sungai bangsat! Teriak karyamin yang sedetik kemudian sudah kehilangan keseimbangannya. Tubuhnya bergulir sejenak, lalu jatuh terduduk dibarengi suara dua keranjang batu yang ruah.. Ada satu kutipan menarik dalam cerpen ini bagi mereka, tawa, atau senyum sama-sama sah sebagai perlindungan terakhir. Tawa dan senyum bagi mereka adalah symbol kemenangan terhadap tengkulak.. Patut kita garis bawahi disini kata-kata tawa atau senyum sama-sama sah sebagai perlindungan terakhir. Pembelajaran moral yang sangat baik dapat kita petik, menurut saya tawa dan senyum merupakan symbol dan pesan mereka terhadap kerasnya hidup yang mereka alami, atas ketidakadilan yang mereka dapatkan dari para tengkulaktengkulak yang hanya memikirkan atas keuntungan pribadi mereka, karena mereka meminta uang yang sama sekali tidak sebanding dengan upah para kuli batu itu para tengkulak sangat tidak melihat senyuman yang melambangkan penderitaan mereka akan kondisi ekonomi yang memburuk, serta tawa yang merupakkan tangis mereka yang menandakan kalau mereka lapar, mereka butuh makan, Maka Karyamin sungguh-sungguh berhenti, dan termangu. Dibayangkan istrinya yang sedang sakit harus menghadapi dua penagih bank harian. Masih dengan seribu kunang-kunang di matanya, Karyamin mulai berpikir apa perlunya dia pulang. Dia merasa pasti tak bisa menolong keadaan, atau setidaknya menolong istrinya yang sedang menghadapi dua penagih bank harian. Maka pelan-pelan Karyamin membalikkan badan, siap kembali turun. Dalam kutipan tersebut, terceritera bahwa karyamin adalah seorang suami yang bertanggung jawab kepada istrinya, meskipun ia memang saat itu benar-benar tidak punya uang, dan tidak bisa menolong apapun tetapi ia dengan segera lari kerumah untuk

melihat istrinya, benar saja para tengkulak sudah berada di rumahnya, untung saja karyamin pulang, kalau tidak istrinya sudah diganggu oleh para tengkulak itu. Karyamin, juga digambarkan sebagai seorang warga desa yang tahu diri akan keadaannya, ia tidak mau merepotkan orang untuk membantunya meskipun ia benar-benar tidak mempunyai uang dan makanan untuk dimakan. kalau tidak, mengapa senyum-senyum? Hayo cepat; mana uang iuranmu? dari dialog tersebut kita lihat bahwa pada saat karyamin menghadapi tengkulak yang ingin minta dana iuran untuk menolong orang-orang kelaparan yang ada di Afrika ia hanya senyum-senyum, senyum-senyum disini bukan berarti ia memang betul-betul berniat untuk mengejek para tengkulak, tetapi dia mungkin member isyarat bahwa untuk makan sehari-hari saja ia tidak mampu, apalagi untuk menolong korban kelaparan, ia saja perlu disumbang karena ia miskin Menurut saya, kita seharusnya sebagai seseorang yang ingin maju, kita harus meniru sifat karyamin yang tegar, dia selalu tersenyum meskipun dalam dirinya ia menangis. Dimana letak keadilan yang dibuat oleh para petinggi, apakah mereka sadar masih banyak orang yang miskin karena ketidakadilan mereka yang menggunakan uang rakyat hanya untuk kepentingan mereka sendiri.