ANALISIS PENDAPATAN PENGUSAHA AYAM POTONG (Studi Kasus Kota Jakarta Selatan

)

SKRIPSI

Oleh :

Nama Nomor Mahasiswa Program Studi

: Dedy Suprihatin : 00313053 : Ilmu Ekonomi

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FAKULTAS EKONOMI YOGYAKARTA 2008

Analisis Pendapatan Pengusaha Ayam Potong (Studi Kasus Kota Jakarta Selatan)

SKRIPSI Disusun dan diajukan untuk memenuhi syarat ujian akhir guna memperoleh gelar Sarjana jenjang strata 1 Program Studi Ilmu Ekonomi, pada Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia

Oleh :

Nama Nomor Mahasiswa Program Studi

: Dedy Suprihatin : 00313053 : Ilmu Ekonomi

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FAKULTAS EKONOMI YOGYAKARTA 2008

PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME

“Saya yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa skripsi ini telah ditulis dengan sungguh-sungguh dan tidak ada bagian yang merupakan penjiplakan karya orang lain seperti dimaksud dalam buku pedoman penyusunan skripsi Program Studi Ilmu Ekonomi FE UII. Apabila di kemudian hari terbukti bahwa pernyataan ini tidak benar maka Saya sanggup menerima hukuman/sanksi apapun sesuai peraturan yang berlaku.“

Yogyakarta, 28 Februari 2008 Penulis,

Dedy Suprihatin

28 Januari 2008 Telah disetujui dan disahkan oleh Dosen Pembimbing (Drs. M.HALAMAN PENGESAHAN ANALISIS PENDAPATAN PENGUSAHA AYAM POTONG (Studi Kasus Kota Jakarta Selatan) Nama Nomor Mahasiswa Program Studi : Dedy Suprihatin : 00313053 : Ilmu Ekonomi Yogyakarta. Nur Feriyanto.Si) .

BERITA ACARA UJIAN SKRIPSI SKRIPSI BERJUDUL ANALISIS PENDAPATAN PENGUSAHA AYAM POTONG (Studi Kasus di Kota Jakarta Selatan) Disusun Oleh : DEDY SUPRIHATIN Nomor Mahasiswa : 00313053 Telah dipertahankan di depan Tim Penguji dan dinyatakan LULUS Pada tanggal : 17 Maret 2008 Penguji/Pembimbing Skripsi Penguji I Penguji II : Drs. M. Bus..Si ……… ……. Nur Feriyanto M. …….. M. M.. Priyonggo Suseno. Mengetahui Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Drs. D .Si : Drs. Ph.Sc : Dra. Asmai Ishak.. Indah Susantun.

HALAMAN PERSEMBAHAN Karya kecil ini kupersembahkan kepada kedua orang tuaku yang tak pernah berhenti menyayangiku. saudara-saudaraku tercinta dan keluarga besar tersayang .

. Oleh karena itu. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Akan tetapi. (HR Muslim). (QS ar-Ruum [30]: 4-6). supaya Rasul itu menjadi saksi atas diri kalian dan supaya kalian sekalian menjadi saksi atas segenap manusia. Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaikbaik Penolong. dan berpeganglah kalian pada tali Allah. Dia (Allah) telah menamai kalian (sebagai) orang-orang Muslim dari dulu. Dia adalah Pelindung kalian. (TQS. matinya adalah mati jahiliah. tunaikanlah zakat. kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang (sebagai) janji yang sebenarbenarnya dari Allah. Siapa saja yang mati sementara di pundaknya tidak ada baiat (kepada khalifah).Motto Pada hari itu bergembiralah orang-orang beriman karena pertolongan Allah. dan (begitu pula) dalam (al-Quran) ini. dirikanlah oleh kalian shalat. al-Hajj [20]: 78). Allah tidak akan menyalahi janji-Nya.

ejekan. Nur Feriyanto M. Teman – teman seperjuangan di basecamp EP 2000 ( Eko. serta seluruh keluarga dan sahabatnya. my team “||Brigade||” . kendati belum setimpal penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada Bapak Drs. sholawat dan salam penulis panjatkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad S. arahan serta bimbingannya. motivasi. Bapak – Ibu atas segalanya yang telah diberikan. aku tahu kalian sangat menyayangi aku.W. dan kasih. Dod y Jemblung and Pandu ) friends for ever!!. kesabarannya. kasihnya. Oki Kancil.i KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Alhamdulillahirobbil’alamin dan kepada-Nya kami memohon bantuan atas segala urusan duniawi dan agama. selaku Dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan dan meluangkan begitu banyak waktu.A. Islam Indonesia. cintanya. Pada kesempatan ini. Oki Jeruk. tak bisa ku sebutkan satu persatu dan tak akan pernah bisa ku menggantinya dengan apapun dalam seluruh hidupku. Budi dan si kecil Irul yang tiada pernah bosan memberikanku semangat. Skripsi yang berjudul “Analisis Pendapatan Pengusaha Ayam Potong “ ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar S-1 pada Jurusan Ilmu Ekonomi di Fakultas Ekonomi Universitas. Si. Saudaraku tercinta Mbak Nti.

Kincex. Mengingat skripsi ini adalah tulisan pertama dan keterbatasan penulis dalam pikiran dan waktu. Dan pada akhirnya mudah – mudahan skripsi ini akan memberikan manfaat bagi pembacanya.ii dalam permainan Counter Strike (Deny. Tak lupa penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pengusaha ayam potong Kota Jakarta. Rano. Big. Melani. Aji. Endra) jangan berhenti berlatih siapa tau suatu saat kita bisa menjuarai World Cyber Game. Yogyakarta. Bagus. Savitri dan semua teman-teman yang mustahil disebutkan satu persatu. Dandi. Pras. Topan. Lia. pegawai Badan Pusat Statistik Pusat DKI Jakarta dan semua pihak yang telah meluangkan waktunya dalam membantu menyelesaikan penulisan skripsi ini Pada kesempatan ini pula penulis ingin menyampaikan permohonan maaf apabila di dalam penulisan skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan. Untuk temen-temen EP . Bondan. Amiiin Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Itong. 28 Januari 2008 Dedy Suprihatin .

.........................................................3................................... 1................................ 2...................................................................... 1..............................................3 Keadaan Penduduk ................. vii DAFTAR GAMBAR ............................................................ 2.....1 Geografis ......................................................... viii BAB I PENDAHULUAN ..2 Keadaan Alam ............................................................. DAFTAR ISI .......................3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ....................... BAB II TINJAUAN UMUM SUBJEK PENELITIAN .........4 Sistematika Penulisan ............. 1..........iii DAFTAR ISI Halaman Judul Pernyataan Bebas Plagiarisme Lembar Pengesahan Lembar Berita Acara Halaman Persembahan Halaman Motto KATA PENGANTAR ........................................................... 1.................................................................... 1 1 4 5 5 6 6 8 8 8 9 ...........................1 Latar Belakang ...2 Perumusan Masalah ....................................................................... 1...................2 Manfaat Penelitian ......... i iii DAFTAR TABEL ......................................................................................................... 1.........................................3.................1 Tujuan Penelitian ............................................................ 1...............................................................................................................................................

..........................5 Persaingan Pasar.................iv 2....................................1................................ A........................ Landasan Teori...3 Uji Statistik .........4 Penjualan ................ B......................................................2 Populasi dan Sampling ...............................................................................2........1 Teori Produksi ...........2.....6 Keadaan Ekonomi ............................................ 4.3..............................................3............................4 Kesehatan dan Keluarga Berencana ............................... Metode Dasar ................1 Metode Regresi Kuadrat Terkecil .............. Jenis dan Sumber Data ...............................................................1 Ruang Lingkup Penelitian .............................................. 5.............2 Pemilihan Model Regresi................................................ 5. 5.......................................... 4............. 4.................................................. 5.................. 2......... 5.......................2.....................................................................3.......... 5...................................................... BAB III KAJIAN PUSTAKA ..................................3........................................ 11 12 12 15 18 18 18 20 23 25 26 27 28 28 28 29 30 31 31 32 33 34 37 ....... 5...............................................2.................................2 Hukum Penambahan Hasil yang Semakin Berkurang ..5 Pertanian ..................................................................................................... 5......................................................3 Pendapatan ................... Metode Analisis Data ............................ 5............................3 Definisi Variabel ................................................................................ BAB V METODOLOGI PENELITIAN................................................................ 2..................... Hipotesis Penelitian .................... BAB IV LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS ............................................................... 4......... Pengujian Asumsi Klasik .........................................3..... 5................ 4........

............................. BAB IV ANALISIS DATA ..............................................................................3.........................................2............................................................................................................. Diskripsi Data ........................................... 6......1................................. 6....................3.................................2...................................................... 6..................................3 Pengujian Asumsi Klasik .......................................2...................... d............ 6................2.......... 37 38 39 41 41 41 42 42 43 43 44 45 45 46 47 47 48 54 55 56 56 58 59 .................. Autokorelasi ............3 Uji Multikolinieritas................ f...... Prospek Usaha ...........v a................................ 2........................................................... 6..........1 Pemilihan Model Regresi .................. 6..................................................................................... Jumlah Pekerja .............................................................................1 Uji Heteroskedastisitas........... Analisis Hasil Regresi dan Pengujian Hipotesis .............. Hasil Regresi ...4 Uji F-Statistik ............................. Heteroskedastisitas.......................................................................................2................ Umur ...... 6......................................................................... 6............................. Multikolinieritas.....3 Analisis Statistik ........................................................2.................... b... a.......................................................................................... 6........ c...............5 Penaksiran Koefisien Determinasi (R²) .......2 Uji Autokorelasi ............................................................ Jenis Usaha ...... 1...................................................................... Tingkat Pendidikan ................. 6......................... Lama Berusaha............... c.............. Pengujian Hipotesis Secara Parsial ......3......... e................................................................................................................................ b... 6................2........... Uji Tanda .

.........................4...........................................1...................... 6....................4........4 Pembahasan Hasil Analisis .........................3 Jumlah Ayam Terjual (X 3 ) ......... Kesimpulan .................. 6......................................2........... BAB VII KESIMPULAN DAN IMPLIKASI ............ 7..................................................................4...................1 Jumlah Pesaing (X 1 ) .........................2 Biaya Transportasi (X 2 ) .................................................. 6.vi 6............. Implikasi ..................................................................................4 Variabel Dummy Flu Burung (dm).............................. 6.................4......................... 7........... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 60 60 61 62 62 64 64 65 ...............

6 :Uji Statistik Durbin-Watson Tabel 6.9 :Hasil Uji White Test Tabel 6.2 :Jumlah Penduduk.2 : Karakteristik Responden Menurut Umur Tabel 6.1 : Karakteristik Responden Menurut Jenis Usaha Tabel 6.3 :Jumlah kelahiran bayi.7 :Hasil Regresi LogLinear Tabel 6.4 : Karakteristik Responden Menurut Lama Berusaha Tabel 6.3 : Karakteristik Responden Menurut Tingkat Pendidikan Tabel 6. 2005 11 Tabel 2.1 :Persentase Luas Tanah menurut Penggunaannya menurut Kecamatan 2005 9 Tabel 2.vii DAFTAR TABEL Tabel 1 :Data Kasus Flu Burung pada Manusia di Indonesia Sampai Dengan 28 Januari 2008 3 Tabel 2.5 :Karakteristik Responden Menurut Jumlah Pekerja Tabel 6. Kepadatan Penduduk dan Sex Ratio menurut Kecamatan 2004 10 Tabel 2.8 :Nilai t Hitung Tiap Variabel Bebas Tabel 6.4 :Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha (Juta Rupiah) 14 42 42 43 44 44 45 46 49 57 59 Tabel 6.10 :Hasil Uji LM Test . Kematian Bayi dan Kematian Anak Balita Menurut Kecamatan.

....................... 54 ............1 : Kurva Hukum Pertambahan yang Semakin Berkurang ....1 : Statistik Durbin-Watson .. 21 Gambar 5....4 : Kurva Uji t-Statistik Variabel Dummy ....2 : Kurva Uji t-Statistik Variabel biaya transportasi .......................... 43 Gambar 6......11 :Hasil Pengujian Multikolinearitas DAFTAR GAMBAR 60 Gambar 4..... 52 Gambar 6..................................................................viii Tabel 6...................... 51 Gambar 6..... 50 Gambar 6...1 : Kurva Uji t-Statistik Variabel Jumlah Pesaing ...3 : Kurva Uji t-Statistik Variabel Jumlah Ayam Terjual ............

Di DKI Jakarta saja. Komoditas unggas mempunyai prospek pasar yang baik karena didukung oleh karakteristik produk unggas yang dapat diterima oleh masyarakat Indonesia yang sebagian besar muslim.Liputan6.5 juta ekor per hari.1 BAB I PENDAHULUAN 1. harga yang relatif murah dengan akses yang mudah karena sudah merupakan barang publik dan merupakan pendorong utama penyediaan protein hewani nasional. Sementara di Tanah Air kebutuhan ayam potong diperkirakan mencapai tiga juta sampai lima juta ekor per hari. di samping itu. kebutuhan ayam potong mencapai 1. termasuk bahan makanan yang berasal dari hewan terutama daging. Dusta Pedagang Atam Potong. Namun dewasa ini terdapat beberapa permasalahan yang menghambat usaha daging ayam potong di Indonesia. Salah satu jenis ternak yang yang menjadi sumber utama penghasil daging adalah ayam di mana pemeliharaan dan konsumsi sudah menyebar di seluruh Indonesia.com). . dari http://www.1. Latar Belakang Seiring dengan makin meningkatnya jumlah pendapatan penduduk Indonesia maka semakin meningkat pula kebutuhan bahan makanan. Diambil 2 Mei 2007.(Tim Liputan 6 SCTV. Beberapa masalah tersebut adalah merebaknya kasus flu burung pada pertengahan 1997 dan kenaikan BBM yang mencapai 100% pada akhir 2005. beberapa kelebihan yang dimiliki ayam sebagai bahan konsumsi telah menyebabkan terdapatnya preferensi yang tinggi dari masyarakat terhadap daging ayam potong.

Jepang. Penyakit flu burung yang disebabkan oleh virus avian infuenza jenis H5N1 pada unggas dikonfirmasikan telah terjadi di Republik Korea. Jumlah unggas yang mati akibat wabah penyakit flu burung di 10 propinsi di Indonesia sangat besar yaitu 3. China. di beberapa propinsi di Indonesia terutama Bali. Sumber virus diduga berasal dari migrasi burung dan transportasi unggas yang terinfeksi. Vietnam. 18 orang tertular dan 6 di antaranya meninggal dunia. Jawa Timur. Awalnya kematian tersebut disebabkan oleh karena virus new castle.541.427 ekor.275 ekor (4.2 Penyakit flu burung atau flu unggas (Bird Flu. namun konfirmasi terakhir oleh Departemen Pertanian disebabkan oleh virus flu burung (Avian influenza (AI)). Laos. Indonesia dan Pakistan. Kalimantan Barat dan Jawa Barat dilaporkan adanya kasus kematian ayam ternak yang luar biasa. Kamboja. Hingga 28 Januari 2008 Departemen Kesehatan RI telah mencatat 124 kasus dengan 100 kematian pada manusia yang disebabkan virus flu burung dengan rincian sebagai berikut : . Pada Januari 2004. Botabek. Taiwan. Flu burung pada mulanya hanya menyerang burung sampai pada tahun 1997 di Hongkong. Pada Januari 2004 virus ini telah menyebar hampir ke seluruh kawasan Asia dan ditemukan di Indonesia pada Februari 2004. Jawa Tengah.77%) dan yang paling tinggi jumlah kematiannya adalah propinsi Jawa Barat dengan kematian 1. Avian Influenza) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan ditularkan oleh unggas.842. Thailand.

Bagi mereka yang melanggar akan dikenakan sanksi kurungan penjara 3 bulan dan denda maksimal 50 juta rupiah. Kebun Raya Ragunan juga pernah ditutup beberapa hari untuk memeriksa kesehatan hewan terutama unggas.3 Tabel 1 Data Kasus Flu Burung pada Manusia di Indonesia Sampai Dengan.Pondok Pinang oleh para aparat kota dan ditemukan 1500 unggas yang kemudian didepopulasi pada 4 Maret 2008. . 2008 Di Kota Jakarta Selatan. 28 Januari 2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Propinsi Jawa Barat DKI Jakarta Banten Sumatera Utara Jawa Timur Jawa Tengah Lampung Sulawesi Selatan Sumatera Barat Sumatera Selatan Riau Bali Jumlah Positif Flu Burung Jumlah Kasus 31 29 24 8 7 9 3 1 3 1 6 2 124 Meninggal 25 25 20 7 5 8 0 1 1 1 5 2 100 Sumber : Depkes RI. kemudian hal tersebut ditindak lanjuti dengan merazia rumah-rumah penduduk di Kel. Beberapa kasus di Kota Jakarta Selatan yang berhubungan dengan flu burung di antaranya adalah pada 16 februari 2006 seorang warga meninggal di Kebayoran Baru yang merupakan korban meninggal ke delapan akibat flu burung di Jakarta Selatan. upaya pencegahan dilakukan dengan melarang warga untuk memelihara unggas-unggas tanpa sertifikat.

Harga bensin jenis premium yang semula Rp 2. Apakah jumlah pesaing mempengaruhi pendapatan pengusaha ayam potong? 2.00/liter dan solar yang sebelumnya Rp 2. Penjualan ayam potong di pasar tradisional Pasar Minggu Jakarta Selatan juga turun 25-50 persen Pada tanggal 1 Oktober 2005 pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Secara langsung kenaikan harga BBM tersebut akan menaikkan beban biaya transportasi hingga 100%. 55/2005 tentang Kenaikan Harga Jual Eceran BBM Dalam Negeri.100. Menurut data terdapat lebih dari 600 pangkalan ayam. tertanggal 30 September 2005.2. 1200 rumah potong.4 Flu burung telah mengakibatkan banyak pengusaha daging ayam mulai dari peternak sampai penjual gulung tikar karena masyarakat menjadi takut untuk mengkonsumsi daging ayam.00/liter. Apakah biaya transportasi mempengaruhi pendapatan pengusaha ayam potong? . maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian yaitu 1. Kenaikan tersebut tertuang dalam Peraturan Presiden No.400. setelah kasus flu burung mencuat. Rumusan Masalah Bertitik tolak dari uraian latar belakang masalah. total kebutuhan daging ayam di Jakarta adalah 500 ribu hingga 600 ribu ekor perhari.00 naik menjadi Rp 4.00 naik menjadi Rp 4.500. 1.300. dan ribuan pedagang daging ayam yang tersebar di seluruh pasar tradisional di Jakarta terancam gulung tikar karena secara rata – rata. permintaan itu menurun 60% ( Kompas 28 Juli 2005).

Menganalisis pengaruh secara bersama-sama jumlah pesaing. Apakah secara bersama-sama jumlah pesaing. Apakah banyaknya jumlah ayam terjual mempengaruhi pendapatan pengusaha ayam potong? 4. . Tujuan Penelitian : 1. Menganalisis pengaruh Flu burung terhadap pendapatan pengusaha ayam potong. Apakah flu burung dianggap mempengaruhi pendapatan pengusaha ayam potong? 5. 3. biaya transportasi dan jumlah ayam terjual serta variabek dummy Flu burung terhadap pendapatan pengusaha ayam potong. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. biaya transportasi dan jumlah ayam terjual serta variabek dummy flu burung mempengaruhi pendapatan pengusaha ayam potong? 1. 4.3. Menganalisis pengaruh jumlah pesaing terhadap pendapatan pengusaha ayam potong. Menganalisis pengaruh banyaknya jumlah ayam terjual terhadap pendapatan pengusaha ayam potong.5 3. 2.3. 5.1. Menganalisis pengaruh biaya transportasi terhadap pendapatan pengusaha ayam potong.

Bagi Dunia Ilmu Pengetahuan Penelitian ini dapat dijadikan sumbangan pemikiran atau studi banding bagi mahasiswa atau pihak yang melakukan penelitian yang sejenis. Bagi Penulis Menambah pengetahuan dan pengalaman penulis agar dapat mengembangkan ilmu yang diperoleh selama mengikuti perkuliahan di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. 2.3. 1. Di samping itu.6 1. selain itu penulis dapat membandingkan antara teori dan praktek yang terjadi di lapangan. memperluas dan memantapkan wawasan dan keterampilan yang membentuk mental mahasiswa sebagai bekal memasuki lapangan kerja.4.2. tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan penelitian. BAB II TINJAUAN UMUM SUBYEK PENELITIAN Bab ini menerangkan mengenai diskripsi wilayah penelitian yang menguraikan tentang keadaan wilayah Kotamadya Jakarta Selatan. perumusan masalah. Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN Membahas mengenai latar belakang masalah. Manfaat Penelitian : 1. guna meningkatkan. .

kesimpulan dan saran-saran dari hasil analisis data pada bab-bab sebelumnya.7 BAB III KAJIAN PUSTAKA Berisi penelitian sebelumnya yang erat kaitannya dengan penelitian ini. BAB VII KESIMPULAN DAN IMPLIKASI Bab ini merupakan bab penutup yang berisi pembahasan. BAB V METODE PENELITIAN Akan dijelaskan tentang metode pengambilan sampel serta definisi operasional penelitian BAB VI ANALISIS DATA Berisi tentang analisis data yang diperoleh dalam penelitian serta pengujian – pengujian terhadap hasil estimasi data yang diperoleh dan pembahasannya. BAB IV LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS Dalam bab ini memuat teori – teori yang relevan yang menjadi acuan dalam penulisan dan hipotesa penelitian. .

1. Cilandak.00 Bujur barat. Kecamatan Tanah Abang. Kota Jakarta Selatan terbagi menjadi 10 kecamatan yaitu Kebayoran Baru. Pasar Minggu. Jalan Kebayoran Lama dan Kebon Jeruk (Kota Jakarta Barat) . Secara administratif batas – batas wilayah dari Kota Jakarta Selartan adalah sebagai berikut : .41% dari Luas DKI Jakarta) yang berada pada posisi 06 15 40.2 m di atas permukaan laut. Jalan Sudirman. Kebayoran Lama.2. Jagakarsa. Geografis Kota Jakarta Selatan merupakan salah satu dari 5 kota yang terdapat di Propinsi DKI Jakarta.5 o celcius dan kelembaban udara rata-rata 80 .Sebelah Utara : Banjir kanal.Sebelah Barat : : : Kali Ciliwung (Kota Jakarta Timur) Kotamadya Depok Kecamatan Ciputat dan Cileduk.Sebelah Selatan .Sebelah Timur . Keadaan Alam Kotamadya Jakarta Selatan terletak pada ketinggian 26. bercirikan daerah yang beriklim khas tropis dengan tempratur udara sekitar 27. Tebet. Mampang Prapatan.8 Lintang Selatan dan 106 45 0.8 BAB II TINJAUAN UMUM SUBYEK PENELITIAN 2. Pesanggrahan. Kabupaten Tangerang. Propinsi Jawa Barat) 2. dan Setiabudi.73 km 2 (22. Kota ini mempunyai luas daerah seluruhnya 145. Pancoran.

62% 0. Penduduk lakilaki berjumlah 914.48% Sumber:Survei Fisik Kecamatan.62% 0.06% 0.951 jiwa dan penduduk perempuan 830.51% 7.82% 12.44% 0.42% 73.97% 1. 1.78% 1.43% 1.2% 0. 10.244 jiwa.21% 0.06% 12.93% Waserda 15.81% 6.38% 0.06% Lahan Tidur 4.93% 1.31% Pertanian 19.54% 0.48% 2.06% 2.56% 71.83% 6.62% untuk perindustrian. 1.15% 19. Penggunaan tanah 71.97% 3.56% Industri 1.26% untuk perkantoran.62% 1.08% 1. Keadaan Penduduk Pada tahun 2004 jumlah penduduk di Jakarta Selatan 1.22% 18. Tabel 2.03% 10.92% 13.48% 10.03% 0.94% 65.54% 0.65% 1.195 jiwa.976 per Km 2 .62% Taman 2.76% 78.3.61% 80.17% 1. .56% untuk perumahan.84% 11.9 persen.23% 1.745.31% 0. 1.58% 19.04% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kecamatan Jagakarsa Pasar Minggu Cilandak Pesanggrahan Kebayoran Lama Kebayoran Baru Mampang Prapatan Pancoran Tebet Setia Budi Jumlah 2004 Perumahan 52. 12.53% 1.15% 13.04% 1.06% untuk taman.33% 8.13% 0.08% 0. BPS Jakarta Selatan 2.48% 3. yang disapu angin dengan kecepatan sekitar 0.04% untuk tempat tidur.61% 70.13% 77.09% 0.42% 71.84% 10.5 mm per-hari yang terjadi selama 210 hari dalam setahun. jumlah penduduk laki-laki lebih besar dari penduduk perempuan seperti terlihat pada sex ratio yang lebih besar dari 100 yaitu 110. Dari Jumlah tersebut.31% 1.01% 3.00% 0.93% untuk lahan pertanian.71% 14.29% 2. Curah hujan mencapai ketinggian rata-rata 1999.57% 22.50% 1.67% 0.01% 68.83% 0.01% 77.32% 1. dengan kepadatan penduduk mencapai 11.767 jiwa kemudian pada tahun 2005 naik menjadi 1.707.38% 0.43% 9.44% 6.25% 77.48% untuk waserda dan 1.5% 0.1 Persentase Luas Tanah menurut Penggunaannya menurut Kecamatan 2005 Kantor dan Gudang 3.2 knot sepanjang tahun.08% 10.

522 8.886 59.06 110. jumlah penduduk yang bekerja naik.322 3 Cilandak 76.821 153.427 11. Dari angkatan kerja tersebut terdapat 49.598 2 Ps.00 Status kewarganegaraan di Jakarta Selatan terdiri WNA sebanyak 574 jiwa.00 110.745.235 104.20 110. Dibandingkan tahun 2004.580 11.74 99.244 1.30 103.767 2003 892.39 persen dan 41.317 1.61 persen. Pada kelompok bukan angkatan kerja terdapat 17.951 830.837 72.89 mengurus rumah tangga dan 4.195 2004 894.817 214.603 122.322 147.399 13.038 111.10 Tabel 2.51 persen penduduk bekerja dan 8.159 7 Mp. Kepadatan Penduduk dan Sex Ratio menurut Kecamatan 2004 Penduduk Hasil Registrasi LakiKecamatan laki Perempuan Jumlah 1 Jagakarsa 111.72 126.367 4 Pesanggrahan 82. Lama 120.876 11.474 26.784 812.576 11.825 60.435 6 Keb.779 49.54 102. Kegiatan penduduk berusia 10 tahun ke atas dibedakan menjadi 2 kelompok.456 14.481 10 Setia Budi 61.928 5 Keb.428 Jumlah Total 914.707.675 Sex Ratio 108.585 229.059 809. jika pada tahun 2004 ada 57.463 9 Tebet 127.781 102.60 persen tidak .284 252. yang masingmasing tercatat 58.740 11.546 76.171 242.014 8 Pancoran 63.577 123.701. Baru 74.64 111.2 Jumlah Penduduk.95 persen penduduk bekerja dan 42. Prapatan 54.376 Sumber : Statistik Wilayah DKI Jakarta Kepadatan 8.23 110.20 111. yaitu angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Minggu 141.48 111. sementara warga negara asing yang terbanyak adalah warga Cina.793 12.829 155.983 1.099 73.850 108.719 11.26 107.310 115.88 persen yang mencari pekerjaan.31 persen yang sekolah 19.976 11.39 persen lainnya.

385 55 55 Cilandak 2.579 12 7 Keb. 2005 Lahir Lahir Jumlah bayi mati Kecamatan Hidup Mati 0-28 Hari Jagakarsa 0 0 0 Pasar Minggu 1.683 15 11 Jumlah 19. Lama 4.4. Kematian Bayi dan Kematian Anak Balita Menurut Kecamatan. 78 puskesmas.398 tempat tidur).3 Jumlah kelahiran bayi. Infeksi saluran pernapasan bagian atas (ISPA) masih menunjukkan persentase tertinggi dibandingkan dengan penyakit lain yang berarti pencemaran lingkungan masih tinggi. Kesehatan dan Keluarga Berencana Fasilitas kesehatan di Jakarta Selatan terdiri dari 66 rumah sakit (3. Baru 5. 750 praktek dokter gigi dan 103 praktek bersama.373 94 72 Pesanggrahan 1. Tabel 2. Jumlah rumahtangga miskin di Jakarta Selatan ada sebanyak 11. 283 apotik.777 60 31 Mp.Prapatan 0 0 0 Pancoran 1. sedangkan penderita diare mengalami kenaikan pada tahun ini dibandingkan tahun lalu.196 rumahtangga. 101 toko obat.561 14 2 Tebet 201 2 0 Setiabudi 2.759 250 178 Sumber :Sudin Yankes Kodya Jakarta Selatan Jumlah Bayi Mati 0-<1 Tahun 0 3 135 0 1 0 0 0 0 3 248 . 2.688 akseptor. Peserta KB Aktif perbulan rata-rata 178.037 dokter praktek.843 akseprot.11 bekerja. sedangkan peserta KB baru 45. 1. 19 laboratorium.200 4 0 Keb. 130 poliklinik atau balai kesehatan.

04%). Keadaan Ekonomi Perekonomian Jakara selatan tahun 2005 (angka sementara) didominasi oleh empat sektor utama. Peternakan Pada tahun 2005 populasi kambing 2.6 juta tangka dengan nilai mencapai hampir 5 milyar lebih.860 counter.944 tempat usaha dagang atau jualan. yang terdiri dari 9.000 ekor.12 2. 26 tempat jualan daging babi.6. 644 tempat jualan daging sapi.553. sektor bangunan (13. yaitu sektor keuangan (45. 2.058 butir dan ayam buras 25. 3.5.432 ekor.465 ekor.600 tempat jualan sayur dan buah. ubi kayu 414 ton dan kacang tanah 45 ton.46%). Produksi susu sebanyak 4.860 kios. 2. produksi tanaman anggrek segala jenins mencapai lebih dari 1.18%). hotel dan restoran (0. kuda 74 ekor dan kambing 2.639 kios. Pertanian 1. Perikanan Produksi ikan darat selama 2005 sebanyak 365. 4.758 kg dengan nilai lebih dari 30 juta rupiah. sapi perah 2.46) dan sektor jasa (13.465 ekor. sektor perdagangan. Pertanian Produk tanaman jagung tahun 2005 sekitar 167 ton. telur 217. Komoditi ekspor tanaman hias jenis anggrek merupakan komoditi unggulan. 2. 375 tempat jual . Jumlah pasar wilayah di Jakarta Selatan sebanyak 27 pasar yang menyediakan fasilitas tempat usaha/dagang sebanyak 22. 4.352 liter.

tekstil dan jasa produksi. Nilai PDRB pada tahun 2003 atas harga berlaku menurut lapangan usaha adalah sebesar 75. 47 tempat jual ikan hidup.120 kaki lima di luar pasar.13 ikan basah. . reklame. naik sekitar 54. 43 tempat jual ayam hidup. Selama lima tahun terakhir sejak tahun 2000 sampai tahun 2005. 1. mulai dari jasa konsumsi.920 milyar rupiah. barang teknik. nilai produk domestik regional bruto (PDRB) Kotamadya Jakarta Selatan setiap tahunnya telah mengalami peningkatan yang cukup berarti.078.360 juta rupiah. hiburan.352. Realisasi penerimaan pajak-pajak sebagian didapat dari denda pajak yang antara lain dari pajak hotel. kelontong.170 juta rupiah.020 kaki lima dalam pasar. Adapun jenis barang yang diperdagangkan meliputi kebutuhan pokok. 1.118 tenda. Pada tahun 2005 PDRB perkapita penduduk Jakarta Selatan atas dasar harga kosdtan 2000 mencapai hampir 60 juta rupiah. restoran. 352 tempat jual ayam potong. PPABT dan parkir sebesar 168. Angka PDRB perkapita secara tidak langsung bisa dijadikan salah satu indikator untuk mengukur kemakmuran suatu wilayah dan keberhasilan pembangunan suatu wilayah. restoran dan warung. Nilai PDRB tahun 2005 atas harga berlaku menurut lapangan usaha adalah sebesar 97. 2. logam mulia.87 persen dari tahun sebelumnya.

862.498 1.584 9.748 1.360 2004 (6) 90.429 * 2005 (7) 91.364.349 6.199 13. hotel dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Keuangan.998.757 4.447 442.334 13.757 17.025 10.934 1.015 43.111.170 ** .104 75.863 13.404 3.039 15.318 97.897.954.078.588 302.640.4 Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha (Juta Rupiah) Lapangan usaha (1) Pertanian Industri Listrik.950.436.352.097.14 Tabel 2. persewaan dan jasa 7 perusahaan 8 Jasa-jasa Produk Domestik Regional Bruto Sumber : BPS Kotamadya Jakarta Selatan Keterangan : *) angka perbaikan **) angka sementara 1 2 3 4 5 6 2003 (5) 84.869.912.900. gas dan air bersih Bangunan Perdagangan.848.934 10.893.262 497.615.960.516.506 38.567 11.681 84.964.043 34.

98%. yaitu tingkat pendapatan peternak. . selain sebagai penunjang ekspor non migas juga untuk meningkatkan pendapatan peternak dan masyarakat sekitarnya. Perumusan masalah adalah variabel manakah yang signifikan pengaruhnya serta memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan peternak. yaitu suatu analisa untuk mengetahui pengaruh antara variabel bebas yang meliputi jumlah ayam (X1).Drs. dan upah tenaga kerja (X4) serta variabel terikat (Y).Faisal. biaya pemeliharaan (X3). Alat analisis yang digunakan adalah analisa regresi Linier Berganda. Kabupaten Kediri Jawa Timur. Sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang diluar perhitungan regresi. Kesimpulan yang didapat adalah perlu adanya pengembangan dan peningkatan budidaya ternak ayam potong. Dari hasil analisa ditunjukkan bahwa budidaya ternak ayam potong dipengaruhi oleh jumlah ayam (ekor). biaya pemeliharaan (Rp) dan upah tenaga kerja (Rp). biaya pakan (Rp). Demikian pula pada analisa secara keseluruhan juga menunjukkan bahwa keempat variabel bebas tersebut mempengaruhi tingkat pendapatan peternak sebesar 99. Kecamatan Kandat. biaya pakan (X2).15 BAB III KAJIAN PUSTAKA Laporan penelitian M.MM (2008) yang berjudul "Analisis Variabel-variabel yang Mempengaruhi Peningkatan Pendapatan Peternak Ayam Pedaging/potong" yang merupakan suatu studi di Desa Blabak.

dan mengetahui pada skala usaha berapa yang memberikan efesiensi finansial yang paling tinggi pada peternak ayam broiler.16 Ir. 8. dimana daging dan telur ayam masih menjadi sumber utama protein hewani daging. Ibnu Edy Wiyono (2007) dalam Analisis ekonomi mingguan Charoen Pokphand Indonesia yang berjudul “Peluang dan Tantangan Industri Peternakan” mengungkapkan beberapa hal penting yang mampu merangsang pertumbuhan usaha peternakan di Indonesia.Efesiensi finansial semakin meningkat dengan bertambahnya skala usaha yang dipelihara. Pertumbuhan pendapatan dan laju urbanisasi berdampak pada meningkatnya asupan protein hewani masyarakat Indonesia. yaitu mengambil peternak yang menggunakan jenis pakan dan bibit yang sama dari berbagai skala usaha dengan wawancara langsung pada peternak ayam yang berpedoman pada kusioner yang telah dibuat.. dimana pada skala 2500 memperoleh efesiensi finansial tertinggi yaitu 1. dimana pendapatan tertinggi pada skala usaha 2500 yaitu Rp. Ikrar Moh. yaitu : a.363. M. (2005) dalam penelitiannya “Analisis Efisiensi Finansial Peternakan Ayam Broiler pada Berbagai Slaka Usaha di Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa” yang bertujuan untuk megetahui tingkat pendapatan yang diperoleh peternak ayam broiler pada skala usaha yang berbeda. .37554428. Penelitian ini menggunakan metode stratified purposive random sampling. Saleh.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendapatan peternak semakin bertambah seiring dengan bertambahnya skala usaha yang dipelihara.748.Sc.Sampel penelitian ini sebanyak 50% dari keseluruhan peternak di Kecamatan Palangga yang jumlahnya 62 orang.

sektor perunggasan Indonesia dimungkinkan untuk dapat meningkatkan konsumsi daging ayam perkapita sebesar 2 kg melalui kampanye sadar gizi. Dampak negatif flu burung telah dapat dikelola dengan baik.17 b. Industri peternakan masih harus mencari solusi efektif untuk mengurangi tekanan biaya produksi akibat kenaikan harga jagung dan bungkil kacang kedelai. Dengan tingkat pendapatan dan kondisi urbanisasi seperti saat ini. Meskipun demikian. . c.

kapital dan bahan baku. dalam teknologi tertentu memilih dan mengkombinasikan berbagai macam faktor produksi untuk menghasilkan sejumlah produk tertentu. khususnya teori produksi. . 1989 : 120 ) Produksi adalah suatu proses pengubahan faktor produksi atau input menjadi output sehingga nilai barang tersebut bertambah Penentuan kombinasi faktor – faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi sangatlah penting agar proses produksi yang dilaksanakan dapat efisien dan hasil produksi yang didapat menjadi optimal. Teori Produksi Dalam penelitian ini. Suatu perekonomian senantiasa menggunakan teknologi yang dimiliki untuk mengkombinasikan berbagai input guna menghasilkan output. Landasan Teori 4. landasan teori yang digunakan mengacu pada teori perilaku produsen. tenaga kerja. Input pada suatu proses produksi terdiri dari tanah. jadi input adalah barang atau jasa yang digunakan sebagai masukan pada suatu proses produksi sedangkan yang dimaksud dengan output adalah barang dan jasa yang dihasilkan dari suatu proses produksi.18 BAB IV LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS A. seefisien mungkin ( Ari Sudarman. Teori produksi merupakan analisa mengenai bagaimana seharusnya seorang pengusaha atau produsen.1.

Fungsi produksi menunjukkan bahwa jumlah barang yang diproduksi tergantung pada jumlah faktor produksi yang digunakan. Sedangkan faktor produksi yang mengalami perubahan adalah . Jumlah produksi yang berbeda – beda tentunya memerlukan faktor produksi yang berbeda pula. mesin.19 4. Tetapi ada juga bahwa jumlah produksi yang tidak sama akan dihasilkan oleh faktor produksi yang dianggap tetap. L.1. R. biasanya adalah faktor produksi seperti modal.1. T) Keterangan : Q = output K = kapital / modal L = labour / tenaga kerja R = resuources / sumber daya T = teknologi Dari persamaan tersebut berarti bahwa besar kecilnya tingkat produksi suatu barang tergantung kepada jumlah modal. Fungsi produksi dapat dituliskan sebagai berikut : Q = f (K. peralatannya serta bangunan perusahaan. jumlah tenaga kerja. jumlah kekayaan alam dan tingkat produksi yang digunakan. Fungsi Produksi Fungsi produksi merupakan hubungan teknis antara faktor produksi dengan hasil produksi.

20 tenaga kerja. 4. Berkaitan dengan periode produksi. .2. Hukum ini menerangkan jika salah satu input ditambah secara terus – menerus maka produksi total akan semakin meningkat sampai pada suatu tingkat tertentu ( titik maksimum ) dan apabila sudah pada tingkat maksimum tersebut faktor produksinya terus ditambah maka produksi total akan semakin menurun. Hukum Pertambahan Hasil yang Semakin Berkurang Hukum pertambahan hasil yang semakin berkurang menerangkan arah umum dan tingkat perubahan umum output perusahaan bila salah satu sumber yang digunakan berubah – ubah jumlahnya. situasi produksi dimana perusahaan tidak dapat mengubah outputnya disebut jangka waktu yang sangat pendek sedangkan situasi produksi dimana output dapat dirubah namun demikian ada sebagian faktor produksi yang bersifat tetap atau input tetap dan sebagian lagi faktor produksinya dapat dirubah atau input variabel disebut produksi jangka pendek dan produksi jangka panjang yaitu suatu produksi tidak hanya output dapat berubah tetapi mungkin semua input dapat diubah dan hanya teknologi dasar produksi yang tidak mengalami perubahan.

1 Kurva Hukum Pertambahan yang Semakin Berkurang Keterangan : TP adalah total produksi L adalah tenaga kerja MP L adalah marginal produk tenaga kerja AP L adalah produksi rata-rata tenaga kerja .21 Q Q3 Q2 Q1 TP 0 L1 L2 L3 L4 L Q Tahap 1 Tahap II Tahap III AP L 0 L2 L3 MP L L Gambar 4.

Hal tersebut terjadi kemungkinan karena adanya spesialisasi faktor produksi tenaga kerja. produksi rata-rata dan produksi marjinalnya juga turut meningkat. dimana modal dan teknologi dianggap tetap. Pada tahap ini kita juga dapat melihat bahwa laju kenaikan produksi marjinal juga semakin besar sehingga dalam tahap ini dikatakan berlaku hukum pertambahan hasil yang semakin meningkat. Pada kondisi demikian jika tenaga kerja terus ditambah lagi . Tahap I menunjukkan penggunaan tenaga kerja yang masih sedikit dan apabila diperbanyak tenaga kerjanya menjadi L 2 maka total produksinya akan meningkat dari Q 1 menjadi Q 2 . semakin banyak tenaga kerja yang digunakan semakun memungkinkan produsen melakukan spesialisasi tenaga kerja sehingga dapat meningkatkan produktivitasnya.22 Dimana : MPL = ΔTP ΔL APL = TP L Gambar diatas merupakan cara lain untuk menggambarkan fungsi produksi yang menggunakan kombinasi faktor produksi tidak sebanding. Sementara itu produksi rata-rata pada tahap ini terus meningkat hingga mencapai titik puncak pada saat penggunaan tenaga kerja sebanyak L 2 dan pada saat itu kurva MP L berpotongan dengan kurva AP L . Sumbu horisontal menunjukkan jumlah input tenaga kerja dan sumbu vertikal menunjukkan jumlah produksi yang dihasilkan. Produsen yang rasional jelas akan memilih menambah jumlah tenaga kerjanya.

Hal demikian berlaku hukum penambahan hasil produksi yang semakin berkurang dan jika pada kondisi tersebut penggunaan tenaga kerja masih saja ditambah maka memasuki tahap III. (Samuelson dan Nordhaus. 1995:255). dimana penambahan tenaga kerja akan menyebabkan turunnya total produksi. Pendapatan Pendapatan dalam ilmu ekonomi didefinisikan sebagai hasil berupa uang atau hal materi lainnya yang dicapai dari penggunaan kekayaan atau jasa manusia bebas. Pada tahap II tersebut produksi total terus meningkat sedangkan produksi rata-rata mulai menurun dan produksi marjinal bertambah dengan proporsi yang semakin menurun pula hingga pada akhirnya produksi marjinal mencapai titik nol. Jadi penggunaan tenaga kerja sudah terlalu banyak hingga produksi rata-rata menurun dan produksi marjinal menjadi negatif. (Samuelson dan Nordheus. 2001 : 57 ) 4. Sedangkan pendapatan rumah tangga adalah total pendapatan dari setiap anggota rumah tangga dalam bentuk uang atau natura yang diperoleh baik sebagai gaji atau upah usaha rumah tangga atau sumber lain. Kondisi seseorang dapat diukur dengan menggunakan konsep pendapatan yang menunjukkan jumlah seluruh uang yang diterima oleh seseorang atau rumah tangga selama jangka waktu tertentu. 1995:258) .23 penggunaannya hingga mencapai L 3 atau masuk pada tahap II maka total produksi terus meningkat hingga mencapai Q 3 atau mencapai titik optimum produksi. ( Ida Nuraini.3.

Tingkat pendapatan (income level) adalah tingkat hidup yang dapat dinikmati oleh seorang individu atau keluarga yang didasarkan atas penghasilan mereka atau sumber-sumber pendatapan lain. tanah memperoleh . (Samuelson dan Nordhaus. menyewa aset. tenaga kerja keluarga dan nilai sewa kapital untuk sendiri tidak diperhitungkan 3.1.24 Dalam hal ini pendapatan juga bisa diartikan sebagai pendapatan bersih seseorang baik berupa uang atau natura. 1995:250) 4. Gaji dan upah Suatu imbalan yang diperoleh seseorang setelah melakukan suatu pekerjaan untuk orang lain. Secara umum pendapatan dapat digolongkan menjadi 3 1. bunga bank serta sumbangan dalam bentuk lain. Hubungan Pendapatan dengan Produksi Setiap faktor produksi yang terdapat dalam perekonomian adalah dimiliki oleh seseorang. asuransi pengangguran. 2. Tenaga kerja mendapat gaji dan upah. perusahaan swasta atau pemerintah. Pemiliknya menjual faktor produksi tersebut kepada pengusaha dan sebagai balas jasanya mereka akan memperoleh pendapatan. Pendapatan dari kekayaan Pendapatan dari usaha sendiri. Pendapatan dari sumber lain Dalam hal ini pendapatan yang diperoleh tanpa mencurahkan tenaga kerja antara lain penerimaan dari pemerintah. Merupakan nilai total produksi dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan baik dalam bentuk uang atau lainnya.3.

(Basu. Penjualan sangat penting dalam mekanisme pasar karena dapat menciptakan seatu proses pertukaran barang atau jasa antara penjual dan pembeli. Dalam perekonomian kita (perekonomian uang). Penjualan Adalah ilmu dan seni mempengaruhi pribadi yang dilakukan oleh penjual pada umumnya untuk mengajak orang lain agar bersedia membeli barang atau jasa yang ditawarkan oleh si penjual. Oleh karena itu. ( Sadono Sukirno. modal memperoleh bunga dan keahlian keusahawanan memperoleh keuntungan. Pendapatan yang diperoleh masing – masing jenis faktor produksi tersebut tergantung kepada harga dan jumlah masing – masing faktor produksi yang digunakan. jika seseorang makin pandai untuk menawarkan barang atau jasanya akan semakin cepat pula mencari kesuksesan dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Dalam segala bidang dan tingkatan.25 sewa. sehingga tujuan yang diinginkan akan segera terlaksana.4 . 1996 : 329) 4. 1993:8) . taktik penjualan harus digunakan agar pelayanan yang diberikan kepada orang lain dapat memberikan kepuasan. Jumlah pendapatan yang diperoleh berbagai faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan sesuatu barang adalah sama dengan harga dari barang tersebut. seseorang yang menjual sesuatu akan mendapatkan imbalan berupa uang.

( Philip Kotler. Akan tetapi perusahaan bahkan lebih mungkin terpukul oleh pesaing yang baru muncul atau teknologi terbaru ketimbang oleh pesaing sekarang. 2006:419 ) 1. Setelah mengidentifikasi para pesaing utamanya. Berfokus pada pada pesaing saat ini dan bukan pada pesaing tersembunyi telah menyebabkan beberapa perusahaan tersingkir. Pangsa pasar atau sasaran pasar 2. perusahaan harus mengetahui dengan pasti kekuatan dan kelemahan serta tujuan strategis mereka. ( Philip Kotler. Pangsa ingatan. 2006:417) Mengindentifikasi pesaing sepertinya merupakan tugas sederhana perusahaan. Secara umum setiap perusahaan harus memantau tiga variabel ketika menganalisis para pesaingnya. atau persentase pelanggan yang menyebut nama pesaing dalam menanggapi pertanyaan. Lima kekuatan tersebut adalah para pesaing industri. tujuan dan menganalisis kekuatan dan kelemahan. pembeli dan pemasok. “sebutkan perusahaan pertama di Industri ini yang ada dalam pikiran anda. Hal yang harus segera dilakukan adalah menentukan strategi.26 4.5 Persaingan Pasar Para pesaing adalah perusahaan-perusahaan yang memuaskan kebutuhan konsumen yang sama Ada lima kekuatan yang menentukan daya tarik laba jangka panjang. calon pendatang. substitusi.” .

Pendapatan pengusaha ayam potong dipengaruhi secara negatif dan signifikan oleh besarnya biaya transport per bulan. melindungi pangsa pasar dan tetap berusaha meningkatkan pangsa pasarnya lebih jauh walaupun ukuran pasarnya tetap sama.” Setelah perusahaan melakukan analisis nilai pelanggannya. “Sebutkan perusahaan yang produknya lebuh anda sukai untuk dibeli. perusahaan dituntut untuk melakukan tindakan di tiga bidang.27 3. 4. Pendapatan pengusaha ayam potong dipengaruhi secara negatif dan signifikan oleh pengaruh kasus flu burung. Pertama. . perusahaan tersebut harus mencari cara untuk memperbesar permintaan pasar keseluruhan. Pendapatan pengusaha ayam potong dipengaruhi secara negatif dan signifikan oleh jumlah pesaing. Untuk bertahan. ia dapat memusatkan serangannya pada salah satu kelas pesaing yaitu pesaing kuat versus lemah. 2. Pangsa hati atau persentase pelanggan yang menyebut nama pesaing dalam menanggapi pertanyaan. 3. pesaing dekat versus jauh dan kelas pesaing yang “baik” versus “buruk”. Pendapatan pengusaha ayam potong dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh jumlah ayam terjual per bulan. 2007:417) B. ( Philip Kotler. Hipotesis Penelitian Sebagai pedoman dalam pelaksanaan penelitian ini disusun hipotesis sebagai berikut : 1.

Studi kasus adalah teknik studi dengan memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan mendetail. Pengertian pengusaha ayam potong di sini adalah pengusaha ayam potong yang melayani pembelian maupun penjualan ayam potong hidup ataupun mati.2 Metode Dasar Penelitian ini menggunakan metode dasar deskriptis analitis.1. rumah potong dan penjual. berdasarkan pada penemuan fakta-fakta atau keadaan yang sebenarnya (Nawawi dan Martini. . 5. Tujuan digunakannya metode ini adalah untuk menggali faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan pengusaha ayam potong. 1990). Daerah penelitian yang diambil adalah Kota Jakarta Selatan. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pengusaha ayam potong sebagai unit analisisnya. 1994). Obyek yang diteliti terdiri dari satu unit atau kesatuan unit yang dipandang sebagai suatu kasus (Surakhmad. Teknik pelaksanaan penelitian ini dilakukan dengan studi kasus. termasuk di dalamnya adalah peternak. yaitu suatu prosedur pemecahan masalah dengan menggambarkan keadaan obyek penelitian pada saat sekarang.28 BAB V METODOLOGI PENELITIAN 5.

atau kejadian-kejadian tanpa bertanya atau berkomunikasi dengan orang.1. 2002). obyek. Data primer Adalah merupakan data yang didapat dari sumber pertama baik dari individu atau perseorangan seperti hasil wawancara atau hasil pengisian kuisioner (Umar. Metode ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran awal tentang seberapa besar pengaruh variabel independen terhadap pendapatan pengusaha ayam potong. Penelitian di lapangan dilaksanakan pada bulan september sampai dengan bulan oktober tahun 2007.2. .29 5. Jenis dan Sumber Data a. Wawancara dilakukan kepada pengusaha ayam potong yang terpilih sebagai sampel. .Interview (wawancara) Wawancara adalah metode pengumpulan data dengan cara bertanya langsung kepada responden. atau kejadian tersebut. Cara memperoleh data : . Penelitian ini menggunakan data Croos Section yaitu data yang dikumpulkan dalam kurun waktu tertentu dari sample.Observasi Yaitu metode pengumpulan data dengan cara melakukan pencatatan secara cermat dan sistematis terhadap pola perilaku orang. obyek.

Pada penelitian ini metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling menggunakan metode purposive random sampling yaitu teknik cuplikan yang bersifat selektif dengan yang menggunakan digunakan.2. Sutopo. 5. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengusaha ayam potong yang berdomisili di Kota Jakarta Selatan. b.Metode Angket / Kuisioner Adalah teknik pengumpulan data dengan cara mempersiapkan daftar pertanyaan yang ada hubungan dengan masalah yang diteliti yang kemudian dibagikan kepada responden untuk diisi.2. dan sebagainya yang berkaitan dengan penelitian atau dengan mengambil dari sumber lain yang diterbitkan oleh lembaga yang dianggap kompeten. 2.B. Sampel Sampel adalah bagian populasi. Populasi dan Sampling 1. Data Sekunder Adalah data-data pendukung yang diperoleh dari buku-buku. pertimbangan berdasarkan konsep teoritis keingintahuan pribadi peneliti. karakteristik empiris dan lainnya (H. majalah. . 2002 : 185).30 .

2. Dummy flu burung (Dm) adalah persepsi responden tentang pengaruh penyakit flu burung terhadap usaha ayam potong. 5. 5. Definisi Variabel Definisi variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1.31 Selanjutnya dari seluruh populasi pengusaha ayam potong di Kota Jakarta Selatan diambil 100 pengusaha ayam potong yang tersebar di wilayah Kota Jakarta Selatan sebagai sample. Jumlah ayam yang terjual (X3) yaitu jumlah ayam yang terjual dalam satu bulan dan dinyatakan dalam satuan kilogram.2. .3. 4. Metode Analisa Data Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dan kualitatif.3. Biaya transportasi (X2) yaitu keseluruhan biaya yang dikeluarakan untuk memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lainnya dan dinyatakan dalam satuan ribu rupiah. 5. Dinyatakan dengan nilai “1” apabila flu burung dianggap berpengaruh dan diberi nilai “0” apabila flu burung dianggap tidak berpengaruh. Jumlah pesaing (X1) adalah jumlah pesaing usaha menurut persepsi sampel dan dinyatakan dalam satuan unit. 3. Pendapatan pengusaha ayam potong (Y) adalah pendapatan kotor atau besarnya rata – rata pendapatan yang diterima oleh pengusaha ayam potong sebelum dikurangi dengan total biaya operasional usaha dan dihitung dalam satuan Ribu rupiah.

2. Metode kuantitatif adalah metode yang disarankan pada dianalisis variabel-variabel yang dapat dinyatakan dengan jelas atau menggunakan rumus yang pasti yaitu: 5.32 1. DM) Dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi maka dapat ditarik suatu model ekonometrik sebagai berikut: Y = β0 + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + DM + e Keterangan: Y X1 X2 X3 Dm = Pendapatan Pengusaha Ayam Potong (Rp/Bulan) = Jumlah Pesaing (unit) = Biaya Transportasi (Rp/Bulan) = Jumlah ayam terjual (ekor) = Dummy Variabel 1 = Terpengaruh flu bururng 0 = Tidak terpengaruh flu burung . Model hubungan antara variabel independen dan variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut Y = f (X1. Metode Regresi Kuadrat Terkecil Analisis data yang dilakukan dengan Metode Regresi Kuadrat Terkecil/OLS (ordinary least square). serta teoriteori yang ada dengan masalah penelitian.3. X2. X3.1. dengan fungsi Produksi Cobb Douglass. Metode kualitatif adalah metode mengenai hal-hal yang berhubungan dengan penelitian terhadap pendapat dan tanggapan responden.

Estimasi model linier dan dapatkan nilai prediksinya (fitted value) dan selanjutnya dinamai F1. white and Davidson (MWD) yang bertujuan untuk menentukan apakah model yang akan di gunakan berbentuk linier atau log linier. 2. Persamaan matematis untuk model regresi linier dan regresi log linier adalah sebagai berikut : Linier Y = βo + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + dm X4+ e = βo + β1 lnX1 + β2 lnX2 + β3 lnX3 + dm X4+e Log Linier LnY Untuk melakukan uji MWD ini kita asumsikan bahwa Ho :Y adalah fungsi linier dari variabel independen X (model linier) Ha :Y adalah fungsi log linier dari varibel independen X (model log linier) Adapun prosedur metode MWD adalah sebagai berikut : 1. 3. Dapatkan nilai Z1 = ln F1-F2 dan Z2 = antilog F2-F1 4.2. β3. β2.3. Pemilihan Model Regresi Pemilihan model regresi ini menggunakan uji Mackinnon. Estimasi model log linier dan dapatkan nilai prediksinya.33 β0 β1. dan selanjutnya dinamai F2. β4 e = Konstanta regresi = Koefisien regresi = Kesalahan pengganggu 5. Estimasi persamaan berikut ini : Y = βo + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + dm X4 + β5 Z1 + e .

(Agus Widarjono .3. Uji t Statistik Uji t statistik melihat hubungan atau pengaruh antara variabel independen secara individual terhadap variabel dependen. 2005). 1. Jika Hipotesis positif Ho : βi ≤ 0 variabel independent tidak mempengaruhi variabel dependen secara signifikan Ha : βi >0 variabel independen mempengaruhi variabel dependen secara positif dan signifikan . Hipotesis yang digunakan : a.34 Jika Z1 signifikan secara statistik melalui uji t maka kita menolak hipotesis nul dan model yang tepat untuk digunakan adalah model log linier dan sebaliknya jika tidak signifikan maka kita menerima hipotesis nul dan model yang tepat digunakan adalah model linier 5. Uji Statistik Selanjutnya untuk mengetahui keakuratan data maka perlu dilakukan beberapa pengujian : (Gujarati. 5.3. Estimasi persamaan berikut : LnY = βo + β1 lnX1 + β2 lnX2 + β3 lnX3 + dm X4+ β5 Z1 + e Jika Z2 signifikan secara statistik malalui uji t maka kita menolak hipotesis alternatif dan model yang tepat untuk digunakan adalah model log linier dan sebaliknya jika tidak signifikan maka kita menerima hipotesis alternatif dan model yang tepat untuk digunakan adalah model linier. 2003) a.

Ho ditolak berarti variabel independen secara individu berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. Menentukan hipotesis H o : β1 = β 2 = β 3 = β 4 = 0 (tidak ada pengaruh yang signifikan dari variabel indipenden terhadap variabel dependen secara bersama – sama) H o : β1 ≠ β 2 ≠ β 3 ≠ β 4 ≠ 0 . Pengujian satu sisi Jika T table ≥ t hitung. b.35 b. Jika T table < t hitung. Uji F statistik Uji F digunakan untuk menghitung apakah model yang digunakan secara keseluruhan tepat digunakan dengan tingkat kepercayaan tertentu (Sritua Arief. 1993 : 13) Adapun langkah – langkah pengujian untuk uji f adalah sebagai berikut : 1. Jika Hipotesis negatif Ho : βi ≥ 0 variabel independent tidak mempengaruhi variabel dependen secara signifikan Ha : βi < 0 variabel independent mempengaruhi variabel dependen secara negatif dan signifikan 2. Ho diterima berarti variabel independen secara individual tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen.

. maka Ho ditolak berarti secara bersama – sama variabel independen secara signifikan mempengaruhi variabel dependen Apabila F-hitung < F-tabel maka Ho diterima yang berarti secara bersama – sama variabel independen secara signifikan tidak mempengaruhi variabel dependen. Pengambilan keputusan uji f Daerah Ho ditolak Apabila F-hitung > F-tabel. Perhitungan nilai F-tes: Fhitung = ( R 2 (k − 1) 1 − R 2 (N − k ) ) keterangan : k N R2 = jumlah variabel = jumlah sample = koefisien determinasi Daerah Ho diterima f-tabel 3.36 (ada pengaruh yang signifikan dari variabel indipenden terhadap variabel dependen secara bersama – sama) 2.

37 c. Semakin dekat R2 dengan 1. Apabila terjadi penyimpangan terhadap asumsi klasik tersebut uji t dan uji F yang dilakukan sebelumnya menjadi tidak valid dan secara statistik dapat mengacaukan kesimpulan a. Koefisien Determinasi (R2) Koefisien determinasi digunakan untuk menghitung seberapa besar varian dari variabel dependen dapat dijelaskan oleh variasi variabel-variabel independent. Nilai R2 paling besar 1 dan paling kecil 0 (0<R2<1). Bila R2 sama dengan 0 maka garis regresi tidak dapat digunakan untuk membuat ramalan variabel dependen. Multikolinearitas Pengujian multikolinearitas merupakan suatu keadaan dimana satu atau lebih variabel independen dapat dinyatakan sebagai kombinasi linear dari variabel lainya. dan hal ini menunjukan hasil estimasi keadaan yang sebenarnya.4. 5. sebab variabel-variabel yang dimasukan kedalam persamaan regresi tidak mempunyai pengaruh varian variabel dependen adalah 0. multikolinearitas. Pengujian Asumsi Klasik Pengujian ini dimaksudkan untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi. dan heterokedastisitas. Salah satu cara untuk mengetahui adanya multikolinearitas adalah dengan pengujian terhadap masing-masing variabel independen untuk mengetahui seberapa jauh korelasinya (r2) yang . maka semakin tepat regresi untuk meramalkan variabel dependen.

Nilai hitung statistik Chi-squares (χ2) dapat dicari dengan formula sebagai berikut: n R2 ≈ χ2df . Hipotesis nul dalam uji ini adalah tidak ada heteroskedastisitas. Metode yang digunakan untuk mendeteksi adanya heteroskedastisitas pada penelitian ini adalah pengujian White. Melakukan regresi pada persamaan berikut yang disebut regresi auxiliary b. Heteroskedastisitas Adanya heteroskedastisitas dalam model analisis mengakibatkan varian dan koefisien-koefisien OLS tidak lagi minimum dan penaksirpenaksir OLS menjadi tidak efisien meskipun penaksir OLS tetap tidak bias dan konsisten.38 dapat kemudian dibandingkan dengan R2 yang didapat dari hasil regresi secara bersama variabel independent dengan variabel dependen. b. Uji White didasarkan pada jumlah sampel (n) dikalikan dengan R2 yang akan mengikuti distribusi Chi-squares dengan degree of freedom sebanyak variabel independen tidak termasuk konstanta dalam regresi auxiliary. langkah pengujiannya antara lain: Estimasi persamaan model dan dapatkan residualnya. Jika r2 melebihi R2 pada model regresi maka dari hasil regresi tersebut terdapat multikolinearitas. sebaliknya apabila R2 lebih besar dari semua r2 maka ini menunjukan tidak terdapatnya multikolinearitas pada model regresi yang diuji. a.

R2) lebih besar dari nilai χ2 kritis dengan derajat kepercayaan tertentu (α) maka ada heteroskedastisitas dan sebaliknya jika Chi-squares hitung lebih kecil dari nilai χ2 kritis menunjukkan tidak adanya heteroskedastisitas c. 1 ≠J Secara sederhana dapat dikatakan model klasik mengasumsikan bahwa unsur gangguan yang berhubungan dengan observasi tidak dipengaruhi oleh unsur disturbansi atau gangguan yang berhubungan dengan pengamatan lain yang manapun (Gujarati. model linear klasik mengasumsikan bahwa autokorelasi seperti itu tidak terdapat dalam disturbansi atau gangguan Ui dengan menggunakan lambang: E (Ui Uj) = 0 . Dalam konteks regresi.1 STATISTIK DURBIN-WATSON autokorelasi Ragupositif ragu tidak ada autokorelasi raguragu autokorelasi negatif 0 dl du 2 4-du 4-dl 4 . Autokorelasi Autokorelasi dapat didefinisikan sebagai korelasi antar anggota serangkaian observasi menurut waktu. 2003) GAMBAR 5. Jika nilai Chi-squares hitung (n.39 c.

maka Ho diterima. berarti tidak terdapat autokorelasi.6 UJI STATISTIK DURBIN-WATSON Nilai Statistik 0<d<dl dl≤d≤du du≤d≤4-du 4-du≤d≤4-dl 4-dl≤d≤4 Hasil Menolak hipotesis nul. atau DW statistik > 4-DL. 2005) . tidak ada autokorelasi positif/negatif Daerah keragu-raguan.DU ≤ DW ≤ 4-DL. berarti dianggap tidak meyakinkan (Widarjono. dengan hipotesa sebagai berikut: 1) Jika nilai DW statistik < DL. ada autokorelasi Untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi digunakan Durbin Watson (DW test).1 berikut ini : TABEL 5. 3) Jika DL ≤ DW ≤ DU atau 4.40 Penentuan ada tidaknya autokorelasi dapat dilihat dalam gambar 5. tidak ada keputusan Menurut hipotesis nul. ada autokorelasi positif Daerah keragu-raguan. tidak ada keputusan Menolak negative hipotesis nul. maka Ho ditolak yang berarti terdapat autokorelasi 2) Jika nilai DU < DW < 4-DU.

Diskripsi Data Data yang diperoleh dalam penelitian ini merupakan data primer yang diperoleh dari sejumlah pengusaha ayam potong di Kota Jakarta Selatan melalui metode observasi. Dari seluruh populasi pengusaha ayam di Kota Jakarta Selatan diambil 100 pengusaha untuk dijadikan sample dengan karakterisrik responden sebagai berikut : a. Secara rinci jumlah responden yang dikelompokkan menurut jenis usaha disajikan dalam tabel 6. wawancara dan kuisioner sebagaimana disebutkan dalam bab sebelumnya. yaitu peternak. rumah potong dan penjual. Jenis Usaha Jenis usaha ayam potong bisa dibedakan menjadi 3. Hal tersebut bisa dimengerti dengan alasan bahwa peternakan membutuhkan lahan yang luas dan jauh dari pemukiman.1.41 BAB VI ANALISIS DATA 6.1 : . Sedangkan data primer menunjukkan 73 responden merupakan penjual dan sisanya adalah rumah potong. Namun hasil data primer menunjukkan bahwa di Kota Jakarta Selatan tidak terdapat peternakan ayam potong.

45 46 . Secara rinci jumlah responden yang dikelompokkan menurut umur disajikan dalam tabel 6.38 39 . Tingkat Pendidikan Menurut data primer yang diperoleh dari para dari pengusaha ayam potong di Kota Jakarta Selatan. Umur Data primer yang diperoleh dari pengusaha ayam potong di Kota Jakarta Selatan menunjukkan bahwa pengusaha ayam potong di Kota Jakarta Selatan paling banyak berusia antara 39 sampai umur 45 tahun yaitu sebesar 37% dan rata-rata pengusaha ayam potong berumur 39.2 Karakteristik Responden Menurut Umur Umur 18 .66 Sumber Data : Data Hasil survei.59 60 .52 53 .31 32 .69 tahun.24 25 . 2007 Jumlah responden 3 16 22 37 16 4 2 100 Persentase 3% 16% 22% 37% 16% 4% 2% 100% c. para pengusaha ayam potong paling .42 Tabel 6. Umur terendah 19 tahun sedangkan umur tertinggi 61 tahun.1 Karakteristik Responden Menurut Jenis Usaha Jenis Usaha Jumlah Peternakan 0 Rumah Potong 27 Penjual 73 Total 100 Sumber Data : Data Hasil survei.2 : Tabel 6. 2007 b.

34 tahun. dengan rata-rata lama usaha adalah 11.4. 2007 29 36 28 7 100 29% 36% 28% 7% 100% d. lama usaha dari para pengusaha ayam potong paling banyak antara 2 .3 Karakteristik Responden Menurut Tingkat Pendidikan Pendidikan terakhir Jumlah responden Persentase Sekolah dasar Sekolah Menengah Pertama Sekolah Menengah Atas Sarjana Total Sumber Data : Data Hasil survei. dan sebagian kecil tamatan perguruan tinggi yaitu sebesar 7 pengusaha atau sebesar 7% dari jumlah sample pengusaha ayam potong. paling sedikit antara 2629 tahun yaitu ada 3 pengusaha atau sebesar 3% . sebagai berikut : . Secara rinci lama usaha dalam menjalankan usaha ayam potong ditunjukkan pada tabel 6. Secara rinci jumlah responden menurut tingkat pendidikan ditunjukkan pada tabel 6.43 banyak berpendidikan tamatan SLTP yaitu sebesar 36% dari jumlah responden. Lama Usaha Menurut data primer yang diperoleh dari para pengusaha ayam potong di Kota Jakarta Selatan.5 tahun yaitu sebesar 27 pengusaha atau 27% dari total responden.3 sebagai berikut : Tabel 6.

2007 Persentase 27% 14% 22% 17% 12% 4% 4% 100% e.5. Prospek Usaha Kebanyakan pengusaha ayam potong mengeluhkan tentang lambatnya penanganan kasus flu burung sehingga banyak dari mereka merasa pendapatannya merosot dengan tajam. 2007 Persentase 85% 11% 2% 2% 100% f.9 11 10 .4 85 5 . 85 pengusaha ayam potong mempekerjakan 0 – 5 karyawan.19 2 Total 100 Sumber Data : Data Hasil survei.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Berusaha Lama Berusaha (tahun) Jumlah responden 2–5 27 6–9 15 10 – 13 22 14 – 17 17 18 – 21 12 22 – 25 4 26 – 29 3 Total 100 Sumber Data : Data Hasil survei.5 Karakteristik Sample Berdasarkan Jumlah Karyawan Jumlah Karyawan Jumlah responden 0 . Jumlah Pekerja Menurut data primer yang diperoleh dari para pengusaha ayam potong di Kota Jakarta Selatan. Flu burung dianggap telah mengurangi stok ayam sehat dan menurunnya minat . dengan rata-rata jumlah karyawan adalah 3 orang.44 Tabel 6. sebagai berikut : Tabel 6. Secara rinci karakteristik pengusaha ayam berdasarkan jumlah karyawan dalam menjalankan usaha ayam potong ditunjukkan pada tabel 6.14 2 15 .

Hasil estimasi dari uji MWD dapat dilihat di bawah ini: Tabel 6. peneliti akan menggunakan uji MacKinnon. . 6.658 1.2.1771 Sumber: Data diolah dengan Eviews (lampiran) Berdasarkan dari hasil regresi di atas. Pemilihan Model Regresi Spesifikasi model untuk menentukan bentuk suatu fungsi suatu model empirik dinyatakan dalam bentuk linier ataukah nonlinier dalam suatu penelitian.45 masyarakat untuk mengkonsumsi. sehingga para pengusaha sulit menentukan harga jual.linier). Hal tersebut diperparah dengan tingginya harga ayam potong pada saat masyarakat banyak yang takut mengkonsumsi ayam potong akibat flu burung.359798 Probabilitas 0.0000 0.6 Hasil Uji MWD Nilai Tabel t α (=5%) 1. Dalam penelitian kali ini.46416 -1. maka dalam penelitian ini juga akan dilakukan uji tersebut. Namun ada juga yang merasa bahwa usaha ayam potong ini masih menguntungkan karena mereka merasa kasus flu burung tidak mempengaruhi pendapatan mereka.658 Variabel Z1 Z2 Nilai Statistik t 13.1. Davidson (MWD test). White. maka dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan uji MWD ditemukan adanya perbedaan antara kedua bentuk fungsi model empiris (linier dengan log .2 Analisis Hasil Regresi dan Pengujian Hipotesis 6.

051521Dm + E (16.033245 LogX 1 − 0.308057 − 0.2.3634 Durbin-Watson stat 1.0113 0.051521 C 3.582334 0.058022 Sum squared resid 0.593124 Akaike info criterion -2.7 Hasil Regresi LogLinear Dependent Variable: LOG(Y) Method: Least Squares Date: 09/26/07 Time: 14:07 Sample: 1 100 Included observations: 100 Variable Coefficient LOG(X1) -0.677009 F-statistic 2562.102368 0.033245 LOG(X2) -0.000000 Sumber: Data diolah dengan Eviews (lampiran) Dari hasil regresi tersebut di atas dapat dihasilkan persamaan regresi sebagai berikut : LogY = 3.328768 0.E.018464 51.2.807267 Schwarz criterion -2.53334 ) (−2.956544 DM -0.319827 Log likelihood 145.521 X1 adalah jumlah pesaing usaha menurut persepsi sampel (Unit usaha) .D.56886 S.80643) (-2.015466 -0.902686 Std.956544 LogX 3 − 0.990817 Adjusted R-squared = 0. of regression 0.46 Dengan derajat kepercayaan 95% ( α = 5%) bentuk fungsi model empiris linier tidak bisa digunakan untuk analisis karena Z1 signifikan sedangkan untuk log linear bisa digunakan untuk analisis karena Z2 tidak signifikan secara statistik. 6.308057 R-squared 0.990817 Adjusted R-squared 0.328768 ) (-0.0000 Mean dependent var 10. dependent var 0.582334 ) R-squared = 0.102368 ) ( 51.0000 0.001583LogX 2 + 0.019951 -2.521 Prob(F-statistic) 0. Hasil Regresi Tabel 6.001583 LOG(X3) 0. 0.80643 0. Error t-Statistic Prob.990430 F-statistic Di mana : Y adalah rata – rata pendapatan kotor pengusaha ayam potong (Rupish/bulan) = 2562.0220 0.200084 16.53334 0.9187 0.990430 S.014276 -2.

pada dasarnya isi dari metode tersebut adalah penentuan normal melalui peminimuman jumlah error kuadrat.3 Analisisi Statistik Untuk menentukan parameter dalam model.2. Hal ini menunjukkan suatu hubungan negatif antara variabel independen dan variabel dependen (pendapatan pengusaha ayam potong) artinya jika terjadi peningkatan dalam jumlah pesaing. Hal ini menunjukkan suatu hubungan positif antara variabel independen dan variabel dependen (pendapatan pengusaha ayam potong) yang berarti jika terjadi peningkatan dalam . biaya transport dan pengaruh flu burung maka pendapatan pengusaha ayam potong akan menurun. 1. biaya transport dan dummy variabel flu burung mempunyai koefisien regresi negatif. metode yang digunakan adalah Ordinary Least Square (OLS). Dengan metode ini diharapkan dapat diperoleh penaksiran tidak bias linier terbaik (Best Linear Unbiased Estimator / BLUE).47 X2 adalah biaya transportasi perbulan (Rupiah/bulan) X3 adalah jumlah ayam terjual (Kilogram/bulan) Dm adalah dummy variabel pengaruh flu burung terhadap usaha menurut persepsi sample 6. Sedangkan variabel independen jumlah ayam terjual memiliki koefisien regresi positif. Uji Tanda Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan menunjukkan bahwa variabel independen yaitu jumlah pesaing.

48

jumlah ayam yang terjual maka pendapatan pengusaha ayam potong juga akan meningkat. 2. Pengujian Hipotesisi Secara Parsial Pengujian secara parsial dilakukan dengan menggunakan uji t statistik satu sisi terhadap masing-masing variabel independen, dari hasil pengujuan regresi didapat nilai t hitung dari masing-masing variabel independen untuk selanjutnya dibandingkan dengan nilai t tabel. Cara yang dilakukan untuk menentukan t tabel adalah : T tabel = α df (n-k) Di mana : α adalah tingkat signifikansi df adalah derajat bebas n adalah jumlah data k adalah jumlah variabel independen yang digunakan termasuk konstanta kemudian dicari pada tabel t Dengan demikian dapat ditentukan nilai t tabel yang dipakai dalam penelitian ini, dengan menggunakan tingkat signifikansi sebesar 0,05 dan derajat bebas (100-5) sebesar 95 maka nilai t tabel didapat 1,658. Apabila nilai t hitung > t tabel; maka variabel independen berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen, dan sebaliknya jika t hitung < t tabel; berarti variabel independen tidak signifikan mempengaruhi variabel dependen.

49

Dari hasil pengujian regresi didapat t hitung seperti tercantum dalam tabel berikut: Tabel 6.8 Nilai t Hitung Tiap Variabel Bebas
Variabel X1 X2 X3 Dm t-hitung |-2,328768| |-0,102368| 51,806434 |-2,582334| t-tabel |-1,658| |-1,658| 1,658 |-1,658| Keterangan Signifikan Tidak signifikan Signifikan Signifikan

Sumber : Data priner diolah 2.1 Uji t-Statistik terhadap variabel jumlah pesaing (β1) Hipotesanya Bila Ho : β1 ≤ 0 Variabel jumlah pesaing tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel pendapatan pengusaha ayam potong. Bila Ha : β1 > 0 Variabel jumlah pesaing berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap variabel pendapatan pengusaha ayam potong. Jika t hitung < t tabel, maka Ho diterima, berarti variabel independen secara individual tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Jika t hitung > t tabel, maka Ho ditolak, berarti variabel independen secara individual berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap variabel dependen.

50

Derajat kebebasan α = 0,05 dan df = 95 (100 - 5) Nilai t tabel = 1,658 ; t hitung = -2,328768 Karena nilai t hitung > t tabel atau │-2,328768 │> │-1,658│ maka Ho ditolak, sehingga jumlah pesaing berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pendapatan pengusaha ayam potong. Gambar 6.1 Kurva Uji t-Statistik Variabel Jumlah Pesaing

Daerah Ho ditolak

Daerah Ho diterima │-1,658│

│-2,328768│

2.2 Uji t-Statistik terhadap variabel biaya transportasi (β2) Hipotesanya Bila Ho : β2 ≤ 0 Variabel biaya transportasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel pendapatan pengusaha ayam potong. Bila Ha : β2 > 0 Variabel biaya transportasi berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap variabel pendapatan pengusaha ayam potong. Jika t hitung < t tabel, maka Ho diterima, berarti variabel independen secara individual tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

3 Uji t-Statistik terhadap variabel jumlah ayam terjual (β3) Hipotesanya Bila Ho : β3 ≤ 0 Variabel jumlah ayam terjual tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel pendapatan pengusaha ayam potong.102368│ 2.658│ │-0. t hitung = -0. .102368 Karena nilai t hitung < t tabel atau │-0. maka Ho ditolak. sehingga biaya transportasi berpengaruh secara negatif namun tidak signifikan terhadap pendapatan pengusaha ayam potong.05 dan df = 95 (100-5) Nilai t tabel = 1.658 │ maka Ho ditolak. Gambar 6. berarti variabel independen secara individual berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap variabel dependen.2 Kurva Uji t-Statistik Variabel biaya transportasi Daerah Ho ditolak Daerah Ho diterima │. Derajat kebebasan α = 0.51 Jika t hitung > t tabel.658 .102368│ < │ -1.1.

Derajat kebebasan α = 0.80643 Karena nilai t hitung > t tabel atau 51.80643 > 1. Jika t hitung > t tabel. sehingga jumlah ayam terjual berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan pengusaha ayam potong. berarti variabel independen secara individual tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.658 maka Ho ditolak.52 Bila Ha : β3 > 0 Variabel jumlah ayam terjual berpengaruh secara positif dan signifikan pengusaha ayam potong.05 dan df = 95 (100-5) Nilai t tabel = 1.8064 .658 Daerah Ho ditolak 51. Jika t hitung < t tabel. berarti variabel independen secara individual berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap variabel dependen. maka Ho diterima.3 Kurva Uji t-Statistik Variabel Jumlah Ayam Terjual terhadap variabel pendapatan Daerah Ho diterima 1. t hitung = 51. maka Ho ditolak.658 . Gambar 6.

sehingga jumlah pesaing berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pendapatan pengusaha ayam potong. Derajat kebebasan α = 0.4 Uji t-Statistik terhadap variabel dummy variabel pengaruh flu burung (β4) Hipotesanya Bila Ho : β4 ≤ 0 Variabel pengaruh flu burung tidak berpengaruh terhadap variabel pendapatan pengusaha ayam potong.582334 Karena nilai t hitung > t tabel atau │-2. t hitung = -2.658 . Jika t hitung < t tabel. maka Ho diterima.582334│ >│-1.05 dan df = 95 (100-5) Nilai t tabel = 1. berarti variabel independen secara individual tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.53 2.658│ maka Ho ditolak. Jika t hitung > t tabel. . berarti variabel independen secara individual berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap variabel dependen. Bila Ha : β4 > 0 Variabel pengaruh flu burung berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap variabel pendapatan pengusaha ayam potong. maka Ho ditolak.

4 Kurva Uji t-Statistik Variabel Dummy Daerah Ho ditolak Daerah Ho diterima │-1. (Gujarati.4. tetapi jika F-tabel ≥ F-hitung berarti Ho diterima atau variabel independen secara bersama-sama tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. 2003) F-hitung = R 2 /(k − I ) (1 − R 2 ) /(n − k ) F-tabel = ( α : k-1. n-k ) α = 5 %.5 = 95 ) Jika F-tabel < F-hitung berarti Ho ditolak atau variabel independen secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel independen. 100 . ( 5 .582334│ 6. Pengujian F-statistik ini dilakukan dengan cara membandingkan antara F-hitung dengan F-tabel.2. .658│ │-2.54 Gambar 6.1= 4 . Uji F-Statistik Uji F-statistik digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel independent secara bersama-sama terhadap variabel dependen.

biaya transportasi dan jumlah ayam terjual serta dummy ) variabel adanya flu burung mampu menjelaskan variasi total variabel dependen (pendapatan . Perbandingan antara F-hitung dengan F-tabel yang menunjukkan bahwa F-hitung > F-tabel.53 ( α = 0.521 sedangkan F-tabel = 2. 4. biaya transportasi (X2) dan jumlah ayam terjual (X3) serta dummy variabel flu burung secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap pendpatan pengusaha ayam potong. sehingga bahwa variabel jumlah pesaing (X1). Ha : β1 ≠ β2 ≠ β3 ≠ 0. berarti variabel independen secara keseluruhan tidak berpengaruh terhadap variabel independen. berarti variabel independen secara keseluruhan berpengaruh terhadap variabel independen.05 . 95).55 Hipotesis yang digunakan adalah : Ho : β1 = β2 = β3 = 0.990817 artinya variabel independen (jumlah pesaing.sehingga F-hitung > Ftabel (2562. Hasil perhitungan yang didapat adalah F-hitung = 2562.2. Penaksiran Koefisien Determinasi (R²) Untuk mengukur koefisien garis regresi dengan sebaran data/dengan kata lain R² digunakan untuk mengukur proporsi/prosentase dari variasi total variabel dependen yang mampu dijelaskan oleh model regresi yang diperoleh.53 ).5. Dari hasil R² 0. menandakan bahwa variabel independen secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. 6.521 > 2.

Pengujian Asumsi Klasik Adanya penyimpangan terhadap asumsi klasik tersebut di atas akan menyebabkan uji statistik (uji t-statistik dan f-statistik) yang dilakukan menjadi tidak valid dan secara statistik akan mengacaukan kesimpulan yang diperoleh. 6.. -hitung sehingga χ2 < χ2 –tabel (18. Perbandingan antara χ2 -hitung dengan χ2 –tabel. Uji Hipotesis untuk menetukan ada tidaknya heterokedastisitas. Dapatkan nilai R2 untuk menghitung χ2.α = 0. yang menunjukkan bahwa χ2 -hitung < .05 ). Ada heterokedastisitas Hasil perhitungan yang didapat adalah Obs*R square ( χ2 hitung - ) = 18.6848 ( df =14 . Uji Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas adalah keadaan dimana faktor gangguan tidak memiliki varian yang sama. 6.56 pengusaha ayam potong) sebesar 99. Pengujian terhadap gejala heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melakukan White Test. variabel bebas kuadrat dan perkalian variabel bebas.3...08 % sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain.1. Ho : ρ1 = ρ2 = ..37865 sedangkan χ2 -tabel = 23.3. Tidak ada heterokedastisitas Ha : ρ1 ≠ ρ2 ≠.6848).≠ ρq ≠ 0 . yaitu dengan cara meregresi residual kuadrat ( Ui2 ) dengan variabel bebas.37865 < 23. di mana χ2 = Obs*R square (Gujarati.= ρq= 0 ... 2003).

004319 0.004381 0. berarti Ho tidak dapat ditolak.37865 Probability Probability 0.137812 Mean dependent var S. Dari hasil uji White Test tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada heterokedastisitas Tabel 6.735906 1.8471 0.9 Hasil Uji White Test White Heteroskedasticity Test: F-statistic Obs*R-squared 1.004219 0.060405 0.137812 0.003192 -0.002578 0.913996 -1.489584 18.0641 0. Error 0.143664 Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 09/26/07 Time: 14:03 Sample: 1 100 Included observations: 100 Variable C LOG(X1) (LOG(X1))^2 (LOG(X1))*(LOG(X2)) (LOG(X1))*(LOG(X3)) (LOG(X1))*DM LOG(X2) (LOG(X2))^2 (LOG(X2))*(LOG(X3)) (LOG(X2))*DM LOG(X3) (LOG(X3))^2 (LOG(X3))*DM DM R-squared Adjusted R-squared S.005909 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Sumber: Data diolah dengan Eviews (lampiran) .050545 0.004353 -7.002221 0.57 χ2 –tabel.183787 0.002844 -3.070736 t-Statistic 0.398615 -0.3627 0.003753 0.D.193424 -0.003993 0.113071 1.9811 0.276980 Prob.584615 0.04E-06 -0.2729 0.4569 2.003541 0.001476 0.019593 0.915025 1.001531 412.003198 0.436123 0.604414 1.7825 0.969138 -7.008089 0.480069 0.1425 0.875308 -0.002518 0.E.103365 -0.068406 0.045411 0.3700 0.039991 0.001565 -0.000704 -0.054496 0.5603 0.489584 0.004166 -0.393254 0.3633 0.2688 0.002752 0.901244 -0.4638 0.040104 0.000104 -0. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 0. 0.9994 0.6951 0.046813 Std.023758 -0.

Ho : ρ1 = ρ2 = .. apalagi jika sampel yang digunakan dalam jumlah yang besar (misalnya diatas 100). Uji Autokorelasi Secara harfiah autokorelasi berarti adanya korelasi antara anggota observasi satu dengan observasi lain yang berlainan waktu.. Uji Lagrange Multiplier ( LM Test ). .2. -hitung sehingga χ2 < χ2 –tabel (6. yang menunjukkan bahwa χ2 -hitung < χ2 –tabel.dimana uji LM Test bisa dikatakan sebagai uji autokorelasi yang paling akurat ( Kuncoro.586913< 7. Dalam kaitannya dengan asumsi OLS. Pengujian terhadap gejala autokorelasi dapat dilakukan dengan uji DurbinWatson atau dengan uji LM Test yang dikembangkan oleh Brueschgodfrey.586913 sedangkan χ2 -tabel = 7.= ρq= 0 .≠ ρq ≠ 0 . Dari hasil uji LM tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada autokorelasi. Perbandingan antara χ2 -hitung dengan χ2 –tabel. Tidak ada autokorelasi Ha : ρ1 ≠ ρ2 ≠. Ada autokorelasi Hasil perhitungan yang didapat adalah Obs*R square ( χ2 hitung - )= 6.α = 0.81473 )...3..81473 ( df = 3 .58 6.. Uji Hipotesis untuk menetukan ada tidaknya autokorelasi. Uji ini dilakukan dengan memasukkan lagnya.05 ). autokorelasi merupakan korelasi antara satu residual dengan residual yang lain. berarti Ho tidak dapat ditolak. dari hasil uji autokorelasi Serial Correlation LM Test Lag. 2001 : 107).

10 Hasil Uji LM Test Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic Obs*R-squared 2.7147 0.056838 -2.312786 -1.005873 Std.59 Tabel 6.586913 Probability Probability 0. Error 0.002392 0.105833 0.606992 0.7703 2.007340 -0.018754 0.8665 0.29E-15 0.815406 -2.D.102204 0.1248 2.015499 0. 0.8297 0.366678 -0.7036 0.014184 0.381626 0.162424 6. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Sumber: Data diolah dengan Eviews (lampiran) 6.086297 Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 09/26/07 Time: 14:04 Variable LOG(X1) LOG(X2) LOG(X3) DM C RESID(-1) RESID(-2) RESID(-3) R-squared Adjusted R-squared S.201284 0.105188 t-Statistic 0.871616 -1.7552 0. Uji Multikolinieritas Multikolinieritas adalah hubungan yang terjadi diantara variabel-variabel independen atau variabel independen yang satu fungsi dari variabel independen yang lain. .020019 0.065869 -0. Pengujian terhadap gejala multikolinieritas dapat dilakukan dengan membandingkan koefisien determinasi parsial (r2) dengan koefisien determinasi majemuk (R2).926753 0.005206 0.056986 0.191287 -0.6381 0.215741 0.3.298761 148.548951 Prob.489770 Mean dependent var S.471991 0.095004 0.097786 0.168632 0.0644 0.033103 -0.162931 0. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 0.003344 0.007157 0.3. jika r2 lebih kecil dari R2 maka tidak ada multikolinieritas.E.

Artinya setiap adanya penambahan jumlah pesaing 1 persen maka pendapatan pengusaha .990817 Tidak ada multikolinieritas 0.376075 0.990817 Tidak ada multikolinieritas 0. DM X2 dengan X1.11 Hasil Pengujian Multikolinearitas Variabel X1 dengan X2.056871 0.4. DM DM dengan X1. 6.4.623095 0.033245 berarti sesuai dengan hipotesa awal.990817 0. 6. X3. X2. Pembahasan Hasil Analisis Hasil estimasi dan pengujian asumsi klasik yang telah dilakukan ternyata hasil estimasi pendapatan pengusaha ayam potong tidak terdapat Multikolinieritas. DM X3 dengan X1. X2. X3.60 Tabel 6. X3 r2 R2 Keterangan Tidak ada multikolinieritas 0. Heteroskedastisitas dan Autokorelasi sehingga hasil dari pengujian tersebut dapat diaplikasikan lebih lanjut.990817 Tidak ada multikolinieritas Sumber: Data diolah dengan Eviews (lampiran) Hasil dari uji klien diatas menunjukkan bahwa tidak terdapat multikolenieritas dimana seluruh nilai r2 lebih kecil dibandingkan nilai R2.709709 0.1. Jumlah Pesaing (X1) Variabel jumlah pesaing (X1) secara statistik berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pendapatan pengusaha ayam potong sebesar 0.

hal tersebut berarti biaya transportasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan pengusaha ayam potong. Hal yang kemudian mungkin terjadi adalah perang harga yang berarti pengurangan laba bersih. Hal ini cukup beralasan karena dengan bertambahnya jumlah pesaing akan mengakibatkan perebutan konsumen yang sama. Kebanyakan pengusaha berupaya mencari ayam potong dari dalam kota sehingga biaya transportasi tidak terlalu tinggi . Hal tersebut bisa dijelaskan dengan dengan beberapa alasan: 1. 2.61 ayam potong akan turun sebesar -0. Mungkin perlu ada penetapan harga sehingga sesama pengusaha ayam potong tidak harus saling menjatuhkan dan laba bersih masih dapat dipertahankan atau malah ditingkatkan. Sebagian besar biaya transportasi sudah ditanggung oleh pengusaha di atasnya seperti biaya transportasi penjual yang ditanggung oleh rumah potong.4.033245 persen. Kenaikan biaya transportasi masih bisa ditutupi dengan menaikkan harga jual ayam potong.2. 6. Biaya Transportasi (X 2 ) Variabel biaya transportasi (X 2 ) secara statistik negatif dan tidak signifikan dan berbeda dengan hipotesa awal. Hal ini menunjukkan bahwa adanya jumlah pesaing akan mengakibatkan adanya penurunan jumlah pendapatan pengusaha ayam potong di Kota Jakarta Selatan. 3.

4. Beberapa jalan yang dapat ditempuh adalah memperluas pasar dengan membuka cabang di tempat lain.62 6. hal tersebut menunjukkan bahwa banyaknya jumlah ayam terjual berpengaruh terhadap pendapatan pengusaha ayam potong sebesar 0. Jumlah Ayam Terjual (X3) Variabel jumlah ayam terjual (X3) secara statistik positif signifikan dan sesuai dengan hipotesa awal. Dengan semakin banyaknya jumlah ayam yang terjual maka pendapatan pengusaha ayam akan meningkat. 6. usaha meyakinkan konsumen yang sama untuk mengkonsumsi ayam potong lebih banyak atau bila perlu dengan periklanan.3. Flu burung merupakan penyakit yang sangat merugikan bagi pengusaha ayam potong. Artinya setiap penambahan jumlah ayam yang terjual sebesar 1 persen mengakibatkan kenaikan pendapatan pengusaha ayam potong sebesar 0.4. Variabel Dummy Flu Burung (dm) Variabel dummy pengaruh flu burung (dm) secara statistik negatif signifikan dan sesuai dengan hipotesa awal. Walaupun dalam prakteknya hal tersebut sulit karena penjualan ayam potong sangatlah bergantung pada demand pasar. .4.956544 persen.956544. Peningkatan pendapatan akan dapat dicapai bila mampu meningkatkan jumlah ayam yang terjual. hal tersebut menunjukkan bahwa adanya flu burung berpengaruh terhadap penurunan pendapatan pengusaha ayam potong.

namun masyarakat yang takut mengkonsumsi ayam potong akan menurunkan jumlah permintaan. . Oleh karena itu hal yang harus dilakukan adalah pemberatasan flu burung. jika ayam mereka terkena flu burung maka ayamayam tersebut akan mati menimbulkan kekhawatiran pada masyarakat ataupun distributor. diharapkan pendapatan pengusaha ayam potong bisa ditingkatkan atau minimal kembali seperti semula sebelum adanya flu burung.63 Ditingkat peternak. Meskipun ayam – ayam yang mati tersebut tidaklah terlalu banyak sehingga pendapatan berkurang drastis. pelaksanaan langkah – langkah untuk mengurangi penyebaran dan usaha penyuluhan agar masyarakat sadar bahwa virus flu burung bisa dihindari penularannya terhadap manusia dengan beberapa cara seperti mencuci tangan dengan sabun atau memasak daging ayam dengan suhu 80 0 selama minimal 1 menit. Jika langkah – langkah tersebut berhasil dijalankan pemerintah ataupun pengusaha ayam potong sendiri. belum lagi dinas kesehatan yang kemungkinan besar akan ngotot untuk memusnahkan seluruh stok ayam yang dikuatirkan telah terjangkit virus flu burung.

Variabel dependen yaitu pendapatan pengusaha ayam potong ternyata dipengaruhi oleh variabel independen yaitu jumlah pesaing. jumlah ayam yang terjual dan pengaruh flu burung mempunyai nilai yang sangat signifikan dalam hasil perhitungan regresi. Sedangkan 0.1 KESIMPULAN Berkaitan dengan penelitian tentang analisis pendapatan pengusaha ayam potong dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Sedangkan . Pernyataan ini kemudian diperkuat dengan R 2 yang diperoleh sebesar 0. Variabel jumlah pesaing. 2.990817 yang berarti 99.BAB VII KESIMPULAN DAN IMPLIKASI 7. yang berarti tingkat pendapatan seorang pengusaha ayam potong sangat dipengaruhi oleh kombinasi ketiga faktor tersebut. jumlah ayam terjual dan pengaruh flu burung menjelaskan variasi pendapatan pengusaha ayam potong. jumlah ayam terjual dan pengaruh flu burung.0817% variasi variabel jumlah pesaing. Hal ini dibuktikan dari hasil uji F. jumlah ayam yang terjual dan pengaruh flu burung. Besar kecilnya tingkat pendapatan tergantung pada proporsi besar kecilnya jumlah pesaing.9183% dijelaskan variabel lain diluar model. yang berarti bahwa secara keseluruhan terdapat hubungan yang signifikan antara seluruh variabel independen dengan variabel dependen . dimana nilai Fhitung yang diperoleh lebih besar daripada nilai Ftabel. biaya transport. biaya transport.

2. . implikasi kebijaksanaan berkaitan dengan hasil penelitian adalah : 1. inovasi produk. Menentukan strategi untuk memenangkan persaingan dengan pengusaha ayam potong lainnya seperti dengan menjaga atau meningkatan kualitas ayam yang dijual. potongan harga. atau bahkan periklanan. Untuk meningkatkan pendapatan pengusaha ayam potong. maka perlu dibentuk suatu paguyuban yang mampu menentukan standar kualitas ayam potong dan minimal harga jual sehingga sesama pengusaha ayam potong tidak perlu saling menjatuhkan. 7. hal yang harus dilakukan adalah menambah jumlah ayam potong yang terjual dengan cara mencari pasar baru untuk menjual ayam potong tersebut atau dengan usaha meningkatkan konsumsi konsumen yang sudah ada. kebanyakan biaya transport yang ditanggung oleh pengusaha diatasnya (seperti barang yang dikirim oleh pemotong kepada para penjual) dan relatif dekatnya lokasi pengambilan barang dagangan.untuk variabel biaya transport tidak mempunyai pengaruh yang begiru besar terhadap pendapatan pengusaha ayam potong dikarenakan kenaikan biaya transport masih bisa ditutupi oleh hasil penjualan. Mengingat pengurangan jumlah pesaing tidak dapat dikurangi.2 IMPLIKASI Berdasarkan kesimpulan yang dikemukakan diatas. menyediakan barang yang lebih murah dengan kualitas di bawah atau hampir sama dengan barang yang lebih mahal.

. sosialisasi terhadap masyarakat bahwa virus flu burung bisa dimatikan dengan cara-cara tertentu sehingga masyarakat tidak perlu merasa khawatir untuk mengkonsumsi ayam potong sehingga pendapatan pengusaha ayam potong akan kembali normal dan meningkat. Secepatnya melakukan pemberantasan terhadap flu burung sehingga stok ayam akan kembali normal.3.

Yogyakarta. Jakarta Selatan dalam angka 2005. Yogyakarta. “Peluang dan Tantangan Industri Peternakan”. UMM Press. Analisis Ekonomi Mingguan Charoen Pokphand Indonesia.Faisal. Universitas Hassanudin M. Jakarta. 2001 Ikrar Moh. Edisi Ketiga. 2002. Sebelas Maret University Press.DAFTAR PUSTAKA Agus Widarjono. 2002 Ibnu Edy Wiyono. 1998 Badan Pusat Statistik. "Analisis Variabel-variabel yang Mempengaruhi Peningkatan Pendapatan Peternak Ayam Pedaging/potong studi di Desa Blabak. 1 Oktober 2007. 1998 H. Saleh. Kecamatan Kandat. Ekonisia. Edisi Kelima. 1993 Damodar Gujarati. Metode Riset Bisnis. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta Husain Umar. (2007). Kabupaten Kediri Jawa Timur”. Universitas Muhammadiyah Malang Nawawi dan Martina. Laporan penelitian lembaga penelitian UMM (Tidak dipublikasikan). BPFE. 2006 Basu Swasta. Penelitian Terapan.cp. diambil dari http://www. Ekonometrika Dasar. 2005 Ari Sudarman. “Analisis Efisiensi Finansial Peternakan Ayam Broiler Pada Berbagai Skala Usaha Di Kecamatan Pallangga Kabupaten Gow”a.co. Yogyakarta. UGM Press. BPS DKI Jakarta. (2000). Ekonometrika: Teori dan Aplikasi untuk Ekonomi dan Bisnis. Erlangga. Laporan Penelitian UNHAS (Tidak dipublikasikan).Sutopo. Pengantar Ekonomi Mikro. (2005). Edisi Ketiga. BPFE. Teori Ekonomi Mikro. Yogyakarta. Gramedia Pustaka Jakarta. Manajemen Penjualan. 1994 .id Ida Nuraini.

New Jersey. Bandung. Pengantar TE Mikro Ekonomi. Erlannga. Kadarusman. Penerbit Universitas Indonesia. Pearson Education Inc. Edisi Kedua. Raja Grafindo Persada. BPFE. Jakarta. Jakarta. Mikro Ekonomi. 2003. 1996 Sritua Arif. Tarsito. Pengantar Penelitian Ilmiah.Paul A. 1990 . 2006 Sadono Sukirno. Nordhaus. Metodologi Penelitian Ekonomi. 1995 Philip Kotler and Kevin Lane Keller. Yogyakarta Surakhmad dan Winarno. 1993. Samuelson dan William D. Jakarta Sri Adiningsih & YB. Marketting Management. Teori Ekonomi Mikro.

. . Nama / umur 2. 10. . . . Terpengaruh b. penjual 7. . . . . . berapakah jumlah pesaing anda (unit)? . . . Berapakah rata – rata pendapatan perbulan dari usaha ayam potong tersebut (Rp/bulan) ? . .. Jumlah karyawan / pekerja . . . Di tempat anda berjualan / menjalankan usaha ayam potong. . Nama yang digunakan untuk usaha anda : 5.DAFTAR PERTANYAAN 1. . . . . . . . orang 7.. Peternak b. . .. . . . Berapakah rata – rata penjualan ayam potong dalam satu bulan (Kg/bulan) ? . .. . . . apakah usaha anda terpengaruh oleh adanya kasus flu burung ? a. .. . rumah potong c.. . Alamat : : : / th 4. 11. Berapakah rata – rata biaya transportasi yang dikeluarkan untuk menjalankan usaha anda (Rp/bulan) ? . Sampai saat ini anda sudah menjadi pengusaha ayam potong selama .. . . . . 8.th 6. Tidak terpengaruh 12. . . . . . 9. Menurut anda bagaimanakah prospek usaha ayam potong untuk saat ini dan untuk masa yang akan datang ? . . . . . . . . . Menurut anda. . . . . Pendidikan terakhir 3. . . Jenis usaha ayam potong a. .

Data Hasil Penelitian obs 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Y 76500 108000 19200 34500 32000 27000 51000 120000 27000 64800 12750 122400 57600 28800 42000 15000 40000 26350 12600 85000 18000 20800 37800 59500 64000 43200 32400 25500 48000 36000 22100 28800 36000 21600 12000 30600 41400 63750 34000 51000 40000 38000 30400 34000 51000 80000 40000 16200 34000 24000 X1 35 20 45 40 35 43 21 15 35 25 45 15 25 30 35 40 25 32 45 15 35 37 52 21 18 35 10 27 10 30 21 24 18 14 23 12 21 9 30 31 6 11 10 20 8 15 25 52 35 30 X2 3800 3100 4500 3400 5300 5500 4500 3500 5900 2500 3200 2500 4300 5500 4300 1500 5200 5000 1500 2500 3900 2500 4500 3500 4500 4500 6000 3200 5000 3200 2500 4500 4000 2800 3100 4500 3400 1500 3300 5000 6000 2400 2200 3200 6000 2600 6000 1500 4400 5450 X3 4500 6000 1200 2300 2000 1500 3000 7500 1800 3600 750 7200 3200 1800 3000 1000 2500 1550 700 5000 1200 1300 2100 3500 4000 2700 1800 1500 3000 2000 1300 1600 2250 1200 750 1800 2300 3750 2000 3000 2500 2000 1900 2000 3000 5000 2500 900 2000 1500 DM 0 0 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 .

51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100

51000 135000 30600 61200 29750 115200 60800 28800 51000 17000 40000 24800 21600 39100 34000 22500 48000 135000 30600 57600 12000 129600 22100 33600 63000 68000 48600 30600 25500 54000 32000 18200 45000 120000 30600 64800 12750 122400 22100 33600 56000 36000 51000 80000 42500 16200 36000 25500 48000 127500

32 8 25 10 35 12 25 30 24 45 35 46 49 14 15 42 22 13 25 24 51 10 24 32 15 12 10 40 35 25 32 48 23 15 35 25 53 15 42 25 30 25 23 30 15 47 30 43 24 10

3200 3900 3500 2800 4500 2000 2500 4500 3500 3500 3700 3000 2000 3600 1200 3450 3350 2000 3900 3400 1500 3500 2100 1500 3400 3800 4600 2200 6000 2100 3400 1200 3450 2450 2000 3900 2100 3100 5350 4500 3200 2500 2650 3450 5500 3200 3400 5900 4300 3150

3000 7500 1800 3600 1750 7200 3200 1800 3000 1000 2500 1550 1200 2300 2000 1500 3000 7500 1800 3600 750 7200 1300 2100 3500 4000 2700 1800 1500 3000 2000 1300 3000 7500 1800 3600 750 7200 1300 2100 3500 2000 3000 5000 2500 900 2000 1500 3000 7500

0 0 1 0 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0

Keterangan Y = Pendapatan pengusaha ayam potong dalam ribu rupiah per bulan X1 = Jumlah pesaing dalam satuan unit X2 = Biaya transport per bulan dalam ribu rupiah per bulan X3 = Jumlah ayam terjual per bulan dalam satuan kilogram Dm = Dummy variabel (flu burung) 1 = terpengaruh flu burung 0 = tidak terpengaruh flu burung

LAMPIRAN II. HASIL REGRESI LINEAR
Dependent Variable: Y Method: Least Squares Date: 09/26/07 Time: 14:08 Sample: 1 100 Included observations: 100 Variable X1 X2 X3 DM C R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient -40.34925 -0.218784 16.52623 -1740.788 3879.796 0.991082 0.990707 2949.192 8.26E+08 -938.2578 1.996251 Std. Error 30.16101 0.241778 0.283248 969.3966 1983.490 t-Statistic -1.337795 -0.904896 58.34539 -1.795744 1.956045 Prob. 0.1842 0.3678 0.0000 0.0757 0.0534 46572.50 30592.76 18.86516 18.99541 2639.467 0.000000

Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic)

LAMPIRAN III. HASIL REGRESI LOGLINEAR
Dependent Variable: LOG(Y) Method: Least Squares Date: 09/26/07 Time: 14:07 Sample: 1 100 Included observations: 100 Variable LOG(X1) LOG(X2) LOG(X3) DM C R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient -0.033245 -0.001583 0.956544 -0.051521 3.308057 0.990817 0.990430 0.058022 0.319827 145.3634 1.902686 Std. Error 0.014276 0.015466 0.018464 0.019951 0.200084 t-Statistic -2.328768 -0.102368 51.80643 -2.582334 16.53334 Prob. 0.0220 0.9187 0.0000 0.0113 0.0000 10.56886 0.593124 -2.807267 -2.677009 2562.521 0.000000

Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic)

996793 1732.916 41282.LAMPIRAN IV.17980 -3.05E-07 0.142138 0.82E+08 -884.E. 0. HASIL MWD LINEAR Dependent Variable: Y Method: Least Squares Date: 09/26/07 Time: 14:07 Sample: 1 100 Included observations: 100 Variable X1 X2 X3 DM Z1 C R-squared Adjusted R-squared S.94736 -2.001470 0.01019 -0.50 30592.990994 0.5325 2.014217 0.46416 3.593124 -2.009 0.E. Error 0.053372 -1.020088 99.313658 146.76 17.000000 Mean dependent var S.221886 13. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) LAMPIRAN V.D.9241 0.0198 0.96696 6155.680763 -1. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient -40.81065 17.000000 Mean dependent var S.166403 569.0087 0.0000 0.258150 -1.3373 1.088359 Std. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) .990515 0. 0.650437 2068.506 2. Error 17.56886 0.3103 0.0262 0.1771 0.199329 t-Statistic -2.0000 0.485 0.0000 0.832947 Std.996955 0.64566 Prob.90 3732.255 t-Statistic -2.0019 46572.359798 16.015398 0.133 1165.50380 -1834.018395 0. HASIL MWD LOGLINEAR Dependent Variable: LOG(Y) Method: Least Squares Date: 09/26/07 Time: 14:02 Sample: 1 100 Included observations: 100 Variable LOG(X1) LOG(X2) LOG(X3) DM Z2 C R-squared Adjusted R-squared S.033716 -0.144994 16.057765 0.203149 Prob.0018 0.019909 9. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient -0.5159 3066.708 0.317965 0.806747 -2.71813 0.0000 10.955587 -0.095480 51.D.371603 -0.23E-06 3.

E.097786 0.014184 0.007157 0.018754 0.005206 0.298761 148.162931 0.LAMPIRAN VI.065869 -0.056986 0.312786 -1.548951 Prob.168632 0.007340 -0.489770 Mean dependent var S.105833 0.020019 0.29E-15 0.7036 0.586913 Probability Probability 0.366678 -0.6381 0.095004 0.471991 0.7147 0. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 0. 0.7552 0.D. Error 0.105188 t-Statistic 0.815406 -2.102204 0.003344 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) .005873 Std.191287 -0.1248 2.7703 2.215741 0. HASIL UJI LM UNTUK MENDETEKSI AUTOKORELASI Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic Obs*R-squared 2.606992 0.381626 0.8665 0.926753 0.015499 0.201284 0.871616 -1.056838 -2.162424 6.086297 Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 09/26/07 Time: 14:04 Variable LOG(X1) LOG(X2) LOG(X3) DM C RESID(-1) RESID(-2) RESID(-3) R-squared Adjusted R-squared S.8297 0.002392 0.0644 0.033103 -0.

3627 0.008089 0.489584 18.901244 -0.054496 0.045411 0.584615 0.2688 0.023758 -0.060405 0.7825 0.3700 0.489584 0.068406 0.4569 2.4638 0. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 0.004353 -7.003192 -0.143664 Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 09/26/07 Time: 14:03 Sample: 1 100 Included observations: 100 Variable C LOG(X1) (LOG(X1))^2 (LOG(X1))*(LOG(X2)) (LOG(X1))*(LOG(X3)) (LOG(X1))*DM LOG(X2) (LOG(X2))^2 (LOG(X2))*(LOG(X3)) (LOG(X2))*DM LOG(X3) (LOG(X3))^2 (LOG(X3))*DM DM R-squared Adjusted R-squared S.003993 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) .039991 0.393254 0.002752 0.183787 0.019593 0. 0.1425 0.003198 0.000704 -0.137812 0.001565 -0.001476 0.004166 -0.103365 -0.003541 0.004319 0.005909 0.000104 -0.5603 0.050545 0.004219 0.046813 Std.6951 0.9994 0.001531 412.735906 1.915025 1.969138 -7.040104 0.276980 Prob. Error 0.0641 0.002578 0.875308 -0.9811 0.LAMPIRAN VII.193424 -0. HASIL UJI WHITE UNTUK MENDETEKSI HETEROKEDASTISITAS White Heteroskedasticity Test: F-statistic Obs*R-squared 1.913996 -1.436123 0.37865 Probability Probability 0.002221 0.003753 0.604414 1.04E-06 -0.113071 1.E.2729 0.002518 0.398615 -0.3633 0.137812 Mean dependent var S.004381 0.070736 t-Statistic 0.480069 0.D.002844 -3.8471 0.

056871 0.376075 0. 0. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient -0.081931 7.07381 -43.000000 Mean dependent var S.136999 0.476402 -1.119511 0.631025 -0.171394 0.D.388242 0. Error 0.414820 16.040681 Std. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) .220196 0.2820 0.382887 14.063826 -5.0000 8.158598 t-Statistic -0.129935 Mean dependent var S.0000 3.061229 1.117235 1.232355 0.094203 0.517144 1.221442 19.356577 0.E.027398 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Dependent Variable: LOG(X2) Method: Least Squares Date: 09/26/07 Time: 14:05 Sample: 1 100 Included observations: 100 Variable LOG(X1) LOG(X3) DM C R-squared Adjusted R-squared S.110572 0.28821 0.944205 2.E.0283 0.141775 1.86174 1.094950 Prob.115226 0.279966 Prob.D.128381 1.007057 -0.51928 -51.85111 2. 0.0548 0. HASIL UJI KLIEN UNTUK MENDETEKSI MULTIKOLINEARITAS Dependent Variable: LOG(X1) Method: Least Squares Date: 09/26/07 Time: 14:05 Sample: 1 100 Included observations: 100 Variable LOG(X2) LOG(X3) DM C R-squared Adjusted R-squared S.006013 0.227291 5.0000 0.957022 1.9492 0.929615 0.162318 t-Statistic -0.285943 6.153391 8.107368 0. Error 0.397684 Std.9492 0.LAMPIRAN VIII.063826 1. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient -0.

0.23433 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) .064079 0.E.899524 t-Statistic -1.077152 0.078535 0.457742 -18.0000 0.D.072588 0.785037 0.000000 Mean dependent var S.700638 0.2820 0.296819 8.148327 0.0000 0. Error 0.13711 2.602742 0.679901 4.0000 0.0283 0.793855 8.90210 0.61033 11.105402 Std.17550 Prob.875286 -26.377229 0.D. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient -0.Dependent Variable: LOG(X3) Method: Least Squares Date: 09/26/07 Time: 14:06 Sample: 1 100 Included observations: 100 Variable LOG(X1) LOG(X2) DM C R-squared Adjusted R-squared S.083859 0.319521 Prob.623095 0.130296 Std.163038 -0.447789 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Dependent Variable: DM Method: Least Squares Date: 09/26/07 Time: 14:07 Sample: 1 100 Included observations: 100 Variable LOG(X1) LOG(X2) LOG(X3) C R-squared Adjusted R-squared S.611317 0.660000 0.074819 0.0000 7.586193 0.081931 2.320730 9.000000 Mean dependent var S.476402 1.709709 0.0548 0.476095 0.068883 0. 0.171839 -0.38945 2. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient -0.551996 52. Error 0.729124 t-Statistic -5.706949 78.749853 0.61033 5.0000 0.944205 -10.E.227291 -10.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful