Anda di halaman 1dari 16

VITAMIN dan MINERAL

Author : RATIH KUMALA SARI Abstract : Vitamin A Vitamin A merupakan salah satu jenis vitamin yang larut lemak. Vitamin A (Acon, Aquasol) membantu menjaga pertumbuhan jaringan epitel, mata, rambut, dan tulang. Selain itu juga digunakan untuk pengobatan kelainan kulit seperti acne. Vitamin mempunyai efek toksik jika digunakan secara berlebihan. Contohnya, defek lahir dapat terjadi jika pasien mengkonsumsi lebih dari 6000 IU selama kehamilan. Hal ini penting untuk diingat bahwa vitamin disimpan di liver sampai lebih dari dua tahun, dimana dapat mengakibatkan toksisitas jika pasien mengkonsumsi dengan dosis yang besar (Kamiensky, Keogh 2006). Vitamin A didapat dalam 2 bentuk yaitu preformed vitamin A (vitamin A, retinoid, retinol, dan derivatnya) dan provitamin A (karotenoid/ karoten dan senyawa sejenis) (Dewoto 2007). Sumber makanan yang mengandung vitamin A antara lain semua jenis susu, mentega, telur, sayuran dengan daun berwarna hijau dan kuning, buah-buahan, dan liver. Menurut U.S Recommended Dietary Allowance (RDA) kebutuhan vitamin A pada pria dewasa sebanyak 1000 µg atau 5000 IU, wanita dewasa 800 µg atau 4000 IU, pada kehamilan membutuhkan sebanyak 1000 µg atau 5000 IU, dan pada ibu menyusui 1200 µg atau setara dengan 6000 IU (Kamiensky, Keogh 2006). 1.1 Farmakodinamik Obat Pada fibroblast atau jaringan epitel terisolasi, retinoid dapat meningkatkan sintesis beberapa jenis protein seperti fibronektin dan mengurangi sintesis protein seperti kolagenase dan keratin. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan transkripsi pada inti dan asam retinoat lebih kuat dalam menyebabkan perubahan tersebut. Asam retinoat mempengaruhi ekspresi gen dengan bergabung pada reseptor yang berada di inti sel. Terdapat dua kelompok reseptor, yaitu Retinoid Acid Receptors (RARs) dan Retinoid X Receptors (RXRs). Reseptor retinoid segolongan dengan reseptor steroid, hormone tiroid, dan kalsitriol (Dewoto 2007). Retinoid dapat mempengaruhi ekspresi reseptor hormon dan faktor pertumbuhan sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan, diferensiasi, dan fungsi sel target. Selain itu juga diperlukan untuk pertumbuhan tulang, alat reproduksi, dan perkembangan embrio (Dewoto 2007). 1.2 Farmakokinetik Obat Vitamin ini diabsorpsi sempurna melalui usus halus dan kadarnya dalam plasma mencapai puncak setelah empat jam tetapi absorpsi dosis besar vitamin A kurang efisien karena sebagian akan keluar melalui feses. Gangguan absorpsi lemak akan menyebabkan gangguan absorpsi vitamin A, maka pada keadaan ini dapat digunakan sediaan vitamin A yang larut dalam air. Absorpsi vitamin A berkurang bila diet kurang mengandung protein atau pada penyakit infeksi tertentu dan pada penyakit hati seperti hepatitis, sirosis hepatis atau obstruksi biliaris. Berkurangnya absorpsi vitamin A pada penyakit hati berbanding lurus dengan derajat insufisiensi hati (Dewoto 2007). 1.3 Indikasi Vitamin A diindikasikan untuk pencegahan dan pengobatan defisiensi vitamin A. 1.4 Posologi Jenis sediaan untuk vitamin A antara lain oral, suntikan, dan topical. Penggunaan oral terdapat bentuk tablet, kapsul, atau larutan/sirup. Sediaan vitamin A dalam larutan air paling cepat diabsorpsi dan memberikan kadar plasma lebih tinggi dibandingkan sediaan minyak. Vitamin A kapsul mengandung 3-15 mg retinol (10.000-15.000 IU) per kapsul. Sediaan suntikan dalam bentuk larutan mengandung 50.000 IU vitamin A/ml dapat diberikan secara IM untuk pasien malabsorpsi, mual, muntah, dan gangguan mata berat. Dosis lebih dari 25.000 IU/hari hanya dapat diberikan pada pasien defisiensi berat. Penggunaan oral lebih baik daripada parenteral (Dewoto 2007). Tabel 1. Rincian tentang vitamin A

Page 1

VITAMIN dan MINERAL

Kriteria

Penjelasan

Dosis Terapi untuk Kekurangan Vitamin A

100.000-500.000 IU sehari 3 kali; lalu 50.000 IU selama 14 hari (sehari sekali)

Maintenance

10.000-20.000 IU selama 60 hari

Kategori dalam kehamilan

A; Protein Binding tidak diketahui; waktu paruh: minggu-bulanan

Kondisi kekurangan

Terapi kekurangan vitamin A nya, cegah rabun senja, atasi kelainan kulit, tingkatkan pertumbuhan tulang

Efek samping

Nyeri kepala, fatigue, drowsiness, iritabel, anorexia, muntah, diare, kulit kering, perubahan visus, hipoprotrombinemia

Page 2

VITAMIN dan MINERAL

Adverse Reactions

Bukti dengan toksisitas: lekopenia, anemia aplastik, papiledema, peningkatan tekanan intracranial, hypervitaminosis A (rambut rontok dan kulit mengelupas). Dosis besar selama kehamilan dapat mengakibatkan cacat bawaan.

Kontra indikasi

Minyak mineral, kolestiramin,alcohol, dan obat anti dislipidemia karena dapat menurunkan absorpsi vitamin A. Vitamin ini diekskresi di ginjal dan feses.

(Kamiensky, Keogh 2006) 2. Vitamin B6 (Pyridoxine) Vitamin B6 merupakan jenis vitamin yang larut air. Pemberian vitamin B6 pada umumnya untuk mengkoreksi kekurangan vitamin B6 dan membantu mengurangi gejala neuritis yang disebabkan oleh pemakaian isoniazid (INH) pada terapi TB. Sumber makanan yang banyak mengandung vitamin ini antara lain daging, sayuran dengan daun berwarna hijau, sereal gandum utuh, ragi, dan pisang. Kebutuhan vitamin B6 berdasarkan U.S. RDA adalah untuk pria sebanyak 15-19 mg/hari, wanita 14-15 mg/hari, kehamilan 18 mg/hari, dan laktasi sekitar 20 mg/hari (Kamiensky, Keogh 2006). 2.1 Farmakodinamik Obat Pemberian piridoksin secara oral dan parenteral tidak menunjukkan efek farmakodinamik yang nyata. Dosis sangat besar yaitu 3-4 g/kgBB menyebabkan kejang dan kematian pada hewan coba tetapi dosis kurang dari ini umumnya tidak menimbulkan efek yang jelas. Piridoksal fosfat dalam tubuh merupakan koenzim yang berperan penting dalam metabolisme berbagai asam amino, di antaranya dekarboksilasi, transminasi, dan rasemisasi triptofan, asam-asam amino yang bersulfur dan asam amino hidroksida (Dewoto 2007). 2.3 Farmakokinetik Obat Piridoksin, piridoksal, dan piridoksamin mudah diabsorpsi melalui saluran cerna. Metabolit terpenting dari ketiga bentuk tersebut adalah 4-asam piridoksat. Ekskresi melalui urin terutama dalam bentuk 4-asam piridoksat dan piridoksal (Dewoto 2007). 2.4 Indikasi Pencegahan dan pengobatan defisiensi B6, diberikan bersama vitamin B lainnya atau sebagai multivitamin untuk pencegahan dan pengobatan defisiensi vitamin B kompleks. Indikasi lain adalah untuk mencegah dan mengobati neuritis perifer oleh obat seperti INH, sikloserin, hidralazin, penisilamin yang bekerja sebagai antagonis piridoksin dan/atau meningkatkan ekskresinya melalui urin. Pemberian pada wanita yang menggunakan kontrasepsi oral yang mengandung estrogen juga dibenarkan karena kemungkinan terjadinya defisiensi piridoksin pada wanita-wanita tersebut. Piridoksin juga dilaporkan dapat memperbaikin gejala keilosis, dermatitis seboroik, glositis, dan stomatitis yang tidak memberikan respon terhadap tiamin, riboflavin, dan niasin serta dapat mengurangi gejala-gejala yang menyertai tegangan prahaid (pramesntrual tension). Indikasi lain yaitu untuk anemia yang responsive terhadap piridoksin yang biasanya sideroblastik dan
Page 3

VITAMIN dan MINERAL


mungkin disebabkan kelainan genetik (Kamiensky, Keogh 2006; Dewoto 2007). 2.5 Posologi Piridoksin tersedia sebagai tablet piridoksin HCl 10-100 mg dan sebagai larutan steril 100 mg/ml piridoksin HCl untuk injeksi (Dewoto 2007). Tabel 2. Rincian tentang vitamin B6

Kriteria

Penjelasan

Dosis Terapi untuk Kekurangan Vitamin

25-100 mg/hari Isoniazid therapy prophylaxis: 20-25 mg/hari Peripheral neuritis: 50-200 mg/hari

Maintenance

Laki-laki: 2 mg/hari Wanita: 1,6 mg/hari Ibu hamil: 2,1 mg/hari Ibu menyusui: 2,2 mg/hari

Kategori dalam kehamilan

A (C jika dosis melebihi RDA)

Kondisi kekurangan

Page 4

VITAMIN dan MINERAL


Neuritis, kejang, dermatitis, anemia, lymphopenia

Efek samping

Nyeri kepala, mual, somnolen; dosis tinggi menyebabkan neuropathy sensorik (paresthesia, unstable gait, clumsiness of hands)

Adverse Reactions

Megadosis jangka panjang dapat menyebabkan neuropathy sensorik

Kontra indikasi

Dihindarkan pada pasien yang mendapat levodopa, terapi IV pada pasien jantung. Perhatian: megadosis pada kehamilan

(Kamiensky, Keogh 2006) 3. Vitamin C Vitamin C atau asam askorbat merupakan vitamin yang larut dalam air. Vitamin C bekerja sebagai suatu koenzim dan pada keadaan tertentu merupakan reduktor dan antioksidan. Vitamin ini dapat secara langsung atau tidak langsung memberikan elektron ke enzim yang membutuhkan ion-ion logam tereduksi dan bekerja sebagai kofaktor untuk prolil dan lisil hidroksilase dalam biosintesis kolagen. Zat ini berbentuk kristal dan bubuk putih kekuningan, stabil pada keadaan kering (Dewoto 2007). Vitamin ini dapat ditemukan di buah citrus, tomat, sayuran berwarna hijau, dan kentang. vitamin ini digunakan dalam metabolisme karbohidrat dan sintesis protein, lipid, dan kolagen. Vitamin C juga dibutuhkan oleh endotel kapiler dan perbaikan jaringan. vitamin C bermanfaat dalam absorpsi zat besi dan metabolisme asam folat. Tidak seperti vitamin yang larut lemak, vitamin C tidak disimpan dalam tubuh dan diekskresikan di urine. Namun, serum level vitamin C yang tinggi merupakan hasil dari dosis yang berlebihan dan diekskresi tanpa mengubah apapun(Kamiensky, Keogh 2006). Kebutuhan vitamin C berdasarkan U.S. RDA antara lain untuk pria dan wanita sebanyak 60 mg/hari, bayi sebanyak 35 mg/hari, ibu hamil sebanyak 70 mg/hari, dan ibu menyusui sebanyak 95 mg/hari. Kebutuhan vitamin C meningkat 300-500% pada penyakit infeksi, TB, tukak peptik, penyakit neoplasma, pasca bedah atau trauma, hipertiroid, kehamilan, dan laktasi (Kamiensky, Keogh 2006).
Page 5

VITAMIN dan MINERAL


3.1 Farmakodinamik Obat Vitamin C berperan sebagai kofaktor dalam sejumlah reaksi hidroksilasi dan amidasi dengan memindahkan electron ke enzim yang ion logamnya harus berada dalam keadaan tereduksi; dan dalam keadaan tertentu bersifat sebagai antioksidan. Vitamin C dibutuhkan untuk mempercepat perubahan residu prolin dan lisin pada prokolagen menjadi hidroksiprolin dan hidroksilisin pada sintesis kolagen. Perubahan asam folat menjadi asam folinat, metabolisme obat oleh mikrosom dan hidroksilasi dopamine menjadi norepinefrin juga membutuhkan vitamin C. Asam askorbat meningkatkkan aktivitas enzim amidase yang berperan dalam pembentukan hormon oksitosin dan hormon diuretik. Vitamin C juga meningkatkan absorpsi besi dengan mereduksi ion feri menjadi fero di lambung.Peran vitamin C juga didapatkan dalam pembentukan steroid adrenal (Kamiensky, Keogh 2006; Dewoto 2007). Fungsi utama vitamin C pada jaringan adalah dalam sintesis kolagen, proteoglikan zat organik matriks antarsel lain misalnya pada tulang, gigi, dan endotel kapiler. Peran vitamin C dalam sintesis kolagen selain pada hidroksilasi prolin juga berperan pada stimulasi langsung sintesis peptide kolagen. Gangguan sintesis kolagen terjadi pada pasien skorbut. Hal ini tampak pada kesulitan dalam penyembuhan luka, gangguan pembentukan gigi, dan pecahnya kapiler yang mengakibatkan petechiae dan echimosis. Perdarahan tersebut disebabkan oleh kebocoran kapiler akibat adhesi sel-sel endotel yang kurang baik dan mungkin juga karena gangguan pada jaringan ikat perikapiler sehingga kapiler mudah pecah oleh penekanan (Kamiensky, Keogh 2006; Dewoto 2007). Pemberian vitamin C pada keadaan normal tidak menunjukkan efek farmakodinamik yang jelas. Namun pada keadaan defisiensi, pemberian vitamin C akan menghilangkan gejala penyakit dengan cepat. 3.2 Farmakokinetik Obat Vitamin C mudah diabsorpsi melalui saluran cerna.pada keadaan normal tampak kenaikan kadar vitamin C dalam darah setelah diabsorpsi. Kadar dalam lekosit dan trombosit lebih besar daripada dalam plasma dan eritrosit. Distribusinya luas ke seluruh tubuh dengan kadar tertinggi dalam kelenjar dan terendah dalam otot dan jaringan lemak. Ekskresi melalui urin dalam bentuk utuh dan bentuk garam sulfatnya terjadi jika kadar dalam darah melewati ambang rangsang ginjal yaitu 1,4 mg% (Dewoto 2007). Beberapa obat diduga dapat mempercepat ekskresi vitamin C misalnya tetrasiklin, fenobarbital, dan salisilat. Vitamin C dosis besar dapat memberikan hasil false negative pada uji glikosuria (enzymedip test) dan uji adanya darah pada feses pasien karsinoma kolon. Hasil false positive dapat terjadi pada clinitest dan tes glikosuria dengan larutan Benedict. 3.3 Indikasi Vitamin C diindikasikan untuk pencegahan dan pengobatan skorbut. Selain itu, vitamin C juga digunakan untuk berbagai penyakit yang tidak ada hubungannya dengan defisiensi vitamin C dan seringkali digunakan dengan dosis besar. Namun, efektivitasnya belum terbukti. Vitamin C yang mempunyai sifat reduktor digunakan untuk mengatasi methemoglobinemia idiopatik meskipun kurang efektif dibandingakan dengan metilen blue. Vitamin C tidak mengurangi insidens common cold tetapi dapat mengurangi berat sakit dan lama masa sakit (Dewoto 2007). 3.4 Posologi Vitamin C terdapat dalam berbagai preparat baik dalam bentuk tablet yang mengandung 50-1500 mg maupun dalam bentuk larutan. Kebanyakan sediaan multivitamin mengandung vitamin C. Sediaan suntik mengandung vitamin C sebanyak 100-500 mg dalam larutan. Air jeruk mengandung vitamin C yang tinggi sehingga dapat digunakan untuk terapi menggantikan sediaan vitamin C (Kamiensky, Keogh 2006; Dewoto 2007). Kalsium askorbat dan natrium askorbat didapatkan dalam bentuk tablet dan bubuk unutk penggunaan per oral. Tabel 3. Rincian tentang vitamin C

Kriteria
Page 6

VITAMIN dan MINERAL

Penjelasan

Dosis Terapi untuk Kekurangan Vitamin C

Dewasa: per hari 50-100 mg. defisiensi berat, PO:IM:IV: 150-500 mg/hari dalam 1-2 dosis terbagi. 500-6000 mg/hari untuk terapi ISPA, kanker, atau hiperkolesterolemia

Maintenance

45-60 mg/hari

Kategori dalam kehamilan

Kondisi kekurangan

Cegah dan atasi defisiensi vitamin C (Scurvy); meningkatkan penyembuhan luka; untuk luka bakar; krisis sel sickle; deep vein thrombosis; terapi megavitamin (dosis massif) tidak direkomnedasikan karena dapat menyebabkan toksisitas.

Efek samping

Nyeri kepala, fatigue, drowsiness, mual, dada terbakar, muntah, diare. Vitamin C dengan aspirin atau sulfonamide dapat menyebabkan pembentukan Kristal di urin (Crystalluria); dapat memberikan hasil false negative adanya darah pada uji feses dan false positive glikosuria jika diperiksa dengan Clinitest

Page 7

VITAMIN dan MINERAL

Adverse Reactions

Batu ginjal, crystalluria, hiperurecemia; dosis massif dapat menyebabkan diare dan rasa tidak enak di perut (GI upset)

Kontra indikasi

Dosis besar dapat menurunkan efek antikoagulasi oral, kontrasepsi oral dapat menurunkan kadar vitamin C dalam tubuh; merokok menurunkan kadar serum vitamin C, digunakan dengan perhatian pada renal calculi (batu ginjal); gout, anemia, sel sickle, seideroblastik, thalassemia

Interaksi obat

Menurunkan uptake asam askorbat jika digunakan dengan salisilat; dapat menurunkan efek antikoagulan oral; dapat menurunkan eliminasi aspirin

(Kamiensky, Keogh 2006) 4. Vitamin E Vitamin E adalah vitamin yang larut dalam lemak dan dapat melindungi jantung, arteri, dan komponen selular untuk tetap melakukan oksidasi dan mencegah lisis sel darah merah. Jika terdapat ketidakseimbangan garam, sekresi pancreas, dan lemak, vitamin E diabsorpsi di saluran pencernaan dan disimpan di seluruh jaringan, terutama liver, otot, dan jaringan lemak. Tujuh puluh lima persen dari jumlah vitamin E diekskresi di empedu dan sisanya melalui urin (Kamiensky, Keogh 2006). Delapan jenis tokoferol alam mempunyai aktivias vitamin E. RRR-α-tokoferol (dahulu disebut d-α-tokoferol) merupakan bentuk paling penting karena merupakan 90% dari tokoferol yang berasal dari hewan dengan aktivitas biologik paling besar (Dewoto 2007). Sumber makanan yang banyak mengandung vitamin E antara lain sereal gandum utuh, minyak sayuran, daun bawang, biji bunga matahari. Kebutuhan vitamin E per hari menurut U.S RDA yaitu pada pria sebanyak 10 mg/hari; 15 IU, wanita sebanyak 8 mg/hari; 12 IU, pada kehamilan dibutuhkan sebanyak 10-12 mg/hari. Kebutuhan vitamin A pada orang Indonesia belum diketahui akan tetapi diperkirakan sama dengan rekomendasi U.S RDA (Kamiensky, Keogh 2006; Dewoto 2007). 4.1 Farmakodinamik Obat Vitamin E berperan sebagai antioksidan dan dapat melindungi kerusakan membrane biologis akibat radikal
Page 8

VITAMIN dan MINERAL


bebas. Vitamin E melindungi asam lemak tak jenuh pada membrane fosfolipid. Radikal peroksil bereaksi 1000 kali lebih cepat dengan vitamin E daripada dengan asam lemak tak jenuh dan membentuk radikal tokoferoksil. Radikal ini selanjutnya berinteraksi dengan antioksidan yang lain seperti vitamin C yang akan membentuk kembali tokoferol. Vitamin E juga penting untuk melindungi membrane sel darah merah yang kaya asam lemak tak jenuh ganda dari kerusakan akibat oksidasi. Vitamin ini berperan dalam melindungi lipoprotein dari LDL teroksidasi dalam sirkulasi. LDL teroksidasi ini memegang peranan penting dalam menyebabkan aterosklerosis. Selain efek antioksidan, vitamin E juga berperan mengatur proliferasi sel otot polos pembuluh darah, menyebabkan vasodilatasi dan menghambat baik aktivasi trombosit maupun adhesi lekosit. Vitamin E juga melindungi β-karoten dari oksidasi (Dewoto 2007). 4.2 Farmakokinetik Obat Vitamin E diabsorpsi baik melalui saluran pencernaan. Beta-lipoprotein mengikat vitamin E dalam darah dan mendistribusikan ke semua jaringan. Kadar plasma sangat bervariasi diantara individu normal, dan berfluktuasi tergantung kadar lipid. Rasio vitamin E terhadap lipid total dalam plasma digunakan untuk memperkirakan status vitamin E. Nilai di bawah 0,8 mg/g menunjukkan keadaan defisiensi. Pada umumnya kadar tokoferol plasma lebih berhubungan dengan asupan dan gangguan absorpsi lemak pada usus halus daripada ada tidaknya penyakit. Vitamin E sukar melalui sawar plasenta sehingga bayi baru lahir hanya mempunyai kadar tokoferol plasma kurang lebih seperlima dari kadar tokoferol plasma ibunya. ASI mengandung α-tokoferol yang cukup bagi bayi. Ekskresi vitamin sebagian besar dilakukan dalam empedu secara lambat dan sisanya diekskresi melalui urin sebagai glukoronida dari asam tokoferonat atau metabolit lain (Kamiensky, Keogh 2006; Dewoto 2007). 4.3 Indikasi Pemberian vitamin E hanya diindikasikan pada keadaan defisiensi yang dapat terlihat sari kadar serum yang rendah dan atau peningkatan fragilitas eritrosit terhadap hydrogen peroksida. Hal ini dapat terjadi pada bayi premature, pada pasien dengan sindrom malabsorpsi dan steatore, dan penyakit dengan gangguan absorpsi lemak. Penggunaan vitamin E untuk penyakit yang mirip dengan keadaan yang timbul akibat defisiensi vitamin E seperti distrofia otot, abortus habitualis, sterilitas, dan toxemia gravidarum hasilnya mengecewakan (Dewoto 2007). 4.4 Posologi Vitamin E tersedia dalam sediaan per oral dan parenteral Tabel 4. Rincian tentang vitamin E

Kriteria

Penjelasan

Dosis Terapi untuk Kekurangan Vitamin

Malabsorpsi: 30-100 mg/hari Defisit berat: 1-2 mg/KgBB/hari atau 50-200 IU/kgBB/hari

Page 9

VITAMIN dan MINERAL

Maintenance

Laki-laki: 10 mg/hari; 15 IU Wanita: 8 mg/hari; 12 IU Ibu hamil: 10-12 mg/hari

Kategori dalam kehamilan

A (C jika dosis melebihi RDA)

Kondisi kekurangan

Lisis sel darah merah

Efek samping

Tidak signifikan

Adverse Reactions

Dosis besar dapat menyebabkan fatigue, kelemahan, mual, rasa tidak nyaman di perut, nyeri kepala, mammae mengeras, dan waktu pembekuan memanjang

Kontra indikasi

Pasien yang mengkonsumsi warfarin (antikoagulan) harus sering memantau waktu pembekuan. Besi dan vitamin E sebaiknya tidak diberikan bersama karena besi dapat mengganggu absorpsi dan penggunaan vitamin
Page 10

VITAMIN dan MINERAL


E

(Kamiensky, Keogh 2006) 5. Asam Folat Asam folat (asam pteroilmonoglutamat, PmGA) terdiri atas bagian-bagian pteridin, asam paraaminobenzoat, dan asam glutamate. Asam folat penting untuk pertumbuhan tubuh dan dibutuhkan dalam sintesis DNA. PmGA bersama dengan konjugat yang mengandung lebih dari satu asam glutamate membentuk suatu kelompok zat yang dikenal sebagai folat. Folat merupakan bentuk aktif asam folat yang beredar di seluruh jaringan tubuh. Sepertiga dari folat disimpan di liver dan sisanya disimpan di jaringan lain. Sebagian besar asam folat diekskresi di empedu. Asam folat didapatkan pada sayuran hijau, buah dan sayur berwarna kuning, ragi, dan daging dan diabsorbsi di usus halus. Folat mudah rusak dengan pengolahan (pemasakan) makanan (Dewoto, Wardhini 2007). Kebutuhan asam folat per hari menurut U.S RDA antara lain pria dan wanita sebanyak 400 µg/hari, kehamilan sebanyak 600-800 µg/hari, dan laktasi sebanyak 600-800 µg/hari (Kamiensky, Keogh 2006). 5.1 Farmakodinamik Obat Asam folat (PmGA) merupakan precursor inaktif dari berbagai koenzim yang berfungsi pada transfer unit karbon tunggal (single carbon unit). Mula-mula folat reduktase mereduksi PmGA menjadi THFA (asam tetrahidrofolat). THFA yang terbentuk bertindak sebagai akseptor berbagai unit karbon tunggal dan selanjutnya memindahkan unit ini kepada zat-zat yang memerlukan. Berbagai reaksi penting yang menggunakan unit karbon tunggal adalah: (1) sintesis purin melalui pembentukan asam inosinat; (2) sintesis nukleotida pirimidin melalui metilasi asam deoksiuridilat menjadi asam timidat; (3) interkonversi beberapa asam amino misalnya antara serin dengan glisin, histidin dengan asam glutamate, homosistein dengan metionin (yang terakhir juga memerlukan B12). Peningkatan metabolism akibat penyakit infeksi, anemia hemolitik, dan adanya tumor ganas meningkatkan kebutuhan folat (Dewoto, Wardhini 2007). 5.2 Farmakokinetik Obat Absorpsi asam folat paling baik adalah melalui pemberian per oral terutama pada sepertiga bagian proksimal usus halus. Pemberian dengan dosis kecil, memerlukan energy untuk melakukan absorpsi sedangkan pada dosis besar, absorpsi dapat berlangsung secara difusi. Gangguan pada usus halus masih dapat mencukupi kebutuhan folat. Ada tidaknya tanspor protein belum dapat dipastikan. Dua pertiga dari asam folat yang terdapat dalam plasma darah terikat pada protein yang tidak difiltrasi ginjal. Distribusi folat merata ke semua sel jaringan dan terjadi penumpukan dalam cairan serebrospinal. Ekskresi berlangsung di ginjal dan sebagian besar dalam bentuk metabolit (Dewoto, Wardhini 2007). 5.3 Indikasi Penggunaan folat yang rasional adalah pada pencegahan dan pengobatan defisiensi folat. Penggunaan secara berlebihan pada pasien anemia pernisiosa dapat merugikan pasien karena folat dapat memperbaiki kelainan darah pada anemia pernisiosa tanpa memperbaiki kelainan neurologic sehingga dapat berakibat pasien cacat seumur hidup (Dewoto, Wardhini 2007). Kebutuhan asam folat meningkat pada ibu hamil dan dapat menyebabkan defisiensi asam folat bila tidak atau kurang mendapatkan asupan asam folat dari makanannya. Beberapa penelitian menunjukkan ada hubungan kuat antara defisiensi asam folat pada ibu dengan insidens neural tube defect, seperti spina bifida dan anensefalus, pada bayi yang dilahirkan. Efek toksik pada penggunaan folat untuk manusia hingga sekarang belum pernah dilaporkan. 5.4 Posologi
Page 11

VITAMIN dan MINERAL


Asam folat tersedia dalam bentuk tablet yang mengandung 0,4; 0,8 dan 1 mg asam pteroliglutamat dan dalam larutan injeksi asm folat 6 mg/ml. Selain itu, asam folat terdapat dalam berbagai sediaan multivitamin atau digabung dengan antianemia lainnya. Asam folat injeksi biasanya hanya digunakan sebagai antidotum pada intoksikasi antifolat (antikanker). Tabel 5. Rincian tentang asam folat

Kriteria

Penjelasan

Dosis Terapi untuk Kekurangan Vitamin

1-2 mg/hari

Maintenance

Pria dan wanita: 400 µg/hari Ibu hamil dan laktasi: 600-800 µg/hari

Kategori dalam kehamilan

A (C jika dosis melebihi RDA)

Kondisi kekurangan

Penurunan jumlah lekosit dan factor pembekuan darah, anemia, gangguan intestinal, dan depresi

Page 12

VITAMIN dan MINERAL

Efek samping

Tidak signifikan

Adverse Reactions

Dosis besar dapat menutupi tanda dan gejala defisiensi vitamin B12 yang berisiko pada usia tua. Pasien dengan Phenytoin (Dilantin) untuk kejang sebaiknya berhati-hati mengkonsumsi asam folat karena dapat meningkatkan risiko kejang. Selama kehamilan trimester pertama, kekurangan asam folat dapat mempengaruhi perkembangan system saraf pusat pada fetus; hal ini dapat menyebabkan neural tube defects seperti spina bifida (defek penutupan struktur tulang medulla spinalis) atau anencephaly ( sedikitnya formasi massa otak)

Kontra indikasi

Anemia pernisiosa, anemia aplastik, normocytic, dan anemia refrakter.

(Kamiensky, Keogh 2006) 6. Zinc/Seng (Zn) Zinc (Zn) merupakan mineral yang berperan sebagai kofaktor lebih dari 100 enzim dan penting untuk metabolism asam nukleat dan sintesis protein. Zn menstimulasi aktivitas lebih dari 100 enzim yang memiliki fungsi penting bagi tubuh termasuk produksi insulin, membuat sperma dan memainkan peran penting dalam sistem imun dan sintesis DNA. Zn membantu penyembuhan luka dan membantu pasien mempertahankan kemampuan dalam pengecapan dan pembauan (Kamiensky, Keogh 2006). 6.1 Farmakodinamik Obat Absorpsi Zn dipercepat oleh ligand berat molekul rendah yang berasal dari pancreas. Kurang lebih 20-30% Zn per oral diabsorpsi terutama pada duodenum dan usus halus bagian proksimal. Jumlah Zn yang diabsorpsi tergantung pada berbagai factor termasuk sumbernya. Zn yang berasal dari hewan pada umumnya diabsorpsi lebih baik daripada yang berasal dari tumbuhan. Hal ini disebabkan adanya fitat dan serat tumbuhan yang mengikat Zn pada usus sehingga tidak dapat diabsorpsi. Fosfat, besi, Cu, Pb, cadmium, dan kalsium juga menghambat absorpsi Zn. Sebaliknya absorpsi Zn meningkat pada masa kehamilan. Hal ini dikarenakan oleh kortikosteroid dan endotoksin. Dosis Zn yang lebih besar dari 150 mg dapat menyebabkan kekurangan tembaga, menurunkan HDL kolesterol, dan memperlemah respon imun pasien (Dewoto 2007). 6.2 Farmakokinetik Obat Zn didistribusikan ke seluruh tubh dan kadar tertinggi didapatkan pada koroid mata, spermatozoa, rambut,
Page 13

VITAMIN dan MINERAL


kuku, tulang, dan prostat. Di dalam plasma sebagian besar Zn terikat pad protein terutama pada albumin, α-2 makroglobulin, dan transferin. Ekskresi Zn terutama melalui feses sejumlah kurang lebih dua pertiga dari asupan Zn. Sekitar 2% diekskresi di urin. Kehilangan Zn dalam jumlah besar dapat terjadi akibat diare atau keluarnya cairan dari fistula. Zn menghambat absorpsi dari tetrasiklin (antibiotic) dan oleh karena itu sebaiknya tidak diminum bersamaan dengan antibiotic. Pasien harus menunggu dua jam setelah meminum antibiotic sebelum mengkonsumsi Zn (Dewoto 2007). 6.3 Indikasi Pemberian Zn secara rasional adalah pada pasien dengan defisiensi Zn. Defisiensi ini terjadi akibat asupan yang tidak cukup misalnya pada oang tua, alkoholisme dengan sirosis, dan gizi buruk; absorpsi yang kurang misalnya pada sindrom malabsorpsi, fibrosis kistik; meningkatnya ekskresi Zn pada pasien anemia sickle cell, luka bakar yang luas, fistula yan mengeluarkan cairan; atau pada pasien dengan gangguan metabolism bawaan misalnya akrodermatitis enteropatik. Defisiensi Zn pada ibu hamil mungkin dapat menyebabkan efek teratogenik. Disfungsi kelamin dan impoten yang terjadi pada pasien penyakit ginjal sebagian dapat diatasi dengan pemberian Zn. 6.4 Posologi Tersedia dalam bentuk per oral. Tabel 6. Rincian tentang mineral zinc

Kriteria

Penjelasan

Dosis Terapi untuk Kekurangan Vitamin

12-19 mg/hari

Maintenance

12-19 mg/hari

Kategori dalam kehamilan

Page 14

VITAMIN dan MINERAL

A (C jika dosis melebihi RDA)

Kondisi kekurangan

Retardasi pertumbuhan, diare, muntah, pubertas terlambat, kelemahan, kulit kering, penyembuhan luka yang lama.

Efek samping

Tidak diketahui

Adverse Reactions

Anemia, peningkatan LDL kolesterol, nyeri otot, demam, mual, dan muntah

Kontra indikasi

Jangan diminum bersamaan dengan tetrasiklin

(Kamiensky, Keogh 2006) 7. Mineral Mix Mineral mix merupakan salah satu komponen dalam pembuatan Rehydration Solution for Malnutrition (ReSoMal) dan Formula WHO (Formula 75 dan 100 ) yang digunakan dalam Tatalaksana Anak Gizi Buruk untuk memenuhi kekurangan zat gizi mikro pada pada anak gizi buruk . Sasaran penguna mineral mix adalah anak gizi buruk klinis dan atau antropometri (BB/TB < -3 SD) dan anak gizi buruk paska perawatan (Siswono 2010). Tiap kemasan/ sachet mineral mix mengandung zat aktif KCl, Tripotasium Citrat, Magnesium Clorida, Zn asetat dan Cuprum sulfat. ReSoMal adalah cairan yang diberikan kepada anak gizi buruk yang menderita diare dan atau dehidrasi. Formula WHO adalah formula yang diberikan pada anak
Page 15

VITAMIN dan MINERAL


penderita gizi buruk. Mineral mix dalam bentuk sachet sudah tersedia di Kementerian Kesehatan dan menjadi pedoman tatalaksana anak gizi buruk di Indonesia (Soekandar AW, et al 2008). Tiap kemasan mineral mix mengandung zat aktif sebagai berikut Tabel 1. Komposisi mineral mix (Soekandar AW,et al 2008) Tiap kemasan dimaksudkan untuk membuat 20 ml larutan.

Daftar pustaka Dewoto HR 2007. Vitamin dan Mineral. dalam Farmakologi dan Terapi edisi kelima.Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Percetakan Gaya Baru, Jakarta.p.769-92. Dewoto HR dan Wardhini S 2007. Antianemia Defisiensi dan Eritropoietin. Dalam Farmakologi dan Terapi edisi kelima.Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Percetakan Gaya Baru, Jakarta.p.800-2. Kamiensky M, Keogh J 2006. Vitamins and Minerals.In: Pharmacology Demystified.Mc.GrawHill Companies Inc.,USA.p.137-54. Siswono 2010. Mineral Mix Solusi Alternatif?. Indonesian Nutrition Network Gizi.Net. Cited on May 8th 2011 pkl 22.55http://gizi.net/2010/07/mineral-mix-solusi-alternatif/ Soekandar AW et al 2008. Spesifikasi Teknis Mineral Mix untuk Anak Penderita Gizi Buruk. Indonesian Nutrition Network Gizi.Net. Cited on May 8th 2011 pkl 22.57 http://www.gizi.net/lain/gklinis/spekminmix.pdf (end)

Page 16