Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Demensia adalah sebuah sindrom karena penyakit otak, bersifat kronis atau

progresif di mana ada banyak.gangguan fungsi kortikal yang lebih tinggi, termasuk memori, berpikir, orientasi, pemahaman, perhitungan, belajar, kemampuan, bahasa, dan penilaian kesadaran tidak terganggu. Gangguan fungsi kognitif yang biasanya disertai, kadang-kadang didahului, oleh kemerosotan dalam pengendalian emosi, perilaku sosial, atau motivasi. Sindrom terjadi pada penyakit Alzheimer, di penyakit serebrovaskular, dan dalam kondisi lain terutama atau sekunder yang mempengaruhi otak (Durand dan Barlow, 2006) Menurut data Asia Pasifik tahun 2006, jumlah orang yang menderita demensia di wilayah Asia Pasifik pada 2025 diperkirakan meningkat lebih dari dua kali lipat dan peningkatan ini akan lebih cepat dibandingkan dengan yang terjadi di negara-negara barat. Sementara di dunia, pada tahun 2040 jumlah penderita demensia diperkirakan menjadi sekitar 80 juta orang. (Demensia di kawasan asia pasifik, 2006) Gejala awal gangguan ini adalah lupa akan peristiwa yang baru saja terjadi, tetapi bisa juga bermula sebagai depresi, ketakutan, kecemasan, penurunan emosi atau perubahan kepribadian lainnya. Terjadi perubahan ringan dalam pola berbicara, penderita menggunakan kata-kata yang lebih sederhana, menggunakan kata-kata yang tidak tepat atau tidak mampu menemukan kata-kata yang tepat. Ketidakmampuan mengartikan tanda-tanda bisa menimbulkan kesulitan dalam mengemudikan kendaraan. Pada akhirnya penderita tidak dapat menjalankan fungsi sosialnya. (..) Demensia banyak menyerang mereka yang telah memasuki usia lanjut. Bahkan, penurunan fungsi kognitif ini bisa dialami pada usia kurang dari 50 tahun. 1

Sebagian besar orang mengira bahwa demensia adalah penyakit yang hanya diderita oleh para Lansia, kenyataannya demensia dapat diderita oleh siapa saja dari semua tingkat usia dan jenis kelamin (Harvey, R. J. et al. 2003). Untuk mengurangi risiko, otak perlu dilatih sejak dini disertai penerapan gaya hidup sehat. (Harvey, R. J., Robinson, M. S. & Rossor, M. N, 2003). Tujuan Penulisan Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas matakuliah seminar klinis dengan memfokuskan pada salah satu topik klinis yaitu demensia.

BAB II ISI Definisi Menurut Emil Kraepelin (1856-1926), seorang psikiatri Jerman pada tahun 1893. Kraepelin menyebutkannya dengan istilah dementia praecox. Istilah dementia praecox berasal dari bahasa Latin dementis dan precocious, mengacu pada situasi dimana seseorang mengalami kehilangan atau kerusakan kemampuankemampuan mentalnya sejak dini. Menurut Kraepelin, dementia praecox merupakan proses penyakit yang disebabkan oleh penyakit tertentu dalam tubuh. Dementia praecox meliputi hilangnya kesatuan dalam pikiran, perasaan, dan tingkah laku. Menurut orang awam istilah ini disebut suatu kepikunan yaitu istilah deskripsi umum bagi kemunduran kemampuan intelektual hingga ke titik yang melemahkan fungsi sosial dan pekerjaan. Demensia terjadi secara sangat perlahan selama bertahun-tahun; kelemahan kognitif dan behavioral yang hampir tidak terlihat dapat dideteksi jauh sebelum orang yang bersangkutan menunjukkan hendaya yang jelas (Small dalam Davison dkk, 2006). Hal yang sama juga dikemukakan oleh Pudjonarko (2010) bahwa demensia sering dianggap proses yang normal pada orang tua, karena merupakan proses penuaan karena Lansia selain mengalami kemunduran fisik juga sering mengalami kemunduran fungsi intelektual. Sedangkan menurut Grayson (2004) menyebutkan bahwa demensia bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku.

Dalam Durand dan Barlow (2006) demensia adalah onset-gradual fungsi otak yang melibatkan kehilangan ingatan, ketidakmampuan mengenali berbagai objek atau wajah, dan kesulitan dalam merencanakan dan penalaran abstrak. Keadaan ini berhubungan dengan frustasi dan kehilangan semangat. Menurut WHO dalam Clinical Deskriptions and Diagnostic Guidelines for Mental and Behavioural Disorders dan International Classification of Diseases (10th Revision) (ICD-10) (2008) demensia memiliki ciri-ciri yang harus ada diantaranya: Kemunduran kemampuan intelektual terutama memori yang sampai

menganggu aktivitas-aktivitas keseharian sehingga menjadikan penderita sulit bahkan tidak mungkin untuk hidup secara mandiri. Mengalami kemunduran dalam berfikir, merencanakan dan mengorganisasikan hal-hal dari hari ke hari. Awalnya, mengalami kesulitan menyebutkan nama-nama benda, orientasi waktu, tempat. Kemunduran pengontrolan emosi, motivasi, perubahan dalam perilaku sosial yang tampak dalam kelabilan emosi, ketidak mampuan melakukan ritual keseharian, apatis (tidak peduli) terhadap perilaku sosial seperti makan, berpakaian dan interaksi dengan orang lain. Ada bermacam-macam jenis demensia, menurut Durland dan Barlow (2006) ada lima golongan demensia berdasarkan etiologinya yang telah didefinisikan yaitu : (1) demensia tipe Alzheimer, (2) demensia vaskular, (3) demensia larena kondisi medis umum, (4) demensia menetap yang diinduksi oleh substansi tertentu, dan (5) demensia karena etiologi ganda/multiple, (6) demensia yang tak tergolongkan. Demensia Alzheimer adalah demensia yang paling banyak terjadi dan dicirikan oleh kemunduran intelektual yang progresif. Faktor risiko utama adalah

usia yang lanjut, keturunan dan trauma kepala. Demensia vaskuler (multi infrak) adalah demensia kedua yang banyak terjdai setelah demensia Alzheimer. Demensia vaskuler seringkali dicirikan oleh adanya tanda dan gejala tertentu seperti kemunduran yang bertahap (step-wise), riwayat sroke atau hipertensi, bukti adanya aterosklerosis, gejala neurologis fokal, dan emosi stabil. Sebab-Sebab Penyebab secara biologis Adanya penumpukan protein yang lengket yang disebut anyloid plauques yang berakumulasi di otak pada penderita demensia. Plak amiloid juga ditemukan pada lansia yang tidak memiliki gejala-gejala demensia, tetapi juga dalam jumlah yang jauh lebih sedikit (Bourgeois dkk dalam Durand dan Barlow, 2006) Di dalam otak ditemukan jaringan abnormal (disebut plak senilis dan serabut saraf yang semrawut) dan protein abnormal, yang bisa terlihat pada otopsi. Demensia sosok Lewy sangat menyerupai penyakit Alzheimer, tetapi memiliki perbedaan dalam perubahan mikroskopik yang terjadi di dalam otak. Penyebab yang lain dari demensia adalah serangan stroke yang berturutturut.Stroke tunggal ukurannya kecil dan menyebabkan kelemahan yang ringan atau kelemahan yang timbul secara perlahan. Stroke kecil ini secara bertahap menyebabkan kerusakan jaringan otak, daerah otak yang mengalami kerusakan akibat tersumbatnya aliran darah disebut infark. Demensia yang berasal dari stroke kecil disebut demensia multi-infark. Sebagian besar penderitanya memiliki tekanan darah tinggi atau kencing manis, yang keduanya menyebabkan kerusakan pembuluh darah di otak. 5

Demensia juga bisa terjadi setelah seseorang mengalami cedera otak atau cardiac arrest. Penyebab lain dari demensia adalah penyakit parkinson, penyakit pick, AIDS, penyakit paru, ginjal, gangguan darah, gangguan nurtrisi, keracunan metabolism, diabetes. Penyebab biologis demensia tidak diketahui penyebabnya hanya saja masalah kerusakan cortex (jaringan otak). Penelitian otopsi mengungkapkan bahwa lebih dari setengah penderita yang meninggal karena demensia senile mengalami penyakit Alzheimer jenis ini. Pada kebanyakan penderita, besar kasar otak pada saat otopsi jauh lebih rendah yang ventrikel dan sulkus jauh lebih besar dibandingkan yang normal yang seukuran usia tersebut. Demielinasi dan peningkatan kandungan air pada jaringan otak ditemukan berdekatan dengan ventrikel lateral dan dalam beberapa daerah lain di bagian dalam hemifsfer serebrum pad penderita manula (http://www.scrib.com/doc/24799498/DEMENSIA). Faktor genetik yang berhubungan dengan apoprotein E4 (Apo E4), alela (4) kromosom 19 pada penderita Alzheimer familial/sporadic. Mutasi 21,1, 14 awal penyakit. Penyebab lainnya yaitu neorotransmiter lain yang berkurang (defisit) yaitu non adrenergic presinaptik, serotonin, somatostatin, corticotrophin, releasing faktor, glutamate, dll. Penyebab secara psikologis Penderita yang mengalami depresi memiliki risiko dua kali lebih besar mengalami demensia. Hal ini diperkuat dari hasil penelitian oleh Epidemiological Pathways Follow-Up Study yang dilakukan selama lima tahun pasien yang sudah di diagnosis menderita demensia dikeluarkan dari penelitian ini () Selama periode lima tahun 36 dari 445, atau 7.9 persen dari pasien diabetes dengan depresi berat didiagnosis dengan demensia. Di antara 3.382 pasien dengan diabetes saja, 163 atau 4,8 persen mengembangkan gejala demensia. Para peneliti

menemukan hasil bahwa depresi berat dengan diabetes mengalami peningkatan 2.7 kali lipat untuk mengalami demensia, dibanding dengan pasien diabetes tanpa mengalami depresi berat. Depresi meningkatkan risiko demensia, karena kelainan biologis afektif ini berhubungan dengan penyakit, termasuk tingginya kadar hormon stres kortisol, atau masalah sistem saraf otonom yang dapat mempengaruhi jantung, pembekuan darah. Selain itu faktor-faktor lain yang meningkatkan risiko demensia karena perilaku umum dalam kondisi seperti merokok, makan berlebihan, kurang olahraga, dan kesulitan dalam mengikuti rejimen pengobatan dan perawatan. Penyebab secara sosial Gaya hidup seseorang mungkin melibatkan kontak dengan faktor-faktor yang dapat menyebabkan demensia, misalnya penyalahan substansi yang dapat mengakibatkan demensia. Gaya hidup seperti diet, olahraga, dan stres mempengaruhi penyakit kardiovaskuler dan dapat membantu menentukan siapa saja yang akan mengalami demensia vaskuler. Gaya hidup yang sehat seperti diet, olahraga dan kontrol terhadap makanan dapat meminimalisir kemungkinan terjadinya stroke dan tekanan darah tinggi yang menyebabkan demensia vaskuler. Sedangkan gaya hidup yang tidak sehat seperti stres, tidak mengontrol makanan, jarang berolahraga dapat meningkatkan risiko terkena stroke dan tekanan darah tinggi yang menyebabkan demensia vaskuler. Faktor-faktor kultural juga dapat memengaruhi seseorang mengalami demensia. Sebagai contoh, hipertensi dan stroke menonjol di kalangan orang-orang AfrikaAmerika dan orang-orang Asia-Amerika tertentu (Cruickshank dan Beevers dalam Durand dan Barlow, 2006), yang menjelaskan mengapa demensia vaskular lebih sering dialami oleh kelompok ini. Hal ini terjadi akibat gaya hidup yang kurang sehat seperti dikalangan orang-orang Afrika-Amerika yang sering mengkonsumsi alkohol dan makanan-makanan cepat saji dan berpengawet yang meningkatkan 7

risiko terkena hieprtensi dan stroke yang menyebabkan demensia varskuler ( de la Monte, et all dalam Durand dan Barlow, 2006). Penyebab secara spiritual Q.S An-Nahl: 70, Q.S Al-Hajj:5 , Q.S Yassin:68 yang menjelaskan bahwa seorang manusia dapat bertambah umurnya akan mengalami penurunan ingatan yang dapat menyebabkan umurnya akan mengalami penurunan ingatan yang dapat menyebabkan pikun atau lupa. Berkaitan dengan ini Ibnu Khaldun mengungkapkan bahwa akal memiliki fungsi yaitu kerja otak baik kognitif maupun imajinatif dan dengan jelas tersirat dan tersurat pada Al-quran (QS. Alanfal:8 dan AlAraf: 9). Sebagaimana fungsi akal adalah tempat untuk berfikir maka manusia haruslah menggunakan apa yang telah diberikan Allah dengan optimal yaitu untuk mentafakkuri dan mentadabburi ayatayat Allah baik yang tertulis dalam Al-Quran maupun di alam semesta. Jika akal manusia tidak digunakan dengan semestinya maka akal tersebut akan kehilangan fungsinya otak berfikir, selanjutnya diambil alih oleh otak binatang yang dicirikan oleh nafsu tak terkendali yang bersifat kepemilikan dan seksualitas. Hal yang serupapun dikemukakan oleh ahli neorologi bahwa fungsi otak akan semakin menurun ketika sedikit mendapatkan stimulasi, saat hal tersebut terjadi maka neuron-neuron dalam otak akan semakin melemah dan mati sehingga akan memicu gangguan fungsi kognitif yang cukup signifikan. Jika otak berfikir mati maka fungsi-fungsi kognisi manusia seperti; bahasa dan memori kognitif akan rusak dan kehilangan kemampuan berfikir terutama kalkulasi bahasa dan matematis logis dan kesulitan untuk memberikan respon atas setiap stimulus yang masuk (Hasanuddin, 2010).

Pendekatan Menurut Aliran-aliran

Sudut pandang behaviorisme Demensia dapat disebabkan oleh salah satunya adalah penggunaan obat-obatan terlarang dan alkohol, seseorang yang menggunakan obat-obatan selain memiliki faktor internal, juga memeiliki faktor eksternal untuk mengkonsumsi obat-obatan terlarang dan alkohol. Misalnya saja stress dalam menjalani persoalaan hidup, kemudian ia memutuskan untuk mengkonsumsi obat-obatan dan alkohol setelah ia melihat teman-teman yang mengkonsumsi obat-obatan dan alkohol (lingkungannya merupakan lingkungan dengan orangorang yang sering mengkonsumsi obat-obatan dan alkohol). Sehingga ia mengkonsumsi obat-obatan dan alkohol untuk menghilangkasn stresnya, hal inilah yang akan menyebabkan ia dapat mengalami demensia. Sudut pandang Neuropsikologi Pendekatan ini memandang bahwa demensia terjadi karena adanya kesalahan dalam menggunakan fungsi otak. Terkait hal ini, jika short term memory tidak digunakan secara optimal, maka fungsi rehearsal pada long term memorypun akan terganggu akibat akumulasi dari tindakan yang tidak benar. Selain itu, ditinjau dari stuktur otak itu sendiri lama-kelamaan sel neuron yang ada di otak akan melemah dan akhirnya mati karena kurangnya pemberian stimulus. Jika hal ini dibiarkan berkepanjangan maka potensi seseorang mengalami demensia akan lebih tinggi. Sudut pandang kognitif Menurut sudut pandang ini, orang yang mengalami demensia bisa disebabkan karena stigma berfikir yang salah yaitu menganggap sesuatu lupa bahkan pikun adalah hal yang wajar karena disebabkan oleh faktor usia. Terkait ini seseorang tidak berusaha untuk menjaga memori yang dimilikinya atau sekedar melakukan senam otak. Kecenderungan manusia untuk malas berfikir misal melakukan hitungan sederhana tanpa menggunakan kalkulator inilah salah satu faktor yang turut mempengaruhi kelemahan otak untuk 9

berfikir. Sudut pandang psikologi islami Berdasarkan tinjauan dari Al Quran, manusia dibekali kelebihan untuk berpikir dimana hal tersebut terletak pada fungsi otak itu sendiri. Bahkan Allah menjelaskan kedudukan manusia yang tidak mau menggunakan otaknya untuk berfikir lebih rendah dari binatang ternak. (QS. Al Aaraf: 7: 179). Penjelasan dari binatang ternak disini adalah sebuah kiasan yang bisa diinterpretasikan dengan kemampuan berfikir manusia yang tidak manusiawi (mengutamakan nafsu biologis semata), kemampuan berfikir manusia yang sudah tidak logis, sistematis, disorientasi, bahkan kemunduran intelektual. Dengan demikian sudah disinggung dalam Al-Quran bahwa otak yang telah diberikan Allah SWT harus digunakan secara optimal.

Gejala Gejala-gejala klinis demensia menurut Yatim (2003) meliputi: Hilang atau menurunnya daya ingat serta penurunan intelektual. Kadang-kadang gejala ini begitu ringan hingga luput dari perhatian pemeriksa bahkan dokter ahli yang berpengalaman sekalipun. Penderita kurang perhatian terhadap sesuatu yang merupakan kejadian seharihari dan tidak mampu berfikir jernih atas kejadian yang di hadapi seharihari, kurang inisiatif, serta mudah tersinggung. Kurang perhatian dalam berfikir. Emosi yang mudah berubah-ubah terlihat dari mudahnya gembira, tertawa terbahak-bahak lalu tiba-tiba sedih berurai air mata hanya karena sedikit pengaruh lain.

Muncul refleks sebagai tanda regresi (kemunduran kualitas fungsi seperti: refleks mengisap, rrefleks memegang, dan refleks glabella). Banyak perubahan perilaku diakibatkan oleh penyakit syaraf, maka terlihat dalam bentuk lain yang dikaburkan oleh gejala penyakit syaraf. Pada gejala klinis usia lanjut telihat dari penurunan perkembangan pemahaman yang terlihat sebagai berikut: Penurunan daya ingat. Salah satu gangguan pengamatan: Aphasia (kurang lancar berbahasa). Apraxia (tidak ada kemauan). Agnosia (kurang mampu merasakan rangsangan bau, penciuman dan rasa). Penurunan pengamatan timbul secara bertahap dan terus menurus dari waktu ke waktu sehingga menggangu kerja dan hubungan masyarakat. Onset Onset muda demensia menunjuk kepada mereka yang mengembangkan demensia sebelum usia 65 (previosly disebut 'pra-pikun' demensia); onset akhir demensia mulai menunjuk kepada mereka yang mengembangkan penyakit setelah berusia lebih dari 65 ('pikun' demensia). Perbedaan antara awal dan akhir penyakit onset klinis masih memiliki utilitas karena etiologi dan ciri-ciri orang dengan demensia berbeda antara onset muda dan onset akhir, dan orang-orang dengan demensia diperkirakan membutuhkan pendekatan yang berbeda. AD (Alzheimer Dieases) menyumbang sekitar 60% dari semua kasus; penyebab umum lainnya pada orang tua termasuk penyakit serebrovaskular (demensia vaskular (VAD)) dan demensia dengan badan 11

Lewy (DLB) akuntansi selama 15-20% dari kasus masing-masing. Dalam kasus young onset, frontotemporal dementia (FTD) juga merupakan penyebab terbesar ke dua setelah Alzheimer diaeses. Penyebab demensia lainnya termasuk penyakit degeneratif lainnya (misalnya, penyakit hungtington), penyakit prion (penyakit Creutzfeldt-Jakob (CJD)) HIV dan beberapa beracun dan gangguan metabolisme (misalnya, alkohol yang berhubungan dengan demensia). Demensia juga berkembang antara 30-70% dari orang-orang dengan penyakit parkinson, namun tergantung pada durasi dan usia (the british psychology & Gaskell. 2007) Prevalensi Alzheimers Disease International (ADI) 2008 memperkirakan bahwa ada sekitar 30 juta jiwa di dunia yang mengalami demensia dengan 4,6 juta yang memiliki kasus-kasus baru disetiap tahunnya. Jumlahnya akan meningkat lebih dari 100 juta jiwa pada tahun 2050. Perkiraan ini diperoleh berdasarkan penelitian pada populasi terperinci terhadap prevelensi demensia di Negara-negara yang berbeda. Tabel 1: rata-rata kemunculan dan prevalensi demensia berdasarkan penelitian orang eropa di Negara maju Kelompok usia 60-64 65-69 70-74 75-79 80-84 85-89 Kemunculan tahunan per 100 Laki-laki Perempuan 0.2 0.2 0.2 0.6 1.4 2.8 3.9 0.3 0.5 1.8 3.4 5.4 Prevalensi (%) Laki-laki - Perempuan 0.4 0.4 1.6 2.9 5.6 11.0 12.8 1.0 3.1 6.0 12.6 20.2

90+ 4.0 8.2 22.10 30.8 Prevalensi yang ditunjukkan pada laki-laki dan perempuan kedua-duanya meningkat tiap 5 tahunnya setelah usia 65 tahun. Demensia kebanyakan merupakan

penyakit orang tua, tetapi 2 % darinya dialami oleh orang-orang di bawah usia 65 tahun. Sedangkan pada Negara berkembang jumlah orang-orang tua akan meningkat 200% dibandingkan pada Negara maju pada tahun 2020. Pada prevalensi baru yang dipublikasikan tahun 2008 mengungkapkan bahwa penaksiran yang dipaparkan mengarah kepada penaksiran yang terlalu rendah pada prevalensi dan jumlah orang-orang yang mengalami demensia pada negara maju. Table 2: Perkiraan consensus ADI terhadap prevalensi demensia (%) oleh Negara-negara WHO dan kelompok usia. A= Negara dengan tingkat mortalitas paling rendah ; E= Negara-negara dengan tingkat mortalitas paling tinggi (2008). WHO EURO EURO EURO AMRO AMRO AMRO EMRO EMRO region (A) (B) (C) (A) (D) (C) (B) (D) Description W Eropa E Eropa E Eropa N Amerika S Amerika S Amerika Timur 60- 65- 70- 75- 8064 0.9 0.9 0.9 0.8 0.8 0.7 0.9 69 1.5 1.3 1.3 1.7 1.7 1.5 1.8 1.9 74 3.6 3.2 3.2 3.3 3.4 2.8 3.5 3.9 79 6.0 5.8 5.8 6.5 7.6 6.2 6.6 6.6 84 2.2 12.2 11.8 12.8 14.8 11.1 13.6 85+ 24.8 24.7 24.5 30.1 33.2 28.1 25.5

Tengah N Africa, 1.2 Timur Tengah Jepang,

13.9 23.5

WPRO WPRO

(A) (B)

0.6

1.4 1.7

2.6 3.7

4.7 7.0

10.4 22.1 14.4 26.2

Australia Cina dan 0.6 Negaranegara tetangga Indonesia, 13

SEARO

(B)

1.0

1.7

3.4

5.7

10.8 17.6

Srilangka, SEARO (D) Thailand India dan 0.4 Negaranegara AFRO (D) tetangga Bagian gurun sahara AFRO (E) Afrika Bagian gurun sahara Afrika Dari hasil data epidemiologi mengungkapkan bahwa prevalensi terhadap kecenderungan demensia pada negara berkembang lebih rendah dibanding pada Negara maju (lihat. Tabel 2). Perbedaan ini bisa disebabkan karena kemampuan survive orang-orang yang berada di Negara berkembang lebih rendah dari pada orang-orang yang ada pada Negara maju. Alasan-alasanya adalah karena adanya perbedaan budaya dalam hal ini demensia ringan sering diabaikan dan deteksi dini terhadap faktor risiko yang rendah seperti merokok dan penyakit kardiovaskular. Selain itu juga pada negara miskin, hanya sedikit orang-orangnya yang mampu bertahan hidup sampai usia 65 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa bentuk-bentuk ketidak normalan dan tingkat mortalitaspun terjadi pada negara maju. Sehingga pertanyaannya adalah akankah prevalensi demensia mengarah pada beban yang semakin meningkat pada negara yang lebih miskin. Meskipun sekarang tampak bahwa orang-orang dengan gangguan demensia hidup pada negara-negara berkembang yaitu 60% pada tahun 2001 dan eningkat 71% di tahun 2040. Dengan demikian dapat dimengerti bahwa meningkatnya usia harapan 0.5 1.0 1.9 3.8 7.0 14.9 0.3 0.6 1.3 2.3 4.3 9.7 0.9 1.8 3.7 7.2 14.4

hidup akan meningkatkan pula populasi demensia. Pengaruh lain dari meningkatnya usia harapan hidup adalah meningkat pula penyakit kardiovakuler antara lain stroke yang meningkat pada usia 65 tahun dan telah diketahui dan disepakati sebagai penyebab demensia vaskuler. Terapi Hasil dari consensus epidemiologi di atas menyatakan bahwa prosentase untuk prevalensi orang yang mengalami demensia semakin meningkat setiap tahunnya, sehingga perlu diupayakan tindakan-tindakan promotif, preventif maupun kuratif. Baik bagi mereka tanpa masalah maupun yang sudah bermasalah sesuai dengan yang sudah dibahas di atas. Penanganan yang bisa dilakukan: Farmakologis (dengan obat): hal ini perlu pemeriksaan dan pertimbangan secara individual. Non-Farmakologis (tanpa obat): hal ini bisa dilakukan oleh semua warga senior tanpa ada pertimbangan baik sebagai upaya promotif, prefentif maupun kuratif. Penanganan diantaranya: Mengobati penyakit-penyakit yang memperberat kejadian demensia. Mengobati gejala-geja gangguan jiwa yang mungkin menyertai demensia. Mengatasi masalah penyimpangan perilaku dengan obat-obat penenang (tranzquillizer dan hypnotic) serta memberikan obat-obatan anti kejang bila perlu. Intervensi lain yaitu dengan antipsykotics, Anxiiolitycs, Selegiline, Antimanic drugs,Acetlcholinesterase inhibit ( Gaskel, 2007) 15 secara farmakologis yang dilakukan (Yatim, 2003)

Konsep penanganan Non-farmakologis bisa menggunakan rekreasi terapeutik. Konsep ini bermanfaat untuk meningkatkan dan mempertahankan kebutuhan psikososial warga senior serta bertujuan meningkatkan dan mempertahankan kepercayaan diri, motivasi, mobilitas tantangan, interaksi sosial dan kebugaran mental. Aktivitas-aktivitas yang memiliki dampak terapeutik (Kusumoputro & Sidiarto,2006) diantaranya: Reminisensi Orientasi realitas Stimulasi kognitif Stimulasi sensorik Stimulasi fisik (berupa gerak dan latihan otak, GLO) Pelaksanaan program dilakukan dengan jumlah peserta yang tidak terlampau banyak, dipimpin seorang koordinator yang memahami konsep ini. Peserta harus dalam kelompok kebersamaan. Aktivitas reminisensi dilakukan dengan berbincang-bincang mengenai masalah yang lampau, mengingat kembali masa lampaunya dengan memori episodik (materi tentang waktu dan tempat kejadian). Dengan mengaktifkan memori episodik yang naratif, imajinatif dan emosional akan meningkatkan daya ingat kembali. Bersamaan dengan aktivitas tersebut juga dilakukan aktivitas orientasi nyata dengan mengingatkan lokasi, waktu dan perang orang-orang di masa lampau. Sebagai aktivitas rekreasi terapeutik ini juga dilakukan stimulasi kognitif disebut juga memory training, memory retraining atau cognitive rehabilitation.

Aktivitas ini perlu ditambah dengan aktivitas fisik seperti senam ataupun menurut selera masing-masing. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kerja jantung dan paru untuk mengalirkan darah yang penuh oksigen ke bagian-bagian tubuh terutama otak selain itu juga memiliki tujuan renovasi sel tubuh. Berbagai hal yang disebutkan tadi juga menguntungkan bagi kondisi klinis prademensia seperti mild cognitive impairment, MCI dan vascular cognitive impairment, VCI serta kondisi klinis demensia vaskuler dan Alzeimer. Dalam jurnal yang meniliti melalui efek dari terapi musik terhadap lansia penderita demensia (Wall, & Duffy, 2010 ). Dalam jurnal tersebut dijelaskan melalui kebiasaan mendengarkan music walaupun secara singkat akan sangat bermanfaat untuk melatih ingatan para lansia penderitanya. Tingkat kegelisahannya pun akan menurun, termasuk perilaku agresif verbal maupun non-verbalnya. Terapi lain dengan pendekatan psikososial adalah : Care giver : mengoptimalkan kemampuan yang masih ada Mengurangi perilaku sulit Menjaga keselamatannya Memperbaiki kualitas hidup Mengurangi stres terhadap care giver Memberi kepuasaan kepada care giver

Prevensi Untuk deteksi dini terhadap gangguan demensia, tentunya kita harus memahami terlebih dahulu fungsi kognitif pada dementia syndrome yang berbeda dari proses normal penuaan. Strategi-strategi yang mungkin bisa mencegah 17

terhadap demensia diantaranya: Mengetahui faktor-faktor risiko pada demensia dan sub tipe-tipenya. Perluasan pengetahuan seperti mengetahui faktor-faktor risiko yang bisa dimodifikasi Tanda bahwa modifikasi (merubah) faktor risiko untuk mengurangi kemunculan demensia. Beberapa faktor risiko yang bisa diminimalisir atau memiliki potensi modifiable: Pengkonsumsian alkohol. Smoking. Obesitas. Hipertensi. Hyperkolesteroaemia (kadar kolesrterol yang melebihi 239 mg/mL dalam darah) terjadi akibat adanya akumulasi kolesterol dan lipid pada dinding pembuluh darah. Luka kepala. Tingkat rendahnya folat dan meningkatnya homocysteine. Depresi. Sedangkan faktor risiko demensia yang tidak bisa dilakukan modifikasi: Bertambahnya usia. Gen.

Jenis kelamin. Memiliki learning disability (kesulitan belajar). Terapi penggantian estrogen bisa dilakukan, hal ini berhubungan dengan penurunan risiko demensia tipe Alzheirmer di kalangan perempuan (Shepherd dalam Durand dan Barlow, 2006). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penanganan yang baik terhadap hipertensi sistolik juga mengurangi risiko demensia (Clarke dalam Durand dan Barlow, 2006). Karena kemungkinan perannya dalam perkembangan demensia, penanganan dan pencegahan yang baik terhadap stroke mestinya mengurangi demensia yang terkait dengan penyakit serebrovaskular. Upaya-upaya keselamatan yang menyebabkan perluasan reduksi trauma kepala dan paparan neurotoksin mungkin juga ikut membantu usaha ini.

Kualitas Hidup Penderita demensia sering terbangun dari tidur malamnya dan panik karena tidak mengetahui berada di mana, berteriak-teriak dan sulit untuk ditenangkan. Selain itu juga penderita demensia melakukan sesuatu yang kadang mereka sendiri tidak memahaminya. Tindakan tersebut dapat saja membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain, misalkan mereka tiba-tiba menyalakan kompor dan meninggalkan begitu saja, merasa mampu mengemudikan kendaraan dan tersesat atau malah mengelami kecelakaan, atau juga menggunakan pakaiain berlapis-lapis pada suhu yang panas. Penderita demensia rentan juga terhadap depresi dan frustasi akibat ketidakmampuannya melakukan tugas sehari-hari. Dukungan- dukungan yang bisa diberikan untuk membantu penderita demensia: Pelajari lebih dalam tentang demensia. 19

Curahkan kasih sayang dan berusaha untuk tenang dan sabar dalam menghadapi penderita. Berusaha memahami apa yang dirasakan penderita. Perlakukan penderita demensia sebagaimana biasa, tetap hormati dan usahakan untuk tidak berdebat dengan penderita. Bantu penderita dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang lambat laun akan mengalami penurunan. Menjalani kegiatan mandi, makan, tidur dan aktivitas lainnya secara rutin, bisa memberikan rasa keteraturan kepada penderita. Mempertahankan lingkungan yang familiar akan membantu penderita tetap memiliki orientasi. Kalender yang besar, cahaya yang terang, jam dinding dengan angka-angka yang besar atau radio juga bisa membantu penderita tetap memiliki orientasi. Menyembunyikan kunci mobil dan memasang detektor pada pintu bisa membantu mencegah terjadinya kecelekaan pada penderita yang senang berjalan-jalan. Ayat Al-Quran Beberapa dalil Al-Quran yang berkaitan mengenai demensia antaranya: Q.S An Nahl ayat 70 Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. Q.S Al Hajj ayat 5 Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka

(ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. Q.S Yaa Siin ayat 68 Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya) . Maka apakah mereka tidak memikirkan? Bacalah dengan nama TuhanMu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah dan TuhanMulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (Q.S. Al-Alaq: 1-5). Dalam ayat ini terkandung makna akan pentingnya membaca, maksud membaca disini bukanlah hanya membaca buku cetak akan tetapi juga membaca buku alam semesta (ayat-ayat kauniyyah) dengan merenungi dan berfikir tentangnya. Di sisi lain selain membaca bisa menambahkan ilmu pengetahuan, membaca juga memberikan manfaat bisa terhindar dari penyakit demensia. Menurut penelitian Coffey menyatakan bahwa dengan membaca, seseorang bisa menciptakan semacam lapisan penyangga yang melindungi dan mengganti rugi perubahan otak. Hal ini dibuktikan dengan meneliti struktur otak 320 orang berusia 21

66-99 tahun yang terkena demensia.

BAB III Kesimpulan Para ahli sepakat mendefinisikan demensia sebagai gangguan fungsi kognitif berupa kemunduran kemampuan intelektual hingga ke titik yang melemahkan fungsi sosial dan pekerjaan. Hal ini disebabkan oleh faktor biopsikososioreligi. Prevalensi yang mengalami gangguan ini selalu meningkat tiap 5 tahunnya dan negara-negara maju memiliki potensi prevalensi yang lebih tinggi mengalami demensia dibandingkan negara-negara berkembang. Hal ini disebabkan karena negara maju memiliki harapan hidup yang lebih tinggi dibanding negara berkembang. Onset orang yang mengalami gangguan ini cenderung pada orangorang di atas usia 65 tahun, akan tetapi tidak menutup kemungkinan jika seseorang

bisa mengalami demensia saat berusia masih muda. Terapi-terapi yang dilakukan bisa berupa terapi farmakologis dan terapi non farmakologis. Terapi non farmakologi yang dapat dilakukan adalah dukungan dari keluarga, manipulasi lingkungan dan penanganan pasien (berupa latihan & rehabilitasi). Pada kenyataannya sebagian besar demensia ini dapat dicegah atau diobati karena bersifat reversible atau potensial reversible bila terdeteksi dini dan dilakukan penatalaksanaan yang tepat. Saran untuk penulis selanjutnya seharusnya lebih menjabarkan bagian-bagian dari demensia (sub tipe-tipenya) kemudian perbedaan gejala-gejala dari sub tipe-tipe tersebut.

23