Anda di halaman 1dari 22

GANGGUAN SOMATOFORM DAN DISOSIATIF

Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas pada Mata Kuliah Abnormal Semester VI

Dosen Pengampu : Meutia Ananda, M.Psi.,Psikolog

Disusun Oleh :

Nur Mawaddah Majidah Anita Eka Hasiani


Semester VI

(B37209007) (B37209008) (B37209028)

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS DAKWAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA 2012

KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Allah SWT Tuhan semesta alam yang telah memberi kita kesehatan, sehingga kita dapat menyelesaikan tugas mata kuliah psikologi abnormal ini tanpa suatu halangan apapun yang berarti. Tak lupa sholawat serta salam tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi Besar Mukhammad SAW beserta keluarganya yang telah membimbing kita dari jalan yang gelap menuju jalan yang terang benerang, serta sebagai suri tauladan bagi kita semua hingga akhir zaman. Terima kasih saya ucapkan kepada Ibu Meutia Ananda,M.Psi.,Psikolog yang telah membingbing kami kelas G1 psikologi semester VI Fakultas Dakwah, sehingga kami dapat mempelajari psikologi abnormal lebih dalam terutama mempelajari hal-hal yang menyangkut gangguan-gangguan psikologis manusia yang tidak biasa. Sekarang kami telah menyusun sebuah makalah untuk diajukan sebagai tugas untuk memenuhi mata kuliah psikologi abnormal. Semoga isi dalam makalah ini sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dicapai dalam mempelajari mata kuliah psikologi abnormal pada semester 6 kali ini.

Ucapan terima kasih yang terakhir adalah untuk kedua orang tua kami yang selalu mendukung kami dalam semua hal termasuk dalam mencari ilmu di bangku kuliah, serta memberi kontribusi yang positif yang akhirnya memberi kami banyak inspirasi untuk selalu semangat dan optimis menjalani hidup. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin

Penyusun

Surabaya, 26 Maret 2012

ii

DAFTAR ISI
Kata Pengantar .................................................................................................................... Daftar Isi ............................................................................................................................. Bab I : Pendahuluan A. Latar Belakang ................................................................................... B. Rumusan Masalah .............................................................................. C. Tujuan ................................................................................................ Bab II : Pembahasan I. Gangguan Disosiatif A. Gangguan Identitas Disosiatif ................................................... B. Amnesia Disosiatif .................................................................... C. Fugue Disosiatif ........................................................................ D. Gangguan Depersonalisasi ........................................................ E. Sindrom Disosiatif yang Terkait dengan Budaya .................... F. Pandangan pandangan Teoritis .............................................. G. Penanganan Gangguan Disosiatif ............................................. II. Gangguan Somatoform A. Gangguan Konversi ................................................................... B. Hipokondriasis .......................................................................... C. Gangguan Dismorfik Tubuh...................................................... D. Gangguan Somatisasi ................................................................ E. Gangguan Nyeri ........................................................................ F. Pandangan Teoritis .................................................................... G. Penanganan Gangguan Somatoform ......................................... Bab III : Penutup Kesimpulan.................................................................................................. Daftar Pustaka ..................................................................................................................... Lampiran ............................................................................................................................. 19 16 18 8 9 9 10 11 11 13 3 4 4 5 6 6 7 1 2 2 i ii

iii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dissosiative Disorder Bermula dati Abad ke 20 di Los Angeles, Seorang Hillside Strangler ( Tukang Cekik dari daerah Hillside ) yang telah menteror Kota, membunuh, dan membuang sejumlah wanita pekerja seks komersial di pegunungan yang mengitari kota Hillside, bernama Kenneth Bianchi. Saat itu Kenneth Bianchi yang telah menjadi tersangka sedang melakukan pemeriksa an oleh psikiater polisi dengan menggunakan pengaruh hipnosis saat seorang polisi itu memberikan pertanyaan kepada Kenneth, ketika proses hipnosis itu sedang berlangsung, Bianchi menegaskan bahwa sebuah kepribadian yang tersembunyi dalam dirinyalah yang bernama Steve, yang telah melakukan serangkaian pembunuhan tersebut. Kenneth juga menegaskan, Ken tidak mengetahui apapun mengenai pembunuhan yang dilakukan oleh Steve tersebut. Hal yang dialami Kenneth inilah yang disebut dengan menderita gangguan kepribadian ganda ( Dissociative Disorder ). Dissociative disorder ini adalah sebuah tipe gangguan psikologis yang menganggu fungsi self identitas, memori, atau kesadaran, yang kemudian membentuk sebuah kepribadian yang utuh. Orang yang mengalami gangguan Disosiatif tidak mengenal dirinya secara eksistensial atau filosofis, ia hanya tahu, siapa namanya, dimana ia tinggal apa yang ia lakukan sehari hari, ia juga ingat peristiwa peristiwa penting dalam hidupnya, tapi ia tidak mampu menceritakan secara detail. Penderita gangguan Disosiatif juga merasa lebih baik seiring berjalannya waktu, namun dikala tertentu satu atau lebih dari aspek kehidupan sehari harinya akan terganggu secara aneh. Somatoform Disorder Somatoform Disorder ini merupakan gangguan psikologis yang melibatkan keluhan akan simtom simtom fisik, dan mengartikan secara berlebihan makna dari simtom fisiknya itu, yang diyakini sebagai suatu penyakit yang serius namun tidak dibenarkan oleh dokter. Yang artinya dokter meyakini tidak ada penyakit yang serius yang dideritanya. Dari pengetahuan kedua gangguan di atas, kami sebagai pemakalah mencoba untuk sedikit

menjelaskan kembali secara rinci apa itu gangguan disosiatif, dan apa itu gangguan somatoform beserta macam dan bentuk gangguannya. Maka dari itu berikut penjelasannya.

B. Rumusan Masalah 1. Apa itu gangguan disosiatif? 2. Ada berapa macam gangguan disosiatif? 3. Apa itu gangguan identitas disosiatif? 4. Apa itu gangguan amnesia disosiatif? 5. Apa itu gangguan fugue disosiatif? 6. Apa itu gangguan depersonalisasi?

7. Apa saja sindrom yang terkait dengan budaya? 8. Bagaimana pandangan teoritis mengenai gangguan disosiatif? 9. Bagaimana penanganan yang disosiatif? 10. Apa itu gangguan somatoform? 11. Apa itu gangguan nyeri? 12. Apa itu konversi? 13. Apa itu hipokondriasis? 14. Apa itu gangguan dismorfik tubuh? 15. Apa itu gangguan somatisasi? 16. Bagaimana pandangan secara teoritis melihat gangguan somatoform? 17. Bagaimana penanganan yang bisa diambil ketika individu mengalami gangguan somatoform? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui gangguan disosiatif beserta macam-macamnya 2. Untuk mengetahui secara detail gangguan identitas, amnesia, fugue disosiataif dan gangguan deprsonalisasi 3. Untuk mengetahui sindrom apa yang terkait dengan budaya 4. Untuk mengetahui pandangan teoritis mengenai gangguan disosiatif 5. Untuk mengetahui penanganan yang tepat bagi individu yang mengalami gangguan disosiatif 6. Untuk mengetahui gangguan somatoform 7. Untuk mengetahui gangguan gangguan nyeri konversi, hipokondriasis, gangguan dismorfik tubuh, dan gangguan somatisasi, 8. Untuk mengetahui pandangan teoritis mengenai gangguan somatoform 9. Untuk mengetahui penanganan yang tepat bagi individu yang mengalami gangguan somatoform. 2 bisa diambil ketika individu mengalami gangguan

BAB II PEMBAHASAN

I.

Gangguan Disosiatif Ketika individu merasa terlepas dari dirinya sendiri atau dari lingkungan sekelilingnya,

hampir seperti mengalami mimpi atau hidup dalam suasana seperti dalam film yang di putar dengan gerak lambat, hal inilah yang disebut pengalaman disosiatif. Sebelum membahas gangguan disosiataif secara menyeluruh, terdapat empat macam gangguan disosiatif yaitu : Gangguan Identitas Disosiatif Amnesia Disosiatif Fugue Disosiatif Gangguan Depersonalisasi

A. Gangguan Identitas Disosiatif Gangguan identitas Disorder adalah gangguan kepribadian ganda, yang terkadang juga disebut sebagai Kepribadian terpecah . Seorang manusia satu tubuh, memiliki dua, tiga , empat kepribadian bahkan lebih. Seseorang yang memiliki ganguan ini terkadang bisa sadar atau dalam keadaan yang tidak sadar akan keberadaan kepribadian satu dengan kepribadian yang lainnya. Sebenarnya pada abad ke 19 an awal abad ke 20 dari kasus kasus yang ada di Los Angeles hanya melibatkan dua kepribadian., namun seiring berkembangnya waktu yang berjalan, kasus kasus di Kanada rata rata memiliki 15 hingga 16 kepribadian alter perorang, ini berdasarkan hasil penelitian terbesar yang dilakukan oleh Ross, N Orton, dan Nozney pada tahun 1989, ketiga peneliti ini berhasil mengumpulkan 236 lamporan kasus dengan gangguan identitas disosiatif. Dapat dikatakan banyak macam macam atau bervariasi kasus kasus gangguan identitas disosiatif ini. Ada dari beberapa kasus gangguan ini, kepribadian utama tidak sadar akan kehadiran kepribadian Alter, namun kepribadian Alter tahu akan kepribadian utama seperti pada kasus Kenneth Bianchi, ada pula yang kepribadian utama sadar akan hadirnya kepribadian Alter, dan tidak sedikit yang akhirnya sedang bersaing, untuk menjadi yang lebih menonjol, namun ada kasus yang lain kepribadian utama maupun kepribadian Alter saling tidak sadar akan kehadiran kepribadian satu dengan yang lainnya. Dan terkadang

terdapat satu kepribadian yang dominan atau inti dari kepribadian yang lainnya. Pada umumnya kepribadian Alter, mencakup anak dari beragam usia, remaja, dewasa, dengan jenis kelamin yang berbeda, pekerja seks komersial, laki laki homoseksual, serta wanita lesbian. Ciri ciri dari gangguan Identitas Disorder adalah : 1) Sedikitnya dua kepribadian yang berbeda ada dalam diri seseorang, dimana masing masing memiliki pola yang relatif kekal dan berbeda dalam memersepsikan, memikirkan, dan berhubungan dengan lingkungan serta self. 2) Dua atau lebih dari kepribadian ini secara berulang mengambil kontrol penuh atas perilaku individu itu. 3) Ada kegagalan untuk mengingat kembali informasi pribadi penting yang terlalu subtansial untuk dianggap sebagai lupa biasa. 4) Gangguan ini tidak dianggap terjadi karena efek zat psikoaktif atau kondisi medis umum ( Jefrrey S. Nevid, Spencer A Rhatus & Beverly Greene. 2003. Hal.204). B. Amnesia Disosiatif Amnesia Disosiatif adalah sauatu gangguan dimana seseorang mengalami lupa, atau kehilangan ingatan tentang peristiwa peristiwa yang traumatis yang dapat membangkitkan emosi negatif yang begitu kuat, atau penuh tekanan. Gangguan Amnesia Disosiatif ini ada dua macam yakni : 1) Amnesia Selektif : lupa hanya pada hal hal khusus yang mengganggu yang terdapat dalam sesuatu periode waktu tertentu ( Jeffry S. Nevid. 2003 ) 2) Amnesia menyeluruh Orang melupakan seluruh kehidupannya, siapa dirinya, apa kerjaannya, dimana tempat tinggalnya, dengan siapa ia tinggal. Orang dengan amnesia disosiatif ini disebabkan karena orang tersebut telah mengalami hal yang traumatis, yang membuat ia tertekan, ketakutan, atau bersumber dari rasa bersalah yang besar. Dan perlu di ingat amnesia disosiatif ini bukan di sebabkan oleh kondisi medis yang terganggu atau kerusakan pada otak atau pengaruh dari obat obatan dan alkohol. C. Fugue Disosiatif Fugue disosiatif adalah suatu gangguan yang membuat si penderita melakukan perjalanan dilokasi baru, bukan dimana ia tinggal sebelumnya. Melakukan perjalanan di lokasi baru dengan menggunakan identitas baru, nama baru, dapat melakukan bisnis baru , berinteraksi dengan orang orangt bahkan tidak jarang seseorang yang menderita fugue ini

menjadi orang yang sukses di lingkungan baru, dengan melupakan atau tidak dapat mengingat kembali informasi yang sudah ia alami sebelumnya. Seseorang pada tahap fugue ini dapat bertahan di lingkungan yang baru dalam beberapa hari, beberapa minggu dan bulan. Namun jika terjadi hinggah beberapa tahun ini masih jarang terjadi. Jangka waktu tidak ada yang dapat, memastikan, karena secara tiba tiba kesadaran akan identitas dirinya yang dulu dapat muncul dalam waktu beberapa jam atau beberapa hari. Dan ketika identitas nya yang dulu muncul kembali, identitas yang dulu tersebut tidak dapat mengingat semua hal yang muncul pada saat seseorang tersebut mengalami fugue. Meskipun kejadian ini terdengar agak aneh, tahap fugue ini tidak dapat dikatakan psikotik, karena orang yang memiliki gangguan ini dapat berfikir dan berprilaku secara cukup normal, tentu pada tahap fugue di kehidupan barunya. Gangguan ini relatif jarang terjadi dan diyakini hanya mempengaruhi 2 dari 1000 orang dalam populasi umum ( APA, 2000 ). D. Gangguan Depersonalisasi Gangguan Dipersonalisasi adalah gangguan yang melibatkan perasaan tidak nyata mengenai dunia luar, merasa terpisah dari dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya, merasa mengalami perubahan yang aneh dalam melihat dan mempersepsikan lingkungan sekitar, dan perubahan aneh tersebut seperti melihat orang dan objek dapat tampak berubah ukuran menjadi kecil/ besar, dapat pula mengeluarkan suara berbeda, kemudian merasa pusing dan merasa takut apa yang ia alami akan berdampak menjadi ia gila/depresi. Ini adalah bentuk dari kecemasan seseorang itu sendiri yang sedang mengalami gangguan depersonalisasi serta dampak dari stress berat yang dialami. Sehingga ketika stress berat, gangguan ini dapat muncul secara tiba tiba dan menghilang secara bertahap. Meski demikian ketika orang sedang mengalami depersonalisasi orang tersebut tetap ingat dengan baik siapa namanya, dimana ia tinggal, bahkan ketika kondisi depersonalisasi sedang berlangsung dan ia merasa sangat tidak nyaman, ia dapat merasakan ketidak nyamanan tersebut. Hal inilah yang membedakan gangguan depersonalisasi dengan gangguan amnesia serta fugue disosiatif. Ciri ciri Diagnostik dari gangguan Depersonalisasi : 1) Pengalaman yang berulang atau persisten dari depersonalisasi, yang ditandai oleh perasaan terpisah dari proses mental atau tubuh seseorang. Seolah olah seseorang menjadi pengamat luar dari dirinya sendiri. Pengalaman ini dapat memilki karakteristik seperti mimpi.

2) Individu tersebut mampu mempertahankan pengujian realitas ( contohnya : membedakan kenyataan dari ketidaknyataan ) saat keadaan depersonalisasi. 3) Pengalaman depersonalisasi menyebabkan di stres atau hendaya pribadi yang signifikan pada satu atau lebih area fungsi yang penting, seperti fungsi sosial atau pekerjaan. 4) Pengalaman depersonalisasi tidak dapat dimasukkan kedalam gangguan lain atau tidak merupakan efek langsung dari obat obatam, alkohol, atau kondisi fisik ( Jefrrey S. Nevid, Spencer A Rhatus & Beverly Greene. 2003. Hal.210). E. Sindrom Disosiatif yang Terkait dengan Budaya Ada beberapa gangguan disosiatif di bagian lain dunia yang terkait dengan budaya, yaitu yang pertama amok . Amok adalah sebuah sindrom yang terdapat di budaya Asia Tenggara dan kepulaun Pasifik yang menggamabarkan satu tahap trancelike di mana seseorang tiba-tiba menjadi sangat kacau sevara emosional dan menyerang orang lain atau merusak objek secara kejam. Orang yang mengamuk nantinya akan mengaku bahwa ia tidak ingat episode tersebut. Kemudian gangguan yang lainnya adalah zar yang terdapat di Negara-negara Afrika Utara dan Timur Tengah untuk menggambarkan penguasaan roh-roh dalam diri orang yang mengalami tahap disosiatif. Saat tahap ini terjadi seseorang (individu) akan melakukan hal-hal atau mengalami suatu hal yang tidak biasa seperti berteriak-teriak hingga membentur-benturkan kepalanya ke dinding. F. Pandangan Teoritis Pandangan Psikodinamika

Amnesia disosiatif dapat menjadi suatu fungsi adaptasi dengan cara memutus atau mendisosiasi alam sadar seseorang dari kesadaran akan pengalaman traumatis atau sumber sumber lain dari nyeri maupun konflik psikologis ( Dorahy, 2001). Bagi teoritikus psikodinamika, gangguan disosiatif melibatkan penggunaan represi secara besar besaran, yang menghasilkan terpisahnya implus yang tidak dapat diterima dan ingatan yang menyakitkan dari kesadaran seseorang. Dalam amnesia dan fugue disosiatif ego melindungi dirinya sendiri dari kebanjiran kecemasan dengan mengeluarkan ingatan ingatan yang mengganggu atau dengan mendisosiasi implus yang menakutkan yang bersofat seksual atau agresif. Pada kepribadian ganda, orang mungkin mengkspresikan implus implus yang tidak dapat diterima ini melalui pengembangan kepribadian pengganti. Pada depersonalisasi, orang berada diluar dirinya sendiri aman dengan cara menjauh dari pertarungan emosional di dalam dirinya.

Pandangan Kognitif dan Belajar

Teoretikus belajar dan kognitif memandang disosiasi sebagai suaru respon yang dipelajari yang meliputi proses tidak berfikir tentang tindakan atau pikiran yang mengganggu dalam rangka menghindari rasa bersalah dan malu yang ditimbulkan oleh pengalaman pengalaman itu. Kebiasaan tidak berfikir tentang masalah masalah tersebut secara negatif dikuatkan dengan adanya perasaan terbebas dari kecemasan, atau memindahkan perasaan bersalah (malu). Sejumlah teoretikus sosial kognitif, seperti (almarhum) Nicholas Spanos, percaya bahwa gangguan identitas disosiatif adalah suatu bentuk bermain peran yang dikuasai melalui observasi, yang melibatkan proses pembelajaran dan reinforcement, ini tidak sama dengan berpura pura atau malingering, orang dapat secara jujur mengorganisasikan pola perilaku mereka menurut peran tertentu yang telah mereka amati. Mereka juga dapat menjadi sangat mendalami permainan peran mereka hingga lupa bahwa mereka sedang menampilkan sebuah peran. Disfungsi Otak

Mungkinkah perilaku disosiatif berhubungan dengan disfungsi orang yang mendasarinya? Penelitian mengenai hal ini masih berada dalam tahap tahap awal, namun bukti terakhir menunjukkan perbedaan dalam aktivitas metabolisme otak antara orang dengan gangguan depersonalisasi dan subjek yang sehat (Simeon dkk., 2000). Penemuan ini, yang menekankan pada kemungkinan adanya disfungsi dibagian otak yang terlibat dalam persepsi tubuh, dapat membantu menjelaskan perasaan terpisah dari tubuh yang diasosiasikan dengan depersonalisasi ( Jefrrey S. Nevid, Spencer A Rhatus & Beverly Greene. 2003. Hal.211-212) G. Penanganan Gangguan Disosiatif Gangguan disosiatif ini tidak semua pendekatan dapat di aplikasikan dalam terapi menangani gangguan ini. Dalam beberapa kepustakaan banyak yang mengemukakan penanganan gangguan disosiatif menggunakan pendekatan psikoanalisa yaitu teknik-teknik yang di gunakan adalah asosiasi bebas, analisis mimpi, analisis tranferensi. Laporan mengenal terapi dalam bentuk lain selain terapi psikoanalitik, seperti terapi perilaku dan yang lainnya belum terdapat laporan, seperti yang dilaporkan oleh Maldonad dkk., (1998) Amnesia , fugue, serta depersonalisasi, klinisi akan berfokus pada penanganan kecemasan dan depresinya. Dan untuk gangguan identitas disosiatif lebih berfokus pada penanganan usaha mengintegrasikan kepribadian Alter menjadi sebuah struktur kepribadian yang kohesif.

Psikonalis berusaha membantu orang yang menderita gangguan identitas disosiatif untuk mengungkapkan dan belajar mengatasi trauma trauma masa kecil. Mereka sering merekomendasikan membangun kontak langsung dengan kepribadian kepribadian Alter Contohnya : Wilbur (1986) menekankan bahwa analisis dapat bekerja dengan kepribadian apapun dengan mendominasi sesi terapi. Semua kepribadian dapat diyakini bahwa terapis akan membantu mereka untuk memahami kecemasan mereka dan untuk membangkitkan pengalaman traumatis mereka secara aman dan menjadikan pengalaman penghalaman tersebut disadari. Wilbur meminta para terapis untuk selalu mengingat bahwa kecemasan yang dialami saat sesi terapi dapat menyebabkan perpindahan kepribadian, karena kepribadian Alter diasumsikan terbentuk sebagai alat untuk mengatasi kecemasan yang tinggi. Namun bila terapi berhasil, self akan mampu bergerak melalui ingatan traumatis dan tidak lagi perlu melarikan diri ke dalam self pengganti untuk menghindari kecemasan yang diasosiasikan dengan trauma. Dengan demikian, integrasi dari kperibadian menjadi dimungkinkan ( Jefrrey S. Nevid, Spencer A Rhatus & Beverly Greene. 2003. Hal.213). Disaat terapi dilakukan, melakukan hipnosis atau benzodiazepin ( obat penenang ringan ) bisa digunakan untuk mengingat kembali berbagai kejadian. II. Gangguan Somatoform

Kata Somatoform diambil dari bahasa Yunani soma, yang berarti tubuh. Dalam gangguan somatoform (somatoform disorder) orang akan memiliki simtom fisik yang mengingatkan pada gangguan fisik, namun tidak ada bukti abnormalitas fisik yang dapat ditemukan sebagai penyebabnya. Berikut ini kita akan membahas beberapa tipe utama dari gangguan somatoform yaitu gangguan konversi, hipokondriasis, gangguan dismorfik tubuh dan gangguan somatisasi. A. Gangguan rasa nyeri Seseorang yang mengalami rasa sakit atau nyeri yang sangat berlebihan sehingga membuat seseorang tersebut mengalami distress karena disebabkan oleh faktor faktor psikologis ini disebut gangguan rasa nyeri. Ketika faktor faktor psikologis sedang tidak baik rasa nyeri tersebut akan muncul dan menetap. Rasa nyeri tersebut juga akan menimbulkan konflik atau stress, yang membuat individu tersebut menghindari aktivitas yang tidak menyenangkan dan mendapatkan perhatian serta simpati yang tidak akan diperoleh jika individu tersebut dalam keadaan sehat sehingga fenomena ini rasa nyeri yang diderita akan hilang ketika keadaan psikologis individu tersebut dalam keadaan baik.

B. Gangguan Konversi Gangguan Konversi (conversion disorder) ditandai dengan adanya suatu perubahan besar dalam fungsi fisik maupun hilangnya fungsi fisik namun tidak ada penyebab organis yang jelas. Pada penemuan medis pun tidak ditemukan penyebab simtom ataupun kamunduran fisik tersebut.simtom tersebut tidak dibuat dengan sengaja, simtom tersebut akan muncul secara tiba-tiba apabila dalam situasi yang tertekan. Simtom konversi pertama muncul dalam konteks maupun telah diperburuk oleh adanya konflik yang dialami individu untuk memberikan dukungan pada mereka bahwa simtom itu sangat berhubungan dengan faktor psikologis. Orang yang mengalami gangguan konversi itu tidak melakukan malingering. Gangguan konversi dinamakan juga dengan gangguan histerikal atau histeria yang berperan penting dalam perkembangan psikoanalisis freud. Gangguan histerikal atau konversi pada masa sekarang sudah relatif jarang terjadi akan tetapi pada masa freud gangguan tersebut lebih umum terjadi. Pola simtom yang klasik akan mengakibatkan terjadinya kelumpuhan epilepsi, masalah dalam kordinasi, kebutaan, tunnel vision,kehilangan indra pendengaran dan penciuman,serta kehilangan rasa pada anggota badan. Kebanyakan orang yang telah didiagnosis menderita gangguan konversi memiliki masalah neurologis nyata yang tidak terdiagnosis. C. Hipokondriasis Adapun ciri yang utama dari penderita Hipokondriasis adalah adanya fokus maupun rasa ketakutan bahwa simtom fisik yang dialami seseorang merupakan akibat dari suatu penyakit serius yang mendasarinya, rasa takut tersebut akan tetap ada meskipun telah diyakinkan oleh medis bahwa ketakutan itu tidak berdasar. Orang yang mengalami Hipokondriasis secara tidak sadar berpura-pura akan simtom fisiknya. Mereka pada umumnya mengalami ketidak nyamanan fisik, sering kali melibatkan sistem pencernaan yang bercampur antara rasa sakit dan nyeri. Orang yang mengalami Hipokondriasis itu berbeda dengan orang yang mengalami gangguan konversi, penderita Hipokondriasis tidak melibatkan kehilangan fungsi fisiknya dan mereka sangat peduli pada simtom dan hal-hal yang membuatnya ketakutan, sedangkan penderita gangguan konversi sikap mereka tidak peduli terhadap simtom yang muncul pada dirinya. Individu-individu

penderita hipokondriasis mengalami sensasi-sensasi fisik yang lumrah dialami semua orang, akan tetapi mereka dengan cepat akan menfokuskan perhatiannya pada sensasi-sensasi tersebut. Hipokondriasis biasanya muncul pada usia 20 tahun dan 30 tahun, meskipun dapat muncul pada usia berapa pun. Orang yang mengalami Hipokondriasis mereka akan menjadi sangat sensitif terhadap setiap perubahan yang ringan dalam sensasi fisik. Kecemasan akan simtom fisik pun dapat menimbulkan sensasi fisik tersendiri. Penderita Hipokondriasis dapat berubah menjadi marah ketika dokter mengatakan kepada mereka bahwa penyebab simtomsimtom fisik tersebut muncul itu dikarenakan oleh ketakutan pada dirinya sendiri. Orang yang mengalami Hipokondriasis memiliki kekhawatiran yang lebih terhadap kesehatannya, karena lebih bnayak simtom psikiatrik yang ada dalam dirinya dan mereka mempresepsikan tentang kesehatannya lebih buruk dibandingkan dengan orang lain. Orang yang terdiagnosis menderita Hipokondriasis akan terus memperlihatkan bukti adanya gangguan tersebut ketika mereka diwawancarai ulang 5 tahun kemudian, sebagian besar mereka memiliki gangguan psikologis yang lain terutama depresi mayor dan gangguan kecemasan. Hipokondriasis ini secara umum dianggap paling biasa diantara orang yang sudah lanjut usia. D. Gangguan Dismorfik Tubuh Orang yang mengalami gangguan dismorfik tubuh (body dismorfphic disorder/BDD) mereka sangat terpaku pada kerusakan fisik yang mereka bayangkan bahkan membesarbesarkan dalam hal penampilan mereka. Mereka akan bnayak enghabiskan waktu mereka berjam-jam hanya untuk memeriksa dirinya di depan cermin dan mereka akan mencoba cara untuk memperbaiki setiap kerusakan yang dipersepsikan, bahkan menjalani operasi plastik yang tidak mereka butuhkan. Orang yang mengalami gangguan dismorfik tubuh percaya bahwa orang lain memandang dirinya jelek atau berubah bentuk menjadi rusak bahkan menilai bahwa penampilan fisik mereka yang tidak menarik mendorong orang lain untuk berfikir yang negatif dan mempersepsikan karakter maupun harga diri mereka sebagai seorang manusia. Orang yang mengalami gangguan dismorfik tubuh atau yang lebih dikenal dengan sebutan BDD akan sering menunjukkan pola berdandan, menata, dan mencuci rambut mereka secara kompulsif dalam rangka untuk mengoreksi setiap kerusakan yang telah dipersepsikannya. Dan bagian anggota tubuh yang sangat mereka khawatirkan adalah bagian 10

wajah. Gangguan dismorfik tubuh banyak terjadi pada perempuan, gangguan tersebut berawal pada masa remaja akhir dan penderita gengguan tersebut sering kali depresi, fobia sosial serta gengguan kepribadian. Sedangkan pada pria mereka akan lebih terpicu untuk meyakini bahwa tubuh mereka terlalu pendek, penisnya terlalu kecil atau bulu badannya terlalu banyak. E. Gangguan Somatisasi Gangguan Somatisasi (somatization disorder) dikenal sebagai sindrom Briquet, yang dicirikan dengan adanya keluhan somatik yang bermacam-macam dan berulang yang muncul sebelum usia 30 tahun, akan tetapi biasanya muncul ketika usia remaja, yang bertahan tidak selama beberapa tahun. Adapun keluhan-keluhan yang biasanya terjadi adalah mencakup sistem-sistem organ yang berbeda. Orang yang mengalami gangguan somatisasi akan sering memanfaatkan setiap pelayanan dari medis. Setiap keluhan yang mereka keluhkan tidak dapat dijelaskan oleh penyebab fisik ataupun melebihi apa yang dapat diharapkan dari setiap masalah fisik yang telah diketahuinya. Bahkan keluhan-keluhan tersebut tampak meragukan atau dibesarbesarkan dan orang yang mengalami gangguan somatisasi akan sering kali menerima perawatan dari medis dan sejumlah dokter. Gangguan somatisasi itu muncul ketika usia remaja atau dewasa awal dan merupakan gangguan yang kronis bahkan berlangsung sepanjang hidup mereka, dan gangguan itu muncul dalam konteks gangguan psikologis yang lain terutama pada gangguan kecemasan dan gangguan depresi. Wanita yang mengalami gangguan somatisasi lebih memungkinkan mereka untuk melaporkan setiap penganiyaan seksual yang mereka alami semasa kecil dari pada kelompok wanita pembanding yang mengalami gangguan mood. Adapun ciri utama dari orang yang mengalami gangguan somatisasi mereka akan terganggu oleh simtom itu sendiri, berbeda dengan orang yang mengalami hipokondriasis mereka akan ketakutan akan penyakit yang mereka derita dan setiap apa yang memungkinkan diindikasikan oleh simtom tubuh. Dan gengguan somatisasi itu memiliki fitur-fitur yang sama dengan hipokondriasis termasuk juga sejarah sakit kronis dalam keluarga tau cedera yang dialami pada masa kanak-kanak. F. Pandangan Teorotis Teori Psikoanalisis

11

Dalam teori psikoanalisis gangguan konversi merupakan posisi yang paling utama karena Freud dalam menangani kasus tersebut ia telah mengembangkan sebagian besar konsep utama dari psikoanalisis. Gangguan konversi tersebut telah memberikan kesempatan besar bagi Freud untuk menggali konsep ketidaksadaran. Breuer dan Freud dalam Studies in Hysteria mengatakan bahwa gangguan konversi itu akan terjadi apabila seseorang telah mengalami suatu peristiwa atau kejadian yang menciptakan ketegangan emosi yang sangat besar, akan tetapi efek dari ketegangan emosinya tersebut tidak diekspresikan dan ingatannya tentang kejadian tersebut telah dipisahkan dari pengalaman kesadarannya. Teori Psikodinamika

Pada abad ke 19 telah terjadi perdebatan mengenai gangguan histerikal antara teori psikologi dan biologi meskipun hanya sementara dari simtom-simtom histerikal yang melalui hipnosis oleh Charcot, Breuer, dan Freud yang telah memberikan kontribusi pada keyakinan bahwa penyebab histeria yang bersifat psikologis dan bukan fisik itu telah mendorong Freud untuk mengembangkan teori pikiran yang tidak disadari. Freud meyakini bahwa ego yang berfungsi untuk mengontrol setiap implus seksual dan agresif yang mengamcam atau tidak dapat diterima yang timbul dari id melalui mekanisme pertahanan diri seperti represi. Menurut teori psikodinamika simtom histerikal memiliki fungsi yaitu memberikan orang tersebut keuntungan primer dan keuntungan sekunder. Keuntungan primer (primary gains) yang didapat adalah memungkinkan individu untuk mempertahankan konflik internal direpresi. Orang yang mengalami keuntungan primer mereka akan sadar akan simtom fisik yang muncul akan tetapi bukan konflik. Keuntungan sekunder (secondary gains) dapat memungkinkan individu untuk menghindari tanggung jawab yang telah membebani dan untuk mendapatkan dukungan dan bukan ejekan maupun celaan dari orang yang berada desekitarnya. Teori Belajar

Teori Psikodinamika dan teori belajar telah sepakat bahwa simtom-somtom dalam gangguan konversi dapat mengatasi kecemasan. Para pakar teori psikodinamika telah mencari penyebab dari kecemasan dalam konflik-konflik yang tidak disadari. Sedangkan para pakar teori belajar menfokuskan pada hal-hal yang secara langsung menguatkan simtom dan peran sekundernya dalam membantu individu menghindari atau melarikan diri dari situasi yang tidak nyaman atau situasi yang membangkitkan kecemasan. 12

Dalam pandangan teori belajar simtom dari gangguan konversi dan

gangguan

somatoform lain juga membawa keuntungan atau hal-hal yang me-reinforcing pada pera sakitnya tersebut. Orang yang mengalami gangguan konversi dapat terbebaskan dari tugas maupun tanggung jawab mereka seperti bekerja maupun tugas mereka sebagai orang yang sudah berumah tangga. Orang yang mengalami gangguan konversi tersebut akan mendapatkan simpati serta dorongan yang penuh dari orang terdekat maupun dari orang lain yang berada disekitarnya. Dalam teori belajar ini menganggap bahwa orang yang menderita gangguan kenversi itu adalah orang yang berpura-pura, dan pada penderita hipokondriasis maka orang tersebut akan terganggu oleh pikiran-pikiran yang obsesif dan menimbulkan kecemasan mengenai kesehatan mereka alami. Teori Kognitif

Para pakar teori kognitif telah berpendapat bahwa beberapa kasus hipikondriasis itu dapat mewakili sebuah tipe dari strategi self-handicapping yaitu suatu cara menyalahkan kinerja yang rendah pada kesehatan yang buruk. Orang yang menderita hipokondriasis memiliki kecenderungan untuk membuat gunung dari kerikil yaitu dengan cara membesarkan signifikansi dari keluhan fisik yang minor. Para tokoh teori kognitif juga berpendapat bahwa hipokondriasis dan gangguan panik itu sering kali terjadi secara bersamaan, dan memiliki penyebab yang sama yaitu dalam hal cara berfikir yang terdistorsi dimana yang membuat orang tersebut salah mengartikan perubahan kecil dalam sensasi tubuh sebagai tanda dari bencana yang akan terjadi. G. Penanganan Gangguan Somatoform Pendekatan penanganan yang telah dirintis oleh Freud sebagai psikoanalisis dimulai dengan penanganannya terhadap histeria yang sekarang diistilahkan dengan gangguan konversi. Pendekatan behavioral sering digunakan untuk menangani konversi dan gangguan somatoform yang menekankan pada menghilangkan sumber dari reinforcement sekunder yang dapat dihubungkan dengan keluhan-keluhan fisik. Akan tetapi pendekatan behavioral dapat mengajarkan anggota keluarga untuk selalu menghargai setiap usaha untuk memenuhi tanggunga jawab dan mengabaikan tuntutan dan keluhan. Dengan terapi behavioral juga dapat bekerja secara lebih langsung dengan penderita gangguan somatoform, serta membantu orang tersebut belajar dalam mengatasi stress atau kecemasan dengan cara yang adaptif.

13

Perlu juga adanya pendekatan yang halus dan suportif untuk memberikan reward kepada mereka yang mengalami gangguan somatoform atas setiap perbaikan maupun pemulihan kondisi sekecil apapun yang berhasil mereka capai dalam proses pemulihan. Penyembuhan dengan berbicara kepada mereka juga sangat diperlukan dan diterapkan karena seseorang yang mengalami gangguan somatoform tersebut sering kali menderita kecemasan dan depresi. Selain itu harus dilakukan pula pendekatan yang berupa penguatan kepada mereka supaya kondisi mereka akan lebih membaik dan bukan tetap dengan kondisinya tersebut. Penanganan untuk penderita gangguan hipokondriasis

Penanganan pada penderita gangguan hipokondriasis ini difokuskan pada tindakan mengidentifikasi dan menantang kesalahan interpretasi yang terkait dengan sakit terhadap sensasi fisik serta menunjukkan kepada penderita tersebut tentang cara menciptakan berbagai gejala dengan menfokuskan perhatian mereka pada daerah-daerah tubuh tertentu. Dengan gejala-gejala yang mereka ciptakan sendiri maka banyak penderita yang dapat diyakinkan bahwa kejadian-kejadian tersebut dapat mereka kontrol dan dikendalikan. Selain itu pendekatan kognitif behavioral sangat efektif untuk mengurangi berbagai masalah hipokondriasis yaitu dengan cara mengarahkan perhatian selektif orang yang mengalami gangguan hipokondriasis tersebut ke simtom-simtom fisik dan tidak mendorong mereka untuk mencari kepastian medis bahwa ia tidak sakit. Terapis untuk Rasa Nyeri

Tidak ada gunanya membuat perbedaan antara rasa nyeri psikogenetik dengan rasa nyeri yang benar benar disebabkan oleh faktor medis, sebab pada umumnya rasa nyeri ini selalu dikaitkan dengan kedua komponen di atas. Terapi dapat bertujuan untuk mengubah pemikiran pesimistis. Selain itu, pengobatan juga hendaknya dikaitkan dengan strategi yang mengalihkan penderita gangguan ini dari gejala-gejala tubuh dan meyakinkan mereka untuk mencari kepastian medis bahwa mereka tidak sakit. Pengobatan yang efektif cenderung memiliki hal-hal berikut : memvalidasikan bahwa rasa nyeri itu adalah nyata dan bukan hanya ada dalam pikiran penderita pelatihan relaksasi memberi reward kepada mereka yang berperilaku tidak seperti orang yang mengalami rasa nyeri ( menahan rasa nyeri )

14

Secara umum disarankan untuk mengubah fokus perhatian dari apa yang tidak dapat dilakukan oleh penderita akibat rasa nyeri yang dialaminya, tetapi mengajari penderita bagaimana caranya menghadapi stress, mendorong untuk mengerjakan aktivitas yang lebih baik, dan meningkatkan kontrol diri, terlepas dari keterbatasan fisik atau ketidaknyamanan yang penderita rasakan. Penanganan untuk penderita gangguan somatisasi

Pada dasarnya gangguan somatisasi itu sangat sulit untuk ditangani dan tidak ada penanganan yang terbukti efektif untuk menyembuhkan sindrom tersebut. Akan tetapi ada upaya yang dapat dilakukan untuk membantu menyembuhkan penderita gangguan somatisasi tersebut yaitu dengan cara konsentrasi untuk memberikan keyakinan, mengurangi stress yang mereka alami serta mengurangi frekuensi setiap perilaku untuk mencari bantuan atau mengunjungi terutama kepada medis. Selain itu teknik yang berupa training relaksasi dan berbagai bentuk terapi kognitif juga akan membantu dalam mengurangi berbagian fikiran yang merusak orang tersebut serta dengan cara Biofeedback yang mencakup pengendalian terhadap proses-proses fisiologisnya. Penanganan untuk penderita gangguan konversi

Karena gangguan konversi memiliki banyak persamman dengan gangguan somatisasi maka banyak prinsip yang digunakan dalam penanganan yang sama. Salah satu strategi prinsip adalah dengan mengidentifikasi dan memperhatikan setiap kejadian kehidupan traumatik yang pernah mereka alami apabila hal tersebut masih ada dan memungkinkan untuk menghilangkan sumber-sumber keuntungan sekunder. Para terapis harus berusaha keras untuk mengurangi semua konsekuensi yang berifat menguatkan atau mendukung setiap gejala-gejala konversi. Selain itu terapis harus berinteraksi dan bekerja sama dengan penderita maupun keluarganya untuk mengeluarkan setiap perilaku self-defeating yang seperti itu.

15

BAB III PENUTUP Kesimpulan

Gangguan disosiatif adalah di mana seseorang merasa terlepas dari dirinya dan lingkungan sekelilingnya. Seseorang atau individu tersebut terkadang seperti mengalami mimpi atau seperti hidup di suasana dalam film. Adapun bentuk-bentuk gangguan disosiatif adalah gangguan identitas disosiatif, amnesia disosiatif, fugue disosiatif, dan gangguan depersonalisasi.

Gangguan identitas disosiatif adalah gangguan di mana seseorang mempunyai kepribadian alter (kepribadian pengganti) selain kepribadiannya yang utama. Kepribadian alter ini bisa menjadi beberapa kperibadian yang berbeda-beda. Dalam satu individu bisa mempunyai satu, dua, tiga, empat, bahkan lebih kepribadian alter. Ketika seorang individu sedang menjadi seseorang dengan kepribadian alter, kperibadian alter tersebut mengetahui, mengenal, dan dapat merasakan adanya kepribadian utama, namun kepribadian utama tidak mengenal, tidak tahu, tidak mengingat siapa kepribadian alter. Kemudian berbeda dengan amnesia disosiatif, amnesia disosiatif adalah suatu gangguan di mana seseorang itu dapat lupa, tentang peristiwa-peristiwa yang pernah di alami yang membuat ia menjadi trauma. Amnesia disosiatif ini ada dua macam yaitu amnesia selektif di mana indvidu lupa pada hal-hal khusus yang mengganggu dalam suatu periode tertentu, sedangkan amnesia menyeluruh adalah individu yang melupakan seluruh hidupnya sekalipun dengan namanya. Selanjutnya fugue disosiatif adalah Individu yang mengalami gangguan yang membuat ia melakukan perjalanan ke lokasi baru, ia biasanya akan tinggal di lingkungan baru, dengan nama baru, identitas sosial baru, serta status sosial yang baru juga dengan segala aktivitas yang baru juga. Dan yang terakhir adalah gangguan depersonalisasi di mana individu merasa mengalami perubahan yang aneh dalam melihat, dan mempresepsikan lingkungan sekitar. Gangguan depersonalisasi ini dapat muncul ketika seseorang tersebut mengalami kecemasan yang berlebihan dan keadaan stress yang dialami.

Gangguan disosiatif terdapat di budaya Asia Tenggara dan Kepulauan Pasifik disebut amok sebuah sindrom yang terdapat di di mana seseorang menjadi sangat kacau secara emosional dan menyerang orang lain. Di negara-negara Afrika Utara dan Timur Tengah

16

terdapat istilah lain yaitu zar sebuah sindrom yang menggambarkan penguasaan roh-roh dalam diri seseorang yang sedang mengalami disosiataif. Penanganan yang diambil dalam menangani individu yang mengalami gangguan disosiatif adalah di ambil langkah dengan cara berfokus pada penanganan kecemasan dan depresinya terlebih dahulu. Kemudian dapat melakukan terapi dengan menggunakan pendekatan psikoanalisa yaitu asosiasi bebas, analisis mimpi, dan analisis tranferensi. Selanjutnya dapat diambil langkah dengan memberikan terapi hipnosis dan juga pemberian obat penenang ringan seperti benzodiazepin untuk mengingat kembali berbagai kejadian. Gangguan somatoform adalah gangguan di mana individu akan memiliki simtom fisik yang mengingatkan pada gangguan fisik, namun tidak ada bukti abnormalitas fisik yang dapat ditemukan sebagai penyebabnya. Adapun tipe-tipe gangguan somatoform seperti gangguan nyeri adalah rasa nyeri atau sakit yang dirasakan berlebihan, di rasa sangat nyeri diakibatkan oleh faktor-faktor psikologis yang kurang baik. Ketika faktor-faktor psikologis seseorang baik, rasa nyeri tersebut akan hilang. Kemudian gangguan dismorfik tubuh adalah seseorang yang mengalami rasa khawatir yang berlebihan akan penampilan fisiknya (area tubuh). Selanjutnya hipokondriasis adalah gangguan di mana individu ketakutan mengalami suatu penyakit serius yang menetap, sebaliknya hasil medis tidak menunjukkan adanya penyakit yang serius yang dirasa oleh individu tersebut. Berbeda dengan gangguan koversi. Gangguan konversi adalah gangguan di mana individu mengalami kebutaan, kelumpuhan, atau kerusakan neurologis lainnnya yang sejenis diakibatkan oleh keadaaan psikologisnya yang buruk. Yang terakhir adalah gangguan somatisasi di mana terdapat kerusakan simtom-simtom atau keluhan somatik yang berulang yang sangat perlu perhatian medis, namun gangguan ini tidak disebabkan oleh gangguan fisik yang jelas. Perlu adanya beberapa kriteria untuk mendiagnosa bahwa seorang individu mengalami gangguan somatisasi.

17

DAFTAR PUSTAKA Davison, Gerald C, dkk. 2010. Psikologi Abnormal. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada Durrand, V. Mark & David H. Barlow. 2006. Psikologi Abnormal. Yogyakarta : Pustaka Belajar S.Nevid, Jeffrey, dkk. 2003. Psikologi Abnormal. Jakarta : Erlangga

18

Job description : Anita Eka Hasiani : Mengetik seluruh makalah Majidah Nur Mawaddah : Meresume Gangguan disosiatif : Meresume Gangguan somatoform

(Ngeprint makalah : iuran dari ketiga anggota kelompok)

19