Anda di halaman 1dari 3

Perasaan/ emosi adalah reaksi spontan manusia yang bila tidak diaksikan tidak dapat dinilai baik buruknya.

Emosi (perasaan yang pervasif) dan menetap yang mewarnai persepsi seseorang terhadap dunia dan sekelilingnya. Perasaan dapat berupa perasaan/ emosi normal (eutimik) dapat pula perasaan positif dan negative. Dapat dinilai kualitasnya, kedalaman/ intensitasnya, lama, reaktivitas, fluktuasi, pengontrolan, keserasian dengan isi pikiran, situasi dan budaya, dapat/ tidak (memulai, mempertahankan dan mengakhiri) respons emosinya (tumpul, terhambat/ datar). Respons emosi dari seseorang sesaat atau ekspresi keluar sebagai pengalaman pribadi pasien dan sebagai respons emosi terhadap kejadian eksternal dan internal (proses pikir, ide, bangkitan ingatan dan refleksi). Mood adalah nada perasaan, menyenagkan atau tidak yang menyertai suatu pikiran dan biasanya berlangsung lama serta kurang disertai oleh komponen fisiologis. Afek adalah manifestasi mood/ perasaan yang dirasakan di dalam ke luar dan disertai oleh banyak komponen fisiologis, biasanya tidak berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Mood dan afek serta aspek-aspek jiwa dan tubuh lain, bereaksi bersama-sama, hanya intensitasnya berlainan, karena manusia berespons secara holistic. Karena itu, mood dan afek selalu muncul bersama komponen psikologisnya (berbagai macam perasaan) dan komponen somatisnya (berbagai perubahan faali). Mood dan afek yang timbul karena eksistensi manusia adalah normal dan merupakan dorongan (drive) baginya. Bilamana mood dan afek itu menjadi begitu sangat tinggi atau sangat berkurang intensitasnya sehingga fungsi individu terganggu maka dikatakan sudah patologis. Gangguan mood dan afek dinilai keserasiannya antara mood dan afek. Gangguan ini dapat berupa : 1. Depresi Dengan komponen psikologis : sedih, susah, rasa tak berguna, gagal, kehilangan, tak ada harapan, putus asa, penyesalan yang patologis. Dengan komponen somatic : anorexia, konstipasi, kulit lembab, tekanan darah dan nadi turun, gangguan tidur, semangat krja/ bergaul dan nafsu sexual menurun Ada jenis depresi dengan penarikan diri, kegelisahan atau agitasi. 2. Kecemasan a. Kecemasan yang tidak jelas cemasnya terhadap apa b. Ketakutan (fear) yang jelas sekali atau mengetahui takut terhadap apa. Komponen psikologisnya : khawatir, gugup, tegang, cemas, rasa tak aman, takut, lekas terkejut Komponen somatisnya : palpitasi, keringat dingin pada tangan, tekanan darah meninggi, respons kulit terhadap aliran listrik galvanic berkurang, peristaltic meningkat, leukositosis.

Kecemasan sangat mengganggu homeostasis dan fungsi individu hingga perlu dihilangkan segera dengan berbegai macam cara penyesuaian diri yang berorientasi pada tugas. Bila dipakai beberapa MPE, terutama represi, maka kecemasan itu akan hilang, tetapi timbul lagi dengan manifestasi lain dan terjadilah gangguan jiwa. Kecemasan itu dapat berupa: i. Kecemasan yang mengambang, difus, menyeluruh dan tak ada hubungannya dengan suatu pemikiran ii. Agitasi adalah kecemasan yang disertai kegelisahan motorik yang hebat iii. Panik adalah serangan kecemasan yang hebat dengan kegelisahan, kebingungan, dan hiperaktifitas yang tidak terorganisasi 3. Eforia Rasa riang, senang, gembira yang berlebihan; bila tak sesuai dengan keadaan maka ini menunjukkan adanya gejala gangguan jiwa, jika lebih keras lagi dinamakan elasi dan jika keras sekali dinamakan exaltasi. 4. Anhedonia Ketidak mampuan merasakan kesenangan. Tidak timbul perasaan senang dengan aktivitas yang biasanya menyenangkan baginya. 5. Kesepian Merasa dirinya ditinggalkan. 6. Kedangkalan Kemiskinan afek dan emosi secara umum (berkurang secara kuantitatif); dapat juga digambarkan sebagai datar, tumpul, atau dingin yang sama maksudnya. Misalnya, tidak/ hanya sedikit merasa/ kelihatan gembira atau sedih dalam keadaan atau mengenai sesuatu yang benar-benar menggembirakan atau menyedihkan. 7. Mood dan afek yang tak wajar (inadekuat) Tak patut/ tak wajar dalam situasi tertentu (terganggu secara kualitatif), umpamanya tertawa terkikih-kikih waktu wawancara. Dikatakan inadequate bila ekstrim, dimana afek dan emosi bertentangan dengan keadaan atau isi pikiran ataupun dengan isi bicara. 8. Afek dan emosi yang labil Berubah-ubah secara cepat tanpa pengawasan yang baik, misalnya tiba-tiba marah atau menagis. 9. Variasi emosi dan afek sepanjang hari (Variasi diurnal) perubahan afek dan emosi mulai sejak pagi sampai malam hari. Misalnya pada psikosis bipolar, depresi lebih keras pada siang hari dan menjadi ringan pada sore hari.

10. Ambivalensi Emosi dan afek yang berlawanan timbul bersama-sama terhadap seseorang, suatu objek, atau suatu hal. 11. Apati Berkurangnya afek & emosi terhadap sesuatu/ terhadap semua hal dengan disertai rasa terpencil dan tidak peduli. (Tingkat penurunan kesadaran) 12. Amarah, kemurkaan/ permusuhan Sering dinyatakan dengan agresi. Bila ditunjukkan kepada pemecahan masalah dan dipakai sebagai pembelaan terhadap suatu serangan yang nyata, maka agresi itu konstruktif. Agresi menjadi patologik bila tidak realistic, menghancurkan dirinya sendiri, tidak ditujukan kepada pemecahan masalah dan jika merupakan hasil konflik emosional yang belum dapat diselesaikan.