Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

CIDERA KEPALA

1. Definisi Cidera kepala merupakan penyebab kematian dan kecacatan kelompok usia produktif dan sebagianbesar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas. (Kapita Selekta Kedokteran, 2000) Cedera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi substansi otak dengan atau tanpa diikuti terputusnya kontinuitas otak. ( Elyana Laura : 2000 ). a. Trauma kepala terbuka Trauma ini dapat menyebabkan fraktur tulang tengkorak dan laserasi duramater. Kerusakan otak dapat terjadi bila tulang tengkorak menusuk otak. b. Trauma kepala tertutup, terbagi atas : 1). Komusio cerebri / gegar otak Merupakan bentuk cedera kepala ringan yang menimbulkan kelainan fungsi otak tanpa disertai kelainan jaringan otak. 2). Kontusio cerebri Memar otak merupakan perdarahan kecil pada jaringan otak akibat pecahnya pembuluh darah kapiler. ( Kapita selekta kedokteran ).

2. Etiologi a. Sebagian besar disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, perkelahian, jatuh dan cedera oleh raga. b. Cedera kepala terbuka sering disebabkan akibat benda tajam dan tembakan sehingga dapat menyebabkan fraktur tulang dan laserasi dura mater.

3. Patofisiologi Beberapa variabel yang mempengaruhi luasnya cedera kepala adalah : a) Lokasi dan arah dari penyebab benturan b) Kecepatan kekuatan yang datang c) Permukaan dari kekuatan yang menimpa d) Kondisi kepala ketika mendapat penyebab benturan

Kerusakan otak yang dijumpai pada cedera kepala dapat terjadi melalui dua cara 1. Efek langsung ; trauma pada fungsi otak 2. Efek tidak langsung ; kerusakan neurologik langsung disebabkan oleh suatu benda atau serpihan tulang yang menembus dan merobek jaringan otak. Semua ini berakibat terjadinya akselerasi- deselarasi. Derajat kerusakan dipengaruhi oleh kekuatan yang menimpa. Ada 2 macam kekuatan yang dihasilkan : a. Cidera setempat yang disebabkan oleh benda tajam, kerusakan neurologik terjadi pada tempat yang terbatas pada tempat serangan. b. Cidera menyeluruh yang lebih lazim dijumpai pada trauma tumpul dan setelah kecelakaan mobil. Kerusakan terjadi waktu energi atau kekuatan diteruskan pada otak. Banyak energi diserap oleh lapisan pelindung yaitu : rambut, kulit kepala dan tengkorak. Tetapi pada cidera berat penyerapan ini tidak cukup untuk melindungi otak. Jika kepala bergerak dan berhenti dengan mendadak dan kasar, kerusakan tidak hanya disebabkan oleh cidera setempat tetapi juga oleh akselerasi dan deselarasi. Kekuatan akselerasi dan deselerasi menyebabkan isi dalam tengkorak yang keras bergerak, sehingga memaksa otak membantur permukaan dalam tengkorak pada tempat yang berlawanan benturan dan dampak yang terjadi adalah cedera jaringan otak.

Setiap kali jaringan mengalami cidera, akan terjadi perubahan isi cairan intrasel dan ekstrasel. Penigkatan suplai darah ketempat dimana terjadi cidera yang menimbulkan tekanan intracranial mengalami penigkatan sebagai akibat cidera sirkulasi otak untuk mengatur volum darah ke otak yang mengalami kemampuannya sehingga menyebabkan iskemia pada otak.

5. Tanda dan Gejala 1). Trauma Kepala Terbuka a. Terjadinya perdarahan yang nyata b. Hematimpanum (perdarahan pada daerah gendang telinga) c. Periorbital (mata berwarna hitam tanpa trauma langsung) d. Rhinorhoe (liquor keluar dari hidung) e. Otorhoe (liquor keluar dari telinga) 2). Trauma Kepala Tertutup a) Komusio Cerebri Pingsan < 10 menit Nyeri kepala Pusing, mual muntah Noda-noda depan mata Gangguan keseimbangan, linglung Kelemahan b) Kontusio cerebri Edema jaringan otak didaerah sekitarnya Bila oedema meluas akan terjadi tekanan intra cranial Sering terjadi kenaikan suhu diatas 40oC Berdasarkan atas lokasi benturan, lesi dibedakan kontusio coup dan kontusio contracoup. Coup kontusio dimana daerah yang terkena benturan sama dengan daerah yang terpengaruh. Kontracoup kontusio dimana daerah yang terkena benturan berbeda dengan daerah yang terpengaruh, contohnya ; daerah yang terbentur adalah bagian kanan, seharusnya yang terpengaruh adalah sebelah kanan tetapi yang terjadi adalah sebelah kiri.

Klasifikasi cidera kepala berdasarkan mekanisme dan keparahan cidera : 1. Mekanisme berdasarkan adanya penetrasi duramater : Trauma tumpul ; kecepatan tinggi (tabrakan) Trauma tajam ; luka tembus peluru dan cidera tembus lainnya.

2. Keparahan cidera : a. Cedera kepala ringan (kelompok resiko rendah) 1. Skor skala coma Glasgow 15 (sadar penuh dan orientatif) 2. Tidak ada kehilangan kesadaran 3. Tidak ada intoksikasi alcohol atau obat terlarang 4. Pasien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing 5. Pasien dapat menderita haematoma pada kulit kepala 6. Tidak ada criteria cedera sedang berat b. Cedera kepala sedang (kelompok resiko sedang) 1. Skor skala coma Glasgow 9 14 (letargi) 2. Amnesia paska trauma 3. Muntah 4. Tanda kemungkinan fraktur kranium (mata rabun, hemotimpanum, otorea, rinorea cairan serebrospinal) 5. Kejang c. Cedera kepala berat (kelompok resiko berat) 1. Skor skala coma Glasgow 3 8 (coma) 2. Penurunan derajat kesadaran secara progresif 3. Tanda neurologis vocal 4. Cedera kepala penetrasi atau teraba fraktur kranium.

6. Test Diagnostik Pemeriksaan tengkorak dengan sinar X untuk mengidentifikasi lokasi fraktur haematom. CT scan atau MRF dapat dengan cermat menentukan letak dan luas cedera Pemeriksaan laboratorium ; hematokrit, trombosit, darah lengkap, masa protombin.

7. Penatalaksanaan Medis a. Komusio Cerebri

Penderita harus tirah baring ditempat tidur sehingga semua keluhan hilang. Tanda tanda vital dan kesadaran dikontrol minimal setengah jam selama 24 jam pertama, bila tensi naik dan nadi turun waspada terjadinya perdarahan epidural.

Pemberiaan analgesic Setelah keluhan nyeri, mual atau mutah hilang, maka dimulai mobilisasi.

b. Kontusio Cerebri Pengawasan kesadaran dan fungsi vital dilakukan setiap 15 menit pada empat jam pertama dan tiap 30 menit setelah itu. Mengatahui gangguan sirkulasi Pengawasan temperature Pemberian cairan dan elektrolit Pemberian antibiotic Pemberian anti inflamasi c. Cedera kepala ringan ; pasien dengan cedera kepala ini umumnya dapat dipulangkan kerumah tanpa perlu dilakukan pemeriksaan CT scan bila memenuhi criteria berikut : Hasil pemeriksaan neurologis dalam batas normal Adanya orang yang bertanggung jawab untuk mengamati pasien selama 24 jam pertama, dengan instruksi.

8. Komplikasi Komplikasi yang timbul adalah peningkatan TIK, kehilangan sensori dan motorik, kerusakan otak, dan disfungsi syaraf cranial. Tindakan operatif yang dapat diberikan adalah kraniotomy atau trepanasi serta debridement. B. Konsep Dasar Keperawatan 1. Pengkajian a. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan Riwayat kesehatan pasien Kejadian saat terjadi trauma Kondisi saat dan setelah terjadi trauma

b. Pola nutrisi metabolic Apakah ada mual, muntah dan perubahan selera makan ? Apakah ada gangguan menelan ? c. Pola eliminasi Retensi urin, jumlah, frekuensi dan warna ? d. Pola aktivitas dan latihan Merasa lemah, lelah dan kaku Kehilangan keseimbangan e. Pola istirahat dan tidur Gangguan nyeri sehingga tidak bisa tidur Gelisah Kebiasaan tidur f. Pola persepsi kognitif Wajah tampak meringis kesakitan g. Pola persepsi dan konsep diri Apakah ada perubahan kepribadian, cemas ? h. Pola peran dan hubungan dengan sesama Apakah menarik diri terhadap lingkungan sekitar ? i. Pola reproduksi-seksualitas Apakah ada penurunan libido ? j. Mekanisme koping dan toleransi terhadap stress Apakah pasien mudah mengalami stress ? Cemas dan depresi ? Bagaimana pasien mengatasi stressnya ?

k. Pola system kepercayaan Apakah pasien kesulitan melakukan aktivitas secara normal ? Adakah alat-alat untuk berdoa di sekitar pasien ?

2. Masalah Keperawatan Dx 1 : Nyeri yang berhubungan dengan adanya cedera kepala. Dx 2 : Perubahan rasa nyaman : pusing berhubungan dengan efek trauma pada kepala. Dx 3 : Intoleransi aktivitas fisik yang berhubungan dengan kelemahan fisik.

Dx 4 : Resiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan adanya jalan masuk bakteri.

3. Rencana Keperawatan Dx 1 : Nyeri yang berhubungan dengan adanya cidera kepala Tujuan : Nyeri dapat diminimalkan sampai hilang Sasaran : Pasien tampak rileks Pasien tidak meringis kesakitan Nyeri berkurang hingga hilang Tampak luka di kepala sudah kering TTV normal Skala nyeri 1-3 Rencana tindakan : 1. Kaji ulang keluhan pasien R/ Untuk mengetahui tingkat nyeri pada pasien 2. Kaji ulang TTV R/ Mengetahui perubahan TTV pada pasien 3. Ajar dan anjurkan pasien untuk tekhnik relaksasi (napas dalam) R/ Untuk mengurangi rasa nyeri 4. Berikan posisi yang nyaman R/ Supaya pasien merasa nyaman 5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian anti analgetik R/ Memberikan terapi pada pasien Dx 2 : Perubahan rasa nyaman : pusing berhubungan dengan efek trauma pada kepala. Tujuan : Perubahan rasa nyaman : pusing teratasi Sasaran : Pasien tampak tenang Pasien tidak memegang dahinya lagi Skala nyeri 2 Rencana tindakan : 1. Kaji keluhan pusing setiap 2 jam sekali R/ Untuk mengetahui tingkat pusing pasien 2. Kaji tanda-tanda vital

R/ Mengetahui peningkatan tanda-tanda vital pada pasien 3. Berikan posisi untuk mempertahankan kepala pada posisi tengah R/ Supaya pasien tetap merasa nyaman 4. Anjurkan pasien tekhnik relaksasi (napas dalam) R/ Mengurangi rasa nyeri/pusing 5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi R/ Untuk memberi therapy pada pasien Dx 3 : Intoleransi aktivitas fisik yang berhubungan dengan kelemahan fisik Tujuan : Intoleransi aktivitas teratasi Sasaran : Pasien tampak rileks Pasiem mampu melakukan gerakan sederhana di tempat tidur Pasien tidak meringis kesakitan Pasiem mampu miring kiri, kanan dan duduk Rencana tindakan : 1. Kaji ulang keluhan tingkat kemampuan pasien beraktivitas. R/ Untuk mengetahui tingkat kemampuan aktivitas pasien 2. Kaji tanda-tanda vital. R/ Untuk mengetahui tingkat TTV pada pasien 3. Bantu pasien dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari selama di rumah sakit. R/ Untuk mengurangi aktivitas yang berat pada pasien 4. Anjurkan pasien untuk melakukan aktivitas ringan di tempat tidur. R/ Supaya pasien dapat melakukan aktivitas secara mandiri 5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapy R/ Untuk memberi therapy pada pasien

Dx 4 : Resiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan adanya jalan masuk bakteri Tujuan : Infeksi tidak terjadi Sasaran : Pasien bebas dari tanda-tanda infeksi Pasien menunjukkan penyembuhan luka tepat waktu Pasien tampak rileks Pasien tidak memegang kepala lagi

Rencana tindakan : 1. Kaji ulang adanya tanda-tanda infeksi. R/ Mempermudahkan dalam perencanaan keperawatan selanjutnya. 2. Kaji ulang tanda-tanda vital. R/ Mengetahui peningkatan TTV pada pasien. 3. Anjurkan pasien untuk tidak menyentuh luka. R/ Supaya tidak terjadi infeksi. 4. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotika. R/ Mempercepat penyembuhan.