Anda di halaman 1dari 2

Tumbuhnya Bahasa Baru di Kalangan Masyarakat

Nusantara dikenal sebagai kaya akan budaya, berbagai ragam budaya serta bahasa terdapat di Nusantara. Keanekaragaman budaya merupakan suatu kekayaan bangsa kita harus mensyukuri rahmat yang diberikan oleh Tuhan, keanekaragaman itu kita bangsa Indonesia menyepakati semboyan negara kita Bhineka Tunggal Ika. Dewasa ini laju pertumbuhan bahasa baru di kalangan masyarakat, mengalami perkembangan yang pesat dilihat dari dialek-dialek daerah, maupun munculnya bahasa baru di masyarakat seperti bahasa Alay dan bahasa Prokem. Dialek yang dimaksudkan disini adalah cara seseorang mengucapkan sebuah kata, yang mungkin dalam pengucapannya bisa membedakan arti dari kata tersebut dengan arti sebenarnya, kita ambil contoh penyebutan kata Apel (buah) orang sumatera yang biasa berbicara dengan vokal yang jelas akan mengatakan dengan vokal apel bukan apl, apel disini yang tidak memakai tanda diatasnya berarti upacara, sedangkan apl ditujukan kepada buah. Terlihat jelas perbedaan pengucapan itu membedakan arti. Permunculan bahasa-bahasa baru seperti bahasa Alay dan Prokem yang sedang santer sekarang ini bukan semata-mata otomatis digunakan oleh masyarakat, tetapi melalui sebuah proses. Awalnya bahasa itu muncul karena digunakan oleh sebuah kelompok yang ingin menunjukan identitas, yang mereka sebut dengan Anak Gaul, mereka menggunakan bahasa itu awalnya hanya untuk berkomunikasi dengan anggota sesama kelompok, supaya isyarat-isyarat yang mereka katakan tidak diketahui oleh orang lain yang bukan kelompok mereka. Tetapi lambat laun seiring dengan adanya proses yang disebut sosialisasi, bahasa tersebut secara mudah tersebar di masyarakat, kita ambil contoh, misalnya; salah satu anggota kelompok pengguna bahasa prokem berbicara kepada orang lain di luar kelompok prokem Tolong ambilin sepokat gue dong! tentu orang tersebut akan bertanya-tanya apa itu sepokat dengan bahasa isyarat

menunjukan sepatu pada orang yang disuruh,orang yang disuruh itupun mengerti bahwa sepokat itu sepatu begitulah bahasa tersebut menyebar antara individu perindividu sehingga tumbuhlah bahasa baru di kalangan masyarakat tertentu. Kata sepatu tersebut akan mengalam suatu proses dimana bentuknya akan berubah menjadi sepokat, sepatu u diakhir kata dihilangkan sep

dipisahkan dengan at (sepat) diantara sep dan at tersebut disisihkan kata ok sehingga terciptalah kata Sepokat. Karena sifat manusia itu gampang meniru sesuatu serta di praktekkan kembali, alhasil orang yang diluar kelompok prokem tersebut mengucapkannya kembali kepada orang-orang yang tidak mengetahui bahasa prokem tersebut, sehingga secara cepat prokem dikenal oleh banyak orang.

Kezia Feronika S.M 180110110029 Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran