Makalah

PENYAKIT POLIO YANG MENYERANG USIA BALITA

Disusun Oleh

RESKIALWANI

112401047

FMIPA DIII KIMIA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

TAHUN AJARAN 2012/2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan pemilik semesta alam dan sumber segala pengetahuan atas bimbingan dan penyeraan-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul “PENYAKIT POLIO YANG MENYERANG ANAK-ANAK”. Penyusunan karya tulis ini dimaksudkan untuk mengembangkan pola pemikiran baru guna meningkatkan sumberdaya manusia dalam hal ini generasi anak-anak serta menimbulkan kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat sekitar khususunya permasalahan pendidikan. Kami sangat menyadari karya tulis ini masih jauh dari kesempuranaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun kami sangat harapakan untuk kesempurnaan dari kekurangankekurangan yang ada, sehingga karya tulis ini bisa bermanfaat. Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu kami dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini.

Medan,13 Januari 2012

Penulis,

............... Pengolahan dan Penyajian Data...................................................5................................................................. Pengumpulan Data..............................................................6........................... Sampel.............................................. Pengobatan..........5....3............ 3........................................................ 1....DAFTAR ISI Cover....................................................... BAB 1 PENDAHULUAN 1..................... 2...................... Lokasi dan waktu penelitian.................................................................................. Pemeriksaan Penunjang.... .............................................. 1................2....3............... Perumusan Masalah............4..................... 2......................... Kata Pengantar.................................................. 2 2 2 3 0 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2..............2.................. Diagnosis............................................................................ 2........... Tujuan Penelitian...................................................................8................. Instrumen Penelitian...............................................................4... 3............6............................................................. Tinjauan Umum....................................... 3.......................................................................................................7............................................... 2.............................................................................................................................................. Latar belakang....4. Jenis Penelitian............................................ Populasi dan Sampel........................1............. 2........................................ Manfaat Penelitian.................. 3............................................... 2............. Diagnosis Penunjang....... 1...............................3..2... 1..... Tanda-tanda klinik dan praklinik..... 15 16 16 16 16 16 16 16 3................................1................................................. 4 4 8 9 10 11 12 13 BAB III METODE PENELITIAN 3............................... 2......... Populasi ....1..................................................... 2........................................................................ Etiologi............... Epidemiologi.........

2........................... Saran............................ Karakteristik responden mengenai wawasan dari polio.5......... 17 IV. Karakteristik responden mengenai wawasan dari polio ............2...... Karakteristik responden berdasarkan imunisasi lengkap.............................. Karakteristik responden berdasarkan tempat imunisasi.........23 4. Karakteristik responden berdasarkan imunisas dasar lengkap .......................... 26 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.25 4....5............ 22 4....... 27 27 28 ..2.............................. 17 IV.........2..................4 Karakteristik Responden berdasarkan tempat imunisasi.........1............ Karakteristik responden melakukan imunisasi pada anaknya.....19 4...........................BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.... DAFTAR PUSTAKA.6 Karakteristik responden mengenai manfaat imunisasi polio..................3...... 21 4.............. 18 IV................ 18 IV....................2......1.................................2..................4.1................. 5..... Pembahasan 4.....2.........3...........2.........................................2........2...1....6.... Karakteristik responden melakukan imunisasi pada anaknya......................... Karakteristik responden berdasarkan pendidikan........ 19 IV.. Karakteristik responden mengenai manfaat imunisasi polio ... Karakteristik responden berdasarkan pendidikan.............24 4................................. Kesimpulan...... Hasil Penelitian IV.......................

memberikan kepada dokter anak. tetanus dan difteria dan mengurangi insiden pertusis. termasuk toksoid difteri dan tetanus dan vaksin pertusis. Maka upaya pencegahan melalui imunisasi merupakan pilihan tepat. pelenyapan poliomyelitis dari Amerika. polio trivalent. pengendalian sebagian besar penyakit dan mortalitas yang mengganggu Amerika Serikat dan Negara-negara lai sampai pertengahan abad ke 20. merupakan upaya pencegahan penyakit-penyakit infeksi yang sangat efektif. dan pemberantasan betul-betul poliomyelitis darp Pasifik Barat.1. Yang menjadi dasar pemikiran perubahan paradigma ini adalah pendapat para ahli dalam pengobatan penyakit infeksi terhadap keterbatasan pengobatan antibiotika. Kemudian ternyata anak tersebut terhindar dari penyakit cacar. Telah dirasakan makin hari makin banyak antibiotika yang tidak mempan lagi menghadapi bakteri penyebab penyakit infeksi berat (resistensi bakteri). Latar Belakang Masalah Sekitar dua puluh tahun terakhir. Dalam pikiran sarjana ini timbullah gagasan untuk melindungi tubuh manusia terhadap penyakit infeksi ganas lainnya. dan meningitis Haemophilus influenza tipe b secara dramatis. Integrasi praktek-praktek imunasasi menjadi pelayanan perawatan kesehatan rutin. parotitis epidemika. seorang anak lelaki berumur 8 tahun.(1) Imunasasi merupakan salah satu cara pencegahan penyakit infeksi serius yang paling efektif-biaya. campak. Ia menggoreskan cairan luka dari sapi yang menderita cacar kepada James Phipps. vaksin . Imunisasi atau sering kali disebut juga vaksinasi. seorang sarjana Inggris.(1) Cikal pemikiran imunisasi ini pertama kali dilaksanakan dalam tahun 1797 oleh Jenner. secara global telah terjadi perubahan paradigma dari “pengobatan ke pencegahan” (dari kuratif ke preventif). sebelum anak menderita penyakit infeksi berat.BAB I PENDAHULUAN 1. imunisasi telah hamper melenyapkan sindroma rubella congenital. vaksin campak. parotitis dan rubella. Di Amerika Serikat. Penggunaan vaksin yang luas membawa pada pemberantasan cacar global. rubella. Lebih dari 50 produk-produk biologis diizinkan di Amerika Serikat dan 11 antigen digunakan untuk imunisasi rutin bayi dan anak-anak.

hepatitis B) atau komponen-komponen organism (misal. kesua pendekatan telah digunakan untuk banyak pennyakit (influenza. seperti agen imunobiologis. stabilsator. subunit influenza). Imunisasi pasif terdiri dari pemberian proteksi sementara melalui pemberian antibody yang dihasilkan oleh eksogen. dan antibody yang mengandung preparat dari donor darah manusia atau binatang. dan injeksi globulin imun untuk tujuan pencegahan spesifik. antibiotic.Hib. polisakharida pneumokokus) atau bahan kapsul gabungan (misal. poliomielitis). Imunisasi pasif terjadi melalui pemindahan antibody transplasenta pada janin. toksoid tetanus) atau endotoksin terikat pada protein pembawa.(2) Defenisi dan mekanisme. diduga menginduksi respons imunologis yang lebih menyerupai respons yang ditimbulkan oleh infeksi alamiah daripada vaksin mati.(2) Imunisasi aktif terdiri dari induksi tubuh untuk mengembangkan pertahanan terhadap penyakit dengan pemberian vaksin atau toksoid yang merangsang isistem imun untuk menghasilkan antibody dan respon imun seluler yang melindungi terhadap agen infeksi. Vaksin yang diaktifkan atau vaksin mati terdiri atas seluruh organism yang diinaktifkan (missal. dan hepatitis B. seorang anak akan terhindar atau hanya bergejala ringan apabila terkena penyakit infeksi berat yang dapat menimbulkan kematian atau kecacatan. toksoid.(2) Pendekatan utama imunisasi aktif adalah penggunaan agen infeksi hidup. yang memberikan proteksi terhadap penyakit selama 3-6 bulan pertama kehidupan. Imunisasi menggambarkan proses yang menginduksi imunitas secara artificial dengan pemberian bahan antigenic. Kebanyakan daria gen ini mengandung pengawet. eksotoksin yang didetoksifikasi saja (missal.(2) Dengan memberikan vaksin. Pemberian agen imunobiologis tidak bisa disamakan secara automatis dengan perkembangan imunitas yang cukup. biasanya dilemahkan dan penggunaan agen yang diinaktifkan atau didetoksifikasi atau ekstraknya atau produk-produk rekombinasi spesifik (hepatitis B). vaksin pertusis). (2) Agen imunisasi meliputi vaksin. dan cairan suspensi. tambahan (adjuvan). Vaksin hidup yang dilemahkan. bahan kapsul yang dapat larut (missal. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh vaksin sangat kecil apabila . Vaksinasi berarti pemberian setiap vaksin atau toksoid.

kelurahan samalewa. Misalnya imunisasi BCG atau hepatitis B tidak menjadi kewajiban di negara amerika serikat. Sedangkan dampak positifnya.2005 kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi justru mengalami peningkatan. Samalewa. peneliti merumuskan masalah mengenai “bagaimana tingkat pengetahuan masyarakat tentang polio di Kel. Pangkajene. yang biasa dipakai untuk menggambarkan kelengkapan imunisasi dasar adalah 78% di tahun 2005. Kab. atau beberapa negara di eropa. Maka untuk anak yamg tinggal di indonesia. Namun di indonesia merupakan imunisasi wajib. Tujuan Penelitian Tujuan dilaksanakan penelitian ini. 1. Namun. Kec. Tetapi angka cakupan imunisasi campak ini belum tentu dapat menggambarkan kelengkapan imunisasi dasar yang sebenarnya. Rumusan Masalah Dalam penelitian ini. Periode Tahun 2010”. berdasarkan data tahun 2001. (2) Melihat kenyataan yang diatas maka saya sebagai peneliti merasa tertarik untuk mengkaji lebih dalam tentangsejauh manah tingkat pengetahuan masyarakt di kampong lejang. meliputi : . karena kejadian penyakit di tiap negara berbeda. 1. angka cakupan imunisasi campak. mengingat penyakit tuberkulosis (TB) dan hepatitis B merupakan penyakit yang banyak dijumpai. Bungoro.3.(2) Di Indonesia Program imunisasi sudah digalakkan sejak tahun 1977. para orang tua harus menaati jadwal imunisasi yang telah di tentukan pemeritahdan ikatan Dokter Anak Indonesia..2. Sedangkan data mengenai cakupan imunisasi sendiri di Indonesia belum begitu jelas.dibandingkan dengan penyakitnya. kecamatan bungoro. kabupaten pangkajene periode 2010. Menurut WHO-UNICEF.(2) Perlu diketahui bahwa pemilihan imunisasi di satu negara dapat berbeda dengan negara lain. imunisasi dapat dikatakan suatu “investasi” untuk menjamin kesehatan di masa depan.

. Kec. Kab. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat tentang polio di Kel. Bungoro. Samalewa. 2. diharapkan akan menjadi pengalaman berharga dalam memperluas wawasan dan pengetahuan tentang tingkat pengetahuan masyarakat kampong lejang tentang polio. 1. 4. Sebagai salah satu sumber informasi bagi instansi terkait. Untuk mengetahuai sampai dimana tingkat pengetahuan masyarakat mengenai polio.1.4. Sehingga diharapkan dapat menghasilkan yang lebih akurat. Bagi peneliti. Manfaat Penelitian 1. Tahun 2010 2. Pangkajene. . Sebagai bahan perbandingan bagi peneliti lain yang berminat melakukan penelitian yang sama pada lokasi dan waktu yang berbeda. Merupakan pengalaman berharga utamanya dalam memperluas wawasan dan menambah pengetahuan khususnya mengenai polio. 3.

(3) Pada tahun 1789 Underwood yang berasal dari Inggris pertama kali menulis tentang kelumpuhan anggota badan bagian bawah (ekstremitis inferior) pada anak. dan P3. Di Amerika Serikat kasus terakhir virus polio liar ditemukan pada tahun 1979. Setelah pelaksanaan PIN tersebut kasus polio di Ondonesia menurun drastic. Tinjauan Umum Kata polio (abu-abu) dan myelon (sumsum). Etiologi Virus polio termasuk dalam kelompok (sub-group) entero virus. dan 1997. Dalam usaha eradikasi polio mencapai kemajuan sangat bermakna semenjak dilakukannya Pekan Imunisasi Nasional (PIN) tiga tahun berturut-turut. Angka kejadian kasus polio secara drastis menurun setelah pemberian vaksin yang sangat efektif. dan sejak itu tak pernah lagi. Pada tahun 1952 penyakit polio mencapai puncaknya dan dilaporkan terdapat lebih dari 21.2. formal dehid. berasal dari bahasa latin yang berarti medulla spinalis.000 kasus polio paralitik. family Picomavindae. Pada saat itu banyak terjadi wabah penyakit pada musim gugur. (3) Di Indonesia imunisasi polio pada program memakai oral polio vaccine (OPV) dilaksanakan sejak tahun 1980 dan tahun 1990 telah mencapai UCI. Dikenal 3 macap serotype virus polio yaitu P1. 2. dan 3) pada tahun 1995.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Pada permulaan abad ke 19 dilaporkan terjadi wabah di Eropa dan beberapa tahun kemudian terjadi di Amerika Serikat. yang kemudian dikenal sebagai poliomyelitis. 2. yaitu pada tahun 1995. Kejadian terakhir dari pemeriksaan laboratorium ditemukan 7 kasus dengan virus polio liar (tipe 1. Virus polio ini menjadi tidak aktif apabila terkena panas. klorin dan sinar ultraviolet.(3) . 1996. Pada hari PIN tersebut telah diimunisasi sebanyak 22 juta anak balita di seluruh Indonesia.1. Penyakit ini disebabkan oleh virus poliomyelitis pada medulla spinalis yang secara klasik menimbulkan kelumpuhan. P2.

kecuali beberapa Negara yang sampai saat ini masih ada transmisi virus polio liar di India . Tanda-tanda klinik dan praklinik Virus polio yang masuk akan berbiak di tenggorokan dan usus. Epidemiologi Infeksi virus polio terjadi di seluruh dunia. Kasus-kasus polio sangat infeksiusdari 7-10 hari sebelum dan setelah timbulnya gejala.Infeksi virus polio pada manusia sangat bervariasi.3. Infeksi virus mencapai puncak pana musim panas. masa inkubasinya adalah 3-6 hari. Namun tidak ada pembawa kuman dengan status karier asimtomatis kecuali pada orang yang menderita defisien system imun. Di Negara-negara Barat. Biasanya. Replikasi di motor neuron terutama terjadi di sungsum tulang belakang yang menimbulkan kerusakan sel dan kelumpuhan serta atrofi otot. tanda-tanda spinal. Program eradikasi polio global secara dramatis mengurangi transmisi polio liar di seluruh dunia. tanda tripod saat duduk. dari gejala yang sangat . tetapi virus polio dapat ditemukan dalam tinja 3 sampai 6 minggu. Selain gejalaklinik yang akut.(3) Virus polio menyebar dari satu orang ke orang lain melalui jalur oro-fecal pada beberapa kasus dapat berlangsung secara oral-oral. Timur Tengah dan Afrika.2. juga dikenal adanya post-polio syndrome (PPS) yang gejala kelumpuhannya terjadi bertahun-tahun setelah infeksi akut. Reservoir virus polio liar hanya pada manusia. sakit pinggang. yang sering ditularkan oleh pasien infeksi polio yang tanpa gejala. eliminasi polio sejak tahun 1991. sedang virus yang berbiak di batang otak akan menyebabkan kelumpihan bulbar dan kelumpuhan pernafasan. untuk Amerika Serikat transmisi virus polio liar berhenti sekitar tahun 1979. sedangkan pada daerah tropis tidak ada bentuk musiman penyebaran infeksi. Brudzinsky atau Kernig. pada kontak antar rumah tangga (yang belum diimunisasi) derajat serokonversinya lebih dari 90%. dan kelumpuhan terjadi dalam waktu 7-21 hari.Pada setiap anak yang dating dengan panas disertai sakit kepala. kekauan oto yang diperjelas dengan tanda head drop. Virus polio sangat menular. dan tanda-tand klinik yang timbul kemudian akan sesuai dengan kerusakan anatomic yang terjadi. kesulitan menekuk leher dan punggung. harus dicurigai kemungkinan adanya poliomeilitis.4.(3) 2.

Diagnosis Diagnosis polio dibuat berdasarkan: 1. sedangkan . atau penderita meninggal. Cara lain adalah menambahkan variable lain misalnya penambahan pola neurologikyang dianggap khas seperti kelumpuhan proksimal. Pemeriksaan virology dengan cara membiakkan virus polio. Pemeriksaan hantaran saraf dan elektromiografi dapat merujuk secara lebih tepat letak kerusakan saraf secara anatomic. Selain biakan. baik liar maupun virus vaksin. Pemeriksaan khusus. misalnya Guillain-Barre syndrome. Sensitifitas menjadi 64% dan spesifitas 82% apabila kita menggunakan variable gabungan dengan menambahkan variable umur di bawah 6 tahun.ringan sampai terjadi paralisis. Selain tatacara laboratorik yang ketat dan standar (dengan kultur sel jaringan). Lumpuh layuh juga dapat disebabkan oleh infeksi dengan enterovirus 71 atau Coxsackie A& atau non-polio-enterovirus yang lain. kualitas specimen sangat mempengaruhi hasil pemeriksaan. identifikasi antigen dilakukan dengan pemeriksaan probe atau sequencing. tidak dingin. adanya panas pada permulaan sakit. Infeksi virus polio dapat diklasifikasikan menjadi minor illness (penyakit dengan gajala ringan) dan major illness (termasuk jenis non-paralitik dan paralitik). Pengamatan gejala dan perjalanan klinik. Pemeriksaan yang teliti dan pengamatan lanjutan yang sangat membantu. unilateral. sehingga dapat mempermudah membedakan polio dengan kelainan kerusakan lower motor neuron lain. perubahan paralisis yang cepat menjadi maksimal (dalam waktu 4 hari).5. 2. Cara ini akan dapat memisahkan kerusakan motor neuron dengan kelainan lain akibat demyelinasi pada saraf tepi. Pada akhir program eradikasi sensitivitas diperlebar dengan memasukkan border-line cases. Banyak sekasli kasus yang menunjukkan gejala lumpuh layuh yang termasuk dalam acute flaccid paralysis.(4) 2. Pemeriksaan lain seperti pemeriksaan MRI dapat menunjukkan kerusakan di daerah kolumna anterior. tidak adanya gangguan sensori. Specimen yang kering. terkontaminasi atau pengambilan sampel setelah 2 minggu setelah lumpuh memberikan hasil biakan negative palsu. yaitu semua penderita yang lumpuh layuh akut. 3. Kasus klinik mirip polio (poliocompatibel) adalah kasus yang setelah 60 hari masih mempunyai paralisis residual tanpa informasi medic yang jelas.

Cairan Serebrospinal Pada 90% kasus mayor illness. Karena complement fixing antibody mempunyai waktu yang lebih pendek dibandingkan filter netralisasi. Sangat membantu bila wabah disebabkan oleh type tertentu atau oleh NPE yang lain.6. Pemeriksaan adanya gejala sisa neurologic (residual paralysis).000-30. Pemeriksaan Serologik Diagnosis poliomeilitis ditegakkan berdasarkan peninggian titer antibody 4x atau lebih antara fase akut dan konvalesens. 4.000/µl dengan predominan PMN. misalnya mencari kelumpuhan partial atau kelemahan otot pada satu atau sekelompok otot. sama seperti virus lainnya. untuk mencari deficit neurologic. Bilamana ada keraguan sebaiknya dilanjutkan dengan pemeriksaan elektrodiagnostik. dan kembali normal dalam sebulan. Darah Tepi Perifer Tidak ada pemeriksaan yang spesifik untuk diagnosis poliomeilitis pada gejala awal. C.pemeriksaan likuor memberikan gambaran sel dan bahan kimia (kadar gula dan protein) yang sangat penting untuk menentukan kerusakan yang terjadi pada sel motor neuron. . Pemeriksaan ini dilakukan 60 hari setelah kelumpuhan. dan lebih kuat maka dapat ditentukan adanya infeksi polio baru bial terdapat peninggian tes fiksasi komplemen. selanjutnya dominasi limfosit dan jumlah sel menurun pada minggu ke-2 menjadi 10-15/µl. yaitu dengan cara pemeriksaan uji netralisasi dan uji fiksasi komplemen. Pemeriksaan sebaiknya tepat waktu (jangan diundur). 2. karena kelemahan ini bias menghilang akibat adanya kompensasi oleh otot lain atau perbaikan dari sisa otot yang masih baik. terjadi peningkatan jumlah sel bervariasi 20-300 sel/µl. Pemeriksaan Penunjang A. terdapat penurunan kadar gula likuor dan peninggian kadar protein 30-200mg/dl pada minggu ke2. B. pada umumnya dalan 72 jam pertama terjadi dominasi PMN. Pemeriksaan darah perifer mungkin dalam batas normal atau terjadi leukositosis pada fase akut mayor illness yaitu 10.

Baik coxsachie virus maupun echo virus dilaporkan juga menyebabkan ensefalitis. Likuor jarang menunjukkan pleiositosis dan sering terjadi peningkatan protein likuor > 100 mg/dl. Epidemic neuromistenia (Iceland disease) dan pleurodinia (Bornholm’s disease). 80-90% positif untuk virus polio. Walaupun jarang. Pola epidemiologi. 2. Pada isolasi feses yang diambil 10 hari dari awitan dari gejala neurologic. 4. Ensefalitis akibat virus lain. Diagnosis Banding Untuk menegakkan diagnosis klinis secara tepat terhadap poliomeilitis paralitik agak sulit. apabila dijumpai penyakit akut lain yang menyebabkan nyeri kepala hebat. terutama ngejala dan tanda dari motor neuron.D. yang diikuti kenaikan leukosit pada cairan likuor. Kelainan pada saraf sensorik dan motorik setinggi segmen spinal yang bersangkutan. Paralitis dapat diduga post-infection polyneuropathy (Sindrom Gullain-Barre) jika terdapat sedikit perubahan system saraf sensorik. Isolasi Virus Penderita mulai mengeluarkan virus ke dalam tinja saat sebelum fase paralitik terjadi. tidak dijumpai demam. nyeri leher. jika disertai dengan paralisis yang berat. yang mengalami peradangan.7. Meilitis transversa akut. ADEM (acute demyelinating encephalomyelopathy) 5. abnormalitas likuor yang kurang dan tidak adanya paralisis motor neuron digunakan untuk membedakan dengan poliomyelitis. 2. Diagnosos banding adalah : 1. 3. ddemam dan paralisis flasid yang asimetris tanpa menyebabkan kehilangan sensorik. rasa lemah yang timbul simetris. infeksi dengan virus lain dapat menyebabkan nyeri paralitik yang mirip poliomyelitis paralitik. Pada kasus jarang. oleh karena itu ekskresi terjadi intermiten maka yang sebainya diambil 2 atau lebih specimen dalam beberapa hari. Ekskresi dari faring dan cairan serebrospinal jarang menghsilkan virus dan mempengaruhi cara vaksinasi. . Sindrom Gullain-Barre. Sebagai pegangan praktis. Biasanya pada polineuropati.

sudah terlambat. Mana jemen pengobatan suportif yang baik (respirasi buatan pada anak) gangguan respirasi/kardiovaskuler. Fase Paralitik Selama fase akut dapat diberi analgetik non narkotik. Setelah fase akut lewat.8. Dianjurkan fisioterapi dimulai pada masa konvalesens untuk mencegah kontraktur. Braces mungkin dapat dipakai untuk mengkompensasi kelemahan otot.2. tetapi tergantung penyulit yang terjadi. Konsultasi ortopedi dapat dilakukan segera tetapi operasi. Pemberian cairan suplemen bila per-oral kurang dan pemberian enema bila obstipasi. pada otot yang sakit diberikan kompres buli-buli panas. Inhibisi metabolic untuk mencegah serangan virus ke susunan saraf yang dilakukan invitro tidak dapatdikerjakan pada manusia. bila anak tampak gelisah dapat diberikan sedative ringan seperti diazepam. Pengobatan Terapi poliomyelitis tak ada yang spesifik. mulai dilakukan fisioterapi aktif.(4) A.(4) B. Selain fisioterapi dan ortopedi perlu diperhatikan fungsi yang lain. biasanya dilakukan 1-2 tahun setelah awitan.(4) . dan apat diberikan antipiretik bila demam. Rasa nyeri pada otot dikurangi dengan mengurangi manipulasi. Fase Pre-paralitik Selama epidemic polio semua penderita dengan gejala sistemik yang tak spesifik harus diperhatikan kemungkinan terjadi paralisis. Tirah baring merupakan pengobatan yang penting untuk menjaga terjadinya footdrop. Pemberian immunoglobulin mungkin dapat mencegah penyebaran hematogen ke susunan saraf. tatapi bila fase paralitik telah terjadi.

3.3 Populasi dan Sampel 1. . Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah Ibu yang ada di Kelurahan Samalewa. kecamatan bungoro.1 Jenis Penelitian Jenis Penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yang dimaksudkan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan tentang Polio di kelurahan Samalewa. kabupaten pangkajene. kabupaten Pangkajene. Kabupaten Pangkajene tahun 2010. (15 maret – 24 april tahun 2010). kecamatan Bungoro. 3. Kecamatan Bungoro. Kabupaten Pangkajene periode tahun 2010. Sampel Sampel yang diambil adalah wanita yang memiliki anak di Kelurahan Samalewa .4 Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data melalui.BAB III METODE PENELITIAN 3. Penelitian di laksanakan selama 40 hari. data-data dari internet. 3. 2.2 Lokasi dan waktu penelitian Lokasi penelitian di kelurahan samalewa. Kecamatan Bungoro.

5 Instrumen Penelitian Instrumen atau alat pengumpul data primer yang digunakan adalah kuesioner yang diisi oleh responden.3. Pendidikan.6 Pengolahan dan Penyajian Data Pengolahan data dilakukan secara manual dan elektronik dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi disertai penjelasannya. 3. Imunisasi dan juga menggunakan data sekunder. . berisi kuis Pengetahuan.

Distribusi responden berdasarkan pendidikan Pendidikan Jumlah N % Tidak sekolah 0 0 SD 18 60. Untuk menjamin jawaban responden mendekati validitas dan reabilitas dilakukan : 1. IV.33 . 3. kabupaten pangkajene pada tanggal 15 maret -25 april 2010 dengan jumlah responden 30 orang. Memberikan waktu yang cukup untuk mengisi kuesioner yaitu sekitar 15 menit.00 SMP 7 23. Mengusahakan agar responden menjawab sesuai hati nurani tidak ada paksaan dari orang lain. Selanjutnya. Data yang diperoleh kemudian diolah sesuai dengan tujuan penelitian dan disajikan dan disajikan dalam bentuk table.1. Hasil Penelitian Penelitian dilaksanakan di kelurahan samalewa.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. kecamatan bungoro. setiap jawaban diperiksa dengan saksama secara manual. Karakteristik responden berdasarkan pendidikan Tabel 11. Memberikan penjelasan sebelum dan selama pengisian kuesioner kepada responden. 2.

responden sekolah dasar 18 (60.67 Perguruan Tinggi 0 0 Total 30 100 Sumber : Data primer Table 1 menunjukan bahwa berdasarkan pendidikan. responden sekolah menengah atas 5 (16. Ini menunjukan responden sekolah dasar lebih banyak dibandingkan sekolah menengah pertama dan sekolah menegah atas.SMA 5 16. responden sekolah menengah pertama 7 (23.67%) dan responden perguruan tinggi 0 (0%). responden tidak sekolah 0 (0%). .00%).33%).

00 Tidak 18 60.2. .00 Total 30 100 Sumber : Data primer Table menunjukan bahwa dari 30 responden terdapat 12 (40%) yang melakukan imunisasi pada anaknya dan sebanyak 18 (60%) yang tidak melakukan imunisasi pada anaknya. Distribusi responden melakukan imunisasi pada anaknya Defenisi Imunisasi Jumlah N % Ya 12 40. Karakteristik responden melakukan imunisasi pada anaknya Tabel 12.IV.

33%).33 Total 30 100 Sumber : Data primer Dari table di atas menunjukan bahwa dari 30 responden yang mengetahui imunisasi lengkap hanya 11 (36.4.67) dan yang tidak mengetahui imunisasi dasar lengkap ada 19 (63.67 Tidak 19 63.IV.3. Karakteristik responden berdasarkan tempat imunisasi Tabel 14. IV. Distribusi Responden Mengenai pengetahuan tempat imunisasi . jadi cenderun lebih banyak responden yang tidak mengetahui imunisasi lengkap. Distribusi Responden berdasarkan pengetahuan mengenai imunisasi lengkap Tempat Jumlah N % Baik 11 36. Karakteristik responden berdasarkan imunisasi lengkap Tabel 13.

IV.jika kita tinjau dari dari segi tempat-tempat imunisasi ternyata ada beberapa yang tidak pernah membawa anaknya ke tempat imunisasi.67%). Jadi. Karakteristik responden mengenai wawasan dari polio Tabel 15.Tempat Jumlah N % Rumah Sakit 0 0 Puskesmas 2 6. Distribusi Responden Mengenai wawasan dari polio .67 Posyandu 19 63.33 Tidak pernah 9 30.00 Total 30 100 Sumber : data primer Dari table di atas menunjukan bahwa dari 30 responden yang menggunakan rumah sakit sebagai tempat imunisasi 0 (0%). puskesmas 2 (6. posyandu 19 (63.5.33%) dan yang tidak pernah 9(30%).

6 Karakteristik responden mengenai manfaat imunisasi polio Tabel 16.67 .Defenisi Polio Jumlah N % Baik 11 36.33%) yang tidak mengetahui wawasan dari polio. IV. Distribusi Responden berdasarkan pengetahuan mengenai Manfaat imunisasi polio Manfaat Vaksin Polio Jumlah N % Baik 10 33.33 Total 30 100 Sumber : Data primer Table menunjukan dari 30 responden hanya 11(36%) yang baik mengenai wawasan dari polio dan 19(63.67 Tidak 19 63.33 Tidak 20 66.

33%) yang baik mengetahui manfaat dari imunisasi polio yaitu mencegah terjadinya penyakit lumpuhan dan 20 (66. Kabupaten Pangkajene pada tanggal 15 Maret sampai 24 April 2010.1.67) dan yang tidak mengetahui imunisasi dasar lengkap ada 19 .2. Pendidikan” adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.2. rata-rata responden hanya tamatan Sekolah Dasar. 4.2. Karakteristik responden berdasarkan imunisas dasar lengkap Dari table di atas menunjukan bahwa dari 30 responden yang mengetahui imunisasi lengkap hanya 11 (36. 4. maka jelas dapat kita kerucutkan sebuah visi pendidikan yaitu mencerdaskan manusia. Kecamatan Bungoro. Jika ditinjau dari segi defenisi pendidikan.2. Dari hasil penelitian didapatkan 12 (40%) yang melakukan imunisasi pada anaknya dan sebanyak 18 (60%) yang tidak melakukan imunisasi pada anaknya.67%) yang tidak mengetahui manfaat dari imunisasi polio.3. Karakteristik responden berdasarkan pendidikan Setelah dilakukan penelitian tentang pengetahuan masyarakat tentang polio di Kelurahan Samalewa. Ini menunjukan banyak responden yang tidak melalukan imunisasi pada anaknya. Karakteristik responden melakukan imunisasi pada anaknya Imunasasi merupakan salah satu cara pencegahan penyakit infeksi serius yang paling efektif.2. 4.Total 30 100 Sumber : Data primer Table menunjukan dari 30 responden hanya 10 (33. Pembahasan 4.

(63. Dan adalah kewajiban Orang tua untuk membawa anak-anaknya. ada 8 imunisasi yang perlu dilakukan bagi bayi yang berusia 0 bulan hingga anak berumur 12 tahun. Polio/DPT. Imunisasi ada yang dilakukan dengan cara disuntik. Ini menunjukan masih ada yang belum mengetahui wawasan dari polio. Ini menunjukan tenyata masih ada orang tua yang tidak mengikutkan anaknya untuk imunisasi. posyandu 19 (63. perlu diimunisasi.67%).2. begitu ia dilahirkan. Setiap anak. responden yang menggunakan rumah sakit sebagai tempat imunisasi 0 (0%). campak. (7) 4.67%) yang tidak . ke pusat pelayanan kesehatan masyarakat (Puskesmas) atau rumah sakit. kelumpuhan atau kematian. apalagi dalam kondisi sehat. 4.33%) yang baik mengetahui manfaat dari imunisasi polio yaitu mencegah terjadinya penyakit lumpuhan dan 20 (66. Saat ini. Polio (Poliomielitis) adalah suatu infeksi virus yang sangat menular. puskesmas 2 (6. Ini menunjukkan lebih banyak responden yang tidak mengetahui imunisasi lengkap.6.4 Karakteristik Responden berdasarkan tempat imunisasi Dari data yang diperoleh.2. BCG. yang menyerang seluruh tubuh (termasuk otot dan saraf) dan bisa menyebabkan kelemahan otot yang sifatnya permanen.(8) 4. ada pula yang diteteskan ke mulut.33%) dan yang tidak pernah 9(30%). Karakteristik responden mengenai manfaat imunisasi polio Dari hasil penelitian responden hanaya 10 (33. tetanus fteria dan batuk rejan. Yaitu imunisasi Hepatitis B. berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).33%).33%) yang tidak mengetahui wawasan dari polio. Karakteristik responden mengenai wawasan dari polio Dari hasil penelitian responden hanya 11(36%) yang baik mengenai wawasan dari polio dan 19(63.5. TBC. untuk memperoleh imunisasi sesuai jadwal yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).2.

Bila mengenai otot pernapasan. Nah. Ini menunjukan masih ada masyarakat yang belum mengetahui manfaat dari polio. Setelah demam 2-5 hari.mengetahui manfaat dari imunisasi polio. umumnya akan mengalami kelumpuhan mendadak pada salah satu anggota gerak. imunisasi polio akan memberikan kekebalan terhadap serangan virus polio. . lalu masuk ke aliran darah dan akhirnya ke sumsum tulang belakang hingga bisa menyebabkan kelumpuhan otot tangan dan kaki.Virus polio berkembang biak dalam tenggorokan dan saluran pencernaan atau usus.penderita akan kesulitan bernapas dan bisa meninggal. Namun tak semua orang yang terkena virus polio akan mengalami kelumpuhan.Masa inkubasi virus antara 6-10 hari. tergantung keganasan virus polio yang menyerang dan daya tahan tubuh si anak.

Melihat masih ada masyarakat yang belum mengetahui imunisasi dan polio di Kelurahan Samalewa. Sebagian responden belum mengetahui mana yang termasuk imunisasi dasar lengkap. Meningkatkan penyuluhan mengenai pentingnya penggunaan Imunisasi terutama untuk mencegah anak dari bahaya penyakit infeksi. Berdasarkan tingkat pendidikan rata–rata responden hanya tamatan Sekolah Dasar. 6. Kabupaten Pangkajene dapat dilakukan penelitian ulang bagi peneliti yang berminat sehingga dapat mengengetahui perkembangan pengetahuan masyarakat. 2. penulis dapat memberikan saran sebagai berikut : 1.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. Kesimpulan 1. Kecamatan Bungoro. Sebagian responden belum mengetahui manfaat dari vaksin polio 5. 2. Sebagian responden masih kurang wawasannya mengenai polio. . sebagian besar mengantarkan anak ke posyandu. 3. Saran Berdasarkan kesimpulan di atas. 5. Pengetahuan responden mengeanai tempat imunisasi. 4.2.1. Sebagian responden tidak melalukan imunisasi pada anaknya.

Raanuh. Nelson Texbook of Pediatrics. 2000. 3. Pendidikan [Online].N. 2000.wikipedia.I. 93-132 2. Poorwo Soedarmo. Hipokrates: Jakarta. Waldo E. S. Jakarta. Cited 2010 May 1st available from: http://id. Buku Saku Ilmu Penyakit Paru. Buku Imunisasi Indonesia. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI. Hariyon.G. 4.2001. Nelson. Soeyitno.DAFTAR PUSTAKA 1. 5. Satgas Imunisasi IDI. Buku Ajar Infeksi & Pedatri Tropis. Jakarta.org/wiki/Pendidikan .2. Jakarta. 2002. Buku Kedokteran EGC Vol. Danusantoso Halim.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful