Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

Anemia ialah penyakit yang menimbulkan rasa letih, lemas serta rasa kurang gairah pada pasien. Penyakit ini adalah kondisi dimana tubuh manusia tidak memiliki sel darah merah yang cukup untuk membawa oksigen yang akan dipakai pada metabolisme jaringan di dalam tubuh. Penyakit ini dapat disebabkan oleh kuman penyebab patogen, kerusakan sumsum tulang belakang, kelainan morfologi sel darah, perdarahan yang hebat maupun faktor keturunan. Selain anemia, terdapat pula penyakit yang disebabkan oleh mikroba Candida albicans yaitu vaginitis. Penyakit ini menyerang wanita dengan bercirikan keluarnya cairan putih ataupun kekuning-kuningan disertai peradangan pada vulva yang menyebabkan rasa seperti terbakar dan gatal. Candida albicans merupakan flora normal pada kulit manusia yang intensitasnya diatur oleh bakteri baik (probiotik) dalam tubuh manusia. Namun, dapat menyebabkan patogen apabila pertumbuhan bakteri baik (probiotik) dihambat, sehingga Candida albicans tidak terkontrol lagi intensitasnya.

BAB II LAPORAN KASUS

Seorang mahasiswi berusia 20 tahun datang dengan keluhan lesu, lemah, letih dan kurang gairah belajar. Setelah dilakukan pemeriksaan tambahan, ditemukan bahwa pasien juga mengeluarkan cairan putih susu dari vagina yang disertai rasa gatal. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil: Pemeriksaan Hb Hematokrit Lekosit Trombosit Eritrosit Laju Endap Darah Differential count: Basofil 0 Nilai 6,5 gr/dL 17% 10.800 200.000 2,5 juta 40 mm/jam MCV MCH MCHC Eosinofil Batang Segmen Limfosit Monosit 2 4 65 32 6 70 26 37,1

Pada pemeriksaan cairan vagina didapatkan mikroba Candida albicans.

BAB III PEMBAHASAN

Gejala-gejala yang ditunjukkan pada pasien tersebut mengarah kepada penyakit anemia. Penderita anemia memiliki gejala-gejala yang mirip seperti pasien tersebut, diantaranya merasa lelah, lesu, letih dan kurang gairah belajar. Hal ini merupakan gejala pada penderita anemia.1 Anemia disebabkan oleh kurangnya produksi sel darah merah pada tubuh. Sel darah merah mengandung hemoglobin, yaitu protein yang kaya akan zat besi yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Apabila produksi sel darah merah terganggu, maka suplai oksigen ke jaringan pun akan berkurang karena kurangnya hemoglobin yang mengikat oksigen. Hal inilah yang menjadi penyebab anemia. Terdapat beberapa jenis anemia berdasarkan penyebabnya, diantaranya: 1. Anemia defisiensi besi. Hal ini disebabkan oleh kurangnya zat besi di dalam tubuh. Zat besi dibutuhkan oleh sumsum tulang untuk membuat hemoglobin. Tanpa zat besi yang cukup, tubuh tidak dapat memproduksi hemoglobin untuk sel darah merah. 2. Anemia karena defisiensi vitamin. Tubuh membutuhkan vitamin B-12 dan asam folat untuk memproduksi sel darah merah. Kurangnya asupan vitamin tersebut dapat menurunkan produksi sel darah merah. 3. Anemia karena penyakit kronis. Beberapa penyakit kronis seperti kanker, HIV/AIDS, rheumatoid arthritis, dan penyakit kronis lain dapat mengganggu produksi sel darah

merah yang mengakibatkan anemia kronik. Gagal ginjal juga dapat menyebabkan anemia. 4. Anemia aplastik. Anemia ini sangat jarang, disebabkan oleh penurunan kemampuan sumsum tulang untuk memproduksi sel darah merah karena infeksi, pemakaian obatobatan, dan penyakit autoimun. 5. Anemia karena penyakit sumsum tulang. Berbagai macam penyakit seperti leukemia dan myelodysplasia dapat mempengaruhi produksi darah di sumsum tulang. 6. Anemia hemolitik. Anemia ini terjadi saat sel darah merah dihancurkan lebih cepat dari yang seharusnya sehingga sumsum tulang tidak dapat menggantikan kehilangan sel darah merah tersebut. 7. Anemia sickle cell. Merupakan penyakit keturunan yang disebabkan kelainan morfologi dari sel darah merah. 8. Anemia karena penyakit lain. Anemia juga dapat disebabkan infeksi oleh cacing tambang.2 Anemia defisiensi besi perlu dibedakan dengan anemia hipokromik lainnya, seperti thalasemia (khususnya thallasemia minor), anemia karena infeksi menahun, keracunan timah hitam (Pb), anemia sideroblastik, dan anemia hemolitik. Berikut pertanyaan yang dapat ditanyakan pada pasien sebagai anamnesa awal anemia: Kemungkinan patogen 1. Perdarahan (menstruasi) 1. Volume darah mensturasi lebih banyak atau tidak? 2. Menstruasi teratur atau tidak? 3 .Bagaimana periode menstruasi

2. Kemungkinan perdarahan lain

1.Riwayat anemia 2. Kemungkinan trauma / perdarahan 3. Epitaksis (mimisan) 4. Hemoptoe (batuk darah) 5. Hematemesis (muntah darah) 6. Hematurie (Urin dengan darah) 7. Melena (Buang air besar disertai darah berwarna hitam 8. Hematochezia (Buang air besar disertai darah segar) 9. Hemmoroid (wasir) Anemia defisiensi besi 1. Asupan nutrisi? 2. Sedang melakukan diet atau tidak? 3. Anorexia 4. Vegetarian 5. Bulimia 6. Faktor lingkungan hidup : Helminthiasis (cacing Ascaris lumbricoides yang menyebabkan anemia defisiensi besi dan malnutrisi. Mengonsumsi obat anti depressan atau tidak? 1. Aktivitas berlebih? 2. Kurang tidur? 3. Dehidrasi? 4. Apnea? 1. Sulit berkonsentrasi atau tidak? 2. Motivasi 3. Keterpaksaan profesi

3. Anemia

4. Depresi 5. Aktivitas

6. Kurang gairah belajar Anamnesa tambahan 1. Menstruasi lebih dari tujuh hari

Menorhagi : Perdarahan dari vagina saat siklus haid yang berlebih 1. Gejala seperti ini teratur atau tidak? 2. Saat menstruasi mengalami sakit kepala atau tidak? 3. Saat menstruasi disertai sakit atau tidak? 4. Bulan lalu gejala seperti ini timbul juga atau tidak? 5. Nafsu makan bertambah tidak?

Warna, bau, konsistensi Metrorhagi: Perdarahan dari vagina diluar siklus haid

2. Disertai keputihan 3. Volumen banyak dan periode lama

Dari hasil laboratorium yang telah ada, dapat diinterpretasikan sebagai berikut: a) Hb = 6,5 g/dl adalah 11,5-16,5 g/dl. b) Hematokrit = 17% c) Leukosit = 10.800/l tidak normal wanita (36,1%-44,3%) normal, karena kadar normal leukosit adalah 5000 10000/l. tidak normal, karena kadar normal hemoglobin untuk wanita

d) Trombosit = 240.000/l normal, nilai normal 150.000 - 450.000 l e) Eritrosit = 2,5 juta f) Hitung jenis: a. Basofil b. Eosinofil c. Netrofil batang d. Netrofil segmen ::2 :4 Normal Normal Normal tidak normal, 4.5 5.5 juta

: 65 tidak normal (rendah) karena nilai normal netrofil

segmen adalah 50-70%.3 e. Limfosit : 32 Normal

f. Monosit g) LED = 40 mm/jam

:6

Normal

Meningkat

Pemeriksaan LED pasien meningkat kerena berdasarkan kadar normal LED pada wanita yang diukur dengan tabung wintrobe adalah < 20mm/jam dan dengan tabung westergreen adalah < 15mm/jam. Nilai LED pasien ini yang meningkat tajam menunjukkan adanya keganasan atau penyakit kronis yang diderita oleh pasien.3 Nilai eritrosit rata-rata (NER): MCV MCH MCHC : 70 fl : 26 pg : 37,1% rendah, nilai normal MCV adalah 82-92 fL. rendah, nilai normal MCH adalah 27-31 pg di atas normal, nilai normal MCHC adalah 32-37%

Dilihat dari hasil nilai eritrosit rata-rata, menunjukkan bahwa sel darah merah mengalami mikrositik dan hipokromik. Pernyataan ini memperkuat diagnosa sementara kami yaitu anemia defisiensi besi.4 Berdasarkan dari gejala yang didapat dari anamnesis, hasil pemeriksaan fisik dan hasil pemeriksaan laboratorium, maka diagnosis pasti yang kami dapatkan adalah anemia defisiensi besi. Dalam kasus ini, pasien mengalami anemia hipokrom mikrositer karena dalam pemeriksaan labolatorium yang kedua ditemukan nilai MCV dan MCH yang rendah. Pengobatan anemia defisiensi besi adalah pemberian suplemen zat besi dan diet makanan yang kandungan zat besinya tinggi. Suplemen zat besi biasanya diberikan bila kadar Hb di bawah 10 mg/dl atau bila feritin rendah meskipun Hb masih normal. Dosis yang diberikan adalah

dosis terapi, bukan dosis suplementasi. Setelah kadar Hb kembali normal, suplemen zat besi biasanya dilanjutkan hingga 3 bulan.5 Selain anemia, pasien juga menderita keputihan akibat infeksi Candida albicans.
Keputihan yang disebabkan oleh infeksi jamur Candida albicans umumnya dipicu oleh faktor dari dalam maupun luar tubuh seperti:

Kehamilan Obesitas / kegemukan Pemakaian pil KB Obat-obatan tertentu seperti steroid, antibiotik Riwayat diabetes/penyakit kencing manis Daya tahan tubuh rendah Iklim, panas, kelembaban Sekret yang keluar biasanya berwarna putih kekuningan, seperti kepala susu (cottage cheese), berbau khas dan menyebabkan rasa gatal yang hebat pada daerah vulva dan sekitarnya sehingga disebut vulvovaginitis. Rasa gatal sering merupakan keluhan yang dominan dirasakan.6 Kebanyakan infeksi dari Candida albicans dapat disembuhkan baik dengan obat-obatan antifungal yang dapat dibeli bebas maupun obat-obatan antifungal yang didapat dari resep dokter. Untuk kasus vaginitis dapat diberikan fluconazole dosis tunggal secara per oral ataupun dengan obat topikal seperti clotrimazole, miconazole serta tioconazole. Penggunaan antibiotik

sebaiknya dihindari selama masa terapi. Serta untuk mencegah terulangnya infeksi, hindari hubungan seksual bebas serta jaga kebersihan diri.7

BAB IV KESIMPULAN

Dari kasus diatas dapat kami simpulkan bahwa pasien tersebut menderita anemia mikrositik hipokrom yang disebabkan karena defisiensi Fe. Pada pasien yang menderita anemia ditemukan imunitas tubuh yang menurun yang mengakibatkan adanya ketidakseimbangan antara jamur Candida albicans dengan flora normal yang fungsinya menekan pertumbuhan jamur Candida albicans, sehingga jamur Candida albicans berkembang secara tak terkontrol dan menimbulkan keputihan pada pasien.

DAFTAR PUSTAKA

1. Corwin EJ. Sistem Hemaologik. In: Pakaryaningsing E, editor. Buku Saku Patofisiologi. 2nd ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2001. p. 131-3. 2. Mayo Clinic. [Internet] Causes of Anemia. [Updated 2011]. Available at: http://www.mayoclinic.com/health/anemia/DS00321/DSECTION=causes. Accessed on March 26, 2012. 3. Kee JL. Nilai Pemeriksaan Laboratorium untuk Orang Dewasa dan Anak. In: Ester M, editor. Buku Saku Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik dengan Implikasi Keperawatan. 2nd ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2002. p. 361-81. 4. Anemia Defisiensi Besi. Available at: http://www.nhlbi.nih.gov/health/dci/diseases/ida/ida_signsandsymptoms.html. Accessed on March 26, 2012. 5. Setiyohadi B, Subekti I. Hematologi. In: Sudoyono AW, Alwi I, Setiati S, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 4th ed. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu penyakit Dalam FKUI; 2006. p. 636-9. 6. Goldman & Ausiello. Lower Genital Tract Infection in Women: Cecil Textbook of Medicine. 22nd Ed. USA. Saunders; 2004; 1916. 7. Candida albicans. Available at: http://www.healthscout.com/ency/1/312/main.html. Accessed on March 27, 2012.