Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI DAN FISIOLOGI TUMBUHAN Jaringan pada Akar dan Batang Monokotil dan Dikotil

DISUSUN OLEH : Irwin Septian F05110003 Kelompok VII

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MIPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA 2012

JARINGAN PADA AKAR DAN BATANG MONOKOTIL DAN DIKOTIL

ABSTRAK Masalah dalam laporan ini adalah membedakan sistem jaringan pada akar dan batang monokotil dan dikotil dalam pengamatan preparat awetan maupun preparat basah. empat buah preparat awetan masing-masing dua buah preparat akar dan batang dan monokotil serta dua buah preparat akar dan batang dikotil. pengamatan dilakukan dengan menggambar bagian-bagian jaringan pada akar dan batang. hasil pengamatan menunjukkan pada akar dan batang dikotil tipe berkas pembuluhnya kolateral terbuka (memiliki kambium), sedangkan akar dan batang monokotil tipe berkas pembuluhnya kolateral tertutup. dari hasil tersebut pengamatan ini dapat dijadikan acuan bagi peneliti ataupun masyarakat belajar untuk meneliti karakteristik tumbuhan monokotil maupun dikotil. Kata Kunci : kolateral terbuka, kolateral tertutup, monokotil, dikotil

A. Pendahuluan Latar Belakang Selain secara morfologi pengamatan tumbuhan dapat diamati juga menggunakan bantuan mikroskop atau secara anatomi. bila morfologi melihat struktur luar, maka anatomi membahasnya secara lebih mendetil hingga ke hierarki makhluk hidup yang paling kecil yaitu molekul. secara kasat mata tumbuhan dapat digolongkan dengan mudah apabila dilihat ciri-ciri yang tampak dari luar, namun untuk lebih meyakinkan penggolongannya anatomi dapat menjadi dasar yang cukup kuat, sebab di tingkat molekuler tanaman memiliki ciri yang khusus misalnya saja tumbuhan monokotil dan dikotil, dilihat dari susuanan berkas pengangkutnya. Melalui praktikum ini, diharapkan tidak terjadi kekeliruan lagi dalam melihat preparat tanaman monokotil dan dikotil secara anatomi, baik sistem jaringannya, susunan berkas pengangkutnya maupun tipe stele baik menggunakan preparat awetan maupun preparat segar.

agar kedepannya pengamatan ini dapat menjadi bekal yang cukup dalam mendalami anatomi tumbuhan Anatomi tumbuhan berkaitan dengan seluk beluk tentang struktur, fungsi dan keuntungan berbagai macam jaringan dan organ tumbuhan juga mengenai sel sebagai satuan terkecil bahkan juga tentang struktur ultra mikroskopis yang sangat berkaitan dengan fungsi, terlihat kurang diminati dan tidak sepopuler ilmu-ilmu biologi lainnya. Padahal menurut Fahn (1991) tanpa pengetahuan yang seksama dalam anatomi tumbuhan maka semua proses biologi yang berlangsung dalam tumbuhan tidak akan dapat dipahami dengan sebaik-baiknya. Telaah yang rinci tentang unsur dan jaringan yang membentuk tubuh tumbuhan memungkinkan adanya pengertian yang lebih baik tentang penyesuaian diri segenap tumbuhan baik untuk menjalankan fungsi-fungsi khas maupun menyesuaikan diri terhadap kondisi lingkungan yang berbeda. Demikian juga dalam hubungan antar ilmu, anatomi tumbuhan berperan penting. Tafsiran yang sesungguhnya mengenai fungsi bagian bertumpu pada pengetahuan yang baik tentang sel dan jaringan. Pemahaman tentang bentuk dan struktur tumbuhan sehubungan dengan fungsinya senantiasa diperlukan terutama dalam mempelajari tumbuhan bidang hortikultura, agronomi, patologi maupun ekologi (Hidayat, 1995). untuk

Dasar Teori Batang merupakan organ tumbuhan yang tumbuh ke atas. Fungsi batang, antara lain membentuk daun, mengantarkannya ke arah matahari, mengangkut air dan garam-garam yang terlarut menuju ke daun dan mengangkut hasil fotosintesis dari daun ke akar, serta dapat berfungsi menyimpan makanan cadangan. Batang terdiri dari ruas dan buku-buku. Pada buku-buku tersebut terdapat daun. Pada ketiak daun terdapat tunas samping yang dapat tumbuh menjadi cabang vegetatif atau cabang reproduktif. Anatomi batang dikotil dan Gymnospermae memperlihatkan dari luar terdiri dari epidermis, korteks, dan silinder pusat. Ikatan pembuluh pada batang dikotil tersusun secara melingkar (teratur), sedangkan pada tumbuhan monokotil ikatan pembuluhnya tersebar sehingga jaringan dasarnya tidak dibedakan ke dalam korteks dan empulur. Bentuk batang beraneka ragam. Penampang batang berbentuk bulat, persegi atau pipih. Batang dapat tumbuh tak terbatas karena ada meristem apikal. Arah tumbuh batang dapat

lurus ke atas, menggantung, berbaring, menjalar, serong ke atas, memanjat, dan membelit. Percabangan pada batang dapat monopodial, simpodial atau dikotom. Cabang tersebut dapat tumbuh tegak, condong ke atas, mendatar, terkulai atau menggantung(Prabugomong, 2010). Akar merupakan bagian pokok dari suatu tanaman sebagai penyokong tubuh tumbuhan. akar biasanya memiliki sifat sebagai berikut: 1. merupakan bagian tumbuhan yang biasanya terdapat dalam tanah, dengan arah tumbuh ke pusat bumi ( geotrop ) atau menuju air 2. tidak berbuku-buku, tidak beruas 3. warna tidak hijau, biasanya keputih-putihan atau kekuningan Akar merupakan organ tumbuhan yang tumbuh ke dalam tanah. Ada empat fungsi akar, yaitu (a) mengabsorpsi air dan garam yang terlarut (b) mengantarkan air dan garam tersebut. ke batang (c) sebagai jangkar dan penopang tajuk, dan (d) menyimpan cadangan makanan. Jaringan akar muda dari luar ke dalam terdiri dari epidermis, korteks, dan silinder pusat.Akar dapat dibedakan ke dalam bagian leher (pangkal) akar, akar primer, akar cabang akar, rambut akar, ujung akar dan tudung akar. Kita mengenal 2 sistem perakaran, yaitu sistem perakaran saberut yang terdapat pada tumbuhan monokotil, dan sistem perakaran

tunggang yang terdapat pada tumbuhan dikotil dan Gymnospermae( Tjitrosoepomo, 2007 ).

GAMBAR 1 : Perbedaan Tumbuhan Monokotil & Dikotil secara Anatomi dan Morfologi Kotiledon (disebut juga kotil atau daun lembaga) adalah bakal daun yang terbentuk pada embrio. Kotiledon merupakan organ cadangan makanan pada biji sekelompok tumbuhan, sekaligus organ fotosintetik pertama yang dimiliki oleh tumbuhan yang baru saja berkecambah. Walaupun bagi kecambah ia berfungsi seperti daun, kotiledon tidak memiliki anatomi yang lengkap seperti daun sejati. Biji yang menyimpan cadangan makanan di kotiledon bagi kecambah disebut sebagai biji kotiledonik. Pada tumbuhan dengan biji kotiledonik, kotiledon telah terbentuk pada saat tumbuhan masih di dalam biji (embrio atau lembaga). Yang tergolong tumbuhan semacam ini misalnya dari suku polong-polongan (Fabaceae) dan suku kubis-kubisan (Brassicaceae). Klasifikasi tumbuhan klasik membedakan dua kelompok besar tumbuhan berbunga (Angiospermae) berdasarkan cacah kotiledonnya: Dicotyledoneae (berkotil dua) dan Monocotyledoneae (berkotil tunggal). Walaupun jarang dikemukakan, tumbuhan berbiji terbuka juga memiliki kotiledon, namun banyaknya untuk setiap spesies berbeda-beda sehingga tidak dapat digunakan sebagai penciri(Wikipedia, 2012).

AKAR Asal akar adalah dari akar lembaga (radix), pada Dikotil, akar lembaga terus tumbuh sehingga membentuk akar tunggang, pada Monokotil, akar lembaga mati, kemudian pada pangkal batang akan tumbuh akar-akar yang memiliki ukuran hampir sama sehingga membentuk akar serabut. Akar monokotil dan dikotil ujungnya dilindungi oleh tudung akar atau kaliptra, yang fungsinya melindungi ujung akar sewaktu menembus tanah, sel-sel kaliptra ada yang mengandung butir-butir amylum, dinamakan kolumela.

1. Fungsi Akar a. Untuk menambatkan tubuh tumbuhan pada tanah b. Dapat berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan c. Menyerap air dam garam-garam mineral terlarut

2. Anatomi Akar Pada akar muda bila dilakukan potongan melintang akan terlihat bagian-bagian dari luar ke dalam. a. Epidermis b. Korteks c. Endodermis d. Silinder Pusat/Stele

a. Epidermis Susunan sel-selnya rapat dan setebal satu lapis sel, dinding selnya mudah dilewati air. Bulu akar merupakan modifikasi dari sel epidermis akar, bertugas menyerap air dan garamgaram mineral terlarut, bulu akar memperluas permukaan akar.

b. Korteks Letaknya langsung di bawah epidermis, sel-selnya tidak tersusun rapat sehingga banyak memiliki ruang antar sel. Sebagian besar dibangun oleh jaringan parenkim.

c. Endodermis Merupakan lapisan pemisah antara korteks dengan silinder pusat. Sel-sel endodermis dapat mengalami penebalan zat gabus pada dindingnya dan membentuk seperti titik-titik,

dinamakan titik Caspary. Pada pertumbuhan selanjutnya penebalan zat gabus sampai pada dinding sel yang menghadap silinder pusat, bila diamati di bawah mikroskop akan tampak seperti hutuf U, disebut sel U, sehingga air tak dapat menuju ke silinder pusat. Tetapi tidak semua sel-sel endodermis mengalami penebalan, sehingga memungkinkan air dapat masuk ke silinder pusat. Sel-sel tersebut dinamakan sel penerus/sel peresap.

c.Silinder Pusat/Stele Silinder pusat/stele merupakan bagian terdalam dari akar.

Terdiri dari berbagai macam jaringan : - Persikel/Perikambium Merupakan lapisan terluar dari stele. Akar cabang terbentuk dari pertumbuhan persikel ke arah luar. - Berkas Pembuluh Angkut/Vasis Terdiri atas xilem dan floem yang tersusun bergantian menurut arah jari jari. Pada dikotil di antara xilem dan floem terdapat jaringan kambium. - Empulur Letaknya paling dalam atau di antara berkas pembuluh angkut terdiri dari jaringan parenkim. Terdapat perbedaan antara batang dikotil dan monokotil dalam susunan anatominya.

1. Batang Dikotil Pada batang dikotil terdapat lapisan-lapisan dari luar ke dalam :

a. Epidermis Terdiri atas selaput sel yang tersusun rapat, tidak mempunyai ruang antar sel. Fungsi epidermis untuk melindungi jaringan di bawahnya. Pada batang yang mengalami pertumbuhan sekunder, lapisan epidermis digantikan oleh lapisan gabus yang dibentuk dari kambium gabus. b. Korteks Korteks batang disebut juga kulit pertama, terdiri dari beberapa lapis sel, yang dekat dengan lapisan epidermis tersusun atas jaringan kolenkim, makin ke dalam tersusun atas jaringan parenkim.

c. Endodermis Endodermis batang disebut juga kulit dalam, tersusun atas selapis sel, merupakan lapisan pemisah antara korteks dengan stele. Endodermis tumbuhan Anguiospermae mengandung zat tepung, tetapi tidak terdapat pada endodermis tumbuhan Gymnospermae.

d. Stele/ Silinder Pusat Merupakan lapisan terdalam dari batang. Lapis terluar dari stele disebut perisikel atau perikambium. lkatan pembuluh pada stele disebut tipe kolateral yang artinya xilem dan floem. Letak saling bersisian, xilem di sebelah dalam dan floem sebelah luar.

Antara xilem dan floem terdapat kambium intravasikuler, pada perkembangan selanjutnya jaringan parenkim yang terdapat di antara berkas pembuluh angkut juga berubah menjadi kambium, yang disebut kambium intervasikuler. Keduanya dapat mengadakan pertumbuhan sekunder yang mengakibatkan bertambah besarnya diameter batang.

Pada tumbuhan Dikotil, berkayu keras dan hidupnya menahun, pertumbuhan menebal sekunder tidak berlangsung terus-menerus, tetapi hanya pada saat air dan zat hara tersedia cukup, sedang pada musim kering tidak terjadi pertumbuhan sehingga pertumbuhan menebalnya pada batang tampak berlapis-lapis, setiap lapis menunjukkan aktivitas pertumbuhan selama satu tahun, lapis-lapis lingkaran tersebut dinamakan Lingkaran Tahun.

2. Batang Monokotil

Pada batang Monokotil, epidermis terdiri dari satu lapis sel, batas antara korteks dan stele umumnya tidak jelas. Pada stele monokotil terdapat ikatan pembuluh yang menyebar dan bertipe kolateral tertutup yang artinya di antara xilem dan floem tidak ditemukan kambium. Tidak adanya kambium pada Monokotil menyebabkan batang Monokotil tidak dapat tumbuh membesar, dengan perkataan lain tidak terjadi pertumbuhan menebal sekunder. Meskipun demikian, ada Monokotil yang dapat mengadakan pertumbuhan menebal sekunder, misalnya pada pohon Hanjuang (Cordyline sp) dan pohon Nenas seberang (Agave sp) ( Adiwaldi, 2010).

Masalah Masalah yang diangkat penulis dalam laporan ini adalah Bagaimana sistem jaringan, tipe berkas pembuluh serta tipe stele pada batang dan akar monokotil maupun dikotil dengan melihat awetan preparatnya? Bagaimana membuat preparat dari bahan segar serta menganalisis jenis tumbuhannya B. Tujuan Adapun diadakannya praktikum jaringan pada tumbuhan ini ialah : 1. Mempelajari sistem jaringan, tipe berkas pengangkut, tipe stele pada batang akar pada tumbuhan dikotil dan monokotil 2. Mengidentifikasi tumbuhan secara anatomi dan menggolongkannya kedalam tumbuhan monokotil dan dikotil melalui pengamatan preparat segar yang didapat serta membuktikannya dengan pengamatan preparat

C. Material dan Metoda 1. Waktu dan Tempat Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Pend.Biologi pada tanggal 23 Maret 2012 pukul 07.30-09.30 WIB 2. Alat dan Bahan Dalam pengerjaan acara praktikum ini digunakan beberapa alat untuk menunjang kegiatan pengamatan. Adapun alat yang digunakan yaitu : Mikroskop, Pipet tetes, Gelas Kimia, Gelas Objek ( Kaca Objek ), Kaca penutup, Alat Tulis, Buku Gambar A4, Pensil warna, Silet. Sedangkan bahan yang dipakai ialah: air akuades, Preparat segar tanaman Zea mays dan Arthocarpus integra, Preparat awetan akar dan batang monokotil dan dikotil ( Akar dan Batang Zea mays, Arachis hypogaea.

3. Cara kerja Pengamatan preparat awetan Struktur anatomi batang dan akar dikotil dan monokotil Pertama, periksalah mikroskop dalam keadaan baik, letakkan preparat awetan batang dikotil di meja benda, lalu mulai mengamati dengan perbesaran objektif 4x, setelah itu digunakan perbesaran gambar 10 x dan 40 x dan diamati mana yang lebih baik, setelah tampak jelas hasil pengamatan mulai digambar dan dijelaskan bagian- bagian yang nampak pada preparat berupa bagian-bagiannya dan diwarnai sesuai pengamatan, untuk preparat batang monokotil, akar monokotil dan dikotil digunakan cara yang sama. Pengamatan preparat segar Pertama, periksalah mikroskop dalam keadaan baik, sayatlah secara melintang preparat segar yang sudah dicandra di lingkungan sekitar menggunakan silet atau mikrotom ( usahakan setipis mungkin agar jaringan terlihat jelas ), lalu mulai mengamati dengan perbesaran objektif 4x, setelah itu digunakan perbesaran gambar 10 x dan 40 x dan diamati mana yang lebih baik, setelah tampak jelas hasil pengamatan mulai digambar dan dijelaskan bagianbagian yang nampak pada preparat berupa bagian-bagiannya dan diwarnai sesuai pengamatan, untuk preparat batang monokotil, akar monokotil dan dikotil digunakan cara yang sama D. Data Pengamatan Dari Hasil percobaan dan pengamatan kelompok kami, berikut adalah gambar dari hasil pengamatan kami terhadap anatomi akar dan batang Keterangan : 1. Epidermis 2. Sub-epidermis 3. Korteks 4. Endodermis 5. Berkas Pengangkut 6. Stele Perbesaran : 4 x 10 Kali = 40 Kali Perbesaran

Tipe Berkas Pengangkutnya adalah Kolateral Tertutup ( Amphivasal Tertutup ) Gambar 2. Pengamatan Anatomi Preparat Awetan Batang Zea mays ( Monokotil )

Keterangan : 1. Epidermis 2. Korteks 3. Berkas Pengangkut 4. Stele Tipe Berkas pengangkut Kolateral terbuka Perbesaran : 4 x 10 Kali = 40 Kali Perbesaran

Keterangan : 1. Epidermis 2. Korteks 3.Endodermis 4. Berkas Pengangkut 5. Stele Tipe Berkas pengangkut Kolateral tertutup Perbesaran : 10 x 10 Gambar 4. Pengamatan Anatomi Preparat Awetan Akar Zea mays

Keterangan : 1. Epidermis 2. Korteks 3. Floem 4. Endodermis 5. Xilem 6. Stele Perbesaran : 40 x 10 Kali = 400 Kali Perbesaran

Tipe berkas pengangkut kolateral terbuka

Gambar 5. Pengamatan anatomi preparat awetan Arachis hypogaea

Keterangan : ` 1. Epideremis 2. Sub- Epidermis 3. Korteks 4. Endodermis 5. Berkas Pengangkut Perbesaran : 4 x 10

Gambar 6. Pengamatan anatomi Preparat segar Zea mays

Keterangan : 1. Epidermis 2. Sub- Epidermis 3. Korteks 4. Berkas Pengangkut 5. Stele Perbesaran : 4 x 10

Gambar 7. Pengamatan anatomi preparat segar Arthocarpus integra

E. PEMBAHASAN Tumbuhan monokotil dan dikotil ialah salah satu penggolongan secara garis besar dari kelompok tetumbuhan, oleh sebab itu dengan pengamatan ini diharapkan mampu menganalisis tipe tumbuhannya berdasarkan anatominya. pada gambar 1 tergambar bagaimana perbedaanya tumbuhan monokotil dan dikotil secara anatomi dan morfologinya. namun kita fokuskan secara anatominya saja. selain itu pengamatan ini dapat dijadikan bahan yang kuat dalam mengidentifikasi tumbuhan. Batang dan akar merupakan organum nutritivum, atau organ tumbuhan yang menyalurkan nutrisi dan air ke tanaman dari dalam tanah hingga mencapai ke daun untuk mencapai fotosintesis jadi susunan bagian dalam ( anatomi ) nya tentulah berbeda pula untuk setiap organ, misal pada batang susunan xilem nya tentu akan berbeda dengan xilem pada akat, hal ini dapat terjadi karena fungsi xilem di akar sebatas menyalurkan hingga ke batang, sedangkan di batang xilem nya memiliki luas permukaan yang kecil karena air bergerak melawan gravitasi bumi. Berdasarkan pengamatan tadi, dapat diklasifikasikan jaringan pada tumbuhan monokotil dan dikotil 1. Jaringan pengangkut Merupakan jaringan yang berguna untuk transportasi hasil fotosintesis dari daun ke seluruh tumbuhan serta mengangkut air dan garam mineral dari akar ke daun. Jaringan pengangkut terdiri dari : Xylem ( pembuluh kayu ) Bagian-bagan terpenting pada jaringan xylem tumbuhan bunga ialah pembuluh xylem. Yang terdiri atas tabung-tabung berdinding tebal yang secara vertical meluas sampai beberapa meter. Floem ( pembuluh tapis ) Pembuluh angkut yang utama pada floem adalah tabung tapisan, yang terdiri atas sel-sel silindris yang mengarah dari ujung dinding keujung sel-sel tabung lapisan yang dewasa dan berlubang-lubang, sehingga memungkinkan utusan sitoplasma meluas diantara sel-sel berdekatan.

Xylem dan floem bersatu membentuk pembuluh angkut yaitu pembuluh kolateral. Ikatan kolateral adalah ikatan pembuluh yang tersusun dari xylem dan floem yang letaknya bersebelahan di dalam satu jari-jari. Xylem sebelah dalam dan floem sebelah luar. -kolateral terbuka : bila xylem dan floem terdapat kambium. Missal pada batang dikotil. -kolateral tertutup : monokotil. bila xylem dan floem tidak terdapat cambium. Misalnya batang

Gambar 8 Sistem Jaringan Pada Batang dikotil dan monokotil

2. Jaringan Epidermis merupakan kumpulan sel epidermis yang mengalami penebalan dan menjadi jaringan pelindung tumbuhan

3. Korteks Merupakan tempat cadangan makanan dari tumbuhan

4. Endodermis Pembatas antara bagian korteks dengan silinder pusat\

Sedangkan perbedaan antara preparat awetan dengan preparat segar ialah terletak dari warna dimana preparat segar lebih berwarna hijau segar sehingga bentuk dari jaringan kurang terlihat, hal ini terjadi karena klorofilnya yang masih banyak. Pengangkutan air dan garam-garam mineral pada tumbuhan tingkat tinggi, seperti pada tumbuhan biji dilakukan melalui dua mekanisme pertama, air dan mineral diserap dari dalam tanah menuju sel-sel akar. Air dan mineral diserap oleh ujung akar dan rambut-rambut akar (secara osmosis) masuk kedalam tubuh tumbuhan. Osmosis adalah perpindahan zat dari larutan yang berkonsentrasi rendah (kurang pekat) ke larutan yang berkonsentrasi tinggi (lebih pekat) melalui selaput semipermeabel. Selaput semipermeabel adalah selaput pemisah yang hanya dapat dilalui oleh air dan zat tertentu. Tetapi selain secara osmosis, penyerapan air dan mineral dapat dilakukan dengan transport aktif, sistem transport ion dan molekul melalui membran sel dengan menggunakan energy.

Lalu, dari rambut-rambut akar, air dan mineral mengalir dengan arah horizontai melalui epidermis, korteks, dan endodermis sampai ke xilem. Dari xilem, air dan mineral diangkut ke daun melalui pembuluh kayu (xilem) pada batang cabang, dan daun sebagai bahan fotosintesis. Pengangkutan ini disebut pengangkutan vaskuler. Kemudian, air yang masuk ke dalam sel tumbuhan menyebabkan turgor. Turgor adalah keadaan tegang antara dinding sel dengan isi sel setelah menyerap air.

Pengangkutan air dan mineral ini dilakukan secara: 1. Diluar berkas pembuluh disebut pengangkutan ekstravaskuler.

Pengangkutan air dan garam mineral di luar berkas pembuluh pengangkut. Pengangkutan ini berjalan dari sel ke sel dan biasanya dengan arah horizontal. Didalam akar pengangkutan ini melalui: Bulu akar epidermis korteks endodermis xylem. Pengangkutan ekstravaskuler dibedakan menjadi: Transportasi/lintasan apoplas: menyusupnya air tanah secara bebas atau transpor pasif

melalui semua bagian tak hidup dari tumbuhan (dinding sel dan ruang antar sel) Transportasi/lintasan simplas: bergeraknya air dan garam mineral melalui bagian

hidup dari sel tumbuhan (sitoplasma dan vakuola)

2.

Didalam berkas pembuluh disebut pengangkutan vaskuler. Setelah melewati sel-sel akar, air dan garam mineral yang terlarut akan masuk ke

pembuluh kayu (xilem) dan selanjutnya terjadi pengangkutan secara vertical dari akar menuju batang sampai ke daun. Pembuluh kayu disusun oleh beberapa jenis sel, namun bagian yang berperan penting dalam proses pengangkutan air dan garam mineral ini adalah sel-sel trakea. Bagian ujung sel trakea terbuka membentuk pipa kapiler. Struktur jaringan xilem seperti pipa kapiler ini terjadi karena sel-sel penyusun jaringan tersebut mengalami fusi (penggabungan). Air bergerak dari sel trakea satu ke sel trakea yang diatasnya mengikuti prinsip kapilaritas dan kohesi air dalam sel trakea xilem.

Pengangkutan air dengan dua cara ini sebenarnya merupakan satu kesatuan yang berurutan artinya pertama air dari tanah masuk menuju berkas pengangkut melalui organ diluar berkas yaitu berturutan, epidermis korteks endodermis periskel baru xilem. Sedang pengangkutan intravaskuler intinya pengangkutan didalam pembuluh dari akar ke daun. PENGANGKUTAN EKSTRAVASKULER Dalam perjalanan menujju silinder pusat, air akan bergerak secara bebas diantara ruang antar sel. Pengangkutan air dan garam mineral dari dalam tanah diluar berkas pembuluh ini dilakukan melalui dua mekanisme, yaitu apoplas dan simplas. 1. Pengangkutan apoplas

Pengangkutan sepanjang jalur ekstraseluler yang terdiri atas bagian tak hidup dari akar tumbuhan, yaitu dinding sel dan ruang antar sel. Air masuk dengan cara difusi, aliran air secara apoplas tidak dapat terus mencapai xilem karena terhalang oleh lapisan endodermis yang memiliki penebalan dinding antar sel dari suberin dan lignin yang dikenal sebagai pita kaspari. Dengan demikian, pengangkutan air secara apoplaspada bagian korteks dan stele menjadi terpisah.

2.

Pengangkutan simplas

Pada pengangkutan ini, setelah masuk kedalam sel epidermis bulu akar, air dan meniral yang terlarut bergerak dalam sitoplasma dan vakuola, kemudian bergerak dari satu sel ke sel lain melalui plasmodesmata. Sistem pengangkutan ini, menyebabkan air dapat mencapai bagian silinder pusat. Adapun lintasan air pada pengangkutan simplas adalah sel-sel bulu akar

menuju sel-sel korteks, endodermis, periskel, dan xilem. Dari sini air dan garam mineral siap diangkut keatas menuju batang dan daun.

Gambar 10. Pengangkutan air secara Extracelular ( SIMPLAS & APOPLAS )

F. Kesimpulan dan Rekomendasi Kesimpulan Hal yang dapat disimpulkan dari praktikum ini ialah membedakan tumbuhan monokotil dan dikotilnya, dimana pada akar dan batang monokotil dan dikotil memiliki ciri utama yang berbeda dimana tanaman monokotil memiliki tipe pembuluh yang terutup dan pembuluhnya menyebar dan tidak ada kambium, sementar pada tumbuhan dikotil pembuluhnya teratur dan memilik kambium. Perbedaan pengamatan preparat segar dan awetan ialah pigmen klorofilnya dimana preparat segar tentu lebih banyak mengandung protein.

Untuk rekomendasi kedepannya, diharapkan asisten dapat lebih menjelaskan jaringanjaringan pada tumbuhan setelah proses pengamatan agar praktikan lebih mengerti dan paham tentang jaringan pada akar dan batang monokotil dan dikotil ini.

DAFTAR PUSTAKA Adiwaldi.2010.Jaringan Tumbuhan.(online)http:// images.blogadiwaldi.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/SysrYQooCpkAACL KjNE1/Jaringan%20tumbuhan.doc?key=blogadiwaldi:journal:1&nmid=304715238 diunduh pada 30 Maret 2012. Hidayat E.B.1995. Anatomi tumbuhan berbiji. Bandung : ITB Press Prabugomong. 2010. Bahan UTS Biologi Tanaman Untuk Mhs. Agribisnis.(online)http://www.prabugomong.htm diunduh pada 8 Maret 2012 Tjitrosoepomo, Gembong.2007.Morfologi Tumbuhan.Yogyakarta:UGM Press. Wikipedia.2012.Kotiledon.(Online) http://id.wikipedia.org/wiki/Kotiledon diakses pada 20 Maret 2012

Anda mungkin juga menyukai