Anda di halaman 1dari 24

REFERAT

OBAT-OBAT EMERGENSI
Mustika Rohdiniyanti 2007730088

RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA CEMPAKA PUTIH 2012

Emergensi
Emergensi adalah serangkaian usaha-usaha pertama yang dapat dilakukan pada kondisi gawat darurat dalam rangka menyelamatkan pasien dari kematian.

Pengelolaan pasien yang terluka parah memerlukaan


penilaian yang cepat dan pengelolaan yang tepat untuk menghindari kematian.

Obat Obat Emergensi


Obat-obatan emergency atau gawat darurat adalah obat-obat yang digunakan untuk mengatasi situasi gawat darurat atau untuk

resusitasi / life support.


Pengetahuan mengenai obat-obatan ini penting

sekali untuk mengatasi situasi gawat darurat yang


mengancam nyawa dengan cepat dan tepat.

EPINEFRIN
Epinefrin merupakan prototipe obat kelompok adrenergik. Dengan

mengerti efek epinefrin, maka mudah bagi kita untuk mengerti efek
obat adrenergik yang bekerja di reseptor lainnya. Epinefrin bekerja pada semua reseptor adrenergik: 1, 2, 1 dan 2 sedangkan norepinefrin bekerja pada reseptor 1, 2, 1 sehingga efeknya sama dengan epinefrin dikurangi efek terhadap 2. Selektivitas obat tidak mutlak, dalam dosis besar selektivitas hilang. Jadi dalam dosis besar agonis 2 tetap dapat menyebabkan perangsangan reseptor 1 di jantung.

INDIKASI
Henti jantung : fibrilasi ventrikel (VF), takikardi ventrikel tanpa denyut nadi (pulselessVT), asistol, PEA (Pulseless Electrical Activity)

Bradikardia simtomatis
Hipotensi berat Anafilaksis, reaksi alergi berat : kombinasi bersama sejumlah besar cairan, kortikosteroid, antihistamin

SEDIAAN DAN DOSIS


Ampul 1 ml = 1 mg IV/IO : 1 mg diberikan/diulang setiap 3 5 menit Endotrakeal : 2 2,5 mg (2 2,5 kali dosis IV/IO), dilarutkan dalam 10 ml PZ/NS Infus kontinyu :1 mg dilarutkan dalam 500 ml NS atau D5%, kecepatan inisial 1 g/menit dititrasi sampai mencapai efek.

EFEK SAMPING
Peningkatan tekanan darah dan frekuensi nadi dapat menyebabkan iskemia miokard, angina, dan peningkatan kebutuhan oksigen miokard Dosis besar tidak meningkatkan perbaikan

kesudahan (outcome) status neurologis, bahkan bisa menyebabkan disfungsi miokard post

ATROPIN
Penghambat reseptor muskarinik atau anti-muskarinik dikelompokkan dalam 3 kelompok yaitu: 1. Alkaloid antimuskarinik : Atropin dan Skopolamin

2. Derivat semisintetisnya, dan


3. Derivat sintetis Sintesis dilakukan dengan maksud mendapatkan obat dengan efek khusus terhadap gangguan tertentu dan efek samping yang lebih ringan. Kelompok obat ini bekerja pada reseptor muskarinik dengan afinitas berbeda untuk berbagai subtipe reseptor muskarinik. Oleh karena itu saat ini terdapat antimuskarinik yang digunakan untuk: 1. Mendapatkan efek perifer tanpa efek sentral misalnya, antispasmodik. 2. Pengunaan lokal pada mata sebagai midriatikum. 3. Memperoleh efek sentral, misalnya untuk mengobati penyakit Parkinson 4. Bronkodilatasi 5. Memperoleh efek hambatan pada sekresi lambung dan gerakan saluran cerna.

Atropin (campuran dan l-hiosiamin) terutama ditemukan pada Atropa belladonna dan Datura stramonium,

merupakan ester organik dari asam tropat dengan tropanol

atau skopin (basa organik). Walaupun selektif menghambat


reseptor muskarinik, pada dosis sangat besar atropine memperlihatkan efek penghambatan juga di ganglion otonom dan otot rangka yang reseptornya nikotinik.

INDIKASI
bradikardia simtomatis blok AV node selagi menunggu pemasanganpacemaker obat pilihan kedua untuk asistol atau PEA (setelah epinefrin/vasopresor) intoksikasi organofosfat

SEDIAAN DAN DOSIS


Ampul 1 ml = 0,25 mg Asistol/PEA : 1 mg IV/IO bolus, diulang tiap 3 5 menit; maksimal 3 kali pemberian (3 mg)

Bradikardia : 0,5 mg IV/IO tiap 3 5 menit; maksimal 3 mg


Endotrakeal : 2 3 mg dilarutkan dalam 10 ml NS Dibutuhkan dosis yang sangat besar untuk intoksikasi organofosfat

EFEK SAMPING
Memperburuk iskemia miokard Menyebabkan bradikardia paradoksal pada

dosis < 0,5 mg


Tidak berguna untuk blok AV node derajat 2 tipe II dan derajat 3

DEKSAMETHASON (KORTIKOSTEROID)
Kortikosteroid mempengaruhi metabolisme karbohidrat, protein dan lemak; dan mempengaruhi juga fungsi sistem kardiovaskular, ginjal, otot lurik, sistem

saraf dan organ lain. Korteks adrenal berfungsi homeostatis, artinya penting
bagi organisme untuk dapat mempertahankan diri dalam menghadapi perubahan lingkungan. Glukokortikoid memiliki efek yang tersebar luas karena mempengaruhi fungsi dari sebagian besar sel-sel tubuh. Dampak metabolik yang utama dari sekresi atau pemberian glukokortikoid adalah disebabkan karena kerja langsung hormon-hormon ini pada sel. Tetapi dampak pentingnya adalah dalam menghasilkan respon homeostatik pada insulin dan glucagon. Meskipun banyak efek dari glukokortikoid berkaitan dengan dosis dan efeknya membesar ketika sejumlah besar glukokortikoid diberikan untuk tujuan terapi.

MORFIN
INDIKASI:
Chest pain dengan Acute Coronary Syndrome (ACS) yang tak respon dengan nitrat Edema paru akut kardiogenik (bila TD adekuat)

SEDIAAN
Ampul 1 ml = 10 mg

DOSIS
Dosis inisial : 2 4 mg IV dalam 1 5 menit, setiap 5 sampai 30 menit

Dosis ulangan : 2 8 mg pada interval 5 sampai 15 menit


Masukkan pelan-pelan dan titrasi sampai tercapai efek Bisa menyebabkan depresi napas Menyebabkan hipotensi (pada pasien dengan deplesi volume cairan) Gunakan dengan hati-hati/perhatian penuh pada kasus infark ventrikel kanan Antidotum : nalokson (0,4 2 mg IV)

LIDOKAIN
INDIKASI
Alternatif amiodaron pada henti jantung karena VF/VT Obat pilihan utama untuk PVC (Paroxismal Ventrikel Contraction) berbahaya/mengancam nyawa :

multipel multifokal Bigemini salvo/run R on T

VT stabil dengan ventrikel kiri yang baik

SEDIAAN DAN DOSIS


Ampul 2 ml = 40 mg Henti jantung karena VF/VT :dosis inisial 1 1,5 mg/kg IV/IO bolus

VF refrakter :0,5 0,75 mg/kg IV bolus, diulang tiap 5


10 menit; maksimal 3 kali pemberian (3 mg/kg) Endotrakeal : 2 4 mg/kg

EFEK SAMPING
Hati-hati pada penderita : syok kardiogenik dekompensasi kordis usia > 70 tahun

penyakit liver

Stop pemberian jika ada efek samping : somnolen

gatal-gatal
konvulsi bicara kabur/tak jelas

DOBUTAMIN
INDIKASI
Dipertimbangkan untuk kasus pump problems (gagal jantung kongestif, sembab paru / congestive pulmonum) dengan TDS 70 100 mmHg dan tidak ada tanda-tanda

syok.

SEDIAAN DAN DOSIS


Ampul 10 ml = 250 mg

Laju pemberian yang lazim 2 20 g/kg per menit, titrasi sehingga HR


tidak sampai meningkat 10 % dari baseline. Untuk penggunaan yang optimal, disarankan memonitor hemodinamik. Respon untuk pasien usia tua menurun signifikan Cegah pemberian pada TDS < 100 mmHg dan ada tanda-tanda syok Menyebabkan takiaritmia Tidak boleh mencampur dengan natrium bikarbonat

DOPAMIN
INDIKASI

obat pilihan kedua untuk bradikardia simtomatis


(setelah atropin)

hipotensi (TDS 70 100 mmHg)


SEDIAAN DAN DOSIS

Ampul 5 ml = 200 mg
5 20 g/kg/menit, titrasi sampai respon tercapai

EFEK SAMPING
Turunkan bertahap (tapering)

Janganmencampur/melarutkan

dengan

natrium

bikarbonat, lakukan pengenceran dengan D5%, D5 1/2

NS, D10 0,18 NS; RL


Diberikan dengansyringe pump atauinfusion pump,

harusselalu drip, bukan IV bolus


Bisa menyebabkan takiaritmia, vasokonstriksi yang eksesif

Prostigmin (neostigmine methylsulphate)


Penggunaan : reversi dari relaksan otot depolarisasi
Neostigmin menghambat hidrolisis asetilkolin melalui

kompetisi dengan asetilkolin untuk perlekatan


dengan asetilkolinesterase pada tempat asteratik. Penimbunan asetilkolin mempermudah transmisi impuls melintasi sambungan neuomuskuler.

Dosis : reversi iv lambat 0,05mg/kg (dosis maksimum 5mg) Eliminasi : hati, esterase plasma Awitan aksi reversi : iv < 3 menit Efek puncak : 3-14 menit Lama aksi : 40-60 menit Efek samping : bradikardi, takikardi, hipotensi, peningkatan skresi oral, faring, dan bronkus.