Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

Filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat murni, sehingga aliran-aliran dalam filsafat pendidikan memiliki jumlah sekurang-kurangnya sebanyak aliran filsafat murni itu sendiri. Namun untuk filsafat pendidikan modern secara garis besarnya terbagi menjadi 4 aliran, yaitu yaitu aliran progresivisme, esensialisme, perenialisme dan rekonstruksianisme (Imam Barnadib, 1982, Mohammad Noor Syam, 1986)1. Untuk filsafat pendidikan aliran perenialisme sendiri sesungguhnya telah muncul jauh di periode pertengahan, meskipun pengakuan secara resmi mengenai teori-teori pendidikan yang dihasilkan oleh filsafat pendidikan ini baru muncul sekitar tahun 1930-an (abad ke 20). Filsafat pendidikan ini mencuat sebagai bentuk reaksi keras terhadap kalangan progresif, yang dinilai telah membuat pendidikan semakin jauh dari visi hidup yang sebenarnya. Perenialisme berasal dari kata perennial yang dapat diartikan sebagai continuing throughout the whole year atau lasting for a very long time abadi, kekal, terus menerus tiada akhir. Lantas, bagaimana sejarah lengkap mengenai filsafat pendidikan aliran perenialisme ini? Bagaimana prinsip-prinsip dasarnya? Serta bagaimana pandangan perenialisme sendiri terhadap belajar dan pendidikan? Pertanyaan-pertanyaan di atas akan kami coba bahas dalam makalah kami yang berjudul Aliran Perenialisme Dalam Filsafat Pendidikan ini. semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian.

http://maragustamsiregar.wordpress.com/ diakses pada tanggal 1 april 2012 pukul 09.30.

BAB II PEMBAHASAN Menurut Ali Saifullah2, aliran perenialisme termasuk dalam kategori filsafat pendidikan akademis-skolastik. Kategori ini meliputi dua kelompok yakni aliran perenialisme sendiri, essensialisme, idealisme dan realisme, dan kelompok progressif meliputi progresivisme, rekonstruksionisme dan eksistensialisme. Aliran perenialisme menurut Zuhairini sebagaimana dikutip Abdul Khobir dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam, menganggap bahwa zaman modern adalah zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kekacauan, kebingungan sehingga banyak menimbulkan krisis di segala bidang kehidupan manusia. Untuk menghadapi situasi krisis itu, perenialisme memberikan pemecahan dengan jalan regressive road to culture, yaitu jalan kembali atau mundur kepada kebudayaan lama (masa lampau), kebudayaan yang dianggap ideal dan telah teruji ketangguhannya. Disinilah pendidikan mempunyai peranan yang penting dalam rangka mengembalikan keadaan manusia modern kepada kebudayaan masa lampau yang ideal tersebut. Bagi kalangan perenealis, permanensi (keajegan), meskipun pergolakanpergolakan politik dan sosial yang sangat menonjol, adalah lebih riil (nyata) dari pada konsep perubahan kalangan pragmatis. Dengan demikian kalangan perenialis mempelopori gerakan kembali pada hal-hal absolut dan memfokuskan pada idegagasan yang luhur (menyejarah dari budaya manusia), ide-gagasan ini telah terbukti keabsahan dan kegunaannya karena mampu bertahan dari ujian waktu. Perenialisme menekankan arti penting akal budi, nalar, dan karya-karya besar pemikir masa lalu.3 Oleh karena itu perenialisme memandang pendidikan adalah sebagai jalan kembali, atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam

Antara filsafat dan pendidikan : pengantar filsafat pendidikan Surabaya, penerbit Usaha Nasional tah 1983. hlm 3 George R. Knight, Issues and Alternatives in Educational Philosophy, Mahmud Arif (Penj.), (Yogyakarta: Gama Media, 2007), hal.165.

kebudayaan ideal dimaksud, education as cultural regression. Perenialisme tak melihat jalan yang meyakinkan selain kembali kepada prinsip-prinsip yang telah sedemikian membentuk sikap kebiasaan, bahkan kepribadian manusia selain kebudayaan dulu dan kebudayaan abad pertengahan4.

Prinsip-prinsip dasar aliran perenialissme ini seperti : 1. Manusia adalah hewan rasional. Menurut Robert Hutchkins bahwa manusia adalah animale rasionale, maka tujuan pendidikan adalah mengembangkan akal budi supaya anak didik dapat hidup penuh kebijaksanaan demi kebaikan hidup itu sendiri5.

2. Hakekat (watak) dasar manusia secara universal tak berubah, oleh karena itu pendidikan harus sama untuk setiap orang6. Salah satu kenyataan penting menyangkut hakikat rasional ini ada pada seluruh manusia di sepanjang sejarahnya. Jika manusia itu hewan rasional dan jika orang-orang itu sama dalam hal ini, maka itu berarti bahwa semua orang harus mendapatkan pendidikan yang sama.

3. Pengetahuan secara universal tak berubah; karena itu ada materi kajian dasar tertentu yang harus diajarkan pada semua orang7. Jika pengetahuan tidak sama di segala tempat, maka orang-orang terpelajar tidak akan bisa setuju dengan sesuatu apapun. Dan pendidikan seharusnya (menurut kalangan perenialis) tidaklah harus menyesuaikan individu dengan dunia, akan tetapi lebih menyesuaikannya kepada kebenaran.
4 5

Ibid, hlm 63 DR.Jalaluddin dan Drs. Abdullah Idi. M.Ed, Manusia, Filsafat dan Pendidikan (Jakarta: Gaya MediaPratama, 1997) hlm 96 6 Robert M. Hutchins, The Conflict in Education (New York: Harper and Brothers, 1953), hlm. 68 7 Robert M. Hutchins, The Higher Learning in America, hlm, 66

4. Materi kajian, bukan subjek didik, harus berada pada inti usaha serius kependidikan. Sebagian banyak kalangan perenialis setuju bahwa jika system pendidikan adalah untuk memperkenalkan subjek didik dengan kebenaran abadi. Ia harus mempunyai sebuah kurikulum yang menekankan pada bahasa, sejarah, matematika, ilmu alam, filsafat dan seni. 5. Karya-karya besar masa lampau adalah sebuah gudang penegtahuan dan kebiijaksanaan yang telah teruji waktu dan relevan dengan masa itu. Kebesaran sebuah buku terletak pada statusnya sebagai buku klasik. Sebuah buku klasik adalah karya yang relevan bagi tiap kurun waktunya dank arena itu berada diatas karya-karya manusia pada umunya.

6. Pengalaman pendidikan adalah (lebih dari) sebuah persiapan untuk hidup daripada sebuah kondisi kehidupan yang riil. Pada dasarnya sekolah adalah sebuah tatanan artificial atau tatanan buatan. Sehingga kehidupan manusia (dalam pengertian kehidupan yang utuh) dapat dijalani hanya setelah aspek rasional dikembangkan.

Teori belajar menurut perenialisme ialah : 1. Mental dicipline sebagai teori dasar. Menurut Perenialisme latihan dan pembinaan berfikir (mental dicipline) adalah salah satu kewajiban tertinggi dalam belajar. Karena program yang diadakan dalam lembaga pendidikan adalah untuk pembinaan berpikir8.

Abdul Khobir, M. Ag. Filsafat Pendidikan Islam, Pekalongan : STAIN Press hal. 66

2. Rasionalitas dan Asas Kemerdekaan. Asas berpikir dan kemerdekaan harus menjadi tujuan utama pendidikan, otoritas berpikir harus disempurnakan sesempurna mungkin. Kemerdekaan pendidikan hendaknya membantu manusia untuk menjadi dirinya sendiri (essential self)yang membedakannya dari makhluk yang lain.

3. Learning to Reasson (Belajar untuk berpikir). Perlu adanya penanaman pembiasaan pada diri anak sejak dini dengan kecakapan membaca, menulis, dan berhitung. Dari sini, belajar untuk berpikir menjadi tujuan pokok sekolah menengah dan universitas.

4. Belajar sebagai Persiapan Hidup. Sekolah bukanlah merupakan situasi kehidupan yang nyata. Sekolah bagi anak merupakan peraturan-peraturan dimana ia bersentuhan dengan hasil yang terbaik dari warisan sosial budaya.

5. Learning through teaching (Belajar melalui pengajaran). Fungsi guru menurut Perenialisme berbeda dengan essensialisme. Menurut essensialisme guru sebagai perantara antara bahan dengan anak yang melakukan proses penyerapan. Dalam pandangan Perenialisme, tugas guru bukanlah perantara antara dunia dengan jiwa anak, melainkan guru juga sebagai murid yang mengalami proses belajar sementara mengajar9. Pola dasar pendidikan perenialisme dipengaruhi oleh setidaknya tiga tokoh utama, yakni Plato, Aristoteles dan Thomas Aquinas. Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan, dan akal (Plato). Perkembangan
9

Muhammad Noor Syam, Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pancasila, (Surabaya: Usaha Nasional, 1986), hlm . 326-327.

budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya ( Aristoteles). Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata. (Thomas Aquinas) Adapun norma fundamental pendidikan menurut J. Maritain adalah cinta kebenaran, cinta kebaikan dan keadilan, kesederhanaan dan sifat terbuka terhadap eksistensi serta cinta kerjasama. Pendidikan menurut filsafat ini mesti membangun sejumlah mata pelajaran yang umum, bukan spesialis, liberal bukan vokasionalis, yang humanistik bukan teknikal. Dengan cara inilah pendidikan akan memenuhi fungsi humanistiknya, yakni pembelajaran secara umum yang mesti dimiliki oleh manusia10.

Dan sebagai filsafat pendidikan umumnya, filsafat pendidikan Perenialisme juga mempengaruhi sekolah-sekolah modern sekarang, dimana pandangan-pandangan kurikulumnya mempengaruhi praktik pendidikan.

A. Pendidikan Dasar dan (Sekolah) Menengah

1. Pendidikan sebagai persiapan Perbedaan Progresivisme dengan Perenialisme terutama pada sikapnya tentang education as preparation. Perenialisme berpendapat bahwa pendidikan adalah persiapan bagi kehidupan di masyarakat. Dasar pandangan ini berpangkal pada ontologi, bahwa anak ada dalam fase potensialitas menuju aktualitas, menuju kematangan. 2. Kurikulum Sekolah Menengah Prinsip kurikulum pendidikan dasar, bahwa pendidikan sebagai persiapan, berlaku pula bagi pendidikan menengah. Perenialisme membedakan kurikulum
10

Prof. Chaedar Alwasilah, Filsafat: Bahasa Dan Pendidikan, (Bandung: Rosda Karya) hal. 104

pendidikan menengah antara program, general education dan pendidikan kejuruan, yang terbuka bagi anak 12-20 tahun11.

B. Pendidikan Tinggi dan Adult Education

1. Kurikulum Universitas Program General Education dipersiapkan untuk pendidikaan tinggi dan adult education. Pendidikan tinggi sebagai lanjutan pendidikan menengah dengan program general education yang telah selesai disiapkan, bagi umur 21 tahun sebab dianggap telah cukup mempunyai kemampuan melaksanakan program pendidikan tinggi.

2. Kurikulum Pendidikan Orang Dewasa (Adult Education) Tujuan pendidikan orang dewasa adalah meningkatkan pengetahuan yang telah dimilikinya dalam pendidikan lama sebelum itu, menetralisir pengaruhpengaruh jelek yang ada. Nilai utama pendidikan orang dewasa secara filosofis ialah mengembangkan sikap bijaksana guna mereorganisasi pendidikan anak-anaknya, dan membina kebudayaannya12.

11 12

Abdul Khobir, M. Ag. Filsafat Pendidikan Islam, hal.68 Ibid, hal. 69

BAB III KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas maka dapat kami simpulkan bahwa aliran Perenialisme adalah merupakan aliran dalam filsafat pendidikan yang memandang bahwa kepercayaan aksiomatis zaman kuno dan abad pertengahan perlu dijadikan dasar pendidikan sekarang. Sedangkan prinsip-prinsaip dasar aliran ini seperti : manusia adalah hewan rasional, watak dasar manusia secara universal tak berubah; oleh karena itu pendidikan harus sama untuk setiap orang, pengetahuan secara universal tidak berubah; karena itu ada materi kajian tertentu yang harus diajarkan pada semua orang, materi kajian bukan subjek didik jadi harus berada pada inti usaha serius kependidikan, karya-karya besar masa lampau adalah gudang pengetahuan dan kebijaksanaan yang telah teruji waktu dan relevan dengan masa kita, dan yang terakhir bahwa pengalaman pendidikan adalah lebih dari sekedar persiapan untuk hidup pada sebuah kondisi kehidupan yang riil atau nyata. Konsep-konsep dalam aliran ini banyak dipengaruhi tokoh-tokoh pemikir yang sangat berpengaruh, seperti Plato, Aristoteles dan Thomas Aquinas. Dan pandangan aliran ini tentang pendidikan adalah belajar untuk berpikir. Oleh sebab itu, peserta didik harus dibiasakan untuk berlatih berpikir sejak dini. Perenialisme juga memiliki formula mengenai jenjang pendidikan beserta kurikulum, yaitu pendidikan dasar dan (sekolah) menengah, pendidikan tinggi dan adult education.

DAFTAR PUSTAKA Saifullah, Ali . 1983, Antara filsafat dan pendidikan : pengantar filsafat pendidikan Surabaya : Usaha Nasional Knight,George R. 2007. Issues and Alternatives in Educational Philosophy, Mahmud Arif (Penj.), Yogyakarta: Gama Media Jalaluddin, DR. dan Drs. Abdullah Idi. M.Ed, 1997 Manusia, Filsafat dan Pendidikan Jakarta: Gaya MediaPratama Hutchins, Robert M. 1953 The Conflict in Education New York: Harper and Brothers Hutchins, Robert M. 1953 The Higher Learning in America, New York: Harper and Brothers Khobir, Abdul M. Ag. 2009 Filsafat Pendidikan Islam, Pekalongan: STAIN Press Noor Syam, Muhammad. 1986 Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pancasila, Surabaya: Usaha Nasional Alwasilah , Prof. Chaedar, 2010 Filsafat: Bahasa Dan Pendidikan, Bandung: Rosda Karya http://maragustamsiregar.wordpress.com

PEMIKIRAN PENDIDIKAN ALIRAN PERENIALISME

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Filsafat pendidikan Dosen Pengampu: Prof. Maragustam Siregar

Disusun Oleh : IV-PAI.E

Bintang Firstania S

(10410093)

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SUNAN KALIJAGA TAHUN 2012