Anda di halaman 1dari 15

Masalah : Penduduk dewasa yang obesitas di kabupaten Soppeng pada tahun 2007 mencpai 8,8 %.

Rumusan masalah : Apakah ada hubungan antara aktifitas fisik dengan kejadian obesitas pada orang dewasa.

Latar belakang : Upaya pembangunan nasional yang sedang dilaksanakan pada hakekatnya adalah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat sebagai pencerminan dari tujuan pembangunan nasional. Tujuan pembangunan nasional di bidang kesehatan yang tercantum dalam Sistim Kesehatan Nasional (SKN) yaitu terciptanya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan kesehatan yang optimal. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu diusahakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dapat diterima serta terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat (Depkes RI, 1999). Indonesia pada saat ini mengalami permasalahan beban ganda masalah gizi, di mana ketika permasalahan gizi kurang belum terselesaikan, muncul infeksi, maka gizi lebih atau obesitas dianggap sebagai sinyal awal, dan munculnya kelompok penyakit penyakit degenaratif/non infeksi yang sekarang ini banyak terjadi di seluruh pelosok Indonesia. Fenomena ini sering dikenal dengan sebutan New World Syndrom atau Sindrom Dunia Baru. Tingginya prevalensi obesitas, gizi lebih, hipertensi, dislipidemi dan beberapa penyakit degenerative lainnya, menyebabkan tingginya angka morbiditas dan mortalitas di Indonesia ( Hammam,2005 ). Menurut Soekirman yang dikutip oleh Aritonang (2003), terdapat hubungan erat antara pertumbuhan ekonomi yang tinggi di daerah kota,perubahan pola konsumsi pangan dengan meningkatnya penyakit degeneratif. Kehidupan yang modern di lingkungan tempat tinggal, kemajuan serta berbagai bentuk kemudahan (instant) menghasilkan pola hidup santai, energi yang tadinya untuk aktivitas tidak terlalu

diperlukan lagi dan akan disimpan sebagai timbunan lemak dan akhirnya menimbulkan kejadian gizi lebih. Prevalensi obesitas umum secara nasional adalah 19,1% (8,8% BB lebih dan 10,3% obese). Ada 14 provinsi memiliki prevalensi obesitas umum di atas angka prevalensi nasional. Lima provinsi yang memiliki prevalensi obesitas umum terendah adalah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat dan Sumatera Selatan. Sedangkan lima provinsi dengan prevalensi obesitas umum tertinggi adalah: Kalimantan Timur, Maluku Utara, Gorontalo, DKI Jakarta dan Sulawesi Utara.( Riskesdas 2007 ). Di Indonesia pada 1982 prevalensi obesitas pria 4,2% dan wanita 7,1% sedangkan pada 1992 pria 10,8% dan wanita 24,1%. Pada kelompok social menengah-atas di Medan, pada tahun 2002-2003 prevalensi overweight 54,0% dan obesitas 10,3%. Bappenas (2004), Prevalensi obesitas umum untuk Provinsi Sulawesi Selatan adalah 16,3% (7,9% BB lebih dan 8,4% obese), sedikit lebih rendah dari angka nasional (19,1%). Ada 12 kabupaten/kota memiliki prevalensi obesitas umum di atas angka prevalensi Sulawesi Selatan. Kabupaten Tana Toraja memiliki prevalensi obesitas umum terendah yaitu 8,0%, dan yang tertinggi adalah Kota Palopo (23,4%)..( Riskesdas 2007 ) Berdasarkan data yang diperoleh di Riskesdas 2007 di kabupaten soppeng orang dewasa yang mengalami obesitas mencapai 8,8 %. Obesitas adalah suatu keadaan akumulasi energi dalam bentuk lemak tubuh, yang mengganggu kesehatan badan. Super obese adalah kelebihan berat badan sekitar 100% atau lebih dari berat ideal, sedangkan obesitas yang menimbulkan kelainan, keluhan dan gejala penyakit disebut morbidly obese (Dietz & Gortmaker, 1985 dalam Samsudin, 1993). Saat ini gizi lebih dan obesitas merupakan epidemik di negara maju, seperti Australia, New Zealand, Singapura dan dengan cepat berkembang di negara berkembang, terutama populasi kepulauan pasifik dan negara Asia tertentu. Di United State of America (USA), lebih 60% populasi dewasa mengalami overweight dan obesitas, pada anak remaja 20 25% mengalami obesitas. Menurut data yang dikumpulkan Center for Disease Control (CDC), prevalensi obesitas mulai meningkat secara dramatis sejak 1980. Peningkatan prevalensi cepat juga dilihat pada kelompok

minoritas, seperti etnis Maori di Selandia Baru, Indian di Inggris (UK), Malaysia dan Singapura, Australia Aborigin, populasi kepulauan di selat Torres. (Hamam, 2005). Secara umum dampak yang ditimbulkan akibat gizi lebih, adalah gangguan psiko-sosial, yang berakibat pada rasa rendah diri, depresi dan menarik diri dari lingkungan,gangguan pernafasan gangguan endokrin, obesitas yang menetap hingga dewasa dan penyakit degeneratif, yang berakibat pada timbulnya hipertensi, penyakit jantung koroner, diabetes mellitus dan lain sebagainya. (Imam, 2005). Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya gizi lebih pada orang dewasa, antara lain social ekonomi yang mempengaruhi pola konsumsi . Secara singkat, gizi lebih disebabkan oleh ketidakseimbangan antara asupan energi dengan energi yang digunakan. Selain itu faktor yang mempengaruhi gizi lebih, adalah umur, jenis kelamin, tingkat social ekonomi, faktor lingkungan, aktivitas fisik, kebiasaan makan dan faktor neuropsikologik serta faktor genetika (Suhendro, 2003). Aktivitas fisik dapat didefinisikan sebagai setiap gerakan fisik sebagai suatu akibat dari kontraksi otot skelet ( Dedi Subardja, 2004 : 50 ). Pola makan atau pola konsumsi pangan merupakan susunan jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu (Yayuk Farida Baliwati. dkk, 2004 : 69). Berdasarkan atas uraian tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti mengenai hubungan antara aktifitas fisik dengan kejadian obesitas di Kabupaten Soppeng.

Tujuan penelitian 1.Tujuan umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara aktifitas fisik dengan kejadian obesitas pada orang dewasa. 2.Tujuan khusus a. Mengetahui pola aktifitas fisik pada orang dewasa di Kabupaten Soppeng. b. Mengetahui pengaruh keturunan terhadap kejadian obesitas pada orang dewasa di kabupaten Soppeng. c. Mengetahui factor resiko yang dominan terhadap kejadian obesitas pada orang dewasa di kabupaten soppeng. d. Menganalisis hubungan antara aktifitas fisik dengan kejadian obesitas pada orang dewasa di kabupate Soppeng.

Manfaat penelitian 1. Bagi peneliti Memperoleh pengalaman dan mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh setelah perkuliahan. 2. Bagi institusi Sebagai bahan kajian bagi penentu kebijakan dalam penyusunan program penggulangan kejadian obesitas pada orang dewasa. 3. Bagi masyarakat Memberikan informasi penyebab kejadian obesitas pada orang dewasa di Kabupaten Soppeng. 4. Bagi peneliti lain Dapat memberikan informasi dan acuan dasar bagi peneliti selanjutnya.

Tinjauan Pustaka

A. Epidemiologi Obesitas Obesitas merupakan masalah epidemik yang mengglobal dan akan menjadi lebih buruk, jika diikuti dengan semua konsekuensi obesitas yang ditimbulkannya. Di negara maju seperti Eropa, USA, Australia dilaporkan prevalensinya tinggi sampai sedang dan cenderung meningkat lebih ekstrim. Sebagai contoh, World Health Organization (1998), melaporkan lebih dari 70% populasi dewasa kepulauan Polynesia dan Samoa adalah obesitas. DM type-2, Penyakit Jantung Koroner (PJK), peningkatan insiden kanker paru tertentu, gangguan obstruktif sleep opnoe, osteoarthritis pada sendi besar dan kecil. Secara perlahan kelebihan berat badan lebih dari 10 tahun akan menimbulkan hipertensi. Obesitas tidak lagi dianggap sebagai masalah kosmetik sederhana, tetapi harus mempertimbangkan dan melibatkan secara efektif masalah epidemiologi untuk pencegahan dan managemen obesitas (Hamam, 2005). Hasil penelitian Budiman (1997), yang dikutip oleh Suhendro (2003), bahwa gizi lebih dan obesitas lebih banyak ditemukan pada ibu dari pada bapak, yakni masingmasing 29,1% dan 5,1%. Suhendro (2003), juga menemukan bahwa ada hubungan pekerjaan orang tua dengan kejadian obesitas pada anak sekolah, dimana pekerjaan orang tua merupakan faktor penentu sebagai penunjang untuk mengetahui tingkat pendapatan atau penghasilan total keluarga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jenis pekerjaan yang paling banyak adalah wiraswasta (53,3%) dan paling sedikit sebagai TNI/POLRI (21,3%). Dilihat dari faktor risiko, sebagian besar anak Sekolah Menengah Umum (SMU) yang mengkonsumsi fast food dan frekuensi makan sangat berhubungan dengan kejadian obesitas/gizi lebih (p<0,05), diketahui semakin lama seseorang mengkonsumsi fast food lebih besar sama dengan >1 tahun yang lalu mempunyai risiko terjadinya obesitas (76,0%). B. Pengertian Obesitas Gizi lebih pada umumnya adalah berat badan yang relatif berlebihan jika dibandingkan dengan usia atau tinggi pada usia yang sebaya, sebagai akibat terjadinya penimbunan lemak yang berlebihan dalam jaringan lemak tubuh. Istilah awam gizi lebih ini juga disebut kegemukan, sedangkan karena kelebihan berat disebut overweight. Kelebihan berat relatif tidak selalu berarti karena kelebihan lemak tubuh, oleh karena pada anak-anak yang giat berolah raga seperti pada olahragawan remaja mungkin terjadi karena pertumbuhan otot yang hipertrofis. Untuk gizi lebih dengan derajat kelebihan yang berat disebut obesitas. Obesitas adalah suatu keadaan akumulasi energi dalam bentuk lemak tubuh, yang mengganggu kesehatan badan. Super obese adalah kelebihan berat badan sekitar 100% atau lebih dari berat ideal, sedangkan obesitas yang menimbulkan kelainan, keluhan dan gejala penyakit disebut morbidly obese (Dietz & Gortmaker, 1985 dalam Samsudin, 1993). Kegemukan atau obesitas adalah suatu keadaan sakit yang ditandai oleh adanya penimbunan lemak yang berlebihan didalam jaringan lemak dibawah kulit dan didalam

alat-alat tubuh. Kegemukan ini dapat terjadi pada setiap umur dan mempunyai gambaran klinis yang sangat bervariasi mulai dari yang ringan sampai yang berat sekali (Walujo, dkk,1986). Obesitas adalah suatu keadaan yang melebihi dari berat badan relative seseorang, sebagai akibat penumpukan zat gizi terutama karbohidrat, lemak dan protein. Kondisi ini disebabkan oleh ketidak seimbangan antara konsumsi kalori dan kebutuhan energi, dimana konsumsi terlalu banyak dibandingkan dengan kebutuhan atau pemakaian energy (Krisno, 2002). C. Kriteria kegegemukan (obesitas ) Penentuan kegemukan (obesitas) atas dasar antropometri menurut Nasar (1995), pada umumnya, sebagai berikut : 1. Hanya mengukur Berat Badan (BB) dan hasilnya dibandingkan dengan standar, yakni bila BB > 120 % disebut obesitas, sedangkan antara 110 120 % disebut over weight. Keburukan cara ini adalah pertama, tidakdikaitkan dengan Tinggi Badan (TB), sehingga tidak mencerminkan proporsi tubuh; kedua, penampilan fisik seseorang dipengaruhi oleh komposisi tubuh, artinya pada BB yang sama seseorang dapat tampak lebih langsing dari pada yang lainnya karena tubuhnya lebih berotot, sedangkan yang lainnya lebih banyak lemak. 2. BB dihubungkan dengan TB, selain mencerminkan proporsi atau penampilan (BB/TB) juga memberikan gambaran tentang massa tubuh tanpa lemak (less body mass) dengan cara menghitung BMI (Body Mass Index) yaitu BB/TB2. Mortalitas meningkat pada BMI > 25 (derajat I) tetapi penanganan medis secara serius terutama pada obesitas derajat II dan III. D. Resiko kegemukan ( obesitas ) Risiko kegemukan (obesitas) dapat terjadi dalam jangka pendek maupun jangka panjang, seperti yang diuraikan sebagai berikut (Satoto, 1996) : 1. Gangguan psiko-sosial : rasa rendah diri, depresi dan menarik diri dari lingkungan. Hal ini karena anak obesitas sering menjadi bahan olok olok teman main dan teman sekolah. Hal ini dapat pula karena ketidakmampuan untuk melaksanakan suatu tugas atau kegiatan, terutama olah raga akibat adanya hambatan pergerakan oleh kegemukannya. Selain itu sebagai akibat kegemukan, penis tampak kecil karena terkubur dalam jaringan lemak (burried penis) dan ini dapat menyebabkan rasa malu kerena merasaberbeda dengan anak lain. Bau atau aroma badan yang kurang menarik dapat membuat anak menarik diri dari lingkungannya. 2. Pertumbuhan fisik atau linier yang lebih cepat dan usia tulang yang lebih lanjut dibanding usia biologisnya. 3. Masalah Ortopedi seringkali terjadi slipped capital femonal epiphysis dan penyakit blount sebagai akibat beban tubuh yang terlalu berat. 4. Gangguan pernafasan sering terserang infeksi saluran nafas, tidur ngorok, kadangkadang terjadi apnes sewaktu tidur, dan sering mengantuk siang hari. Bila gangguan sangat berat disebut sebagai sindrome pickwicknan, yaitu adanya hipoventilasi alveolar.

5. Gangguan endocrine menarche lebih cepat terjadi, karena disamping faktor hormonal, untuk terjadi menarche diperlukan jumlah lemak tertentu sehingga pada anak obesitas dimana lemak tubuh sudah cukup tersedia, menars akan menjadi lebih dini. Penelitian lain menyatakan bahwa usia tulang yang lanjut lebih berperan dalam terjadinya menarche dari jumlah lemak tubuh. 6. Obesitas yang berlanjut (menetap) sampai dewasa, terutama bila obesitas mulai pada masa pra pubertas. 7. Gangguan penyakit degeneratif dan penyakit metabolik, seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, diabetes mellitus, hiperlipoproteinemia, dan penyakit hiperkolesterolemia.

E. Pencegahan Obesitas Obesitas pada bayi tidak ada korelasi yang jelas dengan terjadinya obesitas pada orang dewasa, tetapi obesitas pada masa pra pubertas umumnya berlanjut sampai dewasa. Beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi terjadinya obesitas yaitu (Budiyanto, 2002) : 1. Olah raga. Dengan memperbanyak olah raga maka organ tubuh kita akan bekerja dengan keras, sehingga lemak yang ditimbun dalam tubuh akan dibongkar untuk menggantikan energi yang hilang akibat olah raga tersebut. Dengan demikian berat badan seseorang akan berkurang dan kegemukan tidak akan terjadi. 2. Mengurangi konsumsi lemak. Dengan mengurangi konsumsi lemak maka akan memberikan manfaat berkurangnya jaringan lemak yang tidak aktif dalam tubuh. Di samping itu dengan mengurangi konsumsi lemak terutama lemak jenuh akan mencegah kita terkena penyakit jantung dan aterosklerosis. 3. Lebih banyak mengkonsumsi protein. Protein dalam tubuh sangat besar fungsinya, di samping sebagai penghasil energi protein juga berfungsi sebagai zat pembangun. Protein lebih tahan lama tinggal di lambung karena tidak dihirolisis dengan gas seperti karbohidrat yang mudah sekali terhidrolisis dengan gas. Dengan banyak mengkonsumsi protein, maka seseorang tidak akan sering makan karena masih kenyang. Ini menguntungkan untuk mencegah terjadinya obesitas. 4. Banyak konsumsi serat. Dengan mengkonsumsi serat akan membantu tubuh melancarkan faeces yang akan dibuang, dan membantu mencegah berbagai penyakit lain. Sumber serat yang baik adalah dari golongan serealia, sayur-sayuran dan beberapa buah-buahan. F. Determinan Obesitas Ada beberapa faktor yang diketahui dapat mempengaruhi terjadinya kegemukan (obesitas) antara lain : jenis kelamin, umur, tingkat sosial ekonomi, faktor lingkungan, aktivitas fisik, kebiasaan makan, faktor psikologis dan factor genetik (Salam, 1989).

1. Jenis Kelamin Obesitas lebih umum dijumpai pada wanita terutama mulai pada saat remaja, hal ini mungkin disebabkan faktor endokrin dan perubahan hormonal (Salam, 1989). Menurut International Dietary Energy Consultative Group (1989), perempuan sedikit lebih gemuk daripada laki-laki pada saat kelahiran sampai bayi dan anak-anak, komposisi tubuh berbeda nyata antara jenis kelamin selama remaja. Pada remaja dimana periode pertumbuhan, cepat dari berat badan dan tinggi badan disertai dengan peningkatan massa bebas lemak dan lemak tubuh. 2. Umur Obesitas sering dianggap kelainan pada umur pertengahan. Obesitas yang muncul pada tahun pertama kehidupan biasanya disertai dengan perkembangan rangka yang cepat. Anak yang obesitas cenderung menjadi obes pada saat remaja dan dewasa (Salam, 1989). 3. Tingkat sosial ekonomi Obesitas banyak dijumpai pada kalangan remaja, yang kemungkinan lebih disebabkan oleh karena banyak mengkonsumsi makanan yang berlemak. Terjadinya obesitas pada kelompok masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah disebabkan karena tingginya konsumsi makanan sumber karbohidrat, sementara konsumsi protein rendah. Menurut Le Bow, prevalensi kegemukan tergantung pada tingkat sosial ekonomi, kebudayaan dan kriteria, kira-kira 40% pada tingkat sosial ekonomi dan 25% pada tingkat sosial ekonomi tinggi (Le Bow, dalam Herini,1999). Pendapatan merupakan faktor yang paling menentukan terhadap kualitas dan kuantitas hidangan. Semakin tinggi tingkat pendapatan, berarti semakin baik kualitas dan kuantitas makanan yang diperoleh, seperti membeli buah, sayuran, dan aneka ragam jenis makanan (Berg, 1986 dalam Rijanti, 2002). Menurut Mukawi (1981 dalam Afifa, 2003), menyatakan intake kalori dipengaruhi oleh status ekonomi, salah satu ukuran status ekonomi adalah tingkat pendapatan total yang diterima oleh keluarga. Peningkatan tingkat pendapatan akan mempengaruhi kebiasaan makan, pada sebagian masyarakat cenderung untuk makan berlebihan. 4. Faktor Lingkungan Adalah kenyataan bahwa pola makan, jumlah dan komposisi nutrisi dalam makanan, serta intensitas aktivitas tubuh merupakan hal yang paling berpengaruh dalam terjadinya obesitas. Gaya hidup modern dan santai seringkali tidak menyadari jumlah masukan kalori disamping kurang memperhatikan kaidah gizi seimbang, seperti makan fast food merupakan acara sehari-hari, ngemil makan berkalori tinggi dan tinggi karbohidrat pada saat nonton televisi atau bioskop, dan sebagainya (Salam, 1989). Menurut Khumaidi (1989) tingkah laku seseorang dipengaruhi oleh orang lain dan untuk memperoleh kepuasan atau ketidakpuasan hati, orang tersebut melakukan

pertimbangan-pertimbangan di dalam keadaan atau apa yang dipikirkan sebelum membuat keputusan. 5. Aktifitas Fisik Sebagian besar energi yang masuk melalui makanan pada anak remaja dan orang dewasa seharusnya digunakan untuk aktivitas fisik. Kurangnya aktivitas fisik menyebabkan banyak energi yang tersimpan sebagai lemak, sehingga cenderung pada orang-orang yang kurang melakukan aktivitas menjadi gemuk (Salam, 1989). Hasil penelitian Subardja dkk (2000) menjelaskan bila dibandingkan besarnya hubungan antara pola makan dan aktivitas fisik, ternyata aktivitas fisik lebih berhubungan dengan terjadinya obesitas pada anak. Hal ini mencerminkan bahwa, pola hidup sedentary berkontribusi dalam terjadinya obesitas pada anak. 6. Kebiasaan Makan Elizabeth dan Sanjur (1981) dalam Suhardjo (1989) menjelaskan bahwa ada 3 (tiga) faktor yang mempengaruhi konsumsi pangan yaitu karakteristik individu, karakteristik makan/pangan dan lingkungan. Kebiasaan makan seseorang dibentuk dari kemampuan dan taraf hidupnya, dimana makin baik taraf hidupnya, makin meningkat daya belinya dan makin tinggi mutu makanan yang tersedia untuk keluarga. Kebiasaan makan menurut Khumaidi (1989) adalah tingkah laku manusia atau kelompok manusia dalam memenuhi kebutuhannya akan makan, meliputi sikap, kepercayaan, dan pemilihan makanan. Koentjaraningrat (1984) dalam Khumaidi (1989) menyatakan bahwa kebiasaan makan individu, keluarga dan masyarakat dipengaruhi oleh faktor budaya, lingkungan sosial, ekonomi, lingkungan ekologi, ketersediaan makanan, dan faktor perkembangan teknologi. 7. Pola Konsumsi Almatsier (2002) menyatakan bahwa keseimbangan energi dicapai bila energi yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan sama dengan energi yang dikeluarkan. Keadaan ini akan menghasilkan berat badan ideal/normal. Kelebihan energi terjadi apabila konsumsi energi melalui makanan melebihi energi yang dikeluarkan. Kelebihan energi ini akan diubah menjadi lemak tubuh. Akibatnya, terjadi berat badan lebih atau kegemukan. Kegemukan bisa disebabkan oleh kebanyakan makan dalam hal jenis karbohidrat, lemak maupun protein, tetapi juga karena kurang gerak. Fungsi utama protein adalah untuk pertumbuhan, namun jika tubuh mengalami kekurangan zat energi maka fungsi protein terlebih dahulu untuk menghasilkan energi atau untuk membentuk glukosa. Jika protein dalam keadaan berlebihan maka protein akan mengalami deaminase yaitu nitrogen yang dieluarkan dari tubuh dan sisa-sisa ikatan karbon akan diubah menjadi lemak dan disimpan dalam tubuh. Dengan demikian bila mengkonsumsi protein berlebihan dapat menyebabkan kegemukan. Berdasarkan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII (2004) angka kecukupan energi yang dianjurkan untuk anak laki-laki usia 10 12 tahun sebesar 2000

kkal/orang/hari dan protein 45 gr/orang/hari, untuk anak perempuan usia 10 12 tahun 1900 kkal/orang/hari dan protein 54 gr/orang/hari dan konsumsi lemak total dianjurkan tidak lebih dari 25% dari total energi. 8. Faktor Keturunan Penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa anak-anak dari orang tuanormal mempunyai peluang 10% menjadi obesitas. Peluang tersebut akan meningkat menjadi 40 50%, bila salah satu orangtuanya menderita obesitas dan akan meningkat menjadi 70 80% bila kedua orangtuanya menderita obesitas (Wirakusumah, 1997 dalam Welis, 2003). G. Landasan Teori Menurut Sjarif (2003), obesitas dapat terjadi karena ketidak seimbangan antara asupan energi dengan keluaran energi sehingga terjadi kelebihan energy yang selanjutnya disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Asupan energi yang berlebihan disebabkan konsumsi energi yang berlebihan, sedangkan keluaran energi yang rendah disebabkan oleh rendahnya metabolisme tubuh, aktivitas fisik dan efek termogenesis makanan. Gangguan hemostasis energi ini disebabkan oleh faktor idiopatik (obesitas primer atau nutritional) sedangkan faktor endogen (obesitas sekunder atau non nutritional, yang disebabkan oleh kelainan hormonal, sindrom atau efek genetik). Secara garis besar faktor yang berperan terhadap terjadinya obesitas dikelompokkan menjadi faktor genetik dan faktor lingkungan. 1. Faktor lingkungan Obesitas sudah dapat terjadi pada bayi, balita, pada anak usia 6 tahun,usia, remaja, dengan salah satu orang tua obesitas akan menetap sampai dewasa. Bila kedua orang tua obesitas, sekitar 80% anak anak mereka akan menjadi obesitas dan bila kedua orang tua tidak obesitas maka prevalensi obesitas akan turun menjadi 14%. Peningkatan risiko obesitas tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh gen atau faktor lingkungan dalam keluarga. 2. Faktor Lingkungan Mengelompokkan faktor lingkungan yang berperan sebagai penyebab terjadinya obesitas menjadi lima yaitu perilaku makan, aktivitas fisik, psikologis, steroid dan sosilal ekonomi. Menurut Budiyanto (2002) ada beberapa aspek yang mempengaruhi kegemukan (obesitas) yaitu : 1. Aspek gizi. Seseorang yang menderita obesitas mengalami kelebihan energi. Kelebihan energy dalam tubuh diubah menjadi lemak dan ditimbun pada tempattempat tertentu. 2. Aspek ekonomi. Akhir-akhir ini banyak makanan siap saji (fast food) seperti hamburger, fried chicken, hot dog, dan lain-lain. Makanan tersebut relatif mahal dan kebanyakan yang mengkonsumsi adalah masyarakat ekonomi menengah keatas.

Dari segi kesehatan dapat mengganggu kesehatan karena banyak mengandung lemak tinggi sehingga menyebabkan kegemukan. 3. Aspek sosial budaya. Dalam masyarakat Indonesia mempunyai pola makan yang berbeda dengan orang barat. Dimana masyarakat kita cenderung banyak mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung karbohidrat. Kebiasaan yang tidak baik adalah meniru, dalam hal ini meniru mengkonsumsi makanan cepat saji yang mana makanan tersebut popular pada orang-orang barat. Menurut Soetjiningsih dkk (1996), obesitas merupakan faktor yang sering terjadi pada masa anak anak dan merupakan masalah kesehatan penting karena berdampak terhadap fisiologis maupun medis yang berlanjut sampai dewasa. Hasil penelitiannya dinyatakan bahwa 41% anak obesitas pada usia 7 tahun akan menjadi obesitas pada usia dewasa. Penilaian jumlah dan jenis makanan yang di konsumsi individu menurut Hadi (2003), dan Gibson (1990), dapat dikelompokkan menjadi : 1. Mengingat makanan (food recall) yang dimakan oleh individu selama 24 jam sebelum dilakukan wawancara. Contoh makanan (food model) dapat dipakai sebagai alat bantu. Jumlah bahan makanan yang dikonsumsi diperkirakan atau dihitung dengan ukuran rumah tangga yang kemudian dikonversikan ke dalam ukuran berat. Pemakaian metode food recall ini digunakan untuk mengukur rata rata konsumsi makanan dan zat gizi kelompok masyarakat yang jumlahnya besar. 2. Pencatatan makanan yang dimakan (food records) oleh individu dalam jangka waktu tertentu, jumlahnya ditimbang dan diperkirakan dengan ukuran rumah tangga. 3. Frekuensi konsumsi makanan (food frequency questionaire) adalah recall makanan yang dimakan pada waktu lalu. Kuesioner terdiri dari daftar bahan makanan dan frekuensi makan. Cara ini merekam keterangan tentang berapa kali konsumsi bahan makanan dalam sehari, seminggu, sebulan, tiga bulan atau jangka waktu tertentu. 4. Riwayat makan (dietary history) yaitu mencatat apa saja yang dimakan dalam waktu lama. Cara ini memerlukan petugas wawancara yang terlatih. Periode yang diukur biasanya adalah selama 6 bulan atau 1 tahun yang lalu. Metode wawancara ini merupakan modifikasi dari cara recall 24 jam untuk dapat memperoleh informasi tentang makanan yang dikonsumsi, frekuensi dan kebiasaan makan.

Kerangka teori

Genetik
Pola konsumsi : Jenis Kelamin

umur

Frekuensi makanan Jumlah zat gizi Jenis Makanan

Fisiologi

Faktor Lingkungan Sosial Ekonomi

Gaya Hidup : Aktifitas Fisik Pengetahuan gizi

Tingkat Pendidikan Pekerjaan Kemudahan Hidup

Pelayanan Kesehatan : Demografi Epidomologis obesitas

Obesitas yang terjadi pada umur sebelumnya

Kemajuan Tekhnologi

Hormonal

Kerangaka Konsep Berdasarkan landasan teori di atas, kerangka konsep penelitian adalah sebagai berikut :

VARIABEL INDEPENDEN

VARIABEL DEPENDEN

Karesteristik Individu Jenis kelamin Umur Pekerjaan orang tua Pendidikan orang tua

Pola Konsumsi Faktor Lingkungan

Frekuensi Makan Jumlah Zat gizi Jenis Makanan

obesitas

Aktifitas Fisik

Keturunan

Defenisi operasional 1. Variabel terikat Kegemukan (Obesitas) adalah suatu keadaan patologis akibat terdapatnya timbunan lemak yang berlebihan pada tubuh, dengan cara pengukuran antropometri, yaitu dengan menggunakan percentile 95 kurva IMT dari baku CDC - NCHS untuk lakilaki dan perempuan usia 2 20 tahun, , (Kuczmarski, 2002) (skala ordinal). 2. Variabel bebas 1. Karakteristik responden adalah data yang meliputi jenis kelamin, umur, pekerjaan bapak, pekerjaan ibu, pendidikan bapak dan pendidikan ibu. 2. Pola Konsumsi adalah gambaran kebiasaan makan terdiri dari jumlah makanan yang dikonsumsi, frekuensi makan dalam sehari dan banyaknya jenis makanan yang dikonsumsi dalam sehari yang ditanyakan dengan menggunakan food frequency qestionaire. 3. Asupan Zat Gizi adalah sejumlah energi, protein dan lemak yang dikonsumsi dalam sehari (skala rasio) 4. Frekuensi Makan adalah jumlah kali makan yang dikonsumsi sebagai sumber energi, protein dan lemak dalam sehari selama 1 bulan terakhir, yang dikumpulkan melalu metoda frekuensi dengan wawancara (skala ordinal). 5. Jenis Makanan adalah sejumlah jenis makanan yang dikonsumsi dalam sehari sebagai sumber energi, protein dan lemak. 6. Aktivitas Fisik adalah jumlah waktu yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan oleh sampel selama 24 jam yang dikelompokkan menjadi aktivitas ringan, aktivitas sedang dan aktivitas berat sesuai dengan pedoman CDC (8). Aktivitas fisik dibagi dalam 3 kategori yaitu berat, sedang dan ringan. Aktivitas fisik ringan antara lain : duduk, naik motor, naik angkutan, antar jemput, les di sekolah, les di luar sekolah, les bahasa inggris, mengasuh adik, mencuci piring, aktivitas nonton TV, aktivitas main play station, main komputer, belajar di rumah. Aktivitas fisik sedang antara lain : bermain di sekolah, berjalan, bersepeda, mengikuti kegiatan pramuka, bermain musik, paduan suara, band, palang merah, bola volli remaja, tennis meja, mencuci pakaian, mencuci mobil, memasak, menyapu, menyiram tanaman, membersihkan tempat tidur, setrika. Aktivitas fisik berat antara lain : menari, drum band, bela diri, aero modeling, sepak bola, basket, renang, badminton, tennis lapangan, taekwondo, aerobik, lari, skipping, sit up, kasti, mengepel, menimba air (CDC-NCHS/2002). Untuk mengetahui pengaruh aktivitas fisik terhadap ke jadian obesitas dilakukan dengan mengajukan pertanyaan terbuka dalam bentuk kuesioner tentang pola kebiasaan kebiasaan aktivitas fisik yang sering dilakuka n oleh siswa sekolah dasar. Data aktivitas fisik yang dikumpulkan dihitung frekuensi dan durasinya berdasarkan jenis aktivitas yang dilakukan sehari hari. Berbagai jenis aktivitas tersebut lalu dikelompokkan menjadi aktivitas ringan, aktivitas sedang dan aktivitas berat sesuai dengan pedoman CDC-NCHS (2000).

Tabel 3.2. Aspek Pengukuran Aktivitas Fisik JENIS VARIABEL VARIABEL BEBAS NAMA VARIABEL AKTIFITAS FISIK CARA UKUR KOSIONER SKALA UKUR NOMINAL HASIL UKUR 1. BERAT 2. SEDANG 3. RINGAN

7. Keturunan adalah sifat genetika yang menjadi bawaan bapak dan ibu responden. Status gizi orang tua yang dihitung dari perbandingan antara berat badan (kg) dibagi dengan tinggi badan (m2), berdasarkan kategori IMT (Depkes RI, 1994) : Obesitas : > 27,0 Overweight : > 25,0 27,0 Normal : > 18,5 25,0 Kurus tingkat ringan : 17,0 18,5 Kurus tingkat berat : < 17,0

Hipotesis Ada pengaruh aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada orang dewasa di Kabupaten Soppeng.