Anda di halaman 1dari 9

TUGAS RESUME MATA KULIAH SOSIOLOGI POLITIK BAB III KOMUNITAS POLITIK Oleh: Muhamad Dadang Nurfalah1 (4115092360)

Manusia merupakan makhluk sosial, sehingga kemanusiaan kita tumbuh karena kita hidup dalam lingkungan manusia-manusia lain atau biasa kita sebut dengan masyarakat yang tentunya berpengaruh sangat besar pada kehidupan dan perilaku kita sebagai individu. Masyarakat memberikan makna, isi, dan arah bagi kehidupan kita. Namun demikian, kita pun dengan berbagai cara mempengaruhi bentuk masyarakat yang kita wariskan pada generasi sesudah kita. Dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa adanya ketergantungan antara manusia, karena semua yang dilakukan manusia itu bersifat sosial dan berkaitan dengan masyarakat. Masyarakat memiliki ciri bahwa mereka ini tinggal dalam wilayah geografis yang sama, saling berhubungan dan berinteraksi, dan memiliki kebudayaan serta terikat pada kelompok yang sama. Jadi, dapat disimpulkan bahwa masyarakat adalah kelompok individu yang saling berinteraksi, yang tinggal di wilayah sama dan memiliki kebudayaan yang sama. Namun demikian, masyarakat ini berbeda pengertian dalam sudut pandang masyarakat manusia yang hidup berbudaya dan masyarakat hewan yang hidup berkelompok. Hal ini dikarenakan masyarakat manusia dalam bertahan hidup tidak mengandalkan pola perilaku naluriah yang tidak dipelajari. Sehingga pengorganisasian dan ciri-ciri setiap masyarakat itu diciptakan oleh manusia dan dipelajari serta dirubah oleh generasi berikutnya. Dengan demikian, perkembangan dalam masyarakat ini akan menentukan perbedaan-perbedaan antar masyarakat. Masalah yang timbul dalam kehidupan manusia terutama dalam kehidupan masyarakat akan mengakibatkan perkembangan kehidupan masyarakat yang berbeda terutama dalam pola perilaku kebudayaan mereka dalam segala bidang. Perbedaan ini akan terlihat pada cara mengorganisasikan kehidupan sosial. Namun demikian, yang menjadi patokan perkembangan masyarakat yang tinggi biasanya adalah tingkat diferensiasi struktural dan spesialisasi fungsional. Hal ini juga tidak dapat terlepas dari konflik yang hadir dalam masyarakat.

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, Fakultas Ilmu Sosial, Jurusan Ilmu Sosial Politik, Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan, 2012.

Konflik yang terjadi dalam masyarakat, pada umumnya berkaitan dengan pembagian hasil atau perolehan kerja bersama. Pembagian atau alokasi dalam masyarakat ini umumnya ada 3 cara yaitu, secara adat, tukar-menukar, dan secara perintah. Cara pembagian yang terakhir ini bermakna secara politik karena pembagian secara perintah dibagikan menurut kemauan atau perintah seseorang yang tentunya melibatkan kekuasaan. Dari cara terakhir ini masyarakat kemudian menciptakan lembaga untuk menangani konflik yang ditimbulkan akibat penjatahan secara politik. Namun demikian, akan timbul suatu pertanyaan bagaimana cara untuk mendapatkan keabsahan atas kekuasaan yang diterapkan dalam proses penjatahan secara politik. Ketika berbicara tentang perkembangan masyarakat itu ditentukan dengan hadirnya masalah, maka ini bisa berimplikasi bahwa semakin banyak individu dalam masyarakat akan semakin banyak dan rumit pula masalah yang hadir dalam kehidupan masyarakat itu. Jadi, perkembangan masyarakat juga bisa ditentukan lewat banyaknya masyarakat. Dari pemaparan di atas, dapatlah disimpulkan bahwa komunitas politik itu muncul dalam masyarakat. Perkembangan manusia tidak akan bisa dihindari. Hal ini tentunya mengakibatkan kelompok manusia yang dulunya berpindah, kemudian bertempat tinggal, sampai pada akhirnya harus melakukan suatu pengorganisasian karena perkembangan manusia itu sendiri. Pengaturan ini dikarenakan perkembangan manusia yang tidak sejalan dengan perkembangan sumber daya yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Oleh karena itu, waktu kejadian ini pertama kali terjadi maka timbul suatu masalah untuk pembagian atau alokasi sumber daya tersebut. Permasalahan yang timbul di atas mengakibatkan masyarakat membentuk dewan peradilan demi menjaga ketertiban. Orang yang menduduki posisi ini merupakan orang pilihan sehingga dalam perkembangannya bisa menciptakan suatu istilah kepala suku yang tentunya sejalan dengan kerangka dasar kehidupan politik dalam masyarakat. Dalam perkembangannya, pemerintahan dari kepala suku ini tidak dapat dihindari akan memerlukan suatu keputusan bersama yang tentunya sangat erat dengan proses politik. Dari penjelasan ini, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa manusia terlebih dahulu mengenal adanya pemerintahan jauh sebelum struktur yang disebut negara. Dari pemaparan pemerintahan di atas, akan timbul suatu pertanyaan tentang dasar bagi negara dalam mengendalikan anggota masyarakat serta mengapa masyarakat harus mematuhi mereka. Sebelum adanya negara, masyarakat mengandalkan aturan

adat/keagamaan(ritual) dalam mengendalikan kehidupan sosial mereka. Sejalan dengan


2

perkembangan manusia dan masyarakat, pengendalian ini kemudian berkembang menjadi pengendalian politik. Semua yang terlibat dalam proses pengendalian politik mengakui adanya kebutuhan untuk mendukung lembaga yang mengatur kehidupan masyarakat. Pengakuan ini bisa saja diakibatkan adanya kesadaran dari manusia bahwa dukungan itu diperlukan demi tercapainya tujuan bersama atau bisa juga karena yang berkuasa ini memiliki daya paksa yang kuat dan ampuh sehingga ketidakpatuhan bisa berarti kehancuran. Dalam masyarakat yang tanpa negara, keabsahan tradisional merupakan kehidupan masyarakat yang didasarkan pada adat yang turun temurun. Pelanggaran akan dianggap mengancam keselamatan seluruh masyarakat. Pemimpin yang ada dalam masyarakat tersebut bisa saja menetapkan pedoman-pedoman baru untuk menyelamatkan kehidupan masyarakat dari tekanan-tekanan yang nantinya pedoman itu bisa menjadi tradisi dalam masyarakat tersebut. Sehingga pemimpin ini bisa menjadi kharismatik dan bisa juga menurunkan kharisma tersebut kepada keturunannya dengan suatu rutinitas kharisma. Dari rutinitas kharisma ini, pemimpin tersebut telah membuat suatu fondasi dari masyarakat tanpa negara ke arah munculnya negara. Sebelum berbicara mengenai transisi dari masyarakat tanpa negara ke arah munculnya negara, manusia telah mengelompokan diri mereka demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Namun, akan timbul suatu permasalahan bagi kelompok yang tidak memiliki peluang untuk memenuhi kebutuhannya tersebut. Hal ini bisa mengakibatkan mereka jatuh kepada serangan kelompok masyarakat yang memiliki surplus ekonomi. Dari penjajahan ini timbul suatu pemikiran baru bagi kelompok yang surplus ekonomi bahwa dibandigkan membunuh kelompok yang dikalahkan lebih menguntungkan mendapatkan upeti dari mereka. Upeti ini dalam perkembangannya kemudian menjadi pajak yang tentunya pajak inilah dasar dari surplus ekonomi yang berarti dasar dari pembentukan negara. Perdebatan para ahli mengenai awal mula terbentuknya negara memang cukup variatif. Namun demikian, para ahli sepakat bahwa negara kota merupakan struktur yang tepat dalam pengertian berawalnya suatu struktur negara. Hal ini dikarenakan dalam suatu negara kota bisa terjadi suatu surplus ekonomi yang mengakibatkan mereka berkuasa dan berpengaruh terhadap daerah sekitar. Negara kota ini menjadi pusat yang memberikan keuntungan bagi masyarakat yang berada dalam pengaruhnya. Pertumbuhan penduduk dalam masyarakat mengakibatkan timbulnya berbagai macam permasalahan. Dalam negara kota ini lahir pula suatu stratifikasi atau pelapisan sebagai akibat dari negara kota. Hal ini dikarenakan pertumbuhan penduduk dan pembagaian sumber daya yang dilakukan mengakibatkan adanya suatu pertumbuhan kemakmuran. Namun
3

demikian, beberapa orang tumbuh menjadi lebih kaya dibandingkan yang lain sehingga timbul suatu ketimpangan dalam kehidupan masyarakat. Sejak saat inilah kelas sosial selalu memainkan peranan penting dalam urusan politik di seluruh dunia. Jadi, negara kota ini telah mengubah masyarakat paguyuban menjadi patembayan. Ketimpangan sosial yang ada dalam masyarakat menjadi permasalahan yang memerosotkan kehidupan masyarakat. Dan dalam perkembangannya masyarakat kelas bawah diyakinkan lewat demokrasi bahwa mereka masih memiliki kekuasaan politik untuk mempengaruhi jalannya pemerintahan. Dengan demokrasi, kelas bawah mau menerima kenyataan ketimpangan sosial meskipun sejarah tidak memungkiri terjadinya pemberontakan terhadap sistem yang mempertahankan ketimpangan sosial itu. Ketimpangan sosial ini mengakibatkan pemberontakan yang tujuannya menginginkan kehidupan mereka kembali seperti awal mula dimana tidak adanya suatu ketimpangan. Dan hal ini ternyata tidak mampu bertahan lama meskipun dengan diciptakannya tatanan demokrasi. Ini dibuktikan lewat sejarah bahwa demokrasi kemudian merosot karena negara kota memikirkan bagaimana caranya melindungi dari serangan musuh hingga akhirnya kemudian melakukan penggabungan. Kekuatan gabungan ini kemudian menciptakan kekaisaran yang tentunya sudah tidak memungkinkan lagi demokrasi karena penggabungan negara kota tersebut telah membuat berkembangnya wilayah yang menyulitkan untuk mengatur kehidupan masyarakat. Dalam perkembangannya, negara kota ini membentuk suatu kekaisaran hingga negara feodal dan akhirnya negara modern. Dalam sosiologi politik, perkembangan ini dipandang sebagai proses diferensiasi kelembagaan yang dimana berkembang dengan cara membentuk struktur-struktur baru untuk memenuhi kebutuhan akan fungsi-fungsi baru. Tingkat diferensiasi struktur dan spesialisasi fungsi merupakan salah satu aturan ukuran perkembangan masyarakat politik. Dari uraian di atas menunjukkan perubahan sistem kekuasaan dari sistem patriarkal ke patrimonial dan kemudian ke sistem feodal. Sistem patriarkal ini merupakan pemerintahan yang dijalankan oleh pemegang kekuasaan tertinggi terutama laki-laki yang paling tua. Pemerintahan ini merupakan sangat sederhana dan belum terlalu rumit karena semua urusan cukup diselenggarakan oleh seorang patriarch, yaitu pemimpin laki-laki tertua. Sistem patriarkal kemudian berkembang dengan melakukan diferensiasi kelembagaan yang menghasilkan staf administrasi yang menangani fungsi dan jabatan baru. Namun demikian, staf administrasi ini masih dalam pengendalian seorang patriarch yang menjadi

pemegang kekuasaan tertinggi. Sistem kekuasaan yang mengenal staf administrasi khusus oleh pemegang kekuasaan tertinggi ini disebut sistem patrimonialisme. Sistem kekuasaan feodal memiliki perbedaan dengan negara patrimonial. Dalam kekuasaan patrimonial, yang paling berperan adalah pejabat-pejabat birokrasi, sedang dalam sistem kekuasaan feodal yang berkuasa adalah para panglima perang yang otonom. Penguasa dalam sistem patrimonial bertanggung jawab atas nasib rakyatnya. Tapi dalam sistem feodal, penguasa hanya memikirkan kesetiaan panglima perang sehingga dalam masyarakat feodal memandang rendah kelugasan dalam sistem administrasi dan urusan-urusan ekonomi sehingga menyebabkan kemerosotan sistem feodal. Namun demikian, kedua sistem ini telah menggunakan staf administrasi sehingga bisa dikatakan telah mencapai tingkat diferensiasi yang lebih tinggi dibanding patriarkal. Dalam perkembangannya, sistem feodal dirombak akibat munculnya raja yang berambisi melakukan sentralisasi kekuasaan. Raja bekerja sama dengan para borjuis yang tentunya memiliki tujuan berbeda. Raja bertujuan memperbesar wilayah keuasaan sedangkan kaum borjuis bertujuan pasar yang bebas dan lebih luas. Keberhasilan raja memperluas wilayah kekuasaan melahirkan permasalahan menjadi rumit karena yang diurus menjadi banyak sehingga membutuhkan struktur baru. Selain itu, pembiayaan juga menjadi meningkat yang tentunya tidak mungkin dari uang saku raja dalam melakukan pembayarannya sehingga dibutuhkan sstruktur baru untuk mengurus pembayarannya. Diferensiasi struktural yang berkembang seperti yang diuraikan di atas mendorong transformasi ke arah munculnya negara modern. Max Weber menguraikan tiga pra kondisi yang memungkinkan pembentukan negara modern seperti berikut ini: 1. Adanya monopoli kekuatan yang diperlukan untuk pengendalian sosial dan penciptaan sistem administrasi yang efektif yang didasarkan pada adanya sistem perpajakan yang terpusat dan permanen. 2. Adanya monopoli tindakan-tindakan hukum dan penggunaan daya paksa secara sah oleh penguasa pusat. 3. Adanya staf administrasi rasional yang diciptakan dan dikendalikan oleh penguasa pusat. Ada tiga dimensi dalam melakukan modernisasi tata cara pengorganisasian kehidupan politik seperti berikut ini: 1. Pembinaan bangsa(nation building) yaitu penciptaan identitas yang sama di kalangan penduduk yang mendukung komunitas politik itu. Prosesnya identik dengan proses
5

penciptaan negara bangsa(nation state) yang mengandung pengertian satu bangsa tinggal dalam satu negara. Kesamaan kebangsaan disini diartikan sama dengan kesamaan ras, dan negara diartikan sebagai organisasi politik berdaulat yang mengatur kelompok manusia yang tinggal dalam satu wilayah geografis tertentu. Dalam negara modern, yang menjadi masalah adalah wilayah mereka itu dihuni oleh berbagai kelompok etnik dan ras, hal ini dikarenakan negara modern merupakan hasil perluasan ke wilayah lain yang dihuni oleh kelompok etnis dan ras yang berbeda. Jadi, bagaimana membuat masyarakat yang berbeda etnis dan ras bersedia mengakui azas satu bangsa satu negara sehingga tercipta negara bangsa menjadi maslah besar yang utama bagi negara modern. 2. Pembinaan negara(state building) merupakan proses pembinaan lembaga-lembaga politik dan pemerintahan dan diferensiasi kelembagaan memberikan peranan penting karena struktur baru diciptakan untuk memenuhi kebutuhan akan fungsi baru. Selain itu terdapat beberapa poin penting dalam pembinaan negara seperti pembinaan proses pemerintahan dan politik, proses pembuatan dan penerapan keputusan pemerintahan, proses menghubungkan pemerintah dan yang diperintah, serta proses lainnya yang bertujuan untuk mempertahankan negara modern tersebut. 3. Pembangunan ekonomi merupakan dimensi dari upaya modernisasi dalam bidang proses produksi. Suatu negara modern harus bisa meningkatkan kemampuan dalam menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat sehingga negara modern bisa diperthankan keberadaannya. Ketiga dimensi di atas sulit dipisahkan karena semuanya saling berkaitan dan mempengaruhi. Namun demikian, Max Weber mengungkapkan ciri-ciri negara modern sebagai berikut: 1. Adanya suatu tertib hukum yang universal dan dikendalikan oleh badan legislative. 2. Adanya suatu birokrasi karier yang menjalankan urusan berdasar prinsip-prinsip legal rasional yang ditetapkan oleh badan legislative. 3. Negara memegang wewenang tertinggi atas individu-individu yang tinggal di dalam batas-batas wilayah teritorialnya. 4. Negara memiliki monopoli atas penggunaan kekerasan secara sah. Semua syarat ini harus dipenuhi agar suatu komunitas politik menjadi negara modern. Diferensiasi kelembagaan memegang peranan penting dalam upaya modernisasi kehidupan kenegaraan yang menghasilkan suatu lembaga yang disebut birokrasi. Peranan

birokrasi begitu penting sehingga dikenal suatu istilah birokratisasi kehidupan pemerintahan dan politik. Max Weber mengemukakan ciri-ciri birokrasi modern sebagai berikut: 1. Semua pegawai pemegang jabatan melalui aturan-aturan formal-legal dengan hubungan atas-bawah yang konsisten dalam struktur hierarki wewenang. 2. Hubungan itu diatur atas dasar hak dan kewajiban yang jelas. 3. Semua itu ditetapkan dengan peraturan tertulis. 4. Hubungan wewenang antara atasan dan bawahan secara sistematik ditertibkan. 5. Pengangkatan dan kenaikan pangkat pegawai diatur dengan perjanjian yang bersifat kontrak. 6. Pegawai diangkat berdasarkan pendidikan dan atau pengalaman teknis yang dimilikinya. 7. Ada skala pembayaran gaji yang tetap dalam bentuk uang. 8. Pegawai tidak boleh mempunyai pamrih atas pekerjaannya dalam arti memilikinya atau meenganggapnya sebagai hak keluarga turun temurun. 9. Perhatian penuh dan utama setiap pegawai adalah pada tanggung jawab administratifnya. Selain itu, Max Weber juga menguraikan tentang kondisi-kondisi penting bagi munculnya birokrasi modern seperti berikut ini: 1. Munculnya ekonomi uang, memungkinkan birokrasi modern berkembang karena pegawai pemerintahan perlu mendapatkan pembayaran atas kerjanya. 2. Berkembangnya suatu staf administrasi yang berpandangan rasional dan bisa diandalkan sebagai tanggapan terhadap meluasnya secara kuantitatif maupun kualitatif tugas-tugas administratifnya. Poin yang kedua ini memungkinkan penguasa untuk melakukan sentralisasi kekuasaan sehingga pengendalian terpusat atas kehidupan politik dan ekonomi memungkinkan untuk dilakukan. Pada saat inilah birokrasi modern berkembang pesat. Karena dalam hal ini negara melibatkan diri dalam berbagai bidang kegiatan masyarakatnya(welfare state). Namun demikian, ada pula perlawanan dari pandangan poin kedua ini. Perlawanan tersebut adalah karena menganggap pemerintah cukup mengurusi masalah pertahanan dan keamanan saja yang tidak usah peduli kegiatan ekonomi dan sosial. 3. Keunggulan administrasi birokratik atas semua bentuk alternative penyelenggaraan urusan pemerintahan resmi. Ini dimaksudkan untuk mengatasi setiap permasalahan yang harus diselesaikan oleh birokrasi yang modern.

Perbandingan mekanisme birokrasi menurut Weber sama saja seperti membandingkan produksi barang memakai mesin dengan produksi tanpa mesin. Dalam hal ini, perkembangan birokrasi dan teknologi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan karena keduanya telah mendorong modernisasi kehidupan kenegaraan. Tindak kekerasan selalu mengiringi penciptaan suatu negara modern. Tindakan ini pasti menimbulkan penentangan baik dari pemimpin politik maupun rakyat. Jadi, proses pembentukan negara-negara pasti mendapatkan tantangan. Keberhasilan atau kegagalan proses pembentukan negara modern ini menjadi tantangan yang menentukan. Hal ini bisa dilihat dari sejauh mana pemimpinnya mampu mengatasi permasalahan yang timbul karena semakin banyak masalah dan tantangan yang timbul ini berhasil diatasi, maka semakin berhasil kepemimpinannya. Permasalahan dan tantangan ini hendaknya jangan disepelekan karena bisa saja menjadi masalah yang fundamental atau bahkan sampai ke tingkat krisis. Krisis yang dihadapi dalam proses pembinaan bangsa dan pembinaan negara ini biasanya bersifat universal. Umumnya krisis terebut diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Krisis identitas, masalah identitas berkaitan dengan bagaimana seseorang melihat dirinya dalam pengertian politik atau identifikasi seseorang terhadap suatu wilayah, bangsa, dan pemerintahan tertentu. Identitas politik pokok sebagian besar warga masyarakat dimanapun lebih diarahkan pada unit politik yang paling kecil. Sikap kedarahan itu sudah ada jauh sebelum mereka mengenal negara bangsa. Oleh karena itu, proses pembinaan bangsa menyangkut memperluas cakrawala identitas politik masyarakat agar identitas nasional harus lebih diutamakan dibandingkan identitas kedaerahan. Permasalahan identitas ini bisa menimbulkan pergolakan politik, pemberontakan bersenjata dan bahkan perpecahan bangsa. 2. Krisis legitimasi, suatu sistem politik dianggap sah apabila warganya memandang penggunaan kekuasaan politik dalam sistem sebagai sesuatu yang benar dan patut. Namun demikian, legitimasi suatu wewenang harus dibedakan dari legalitasnya karena legitimasi adalah suasana pikiran bukan soal legalitas. Oleh karena itu, terdpat legitimasi dari lembaga-lembaga politik atau pemerintahan, legitimasi dari orangorang yang menduduki posisi dalam lembaga-lembaga, dan legitimasi dari kebijaksanaan yang dibuat oleh orang-orang dalam lembaga tersebut. Legitimasi ini akan menjadi masalah bukan ketika kebijaksanaan yang dibuat orang-orang dalam lembaga dianggap tidak sah, melainkan ketika orang-orang yang memimpin lembagalembaga itu dianggap tidak sah. Hal ini akan lebih parah ketika lembaga-lembaga
8

politik dan pemerintahan itu dianggap tidak sah. Oleh karena itu, diferensiasi kelembagaan yang diterima secara sah oleh masyarakat diperlukan supaya setiap permasalahan bisa diselesaikan dan modernisasi politik ini tercapai. 3. Krisis penetrasi, masalah ini berkaitan dengan kemampuan pemerintahan untuk menerapkan kebijaksanaan di dalam wilayah yang menjadi tanggung jawabnya. Menyusupkan pengaruh lewat peraturan ini tidak menjamin semuanya bisa dijalankan. Oleh karena itu, perlu adanya pengendalian dari pemerintah agar penyusupan ini berhasil yang tentunya akan ditentukan lewat kemampuan organisasional untuk memelihara integrasi wilayah, menciptakan jaringan

administrasi, dan sebagainya. 4. Krisis partisipasi, masalah ini berkaitan dengan jumlah masyarakat yang ikut serta dalam kehidupan politik dan ruang lingkup alternatif yang bisa dipertimbangkan oleh warga masyarakat yang tentunya bisa memberikan input politik. Namun demikian, sejarah membuktikan bahwa sekelompok kecil orang cenderung mengendalikan negara-bangsa. Dan dalam perkembangannya, proses modernisasi sosial ekonomi telah meningkatkan kesadaran politik masyarakat atau kelompok lainnya. Oleh

karena itu, diperlukan lembaga perwakilan kepentingan politik untuk mewadahinya agar tidak menimbulkan masalah serius yang berubah menjadi krisis. 5. Krisis distribusi, pemerintah dalam hal ini memanfaatkan lembaga, kebijaksanaan, atau pejabatnya untuk mengalokasikan sesuatu yang bernilai baik bersifat materiil ataupun non materiil kepada individu dan kelompok masyarakat. Tapi, alokasi pendistribusian dalam sesuatu yang bernilai secara materiil lebih mudah dipahami. Tuntutan masyarakat bisa dilihat dalam bentuk menuntut agar pemerintah memproduksi atau membantu diproduksinya barang berharga dalam jumlah banyak agar tersedia bagi mereka, selain itu mereka juga bisa menuntut pola distribusi agar terjadi pemerataan. Tuntutan ini pastinya akan mempengaruhi struktur kekuasaan masyarakat itu. Keberhasilan dan kegagalan dalam distribusi ini akan memberikan efek kepada empat krisis di bidang lainnya.