Anda di halaman 1dari 49

Sumbangsih Pemikiran Alternatif-Relevansi Pendidikan: MEMPERTINGGI EFEKTIVITAS PROGRAM MAGANG INDUSTRI MELALUI PENDEKATAN KEMITRAAN DALAM RANGKA MEMBANGUN

KEPERCAYAAN DAN KEYAKINAN DUNIA USAHA DAN DUNIA INDUSTRI (DUDI) Oleh Tjetjep Djatnika Staf Pengajar Politeknik Negeri Bandung (POLBAN) Email : t.djatnika@an.polban.ac.id ABSTRAKSI Program sandwich yang diselenggarakan pendidikan tinggi (PT) vokasi khususnya belum berjalan efektip karena berbagai kendala, diantaranya adalah kurang optimalnya PT dalam membangun hubungan dengan para stakeholder -nya. Dilain fihak, kebanyakan DUDI di Indonesia masih banyak yang bersifat traders ketimbang industrialists. Apapun situasinya, inisiatif harus datang dari fihak PT dengan paradigma baru yang memposisikan diri sebagai penjual. Teori keputusan pembelian: AIDA, Buyer Resolution, dan Need-Satisfaction diusulkan menjadi landasan bertindak dalam merumuskan program magang yang berhasil. AIDA berdalil bahwa keputusan beli merupakan proses yang berurutan, dimulai dari adanya perhatian, ketertarikan, dan minat; buyer resolution berdalil bahwa keputusan beli akan terjadi jika pembeli bisa menjawab lima pertanyaan dengan positif; dan teori need-satisfaction berdalil bahwa pembelian merupakan proses pemenuhan kebutuhan. Pemahaman yang baik tentang kebutuhan konsumen DUDI dalam program kerjasama pendidikan dan penempatan kerja praktek diperlukan. DUDI skala besar dan ekstra besar mungkin bersifat lebih selektif dan kompleks, sehingga perlu pendekatan Need Satisfaction. Sedangkan DUDI skala menengah bisa dengan pendekatan Buyer Resolution. Melalui pendekatan alternatif ini diharapkan bahwa kesediaan menerima peserta magang tidak lagi karena alasan pilantropis melainkan upaya saling membutuhkan. Bagi PT, dampak positif dari suksesnya progam ini adalah meningkatnya kepercayaan dan keyakinan mereka terhadap hasil dan mutu PT. yang pada giliran selanjutnya akan meningkatkan minat beli mereka untuk merekruit lulusannya. Peran manajer urusan magang industri, sebagai sales team leader, sangat strategis dalam menciptakan dan memelihara tersedianya tempat magang yang memadai sesuai dengan tuntutan kurikulum. Kata kunci: Program sandwich, kemitraan, PPV, keyakinan dan kepercayaan, minat beli.

PENDAHULUAN Pendidikan tinggi yang memberikan kesempatan kepada para mahasiswanya agar mendapatkan pengalaman kerja di dunia kerja sebagai bagian dari studinya sebelum mereka lulus memberikan beberapa manfaat. Mahasiswa yang memiliki pengalaman kerja yang berkualitas akan menolongnya dalam mendapatkan pekerjaan yang lebih baik begitu mereka lulus, dan para pengguna lulusan berharap mahasiswa memiliki beberapa pengalaman kerja sebelum mereka lulus karena dunia usaha banyak yang tidak punya waktu untuk melatih para lulusan begitu mereka diterima kerja. Mereka butuh lulusan yang siap kerja, dengan keterampilan-keterampilan kunci yang sudah dimilikinya. Pengalaman kerja dapat membantu penguasaan keterampilan-keterampilan tersebut. Pengalaman kerja yang selaras dengan kurikulum program studi memiliki banyak kebaikan-kebaikan. Kegiatan tersebut tidak menjadi beban tambahan bagi mahasiswa karena waktunya sudah dialokasikan dan mendapat pengakuan kredit SKS. Para mahasiswa perlu mempersiapkan dengan seksama sebelum memulai praktek kerja dengan mempelajari keterampilan-keterampilan kunci (seperti keterampilan komunikasi dan bekerja secara tim), keterampilan-keterampilan yang menyangkut bidang studi, keterampilan-keterampilan diri (seperti manajemen waktu) dan instink bisnis. Mereka juga perlu bisa mengambil hikmah atas, dan belajar dari, pengalamannya. Disamping itu, melalui program magang mereka berkesempatan mengaplikasikan keterampilanketerampilan akademiknya (berfikir analitis dan kritis) ke tempat kerja. Mereka juga disupervisi, dinilai dan dihargai aktivitas-nya dengan kum nilai SKS (baik sebagai bagian integral dari kurikulum maupun sebagai suatu inisiatif yang berdiri sendiri). Tekanan dari para mahasiswa agar pengalaman kerjanya dihargai semakin meningkat. Sebagai konsekuensi dari semua itu maka diperlukan suatu investasi yang besar untuk pengembangan staf dan waktu dari staf jika ingin mahasiswanya mendapatkan yang terbaik dari praktek kerja. Para mahasiswa perlu dipersiapkan agar dapat memaksimalkan pembelajaran mereka selama dalam magang, dan mengambil hikmah dan belajar dari pengalaman kerjanya. Implikasinya bagi pendidikan tinggi sangat besar yang menuntut tindakan nyata dengan meninjau kembali kurikulum-nya yang sekarang dan merevisi-nya agar supaya bisa menghasilkan lulusan yang tidak lagi siap latih tetapi siap kerja.

Terdapat tiga fihak yang berkepentingan langsung dengan program magang yaitu pendidikan tinggi, mahasiswa dan dunia kerja. Program magang yang dikelola dengan baik memberi manfaat bagi semua fihak yang terlibat. Magang adalah salah-satu dari banyak cara terbaik yang efektip dalam meningkatkan employability lulusan yang secara bersamaan juga memperluas dan meningkatkan pengalaman PT. Pembelajaran praktek kerja lebih relevan dalam jenis pendidikan vokasi program diploma ketimbang pendidikan akademik. Jika pendidikan tinggi strata mulai melengkapi program pembelajarannya dengan unsur-unsur yang bernuansa vokasi, semua itu dimaksudkan untuk membangun pemahaman akademik mahasiswa terhadap suatu disiplin ilmu tertentu, sedangkan pendidikan vokasi berorientasi kepada kepentingan-kepentingan DUDI sehingga isi pembelajaran di tempat kerjanya utamanya mempersiapkan mahasiswa memasuki dunia kerja dalam bidang keakhlian tertentu (lihat Gambar 1). Alasan lain yang mendorong pendidikan tinggi vokasi agar lebih memperhatikan efektivitas program magang-nya karena tuntutan era baru yaitu knowledge economy and learning age society era dimana banyak pengetahuan baru tercipta di dunia kerja dan menjadikannya tempat pembelajaran baru disamping pembelajaran yang secara tradisional dan historik tersedia di pendidikan-pendidikan tinggi.

Gambar 1. Orientasi Pendidikan Program Diploma - versus - Program Strata

Orientasi
pendidikan yang lebih ke vokasional dan dunia kerja

Program Diploma

Program Strata 0
Orientasi pendidikan yang lebih ke akademik

Pengalaman kerja magang dalam arti luas bisa merupakan bagian dari kurikulum program studi, sebagai sesuatu yang terorganisir diluar kurikulum program studi, atau sebagai pengalaman kerja yang bersifat ad-hoc diluar program studi. Semua itu memberikan peluang pembelajaran yang serupa. Perbedaannya terletak pada jumlah, rentang dan kedalaman. Sejumlah isu yang harus ditangani sekitar aspek akademik antara lain meliputi menetapkan tujuan-tujuan pembelajaran, penilaian, akreditasi, dan aspek administrasi seperti pencarian tempat kerja, mengatur wawancara, korespondensi dan dokumentasi kearsipan jurnal magang, buku log, dan surat kontrak pembelajaran. Yang menentukan terhadap keberhasilan penempatan kerja adalah efektivitas dalam proses penanganan beberapa hal tersebut. Sejauh ini peran Job Placement Center (JPC) yang ada dibanyak institusi pendidikan tinggi masih banyak berperan memberikan pelayanan administratif dan perantara ketimbang terlibat dalam peran yang lebih substantif seperti aktivitas-aktivitas menginisisasi, membangun, dan membina hubungan dengan fihak stakeholder dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Sistim pelaksanaan program magang yang sekarang masih belum efektip karena lemahnya koordinasi diantara fihak-fihak yang terlibat, kurang terstruktur, dan kurang selektif, sehingga perlu penyempurnaan.

Hubungan kolaborasi kemitraan antar PT, mahasiswa, dan dunia kerja dalam mensukseskan program magang semakin dituntut untuk lebih intensif lagi karena dalam era ekonomi berbasis pengetahuan peran pembelajaran semakin sentral dan begitu sangat menentukan daya saing dan pembangunan ekonomi bangsa. Pembelajaran berbasis pengalaman yang didapatkan ditempat kerja (experiential learning) membekali mahasiswa dengan job ready skills yang berpotensi meningkatkan employability lulusan. Sesuai dengan konsep pembelajaran dari David Kolb bahwa pembelajaran yang total dan tuntas terjadi apabila pembelajarannya terdapat unsur pengalaman konkrit disamping pembelajaran reflektif, pembelajaran abstraktif konseptualistik, dan pembelajaran eksperimen pembuktian.Yang mulai unsur mana dulu tidak penting, yang jelas pembelajaran hanya akan terjadi jika siklus tersebut dilalui secara tuntas. Pembelajaran yang hanya mengandalkan pemberian perkuliahan kepada para mahasiswa di ruang kelas tanpa memberikan kesempatan pembelajaran di dunia nyata, meninggalkan mahasiswa tanpa pembelajaran atau pemahaman terhadap pelajaran yang

total (Meredith, 2005). Tataran era masyarakat ekonomi baru yang berbasis pengetahuan memunculkan paradigma baru yang memunculkan DUDI (dunia usaha dan industri) menjadi tempat pembelajaran yang syah dan penghasil pengetahuan baru yang relevan yang mungkin meruntuhkan posisi monopoli pendidikan tinggi sebagai satu-satunya pusat pembelajaran dan sumber penghasil pengetahuan. Salah-satu contoh konkrit-nya adalah perusahaan korporasi multinasional Unilever mengidentifikasi dirinya sebagai learning organisation memiliki learning center yang berlokasi di sekitar Ciawi, Bogor,Jawa Barat. Terjadinya pergeseran dalam DUDI dimana pusat-pusat pelatihan (training center) yang dimiliki berubah fungsi dari penyedia pelatihan (training provider) menjadi lebih ke fasilitator pembelajaran (facilitator of learning). Pembelajaran baginya adalah suatu proses dalam mana seseorang membangun pengetahuan, keterampilanketerampilan, dan kemampuan-kemampuan baru, sedangkan pelatihan adalah satu dari tanggapan-tanggapan yang suatu organisasi bisa lakukan untuk mempromosikan pembelajaran. Pembelajaran digali dimana saja, kapan saja, tidak hanya dari program pelatihan dan tidak hanya sebagai tanggapan terhadap adanya gaps kemampuan. Apa yang orang pilih untuk dipelajari mungkin lebih penting bagi DUDI ketimbang pelatihan apa yang mereka jalani karena itu bisa meningkatkan kapasitas adaptif yang memungkinkan perusahaan tetap survive (memiliki agilitas) dalam menghadapi kondisikondisi yang penuh dengan ketidakpastian. Makalah ini bermaksud mempelajari upaya-upaya perbaikan kualitas program magang mahasiswa yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi khususnya pendidikan vokasi melalui hubungan kemitraan sehingga bisa meningkatkan keberhasilan program pembelajaran di tempat kerja yang merupakan bagian integral dalam struktur kurikulum sandwich.

KAJIAN TEORI Penyelenggara pendidikan vokasi (PPV) yang mengadopsi kurikulum program sandwich idealnya memiliki unit pelayanan magang mahasiswa yang tugas pekerjaannya layaknya sebuah kantor cabang penjualan yang menjual ide hubungan kerjasama pendidikan kepada konsumen DUDI. Dalam rangka mensukseskan penjualan ide kerjasama pendidikan dibidang magang, Ingram (2004) menganjurkan agar tim penjualan

terlebih dahulu perlu memahami perilaku konsumen sasaran dengan baik (lihat Gambar 2).

Gambar 2. Model Perilaku Pembeli


Persepsi Selektif Kebutuhankebutuhan : -tehnis -ekonomis -prestise -fungsional -operasional -job security
x2

Motif-motif pembelian rasional Motif-motif pembelian emosional


x3

Keputusan beli:
Sepakat kerjasama kemitraan dengan PPV y Dijelaskan oleh: Teori AIDA Teori Buyer Resolution Teori Need-Satisfaction

+ Faktor-faktor Lingkungan Usaha: -persaingan -tuntutan konsumen


x1

Motif-motif pembelian produk Motif-motif pembelian patron x

Variabel tergantung Y adalah keputusan bermitra yang diambil DUDI dipengaruhi oleh 4 variabel bebas (X1, X2, X3, dan X4 ). Variabel X1 adalah faktor lingkungan organisasi yang terdiri atas peran dan posisinya dalam peta ekonomi; kelompok referensi yang menjadi benchmark-nya; ukuran/skala organisasi; dan kebijaksanaan kehumasannya. Variabel lingkungan perusahaan tersebut

selanjutnya mempengaruhi variabel X2 yaitu jenis-jenis dan peringkat kebutuhan apa saja yang ingin diperoleh dari kerjasama kemitraan magang dengan pendidikan tinggi vokasi (PPV) yang bisa berupa kebutuhan-kebutuhan seperti rumusan peringkat kebutuhan dari A. H. Maslow (lihat Gambar 3). Pada giliran berikutnya, kebutuhan-kebutuhaan tersebut akan menjadi motif/alasan organisasi mengambil keputusan pembelian, yang bisa berupa alasan rasional maupun

emosional (variable X3 ) atau variable X4 yaitu atribut-atribut dan manfaatmanfaat yang bisa didapatkan dari para mahasiswa peserta magang (motif produk) atau karena alasan-alasan patronase (motif patron) seperti kememihakkan kepada sumberdaya lokal atau kesamaan bidang perhatian. Motif/alasan yang mendorong

perilaku DUDI bermitra juga dipengaruhi oleh persepsinya yang bersifat selektif. Mereka menjadi selektif karena dua hal berikut. Pertama adalah karena banyaknya PPV yang melamar untuk mengajak bermitra tidak sepadan dengan daya tampung atau ketersediaan staf perusahaan yang kualified yang punya kompetensi mengelola dan menangani para mahasiswa peserta magang. Kedua, bisa karena trauma dengan kegagalan/insiden buruk dimasa lalu, dan purbasangka-purbasangka.

Gambar 3. Peringkat Kebutuhan DUDI Rumusan A.H. Maslow

Kebutuhan untuk berbuat sesuatu bagi generasi penerus

Kebutuhan citra organisasi

Kebutuhan rasa memilikitanggung jawab bersama

Kebutuhan rasa aman secara hukum

Kebutuhan fungsional operasional ekonomis

Selanjutnya, terdapat 3 teori yang bisa menjelaskan tentang bagaimana seseorang/organisasi mengambil keputusan beli. Teori pertama adalah teori AIDA yang mendalilkan bahwa pengambilan keputusan pembelian adalah suatu proses psikologis yang dilalui oleh seorang/organisasi prosesnya yang diawali dengan tahap menaruh perhatian (Attention) terhadap tawaran mahasiswa magang sebagai alternatif tenaga kerja; kemudian jika berkesan dia akan melangkah ke tahap ketertarikan (Interest) untuk mengetahui lebih jauh tentang keakhlian yang dimilikinya, sumber penyedianya, dan biaya-biaya/harga didapatkannya; yang harus dikorbankan dan manfaat-manfaat kuat berlanjut yang ke bisa tahap

yang

jika

intensitas

ketertarikannya

berhasrat/berminat (Desire) karena tenaga kerja yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan-nya yang temporer, gratis, trampil, terhindar dari kontrak kerja. 7

Disamping itu, sudah yakin bahwa manfaat-manfaatnya lebih besar dari pada biaya/harga yang harus dikorbankan. Jika hasrat dan minatnya begitu kuat baik karena dorongan dari dalam atau rangsangan persuasif dari luar maka seseorang/organisasi tersebut akan mengambil keputusan beli (Action to buy) siap menerima peserta magang.

Teori Keputusan Beli AIDA


Tahap Menaruh Perhatian (Attention): Menaruh perhatian terhadap adanya ketersediaan tenaga kerja mahasiswa peserta magang Tahap Ketertarikan (Interest): Tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang bidang keakhlian yang dimiliki-nya, sumber penyedia-nya, dan biaya-biaya/harga yang harus dikorbankan dan manfaat-manfaat bisa didapatkannya Tahap Berhasrat/Berniat (Desire ): Tenaga kerja yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan-nya-temporer, gratis, trampil, terhindar dari kontrak kerja, dan enerjetik. Disamping itu, sudah yakin bahwa benefit2nya lebih besar dari cost yang dikorbankan Tahap Memutuskan untuk aksi beli (Action): Dengan atau tanpa stimuli/insentif dari luar, keputusan kontrak magang dengan fihak PPV diambil

Teori kedua adalah teori Buyer Resolution dimana seseorang/organisasi memutuskan untuk membeli jika lima pertanyaan 5 Ws, memuaskan. Pertanyaan 1 Why should I buy? (need - butuh tambahan tenaga kerja); Pertanyaan 2 What should I buy? (product - lulusan atau yang masih statusnya mahasiswa?); Pertanyaan 3 Where should I buy? (penyedianya - mahasiswa program diploma atau mahasiswa politeknik?); Pertanyaan 4 What is a fair price? (harga/biayanya - gratis, program orientasi dan pelatihan awal, penyediaan tenaga pembimbing, akomodasi, konsumsi, dan uang saku); Pertanyaan 5 When should I buy? (waktu jadwal yang tepat menerima para mahasiswa peserta magang). seluruhnya terjawab dengan

Teori Keputusan Beli Buyer Resolution:


Why should I buy? (need): butuh tambahan tenaga kerja What should I buy?(product): lulusan atau yang belum lulus Where should I buy?(penyedia-nya): mahasiswa program diploma atau mahasiswa program strata What is a fair price? (harga/biaya-nya): gratis; orientasi, pelatihan awal, tenaga pembimbing, akomodasi, dan konsumsi When should I buy? (waktu): jadwal sesuai kurikulum sandwich yang dibuat bersama oleh DUDI dan PPV

Teori

ketiga,

teori

Need-Satisfaction

(N-S)

yang

berdalil

bahwa

seseorang/organisasi memutuskan untuk membeli jika fitur-fitur dan benefit-benefit dari produk yang ditawarkan sesuai dengan dengan kebutuhan-kebutuhannya. Menurut teori ini yang harus dilakukan oleh tim penjual sebelum menawarkan sesuatu produk adalah menganalisa situasi yang sekarang dihadapi oleh konsumen (Situation analysis) dimana tantangan-tantangan dan isu-isu stratejik dibidang SDM diidentifikasi dan dianalisa. Contoh tantangan era ekonomi pengetahuan dan masyarakat pengetahuan dan antisipasi gap keterampilan dimasa depan. Dari hasil analisa situasi tersebut masalah yang dihadapi konsumen diidentifikasi (Problem identification), contohnya: tidak adanya sinerji dengan PT, staf yang tersedia sekarang belum memenuhi harapan, mutu lulusan PT yang kurang memadai. Masalah-masalah yang telah diidentifikasi dipelajari lebih lanjut agar diketahui dan dipelajari implikasi-implikasinya (Implications) seperti skill gaps yang tidak menguntungkan, produktivitas inventif yang rendah, kekayaan intelektual yang tidak sesuai target dan lemahnya daya saing. Selanjutnya opsi-opsi pemenuhan kebutuhan 9

ditentukan (Needs payoff) misalnya berupa opsi perlunya menerima tawaran magang yang berbasis kemitraan dan program kemitraan lainnya dengan PT program diploma. Pendekatan menjual tersebut juga disebut pendekatan SPIN (Situation analysis, Problem identification, Implications, Need payoffs).

Teori Keputusan Beli Need Satisfaction atau Pendekatan SPIN


Situation Analysis (S): Tantangan-tantangan dan isu-isu stratejik dibidang SDM diidentifikasi dan dianalisa tantangan era ekonomi pengetahuan dan masyarakat pengetahuan Problem identification (P): Tidak ada sinergi dengan PT; staf yang ada sekarang tidak seperti yang diharapkan; mutu lulusan PT tidak sesuai harapan Implications (I): Skill gaps, produktivitas inventif dan kekayaan intelektual, daya saing Need-Payoffs (N): Program magang berbasis kemitraan, dan program-program WBL lainnya dengan PT.

DUDI skala besar yang menganalisa kebutuhan SDM nya dengan pendekatan SPIN dapat didekati oleh PPV dengan tehnik menjual yang berbasis hubungan kemitraan (partnership relationship selling). Sedangkan untuk DUDI skala kecil menengah yang menggunakan tehnik AIDA atau buyer resolution dalam menganalisa kebutuhan tenaga kerjanya maka pendekatan penjualan berbasis kontrak dan/atau relasional dianggap tepat (functional and/ or relationship selling) (lihat Tabel 1).

10

Tabel 1. Tugas Salesperson Berdasarkan Jenis Pendekatan Penjualannya Relasional Kemitraan Pendekatan penjualan Kontraktual Fungsional Tujuan Menciptakan penjualan Memuaskan Kebutuhan konsumen Orientasi Kepentingan penjual jangka pendek Kebutuhan konsumen jangka pendek Kepentingan konsumen dan penjual jangka panjang Peran salesperson Aktivitas salesperson Pembujuk Secara agresif meyakinkan para pembeli Pemecah masalah Menyelaraskan produk yang ditawarkan dengan Pencipta nilai Menciptakan alternatifalternatif baru; menyelaraskan kebutuhan pembeli dengan kapabilitas penjual Proses pembelian AIDA Resolusi 5 pertanyaan Proses pemenuhan Kebutuhan (SPIN) stratejik Membina hubungan

untuk membeli kebutuhan pembeli produk

PEMBAHASAN Berdasarkan Undang-Undang No. 20/2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional, pendidikan tinggi politeknik dan non-politeknik boleh menyelenggarakan pendidikan vokasi berupa pendidikan tinggi program diploma. Ciri-ciri utamanya terletak pada isi pembelajarannya yang relatif lebih banyak muatan prakteknya dari pada muatan teoritiskonseptual-nya, dan proses pembelajarannyapun yang lebih banyak diselenggarakan di laboratorium, bengkel, studio, dan tutorial problem based learning (PBL) (lihat Gambar 4). Daya saing lulusan pendidikan vokasi ada pada keunggulan kompetensi praktek sebagaimana tercermin dalam komposisi dan proporsi kurikulum program diploma III yang total beban SKS nya antara 110 -120 SKS yang ditempuh dalam 6 semester, muatan

11

prakteknya minimal 51% setara 61 SKS. Sedangkan program diploma IV total beban SKSnya antara 140 160 SKS yang ditempuh dalam 8 semester, muatan pembelajaran prakteknya paling sedikit 51% atau ekuivalen 81 SKS. Orientasi praktek dari pendidikan vokasi bukan saja menjadi ciri khas pembeda dari pendidikan akademik program strata tetapi juga merupakan strategi positioning dalam peta persepsi calon para pengguna lulusan pendidikan tinggi dan peta persepsi calon mahasiswa yang berminat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Persepsi keliru yang berkembang di masyarakat tentang pendidikan vokasi program diploma, terutama yang diselenggarakan oleh PT non-politeknik khususnya menganggap bahwa pendidikan vokasi adalah pendidikan strata 1 yang dipotong yang jadinya bermutu kelas dua. Persepsi yang keliru tersebut dapat dikoreksi oleh para penyelenggara

pendidikan vokasi (PPV) dengan cara kembali ke filosopi yang sebenarnya secara utuh dan konsisten sehingga citra-nya dalam benak fikiran masyarakat menjadi lebih proporsional dan akurat, harapannya jika lulusan pendidikan akademik diapresiasi sebagai buah apel nomor satu maka lulusan pendidikan vokasi dihargai sebagai buah jeruk nomor satu yang sama-sama diperlukan oleh dunia kerja sesuai dengan struktur dan komposisi kebutuhan tenaga kerjanya, dan bersamaan dengan itu menjadi pilihan yang menarik bagi para lulusan SMU/K.

Gambar 4. Komposisi Teori - Praktek Program Pendidikan

pendidikan strata praktek teori

pendidikan diploma praktek

teori

12

Pentingnya pembelajaran di tempat kerja Kombinasi pembelajaran teori di ruang kelas dan perpustakaan (theoretical learning) dan pembelajaran praktek di lab (practical learning) dirancang sedemikian rupa dalam rangka menghasilkan lulusan dengan tingkat mutu tertentu yang siap memasuki dunia kerja. Keberhasilan pendidikan vokasi tidak hanya diukur dari segi mutu-nya saja melainkan juga dari segi relevansi-nya. Hubungan mutu dan relevansi ibarat dua sisi dari satu keping mata uang. Mutu lulusan pendidikan vokasi dianggap relevan oleh para pengguna lulusan, yang dalam hal ini adalah sektor dunia usaha dan dunia industri (DUDI) apabila apa yang mereka dapatkan sama dengan atau lebih besar dari yang mereka harapkan. Kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya, dimana DUDI menilai bahwa lulusan pendidikan vokasi belum siap kerja, mereka over qualified but under experience (Ellis, 1999). Berdasarkan pengalamannya, banyak pe-rekruit menghadapi dilemma dimana banyak pelamar yang memiliki potensi tinggi harus direlakan untuk tidak diseleksi lebih lanjut karena tidak memiliki pengalaman kerja yang relevan sebagaimana seringkali diminta pada iklan-iklan lowongan kerja. Sekarang dan kedepan, para penyedia kerja mengharapkan dari para lulusan tidak hanya memiliki pengetahuan dari bidang studi atau keakhliannya saja, tetapi juga kemampuan adaptasi terhadap lingkungan kerja baru dimana mereka bergabung, membawa keterampilan-keterampilan komunikasi yang luar biasa, kemampuan memimpin dan dipimpin, dan kemampuan yang teruji dapat berfungsi secara efisien dan efektip. Ini berarti bahwa transferable skills penting bagi para mahasiswa. Transferable skills adalah keterampilan-keterampilan atau kemampuan-kemampuan yang dapat diaplikasikan dengan sama dari pekerjaan satu ke pekerjaan lainnya. Keterampilan-keterampilan ini juga dikenal dengan keterampilanketerampilan kunci (key skills), keterampilan-keterampilan jenerik (generic skills) atau keterampilan-keterampilan inti (core skills). Keterampilan-keterampilan tersebut

meningkatkan employability lulusan dan dapat diperbaiki melalui pembelajaran di tempat kerja. Dengan demikian, pembekalan yang diberikan PPV kepada mahasiswa via theoretical learning dan practical learning masih menyisakan selisih negatif mahasiswa perlu mendapatkan experiential learning. Practical learning tidak bisa menggantikan experiential learning karena practical learning dilakukan dalam rangka pendalaman teori dan dalam konteks dunia akademik. Disamping itu fasilitas lab yang

13

tersedia pada umumnya di set up berupa miniatur simulatif inkubatif eksperimentatif sebagai sarana belajar bukan untuk memproduksi barang atau/dan jasa yang riil untuk pasar. Pengalaman kerja sama sekali berbeda dari eksperimen dan tidak dapat digantikan oleh laboratorium. Bekerja di industri adalah cara terbaik untuk mempelajari sikap professional, interpersonal skills. Juga berbeda dengan pembelajaran di kelas yang lebih didasarkan pemerolehan se-set keterampilan tehnis, dan kegiatan-kegiatan pengajaran formal yang membekali mahasiswa dengan pengetahuan, skills dan konsep-konsep, dan penekanan pada keterampilan-keterampilan kognitif. WBL berbeda dari pembelajaran di kelas karena fokusnya pada pembelajaran reflektif atas apa-apa yang dikerjakan. Pembelajaran di tempat kerja atau program sandwich atau kerjasama pendidikan atau penempatan kerja atau magang, bukan apprenticeship. Bedanya dengan apprenticeship karena bentuk pembelajarannya tidak terjadwal dan tidak berstruktur (pendidikan informal). Apprentice berperan sebagai asisten yang berguru kepada tukang akhli dan yang waktunya bisa bertahun-tahun dan sang master mungkin memproteksi, tidak mewariskan keterampilan-keterampilan rahasianya kepada-nya. Sedangkan pembelajaran di tempat kerja adalah suatu pembelajaran yang terstruktur dimana seseorang mahasiswa diminta untuk bekerja di suatu perusahaan atau organisasi dalam suasana kerja yang sesungguhnya dengan tujuan belajar dari kerja dengan disupervisi oleh tutor akademik dan supervisor di tempat kerja, belajar secara mandiri yang didukung oleh kontrak-kontrak pembelajaran dan petunjuk-petunjuk pembelajaran. DUDI lebih suka lulusan yang punya pengalaman kerja dengan alasan mereka dapat bekerja secara mandiri dalam waktu yang tidak begitu lama setelah diterima kerja. Terdapat tiga fitur unik yang dimiliki pembelajaran di tempat kerja (internship): (i) biasanya fokus ke tugas pekerjaan; (ii) terjadi dalam konteks sosial yang dicirikan dengan perbedaan status dan adanya resiko kondite dan kelangsungan karir; (iii) bersifat kolaboratif dan seringkali muncul dari adanya suatu pengalaman atau suatu masalah atau isu dimana disiplin ilmunya atau basis pengetahuannya tidak diketahui/dikenali (Chan, et.al., 2005). Raelin dalam Chan, et.al., (2005) menyatakan bahwa pembelajaran di tempat kerja memiliki tiga unsur berikut: (a) pembelajarannya berlangsung ketika pekerjaan dilakukan dan didedikasikan pada tugas yang sedang ditangani; (b) memandang penciptaan dan penggunaan pengetahuan sebagai aktivitas-aktivitas kolektif dimana pembelajaran menjadi kewajiban

14

setiap orang; (c) para pelakunya mempertunjukkan sikap learning -to- learn yang merasa bebas untuk menggugat asumsi-asumsi yang berlaku.

Gambar 5. Kemungkinan Profil Lulusan Pendidikan Vokasi

lulusan pembelajaran Theoretical learning Practical learning

Siap latih

Siap kerja

+ + 0

+ + +

Experiential learning

Menurut Benecke dan Grobbelaar-Hall (2006) sulit mengintegrasikan experiential learning kedalam program akademik program studi dan menjadi bagian integral dalam kurikulum resmi karena status-nya sebagai pendidikan informal yang tidak bisa mendapatkan kredit SKS. Mahasiswa yang inisiatif sendiri membekali dirinya dengan ber-PKL akan memiliki advantage dalam bersaing dalam memenangkan peluang kerja dengan mencantumkan bukti pengalaman kerjanya dalam surat lamaran dan riwayat hidup (CV)-nya dan ketika wawancara pekerjaan. Sampai dengan sekarang ini, Job Placement and Assessment Center (JPAC) yang menangani penempatan magang mahasiswa, masih banyak yang bersifat pasif menunggu tawaran kesempatan magang yang diusulkan DUDI yang datang secara tiba-tiba yang jadwal, isi dan tujuan-nya tidak selaras dengan kurikulum. Pelayanan yang diberikan kepada para mahasiswa yang perlu bermagang baru sebatas administratif formalitas-seperti penyiapan surat permohonan berpraktek kerja, pengiriman formulir penilaian kepada supervisor di tempat kerja yang tidak dikenalnya. Sedangkan yang lebih esensial seperti rapat koordinasi untuk merumuskan program magang dengan fihak-fihak terkait di DUDI, monitoring, dan site visit berkala dari tutor pembimbing akademik dari kampus belum berjalan sebagaimana 15

mestinya. Perbedaan budaya organisasi antara PPV dan DUDI merupakan salah satu penyebab tidak efektip-nya program magang yang sekarang berjalan, terutama ketidaksamaan pengertian antara learning dan knowledge (Roodhouse, 2005). Dari sudut pandang relevansi, DUDI mendefinisikan pengetahuan sebagai sesuatu yang dihasilkan dalam konteks aplikasi, yang berbeda dari pengetahuan berbasis disiplin keilmuan yang konvensional. DUDI siap menjadi pencipta pengetahuan, mengaplikasikan dan memanfaatkan pengetahuan baru tersebut ditempat kerja. Pengetahuan baru tersebut sifatnya praktis, interdisipliner, informal, terapan, dan kontekstual ketimbang teoritis disipliner, dan dapat dijenalisir; relevansinya tidak lagi diartikan sebagai aplikasi

pengetahuan ditempat kerja melainkan tempat kerja itu sendiri sebagai suatu tempat pembelajaran. Juga menurut DUDI, pembelajaran diperoleh melalui kerja di tempat kerja dan menjadi bagian dari kerja. Lahirnya era ekonomi pengetahuan baru dan zaman masayarakat pembelajaran (knowledge economy era and learning age society) membawa implikasi mendasar terhadap eksistensi dan kelangsungan hidup pendidikan vokasi. Dalam era tersebut

ekonomi menjadi panglima. Keberhasilan ekonomi-nya sangat ditentukan oleh seberapa banyak pengetahuan-pengetahuan baru dihasilkan, yang contohnya antara lain inovasiinovasi berupa kekayaan-kekayaan intelektual yang di-hak ciptakan. Pengetahuanpengetahuan baru tersebut tercipta di tempat kerja. Dalam zaman masyarakat pembelajaran, DUDI bertambah perannya menjadi pusat/sumber pembelajaran (learning organization). Beberapa keterampilan-keterampilan dan pengetahuan-pengetahuan yang relevan lebih tepat didapatkan di tempat kerja ketimbang di kampus. Hal lain yang mungkin merintangi upaya kolaborasi kemitraan magang adalah ketentuan tentang kurikulum sandwich pendidikan vokasi yang harus mematuhi sistim penjaminan mutu yang berlaku dilingkungan pendidikan tinggi dan secara implisit seakan-akan dipaksakan kepada DUDI untuk mengikutinya. Fleksibilitas mungkin diperlukan dalam hal ini dan ini menjadi tugas berat koordinator unit pelayanan magang untuk berkoordinasi dengan fihak-fihak terkait di tempat kerja. Bagi DUDI, pembelajaran bersifat luwes (flexible learning) dan berhubungan erat dengan capacity building dalam konteks pembelajaran sepanjang hayat.. Pengembangan kapasitas menyangkut pengembangan tenaga kerja dengan pembekalan-pembekalan yang memungkinkan mereka memiliki kemampuan-

16

kemampuan agar bisa sukses menghadapi dunia kerja yang unpredictable. Work based learning, dipersepsi tidak seperti pendidikan formal yang konvensional, dianggap sebagai pembelajaran yang fleksibel karena dari segi waktu, tempat dan metode pembelajarannya bersifat fleksibel. Sebagai konsekuensi-nya, PPV perlu mentransformasi diri dengan mengambil peran sebagai fasilitator dan supporter dalam hal pembelajaran di tempat kerja yang akan efektip jika tujuan-tujuan pembelajaran magang yang ditetapkan

merupakan hasil negosiasi. Perkembangan baru tersebut, menuntut kesadaran baru dari fihak PT bahwa mereka tidak lagi memegang posisi monopoli dalam hal menghasilkan pengetahuan dan pusat pembelajaran, dan dimasa yang akan datang posisi tersebut berangsur-angsur terkikis dengan munculnya pendatang baru sehingga bagi PPV-PPV yang ingin tetap relevan dengan perkembangan baru ini, mereka lebih baik menyambutnya dengan tangan terbuka, bukan dipersepsi sebagai pesaing yang mengancam melainkan sebagai mitra kerja potensial dalam mengembangkan program work based learning. Tidak bisa dipungkiri bahwa program magang yang diselenggarakan resmi oleh PPV tidak akan bisa berjalan dengan efektip tanpa ada dukungan DUDI. Maka dari itu program magang berbasis kemitraan diyakini akan lebih baik dari yang selama ini berjalan. Pembelajaran dengan bekerja di tempat kerja memberi manfaat-manfaat kepada mahasiswa dalam menguasai pengetahuan-pengetahuan dan keterampilan-keterampilan baru yang tidak bisa didapatkan pada pembelajaran teoritis dan praktis di dunia akademik. Hubungan antara academic learning dan experiential learning bersifat komplementer dan suplementer bukan substitusi/saingan. Experiential learning melengkapi kompetensi lulusan dengan work ready skills yang berdampak positif terhadap peningkatan tingkat employability (lihat Gambar 5). Makin tinggi employability para lulusannya maka makin tinggi pula tingkat akreditasi program studi tersebut karena tinggi-nya prosentase graduate employment rate-nya (low graduate unemployment rate). Employability adalah se-set capaian-capaian, pengertian-pengertian dan atribut-atribut personal yang membuat seseorang lebih mungkin mendapat kerja dan berhasil dalam bidang pekerjaan yang dipilihnya (Little et.al., 2004).

17

Pembelajaran di tempat kerja berpotensi menutup gap relevansi antara apa yang diharapkan oleh DUDI dengan ada yang disediakan oleh PPV. Gap tersebut mungkin disebabkan oleh salah satu atau kombinasi dari gap 1, 2, 3, dan 4. Gap 1 terjadi karena ada perbedaan antara apa-apa yang diharapkan DUDI dengan persepsi jajaran akademik tentang apa-apa yang diharapkan DUDI, perlu ditutup dengan solusi 1 yaitu komunikasi tatap-muka langsung diantara kedua belah fihak dengan agenda bagaimana mengatasi rendah-nya employability lulusan. Solusi 2 sebagai tindak lanjut penanganan gap 2(akibat tidak adanya keterlibatan DUDI dalam merancang kurikulum sandwich) menyarankan agar fihak PPV sebaiknya bersedia merancang kurikulum sandwich-nya dengan melibatkan DUDI secara langsung. Solusi 3 sebagai langkah positif menutup gap 3(pelaksanaan program magang yang tidak sesuai dengan rancangan kurikulum) menuntut staf dosen, tutor magang, supervisor magang ditempat kerja, mahasiswa, dan koordinator unit pelayanan magang dan hubungan industri secara bersama-sama

mengimplementasikan kurikulum sandwich tersebut secara konsisten dan berkualitas. Solusi 4 sebagai langkah mengatasi gap 4(ketidakselarasan antara learning outcomes yang diharapkan PPV dengan business performance outcomes yang diharapkan DUDI) adalah diselenggarakannya evaluasi, monitoring pelaksanaan magang melalui site-visit oleh para tutor dan umpan-balik dari para peserta magang (lihat gambar berikut)

Gambar 6. Analisa Gap Relevansi Pendidikan Program Diploma

18

Tuntutan persaingan

Tuntutan era ekonomi baru

Benchmark

D U D I

Apa yang diharapkan


Gap relevansi

Apa yang disediakan PPV


Solusi 4 Pembelajaran di tempat kerja (+)

Solusi 1

Pembelajaran teori dan praktikal

P
Solusi 3

P
Kurikulum Sandwich

V
Jajaran akademik Jurusan/program studi dan JPAC

Solusi 2

Knight dan York dalam Little et.al., (2004) menambahkan bahwa employability adalah suatu paduan dari pengertian, praktek-praktek yang sarat keterampilan, keyakinan saya bisa (percaya diri yang syah), dan kemampuan ber-refleksi. Agenda employability terutama diarahkan pada upaya mempersiapkan mahasiswa yang belum pernah bekerja menjadi siap kerja. Dengan demikian apabila berbicara tentang employability maka asosiasi kita mengarah ke mahasiswa pendidikan vokasi yang belum pernah kerja; yang ingin mendapatkan pengalaman kerja, dan memiliki rencana karir yang jelas (personal development plan).

Dunia kerja yang dinamis dan sarat dengan perubahan terutama tuntutannya terhadap keterampilan-keterampilan yang lebih tinggi tingkatannya, hampir-hampir sulit untuk diimbangi oleh dunia pendidikan. Hal itu perlu disiasati oleh PPV dengan membangun kemitraan dengan-nya. Contoh yang dihadapi oleh program studi Periklanan yaitu industri periklanan yang semakin berbasis teknologi multimedia; persaingan dalam negeri yang global dan banyak dikuasai oleh pemain dan tenaga akhli asing. Jika relevansi pendidikannya ingin tetap dipertahankan dan employability lulusannya terjamin maka tidak ada jalan lain baginya selain mengadakan kolaborasi dengan industri periklanan melalui program magang. Untuk menjadi praktisi professional dalam bidang 19

periklanan, melalui perkuliahan dan praktek di studio di kampus para mahasiswa dibekali pengetahuan-pengetahuan dan keterampilan-keterampilan mengenai bagaimana: (i) merancang iklan yang artistik dan kreatif (art/creative design); (ii) membuat naskah iklan (copy writing); (iii) memilih media iklan yang tepat (media buying); dan (iv) mencari konsumen pemasang iklan (account executive). Dengan experiential learning mahasiswa bisa terampil mengatasi konflik dengan koleganya-media buyer, creative designer, copy writer, dan account executive dalam proses pengerjaan iklan. Sebagai media buyer mahasiswa terampil bernegosiasi dengan media cetak, media elektronik. Sebagai account executive mahasiswa terampil bertransaksi penjualan dengan pemasang/pembeli iklan. Mereka terampil ber- teamwork dalam menghasilkan iklan yang sesuai dengan pesanan sponsor. Mereka juga terampil dalam menggunakan teknologi terkini di dunia periklanan, bahkan mereka memiliki pengalaman berharga karena pernah bekerja dengan akhli-akhli periklanan mancanagara sehingga terjadi alih teknologi dan alih pengetahuan secara alami. Semua keterampilan tersebut hanya bisa dikuasai oleh mahasiswa periklanan melalui belajar di tempat kerja.

Bagi DUDI, inovasi adalah kunci daya saing yang menuntut suatu pengetahuan ilmiah yang lebih tinggi. Banyak pengguna lulusan yang mengalami kesulitan dalam merekruit dan mempekerjakan secara efektip lulusan-lulusan pendidikan tinggi yang diperlukan untuk mengadakan inovasi produk dan proses; yang dapat bekerja dalam tim-tim yang bersifat multidisipliner. PPV perlu menanggapi kebutuhan DUDI tersebut dengan mengusulkan solusi melalui program magang mahasiswa yang lebih berkualitas, karena jika tidak maka PPV hanya akan menghasilkan lulusan yang tingkat keterampilanketerampilannya kurang yang menghambat kegiatan pengembangan produk dimana inovasi adalah kunci daya saing industri.

Kurikulum sandwich dalam pendidikan vokasi Hall dan Gush (20030 mengidentifikasi empat macam pembelajaran di tempat kerja yaitu: tipe 1 yang dirancang untuk pegawai DUDI yang menjadi mahasiswa dan belajar di kampus dan bagi mereka diberlakukan prinsip recognition of prior learning/recognition of current competencies (RPL/RCC) yang bisa diakreditasi sebagai

20

kum SKS; tipe 2 dirancang untuk pegawai DUDI yang berstatus mahasiswa dan belajar di tempat kerjanya dengan dukungan dari PPV; tipe 3 dirancang untuk mahasiswa regular untuk belajar keterampilan-keterampilan kompetensi yang berbasis dunia kerja melalui mata kuliah kurikulum atau ekstra kurikuler; tipe 4 dirancang untuk mahasiswa regular PV untuk mendapatkan pembelajaran di tempat kerja karena tuntutan kurikulum sandwich. Kurikulum sandwich ini dianggap paling tepat bagi pendidikan vokasi karena: (1) menyediakan pembelajaran yang tuntas (teori siklus pembelajaran dari David Kolb), (2) memenuhi konsep pembelajaran dari UNESCO yaitu learning to know, learning to do, learning to learn, learning to be, dan learning to live together, (3) melengkapi declarative knowledge dan procedural knowledge mahasiswa PV dengan functioning knowledge, dan (4) mendukung mazhab pembelajaran konstruktivis.

Dengan diadopsinya work based learning secara resmi sebagai program akademik pendidikan vokasi maka kurikulum program studi dimaksud harus di format kembali menjadi kurikulum sandwich. Operasionalisasi kurikulum sandwich tersebut akan diilustrasikan seperti berikut. Untuk program diploma III, satu dari 6 semester masa studi-nya bisa diperuntukkan untuk magang di DUDI yang durasi-nya bisa 6 bulan penuh pada semester V (disebut thick sandwich program) atau dipecah menjadi tiga bulanan di semester V dan tiga bulan di semester VI (disebut thin sandwich program). Sedangkan bagi program diploma IV program magangnya dapat diselenggarakan selama setahun penuh pada semester VI dan VII (thick sandwich program) atau dipecah menjadi dua kali dan diselenggarakan pada semester V dan VII (thin sandwich program). Opsi mana yang dipilih tergantung kesepakatan antara kedua belah fihak. Berdasarkan pengalaman, fihak DUDI lebih suka program thick sandwich, yang menjadi alasannya adalah pertimbangan ekonomis return-on-investment (ROI) atau tingkat balik modal, karena begitu internees bergabung di tempat kerja, mereka mengadakan pengeluaran investasi awal untuk program orientasi, induksi dan pelatihan-pelatihan pendahuluan yang diberikan kepada para peserta magang pada bulan-bulan pertama mereka berada ditempat kerja, dengan harapan, pada bulan-bulan berikutnya mereka dapat meraup serentetan returns berupa kinerja dan produktivitas dari para peserta magang sebagai imbalannya. Sebagai

21

konsekuensinya, fihak PPV harus mempersiapkan para mahasiswa yang akan magang agar memiliki persyaratan-persyaratan yang ditetapkan.

Setiap program studi PPV yang mengadopsi kurikulum sandwich, dalam rangka mensukseskan program magangnya, harus merencanakan kebutuhan tempat magang mahasiswa baik dari segi jumlahnya maupun kualitasnya dalam jangka panjang untuk 5 tahun kedepan (lihat Tabel 2). Sebagai ilustrasi, sebuah program studi D IV Perhotelan dibuka dan beroperasi tahun 2008 dengan perkiraan daya tampung tiap tahun dua kelas@24 mahasiswa per kelasnya. Jika semester V (tahun 2010) dan semester VII (2011) dikhususkan untuk program magang, maka pada semester ganjil tahun 2010 (tahun ketiga) jumlah mahasiswa yang perlu tempat magang sebanyak 48 orang; dan pada semester ganjil tahun 2011 (tahun keempat) yang perlu tempat magang menjadi 96 orang. Tahun berikutnya setiap semester ganjil mahasiswa yang butuh tempat magang stabil 96 orang. Seandainya per hotel hanya bersedia menerima 4 orang peserta magang dari setiap PPV maka pada tahun 2010 harus tersedia 12 hotel mitra; dan pada tahun 2011 harus tersedia 24 hotel sebagai tempat magang. Yang harus dicari bukan hanya sekedar hotel, tetapi hotel berbintang tiga keatas yang memiliki divisi foods and beverages, divisi rooms, dan divisi sales MICE (meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) karena didivisi-divisi itulah mereka akan bekerja. Hotel-hotel yang dipilih adalah hotel yang memiliki (a) kemampuan memberikan pembelajaran yang diperlukan bagi para mahasiswa; (b) hotel-nya berbintang tiga keatas; (c) tersedianya mentor-mentor terlatih; dan (d) departemen-departeman yang relevan dimana peserta magang akan diajari tersedia. Semua kriteria yang telah disebutkan itu perlu terpenuhi sebelum para mahasiswa ditempatkan.

22

Tabel 2. Proyeksi Jumlah Hotel yang Harus Tersedia untuk Magang Mahasiswa D IV Program Studi Perhotelan Smt 1 2008 Angkatan 2008 / 2009 Angkatan 2009 / 2010 Angkatan 2010 / 2011 Angkatan 2011 / 2012 Jumlah mahasiswa yang harus magang Jumlah hotel bintang yang harus tersedia (jika per hotel hanya 4 mahasiswa) 12 hotel 24 hotel 48 mhs 96 mhs 48 mhs Smt 2 2009 48 mhs Smt 3 2009 48 mhs 48 mhs Smt 4 2010 48 mhs 48 mhs Smt 5 2010 48 mhs Smt 6 2011 48 mhs Smt 7 2011 48 mhs 48 mhs Smt 8 2012 48 mhs 48 mhs

48 mhs 48 mhs 48 mhs 48 mhs -

48 mhs 48 mhs 48 mhs 48 mhs

Dalam konteks program magang yang berbasis kemitraan, semua fihak sebaiknya terlibat aktif demi suksesnya program magang termasuk mahasiswa peserta magang itu sendiri. Untuk menjamin efektivitas program magang maka sebaiknya hanya mahasiswa senior yang boleh bermagang (mahasiswa semester V/VI untuk program diploma III dan mahasiswa semester V/VII untuk program diploma IV). Kemitraan tersebut ditandai oleh adanya hubungan-hubungan yang saling berbagi manfaat, komunikasi yang efektip

sehingga nilai dari magang bisa terjamin. Buku pedoman dipersiapkan bagi mahasiswa yang di dalamnya memuat tentang apa-apa yang harus dipelajari selama magang, dan

23

bagaimana menguasai keterampilan-keterampilan pembelajaran reflektip agar bisa mengoptimalkan kompetensi-kompetensi yang mereka peroleh ditempat kerja. Membiarkan mahasiswa mencari tempat magangnya sendiri dan menganggap bahwa mencari tempat magang adalah tanggungjawab mahasiswa itu sendiri adalah keliru. Hal itu merupakan tanggungjawab institusi yang ingin membangun kerjasama jangka panjang dan berkelanjutan yang sebaiknya diselenggarakan dalam tataran organization-to-organisation (O2O). Pembelajaran di tempat kerja (work based learning) ditandai oleh keterlibatan semua fihak terkait. Kemitraan yang berhasil ditentukan oleh pemahaman yang memadai diantara mereka. Secara internal PPV, mahasiswa sebaiknya bermitra dengan dosen pembimbingnya dan koordinator urusan magang. PPV harus menjamin agar manfaat-manfaat yang diharapkan oleh peserta magang dari program magang bisa dicapai. Kemitraan diantara mereka sebaiknya dituangkan dalam surat kontrak pembelajaran. Dosen pembimbing dituntut keterlibatannya secara aktif dalam pengembangan, monitoring, dan evaluasi kegiatan magang. Dosen pembimbing sebaiknya memfasilitasi persiapan-persiapan yang harus dilakukan peserta magang yang meliputi-pemenenuhan kelengkapan persyaratan administratif, melatih keterampilan berwawancara, menyiapkan CV, melatih keterampilan menulis, pelatihan etika bisnis, manajemen konflik, dan lain sebagainya. Tidak mudah bagi PPV mendapatkan mitra yang kualified, jumlah mereka relatif sedikit dibandingkan dengan jumlah PPV yang memerlukannya (posisi oligopsoni yaitu banyak penjual sedikit pembeli) sehingga persaingan antar PPV sangat ketat, apalagi dengan komitmen yang tinggi dari pemerintah yang dalam hal ini Direktorat Jenderal Pendidikan tinggi (Dirjen DIKTI) Departemen Pendidikan Nasional terhadap pendidikan vokasi yang dalam rencana jangka panjang-nya dalam rangka perluasan kesempatan masuk PT, memprogramkan pendirian politeknik-politeknik baru (establishing the new polytechnics), target 60 politeknik baru berdiri dalam jangka 5 tahun kedepan mulai tahun 2007 walaupun pada tahun 2008 baru 7 politeknik baru yang sedang dalam proses pendirian karena dianggap memiliki cukup kelayakan untuk ditindak lanjuti. Disamping itu, animo yang tinggi dari PPV untuk membuka program studi baru, menambah tinggi tingkat persaingan antar PPV dalam mendapatkan mitra DUDI yang tepat. Ada suatu kekhawatiran, laju pertambahan jumlah politeknik dan penambahan program studi baru

24

melebihi tingkat ketersediaan tempat magang yang memadai maka akan semakin banyak lulusan PPV yang tidak memiliki job ready skills yang pada akhirnya akan menurunkan reputasi PPV itu sendiri karena tingginya graduate unemployment rate. Konsekuensi dari sengitnya persaingan antar PPV adalah bukan hanya berakibat pada semakim sukarnya mendapatkan mitra magang tetapi juga bagaimana memelihara mitra magang agar tetap setia dan tidak membelot ke PPV lain. Misalkan sebuah PPV memiliki tiga program studi D IV perhotelan, kebidanan, dan periklanan. Mereka sama-sama menerima mahasiswa tahun 2008. Dengan mengambil contoh kasus seperti yang sudah dijelaskan dimuka yaitu progam studi D IV perhotelan, dengan tambahan data: antisipasi terjadi-nya pemutusan hubungan kemitraan/pembelotan yang diperkirakan 25% per tahun (t = turnover). Maka dengan rumus DUDI

N= S/P(1+t)

dimana N adalah jumlah hotel yang harus tersedia pada semester tertentu; S adalah jumlah mahasiswa yang perlu magang pada semester tertentu; P adalah kesediaan menerima sejumlah mahasiswa tertentu pada semester tertentu per hotel; t adalah prosentase hotel yang memutuskan hubungan kemitraan magang.

Apabila data tersebut diinterpolasi ke dalam rumus maka N=48/4(1.25) sehingga jumlah hotel yang harus tersedia pada semester V tahun 2010 minimal 15 hotel. Setahun kemudian semester VII tahun 2011 harus dicari tambahan 15 hotel lagi dengan catatan tidak ada hotel yang mengundurkan diri), total 30 hotel. Dan tahun berikutnya tahun 2012 semester V dan seterusnya stabil butuh 30 hotel. Program studi kebidanan dalam periode 4 tahun kedepan butuh 30 rumah sakit bersalin, demikian juga program studi periklanan butuh 30 biro jasa iklan sebagai mitra magang-nya. Dalam melaksanakan kurikulum sandwich, program studi-program studi yang kajian keilmuannya spesifik dan fokus relatif tidak menghadapi banyak kesulitan dalam mem-profil-kan DUDI mana yang tepat untuk dijadikan sasaran kemitraan magang.

25

Contoh lainnya adalah program studi refrigerasi dan tata udara dapat membidik mitra sasarannya sektor industri produsen alat-alat pendinginan (AC, freezer, dan kulkas) atau pabrik-pabrik frozen foods; program studi kebidanan mitra sasarannya rumahsakitrumahsakit bersalin; program studi tehnik tekstil mitra sasarannya pabrik-pabrik tekstil; program studi jurnalistik membidik mitranya kantor-kantor media massa. Di lain fihak program-program studi yang kajian keilmuannya jenerik dan jenuh relatif mengalami kesulitan dalam membidik mitra magangnya, karena dengan bisa bermagang dimanamana beresiko tidak mendapat tempat dimana-mana. Sekalipun demikian adanya, mereka dapat membina kemitraan melalui asosiasi profesi dimana program studi tersebut berafiliasi sebagai jembatan untuk bisa akses ke DUDI-DUDI yang diharapkan, contohnya program studi adminstrasi bisnis, kehumasan, kesekertarisan. Peserta magang dari program studi jenerik dan luas rawan ditempatkan pada tugas-tugas pekerjaan yang merendahkan seperti yang dialami oleh mahasiswa dari universitas-universitas di Yunani, namun dengan koordinasi dan komunikasi yang efektif antara fihak PPV dan DUDI halhal yang tidak dikehendaki bisa dikendalikan (Mihail, 2006). Rapat koordinasi antara fihak dosen pembimbing akademik dengan mentor di tempat kerja perlu dilakukan dalam rangka memusyawarahkan kompetensi-kompetensi apa saja yang harus demonstrasikan oleh mahasiswa di tempat kerja, dalam berapa lama durasinya dan ditetapkan sebagai learning outcomes (LOs). Hasil-hasil pembelajaran adalah tujuan-tujuan umum yang ingin dicapai dari pembelajaran di tempat kerja. Tujuantujuan tersebut diperinci lebih lanjut menjadi beberapa tujuan khusus yang mendukung tujuan-tujuan umum (EOs enabling objectives). Per tujuan khusus dikembangkan lebih lanjut dalam bentuk pengalaman pembelajarannya- berupa aktivitas-aktivitas tugas pekerjaan yang relevan (LEs learning experiences). Selanjutnya penilaian pembelajaran berbasis kinerja dirumuskan bersama oleh DUDI dan PPV dan disepakati oleh peserta magang(LAs learning assessments). Harapannya, pengalaman kerja di DUDI ini, disamping dihargai sebagai pemenuhan sejumlah kredit SKS tertentu dari total kurikulum, tetapi juga dapat dipertimbangkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sebagai bukti petunjuk yang syah yang bisa masuk ke dalam portfolio penilaian. Sebagai contoh jika seorang peserta magang dari program studi mekanik yang bekerja di bagian pengelasan di sebuah

26

perusahaan otomatif yang memiliki sertifikat mutu internasional, maka pengalaman kerja yang bersangkutan bisa diproses lebih lanjut untuk diuji kompetensi-nya menuju ke pemilikan sertifikasi level tertentu akhli las dari Indonesian Welding Association sehingga lulusannya tidak hanya memiliki certificate of attendant (Ijazah) tetapi juga certificate of achievement (sertifikat kompetensi yang diakui DUDI).

Membidik dan mendekati DUDI untuk dijadikan mitra magang Keberhasilan kurikulum sandwich ditentukan oleh tersedianya tidaknya DUDI yang layak untuk dijadikan mitra stratejik dalam jumlah dan kualitas yang ditetapkan. Menurut Haddara dan Skanes (2007) salah-satu dari empat dimensi utama dari cooperative education adalah pencarian basis pendukung dalam arti perburuan terhadap DUDI-DUDI pendukung setia (tiga dimensi lainnya adalah kurikulum yang integratif, pembelajaran yang diperoleh dari pengalaman kerja, dan organisasi dan koordinasi logistik pengalaman pembelajaran). Pendidikan sebagai suatu proses transformasi

dimana input diproses menjadi output kemudian ditawarkan ke pasar kerja, apakah dibeli atau tidak. Jika tidak dibeli maka stock menumpuk dengan kata lain lulusan PT vokasi yang menganggur. Pengangguran lulusan tersebut bisa diminimalkan dengan membenahi rantai nilai di tahap proses. Salah satu komponen proses adalah pembenahan kurikulum sandwich. Experiential learning mustahil berjalan tanpa keterlibatan aktif industri pasangan. Jika PPV tidak memiliki cukup industri pasangan tetapi animonya terus menambah jumlah program studi, menambah kelas per program studinya secara agresif bahkan menambah jumlah mahasiswa per kelasnya yang melebihi span of control (batas kemampuan wajar seorang dosen untuk menyediakan pembelajaran kepada sejumlah mahasiswa secara efektip) bisa dikategorikan mengkomersialisasikan pendidikan, maka dia bertanggungjawab penuh atas penciptaan pengangguran lulusan. Kesulitan yang

dihadapi PPV adalah dalam memilih DUDI yang akan dijadikan pasangannya dalam mensukseskan program magang. Diantaranya adalah masih banyaknya DUDI bahkan PPV yang berjiwa traders ketimbang industrialists. Mitra DUDI dan PPV yang berjiwa traders kesediaannya terlibat dalam program kemitraan magang lebih bermotif pertimbangan untung-rugi, filantropis, jangka pendek, cenderung tidak peduli dengan

27

mutu magang, dan mungkin beresiko tidak berkelanjutan. Di lain fihak, DUDI dan PPV yang berjiwa industrialists lebih berfikir makro, mereka sama-sama bersedia mengorbankan waktu, tenaga, upaya, bertukar ide dan juga dana demi terbangunnya hubungan kemitraan (Harvey, 1999). Sebagai perumpamaan, industrialists lebih bersikap seperti negarawan; sedangkan traders perilakunya mirip politikus. Apapun situasinya, PPV sebaiknya aktif melakukan prospecting, yaitu mencari temu DUDI-DUDI yang bisa menjadi calon mitra dan mengkualifikasi-nya dengan menggunakan kriteria yang seperti dijelaskan dimuka kasus program studi D IV perhotelan yang kemudian ditindak-lanjuti dengan kunjungan-kunjungan dan rapat-rapat dalam rangka pencapaian memorandum of understanding yang kemudian direalisasi dalam kontrak-kontrak pembelajaran. Ketatnya persaingan diantara PPV menuntut perlu-nya strategi bersaing yang efektip agar bisa mengungguli PPV lainnya dalam rangka mendapatkan mitra yang paling diinginkan. Untuk itu, PPV perlu mendirikan suatu unit khusus yang tugas utamanya adalah membangun, membina, dan memelihara hubungan kerjasama magang. Komitmen dan dukungan yang kuat dari pimpinan puncak, jurusan/program studi sangat diperlukan. Menurut Milman dan Wilson (1996) mitra strategis/kunci adalah organisasi-organisasi yang sangat menentukan kelangsungan hidup organisasi kita; mereka adalah organisasiorganisasi yang kita inginkan berhubungan dalam jangka panjang; mereka tidak mesti DUDI skala besar. Perubahan-perubahan dalam lingkungan internal DUDI yang diantaranya ditandai oleh terjadinya downsizing, subcontracting, dan spesialisai organisasi yang mengkonsentrasikan diri untuk menghasilkan satu jenis barang atau jasa tertentu menjadikan peran UKM sekalipun kecil tetapi strategik bagi usaha-usaha skala besar. UKM-UKM tersebut umumnya memiliki staf yang terbatas sehingga untuk memenuhi kebutuhannya terhadap karyawan berketerampilan yang lebih tinggi mereka hanya berharap dari keterlibatan peserta magang. Sekalipun demikian, UKM tersebut bersikap selektif dalam menerima usulan dari PPV. Hanya PPV yang menawarkan peserta magang yang memenuhi persyaratan yang akan mereka terima. Di lain fihak PPV skala kecil pun bisa banyak diminati oleh DUDI dari berbagai skala usaha. Contohnya POLMAN (Politeknik Manufaktur) yang student body-nya hanya sekitar 600 orang dengan luas lahan sekitar 2 hektar dan memiliki 7 program studi, namun banyak diundang dan ditawari oleh DUDI untuk bermagang di tempatnya. Mungkin faktor

28

kecocokan yang menjadi daya tarik, karena politeknik tersebut berbasis manufaktur dan suasana kampusnya semi budaya industri. Kecocokan merupakan salah-satu faktor kunci keharmonisan hubungan kemitraan yang lebih didasarkan pada azas saling

membutuhkan, saling memberi manfaat satu sama lain dan bersifat berkelanjutan menjadi cita-cita bersama antara kedua belah fihak (Langworthy dan Turner, 2003).

Manfaat-manfaat yang mungkin didapatkan stakeholder DUDI dari program magang Berdasarkan teori peringkat kebutuhan rumusan A. H. Maslow berdalil bahwa kebutuhan itu berperingkat yaitu peringkat yang lebih rendah (lower order needs) dan peringkat yang lebih tinggi (higher order needs). DUDI skala UKM kebutuhan-kebutuhannya terhadap program magang lebih didorong oleh kebutuhan-kebutuhan peringkat yang lebih rendah (kebutuhan ekonomis) seperti kebutuhan tenaga trampil tinggi yang murah atau gratis (basic needs) dan kebutuhan rasa aman bebas dari keterikatan kontrak kerja (security needs). Sedangkan DUDI skala besar lebih didorong oleh kebutuhan-kebutuhan yang peringkatnya lebih tinggi (kebutuhan non-ekonomis) seperti perasaan ikut bertanggungjawab atas ketersediaan tenaga siap kerja (belongingness needs); kebutuhan meningkatnya citra perusahaan (self esteem needs); dan keinginan berpartisipasi meningkatkan sumberdaya manusia yang produktif dan berdaya saing demi kepentingan nasional (self-actualisation needs) (lihat Gambar 3). Dari sudut pandang kebutuhan DUDI, maka program magang yang baik adalah yang memberi manfaat-manfaat berikut: mendapatkan tenaga kerja yang cerdas, motivasi tinggi dan murah, dengan keterampilan-keterampilan dan pengetahuan dan ide-ide segar yang dimilikinya; sekalipun keberadaan peserta magang ada pengorbanan biayanya seperti biaya akomodasi, konsumsi, dan upah, namun dikompensasi oleh ROI (pengembalian investasi berupa hasil-hasil) yang menggembirakan; fleksibilitas dalam pengembangan staf; fleksibilitas pasokan (para peserta magang mungkin tersedia pada waktu-waktu tertentu yang bersamaan dengan itu kebutuhan sedang tinggi-tingginya); proyek-proyek bisa berjalan tanpa harus menguras waktu yang berharga dari karyawan penuh waktu; staf yang ada sekarang bisa memanfaatkan kesempatan untuk mempelajari apa-apa yang sedang diajarkan sekarang di PPV; staf permanen memperoleh kesempatan

29

untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan penyeliaan (supervisory); DUDI bisa mendapatkan manfaat-manfaat dari penelitian-penelitian terapan melalui hubungan dekat dengan PPV; biaya-biaya penarikan, seleksi, dan pelatihan dapat dikurangi dengan mempekerjakan mahasiswa magang begitu mereka lulus; kekurangan-kekurangan staf yang bersifat temporer dapat diatasi dengan biaya rendah; perusahaan-perusahaan mendapatkan publisitas-publisitas yang menguntungkan atas keterlibatannya dalam program magang dari kalangan pendidikan tinggi (Karen Powell-Willian et.al., 2000). Dengan pendekatan analisa cost-benefit, Lumsden (2005) menyatakan bahwa program magang memberi manfaat bagi DUDI yang dalam jangka pendek berupa kemudahan mengangkat mahasiswa peserta magang untuk menyelesaikan tugas proyek; fleksibilitas dalam penugasan (berupa tambahan bala bantuan tanpa perlu komitmen penuh waktu); peserta magang yang entusias, motivasi tinggi dengan keterampilan-keterampilan dan gagasan-gagasan baru; dan efektivitas biaya. Sedangkan manfaat-manfaat jangka panjang yang potensial bisa dinikmati DUDI dari program magang yaitu: kemudahan untuk mencari calon pegawai masa depan; hubungan dengan PPV-PPV memungkinkan DUDI untuk mendapatkan cara mudah memenuhi kebutuhan staffing-nya dan sebagai sumber pasokan rekruitmen tenaga penuh waktu yang efektip; sebagai pemenuhan terhadap tanggungjawab sosial korporasi memberi kontribusi terhadap program pengembangan sumberdaya manusia professional muda dan pada perekonomian nasional dan bangsa. Namun demikian Lumsden (2005) juga melihatnya dari sisi lain berupa beban yang harus ditanggung DUDI dengan program magang ini, yaitu: rendahnya produktivitas kerja para peserta magang pada tahap-tahap awal karena pelatihan yang perlu diberikan; waktu yang harus dialokasikan oleh supervisor-nya; gaji dan tunjangan-tunjangan; juga hilangnya karyawan terlatih melalui turnover karena harus kembali ke kampus. Perlakuan khusus perlu diberikan pada mitra DUDI skala UKM, sekalipun preferensi para mahasiswa untuk bermagang di UKM rendah, mereka mungkin masuk kategori akun/mitra kunci karena memiliki nilai strategis terutama mereka yang bergerak dalam sektor ekonomi kreatif untuk menjamin terjadinya proses alih tehnologi dan alih keakhlian yang berbasis budaya lokal, yang pelestariannya perlu dijaga dan kepunahannya perlu dihindari, yang bisa menjadi unggulan bangsa sekarang dan dimasa depan sehingga kemungkinan kekayaan intelektual bangsa Indonesia tetapi hak ciptanya

30

dimiliki oleh bangsa lain bisa diminimalkan. Indonesia perlu mencontoh negara Jerman agar industri pabrikan piano tetap menjadi unggulan negaranya sekarang dan dimasa yang akan datang maka pemerintahnya mewajibkan kepada industri piano agar paling tidak 10% dari total karyawannya adalah orang-orang muda peserta magang. Kita pun punya industri tradisional kapal Bulukumba yang kehandalannya di samudera terkenal di dunia. Insentif-insentif finansial sebagai stimuli perlu disediakan bagi DUDI skala UKM tertentu (termasuk bagi peserta magang-nya). Demikian juga pelatihan-pelatihan perlu disediakan bagi fihak-fihak terkait ditempat magang karena program magang ini

merupakan tuntutan kurikulum sandwich yang pelaksanaanya harus memenuhi standar penjaminan mutu (quality assurance standard). Idealnya, proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program pembelajaran ditempat kerja tersebut dirumuskan bersama secara bilateral oleh fihak PPV bersama-sama dengan DUDI, seperti yang dilakukan oleh pendidikan tinggi jurusan/program studi tehnik kimia dengan perusahaan industri kimia GlaxoSmithKline (GSK) di Inggris (Brenda, 2004).

Membangun kepercayaan dan keyakinan di kalangan DUDI melalui pendekatan penjualan berbasis hubungan kemitraan Penyelenggara pendidikan vokasi (PPV) diasosiasikan sebagai penjual yang menawarkan sesuatu untuk dibeli oleh DUDI sebagai pembeli berupa ide jalinan

kerjasama magang berbasis kemitraan. Menjual ide non-komersial memerlukan pergeseran cara bernalar dan berperilaku dari yang fokus perhatiannya pada transaksional ke pendekatan relasional kolaboratif yang berorientasi jangka panjang yang terbuka peluangnya untuk mempertahankan dan memperbaiki tingkat consumer retention rate. Relationship selling yang sekarang sudah tidak lagi berkutat di tataran konseptual tetapi sudah melangkah lebih maju ke operasionalisasi yang diwujudkan secara lebih konkrit lagi dengan yang mereposisikan penjual sebagai manajer konsumen strategis, yang tugas utamanya adalah membangun, memelihara dan memelihara hubungan agar mitra utama yang sudah didapatkan tersebut tetap mengadakan hubungan kemitraan dimasa yang akan dating dan tidak memutus hubungan atau membelot ke pesaing. Mempertahankan consumer retention rate tidak mudah karena sikap mahasiswa, fihak DUDI, dan fihak PPV sendiri yang selalu berubah, juga ekonomi yang selalu berubah.

31

Tim pengelola mitra kunci tersebut sebaiknya memiliki lima kompetensi berikut: (i) mampu merumuskan dan menjalankan strategi penjualan yang meliputi strategi membidik mitra-mitra kunci/stratejik sebagai sasarannya dan menetapkan strategi relationship yang tepat dengan masing-masing mitra; (ii) mendesign kembali proses dan sistem kerja, dalam artian transformasi daripada ekstensi sistim yang sekarang tetapi yang lebih memfasilitasi kelancaran hubungan relasional dengan mitra; (iii) komunikasi yang lebih terbuka dan dua arah , dengan poin-poin akses yang lebih luas, tidak hanya saluran formal tetapi juga informal sehingga terbentuk suatu ikatan yang kuat. Saluran

komunikasi yang lebih efektip diperlukan dalam rangka mengatasi perbedaan persepsi, perbedaan bahasa, dan perbedaan budaya antar kedua belah fihak; (iv) memelihara rasa percaya dan komitmen dari mitra (mendapatkan rasa percaya dan yakin dari DUDI penting karena berdampak pada kelanggengan hubungan yang dapat berubah ke tingkat yang lebih tinggi berupa keberminatan untuk merekruit lulusan eks peserta magang) ; dan (v) memahami konteks perilaku pembelian konsumen ((Milman dan Wilson, 1996). Dalam konteks hubungan antara PPV dengan DUDI dalam hal kerjasama magang, pola hubungan pembeli penjual yang relevan dari Weitz, et al (2007) yaitu: (1) hubungan fungsional/kontraktual; (2) hubungan relasional; dan (3) hubungan kemitraan stratejik (lihat Tabel 3 dan 4). Dalam hubungan relasional, penjual sebagai manajer relationship bertanggungjawab untuk mengelola sumberdaya organisasi untuk

membangun hubungan yang win win dengan para konsumen. Dia berusaha menciptakan tipe hubungan yang paling sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan konsumen, yang mungkin perlu atau tidak suatu kemitraan. Sedangkan dalam hubungan kemitraan stratejik, hubungan bisnis jangka panjang dibangun oleh penjual dan pembeli dengan mengadakan investasi yang signifikan untuk memperbaiki profitabilitas kedua belah fihak yang terlibat dalam hubungan yang win win. Terdapat 5 unsur keberhasilan kemitraan stratejik yaitu (a) saling percaya mempercayai (kompetensi, orientasi konsumen, jujur, disukai, dan dapat diandalkan), (b) komunikasi yang terbuka, (c) keselarasan tujuan, (d) komitmen untuk saling berbagi keuntungan saling berbagi investasi, dan (e) dukungan organisasional (struktur dan budaya; pelatihan, dan sistim pengimbalan). Kemitraan adalah hubungan yang erat, penuh rasa percaya antara pembeli dengan penjual yang berkelanjutan dan saling berbagi manfaat. Melalui kolaborasi

32

pendidikan berupa hubungan kemitraan magang yang terintegrasi secara structural dalam kurikulum sandwich yang berhasil menyatukan teori dengan aplikasi ditempat kerja potensial menghasilkan lulusan yang highly employable. Untuk menjamin keberhasilan program magang pendidikan vokasi, fihak penjual sebagai manajer relationship perlu membangun kemitraan dengan badan-badan / asosiasi asosiasi professional, masyarakat, dan pemerintah. Peran pemerintah dalam program magang diantaranya adalah mendorong PT dan DUDI untuk bermitra (encouragement); memberi contoh riil dengan memberi kesempatan magang di lingkungan institusi institusi pemerintah dan badan badan negara (leading by example); kemitraan swasta negeri; menyediakan subsidi; dan perencanaan kedepan.

Tabel 3. Perbandingan Pendekatan - pendekatan Menjual PPV kepada DUDI Faktor-faktor penentu hubungan Penjualan kontraktual Penjualan relasional Penjualan kemitraan stratejik Horizon waktu Jangka panjang Jangka panjang Jangka panjang sedang tinggi

Kepedulian terhadap rendah fihak lain Tingkat percaya dan yakin Investasi dalam hubungan Atmosfir hubungan Resiko dalam berhubungan Manfaat-manfaat potensial yang bisa diperoleh sedang kooperatif sedang rendah rendah

tinggi

tinggi

rendah

tinggi

Akomodatif tinggi

Koordinatif tinggi

tinggi

tinggi

Tabel 4. Pendekatan Menjual Berbasis Hubungan Kemitraan

33

RELATIONSHIP PARTNERSHIP SELLING Tujuan: Membangun rasa percaya dan yakin Menginisiasi hubungan: Mengadakan identifikasi dan kualifikasi calon-calon konsumen mitra stratejik Mengumpulkan dan mempelajari informasi pra kunjungan Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian Merencanakan kunjungan penjualan perdana Mempertunjukkan suatu pemahaman terhadap kebutuhan-kebutuhan konsumen Mengidentifikasi peluang-peluang untuk membangun suatu hubungan Mengkomunikasikan nilai dari suatu hubungan kepada konsumen

Membangun hubungan: Memilih suatu penawaran yang tepat Mengkostumisasi hubungan Menghubungkan solusi pada kebutuhan-kebutuhan konsumen Mendiskusikan kekhawatiran-kekhawatiran konsumen Mengikhtisarkan solusi agar manfaat-manfaatnya dikonfirmasi Membina dan memelihara hubungan: Mengukur kepuasan konsumen Menjalin komunikasi yang terbuka dan dua arah Memperluas keterlibatan kolaborasi Berupaya untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan untuk saling memberi dan menerima peluang-peluang

Sedangkan Ellis (2000) membagi kualitas manajemen mitra strategic yang dilakukan oleh kantor / departemen penjualan kedalam 5 tahap perkembangannya yaitu: Tahap I adalah tahap pra kemitraan dimana pada tahap tersebut tim penjualan mengidentifikasi DUDI-DUDI yang punya potensi untuk berhubungan lebih dari sekedar hubungan transaksional. Bagi tim penjualan yang penting bahwa jumlah tempat magang yang diperlukan semester depan tersedia, dan pada waktu yang bersamaan berusaha mengumpulkan informasi tentang perusahaan-perusahaan yang punya potensi untuk

34

bermitra dimasa depan. Tahap II adalah tahap kemitraan dini dimana tim penjualan sibuk menggali peluang-peluang untuk terciptanya kolaborasi yang lebih erat dengan mengidentifikasi motif-motif mereka dan kepedulian-kepedulian mereka (contoh, barangkali perusahaan tersebut ingin citra perusahaannya di tingkat lokal meningkat (spot light seeker), atau ingin membuat agar lulusan tertarik bekerja ditempatnya (comfort seeker), atau ingin mengekspresikan tanggung jawab sosialnya (development seeker). Juga pada tahap tersebut mungkin ada DUDI yang mengekspresikan keinginannya untuk kebijaksanaan satu pintu (one stop service) dari fihak PT untuk menyederhanakan hubungan ketimbang desentralisasi per jurusan/program studi masing-masing. Tahap III adalah tahap menjelang kemitraan yang ditandai oleh berlangsungnya hubungan kerjasama yang baik, meningkatnya rasa percaya satu sama lain dan sejumlah masalah yang terjadi diantara keduanya ditangani bersama. DUDI menaruh perhatian besar

terhadap tim penjualan untuk memecahkan masalah antara lain menyangkut ketersediaan mahasiswa peserta magang atau kinerja perdana dari mahasiswa. Kontak-kontak diantara mereka meningkat, dan pimpinan puncak mulai tertarik dalam hubungan ini terutama menyangkut sumberdaya yang diinvestasikan yang menuntut kualitas pelayanan. Tim penjualan perlu mulai mendemonstrasikan keterampilan-keterampilan interpersonal -nya dalam rangka memperlancarkan kontak-kontak yang berdampak kepada hubungan baik. Tahap IV adalah tahap kemitraan yang sesungguhnya dimana pada tahap ini masingmasing fihak tidak melihatnya sebagai pembeli dan penjual tetapi sebagai mitra usaha. DUDI melihat PPV sebagai sumberdaya ekternal-nya dan berbagi informasi merupakan sesuatu yang biasa. Dalam konteks magang, fihak DUDI diundang untuk menjadi dosen tamu. Staf akademik dan mahasiswa bisa mengakses data rahasia untuk kepentingan penelitian. Tim penjualan pada tahap ini perlu melakukan multi peran sebagai staf akademik, entrepreneur, membujuk staf akademik lain untuk mendukung hubungan secara aktif dan konkrit, juga menjamin agar kualitas layanan magang-nya tidak sampai dibawah dari apa yang diharapkan DUDI. Tahap 5 adalah tahap sinergistik dimana diantara penjual dan pembeli tidak lagi sebagai dua organisasi yang terpisah melainkan sudah menjadi suatu entity yang besar yang borderless yang bisa menciptakan nilai tambah bersama di pasar, yang dalam konteks ini produksi bersama antara DUDI dan lulusan PT yang siap kerja mantan peserta magang yang berketerampilan tinggi mampu

35

berkontribusi secara berarti bagi ekonomi bangsa. Tahap ini merupakan kekecualian dan minoritas, sehingga posisi tahap lima adalah tahap yang harus menjadi cita-cita bersama antar kedua belah fihak.

Paradigma pemasaran baru yang modern adalah lebih pada terciptanya hubungan baik dalam jangka panjang dengan konsumen ketimbang pada terciptanya transaksi jualbeli produk sesaat yang belum tentu akan berkelanjutan. Berdasarkan paradigma lama, DUDI sebagai konsumen pengguna produk (mahasiswa peserta magang adalah tenaga jasa industri sebagai salah satu factor input produksi), mau membeli jika yang dia korbankan sama dengan / lebih kecil dari pada nilai yang mereka dapatkan. Sedangkan dalam paradigma pemasaran baru pembelian adalah konsekuensi logis dari kepercayaan dan keyakinan pembeli terhadap penjual (to earn the trust and to earn the confidence of the employers to get involve in work based learning program ). Kerja unit pealayanan magang ini sebagai suatu kantor penjualan yang tugasnya adalah menjual ide kerjasama hubungan kemitraan magang yang berkelanjutan dan bersifat jangka panjang yang konteksnya lebih ke membangun hubungan secara organisation - to - organisation (O2O). Sales team yang bertugas pada kantor penjualan harus mengadakan koordinasi baik kedalam maupun keluar. Secara internal, tim penjualan perlu mengadakan koordinasi dan komunikasi dengan pengurus program studi-program studi/jurusanjurusan dalam rangka memahami kebutuhan-kebutuhan mereka dari sudut akademik, juga berinteraksi dengan para mahasiswa yang berkepentingan berupa pemberian bimbingan persiapan dan penyiapan personal development plan (PDP) untuk mengidentifikasi rencana karir, minat dan ketertarikannya sehingga memudahkan penempatan nantinya. Secara ekternal, tim penjualan perlu mengadakan kunjungan misionaris kepada para pengambil keputusan, dan para calon supervisor mahasiswa di tempat kerja dalam rangka mempelajari kebutuhan-kebutuhannya, persyaratan-persyaratan yang diminta-nya. Setelah jumlah mahasiswa yang butuh magang dari berbagai program studiprogram studi yang dimiliki PPV diproyeksi dan kesediaan menerima dari DUDI sudah diramalkan jumlahnya maka kantor cabang penjualan bisa merumuskan strategi penjualan yang terbagi kedalam 4 sub berikut: (i) account targeting strategy; (ii)

36

relationship strategy; (iii) selling strategy; dan (iv) sales channel strategy (Ingram, 2003).

Strategi penjualan 1 adalah strategi membidik calon mitra strategik yang meliputi semua ukuran dari mulai skala UKM sampai dengan korporasi multinasional. Dari analisa rencana pengembangan diri (Personal Development Plan) yang dibuat mahasiswa bisa diidentifikasi mahasiswa mana yang cita-citanya setelah menyelesaikan pendidikan ingin membuka usaha baru maka mereka ditawarkan magang di UKM, sedangkan yang bercita-cita go international dicarikan tempat magang di perusahaan multinasional. Strategi penjualan 2 adalah strategi berhubungan dengan DUDI. Hubungan transaksional/kontraktual bisa digunakan untuk DUDI UKM karena jumlah mereka relatif banyak. Sedangkan bagi DUDI skala besar hubungannya bersifat

kemitraan/aliansi. Strategi penjualan 3 adalah pendekatan penjualan. Karena hubungan yang diinginkan adalah hubungan jangka panjang berkelanjutan, angkatan demi angkatan, sehingga untuk semua skala usaha DUDI diterapkan pendekatan SPIN yaitu pendekatan yang berdasarkan analisa kebutuhan-kebutuhan DUDI dan menuangkannya dalam suatu proposal tertulis yang berisi profil akademik dan personal mahasiswa pelamar magang yang bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan DUDI secara memuaskan. Strategi penjualan 4 adalah strategi pemanfaatan saluran penjualan yang bersifat multi-saluran yang bisa ditempuh oleh PPV: langsung antar institusi; via asosiasi PPV; via asosiasi PPV ke asosiasi industri/KADIN; via jurusan/program studi langsung dengan DUDI; atau via fihak ketiga, biro jasa penempatan kerja. Saluran penjualan dalam arti lain adalah saluran komunikasi yang intensif dua arah. Lumsden dan Chaudhuri (2005) mengidentifikasi ciri-ciri program magang yang efektip adalah sebagai berikut: (i) program magang harus merupakan suatu komponen yang terintegrasi penuh dalam pembelajaran mahasiswa; (ii) institusi harus memiliki komitmen yang kuat terhadap konsep; (iii) para stakeholder (mahasiswa, fihak DUDI, jajaran akademik, unit kerjasama pendidikan, dan staf administrasi dari institusi pendidikan vokasi) harus berkontribusi sebagai mitra secara total; (iv) hubungan komunikasi diantara mitra harus kuat.

37

Sedangkan menurut Wangsa dan Uden (2007) program magang yang efektip dipengaruhi oleh delapan faktor berikut. Pertama adalah struktur magang. Terdapat dua model pemagangan yaitu model laissez-faire dan model formal. Dalam model laissezfaire mahasiswa hanya diberi pengarahan secara implisit tentang apa-apa yang diharapkan didapatkan dari pemagangan, mungkin meliputi: pemberian petunjuk pengisian log book atau diary; tugas-tugas pekerjaan yang diberikan di lingkungan kerja sepenuhnya menjadi wewenang tuan rumah DUDI. Sedangkan model formal, semua yang berkaitan dengan pembelajaran di tempat kerja dari mulai sesi-sesi pemberian informasi awal, penyiapan CV, pelatihan keterampilan wawancara, sampai ke wawancara dan seleksi oleh perusahaan tuan rumah (koordinator penempatan kerja), dan pengalaman kerja itu sendiri, secara sistimatik terkendali agar mencapai tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Didalam model ini terdapat butir yang mengatur penilaian kinerja di tempat kerja yang dilakukan oleh tuan rumah dan oleh PPV; butir yang mengatur kontrak pembelajaran tri-partie yang resmi; butir yang mengatur tentang penilaian untuk kredit SKS; dan butir yang mengatur aktivitas-aktivitas paska magang seperti seminar dan sesi-sesi de-briefing. Disamping itu, dalam rangka memudahkan komunikasi dengan mitra DUDI, dan mitra mahasiswa, unit/kantor koordinasi pelayanan magang bisa dipusatkan (sentralisasi) atau otonomi jurusan/program studi (desentralisasi) atau kombinasi diantara keduanya (semi-otonomi). Model yang paling tepat untuk dipilih adalah model yang paling mengakomodasi kepentingan dari semua mitra yang terlibat dan dengan mempertimbangkan sumberdaya yang tersedia. Kedua adalah peran koordinator dalam program magang. Koordinator adalah pendidik yang spesialisasinya menyediakan pengalaman pembelajaran yang berarti berupa situasi-situasi kerja dan membantu para mahasiswa untuk menghubungkan pengalaman-pengalaman tersebut ke tujuan-tujuan pendidikan mereka. Peran koordinator memainkan peran yang vital dalam proses penempatan dan manfaat-manfaat penempatan. Mereka bertanggungjawab memonitor proses penempatan, membangun dan memelihara hubungan dengan DUDI, menjadi penghubung antara pendidik dan dosen,

mempromosikan status profesional dari program, meningkatkan proses pembelajaran mahasiswa dan mengawasi proses penilaian sehingga efektivitas magang menjadi efektip. Agar supaya para koordinator ini profesional dalam arti memiliki keterampilan-

38

keterampilan dalam menangani situasi-situasi kritis yang dihadapinya dengan sukses maka pelatihan yang tepat sebelum dia memulai mengkoordinir program perlu diberikan. Ketiga, peran supervisor dalam program. Para supervisor berperan penting dalam mengintegrasikan pengalaman di dunia akademik dengan pengalaman kerja, membangun suatu lingkungan pembelajaran yang efektip, membimbing mahasiswa melewati situasisituasi yang menantang, memfasilitasi pembelajaran mahasiswa ketika di tempat kerja. Supervisor akademik bertanggungjawab membantu dalam menetapkan tujuan-tujuan pembelajaran dan membangun saluran komunikasi yang efektip antara mahasiswa dengan fihak DUDI; membantu mahasiswa menguasai strategi-strategi dan keterampilanketerampilan pembelajaran mandiri; mengidentifikasi dan membantu mengatasi konflikkonflik; menilai kinerja mahasiwa di tempat kerja; memonitor kinerja dari fihak DUDI; dan membantu mahasiswa membuat tujuan-tujuan personal-nya. Supervisor industri bertanggungjawab memberikan orientasi kepada mahasiswa; menetapkan tujuan-tujuan kerja yang jelas pada mahasiswa; membantu dalam menentukan tujuan-tujuan pembelajaran; memonitor kinerja mahasiswa ditempat kerja; dan mengidentifikasi kekurangan-kekurangan keterampilan dan mengatur peluang-peluang

pelatihan/pembelajaran yang tepat. Baik supervisor akademik maupun supervisor industri sebelum mereka memangku jabatannya perlu diberikan pelatihan terlebih dahulu agar potensi pembelajaran mahasiswa bisa dimaksimalkan. Keempat adalah integrasi teori dengan praktek. PPV sebaiknya membuat suatu rencana pembelajaran yang didalamnya menyatakan secara eksplisit bagaimana mahasiswa diharapkan untuk mengintegrasikan teori dengan praktek pada suatu organisasi tertentu. Kelima adalah akses ke lingkungan-lingkungan pembelajaran yang berkualitas. Bisanya akses ke suatu lingkungan pembelajaran yang berkualitas di tempat kerja berdampak pada optimisasi manfaat-manfaat magang. Keenam adalah membuat proses manajemen resiko dan minimisasi-nya yang tepat. Ketujuh adalah evaluasi yang sistimatik terhadap aktivitas monitoring mutu hasilhasil pembelajaran. Penilaian terhadap hasil-hasil pembelajaran mahasiswa merupakan suatu aspek magang yang penting karena bisa menyediakan suatu mekanisme bagi para

39

mahasiswa untuk menilai dirinya sendiri atas kelebihan-kelebihan dan kekurangankekurangannya, progress-nya, dan prestasi-prestasi-nya. Mutu pembelajaran tidak tergantung pada mutu pengalamannya tetapi pada mutu refleksi-nya dalam kaitannya dengan tujuan-tujuan pembelajaran yang disepakati. Lebih dari itu, agar pembelajaran via magang secara akademik dapat disejajarkan dengan mata-kuliah atau proyek lain-nya yang terdapat dalam kurikulum maka penting untuk diperhatikan bahwa pembelajaran dari magang yang dinilai bukan pengalamannya itu sendiri. Jurusan/program studi sebaiknya memberikan nilai SKS atas pembelajaran yang relevan dengan kajian studi, dengan tingkat yang tepat dan yang menyeimbangkan teori dengan aplikasi praktek. Kedelapan adalah keterlibatan kemitraan diantara berbagai fihak dengan kesepakatan yang jelas. Untuk memelihara sukses yang berkelanjutan dari program magang diperlukan adanya se-set kesepakatan yang jelas diantara fihak-fihak yang terlibat dari berbagai kelompok (DUDI, mahasiswa, dosen, PPV, badan-badan professional dan agen-agen penempatan kerja eksternal). Disamping itu, manajemen program magang yang paling efektip terjadi bilamana DUDI sebagai organisasi tuan rumah terlibat dalam perencanaan sejak dari awal dan bilamana organisasi tersebut juga komitmennya tinggi terhadap pembelajaran mahasiswa.

SIMPULAN DAN SARAN Magang merupakan salah satu bentuk work based learning (WBL) yang berdampak positif terhadap nilai tambah para mahasiswa berupa kepemilikan work ready skills dan peningkatan employability begitu mereka lulus, yang sekaligus memenuhi tuntutan DUDI terhadap PPV untuk semakin meningkatkan relevansi pendidikannya. Disamping itu, program WBL magang merupakan salah satu jawaban PPV terhadap tantangan era ekonomi dan masyarakat pengetahuan (knowledge economy and knowledge society era) yang paling tepat karena

sebagai pendidikan vokasi orientasi pendidikannya harus lebih diarahkan pada kebutuhan dunia kerja di dunia usaha dan dunia industri. Dengan

diperkenalkannya bentuk pembelajaran baru yang dikelola secara lebih efektip dan berkualitas maka ideal-nya tingkat pengangguran lulusan pendidikan vokasi adalah minimal.

40

Kurikulum sandwich yang diadopsi pendidikan vokasi ini adalah paduan dari pembelajaran di tempat kerja dengan pembelajaran di kampus, sangat selaras/sejalan dengan dan memenuhi prinsip-prinsip / konsep pembelajaran UNESCO yaitu learning to know, learning to learn, learning to do, learning to be, dan learning to live together. Kurikulum sandwich tidak hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan deklaratif (knowing about things), pengetahuan procedural (a skill component), tetapi juga pengetahuan fungsi (functioning knowledge) sebagai suatu pemahaman professional yang relevan yang diperlukan di tempat kerja.

Kurikulum program studi - program studi di lingkungan PPV sebaiknya direvisi agar supaya diinterkoneksikan dengan program magang mahasiswa. Koneksitas tersebut dapat meminimalisir gap antara teori dengan praktek yang terjadi di tempat kerja. Lebih dari itu, PPV-PPV perlu memeriksa kembali persyaratan penerimaan calon mahasiswa peserta magang-nya sebagaimana masukan dari praktisi di DUDI bahwa mendapatkan peserta magang yang kualified adalah salah-satu dari banyak masalah utama yang mereka alami dalam menangani program magang. Program orientasi pra pendaftaran mungkin membantu memberikan pemahaman yang benar sekitar kaitan antara kompetensi akademik dan kompetensi praktek yang didapatkan dari magang, yang perlu dimiliki oleh seorang lulusan dari program studi tertentu sehingga ekspektasinya realistik.

Program magang berbasis kemitraan yang bersifat tri-partet (mahasiswa, PPV, dan DUDI) hubungannya sebaiknya dikendalikan oleh motivasi-motivasi intrinsik dan kepedulian bersama terhadap kualitas sumberdaya manusia generasi penerus. Tugas PPV adalah bagaimana mengidentifikasi calon-calon industri pasangan yang mindset nya industrialist, bagaimana mengkonversi dan meyakinkan DUDI yang mindset nya trader digiring agar beralih menjadi industrialist. Dilain fihak, PPV juga perlu mengendalikan dirinya agar tidak ber mindset generating revenue oriented dalam hal membangun kemitraan magang ini.

Program pembelajaran di tempat kerja bukan hanya memberi manfaat kepada para mahasiswa melainkan juga memperkuat hubungan antara pendidikan tinggi

41

dengan industri. Transfer pengetahuan dan pengalaman secara dua arah penting bagi perekonomian nasional. Sekarang ini banyak dibahas tentang bangsa-bangsa yang sudah mendapatkan manfaat secara ekonomi dari ekonomi pengetahuan. Memadukan peran-peran dan keterampilan-keterampilan dan pengetahuan dari pendidikan tinggi dengan industri merupakan suatu cara membangun kekayaan pengetahuan dan menjadi akhli dalam mengeksploitasi pengetahuan tersebut. Membangun hubungan program magang berbasis kemitraan dan membangun jembatan yang memisahkan antara pendidikan tinggi dengan industri adalah hanya satu langkah menuju penggabungan kedalam ekonomi pengetahuan global. Demi efektivitas program magang berbasis kemitraan, PPV sebaiknya mengunakan pendekatan menjual dalam arti PPV memposisikan sebagai penjual dan konsumen DUDI sebagai pembeli untuk mensiasati perbedaan diantara keduanya - beda budaya, beda bahasa, beda sikap dan persepsi. Sebagai organisasi bisnis, budaya DUDI adalah budaya praktisi yang tujuannya bisnis, sedangkan PPV adalah organisasi penyedia jasa pendidikan yang tujuannya nirlaba, yang umumnya berbudaya akademis dan mungkin birokratis kekuasaan karena di Indonesia terdapat 27 politeknik negeri dan banyak pendiidikan program diploma yang diselenggarakan oleh universitas-universitas, sekolahsekolah tinggi, dan institut-institut plat merah. Perbedaan bahasa diantaranya menyangkut apa arti pengetahuan dan pembelajaran; perbedaan sikap dan persepsi antara lain terhadap kepentingan bangsa, waktu, kualifikasi pendidikan, dan penilaian. Sesuai dengan pengertian relevansi implisit artinya perubahan, adaptasi, dan fleksibilitas, dalam arti demi keberhasilan menjalin hubungan, pendekatan yang dipraktekkan oleh PPV sebaiknya pendekatan yang berorientasi pada konsumen, menyesuaikan dengan budaya, bahasa, dan persepsi DUDI pembeli.

Untuk mensukseskan pelaksanaan program magang dari suatu kurikulum sandwich dibutuhkan ketersediaan DUDI pasangan dalam jumlah dan kualitas

42

yang memadai sesuai dengan jadwal yang ditetapkan dalam kurikulum. Sebagaimana dalam kurikulum program diploma IV, dua dari delapan semesternya, dan dalam program diploma III, satu dari 6 semester-nya dialokasikan untuk magang; sesuai ketentuan, per institusi politeknik minimal memiliki 3 program studi yang diumpamakan per angkatannya daya tampungnya 2 kelas, per kelasnya 24 mahasiswa. Dengan menggunakan kasus D4 Perhotelan yang dijadikan contoh dalam pembahasan laporan ini, maka untuk 3 program studi saja per semester V dan VII butuh 72 industri pasangan sebagai mitra stratejik yang setia dan berkelanjutan dalam jangka panjang (24 hotel berbintang, 24 rumah sakit bersalin, dan 24 biro jasa periklanan). Permasalahannya adalah, siapa orang, tim, atau unit dalam struktur organisasi PPV yang bertanggungjawab atas terjaminnya ketersediaan jumlah dan mutu DUDI pasangan sebagai tempat - tempat magang yang sesuai dengan jadwal kebutuhan program studi program studi yang dimilikinya? PPV perlu mendirikan suatu unit pelayanan magang dan hubungan industri, disingkat UPMHI ( Internships Service & Industry Relations Unit) yang tugas eksternal-nya adalah menginisiasi, membangun, dan membina hubungan dengan industri-industri pasangan; tugas internal-nya membimbing mahasiswa, koordinasi dengan para tutor pembimbing magang mahasiswa, para pengembang kurikulum di masing-masing program studi. Dalam rangka efektivitas upaya pencapaian target hasil berupa - didapatkannya industri pasangan baru dalam jumlah dan mutu tertentu dalam suatu periode tertentu; dan terpelihara-nya hubungan yang berkelanjutan dengan industri pasangan yang sekarang (dalam arti mereka tidak membelot, selingkuh atau memutuskan hubungan) maka UPMHI ini harus mem-posisikan dirinya sebagai suatu kantor penjualan yang anggotanya dikelompokkan kedalam tim tim penjualan yang bekerja atas dasar target / kuota penjualan yang secara proaktif dan asertif harus mengadakan kontak kontak kunjungan penjualan kepada calon-calon industri pasangan baru dan industri pasangan yang sekarang dengan menggunakan pendekatan / tehnik penjualan berbasis relasional atau kemitraan stratejik (relationship atau strategic partnership selling)

43

UPMHI sebagai tim penjual utusan, representatif PPV perlu menyetel persepsinya bahwa yang mereka akan jual bukan mahasiswa peserta magang melainkan menjual manfaat-manfaat (the benefits) yang bisa didapatkan DUDI sebagai industri pasangan dari para mahasiswa peserta program magang, yaitu manfaatmanfaat yang selaras dengan kebutuhan-kebutuhan, motif-motif pembelian, dan lingkungan eksternal dan internal dari organisasi industri pasangan. Dalam konteks bisnis dan pemasaran, mahasiswa peserta magang yang ditawarkan ke DUDI adalah jasa bisnis / jasa industri atau salah-satu faktor input produksi tenaga kerja temporer. Keinginan beli mereka atau keputusan beli mereka ditentukan oleh kombinasi dari tiga faktor berikut: (i) kompetensi, kapabilitas, dan kapasitas dari mahasiswa itu sendiri; (ii) pendekatan penjualan dari sales team; dan (iii) reputasi dari PPV itu sendiri. Sehingga tim penjualan dalam mempresentasikan daftar benefit yang bisa diperoleh konsumen tidak hanya dari produk SDM mahasiswa-nya saja, tetapi tim penjualan pun harus menjual dirinya, demikian juga citra organisasi PPV. Dalam paradigma penjualan modern, sukses menjual tidak lagi diukur dari transaksi yang tercipta tetapi dari terciptanya sejumlah konsumen setia. Konsumen setia adalah konsumen yang puas dengan manfaat-manfaat yang didapatkan dari apa yang kita tawarkan dan mereka melakukan pembelian berulang (repeat purchases) dan dalam jangka panjang mereka tidak lagi melihat kita sebagai penjual melainkan sebagai pasangan bisnis (business partner), mereka semakin terbuka (transparency) dan membuka pintu (accessible).

Efektivitas program magang akan lebih meningkat jika tim penjualan UPMHI ini melakukan penjualannya (me lobby) ke fihak pemerintah untuk terlibat aktif dalam kemitraan ini. Peran pemerintah sangat signifikan dan stratejik dalam mendorong percepatan kemitraan antara DUDI dengan PPV PPV; kemitraan PPV PPV dengan masyarakat; menyediakan diri sebagai tempat magang (leading by example); memberikan subsidi; mensponsori training of trainers (TOT) bagi para calon worksite supervisor, intership advisor, dan koordinator UPMHI; memfasilitasi kemitraan swasta negeri; dan perencanaan kedepan. Disamping itu, tim penjualan UPMHI perlu mengadakan penjualan kepada badan-

44

badan profesi independent seperti Badan Nasional Sertifikasi Nasional (BNSP) untuk menguji dan mengkualifikasi kompetensi-kompetensi mahasiswa yang dibangun oleh kurikulum sandwich untuk disertifikasi secara masional sehingga akan lebih mempertinggi tingkat employability lulusan. Konsumen potensial lainnya yang tak kalah pentingnya untuk didekati oleh tim penjual dari UPMHI ini adalah asosiasi - asosiasi industri yang bernaung dibawah KADIN dan asosiasi-asosiasi profesi yang relevan dengan program studi yang dimiliki dalam rangka menjaga agar learning outcomes yang diharapkan dicapai oleh PPV dan mahasiswa-nya selaras dengan business performance outcomes yang ingin dicapai DUDI Magang industri sebagai salah-satu bentuk work based learning (WBL) yang terstruktur secara integral dalam suatu kurikulum sandwich bisa berjalan dengan efektip apabila diselenggarakan dengan menerapkan konsep kemitraan

(partnership); hasil-hasil pembelajarannya di tempat kerja secara syah bisa diakreditasi (accreditation), penyelenggaraannya fleksibel mengarah ke

pembelajaran sepanjang hayat, membangun kapasitas diri dan meningkatkan kekayaan intelektual individu dan sosial (flexibility), dan memenuhi konsep relevansi dimana PPV harus merubah kurikulum, merubah aspek pedagogi-nya dan juga merubah hubungan yang selama ini terjalin dengan DUDI (relevancy). Staf UPMHI dalam rangka relevansi sebaiknya merubah moda hubungannya dengan memposisikan dirinya sebagai relationship manager atau key account manager yang melakukan penjualan dengan pendekatan strategic partnership selling Dampak positif dari penjualan berbasis kemitraan stratejik adalah terbangunnya rasa percaya dan yakin dikalangan DUDI atas mutu dan relevansi lulusan pendidikan program diploma karena mereka terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran di tempat kerja dan berpartisipasi secara aktif dalam proses pembuatan dan perancangan kurikulum sandwich program studi di lingkungan PPV sehingga menimbulkan minat beli terhadap lulusan eks magang industri.

45

DAFTAR PUSTAKA

Ingram, T.N., LaForge, R.W., Avila, R.A., Schwepker Jr., C.H., Williams, M.R.(2004), Sales Management: Analysis and Decision Making, 5th Ed., Thomson SouthWestern, USA Dalrymple, D.J., William, L.C., Decarlo, T.E., (2003), Sales Management, 7th ed., John Wiley & Son, Inc., New York

Ellis, N., (1999), Developing graduate sales professionals through co-operative education and work placements: a relationship marketing approach, Journal of European Industrial Training 24/1 (2000) 34-42

Millman, T., Wilson, K., (1996), Developing key account management competencies, Journal of Marketing Practice: Applied Marketing Science, Vol.2 No.2, 1996, pp. 7-22

Meredith, S., Burkle, M., (2008), Building bidges between university and industry: theory and practice, Journal Education and Training Vol. 50, No. 3, 2008 pp. 199-215

46

Benecke, R., Grobbelaar-Hall, T., (2006), Experiential learning partnership in public relations: mutual benefit to higher education and industry,

http://www.acen.edu.au/resurces/resources/WACE/01 Benecke R &GrobbelaarHall T.

Little, B. (2004), Employability and work-based learning, The Higher Education academy, UK

Langworthy, A., Turner, T., (2003), Learning for the workplace and beyond: the challenge of university community engagement, http://surveys.cantburry.ac.nz/herdsa03/pdfsref/Y1107.pdf

Lumsden, B.A., Chaudhuri, S.K., Internship Forum, 2005, Tokyo

Mihail, D.M., (2006), Internship at Greek universities: an exploratory study, Journal of Workplace Learning, Vol. 18 No. 1, 2006, pp. 24-41

Chan, H. M-Y., Mui. K.W., Wong, L.T., (2005), The impact of industrial placements on studentslearning experiences, World Transactions on Engineering and

Technology Education, UICEE, Vol.4 No.1, 2005

Harvey, L., (1999), New realities: The relationship between higher education and employment, Center for Research into Quality, www.uce.ac.uk/crq

Roodhouse, S., (2005), Work based learning, http://www.uvac.ac.uk/downloads/0401 publications/int wbl.pdf

Wangsa, I.T., Uden, L.,(2007), Towards the development of industrial placement in higher education, http://www.eui-net.org/Project documents/Rome 2007

05/paper/02%2

47

Haddara, M., Skanes, H., (2007), A reflection on cooperative education: from experience to experiential learning, http://www.apjce.org/volume 8/apjce 8 1 67 76.pdf. Hall, B., Gush, J., (2003), The academic benefits of the work placement: sandwich degree, http://www.bournemouth.ac.uk/cap/documents/The%20Sandwich%20P Weitz, B. A., Castleberry, S. B., Tanner, Jr., J. F., (2007), Selling Building Partnership, 6th Ed., McGraw Hill, Boston

48

49