Anda di halaman 1dari 35

Simetidin Deskripsi - Nama & Struktur Kimia - Sifat Fisikokimia : 2-Cyano-l-methyl-3-[2-(5-methylimidazol-4ylmethylthio)ethyl] guanide.

C10H16N6S

Serbuk kristal warna putih sampai hampir putih, tidak berbau atau sedikit berbau merkaptan; larut dalam : alkohol dan makrogol 400; tidak larut dalam eter; larut sebagian dalam isopropil alkohol; larut sempurna dalam metanol : -

- Keterangan

Golongan/Kelas Terapi Obat Untuk Saluran Cerna Nama Dagang - Licomet - Ulcedine - Xepamet Indikasi Benign gastric, tukak lambung, tukak duodenal, refluks esofagitis, ZollingerEllison syndrome. Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian Dosis Dewasa : Pengobatan Tukak duodenal : 800 mg per oral pada malam hari, 400 mg per oral sehari 2 kali, atau 300 mg per oral sehari 4 kali atau 300 mg IM/ IV setiap 6-8 jam. Pemeliharaan tukak duodenal : 400 mg per oral atau IM/ IV pada malam hari. Pengobatan Tukak peptik per oral : 800 mg pada malam hari atau 300 mg sehari 4 kali. Secara IV/IM 300 mg diberikan setiap 6-8 jam hingga maksimum 2400 mg/hari. Pemeliharaan tukak peptik : 400 mg per oral pada malam hari. Refluks esofageal : 1600 mg per oral sehari dalam 2 atau 4 dosis terbagi. - Nulcer - Ulcumet - Corsamet - Sanmetidin - Ulcusan - Tagamet - Ulsikur

Perdarahan gastrointestinal bagian atas, profilaksis: 50 mg/jam infus IV kontinyu sampai 7 hari. Zollinger-Ellison syndrome : 300 mg per oral sehari 4 kali atau 300 mg IM/IV setiap 6-8 jam, dosis maksimum 2400 mg/ hari. Dosis anak-anak (1) : Pemeliharaan tukak peptik untuk anak usia >= 16 tahun : 400 mg per oral pada malam hari. Untuk anak usia < 16 tahun, tidak dianjurkan kecuali dengan persetujuan dokter setelah mempertimbangkan manfaat dan risikonya. Dalam beberapa pengalaman telah digunakan dosis 20-40 mg/kg/hari.Penyesuaian dosis1 : Gangguan ginjal, CrCL kurang dari 30 ml/mnt, setengah dosis yang dianjurkan. Gangguan ginjal parah, 300 mg tiap 12 jam, dapat ditingkatkan menjadi tiap 8 jam. Penyakit liver berat: pengurangan 50% dosis Farmakologi Absorpsi : Simetidine diabsorpsi secara cepat setelah pemakaian per oral. Bioavailabilitas oral 60-70% setelah mengalami metabolisme lintas pertama di hati.2,7 Waktu untuk mencapai konsentrasi puncak pada pemberian oral yaitu 45 - 90 menit.1 Metabolisme (1) : metabolit utama yaitu sulfoxide. Distribusi (2,7) : Simetidine terikat dengan protein plasma 15-20%, volume distribusi 1 L/kg. Eliminasi (2) : waktu paruh Simetidine 2 jam pada pasien dengan fungsi ginjal normal. Setelah pemberian IV, 80-90% Cimetidine diekskresi melalui urin dalam waktu 24 jam. 50-73% diekskresi dalam bentuk tidak berubah. 10% diekskresi melalui feses. Stabilitas Penyimpanan Simetidine tablet, Simetidine HCl larutan oral dan injeksi disimpan pada suhu 15-30C, dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya. Sediaan injeksi cimetidine tidak boleh disimpan dalam freezer karena dapat mengendap. Simetidine HCl secara fisik dapat tercampurkan dengan sebagian besar cairan infus IV (NaCl 0,9%, Dextrose 5% atau 10%, Ringer lactate, Sodium Bicarbonate 5%). Sediaan Simetidine HCl injeksi dalam NaCl 0,9% stabil selama 24 bulan setelah tanggal produksi. Wadah yang digunakan terbuat dari PVC. Kontraindikasi

Hipersensitif terhadap Simetidine atau komponen lain dalam produk Efek Samping Kemerahan, diare, pusing, sakit kepala, gynaecomastia Interaksi - Dengan Obat Lain : Penggunaan bersama antacid tidak direkomendasikan, karena antacid dapat mengganggu absorpsi Simetidine. Simetidine menghambat / memperlambat metabolisme oxidative hepatic drug melalui ikatan dengan microsomal cytochrome P450; sehingga sebaiknya dihindari pada pasien yang telah rutin menggunakan warfarin, fenitoin, dan teofilin. Simetidine mengurangi absorpsi Ketoconazole, Itraconazole, dimana absorpsinya tergantung pada pH asam lambung - Dengan Makanan : Pengaruh - Terhadap Kehamilan : Kategori B. Simetidine melewati plasenta dengan cara difusi sederhana. Tidak ada peningkatan risiko kejadian malformasi kongenital setelah pemakaian Simetidine. Kelompok reviewer merekomendasikan Simetidine untuk tidak digunakan selama kehamilan karena adanya risiko feminisasi, seperti yang dijumpai pada beberapa hewan dan orang tidak hamil. Pihak produsen menganjurkan sebaiknya penggunaan Simetidine pada ibu hamil dihindari kecuali memang sangat diperlukan. - Terhadap Ibu Menyusui : Simetidine disekresi lewat ASI.Efek secara klinis pada bayi yang mendapatkan Simetidine dari ASI belum diketahui. The American Academy of Pediatric menyatakan aman untuk digunakan pada ibu menyusui. Pihak produsen menganjurkan sebaiknya dihindari penggunaannya. - Terhadap Anak-anak : Pihak produsen menyatakan bahwa sehubungan dengan terbatasnya pengalaman klinis pada anak-anak, maka Simetidine tidak direkomendasikan untuk digunakan pada anak dibawah usia 12 tahun, kecuali atas petunjuk dokter dan pertimbangan manfaat terhadap risiko - Terhadap Hasil Laboratorium : Meningkatkan serum creatinine dan serum

glucose. Parameter Monitoring Berkurangnya rasa tidak nyaman pada bagian perut/abdomen atau gastroesofageal, perbaikan hasil endoskopik, CBC (Complete Blood Count). Bentuk Sediaan Tablet/Kaplet 200 mg dan 400 mg, Kapsul 200 mg, Ampul 100 mg/ml, Ampul 200 mg/2 ml Peringatan Pasien diabetes, immunocompromised , penyakit paru kronis berisiko terhadap berkembangnya community-acquired pneumonia. Pasien lansia (> 50 tahun) dan penderita liver atau ginjal merupakan faktor risiko untuk berkembangnya kondisi bingung (confusional) yang berulang / reversibel. Neonatus yang lahir dengan bobot sangat ringan (401-1500 g) meningkatkan risiko terjadinya necrotizing enterocolitis. Pemberian IV bolus (garam HCl) yang cepat dapat berisiko terhadap terjadinya aritmia dan hipotensi Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus Informasi Pasien Jika diperlukan satu kali minum, maka cimetidine diminum malam hari. Jika diperlukan dua kali dalam sehari, dosis pertama diminum pagi hari dan berikutnya malam hari. Cimetidine bisa diminum bersama dengan makanan Mekanisme Aksi Pengeblok reseptor H2 yang bekerja menyembuhkan tukak peptik dan duodenal dengan cara pengeblokan reseptor H2 sehingga mengurangi sekresi asam lambung dan pepsin. Monitoring Penggunaan Obat Daftar Pustaka Micromedex AHFS 2006 Briggs, Drugs in Pregnancy and Lactation, 7th ed, 2005 BNF 53

USPDI, 12th ed 6. MIMS, 105th ed, 2006 / 2007 Martindale, 35th edition, 2007 Ranitidin Deskripsi - Nama & Struktur Kimia Ranitidin : NN-Dimethyl-5-[2-(1-methylamino-2nitrovinylamino)ethylthiomethyl]furfurylamine ; : Ranitidin hidroklorida. (C13H22N4O3S), C13H22N4O3S,HCl. (1) Ranitidin hidroklorida (USP 29) : serbuk kristalin berwarna putih sampai kuning pucat, praktis tidak berbau. Sangat mudah larut dalam air, agak sukar larut : dalam alkohol. Larutan 1% dalam air mempunyai pH 4,5-6,0. Penyimpanan (serbuk) : dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya : -

- Sifat Fisikokimia

- Keterangan

Golongan/Kelas Terapi Obat Untuk Saluran Cerna Nama Dagang - Aldin - Fordin - Rancus - Rantin - Tricker 150 - Zantadin Indikasi 1. Terapi jangka pendek dan pemeliharaan untuk tukak lambung, tukak duodenum, tukak ringan aktif - Anitid - Chopintac/Chopintac Forte - Ranitidin Hexpharm - Renatac - Conranin - Radin - Ranticid - Scanarin 150/Scanarin 300 - Xeradin

- Gastridin - Hexer - Ranin - Ratinal

- Wiacid Ulceranin - Zumaran - Zantac/Acran

2. Terapi jangka pendek dan pemeliharaan untuk refluks gastroesofagus dan esofagitis erosif. 3. Terapi jangka pendek dan pemeliharaan kondisi hipersekresi patologis. 4. Sebagai bagian regimen multiterapi eradikasi H. pylori untuk mengurangi risiko kekambuhan tukak. 5. Meringankan heartburn, acid indigestion, dan lambung asam. Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian (a)Tukak lambung dan duodenum:anak (1 bulan-16 tahun) oral:2-4 mg/kg/hari dibagi menjadi 2 kali sehari; dosis terapi maksimum:300 mg/hari. Dosis pemeliharaan:2-4 mg/kg sekali sehari; dosis pemeliharaan maksimum:150 mg/hari. IV:2-4 mg/kg/hari dibagi setiap 6-8 jam, maksimum 150 mg/hari. Tukak duodenum:dewasa:oral:150 mg 2 kali sehari atau 300 mg sekali sehari setelah makan malam atau sebelum tidur malam. Dosis pemeliharaan:150 mg sekali sehari sebelum tidur malam. Tukak lambung ringan:dewasa:oral:150 mg 2 kali sehari; dosis pemeliharaan 150 mg sekali sehari sebelum tidur malam (b) Refluks gastroesofagus dan esofagitis erosif:anak 1 bulan-16 tahun:oral:5-10 mg/kg/hari dibagi menjadi 2 kali sehari; dosis maksimum:refluks gastroesofagus:300 mg/hari, esofagitis erosif:600 mg/hari. IV:2-4 mg/kg/hari dibagi tiap 6-8 jam, maksimum:150 mg/hari atau sebagai suatu alternatif infus kontinu:dosis awal:1 mg/kg/dosis untuk satu dosis diikuti oleh infus 0,08-0,17 mg/kg /jam atau 2-4 mg/kg/hari. Esofagitis erosif:dewasa:oral:150 mg 4 kali/hari; dosis pemeliharaan 150 mg 2 kali sehari. (c) Dewasa:oral:150 mg 2 kali sehari, dosis atau frekuensi disesuaikan dengan petunjuk dokter; dapat digunakan dosis sampai dengan 6g/hari. (d) Eradikasi Helicobacter pilory:150 mg 2 kali sehari; membutuhkan terapi kombinasi. (e) Untuk mencegah heartburn:anak>=12 tahun dan dewasa:75 mg 30-60 menit sebelum mengkonsumsi makanan atau minuman yang dapat memicu heartburn; maksimum:150 mg/24 jam;jangan digunakan lebih dari 14 hari. (f) Untuk pasien yang tidak dapat menggunakan obat secara oral:IM:50 mg tiap 6-8 jam;IV:intermittent bolus atau infus:50 mg tiap 6-8 jam; Infus IV kontinu:6,25 mg/jam. (g) Injeksi ranitidin dapat diberikan IM atau IV. Injeksi IM diberikan tanpa pengenceran. Injeksi IV harus diencerkan, dapat diberikan melalui IVP (intravenous pyelogram) atau IVPB (intravenous piggy back) atau infus IV kontinu. Untuk IVP:ranitidin(biasanya 50 mg)harus diencerkan sampai total 20 ml dengan normal saline atau larutan dekstrosa 5% dalam air dan diberikan

selama minimal 5 menit. IVPB:diberikan selama 15-20 menit. Infus IV kontinu:diberikan dengan kecepatan 6,25 mg/jam dan titrasi dosis berdasarkan pH lambung selama 24 jam. Unlabeled/investigational use:tukak yang kambuh setelah operasi; perdarahan saluran cerna bagian atas; pencegahan penumonitis aspirasi asam selama pembedahan, dan pencegahan tukak yang disebabkan oleh stres. Farmakologi Absorpsi oral : 50%. Distribusi : volume distribusi untuk fungsi ginjal normal : 1,7 L/kg; Clcr 25-35 ml/menit:1,76 L/kg; penetrasi melalui sawar darah otak minimal; berdistribusi ke dalam ASI; ikatan dengan protein 15%; dimetabolisme di hati menjadi metabolit N-oksida, S-oksida, dan N-desmetil. Bioavailabilitas oral : 48%. Waktu paruh eliminasi oral : untuk fungsi ginjal normal : 2,5-3 jam; Clcr 25-35 ml/menit:4-8 jam; waktu paruh eliminasi IV untuk fungsi ginjal normal : 2-2,5 jam. Waktu untuk mencapai kadar puncak dalam serum : oral : 2-3 jam, IM : <=15 menit. Ekskresi : di dalam urin : oral = 30%, IV = 70%(dalam bentuk tak berubah), feses (sebagai metabolit). (3) Stabilitas Penyimpanan Vial injeksi disimpan pada suhu antara 4C-30C, terlindung dari cahaya. Larutan jernih tak berwarna sampai berwarna kuning; warna yang agak tua tidak mempengaruhi potensi. Kantung premixed disimpan pada suhu antara 2C-25C, terlindung dari cahaya. Sirup disimpan pada suhu antara 4C-25C, terlindung dari cahaya. Tablet disimpan di tempat kering pada suhu antara 15C-30C, terlindung dari cahaya. Larutan injeksi dalam vial dapat dicampur dengan normal saline atau larutan dekstrosa 5% dalam air, larutan stabil selama 48 jam pada suhu kamar. Injeksi bolus intermiten diencerkan sampai maksimum 2,5 mg/ml. Infus intermiten diencerkan sampai dengan maksimum 0,5 mg/ml. jangan menambahkan obat lain ke dalam kantung premixed Kontraindikasi Hipersensitivitas terhadap ranitidin atau bahan-bahan lain dalam formulasi. Efek Samping Terbatas dan tidak berbahaya: aritmia, vaskulitis, pusing, halusinasi, sakit kepala, confusion, mengantuk, vertigo, eritema multiforme, kemerahan, pankreatitis, anemia haemolitic acquired, agranulositosis, anemia aplastik, granulositopenia, leukopenia, trombositopenia, pansitopenia, gagal hati, anafilaksis, reaksi hipersensitivitas Interaksi - Dengan Obat Lain : Meningkatkan efek/toksisitas siklosporin (meningkatkan

serum kreatinin), gentamisin (blokade neuromuskuler), glipizid, glibenklamid, midazolam (meningkatkan konsentrasi), metoprolol, pentoksifilin, fenitoin, kuinidin, triazolam. Mempunyai efek bervariasi terhadap warfarin. Antasida dapat mengurangi absorpsi ranitidin. Absorpsi ketokonazol dan itrakonazol berkurang; dapat mengubah kadar prokainamid dan ferro sulfat dalam serum, mengurangi efek nondepolarisasi relaksan otot, cefpodoksim, sianoklobalamin (absorpsi berkurang), diazepam dan oksaprozin, mengurangi toksisitas atropin. Penggunaan etanol dihindari karena dapat menyebabkan iritasi mukosa lambung. - Dengan Makanan : Makanan tidak mengganggu absorpsi ranitidin. Pengaruh - Terhadap Kehamilan : Kategori B. Ranitidin menembus plasenta, efek teratogenik pada fetus belum dilaporkan. Hati-hati bila digunakan pada kehamilan. - Terhadap Ibu Menyusui : Ranitidin berdistribusi ke dalam ASI; gunakan dengan berhati-hati. - Terhadap Anak-anak : - Terhadap Hasil Laboratorium : Berinteraksi dengan tes sekresi asam lambung, tes alergi pada kulit menggunakan ekstrak alergen, serum kreatinin, tes protein urin. Parameter Monitoring AST, ALT, serum kreatinin, fungsi ginjal, foecal occult blood. Bentuk Sediaan Tablet 75 mg, 150 mg, Kaplet 300 mg, Sirup 75 mg/5ml (60 ml, 100 ml, 150 ml), Ampul 25 mg/ml (2 ml) Peringatan Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan gangguan fungsi hati; dibutuhkan penyesuaian dosis pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal; hindari penggunaan pada pasien dengan sejarah porfiria akut (dapat memicu serangan); terapi jangka panjang mungkin berhubungan dengan defisiensi vitamin B12; keamanan dan efikasi belum ditetapkan untuk pasien anak-anak usia<1 bulan. Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus

Informasi Pasien Dosis oral ranitidin dapat diminum dengan atau tanpa makanan. Bila obat ini digunakan untuk mencegah heartburn, obat diminum 30-60 menit sebelum makan atau minum apapun yang dapat menyebabkan heartburn. Pasien seharusnya tidak menggunakan obat ini bila alergi terhadap ranitidin, simetidin, atau nizatidin Mekanisme Aksi Menghambat secara kompetitif histamin pada reseptor H2 sel-sel parietal lambung, yang menghambat sekresi asam lambung; volume lambung dan konsentrasi ion hidrogen berkurang. Tidak mempengaruhi sekresi pepsin, sekresi faktor intrinsik yang distimulasi oleh penta-gastrin, atau serum gastrin. Monitoring Penggunaan Obat Gejala dan tanda-tanda gangguan tukak peptik, efek samping obat, darah lengkap, perbaikan endoskopi Daftar Pustaka Martindale The Complete Drug Reference 35th edition MIMS-Official Drug Reference for Indonesian Medical Proffesion. 105th ed. Drug Information Handbook International AHFS Drug Information 2006

Analgesik As Mefenamat Deskripsi - Nama & Struktur Kimia - Sifat Fisikokimia - Keterangan : : N-(2,3-Xylyl)antranilic acid Berbentuk serbuk putih keabuan. Tidak larut dalam air. Sedikit larut dalam alkohol

: pKa : 4.2

Golongan/Kelas Terapi Anti Inflamasi Non Steroid

Nama Dagang - Analspec - Cetalmic - Dolos - Lapistan - Mefinter - Opistan - Pondex - Solasic - Ponstel Indikasi Nyeri. Dismenore (gangguan nyeri saat haid). Anti-piretik (demam pada anak karena infeksi) Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian Untuk nyeri : Dosis awal 500mg, dilanjutkan dengan dosis 250mg setiap 6 jam jika diperlukan. Penggunaan sebaiknya tidak lebih dari 1 minggu. Untuk Dismenore : Penggunaan saat terjadi haid, dan penggunaan sebaiknya tidak lebih dari 2-3 hari Farmakologi Kerja Asam mefenamat adalah seperti obat golongan AINS lain yaitu menghambat sintesa prostaglandin dengan menghambat kerja enzim cyclooxygenase/PGHS (COX-1 & COX-2). Efek anti inflamasi, analgetik & antipiretik merupakan dipercaya dari kerja menghambat COX-2. Efek anti inflamasi mungkin juga dihasilkan dari kerja menghambat biosintesis dari mukopolisakarida. Efek antipiretik diduga akibat hambatan sintesa prostaglandin di CNS. Stabilitas Penyimpanan Disimpan dalam wadah tertutup rapat, pada suhu antara 15-30C Kontraindikasi Adanya riwayat hipersensitif berupa gatal-gatal, angioedem, bronchospasm, rhinitis berat, atau syok oleh Aspirin atau golongan AINS lain. Pasien dengan - Asam Mefenamat - Corstanal - Dystan - Licostan - Mefix - Pehastan - Ponsamic - Stanalin - Asimat - Dolfenal - Fargetix - Mectan - Molasic - Ponalar - Ponstan - Stelpon - Benostan - Dolodon - Gitaramin - Mefast - Nichostan - Poncofen - Ponstelax - Topgesic

riwayat gangguan saluran cerna. Pasien hamil trimester ke-3. Pasien menyusui (atau hentikan menyusui). Efek Samping Gangguan lambung : tidak nafsu makan, sakit abdomen, sembelit, diare, dispepsi, kembung, rasa terbakar, mual, tukak lambung, muntah, mulut kering hingga pendarahan lambung. Efek pada darah : penurunan hematokrit (pemakaian jangka lama), anemia, memperpanjang waktu pendarahan, eusinopili, epstaxis, leucopenia, thrombo, cytopenia, trombositopenia, menghambat agregasi platelet. Efek pada sistem syaraf : pusing, sakit kepala, ketakutan, bingung, depresi, bermimpi, sulit tidur, cemas, gemetaran, berputar, halusinasi. Efek pada mata/pendengaran : tinitus, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, sembab mata. Efek pada ginjal : abnormalitas fungsi ginjal, disuria, hematouria, hiperkalemia, cystitis, nephrotic sindrom, oligouria/poliuria, proteinuria sampai gagal ginjal. Effek pada hati : peningkatan hasil test fungsi hati (SGOT, SGPT) sekitar >3 kali nilai normal. Hepatitis, jaundice, kerusakan hati, kolik. Efek samping lain : gatal, bentol, kemerahan, fotosensitif, reaksi anafilaksis, Stevens-Johnson sindrome, bengkak, CHF, hipertensi, takikardi, aritmia, hypotensi, miocardial infark, demam, infeksi, sepsis, perubahan berat badan, asma, hipergikemi, pankreatitis, pneumonia, depresi pernafasan. Interaksi - Dengan Obat Lain : Obat yg terikat pada protein plasma : Menggeser ikatan dengan protein plasma, sehingga dapat meningkatkan efek samping (contoh : hidantoin, sulfonylurea). Obat antikoagulan & antitrombosis : Sedikit memperpanjang waktu prothrombin & Waktu thromboplastin parsial. Jika Pasien menggunakan antikoagulan (warfarin) atau zat thrombolitik (streptokinase), waktu prothrombin harus dimonitor. Lithium : Meningkatkan toksisitas Lithium dengan menurunkan eliminasi lithium di ginjal. Obat lain yang juga memiliki efek samping pada lambung : Kemungkinan dapat meningkatkan efek samping terhadap lambung. - Dengan Makanan : Makanan mengurangi kecepatan absorpsi tetapi tidak mengurangi jumlah yang diabsorpsi Pengaruh

- Terhadap Kehamilan : Tidak direkomendasikan untuk digunakan oleh wanita hamil. Terutama pada akhir masa kehamilan atau saat melahirkan karena efeknya pada sistem kardiovaskular fetus (penutupan prematur duktus arteriosus) & kontraksi uterus. - Terhadap Ibu Menyusui : Didistribusikan melalui air susu ibu, sehingga tidak direkomendasikan untuk digunakan oleh ibu yg sedang menyusui. - Terhadap Anak-anak : Belum ada studi ttg keamanan & efikasi penggunaan asam mefenamat pada pasien anak dibawah 14 thn. Belum ada studi tentang keamanan untuk anak - Terhadap Hasil Laboratorium : Dapat menyebabkan reaksi false-positif tes urin menggunakan tes tablet diazo. Parameter Monitoring Bentuk Sediaan Kapsul 250 mg, Kaplet 500 mg Peringatan Hati-hati Pasien Lansia. Pasien dengan kondisi terjadinya retensi cairan Pasien sedang menggunakan obat-obat yang berinteraksi dengan Asam Mefenamat Pasien anak di bawah usia 14 tahun. Sebaiknya tidak digunakan secara rutin sebagai obat antipiretik. Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus Informasi Pasien Minum setelah makan untuk mengurangi efek iritasi langsung pada lambung Mekanisme Aksi Menghambat sintesa prostaglandin dengan menghambat kerja isoenzim COX-1 & COX-2 Monitoring Penggunaan Obat Munculnya efek samping Daftar Pustaka AHFS Drug Information 2005 Martindale, 34 th edition

Asetosal (aspirin) Deskripsi - Nama & Struktur Kimia - Sifat Fisikokimia Merupakan ester salisilat dari asam. C9H8O4

Berbentuk kristal putih seperti batang/jarum, berbau. : Sedikit larut dalam air, sangat larut dalam alkohol. pKa : 3,5 : -

- Keterangan

Golongan/Kelas Terapi Analgesik Non Narkotik Nama Dagang - Aptor - Astika - Procardin - Aspilets - Bodrexin - Restor - Aspimec - Cardio Aspirin - Thrombo Aspilets - Aspirin Bayer - Farmasal - Ascardia

Indikasi Nyeri : Sakit kepala, nyeri-nyeri ringan lain yang berhubungan dengan adanya inflamasi. Nyeri ringan sampai sedang setelah operasi, melahirkan, sakit gigi, dismenore. Demam Penyakit Inflamasi, Rheumatoid arthritis, juvenile arthritis, osteo atrhritis, SLE, kondisi poli arthritis, psoriatic arthritis/Reiter's syndrome, Demam Rematik Mencegah terjadinya Tromboemboli TIA & AIS, Menurunkan risiko Transient Ischemic Attacks & menurunkan risiko stroke yang lebih parah dari Acute Ischemic Stroke, CAD & MI, Pencegahan Sekunder Coronary Artery Disease & Myocardial Infarction, Emboli yang berhubungan dengan

Atrial Fibrilation & atau Mitral Valve Disease, Trombosis pada Arteri lain, Trombosis Mikrosirkular, Prostthetic Heart Valves, Trombosis Vena, Kondisi trombosis lain, Perikarditis, Kawasaki Disease, Komplikasi pada kehamilan (menurunkan faktor resiko preeklamsia, dll), Pencegahan kanker colorectal, Penggunaan lain. Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian Nyeri & Demam : Dewasa : 650mg-1,3g setiap 8 jam, tidak lebih dari 3,9g/hari. Swa-medikasi : Migrain/sakit kepala ringan sampai berat : 500mg/hari. Hentikan jika telinga berdenging atau tidak mendengar, atau alergi Penyakit Inflamasi : Dosis awal : 2,4-3,6g/hari dalam dosis terbagi dapat ditingkatkan 325mg1,2g/hari. Dosis pemeliharaan : 3,6-5,4g/hari. Gejala Juvenile Arthritis : Dosis awal : Anak-anak dengan BB < 25kg : 60-130mg/kg BB/hari. Anak-anak dengan BB > 25kg : 2,4-3,6g/hari dalam dosis terbagi Dosis pemeliharaan : 80-100mg/kg BB/hari dapat ditingkatkan hingga 130mg/kg BB/hari disesuaikan dengan respon Pasien, toleransi & konsentrasi salisilat dalam serum. Demam Rematik : Dosis awal : Dewasa : 4,9-7,8g/hari Anak-anak : 90-130mg/kg BB/hari setiap 4-6 jam (dalam dosis terbagi) selama 1-2 minggu. Kemudian dosis diturunkan menjadi 60 - 70mg/kg BB/hari Penyesuaian dosis tergantung pada respon, toleransi & konsentrasi salisilat dalam serum. Transient Ischemic Attacks & Acute Ischemic Stroke : Untuk mengurangi resiko berulangnya TIA, stroke, kematian : 50 - 325mg/hari AIS : 160-325mg/hari dimulai dalam waktu 48 jam setelah stroke terjadi, dilanjutkan hingga 2-4 minggu. Pencegahan AIS sekunder adalah dengan dosis

rendah. CAD & MI : Pencegahan : 160-325mg/hari, dimulai paling lama 24 jam setelah MI terjadi kemudian diteruskan selama 30 hari paling sedikit Angina stabil kronis : Dosis : 75-325mg/hari segera setelah didiagnosa (kecuali ada kontraindikasi aspirin) Perikarditis : Dosis 160-325mg/hari kadang-kadang lebih Batu ginjal Kalsium Oksalat : 200-300mg/hari Farmakologi Aspirin bekerja dengan mengasetilasi enzim prostaglandin H2 endoperoxide synthase (PGHS) & menghambat kerja enzim COX secara permanen. COX-1 umumnya ada di semua sel termasuk platelet. Aspirin relatif selektif menghambat COX-1 & sedikit COX-2. PGH2 dala platelet & endotel vaskular memproduksi tromboxan A2 (bertanggung jawab dalam agregasi platelet dan vasokonstriksi) & prostacyclin (bertanggung jawab dalam menghambat agregasi platelet & vasodilatasi) sehingga dosis sangat bervariasi. Efek pada darah : Menghambat fase kedua agregasi platelet & mencegah pelepasan adenosin diphosphate (ADP) dari platelet & faktor 4 platelet. Antitrombotik : Menghambat sintesa prostaglandin di vena. Aspirin dosis rendah dapat mencegah trombosis dengan cara menghambat secara selektif sintesa PGHS & tromboxan A2. Stabilitas Penyimpanan Stabil pada udara kering. Lembab, panas & perubahan pH dapat menghidrolisis Aspirin. Asprin stabil pada pH rendah (2-3). Simpan pada suhu 2-15C & jauhkan dari jangkauan anak-anak. Kontraindikasi Alergi terhadap Aspirin dan golongan salisilat Efek Samping Reye's syndrome : Iritasi lambung karena bersifat asam. Efek terhadap Sistem syaraf : Nyeri pada ujung syaraf, sakit kepala, epilepsi, agitasi, perubahan mental, koma, paralisis, pusing, limbung, depresi, bingung,amnesia, sulit tidur.

Efek lain : Demam, myopathy, epistaxis, kerusakan ginjal, penurunan fungsi ginjal, meningkatkan kreatinin, hematouria, oligouria, UTI, asidosis, asidosis metabolit, hiperfosfatemia, hipomag-nesemia, hiponatremia, hipernatremia, hipokalemia, hiperka-lemia hiperkalsemia, abnormalitis elektrolit. Tumor lisi sindrom sepsis, infeksi lain, Kerusakan jantung, gangguan pernafasan. Interaksi - Dengan Obat Lain : Meningkatkan konsentrasi serum alopurinol sehingga dapat meningkatkan toksisitas allopurinol. Chlorpropamide : Meningkatkan reaksi hepatorenal, monitor hipoglikemi. Obat lain : Cotrimoxazole : Trombositopenia Cyclosporin : Meningkatkan konsentrasi cyclosporin dalam darah (penyesuaian dosis) . - Dengan Makanan : Makanan & susu : Menurunkan efek merugikan terhadap saluran cerna. Pengaruh - Terhadap Kehamilan : - Terhadap Ibu Menyusui : - Terhadap Anak-anak : Reyes Syndrome. - Terhadap Hasil Laboratorium : Parameter Monitoring Bentuk Sediaan Tablet Salut Tahan Asam 80 mg, 100 mg, 160 mg, Tablet Biasa 500 mg. Peringatan Reye's syndrome pada anak Swamedikasi nyeri dan demam. Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus Informasi Pasien Minum setelah makan dengan satu gelas air / susu. Mekanisme Aksi Asetilasi enzim PGHS. Monitoring Penggunaan Obat Munculnya efek samping. Daftar Pustaka AHFS Drug Information 2005

Fentanil Deskripsi - Nama & Struktur Kimia - Sifat Fisikokimia - Keterangan : : Phentanyl Citrate, N-19(Phenethyl-4piperidyl)propionanilide dihydrogen citrate Serbuk kristal putih, larut sebagian dalam air, larut baik dalam alkohol

: -

Golongan/Kelas Terapi Analgesik Narkotik Nama Dagang - Duragesic Indikasi Nyeri sebelum operasi,selama & paska operasi, penanganan nyeri pada kanker, sebagai suplemen anestesi sebelum operasi untuk mencegah atau menghilangkan takipnea dan delirium paska operasi emergensi. Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian Parentral : Sebelum operasi : 50-100 mcg IM, 30-60 menit sebelum operasi Sebagai tambahan anestesi umum : Dosis rendah (operasi minor) IV 2 mcg/kg Dosis sedang ((operasi mayor) awal 2-20 mcg/kg, tambahan dosis IV/IM 25100 mcg jika perlu Dosis tinggi (operasi jantung terbuka, saraf atau prosedur ortopedi) awal 20-50 mcg/kg, tambahan dosis 25 mcg - 1 dosis awal jika perlu Farmakologi Metabolisme terutama dalam hati. Ekskresi melalui urin sebagai metabolit tidak aktif dan obat utuh 2-12%. Pada kerusakan ginjal terjadi akumulasi morfin-6-glukoronid yg dpt memperpanjang aktivitas opioid. Kira-kira 7-10% melalui feses. Ekskresi melalui urin sebagai metabolit tidak aktif dan obat utuh 2-12%. Pada kerusakan ginjal terjadi akumulasi morfin-6-glukoronid yg dpt - Fentanyl

memperpanjang aktivitas opioid. Kira-kira 7-10% melalui feses. Stabilitas Penyimpanan Sediaan injeksi disimpan dalam suhu ruangan, terlindungi cahaya. Kontraindikasi Hipersensitivitas, depresi pernapasan yang parah, Sediaan transdermal tidak direkomendasikan pada nyeri akut atau paska operasi, nyeri kronis ringan atau intermiten atau pasien yg belum pernah menggunakan opioid & toleran thd opioid. Efek Samping Depresi pernapasan. Sistem saraf : sakit kepala, gangguan penglihatan, vertigo, depresi, rasa mengantuk, koma, eforia, disforia, lemah, agitasi, ketegangan, kejang. Pencernaan : mual, muntah, konstipasi Kardiovaskular : aritmia, hipotensi postural Reproduksi, ekskresi & endokrin : retensi urin, oliguria Efek kolinergik : bradikardia, mulut kering, palpitasi, takikardia, tremor otot, pergerakan yang tidak terkoordinasi, delirium atau disorientasi, halusinasi Lain-lain : Berkeringat, muka merah, pruritus, urtikaria, ruam kulit Interaksi - Dengan Obat Lain : Antidepresan (MAOi & trisklik) : Potensiasi efek antidepresan. Agonis opiod lainnya, anestetik umum, trankuilizer, sedative, hipnotik : potensiasi efek depresi sistem saraf pusat. Relaksan otot : Opioid dpt meningkatkan kerja penghambatan neuromuscular. Kumarin antikoagulan : Potensiasi aktivitas antikoagulan. Diuretik : Opioid menurunkan efek diuretic pada pasien dengan kongestif jantung. Amfetamin : Dekstroamfetamin dapat meningkatkan efek analgetik agonis opioid - Dengan Makanan : -

Pengaruh - Terhadap Kehamilan : Kategori C : Dapat digunakan jika potensi manfaat lebih besar daripada resiko thd janin - Terhadap Ibu Menyusui : Hati-hati pemakaiannya pada ibu menyusui - Terhadap Anak-anak : Keamanan & efikasi pada anak-anak belum diketahui - Terhadap Hasil Laboratorium : Parameter Monitoring Status sistem pernapasan & status mental, tekanan darah Bentuk Sediaan Injeksi Ampul 50 mcg/ml, Transdermal 25 mcg/jam, 50 mcg/jam Peringatan Hati-hati pada pasien dengan disfungsi hati & ginjal krn akan memperlama kerja & efek kumulasi opiod, pasien usia lanjut, pada depresi system saraf pusat yg parah, anoreksia, hiperkapnia, depresi pernapasan, aritmia, kejang, cedera kepala, tumor otak, asma bronkial. Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus Informasi Pasien Hindari pemakaian alkohol. Menyebabkan ngantuk (hati-hati mengendarai mobil atau menjalankan mesin), gangguan koordinasi, pada penggunaan jangka panjang menyebabkan ketergantungan fisik dan psikologi. Mekanisme Aksi Berikatan dengan reseptor di sistem saraf pusat, mempengaruhi persepsi dan respon thd nyeri. Monitoring Penggunaan Obat Status sistem pernapasan & status mental, tekanan darah Daftar Pustaka AHFS Drug Information 2005

Martindale, 34 th edition Ibuprofen Deskripsi - Nama & Struktur Kimia - Sifat Fisikokimia - Keterangan : : Turunan asam propionat. C13H18O2 Warna putih, serbuk kristal,tidak larut dalam air, sangat larut dlm alkohol

: -

Golongan/Kelas Terapi Analgesik Non Narkotik Nama Dagang - Dofen - Fenris - Ostarin - Anafen Indikasi Nyeri & radang pada penyakit artritis (rheumatoid arthritis, juvenile arthritis, osteoarthritis) & gangguan non sendi (otot kerangka), nyeri ringan sampai berat termasuk dismenorea, paska bedah, nyeri & demam pada anak-anak Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian Dewasa : Artritis : 400-800 mg 3-4 kali sehari (maksimun 3.2 g/hari) Juvenile artritis : 30-40 mg/kg berat badan per hari dalam 3-4 dosis terbagi (maksimum 50 mg/kg berat badan) Nyeri ringan s/d sedang : 200-400 mg tiap 4-6 jam, bila perlu (max 1,2 g/hari) Farmakologi Aktivitas anti inflamasi, antipiretik & analgetik. Mekanisme kerja : menghambat sintesis prostaglandin - Dolofen Forte - Helafen - Profen - Farsifen - Iprox - Proris - Febryn - Nofena - Ribunalm Shelrofen

Stabilitas Penyimpanan Simpan dalam kemasan tertutup rapat Kontraindikasi Pasien dengan hipersensitivitas, asma, urtikaria, rinitis parah, angioudema Efek Samping Gangguan saluran cerna : dispepsia, heartburn, mual, muntah, diare, konstipasi, anoreksia dll. Gangguan sistem saraf : sakit kepala, pusing, Gangguan pendengaran & penglihatan : tinitus, penurunan pendengaran, gangguan penglihatan sakit kuning, kenaikan SGOT & SGPT. Lain-lain : retensi cairan, gagal jantung kongestif, tekanan darah meningkat, hipotensi, aritmia, reaksi hipersenstivitas, mulut kering Interaksi - Dengan Obat Lain : Antikoagulan & antitrombotik : Meningkatkan efek samping perdarahan saluran cerna. Aspirin : Meningkatkan efek samping & menurunkan efek kardioprotektif dari aspirin. Litium : Meningkatkan konsentrasi litium dalam plasma & serum dan dapat menurunkan klirens - Dengan Makanan : Pengaruh - Terhadap Kehamilan : Tidak direkomendasikan selama kehamilan - Terhadap Ibu Menyusui : Tidak direkomendasikan untuk ibu menyusui - Terhadap Anak-anak : Tidak direkomendasikan pada pemakaian swamedikasi untuk anak-anak < 6 bulan - Terhadap Hasil Laboratorium : Parameter Monitoring

Fungsi hati & ginjal Bentuk Sediaan Tablet, Suspensi Peringatan Hati-hati pada pasien usia lanjut, gangguan ginjal, gangguan jantung atau gangguan hati, gangguan saluran cerna Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus Reaksi anafilaktik karena overdosis dilaporkan ~ 60% pd orang dewasa asimtomatik, 30-40% simtom ringan sampai sedang & <3% simtom yg parah Informasi Pasien Jika terjadi ruam kulit, ulser saluran cerna, perdarahan, gangguan penglihatan, peningkatan berat badan, udem, feses hitam, atau sakit kepala yang persisten, hubungi dokter Mekanisme Aksi Menghambat sintesis prostaglandin dgn menghambat COX-1 & COX-2 Monitoring Penggunaan Obat Daftar Pustaka AHFS Drug Information 2005 BNF ED 42 MIMS 2006 Morfin Deskripsi - Nama & Struktur Kimia - Sifat Fisikokimia : Morfin. 7,8 Didehydro-4-5-epoxy-17-methylmorphinan3,6 diol

Kristal halus atau serbuk kristal warna putih,kelarutan : kira-kira 62.5 mg/ml dlm air dan 1.75 mg/ml dlm alkohol pada 25C : -

- Keterangan

Golongan/Kelas Terapi

Analgesik Narkotik Nama Dagang - MST Continus Indikasi Nyeri akut yg berat, nyeri kronis sedang sampai berat, sebagai suplemen anestesi sebelum operasi, sebagai obat pilihan untuk nyeri pada infark miokard, untuk menghilangkan ansietas pada pasien dgn dispnea karena acute pulmonary edema & acute left ventricula Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian Morfin harus diberikan dalam dosis efektif terkecil dan frekuensi minimal untuk mengurangi timbulnya toleran dan ketergantungan fisik. Dosis harus diturunkan pada pasien beresiko, gangguan hati, pasien yang menggunakan antidepresan saraf, gangguan ginjal, pasien sangat muda atau sangat tua. Pada pasien dengan nyeri yang parah & kronis, dosis harus disesuaikan dengan tingkat keparahan nyeri, respon dan toleransi pasien. Dewasa : Dosis lazim SK/IM 10 mg setiap 4 jam jika perlu, (520 mg setiap 4 jam jika perlu tergantung kebutuhan & respon pasien). Dewasa IV 2.515 mg dilarutkan dlm 4-5 mL air steril, disuntik perlahan selama 4-5 menit. Epidural : Dosis awal 5 mg berselang. Intratekal : Kira-kira 1/10 dosis epidural. Oral : Tablet/larutan 1030 mg setiap 4 jam, jika perlu. Rektal : 10-20 mg setiap 4 jam, jika perlu. Anak-anak : SK/IM 0.1-0.2 mg/kg setiap 4 jam jika perlu (dosis tunggal maksimum 15 mg). Anak-anak IV : - Morfin (Generik)

0.05-0.1 mg/kg disuntikkan perlahan Farmakologi Metabolisme terutama dalam hati. Ekskresi melalui urin sebagai metabolit tidak aktif dan obat utuh 2-12%. Pada kerusakan ginjal terjadi akumulasi morfin-6-glukoronid yg dpt memperpanjang aktivitas opioid. Kira-kira 7-10% melalui feses. Stabilitas Penyimpanan Sediaan injeksi simpan pada 15-30C, terlindung cahaya, tidak boleh dibekukan. Sediaan oral simpan dalam wadah tertutup, terlindung cahaya, 1530C, jangan dibekukan Kontraindikasi Oral jangan diberikan pasien dengan paralytic ileus. Pasien dengan hipersensitivitas, depresi pernapasan yg parah. Injeksi intratekal & epidural tidak boleh digunakan pada kasus pemberian yg kontraindikasi dengan rute ini, seperti infeksi pada tempat penyuntikan, perdarahan diatesis yg tidak terkontrol, penggunaan antikoagulan atau penggunaan kortikosteroid injeksi dalam 2 minggu. Efek Samping Depresi pernapasan Sistem saraf : sakit kepala, gangguan penglihatan, vertigo, depresi, rasa mengantuk, koma, eforia, disforia, lemah, agitasi, ketegangan, kejang Pencernaan : mual, muntah, konstipasi Kardiovaskular : aritmia, hipotensi postural Reproduksi, ekskresi & endokrin : retensi urin, oliguria Efek kolinergik : bradikardia, mulut kering, palpitasi, takikardia, tremor otot, pergerakan yang tidak terkoordinasi, delirium atau disorientasi, halusinasi Lain-lain : Berkeringat, muka merah, pruritus, urtikaria, ruam kulit Interaksi - Dengan Obat Lain : Antidepresan (MAOi & trisklik) : Potensiasi efek antidepresan. Agonis opiod lainnya, anestetik umum, trankuilizer, sedative, hipnotik : Potensiasi efek depresi sistem saraf pusat. Relaksan otot : Opioid dpt meningkatkan kerja penghambatan neuromuscular.

Kumarin antikoagulan : Potensiasi aktivitas antikoagulan. Diuretik : Opioid menurunkan efek diuretic pada pasien dengan kongestif jantung. Amfetamin : Dekstroamfetamin dapat meningkatkan efek analgetik agonis opioid - Dengan Makanan : Pengaruh - Terhadap Kehamilan : Kategori C : Dapat digunakan jika potensi manfaat lebih besar daripada resiko thd janin - Terhadap Ibu Menyusui : Hati-hati pemakaiannya pada ibu menyusui - Terhadap Anak-anak : Keamanan & efikasi pada anak-anak belum diketahui - Terhadap Hasil Laboratorium : Parameter Monitoring Status sistem pernapasan & status mental, tekanan darah Bentuk Sediaan Oral : tablet (10,15,30,100 mg). Injeksi : ampul 10 mg/ml. Rektal (5,10,20,30 mg) Peringatan Hati-hati pada pasien dengan disfungsi hati & ginjal krn akan memperlama lama kerja & efek kumulasi opiod, pasien usia lanjut, hati-hati pada psikosis toksik, infark miokard, alergi thd sulfit, depresi sistem saraf pusat yg parah, anoksia, hiperkapnia, depresi Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus Informasi Pasien Hindari pemakaian alkohol. Menyebabkan ngantuk (hati-hati mengendarai mobil atau menjalankan mesin), gangguan koordinasi, pada penggunaan jangka panjang menyebabkan ketergantungan fisik dan psikologi Mekanisme Aksi

Berikatan dengan reseptor di sistem saraf pusat, mempengaruhi persepsi dan respon thd nyeri Monitoring Penggunaan Obat Status sistem pernapasan & status mental, tekanan darah Daftar Pustaka AHFS Drug Information 2005 Martindale, 34 th edition Na Diklofenak Deskripsi - Nama & Struktur Kimia - Keterangan : C14H10Cl2N2O2

- Sifat Fisikokimia : Warna kekuningan, serbuk kristal, sedikit higroskopis : -

Golongan/Kelas Terapi Analgesik Non Narkotik Nama Dagang - Alflam - Cataflam D - Diclomec - Fenavel - Kalium Diklofenak - Megatic - Nichoflam - Provoltar - Scanaflam - Volmatik - Voren - Atranac - Catanac - Diclomec Gel - Flamenac - Klotaren - Merflam - Nilaren - Reclofen - Scanteran - Voltadex - X-flam - Berifen SR - Deflamat - Exaflam - Kadiflam - Laflanac - Nadifen - Potazen - Renadinac - Tirmaclo - Voltadex SR - Xepathritis - Cataflam - Dicloflam - Fenaren - Kaditic - Matsunaflam - Neuorofenac - Prostanac - Renvol - Valto - Voltaren - Zegren

- Adiflam Indikasi Nyeri paska bedah, nyeri & radang pada penyakit artritis & gangguan otot kerangka lainnya, nyeri pada gout akut dan dismenorea. Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian Artritis : Dosis awal : 150 mg/hari dalam dosis terbagi 2-3 kali Dosis lazim 100200 mg/hari dalam dosis terbagi 2-3 kali sehari (maksimum 225 mg), sesudah makan Nyeri & dismenore : Dosis awal : 50 mg, dilanjutkan 50 mg setiap 8 jam jika perlu Pada pasien dengan gangguan ginjal dan hati tidak perlu penyesuaian dosis, tetapi perlu pemantauan yang ketat. Farmakologi Aktivitas sebagai antiinflamasi,analgetik & antipiretik. Metabolisme terutama melalui hati. Ekskresi pada orang dewasa sehat kira-kira 50-70% melalui urin, 30-35% melalui feses Stabilitas Penyimpanan Terlindung dari cahaya, simpan dalam wadah tertutup pada suhu tidak lebih dari 30 Kontraindikasi Pasien dengan hipersensitivitas, asma, urtikaria, rinitis parah, angioudema, tukak lambung aktif Efek Samping Pencernaan : gangguan pada saluran cerna bagian atas (20% pasien) tukak lambung, perdarahan saluran cerna. Saraf : sakit kepala (3-9% pasien), depresi, insomnia, cemas. Ginjal : (kurang dari 1% pasien) terganggu fungsi ginjal (azotemia,proteinuria,nefrotik sindrom dll), Kardiovaskular : retensi cairan, hipertensi, (3-9% pasien), Pernapasan : asma (kurang dari 1% pasien),

Darah : lekopenia, trombositopenia, hemolitik anemia (kurang dari 1% pasien), Hati : hepatitis, sakit kuning (jarang), peningkatan SGOT terjadi pada 2 % pasien, Lain-lain : ruam, pruritus, tinnitus, reaksi sensitivitas (1-3% pasien). Interaksi - Dengan Obat Lain : Antikoagulan : Dapat memperparah perdarahan saluran cerna. Metotreksat : Meningkatkan konsentrasi metotreksat. Glikosida jantung : Meningkatkan toksisitas glikosida jantung. Diuretik : Secara bersamaan dengan HCT, meningkatkan kadar kalium dalam serum; dengan triamterene meningkatkan resiko kerusakan ginjal. NSAID : Penggunaan bersama aspirin dapat meningkatkan eksresi diklofenak melalui empedu. Siklosporin : Meningkatkan efek nefrotoksik siklosporin. Litium : Meningkatkan konsentrasi plasma litium dan menurunkan klirens litium. Antidiabet : Kasus hipoglikemik & hiperglikemi telah dilaporkan (jarang). Kuinolon : Dapat meningkatkan resiko stimulasi sistem saraf pusat (misalnya kejang). Antasid : Dapat menunda absorpsi diklofenak. Kortikosteroid : Meningkatkan resiko ulser saluran cerna - Dengan Makanan : Pengaruh - Terhadap Kehamilan : Dpt digunakan pada masa kehamilan awal jika potensi manfaat lebih besar daripada resiko thd janin. Tidak direkomendasikan pada masa kehamilan akhir karena dapat menghambat sintesis prostaglandin yang menyebabkan efek samping thd sistem kardiovaskular janin - Terhadap Ibu Menyusui : Terdistribusi dalam air susu ibu : tidak direkomendasikan bagi ibu menyusui - Terhadap Anak-anak : Pengunaan pada anak-anak masih memerlukan

penelitian lebih lanjut - Terhadap Hasil Laboratorium : Parameter Monitoring Fungsi hati secara periodik pada pemakaian jangka panjang, gejala& tanda perforasi ulser atau perdarahan saluran cerna Bentuk Sediaan Tablet Peringatan Hati-hati pada pasien usia lanjut, gangguan ginjal, gangguan jantung atau gangguan hati, penyakit gangguan pencernaan, penggunaan bersamaan kortikosteroid, kondisi yg berhubungan dgn retensi cairan (hipertensi, gagal jantung) Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus Informasi Pasien Jika terjadi ruam kulit, ulser saluran cerna, perdarahan, gangguan penglihatan, peningkatan berat badan, udem, eses hitam, atau sakit kepala yang persisten, hubungi dokter. Jika ada gangguan pencernaan, gunakan obat sesudah makan. Gejala & tanda hepatotoksis, Mekanisme Aksi Menghambat sintesis prostaglandin dgn menghambat COX-1 & COX-2 Monitoring Penggunaan Obat Daftar Pustaka AHFS Drug Information 2005 Martindale, 34 th edition MIMS 2007 Parasetamol Deskripsi - Nama & : 4'Hydroxyacetanilide

Struktur Kimia - Sifat Fisikokimia : Warna putih, serbuk kristal, agak pahit - Keterangan : -

Golongan/Kelas Terapi Analgesik Non Narkotik Nama Dagang - Analpim - Erphamol - Mirasik - Omegrip - Paracetol - Propyretic - Samconal - Termagon - Varsemol - Alphamol Indikasi Nyeri ringan sampai sedang dan demam Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian Dewasa & anak >12 thn; oral 650 mg atau 1 g tiap 4-6 jam bila perlu, maksimum 4 g per hari. Oral : Anak utk tiap 4-6 jam (maksimum 5 dosis per 24 jam) : < 4 bln (2.7 - 5 kg) 40 mg, 4-11 bln (5-8 kg) 80 mg, 12-23 bln (8-11 kg)120 mg, 2-3 thn (11-16 kg)160 - Calapol - Farmadol - Nalgesik - Ottopan - Paradyn - Pyrexin - Sanmol - Tropigesic - Xepamol - Citamol - Fasidol - Nasamol - Pacetik - Procet - Pyrexin - Sumagesic - Turpan - Xepamol - Cymacold - Hufagesic - Novagesic - Panadol - Progesic - Pyridol - Tempra - Uni Cetamol - Zetamol

Farmakologi Memiliki aktifitas sebagai analgetik dan antipiretik Stabilitas Penyimpanan Sediaan harus disimpan pada suhu 15-30 C. Sediaan bentuk larutan atau suspensi tidak boleh dibekukan Kontraindikasi Hipersensitivitas Efek Samping Efek samping dalam dosis terapi jarang; kecuali ruam kulit, kelainan darah, pankreatitis akut pernah dilaporkan setelah penggunaan jangka panjang Interaksi - Dengan Obat Lain : Alkohol, antikonvulsan, isoniazid : Meningkatkan resiko hepatotoksis, Antikoagulan oral : Dapat meningkatkan efek warfarin, Fenotiazin : Kemungkinan terjadi hipotermia parah - Dengan Makanan : Pengaruh - Terhadap Kehamilan : Kategori B : Aman jika digunakan dalam dosis terapi selama kehamilan - Terhadap Ibu Menyusui : Diekskresikan dalam air susu ibu dalam konsentrasi rendah - Terhadap Anak-anak : Konsultasikan dengan dokter pada penggunaan obat > 5 hari - Terhadap Hasil Laboratorium : Menyebabkan hasil positif palsu pada tes urin asam 5-hidroksiindoleasetik. Dapat mengganggu pengukuran glukosa darah Parameter Monitoring Fungsi hati

Bentuk Sediaan Tablet, Sirup/Suspensi dan Sediaan Rektal Peringatan Hati-hati pada pasien yang sudah berkurang fungsi hati & ginjal, dan ketergantungan pada alkohol. Toksisitas parasetamol dapat disebabkan dari penggunaan dosis tunggal yang toksik, dari penggunaan berulang dosis yang besar, atau penggunan obat yang kronis Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus Informasi Pasien Jika nyeri atau demam sudah lebih dari 3 hari, hubungi dokter Mekanisme Aksi Bekerja langsung pada pusat pengaturan panas di hipotalamus dan menghambat sintesa prostaglandin di sistem saraf pusat Monitoring Penggunaan Obat Daftar Pustaka AHFS Drug Information 2005 Martindale, 34 th edition ISO 2007 Pethidin Deskripsi - Nama & Struktur Kimia - Sifat Fisikokimia - Keterangan : : Ethyl 1-methyl-4-phenylpiperidine-4-carboxylate hydrochloride. C15H21NO2.HCL Serbuk kristal putih, agak pahit, sangat larut dalam air dan larut dalam alkohol

: -

Golongan/Kelas Terapi Analgesik Narkotik

Nama Dagang Indikasi Nyeri sedang sampai berat, sebagai suplemen sedasi sebelum pembedahan, nyeri pada infark miokardium walaupun tidak seefektif morfin sulfat, untuk menghilangkan ansietas pada pasien dgn dispnea karena acute pulmonary edema & acute left ventricular failure Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian Oral/ IM,/SK : Dewasa : Dosis lazim 50150 mg setiap 3-4 jam jika perlu, Injeksi intravena lambat : dewasa 1535 mg/jam. Anak-anak oral/IM/SK : 1.11.8 mg/kg setiap 34 jam jika perlu. Untuk sebelum pembedahan : dosis dewasa 50 100 mg IM/SK Farmakologi Petidin dimetabolisme terutama di hati Stabilitas Penyimpanan Simpan pada suhu < 40, terlindung cahaya. Tablet : 15-30C, injeksi : 15-25C Kontraindikasi Pasien yang menggunakan trisiklik antidepresan dan MAOi. 14 hari sebelumnya (menyebabkan koma, depresi pernapasan yg parah, sianosis, hipotensi, hipereksitabilitas, hipertensi, sakit kepala, kejang) Hipersensitivitas. Pasien dengan gagal ginjal lanjut , Efek Samping Depresi pernapasan, Sistem saraf : sakit kepala, gangguan penglihatan, vertigo, depresi, rasa mengantuk, koma, eforia, disforia, lemah, agitasi, ketegangan, kejang, Pencernaan : mual, muntah, konstipasi, Kardiovaskular : aritmia, hipotensi postural, Reproduksi, ekskresi & endokrin : retensi urin, oliguria. Efek kolinergik : bradikardia, mulut kering, palpitasi, takikardia, tremor otot,

pergerakan yg tidak terkoordinasi, delirium atau disorintasi, halusinasi. Lain-lain : berkeringat, muka merah, pruritus, urtikaria, ruam kulit Interaksi - Dengan Obat Lain : Isoniazid : Meningkatkan efek samping isoniazid. Antidepresan (MAOi & trisklik) : Potensiasi efek antidepresan. Kontraseptik oral & estrogen : Menghambat metabolisme petidin. MAO inhibitor : Penggunaan bersama petidin menyebabkan serotonin sindrom (agitasi, sakit kepala, hipertensi, hipotensi, konvulsi, hiperpireksia, koma), Agonis opiod lainnya, anestetik umum, trankuilizer, sedative, hipnotik : Potensiasi efek depresi sistem saraf pusat. Relaksan otot : Opioid dpt meningkatkan kerja penghambatan neuromuscular. Kumarin antikoagulan : Potensiasi aktivitas antikoagulan. Diuretik : opioid menurunkan efek diuretic pada pasien dengan kongestif jantung - Dengan Makanan : Pengaruh - Terhadap Kehamilan : Kategori B : Hati-hati penggunaannya pada wanita hamil - Terhadap Ibu Menyusui : Hati-hati pemakaiannya pada ibu menyusui - Terhadap Anak-anak : Keamanan & efikasi pada anak-anak belum diketahui - Terhadap Hasil Laboratorium : Parameter Monitoring Status sistem pernapasan & status mental, tekanan darah Bentuk Sediaan Injeksi Ampul 50 mg/ml Peringatan Hati-hati pada pasien dengan disfungsi hati & ginjal krn akan memperlama kerja & efek kumulasi opiod, pasien usia lanjut, pada depresi sistem saraf pusat

yg parah, anoreksia, hiperkapnia, depresi pernapasan, aritmia, kejang, cedera kepala, tumor otak, asma bronkial Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus Informasi Pasien Hindari pemakaian alkohol. Menyebabkan ngantuk (hati-hati mengendarai mobil atau menjalankan mesin), gangguan koordinasi, pada penggunaan jangka panjang menyebabkan ketergantungan fisik dan psikologi Mekanisme Aksi Berikatan dengan reseptor di sistem saraf pusat, mempengaruhi persepsi dan respon thd nyeri Monitoring Penggunaan Obat Status sistem pernapasan & status mental, tekanan darah Daftar Pustaka AHFS Drug Information 2005 Martindale, 34 th edition http://dinkes.tasikmalayakota.go.id/index.php/informasi-obat/249dopamin.html