Anda di halaman 1dari 9

Peran Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sumberdaya Air untuk Pertanian Studi Kasus : Sistem Subak di Bali

Abstrak ............................................................................................................................................................. ............................................................................................................................................................. ............................................................................................................................................................. ............................................................................................................................................................. ............................................................................................................................................................. ............................................................................................................................................................. ............................................................................................................................................................. .................................................................................................. 1. PENDAHULUAN Kearifan lokal merupakan cara pandang manusia atau komunitas tentang alam dimana cara pandang ini akan mempengaruhi perilakunya terhadap lingkungan. Menurut Putu Oka Ngakan dalam Andi M. Akhmar dan Syarifudin (2007) kearifan lokal merupakan tata nilai atau perilaku 1 hidup masyarakat lokal dalam berinteraksi dengan lingkungan tempatnya hidup secara arif . Sementara itu Francis Wahono (2005) menjelaskan bahwa kearifan lokal adalah kepandaian dan strategi-strategi pengelolaan alam semesta dalam menjaga keseimbangan ekologis yang sudah berabad-abad teruji oleh berbagai bencana dan kendala serta keteledoran manusia2. Selanjutnya berdasarkan UU RI 32 Tahun 2009 Kearifan lokal adalah nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat untuk antara lain melindungi dan mengelola lingkungan hidup secara lestari. Sehingga kearifan lokal bukan hanya dipandang sebagai pandangan namun sampai sejauhmana pandangan tersebut menjadi pedoman untuk berperilaku dan telah teruji bertahuntahun. Pengertian perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup mengacu pada UU RI No. 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang tertera dalam Pasal 1 ayat (2) adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum. Sedangkan pada Pasal 1 ayat (9) dinyatakan Sumber daya alam adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya hayati dan nonhayati yang secara keseluruhan membentuk kesatuan ekosistem. Irigasi merupakan salah satu kegiatan pengelolaan sumberdaya lingkungan berupa air untuk kegiatan budidaya pertanian. Sistem Subak di Bali salah satu bentuk sistem irigasi organisasi masyarakat di Bali dimana peran kearifan lokal sangat berpengaruh didalamnya. Menurut Perda No. 2/PD/DPRD/1972, sistem subak adalah masyarakat hukum adat di Bali yang bersifat sosioagraris religius yang secara historis didirikan sejak dulu kala dan berkembang terus sebagai organisasi penguasa tanah dalam bidang pengaturan air dan lain-lain untuk persawahan dari suatu sumber air dalam suatu daerah3. Penekanan pada sifat sosio-agraris religious dikarenakan kehidupan petani dalam kehidupan subak di Bali sangat dipengaruhi oleh kearifan lokal yang tercermin dalam berbagai ritual keagamaan yang dilakukan oleh para petani subak. Subak sebagai lembaga irigasi petani tradisional diperkirakan sudah ada di Bali kurang lebih sejak seratus tahun yang lalu. Menurut Sutawan (2008) kegiatan ritual yang dilakukan oleh petani anggota subak sangat banyak dan menyita wakru, namun hal ini tidak terlepas dari pandangan masyarakan Hindu Bali yang dikenal dengan istilah Tri Hita Karana. Falsafah Tri Hita Karana mengajarkan bahwa agar manusia bisa hidup bahagia, aman, tentram dan sejahtera lahir batin, ia
1

Andi M. Akhmar dan Syarifuddin, 2007. Mengungkap Kearifan Lingkungan Sulawesi Selatan,PPLH Regional Sulawesi, Maluku dan Papua, Kementerian Negara Lingkungan Hidup RI dan Masagena Press, Makasar 2 Francis Wahono, 2005. Pangan, Kearifan Lokal dan Keanekaragaman Hayati, Penerbit Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas, Yogyakarta 3 Nyoman Sutawan. 2008. Organisasi dan Manajemen Subak di Bali. Pustaka Bali Post

tetap harus menjaga hubungan yang harmonis dengan tuhan, dengan sesamanya dan lingkungan. Mereka meyakini bahwa hubungan harmonis dan serasi antara ketiga komponen dari Tri Hita Karana, yakni parhyangan (Tuhan), palemahan (alam lingkungan) dan pawongan (masyarakat). Kearifan lokal yang dilandaskan falsafah Tri Hita Karana telah mempengaruhi pengaturan kelembagaan berbasis Subak dalam mengelola air untuk pertanian. Keberadaan subak di Bali sampai saat ini menunjukan kearifan lokal sangat berperan dalam pengelolaan sumberdaya lingkungan. Selanjutnya akan dibahas tentang bagaimana sebenarnya kearifan lokal berpengaruh dalam pengelolaan air untuk irigasi berbasis subak. 2. TINJAUAN KONSEP DASAR 2.1 Hubungan Manusia dan Alam Lingkungan Hidupnya Manusia adalah mahluk hidup ciptaan Tuhan dengan segala fungsi dan potensinya yang tunduk terhadap aturan hukum alam, mengalami kelahiran, pertumbuhan, perkembangan, dan mati, dan seterusnya, serta terkait serta berinteraksi dengan alam dan lingkungannya dalam sebuah hubungan timbal balik positif maupun negatif. Sedangkan lingkungan adalah suatu media dimana mahluk hidup tinggal, mencari penghidupannya, dan memiliki karakter serta fungsi yang khas yang mana terkait secara timbal balik dengan keberadaan mahluk hidup yang menempatinya, terutama manusia yang yang memiliki peranan yang lebih kompleks dan riil. Manusia hidup, tumbuh, dan berkembang dalam lingkunganalam dan sosialbudayanya. Dalam lingkungan alamnya manusia hidup dalam sebuah ekosistem yakni suatu unit atau satuan fungsional dari makhluk-makhluk hidup dengan lingkungannya. Dalam ekosistem terdapat komponen biotik dan abiotik (Setiadi, 2011). Sumber alam biotik terbagi dalam dua bagian yaitu sumber alam yang dapat diperbaharui dan yang tidak dapat diperbaharui. Keberadaan alam biotik ini tergantung pada cara-cara manusia menggunakan kedua jenis sumber alam tersebut. Air merupakan salah satu sumber alam yang tidak dapat diperbaharui walaupun ketersediannya meliputi 4/5 bagian seluruh permukaan bumi.seyogyanya manusia menggunakan air dengan baik dan erusaha mencegahnya dari pencemaran-pencemaran yang mengganggu berjalannya fungsi vital air dalam kehidupan manusia. 2.2 Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam Konsep pembangunan yang berkelanjutan terdiri dari 3 elemen utama yaitu : kelestarian lingkungan, kehidupan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi yang saling berinteraksi guna mencapai tujuan pembangunan bagi masyarakat saat ini dan tetap terjaminnya pemanfaatan berkelanjutan oleh generasi yang akan datang. Menurut World Conservation Strategy (WCS)4 tujuan pembangunan berkelanjutan adalah : 1. untuk memelihara proses ekologis & sistem pendukung kehidupan; 2. untuk melestarikan keragaman genetik, dan 3. untuk menjamin pemanfaatan berkelanjutan oleh generasi yang akan datang. Secara teoretik disebutkan oleh Jacobs (1996)5 keberhasilan implementasi Pembangunan Berkelanjutan sesungguhnya memerlukan dipenuhinya 4 (empat) syarat : (a) pemeliharaan lingkungan ; (b) perwujudan keadilan sosial ; (c) demokratisasi dan (d) pemenuhan kebutuhan dasar. Berdasarkan pernyataan Jacobs tersebut, Sudharto P. Hadi (2002)6 menjabarkan syarat tersebut dengan menyatakan bahwa keberhasilan pembangunan berkelanjutan menghendaki adanya pemihakan kepada : (a) perlindungan lingkungan ; (b) penduduk miskin ; (c) demokrasi ; (d) transparansi dan (e) masyarakat lokal. hal mengindikasikan bahwa masyarakat lokal dengan kearifan lokalnya merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pembangunan berkelanjutan. Menurut Suhartini (2009)7 Kearifan lokal merupakan suatu bentuk kearifan lingkungan yang ada dalam kehidupan bermasyarakat di suatu tempat atau daerah. Jadi merujuk pada lokalitas dan komunitas tertentu. Menurut Putu Oka Ngakan dalam Suhartini (2009) kearifan lokal merupakan
4 5

Nelson Valerie I., Sustainable Infrastructure Management. 2008 Terms of reference (TOR) Seminar Sehari: Otonomi Daerah dan Peran Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Dipenogoro 6 Sudharto P. Hadi . 2002. Dimensi Hukum Pembangunan Berkelanjutan, Semarang: Badan Penerbit Undip 7 Suhartini. 2009. Kajian Kearifan Lokal Masyarakat dalam Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan. Fakultas MIPA Universitas Negeri Yogyakarta.

tata nilai atau perilaku hidup masyarakat lokal dalam berinteraksi dengan lingkungan tempatnya hidup secara arif. Maka dari itu kearifan lokal tidaklah sama pada tempat dan waktu yang berbeda dan suku yang berbeda. Perbedaan ini disebabkan oleh tantangan alam dan kebutuhan hidupnya berbeda-beda, sehingga pengalamannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya memunculkan berbagai sistem pengetahuan baik yang berhubungan dengan lingkungan maupunsosial. Sebagai salah satu bentuk perilaku manusia, kearifan lokal bukanlah suatu hal yang statis melainkan berubah sejalan dengan waktu, tergantung dari tatanan dan ikatan sosial budaya yang ada di masyarakat. Kearifan lokal tidak hanya berhenti pada etika, tetapi sampai pada norma dan tindakan dan tingkah laku, sehingga kearifan lokal dapat menjadi seperti religi yang memedomani manusia dalam bersikap dan bertindak, baik dalam konteks kehidupan sehari-hari maupun menentukan peradaban manusia yang lebih jauh. Dari pandangan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kearifan lokal adalah hasil sebuah proses yang lama dan telah menjadi budaya disuatu entitas dimana didalamnya terdapat etika dan norma yang mendasari anggotanya bertindak di lingkungannya. Oleh kareran itu kearifan lokal penting untuk dilestarikan dalam suatu masyarakat guna menjaga keseimbangan dengan lingkungannya dan sekaligus dapat melestarikan lingkungannya. Mengacu pada UU RI No. 23 Tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup, Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup. Menurut Mateus Mali dalam Suhartini, (2009) dalam pengelolaan lingkungan hidup kita juga membutuhkan moralitas yang berarti kemampuan kita untuk dapat hidup bersama makhluk hidup yang lain dalam suatu tataran yang saling membutuhkan, saling tergantung, saling berelasi dan saling memperkembangkan sehingga terjadi keutuhan dan kebersamaan hidup yang harmonis. Refleksi moral akan menolong manusia untuk membentuk prinsip-prinsip yang dapat mengembangkan relasi manusia dengan lingkungan hidupnya. Manusia harus menyadari ketergantungannya pada struktur ekosistem untuk dapat mendukung kehidupannya itu sendiri. Manusia harus dapat beradaptasi dengan lingkungan hidup yang menjadi tempat ia hidup dan berkembang. Kearifan tradisional dalam pengelolaan lingkungan di suatu entitas dapat mengalami erosi, penyebabnya dapat beraneka ragam, antara lain menurut Kustiwan (2011)8 adalah: Terjadi proses desakralisasi alam oleh invasi dan dominasi ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Alam tidak lagi bernilai sakral tetapi bernilai ekonomis sangat tinggi Dominasi filsafat dan etika Barat yang bersumber dari Aristoteles dan diperkuat oleh paradigma ilmu pengetahuan yang Cartesian telah menguburkan dalam-dalam etika masyarakat adat. Hilangnya keanekaragaman hayati. Hilangnya hak-hak masyarakat adat, termasuk hak untuk hidup dan bertahan sesuai dengan identitas dan keunikan tradisi budayanya serta hak untuk menentukan diri sendiri. 2.2 Sistem Irigasi sebagai Bentuk Pengelolaan Sumberdaya Alam Kebutuhan air untuk pertanian dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan terus meningkat sejalan dengan meningkatnya pertamabahan penduduk. Keberlanjutan sistem irigasi dibutuhkan untuk menunjang ketersediaan air yang pada akhirnya pada menyediakan ketersediaan pangan bagi manusia. Menurut PP No. 23/1982 tentang Irigasi, irigasi adalah usaha penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang pertanian. Sedangkan jaringan irigasi adalah saluran dan bangunan yang merupakan saru kesatuan dan diperlukan pengaturan air irigasi mulai dari penyediaan, pengambilan dan penggunaannya. Menurut Tang (1991)9 Sistem irigasi menggambarkan bagaimana pengaturan kelembagaan mempengaruhi tindakan kolektif terhadap common pool resources10. Berdasarkan bentuknya,
8
9

Kustiwan Iwan. (2011). Bahan Kuliah Pengelolaan Sumber Daya Lingkungan. SAPPK ITB

Shui Yan Tang, Institutional Arrangements and Management of Common Pool Resources, 1991 10 common pool resources mengacu pada alam atau buatan manusia yang tersedia dalam jumlah besar sehingga tidak mahal tetapi tidak mustahil untuk mengecualikan penerima manfaat potensial dari penggunaannya) selain itu jika pasokan terbatas konsumsi oleh satu pengguna mengurangi ketersediaannya bagi orang lain. Ostrom, Elinor. 2008. Governing the Commons. Cambridge University Press

sistem irigasi dibagi dalam dua jenis yaitu sistem birokrasi dan sistem masyarakat. Dalam sistem birokrasi irigasi, sumber air diatur oleh sebuah badan pemerintah nasional atau regional. Dalam sistem masyarakat, sumber air diatur oleh salah satu organisasi komunal atau asosiasi irigasi. Tata kelola birokrasi sering diusulkan sebagai cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah bersama yang berkaitan dengan common-pool resources. Pengalaman sistem irigasi birokrasi di banyak negara berkembang menunjukkan bahwa tata birokrasi bukanlah obat mujarab untuk memecahkan masalah common-pool resources. Dalam banyak sistem irigasi birokrasi, pejabat pemerintah tidak cukup termotivasi untuk melayani kepentingan pengguna common-pool resources. Hal ini menunjukan bahwa sistem masyarakat lebih efektif dalam memecahkan masalah terkait pengunaan common-pool resources. 2.3 Konsep Tri Hita Karana Keyakinan masyarakat adat Bali terhadap alam dan lingkungan dilandaskan pada suatu keyakinan bahwa manusia dan alam semesta diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa dari unsur-unsur yang sama. Pandangan ini melihat kesamaan unsur pada manusia selaku isi alam (mikrokosmos) terdiri atas unsur-unsur Tri Hita Karana : jiwa (atma), tenaga (prana) dan badan wadah (anggasarira). Demikian pula pada alam selaku wadah (makrokosmos) terdiri atas unsur-unsur jiwa (parama atma), tenaga (prana : segenap himpunan tenaga alam) dan wujud fisik (angga-sarira). Pandangan kesamaan (kesetaraan) ini, manusia dengan isi alam lainnya atau lingkungan maupun manusia dengan alam, maka manusia mempunyai kewajiban untuk menghormati ataupun menjaga keharmonisan dengan landasan sikap dan perilaku tat twam asi dalam interaksinya. Kewajiban ini bagi masyarakat adat Bali lebih banyak diwujudkan dalam suatu perbuatan sebagai wujud terima kasih. Secara etimologi Tri Hita Karana mengandung pengertian tri berarti tiga, hita berarti kemakmuran dan karana berarti penyebab. Dengan demikian Tri Hita Karana berarti tiga penyebab atau tiga unsur yang dapat melahirkan kemakmuran atau kesejahteraan yaitu Parhyangan, Pawongan, dan Palemahan, yang mana ketiga unsur itu mempunyai makna dan fungsi saling terkait yang melahirkan substansi masyarakat Bali (Hindu) yang hidup dalam pola interaksi simbolik (Anom, 2011). 3. GAMBARAN UMUM SISTEM SUBAK DI BALI Subak adalah masyarakat hukum adat di Bali yang bersifat sosio-agraris religius yang secara historis didirikan sejak dulu kala dan berkembang terus sebagai organisasi penguasa tanah dalam bidang pengaturan air dan lain-lain untuk persawahan dari suatu sumber air dalam suatu daerah (Perda No. 2/PD/DPRD/1972). Sejarah berdirinya subak didasari adanya kebutuhan bersama akan air untuk pertanian. Untuk meningkatkan produksi tanaman pangan maka dibutuhkan air secara terus menerus. Produktivitas tidak bisa ditingkatkan jika hanya mengandalkan hujan (sawah tadah hujan). Berdirinya subak belum diketahui secara pasti, namun dari sumber-sumber yang tersedia seperti prasasti menunjukan sistem subak sudah ada sekitar 100 tahun yang lalu. Menurut Sutawan (2008) sejarah berdirinya subak, adalah: 1. ada seseorang atau lebih pencetus ide untuk mengangkat air dari sungai yang didorong kebutuhan bersama yaitu bercocok tanam 2. dibentuk panitia kecil yang bertugas untuk menyusun rencana kerja seperti mencari tukang terowongan, cara pengerahan sumberdaya 3. pembuatan terowongan 4. pemuatan bangunan pengambilan air dan bangunan pembagi air 5. 1-2 orang anggota panitia pelaksana akan menjadi pengurus organisasi subak yang bersangkutan yang selanjutnya membuat peraturan (awig-awig) yang harus dipatuhi dan disepakati oleh setiap anggota 6. pendistribusian air 7. pemeliharaan secara rutin 8. pembangunan kelengkapan fisik seperti pura yang berhubungan dengan pelaksnaan ritual subak merupakan salah satu bentuk kelembagaan pengguna comoon pool resources yang berbasis masyarakat. Hal ini sesuai dengan ciri-ciri penting dari subak sebagai sistem tradisional yang dikemukakan oleh Sutawan (2008), meliputi : 1. mempunyai batas yang jelas berdasarkan wilayah hidrologis bukan wilayah administrasi 2. lembaga irigasi bersifat formal. Subak umumnya memiliki struktur organisasi, struktur, hak

3. 4. 5. 6. 7. 8.

dan tanggungjawab yang jelas dilengkapi dengan sanksi. Selain itu ada pungutan rutin dan melakukan rapat periodik 35 hari sekali. (Amber,1991:298) ritual keagamaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari manajemen subak subak mempunyai hak otonomi dalam mengurus rumah tangganya sendiri subak memiliki satu atau lebih sumber air bersama dan saru atau lebih pura bedugul bersama setiap anggota subak memiliki one inle11t dan one outletnya masing-masing aktivitas dilandasi semangat gotong-royong, saling mempercayai dan menghargai berazaskan kebersamaan dan kekeluargaan Pengambilan keputusan berlandaskan prinsip demokrasi, keadilan, transparansi, dan akuntabilitas

Sistem jaringan subak serupa denga jaringan irigasi lainnya yang terdiri dari saluran, bangunan, dan bangunan pelengkap yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan, pembagian, pemberian, penggunaan, dan pembuangan air irigasi. Jenis jaringannya dibagi dalam tiga jenis yaitu : primer, sekunder dan tersier seperti dalam gambar 1. Fungsi masing-masing jaringan subak adalah sebagai berikut : 1. saluran primer : membawa air dari bangunan sadap menuju saluran sekunder dan ke petak-petak tersier yang diairi. 2. Saluran sekunder membawa air dari bangunan yang menyadap dari saluran primer menuju petak-petak tersier yang dilayani oleh saluran sekunder tersebut. 3. Saluran tersier membawa air dari bangunan yang menyadap dari saluran sekunder menuju petak-petak kuarter yang dilayani oleh saluran sekunder tersebut.

Gambar 1. Sistem Jaringan Irigasi berbasis Subak di Bali

Keterangan : 1. Saluran Primer 2. Saluran Sekunder mengairi satu bagian tertentu dari perwilayahan subak 3. Saluran Tersier 4. Saluran Pembuangan 5. dam/bendung 6. bangunan utama di saluran primer, sekunder, dan tersier untuk memecah air sesuai pembagiannya 7. Pura

Menurut PP No.20/2006 tentang Irigasi, Operasi dan pemeliharaan (OP) jaringan irigasi adalah kegiatan pengaturan air dan jaringan yang meluputi penyediaan, pembagian, pemberian, penggunaan, dan penggunaan, dan dan pembuangannya, termasuk usaha mempertahankan
11

water inlet adalah tempat masuknya air, sedangkan water outlet adalah tempat keluarnya air atau tempat pembuangan air yang tersisa atau berlebih

kondisi jaringan irigasi agar berfungsi dengan baik. kegiatan operasi dan pemeliharaan yang dilakukan oleh organisasi subak, adalah 1. pengelolaan air irigasi dalam arti mengatur,membagi dan mengalirkan air 2. pemeliharaan dan perbaikan jaringan irigasi 3. mobilisasi tenaga kerja dan penggalian dana' 4. pengelolaan konflik 5. pelaksanaan ritual keagamaan 6. rapat subak untuk pengambilan keputusan. Daerah Irigasi12 yang OP-nya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah khususnya jaringan utamanya. Pemerintah bertanggungjawab dalam OP untuk sistem utama (saluran primer dan sekunder), sedangkan subak bertanggungjawab hanya pada tingkat tersier. Walaupun pemeliharaan sistem utama dari irigasi pemerintah bukan lagi menjadi tanggung jawab subak, namun dalam kenyataannya, subak-subak terkait sering membantu pemerintah dalam memperbaiki jaringan irigasi yang mengalami kerusakan.

Nilai budaya yang dominan pada masyarakat tradisional adalah nilai solidaritas, nilai agama dan nilai estetik. Sedangkan nilai budaya yang dominan pada masyarakat modern adalah nilai teori, nilai ekonomi dan nilai kuasa. Masyarakat tradisional mengalamai perubahan nilai yang dominian seperti nilai solidaritas,nilai agama dan nilai estetik bergeser ke arah nilai teori, nilai ekonomi dan nilai kuasa (Nehen dan Iswara dalam Sirtha 2008). Keberlanjutan subak di Bali saat ini pun menghadapi tantangan. Beberapa konflik telah terjadi terkait dengan masalah sebagai berikut: 1. kelangkaan air. pada dasarnya, kelangkaan air merupakan faktor yang paling berpotensi menjadi sumber pemicu konflik. Semakin langka air yang tersedia dalam suatu subak semakin sering terjadi perselisihan yang berhbungan dengan pemanfaatan air. 2. Proyek pengembangan Irigasi. proyek irigasi Bali, mulai sejak tahun 1980-an melaksanakan proyek-proyek yang menggabungkan beberapa subak menjadi satu kesatuan sistem irigasi. Masalah yang paling mendasar adalah menyangkut cara-cara pengalokasian dan pendistribusian air antarsubak terkait. 3. Alih fungsi lahan sawah. sawah dialihfunsikan untuk nonpertanian seperti perumahan, jalanm dan fasilitas publik lainnya sering memicu perselisihan antara subak dengan kelompok masyarakat lain di luar masyarakat subak. Oleh karena itu petani merasa dirugikan karena saluran-saluran irigasi tidak bisa difungsikan lagi.

4. PERAN KEARIFAN LOKAL DALAM KEBERLANJUTAN SISTEM SUBAK subak adalah lembaga irigrasi tradisional yang memang sudah terkenal. Ostorm mengatakan, the most effective water-user association visitedby GAO (General Accounting Office of The United State) in 1983 were the Balinese Subaks in Indonesia(Ostrom,1992:10). Namun hampir di semua negara terutama di Asia yang memiliki sawah beririgasi tradisional sejenis subak di Bali seperti Thailand, Filipina, India, sumetera utara, sumatera selatan, aceh, jawa barat, jawa timur, sulawesi selatan dan sumbawa. Keunikan sistem irigasi subak adalah kegiatan ritual keagamaan yang sangat padat dan sering dilakukan para petani anggota subak. Kegiatan ritual ini dilaksanakan secara rutin mulai dari pengolahan tanah sampai tersimpan dalam lumbung. Ritual ini dilakukan secara turun menurun sampai sekarang oleh petani anggota subak meskipun kehidupan modern telah melanda (Sutawan, 2008). Kegiatan ritual keagamaan yang banyak menyita waktu ini tidak terlepas dari pandangan masyarakat hindu Bali yang dikenal tri hita karana dimana mereka meyakini bahwa hubungan yang harmonis antara tiga komponen : Tuhan, Lingkungan dan Masyarakat merupakan sumber
12

Daerah Irigasi (DI) adalah kesatuanwilayah yang mendapat air dari satu jaringan irigasi sesuai PP No. 20 Tahun 2006 tentang Irigasi

kebahagiaan umat manusia di dunia. Tri hita karana ini diejawantahkan kedalam 3 unsur : 1. unsur parahyangan : bangunan pura subak sebagai perwujudan bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. unsur pawongan : perwujudan hubungan yang harmonis antara para anggota subak 3. unsur palemahan : perwujudan lahan sawah serta semua prasarana dan sarana irigasi (Jelantik dalam Sirtha, 2008) Subak adalah fenomena kebudayaan yang mempunyai tiga ciri yaitu: pertama, sebagai sistem nilai budaya, seperti nilai, normam hukum dan aturan khusus. Kedua, sebagai wujud sistem sosial yang merupakan pola aktivitas warga subak yang merupakan pola perilaku dan interaksi yang dilakukan secara berkesinambungan. Ketiga, sebagai wujud fisik, merupakan wujud paling kongkret, seperti jaringan irigasi, hamparan sawah, maupun bangunan pelengkapnya (Sirtha, 2008). Sistem irigasi pada dasarnya adalah merupakan sistem yang bersifat sosio-teknis (Huppert dan Walker, l989; dan Pusposutardjo, l997)13. Pernyataan bahwa sistem irigasi adalah bersifat sosioteknis dipertegas dalam PP 77/2001. Sistem irigasi subak yangberlandaskan tri hita karana adalah juga merupakan sistem yang bersifat sosio-teknis, yang teknologinya telah menyatu dengan sosiokultural masyarakat setempat. Karakter teknologi seperti itu dinyatakan oleh Poespowardojo (l993) sebagai teknologi yang telah berkembang menjadi budaya masyarakat. Adapun wujud THK dalam pengelolaan air irigasi pada sistem irigasi subak dapat dilihat secara rinci pada Tabel berikut :
Sistem subak yang berlandaskan THK Budaya Parahyangan Wujud pelaksanaan THK. Pawongan Palemahan

Air dianggap sangat bernilai&dihormati, dan merupakan ciptaan Tuhan YME (Pusposutardjo, 1996; Kutanegara dan Putra, 1999). Adanya pura sebagai tempat pemujaan Tuhan YME, dan dianggap sebagai bagian dari mekanisme kontrol terhadap pengelolaan air irigasi (Pusposutardjo,2000). Secara rutin menyelenggarakan upacara keagamaan (Sutawan dkk,1989). Pengelolaan air irigasi dengan konsep harmoni dan kebersamaan Disediakan lahan khusus untuk bangunan suci pada lokasi yang dianggap penting (Sutawan dkk, 1989). Lahan yang tersisa pada lokasi bangunan-bagi dimanfaatkan untuk bangunan suci, sehingga konflik atas lahan itu dapat dihindari (Pusposutardjo,2000). Ada awig-awig (Sutawan dkk, l989). Pengelolaan air irigasi terakuntabilitas (Arif, 1999). Hak atas air dan lahan dihormati (Mawardi dan Sudira,l999). Ada sistem pelampias dalam pengelolaan air irigasi (Sutawan dkk,l989). Adanya organisasi subak yang strukturnya fleksibel. Adanya kegiatan gotong royong dan pembayaran iuran untuk mensukseskan kegiatan subak (Sutawan dkk,l989). Ada rapat subak secara rutin (Sutawan dkk,l989). Anggota subak tidak keberatan bila lahan yang tersisa pada lokasi bangunan-bagi digunakan untuk bangunan-suci . Air dialirkan secara kontinyu melalui bangunan-bagi yang tersedia. Air yang dikelola seperti ini dianggap ikut diawasi oleh Tuhan YME, yang diwujudkan dengan adanya bangunan-suci di sekitar lokasi bangunan-bagi tersebut (Pusposutardjo,2000). Ada konsep tektek dalam setiap bangunan-bagi pada subak yang bersangkutan, untuk dapat mendistribusikan air irigasi secara adil dan proporsional (Dinas PU Prov.Bali,l997). Adanya saling pinjam air irigasi antar anggota subak dan antar

Sosial Parahyangan

Pawongan

Palemahan Fisik Parahyangan

Pawongan
13

Pusposutardjo, S. l997b. Hampiran Sosiologi Teknik (Engineering Sociology) sebagai Pilihan dalam Pembangunan Pengairan, Bahan Penataran Diklat Pengairan, DPU Wilayah Bandung

subak (Sutawan dkk,l989). Adanya kerjasama antara pengurus subak dengan anggotanya, sehingga pelaksanaan program subak dapat dilaksanakan dengan nilai-nilai harmoni dan kebersamaan. Adanya kordinasi antara pimpinan subak dengan pimpinan lembagalembaga lain di lingkungannya,misalnya pimpinan desa adat, desa dinas, lembaga pemerintahan dan lain-lain, dengan tujuan agar program-program sistem subak dilaksanakan dengan sebaik-baiknya Palemahan Topografi lahan subak pada dasarnya miring (Pusposutardjo, 2000). Setiap blok/komplek persawahan milik petani memiliki bangunansadap dan saluran drainasi (one inlet and one outlet system) (Dinas PU Prov.Bali, 1997 dan Susanto, l999). Batas wilayah subak jelas (Sutawan dkk,l989 dan Mawardi&Sudira,l999). Adanya bangunan dan jaringan irigasi yang sesuai dengan kebutuhan petani setempat (Susanto, 1999 dan Arif,l999). Memanfaatkan bahan-bahan lokal untuk pembangunan sarana jaringan irigasi di kawasan subak yang bersangkutan Sumber : Wayan Windia, Suprodjo Pusposutardjo, Nyoman Sutawan, Putu Sudira, dan Sigit Supadmo Arif. Sistem Irigasi Subak dengan Landasan Tri Hita Karana (THK) sebagai Teknologi Sepadan dalam Pertanian Beririgasi

5. KESIMPULAN Kearifan lokal merupakan cara pandang manusia atau komunitas tentang alam dimana cara pandang ini akan mempengaruhi perilakunya terhadap lingkungan. Irigasi merupakan salah satu kegiatan pengelolaan sumberdaya lingkungan berupa air untuk kegiatan budidaya pertanian. Sistem Subak di Bali salah satu bentuk sistem irigasi organisasi masyarakat di Bali dimana peran kearifan lokal sangat berpengaruh didalamnya. Subak adalah salah satu lembaga irigasi tradisional yang mempunyai keunikan dari segi kegiatan ritual keagamaannya yang sangat padat dan sering dilakukan oleh petani anggota subak. Hal ini tidak terlepas dari pandangan hidup masyarakat hindu Bali itu sendiri, yang dikenal dengan istilah tri hita karana. Falsafah tri hita karana mengajarkan bahwa agar manusia bisa hidup bahagia, aman, tentram dan sejahtera lahir batin, ia tetap harus menjaga hubungan yang harmonis dengan tuhan, dengan sesamanya dan lingkungan. Mereka meyakini bahwa harus ada hubungan harmonis dan serasi antara ketiga komponen dari tri hita karana, yakni parhyangan (Tuhan), palemahan (alam lingkungan) dan pawongan (masyarakat). Secara implisit tri hita karana mengandung pesan agar masunia mengelola sumberdaya alam dan lingkungannya secara arif dan bijaksana untuk menjaga kelestariannya. Oleh karena itu alam haruslah dijaga dan dipelihara kelestariannya agar tidak hanya dapat dimanfaatkan oleh generasi saat ini melainkan juga oleh generasi-generasi selanjutnya. Hal ini sejalan dengan konsep pembangunan yang berkelanjutan dimana tujuannya adalah (1) memelihara proses ekologis & sistem pendukung kehidupan; (2) melestarikan keragaman genetik, dan (3) menjamin pemanfaatan berkelanjutan oleh generasi yang akan datang. Oleh karena itu konsep tri hita karana di Bali relevan dengan konsep pembangunan bekelanjutan. Peran kearifan lokal dalam pengelolaan air berbasis subak diawali pertama dengan adanya pola pikir bersama akan kebutuhan air berbagai tanaman pertanian. Namun disebabkan topografi di Bali yang mempersulit para petani mendapatkan air maka para petani tersebut bekerjasama dan membentuk kelompok untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Organisasi kerjasama tersebut yang kemudian disebut dengan subak. Pola pikir dan konsep-konsep yang telah ditentukan untuk pemecahan masalah agar petani dapat melakukan kegiatan usahataninya. Organisasi kerjasama berupa subak beranggotakan tim kerja yang berorientasi pada keberhasilan pencapaian tujuan, dan asas yang digunakan adalah asas keadilan dan kebersamaan sesuai nilai-nilai yang dianut dalam prinsip tri hita karana menyatu dengan sosio-kultural masyarakat setempat. Subak adalah fenomena kebudayaan yang mempunyai tiga ciri yaitu: pertama, sebagai sistem nilai budaya, seperti nilai, normam hukum dan aturan khusus. Kedua, sebagai wujud sistem sosial yang

merupakan pola aktivitas warga subak yang merupakan pola perilaku dan interaksi yang dilakukan secara berkesinambungan. Ketiga, sebagai wujud fisik, merupakan wujud paling kongkret, seperti jaringan irigasi, hamparan sawah, maupun bangunan pelengkapnya (Sirtha, 2008). Konsep tri hita karana yang merupakan kearifan lokal masyarakat Hindu Bali yang dijadikan falsafah dalam berbagai aspek kehidupan salah satunya dalam pertanian. Falsafah ini memposisikan manusia sebagai bagian tidak terpisahkan dengan lingkungan, melainkan saling mempengaruhi dan harus tetap dihormati keberadaan dan keberlanjutannya guna mencapai kesejahteraan. Seiring moderniasasi, terdapat pergeseran nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat tradisional Bali. Hal ini memicu konflik yang mengancam keberlanjutan sistem yang sudah ada di masyarakat sejak dahulu kala, salah satunya adalah subak. Penyelesaian konflik ini seyogyanya tetap berfalsafah pada prisip tri hita karana. Pemerintah pun dapat berperan dalam mempertahankan dan memanfaatkan keraifan lokal guna mencapai tujuan pembangunan.