Anda di halaman 1dari 50

DisusunOleh : Suzy A.

S Hardjo PO717139009064

Politeknik Kesehatan Kemenkes Manado Jurusan Farmasi 2011

Ekstaksi kunyit (Curcuma domestica Val.) menggunakan metode Soxhletasi


A. Definisi dan Penjelasan Sokletasi adalah suatu metode / proses pemisahan suatu komponen yang terdapat dalam zat padat dengan cara penyaringan berulang ulang dengan menggunakan pelarut tertentu, sehingga semua komponen yang diinginkan akan terisolasi. Pengambilan suatu senyawa organik dari suatu bahan alam padat disebut ekstraksi. Jika senyawa organik yang terdapat dalam bahan padat tersebut dalam jumlah kecil, maka teknik isolasi yang digunakan tidak dapat secara maserasi, melainkan dengan teknik lain dimana pelarut yang digunakan harus selalu dalam keadaan panas sehingga diharapkan dapat mengisolasi senyawa organik itu lebih efesien. Isolasi semacam itu disebut sokletasi.

Adapun prinsip sokletasi ini adalah

Penyaringan yang berulang ulang sehingga hasil yang didapat sempurna dan pelarut yang digunakan relatif sedikit. Bila penyaringan ini telah selesai, maka pelarutnya diuapkan kembali dan sisanya adalah zat yang tersari. Metode sokletasi menggunakan suatu pelarut yang mudah menguap dan dapat melarutkan senyawa organik yang terdapat pada bahan tersebut, tapi tidak melarutkan zat padat yang tidak diinginkan Metoda sokletasi seakan merupakan penggabungan antara metoda maserasi dan perkolasi. Jika pada metoda pemisahan minyak astiri ( distilasi uap ), tidak dapat digunakan dengan baik karena persentase senyawa yang akan digunakan atau yang

akan diisolasi cukup kecil atau tidak didapatkan pelarut yang diinginkan untuk maserasi ataupun perkolasi ini, maka cara yang terbaik yang didapatkan untuk pemisahan ini adalah sokletasi Sokletasi digunakan pada pelarut organik tertentu. Dengan cara pemanasan, sehingga uap yang timbul setelah dingin secara kontunyu akan membasahi sampel, secara teratur pelarut tersebut dimasukkan kembali kedalam labu dengan membawa senyawa kimia yang akan diisolasi tersebut. Pelarut yang telah membawa senyawa kimia pada labu distilasi yang diuapkan dengan rotary evaporator sehingga pelarut tersebut dapat diangkat lagi bila suatu campuran organik

berbentuk cair atau padat ditemui pada suatu zat padat, maka dapat diekstrak dengan menggunakan pelarut yang diinginkan.

Syarat syarat pelarut yang digunakan dalam proses sokletasi :

1. Pelarut yang mudah menguap Ex : heksan, eter, petroleum eter, metil klorida dan alkohol 2. Titik didih pelarut rendah. 3. Pelarut tidak melarutkan senyawa yang diinginkan. 4. Pelarut terbaik untuk bahan yang akan diekstraksi. 5. Pelarut tersebut akan terpisah dengan cepat setelah pengocokan. 6. Sifat sesuai dengan senyawa yang akan diisolasi, polar atau nonpolar. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan secara berurutan pelarut pelarut organik dengan kepolaran yang semakin menigkat. Dimulai dengan pelarut heksana, eter, petroleum eter, atau kloroform untuk memisahkan senyawa senyawa trepenoid dan lipid lipid, kemudian dilanjutkan dengan alkohol dan etil asetat untuk memisahkan senyawa senyawa yang lebih polar. Walaupun demikian, cara ini seringkali tidak. menghasilkan pemisahan yang sempurna dari senyawa senyawa yang diekstraksi. Cara menghentikan sokletasi adalah dengan menghentikan pemanasan yang sedang berlangsung. Sebagai catatan, sampel yang digunakan dalam sokletasi harus dihindarkan dari sinar matahari langsung. Jika sampai terkena sinar matahari, senyawa

dalam sampel akan berfotosintesis hingga terjadi penguraian atau dekomposisi. Hal ini akan menimbulkan senyawa baru yang disebut senyawa artefak, hingga dikatakan sampel tidak alami lagi. Alat sokletasi tidak boleh lebih rendah dari pipa kapiler, karena ada kemungkinan saluran pipa dasar akan tersumbat. Juga tidak boleh terlalu tinggi dari pipa kapiler karena sampel tidak terendam seluruhnya.

Proses ini digunakan untuk ekstraksilanjutan dari suatu senyawa dari material atau bahan padat dengan pelarut panas. alat yang digunakan adalah labu A,eksaktor dankondensor H. didalam sokletasidigunakan pelarut yang mudah menguap. pelarut itu berganatung pada tingkatannya,polar atau non polat. zat yang polar larut dalampelarut polar dan zat non polar larut dalampelarut nonpolar. bila penyarian telah selesai maka pelarut yang telah di uapkan kembaliu adalah zat yang bersisa. dietil eter merupakan pelarut yang baik untuik hidrokarbondan untuk senyawa yang mengandung oksigen

proses penyarian yang berulang ulang pada proses sokletasi bergantung pada tetesan yang mengalir pada bahan yang di ekstraksi. sampel pelarut yang digunakan bening atau tidak berwarna lagi. umumnya prosedur sokletasi hanya pengulangan,sistematis dan pemisahan dengan menggunakan labu untuk ekstraksi sederhana tetapi lebiuh merupakan metoda yang spesial,dan alat yang digunakan lebih kompolek. oleh karena itu alat soklet cenderung mahal

Dibanding dengan cara terdahulu ( destilasi ), maka metoda sokletasi ini lebih efisien, karena: 1. Pelarut organik dapat menarik senyawa organik dalam bahan alam secara berulang kali. 2. Waktu yang digunakan lebih efisien. 3. Pelarut lebih sedikit dibandingkan dengan metoda maserasi atau perkolasi.

Sokletasi dihentikan apabila : 1. Pelarut yang digunakan tidak berwarna lagi. 2. Sampel yang diletakkan diatas kaca arloji tidak menimbulkan bercak lagi. 3. Hasil sokletasi di uji dengan pelarut tidak mengalami perubahan yang spesifik.

Keunggulan sokletasi : 1. Sampel diekstraksi dengan sempurna karena dilakukan berulang ulang. 2. Jumlah pelarut yang digunakan sedikit. 3. Proses sokletasi berlangsung cepat. 4. Jumlah sampel yang diperlukan sedikit. 5. Pelarut organik dapat mengambil senyawa organik berulang kali.

Kelemahan sokletasi : 1. Tidak baik dipakai untuk mengekstraksi bahan bahan tumbuhan yang mudah rusak atau senyawa senyawa yang tidak tahan panas karena akan terjadi penguraian. 2. Harus dilakukan identifikasi setelah penyarian, dengan menggunakan pereaksi meyer, Na, wagner, dan reagen reagen lainnya. 3. Pelarut yang digunakan mempunyai titik didih rendah, sehingga mudah menguap. Skema kerja 1. Pasang alat soklet 2. Haluskan dan keringkan sampel 3. Bungkus sampel dengan kertas saring ( selongsong ), ikat dengan benang,masukkan ke dalam alat soklet 4. Masukkan pelarut sebanyak 1,5 x volume ekstraktor soklet 5. Lakukan sokletasi sampai pelarut tidak berwarna 6. Keluarkan sampel, panaskan untuk memisahkan pelarut dari senyawa hasil ekstraksi

B.

Sampel

Divisio

: Spermatophyta

Sub-diviso : Angiospermae Kelas Ordo Famili Genus Species : Monocotyledoneae : Zingiberales : Zungiberaceae : Curcuma : Curcuma domestica Val.

Kunir atau kunyit, (Curcuma longa Linn. syn. Curcuma domestica Val.) termasuk salah satu tanaman rempah dan obat asli dari wilayah Asia Tenggara. Tanaman ini kemudian mengalami persebaran ke daerah Indo-Malaysia, Indonesia, Australia bahkan Afrika. Hampir setiap orang Indonesia dan India serta bangsa Asia umumnya pernah mengonsumsi tanaman rempah ini, baik sebagai pelengkap bumbu masakan, jamu atau untuk menjaga kesehatan dan kecantikan.

Kunyit tergolong dalam kelompok jahe-jahean, Zingiberaceae. Kunyit dikenal di berbagai daerah dengan beberapa nama lokal, seperti Turmeric (Inggris), Kurkuma (Belanda), Kunyit (Indonesia dan Malaysia), Kunir (Jawa), Koneng (Sunda), Konyet (Madura). Morfologi Secara Umum : - Berupa terna parenial, tingginya 0,75 m - 1,00 m, tumbuh membentuk rumpun. Batang semu, tegak, silindris, dan berwarna hijau kekuningan - Batang atau rimpang kunyit seperti umbi, terdapat dalam tanah, bercabang banyak, tebal dan berdaging seperti gasing, dan bagian dalamnya berwarna kuning jingga - Akar serabut berwarna coklat muda - Berbau khas aromatik, rasa agak getir (agak pedas, agak pahit)

Helaian Daun (Lamina) : - Daun tunggal tersusun dalam 2 baris - Bentuk daunnya lanset (lanceolatus) - Ujung daunnya lancip berekor (caudatus) - Helaian daun biasanya lebar dengan ibu tulang yang tebal pula - Tulang-tulang cabang sejajar dan rapat antara satu sama lainnya (simetris) serta menyerong ke atas (menyirip) - Berwarna hijau muda mulus

Tangkai Daun (Petiolus) : - Tangkai daun pendek berupa pelepah yang akan membentuk batang semu, tanpa lidah-lidah, dan berambut halus jarang-jarang

Pelepah/Upih Daun (Vagina/Sheath) : - Terdapat lidahlidah pada batas lamina dan sheath - Tipe sheath ada yang terbuka dan ada yang tertutup

Bunga (Flos) : - Bunga majemuk - Perbungaan terminal dan bersisik

Hiasan Bunga :

- Memiliki tenda bunga (bagian kelopak dan mahkota yang tidak dapat dbedakan dengan jelas) - Daun kelopak berbentuk lanset dan berambut - Kelopak bunga berbentuk silindris (tabung), bercangap 3, tipis seperti serabut, dan berwana ungu - Pangkal daun pelindung berwarna putih keunguan

Anatomi simplisia - Kepingan : ringan, rapuh, berbentuk bulat lonjong, dan berwarna kuning jingga, umumnya melengkung, kadangkadang terdapat pada pangkal upih daun dan pangkal akar - Bekas Patahan : agak rata, berdebu, dan berwarna kuning coklat keemasan - Berkas kortex dengan silinder pusat tidak jelas - Rambut Penutup : tidak memiliki serabut, berbentuk kerucut, agak bengkok, dan berdinding tebal - Epidermis : selapis sel pipih berbentuk poligonal dan dinding sel menggabus - Hipodermis : selapis sel terentang tangensial dan dinding sel menggabus - Peridermis : 6 lapis9 lapis sel berbentuk segi panjang dan dinding sel menggabus - Korteks dan Silinder Pusat : sel parenkimatis, terdiri dari selsel besar penuh berisi butir pati - Butir Pati : tunggal, berbentuk lonjong dengan 1 ujung mempunyai tonjolan, lamela dan hillus kurang jelas, berfungsi untuk persediaan makanan - Sel Sekresi : letaknya tersebar, berbentuk lonjong, berisi minyak (damar) - Berkas Pembuluh : sel kolateral, tersebar tidak beraturan pada korteks dan silinder pusat, tersusun melingkar dibawah endodermis, tidak memiliki lignin, dikelilingi sel parenkim menjari, terdiri dari pembuluh tangga dan pembuluh jala - Endodermis : selapis sel terentang tangensial, dinding radial menebal, dan tidak memiliki pati

-Serbuk : berwarna kuning jingga, berupa butiran pati (fragmen pengenal)

Kegunaan Kunyit adalah rempah-rempah yang biasa digunakan dalam masakan di negara-negara Asia. Kunyit sering digunakan sebagai bumbu dalam masakan sejenis gulai, dan juga digunakan untuk memberi warna kuning pada masakan, atau sebagai pengawet.[2] Produk farmasi berbahan baku kunyit, mampu bersaing dengan berbagai obat paten, misalnya untuk peradangan sendi (arthritis- rheumatoid) atau osteo-arthritis berbahan aktif natrium deklofenak, piroksikam, dan fenil butason dengan harga yang relatif mahal atau suplemen makanan (Vitamin-plus) dalam bentuk kapsul. Produk bahan jadi dari ekstrak kunyit berupa suplemen makanan dalam bentuk kapsul (Vitamin-plus) pasar dan industrinya sudah berkembang. Suplemen makanan dibuat dari bahan baku ekstrak kunyit dengan bahan tambahan Vitamin B1, B2, B6, B12, Vitamin E, Lesitin, Amprotab, Mg-stearat, Nepagin dan Kolidon 90.

Sebagai obat Umbi akar yang berumur lebih dari satu tahun dipakai sebagai obat (umbi akar bersifat mendinginkan, membersihkan, memengaruhi bagian perut Khususnya pada lambung , merangsang, melepaskan lebihan gas di usus, menghentikan pendarahan dan mencegah penggumpalan darah) selain dari itu juga digunakan sebagai bahan dalam masakan. Kunyit juga digunakan sebagai obat anti gatal dan anti kejang serta mengurangi pembengkakan selaput lendir

mulut. Kunyit dikonsumsi dalam bentuk perasan yang disebut filtrat, juga diminum sebagai ekstrak atau diguna sebagai salap untuk mengobati bengkak dan terkilir. Kunyit juga berkhasiat untuk menyembuhkan hidung yang tersumbat, caranya dengan membakar kunyit dan menghirupnya.[2] Kunyit bisa dipakai untuk menyembuhkan beberapa hal yang berkaitan dengan penyimpangan pada kerja ginjal, terutama pada bebrapa kasus-kasus yang ditandai dengan bau badan yang tidak sedap dan mata yang tidak tahan terhadap sinar, penggunaan kunyit adalah sangat effektif, yaitu dengan meminum segelas juice kunyit (dibuang ampasnya), selama 2 minggu berturut-turut. Ini juga sangat efektif untuk menyembuhkan flu/demam pada ibu-ibu yang hamil (tidak perlu dilakukan setiap hari; biasanya 1-2 hari sudah bisa sembuh), sehingga terhindar dari penggunaan obat-obatan kimia yang bisa berbahaya terhadap janin yang dikandungnya. Bila dikonsumsi oleh para ibu hamil, dipercaya bayi yang lahir akan bersih dari lemak-lemak yang seringkali menempel/menutupi seluruh badan bayi. Penggunaan kunyit instant, sebaiknya tidak dilakukan untuk pengobatan (khususnya untuk ibu-ibu hamil), karena ada kandungan-kandungan lain yang mungkin bisa berbahaya bagi kandungan. Kandungan utama kunyit adalah kurkumin dan minyak atsiri yang berfungsi untuk pengobatan hepatitis, antioksidan, gangguan pencernaan, anti mikroba, anti kolesterol, anti HIV, anti tumor (menginduksi apostosis), menghambat perkembangan sel tumor payudara, menghambat ploriferasi sel tumor pada usus besar, anti invasi, anti rheumatoid arthritis (rematik).Diabetes melitus, Tifus, Usus buntu, Disentri, Sakit keputihan; Haid tidak lancar, Perut mulas saat haid, Memperlancar ASI; Amandel, Berak lendir, Morbili, Cangkrang (Waterproken). Kunyit mempunyai prospek yang cerah pada sektor industri hilir dalam berbagai bentuk seperti ekstrak, minyak, pati, makanan/minuman, kosmetika, produk farmasi dan IKOT/IOT.

Kandungan kimia Kunyit mengandung senyawa yang berkhasiat obat, yang disebut kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin , desmetoksikumin sebanyak 10% dan bisdesmetoksikurkumin sebanyak 15% dan zat- zat bermanfaat lainnya seperti minyak atsiri yang terdiri dari Keton sesquiterpen, turmeron, tumeon 60%, Zingiberen 25%, felandren , sabinen , borneol dan sineil. Kunyit juga

mengandung Lemak sebanyak 1 -3%, Karbohidrat sebanyak 3%, Protein 30%, Pati 8%, Vitamin C 45-55%, dan garam-garam mineral, yaitu zat besi, fosfor, dan kalsium.

C.

Penyiapan Sampel

Sampel resmi adalh sampel yang diambil dengan cara 1,2,dan 3 di bawah ini ,pengambilan dilakukan oleh atau dibawah pengawasan langsung pejabat atau pemerintah yang berwenang.Sampel simplisia yang diambil dari wadah kemasan orisinil dilakukan sebagai berikut. 1. Simplisia berbentuk serbuk atau potongan yang ukuran panjang,tebal atau lebar kurang dari 1 cm. Sampel diambil dengan alat pengambil sampel yang ditusukkan pada bagian atas dampai bagian bawah wadah,tiap kali dengan 2 tusukkan dari arah yang berhadapan jika jumlah seluruh simplisia kurang dari 100 kag,diambil sampel sebanyak 250 g,jika jumlah sampel kurang dari 100 kg diambil beberapa sampel masing-masing dengan bobot 250 g seluruh sampel dicampur,diratakan dan dibagi 4.Ulangi proses pembagian dan penyisihan sehingga bobot campuran terakhir lebih kurang 250 g dan digunakan untuk pemeriksaan. 2. Panjang atau tebal simplisia lebih dari 1 cm. Jika bobot seluruh simplisia kurang dari 100 kg,dari beberapa wadah atau kemasan diambil simplisia dengan jumlah bobot 500 g.Jika bobot seluruh simplisia lebih dari 100 kg diambil beberapa sampel masing-masing dengan bobot 500 g seluruh sampel dicampur.Lakukan proses pembagian dengan penyisuhan sehingga bobot tercampur terakhir lebih kurang 500 g dan gunakan untuk pemeriksaan. 3. Jumlah wadah atau kemasan yang diambil sebagai sampel ditetapkan sebagai berikut

Jumlah seluruh wadah atau kemasan

Jumlah wadah atau kemasan yang diambil sebagai sampel

1 sampai 10 10 sampai 25 25 sampai 50 50 sampai 75

1 sampai 3 3 sampai 4 4 sampai 6 6 sampai 8

75 sampai 100 Lebih dari 100

8 sampai 10 minimum

Jika jumlah simlisia ada yang kurang dari 10,jumlah sampel resmi yang diambil boleh dikurangi,asal tidak kuramg dari 125 g.

Alasan penggunaan pelarut

Pelarut yang digunakan dalarn ekstraksi ini yaitu etanol 95%. Etanol digunakan sebagai pelarut karena etanol merupakan pelarut yang universal yang dapat menarik hampir sebagian besar senyawa kimia yang terkandung di dalam herba komfrey. Selanjutnya ekstrak cair ini dievaporasi untuk mendapatkan ekstrak yang kental.

Daftar pustaka

http://aliemalfiqry.blogspot.com/2010/05/sochletasi.html (Diakses 10 Oktober 2011) http://aneetha_soeka.student.fkip.uns.ac.id/fun/sokletasi/ (Diakses 10 Oktober 2011) http://www.google.co.id/imgres?q=soklet&hl=id&sa=G&gbv=2&biw=1024&bih=610&tbm=isc h&tbnid=efvX3dtflALgeM:&imgrefurl=http://lansida.blogspot.com/2010/07/ekstraksi-bahanalam.html&docid=KgEHgAeEHRI2FM&w=500&h=532&ei=KzmTTrarNIO4iAfd552qCw&zo om=1 (Diakses 10 Oktober 2011) http://toiusd.multiply.com/journal?page_start=40&show_interstitial=1&u=%2Fjournal (Diakses 10 Oktober 2011) http://teenagers-moslem.blogspot.com/2011/02/ekstraksi-padat-cair.html (Diakses 10 Oktober 2011) http://www.slideshare.net/miemiethatha/laporan-kelompok-edit (Diakses 10 Oktober 2011) http://id.wikipedia.org/wiki/Kunir (Diakses 10 Oktober 2011)

Ekstraksi minyak atsiri daun jeruk purut menggunakan metode destilasi uap

A. Definisi Metode Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan. Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu. Destilasi uap umumnya digunakan untuk memurnikan senyawa organic yang terdestilasi uap (volatile), tidak tercamourkan dengan air, mempunyai tekanan uap yang tinggi pada 100 derajat C dan mengandung pengotor yang tidak atsiri (nonvolatile). Dengan adanya uap air yang masuk, maka tekanan kesetimbangan uapzat kandungan kan diturunkan menjadi sama dengan tekanan bagian didalam suatu system, sehingga produk akan terdestilasi dan terbawa oleh uap air yang mengalir. Destilasi uap juga suatu proses pemindahan massa kesuatu media massa yang bergerak . Uap jenuh akan membasahi permukaan bahan, melunakkan jaringan dan menembus kedalam melalui dinding sel, dan zat aktif akan pindah ke rongga uap air yang aktif dan selanjutnya akan pindah ke rongga uap yang bergerak melalui antar fasa. Proses ini disebut hidrodifusi. Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan.Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu. Metode ini termasuk sebagai unit operasi kimia jenis perpindahan massa.Penerapan proses ini didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada titik didihnya.Model ideal distilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan Hukum Dalton. Metode destilasi digunakan untuk bahan yang mengandung lemak dan komponen mudah menguap. Prinsip kerja dari metode ini adalah penggunaan pelarut yang immicible. Pelarut ini memilki titiok didih sedikit di atas titik didih air, contohnya adalah toluena, xylena, n-amil, alkohol, dan xylol. Air dari bahan yang terlarut dalam larutan immicible dikumpulkan dalam tabung penerima sehingga volumenya diketahui. Tabung yang biasa digunakan adalah tabung Aufhauser atau Bidwell Sterling (Yongki 2008).

Metode destilasi ini memilki keuntungan dan kerugian. Keuntungan dari metode destilasi diantaranya, volume bisa langsung diketahui, kecepatan dehidrasi diketahui, suhu konstan dapat dipertahankan, waktunya cepat, alatnya sederhana, pengaruh RH lingkungan bisa dikurangi, dan lebih teliti dibanding metode oven. Sementara kerugian dari metode ini adalah adanya droplet air pada sisi tabung, pelarut mudah terbakar, pelarutnya mungkin beracun, beberapa komponen alkohol, gliserol mungkin ikut terdestilasi, dan seringkali terjadi kesalahan dalam membaca meniskus(Yongki 2008).

Berikut adalah susunan rangkaian alat ditilasi sederhana: 1. wadah air 2. labu distilasi 3. sambungan 4. termometer 5. kondensor 6. aliran masuk air dingin 7. aliran keluar air dingin 8. labu distilat 9. lubang udara 10. tempat keluarnya distilat

13. penangas 14. air penangas 15. Larutan 16. wadah labu distilat

B. Sampel

Klasifikasi Kingdom: Plantae (Tumbuhan) Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub Kelas: Rosidae Ordo: Sapindales Famili: Rutaceae (suku jeruk-jerukan) Genus: Citrus Spesies: Citrus hystrix Dc

Morfologi Morfologi tanaman jeruk purut hamper sama dengan tamaman jeruk lainnya.Karakteristik daun jeruk purut dapat diamati secara visual dari struktur tanamannya.Pohon rendah atau perdu,namun bila dibiarkan tumbuh alami dapat mencapai ketinggian 12 m.batang yang tua berwarna hijau tua,berbentuk bulat,berwarna hijau tua,polos atau berbintik-bintik.tata letak tajuk tanaman tidak beraturan dan cabang-cabangnya rapat.Dahan dan rantingnya bersudut tajam,berwarna hijau tua,berbintik-bintik dan berduri di ketiak daun.Duru-durinya

pendek,kaku,hitam,dan ujungnya coklat,panjangnya 0,2 cm-1,0 cm. Letak daun jeruk purut terpencar atau silih berganti dan bertangkai agak panjang,serta bersayap lebar.Bentuk daun bulat telur,ujungnya tumpul,berbau sedap,mengkilap dan berwarna hijau ke kuning-kuningan. Tanaman jeruk purut berbunga majemuk,bunganya terletak di ketiak daun atau di ujung tangkai,tajuk bunga berjumlah 4-5 lembar dan benang sari berjumlah 24-30 helai.Buah jeruk purut berbentuk bulat sampai bundar,ukurannya kecil,kulit buah tidak rata,rasanya asam,dan berbau sedap.Jeruk purut cocok sebagai jeruk peras.

Khasiat serta pemanfaatan Jeruk purut pada mulanya lebih banyak dimanfaatkan daunnya dibandingkan dengan buahnya.Selain sebagai bumbu masak,daun jeruk purut dapat disulingkan dan diambil minyak atsirinya.Minyak atsiri daun jeruk purut bermanfaat sebagai bahan baku kosmetik.Sementara buahnya pada umumnya digunakan sebagai bumbu ikan,obat tradisional,dan kulitnya sebagai bahan baku mencuci rambut.Selain itu jeruk purut bermanfaat dalam pengobatan Alternatif Herbal untuk mengobati Influenza, kulit bersisik dan mengelupas,menghilangkan bau badan,dan lain sebagainya.

Kandungan Jeruk purut mengandung unsur-unsur senyawa kimia yang bemanfaat, misalnya: asam sitrat, asam amino (triptofan, lisin), minyak atsiri (sitral, limonen, felandren, lemon kamfer, kadinen, gerani-lasetat, linali-lasetat, aktilaldehid, nonildehid), damar, glikosida, asam sitrun, lemak, kalsium, fosfor, besi, belerang vitamin B1 dan C. Selain itu, jeruk purut juga mengandung senyawa saponin dan flavonoid yaitu hesperidin (hesperetin 7-rutinosida), tangeretin, naringin,

eriocitrin, eriocitrocide. Hesperidin bermanfaat untuk antiinflamasi, antioksidan, dan menghambat sintesis prostaglandin. Hesperidin juga menghambat azoxymethane (AOM) yang menginduksi karsinogenesis pada colon kelinci, dan juga menghambat N-butil-N-(4-hidroksibutil) nitrosamin yang menginduksi karsinogenesis pada kandung kemih tikus (Chang, 2001). Jeruk nipis juga mengandung 7% minyak essensial yang mengandung citral, limonen, fenchon, terpineol, bisabolene, dan terpenoid lainnya. Guo, et al. (2006) telah meneliti bahwa DLimonene dapat menghambat proliferasi dan menginduksi apoptosis pada sel HL-60 dan sel K562. Kandungan Kimia daun mengandung tanin 1,8%, steroid triterpenoid dan minyak asiri 11,5% v/b.Kulit buah mengandung saponin, tanin 1%, steroid triterpenoid dan minyak asiri yang mengandung sitrat 2-2,5% v/b. Karakteristik minyak daunnya terutama didominasi oleh minyak atsiri (-)-(S)-citronelal (80%), sisanya adalah citronelol (10%), nerol dan limonena. Jeruk purut adalah istimewa karena pada jeruk-jeruk lainnya yang mendominasi adalah enantiomernya, (+)-(R)-citronelal (juga dapat ditemukan pada serai). Kulit buahnya memiliki komponen yang serupa dengan kulit buah jeruk nipis, dengan komponen utama adalah limonena dan -pinena.

C. Proses Destilasi

Cara pemurnian dengan destilasi uap : 1. Cairan penyari dimasukkan kedalam bejana melalui corong. 2. Serbuk cengkeh dimasukkan dalam kantong kain dimasukkan kedalam ekstraktor. Pada bejana ini dibagian dalam dimasukkan bejana yang berlubang-lubang dan dibuat dari baja bahan karat. 3. Bejana dipanaskan. Pemanas dapat dilakukan dengan pemanasan api besar langsung pada labu. 4. Keran atas dibuka, dan keran yang lainnya tertutup. 5. Uap cairan akan mengalir melalui pipa, kemudian diembunkan oleh pendingin. Cairan akan mengalir ke ekstraktor dan akam merendam cengkeh tersebut. 6. Setelah cairan itu setinggi gelas penduga, keran (bawah) dibuka, sehingga hasil penyarian mengalir kebejana. Bila hasil penyarian telah mengalir, semua keran ditutup kembali. 7. Cairan cengkeh akan menguap sedangkan zat aktifnya tertinggal dalam bejana.

8. Pekerjaan ini diulang sampai cengkeh tersari dengan sempurna Penyiapan sampel Penyulingan atau destilasi uap dilakukan dengan cara menimbang daun jeruk purut sesuai dengan kapasitas tangki penyulingan, kemudian dirajang (dipotong kecilkecil). Proses penyulingan dilakukan selama 6 jam. Minyak asiri yang diperoleh dipisahkan dari air dengan menggunakan labu pemisah minyak. destilasi air menggunakan alat yang sama dengan destilasi uap, hanya rajangan daun jeruk purut langsung dicampur dengan air dan dididihkan. Dalam destilasi uap, rajangan daun dipisahkan dari air mendidih oleh suatu kawat kasa, hingga hanya terkena uapnya. Proses penyulingan dan pemisahan minyak atsirinya juga sama.

Pelarut yang digunakan Pada metode ini digunakan pelarut seperti heksan atau karbon dioksida superkritis untuk mengekstraksi minyak atsiri. Ekstrak yang diperoleh dari pelarut heksan atau pelarut hidrofobik lainnya dinamakanconcretes, yang mengandung campuran minyak atsiri, lilin (wax), resin, dan senyawa larut minyak lainnya dari tanaman. Pelarut lain, yakni etil alkohol, digunakan untuk memisahkan komponen minyak atsiri dariconcretes. Alkohol dihilangkan melalui proses destilasi tahap kedua, meninggalkan komponen minyak atsiri yang dinamakan absolute. Pelarut karbon dioksida superkritis digunakan sebagai pelarut pada proses ekstraksi cairan superkritis, dimana karbon dioksida superkritis akan mengekstraksi baik lilin (wax) dan juga minyak atsiri pada concrete. Lilin akan dipisahkan dari minyak atsiri dengan cara menurunkan termperatur ekstraksi, kemudian setelah ekstraksi selesai, tekanan diturunkan sehingga karbon dioksida berubah menjadi gas.

Daftar Pustaka http://aditzanime.blogspot.com/2010/06/destilasi-uap.html (Diakses Oktober 2011) http://iiasukses.blogspot.com/2010/11/destilasi-uap.html (Diakses Oktober 2011) http://www.apoteker.info/Topik%20Khusus/minyak_atsiri.htm (Diakses Oktober 2011) http://moegystar.blogspot.com/2009/04/menyuling-dan-menepungkan-minyak-atsiri.html (Diakses Oktober 2011) http://minyakatsiriindonesia.wordpress.com/minyak-jeruk/artikel/ (Diakses Oktober 2011) http://id.wikipedia.org/wiki/Distilasi (Diakses Oktober 2011) http://yongkikastanyaluthana.wordpress.com (Diakses Oktober 2011) http://makara393.blogspot.com/2010/01/metode-destilasi.html#ixzz1achitFIc (Diakses Oktober 2011) http://id.wikipedia.org/wiki/Jeruk_purut (Diakses Oktober 2011) http://ozyblog5173.blogspot.com/2010/11/buah-jeruk-kaya-vitamin-dan-manfaat.html (Diakses Oktober 2011)

Pembuatan Infus daun Sirih (Piper betle L.)


A. Penjelasan Metode

Infusa (awas, INFUSA tidak sama dengan INFUS yang di RS),nama aslinya adalah INFUSUM (bahasa Latin) : adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi bahan nabati dengan pelarut air pada suhu 90 C selama 15 menit (Farmakope Indonesia, 1995). Di dunia Farmasi, apa yang disebut bahan nabati lebih popular dengan istilah Simplisia nabati.Selama ini dikenal ada beberapa cara untuk mengekstraksi zat aktif dari suatu tanaman ataupun hewan menggunakan pelarut yang cocok. Pelarut-pelarut tersebut ada yang bersifat bisa campur air (contohnya air sendiri, disebut pelarut polar) ada juga pelarut yang tidak mau campur air (contohnya aseton, etil asetat, disebut pelarut non polar). Untuk melakukan proses infusa, maka kita harus mempersiapkan 1 unit panci yang terdiri dari 2 buah panciyang saling bisa ditumpuk. Bagi para pengobat tradisional mungkin sudah mengenal jenis panci yang demikianini, namanya panci-tim (lihat gambar).

Panci yang di atas digunakan untuk menaruh bahan yang akan di ekstraksi (tentu bersama pelarutnya, yaitu air,masing-masing dengan takaran tertentu), sementara panci sebelah bawah diisi air, maksudnya digunakan sebagai pemanas panci atas, sehingga panas yang diterima panci atas tidak langsung berhubungan dengan api. Teorinya, ketika panci bawah airnya mendidih (pada suhu 100o C), maka panas yang diterima oleh panci atas hanya bersuhu sekitar 90o C saja. Kondisi demikian ini diperlukan agar zat aktif dalam bahan tidak rusak oleh pemanasan berlebihan. (biasanya zat aktif akan rusak bila dipanaskan sampai 100o C atau lebih).Dalam bahasa farmasi, sistem pemanas demikian ini disebut :

- Penangas air (Indonesia) - Water bad (Belanda) - Water bath (Inggris)

B. Sampel

Sirih Klasifikasi Kingdom: Plantae (Tumbuhan) Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub Kelas: Magnoliidae Ordo: Piperales Famili: Piperaceae (suku sirih-sirihan) Genus: Piper Spesies: Piper betle L.

Sirih merupakan tanaman asli Indonesia yang tumbuh merambat atau bersandar pada batang pohon lain. Sebagai budaya daun dan buahnya biasa dimakan dengan cara mengunyah bersama gambir, pinang dan kapur. Namun mengunyah sirih telah dikaitkan dengan penyakit kanker mulut dan pembentukan squamous cell carcinoma yang bersifat malignan.

Sirih digunakan sebagai tanaman obat (fitofarmaka); sangat berperan dalam kehidupan dan berbagai upacara adat rumpun Melayu.

Ciri Morfologi Tanaman merambat ini bisa mencapai tinggi 15 m. Batang sirih berwarna coklat kehijauan,berbentuk bulat, beruas dan merupakan tempat keluarnya akar. Daunnya yang tunggal berbentuk jantung, berujung runcing, tumbuh berselang-seling, bertangkai, dan mengeluarkan bau yang sedap bila diremas. Panjangnya sekitar 5 - 8 cm dan lebar 2 - 5 cm. Bunganya majemuk berbentuk bulir dan terdapat daun pelindung 1 mm berbentuk bulat panjang. Pada bulir jantan panjangnya sekitar 1,5 - 3 cm dan terdapat dua benang sari yang pendek sedang pada bulir betina panjangnya sekitar 1,5 - 6 cm dimana terdapat kepala putik tiga sampai lima buah berwarna putih dan hijau kekuningan. Buahnya buah buni berbentuk bulat berwarna hijau keabu-abuan. Akarnya tunggang, bulat dan berwarna coklat kekuningan. Kandungan Kimia Sirih sangat kaya dengan kandungan zat berkhasiat. Di antaranya, minyak atsiri, hidroksikavicol, kavicol, kavibetol, allylpyrokatekol, cyneole, caryophyllene, cadinene, estragol, terpennena, seskuiterpena, fenil propana, tanin, diastase, gula, dan pati.

Khasiat dan Pemanfaatan

Minyak atsiri dari daun sirih mengandung minyak terbang (betIephenol), seskuiterpen, pati, diatase, gula dan zat samak dan kavikol yang memiliki daya mematikan kuman, antioksidasi dan fungisida, anti jamur. Sirih berkhasiat menghilangkan bau badan yang ditimbulkan bakteri dan cendawan. Daun sirih juga bersifat menahan perdarahan, menyembuhkan luka pada kulit, dan gangguan saluran pencernaan. Selain itu juga bersifat mengerutkan, mengeluarkan dahak, meluruhkan ludah, hemostatik, dan menghentikan perdarahan. Biasanya untuk obat hidung berdarah, dipakai 2 lembar daun segar Piper betle, dicuci, digulung kemudian dimasukkan ke dalam lubang hidung. Selain itu, kandungan bahan aktif fenol dan kavikol daun sirih hutan juga dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan hama penghisap.Digunakan

untuk obat bisul,hidung berdarah, radang selaput lendir mata, untuk obat bisul,hidung berdarah, radang selaput lendir mata, trachoma,mulut berbau,keputihan, gigi goyah,gusi bengkak, radang tenggorokan, encok,jantung berdebar-debar,kepala pusing, terlalu banyak keluar air susu,batuk kering,demam nifas, sariawan.(Ir.Arif Aliadi et.al ,1996 )

C. Proses Pengerjaan Pembuatan. Campur simplisia dengan derajat halus yang cocok dalam panci dengan air sambil sekali-sekali diaduk. Serkai selagi panas melalui kain flannel, tambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume infuse yang dikehendaki Kecuali dinyataka lain, dan kecuali untuk simplisia yang tertera dibawah, infuse yang mengandung bukan bahan khasiat keras, dibuat dengan menggunakan 10% simplisia. Untuk penggunaan infuse berikut, digunakan sejumlah yang tertera. Kulit kina 6 bagian Daun digitalis 0,5 bagian Akar Ipeka 0,5 bagian Daun Kumis kucing 0,5 bagian Sekale Kornutum 3 bagian Daun Sena 4 bagian Temulawak 4 bagian Derajat halus simplisia yang digunakan untuk infuse harus mempunyai derajat halus sebagai berikut; ( Anonim, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III hal 12) Serbuk (5/8) : Akarmanis, Daun Kumiskucing, Daun Sirih, Daun Sena Serbuk(5/10) : Dringo, kelembak Serbuk (10/22) : Laos, Akar Valerian, Temulawak, Jahe Serbuk (22/60) : Kulit Kina, Akar Ipeka, Sekale Kornutum Serbuk (85/120) : Daun Digitalis Derajat halus perlu diketahui untuk menentukan simplisia tersebut dipotong-potong dengan ukuran sesuai derajat halusnya (.mm) selain itu dapat juga untuk menentukan alat penyaringnya, dengan kain flannel atau kapas Banyaknya air yang dibutuhkan 1. Untuk simplisia segar : sejumlah infuse yang dibuat 2. Untuk simplisia kering : sejumlah infuse yang dibuat + ( 1 x berat simplisia) 3. Untuk simplisia kering ; sejumlah infuse yang dibuat + ( 2 x berat simplisia)

Prosedur pembuatan infusa dalam garis besarnya adalah sebagai berikut: Simplisia yang berupa tanaman dengan derajat halus tertentu ditimbang (misalnya 10 g),kemudian dimasukkan ke dalam panci atas diberi air secukupnya. Maksud dari secukupnya adalah diperhitungkan terhadap kadar ekstrak yang hendak kita inginkan, jadi misalnya kita ingin membuat ekstrak berkadar zat aktif 10%, maka serbuk tanaman yang dibutuhkan adalah 10 g bersama air 100 g (100 cc), sementara kalo kita menggunakan air sebanyak 200 cc dan serbuknya tetap 10 g, maka kadar ekstrak yang akan kita peroleh menjadi 5% saja. Begitu seterusnya. Setelah panci atas siap untuk diproses, maka masukkan panci beserta isinya segera ke dalam panic bawah yang telah berisi air. Setelah itu panci bawah dipanaskan di atas api langsung dan dibiarkan sampai mendidih (artinya suhu mencapai 100o C). Diharapkan maka suhu air di panci atas akan mencapai 90o C. Pemanasan dilakukan selama 15 menit terhitung mulai air di panci bawah mendidih (suhu panci atas mencapai 90C), sambil sekali-sekali diaduk. Waktu 15 menit itu adalah aturan umum yang diberikan oleh buku-buku farmasi resmi seperti Farmakope. Setelah cukup 15 menit, maka panci atas diturunkan dan disaring selagi masih panas melalui kain flanel, Apabila ternyata volume akhir yang didapat kurang dari 100 cc (air semula 100 cc) maka perlu ditambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume infusa yang dikehendaki yaitu 100 cc. Cara menambahkan air itu harus menurut aturan kuantitatif, yaitu hasil saringan tadi dipindah ke gelas ukur, kemudian kekurangan air yang diperlukan, ditambahkan sampai volume akhir mencapai batas skala 100 cc (jadi tidak boleh mengukur air sesuai dengan kurangnya air, namun yang diukur adalah bagian air yang akan ditambahi).

Daftar Pustaka
http://praktikumresepbuwarni.blogspot.com/2009/10/infusa.html (Diakses oktober 2011) http://id.wikipedia.org/wiki/Sirih (Diakses oktober 2011) http://rizki8473.multiply.com/journal/item/14?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem (Diakses oktober 2011) http://www.plantamor.com/index.php?plant=1006 (Diakses oktober 2011) http://indonesiaindonesia.com/f/6147-daun-sirih-memiliki-khasiat-serba-guna/ (Diakses oktober 2011)

Ekstraksi Kulit Jeruk manis (Citrus sinensis (L.) ) menggunakan metode Dekokta

A. Penjelasan Metode Dekokta istilah aslinya adalah dekoktum (bahasa Latin) : adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi bahan nabati dengan pelarut air (pelarut berair/polar) pada suhu 90 C selama 30 menit, terhitung setelah panci bagian bawah mulai mendidih (Farmakope Indonesia, 1995). Apa yang disebut bahan nabati dalam dunia farmasi lebih popular dengan istilah simplisia nabati. Cara kerjanya persis sama dengan metode infusa, bedanya infusa butuh waktu 15 menit pemanasan, sementara dekokta 30 menit.Selama ini dikenal ada beberapa cara untuk mengekstraksi zat aktif dari suatu tanaman ataupun hewan menggunakan pelarut yang cocok. Pelarut-pelarut tersebut ada yang bersifat bisa campur air (contohnya air sendiri, disebut pelarut polar) ada juga pelarut yang tidak mau campur air (contohnya aseton, etil asetat, disebut pelarut non polar). Metode INFUSA dan DEKOKTA keduanya sama-sama menggunakan pelarut air atau pelarut bisa campur air atau pelarut polar. Mengapa dekokta dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk pemanasannya. Hal ini terutama berkaitan dengan bahan-bahan simplisia yang umumnya berupa bahan keras, seperti misalnya kulit kayu (korteks), kayu (lignum), akar (radiks), batang, kulit buah (perikarpium), biji (semen). Untuk melakukan proses infusa dan dekokta, maka kita harus mempersiapkan 1 unit panci yang terdiri dari 2 buah panci yang saling bisa ditumpuk. Bagi para praktisi pengobat tradisional mungkin sudah mengenal jenis panci yang demikian ini, namanya panci-tim (lihat gambar).

Panci yang di atas digunakan untuk menaruh bahan yang akan di ekstraksi (tentu bersama pelarutnya, yaitu air, masing-masing dengan takaran tertentu), sementara panci sebelah bawah diisi air,maksudnya digunakan sebagai pemanas panci atas, sehingga panas yang diterima panci atas tidak langsung berhubungan dengan api.Teorinya, ketika panci bawah airnya mendidih (pada suhu 100o C), maka panas yang diterima oleh panci atas suhunya hanya mencapai sekitar 90o C saja. Kondisi demikian ini diperlukan agar zat aktif dalam bahan tidak rusak oleh pemanasan berlebihan. (biasanya zat aktif akan rusak bila dipanaskan sampai 100o C atau lebih). Dalam bahasa farmasi, sistem pemanas demikian ini disebut : Penangas air (Indonesia) Water bad (Belanda) Water bath (Inggris) Kelemahan dari kedua metode ini (Infusa & Dekokta) 1. Karena menggunakan pelarut air, 2. maka bisa dipastikan ekstrak yang terjadi tidak awet (mudah ditumbuhi jamur), 3. Tidak bisa disimpan lama. 4. Kadang-kadang pada simplisia tertentu akan menghasilkan ekstrak yang berlendir, sehingga sulit dilakukan penyaringan

B. Penjelasan Sampel

Kedudulan tanaman jeruk manis dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan di klasifikasikan sebagai berikut Jeruk Manis Citrus sinensis (L.) Osbeck Sinonim Citrus aurantium Risso Citrus aurantium L.

Jeruk Manis

Klasifikasi Kingdom: Plantae (Tumbuhan) Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub Kelas: Rosidae Ordo: Sapindales Famili: Rutaceae (suku jeruk-jerukan) Genus: Citrus Spesies: Citrus sinensis (L.) Osbeck

Morfologi Jeruk manis dikelompokkan Citrus aurantiun,yang dicirikan dengan tangkai daun yang mempunyai sayap dan bunganya berwarna putih.Morfologi tanaman jeruk manis mempunyai batang yang dapat mencapai ketinggian 6 m,bercabang banyak,bertajuk daun bundar,umumnya berbuah satu kali dalam satu tahun.daunnya bentuk bulat telur sampai elips

panjang,bertangkai,tangkai daunnya bersayap dan berbau sedap. Bunga jeruk manis berukuran agak besar yang mempunyai kelopak bunga berbentuk cawan,tangkai bunganya berwarna putih atau kuning dengan daun bunga sebanyak 5 helai.Bunga yang masih kuncup berwarna putih atau putih ke kuning-kuningan,dan mempunyai 20-30 benang sari. Buah jeruk manis berbentuk bulat,berukuran agak besar.bertangkai kuat,kulit buah berwana hijau sampai kuning dan mengkilat.Kulit buah sulit dikelupas sehingga untuk mengkonsumsinya perlu dibelah lalu kemudian diperas.

Kandungan Kimia Di dalam 100 g jeruk manis mengandung energi 51 kkal, protein 0,9 g, lemak 0.2 g, karbohidrat 11.4 g, kalsium 33 mg, fosfor 23 mg, besi 0.4 mg, retinol 57 mcg dan asam askorbat 49 mg. Jejruk juga kaya akan serat yang dapat memperlancar proses pencernaan. Semua jenis jeruk ini me-miliki satu hal yang sama: mengandung Vitamin C dosis tinggi khususnya jeruk manis dan jeruk keprok. Jeruk juga mengandung vitamin B dengan porsi yang menyehatkan juga kalsium potassium. Potasium .

Manfaat dan Penggunaan Semua jenis jeruk ini me-miliki satu hal yang sama: mengandung Vitamin C dosis tinggi -khususnya jeruk manis dan jeruk keprok. Inilah salah satu alasan ilmu kedokteran mempertimbangkannya sebagai media sempurna untuk mencegah rasa dingin di musim dingin. Diyakini, dengan mengonsumsi buah jeruk, akan mem-punyai pengalaman tidak terlalu menderita rasa kedinginan Tetapi vitamin C bukan satu-satunya nutrisi yang ber-harga di dalam buah jeruk. Jeruk juga mengandung vitamin B dengan porsi yang menyehatkan (penting untuk pembentukan darah dan metabolisme) juga kalsium potassium. Potasium menurun-kan gula darah dan meningkatkan pertumbuhan sel, kalsium menjamin tulang dan gigi menjadi kuat.

Kandungan asam askorbat dalam buah-bahan mendorong penyerapan kalsium. Disamping meredakan rasa lapar dengan lebih rendah kalori dan lemak, buahbuahan juga meningkatkan pencernaan menjadi lebih baik. Sayangnya, ilmu pengetahuan modern telah menambahkan zat-zat negatif kedalam buah-buahan, terutama bahan pengawet untuk menjamin buah berada pada kondisi terbaik saat masuk pasar. Yang paling buruk dari zat-zat ini adalah thiabendazole (E233), yang digunakan untuk mencegah rusaknya bentuk buah. Rekomendasi yang diberikan oleh praktisi medis adalah menghindari dicernanya residu (zat sisa buangan) pada kulit buah, dan mencuci semua bagian buah secara baik dengan air hangat dan memegang buah dengan menggunakan serbet yang bersih sebelum mengupas atau memerasnya menjadi jus. Tentu saja masih ada sisa yang ikut termakan juga, namun demikian telah berkurang kadarnya. Buah tanpa zat pengawet lebih mahal dan nampaknya lebih cepat rusak/busuk, tetapi orang dapat memanfaatkan kulit tanpa khawatir (seperti menjadikan selai, atau manisan, atau menambah penyedap dalam minuman musim panas atau saus dan pudding).

C. Prosedur pembuatan dan penyiapan sampel Prosedur pembuatan dan penyiapan sampel dekokta dalam garis besarny adalah sebagai berikut: Simplisia yang berupa tanaman atau bagian tanaman dengan derajat halus tertentu ditimbang (misalnya 10 g), kemudian dimasukkan ke dalam panci atas diberi air secukupnya. Maksud dari secukupnya disini diperhitungkan terhadap kadar ekstrak yang hendak kita inginkan, jadi misalnya kita ingin membuat ekstrak berkadar zat aktif 10%, maka serbuk tanaman yang dibutuhkan adalah 10 g ditambah air 100 g (100 cc), sementara kalo kita menggunakan air sebanyak 200 cc dan serbuknya tetap 10 g, maka kadar ekstrak yang akan kita peroleh menjadi 5% saja. Begitu seterusnya. Setelah panci atas siap untuk diproses, maka masukkan panci beserta isinya segera ke dalam panci bawah yang telah berisi air. Setelah itu panci bawah dipanaskan di atas api langsung dan dibiarkan sampai mendidih (artinya suhu mencapai 100o C). Diharapkan maka suhu air di panci atas akan mencapai 90o C. Pemanasan dilakukan selama 30 menit terhitung mulai air di panci bawah mendidih (suhu panci atas mencapai 90C), sambil sekali-sekali diaduk.

Waktu 30 menit itu adalah aturan umum yang diberikan oleh buku-buku farmasi resmi seperti Farmakope. Setelah cukup 30 menit, maka panci atas diturunkan dan disaring selagi masih panas melalui kain flannel. Apabila volume akhir yang didapat ternyata kurang dari 100 cc (air semula 100 cc) maka perlu ditambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume infusa yang dikehendaki yaitu 100 cc. Cara menambahkan air itu harus menurut aturan kuantitatif, yaitu hasil saringan tadi dipindah ke gelas ukur, kemudian kekurangan air yang diperlukan, ditambahkan sampai volume akhir mencapai batas skala 100 cc (jadi tidak boleh menambah air sesuai dengan kurangnya air,namun yang diukur adalah kekurangan air yang akan ditambahi).

DAFTAR PUSTAKA
http://tandclub.blogspot.com/2008/11/manfaat-jeruk-manis.html (Diakses oktober 2011) http://jelitaayuku.blogspot.com/2011/01/metode-ekstraksi.html (Diakses oktober 2011) http://www.plantamor.com/index.php?plant=350 (Diakses oktober 2011)

ANALISA KROMATOGRAFI

Kromatografi adalah teknik untuk memisahkan campuran menjadi komponennya dengan bantuan perbedaan sifat fisik masing-masing komponen. Alat yang digunakan terdiri atas kolom yang di dalamnya diisikan fasa stasioner (padatan atau cairan). Campuran ditambahkan ke kolom dari ujung satu dan campuran akan bergerak dengan bantuan pengemban yang cocok (fasa mobil). Pemisahan dicapai oleh perbedaan laju turun masing-masing komponen dalam kolom, yang ditentukan oleh kekuatan adsorpsi atau koefisien partisi antara fasa mobil dan fasa diam (stationer). Sekarang ini, kromatografi sangat diperlukan dalam kefarmasian dalam memisahkan suatu campuran senyawa. Dalam kromatografi, koponen-komponen terdistribusi dala dua fase.Salah satu fase adalah fase diam.Transfer massa antara fase bergerak dan fase diam terjadi bila molekul-molekul campuran serap pada permukaan partikel-partikel atau terserap di dalam pori-pori partikel atau terbagi kedalam sejumlah cairan yang terikat pada permukaan atau didalam pori.Kromatografi dibagi menjadi beberapa macam, dalam makalah ini akan dijelaskan beberapa keterangan tentang beberapa macam kroatografi, antara lain HPLC ( High Performance Liquid Chromatography), GC (Gas Chromatography) dan Elektroforesis.

Setelah komponen terelusi dari kolom, komponen tersebut dapat dianalisa dengan menggunakan detektor atau dapat dikumpulkan untuk analisa lebih lanjut.[2] Beberapa alat-alat analitik dapat digabungkan dengan metode pemisahan untuk analisis secara on-line (on-line analysis) seperti: penggabungan kromatografi gas (gas chromatography) dan kromatografi cair (liquid chromatography) dengan mass spectrometry (GC-MS dan LC-MS), Fourier-transform infrared spectroscopy (GC-FTIR), dan diode-array UV-VIS (HPLC-UV-VIS). Komponen utama kromatografi adalah fasa stationer dan fasa mobil dan kromatografi dibagi menjadi beberapa jenis bergantung pada jenis fasa mobil dan mekanisme pemisahannya, seperti ditunjukkan di Tabel 12.1

Tabel 12.1 Klasifikasi kromatografi Kriteria Fasa mobil Mekanisme Nama Kromatografi cair, kromatografi gas.Kromatografi adsorpsi, kromatografi partisi Kromatografi pertukaran ion kromatografi gel

Fasa stationer Kromatografi kolom, kromatografi lapis tipis,kromatografi kertas Kalibrasi Oleh karena itu kalibrasi dapat dicapai dengan menjalankan satu rangkaian standar yang diketahui konsentrasinya dan membandingkan respon area yang dihasilkan antara standar dan sampel. Sejumlah metode lainnya digunakan oleh para peneliti dalam menghitung kuantitas komponen dalam sampel.

Normalisasi Internal Area dari setiiap puncak sesuai dengan komponen spesifik dalam sampel telah terbentuk kemudian ditambahkan untuk memberi suatu total area yang ditetapkan pada 100%. Masingmasing area komponen kemudian dinyatakan sebagai persen dari nilai ini.

Akan tetapi senyawa-senyawa yang berbeda akan memberikan respon berbeda terehadap detektor, oleh karena itu perlu ditentukan faktor koreksi. Karena detektor yang berbeda akan beroperasi pada prinsip yang berbeda maka perlu dihitung faktor yang berbeda untuk tiap detektor yang berbeda.

Faktor dapat ditentukan berdasarkan berat atau molar.Beberapa contoh kromatografi yang sering digunakan di laboratorium diberikan di bawah ini.

a. Kromatografi partisi Prinsip kromatografi partisi dapat dijelaskan dengan hukum partisi yang dapat diterapkan pada sistem multikomponen yang dibahas di bagian sebelumnya. Dalam kromatografi partisi, ekstraksi terjadi berulang dalam satu kali proses. Dalam percobaan, zat terlarut didistribusikan antara fasa stationer dan fasa mobil. Fasa stationer dalam banyak kasus pelarut diadsorbsi pada adsorben dan fasa mobil adalah molekul pelarut yang mengisi ruang antar partikel yang ter adsorbsi. Contoh khas kromatografi partisi adalah kromatografi kolom yang digunakan luas karena merupakan sangat efisien untuk pemisahan senyawa organik (Gambar 12.3). Kolomnya (tabung gela) diisi dengan bahan seperti alumina, silika gel atau pati yang dicampur dengan adsorben, dan pastanya diisikan kedalam kolom. Larutan sampel kemudian diisikan kedalam kolom dari atas sehingga sammpel diasorbsi oleh adsorben. Kemudian pelarut (fasa mobil; pembawa) ditambahkan tetes demi tetes dari atas kolom. Partisi zat terlarut berlangsung di pelarut yang turun ke bawah (fasa mobil) dan pelarut yang teradsorbsi oleh adsorben (fasa stationer). Selama perjalanan turun, zat terlarut akan mengalami proses adsorpsi dan partisi berulang-ulang. Laju penurunan berbeda untuk masingmasing zat terlarut dan bergantung pada koefisien partisi masing-masing zat terlarut. Akhirnya, zat terlarut akan terpisahkan membentuk beberapa lapisan.

Akhirnya, masing-masing lapisan dielusi dengan pelarut yang cocok untuk memberikan spesimen murninya. Nilai R didefinisikan untuk tiap zat etralrut dengan persamaan berikut. R = (jarak yang ditempuh zat terlarut) / (jarak yang ditempuh pelarut/fasa mobil).

Gambar 12.3 Diagram skematik kromatografi

b. Kromatografi kertas

Mekanisme pemisahan dengan kromatografi kertas prinsipnya sama dengan mekanisme pada kromatografi kolom. Adsorben dalam kromatografi kertas adalah kertas saring, yakni selulosa. Sampel yang akan dianalisis ditotolkan ke ujung kertas yang kemudian digantung dalam wadah. Kemudian dasar kertas saring dicelupkan kedalam pelarut yang mengisi dasar wadah. Fasa mobil (pelarut) dapat saja beragam. Air, etanol, asam asetat atau campuran zat-zat ini dapat digunakan.

Kromatografi kertas diterapkan untuk analisis campuran asam amino dengan sukses besar. Karena asam amino memiliki sifat yang sangat mirip, dan asam-asam amino larut dalam air dan tidak mudah menguap (tidak mungkin didistilasi), pemisahan asam amino adalah masalah paling sukar yang dihadapi kimiawan di akhir abad 19 dan awal abad 20. Jadi penemuan kromatografi kertas merupakan berita sangat baik bagi mereka. Kimiawan Inggris Richard Laurence Millington Synge (1914-1994) adalah orang pertama yang menggunakan metoda analisis asam amino dengan kromatografi kertas. Saat campuran asam amino menaiki lembaran kertas secara vertikal karena ada fenomena kapiler, partisi asam amino antara fasa mobil dan fasa diam (air) yang teradsorbsi pada selulosa berlangsung berulang-ulang. Ketiak pelarut mencapai ujung atas kertas proses dihentikan. Setiap asam amino bergerak dari titik awal sepanjang jarak tertentu. Dari nilai R, masing-masing asam amino diidentifikasi. Kromatografi kertas dua-dimensi (2D) menggunakan kertas yang luas bukan lembaran kecil, dan sampelnya diproses secara dua dimensi dengan dua pelarut.

Gambar

12.4

Contoh

hasil

kromatografi

kertas

pigmen

dari

www.indigo.com/ science-supplies/filterpaper. Html

c. Kromatografi gas Campuran gas dapat dipisahkan dengan kromatografi gas. Fasa stationer dapat berupa padatan (kromatografi gas-padat) atau cairan (kromatografi gas-cair). Umumnya, untuk kromatografi gas-padat, sejumlah kecil padatan inert misalnya karbon teraktivasi, alumina teraktivasi, silika gel atau saringan molekular diisikan ke dalam tabung

logam gulung yang panjang (2-10 m) dan tipis. Fasa mobil adalah gas semacam hidrogen, nitrogen atau argon dan disebut gas pembawa. Pemisahan gas bertitik didih rendah seperti oksigen, karbon monoksida dan karbon dioksida dimungkinkan dengan teknik ini. Dalam kasus kromatografi gas-cair, ester seperti ftalil dodesilsulfat yang diadsorbsi di permukaan alumina teraktivasi, silika gel atau penyaring molekular, digunakan sebagai fasa diam dan diisikan ke dalam kolom. Campuran senyawa yang mudah menguap dicampur dengan gas pembawa disuntikkan ke dalam kolom, dan setiap senyawa akan dipartisi antara fasa gas (mobil) dan fasa cair (diam) mengikuti hukum partisi. Senyawa yang kurang larut dalam fasa diam akan keluar lebih dahulu. Metoda ini khususnya sangat baik untuk analisis senyawa organik yang mudah menguap seperti hidrokarbon dan ester. Analisis minyak mentah dan minyak atsiri dalam buah telah dengan sukses dilakukan dengan teknik ini. Efisiensi pemisahan ditentukan dengan besarnya interaksi antara sampel dan cairannya. Disarankan untuk mencoba fasa cair standar yang diketahui efektif untuk berbagai senyawa. Berdasarkan hasil ini, cairan yang lebih khusus kemudian dapat dipilih. Metoda deteksinya, akan mempengaruhi kesensitifan teknik ini. Metoda yang dipilih akan bergantung apakah tujuannya analisik atau preparatif. Kromatografi Gas adalah metode kromatografi pertama yang dikembangkan pada jaman instrument dan elektronika yang telah merevolusikan keilmuan selama lebih dari 30 tahun. Sekarang GC dipakai secara rutin di sebagian besar laboratorium industri dan perguruan inggi. GC dapat dipakai untuk setiap campuran yang komponennya atau akan lebih baik lagi jika semua komponennya mempunyai tekanan uap yang berarti pada suhu yang dipakai untuk pemisahan. Tekanan uap atau keatsirian memungkinkan komponen menguap danbergerak bersamasama dengan fase gerak yang berupa gas. Pada kromatografi cair pembatasan yang bersesuaian ialah komponen cairan harus mempunyai kelarutan yang berarti didalam fase gerak yang berupa cairan. Secara sepintas tampaknya pembatasan tekanan uap pada Kromatografi gas lebih serius daripada pembatasan kelarutan pada kromatografi cair, secara keseluruhan memang demikian. Akan tetapi, jika kita ingat bahwa suhu sampai 4000C dapat dipakai pada kromatografi gas dan bahwa kromatografi dilakukan secara cepat untuk meminimumkan penguraian, pembatasan itu menjadi tidak begitu perlu. Disamping itu, pada

KG, senyawa yang tak atsiri sering dapat dibah menjadi turunan yang lebih atsiri dan lebih stabil sebelum kromatografi. Dalam kromatografi gas, fase bergeraknya adalah gas dan zat terlarut terpisah sebagai uap. Pemisahan tercapai dengan partisi sampel antara fase gas bergerak dan fase diam berupa cairan dengan titik didih tinggi (tidak mudah menguap) yang terikat pada zat padat penunjangnya.

Kelebihan Ada beberapa kelebihan kromatografi gas, diantaranya kita dapat menggunakan kolom lebih panjang untuk menghasilkan efisiensi pemisahan yang tinggi. Gs dan uap mempunyai viskositas yang rendah, demikian juga kesetimbangan partisi antara gas dan cairan berlangsung cepat, sehingga analisis relative cepat dan sensitifitasnya tinggi. Fase gas dibandingkan sebagian besar fase cair tidak bersifat reaktif terhadap fase diam dan zat-zat terlarut. Kelemahannya adalah tehnik ini terbatas unruk zat yang mudah menguap. Kromatografi gas merupakan metode yang tepat dan cepat untuk memisahkan campuran yang sangat rumit. Waktu yang dibutuhkan beragam, mulai dari beberapa detik utnuk campuran sederhana sampai berjam-jam untuk campuran yang mengandung 500-1000 komponen. Komponen campuran dapat diidentifikasikan dengan menggunakan waktu tambat (waktu retensi) yang khas pada kondisi yang tepat. Waktu tambat ialah waktu yang menunjukkan berapa lama suatu senyawa tertahan dalam kolom.waktu tambat diukur dari jejak pencatat pada kromatogram dan serupa dengan volumetambat dalam KCKT dan Rf dalam KLT. Dengan kalibrasi yang patut, banyaknya (kuantitas) komponen campuran dapat pula diukur secara teliti . kekurangan utama KG adalah bahwa ia tidak mudah dipakai untuk memisahkan campuran dalam jumlah besar. Pemisahan pada tingkat mg mudah dilakukan, pemisahan campuran pada tingkat g mungkin dilakukan; tetapi pemisahan dalam tingkat pon atau ton sukar dilakukan kecuali jika tidak ada metode lain. Pada KG dan KCKT, kolom dapat dipakai kembali dan jika dirawat dengan baik dapat tahan lama. Perawatan harus dilakukan karena kolom dapat sangat mahal. Fase diam pada KG biasanya berupa cairan yang disaputkan pada bahan penyangga padat yang lembab , bukan senyawa padat yang berfungsi sebagai permukaan yang menyerap (kromatografi gas-padat). Sistem gas-padat telah dipakai secara luas dalam pemurnian gas dan

penghilangan asap, tetapi kurang kegunaannya dalam kromatografi. Pemakaian fase cair memungkinkan kita memilih dari sejumlah fase diam yang sangat beragam yang akan memisahkan hampir segala macam campuran. Satu-satunya pembatas pada pemilihan cairan yang demikian ialah bahwa zat cair itu harus stabil dan tidak atsiri pada kondisi kromatografi. Akan tetapi, keadaan ini berubah akibat pengembangan fase terikat dan pemakaian kolo kapiler atau kolom tabung terbuka yang sangat efisien. Pada fase terikat, cairan sebenarnya terikat pada penyangga padat atau pada dinding koplom kapiler, tidak hanya disaputkan begitu saja. Pemakaian detector untuk menganalisis efluen kromatograf secara sinambung telah memungkinkan adanya KG dan KCKT. Pada KG, tersedianya berbagai detector, pemakaiannya yang umum untuk banyak jenis senyawa, dan tingkat kepekaannya yang tinggi telah memungkinkan penentuan secara teliti berbagai jenis komponen dalam kisaran yang besar, kadang-kadang dalam jumlah yang sangat kecil. Tersedianya detector selektif, misalnya detector yang hanya mendeteksi senyawa yang mengandung P, N, atau S merupakan hal yang sangat penting pula. Ini berbeda dengan KCKT yang hanya menyediakan lebih sedikit jenis detector dan kurang peka.

Petunjuk cara kerja Walaupun beberapa system KG sangat rumit, pada dasarnya cara kerjanya sama. Jika KG telah dinyalakan maka dapat dilakukan beberapa langkah berikut ini ;

1. Instrumen diperiksa, terutama jika tidak dipakai terus-menerus. Ini dilakukan untuk mengecek apakah telah dipasang kolom yang tepat, apakah septum injector tidak rusak (apakah ada lubang besar atau bocor karena sering dipakai), apakah sambungan saluran gas kedap, apakah tutup tanur tertutup rapat, apakah semua bagian listrik bekerja dengan baik, dan apakah detector yang terpasang sesuai.

2. Aliran gas kekolom dimulai atau disesuaikan. Ini dilakukan dengan membukan katup utama pada tangki gas dan kemudian memutar katup (diafragma) sekunder kesekitar 15psi dan membuka katup jarum sedikit. Ini memungkinkan aliran gas yang lambat (2-5 ml)/menit untuk kolom kemas dan sekitar 0,5ml/menit untuk kolom kapiler melewati system dan melindungi

kolom dan detector terhadap perusakan secara oksidasi. Dalam banyak instrument modern, aliran gas dapat diatur dengan rotameter atau aliran otomatis atau pengendali tekanan, atau dapat dimasukkan melalui modul pengendali berlandas mikroprosesor. Apapun jenisnya, sambungan system (terutama sambungan kolom) harus dicek dengan larutan sabun untuk mengetahui apakah ada yang bocor, atau dengan larutan khusus untuk mendeteksi kebocoran (SNOOP),atau dapat juga dengan larutan pendeteksi kebocoran niaga.

3. Kolom dipanaskan sampai suhu awal yang dikehendaki. Ini dilakukan, pada instrument buatan lama, dengan memutar transformator tegangan peubah yang mengendalikan gelungan pemanas dalam tanur kesekitar 90 V.

d. HPLC Akhir-akhir ini, untuk pemurnian (misalnya untuk keperluan sintesis) senyawa organik skala besar, HPLC (high precision liquid chromatography atau high performance liquid chromatography) secara ekstensif digunakan. Bila zat melarut dengan pelarut yang cocok, zat tersebut dapat dianalisis. Ciri teknik ini adalah penggunaan tekanan tinggi untuk mengirim fasa mobil kedalam kolom. Dengan memberikan tekanan tinggi, laju dan efisiensi pemisahan dapat ditingkatkan dengan besar. Silika gel atau oktadesilsilan yang terikat pada silika gel digunakan sebagai fasa stationer. Fasa stationer cair tidak populer. Kolom yang digunakan untuk HPLC lebih pendek daripada kolom yang digunakan untuk kromatografi gas. Sebagian besar kolom lebih pendek dari 1 m. Kromatografi penukar ion menggunakan bahan penukar ion sebagai fasa diam dan telah berhasil digunakan untuk analisis kation, anion dan ion organik. Dalam beberapa tahun ini teknologi HPLC dan pemakaiannya sangat berkembang da walaupun nisbi mahal, HPLC telah menjadi metode analisis rutin dan bahkan preparative pada banyak laboratorium. Alat HPLC niaga terdiri atas system pencampur pelarut yang sangat canggih yang mampu menghasilkan campuran landaian yang mengandung sampai empat linarut yang berbeda, pompa yang mampu menghasilkan tekanan sampai 6000psi atau 10.000 psi, kolom yang mengandung fase diam (atau lebih tepat penyangga), dan system pendeteki sinambung yang

bermacam-macam jenisnya. Yang paling sering ditemukan, seluruh radas itu dipimpin dan dikendalikan oleh mikroprosesor. Kolom yang tersedia mempunyai banyak sekali pelat teori (lebih dari 100.000 untuk kolom 100cm), dan kromatografi dilakukan dalam kondisi yang mendekati kondisi ideal demikian rupa sehingga dapat diperoleh pemisahan yang sangat baik; seringkali, hasil dapat diperoleh dalam beberapa menit dan ditafsirkan secara kuantitatif dengan ketepatan yang lumayan. Cuplikan dapat dipisahkan secara preparative. Pada metode kromatografi cair ini digunakan kolom tabung gelas dengan beracam diameter.parikel dengan dimensi yang bervariasi digunakan sebagai penunjang stasioner. Banyaknya cairan pada kolom jumlahnya sedemikian rupa sehingga hanya cukup menghasilkan sedikit tekanan untuk memelihara aliran fase bergerak yang seragam. Secara keseluruhan pemisahan ini memakan waktu lama. Berbagai usaha telah dilakukan untuk menambah laju aliran tanpa mengubah tinggi piringan teoritis kolom. Penurunan ukuran partikel penunjang stasioner tidak selalu menguntungkan.

Kromatografi cair kinerja tinggi atau High Performance Liquid Chromatography (HPLC) berbeda dari kromatografi cair klasik. HPLC menggunakan kolom dengan diameter umumnya kecil, 2-8 mm dengan ukuran partikel penunjang ; sedangkan laju aliran dipertinggi dengan tekanan yang tinggi.

Prinsip HPLC Luas puncak kromatografi pada kurva elusi dipengaruhi oleh tiga proses perpindahan massa yaitu difusi Eddy, difusi longitudinal dan transfer massa tidak setimbang. Sedangkanparameter-parameter yang menentukan proses berlangsungnya proses-prosess tersebut adalah : laju aliran, ukuran partikel, laju difusi dan ketebalan stasioner.

Penunjang Penunjang fase diam harus tahan erhadap tekanan. Biasanya penunjang anorganik bersifat stabil dan tahan sampai tekanan 600 atm. Struktur dengan pori-pori yang besar akan rusak bila diberi tekanan tinggi. Penukar ion, mempunyai permeabilitas yang rendah bila diberi tekanan.

Penunjang yang baik adalah silica gel dan alumina. Penunjang dengan bahan kimia di permukaannya (bonded phase) mempunyai kelebihan karena tidak perlu dijenuhkan lagi permukaannya oleh fase cair dan idak memerlukan prekolom. Fase diam terikat secara kovalen dengan permukaan zat padat penunjang sehingga diharapkan tidak mudah lepas dan mengkontaminasi eluen. Penunjang dengan kemampuan penukar ion pemakaiannya terbatas,karena mudah terkompresi,tetapi saat ini bermacam resin sintetis yang taha tekanan sampai 200 amosfer sudah dapat diperoleh. Resin demikian mempunyai kapasitas penukar ion antara 3 sampai 5 meq/g. Penunjang fase diam untuk kromatografi eksklusi lebih rumit daripada resin penukar ion. Hamper semua ipe gel dalam kolom untuk jenis eksklusi tidak tahan tekanan. Penyusutan volume akan terjadi sehingga permeabilitasnya turun dan akibatnya efisiensi pemisahan menurun.

Pemakaian HPLC dengan prinsip kromatografi adsorpsi banyak digunakan pada industri farmasi dan pestisida. Zat-zat dengan kepolaran berbeda, yaitu antara sedikit polar sampai polar dapat dipisahkan dengan HPLC berdasarkan partisi cair-cair. Asam-asam nukleat dapat dipisahkan dengan kolom penukar ion yang dikombinasikan dengan kolom butiran berlapiskan zat berpori. Penukar ion gel silica yang dimodifikasi secara kimia dan penukar ion klasik. Asam-asam nukleat telah terpisahkan pada PLB, waktu analisisnya lebih pendek. Morfin, heroin dan semacamnya telah dapat dipisahkan pada resin Zipax-SAX. Penukar ion gel silica yang dimodifikasi secara kimia mempunyai kapsitas tukar tinggi, vitamin-vitamin yang larut dalam air misalkan telah dapat dipisahkan. Pemakaian HPLC pada kromatografi eksklusi dilakukan dengan kolom panjang, tujuan utama kerjanya tetap sama yaitu penentuan berat molekul polimer dan masalah-masalah biokimia. Pada umumnya teknik ini dapat digunakan pada setiap metode kolom kromatografi.

e.Elektroforesis

Definisi Tehnik pemisahan komponen-komponen dengan pengaruh arus listrik sehingga terjadi laju perpindahan disebut sebagai suatu elektroforesis atau elektrokromatografi. Secara luas teknik ini diklasifikasikan dalam tiga kelompok yaitu elektroforesis free boundary, elektroforesis wilayah dan elektroforesis kontinyu.

Prinsip Elektroforesis Jika suatu fase zat bermuatan, diberi beda potensial, fase tersebut akan berpindah sepanjang medium yang kontinyu kearah katoda atau anoda sesuai dengan muatan partikel. Fenomena ini adalah elektroforesis. Dasar elektroforesis adalah pembentukan suatu ketidakhomogenan atau gradasi konsentrasi sepanjang system. Koloid, protein enzim menunjukkan mobilitas elektroforesis spesifik dan titik isoelektrik yang dapat digunakan untuk identifikasi zat-zat spesifik. Pemisahan dapat dilakukan bila senyawa-senyawa yang telah terpisah tidak secara spontan bercampur kembali akibat sirkulasi konvektif. Keterbatasan elektroforesis free boundary dapat diatasi secara parsial dengan melakuka kromatografi pendahuluan sebelum proses elektroforesisnya sendiri. Inidilakukan dengan mencampurkan larutan buffer dan memvariasikan konsentrasi nonelektrolit yang larut, kemudian biarkan merayap vertical pada tabung elektroforesis yang akan digunakan, sehingga terbentuk gradient perbedaan kerapatan akibat gravitasi. Di pihak lain bila perpindahan elektroforesis dilakukan pada suatu medium berpori, wilayah perpindahannya tidak dipengaruhi oleh gradient kerapatan dan temperature. Pada medium tersebut aliran cairan dalam tabung berbanding terbalik terhadap kuadrat dari jari-jari penampang melintang tabung. Kertas saring, agar, kanji, gelatin, butiran-butiran kaca umumnya digunakan karena memiliki rongga kapiler. Kertas penyaringlah yang palng sering digunakan karena pemisahan yang sempurna dapat dilakukan dan mudah dikelola. Pemisahan dapat dilakukan baik horizontal ataupun erikal dan interferensi anomaly paling kecil pada boundary. Pada umumnya istilah elektrokromatografi digunakan untuk pemisahan berdasarka perbedaan

transport fisik zatterlarut yang bermuatan di dalam medium kertas akibat pengaruh gradient potensial. Perpindahan partikel bermuatan dalam kertas tergantung pada tanda dan besarnya muatan pada zat terlarut, permukaan, muatan, tegangan yang digunakan, konsentrasi elektrolit, kuat io, pH, temperatur, viskositas, adsortiitas zat terlarut dan sifat-sifat fisika kimia lainnya medium migrasi. Ion yang berpindah pada suatu arah juga mempengaruhi mobilitas ion-ion lain yang bergerak pada arah yang berlawanan.

Peralatan dan Metodologi Secarik kertas saring dibasahi dengan suatu elektrolit dan direntangkan secara horizontal diantara dua ruang elektroda yang berbeda potensial. Sampel diletakkan ditengah-tengah lembaran kertas. Lembaran kertas diletakkan diantara dua lempeng kaca untuk mencegah penguapan elektrolit. Arus searah digunakan pada beda teganan sekitar 100-300 volt, elektroda yang digunakan karbon dari platina. Kombinasi elektromatografi dengan aliran pelarut yang simultan untuk memisahkan zat-zat inik juga telah dikembangkan.

Elekroforesis Wilayah Ada berbagai factor yang mempengaruhi laju perpindahan elektroforesis wilayah. Factorfaktor yang mempengaruhi pergerakan ion adalah mobilitas ion, tipe resolusinya, macam larutan buffernya, pH yang digunakan, kuat ion zat terlarut, temperature, ada atau tidaknya fenomena elektrolisis atau elektroosmosis. Medium yang umum digunakan adalah kertas saring, selulosa, asetat, gel seperti kanji, poliakrilamida dan bubuk gel.

Elektroforesis Tirai (Elektroforesis Kontinyu) Elektroforesis kontinyu yaitu suatu elektroforesis yang dilakukan secara kontinyu. Suatu tirai dari kertas saring digunakan yang mana terendam dalam larutan buffer. Suatu aplikator digunakan untuk meneteskan sampel. Sampel masuk dalam aplikator dari suatu reservoir sampel. Kedua ujung kertas saring dalam bentuk alur tercelup dalam dua ruang elektroda. Dengan

pemberian tegangan, partikel zat terlarut mulai bergerak dan komponen terpisahkan dalam berbagai permukaan.

Pemakaian Analitik Elektrokromatografi Homogenitas wilayah elektrokromatografi adalah suatu criteria penting untuk memperoleh kemurnian. Teknik elektrokromatografi pada kertas telah digunakan untuk pemisahan komponen-komponen yang sulit dipisahkan. Pemisahan anorganik segera dapat dil;akukan melalui agen pengompleks. Agen ini mempengaruhi laju kromatografi sedangkan kompleks elektromigrasi mempunyai afinitas adsorbsi yang berbeda terhadap medium migrasi serta berbagai bentukion sederhana misalkan Ag, Ni berpindah kearah katoda, tetapi dengan penambahan EDTA, Ni saja yang pindah ke anoda. Logam-logam alkali dan magnesium juga dipisahkan. Pemisahan Pb, Pt, Rh, Ir, Os, Ru, dan Au secara kuantitatif pada secarik kertas diperoleh dengan elektrokromatografi dalam berbagai larutan elektrolit. Setelah kertas, medium lain yang tepat untuk percobaan elektromigrasi adalah kanji. Pemisahan pada umumnya dilaksanakan dalam kolom, dan kadangkala untuk sejumlah komponen mempunyai beberapa kelebihan disbanding dengan kertas. Teknik

elektrokromatografi banyak digunakan pada pemisahan ion-ion anorganik dan diagnosis klinik.

Osmosis Terbalik Teknik ini adalah teknik yang sedang berkembang. Diantara pemakaiannya adalah pengolahan air limbah. Biasanya air dibersihkan dengan mengeluarkan kotoran dari air,tetapi dengan cara ini justru air diperas keluardari limbah air. Limbah berupa air garam dimasukkan melalui bagian celah sel. Pada bagian bawah air garam akan tersekat oleh suatu membrane semipermeabel yang umumnya terbuat dari polistirena, cellophane polivinil klorida atau etil selulosa. Air segar cenderung untuk bergerak melalui membrane semi permeable menuju bagian yang konsentrasi garamnya tinggi, tetapi dengan memberikan tekanan yang cukup tinggi pada bagian air garamnya, tekanan osmosis normalinya dapat dibalik, berarti aliran dan keluar pada saluran bagian bawah. Osmosis terbalik tidak mempunyai pemakaian analitik.

Elektrodialisis Metode ini merupakan metode yang masih dapat dikembangkan, yang mana ion-ion positif dan negative dalam suatu aliran air rawa-rawa dipisahkan dengan melakukannya sepanjang membrane penukar ion dibawah pengaruh medan listrik.air rawa-rawa dimasukkan melalui tiga saluran pada bagian atas sel. Suatu medan listrik dengan kutub membuat ion positif dan ion negative bergeser pada arah yang berlawanan. Dengan pemilihan membrane penukar ion yang tepat, maka dimungkinkan menjadikan membrane kation permeable terhadap kation dan penukar anion yang permeable terhadap anion. Dengan pengaturan kondisi aliran, air yang keluar sebagai efluen pada penyalur bagian tengah akan mengandung garam yang lebih rendah disbanding kedua penyalur lainnya.teknik ini sebenarnya dasar pengembangan tekik osmosis terbalik.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1995, Farmakope Indonesia.Edisi IV.hal. 102. DepKes RI. Jakarta Gritter, dkk., 1991, Pengantar Kromatografi. Hal.34-35,186. ITB Press.Bandung Khopkar, S.M. Press. Jakarta 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Hal.160,166, 167-168. UI

Mulja, Muhammad & Suharman, Airlangga University Press. Surabaya

1995,

Analisis

Instrumental.Hal

150.

http://ilmu-kedokteran.blogspot.com/2007/11/kromatografi.html (Diakses oktober2011) http://kimia.or.id/artikel/artikel-kimia/kimia-analisik/52-pengertlan-beberapa-jenis-kromatografi (Diakses oktober2011) http://id.wikipedia.org/wiki/Kromatografi (Diakses oktober2011) http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/instrumen_analisis/kromatografi1/analisa-kuantitatifkromatografi/ (Diakses oktober2011) http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_dasar/pemurnian-material/kromatografi/ (Diakses oktober2011)