Anda di halaman 1dari 2

Membangun Politik Beretika dan Bermoral

TIGA politikus muda ini memiliki kesamaan visi memperjuangkan masyarakat marjinal. Bagi mereka, politikus muda dan tua tidak harus terdikotomikan. Keduanya malah harus terkombinasi. DUNIA politik bukan hanya milik dan dominasi kaum laki-laki saja. Politikus dari kalangan perempuan pun banyak yang berkibar dengan prestasi tak kalah bersinarnya. Di antaranya Devi Santy Erawaty, dan Andi Mariattang. Keduanya telah mendapat kepercayaan masyarakat. Terbukti, mereka mampu menduduki kursi legislatif provinsi dua periode.

Devi Santy Erawaty termasuk salah satu politikus yang memulai kariernya dari nol. Kerasnya persaingan tak membuatnya patah arang dan terus mengasah kemampuan. Diakuinya, sebagai pendatang, kemampuan materi dan jaringan keluarga nyaris tak dimilikinya. Politikus Partai Keadilan Sejahtera ini tahu persis bahwa menjadi anggota dewan adalah menjalankan amanah rakyat tanpa melihat siapa dan latar belakangnya. Sejak terpilih sebagai legislator pada 2004, Devi menggunakan waktunya menjaring aspirasi rakyat. Dia cukup aspiratif menampung aspirasi dari bawah, khususnya masyarakat di empat kabupaten; Maros, Pangkep, Barru, dan Parepare, yang menjadi basis daerah pemilihannya. Devi banyak belajar dengan mendengarkan keluh kesah warga serta merasa senang bila masyarakat mencurahkan keluhannya. Perempuan yang membidani lahirnya Taman Kanak-kanak Islam Terpadu dan Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Ar Rahmah ini, memang terkenal dekat dengan semua kalangan. Banyak permasalahan di daerah pemilihannya yang diungkapkan dan menyita perhatian publik. Berada di lingkungan parlemen yang begitu maskulin, disadarinya tidak mudah. Strategi khusus perlu dijalankan agar usulannya bisa diterima. Selain affirmative action dan posisi strategis, Devi juga menekankan pentingnya pendidikan politik kader partai dan caleg perempuan. Kelahiran Surabaya, alumni Universitas Lampung ini telah menganggap Sulsel sebagai kehidupannya dan banyak menemukan pembelajaran hidup. Makanya, dia sangat concern pada pembangunan dan pemerintahan di Sulsel. Menurutnya, Pemprov Sulsel di bawah kepemimpinan Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu'mang (Sayang) masih harus bekerja keras menyukseskan program andalannya; pendidikan dan kesehatan gratis. Dua program andalan ini dinilainya masih memiliki banyak kekurangan dan kelemahan. Setiap kunjungannya ke daerah, selalu saja ada warga yang mengeluhkan pendidikan dan kesehatan gratis yang berarti masih ada yang tidak beres dalam pelayanan. Meski demikian, optimisme memperbaiki Sulsel harus terus terbangun di masyarakat. Bagi Devi, sungguh sayang menyimpan bibit pesimisme untuk membangun Sulsel sesuai visinya menjadikan provinsi terkemuka berlandaskan kemandirian lokal. Politisi perempuan lainnya yang juga tetap konsisten menyuarakan aspirasi masyarakat di parlemen adalah Andi Mariattang. Mantan jurnalis dan aktivis non government organization juga banyak menyoroti kebijakan pembangunan di Sulsel yang selalu berubah-ubah sesuai keinginan pemimpin yang menjabat. Dia mencontohkan, rencana pembangunan jangka panjang pada 2004-2009 salah satu strong pointnya adalah pembangunan kawasan terpadu Sudiang. Inilah yang menjadi alasan Kawasan Olahraga Sudiang yang termegah di kawasan timur Indonesia dibangun di daerah ini.

Sayang, setelah pergantian kepemimpinan, rencana itu berubah drastis. Pemimpin baru hadir dengan program baru yang tidak kalah monumental dengan membangun Centre Point of Indonesia (CPI). Kawasan Sudiang pun ditinggalkan dan terbengkalai. Berantakannya pembangunan dari periode ke periode tidak saja membingungkan anggota dewan, tetapi juga membuat masyarakat resah. Mariattang berharap pemerintah daerah bisa lebih fokus pada pelayanan dasar masyarakat. Pemerintah daerah juga diingatkannya agar tidak terjebak pada pencitraan semata. Penghargaan dari luar bagi politikus Partai Persatuan Pembangunan ini tidak bermakna jika masyarakat tidak merasakan dampak apa-apa. Ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia ini berharap Sulsel bisa lebih baik ketika semua elemen punya kesepahaman tentang pembangunan. Siapapun elite yang berkuasa agar tidak mengutamakan kepentingan politiknya. Kendati memiliki banyak catatan terhadap pemerintahan saat ini, Mariattang mengakui pembangunan ekonomi tumbuh dengan baik. Dua tahun terakhir ada akselerasi ekonomi yang menggembirakan. Malang melintang di panggung politik juga dirasakan politikus Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK), Irwan Intje, mantan legislator DPRD Makassar yang kini menjadi legislator DPRD Sulsel. Mantan pengusaha yang beralih ke dunia politik ini meniti karier politik dengan bergabung di Angkatan Muda Pembaharuan Golkar (AMPG) Makassar. Saat Ryaas Rasyid mendirikan PDK, setelah melalui pertimbangan matang, ajakan teman-temannya untuk bergabung akhirnya diterima. Prinsip yang dipegangnya, uang bukan segalanya. Banyak daerah bisa membangun dengan keterbatasannya. Yang paling dibutuhkan adalah kemauan dan semangat. Dua modal inilah yang membuat orang bisa berbuat dan berusaha. Dalam berpolitik, Irwan Intje berpandangan etika dan moral politik sesuatu yang paling mendasar. Fenomena yang terjadi saat ini, kecenderungan yang muncul adalah euforia kekuasaan. Pemimpin cenderung lupa dengan kehadirannya membawa tanggung jawab besar. Banyak gagasan dalam kepala Irwan Intje, termasuk tantangan politikus muda. Tantangan ada bila diciptakan dan selalu menimbulkan dinamika dan kreativitas. Salah satu yang paling mendesak adalah memperbaiki Makassar dan Sulsel. Kultur masyarakat Sulsel pada dasarnya sangat tertib dan patuh. Hanya membutuhkan pendekatan tepat mengarahkan mereka. Bila pendekatannya keliru misalnya dengan kekerasan, maka akan terjadi benturan. Tapi bila menggunakan pendekatan persuasif maka mereka akan luluh. Sulsel dari sisi pembangunan juga butuh terobosan dalam langkah dan pemikiran. Pemimpin harus bisa melihat tren pembangunan, baik kesehatan, pendidikan, maupun sektor lainnya. Jangan sampai seperti saat ini, pembangunan terkesan terlalu formalistik. (harifuddin)

http://news.fajar.co.id/read/98002/127/index.php