Anda di halaman 1dari 4

PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini dilakukan uji penentuan kadar trigliserida.

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menyiapkan pasien untuk pemeriksaan trigliserida dalam darah dan juga agar dapat menginterpretasikan hasil laboratorium yang diperoleh. Trigliserida merupakan lipid yang memiliki struktur ester, yang tersusun oleh tiga molekul asam lemak bebas dan satu molekul gliserol. Kadar trigliserida dalam darah diperiksa dari sampel darah pasien. Kadar trigliserida yang tinggi melebihi kadar trigliserida normal mengindikasikan adanya penyakit hipertrigliserida. Kadar trigliserida darah yang berlebihan berpotensi

menyebabkan penyakit kardiovaskuler, seperti aterosklerosis (penumpukan lemak), jantung koroner, dan hipertensi. Prinsip dari pengukuran trigliserida ini adalah trigliserida diukur setelah melalui proses oksidasi dan hidrolisis enzimatik. Indikator kuinonimin dibentuk dari hidrogen peroksida dan 4-aminofenanzon yang berasal dari fenol dan peroksidase. Reaksi yang terjadi adalah enzim lipase akan memperantarai hidrolisis trigliserida menjadi gliserol dan asam-asam lemak. Selanjutnya gliserol ini akan mengalami fosfatasi dengan bantuan enzim gliserol kinase yang akan menghasilkan gliserol-3-fosfat. Kemudian gliserol-3-fosfat akan dioksidasi menghasilkan dihidroksi-aseton-fosfat dan hidrogen peroksida (H2O2). Pada tahap selanjutnya, hidrogen peroksida inilah yang akan bereaksi dengan 4-aminofenazon dan 4-klorofenol dengan bantuan enzim peroksidase membentuk kompleks kuinonimin yang berwarna merah muda yang kemudian dapat diukur secara fotometrik.

Pada praktikum kali ini dibuat larutan sampel yang terdiri dari sampel dan larutan reagen. Selain membuat larutan sampel, diperlukan pula larutan blanko dan standar. Larutan blanko terdiri dari larutan reagen saja sedangkan larutan standar terdiri dari standar dan larutan reagen. Larutan sampel, larutan blanko dan larutan standar masingmasing dimasukkan ke dalam kuvet. Pada pengambilan kuvet, usahakan tidak menyentuh bagian bening akan tetapi

menyentuh bagian yang buram, hal ini dikarenakan pada saat dimasukan kedalam spektrofotometer bagian yang beninglah yang nantinya akan di pancarkan sinar radiasi, sehingga apabila pada bagian yang bening terdapat kontaminasi atau kotor maka akan mengganggu nilai absorbansi yang dihasilkan. Langkah pertama yang dilakukan adalah darah pasien (sampel) diambil, selanjutnya darah tersebut ditampung dalam tabung sentrifugasi dan kemudian disentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 30 menit. Digunakan kecepatan 3000 rpm dengan waktu 30 menit adalah karena merupakan waktu dan kecepatan yang optimum dalam memisahkan antara plasma darah dan serumnya. Ketika dilakukan sentrifugasi, serum dan plasma akan terpisah berdasarkan prinsip berat jenis, di mana plasma yang berwarna merah tua pekat akan berada pada bagian bawah tabung, sedangkan serum yang berwarna merah bening akan berada pada bagian atas tabung. Hal tersebut terjadi karena berat jenis plasma lebih besar dibandingkan berat jenis serum. Setelah serum didapat, diambil sebanyak 10 L dan dimasukkan ke dalam kuvet, lalu ditambahkan reagen sebanyak 1000 L kemudian kuvet digoyangkan

dengan tujuan agar serum dan reagen dapat homogen. Hal ini dilakukan sebanyak 5 kali agar kesalahan relatif yang dihasilkan menjadi lebih kecil sehingga hasil pemeriksaan yang dilakukan mempunyai keakuratan yang lebih tinggi. Larutan blanko dibuat dengan mengambil aquadest dan reagen sebanyak 10 L dan 1000 L. Tujuan dari pembuatan larutan blanko adalah pelarut (aquadest) yang digunakan tidak memililiki daya absorbansi atau tidak mempengaruhi hasil pengukuran, sehingga ketika kita mengukur sampel hanya kadar trigliserida yang ingin kita ukur saja yang dapat terukur. Kemudian dibuat juga larutan standar yang berisi 10 L standar trigliserida 200 mg/dL dan reagen sebanyak 1000 L. Larutan standar ini digunakan sebagi pembanding bagi sampel. Kemudian sampel didiamkan selama 20 menit. Hal ini dimaksudkan agar didapatkan hasil yang optimal dimana reagen dan sampel bereaksi optimal karena reaksi yang terjadi merupakan reaksi enzimatis yang berjalan lambat. Setelah itu dilakukan pengukuran aktivitas serum dengan

spektrofotometer UV-Vis dengan panjang gelombang 546 nm. Pada panjang gelombang inilah diharapkan hasil yang didapat daya absorbansinya optimal. Pada saat menggunakan alat spekrofotometer UV-Vis, kuvet yang akan digunakan harus dicuci bersih agar tidak ada kontaminan. Adanya kontaminan menyebabkan pengukuran tidak tepat sehingga hasil pemeriksaan kadar trigliserida akan salah. Pada pengujian ini memiliki prinsip dengan

menembakkan energi dengan panjang gelombang tertentu pada suatu senyawa. Hal ini membuat elektron dari senyawa tersebut akan tereksitasi ke orbital yang lebih tinggi. Setelah mengalami eksitasi, elektron tersebut akan turun kembali ke ground state (keadaan dasar), sambil melepaskan emisi yang akan terukur oleh detektor. Salah satu yang memegang peranan penting dalam pengujian kali ini adalah adanya gugus kromofor dalam kuinonimin berupa ikatan rangkap terkonjugasi, keton, dan imina. Dari hasil pengukuran didapat bahwa absorbansi standar dan blanko adalah 0,305 dan 0 sedangkan aborbansi sampel adalah 0,284, 0,149, 0,184 ,

0,710 dan 0,062. Terdapat perbedaan hasil dari masing-masing sampel yang dibuat. Perbedaan ini mungkin terjadi karena banyak kemungkinan, salah satunya adalah waktu inkubasi yang lebih lama pada salah satu sampel. Waktu inkubasi yang lebih lama pada salah satu sampel mungkin dapat memperngaruhi kesempurnaan reaksi enzimatik yang terjadi. Kemungkinan lain adalah perbedaan kadar trigliserida atau reagent enzim dan buffer yang digunakan. Pada penggunaan mikropipet, saat memasukkan sampel mungkin saja terjadi penempelan dikasa dan tidak bercampur dengan bahan lain, atau dapat juga masih tersisanya bahan pada tip mikropipet. Dari hasil tersebut, kemudian dilakukan perhitungan terhadap kadar trigliserida, dan didapatkan kadar trigliserida sampel adalah 210,748 atau 2,401

dan juga 181,836

Sehingga dapat disimpulkan bahwa

pasien tidak mengalami hipertrigliseridemia karena kadar trigliserida darahnya tidak melebihi kadar normal.

KESIMPULAN
1.

Konsentrasi trigliserida di dalam sampel didapatkan sebesar 210,748

atau 2,401

atau 181,836

2. Dari hasil lab yang diperoleh dapat diinterpretasikan bahwa pasien tidak mengalami hipertrigliserida karena kadar trigliseridanya normal ( < 250

).