Anda di halaman 1dari 6

FARDINA RAHMI WARDANI 08161101020

Traumatik Fibroma Hiperplasia fibrous focal merupakan akibat dari trauma yang mendasari dari patogenesis terjadinya tumor jinak di rongga mulut. Gambaran klinis : berwarna pink, mungkin berwarna putih jika iritasi berulang-ulang. Bulat, massa halus, dan berbentuk kubah Memiliki berbagai ukuran dan asimtomatik Biasanya terletak di bibir, komisura, mukosa bukal, dan lidah Jika terletak di gingiva, disebut periperal fibroma.

Traumatik fibroma diobati dengan eksisi sederhana dan menghilangkan faktor iritan.

Inflammatori Fibrous (Denture) Hyperplasia Iritasi dari sayap gigi tiruan yang berlebih dapat mengiritasi jaringan ikat submukosa. Hal ini cenderung terjadi dibawah gigi tiruan ketika terjadi resorpsi tulang alveolar yang diakibatkan beban berlebih dari gigi tiruan. Iritasi yang disebabkan pinggiran gigi tiruan menginduksi massa lunak multinodular di sepanjang vestibula mandibula dan maxilla. Nama lainnya adalah epulis fissuratum Biasanya terletak di vestibula anterior maxilla dan mandibular, namun bisa terletak dimana saja yang terkena tekanan dan iritasi gigi tiruan .

Traumatik Ulcerative Granuloma With Stromal Eosinophilia Traumatik ulcerative granuloma with stromal eosinophilia merupakan ulcerasi granuloma yang sering salah salah dengan karsinoma. Walaupun trauma merupakan suatu etiologi, namun beberapa pasien mengalami episode penyakit dan penyebabnya tidak diketahui. Diameter lesi >1 cm dengan tepi yang indurasi. Dapat terjadi pada semua usia, biasa terjadi pada usia dewasa paruh baya, predileksi penyakit pada wanita. Terjadi pada daerah dorsum lidah dan mukosa bukal.

Pada gambaran mikroskopik terjadi infiltrasi sel-sel radang ke jaringan ikat, lidah, dan meluas ke otot.

Frictional (Traumatic) Keratosis Frictional (Traumatic) Keratosis adalah suatu plak putih yang tidak beraturan dan berjumbai yang diakibatkan dari iritasi mekanik dan akan sembuh bila menghilangkan faktor iritan. Lesi mirip dengan displasia leukoplakia. Oleh karena itum pemeriksaan dan biopsi dibutuhkan untuk melihat adakah perubahan atipikal. Traumatik keratosis tidak pernah transformasi ke arah keganasan. Lokasi lesi dikategorikan menjadi lenia alba dan pipi, bibir, dan menggigit lidah. Sering dihubungkan dengan gigi tiruan yang tidak pas dan kasar. Terapi dengan menghilangkan faktor iritan, dan setelah 2 minggu lesi akan hilang. Biopsi diperlukan apabila tidak terjadi proses penyembuhan dari lesi.

Nicotine Stomatitis Nicotine stomatitis (stomatitis nicotina palati, smokers palate) merupakan nama lain dari lesi putih khusus yang berkembang di palatum durum dan palatum molle pada perokok berat, pipa, dan cerutu. Lesi terbatas hanya pada daerah yang selalu terkonsentrasi terkena asap panas selama pengisapan. Area yang tertutupi gigi tiruan tidak terkena. Sering terjadi pada laki-laki dengan riwayat pengguna rokok cigaret, pipa, dan cerutu jangka panjang. Karena paparan yang terus-menerus (kronik), mukosa palatum menjadi abu-abu atau putih difuse. Terdapat papula dengan pungsi tengah merah dan terdapat inflamasi dan perubahan metaplastik pada saluran kelenjar saliva minor. Terapi : akan hilang apabila kebiasaan merokok tidak dilanjutkan. Tergantung dari keparahan keradangan, durasi dan jumlah selama merokok. Lesi akan sembuh dalam waktu 2 minggu setelah merokok dihentikan. Biopsi diperlukan pada mukosa palatal apabila selama 1 bulan, lesi masih belum sembuh sejak kebiasaan merokok dihentikan.

Miscellaneous Mucosal Ulcers Lesi ulserasi seperti-tumor dengan gambaran mikroskopik terdapat sel Langerhans, yang mungkin terbentuk dari jaringan lunak, sebagian di lidah, gingiva dan di lokasi yang lain. Terdapat riwayat trauma, dan jejas/luka pada otot yang mengakibatkan respon proliferasi dengan eosinophilia jaringan.

Massa ulserasi bisa salah dibedakan denan carcinoma tapi secara tipikal halus. Semua usia bisa terkena. Terapi : sembuh sendiri dalam waktu 3-8 minggu.

Linea Alba Bukalis Linea alba adalah suatu perubahan yang sering terjadi pada mukosa bukal yang berhubungan dengan adanya penekanan, iritasi friksional akibat gesekan, atau trauma pada bagian muka gigi karena kebiasaan menghisap (sucking trauma). Sesuai dengan namanya, perubahan yang terjadi terdiri atas garis putih yang (biasanya) bilateral. Linea alba terletak pada mukosa bukal setinggi dengan bidang oklusi gigi yang di dekatnya. Garis yang terbentuk lebih terlihat jelas pada mukosa bukal yang berbatasan dengan gigi posterior. Tidak ada terapi yang dibutuhkan dan tidak terdapat komplikasi dari kejadian ini.

Morsicatio Buccarum Morsicatio berasal dari bahasa latin yang berarti gigitan. Kebiasaan menggigit-gigit kronis bias mengakibatkan terbentuknya lesi yang paling sering terletak di mukosa bukal dan dapat ditemukan juga pada mukosa labial dan batas lateral lidah. Prevalensi morsicatio buccarum lebih tinggi pada orang-orang yang mengalami stress atau dengan masalah psikologis. Lesi morsicatio buccarum biasanya ditemukan bilateral pada mukosa bukal disertai lesi pada bibir dan lidah, atau bisa juga ditemukan hanya pada bibir atau libal, dah. Lesi yang terbentuk tebal, seperti area parut berwarna putih (tidak rata) yang biasa disertai dengan eritema, erosi, aatau ulserasi fokal traumatik. Mukosa yang mengalami perubahan biasanya terletak di tengah anterior mukosa bukal di sepanjang bidang oklusi. Lesi yang besar bisa terbentuk melebar ke arah atas atau bawah bidang oklusi pada pasien yang memiliki kebiasaan menekan pipi ke arah antara gigi dengan menggunakan jari. Secara klinis, penampilan morsicatio buccarum cukup untuk menegakkan diagnosis, sehingga biopsi jarang dilakukan. Hasil biopsi pada kasus ini menunjukkan hiperkeratosis yang luas serta dapat ditemukan juga sel bervakuola pada lapisan mukosa. Tidak dibutuhkan penatalaksanaan khusus untuk lesi ini, juga tidak terdapat komplikasi dari perubahan mukosa yang terjadi.

Chelitis Eksfoliativa

Kebiasaan menjilat, menggigit, menyedot, dan mencubit bibir dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan terjadinya perubahan yang signifikan pada batas vermillion bibir ataupun pada kulit perioral, sebagian besar dalam bentuk chelitis eksfiloativa. Chelitis eksfoliativa ini banyak ditemukan pada wanita berusia kurang dari 30 tahun. Kasus yang ringan ditunjukkan dengan adanya kekeringan yang kronis, terbentuknya fissure dan scar pada batas vermillon bibir. Jika berkembang, maka vermillon akan tertutup dengan krusta hiperkeratotik yang menebal dan berwarna kuning. Kulit disekeliling lesi akan membentuk daerah seperti lingkaran yang melingkari bagian bibir tersebut. Kasus ini juga dapat ditimbulkan oleh reaksi alergi ataupun sensitivitas terhadap cahaya, meskipun lebih jarang terjadi. Jika keadaan ini diakibatkan oleh adanya infeksi, maka keadaan ini disebut dengan angular chelitis. Pada sebagian besar kasus chelitis eksfoliativa, tidak ditemukan penyebab yang jelas. Biasanya dibutuhkan terapi psikoterapi dan penenang ataupun pencegahan stree untuk mencapai resolusi dari penyakit ini. Pada infeksi candida, lesi ini tidak akan sembuh kecuali jika trauma kronis sudah dihilangkan.

Penyempitan duktus dan kelenjar papilla Biasnya yang menyebabkan adalah trauma kronik (misalnya, karena clasp, restorasi yang salah atau ujung yang tajam dan rusak) sehingga terjadi fibrosis. Fibrosis menyebabkan duktus papilla menjadi sulit dan perlu dilakukan pemeriksaan. Fibrosis dan stenosis duktus disebabkan oleh adanya ulserasi kalkulus atau hasil dari bedah yang inkompeten. Sialograph dapat menunjukkan derajat yang membatasi duktus atau papilla dan dilatasi. Saat penyebab dihilangkan, maka perawatan tergantung dari daerah kerusakan. Papilla mungkin dapat dieksisi dan garis duktus dijahit ke mukosa oral pada sisi lain. Alternatif yang lain, duktus dapat diperluas dengan bougies.

Papillary hiperplasia pada palatum Pertumbuhan berlebihan nodular pada mukosa palatal kadang-kadang terlihat khususnya di bawah gigi palsu pada orang tua yang diantara terkena trauma derajat rendah atau infeksi yang memperburuk proliferasi. Kandidosis kadang superim[ose tapi bukan merupakan penyebab. Hiperplasi papiler ringan juga kadang-kadang terlihat pada nonpemakai gigi tiruan.

Secara histologi, hiperplasia papila palatal menunjukkan nodul yang berdekatan dari jaringan ikat vaskular dengan infiltrasi derajat keradangan kronik yang berbeda-beda dan menutupi epitelium hiperplastik. Tidak ada pembenaran untuk pengupasan hiperplasia papiler palatal. Gigi palsu harus tetap bersih dan tidak dipakai semalaman. Setiap infeksi yang disebabkan candida harus diobati dengan obat antijamur.

Sumber : Cawson, R.A & Odell, E.W. 2002. Cawson Essential of Oral Pathology and Oral Medicine 7th. London:Churchill Livingtone . Greenberg, M., & Glick M. 2003. Burkets Oral Medicine: Dignosis and Treatment 10th. United State:BC Decker. Silverman, Eversole, & Truelove. 2001. Essential of Oral Medicine. London:BC Decker.

http://ginaseptiani.blogspot.com/2011/04/trauma-fisik-dan-kimia-pada-rongga.html