Anda di halaman 1dari 15

FISIOLOGI SISTEM INDERA PENCIUMAN DAN INDERA PENGECAPAN

OLEH : SULISTIANINGSIH ANISA TIRA RAFFLESIA MALA SANTIKA HARPRI BR G MUNTHE ELISA BR S. DEPARI RONITA SITANGGANG 04101003017 04101003008 04101003006 04101003010 04101003050 04101003065 04101003030

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2011/2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Fisiologi Sistem Indera Penciuman dan Indera Pengecepan tepat pada waktunya. Makalah ini penulis susun untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Fisiologi, selain itu untuk mengetahui dan memahami Panca Indra Manusia. Penulis mengucapkan terima kasih pada pihak-pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu setiap pihak diharapkan dapat memberikan masukan berupa kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan isi makalahnya.

Inderalaya, 3 Mei 2012

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................... i DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang .......................................................................................... 1 1.2. Rumusan masalah..................................................................................... 2 1.3. Tujuan ...................................................................................................... 2 BAB II PEMBAHASAN 2.1.Indera Pengecap (Lidah) ........................................................................... 2.2. Indera Pembau (Hidung) .......................................................................... BAB III PENUTUP 3.1. Simpulan .................................................................................................. 3.2. Saran ........................................................................................................ DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 22

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang Setiap makhluk hidup di bumi diciptakan berdampingan dengan alam, karena alam sangat penting untuk kelangsungan makhluk hidup. Karena itu setiap makhluk hidup, khususnya manusia harus dapat menjaga keseimbangan alam. Untuk dapat menjaga keseimbangan alam dan untuk dapat mengenali perubahan lingkungan yang terjadi, Tuhan memberikan indera kepada setiap makhluk hidup. Indera ini berfungsi untuk mengenali setiap perubahan lingkungan, baik yang terjadi di dalam maupun di luar tubuh. Indera yang ada pada makhluk hidup, memiliki sel-sel reseptor khusus. Sel-sel reseptor inilah yang berfungsi untuk mengenali perubahan lingkungan yang terjadi. Berdasarkan fungsinya, sel-sel reseptor ini dibagi menjadi dua, yaitu interoreseptor dan eksoreseptor. Interoreseptor ini berfungsi untuk mengenali perubahan-perubahan yang terjadi di dalam tubuh. Sel-sel interoreseptor terdapat pada sel otot, tendon, ligamentum, sendi, dinding pembuluh darah, dinding saluran pencernaan, dan lain sebagainya. Sel-sel ini dapat mengenali berbagai perubahan yang ada di dalam tubuh seperti terjadi rasa nyeri di dalam tubuh, kadar oksigen menurun, kadar glukosa, tekanan darah menurun/naik dan lain sebagainya. Eksoreseptor adalah kebalikan dari interoreseptor, eksoreseptor berfungsi untuk mengenali perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi di luar tubuh. Yang termasuk eksoreseptor yaitu: (1) Indera penglihat (mata), indera ini berfungsi untuk mengenali perubahan lingkungan seperti sinar, warna dan lain sebagainya. (2) Indera pendengar (telinga), indera ini berfungsi untuk mengenali perubahan lingkungan seperti suara. (3) Indera peraba (kulit), indera ini berfungsi untuk mengenali perubahan lingkungan seperti panas, dingin dan lain sebagainya. (4) Indera pengecap (lidah), indera

ini berfungsi untuk mengenal perubahan lingkungan seperti mengecap rasa manis, pahit dan lain sebagainya. (5) Indera pembau (hidung), indera ini berfungsi untuk mengenali perubahan lingkungan seperti mengenali/mencium bau. Kelima indera ini biasa kita kenal dengan sebutan panca indera. Namun yang akan dibahas dalam makalah ini lebih lanjut adalah fisiologi system indera penciuman dan system indera pengecap.

1.2. Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah fisiologi sistem indera pengecap (lidah) pada manusia? 2. Bagaimanakah fisiologi sistem indera pembau (hidung) pada manusia?

1.3. Tujuan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini sesuai dengan rumusan masalah di atas adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui bagaimana fisiologi sistem indera pengecap (lidah) pada manusia. 2. Untuk mengetahui bagaimana fisiologi sistem indera pembau (hidung) pada manusia.

BAB II PEMBAHASAN

II.1 Indera Pembau (Hidung)


Hidung adalah indera yang kita gunakan untuk mengenali lingkungan sekitar atau sesuatu dari aroma yang dihasilkan. Di dalam hidung kita terdapat banyak sel kemoreseptor untuk mengenali bau.

Saat manusia baru lahir indera

penciumannya lebih kuat dari manusia dewasa, karena dengan indera ini bayi dapat mengenali ibunya. Indera penciuman manusia dapat mendeteksi 2000 4000 bau yang berbeda. Indera pembau manusia berupa kemoreseptor yang terdapat di permukaan dalam hidung, yaitu pada lapisan lendir bagian atas. Reseptor pencium tidak bergerombol seperti tunas pengecap.

Gambar Struktur indera pembau

II.1.1 Bagian-bagian hidung Hidung manusia di bagi menjadi dua bagian rongga yang sama besar yang di sebut dengan nostril. Dinding pemisah di sebut dengan septum, septum terbuat dari tulang yang sangat tipis. Rongga hidung di lapisi dengan rambut dan membran yang mensekresi lendir lengket.

Adapun penjelasan bagian-bagian hidung adalah sebagai berikut : 1. Rongga hidung (nasal cavity) Ronggsa hidung (nasal cavity) adalah bagian eksternal yang menonjol dari wajah dan bagian internal berupa rongga hidung sebagai alat

penyalur udara. Rongga hidung berfungsi untuk mengalirkan udara dari luar ke tenggorokan menuju paru paru. Rongga hidung ini di hubungkan dengan bagian belakang tenggorokan. Rongga hidung di pisahkan oleh langit-langit mulut kita yang di sebut dengan palate. Di rongga hidung bagian atas terdapat sel-sel reseptor atau ujung- ujung saraf pembau. Ujung-ujung saraf pembau ini timbul bersama dengan rambut-rambut halus pada selaput lendir yang berada di dalam rongga hidung bagian atas dapat membau dengan baik. Rongga hidung dimulai dari Vestibulum, yakni pada bagian anterior ke bagian posterior yang berbatasan dengan nasofaring. Rongga hidung terbagi atas 2 bagian, yakni secaralongitudinal oleh septum hidung dan secara transversal oleh konka superior, medialis, dan inferior. 2. Mucous membrane Mucous membrane berfungsi menghangatkan udara dan

melembabkannya. Bagian ini membuat mucus (lendir atau ingus) yang berguna untuk menangkap debu, bakteri, dan partikel-partikel kecil lainnya yang dapat merusak paru-paru.

3. Sel Silia
Sel silia yang berperan untuk mlemparkan benda asing ke luar dalam usaha untuk membersihkan jalan napas

II.1.2 Cara kerja hidung Indera penciuman mendeteksi zat yang melepaskan molekulmolekul di udara. Di atap rongga hidung terdapat olfactory epithelium yang sangat sensitif terhadap molekul-molekul bau, karena pada bagian ini ada bagian pendeteksi bau (smell receptors). Reseptor ini jumlahnya sangat banyak ada sekitar 10 juta. Ketika partikel bau tertangkap oleh reseptor, sinyal akan di kirim ke the olfactory bulb melalui saraf olfactory. Bagian inilah yang mengirim sinyal ke otak dan kemudian di proses oleh otak, bau apakah yang telah tercium oleh hidung kita, apakah itu harumnya bau sate padang atau menyengat nya bau selokan.

II.1.3 Kelainan pada hidung Sebagai indra pembau, hidung dapat mengalami gangguan. Akibatnya, kepekaan hidung menjadi berkurang atau bahkan tidak dapat mencium bau suatu benda. Kelainan-kelainan pada hidung yaitu: 1. Angiofibroma Juvenil adalah tumor jinak pada hidung bagian tenggorokan bagian atas (nasofaring), belakang atau mengandung

yang

pembuluh darah. Tumor ini paling sering ditemukan pada anakanak laki yang sedang mengalami masa puber. 2. Papiloma Juvenil adalah tumor jinak pada kotak suara (laring). Papiloma disebabkan oleh virus. Papiloma bisa ditemukan pada anak usia 1 tahun. Papiloma bisa menyebabkan suara serak, kadang cukup berat sehingga anak tidak dapat berbicara dan bisa menyumbat saluran udara. 3. Rhinitis Allergica adalah peradangan hidung karena alergi. Disebabkan oleh adanya reaksi alergi pada hidung yang ditimbulkan oleh masuknya substansi asing ke dalam saluran tenggorokan. 4. Sinusitis merupakan peradangan sinus, yaitu rongga-rongga dalam tulang yang berhubungan dengan rongga hidung, yang gawat dan biasanya terjadi dalam waktu menahun (kronis). 5. Salesma dan influenza merupakan infeksi pada alat pernapasan yang disebabkan oleh virus, dan umumnya dapat menyebabkan batuk, pilek, sakit leher dan kadang-kadang panas atau sakit pada persendian. 6. Anosmia adalah gangguan pada hidung berupa kehilangan kemampuan untuk membau. Penyakit ini dapat terjadi karena beberapa hal, misalnya cidera atau infeksi di dasar kepala, keracunan timbel,

kebanyakan merokok, atau tumor otak bagian depan. Untuk mengatasi gangguan ini harus diketahui dulu penyebabnya.

II.2 Indera Pengecap (Lidah) Lidah adalah salah satu dari panca indera manusia. Lidah berfungsi
sebagai organ pengecap, pada lidah terdapat reseptor untuk rasa. Reseptor ini peka terhadap stimulus dari zat-zat kimia, sehingga disebut kemoreseptor. Reseptor tersebut adalah kuncup-kuncup pengecap (taste buds). Lidah merupakan

kumpulan otot rangka pada bagian lantai mulut yang dapat membantu pencernaan makanan dengan mengunyah dan menelan. Lidah dikenal sebagai indera pengecap yang banyak memiliki struktur tunas pengecap.
Sensasi pengecapan terjadi karena rangsangan terhadap berbagai reseptor pengecapan, ada sedikitnya 13 reseptor kimia yang ada pada sel-sel pengecapan, antara lain: 2 reseptor natrium,2 reseptor kalium, 1 reseptor klorida,1 resptor adenosine,1 reseptor inosin, 1 reseptor manis, 1 reseptor pahit,1 reseptor glutamate, dan 1 reseptor ion hydrogen.

Alat indera pengecap (lidah) sungguh menakjubkan, kita dapat membedakan bermacam-macam rasa.
Kemampuan reseptor tersebut

dikumpulkan menjadi 5 kategori umum : asam, asin, manis, pahit dan umami disebut sensasi pengecapan utama. 1. Rasa asam, disebabkan oleh asam karena konsentrasi ion hydrogen 2. Rasa Asin, dihasilkan oleh garam yang terionisasi,karena konsentrasi Na 3. Rasa manis, dibentuk oleh beberapa zat kimia organic ( gula, glikol, alcohol, aldehide, keton, amida, ester, asam amino, protein, asam sulfonat, asam halogenasi dan garam anorganik dari timah dan berilium. 4. Rasa Pahit, juga tidak dibentuk oleh satu zat kimia, zat pembentuk rasa manis bila terjadi perubahan pada struktur kimianya dapat menjadi pahit. Rasa pahit juga dapat mengindikasi bahwa makanan tersebut mengandung toxin atau beracun.

5.

Rasa Umami (bahasa Jepang), artinya lezat, untuk menyatakan rasa kecap yang menyenangkan secara kualitatif. Rasa ini dominan ditemukan pada L-glutamat ( terdapat pada ekstrak daging dan keju).

Pada anatomi lidah terdapat kuncup-kuncup pengecap, ada yang tersebar


dan ada pula yang berkelompok dalam tonjolan-tonjolan epitel yang disebut papilla (penuh dengan tonjolan).

II.2.1 Bagian-bagian lidah Sebagian besar lidah tersusun atas otot rangka yang terlekat pada tulang hyoideus, tulang rahang bawah dan processus styloideus di tulang pelipis. Terdapat dua jenis otot pada lidah yaitu otot ekstrinsik dan intrinsik. Lidah memiliki permukaan yang kasar karena adanya tonjolan yang disebut papila. Terdapat empat macam papila lidah:
1. Papila foliate, pada pangkal lidah bagian lateral, 2. Papila fungiformis, pada bagian anterior. 3. Papila sirkumfalata, melintang pada pangkal lidah.

Ketiga papila di atas mengandung kuncup pengecap. 4. Papila Filiformis, terdapat pada bagian posterior. Pada foliate tidak terdapat kuncup-kuncup pengecap.

Gambar. Kuncup Pengecap


(sumber: www.bebas.vlsm.org)

Tunas pengecap adalah bagian pengecap yang ada di pinggir papila, terdiri dari dua sel yaitu sel penyokong dan sel pengecap. Sel pengecap

berfungsi sebagai reseptor, sedangkan sel penyokong berfungsi untuk menopang. Bagian-bagian lidah: 1. Bagian depan lidah, fungsinya untuk mengecap rasa manis. 2. Bagian pinggir lidah, fungsinya untuk mengecap rasa asin dan asam. 3. Bagian belakang/pangkal, fungsinya untuk mengecap rasa pahit.

Lidah memiliki kelenjar ludah, yang menghasilkan air ludah dan enzim amilase (ptialin). Enzim ini berfungsi mengubah zat tepung (amilum) menjadi zat gula. Letak kelenjar ludah yaitu: kelenjar ludah atas terdapat di belakang telinga, dan kelenjar ludah bawah terdapat di bagian bawah lidah.

II.2.2 Cara Kerja Lidah Makanan atau minuman yang telah berupa larutan di dalam mulut akan merangsang ujung-ujung saraf pengecap. Oleh saraf pengecap, rangsangan rasa ini diteruskan ke pusat saraf pengecap di otak. Selanjutnya, otak menanggapi rangsang tersebut sehingga kita dapat merasakan rasa suatu jenis makanan atau minuman.
Mekanisme terjadinya pembentukan impuls makanan digambarkan pada bagan di bawah ini :

II.2.3 Kelaianan pada lidah 1. Oral candidosis Penyebabnya adalah jamur yang disebut candida albicans.. gejalanya yaitu lidah akan tampak tertutup lapisan putih yang dapat dikerok. 2. Atropic glossitis Lidah akan terlihat licin dan mengkilat baik seluruh bagian lidah maupun hanya sebagian kecil. Penyebab yang paling sering biasanya adalah kekurangan zat besi. Jadi banyak ditemukan pada penderita anemia. 3. Geografic tongue Gejalanya yaitu lidah seperti peta, berpulau-pulau. Bagian pulau itu berwarna merah dan lebih licin dan bila parah akan dikelilingi pita putih tebal.

4. Fissured tongue Gejalanya yaitu lidah akan terlihat pecah-pecah. 5. Glossopyrosis Kelainan ini berupa keluhan pada lidah dimana lidah terasa sakit dan panas dan terbakar tetapi tidak ditemukan gejala apapun dalam pemeriksaan. Hal ini lebih banyak disebabkan karena psikosomatis dibandingkan dengan kelainan pada syaraf.

BAB III PENUTUP

III.1 Kesimpulan III.1.1 Hidung 1. Hidung merupakan salah satu dari kelima alat indera yang penting. indera penciuman manusia ini dapat mendeteksi 2000 - 4000 bau yang berbeda. Indera pembau manusia berupa kemoreseptor yang terdapat di permukaan dalam hidung, yaitu pada lapisan lendir bagian atas. 2. Bagian-bagian dari hidung terdiri dari rongga hidung, sel silia, Mucous membrane 3. Indera penciuman mendeteksi zat yang melepaskan molekul-molekul di udara. Di atap rongga hidung terdapat olfactory epithelium yang sangat sensitif terhadap molekul-molekul bau, karena pada bagian ini ada bagian pendeteksi bau (smell receptors). Reseptor ini jumlahnya sangat banyak ada sekitar 10 juta. Ketika partikel bau tertangkap oleh reseptor, sinyal akan di kirim ke the olfactory bulb melalui saraf olfactory. Bagian inilah yang mengirim sinyal ke otak dan kemudian di proses oleh otak, bau apakah yang telah tercium oleh hidung kita, apakah itu harumnya bau sate padang atau menyengat nya bau selokan. 4. Kelainan-kelainan yang ada pada hidung yaitu: Angiofibroma Juvenil, Papiloma Juvenil, Rhinitis Allergica, Sinusitis, Salesma dan influenza, Anosmia

III. 1.2 Lidah 1. Lidah adalah salah satu dari panca indera manusia. Lidah berfungsi sebagai
organ pengecap, pada lidah terdapat reseptor untuk rasa. Reseptor ini peka terhadap stimulus dari zat-zat kimia, sehingga disebut kemoreseptor.

2. Terdapat empat macam papila lidah:


Papila foliate, pada pangkal lidah bagian lateral, Papila fungiformis, pada bagian anterior.

Papila sirkumfalata, melintang pada pangkal lidah. Papila Filiformis, terdapat pada bagian posterior. Pada foliate tidak terdapat kuncup-kuncup pengecap.

3. Kemampuan reseptor tersebut dikumpulkan menjadi 5 kategori umum : asam, asin, manis, pahit dan umami disebut sensasi pengecapan utama.

4. Makanan atau minuman yang telah berupa larutan di dalam mulut akan merangsang ujung-ujung saraf pengecap. Oleh saraf pengecap, rangsangan rasa ini diteruskan ke pusat saraf pengecap di otak. Selanjutnya, otak menanggapi rangsang tersebut sehingga kita dapat merasakan rasa suatu jenis makanan atau minuman. 5. Kelainan yang ada pada lidah yaitu: oral candidosis, atropic glossitis, geografic tongue, fissured tongue, glossopyrosis.

III.2 Saran

Pada sistem indera ditemukan berbagai macam gangguan dan kelainan, baik karena bawaan maupun karena faktor luar, seperti virus atau kesalahan mengkonsumsi makanan. Untuk itu jagalah kesehatan anda, salah satunya dengan menjaga alat indera kita.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2010. Alat indera pada manusia 9.1.

http://www.crayonpedia.org/mw/Alat_Indra_Pada_Manusia_9.1, (online), diakses tanggal 24 April 2012

Nurcahyo,

2010.

Kelainan

telinga,

hidung,

tenggorokan.

http://www.indonesiaindonesia.com/f/12853-kelainan-telinga-hidungtenggorokan/, (online), diakses tanggal 24 April 2012

Anda mungkin juga menyukai