Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN HARIAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN SUB LABORATORIUM KLINIK RUTIN RSUP SANGLAH DENPASAR

Putu Dodik Lopma Putra 09.131.0128

PROGRAM STUDI ANALIS KESEHATAN (D3) SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA BALI DENPASAR 2012

ORIENTASI PKL SUB LABORATORIUM KLINIK RUTIN Laboratorium Klinik rutin adalah laboratorium yang melakukan pemeriksaan bukan darah yang dilakukan dengan cara manual atau dengan semi automatic. Laboratorium klinik rutin memiliki dasar langkah kerja yang dibagi menjadi 3, yaitu: 1. Pra-analitik Pra-analitik adalah langkah awal sebelum melakukan pemeriksaan. 2. Analitik Prosedur pemeriksaan sampai pembuatan hasil termasuk dalam langkah analitik. 3. Pasca analitik Pasca analitik yaitu setelah semua pemeriksaan selesai dilakukan pengesahan terhadap hasil tersebut. A. Orientasi Ruangan Sub Klinik Rutin Langkah-langkah setelah sampel diterima di Sub Klinik Rutin. 1. Bahan diterima 2. Evaluasi bahan dengan memisah-misahkan berdasarkan jenisnya. 3. Pemberian nomer pada tabung sesuai dengan no urut dari BTL.
4. Persiapan alat dan bahan untuk pemeriksaan. 5. Scan Barcode.

6. Register identitas pasien yang tertera pada BTL (Bukti Tindakan Laboratorium) pada buku register untuk arsip. 7. Bahan dikerjakan sesuai dengan permintaan pada BTL. 8. Input hasil. 9. Validasi dan verifikasi hasil pemeriksaan oleh dokter jaga laboratorium. 10. Hasil dikeluarkan untuk pasien dan siap dipertanggung jawabkan.

B. Bahan dan jenis pemeriksaan yang dilakukan di sub lab. Klinik rutin.

a. 1) 2) 3) 4) 5)

Urine

Urine lengkap dan sedimennya : menggunakan urine pagi atau urine sewaktu Protein Bence Jones : menggunakan urine pagi atau urine sewaktu Protein Esbach : menggunakan urine 24 jam Tes Kehamilan (PPT) : menggunakan urine pagi atau urine sewaktu NAPZA : menggunakan urine pagi atau urine sewaktu
b. Faeses

1) 2)
3)

Faeses Lengkap Darah samar / Benzidine Test Konsentrasi Faeses / Ookista crystosporodium c. Cairan Otak (LCS)

1) 2) 3)

Pemeriksaan Makroskopis Pemeriksaan Mikroskopis (cell) Pemeriksaan Kimia ( Nonne dan Pandy ) d. Cairan Pleura dan Cairan Asites

1)

Pemeriksaan Makroskopis Pemeriksaan Mikroskopis (cell) Pemeriksaan Kimia ( Rivalta ) e. Cairan Sendi
1) Pemeriksaan Makroskopis

2) 3)

2) Pemeriksaan Mikroskopis (cell) 3) MSU ( Monosodium Urat ) / Tes Kimia

f.

Analisa Batu Ginjal 1) Pemeriksaan Makroskopis 2) pH 3) Gas Karbonat 4) Analisa kation-kation penyusun batu ginjal

g.

Analisa Sperma

1) 2)

Pemeriksaan Makroskopis. Pemeriksaan Mikroskopis (Motilitas, Morfologi, dan Jumlah spermatozoa).

Peserta PKL

Pembimbing Lapangan

Putu Dodik Lopma Putra NIM : 09.131.0128

Yulidia Iriani NIP: 196207101986032002

PEMERIKSAAN URINE LENGKAP

A.

Pemeriksaan Kimia Urine a. Metode Reflaktan

b.

Prinsip Zat dalam urine bereaksi dengan reagen-reagen spesifik yang terdapat dalam stick carik celup. Reaksi warna yang dihasilkan dibandingkan dengan standart yang ada pada alat.

c.

Alat dan Reagen


Alat

1. Cobas U 411 2. Tabung centrifuge Bahan :

Sampel urine pagi atau sewaktu Reagen : Stick carik celup combur 10 M d. Prosedur Kerja
1) Ambil sampel urine, cocokkan nama, barcode dan jenis pemeriksaannya

2) Masukkan urine pasien ke tabung centrifuge 5 ml 3) Masukkan nomer barcode sampel urine ke alat Cobas U 411 dan sesuaikan dengan nomer tabung 4) Klik pada tanda X kemudian klik Worklist maka alat akan menyimpan identitas pasien yang diminta

5) Masukkan Stick combur 10 M ke dalam urine hingga semua parameter terendam 6) Stick yang sudah terendam tiriskan pada tissue kering 7) Stick dimasukkan ke alat Cobas U 411 perubahan warna yang terjadi akan dibaca oleh alat Cobas U 411. 8) Hasil pemeriksaan akan keluar secara otomatis. 9) Parameter pemeriksaan dan nilai normalnya Parameter pH Leukosit Nitrit Protein Glukosa Keton Urobilinogen Bilirubin Eritrosit Masa Jenis Kekeruhan Warna Satuan Leu/UL mg /dL mg /dL mg /dl mg/dL mg /dL Ery/ uL mg/dL Harga Normal 5-8 Negatif Negatif Negatif Normal Normal 1 Negatif Negatif 1,005-1,020 Jernih Kuning

B. Pemeriksaan Sedimen Urine a. Metode Mikroskopis b. Prinsip Unsur-unsur yang terdapat dalam urine yang terendapkan dengan pemusingan akan terlihat dibawah mikroskop dengan pembesaran lensa objektif 40 x. Sedimen organik yang dilaporkan adalah adanya eritrosit, leukosit, sel epitel, silinder, jamur, parasit, kristal, dan lain-lain (misalnya spermatozoa). c. Alat dan Reagen Alat : Bahan : d. Prosedur Kerja 1. Sampel urine yang sudah ditest carik celup pada tabung sentrifuge diputar dengan kecepatan 3000rpm selama 3 menit 2. Supernatan dibuang sedangkan endapan diletakkan diatas kaca objek dan tutup dengan cover glass 3. Kemudian amati dibawah mikroskop dengan pembesaran 40 x 4. Amati dan catat hasilnya Urine pagi maupun urine sewaktu. Mikroskop Centrifuge Tabung centrifuge Objek glass Cover glass

1) Parameter pemeriksaan dan nilai normalnya Parameter Leukosit Eritrosit Sel epitel Silinder Jamur Parasit Kristal Lain-lain Unit / lapang pandang / lapang pandang / lapang pandang / lapang pandang / lapang pandang / lapang pandang / lapang pandang / lapang pandang Harga Normal < 6/ lp < 3/ lp 0,00-0,00 Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif

PEMERIKSAAN NAPZA

a. Metode Rapid Test cassette (imonocromatografi) b. Prinsip NAPZA ( Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif ) dalam urine akan bereaksi dengan reagen pada rapid test. Reaksi ini menghasilkan garis berwarna merah yang teramati pada casette. c. Alat dan reagen Alat : Rapid Test terdiri dari : Bahan : Urine pagi maupun urine sewaktu. Amphetamin Morphine Cannabinoids Benzodiazepines

d. Prosedur kerja
1. Sampel urine yang akan diperiksa dicocokkan dengan identitas pasien pada BTL.

2. Ambil rapid test sesuai dengan permintaan pemeriksaan 3. Teteskan sampel urine dalam rapid test sebanyak 3 tetes 4. Tunggu selama 3-8 menit 5. Kemudian baca hasil.

Interpretasi hasil

(-) (+)

: Jika muncul dua garis merah muda pada control dan test : Jika muncul satu garis merah muda pada control

Invalid : Jika muncul satu garis merah muda pada test

PEMERIKSAAN FAECES LENGKAP

A. Makroskopis a. Prinsip Pemeriksaan makroskopis dilakukan dengan melihat langsung sampel adalah warna, konsistensi, bau, lendir, dan darah. b. Alat dan reagen Alat : c. Cara Kerja :

Lidi

1. Sampel faeces yang terdapat pada tabung atau tempatnya, dilihat dan diperiksa warna, konsistensi, lendir, bau, dan darah secara makroskopis. 2. Hasilnya dicatat dan dilaporkan. B. Mikroskopis a. Prinsip Faeces dibuat sediaan preparat basah dengan pewarnaan kemudian dilihat secara mikroskopis dengan perbesaran lensa obyektif 40 x dilihat adanya sel epitel, makrofage, sel darah, sisa makanan, dan telur cacing. b. Alat dan reagen Alat : Bahan : Reagnsia : Faeces Mikroskop Objek glass Cover glass

Larutan Lugol 1 %

c. Prosedur Kerja
1. Untuk pemeriksaan mikroskopis, teteskan satu tetes larutan lugol 1 %

pada kaca obyek


2. Ambil sampel faeces dengan lidi dan letakkan pada larutan lugol yang

terdapat pada kaca obyek, diaduk sampai rata. 3. Kemudian tutup dengan cover glass 4. Amati di bawah mikroskop dengan pembesaran 40 kali untuk pemeriksaan sel atau amoeba, untuk pemeriksaan telur cacing dilakukan dengan pembesaran 10 kali.

DARAH SAMAR ( TES BENZIDINE )

a. Metode Benzidine b. Prinsip Pemeriksaan darah samar dengan metode benzidine adalah terjadinya reaksi antara Hb dengan reagen benzidine dengan H2O2 sebagai katalisator yang menghasilkan HbO (Hemoglobin Oksida) yang berwarna hijau muda sampai biru tua. Hasil yang diperoleh adalah semikualitatif. c. Alat dan reagen Alat Bahan : Faeces Reagen : Reagen Benzidine yang dibuat setiap kali pemeriksaan.
d. Prosedur Kerja

: Obyek glass Lidi Cover glass

1)

Buat reagen benzidine, caranya : -

Masukkan aquadest kedalam tabung 5 ml Teteskan asam cuka 2-3 tetes Tambahkan 2-3 tetes H2O2 Tambahkan sepucuk lidi cristal benzidine Kemudian kocok sampai homogen

2)

Lakukan uji pada reagen yang baru dibuat, caranya : Teteskan reagen diatas objek glass 2-3 tetes Tambahkan darah Jika warnanya menjadi hijau berarti pembuatan reagen benar

3) 4) 5) 6) 7)

Lakukan test terhadap sampel faeces Siapkan objek glass kosong dan bersih Teteskan reagen benzidine 2-3 tetes diatas objek glass Tambahkan faeces Perubahan warna yang terjadi diamati

Interpretasi Hasil (-) (+) (++)

: tidak terjadi perubahan warna : hijau : biru kehijauan

(+++) : biru (++++) : biru tua

PEMERIKSAAN KONSENTRASI TINJA ( OOKISTA )

a. Metode Konsentrasi tinja b. Prinsip Sampel faeces disentrifugasi dengan pelarut organik maka Ookista crystosporodium yang memiliki berat jenis lebih rendah akan mengapung dan dibuat sediaan. c. Alat dan reagen Alat : Objek glass Cover glass Tabung centrifuge bertutup ( corning ) Lidi Centrifuge Mikroskop

Bahan : Faeces

Reagensia : Pelarut Formalin Pelarut Eter Aquadest Pewarna Carbol fucksin Pelarut Asam alcohol

Pewarna Melasit Green

d. Prosedur Kerja 1) Masukkan sampel faeces kedalam tabung corning sampai angka 2 2) Tambahkan aquadest sampai 10 ml, kemudian kocok sampai homogen
3) Centrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit

4) Supernatant dibuang sedangkan endapan ditambahkan pelarut formalin etil asetat hingga mencapai skala 10 ml 5) Kemudian tambahkan larutan eter sampai skala 12 ml. Kemudian kocok sampai homogen menuangkan larutan formalin dan eter dilakukan dilemari asam yang ada di sub lab kesling 6) Sentrifuge kembali dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit 7) Ambil endapan faeces yang melayang dengan lidi untuk dibuat hapusan 8) Kemudian tunggu hapusan kering 9) Sediaan yang telah kering ditetesi carbol fuchsin selama 30 menit 10) Kemudian bilas dengan air mengalir 11) Setelah itu teteskan asam alcohol sampai cat karbol fuchsin luntur 12) Kemudian bilas dengan air mengalir 13) Setelah itu teteskan dengan cat melasit green selama 3 menit 14) Kemudian bilas dengan air mengalir 15) Amati dibawah mikroskop dengan perbesaran lensa obyektif 40 kali
16)Hasil positif dengan ditemukannya Ookysta crytosporidium yang tampak

sebagai obyek bundar berwarna merah muda berisi granulosit berbentuk sabit yang jumlahnya >1 dengan latar belakang berwarna hijau. PEMERIKSAAN CAIRAN OTAK

a. Prinsip Pemeriksaan cairan otak terdiri dari tiga pemeriksaan yaitu pemeriksaan makroskopis, mikroskopis, dan pemeriksaan kimia. b. Alat dan reagen Alat -

: Mikroskop Kamar hitung improved newbauer

Bahan : Reagen Turk pekat Reagen Nonne (Larutan jenuh ammonium sulfat atau ammonium sulfat 80 gr ditambah aquadest 100 ml).
-

Reagen Pandy (Larutan fenol jenuh dalam air atau phenolum liquefactum 10 ml ditambah aquadest 90 ml lalu simpan beberapa hari dalam inkubator 370 C dengan sering-sering dikocok).

c. Prosedur Kerja A. Pemeriksaan Makroskopis Diamati secara makroskopis :

1) Warna normalnya adalah tidak berwarna / jernih 2) Kekeruhan normalnya adalah cairan otak tampak jernih 3) Sedimen normalnya adalah tidak adanya bekuan pada sampel 4) Darah normalnya adalah tidak terdapat darah

B. Pemeriksaan Mikroskopis 1) Cairan otak akan diperiksa sebelumnya dikocok 2) Dengan pipet dihisap 180 l sampel dan ditambahkan 20 l larutan turk, apabila ditemukan sel banyak maka dilakukan dengan pipet dihisap 20 l sampel dan ditambahkan 180 l larutan turk, pengenceran 10 kali. 3) Dimasukkan dalam kamar hitung improved newbauer. 4) Semua sel leukosit dihitung di bawah mikroskop dengan pembesaran 10 kali. 5) Dihitung dalam 9 kotak leukosit, rumusnya : Cara perhitungan : 1/0,9 x sel x10 (pengenceran) = . . ./mm3 6) Pelaporan sel dibedakan antara mono dan poly dengan satuan %. C. Pemeriksaan Kimia a. Tes Pandy 1) Kedalam kaca arloji dimasukkan 1 mL reagen Pandy 2) Ditambahkan dengan 1 tetes sampel ke dalam tabung tersebut 3) Dilihat apakah terjadi kekeruhan atau tidak 4) Hasil (-) : tidak ada kekeruhan (+) : terjadi kekeruhan b. Tes Nonne 1. Sebanyak 1 mL Nonne dimasukkan dalam tabung dan ditambahkan sampel 0,5 mL, melalui dinding tabung 2. Didiamkan, kemudian diamati apakah terbentuk cincin warna putih atau abuabu perbatasan cairan.

3. Hasil (-) : tidak terdapat cincin berwarna putih atau abu-abu (+) : terdapat cincin berwarna putih atau abu-abu.

PEMERIKSAAN TRANSUDAT DAN EKSUDAT

a. Prinsip Pemeriksaan Cairan Pleura dan Cairan Ascites terdiri dari tiga pemeriksaan yaitu pemeriksaan makroskopis, mikroskopis, dan pemeriksaan kimia. b. Alat dan reagen Alat Bahan Reagen : Mikroskop Kamar Hitung : Reagen Turk Pekat Cairan Pleura Cairan Ascites : Reagen Asam Asetat Glasial 5 %

c. Prosedur Kerja A. Pemeriksaan Makroskopis Diamati secara makroskopis : 1) Warna normalnya adalah tidak berwarna / jernih 2) Kekeruhan normalnya adalah Cairan Pleura dan Cairan Ascites tampak jernih 3) Kemudian cek pH untuk indikasi tindakan

B. Pemeriksaan Mikroskopis
1) Cairan Pleura dan Cairan Ascites yang akan diperiksa sebelumnya dikocok

2) Dengan pipet dihisap 180 l sampel dan ditambahkan 20 l larutan turk, apabila ditemukan sel banyak maka dilakukan dengan pipet diisap 20 l sampel dan ditambahkan 180 l larutan turk, pengenceran 10 kali. 3) Dimasukkan dalam kamar hitung 4) Semua sel leukosit dihitung di bawah mikroskop dengan pembesaran 10 kali 5) Dihitung dalam 9 kotak besar, rumusnya : Cara perhitungan : 1/0,9 x sel x 10 (pengenceran) = . . . /mm3 6) Pelaporan sel dibedakan antara mono dan poly dengan satuan %

C. Pemeriksaan Morfologi Sel

1) Sampel ditempatkan dalam tabung centrifuge 2) Centrifuge selama 10 menit dengan kecepatan 1000 rpm 3) Supernatan dibuang dan sedimen dipakai untuk membuat sediian apus yang dibiarkan kering pada temperatur kamar 4) Teteskan metanol 96 % ke atas sediaan apus dan dibiarkan selama 5 menit 5) Tuanglah larutan Giemsa pada sediaan tersebut dan biarkan selama 45 menit 6) Cuci dengan air mengalir dan biarkan mengering 7) Periksa dengan mikroskop menggunakan lensa objektif 100 x dan minyak emersi 8) Buatlah hitung atas dasar 100 sel

D. Pemeriksaan Rivalta 1. Masukkan aquadest dalam tabung reaksi 2. Tambahkan 1 tetes asam asetat glasial dan campurlah

3. Teteskan 1 tetes sampel ke dalam campuran 4. Perhatikanlah tetesan itu bercampur dan bereaksi dengan campuran asam acetat

Interpretasi Hasil Positif (+) Negatif (-) : kalau ada kabut : eksudat : kalau tidak ada kabut : transudat

PEMERIKSAAN BATU GINJAL

A. Pemeriksaan Makroskopis

a. Prinsip Batu diamati ukuran / berat, jumlah batu, bentuk permukaan, warna, dan konsistensinya. b. Alat dan reagen Alat : Timbangan analitik

c. Prosedur Kerja 1) Sampel batu dicuci dengan aquadest 2) Kemudian dihitung jumlahnya 3) Sampel batu kemudian ditimbang dengan neraca analitik 4) Diamati warna dan tampang permukaan 5) Selanjutnya ambil sebagian sampel batu dan di hancurkan kekerasannya dengan mortir dan stumper untuk diketahui seberapa kerasnya dan dihaluskan untuk analisa kimia. B. Pemeriksaan Kimia a. Prinsip Prinsip pemeriksaan pada analisis persenyawaan batu ginjal adalah titrimetri dan perbandingan warna yang terjadi dengan standar warna yang ada. b. Alat dan reagen Alat : Mortir Stumper Tabung reaksi

Bahan :

Batu Ginjal

Reagen : Reagen kit Merckognost

Prosedur Kerja 1. Setelah dilakukan pemeriksaan makroskopis dan fisika batu ginjal kemudian batu ginjal dihancurkan dan dicampur agar homogen. 2. Diambil satu sendok sampel yang telah homogen dan ditambah dengan sedikit aqua steril. 3. pH diukur dengan pH meter atau dengan pH universal. 4. Ditambahkan dengan beberapa tetes asam sufat,
5. Diamati terbentuknya gelembung gas, jika terjadi gelembung maka sampel positif CO2.

Pemeriksaan ini didasarkan atas terjadinya reaksi antara CO3 dengan H2SO4 yang menghasilkan CO2 yang teramati sebagai gelembung-gelembung. 6. Ditambahkan dengan aqua steril sampai volume 10 mL. 7. Disiapkan 7 tabung untuk reaksi untuk analisis kation-kation penyusun batu ginjal. 8. Tabung diisi dengan larutan sampel kira-kira 5 ml.
9. Selanjutnya dikerjakan dengan menambahkan reagen menurut buku petunjuk panduan

pemeriksaan batu ginjal pada test kit :

a. Analisis Adanya Calsium ( Tabung 1 ) Prinsip Pemeriksaan :

Tabung pemeriksaan kalsium dalam batu ginjal terbentuknya kompleks ungu antara Ca2+ dengan calein carboksilicacacid. Titrasi dengan EDTA menyebabkan terbentuknya kompleks Ca EDTA. Titik akhir titrasi ditandai dengan terbentuknya warna biru. Reagen: Reagen 2 : sodium hydroxide solution 27 % Reagen 3 : Calconcarboxylic acid trituration Reagen 4 : titriplex III solution Cara Kerja : 1. Sampel ditambah dengan dua tetes reagen 2, kemudian kocok. 2. Tambah dengan satu sendok spatula putih reagen 3, kemudian kocok hingga rata. 3. Tambahkan tetes demi tetes reagen 4 sampai warna biru. ( cara menetes dengan 2 tetes pertama, 2 tetes kedua, dan seterusnya. Maksimal 10 tetes ). 4. Hasil dikalkulasikan yaitu satu tetes setara dengan 5 % calcium.

b. Analisis Adanya Oksalat ( Tabung 2 ) Prinsip Pemeriksaan : Prinsip pemeriksaan adalah terbentuknya kompleks berwarna antara kelebihan ferri yang digunakan untuk bereaksi dengan oksalat dengan asam sulfosalisilat. Reagen : 1) Reagen 5 : Borate buffer solution

2) Reagen 6 : Iron (III) chloride solution 3) Reagen 7 : Sulfosalicylic acid solution Cara Kerja : 1. Pada sampel ditambahkan dengan dua tetes reagen 5 kemudian kocok. 2. Kemudian tambahkan 3 tetes reagen 6, kemudian kocok sampai homogen. 3. Setelah itu teteskan 3 tetes reagen 7, kocok sampai homogen. 4. Kemudian inkubasi selama 2 menit. 5. Tunggu dua menit dan bandingkan dengan skala warna yang ada.

c. Analisis Adanya Amonium ( Tabung 3 ) Prinsip Pemeriksaan ; Terbentuknya kompleks antara ammonium dengan K2(Hgl4) dalam suasana basa. Warna yang terbentuk dibandingkan dengan standar warna yang ada. Reagen : 1) Reagen 8 : Dipotassium tetraiodomercurate solution. 2) Reagen 2 : Sodium hydroxide solution 27 %. Cara Kerja : 1. Tambahkan 3 tetes reagen 8 pada sampel. Kemudian kocok sampai homogen. 2. Kemudian tambahkan 3 tetes reagen 2, dan kocok sampai homogen.

3. Setelah itu bandingkan dengan skala warna.

d. Analisis Adanya Phosphate ( Tabung 4 ) Prinsip Pemeriksaan : Prinsip pemeriksaan fosfat adalah terbentuknya kompleks berwarna kuning antara asam fosfat dengan molibdat, kompleks ini selanjutnya direduksi menjadi kompleks berwarna biru molibdat. Reagen : 1) Reagen 9 : Ammonium molibdate solution. 2) Reagen 10 : Reducyion solution (4-methyl-aminophenol sulfate, sodium disulfite). Cara Kerja :
1. Pada sampel solution ditambah 5 tetes reagen 9. Kemudian kocok

sampai homogen. 2. Tambahkan 5 tetes reagen 10, dikocok, kemudian inkubasi 5 menit. 3. Dibandingkan dengan skala warna yang ada.

e. Analisis Adanya Magnesium ( Tabung 5 ) Prinsip Pemeriksaan : Prinsip pemeriksaanya adalah terbentuknya garam rangkap berwarna merah tua antara Mg2+ dengan kuning titran.

Reagen : 1) Reagen 11 : Borate buffer solution. 2) Reagen 12 : Colour reagent ( 1-azo-2-hidroxy-3-(2,4-dimethylcarboxoanilido)-naphthalene-1-(2-hydroxybenzene-5-sodium sulfanate). Cara Kerja :
1. Pada sampel solution ditambah dengan 10 tetes reagen 11 lalu

kocok. 2. Tambahkan 10 tetes reagen 12, kemudian dikocok dan diinkubasi 1 menit 3. Dibandingkan dengan skala warna yang telah ada.

f. Analisis Adanya Asam Urat ( Tabung 6 ) Prinsip Pemeriksaan : Prinsip pemeriksaan berdasarka terbentuknya kompleks molibdat yang berwarna biru. Konsentrasi asam urat sebanding dengan kompleks yang terbentuk. Reagen : 1) Reagen 13 : Molybdatophosphoric acid solution 2) Reagen 5 : Borate buffer solution Cara Kerja : 1. Pada sampel ditambah 3 tetes reagen 13, kemudian kocok. 2. Inkubasi 2 menit 3. Kemudian tambah 2 tetes reagen 5, kemudian kocok.

4. Dibandingkan dengan skala warna yang ada.

g. Analisis Adanya Cystine Prinsip Pemeriksaan : Prinsip Pemeriksaannya adalah berdasarkan terbentuknya kompleks berwarna merah antara cystin dengan natrium nitroposid tritura. Reagen 1) Reagen 14 : Amonia solution 9,5 %
2) Reagen 15 : Reducing agen (sodium sulfite)

3) Reagen 16 : Sodium nitropusside trituration Cara Kerja: 1. Pada sampel solution ditambah dengan 10 tetes reagen 14, lalu dikocok. 2. Ditambah dengan satu spatula merah reagen 15, dikocok 3. Kemudian tambah satu spatula hitam reagen 16, kocok sampai homogen. Tunggu 30 detik. 4. Dibandingkan dengan skala warna yang ada.

Dari hasil analisis pH, adanya CO2, dan kation penyusun batu ginjal, selanjutnya diperkirakan senyawa penyusun batu ginjal tersebut dengan menggunakan kalkulator khusus. Pertama-tama dilihat penyusun batu ginjal tersebut dengan memperhatikan jumlah dan pH batu ginjal tersebut. Kalkulator penyusun batu ginjal dapat dilihat dalam lampiran.

Pelaporan hasil dicocokkan dengan skala yang ada.Untuk menentukan ikatan dalam menarik kesimpulan juga diperhatikan berapa pH yang dihasilkan karena pH juga berpengaruh dalam jenis ikatan yang terbentuk.

Pemeriksaan PPT (HCG)


a. Metode

a. imunochromatografi(rapid test) b. Prinsip

i. Terjadi reaksi antara HCG dalam urine wanita hamil dengan reagen HCG pada stik menghasilkan warna merah pada stik
c. Alat Dan Reagensia

Alat stik pemeriksaan HCG Bahan urine pagi atau sewaktu


d. Cara Kerja 1. Sampel urine disiapkan,dicocokan identitas pasien dengan identitas pada BTL

2. Homogenkan urine 3. Masukan stik pemeriksaan sampai tanda MAXtunggu sampai urine naik pada stik 4. Angat stik pemeriksaan,hasil pemeriksaan dapat dibaca kurang dari 15 menit
e. E.Interpretasi hasil

Positif : terdapat 2 garis merah pada test(+)dan control (+) Negativef : terdapat 1 garis merah pada control(+) pada test(-) Invalid : terlihat 1 garis merah pada test(+)

PEMERIKSAAN JUMLAH PROTEN LOSS A. Metode Esbach B. Prinsip

Protein dalam urine 24 jam akan mengendap dalam suasana asam dengan penambahan reagen esbach,reagen esbach yang digunakan terdiri dari as.pikrat,as,citrat dan aquadest C. Alat Dan Reagensia Alat albuminometer Bahan urine 24 jam Reagensia reagen esbach(1 gr As.pikrat,2 gr As.sitrat,100 ml aquadest) D. Cara Kerja 1. Homogenkan sampel urine 24 jam 2. Catat volume sampel
3. Masukan sampel ke dalam albuminometer esbach sampai tanda

U
4. Tambahkan reagen esbach smpai tanda batas R

5. Tutup tabung bolak balik sampai homogen 6. Letakan tabung secara tegak lurus selama 24 jam pada kamar gelap 7. Baca tinggi endapan pada tabung keesokan harinya E. Perhitungan Protein Loss =Volume Urine 24 Jam/100 X Skala(Tinggi Endapan) Hasil Dinyatakan Dalam Gr/24 Jam

Denpasar, 26 Maret 2012 Peserta PKL Pembimbing Lapangan

Gusti Putu Agung Murjana NIM : 09.131.0093

Yulidia Iriani NIP: 196207101986032002