Anda di halaman 1dari 11

TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN KARISMATIK 1) Teori Kepemimpinan Karismatik dari House House berpendapat bahwa seorang pemimpin karismatik mempunyai

dampak yang dalam dan tidak biasa terhadap para pengikut, mereka merasakan bahwa keyakinan-keyakinan pemimpin tersebut adalah benar, mereka menerima pemimpin tersebut tanpa mempertanyakannya lagi, mereka tunduk kepada pemimpin dengan senang hati, mereka merasa sayang terhadap pemimpin tersebut, mereka terlibat secara emosional dalam misi kelompok atau organisasi tersebut, mereka percaya bahwa mereka dapat memberi kontribusi terhadap keberhasilan tersebut, dan mereka mempunyai tujuan-tujuan kinerja tinggi. a) Ciri-ciri pemimpin Pemimpin karismatik kemungkinan akan mempunyai kebutuhan yang tinggi akan kekuatan, rasa percaya diri, serta pndirian dalam keyakinankeyakinan dan cita-cita mereka sendiri. Suatu kebutuhan akan kekuasaan memotivasi pemimpin tersebut untuk mencoba mempengaruhi para pengikut. Rasa percaya diri dan pendirian yang kuat meningkatkan rasa percaya para pengikut terhadap pertimbangan dan pendapat pemimpin tersebut. b) Perilaku-perilaku kepemimpinan Beberapa perilaku yang ditunjukkan oleh pemimpin karismatik: Para pemimpin karismatik menunjukkan perilaku-perilaku yang dirancang untuk menciptakan kesan di antara para pengikut bahwa pemimpin tersebut kompeten. Para pemimpin karismatik akan menekankan pada tujun-tujuan ideologis yang menghubungkan misi kelompok dengan nilai-nilai, cita-cita, serta aspirasi-aspirasi yang berakar dalam dan dirasakan bersama oleh para pengikut. Para pemimpin karismatik akan menetapkan suatu contoh salam perilaku mereka sendiri agar diikuti oleh para pengikut. Pemimpin karismatik akan mengkomunikasikan harapan-harapan yang tinggi tentang kinerja para pengikut sedangkan pada saat bersamaan juga mengekspresikan rasa percaya tentang kinerja para pengkut sedangkan pada saat yang bersamaan juga mengekspresikan rasa percaya terhadap para pengikut. Pemimpin karismatik akan berusaha berperilaku dengan cara yang menimbulkan motivasi yang relevan bagi misi kelompok. 2) Teori Atribusi Tentang Karisma Conger dan Kanungo menyarankan sebuah teori tentang kepemimpinan karismatik yang didasarkan atas asumsi bahwa karisma adalah sebuah fenomena atribusi.

a) Perilaku-perilaku kepemimpinan Conger dan Kanungo menyatakan bahwa atribusi karisma oleh para pengikut tergantung kepada beberapa aspek perilaku pemimpin. Perilakuperilaku tersebut tidak diasumsikan ada pada semua pemimpin karismatik dengan tingkat tertentu kepada situasi kepemimpinan. Adapun perilakuperilaku pemimpin karismatik tersebut adalah sebagai berikut. Karisma akan diatribusikan kepada para pemimpin yang membela sebuah visi yang sangat tidak sesuai dengan status quo, namun masih tetap berada dalam ruang gerak yang dapat diterima oleh para pengikut. Karisma akan diatribusikan kepada para pemimpin yang bertindak secara tidak konvensional untuk mencapai visi tersebut. Para pemimpin akan tampak karismatik bila mereka membuat pengorbanan-pengorbanan bagi diri sendiri, mengambil risiko pribadi, dan mendatangkan biaya tinggi untuk mencapai visi yang menreka dukung Para pemimpin yang tampak percaya diri dengan usulan-usulannya akan dipandang lebih karismatik daripada pimpinan yang tampak ragu-ragu. Para pengikut akan mengatribusikan karisma kepada para pemimpin yang menggunakan personal power dan permintaan persuasif untuk memperoleh komitmen, daripada kepada para pemimpin yang menggunakan kewenangan atau sebuah proses pengambilan keputusan partisipatif. b) Ciri-ciri dan keterampilan para pemimpin karismatik Risiko yang terkait dalam penggunaan strategi-strategi baru membuat pentingnya para pemimpin tersebut untuk mempunyai keterampilan dan keahlian untuk melaksanakan strategi-strategi tersebut. Ketepatan waktu bersifat kritis; strategi yang sama dan berhasil pada suatu saat tertentu dapat sepenuhnya gagal bila diimplementasikan terlalu cepat atau terlalu lambat. Para pemimpin perlu untuk peka terhadap kebutuhan-kebutuhan dan nilai-nilai para pengikut dan juga terhadap lingkungan agar dapat mengidentifikasi sebuah visi yang inovatif, relevan, tepat waktu dan menarik. 3) Teori Konsep Diri tentang Kepemimpinan Karismatik Teori kepemimpinan karismatik berdasarkan konsep diri dikemukakan oleh Shamir, House, dan Arthur. Teori tersebut dibangun atas teori kepemimpinan karismatik yang sebelumnya sudah dikembangkan oleh House. Beberapa indikator tentang karisma masih tetap sama, termasuk afeksi para pengikut terhadap pemimpin, keterlibatan emosional dalam misi kelompok atau organisasi, keyakinan bahwa para pemimpin tersebut dapat member kontribusi terhadap keberhasilan misi, serta komitmen terhadap tujuan-tujuan kinerja yang tinggi. Namun demikian, dalam teori yang baru tersebut para pemimpin karismatik menghidupkan sejumlah proses

motivasional yang sebelumnya tidak dimasukkan ke dalam teori tersebut oleh House. a) Perilaku-perilaku kepemimpinan Para pemimpin karismatik dengan jelas menyampaikan sebuah visi yang menarik untuk menekankan nilai-nilai tertentu dan membantu para pengikut menginterpretasikan pengalaman-pengalaman mereka. Visi ideologis memberi suatu rasa kesinambungan bagi para pengikut dengan menghubungkan peristiwa-peristiwa masa lampau dan strategi-strategi saat ini kepada sebuah kesan yang hidup mengenai masa depan yang lebih baik bagi organisasi. Dengan mengkomunikasikan harapan-harapan mengenai kinerja yang tinggi dan mengekspresikan rasa percaya bahwa para pengikut akan dapat mencapainya, para pemimpin karismatik meningkatkan rasa percaya diri (self esteem), nilai diri sendiri (self-worth), dan kemampuan diri (self efficacy) dari para pengikut. b) Proses-proses yang mempengaruhi kepemimpinan karismatik Proses-proses yang mempengaruhi perilaku kepemimpinan karismatik adalah sebagai berikut. sosial dalam

Identifikasi pribadi (personal identification), identifikasi pribadi merupakan sebuah proses mempengaruhi yang dyadic yang terjadi pada beberapa orang pengikut namun tidak pada yang lainnya. Proses ini akan paling banyak terjadi pada para pengikut yang mempunyai rasa harga diri rendah, identitas diri rendah, dan kebutuhan yang tinggi untuk menggantungkan diri kepada tokoh-tokoh yang berkuasa. Shamir dan kawan-kawan mengakui bahwa identifikasi pribadi dapat terjadi pada beberapa orang pengikut dari para pemimpin karismatik, namun mereka kurang menekankan pada penjelasan tersebut karena masih ada proses-proses lainnya. Identifikasi sosial (sosial identification). Identifikasi sosial merupakan sebuah proses mempengaruhi yang menyangkut defenisi mengenai diri sendiri dalam hubungannya dengan sebuah kelompok atau kolektivitas. Para pemimpin karismatik meningkatkan identifikasi sosial dengan membuat hubungan antara konsep diri sendiri para pengikut individual dan nilai-nilai yang dirasakan bersama serta identitasidentitas kelompok. Seorang pemimpin karismatik dapat meningkatkan identifikasi sosial dengan memberi kepada kelompok sebuah identitas yang unik, yang membedakan kelompok tersebut dengan kelompokkelompok yang lain. Internalisasi (internalization). Para pemimpin karismatik mempengaruhi para pengikut untuk merangkul nilai-nilai baru, namun lebih umum bagi para pemimpin karismatik untuk meningkatkan kepentingan nilainilai yang ada sekarang pada para pengikut dan dengan menghubungkannya dengan sasaran-sasaran tugas. Para pemimpin karismatik juga menekankan aspek-aspek simbolis dan ekspresif pekerjaan itu, yaitu membuat pekerjaan tersebut menjadi lebih berarti, mulia, heroic, dan secara moral benar. Para pemimpin karismatik tersebut juga tidak menekankan pada imbalan-imbalan ekstrinsik

dalam rangka mendorong para pengikut untuk memfokuskan diri kepada inbalan-imbalan intrinsik dan meningkatkan komitmen mereka kepada sasaran-sasaran objektif. Kemampuan diri sendiri (self-efficacy). Efikasi diri individu merupakan suatu keyakinan bahwa individu tersebut mampu dan kompeten untuk mencpai sasaran tugas yang sukar. Efikasi diri kolektif menunjuk kepada persepsi para anggota kelompok bahwa jika mereka bersamasama, mereka akan dapat menghasilkan hal-hal yang luar biasa. Para pemimpin karismatik meningkatkan harapan dari para pengikur bahwa usaha-usaha kolektif dan individual mereka untuk melaksanakan misi kolektif, akan berhasil, 4) Penjelasan Psiko-Analitis Tentang Karisma Tingkat identifikasi pribadi yang ekstrim oleh para pengikut dengan pemimpin-pemimpin yang tampak sangat luar biasa, dijelaskan dalam kaitannya dengan proses-proses psikodinamik, seperti kemunduruan, pemindahan, dan proyeksi. Kemunduran (regression) menyangkut kembalinya seorang kepada perasaan, perilaku yang sangat khas bagi seorang yang masih muda. Poyeksi menyangkut sebuah proses mengatribusikan perasaan-perasaan serta motivasi yang tidak diinginkan kepada orang lain, yang dengan demikian memindahkan kesalahan akan hal-hal yang membuat seseorang merasa bersalah. Munculnya seorang pemimpin karismatik khususnya dimungkinkan di antara orang-orang yang mempunyai perasaan tidak mampu, salah, takut, dan terasing, dan yang merasakan bersama kepercayaan dan fantasi-fantasi yang akan bertindak sebagai dasar bagi permintaan-ermintaan emosional dan rasional oleh pemimpin tersebut. 5) Penjelasan Tentang Penularan Sosial Dari Karisma Meindle menawarkan sebuah penjelasan yang berpusat pada pengikut (follower centered) daripada yang berpusat pada pemimpin. Menurut teori tersebut, tanggapan karismatik oleh kebanyakan pengikut disebabkan oleh proses-proses pengaruh sosial di antara para pengikut itu sendiri daripada karena dampak langsung pemimpin tersebut terhadap masing-masing pengikut secara individual. Teori tersebut berfokus pada penularan sosial sebagai proses antarpribadi utama untuk menjelaskan reaksi-reaksi karismatik terhadap para pemimpin. Meindle berspekulasi bahwa proses penularan sosial tersebut biasanya menyangkut suatu tahapan peristiwa yang khas. Proses tersebut dimulai dengan beberapa anggota organisasi yang merasa tidak pasti (insecure), marjinal yang kekurangan identifikasi sosial yang kuat dengan organisasi tersebut. Sindrom perilaku heroic diaktifkan dalam orang-orang tersebut melalui munculnya seorang pemimpin yang mengartikulasikan suatu ideologi yang menarik atau yang menyimbolkannya melalui keunggulan suatu sifat pengidentifikasi. Para pengikut meniru perilaku nontradisional pemimpin tersebut dan melakukan hal-hal yang menyimbolkan keterikatan terhadap tujuan perjuangan yang baru.

Atribusi karisma kepada pemimpin terjadi sebagai bagian dari proses kognitif untuk menjelaskan dan merasionalisasi perubahan dalam perilaku oleh para pengikut. Kebutuhan akan jenis rasionalisasi yang demikian khususnya dapat menjadi kuat bila penularan sosial menghasilkan perilaku yang tidak konsisten dengan identitas-identitas sosial yang berlaku dan yang mendukung keyakinan-keyakinan para pengikut. B. KARAKTERISTIK PEMIMPIN KARISMATIK Dalam teori kepemimpinan, berkembang teori kepemimpinan karismatik dan visioner (http://transformasi-indonesia.blogspot.com). Kepemimpinan karismatik dan visioner diantaranya memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) Vision and articulation. Pemimpin karismatik dan visioner memiliki visi, yaitu tujuan ideal, dan mampu menjelaskan visi tersebut kepada rakyat. 2) Personal risk, dimana pemimpin karismatik berani mengambil risiko pribadi untuk mencapai visi. 3) Environmental sensitivity. Pemimpin karismatik mampu melakukan perhitungan realitis mengenai hambatan dari lingkungan dan kebutuhan sumberdaya untuk mengupayakan terjadinya perubahan. 4) Sensitivity to follower needs. Pemimpin karismatik mencoba memandang dari perspektif orang lain (tidak hanya perspektif diri sendiri), serta berempati terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain. 5) Unconventional behavior. Pemimpin karismatik menunjukkan perilaku (konstruktif) diluar kebiasaan dan seringkali menentang norma (destruktif) yang mengakar dalam masyarakat, tetapi untuk perubahan ke arah perbaikan, misalnya reformasi. Teori kepemimpinan karismatik merupakan suatu perpanjangan dari teori atribusi. Teori ini mengemukakan bahwa para pengikut membuat atribusi atau penghubung dari kemampuan kepemimpinan yang heroik atau luar biasa bila mereka mengamati perilaku-perilaku tertentu. Robert House (Robins, 1996) mengidentifikasikan tiga karakteristik pribadi pemimpin karismatik, yaitu: 1. Kepercayaan yang luar biasa. 2. Kekuasaan 3. Teguh dalam keyakinan. Conger dan Kanungo (Robins, 1996) menguraikan karakteristik utama dari pemimpin karismatik, yaitu: 1. Percaya diri, pemimpin tersebut benar-benar percaya akan penilaian dan kemampuan yang dimilikinya. 2. Satu visi, merupakan tujuan ideal yang mengajukan suatu masa depan yang lebih baik. 3. Kemampuan untuk mengungkapkan visi dengan gamblang. Pemimpin mampu memperjelas dan menyatukan visi dalam kata-kata yang dapat dipahami oleh

orang lain. Artilkulasi ini menunjukkan suatu pemahaman akan kebutuhan para pengikut dan oleh karena itu akan bertindak sebagai suau kekuatan motivasi. 4. Keyakinan kuat mengenai visi tersebut. Pemimpin karismatik memiliki komitmen yang kuat dan bersedia mengambil risiko pribadi yang tinggi, mengelarkan biaya tinggi, dan melibatkan diri dalam pengorbanan untuk mencapai visi tersebut. 5. Perilaku yang diluar aturan. Pemimpin karismatik ikut serta dalam perilaku yang dipahami sebagai sesuatu yang baru, tidak konvensional, dan berlawanan dengan norma-norma. Bila berhasil, perilaku ini menimbulkan kejutan dan kekaguman para pengikut. 6. Dipahami sebagai sebagai seorang agen perubahan. Pemimpin karismatik dipahami sebagai agen perubahan yang radikal. 7. Kepekaan lingkungan. Pemimpin ini mmpu membuat penilaian yang realistis terhadap kendala lingkungan dan sumber daya yang diperlukan untuk menghasilkan perubahan. Sebuah badan riset menunjukkan bahwa adanya korelasi antara pemimpin karismatik dengan kinerja dan kepuasan yang tinggi di kalangan pengikutnya atau bawahannya. Orang-orang yang bekerja untuk pemimpin karismatik termotivasi untuk mengeluarkan upaya kerja ekstra dan orang-orang tersebut menyukai pemimpinnya serta mengungkapkan kepuasan yang lebih besar. Banyak pakar yang berkeyakinan bahwa individu dapat dilatih untuk memperlihatkan perlaku karismatik sehingga dapat disebut sebagai seorang pemimpin karismatik, dengan mengikuti sutau proses tiga langkah, yaitu: 1. Individu perlu mengembangkan aura karisma dengan memelihara suatu pandangan yang optimis, menggunakan keinginan yang besar untuk menimbulkan kegairahan atau antusiasme, dan berkomunikasi dengan seluruh tubuhnya, bukan hanya dengan kata-kata. 2. Individu menarik orang lain untuk bergabung dengan menciptakan suatu ikatan yang mengilhami yang lainnya untuk mengikuti. 3. Individu membangkitkan potensial dalam diri para pengikut dengan menyadap emosinya. C. KONSEKUENSI DARI KEPEMIMPINAN KARISMATIK 1) Karisma Positif Dan Negatif Pendekatan yang lazim digunakan untuk menilai kepemimpinan karismatik adalah dengan menguji konsekuensi bagi para pengikut. Akan tetapi cara tersebut bersifat subjektif, dan tidak memberikan hasil yang akurat. Pendekatan lain untuk membedakan karismatik positif dan negatif adalah dengan melihat hubungan antara nilai-nilai dan kepribadian para pemimpin tersebut. Musser (Yukl, 1994) menyarankan untuk mengklasifikasi para pemimpin karismatik sebagai positif atau negatif berdasarkan orientasi, apakah berorientasi pada kebutuhan mereka sendiri atau pada kebutuhan

para pengikut dan organisasi. Musser mengajukan bahwa semua orang karismatik sengaja mencoba menanamkan komitmen terhadap tujuan-tujuan ideologis, dan secara sadar atau tidak, mencoba untuk menanamkan devosi terhadap diri mereka sendiri. Para karismatik yang negatif lebih banyak menekankan kepada devosi terhadap diri mereka sendiri daripada terhadap cita-cita. Dalam kaitannya dengan proses mempengaruhi, mereka menekankan pada identifikasi pribadi daripada internalisasi. Mereka dapat menggunakan seruan ideologis, namun hanya sebagai alat untuk memperoleh kekuasaan, setelah itu, ideologi tersebut diabaikan atau diubah untuk melayani sasaran-sasaran pribadi pemimpin tersebut. Sebaliknya, para karismatik positif mencoba untuk menanamkan lebih banyak devosi kepada ideologi daripada pada dirinya sendiri. Dalam kaitannya dengan prosesproses mempengaruhi, mereka menekankan internalisasi daripada identifikasi pribadi. Konsepsi Musser mengenai karismatik yang positif dan negatif konsisten dengan ide-ide dan penemuan-penemuan dari beberapa orang teoretikus kepemimpin yang mengusulkan bahwa karismatik yang negatif mempunyai orientasi kepada suatu kekuasaan yang dipersonalisasi, sedangkan para karismatik yang positif mempunyai sebuah orientasi kekuasaan yang disosialisasi. a) Konsekuensi karismatik yang negatif Conger meninjau kembali penelitian deskriptif tentang para pemimpin karismatik, termasuk penelitian terhadap par apemimpin yang sangat mencintai dirinya sendiri (narcissistic), dan ia berkesimpulan bahwa sejumlah masalah serius kemungkinan akan muncul dalam organsasiorganisasi yang dipimpin oleh para karismatik. Beberapa kemungkinan masalah tersebut adalah sebagai berikut: Hubungan antar-pribadi yang jelek Konsekuensi-konsekuensi negatif dari perilaku impulsive dan tidak konvensional Konsekuensi-konsekuensi negatif dari manajemen kesan Praktik-praktik administrasi yag lemah Konsekuensi-konsekuensi negatif dari rasa percaya diri Gagal untuk merencanakan suksesi b) Keuntungan dan biaya karismatik positif Para pengikut kemungkinan akan berada dalam keadaan lebih baik dengan seorang pemimpin karismatik positif daripada jika berada pada seorang pemimpin karismatik yang negatif. Mereka lebih berpeluang untuk mengalami pertumbuhan psikologis serta pengembangan kemampuan. Organisasi tersebut juga lebih berpeluang untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang dinamis, kejam, dan bersaing. Dampak seorang pemimpin karismatik biasanya adalah penciptaan sebuah budaya yang berorientasi kepada keberhasilan, sistem kerja yang

tinggi, atau organisasi yang terdorong oleh nilai-nilai, sehingga organisasi tumbuh menjadi sebuah organisasi yang unggul. 2) Sisi Gelap dari Karisma Teori utama mengenai kepemimpinan karismatik menekankan pada konsekuensi positif, tetapi sejumlah ilmuwan sosial juga telah mempertimbangkan sisi gelap dari karisma (Bass & Steidmeier, 1999; Conger, 1989; Conger & Kanungo, 1998; Hogan, Raskin & Fazzini, 1990; House & Howell, 1992; Kets de Vries & Miller, 1985; Mumford, Gessner, Connelly, O`Connor & Clifton, 1993; O`Connor, Mumford, Clifton, Gessner & Connelly, 1995; Sandowsky, 1995). Konsekuensi negatif yang mungkin terjadi dalam organisasi dipimpin oleh karismatik adalah: Keinginan akan penerimaan oleh pemimpin menghambat kecaman dari pengikut Pemujaan oleh pengikut menciptakan khayalan akan tidak dapat berbuat kesalahan Keyakinan dan optimisme berlebihan membutakan pemimpin dari bahaya nyata Penolakan akan masalah dan kegagalan mengurangi pembelajaran organisasi Proyek berisiko yang terlalu besar akan besar kemungkinannya untuk gagal Mengambil pujian sepenuhnya atas keberhasilan akan mengasingkan beberapa pengikut yang penting Perilaku impulsif yang tidak tradisional menciptakan musuh dan juga orangorang yang percaya Ketergantungan pada pemimpin penerus yang kompeten akan menghambat penerus perkembangan krisis

Kegagalan untuk mengembangkan kepemimpinan pada akhirnya

menciptakan

Dua kumpulan konsekuensi yang saling terkait berkomposisi untuk meningkatkan kemungkinan bahwa karier pemimpin akan terpotong singkat. Para pemimpin karismatik cenderung untuk membuat keputusan yang berisiko yang dapat mengakibatkan kegagalan serius, dan mereka cenderung untuk membuat musuh yang lebih kuat yang akan menggunakan kegagalan demikian sebagai kesempatan untuk memindahkan pemimpin dari kantornya. Optimisme dan keyakinan diri amat penting untuk mempengaruhi orang lain agar mendukung visi si pemimpin, tetapi optimisme berlebihan membuat makin sulit bagi pemimpin untuk mengenali kekurangan dalam visi itu. Terlalu mengenali visi tersebut akan merendahkan kapasitas untuk mengevaluasinya secara objektif. Pengalaman dari keberhasilan sebelumnya dan pemujaan bawahan dapat menyebabkan pemimpin percaya bahwa penilaiannya tidak bisa salah. Dalam pencarian yang tekun untuk mencapai sisi itu, seseorang pemimpin yang karismatik dapat mengabaikan atau menolak bukti bahwa

visinya tidak realistis dan mengarah kepada kegagalan. Para pengikut yang percaya pada pemimpin itu akan terhalang untuk menunjukkan kekurangan atau menyajikan perbaikan yang membuat sebuah keputusan yang buruk menjadi makin mungkin terjadi. Perilaku impulsif dan tidak konvensional yang sama yang menyebabkan beberapa orang memandang seorang pemimpin sebagai karismatik akan tersinggung dan melawan orang lain yang memandang perilaku itu sebagai hal yang mengganggu dan tidak tepat. Hal serupa, pendirian yang kuat dari pemimpin itu terhadap ideologi yang tidak tradisonal akan mengasingkan orang yang tetap teguh terhadap cara-cara tradisional dalam melakukan berbagai hal. Bahkan beberapa pendukung awal bisa seperti mengkhayal jika pemimpin itu gagal mengakui kontribusi penting mereka terhadap keberhasilan besar dari kelompok atau organisasi. Bass (http://valmband.multiply.com) menyebutkan bahwa respons dari orang terhadap pemimpin yang karismatik akan lebih besar penghormatan luar biasa oleh beberapa orang lainnya. Jadi, keuntungan memiliki beberapa pengikut yang berdedikasi yang mengenali pemimpin akan diimbangi kerugiannya dengan memiliki beberapa musuh yang kuat, kemungkinan meliputi anggota yang berkuasa dari organisasi itu yang dapat merendahkan program pemimpin tersebut atau berkonspirasi untuk menggeser pemimpin dari kedudukannya. Diluar semua konsekuensi yang merugikan tersebut, bahkan seseorang pemimpin yang karismatik tidak terkutuk untuk gagal. Terdapat banyak contoh mengenai karismatik narsistik yang mendirikan kerajaan politis, mendirikan perusahaan yang makmur atau memulai sekte agama baru dan mempertahankan kendali atas mereka disepanjang masa hidup mereka. Keberhasilan yang terus menerus mungkin bagi pemimpin yang memiliki keahlian untuk membuat keputusan yang baik, keterampilan politis untuk mempertahannkan kekuasaan, dan keberuntungan yang baik untuk berada dalam situasi yang menguntungkan. D. PERBANDINGAN TEORI-TEORI KARISMATIK Berbagai teori karismatik memiliki penjelasan yang beragam mengenai proses-proses mempengaruhi yang terdapat di dalamnya. Penjelasan psikoanalitis dari karisma menekankan pada pengaruh dari pemimpin yang berasal dari identifikasi pribadi dengan pemimpin tersebut. Teori atribusi karisma (Conger dan Kanungo) menekankan kepada identifikasi pribadi sebagai proses utama dan internalisasi sebagai proses sekunder. Teori Meindle menjelaskan bahwa orang-orang yang pindah agama secara langsung dipengaruhi oleh pemimpin, tetapi orang lain kemudian dipengaruhi melalui sebuah proses penularan sosial. Teori dari House menekankan kepada identifikasi pribadi , pembangkitan motivasi oleh pemimpin, dan pengaruh pemimpin terhadap tujuan-tujuan dan rasa percaya diri para pengikut. Teori konsep diri (Shamir) menekankan internalisasi nilai, identifikasi sosial, dan pengaruh pemimpin terhadap kemampuan diri, dengan hanya member peran yang sedikit terhadap identifikasi pribadi.

Kebanyakan teori tentang kepemimpinan karismatik setuju bahwa para pemimpin karismatik lebih besar kemungkinannya akan muncul bilamana sebuah organisasi berada dalam keadaan stress dan transisi. E. EVALUASI TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN KARISMATIK Teori karismatik memberikan penjelasan mengenai pengaruh yang luar biasa beberapa orang pemimpin terhadap para bawahannya, suatu tingkat pengaruh yang tidak dapat dijelaskan dengan memuaskan oleh teori-teori sebelumnya mengenai kepemimpinan instrumental dan situasional. Teori-teori karismatik mengakui pentingnya reaksi emosional para pengikut terhadap para pemimpin. Teori-teori sebelumnya menekankan pada aspek-aspek rasionalkalkulatif dari interaksi pimpinan-pengikut. Teori karismatik mengakui pentingnya perilaku simbolik dan peran pemimpin tersebut dalam membuat peristiwaperistiwa menjadi berarti bagi para pengikut. Teori karismatik member penjelasan yang lebih baik mengenai kemampuan pimpinan untuk mempengaruhi orang secara tidak langsung tanpa sering interaksi dan tatap muka. Teori-teori sebelumnya kebanyakan memperhatikan pengaruh langsung para pemimpin terhadap para bawahan langsungnya. Terlepas dari kelebihannya, pemimpin karismatik juga memiliki beberapa kelemahan, terutama jika dihadapkan dengan sebuah organisasi besar. Kepemimpinan karismatik berisiko, karena hasil kerja pemimpin sulit untuk diprediksi, apabila pemimpin tersebut terlalu banyak diberikan kewenangan untuk menentukan visi perusahaan ke depan. Kekuasaan tersebut dapat disalahgunakan, sehingga organisasi dapat terseret pada konflik yang merusak. Dalam kondisi perusahaan yang kacau, sangat sukar untuk mengembangkan sebuah visi strategis dengan lingkungan organisasi yang kompleks seorang diri. Kondisi tersebut lebih sesuai untuk diatasi dengan sebuah visi yang lebih besar, yang datangnya dari sebuah proses kepemimpinan bersama. Jadi, teori-teori karismatik yang menekankan kepada kepemimpinan individu yang luar biasa, paling cocok untuk menjelaskan seorang wirausahawan yang visioner, yang mendirikan sebuah organisasi baru atau seorang manajer pemutar arah (turnaround manager) yang menyelamatkan sebuah organisasi yang besar, yang berada di ujung keruntuhan. Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karena mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa menjadi pengikut pemimpin tersebut. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural powers). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma. Gandhi bukanlah seorang yang kaya, Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang yang fisik sehat, John F Kennedy adalah seorang pemimpin yang memiliki karisma meskipun umurnya masih muda pada waktu terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. DAFTAR PUSTAKA

Mustopadidjaja AR. Tanpa Tahun. Beberapa Dimensi dan Dinamika Kepemimpinan Abad 21.(Online). (http://aparaturnegara.bappenas.go.id/Diakses tanggal 14 November 2008). Robins, S. P. 1996. Perilaku Organisasi: Jilid 2. Diterjemahkan oleh Hadyana Pujaatmaka. Jakarta: PT Prenhallindo. Yukl, G. A. 1994. Leadership in Organizations. Edisi Bahasa Indonesia. New Jersey: Prentice hall