Anda di halaman 1dari 34

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penulisan Perkembangan teknologi membawa pengaruh yang sangat besar di dalam perkembangan dan kesiapan suatu negara khususnya dalam menghadapi persaingan global saat sekarang ini. Perkembangan teknologi tidak hanya di bidang teknologi tinggi, seperti: komputer, televisi, dan alat elektronik lainnya, tetapi juga di bidang mekanik, kimia, dan lain sebagainya. Mengingat akan pentingnya hasil dari inovasi yang diperoleh melalui tenaga, pikiran, waktu dan tidak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk sebuah penemuan atau perkembangan teknologi melalui inovasi, maka diperlukan perlindungan atas hak dari kekayaan intelektual yang disebut Paten. Saat ini, teknologi mempunyai peran yang sangat signifikan dalam kehidupan sehari-hari. Negara yang menguasai dunia adalah negara yang menguasai teknologi. Amerika serikat, Jerman, Perancis, Rusia dan Cina merupakan contoh negara yang sangat maju dalam bidang teknologi sehingga mereka mampu memberi pengaruh bagi negara lain. Negara-negara tersebut melindungi teknologi mereka secara ketat. Jadi jika ada seorang mahasiswa asing yang belajar dalam bidang teknologi di negara-negara tersebut, maka dosen tidak menularkan seluruh ilmunya kepada si mahasiswa tersebut. Karena itu, Indonesia perlu merangsang dengan warga negaranya untuk sistem mengembangkan teknologi mengembangkan

perlindungan terhadap karya intelektual di bidang teknologi yang berupa pemberian hak paten.

Tugas Hukum Hak Milik Intelektual

Kata paten, berasal dari bahasa inggris patent, yang awalnya berasal dari kata patere yang berarti membuka diri (untuk pemeriksaan publik), dan juga berasal dari istilah letters patent, yaitu surat keputusan yang dikeluarkan kerajaan yang memberikan hak eksklusif kepada individu dan pelaku bisnis tertentu. Dari definisi kata paten itu sendiri, konsep paten mendorong inventor untuk membuka pengetahuan demi kemajuan masyarakat dan sebagai gantinya, inventor mendapat hak eksklusif selama periode tertentu. Mengingat pemberian paten tidak mengatur siapa yang harus melakukan invensi yang dipatenkan, sistem paten tidak dianggap sebagai hak monopoli. Menurut undang-undang nomor 14 tahun 2001 tentang Paten, Paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada Inventor atas hasil Invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri Invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya. Sementara itu, arti Invensi dan Inventor yang terdapat dalam pengertian di atas, juga menurut undang-undang tersebut, yaitu: Invensi adalah ide Inventor yang dituangkan ke dalam suatu kegiatan pemecahan masalah yang spesifik di bidang teknologi dapat berupa produk atau proses, atau penyempurnaan dan pengembangan produk atau proses, sedangkan Inventor adalah seorang yang secara sendiri atau beberapa ide yang orang yang ke secara dalam bersama-sama kegiatan yang melaksanakan dituangkan

menghasilkan Invensi. Dalam undang-undang ini diatur mengenai syarat paten, jangka waktu berlakunya paten, hak dan kewajiban inventor sebagai penemu invensi, tata cara permohonan hak paten, pegumuman dan pemeriksaan substansif dll. Dengan adanya undang-undang ini maka diharapkan akan ada perlindungn terhadap kerya intelektual dari putra dan putri indonesia.
Tugas Hukum Hak Milik Intelektual 2

B. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka rumusan masalah yang menjadi batasan penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut: 1. Bagaimanakah prosedur pendaftaran Hak Paten? 2. Bagaimana cara pengalihan Hak Paten? 3. Bagaimana perlindungan hukum bagi para pemilik Hak Paten? C. Maksud dan Tujuan Penulisan Maksud dari penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui kajian hukum yang mengatur mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Hak Paten. Sedangkan tujuan dari penulisan tugas makalah ini adalah : 1. Mengetahui dan memahami prosedur pendaftaran Hak Paten. 2. Mengetahui dan memahami cara pengalihan Hak Paten. 3. Mengetahui perlindungan hukum bagi para pemilik Hak Paten. D. Kerangka Pemikiran Paten merupakan perlindungan hukum untuk karya intelektual di bidang teknologi. Karya intelektual tersebut dituangkan ke dalam suatu kegiatan pemecahan masalah yang spesifik di bidang teknologi, yang dapat berupa proses atau produk atau penyempurnaan dan pengembangan produk dan proses. Beberapa istilah yang sering digunakan dalam Paten antara lain: 1. Paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada Inventor atas hasil Invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri Invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya. 2. Invensi adalah ide Inventor yang dituangkan ke dalam suatu kegiatan pemecahan masalah yang spesifik di bidang teknologi

Tugas Hukum Hak Milik Intelektual

dapat berupa produk atau proses, atau penyempurnaan dan pengembangan produk atau proses. 3. Inventor adalah seorang yang secara sendiri atau beberapa orang yang secara bersama-sama melaksanakan ide yang dituangkan ke dalam kegiatan yang menghasilkan Invensi. 4. Pemegang Paten adalah Inventor sebagai pemilik Paten atau pihak yang menerima hak tersebut dari pemilik Paten atau pihak lain yang menerima lebih lanjut hak tersebut, yang terdaftar dalam Daftar Umum Paten. 5. Paten Sederhana adalah invensi yang memiliki nilai kegunaan lebih praktis daripada invensi sebelumnya dan bersifat kasat mata atau berwujud (tangible). Adapun invensi yang sifatnya tidak kasat mata (intangible), seperti metode atau proses, penggunaan, komposisi, dan produk yang merupakan product by process tidak dapat diberikan perlindungan sebagai Paten Sederhana. Namun demikian, sifat baru dalam Paten Sederhana sama dengan Paten biasa yaitu bersifat universal. 6. Hak Prioritas adalah hak Pemohon untuk mengajukan permohonan yang berasal dari negara yang tergabung dalam Paris Convention for the protection of industrial property atau agreement establishing the world trade organization untuk memperoleh pengakuan bahwa tanggal penerimaan di negara asal merupakan tanggal prioritas di negara tujuan yang juga anggota salah satu dari kedua perjanjian itu selama pengajuan tersebut dilakukan dalam kurun waktu yang telah ditentukan berdasarkan Paris Convention tersebut.

Tugas Hukum Hak Milik Intelektual

Lingkup Paten a. Invensi yang dapat diberi Paten Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten, invensi yang dapat dimintakan perlindungan Paten adalah invensi yang: 1. Baru (novelty). Invensi dianggap baru jika pada tanggal penerimaan, invensi tersebut tidak sama dengan teknologi yang diungkapkan sebelumnya (prior art atau the state of art). Pengungkapan bisa berupa uraian lisan, melalui peragaan, atau dengan cara lain yang memungkinkan seorang ahli untuk melaksanakan invensi tersebut 2. Mengandung langkah inventif (inventive step). Yaitu invensi yang bagi seseorang dengan keahlian tertentu di bidang teknik merupakan hal yang tidak dapat diduga sebelumnya dengan memperhatikan keahlian yang ada pada saat permohonan diajukan. 3. Dapat diterapkan dalam industri (industrial applicable). Yaitu invensi dapat diterapkan dalam industri sesuai dengan uraian dalam permohonan. Jika invensi tersebut dimaksudkan sebagai produk, produk tersebut harus mampu dibuat secara berulang-ulang (secara massal) dengan kualitas yang sama, sedangkan jika invensi berupa proses, proses tersebut harus mampu dijalankan atau digunakan dalam praktik. b. Invensi yang tidak dapat di-Paten-kan Sebagai pengecualian, ada invensi-invensi yang tidak dapat dipatenkan. Invensi-invensi tersebut adalah: 1. Proses atau produk yang pengumuman dan penggunaan atau pelaksanaannya kesusilaan.
Tugas Hukum Hak Milik Intelektual 5

bertentangan

dengan

peraturan

perundang-

undangan yang berlaku, moralitas agama, ketertiban umum atau

2. Metode

pemeriksaan,

perawatan,

pengobatan

dan/atau

pembedahan yang diterapkan terhadap manusia dan/atau hewan teori dan metode di bidang ilmu pengetahuan dan matematika. a. Semua makhluk hidup, kecuali jasad renik; b. Proses biologis yang esensial untuk memproduksi tanaman atau hewan, kecuali proses non-biologis atau proses mikrobiologis. Bentuk dan Lama Perlindungan Bentuk perlindungan Paten adalah pemberian hak eksklusif bagi Pemegang Paten untuk: a. Dalam hal Paten produk: membuat, menggunakan, menjual, mengimpor, menyewakan, menyerahkan, atau menyediakan untuk dijual, atau disewakan, atau diserahkan. b. Dalam hal Paten proses: menggunakan proses produksi yang diberi Paten untuk membuat barang dan tindakan lainnya sebagaimana dimaksud dalam hal produk di atas. Jangka waktu perlindungan untuk Paten adalah 20 (dua puluh) tahun tidak dapat diperpanjang, dan untuk Paten Sederhana 10 (sepuluh) tahun juga tidak dapat diperpanjang. Jangka waktu demikian dinilai cukup untuk memperoleh manfaat ekonomi yang wajar bagi pemegang Paten atau Paten Sederhana. Pelanggaran dan Sanksi Untuk kepentingan pendidikan, penelitian, percobaan, atau analisa, termasuk kegiatan untuk keperluan uji bioekivalensi atau bentuk pengujian lainnya, sepanjang tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pemegang Paten, dianggap bukan merupakan pelanggaran pelaksanaan Paten yang dilindungi. Ketentuan ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan bagi pihak yang betulTugas Hukum Hak Milik Intelektual 6

betul memerlukan penggunaan invensi semata-mata untuk penelitian dan pendidikan. Sedangkan yang dimaksud dengan tidak merugikan kepentingan untuk yang wajar yang dari Pemegang Paten adalah agar untuk pelaksanaan atau penggunaan invensi tersebut tidak digunakan kepentingan mengarah kepada eksploitasi kepentingan komersial sehingga dapat merugikan bahkan dapat menjadi kompetitor bagi Pemegang Paten. Selain itu, ketentuan sanksi lainnya antara lain diatur sebagai berikut: Menggunakan membuat, proses produksi menjual, yang diberi Paten, atau menggunakan, mengimpor, menyewakan,

menyerahkan, atau menyediakan untuk dijual atau disewakan atau diserahkannya produk atau proses yang diberi Paten, dipidana penjara paling lama 4 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). Membuat, menggunakan, menjual, mengimpor, menyewakan, menyerahkan, atau menyediakan untuk dijual atau disewakan atau diserahkannya produk atau alat yang diberi Paten sederhana, dipidana penjara paling lama 2 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah). Tindak pidana dalam Paten merupakan delik aduan. E. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam studi ini adalah penelitian deskriptif dengan cara menginventarisasi ketentuan atau peraturan hukum yang berkaitan dengan hak paten. Selain itu dilakukan juga studi pustaka untuk mencari berbagai informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hak paten.

Tugas Hukum Hak Milik Intelektual

F. Sitematika Penulisan Dalam sistematika ini, akan menyajikan atau memaparkan gambaran-gambaran secara singkat mengenai pokok-pokok bahasan dari makalah ini dengan membagi pembahasan kedalam tiga bab, dimana dalam setiap bab dibagi lagi menjadi beberapa sub bab yang antara lain adalah sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN Bab ini merupakan pendahuluan dan juga sebagai pengantar untuk membahas bab-bab selanjutnya, adapun bab ini berisi latar belakang penulisan, identifikasi masalah, maksud dan tujuan penulisan, kerangka pemikiran, metode penelitian, sistematika penulisan. BAB II PEMBAHASAN Dalam bab II ini akan membahas mengenai masalah-masalah yang telah dirumuskan dalam identifikasi masalah pada BAB I poin b. BAB III PENUTUP Bab ini merupakan bab terakhir, maka dalam hal ini penulis akan mencoba memberikan kesimpulan terhadap uraian-uraian yang telah dikemukakan serta saran yang diharapkan dapat membantu di kemudian.

Tugas Hukum Hak Milik Intelektual

BAB II PEMBAHASAN

A. Prosedur Pendaftaran Hak Paten. Untuk prosedur paten di dalam negeri disebutkan, bahwa pemohon paten harus memenuhi segala persyaratan. Dirjen HAKI akan mengumumkannya 18 (delapan belas) bulan setelah tanggal penerimaan permohonan paten. Pengumuman berlangsung selama 6 (enam) bulan untuk mengetahui apakah ada keberatan atau tidak dari masyarakat. Jika tahap pengumuman maka ini terlewati paten dan permohonan paten diterima, pemohon berhak

mendapatkan hak patennya untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun sejak terjadi filling date. Berikut merupakan prosedur pendaftaran hak paten

berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001: 1. Permohonan Paten diajukan dengan cara mengisi formulir yang disediakan untuk itu dalam bahasa Indonesia dan diketik rangkap 4 (empat). 2. Pemohon wajib melampirkan: a. Surat kuasa khusus, apabila permohonan diajukan melalui konsultan Paten terdaftar selaku kuasa; b. Surat pengalihan hak, apabila permohonan diajukan oleh pihak lain yang bukan penemu; c. Deskripsi, klaim, abstrak: masing-masing rangkap 3 (tiga); d. Gambar, apabila ada : rangkap 3 (tiga);
Tugas Hukum Hak Milik Intelektual 9

e. Bukti prioritas asli, dan terjemahan halaman depan dalam bahasa Indonesia rangkap 4 (empat), apabila diajukan dengan hak prioritas. f. Terjemahan uraian penemuan dalam bahasa Inggris, apabila penemuan tersebut aslinya dalam bahasa asing selain bahasa Inggris : rangkap 2 (dua); g. Bukti pembayaran biaya permohonan Paten sebesar Rp. 575.000,- (lima ratus tujuh puluh lima ribu rupiah); dan h. Bukti pembayaran biaya permohonan Paten Sederhana sebesar Rp. 125.000,- (seratus dua puluh lima ribu) dan untuk pemeriksaan substantif Paten Sederhana sebesar Rp. 350.000,(tiga ratus lima puluh ribu rupiah); i. Tambahan biaya setiap klaim, apabila lebih dari 10 klaim:Rp. 40.000,- per klaim. 3. Penulisan deskripsi, klaim, abstrak dan gambar sebagaimana dimaksud dalam butir 2 huruf c dan huruf d ditentukan sebagai berikut: a. Setiap lembar kertas hanya salah satu mukanya saja yang boleh dipergunakan untuk penulisan dan gambar; b. Deskripsi, klaim dan abstrak diketik dalam kertas HVS atau yang sejenis yang terpisah dengan ukuran A-4 (29,7 x 21 cm ) dengan berat minimum 80 gram dengan batas sebagai berikut: dari pinggir atas: 2 cm dari pinggir bawah: 2 cm dari pinggir kiri: 2,5 cm dari pinggir kanan: 2 cm
10

Tugas Hukum Hak Milik Intelektual

c. Kertas A-4 tersebut harus berwarna putih, rata tidak mengkilat dan pemakaiannya dilakukan dengan menempatkan sisinya yang pendek di bagian atas dan bawah (kecuali dipergunakan untuk gambar); d. Setiap lembar deskripsi, klaim dan gambar diberi nomor urut angka Arab pada bagian tengah atas dan tidak pada batas sebagaimana yang dimaksud pada butir 3 huruf b (1); e. Pada setiap lima baris pengetikan baris uraian dan klaim, harus diberi nomor baris dan setiap halaman baru merupakan permulaan (awal) nomor dan ditempatkan di sebelah kiri uraian atau klaim serta tidak pada batas sebagaimana yang dimaksud pada butir 3 huruf b (3); f. Pengetikan harus dilakukan dengan menggunakan tinta (toner) warna hitam, dengan ukuran antar baris 1,5 spasi, dengan huruf tegak berukuran tinggi huruf minimum 0,21 cm; g. Tanda-tanda dengan garis, rumus kimia, dan tanda-tanda tertentu dapat ditulis dengan tangan atau dilukis; h. Gambar harus menggunakan tinta Cina hitam pada kertas gambar putih ukuran A-4 dengan berat minimum 100 gram yang tidak mengkilap dengan batas sebagai berikut: dari pinggir atas: 2,5 cm dari pinggir bawah: 1 cm dari pinggir kiri: 2,5 cm dari pinggir kanan: 1 cm

i. Seluruh dokumen Paten yang diajukan harus dalam lembarlembar kertas utuh, tidak boleh dalam keadaan tersobek, terlipat, rusak atau gambar yang ditempelkan;

Tugas Hukum Hak Milik Intelektual

11

j. Setiap istilah yang dipergunakan dalam deskripsi, klaim, abstrak dan gambar harus konsisten satu sama lain. Permohonan pemeriksaan substantif diajukan dengan cara mengisi formulir yang telah disediakan untuk itu dalam bahasa Indonesia dengan melampirkan bukti pembayaran biaya permohonan sebesar Rp. 2.000.000,- (dua juta rupiah). Dan berdasarkan penjelasan diatas, setelah terdaftarnya hak paten atas nama inventornya, maka menimbulkan hak dan kewajiban bagi pemegang paten, dan hak eksklusif yang akan diperoleh pemegang paten adalah hak untuk melaksanakan sendiri hak paten yang dimilikinya, memberikan hak lebih lanjut kepada orang lain dan hak untuk melarang orang lain untuk melaksanakan patennya tanpa adanya persetujuan dari pemegang paten. B. Cara Pengalihan Hak Paten. Cara pengalihan Paten diatur dalam pasal 66 pasal 68 UU NO. 14 Tahun 2001. sebagai hak milik perseorangan, maka secara hukum, Paten dapat beralih atau dialihkan baik seluruhnya maupun sebagian karena: a. pewarisan; b. hibah; c. wasiat; d. perjanjian tertulis; atau e. sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. Pengalihan Paten harus disertai dokumen asli Paten berikut hak lain yang berkaitan dengan Paten itu. Segala bentuk pengalihan Paten wajib dicatat dan diumumkan dengan dikenai biaya. Pengalihan Paten yang tidak sesuai dengan ketentuan Pasal ini tidak sah dan batal demi hukum.

Tugas Hukum Hak Milik Intelektual

12

Syarat dan tata cara pencatatan pengalihan Paten diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden. Kecuali dalam hal pewarisan, hak sebagai pemakai terdahulu tidak dapat dialihkan. Pengalihan hak wajib dicatat dan diumumkan dengan dikenai biaya. Pengalihan hak tidak menghapus hak Inventor untuk tetap dicantumkan nama dan identitasnya dalam Paten yang bersangkutan. Adapun syarat Pengalihan Hak Paten berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 37 Tahun 2010 tentang Syarat dan Tata Cara Pencatatan Pengalihan Paten (Berlaku sejak 7 Juni 2010) , yaitu: 1. Paten yang beralih atau dialihkan wajb dicatatkan pada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM. 2. Permohonan pencatatan pengalihan paten dapat diajukan oleh pemohon atau kuasanya. Jika pemohon tidak bertempat tinggal; atau tidak berkedudukan tetap di wilayah Negara Republik Indonesia, permohonan pencatatan pengalihan paten harus diajukan melalui kuasanya di Indonesia. 3. Permohonan pencatatan pengalihan paten memuat nomor dan judul paten; tanggal, bulan, dan tahun permohonan; nama dana alamat lengkap pemohon; nama dan alamat lengkap pemegang paten; dan nama dan alamat lengkap kuasa bila permohonan diajukan melalui kuasa. 4. Pencatatan pengalihan paten harus memenuhi sejumlah syarat. Yakni, telah membayar biaya permohonan pencatatan pengalihan paten; telah membayar biaya tahunan atas paten untuk tahun yang sedang berjalan; dan kelengkapan dokumen permohoan pencatatan pengalihan paten.

Tugas Hukum Hak Milik Intelektual

13

5. Dijelaskan pula bahwa terhitung 7 Juni 2010, permohonan pencatatan pengalihan paten yang diterima sebelum ditetapkannya Perpres ini, wajib menyesuaikan dengan Perpres ini. 6. Jika permohonan belum sesuai dengan persyaratan dalam Perpres ini, dalam jangka waktu paling lama 60 hari sejak Perpres ini ditetapkan, DIrektorat Jenderak Hak Kekayaan Intelektual memberitahukan kepada pemohon untuk melengkapi persyaratan dimaksud paling lama 90 hari sejak tanggal pemberitahuan dari Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual. Lisensi Paten Perjanjian lisensi Paten diatur dalam pasal 69- pasal 87 UU No. 14 Tahun 2001.Ada 2 (dua) jenis pengaturan lisensi Paten, yaitu: a. Lisensi Sukarela (voluntary license). Lisensi Sukarela diatur dalam pasal 69 pasal 73 No. 14 Thn 2001. Pemegang Paten berhak memberikan Lisensi kepada pihak lain berdasarkan perjanjian Lisensi. Kecuali jika diperjanjikan lain, lingkup Lisensi meliputi semua perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 berlangsung selama jangka waktu Lisensi diberikan dan berlaku untuk seluruh wilayah Negara Republik Indonesia. Kecuali diperjanjikan lain, Pemegang Paten tetap boleh

melaksanakan sendiri atau memberikan Lisensi kepada pihak ketiga lainnya untuk melaksanakan perbuatan tersebut. Perjanjian langsung perekonomian Lisensi Indonesia tidak boleh memuat yang ketentuan, dapat baik yang

maupun

tidak

langsung, atau

merugikan

memuat

pembatasan

menghambat kemampuan bangsa Indonesia dalam menguasai dan mengembangkan teknologi pada umumnya dan yang berkaitan dengan Invensi yang diberi Paten tersebut pada khususnya.
Tugas Hukum Hak Milik Intelektual 14

Permohonan

pencatatan

perjanjian

Lisensi

yang

memuat

ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus ditolak oleh Direktorat Jenderal. Perjanjian Lisensi harus dicatat dan diumumkan dengan dikenai biaya. Dalam hal perjanjian Lisensi tidak dicatat di Direktorat Jenderal, perjanjian Lisensi tersebut tidak mempunyai akibat hukum terhadap pihak ketiga. b. Lisensi Wajib Lisensi wajib diatur dalam pasal 74 pasal 87 UU No. 14 Thn 2001. Lisensi-wajib adalah Lisensi untuk melaksanakan Paten yang diberikan berdasarkan keputusan Direktorat Jenderal atas dasar permohonan. Setiap pihak dapat mengajukan permohonan lisensiwajib kepada Direktorat Jenderal untuk melaksanakan Paten yang bersangkutan setelah lewat jangka waktu 36 (tiga puluh enam) bulan terhitung sejak tanggal pemberian Paten dengan membayar biaya. Lisensi wajib hanya dapat diberikan apabila: a. Pemohon dapat menunjukkan bukti yang meyakinkan bahwa ia: 1) Mempunyai kemampuan untuk melaksanakan sendiri Paten yang bersangkutan secara penuh; 2) Mempunyai sendiri fasilitas untuk melaksanakan Paten yang bersangkutan dengan secepatnya; dan 3) Telah berusaha mengambil langkah-langkah dalam jangka waktu yang cukup untuk mendapatkan Lisensi dari Pemegang Paten atas dasar persyaratan dan kondisi yang wajar, tetapi tidak memperoleh hasil; dan b. Direktorat Jenderal berpendapat bahwa Paten tersebut dapat dilaksanakan di Indonesia dalam skala ekonomi yang layak dan dapat memberikan manfaat kepada sebagian besar masyarakat.

Tugas Hukum Hak Milik Intelektual

15

Undang-Undang Tentang Pengalihan Paten dan Lisensi BABV PENGALIHAN DAN LISENSI PATEN Bagian Pertama Pengalihan Pasal 66 (1) Paten dapat beralih atau dialihkan baik seluruhnya maupun sebagian karena: a. pewarisan; b. hibah; c. wasiat; d. perjanjian tertulis; atau e. sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. (2) Pengalihan Paten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, huruf b, dan huruf c, harus disertai dokumen asli Paten berikut hak lain yang berkaitan dengan Paten itu. (3) Segala bentuk pengalihan Paten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dicatat dan diumumkan dengan dikenai biaya. (4) Pengalihan Paten yang tidak sesuai dengan ketentuan Pasal ini tidak sah dan batal demi hukum. (5) Syarat dan tata cara pencatatan pengalihan Paten diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden.

Tugas Hukum Hak Milik Intelektual

16

Pasal 67 (1) Kecuali dalam hal pewarisan, hak sebagai pemakai terdahulu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 tidak dapat dialihkan. (2) Pengalihan hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dicatat dan diumumkan dengan dikenai biaya. Pasal 68 Pengalihan hak tidak menghapus hak Inventor untuk tetap

dicantumkan nama dan identitasnya dalam Paten yang bersangkutan. Bagian Kedua Lisensi Pasal 69 (1) Pemegang Paten berhak memberikan Lisensi kepada pihak lain berdasarkan perjanjian Lisensi untuk melaksanakan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16. (2) Kecuali jika diperjanjikan lain, lingkup Lisensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi semua perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 berlangsung selama jangka waktu Lisensi diberikan dan berlaku untuk seluruh wilayah Negara Republik Indonesia. Pasal 70 Kecuali diperjanjikan lain, Pemegang Paten tetap boleh melaksanakan sendiri atau memberikan Lisensi kepada pihak ketiga lainnya untuk melaksanakan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16.

Tugas Hukum Hak Milik Intelektual

17

Pasal 71 (1) Perjanjian Lisensi tidak boleh memuat ketentuan, baik langsung maupun tidak langsung, yang dapat merugikan perekonomian Indonesia atau memuat pembatasan yang menghambat kemampuan bangsa Indonesia dalam menguasai dan mengembangkan teknologi pada umumnya dan yang berkaitan dengan Invensi yang diberi Paten tersebut pada khususnya. (2) Permohonan pencatatan perjanjian Lisensi yang memuat ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus ditolak oleh Direktorat Jenderal. Pasal 72 (1) Perjanjian Lisensi harus dicatat dan diumumkan dengan dikenai biaya. (2) Dalam hal perjanjian Lisensi tidak dicatat di Direktorat Jenderal sebagaimana dimaksud pada ayat (1), perjanjian Lisensi tersebut tidak mempunyai akibat hukum terhadap pihak ketiga. Pasal 73 Ketentuan lebih lanjut mengenai perjanjian Lisensi diatur dengan Peraturan Pemerintah Bagian Ketiga Lisensi-wajib Pasal 74 Lisensi-wajib permohonan. adalah Lisensi untuk melaksanakan Paten yang

diberikan berdasarkan keputusan Direktorat Jenderal atas dasar

Tugas Hukum Hak Milik Intelektual

18

Pasal 75 (1) Setiap pihak dapat mengajukan permohonan lisensi-wajib kepada Direktorat Jenderal untuk melaksanakan Paten yang bersangkutan setelah lewat jangka waktu 36 (tiga puluh enam) bulan terhitung sejak tanggal pemberian Paten dengan membayar biaya. (2) Permohonan lisensi-wajib sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan dengan alasan bahwa Paten yang bersangkutan tidak dilaksanakan atau dilaksanakan tidak sepenuhnya di Indonesia oleh Pemegang Paten. (3) Permohonan lisensi-wajib dapat pula diajukan setiap saat setelah Paten diberikan atas alasan bahwa Paten telah dilaksanakan oleh Pemegang Paten atau Penerima Lisensi dalam bentuk dan dengan cara yang merugikan kepentingan masyarakat. Pasal 76 1) Selain kebenaran alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2), lisensi-wajib hanya dapat diberikan apabila: a. Pemohon dapat menunjukkan bukti yang meyakinkan bahwa ia: b. Mempunyai kemampuan untuk melaksanakan sendiri Paten yang bersangkutan secara penuh; 2) mempunyai sendiri fasilitas untuk melaksanakan Paten yang bersangkutan dengan secepatnya; dan 3) telah berusaha mengambil langkah-langkah dalam jangka waktu yang cukup untuk mendapatkan Lisensi dari Pemegang Paten atas dasar persyaratan dan kondisi yang wajar, tetapi tidak memperoleh hasil; dan 4) Direktorat Jenderal berpendapat bahwa Paten tersebut dapat dilaksanakan di Indonesia dalam skala ekonomi yang layak dan dapat
Tugas Hukum Hak Milik Intelektual 19

memberikan manfaat kepada sebagian besar masyarakat. (2) Pemeriksaan atas permohonan lisensi-wajib dilakukan oleh

Direktorat Jenderal dengan mendengarkan pula pendapat dari instansi dan pihak-pihak terkait, serta Pemegang Paten bersangkutan. (3) Lisensi-wajib diberikan untuk jangka waktu yang tidak lebih lama daripada jangka waktu perlindungan Paten. Pasal 77 Apabila berdasarkan bukti serta pendapat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 Direktorat Jenderal memperoleh keyakinan bahwa jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (1) belum cukup bagi Pemegang Paten untuk melaksanakannya secara komersial di Indonesia atau dalam lingkup wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2), Direktorat Jenderal dapat menunda keputusan pemberian lisensi-wajib tersebut untuk sementara waktu atau menolaknya. Pasal 78 (1) Pelaksanaan lisensi-wajib disertai pembayaran royalti oleh penerima lisensi-wajib kepada Pemegang Paten. (2) Besarnya royalti yang harus dibayarkan dan cara pembayarannya ditetapkan oleh Direktorat Jenderal. (3) Penetapan besarnya royalti dilakukan dengan memperhatikan tata cara yang lazim digunakan dalam perjanjian Lisensi Paten atau perjanjian lain yang sejenis. Pasal 79 Keputusan Direktorat Jenderal mengenai pemberian lisensi-wajib, memuat hal-hal sebagai berikut:
Tugas Hukum Hak Milik Intelektual 20

a. lisensi-wajib bersifat non-eksklusif; b. alasan pemberian lisensi-wajib; c. bukti, termasuk keterangan atau penjelasan yang diyakini untuk dijadikan dasar pemberian lisensi-wajib; d. jangka waktu lisensi-wajib; e. besarnya royalti yang harus dibayarkan penerima lisensi-wajib kepada Pemegang Paten dan cara pembayarannya;syarat berakhirnya lisensi-wajib dan hal yang dapat membatalkannya; f. lisensi-wajib terutama digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasar di dalam negeri; dan g. lain-lain yang diperlukan untuk menjaga kepentingan para pihak yang bersangkutan secara adil. Pasal 80 (1) Direktorat Jenderal mencatat dan mengumumkan pemberian lisensi-wajib. (2) Pelaksanaan lisensi-wajib dianggap sebagai pelaksanaan Paten. Pasal 81 Keputusan pemberian lisensi-wajib dilakukan oleh Direktorat Jenderal paling lama 90 (sembilan puluh) hari sejak diajukannya permohonan lisensi-wajib yang bersangkutan. Pasal 82 (1) Lisensi-wajib dapat pula sewaktu-waktu dimintakan oleh Pemegang Paten atas alasan bahwa pelaksanaan Patennya tidak mungkin dapat dilakukan tanpa melanggar Paten lain yang telah ada.
Tugas Hukum Hak Milik Intelektual 21

(2) Permohonan lisensi-wajib sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dipertimbangkan apabila Paten yang akan dilaksanakan benar-benar mengandung unsur pembaharuan yang nyata-nyata lebih maju dari pada Paten yang telah ada tersebut. (3) Dalam hal lisensi-wajib diajukan atas dasar alasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2): a. Pemegang Paten berhak untuk saling memberikan Lisensi untuk menggunakan Paten pihak lainnya berdasarkan persyaratan yang wajar. b. Penggunaan Paten oleh penerima Lisensi tidak dapat dialihkan kecuali bila dialihkan bersama-sama dengan Paten lain. (4) Untuk pengajuan permohonan lisensi-wajib kepada Direktorat Jenderal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berlaku ketentuan Bab V Bagian Ketiga Undang-undang ini, kecuali ketentuan mengenai jangka waktu pengajuan permohonan lisensi-wajib sebagaimana diatur dalam Pasal 75 ayat (1). Pasal 83 (1) Atas permohonan Pemegang Paten, Direktorat Jenderal dapat membatalkan keputusan pemberian lisensi-wajib sebagaimana dimaksud dalam Bab V Bagian Ketiga Undang-undang ini apabila: a. alasan yang dijadikan dasar bagi pemberian lisensi-wajib tidak ada lagi; b. penerima lisensi-wajib ternyata tidak melaksanakan lisensi-wajib tersebut atau tidak melakukan usaha persiapan yang sepantasnya untuk segera melaksanakannya; c. penerima lisensi-wajib tidak lagi mentaati syarat dan ketentuan lainnya termasuk pembayaran royalti yang ditetapkan dalam
22

Tugas Hukum Hak Milik Intelektual

pemberian lisensi-wajib. (2) Pembatalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicatat dan diumumkan. Pasal 84 (1) Dalam hal lisensi-wajib berakhir karena selesainya jangka waktu yang ditetapkan atau karena pembatalan, penerima lisensi-wajib menyerahkan kembali lisensi yang diperolehnya. (2) Direktorat Jenderal mencatat dan mengumumkan lisensi-wajib yang telah berakhir. Pasal 85 Berakhirnya lisensi-wajib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 atau Pasal 84 berakibat pulihnya hak Pemegang atas Paten yang bersangkutan terhitung sejak tanggal pencatatannya. Pasal 86 (1) Lisensi-wajib tidak dapat dialihkan, kecuali karena pewarisan. (2) Lisensi-wajib yang beralih karena pewarisan tetap terikat oleh syarat pemberiannya dan ketentuan lain terutama mengenai jangka waktu, dan harus dilaporkan kepada Direktorat Jenderal untuk dicatat dan diumumkan. Pasal 87 Ketentuan lebih lanjut mengenai lisensi-wajib diatur dengan Peraturan Pemerintah. C. Perlindungan Hukum Bagi Pemilik Hak Paten. Dalam Pasal 1 angka 13 UU Paten dirumuskan lisensi sebagai izin yang diberikan oleh pemegang paten kepada pihak lain
Tugas Hukum Hak Milik Intelektual 23

berdasarkan perjanjian pemberian hak untuk menikmati manfaat ekonomi dari suatu paten yang diberi perlindungan dalam jangka waktu dan syarat tertentu. Selain melalui perjanjian lisensi, pengalihan paten dapat dilakukan melalui lisensi wajib yang sesuai Pasal 74 sebagai lisensi untuk melaksanakan Paten yang diberikan berdasarkan keputusan Direktorat Jenderal HaKI atas dasar permohonan untuk melaksanakan paten yang telah dilindungi. Oleh karena itu menjadi permasalahan tentang hak eksklusif paten bagi pemegang lisensi wajib, syarat-syarat dan tata cara peralihan hak paten melalui lisensi wajib, dan perlindungan hukum pemilik paten dalam lisensi wajib. Berdasarkan hasil penelitian diketahui hak eksklusif paten bagi pemegang lisensi wajib terbatas pada jangka waktu yang ditetapkan Direktorat Jenderal HKI. Hak eksklusif paten bagi lisensi wajib tidak dapat dialihkan, kecuali karena pewarisan yang tetap terikat oleh syarat pemberiannya dan ketentuan lain terutama mengenai jangka waktu, dan harus dilaporkan kepada Direktorat Jenderal HKI untuk dicatat dalam Daftar Umum Paten dan diumumkan dalam Berita Resmi Paten. Lisensi-wajib dilaksanakan berdasarkan keputusan Direktorat Jenderal HKI atas dasar permohonan dari setiap pihak kepada Direktorat Jenderal untuk melaksanakan Paten yang bersangkutan setelah lewat jangka waktu 36 (tiga puluh enam) bulan terhitung sejak tanggal pemberian Paten dengan membayar biaya, dengan alasan bahwa Paten yang bersangkutan tidak dilaksanakan atau dilaksanakan tidak sepenuhnya di Indonesia oleh Pemegang Paten. Permohonan lisensi-wajib dapat pula diajukan setiap saat atas alasan bahwa Paten telah dilaksanakan oleh pemegang Paten atau penerima lisensi dalam bentuk dan dengan cara yang merugikan kepentingan masyarakat. Namun, sampai saat ini belum pernah dilaksanakan lisensi wajib di Indonesia. Selain peraturan pemerintah
Tugas Hukum Hak Milik Intelektual 24

yang belum ada, juga masih terbatasnya kemampuan atau fasilitas yang dibutuhkan untuk melaksanakan lisensi wajib atas produk yang dibutuhkan tersebut. Perlindungan hukum hak eksklusif pemegang Paten terhadap lisensi wajib di dalam ketentuan UU Paten ditegaskan lisensi wajib dapat berakhir sesuai Pasal 84 karena selesainya jangka waktu yang ditetapkan atau karena pembatalan, atau penerima lisensi-wajib menyerahkan kembali lisensi yang diperolehnya. Dengan berakhirnya lisensi-wajib, maka menurut Pasal 85 berakibat pulihnya hak pemegang atas Paten terhitung sejak tanggal pencatatannya. Selain itu, dalam hal lisensi wajib pemegang paten tidak setuju terhadap besarnya imbalan yang ditetapkan oleh Pemerintah, maka sesuai ketentuan Pasal 102 pemegang paten dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan Niaga. Dalam rangka melindungi pemegang paten, maka tindakan tegas dari pemerintah dalam mencegah terjadinya pelanggaran hak paten itu berupa ganti kerugian bagi pemegang paten yang telah digunakan oleh pihak lain tanpa seizin pemegang paten, dan memerintahkan si pelanggar menghentikan kegiatannya memproduksi barang yang telah dipatenkan, dan juga pemerintah segera menerbitkan Peraturan Pemerintah sebagai peraturan pelaksanaan lisensi paten. Kemudian, kepada para pihak yang melakukan pengalihan atas paten, walaupun dalam Pasal 66 UU Paten tidak secara tegas ditentukan perjanjian pengalihan paten harus dituangkan dalam akta notaris, maka demi kesempurnaan dari perjanjian itu sebaiknya dilakukan di hadapan notaris sebagai pejabat umum pembuat akta otentik. Penyelesaian sengketa hak paten melalui Pengadilan Niaga diatur dalam Pasal 117 Undang Undang paten yang mana pihak yang berhak atau yang menjadi subjek paten (diatur dalam Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 12) dapat menggugat kepada pengadilan niaga
Tugas Hukum Hak Milik Intelektual 25

jika suatu paten diberikan kepada pihak lain selain dari yang berhak. Pengadilan Niaga dalam Undang-undang paten diberi

kewenangan untuk menyelesaikan sengketa melalui Pengadilan Niaga, diharapkan ketentuan yang abstrak didalam peraturan perundang undangan akan menjadi konkret dan efektif. Dalam rangka memaksimalkan penegakan hukumnya, Undang Undang mengatur hal hal sebagai berikut : - Pengadilan Khusus. - Penetapan Sementara. - Hukum Acara Khusus. - Upaya Hukum Kasasi. - Ganti Rugi. Di atas telah disinggung, Pengadilan Niaga sebagai Pengadilan Khusus yang berada di dalam lingkungan peradilan umum. Sebagai peradilan khusus dilengkapi dengan organ berupa Hakim yang bersertifikasi dan di didik secara khusus, ia berasal dari Hakim Hakim Pengadilan Negeri yang berpengalaman, dan Hakim Ad-Hoc yang berasal dari para pakar dan profesional dibidang perkara perniagaan. Hakim Hakim sebagai pejabat yang bertugas dan berwenang menerapkan ketentuan hak paten sebagaimana diatur dalam Undang Undang. Seperti halnya badan peradilan lainnya, Pengadilan Niaga juga diberi mandat menyelenggarakan kekuasaan kehakiman, suatu kekuasaan yang mandiri yang mempunyai kewenangan menyelenggarakan peradilan secara jujur dan adil. Tugasnya adalah menerima, memeriksa, mengadili setiap perkara yang diajukan kepadanya (termasuk didalamnya perkara perkara dibidang paten).
Tugas Hukum Hak Milik Intelektual 26

Sebagai Hakim Niaga yang memeriksa sengketa paten harus memahami kasus dan kriteria perlindungannya, yakni : 1. Apakah termasuk objek yang dilindungi. 2. Apakah termasuk kriteria yang dikecualikan dari perlindungan. 3. Apakah memenuhi persyaratan yang dilindungi. 4. Apakah terdaftar di negara tujuan dimana perlindungan

diharapkan. 5. Sedangkan penyebab perselisihan dalam sengketa hak paten lazimnya adalah : - Ketidak jelasan status kepemilikan. - Penggunaan hak paten tanpa seizin pemilik. - Tidak dipenuhinya perjanjian lisensi hak paten. Dengan sarana Pengadilan Niaga yang dipandang memahami kriteria sengketa paten diharapkan keadilan benar benar tercapai dan memuaskan. Idealnya setiap putusan Hakim mengandung 3 (tiga) unsur, yaitu : 1. Unsur kepastian hukum. 2. Unsur kemanfaatan. 3. Unsur keadilan. Untuk memaksimalkan terwujudnya nilai nilai kepastian hukum, kemanfaatan dan keadilan, maka Hakim dalam menjatuhkan keputusan seyogyanya menguasai seluk beluk metode penerapan hukum seperti metode penafsiran, konstruksi, penghalusan hukum dan sebagainya. Sehubungan dengan tugas Hakim dalam
27

pelaksanaan fungsi kekuasaan kehakiman, Retnowulan Sutantio


Tugas Hukum Hak Milik Intelektual

menyatakan otonomi kebebasan mencakup hal hal sebagai berikut : 1. Menafsirkan peraturan perundang undangan. 2. Mencari dan menemukan azas azas dan dasar hukum. 3. Mencipta hukum baru apabila menghadapi kekosongan peraturan perundang undangan. 4. Dibenarkan pula melakukan contra legem, apabila ketentuan peraturan perundang undangan bertentangan dengan kepentingan umum, dan 5. Mengikuti otonomi yang bebas untuk mengikuti yurisprudensi. Sebelum suatu perkara hak paten masuk ke Pengadilan dan didaftarkan, maka atas permintaan pihak yang merasa dirugikan, Pengadilan Niaga dapat menerbitkan surat penetapan sementara untuk upaya perlindungan terhadap pemilik hak paten untuk mencegah kerugian yang lebih besar dalam hal ada pelanggaran hukum yang dilakukan oleh pihak lain terhadap hak paten miliknya. Diatur dalam Pasal 125 Undang-Undang Tentang Paten. Sebagaimana diketahui, hak paten merupakan sistem hukum yang masih sangat muda di Indonesia baik dari sisi regulasi maupun implementasinya. Sistem hak paten berkembang di negara negara industri maju dan menjadi sistem yang bersifat global dan terharmonisasi. Demikian halnya dengan penetapan sementara merupakan hal baru di Indonesia, sehingga perlu belajar dari praktik praktik yang sudah matang teruji diberbagai negara maju. Pengadilan di negara negara maju mengenal beberapa jenis putusan / penetapan seperti Anton Pillar Order, Mareeva Injuction dan Interlocutory. Anton Pillar Order : adalah putusan yang memberikan kewenangan kepada
Tugas Hukum Hak Milik Intelektual 28

Penggugat untuk melakukan inspeksi ke tempat lokasi Tergugat dimana pelanggaran dilakukan / barang barang hasil pelanggaran disimpan. Mareeva Injuction : adalah putusan yang memberikan kewenangan kepada Penggugat untuk meretensi aset aset yang diperlukan untuk pemeriksaan perkara. Interlocutory : adalah putusan putusan sela yang terkait dengan perintah Pengadilan kepada pihak yang berperkara tindakan untuk selama melakukan proses atau tidak HKI melakukan suatu perkara

dipersengketakan masih berlangsung. Undang Undang Hak Paten merupakan ketentuan yang abstrak yang sesungguhnya merupakan rencana sesuatu tata hukum yang dikehendaki. Peraturan tersebut menjadi in concreto manakala diterapkan dalam suatu peristiwa hukum tertentu dalam putusan Hakim. Putusan Hakim akan bergantung kepada pembuktian para pihak yang hukum acaranya diatur dalam hukum acara perdata ditambah beberapa ketentuan khusus yang diatur dalam peraturannya. Di dalam hukum acara perdata dianut prinsip actori incumbit probatio siapa yang mengaku mempunyai hak harus dibebani dengan beban pembuktian. Selain itu terdapat azas hukum : equal justice under law, suatu perlakuan yang sama terhadap para pihak, yang bermakna siapa yang lemah pembuktiannya harus dikalahkan. Dalam rangka membuktikan dan mendukung dalil gugatannya para pihak dapat mengajukan alat alat bukti seperti : 1. Surat surat; 2. Saksi saksi; 3. Persangkaan; 4. Pengakuan; dan 5. Sumpah; (periksa Pasal 164 HIR dan Pasal 284 Rbg.)
Tugas Hukum Hak Milik Intelektual 29

Membuktikan berarti memberikan kepastian secara yuridis, dengan sarana alat bukti, menetapkan secara pasti apa yang terjadi secara konkret dengan jalan mempertimbangkan atau memberikan alasan alasan logis, sehingga sampai pada kesimpulan peristiwa peristiwa tertentu dinyatakan benar atau dinyatakan tidak benar. Pada gilirannya para pihak dapat memperoleh gambaran yang jelas mengenai proses pengambilan keputusan dan alasan alasan yang menjadi dasar pengambilan putusan tersebut. Putusan yang baik mengandung pertimbangan yang lengkap, akurat dan jelas. Hukum acara khusus juga terkristal dalam kekhususan prosedur bagi penyelesaian sengketa dibidang hak paten di Pengadilan Niaga yaitu adanya tenggang waktu yang ketat: 1. Penyampaian gugatan kepada Ketua Pengadilan. 2. Mempelajari berkas gugatan dan menetapkan hari sidangnya. 3. Pemanggilan para pihak untuk bersidang. 4. Pemeriksaan di persidangan. 5. Putusan harus diucapkan paling lama dalam 90 hari setelah pendaftaran gugatan. 6. Penyampaian putusan kepada para pihak. Putusan Pengadilan Niaga dalam sengketa hak paten terbuka upaya hukum Kasasi ke Mahkamah Agung. Kekhususan ditingkat Kasasi sebagai berikut : 1. Tenggang waktu pengajuan Kasasi : paling lambat 14 hari. 2. Tenggang waktu penyampaian Memori Kasasi : paling lambat 7 hari sejak tanggal permohonan. 3. Pengiriman Memori Kasasi kepada pihak Termohon Kasasi : paling lambat 2 hari setelah diterima Memori Kasasi. 4. Pengajuan Kontra Memori Kasasi paling lambat 7 hari setelah
Tugas Hukum Hak Milik Intelektual 30

penerimaan Memori Kasasi. Pengiriman Kontra Memori Kasasi kepada pihak lawan (Pemohon Kasasi) paling lambat 2 hari. 5. Pengiriman berkas perkara ke Mahkamah Agung paling lambat 14 hari setelah pengiriman Kontra Memori Kasasi tersebut di atas. 6. Mahkamah Agung wajib mempelajari berkas perkara Kasasi dan menetapkan hari sidang paling lambat 7 hari setelah permohonan Kasasi diterima oleh Mahkamah Agung. 7. Putusan Kasasi harus diucapkan paling lambat 90 hari setelah permohonan diterima oleh Mahkamah Agung. 8. Panitera Mahkamah Agung wajib menyampaikan kepada Panitera Pengadilan Niaga paling lambat 7 hari setelah putusan Kasasi diucapkan. 9. Juru sita Pengadilan Niaga menyampaikan salinan putusan Kasasi kepada Pemohon Kasasi dan Termohon Kasasi paling lambat 7 hari setelah putusan Kasasi diterima oleh Panitera Pengadilan Niaga Hak paten merupakan karya intelektual dari manusia. Yang mana karya intelektual adalah aset yang mengandung nilai ekonomis. Kepada pemiliknya diberikan hak monopoli / eksklusif untuk mengontrol penggunaan karya intelektual yang dilindungi. Pemegang Hak Kekayaan Intelektual akan memperoleh imbalan keuangan atas infestasinya dalam menghasilkan karya intelektual. Tuntutan ganti rugi Hak paten yang dalam Undang Undang mengatur ganti rugi antara lain Pasal 118 UU No. 14 Tahun 2001 tentang Paten. Perkara Paten Sederhana, Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat No. 37/Paten/2003/PN. Niaga Jkt.Pst. tanggal 09 Oktober
Tugas Hukum Hak Milik Intelektual 31

2003 jo Putusan Mahkamah Agung RI No. 046 K/HaKi/2003 tanggal 09 Februari 2004, antara lain mempertimbangkan sebagai berikut : Walaupun produk Penggugat dan Tergugat terdapat perbedaan tali air akan tetapi perbedaan tersebut dapat dikualifisir sebagai melanggar paten dasar dan atau melanggar semua modifikasi yang tercakup dalam klaim paten No. 10. 0. 000.116. S tanggal 31 Mei 1996 milik Penggugat. 1. Putusan Mahkamah Agung RI. Secara fungsi kedua genteng logam / metal tersebut adalah sama. Sehingga secara yuridis model genteng logam milik Tergugat hanya merupakan modifikasi yang masih didalam lingkup penemuan sebagaimana dimaksud dalam Surat Paten Sederhana milik Penggugat. 2. Putusan Pembatalan Hak Paten. Putusan Mahkamah Agung RI No. 11 K/N/HaKi/2002 tanggal 30 September 2002 memutus sebagai berikut : Menghukum Tergugat Rekonpensi untuk menghentikan,

membuat, menggunakan, menjual atau menyediakan untuk dijual barang barang hasil pelanggaran Paten miliknya Penggugat Rekonpensi (Tergugat I Konpensi). Putusan Mahkamah Agung (Peninjauan Kembali) No. 02 PK/N/ HaKi/2003 tanggal 13 Mei 2003. Sesuai dengan ketentuan Pasal 91 ayat (3) UU No.14 Tahun 2001, Subjek Hukum yang berhak mengajukan tuntutan pembatalan Paten agar Paten lain yang sama dengan Patennya dibatalkan oleh Hakim, adalah subjek hukum pemegang hak Paten, yang hak Patennya sudah terdaftar sah pada Direktorat
Tugas Hukum Hak Milik Intelektual 32

Paten Departemen Kehakiman RI. Oleh karena Penggugat Konpensi terbukti bukan pemegang hak Paten, maka tuntutannya harus ditolak oleh judex facti.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan 1) Prosedur pendaftaran hak paten terdapat dalam pasal 24 UndangUndang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Hak Paten. 2) Cara pengalihan Paten diatur dalam pasal 66 pasal 68 UU NO. 14 Tahun 2001. sebagai hak milik perseorangan, maka secara hukum, Paten dapat beralih atau dialihkan baik seluruhnya maupun sebagian. 3) Penyelesaian sengketa hak paten melalui Pengadilan Niaga diatur dalam Pasal 117 Undang Undang paten yang mana pihak yang berhak atau yang menjadi subjek paten (diatur dalam Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 12) dapat menggugat kepada pengadilan niaga jika suatu paten diberikan kepada pihak lain selain dari yang berhak.

Tugas Hukum Hak Milik Intelektual

33

B. Saran 1) Pemerintah harus mempermudah dalam prosedur pendaftaran hak paten, sehingga peraturan yang ada bisa dilaksanakan dengan baik. 2) Dalam pengalihan hak paten, pemerintah harus membantu mempermudah proes pengalihan hak paten, dengan biaya yang sesuai dan syarat-syarat yang mempermudah proses pengalihan hak paten. 3) Untuk memaksimalkan terwujudnya nilai nilai kepastian hukum, kemanfaatan dan keadilan dalam penyelesaian sengketa hak paten, maka Hakim dalam menjatuhkan keputusan seyogyanya menguasai seluk beluk metode penerapan hukum seperti metode penafsiran, konstruksi, penghalusan hukum dan sebagainya.

Tugas Hukum Hak Milik Intelektual

34