Anda di halaman 1dari 22

Bermain Mengoptimalkan Perkembangan Psikologis Anak Oleh : Natalia Trijaji | 03-Aug-2010, 11:54:47 WIB KabarIndonesia - Dunia anak, terutama

balita, adalah dunia bermain. Karena itu bebaskan mereka bermain, menikmati masa kecil yang tak akan terulang lagi. Orang tua hanya perlu mengawasi agar anak-anak bermain dengan aman dan nyaman. Psikolog Herdina Indrijati, M.Psi. mengatakan, para orang tua cenderung menganggap bermain hanya membuang waktu. Padahal itu keliru. Bermain bersar manfaatnya bagi perkembangan anak. Melalui bermain, anak mengoptimalkan perkembangan psikologisnya. Orang tua harus menghilangkan anggapan itu. Mereka kan juga pernah jadi anak-anak dan dulu pasti suka bermain, ujarnya di acara Kids Festival dalam kampanye Yes! Main Yuk! di Surabaya, Minggu (1/8). Menurut Herdina, pada dasarnya bermain merupakan kebutuhan. Tak ada anak yang tak suka bermain. Kegiatan sehari-hari seperti tugas sekolah, perintah dari orang tua dan sebagainya, memberi tekanan tersendiri terhadap anak sehingga perlu pelepasan ketegangan dan emosi. Kehidupan nyata sering tak sesuai dengan apa yang dibayangkan anak-anak. Salah satu cara untuk mencapainya dengan bermain. Misalnya anak perempuan ingin jadi putri raja yang tak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata. Dengan bermain, ia seolah-olah menjadi putri raja sehingga merasa senang atau anak lelaki yang ingin jadi pahlawan seperti superman. Dengan bermain, ia seolah-olah jadi superman yang menyelamatkan dunia sehingga merasa bangga, ujarnya. Dengan bermain bersama teman, imbuh Herdina, anak bisa mengembangkan kepribadian. Mereka mengembangkan percaya diri, kejujuran, kerja sama, memahami keinginan orang lain, mengalah, kecewa dan mengatasinya, juga bertingkah laku yang sesuai dengan aturan kelompok. Anak perlu belajar berpisah dengan ibu untuk sementara waktu. Dengan bermain bersama teman, mereka belajar mengatasi perpisahan itu. Mereka juga belajar bersosialisasi, misalnya belajar berbagi, sabar menunggu giliran, menjaga hubungan baik, mengatasi konflik dalam kelompok. Juga belajar jenis kelamin, menyatakan pendapat, peran sosial, standar moral dan nilai, ujarnya. Herdina menambahkan, bagi balita, dengan bermain, mereka mengembangkan motorik kasar dan motorik halus. Misalnya meraih, menggenggam, melemparkan dan menangkap mainan. Juga berlari, memanjat dan sebagainya.

Dengan bermain, anak mengembangkan daya nalar, kreativitas, kemampuan berbahasa dan memori. Bermain juga mengasah ketajaman indera, misalnya mendengarkan bermacam suara hewan, jenis irama dan lainnya. Anak belajar konsep warna, bentuk, besaran, angka dan sebagainya. Ini lebih mudah dipelajari melalui proses bermain, ujarnya. Menurut Herdina, bermain juga untuk membina hubungan orang tua dengan anak dan mendeteksi dini jika ada penyimpangan. Ia meminta orang tua hendaknya memanfaatkan bermain untuk mengobservasi dan mengevaluasi anak. Jika anak berperilaku tak sesuai, orang tua bisa turun tangan. Ia menekankan, rumah dan lingkungan merupakan lokasi penting dalam dunia bermain anak. Di kedua tempat ini, anak-anak bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain dengan permainan mereka, saudara atau teman. Sayangnya banyak orang tua yang kurang sadar atau belum mampu menciptakan tempat bermain bagi anak yang aman dan nyaman. Di perkotaan yang padat, sarana umum untuk bermain juga terbatas. Herdina memahami kekhawatiran orang tua jika anak mereka bermain di luar rumah. Mungkin mereka khawatir terhadap keselamatan anak sehingga memaksa anak bermain di dalam rumah dengan menyediakan permainan modern, seperti play station. Akibatnya anak lebih senang menggunakan alat permainan sendirian dan lebih senang menyendiri. Ini tak baik bagi perkembangan psikologisnya. Nilai edukasi alat permainan bukan terletak pada alat tersebut, melainkan bagaimana anak menggunakannya, ujarnya. Peran Bermain dalam Proses Perkembangan Anak Beberapa ahli mengatakan bahwa bermain pada anak merupakan sarana untuk belajar. Bermain dan belajar untuk anak merupakan suatu kesatuan dan suatu proses yang terus menerus terjadi dalam kehidupannya. Bermain merupakan tahap awal dari proses belajar pada anak yang dialami hampir semua orang. Melalui kegiatan bermain yang menyenangkan, seorang anak berusaha untuk menyelidiki dan mendapatkan pengalaman yang banyak. Baik pengalaman dengan dirinya sendiri, orang lain maupun dengan lingkungan di sekitarnya. Melalui bermain anak dapat mengorganisasikan berbagai pengalaman dan kemampuan kognitifnya dalam upaya menyusun kembali gagasan yang cemerlang. Ada 5 karakteristik bermain yaitu: 1. Bermain merupakan sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai yang positif bagi anak. 2. Bermain berasal dari motivasi yang muncul dari dalam diri si anak. Anak melakukan kegiatan tersebut atas kemauannya sendiri, tanpa harus disuruh atau diberi imbalan oleh orang lain.

3. Bermain sifatnya spontan dan sukarela, bukan merupakan kewajiban. Anak bebas memilih apa saja yang ingin dijadikan alternatif bagi kegiatan bermainnya. 4. Bermain senantiasa melibatkan peran aktif anak. Anak benar-benar aktif dalam kegiatan tersebut, baik secara fisik maupun mental. 5. Bermain memiliki hubungan sistematik yang khusus dengan sesuatu yang bukan bermain, seperti kemampuan kreativitas, memecahkan masalah, kemampuan berbahasa, kemampuan bersosialisasi dengan teman sebaya dan sebagainya. Adapun bermain mempunyai manfaat bagi perkembangan anak. Bermain merupakan pengalaman belajar yang sangat berguna untuk anak, yaitu: 1. Aspek fisik, bila anak mendapat kesempatan untuk melakukan kegiatan yang banyak melibatkan aktivitas fisik terutama motorik kasar, akan membuat tubuh menjadi sehat. 2. Permainan yang melibatkan kemampuan motorik kasar dan motorik halus akan meningkatkan keterampilan anak. 3. Keterlibatan anak dengan orang lain dapat membantu anak untuk bersosialisasi dengan teman sebaya atau orang lain, anak akan belajar berpisah dengan ibu dan pengasuh, belajar berbagi dengan orang lain, melakukan pemecahan masalah, meningkatkan perkembangan bahasa baik bahasa ekspresi maupun bahasa reseptif, dan sebagai lahan bermain peran sosial. 4. Aspek perkembangan bahasa, melalui kegiatan bermain anak akan memperoleh kesempatan yang luas untuk berani berbicara. Kegiatan ini akan melatih kemampuan mengkoordinasikan antara apa yang terpikir dengan gerakan motorik organ-organ dalam rongga mulut. Hal ini penting untuk kemampuan anak dalam berkomunikasi dan memperluas pergaulannya di kemudian hari. 5. Aspek emosi dan kepribadian, melalui bermain seorang anak dapat melepaskan ketegangan yang dialaminya. Kegiatan bermain bersama sekelompok teman sebaya akan memberikan kesempatan bagi anak untuk menilai diri sendiri tentang kelebihankelebihan yang dimilikinya, sehingga dapat membantu pembentukan konsep diri yang positif, mempunyai rasa percaya diri dan harga diri karena merasa mempunyai kompetensi tertentu. Bermain merupakan kegiatan yang sangat penting bagi anak. Melalui bermain seorang anak akan memperoleh berbagai keuntungan sekaligus belajar berbagai hal yang dapat memperluas wawasan, pengetahuan dan keterampilan yang dapat digunakan pada saat dewasa nantinya. Source : http://www.idai.or.id/tips Untuk informasi lebih lanjut, silahkan lihat di CD Games ~ CD Games PC ~ Games PC ~ DVD CD Games ~ DVD Games ~ Software Komputer ~ Games Software ~ Games Komputer ~ CD Software ~ DVD Software ~ CD Komputer ~ DVD Komputer ~ Games dan CD Games : CD Games PC DVD CD Games & Software Komputer Surabaya di 88db.

Latar Belakang : Bermain adalah unsur yang penting untuk perkembangan anak baik fisik, emosi, mental, intelektual, kreativitas dan sosial. Salah satu perkembangan yang berkaitan dengan bermain adalah perkembangan kognitif. Perkembangan kognitif adalah perkembangan mengenai proses pikir, mengamati sehingga anak memperoleh pengertian tentang lingkungan seperti orang, benda, warna dan situasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola bermain dengan perkembangan kognitif anak usia prasekolah di TK Islam Pangeran Diponegoro Semarang. Metode : Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif non eksperimental dengan rancangan diskriptif korelasi dengan menggunakan pendekatan cros sectional. Jumlah sampel 100 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Hasil Penelitian : menunjukkan bahwa pola bermain anak yang tidak baik akan menjadikan perkembangan kognitif tidak baik sebanyak 31 orang (31 %) dibandingkan pola bermain anak yang baik akan menjadikan perkembangan kognitif anak tidak baik sebanyak 19 orang (19 %). Hasil perhitungan dengan uji Chi Square dengan nilai sebesar = 9, 033, dengan signifikansi (p value) = 0,03 Kesimpulan : Menunjukkan bahwa terdapat hubungan pola bermain dengan perkembangan kognitif anak usia prasekolah di TK Islam Pangeran Diponegoro Semarang (p value < 0,05)

Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh kesenangan, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Ada orang tua yang berpendapat bahwa anak yang terlalu banyak bermain akan membuat anak menjadi malas bekerja dan bodoh. Pendapat ini kurang begitu tepat dan bijaksana, karena beberapa ahli psikologi mengatakan bahwa permainan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak. Faktor-faktor yang mempengaruhi permainan anak : 1. Kesehatan Anak-anak yang sehat mempunyai banyak energi untuk bermain dibandingkan dengan anak-anak yang kurang sehat, sehingga anak-anak yang sehat menghabiskan banyak waktu untuk bermain yang membutuhkan banyak energi. 2. Intelligensi Anak-anak yang cerdas lebih aktif dibandingkan dengan anak-anak yang kurang cerdas. Anakanak yang cerdas lebih menyenangi permainan-permainan yang bersifat intelektual atau permainan yang banyak merangsang daya berpikir mereka, misalnya permainan drama, menonton film, atau membaca bacaan-bacaan yang bersifat intelektual. 3. Jenis kelamin

Anak perempuan lebih sedikit melakukan permainan yang menghabiskan banyak energi, misalnya memanjat, berlari-lari, atau kegiatan fisik yang lain. Perbedaan ini bukan berarti bahwa anak perempuan kurang sehat dibanding anak laki-laki, melainkan pandangan masyarakat bahwa anak perempuan sebaiknya menjadi anak yang lembut dan bertingkah laku yang halus. 4. Lingkungan Anak yang dibesarkan di lingkungan yang kurang menyediakan peralatan, waktu, dan ruang bermain bagi anak, akan menimbulkan aktivitas bermain anak berkurang. 5. Status sosial ekonomi Anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang status sosial ekonominya tinggi, lebih banyak tersedia alat-alat permainan yang lengkap dibandingkan dengan anak-anak yang dibesarkan di keluarga yang status ekonominya rendah. Pengaruh bermain bagi perkembangan anak : * Bermain mempengaruhi perkembangan fisik anak * Bermain dapat digunakan sebagai terapi * Bermain dapat mempengaruhi dan menambah pengetahuan anak * Bermain mempengaruhi perkembangan kreativitas anak * Bermain dapat mengembangkan tingkah laku sosial anak * Bermain dapat mempengaruhi nilai moral anak Macam-macam permainan dan manfaatnya bagi perkembangan jiwa anak A. Permainan Aktif 1. Bermain bebas dan spontan Dalam permainan ini anak dapat melakukan segala hal yang diinginkannya, tidak ada aturanaturan dalam permainan tersebut. Anak akan terus bermain dengan permainan tersebut selama permainan tersebut menimbulkan kesenangan dan anak akan berhenti apabila permainan tersebut sudah tidak menyenangkannya. Dalam permainan ini anak melakukan eksperimen atau menyelidiki, mencoba, dan mengenal hal-hal baru. 2. Sandiwara

Dalam permainan ini, anak memerankan suatu peranan, menirukan karakter yang dikagumi dalam kehidupan yang nyata, atau dalam mass media. 3. Bermain musik Bermain musik dapat mendorong anak untuk mengembangkan tingkah laku sosialnya, yaitu dengan bekerja sama dengan teman-teman sebayanya dalam memproduksi musik, menyanyi, atau memainkan alat musik. 4. Mengumpulkan atau mengoleksi sesuatu Kegiatan ini sering menimbulkan rasa bangga, karena anak mempunyai koleksi lebih banyak daripada teman-temannya. Di samping itu, mengumpulkan benda-benda dapat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak. Anak terdorong untuk bersikap jujur, bekerja sama, dan bersaing. 5. Permainan olah raga Dalam permainan olah raga, anak banyak menggunakan energi fisiknya, sehingga sangat membantu perkembangan fisiknya. Di samping itu, kegiatan ini mendorong sosialisasi anak dengan belajar bergaul, bekerja sama, memainkan peran pemimpin, serta menilai diri dan kemampuannya secara realistik dan sportif. B. Permainan Pasif 1. Membaca Membaca merupakan kegiatan yang sehat. Membaca akan memperluas wawasan dan pengetahuan anak, sehingga anakpun akan berkembang kreativitas dan kecerdasannya. 2. Mendengarkan radio Mendengarkan radio dapat mempengaruhi anak baik secara positif maupun negatif. Pengaruh positifnya adalah anak akan bertambah pengetahuannya, sedangkan pengaruh negatifnya yaitu apabila anak meniru hal-hal yang disiarkan di radio seperti kekerasan, kriminalitas, atau hal-hal negatif lainnya. 3. Menonton televisi Pengaruh televisi sama seperti mendengarkan radio, baik pengaruh positif maupun negatifnya.

http://ahkensepanjangmasa.blogspot.com/ Tercatat ber 2007 Tahapan Perkembangan Bermain II. B 1 Tahapan Perkembangan Bermain A. Jean Piaget (1962) Menurut Piaget ada 4 tahapan bermain pada anak yaitu : 1. Sensory Motor Play (+/- bulan-1,5 tahun) Pada tahapan ini, kegiatan anak mulai lebih terkoordinasi dan ia mulai belajar dari pengalaman bermainnya. 2. Symbolic atau Make Believe Play (+/- 2-7 tahun) Merupakan ciri periode operasional yang ditandai dengan bermain khayal (pura-pura). . Pada tahapan ini, anak sudah mulai dapat menggunakan berbagai benda sebagai simbol atau representasi benda lain. 3. Social Play Games with Rules (+/- 8-11 tahun) Pada tahap ini anak menggunakan simbol yang banyak diwarnai nalar dan logika yang bersifat objektif dalam bermain. Kegiatan anak lebih banyak dikendalikan oleh aturan permainan. 4. Games with rules and Sports (11 tahun ke atas) Aturan pada olahraga jauh lebih ketat dan kaku, namun pada tahap ini anak senang melakukan kegiatan ini berulang-ulang dan terpacu untuk mencapai prestasi sebaikbaiknya. Pada tahap ini, bukan hanya rasa senang saja yang menjadi tujuan tetapi ada suatu hasil akhir tertentu seperti ingin menang, memperoleh hasil kerja yang baik. B. Hurlock (1981) Menurut Hurlock ada 4 tahapan bermain pada anak, yaitu : 1.Tahap Penjelajahan (Exploratory stage) Ciri khasnya adalah berupa kegiatan mengenai obyek atau orang lain, mencoba menjangkau atau meraih benda dikelilingannya, lalu mengamatinya. 2. Tahap Mainan (Toy stage) Mencapai puncak pada usia 5-6 tahun. Pada tahap ini anak-anak berpikir bahwa benda mainannya dapat berbicara, makan,merasa sakit dan sebagainya. 3. Tahap Bermain ( Play Stage) Terjadi pada saat anak mulai masuk Sekolah Dasar. Anak bermain dengan alat permainan, yang lama kelamaan berkembang menjadi games, olahraga dan bentuk permainan lain yang juga dilakukan orang dewasa. 4. Tahap Melamun (Daydream Stage) Diawali saat anak mendekati masa pubertas. Pada tahap ini anak banyak menghabiskan waktu

untuk melamun atau berkhayal. C. Rubin, Fein & Vandenberg (1983) dan Smilansky (1968) Menurut Rubin, Fein & Vandenberg (1983) dan Smilansky (1968) ada 4 tahapan bermain pada anak, yaitu : 1. Bermain Fungsionil (Functional Play) Tampak pada anak usia 1-2 tahun berupa gerakan yang bersifat sederhana dan berulang-ulang. 2. Bangun Membangun (Constructive Play) Tampak pada anak usia 3-6 tahun. Anak membentuk sesuatu, menciptakan bengunan tertentu dengan alat permainan yang tersedia. 3. Bermain Pura-pura (Make-believe Play) Banyak dilakukan anak berusia 3-7 tahun. Dalam bermain pura-pura anak menirukan kegiatan orang yang pernah dijumpainya dalam kehidupan sehari-hari. 4.Permainan dengan peraturan (Games with Rules) Uumumnya dapat dilakukan anak pada usia 6-11 tahun. Anak sudah memahami dn bersedia mematuhi aturan permainan. II. B 2 Pengertian dan ciri-ciri Alat Permainan edukatif Alat permainan edukatif adalah alat permainan yang dirancang secara khusus untuk kepentingan pendidikan. Ciri-ciri alat permainan yang tergolong permainan edukatif : 1. Dapat digunakan dalam berbagai cara, maksudnya dapat dimainkan dengan bermacam-macam tujuan, manfaat dan menjadi bermacam-macam bentuk. 2. Ditujukan terutama untuk anak-anak usia pra sekolah dan berfungsi mengembangkan berbagai aspek perkembangan kecerdasan serta motorik anak. 3. Segi keamanan sangat diperhatikan baik dari bentuk maupun penggunaan cat. 4. Membuat anak terlibat secara aktif. 5. Sifatnya konstruktif Manfaat Bermain bagi Perkembangan Anak Kalimat di atas tidak sekedar retorika, tetapi merupakan kebutuhan mental, fisik dan psikologis anak dalam masa perkembangannya. Bermain merupakan kebahagiaan bagi anak-anak karena dengan bermain mereka bisa mengekspresikan berbagai perasaanya serta belajar bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungannya. Banyak ragam dan jenis permainan yang berkembang dari waktu ke waktu. Mulai dari permainan tradisional hingga permainan berteknologi modern. Tentu saja semua itu memerlukan kontrol dan seleksi dari orang tua agar tidak membahayakan bagi perkembangan anak. Secara umum, jenis permainan anak dapat dikategorikan ke dalam 3 kelompok, yaitu :

1. Permainan aktif, permainan yang biasanya melibatkan lebih dari satu orang anak. Bentuknya bisa berupa olahraga yang bermanfaat untuk mengolah kemampuan kinestesik dan lebih jauh lagi bisa memotivasi anak untuk belajar meraih keunggulan, serta belajar bertahan dalam persaingan. Bentuk permainan seperti ini secara tidak langsung juga melatih aspek kognitif anak untuk belajar mengatur dan menentukan strategi dalam meraih kemenangan, serta mengasah aspek afektif anak untuk bersikap sportif dan belajar menerima kekalahan ketika ia gagal. 2. Permainan pasif , permainan ini bersifat mekanis dan biasanya dilakukan tanpa teman yang nyata, bentuk konkretnya seperti main game. Jenis permainan seperti ini memiliki sisi positif dan negatif. Positifnya ialah anak bisa memiliki keterampilan tertentu yang bisa berproses menjadi sebuah keahlian tertentu, sehingga bermanfaat untuk kehidupannya kelak. Main game di komputer biasanya membutuhkan keterampilan dan strategi yang tepat dari pemainnya Negatifnya ialah keranjingan dan ketergantungan berlebihan bila tidak diatur dan dibatasi oleh orang tuanya. Secara mental dan psikologis pun, anak akan cenderung menuntut untuk selalu menjadi nomor satu, bersikap egoistis, selalu ingin berkuasa dan memegang kendali atas sesuatu baik dalam keluarga maupun ketika ia bermain dengan temannya. Ini terjadi karena ia terbiasa senantiasa menang menghadapi lawan pasifnya (seperti komputer). Sikap ini kemungkinan besar akan menjadikan anak tidak bisa menerima kekalahan dan kegagalan, serta kurang nyaman bersosialisasi. Dalam kondisi tertentu, ketergantungan terhadap permainan pasif bisa menghambat kreativitas anak. Anak menjadi kurang kreatif karena terbiasa dengan program yang sudah siap pakai 3. Permainan fantasi, permainan imajinasi yang diciptakan sendiri oleh anak dalam dunianya. Kita mungkin sering melihat dan mendengar anak kecil berbicara sendiri ketika bermain boneka. Sebenarnya ia memiliki fantasi dan imajinasi sendiri mengenai tokoh yang dimainkannya melalui boneka itu. Permainan seperti ini baik untuk kecerdasan otak kanan karena dengan sendirinya anak belajar berperan dengan berbagai karakter yang diciptakannya, merasakan sisi emosional tokoh-tokoh yang ada dalam imajinasinya, serta lambat laun akan memahami nilai baik dan buruk sebuah sikap dan sifat. Namun, sebaiknya anak diberikan ruang dan waktu untuk bermain secara berimbang antara permainan aktif, pasif dan fantasi agar kecerdasan otaknya juga seimbang. Bermain merupakan proses alamiah dan naluriah yang berfungsi sebagai nutrisi dan gizi bagi kesehatan fisik dan psikis anak dalam masa perkembangannya. Aktivitas bergerak (moving) dan bersuara (noice) menjadi sarana dan proses belajar yang efektif buat anak, proses belajar yang tidak sama dengan belajar secara formal di sekolah. Bisa dianalogikan bahwa bermain sebagai sebuah praktik dari teori sosialisasi dengan lingkungan anak. Dengan bermain, anak bisa merasa bahagia. Rasa bahagia inilah yang menstimulasi syaraf-syaraf otak anak untuk saling terhubung, sehingga membentuk sebuah memori baru Memori yang indah akan membuat jiwanya sehat, begitupun sebaliknya. Karena itu, banyak manfaat dari bermain untuk mengoptimalkan perkembangan anak, di antaranya :

1. Learning by planning. Bermain bagi anak dapat menyeimbangkan motorik kasar seperti berlari, melompat atau duduk, serta motorik halus seperti menulis, menyusun gambar atau balok, menggunting dan lain-lain. Keseimbangan motorik kasar dan halus akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologis anak. Secara tidak langsung, permainan merupakan perencanaan psikologis bagi anak untuk mencapai kematangan dan keseimbangan di masa perkembangannya 2. Mengembangkan otak kanan. Dalam beberapa kondisi belajar formal, seringkali kinerja otak kanan tidak optimal. Melalui permainan, fungsi kerja otak kanan dapat dioptimalkan karena bermain dengan teman sebaya seringkali menimbulkan keceriaan bahkan pertengkaran. Hal ini sangat berguna untuk menguji kemampuan diri anak dalam menghadapi teman sebaya , serta mengembangkan perasaan realistis anak akan dirinya. Artinya, ia dapat merasakan hal-hal yang dirasa nyaman dan tidak nyaman pada dirinya dan terhadap lingkungannya, serta dapat mengembangkan penilaian secara objektif dan subjektif atas dirinya. 3. Mengembangkan pola sosialisasi dan emosi anak. Bermain dapat menjadi sarana anak untuk belajar menempatkan dirinya sebagai makhluk sosial. Dalam permainan anak berhadapan dengan berbagai karakter yang berbeda, sifat dan cara berbicara yang berbeda pula, sehingga ia dapat mulai mengenal heterogenitas dan mulai memahaminya sebagai unsur penting dalam permainan. Anak juga dapat mempelajari arti penting nilai keberhasilan pribadi dalam kelompok; serta belajar menghadapi ketakutan, penolakan, juga nilai baik dan buruk yang akan memperkaya pengalaman emosinya. Dengan kata lain, bermain membuat dunianya lebih berwarna, perasaan kesal, marah, kecewa, sedih, senang, bahagia akan secara komplit ia rasakan dalam permainan. Hal ini akan menjadi pengalaman emosional sekaligus belajar mencari solusi untuk menanggulangi perasaanperasaan tersebut di kemudian hari. 4. Belajar memahami nilai memberi dan menerima. Bermain bersama teman sebanya bisa membuat anak belajar memberi dan berbagi, serta belajar memahami nilai take and give dalam kehidupannya sejak dini. Melalui permainan, nilai-nilai sedekah dalam bentuk sederhana bisa diterapkan. Misalnya berbagi makanan atau minuman ketika bermain, saling meminjam mainan atau menolong teman yang kesulitan. Anak juga akan belajar menghargai pemberian orang lain sekali pun ia tidak menyukainya, menerima kebaikan dan perhatian teman-temannya. Proses belajar seperti ini tidak akan diperolah anak dengan bermain mekanis/pasif, karena lawan atau teman bermainnya adalah benda mati. 5. Sebagai ajang untuk berlatih merealisasikan rasa dan sikap percaya diri (self confidence), mempercayai orang lain (trust to people), kemampuan bernegosiasi (negotiation ability) dan memecahkan masalah (problem solving). Ragam permainan dapat mengasah kemampuan bersosialisasi, kemampuan bernegosiasi, serta memupuk kepercayaan diri anak untuk diakui di lingkungan sosialnya. Anak juga akan belajar menghargai dan mempercayai orang lain, sehingga timbul rasa aman dan nyaman ketika bermain. Rasa percaya diri dan kepercayaan terhadap orang lain dapat menimbulkan efek positif pada

diri anak, ia akan lebih mudah belajar memecahkan masalah karena merasa mendapat dukungan sekalipun dalam kondisi tertentu ia berhadapan dengan masalah dalam lingkungan bermainnya. Reamonn O Donnchadha dalam buku The Confident Child menyatakan bahwa Permainan akan memberi kesempatan untuk belajar menghadapi situasi kehidupan pribadi sekaligus belajar memecahkan masalah. Kepercayaan merupakan modal dalam membina sebuah hubungan, termasuk hubungan pertemanan anak kecil. Kepercayaan juga dapat menjadi motivasi untuk memecahkan masalah karena tanpa itu masalah tidak akan pernah benar-benar selesai dan sebuah hubungan menjadi tidak langgeng. Semua orang tua pasti menyayangi anak-anaknya, bersedia melakukan yang terbaik untuk anakanaknya. Namun, bentuk kasih sayang yang kurang bijaksana seringkali membelenggu kebebasan jiwa anak. Anak adalah jiwa yang bernyawa, hati yang berperasaan dan jasad yang berpemikiran. Biarkan anak bahagia dengan dunianya, karena kebahagiaan di masa kecil turut menentukan kualitas hidupnya di masa depan. Semoga (Nia Hidayati) Sumber Referensi: The Confident Child, Human Development, www.liputankita. Perkembangan Fisik Bermain aktif penting bagi anak untuk mengembangkan otot dan melatih seluruh bagian tubuhnya. Bermain juga berfungsi sebagai penyaluran tenaga yang berlebihan yang bila terpendam terus akan membuat anak tegang, gelisah dan mudah tersinggung. Dorongan Berkomunikasi Agar dapat bermain dengan baik bersama yang lain, anak harus belajar berkomunikasi dalam arti, mereka harus dapat mengerti dan sebaliknya mereka harus belajar mengerti apa yang dikomunikasikan anak lain. Penyaluran Bagi Energi Emosional Yang Terpendam Bermain merupakan sarana bagi anak untuk menyelurkan ketegangan yang disebabkan oleh pembatasan lingkungan terhadap perilaku mereka.

Penyaluran Bagi Kebutuhan dan Keinginan Kebutuhan dan keinginan yang tidak dapat dipenuhi dengan cara lain seringkali dapat dipenuhi dengan bermain. Anak yang tidak mampu mencapai peran pemimpin dalam kehidupan nyata mungkin akan memperoleh pemenuhan keinginan itu dengan menjadi pemimpin tentara mainan.

Sumber Belajar Bermain memberi kesempatan untuk mempelajari berbagai, hal melalui buku, televisi, atau menjelajah lingkungan yang tidak diperloeh anak dari belajar di rumah atau sekolah.

Rangsangan Bagi Kreativitas Melalui eksperimentasi dalam bermain, anak anak menemukan bahwa merancang sesuatu yang baru dan berbeda dapat menimbulkan kepuasan. Selanjutnya mereka dapat mengalihkan minat kreatifnya ke situasi di luar dunia bermain. Perkembangan Wawasan Diri Dengan bermain, anak mengetahui tingkat kemampuannya, dibandingkan dengan temannya bermain. Ini memungkinkan mereka untuk mengembangkan konsep dirinya dengan lebih pasti dan nyata. Belajar Bermasyarakat Dengan bermain bersama anak lain, mereka belajar bagaimana membentuk hubungan sosial dan bagaimana menghadapi dan memecahkan masalah yang timbul dalam hubungan tersebut.
Standar Moral Walaupun anak belajar di rumah dan di sekolah tentang apa saja yang dianggap baik dan buruk oleh kelompok, tidak ada pemaksaan standar moral paling teguh selain dalam kelompok bermain. Belajar Bermain Sesuai Dengan Peran Jenis Kelamin Anak belajar di rumah dan di sekolah mengenai apa saja jenis kelamin yang disetujui. Akan tetapi, mereka segera menyadari bahwa mereka juga harus menerimanya bila ingin menjadi anggota kelompok bermain.

Perkembangan Ciri Kepribadian Yang Diinginkan Dari hubungan dengan anggota kelompok teman sebaya dalam bermain, anka belajar bekerja sama, murah hati, jujur, sportif dan disukai

Beberapa ahli mengatakan bahwa bermain pada anak merupakan sarana untuk belajar. Bermain dan belajar untuk anak merupakan suatu kesatuan dan suatu proses yang terus menerus terjadi dalam kehidupannya. Bermain merupakan tahap awal dari proses belajar pada anak yang dialami hampir semua orang. Melalui kegiatan bermain yang menyenangkan, seorang anak berusaha untuk menyelidiki dan mendapatkan pengalaman yang banyak. Baik pengalaman dengan dirinya sendiri, orang lain maupun dengan lingkungan di sekitarnya. Melalui bermain anak dapat mengorganisasikan berbagai pengalaman dan kemampuan kognitifnya dalam upaya menyusun kembali gagasan yang cemerlang. Ada 5 karakteristik bermain yaitu: 1. Bermain merupakan sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai yang positif bagi anak. 2. Bermain berasal dari motivasi yang muncul dari dalam diri si anak. Anak melakukan kegiatan

tersebut atas kemauannya sendiri, tanpa harus disuruh atau diberi imbalan oleh orang lain. 3. Bermain sifatnya spontan dan sukarela, bukan merupakan kewajiban. Anak bebas memilih apa saja yang ingin dijadikan alternatif bagi kegiatan bermainnya. 4. Bermain senantiasa melibatkan peran aktif anak. Anak benar-benar aktif dalam kegiatan tersebut, baik secara fisik maupun mental. 5. Bermain memiliki hubungan sistematik yang khusus dengan sesuatu yang bukan bermain, seperti kemampuan kreativitas, memecahkan masalah, kemampuan berbahasa, kemampuan bersosialisasi dengan teman sebaya dan sebagainya. Adapun bermain mempunyai manfaat bagi perkembangan anak. Bermain merupakan pengalaman belajar yang sangat berguna untuk anak, yaitu: 1. Aspek fisik, bila anak mendapat kesempatan untuk melakukan kegiatan yang banyak melibatkan aktivitas fisik terutama motorik kasar, akan membuat tubuh menjadi sehat. 2. Permainan yang melibatkan kemampuan motorik kasar dan motorik halus akan meningkatkan keterampilan anak. 3. Keterlibatan anak dengan orang lain dapat membantu anak untuk bersosialisasi dengan teman sebaya atau orang lain, anak akan belajar berpisah dengan ibu dan pengasuh, belajar berbagi dengan orang lain, melakukan pemecahan masalah, meningkatkan perkembangan bahasa baik bahasa ekspresi maupun bahasa reseptif, dan sebagai lahan bermain peran sosial. 4. Aspek perkembangan bahasa, melalui kegiatan bermain anak akan memperoleh kesempatan yang luas untuk berani berbicara. Kegiatan ini akan melatih kemampuan mengkoordinasikan antara apa yang terpikir dengan gerakan motorik organ-organ dalam rongga mulut. Hal ini penting untuk kemampuan anak dalam berkomunikasi dan memperluas pergaulannya di kemudian hari. 5. Aspek emosi dan kepribadian, melalui bermain seorang anak dapat melepaskan ketegangan yang dialaminya. Kegiatan bermain bersama sekelompok teman sebaya akan memberikan kesempatan bagi anak untuk menilai diri sendiri tentang kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, sehingga dapat membantu pembentukan konsep diri yang positif, mempunyai rasa percaya diri dan harga diri karena merasa mempunyai kompetensi tertentu. 6. Aspek kognitif, dengan bermain akan memberikan pengetahuan yang luas dan daya nalar anak, menumbuhkan kreativitas, kemampuan berbahasa dan peningkatan daya ingat anak. 7. Aspek ketajaman panca indera, dalam bermain seorang anak akan menggunakan sebagian besar pancainderanya dalam kegiatan tersebut. Secara tidak langsung pancaindera tersebut akan terasah sehingga menjadi lebih peka pada hal-hal yang berlangsung di lingkungan sekitarnya

Ini adalah tembolok Google' untuk http://gratis45.com/islam/anak/loi-bermain.htm. Gambar ini adalah jepretan laman seperti yang ditampilkan pada tanggal 28 Mei 2011 08:04:05 GMT. Sementara itu, halaman tersebut mungkin telah berubah.

Bermain Bagi Anak Upaya Tumbuh Kembang Optimal

"Ayo belajar! Jangan main melulu. Apa kamu mau jadi orang bodoh nanti? Cepat kerjakan tugas menulis ini!" Ujar seorang Ibu yang memarahi putranya yang masih berusia empat tahun.

Sebagian orangtua berpendapat, bermain dengan teman hanya membuang waktu. Menurut mereka, lebih baik waktu yang berharga itu dipergunakan untuk belajar. Betulkah demikian? Apakah bermain bagi anak memang membuang waktu belaka?

Ada tiga kebutuhan dasar yang harus dipenuhi agar anak mengalami proses tumbuh kembang optimal , yaitu kebutuhan fisik atau biomedis, kebutuhan emosi atau kasih sayang dan kebutuhan stimulasi atau pendidikan.

Kebutuhan fisik dapat dipenuhi apabila anak mengkonsumsi makanan yang sesuai dengan kebutuhan umurnya, pemantauan tumbuh kembang, pemeriksaan kesehatan, pengobatan, rehabilitasi, imunisasi, pakaian, pemukiman yang sehat dan lain-lain.

Kebutuhan emosi meliputi segala bentuk hubungan yang erat, hangat dan menimbulkan rasa aman serta percaya diri sebagai dasar bagi perkembangan selanjutnya. Sedangkan kebutuhan stimulasi atau pendidikan meliputi segala aktivitas yang dilakukan yang mempengaruhi proses berpikir, berbahasa, sosialisasi, dan kemandirian seorang anak.

Bermain bagi anak merupakan upaya memenuhi tiga kebutuhan sekaligus yaitu kebutuhan fisik, emosi dan stimulasi/pendidikan. Bahkan bermain bagi anak usia balita merupakan salah satu intervensi penting untuk mengurangi dampak menurunnya IQ pada balita yang mengalami gangguan gizi ketika bayi, khususnya apabila intervensi pemberian makanan bergizi terlambat dilakukan. Apa Pengertian bermain?

Bermain adalah segala aktivitas untuk memperoleh rasa senang tanpa memikirkan hasil akhir yang dilakukan secara spontan tanpa paksaan orang lain. Yang harus diperhatikan oleh orang tua, bermain haruslah suatu aktivitas yang menyenangkan bagi anak. Tidak boleh ada paksaan pada anak untuk melakukan kegiatan bermain, walaupun kegiatan tersebut dapat menunjang perkembangan aspek tertentu.

Kegiatan bermain yang dilakukan harus berdasarkan inisiatif anak. Seorang anak harus diberi kesempatan untuk memilih kegiatan bermainnya sendiri dan menentukan bagaimana melakukannya. Beberapa ciri bermain yang perlu diperhatikan oleh orang tua:

Menyenangkan.

Tidak memiliki tujuan. Tidak boleh ada intervensi tujuan dari luar si anak yang memotivasi dilakukannya kegiatan bermain.

Bersifat spontan dan volunter.

Bermain berarti anak aktif melakukan kegiatan.

Memiliki hubungan yang sistematis dengan sesuatu yang bukan bermain, seperti kreativitas, pemecahan masalah, belajar bahasa, perkembangan peran sosial, perkembangan kognitif, dan sebagainya (Garvey, 1990).

Jenis Bermain

Jenis bermain berdasarkan aktivitas fisik dan sumber kesenangan adalah sebagai berikut:

Bermain aktif. Seorang anak aktif melakukan sendiri dan sumber rasa senang yang diperoleh anak berasal dari apa yang dilakukan oleh anak itu sendiri. Jenis bermain aktif meliputi bermain bebas spontan, bermain khayal (bermain peran-peran tertentu, sesuai khayalan atau imajinasi anak), bermain konstruktif (menyusun balok-balok, puzzle, dsb), musik dan permainan.

Bermain pasif, yaitu anak melakukan kegiatan dengan sedikit menggunakan aktifitas fisik dan sumber rasa senangnya diperoleh dari aktivitas yang dilakukan oleh orang lain, contohnya menonton film, pertunjukan, dan lain-lain. Manfaat Bermain

Perkembangan fisik-motorik Perkembangan fisik motorik seorang anak berkembang pesat pada tahun pertama dan kedua dan terus berlanjut sampai perkembangan fisik motorik yang lebih rumit. Permainan yang sesuai dengan usia anak dapat mendukung perkembangan fisik dan motorik berlangsung secara optimal. Misalnya kalau pada usia 2-3 tahun seorang anak sudah dapat berlari, maka pada usia 3-4 tahun anak dapat diarahkan untuk bermain dengan berlari menghindari rintangan. Pada usia berikutnya sudah dapat naik dan turun tangga. Begitu pula dalam kemampuan motorik halus. Jika pada usia 2-3 tahun seorang anak sudah dapat memegang alat tulis, tahun berikutnya sudah dapat menyusun balok secara baik. Pada usia 5 tahun anak dapat menggunting kertas. Sambil bermain dengan peran serta orang tua anak dapat mengoptimalisasikan perkembangan fisik-motorik meliputi belajar mengontrol dan mengenal tubuh, serta menolong diri sendiri.

Perkembangan kognitif dan bahasa Saat bermain, seorang anak akan mengandalkan kemampuan bereksplorasi terhadap lingkungan melalui panca inderanya. Anak belajar dan mengenal konsep dasar warna, bentuk, ukuran dan sebagainya. Dalam hal ini permainan yang dilakukan akan meningkatkan daya nalar, daya ingat, kreativitas dan kemampuan berbahasa.

Perkembangan sosio-emosional Dengan bermain anak dapat mengembangkan kemampuan berinteraksi dengan orang lain, peka, mau memantau dan dapat bekerja sama. Bermain juga merupakan sarana untuk menyalurkan emosi anak. Membentuk kelompok bermain sangat penting untuk perkembangan sosio emosional anak. Seorang anak yang biasa berinteraksi dengan teman-teman sebayanya di play group, TK atau sejenisnya mempunyai tingkat kemantangan dan kesiapan yang baik dalam menerima pendidikan yang lebih rumit.

Berikut ini tips bagi orang tua agar kegiatan bermain menyenangkan dan bermanfaat bagi anak:

Sediakan alat permainan yang sesuai dengan taraf kematangan anak.

Perhatikan faktor keamanan, derajat kesulitan permainan, kegunaan, daya tahan alat, disain alat permainan, dll.

Tempat bermain harus aman, cukup luas/lapang dan bersih.

Waktu bermain sesuai dengan anak. Seorang anak sering menghabiskan waktunya untuk bermain sampai melupakan kegiatan lain seperti makan dan istirahat.

Teman bermain. Anak membutuhkan teman bermain agar perkembangan sosio emosionalnya optimal.

Memperkenalkan anak dengan alat permainan yang dapat merangsang perkembangan anak. Hindari terlalu membatasi kegiatan bermain karena pertimbangan jenis kelamin.

Pendekatan terhadap anak memerlukan kesabaran, dan tidak lupa memberikan pujian.

Berikan petunjuk sesuai dengan kebutuhan anak, tidak terlalu banyak atau sedikit.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua dalam memupuk dan mengembangkan potensi anak balita, yaitu:

Memberikan rangsangan pada seluruh indera.

Memberi kebebasan pada anak untuk bergerak dengan aman.

Memberi kesempatan untuk berbicara, bertanya, dan bercerita.

Memberi contoh model untuk ditiru.

Memberikan kesempatan bermain dengan memperhatikan unsur benda, alat, teman, dan ruangan untuk bermain

Memberi keleluasaan bagi anak untuk mengenali obyek nyata misalnya pada usia tertentu orang tua dapat mengajarkan anak membedakan hewan yang bertelur dan beranak dengan mengajak mereka menyaksikan secara langsung.

Memberi kesempatan untuk mengamati, mengerti, menerapkan disiplin, nilai-nilai agama dan moral.

*)Penulis adalah mahasiswi pasca sarjana FKM-UI

Referensi:

Garvey C. Play. Massachusetts: Harvard University Press, 1990

Hurlock, EB. Child Development (6 th ed) Tokyo: Mc Graw-Hill Kogakusha, Ltd, 1978.

Savitri Hanny Wreksoo, Bermain Bagi Anak Balita, Pelatihan Pengelola.

Sumber : http://www.ummigroup.co.id

Last updated : 10-Jan-2010 15:55

Pengertian Bermain

Oleh: Andang Ismail

Istilah bermain merupakan konsep yang tidak mudah untuk dijabarkan, bahkan di dalam Oxford English Dictionary, tercantum 116 definisi tentang bermain. Salah satu contoh, ada ahli yang mengatakan bermain sebagai kegiatan yang dilakukan berulang-ulang demi kesenangan (Piaget, 1951). Tetapi ahli lain membantah pendapat tersebut karena adakalanya bermain bukan dilakukan semata-mata demi kesenangan, melainkan ada sasaran lain yang ingin dicapai yaitu prestasi tertentu. Banyak keterangan yang simpang siur dan saling bertentangan. Karena itu untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai bermain, perlu memandang bermain sebagai 'tali' yang merupakan untaian serat serta benangbenang yang terjalin menjadi satu (Mayke, 2001).

Menurut Hughes (1999), seorang ahli perkembangan anak dalam bukunya Children, Play, and Development, mengatakan bermain merupakan hal yang berbeda dengan belajar dan bekerja. Suatu kegiatan yang disebut bermain harus ada lima unsur didalamnya, yaitu: 1. Mempunyai tujuan yaitu permainan itu sendiri untuk mendapat kepuasan 2. Memilih dengan bebas dan tas kehendak sendiri, tidak ada yang menyuruh ataupun memaksa. 3. Menyenangkan dan dapat menikmati. 4. Mengkhayal untuk mengembangkan daya imaginatif dan kreativitas 5. Melakukan secara aktif dan sadar (DWP, 2005).

Selain itu bermain juga dapat bermakna sebagai kegiatan anak yang menyenangkan dan dinikmati (pleasurable and enjoyable). (DWP, 2005). Susanna Millar (1972) berpandangan yang kurang lebih sama, kegiatan bermain perlu dilihat sebagai salah satu perilaku yang menyeluruh pada manusia dan dibutuhkan penelitian yang sistematik (Mayke, 2001).

Menurut hemat penulis, pada dasarnya bermain memiliki dua pengertian yang harus dibedakan, bahwa bermain menurut pengertian pertama dapat bermakna sebagai sebuah aktivitas bermain yang murni mencari kesenangan tanpa mencari menang kalah (play), sedangkan yang kedua sebagai aktivitas bermain yang dilakukan dalam rangka mencari kesenangan dan kapuasan namun ditandai dengan adanya pencarian menang-kalah (games). Dengan demikian, pada

dasarnya setiap aktivitas bermain selalu didasarkan pada perolehan kesenangan dan kepuasan, sebab fungsi utama bermain adalah untuk relaksasi dan menyegarkan kembali (refreshing) kondisi fisik dan mental yang berada pada ambang ketegangan.

Sehubungan dengan bermain dapat bermakna sebagai play dan games, maka yang perlu menjadi bahan pertimbangan di dalam menarik definisi adalah proses yang menyebabkan berlangsungnya aktivitas tersebut. Pada pengertian pertama, bermain sebagai play bisa jadi merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang tanpa melibatkan kehadiran orang lain, sehingga total kesenangan dan kepuasan itu datang dari diri sendiri. Sedangkan pihak lain yang terlibat dapat merupakan unsur penghibur saja. Contoh dari aktivitas bermain sebagai play adalah bermain konstruktif atau destruktif dan melamun.

Pada pengertian kedua, bermain sebagai games, kesenangan dan kepuasan yang diperoleh seseorang harus melibatkan kehadiran orang lain. Tanpa hadirnya pihak kedua (sebagai lawan) maka games tidak akan terjadi, sebab games hanya akan berlaku jika ada unsur sportivitas, aturan dan menang-kalah. Artinya seseorang akan memperoleh kesenangan dan kepuasan setelahnya mampu mengungguli pihak lawan. Dengan demikian bermain sebagai games merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang dalam rangka memperoleh kesenangan dan kepuasan setelahnya mengungguli kemampuan lawan mainnya. Contoh dari games sebenarnya telah lama dikenalkan dalam kebudayaan kita, baik dari suku bangsa maupun suku bahasa. Di Jawa umumnya disebut dengan tradisi dolanan.

Berbeda dengan pengertian di atas, secara lebih umum dalam term psikologi, Joan Freeman dan Utami Munandar (1996) mendefinisikan bermain sebagai suatu aktivitas yang membantu anak mencapai perkembangan yang utuh, baik fisik, intelektual, sosial, moral dan emosional.

Selengkapnya lihat: Andang Ismail, Education Games, Yogyakarta: Pilar Media, 2006

AGENDA

Sign in Recent Site Activity Terms Report Abuse Print page | Powered by Google Sites