Anda di halaman 1dari 3

HEARTWORKER Aku kembali tersenyum mengingat apa yang kualami hari ini, sekitar beberapa jam yang lalu...

anak itu memang luar biasa... kalau tak boleh kusebut menyebalkan. Terlalu suka bercanda bahkan kadang lupa diri. Hari ini dia kembali menirukan gaya perayunya pemain-pemain OVJ. Mukaku sampai merah menahan malu.. benar-benar .............anak ini. Dan tentu saja aku memberinya hadiah untuk apa yang dia lakukan. Tapi sesuatu yang mengejutkan untukku, ketika aku meninggalkan kelasnya.. dia menahan langkahku dan meminta maaf. kenapa meminta maaf.. ? aku bertanya dengan nada sedatar mungkin.. maksud saya tadi Cuma bercanda bu...... kamu kan tahu saya bukan teman bercanda kamu.. Setelah semua terjadi baru saya sadar, Bu. Dan saya menyesal. Dan setelah menyesal? Saya merasa perlu meminta maaf kepada ibu Aku diam sejenak, sama sekali tidak mengira bahwa dia akan menjawab sedemikian rupa. maafkan saya bu, saya terkadang terlampau bebal dan lupa diri. Aku masih diam, sepertinya dahiku berkerut dan pandanganku menyelidik ke arah wajahnya. saya kira kamu sudah cukup dewasa untuk membedakan mana yang pantas dilakukan dan tidak pantas dilakukan. Maaf Bu... ini bukan pertama kalinya kamu melakukan kesalahan yang sama... tapi saya tahu kamu bisa memperbaiki sikap. Aku memotong kata-katanya dengan suara lunak. Anak itu tersenyum, berterima kasih beberapa kali sedikit berbosa basi dan memohon diri. Kemudian aku pun berlalu. Sebenarnya aku tidak pernah benar-benar marah kepada mereka. Aku hanya ingin mereka menjadi anak-anak yang punya etika dalam bersikap. Walaupun mungkin perilaku ku juga masih belum pantas disebut sebagai seorang guru yang pantas untuk digugu dan ditiru. Tapi aku akan sangat bangga jika anak-anak yang kudidik memiliki perilaku dan sikap lebih baik dari aku. Bukankah kebanggaan seorang guru adalah ketika anak-anak didiknya lebih sukses dari dirinya. Sebenarnya juga aku tidak menyalahkan mereka ketika kadang lupa dalam menempatkan siapa dirinya. Aku memang cenderung suka bercanda. Karena sadar bahwa usia ku dengan mereka hanya terpaut 6 tahunan jadi wajar sekali kalau mereka kadang lupa bahwa aku gurunya, dan bukan saudara perempuannya. Aku tidak meyalahkan mereka, aku juga tidak marah ketika mereka sering curhat, atau sms panjang tentang apa yang baru mereka alami, aku senang membacanya. Mereka memberiku energi khusus yang membuatku selalu bergairah menjalankan kewajibanku. Aku

berusaha keras membangun kedekatanku dengan mereka. Meski aku tetap menyiratkan bahwa aku punya batas juga, salah satunya dengan tidak menerima ajakan mereka berteman dengan mereka di dunia maya. Kalaupun aku mau berteman biasanya Cuma sehari setelah itu aku remove. Alasannya tentu saja aku takut kalau masih ada perilakuku yang tdk pantas. Aku mencintai profesi ini. Banyak hal yang tak dapat aku temui dari profesi lainnya. Ketika berhasil membimbing murid menjadi anak yang pandai, atau kalau sanggup mengembalikan anak yang nakal ke jalan yang baik, kepuasan yang diperoleh merupakan sesuatu yang tak dapat dinilai dengan uang. Apalagi moment ketika mendapatkan ucapan terimaksih yang diucapkan dengan tulus, pada saat-saat seperti itu aku tak pernah bisa menahan rasa haruku. Meski terkadang aku juga tidak bisa melawan rasa kecewaku apalagi kalu ada murid yang terlalu dimanja sehingga setiap kali ditegur guru lalu mengadu kepada orang tuanya dan kemudian orang tuanya datang ke sekolah untuk melampiaskan amarah, atau ketika orang tua selalu menutupi kesalahan anaknya. Meski aku tidak pernah mengalami permasalahan seperti itu, tapi aku bisa merasakan pergolakan batin yang pernah dialami oleh senior-seniorku. Banyak sekali ambisi positif dalam hati kami sebagai guru yang terhambat oleh hal-hal semacam ini. Aku juga yakin bahwa setiap anak yang lahir di dunia ini serupa malaikat murninya. Sehingga sangat membuat prihatin dan sedih, ketika ada remaja yang tetap nakal walaupun pendidikan dirumah sudah mengikuti teori-teori pendidikan yang paling sempurna. Rasanya ingin berteriakteriak di muka umum dan meminta kepada orang tua jangan hanya memberi pendidikan yang hebathebat saja tapi jauh lebih penting adalah memberi contoh dan perhatian yang lebih baik. Untuk apa menyuruh anak belajar mengaji atau semacamnya kalau para orang tua tidak melakukan ibadah keagamaan, tetapi justru memperlihatkan kelakuan yang tidak pantas. Foya-foya, pergaulan bebas, minuman keras dan barangkali korupsi. Walaupun kadang seringkali kami sebagai guru merasakan bahwa kejujuran di lembaga pendidikan pun telah dikalahkan. Tak jarang ini membuat senar jiwa guru bergetar bahkan air matanya deras mengucur. Kadang muncul pertanyaan dalam diriku kenapa orang tidak boleh berpendirian untuk mempertahankan kebenaran atas nama keluhuran budi. Pertanyaan yang kadang membuat jiwaku merasa terguncang, karena aku merasa terbantai tapi tak berdaya untuk melawan. Namun, kemudian aku menyadari bahwa kami hanyalah sebuah onderdil kecil dari kekuasaan yang besar. Atau mungkin lebih kasarnya kadang fungsi kami hanyalah pelayan, aku tidak marah dengan sebutan itu, karena hidup bagiku memang melayani, tapi meski begitu guru adalah pelayan yang bersikap bukan pelayan yang pengekor. Meski ternyata rupanya yang dikehendaki oleh sistem seringkali adalah pelayan-pelayan yang patuh tanpa rasa kritis. Akan tetapi meski begitu aku menekan kekecewaan diri menerima kenyataan yang kuhadapi. Dengan sepenuh hati aku mengabdi untuk pekerjaanku. Aku mencintai pekerjaan, lingkungan dan murid-muridku. Dan aku tahu aku tak dapat berpisah dari semuanya ini. Bahkan untuk mengenang cita-citaku semasa sekolah menengah dulu pun tidak pernah sempat kulakukan lagi, aku terlalu gandrung pada pekerjaanku. Tidak lagi pernah ku pikirkan apakah ini pengabdian atau bukan, yang ada di benakku hanya melayani murid-muridku. Aku hanya ingin mereka mudah menerima pelajaran dariku dan kelak bisa sukses. Bila keinginanku kelak bisa tercapai, aku pasti

bangga. Tak pernah menghiraukan berapa jumplah gajiku, apakah uang itu datang terlalu lambat atau terlalu cepat. Matahari hari ini terlampau rakus menjilati kepalaku, akan tetapi tetap saja aku tidak merasa kepanasan. Kesejukan dihatiku mampu melawan panas matahari pada pukul satu siang, sungguh! (dipersembahkan untuk sahabat-sahabatku... selamat hari guru)