Anda di halaman 1dari 12

Tinjauan Suicide dari Aspek Psikologis

Mutrarsi Suicide (selanjutnya disebut bunuh diri) a. Bunuh diri berhasil akan tetapi berdampak pada lingkungan b. Bunuh diri tidak berhasil percobaan bunuh diri berdampak pada diri dan lingkungan c. Percobaan bunuh diri berusaha berhasil d. Ciri: waktu, tempat, sarana Percobaan bunuh diri a. Pelagakan peragaan b. Kecelakaan - meninggal c. Pembunuhan disamarkan bunuh diri Definisi Bunuh diri adalah kematian yang ditimbulkan oleh diri sendiri dan disengaja. Edwin Schneidman menyatakan bahwa bunuh diri sebagai tindakan pembinasaan yang disadari dan ditimbulkan diri sendiri. Sedangkan percobaan bunuh diri didefenisikan sebagai tindakan mencelakai diri sendiri yang cukup serius sehingga membutuhkan pemeriksaan medis dan dilakukan dengan tujuan untuk mengakhiri hidup. Bunuh diri bukan suatu diagnosis atau penyakit, melainkan suatu perilaku atau satu bentuk atau cara menuju kematian. Bunuh diri biasanya merupakan jeritan minta tolong (cry for help) untuk melepaskan diri dari situasi yang tidak menyenangkan. Empat bentuk bunuh diri 1. Bunuh diri tipe histrionik atau tipe impulsif 2. Bunuh diri karena merasa tidak ada harapan 3. Bunuh diri karena halusinasi 4. Bunuh diri rasional Epidemologi Bunuh Diri Pria lebih banyak melakukan tindakan bunuh diri dibanding wanita tetapi lebih banyak wanita yang melakukan percobaan bunuh diri. Populasi bunuh diri memiliki dua puncak yakni kaum muda (15-35 tahun) dan lanjut usia (di atas 75 tahun). Ditinjau dari jenis pekerjaan dokter, dokter hewan, apoteker, ahli kimia dan petani memiliki angka bunuh diri lebih tinggi dibanding dengan rata-rata profesi lainnya.

Etiologi Bunuh Diri - Bunuh diri merupakan kombinasi kompleks antara faktor demografis, psikiatri, genetik, familial, kepribadian dan sosial. - Pada akhirnya tak ada seorang pun yang tahu mengapa manusia melakukan tindak bunuh diri. (Leenaars) Bunuh Diri Pada Pasien Psikiatri Risiko pasien psikitri melakukan bunuh diri 3-12 kali lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tidak menderita gangguan mental. Delapan sampai 10% kasus bunuh diri memberi peringatan atau tanda akan usahanya. Lima persen secara terbuka mengatakan bahwa mereka ingin mati. Self injury pada pasien psikiatri diperkirakan 50 kali lebih besar dibandingkan dengan populasi umum. Bunuh Diri pada Pasien Psikiatri Rawat Inap a. Pertimbangan rawat inap Pada diagnosis, keparahan depresi dan gagasan bunuh diri, kemampuan pasien dan keluarga untuk mengatasi masalah, situasi hidup pasien dan tersedianya dukungan sosial. b. Indikasi untuk rawat inap Tidak adanya sistem pendukung sosial yang kuat, suatu riwayat perilaku impulsif dan rencana tindakan bunuh diri. Penelitian yang dilakukan oleh Oxford Record Linkage Study mengenai lima faktor prediksi pada pasien psikiatri rawat inap: 1. percobaan bunuh diri yang telah direncanakan dan percobaan bunuh diri yang telah dilakukan namun gagal 2. kehilangan yang baru terjadi 3. waham 4. penyakit mental kronis 5. riwayat bunuh diri dalam keluarga Faktor Risiko Bunuh diri Pasien Psikiatri di Rawat Inap 8-10% ada peringatan, 5% depresi kelelahan tersedia alat-alat untuk bunuh diri kepedulian efek bunuh diri dari keluarga gagasan bunuh diri yang diungkapkan

menyatakan secara terbuka ingin mati riwayat tanda dan gejala bunuh diri upaya atau khayalan bunuh diri sebelumnya, kecemasan

membuat surat wasiat krisis hidup riwayat bunuh diri dalam keluarga

pesimisme keputusasaan yang pervasif

Gangguan Mental yang Berisiko Bunuh Diri gangguan depresi (80%) skizofrenia (10%) gangguan demensia dan delirium (5%) diantara orang-orang dengan gangguan mental 25% memiliki ketergantungan dengan alkohol dan memiliki diagnosis ganda. hampir 95% dari semua pasien yang melakukan bunuh diri atau berusaha bunuh diri memiliki gangguan mental yang terdiagnosis Depresi Perilaku impulsif dan agresif diduga sebagai faktor risiko bunuh diri, namun tetap tidak jelas bagaimana efeknya terhadap risiko bunuh diri. Studi case control terhadap pria dengan perilaku impulsif dan agrsif ditemukan bahwa gangguan kepribadian agresif-impulsif, penyalah guna alkohol adalah dua faktor prediksi independen untuk bunuh diri pada pasien depresi mayor. Gangguan depresi mayor pada pasien rawat inap meningkatkan risiko tindak bunuh diri hingga 20 kali lipat. Sekitar separuh dari seluruh orang yang berhasil melakukan tindakan bunuh diri telah melakukan percobaan bunuh diri sebelumnya setidaknya satu kali. Risiko seumur hidup pada percobaan bunuh diri yang tidak fatal pada pasien dengan gangguan depresi mayor diperkirakan sekitar 40%. Hal ini merupakan outcome yang penting saat penelitian mengenai faktor risiko bunuh diri dilakukan. Skizofrenia Sekitar 10% penderita skizofrenia akhirnya melakukan tindak bunuh diri. Faktor risiko untuk bunuh diri pada pasien skizofrenia serupa dengan yang terdapat pada populasi umum. Faktor risiko bunuh diri pada skizofrenia pria dengan usia muda belum menikah dan pengangguran berada dalam tahap awal penyakit merasa depresi

cenderung mengalami kekambuhan berpendidikan tinggi paranoid.

Systematic review oleh Hawton dkk. tentang risiko bunuh diri pada pasien skizofrenia. gangguan depresi sebelumnya percobaan bunuh diri sebelumnya penyalahgunaan obat agitasi atau kegelisahan motorik ketakutan akan disintegrasi mental, kurangnya pengobatan yang memadai baru saja mengalami kehilangan. penurunan risiko berkaitan dengan halusinasi.

Komorbiditas Gangguan Fisik dan Mental pada Bunuh Diri Penelitian postmortem menunjukkan bahwa suatu penyakit fisik ditemukan pada 25-75% dari semua korban bunuh diri. Pada beberapa penyakit fisik didapatkan hilangnya mobilitas, kecacatan, rasa sakit kronis yang tidak dapat diobati juga memicu seseorang untk melakukan bunuh diri. Penyakit tersebut adalah epilepsi, cedera kepala atau tulang belakang dan stroke, kanker dan HIV/AIDS. Penanganan pasien beresiko bunuh diri Evaluasi pertama di ruang gawat darurat kerjasama dengan bagian lain. Terapi sesuai indikasi dengan tujuan utama menangani gejala mental akutnya. Intervensi psikologis. Selama proses tersebut pencegahan dapat dilakukan dengan membatasi sarana dan prasarana yang mungkin digunakan untuk melakukan bunuh diri. Cermati tempat lain di luar arena perawatan

Kesimpulan Faktor risiko itu adalah : halusinasi skizofrenia) depresi pascaskizofrenia kelelahan tersedia alat-alat untuk bunuh diri kepedulian keluarga gagasan bunuh diri yang diungkapkan riwayat bunuh diri dalam keluarga pesimisme pervasif atau keputusasaan yang perintah (pada penderita membuat surat wasiat krisis hidup

Bunuh Diri dan Status Kesehatan Jiwa Masyarakat The World Health Report 2001, gangguan mental dan perilaku dialami kira-kira 25% dari seluruh penduduk pada suatu masa dalam hidupnya Awamgila=psikotik Non psikotik terabaikanke pelayanan kesehatan umum. Penanganan kesehatan mental terabaikan Gangguan mental yang sering menjadi penyebab bunuh diri a. gangguan depresi (80%)

b. skizofrenia (10%) c. gangguan demensia dan delirium (5%). d. diantara orang-orang dengan gangguan mental, 25% memiliki ketergantungan dengan alkohol dan memiliki diagnosis ganda Goldberg dan Lecrubier di pelayanan primer didapatkan prevalensi gangguan depresi 20,7% dan gangguan cemas sebesar 10,5% di komunitas AS Kessler dan kawan-kawan mendapatkan prevalensi gangguan depresi sebesar 4,6% dan gangguan cemas sebesar 8,2% dan dikomunitas Australia Di Indonesia belum ada data pasti. 50% kasus gangguan mental yang lazim luput dari perhatian petugas kesehatan di pelayanan primerdalam hal ini dokter umum 95% pelaku bunuh diri menderita gangguan mental. 8-10% kasus bunuh diri memberikan peringatan atau tanda akan usahanya dan 5 % menyatakan secara terbuka bahwa mereka ingin mati Strategi kurang komprehensifggn mental tidak tertangani dengan baikberatbunuh diri Bunuh Diri dalam Tinjauan Psikiatri Komunitas Definisi Psikiatri Komunitas: Pengetahuan untuk melakasanakan program masyarakat masyarakat tentang gangguan jiwa dengan menggunakan pendekatan masyarakat dan berorientasi pada masyarakat dalam hal peningkatan, pencegahan, pengobatan dan rehabilitasi. Karakteristik Pskiatri Komunitas komitmen pelayanan perawatan jangka panjang penatalaksanaan kasus peran serta masyarakat konsultasi, penilaian dan penelitian

Tiga Konsep Pencegahan dalam Psikiatri komunitas pencegahan primer, pencegahan sekunder pencegahan tertier.

Pencegahan Primer Pencegahan primer adalah suatu upaya untuk mencegah onset penyakit atau gangguan yang bertujuan menurunkan insidensinya (rasio kasus baru terhadap populasi di dalam perode waktu tertentu). Tujuan pencegahan primer adalah mengeliminasi faktor penyebab, mengurangi faktor risiko, meningkatkan ketahanan host dan turut serta dalam mencegah transmisi penyakit Pencegahan Sekunder Identifikasi dini dan pengobatan segera terhadap gangguan atau penyakit dengan tujuan mengurangi prevalensi. Tujuan dari pencegahan sekunder adalah merperpendek waktu terjadinya gangguan mental. Komponen dari pencegahan sekunder : a. krisis intervensi, b. edukasi masyarakat dan mengurangi stigma terhadap mereka yang sedang dalam pengobatan awal c. meningkatkan derajat fungsinya. Pencegahan Tertier Suatu upaya untuk meminimalkan ketidakmampuan akibat penyakit. Tujuannya adalah untuk mengurangi dan mencegah ketidak mampuan, komplikasi, kecacatan, menghindari kekambuhan akut, memungkinkan penderita gangguan jiwa hidup bahagia di masyarakat Mengenali Resiko Bunuh Diri dengan Pendekatan Psikiatri Komunitas Delapan sampai sepuluh persen kasus bunuh diri memberikan peringatan atau tanda akan usahanya Tanda yang lain adalah berupa riwayat bunuh diri, upaya atau khayalan bunuh diri sebelumnya, kecemasan, depresi, kelelahan, tersedia alat-alat untuk bunuh diri, kepedulian efek bunuh diri dari keluarga, gagasan bunuh diri yang diungkapkan, membuat surat wasiat, krisis hidup, riwayat bunuh diri dalam keluarga,pesimisme atau keputus asaan yang pervasif. Peran Keluarga dan Lingkungan Mengenali faktor resiko Deteksi dini

Membawa ke pelayanan kesehatan dasarmerujuk

Perlu program untuk meningkatkan, mencegah, mengobati dan merehabilitasi penderita gangguan mental Faktor Psikologi Freud: bunuh diri mencerminkan agresi yang dibelokkan ke dalam terhadap obyek cinta yang terintroyeksi dan ditangkap secara ambivalen Menninger : bunuh diri merupakan pembunuhan retrofleksi, pembunuhan inversi, sebagai akibat dari kemarahan pasien terhadap orang lain, yang berbalik kedalam atau digunakan sebagai alasan untuk menghukum. 3 komponen : keinginan untuk membunuh, keinginan untuk dibunuh, dan keinginan untuk mati. Teori terbaru : Diduga bahwa pasien bunuh diri adalah karena fantasi. Yang paling mungkin melakukan fantasi bunuh diri mereka adalah mereka yang menderita kehilangan objek yang dicintainya atau mengalami cedera narsisistik, yang mengalami mood yang berlebihan seperti marah dan bersalah, atau yang mengidentifikasi dirinya sebagai korban bunuh diri. KASUS BUNUH DIRI PADA MANUSIA USIA LANJUT Dua kondisi psikiatrik yang berkaitan dengan bunuh diri pada usia lanjut adalah depresi dan alkoholisme kehilangan dan stress merupakan faktor etiologi utama dalam depresi dan penyalahgunaan alkohol kehilangan secara fisik: kesehatan yang buruk, penyakit, defisit sensorik, penurunan kognitif; kehilangan sosial: kematian pasangan, hilang pekerjaan; hilang pendapatan ( pensiun dan pengeluaran medis) mengurangi jaringan sosial dan isolasi sosial rasa putus asa, kehilangan, demoralisasi, ketergantungan, tidakberdaya, hilang harapan, dan ide bunuh diri MANAJEMEN PASIEN BUNUH DIRI Banyak kasus bunuh diri pada pasien psikiatrik dapat dicegah Faktor risiko berguna dalam menilai risiko jangka pendek bunuh diri pasien pada krisis akut. Faktor risiko psikiatrik dan sosial untuk bunuh diri meliputi upaya sebelumnya, gangguan psikiatrik kronis, baru saja keluar dan rumah sakit, hidup sendiri, menganggur, belum menikah, dan rentan terhadap gejala depresi. Periode pasca keluar dari RS intermediat merupakan saat dimana terjadi peningkatan risiko.

Evaluasi potensi bunuh diri meliputi riwayat psikiatrik yang lengkap, pemeriksaan menyeluruh pada status kejiwaan, dan melacak adanya gejala depresi, pikiran, niat, rencana, dan upaya bunuh diri.

Kurangnya rencana masa depan, memberikan harta milik pribadi kepada orang lain, membuat wasiat, atau barusan kehilangan menunjukkan peningkatan risiko terjadiriya bunuh diri.

Keputusan untuk merawat pasien di fasilitas psikiatrik tergantung pada diagnosis, keparahan depresi dan ide bunuh diri, kemampuan pasien dan keluarga untuk mengatasi permasalahan, situasi dalam kehidupan, ketersediaan dukungan sosial, dan ada atau tidak adanya faktor risiko bunuh diri.

Kewaspadaan terhadap bunuh diri meliputi menyingkirkan obat yang potensi mematikan dan firearms dari rumah dan meresepkan obat hanya dalam persediaan mingguan.

Upaya yang berguna dalam mengatasi pasien depresi rawat inap yang bunuh diri meliputi pemeriksaan terhadap harta benda pasien dan orang yang mengunjungi unit perawatan untuk melacak benda yang dapat digunakan untuk bunuh diri, dan mengulangi pemeriksaan sewaktu memberatnya ide bunuh diri.

Pasien depresi yang mencoba bunuh diri harus dirawat dalam ruangan terkunci dengan jendela transparan,

Kamar pasien harus berdekatan dengan ruang perawat untuk memaksimalkan pengawasan. Tim yang merawat harus menentukan rencana untuk membatasi pasien dan apakah harus dilakukan pemeriksaan regular atau observasi direk secara berkelanjutan.

Terapi dengan antidepresi harus segera dimulai, dan jika tidak ada respon dalam periode waktu yang diharapkan, atau jika risiko bunuh diri terlalu besar, maka penggunaan ECT harus dipertimbangkan. PERCOBAAN BUNUH DIRI permasalahan kesehatan utama (2,5% dari semua rujukan ) banyak dijumpai pada perempuan di semua negara;

Permasalahan Akut Contoh : Pertengkaran serius dengan pasangan, mendapat anggota baru di rumah, anggota keluarga yang menderita penyakit serius, menderita penyakit fisik yang serius, dan muncul sebagai tertuduh di pengadilan. Permasalahan Kronis Contoh : Permasalahan kronis tentang pernikahan, anak-anak, pekerjaan, keuangan, kesehatan, atau alkohol.

Gangguan Psikiatrik Contoh : Gangguan mood, penyalahgunaan zat, dan gangguan kepribadian antisosial. Risiko Pengulangan 40% pelaku upaya bunuh diri telah pernah mencoba sebelumnya. tiga subgrup pelaku upaya bunuh diri berulang: pengulang dalam kejadian-kejadian tertentu, pengulang yang mengulang beberapa kali dalam periode singkat, dan pengulang secara kronis Risiko pengulangan : permasalahan dengan alkohol, gangguan kepribadian antisosial, impulsivitas, rawat inap psikiatrik sebelumnya, upaya sebelumnya yang menyebabkan dirujuk, dan hidup sendiri. Berbagai mass media, baik cetak maupun elektronik, melaporkan terjadinya peningkatan kasus bunuh diri pada anak dan remaja Keprihatinan orangtua, guru, tenaga kesehatan, dll. Peningkatan anak remaja bunuh diri mencerminkan : a. Adanya perubahan lingkungan sosial. Keadaan sosial ekonomi terpuruk shg klg stres, tegang; cara hidup kekeluargaan menyebabkan anak rentan. ada pemicu yg bisa jadi hal sepele. anak mudah melakukan tindakan bunuh diri.

b. Perubahan sikap thd bunuh diri Pengaruh media ?? Agama ?? Sekolah ?? c. Ketersediaan alat : mudah untuk melakukan bunuh diri. d. Bunuh diri peniru (Copy Cat Suicide) : Usaha bunuh diri pd remaja, teman sebaya, melalui identifikasi, mencontoh. Tingkah laku bunuh diri adalah suatu respon thd krisis dg cara menghancurkan diri secara sadar dan sengaja. Keputusan bunuh diri mungkin : impulsif. merupakan puncak dari perenungan yg lama.

Ciri universal anak dan remaja : Ketidakmampuan mereka untuk memecahkan masalah. Atau tdk adanya strategi mengatasi stresor yg segera.

Tema umum tindakan bunuh diri adalah malu, sangat menderita, putus asa dan tidak berdaya. Penyebab anak remaja bunuh diri : Tdp ggn kejiwaan pd anak dan remaja spt Depresi berat, Skizofrenia, Ggn Bipolar dg tingkah laku dan anti sosial (kemarahan dan agresifitas).

Pengaruh keluarga : klg kurang hangat, kurang mendukung, kurang komunikasi, kurang respon emosional, tdp kekerasan pd klg yg tinggi, disiplin keras, penganiayaan, dan klg penuh konflik.

Kurangnya dukungan kelompok teman sebaya dan penyesuaian sosial yg buruk. Anak dan remaja paling rentan bila tdp msl sosial ekonomi yg kurang; anak berkembang dlm kemiskinan risiko plg kuat utk bunuh diri.

Pengaruh genetik. Biologik.

Risiko tinggi anak dan remaja bunuh diri : Pernah mencoba bunuh diri. Tdp ide bunuh diri menetap. Tdp gejala ggn jiwa spt : Depresi berat, Skizofrenia, Ggn. Bipolar. Anak tdp riwayat perilaku agresif, anti sosial atau penyalahgunaan zat / narkoba.

Penanganan : Bunuh diri anak dan remaja mrpk kedaruratan psikiatri anak remaja. Rawat inap. Pemberian farmakoterapi. ECT. Intervensi krisis. Psikoterapi CBT. Terapi keluarga. Manipulasi lingkungan. Play therapy. Perjanjian tertulis dg remaja, dll

PENCEGAHAN PERLU SOSIALISASI KEPADA MASYARAKAT (ORANGTUA, SEKOLAH, DLL). Pencegahan bunuh diri pd anak dan remaja : Kenali adanya ggn perilaku atau emosi anak sedini mungkin jgn menganggap sepele. Biasakan berdiskusi dg anak : a. Dengarkan apa kata anak. b. Beri kesempatan anak mengemukakan pendapat. Minta bantuan profesional jika tdk mampu utk mengatasi. Jgn terlalu menuntut kpd anak, hindari sikap membandingkan. Bina komunikasi yg baik dg guru sekolah.

Perubahan ggn perilaku dan emosional pd anak dan remaja : Ggn tidur, ggn makan, kebersihan diri. Ggn belajar, prestasi sekolah menurun, hilang minat thd sekolah, belajar kegiatan-2 lain. Tdp perubahan pola tingkah laku yg dramatis spt, pemalu, menarik diri, nakal, ngebut, dll.

Murung, tdk berdaya, putus asa. Membuang benda kesayangan. Tdp kecelakaan, perilaku berisiko, tantangan berbahaya, penyalahgunaan zat.

Kenali tanda awal bunuh diri pada anak dan remaja : 1. Anak/Remaja akan mengancam bunuh diri, contoh : Lebih baik aku mati ! Aku berharap aku mati Aku mau pergi. Aku tdk ingin hidup, dll.

2. Pernah mencoba bunuh diri sebelumnya atau sekecil apapun. 3. Tersirat unsur kematian dlm tulisan, puisi, musik, gambar, dll. 4. Kehilangan anggota keluarga, pacar, binatang peliharaan, kematian, putus pacar, perceraian, dll. 5. Tdp masalah keluarga, contoh : tdk punya pekerjaan, penyakit serius, dll. 6. Adanya perubahan perilaku dan emosi. Apa yg hrs dilakukan bila curiga remaja mencoba bunuh diri 1. Tanyakan secara langsung dg tenang mengenai niat bunuh diri tsb. Contoh : apakah kamu ingin melukai diri sendiri ? 2. Uji keseriusan ingin bunuh dirinya, contoh : Tanya perasaannya Hubungan penting baginya. Dg siapa ia sdh bicara. Pemikiran cara dan alat apa yg digunakan, dll. Bila ada ditemukan berarti tlh matang perencanaannya; artinya situasinya sdh bahaya.

Tetap temani dan tinggal dg remaja sp cari bantuan profesional. 1. Jadi pendengar yg baik, jangan menenangkan secara salah. 2. Cobalah mempengaruhi remaja utk bersedia menerima bantuan profesional dan bantu dirinya sendiri utk memperoleh bantuan tsb. Apa yang tidak boleh dilakukan ? 1. Jangan abaikan tanda-2 awal. 2. Jangan menolak berbicara bila remaja ingin curhat mengenai berbagai masalahnya. 3. Jangan bereaksi dg ketakutan, sikap tdk setuju, moralistik, atau rasa jijik, marah, dll. 4. Jangan mencoba menenangkan remaja tsb dg cara yg salah, contoh : spt btdk ada apa-2 atau baik-2 saja atau jawaban sederhana atau basa basi.

5. Jangan abaikan remaja stl krisis selesai atau mulai menerima bantuan profesional krn bersifat episode dan kita tdk tahu jalan fikiran yg sebenarnya.